top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita Awal Taman Ismail Marzuki

    REVITALISASI kompleks Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) berlanjut ke tahap baru pada awal Februari 2020. Gedung Graha Bhakti Budaya dan Galeri Cipta I mulai dibongkar. Dua gedung ini tadinya merupakan bioskop, tempat pameran lukisan, pertunjukan teater, kantor Dewan Kesenian Jakarta, dan kantor pengeloka PKJ-TIM.

  • Pelaut yang Menaklukkan Hollywood

    HHOLLYWOOD tengah berduka. Kawah candradimuka dunia hiburan di Amerika Serikat itu ditinggal aktor legendarisnya, Kirk Douglas. Bersama Gina Lollobrigida, Douglas merupakan aktor terakhir generasi emas Hollywood (1913-1969) yang tersisa di abad XXI. Douglas sepanjang kariernya bermain di lebih dari 90 film. Ia juga ayah dari aktor kawakan Michael Douglas, yang menyampaikan kabar duka itu usai ayahnya wafat di usia 103 tahun di kediamannya di Beverly Hills, California pada Rabu (5/2/2020). Douglas meninggal karena kondisi kesehatannya terus menurun sejak terserang stroke  pada 1996. “Di mata dunia, ia seorang legenda, seorang aktor dari era emas perfilman…tapi bagi saya, adik saya Joel dan Peter, ia seorang ayah yang sederhana. Bagi Catherine (Zeta-Jones, aktris dan istri Michael Douglas, red. ), ia seorang mertua yang luar biasa. Bagi istrinya Anne, ia seorang suami yang juga luar biasa,” ungkap Michael Douglas, dikutip Daily Mail , Rabu (5/2/2020). Kirk Douglas mencatatkan debutnya di Hollywood setahun setelah Perang Dunia II usai, lewat film The Strange Love of Martha Ivers  (1946). Sementara , film terakhir yang dibintanginya adalah Empire State Building Murders  (2008), yang dimainkannya saat sudah terserang  stroke  sejak 1996. Meski begitu, nama Douglas baru mulai berkibar di film kedelapannya, Champion  (1949), di mana ia masuk nominasi aktor terbaik Academy Award. Total, tiga kali Douglas masuk nominasi ajang yang sama. Selain untuk film Champion , ia juga masuk nominasi aktor terbaik Academy Award untuk film The Bad and the Beautiful (1952)dan Lust for Life (1956) yang merupakan biopik tentang pelukis ternama Vincent van Gogh. Meski tak pernah menang, Douglas kemudian dianugerahi Piala Oscar kehormatan oleh Academy of Motion Pictures, Arts, and Sciences pada 1996. Selain empat film di atas, kiprah paling menonjol Douglas ialah kala mengerjakan film Spartacus (1960) saat Hollywood diterpa masa-masa sulit. Bak gladiator, karakter yang ia mainkan dalam Spartacus , Douglasturut mengenyahkan kebijakan blacklist pemerintah Amerika Serikat terhadap sejumlah koleganya. Sejak 1947, awal mulainya Perang Dingin, Amerika banyak menaruh curiga pada imigran asal Rusia. Di pentas Hollywood, sejumlah sineas dituduh sebagai simpatisan komunis yang berupaya memasukkan propaganda ke sejumlah film. “Saya hidup di masa ketika banyak orang dituduh komunis dan di- blacklist industri film. Semua studio tak mau menerima mereka. Itu periode yang berat dalam sejarah Hollywood dan tergelap yang pernah saya alami. Banyak yang akhirnya menderita dan bunuh diri,” kataDouglas kepada The Jewish Chronicle , 20 September 2012. Kirk Douglas dalam film "Spartacus" yang dibuat rumah produksinya sendiri, Bryna Productions (Foto: Universal Pictures) Douglas yang juga merupakan imigran asal Eropa Timur, bersimpati pada para koleganya yang di- blacklist . Lewat Bryna Productions, rumah produksi yang didirikannya, Douglas melakukan gebrakan dengantetap mencantumkan nama Dalton Trumbo sebagai penulis naskah pada credit filmnya, terlepas dari pencekalan terhadapnya. Trumbo satu dari 10 pelaku film yang masuk blacklist pemerintah. “Saat produksi film selesai, saya merasa bersalah jika tak mencantumkan namanya (Trumbo). Saya tak peduli orang bilang apa, saya tetap mencantumkannya. Awalnya saya takut tapi pada akhirnya langit tetap tak runtuh. Kehidupan berjalan kembali normal. Blacklist itu kemudian dicabut,” lanjutnya. Seiring waktu, pendirian Douglas itu berubah menjadi penghormatan baginya dari banyak pihak di Hollywood. Veteran Perang Pasifik ke Layar Perak Sebelum “menaklukkan” Hollywood, Douglas mengarungi gelombang kehidupanyang sarat kisah dengan berprofesi sebagai pelaut. Pengalaman itu menjadi modal berharganya di kemudian hari. Douglas lahir pada 9 Desember 1916 di New York dengan nama Issur Danielovitch. Kedua orangtuanya,Herschel Danielovitch dan Bryna Sanglel, imigran Yahudiasal Chavusy, Belarusia.Douglas anak keempat dan satu-satunya anak lelaki dari tujuh bersaudara. Mengutip memoar yang dituliskan bersama istri keduanya, Anne Buydens, Kirk and Anne: Letters of Love, Laughter, and a Lifetime in Hollywood , ayahnyamengganti nama saat hendak mendaftar kerja sebagai buruh pabrik, menjadi Harry Demsky. Begitupun ketujuh anaknya.Hanya Bryna yang tetap. “Saudari-saudari saya ada Pesha (menjadi Betty), Kaleh (Kay), Tamara (Marion), Rachel (Ruth), serta si kembar Hashka dan Siffra (Fritzi dan Ida). Saat saya masuk sekolah, saya didaftarkan dengan nama Isadore Demsky –nama yang sebenarnya selalu saya benci,” tulis Douglas. Maka, sebelum masuk ke US Navy (Angkatan Laut Amerika) pada 1941, ia mengubah namanya menjadi Kirk Douglas. Douglas mendaftarkan diri masuk AL secara sukarela menyusul pecahnya Perang Pasifik. Saat mendaftar, ia sedang merintis upaya menjadi aktor dengan bersekolah di American Academy of Dramatic Arts. “Semasa di akademi, saya sudah mengubah nama menjadi Kirk Douglasatas diskusi dengan teman baru saya, Karl dan Mona Malden, jelang sebuah pertunjukan drama yang kami ikuti. Namun saat itu seorang bernama Adolf Hitler mengirim serdadu Jerman untuk menaklukkan Eropa. Saya saat itu hanya ingin menaklukkan (teater) Broadway,” sambungnya. Sebelum diterjunkan ke palagan, menurut arsip AL Amerika , Douglas mendapatkan pendidikan dasardi Naval Reserve Midshipman School yang meminjam tempat di Notre Dame University. Douglas lanjut ke tingkat berikutnya ke Submarine Chaser School hingga lulus sebagai pelaut dengan pangkat ensign (setara letnan muda). Letnan muda Douglas lalu ditugaskan ke front Pasifik sebagai perwira radio komunikasi di kapal patroli anti-kapal selam USS PC-1139 . Kolase Kirk Douglas sebagai letnan muda di kancah Perang Pasifik (Foto: US Navy) Masa tugasnya berlangsung singkat. Douglas pun mengakui bahwa ia merasa kurang berjasa meski usai perang dianugerahi tiga medali: Asiatic/Pacific Campaign Medal, American Campaign Medal, dan World War II Victory Medal. “Tidak ada jasa yang mulia meski saya terlihat gagah dalam seragam saya. Apalagi mulanya kapal kami diawaki para kru yang masih sangat hijau dan kapten kami belum sekalipun pernah melaut. Kapal kami juga bukan kapal terbaik di AL. Di Pasifik kami malah meledakkan kapal kami sendiri,” ungkapnya dalam otobiografi The Ragman’s Son. Meski tak menjelaskan detail lokasi, Douglas mengisahkan peristiwa nahas yang membuatnya cedera itu terjadipada 7 Februari 1943di Samudera Pasifik. Ia hanya mengingat bahwa di petang itu sonar kapal menangkap sinyal adanya kapal selam Jepang di dekat mereka. “Saat kami sudah berada di posisi yang tepat, kapten memerintahkan mematikan mesin dan bergerak perlahan. Saya dengar perintahnya lewat earphone untuk melepas depth-charge marker (penanda bom-dalam), semacam lapisan hijau yang dilepaskan ke air agar kami tahu di mana kami harus melepaskan bom-dalam,” tulisnya lagi. Sialnya, awak yang bertugas di dek malah tak sengaja memicu bom-dalam itu sebelum marker- nya dilepaskan ke laut. Maka bom-dalam itu meledak di air dan sangat dekat dengan kapalnya. Douglas yang berada di ruangan radio dan sonar, sempat mengira ledakan itu adalah serangan torpedo kapal selam Jepang. “Semua kru terhempas ke mana-mana. Saya sendiri terlempar ke sekat kabin. Perut saya menghantam peralatan radio. Terjadi kepanikan di mana-mana. Baru kemudian kami tahu bahwa itu bukan karena torpedo musuh…kami justru meledakkan kapal kami sendiri,” sambungnya. Kirk Douglas bersama anaknya yang juga aktor ikonik Hollywood, Michael Kirk Douglas (Foto: loc.gov ) Beruntung tak ada korban jiwa dalam insiden itu. Douglas dan rekan-rekannya lalu diselamatkan kapal lain, untuk kemudian dirujuk ke Rumahsakit AL San Diego. Douglas mengalami luka organ dalam dan harus dirawat hingga Juni 1944. Luka itu membuatnya diberhentikan dengan hormat dengan pangkat lieutenant junior grade (letnan satu) lantaran kondisinya dianggap tak lagi layak untuk bertugas. Douglas lalu kembali pentas dari teater ke teaterhingga pada 1946 Lauren Bacall, rekannya sesama aktor, merekomendasikannya ke produser bernama Hal. B. Wallis yang tengah mencari bakat baru untuk film The Strage Love of Martha Ivers . Douglas pun “naik kelas” ke layar peraksetelah diikutsertakan Wallis dalam film itu . Kagum dengan talenta Douglas kala casting , Wallis memplot Douglas sebagai salah satu pemeran utama film itu. Iapun beradu akting dengan para aktor yang lebih berpengalaman, seperti Barbara Stanwyck. The Strange Love of Martha Ivers sukses di pasaran, masuk nominasi Academy Award dalam kategori naskah orisinil terbaik. Kesuksesan itu membuka gerbang karier Douglas di Hollywood,yang kemudian ia lakoni selama tujuh dasawarsa.

  • Empat Penjelajah Muslim Awal

    Ada sebuah nasihat yang dinggap berasal dari Nabi Muhammad Saw.: “Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina”. Kendati bukan hadis sahih, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Abdullah, menyebut pesan itu tetap bisa diterima sebagai gambaran tingkat pengetahuan geografis dunia Islam pada awal kelahirannya. “Apakah mungkin menyebut keunggulan negeri Cina, kalau adanya wilayah itu belum diketahui,” katanya. Pada awal perkembangan Islam di abad ke-7, para pengembara dan pedagang Arab sudah mengenal negeri sejauh Tiongkok. Dalam perjalanannya hubungan antara Arab atau wilayah Timur Tengah secara umum dengan Tiongkok pun makin akrab. Hingga pada abad ke-10, penguasa Tiongkok mulai melarang kehadiran kapal-kapal dari Timur Tengah berlabuh di Kanton, pelabuhan terbesar Tiongkok. Dalam “Secercah Kisah: Ibn Battuta Sang Penjelajah Muslim Tanpa Bandingan” yang disampaikan di Borobudur Writers and Cultural Festival 2018, Taufik menjelaskan penguasa Tiongkok mulai khawatir terjadi persaingan ekonomi antarpedagang. “Sejak itu, kapal-kapal yang berasal dari Timur Tengah mengganti tujuan mereka ke arah wilayah kepulauan yang kini disebut Indonesia,” kata Taufik. Hingga kini, sejarah mencatat penjelajah muslim ke Nusantara paling terkenal mungkin adalah Ibn Batutta. Bahkan, ia dijuluki “Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa”. Namun, Ibn Batutta bukan penjelajah muslim satu-satunya di dunia yang tercatat sejarah. Berikut ini penjelajah muslim yang catatannya memuat informasi tentang Nusantara pada masa lalu: Sulaiman al-Tajir Sulaiman adalah pedagang Persia yang melakukan beberapa pelayaran pada tahun 851. Ia satu di antara banyak orang dari Timur Tengah yang pada abad ke-8–10 berlayar ke timur hingga ke pasar-pasar besar di Tiongkok. Catatannya memuat rute dari Persia ke Tiongkok. Jeong Su-Il, sejarawan spesialis jalur sutra asal Korea Selatan dalam The Silk Road Escyclopedia menjabarkan, pelayaran Sulaiman dimulai dari mengambil muatan di Basra, Iraq atau Oman, kemudian berlabuh di Siraf, melewati Sohar dan Muscat di timur laut Pantai Oman. Setelah sebulan berlayar, kapal sampai di Kollam, Kerala, India. Dari sini, mereka melewati Sarandip atau Sri Lanka, Kepulauan Andaman, Kepulauan Nikobar, Lambri di Sumatra, sampai di Kalah atau sekarang Kedah, Malaysia. Setelahnya kapal berlayar selama 20 hari ke Champa, melewati Zhanghai dan sampai di Guangfu atau Guangzhou. “Ia menjelaskan perjalanan dari Siraf ke Guangzhou memakan waktu 130 hari dan melewati total 13 negeri,” tulis Jeong Su-Il. Termasuk kerajaan di pulau bernama Zabag. Sudah sejak abad ke-7, pulau ini muncul dalam tradisi penulisan para geograf Arab. Mereka menyebut Zabag untuk Pulau Sumatra. Catatan Sulaiman juga menyebut raja di Pulau Zabag yang bergelar maharaja. Pun kehidupan masyarakatnya. Salah satu kekayaan negeri ini berupa emas memberikan kesan mendalam kepada Sulaiman.   Sayangnya, catatan perjalanan asli berbahasa Arab yang ditulis Sulaiman hilang. Kisahnya kemudian dikenali melalui karya seorang ahli bumi muslim bernama Abu Zayd Hasan dari Siraf di Persia berjudul Rihalatu Sulaiman al-Tajir . Karya yang memodifikasi dan melengkapi karya Sulaiman itu terbit pada 916. Tabula Rogeriana  atau  Kitab Rudjdjar  (Kitab Roger) adalah peta dunia yang digambar oleh pakar geografi Arab, Al-Sharif al-Idrisi pada 1154. Peta itu dibuat untuk Raja Roger II dari Sisilia, setelah delapan belas tahun al-Idirisi menetap di istananya. Buzurg bin Shahriyar al-Ramhurmuzi Seorang kapten sekaligus ahli navigasi muslim. Ia mengumpulkan catatan pelaut-pelaut muslim awal yang berisi pengalaman aneh mereka dan menarasikannya dalam Ajaib al-Hind  (Keajaiban India). Karyanya itu menjadi salah satu sumber penting Timur Tengah yang aslinya berbahasa Persia. Sejarawan S.Q. Fatimi dalam Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East , menyebut Al-Hind  yang dimaksud al-Ramhurmuzi mencakup tak hanya anak benua India, melainkan juga Asia Tenggara maritim. Catatan yang ia kumpulkan di antaranya kisah pelaut tentang Kawlam (Kollam) di Pantai Malabar, Sarandib (Sinhaladvipa) yaitu Sri Lanka, Lanjabalus (Nakkavaram) yaitu Kepualaun Nikobar, Lamuri (Lambri), Fansur, Siribizah (Sriwijaya) di Sumatra, Kalah (Kalang) di pantai barat Semenanjung Malaya, dan tentang EI Dorado yang legendaris di laut selatan. Menurut Azyumardi Azra, guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII , kitab yang ditulis sekira tahun 390 H (1000 M) itu, juga merupakan catatan Timur Tengah paling awal tentang Nusantara. Karya ini meriwayatkan kunjungan para pedagang muslim di Kerajaan Zabaj (Sriwijaya). Catatannya mengisyaratkan pula adanya sejumlah penganut Islam dari kalangan penduduk asli. Ibn Battuta Abu Abdullah Muhammad Ibn Battuta lahir di Maroko tahun 1304 M pada masa Dinasti Marinid. Ia pengelana pertama yang mengunjungi seluruh dunia Islam yang dikenal waktu itu. Mulai dari Maghribi di Afrika, Tangiers di Maroko ke Jazirah Arab, sampai ke Asia Kecil di wilayah yang disebut para pelacong Barat sebagai Bulan Sabit yang Subur, lalu ke anak benua India, dan ujung Pulau Sumatra hingga ke Tiongkok. Sejarawan Taufik Abdullah menjelaskan, Ibnu Battuta bukanlah orang Arab pertama yang memberitakan Nusantara. Ketika dia berkunjung, pengetahuan para ahli geografi dan pelayar Arab tentang wilayah Kepulauan Nusantara telah cukup memadai. Umpamanya, Pulau Zabag. Meski sudah dikenal para geograf Arab, hanya Ibnu Battuta yang menceritakan hasil kunjungannya sendiri. Sebelumnya hanya berdasarkan cerita para pedagang. Karyanya, Rihla (perlawatan)   tetaplah berdiri sendiri sebagai catatan perjalanan muslim tentang Asia Timur. Ibn Battuta menjelajah kurang lebih 29 tahun dengan mencapai 120.700 km. Ibn Muhammad Ibrahim Anthony Reid dalam Sumatera Tempo Doeloe dari Marco Polo Sampai Tan Malaka menulis, pada 1685, Syekh Persia, Sulaiman, mengirimkan utusan ke Raja Narai di Siam. Itu dalam upaya yang sia-sia untuk meningkatkan peranan penting muslim Syiah dari Persia dan India di kerajaan itu. Dalam perjalanannya, para utusan sempat berhenti di Aceh beberapa waktu. Mereka meninggalkan catatan tentang kekuasaan para ratu di sana. Penulisnya Ibn Muhammad Ibrahim. Ia menulis dengan gaya prosa bersajak dalam bahasa Persia. Gaya penulisannya berbeda dibandingkan penjelajah Eropa masa itu. Saat itu yang sedang memerintah adalah ratu ketiga, Inayat Shah Zakiat ad-Din (1678-1688).

  • Perintah Receh Jenderal Panggabean

    Kolonel Sayidiman Suryihadiprodjo seyogianya merampungkan kunjungan dinasnya di Sulawesi Selatan. Bersama Mayor Jenderal Askari, Panglima Komando Antar Daerah Indonesia Timur (KOANDA-IT), Sayidiman selaku utusan pusat mengadakan sidak operasi penyelesaian sisa-sisa pemberontakan Darul Islam. Namun di tengah perjalanan dari Makassar menuju Paloppo, ada panggilan dari Jenderal Maraden Panggabean yang disambungkan lewat radio. Sayidiman diminta kembali ke Jakarta. Segera. “Memang sudah sejak tahun 1965 ketika beliau diangkat menjadi Deputi Pembina TNI-AD, Pak Panggabean sering kali memberikan penugasan langsung kepada saya,” tutur Sayidiman dalam otobiografinya  Sayidiman: Mengabdi Negara sebagai Prajutit TNI . Selain menjabat Deputi Pembina, Panggabean juga merangkap Deputi Operasi. Sementara Sayidiman merupakan perwira diperbantukan (Paban) bidang operasi. Itu berarti, Panggabean adalah atasan langsung Sayidiman. Perintah dari Panggabean membuat Sayidiman sukar menunaikan tugasnya di Sulawesi. Sayidiman khawatir ada hal serius sehubungan dengan perkembangan di Jakarta. Pun sebelum berangkat, Sayidiman lapor dulu kepada Panggabean untuk izin dinas selama seminggu. Dalam benaknya, tentu terjadi hal yang tidak beres sehingga diperintahkan lekas kembali. Maka tanpa pikir panjang, Sayidiman membatalkan perjalanan ke Palopo.   Setelah pamit kepada Askari, Sayidiman bergegas pulang. Yang jadi persoalan, akses perhubungan di Sulawesi terbilang sulit. Infrastruktur jalan dan kendaraan masih belum banyak. Jumlah penerbangan pun terbatas. Sayidiman menunggu sampai sore hingga seorang perwira Kodam XIV/Hasanuddin yang sedang melintas menuju Makassar bersedia ditumpangi. Keesokan harinya, Sayidiman langsung mengambil rute pesawat tercepat menuju Jakarta. Setiba di Jakarta, Sayidiman menghadap Panggabean ke rumahnya. Ternyata sama sekali tidak ada masalah urgen yang mesti diselesaikan. Menurut Sayidiman, Panggabean kurang percaya dengan orang-orang lain yang bersangkutan dengan pengendalian operasi. Sayidiman mendongkol dalam hati karena hal sepele jadi tidak dapat melaksanakan tugasnya di Sulawesi.  “Akan tetapi begitulah kehidupan tentara mana pun di dunia,” kenang Sayidiman. “Ini masih baik bahwa saya dipanggil karena dipercaya oleh atasan.” Walau begitu, insiden perintah receh ini tidak sampai membuat Sayidiman dan Panggabean berkonflik. Malahan keduanya tetap akur secara pribadi bahkan berlanjut dalam pekerjaan. Ketika Panggabean menjadi Ketua Dewan Jabatan dan Kepangkatan Perwira Tinggi (Wanjakti), Sayidiman mendampingi sebagai sekretaris. Munculah pendapat di kalangan Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) bahwa Sayidiman perwira kesayangan Panggabean. “Meskipun saya selalu berusaha untuk bersikap baik terhadap orang lain, namun tak dapat dicegah timbulnya anggapan bahwa saya ‘anak emas’,” ujar Sayidiman mengungkapkan relasinya dengan Panggabean.    Pada 1973, Sayidiman dan Panggabean sama-sama menggapai karier tertinggi mereka sebagai tentara. Panggabean mencapai puncak paripurna sebagai Panglima ABRI yang membawahi semua matra. Sementara itu, Sayidiman menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.

  • Kisah Anak Langgar dan Mantri Galak

    SAIFUDDIN Zuhri, mantan menteri agama era pemerintahan Sukarno, memiliki pengalaman pahit berurusan dengan pihak keamanan. Sewaktu usianya 12 tahun, Zuhri terlibat cekcok dengan seorang mantri polisi –sebutan untuk penjaga ketertiban di pedesaan yang dipekerjakan oleh pemerintah Hindia Belanda– karena permasalahan sepele. Peristiwa itu terjadi pada 1931 di tempat kelahirannya: Kawedanan Sokaraja, Banyumas. Selepas mengikuti pelajaran Qiraat  Al-Qur’an di Pesantren Musri, Zuhri memutuskan menghabiskan malam di langgar bersama teman-temannya. Dikisahkan Zuhri di dalam biografinya Saifuddin Zuhri: Berangkat dari Pesantren , kegiatan seperti itu memang rutin dilakukannya ketika malam Jumat tiba. Mereka biasa mengisi waktu di langgar dengan menghafal Al-Qur’an, meski lebih sering habis karena keasyikan berbincang. Sekira pukul 10 malam, saat semua orang telah bersiap untuk tidur, sorotan cahaya tetiba memecah kegelapan di langgar tersebut. Zuhri dan kawan-kawannya terkejut dengan sinar yang amat menyilaukan itu. Mereka yang sedang berbaring serentak terbangun sambil membetulkan letak sarungnya. “Hei, matikan sorot lampu itu!” teriak Ahmad Sadeli, jagoan pencak silat di kelompok itu. “Jangan kurang ajar ya!” yang lain ikut berteriak. Cahaya yang ternyata berasal dari lampu senter itu akhirnya dipadamkan. Setelah diperhatikan jelas, orang yang datang ke langgar itu adalah Ndoro Tuan Mantri Polisi. Penduduk kampung mengenalnya sebagai ambtenaar (pegawai pemerintah) Hindia Belanda. Menurut Zuhri mantri polisi ini mempunyai perangai yang keras, lambang kekuasaan yang tak mengenal rakyat. Di kalangan anak-anak muda ia dijuluki “mantri galak”. “Apakah jalan ini menuju ke rumah Karminem?" tanya mantri polisi itu dalam bahasa Jawa. Karminem adalah perempuan pendatang di kampung itu. Ia menyewa rumah di Kauman, sekitar 150 meter dari langgar tempat Zuhri bermalam. Dari kabar yang beredar Karminem merupakan janda muda yang sering menerima tamu laki-laki ke rumahnya. Ia sudah sering dilaporkan ke lurah setempat karena aktifitasnya itu meresahkan. Warga pun pernah melempari rumahnya dengan batu dan memintanya keluar dari Kauman. “ Embuh ora weruh ,” jawab Ahmad Sadeli menyatakan ketidaktahuannya. Mendengar jawaban itu, Si Mantri Polisi naik pitam. Mantri polisi menganggap jawaban Ahmad Sadeli itu tidak sopan karena menggunakan bahasa Jawa ngoko (bahasa sehari-hari) untuk orang yang derajatnya lebih tinggi seperti dirinya. “Haaahh? Ora iso boso ya ?” hardiknya. Boso mengacu pada bahasa Jawa yang lebih sopan. “Kalau seorang mantri polisi sendiri tidak bisa boso  apalagi saya yang cuma orang biasa,” jawab Ahmad Sadeli. Mantri Polisi terkejut. Pernyataan Ahmad Sadeli seolah memukul mentalnya. Tanpa berkata-kata, ia balik badan dan berjalan menuju jalan utama. Sorot lampu senternya mengarah ke rumah Karminem. Zuhri tidak tahu apakah ia berhasil menemukan rumah yang dicari atau tidak. Seketika gelak tawa pecah di antara anak-anak di langgar itu. Mereka saling berpelukan, seperti telah memenangkan suatu pertandingan. Namun suasana gembira itu tidak berlangsung lama. Mereka mulai khawatir dengan konsekuensi dari tindakan mereka mempermalukan seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda. Zuhri takut akan ada balasan dari Si Mantri Polisi. Di tengah kekhawatiran itu, Kiai Hudlari, salah seorang guru Zuhri, keluar dari rumahnya yang berada tidak jauh dari langgar. Ternyata ia diam-diam mengikuti peristiwa barusan. “Ahsantum, ahsantum… bagus, bagus…” Kiai Hudlari mendekat. “Maafkan sikap saya tadi kepada Mantri Polisi,” ujar Ahmad Sadeli memberanikan diri. “Tak usah minta maaf,” ucap Kiai, “Bersikap sombong terhadap orang yang sombong itu sedekah. Orang sombong selamanya menganggap bahwa bersikap sombong itu benar. Dia tidak mengerti apa arti sopa santun. Mengira bahwa bersikap sopan itu tanda kelemahan.” “Kepada orang sombong kita dibolehkan sedikit sombong. Sikap ini memperlihatkan suatu ketegasan sambil menangkis kesombongan orang,” lanjut Kiai Hudlari. “Bersikap sedikit sombong pada orang yang sombong itu sedekah artinya memberi pelajaran. Bersikap sombong terhadap orang yang rendah hati adalah kurang ajar; bersikap rendah hati terhadap orang yang sombong adalah kelemahan. Adapun bersikap sopan kepada orang yang sopan santun itu perbuatan utama.” “Tapi dia seorang mantri polisi,” kata salah seorang anak  yang masih dibayangi rasa khawatir. “Biar saja. Seorang kadang-kadang tidak mau dinasihati dengan cara baik-baik. Tetapi dia akan ketanggor dinasihati oleh pengalaman buruknya.” Kiai berusaha menenangkan. “Jangan-jangan Mantri Polisi itu tidak akan tinggal diam begitu saja,” Zuhri nyeletuk. “Kalian tidak usah khawatir. Kalian toh tidak bersalah. Jika kalian mempunyai perasaan khawatir, gelisah atau takut, Mantri Polisi itu juga diliputi perasaan yang sama. Apalagi dia terang bersalah. Dia tentunya juga diliputi kegelisahan karena perbuatannya yang tidak terpuji ini. InsyaAllah tidak apa-apa. Semua hati manusia digerakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia Maha Kuasa mengubah pikiran tiap orang disebabkan karena berubahnya isi hati,” tegas Kiai Hudlari. Kekhawatiran Zuhri dan kawan-kawannya ternyata benar-benar terjadi. Dua hari setelah kejadian itu, 14 anak Kauman ditahan di kantor Asisten Wedana. Mereka lalu dihadapkan ke depan Mantri Polisi yang tampak geram melihat anak-anak itu.  Tiba-tiba Si Mantri Polisi berteriak. Ia mengeluarkan kalimat-kalimat dalam bahasa Belanda yang tidak dimengerti. Namun Zuhri yakin ucapannya itu adalah caci maki dan hardikan bagi anak-anak Kauman. Setelah masing-masing anak mendapat satu kali sepakan kaki dari Si Mantri Polisi, mereka digiring ke halaman depan kantor. Zuhri dan kawan-kawannya disuruh mencabuti rumput, menyapu halaman, dan membakar sampah. Tepat tengah hari, anak-anak itu diperbolehkan pulang. “Aku dan teman-temanku kan anak jajahan. Orang terjajah selamanya diperlakukan 'salah' dan 'kalah' meskipun berada di pihak yang benar,” ungkap Zuhri.*

  • Membohongi Presiden Filipina

    SEPERTI Jenderal Panggabean, penerusnya Jenderal M. Jusuf juga pernah memberi perintah aneh. Jusuf yang berasal dari Bone itu merupakan Panglima ABRI periode 1978-1983. Kali ini korbannya ialah Letkol (AL) Soedibyo Rahardjo, asisten Atase Pertahanan Indonesia urusan laut untuk Filipina. Sekali waktu, Soedibyo menerima telepon dari Asisten Intelijen ABRI Mayjen Benny Moerdani. “Dib, itu Raja Bugis mau melakukan courtesy-call  kepada Presiden Marcos. Kamu atur ya,” kata Benny sebagaimana dituturkan Sudibyo dalam otobiografinya The Admiral: Laksdya TNI (Purn.) Soedibyo Rahardjo . Raja Bugis adalah julukan Benny Moerdani kepada M. Jusuf. Keperluan Jusuf berkorespondensi dengan Marcos bertemali dengan kepentingan diplomatik dan pertahanan TNI. Saat itu jalur logistik gerakan separatis Filipina, Moro National Liberation Front (MNLF) kerap kali melintasi perairan Indonesia.      Sudibyo yang bertugas di Manila segera menghubungi pihak Istana Malacanang. Melalui perantaraan Jenderal Fabian Ver, Panglima Angkatan Bersenjata Filipina sekaligus orang kepercayaan Marcos, Sudibyo dapat menghadap Presiden Filipina itu. Marcos meminta jadwal kepada sekretarisnya. Ternyata Marcos punya agenda berkunjung ke provinsi Ilocos Norte dan akan berpidato di sana. Ilocos Norte merupakan kampung halaman Marcos. Kunjungannya ke sana tentu punya nilai penting. Kendati demikian, Marcos berpikir sejenak lalu memberi instruksi kepada stafnya. Di luar dugaan, Marcos bersedia mengganti jadwalnya berpidato di kampung halaman. “Saya akan terima tamu penting dari Indonesia,” kata Marcos. Dengan hati lega Soedibyo mengucapkan terimakasih kepada Presiden Marcos dan melaporkan sukses itu kepada Benny lewat telepon. Petaka datang beberapa hari menjelang kunjungan M. Jusuf ke Manila. Benny menelepon dan menyampaikan kabar buruk. Kejutan bagi Soedibyo.   “Dib, Raja Bugis nggak  jadi datang!” kata Benny. “Tapi Pak Benny, semua sudah diatur bahkan Presiden sampai-sampai membatalkan acaranya,” Soedibyo menyela. “Tidak tahulah, pokoknya kamu atur dan beritahu pembatalannya.” Klik. Benny menutup telepon. Soedibyo kelimpungan. Tidak habis pikir bagaimana rasanya membatalkan acara kunjungan, padahal tuan rumah sudah membatalkan sebuah acara penting. Dia datangi lagi Jenderal Ver memberitahukan pembatalan dadakan tersebut. Ver yang juga terkejut menyarankan agar Soedibyo mengatakan sendiri kepada Presiden Marcos. Saat memasuki ruang kerja Marcos, Soedibyo berkeringat dingin.   Marcos bertanya dengan wajah serius. Apa yang terjadi kepada Jenderla Jusuf sehingga membatalkan kunjungan ke Manila. Soedibyo putar akal mencari alasan. Dalam bahasa Inggris, dia mengatakan bahwa istri sang jenderal, Nyonya Elly Jusuf sedang sakit dan akan dioperasi. Oleh sebab itu, Jenderal Jusuf harus mendampingi istrinya. Mendengar itu, Presiden Marcos memperlihatkan wajah empati. Dia menawarkan untuk mengirimkan dokternya ke Jakarta apabila diperlukan. Soedibyo menolak seraya mengucapkan terimakasih. Dia mengatakan bahwa istri Jenderal Jusuf telah ditangani oleh beberapa dokter. Meski kecewa, Marcos akhirnya dapat menerima pembatalan sepihak kunjungan M. Jusuf. Tidak lupa Marcos menitipkan salam kepada M. Jusuf dan mengharapkan kesembuhan bagi Ny. Jusuf. “Plong hati saya,” kenang Soedibyo. “Meskipun saya berbohong kepada Presiden Republik Filipina, tetapi apa ada alasan lain untuk membenarkan pembatalasan tersebut?” Untunglah inisiden pembatalan sepihak itu tidak sampai mempengaruhi hubungan diplomatik kedua negara.*

  • Menikah di Tanah Merah

    KAMP Tanah Merah, Boven Digul, adalah neraka bagi orang-orang buangan. Namun, pengasingan di tengah belantara Papua itu tak menghalangi dua insan yang ingin menyatukan cinta. Mereka adalah Wiranta dan Nyi Cacih, pengantin pertama di kamp para pembangkang kolonial itu. Wiranta dan Nyi Cacih ikut dalam rombongan pertama yang dikirim pada Desember 1926. Keduanya dari Bandung. Wiranta seorang guru dan wartawan, sedangkan Nyi Cacih adalah anak gadis berusia 14 tahun yang turut dibuang bersama ayahnya, Sukanta Atmaja, seorang pegawai kereta api di Bandung. Bersama sekitar 300 orang mereka berlayar dari Tanjung Priuk menuju Surabaya, transit di Makassar dan Ambon, lalu ke muara Sungai Digul di Merauke. Dari muara, mereka menyusuri sungai hingga ke hulu yang jaraknya 300 km. Barulah mereka sampai di Tanah Merah. Hampir sebulan di atas kapal yang membosankan itu, justru mendekatkan Wiranta dengan Nyi Cacih. Mereka pun saling jatuh cinta. Di Tanah Merah, Wiranta merupakan tahanan yang cukup aktif. Ia memimpin organisasi kesenian, olahraga, dan sepak bola yang diberi nama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel  (KSDV). Sementara itu, cintanya dengan Nyi Cacih terus bersemi dan tak bisa dibendung lagi. “Delapan bulan setelah berada di Digul, Wiranta menghadap Asisten Residen, meminta izin untuk melangsungkan perkawinan dengan Nyi Cacih. Ternyata Asisten Residen kebingungan karena di sana belum membentuk Dinas Agama (Islam),” tulis Pikiran Rakyat , 6 Agustus 1977. Sebab itu, Harun Al-Rasyid, seorang buangan asal Surakarta yang juga murid Haji Misbach, ditunjuk sebagai penghulu. Sementara itu, dua orang kawan Wiranta, Uton dan Dasri yang juga berasal dari Bandung, menjadi saksinya. Akhirnya, hari itu, 10 Agustus 1927, Wiranta dan Nyi Cacih menjadi pasangan pertama yang menikah di kamp pembuangan Tanah Merah. Menurut Sunaryo Mangunadikusumo dkk. dalam Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Perjuangan Ex Digul , pernikahan tersebut tidak dicatatkan pada kantor pencatat nikah. Selain karena tidak adanya kantor pencatatan, tindakan itu merupakan salah satu bentuk pembangkangan. “Pernikahan tidak tercatat di kantor pencatatan nikah pemerintah kolonial ini sebenarnya diajurkan dan dilakukan oleh orang-orang Sarekat Islam. Pendirian Sarekat Islam ini terus dilaksanakan oleh pengikut-pengikutnya yang dibuang ke Digul,” tulis Sunaryo dkk. Pernikahan di Boven Digul cukup dilakukan di hadapan kiai sebagai penghulu dan dua orang saksi di muka keluarga pengantin wanita. Cara ini sebenarnya sama dengan yang dilakukan penganut agama Islam sebelum adanya kantor pencatatan nikah. Pernikahan Wiranta dan Nyi Cacih tak hanya sampai di situ. Pada malam harinya diadakan pesta oleh seluruh penghuni kamp. “Asisten Residen mengirimkan satu peti bir dan kue-kue. Ia turut bergembira. Untuk pertama kalinya di Digul berlangsung satu pesta,” tulis Pikiran Rakyat . Saat itu, hanya ada dua alat musik yakni biola dan gitar yang dibawa oleh salah seorang tahanan. Kedua alat musik itu akhirnya digunakan untuk mengiringi seorang tahanan yang merupakan penyanyi asal Medan yang dikenal sebagai Samaudin Kacamata. Lagu Keroncong Kemayoran  menjadi lagu favorit malam itu. Acara pun berlangsung hingga pagi. Akibat acara semalam suntuk itu, Asisten Residen Boven Digul dicopot. Ia dianggap terlalu memanjakan tahanan dan dituduh telah melakukan persekongkolan. Selain itu, anggaran pemerintah kolonial untuk Boven Digul juga terkuras. Sementara itu, rumah tangga Wiranta dan Nyi Cacih bertahan hingga mereka bebas dari Boven Digul. Mereka dikaruniai tiga orang anak dan telah memiliki 17 cucu saat memperingati 50 tahun perkawinan mereka pada 10 Agustus 1977 di Bandung. Wiranta juga masih sempat menulis ketika di Boven Digul. Tulisannya yang berjudul “Antara Hidup dan Mati” atau “Buron dari Boven Digul” diterbitkan dalam Cerita dari Digul  yang disusun oleh Pramoedya Ananta Toer.*

  • Kala Kapal Perang Amerika USS Stark Dimangsa Rudal Irak

    DI tengah tugas patroli di Teluk Persia, pada 15 Mei 1987 Kapten Eric Brindel, komandan frigat Amerika Serikat (AS) USS Stark, rekreasi dengan berlayar bersama Laksamana Harold Bernsen, panglima Middle East Force (MEF) AS. Brindel lalu diberitahu bahwa telah terjadi sebuah insiden di mana militer Irak menyerang sebuah kapal di areal itu, sekira 60 mil dari posisi USS   Stark . Ancaman bahaya terhadap kepentingan AS di tengah Perang Iran-Irak (1980-1988) itulah yang membuat Brindel lalu diperintahkan Bernsen untuk menghadap asisten perwira intelijen MEF keesokan harinya. Sebelum mendapat pengarahan, Brindel diinformasikan tentang kondisi terbaru langkah-langkah yang ditempuh Irak di kawasan tersebut. Salah satunya, pergerakan pasukan Irak yang dikirim beberapa hari sebelumnya dan berpotensi menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Pengerahan pasukan militer Irak ke Teluk Persia meningkat saat itu. Presiden Irak Saddam Husein melakukannya untuk memburu kapal-kapal tanker minyak Iran yang mengangkut minyak ekspornya. Saddam paham betul tanker-tanker minyak Iran merupakan satu-satunya jalur ekspor minyak Iran.  Sementara di sisi lain, militer Iran menyerang kapal-kapal sipil negeri lain, terutama Kuwait, untuk mengamankan ekspor minyaknya dan memegang dominasi di perairan tersebut. Kuwait dijadikan sasaran Iran lantaran dukungannya terhadap Irak. “Dukungan Kuwait pada Irak termasuk memberikan pinjaman besar, mengizinkan penggunaan pelabuhannya untuk membongkar sebagian besar persenjataan Soviet yang ditujukan untuk Irak, dan bahkan mungkin termasuk mengizinkan pesawat Irak melewati wilayah udaranya dalam perjalanan untuk menyerang target-target di Teluk,” tulis Lee Allen Zatarain dalam America’s First Clash with Iran: The Tanker War, 1987-1988. Penyerangan kapal-kapal Kuwait dilakukan Iran untuk memaksa Kuwait menghentikan dukungannya terhadap Irak. Penyerangan itu meningkat pesat setelah Iran menguasai Semenanjung Faw tepat di seberang Pulau Bubiyan, Kuwait, pada Februari 1986. Pada tahun itu juga, tiga kapal tanker berbendera Kuwait dan 10 kapal berbendera lain diserang. “Frustrasi atas dukungan Kuwait terhadap Irak, dan menuntut agar Emir ‘bertaubat’ dengan mengakhirinya (dukungan), Iran berganti-ganti antara mengeluarkan ancaman dan isyarat perdamaian,” sambung Zatarain. Serangan Iran membuat Kuwait merasa tak cukup aman dengan berlindung di balik Irak. “Di bawah tekanan berat, Kuwait yang semakin putus asa beralih ke negara-negara besar untuk (mendapatkan) bantuan. Pada akhir 1986, Kuwait mendekati Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan pokok menandai kembali setengah dari 22 kapal tanker milik perusahaan minyak negara Kuwait. Yang lebih penting dari sekadar perlindungan kapal adalah gagasan bahwa komitmen untuk menandai kembali akan menarik satu, dan kemungkinan keduanya, negara adikuasa lebih dalam ke Teluk. Tujuan utamanya adalah menggunakan keterlibatan mereka untuk mengakhiri perang.” Itulah sebabnya banyak kapal perang AS hadir di Teluk, lantaran AS secara resmi “mengabulkan” permintaan Kuwait pada Maret 1987. Di sisi lain, “koalisi” dengan Kuwait memungkinkan AS untuk mengkampanyekan “Kemerdekaan Navigasi” di perairan tersebut. Semenjak Perang Iran-Irak pecah, banyak kapal sipil tak aman memasuki perairan tersebut. Untuk misi itulah, MEF mengeluarkan sejumlah aturan untuk pertahanan diri kapal-kapal perang AS yang dinamakan Rules of Engagement. Antara lain, AS menganggap pesawat-pesawat dua negara yang berperang, Iran maupun Irak, sebagai berpotensi menjadi musuh. Lalu, ketika terjadi kontak dengan pesawat kedua negara yang mendekati posisi kapal AS dalam jarak yang telah ditentukan, pihak AS mesti mengidentifikasi, memperingatkan, dan terakhir mengambil tindakan yang diperlukan jika membahayakan. Tanpa boleh memulai tembakan, kapal-kapal AS diizinkan menembak pesawat-pesawat yang sudah diberi peringatan namun tak mengindahkan. Pada 17 Mei 1987, USS Stark  masih berpatroli di perairan tersebut. Pukul 20.00, Kapten Bridel diberitahu adanya persawat tempur Mirage F-1 Irak yang mendekati kapalnya di jarak 200 mil. Di Combat Information Center (CIC), pukul 20.15 Letnan Basil E. Moncrief, perwira Tactical Action Officer, memberitahu Brindel tentang pesawat tersebut. Lantaran kehadiran Mirage F-1 itu tak tampak di radar, para petugas CIC lalu mengubah mode pencarian radar SPS-49 Stark ke mode 80 mil. Pesawat itu ternyata telah berada di posisi 70 mil dari Stark . Upaya pemberitahuan yang dikirim petugas Stark  tak didengar pilot Irak. Pukul 21.03, operator radar SPS-49 meminta izin Moncrief mengeluarkan peringatan kepada pilot Irak. “Tidak. Tunggu!” kata Moncrief, dikutip Michael Vlahos dalam “The Stark Report”, dimuat news.usni.org . Dua menit kemudian, Mirage F-1 itu memutar arah menuju Stark  di jarak 32 mil. Letnan Moncrief menganggapnya sebagai bahaya dan berupaya meminta komando dari Bridel. Namun, Bridel tak dapat ditemukannya. Ketika pesawat itu mencapai jarak 22,5 mil dari Stark  pukul 21.07, sebuah rudal Exocet dilepaskannya ke arah Stark . Para petugas Weapons Control Officer Stark  langsung meminta identitas pilot. Alih-alih menjawab permintaan itu, pilot Irak malah menjawabnya dengan meluncurkan Exocet kedua, di jarak 15 mil. Langkah-langkah pertahanan pun dilakukan para awak Stark . Selain menyiapkan peluncur sekam ( flare ), mereka menyiapkan senapan anti-serangan udara Phalanx (Close in Weapons System) ke mode siaga. Namun, semua upaya para awak Stark  itu terlambat. Exocet pertama Irak menghantam sisi kiri Stark . Meski gagal meledak, bahan bakar rudal itu menyebabkan kebakaran hebat. “Kebakaran yang dihasilkan merembet ke atas ke pusat informasi tempur kapal itu, menonaktifkan sistem elektrik,” kata Richard S. Gough dalam The Weapon Director . Tak lama kemudian, Exocet kedua menghantam sisi sama Stark  dan meledak hebat. “Rudal kedua meninggalkan lubang di bangunan utama frigat dan kebakaran hebat melintasi seluruh kapal,” sambungnya. Hantaman Exocet kedua itu memadamkan sistem pertahanan misil Stark  sehingga kapal nahas itu tak bisa melakukan pembalasan. Selain membuat Stark  miring dan nyaris tenggelam, serangan oleh pilot AU Irak itu menewaskan 37 awak Stark  dan melukai puluhan lainnya. Lebih jauh, serangan itu mengagetkan para pengamat militer dan awak Stark  yang selamat akan dahsyatnya daya hancur rudal buatan Prancis itu –rudal ini pula yang digunakan AU Argentina ketika menenggelamkan destroyer Inggris HMS Sheffield  yang berukuran lebih besar lima tahun sebelumnya di Perang Malvinas. Kongres langsung melakukan investigasi, yang diikuti Staf Gabungan. Hasilnya yang diumumkan akhir tahun itu juga, menetapkan Bridel dan Moncrief salah karena lalai dalam merespon peringatan dari petugas radar. Akibat kelalaian itu membuat USS   Stark  telat mengambil langkah pengamanan diri. Sementara, penyerangan Stark  membuat rakyat AS marah. Pemerintahan Reagan, yang sedang direpotkan oleh Skandal Iran-Contra, langsung mengirim tim Kementerian Pertahanan yang dipimpin Laksda David N. Rogers ke Baghdad untuk melakukan penyelidikan dan meminta tanggung jawab Irak. Perdebatan serius pun terjadi di antara pemerintah AS dan Irak. Irak akhirnya mengklaim pilotnya melakukan kesalahan teknis dengan radar pesawatnya sehingga mengira USS Stark  sebagai kapal tanker Iran yang berada di wilayah Zona Ekslusifnya. Meski melalui perdebatan alot, kompromi antara pemerintah AS dan Irak akhirnya dicapai. “Irak setuju membayar $ 27,3 juta sebagai kompensasi kepada keluarga para korban Stark, ” tulis Zatarain. “Serangan Stark memberi AL AS pengalaman pertama tentang dampak dari serangan rudal yang sebenarnya di kapal modernnya.”*

  • Pertemuan Ilmuwan Amerika dengan Komodo

    PADA 1926, ilmuwan Amerika Serikat, William Douglas Burden, mendarat di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Pulau yang terletak di antara Sumbawa dan Flores itu menjadi rumah bagi reptil purba yang masih hidup di dunia, yakni komodo ( Varanus komodoensis ). Burden pun memulai perjalanan menemukan keajaiban dunia tersebut.

  • Direktur CIA Terburuk

    PRESIDEN Soeharto menerima Direktur CIA, John Mark Deutch, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis pagi, 24 Oktober 1996. Dalam pertemuan tersebut, Soeharto didampingi oleh Letjen TNI Moetojib, kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin, sekarang BIN).

bottom of page