top of page

Hasil pencarian

9730 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Cinta Tragis di Masa Pendudukan Nazi

    SELAMA dekade awal abad ke-20, seiring meningkatnya asimilasi Yahudi di Jerman, proporsi orang Yahudi yang menikah dengan non-Yahudi mencapai hampir 50 persen saat Nazi berkuasa. Jumlah ini membuat rezim yang dipimpin Adolf Hitler melakukan tekanan dengan propaganda, pengucilan sosial, hingga memiskinkan orang-orang Jerman yang menikah dengan orang Yahudi. Menurut Nathan Stoltzfus dalam Hitler’s Compromises: Coercion and Consensus in Nazi Germany , orang Yahudi yang menikah dengan pria maupun wanita berdarah Jerman dipandang lebih berbahaya karena memberikan ancaman yang lebih besar bagi tujuan Nazi dibandingkan dengan orang-orang Yahudi lainnya. Bahkan, bagi sejumlah pemimpin Nazi, orang-orang Jerman yang terlibat dalam pernikahan campur dengan orang Yahudi juga sama berbahayanya hingga dipandang sebagai musuh negara.

  • Kisah Cinta Aktor Jerman di Bawah Cengkeraman Nazi

    SEIRING didapuknya Adolf Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman dan didirikannya Dewan Budaya Reich ( Reichkulturkammer ) pada 1930-an, kampanye di media massa mendorong penonton untuk tidak menoleransi aktor dan aktris non-Arya dan menuntut semua bintang film untuk memberikan bukti asal-usul ras mereka. Lembaga Biro Promosi Seni ( Amt für Kunstpflege ) didirikan untuk mengurusi urusan pribadi para aktor, sutradara, produser, penulis naskah, penerbit, dan sejenisnya. Menurut sejarawan David Welch dalam Propaganda and the German Cinema, 1933–1945 , biro itu pada dasarnya adalah organisasi partai dan bekerja sama dengan Filmkontingenstelle , yang berada di bawah pengawasan Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda . “Tidak puas dengan menyelidiki asal-usul ras orang-orang yang bekerja di dunia seni, biro ini juga memiliki perhatian yang besar terhadap ‘sikap’ dan pergaulan mereka,” tulis Welch. RMVP atau Kementerian Negara bidang Penerangan dan Propaganda Reich di bawah Joseph Goebbels.

  • Unit 731, Alat Pembunuh Massal Militer Jepang

    TAHUN 1918. Perang Dunia I berakhir. Saling adu kekuatan negara-negara besar ini menyisakan dua kubu: pemenang dan pecundang. Satu negara di Asia yang terlibat, Jepang, ada di antara para pemenang. Kejadian itu menjadi hajat pertama militer mereka di dunia internasional, pasca kemenangan saat berperang dengan Rusia.  Kemenangan di Perang Dunia I begitu membekas di dalam diri prajurit-prajurit Jepang. Sebagai negara yang sedang menarget posisi nomor wahid di wilayah Asia-Pasifik, kuasa atas Perang Dunia I merupakan hadiah yang amat besar. Peristiwa itu menjadi ajang unjuk gigi Jepang di hadapan negara Barat. Juga memberi kesempatan bagi negeri para samurai itu mengembangkan kekuatan militernya. Demi mewujudkan ambisi menjadi negara terkuat di Asia, Jepang berani menggunakan segala cara, termasuk menepikan sisi kemanusiaan mereka. Salah satunya dengan membentuk unit penelitian senjata biologis: Unit Manchuria No. 731 atau Unit 731. Sebuah kesatuan di dalam militer kekaisaran yang disiapkan untuk membuat senjata pemusnah dan menjadi pendukung kekuatan tempur utama. Unit itu turut menyumbang peran menghantarkan Jepang ke panggung utama Perang Dunia II di Asia Pasifik pada 1939 sampai 1945.

  • Unit 731 yang Tak Tersentuh

    UNIT 731 berhasil menebar teror di Perang Dunia II. Unit penelitian senjata biologis dan kimia milik Pasukan Kekaisaran Jepang tersebut disiapkan untuk menyokong kekuatan tempur Jepang di garis depan pasca kemenangan tidak memuaskan pada PD I. Kesatuan itu beroperasi secara baik hingga Negeri Matahari Terbit mengibarkan bendera putih tanda menyerah pada 14 Agustus 1945. Kawasan Asia-Pasifik, khususnya timur laut Cina, saat itu seolah dijadikan “taman bermain” militer Jepang. Uji senjata hasil kreasi Unit 731 bebas dilakukan terhadap manusia di sana. Ribuan nyawa dari kalangan sipil dan militer melayang. Kekejaman militer Jepang semakin tergambar jelas ketika para sejarawan menyamakan teror Unit 731 dengan Kamp Auschwitz milik Nazi, Jerman.

  • Operasi Unit 731 di Indonesia

    PADA Agustus 1944, sebanyak 478 (sumber lain menyebut 900, bahkan 1000 lebih) romusha ditemukan kritis. Para pekerja paksa di masa pendudukan Jepang (1942-1945) itu secara bertahap menunjukkan gejala penyakit tetanus. Sekitar 365 orang di antaranya kemudian meninggal dunia. Peristiwa kelam itu terjadi di Klender, Jakatra, salah satu lokasi kamp romusha di ibukota. Menurut sejarawan Jepang Aiko Kurasawa, para romusha itu umumnya berasal dari Pekalongan dan Semarang. Dalam hasil penelitiannya yang pernah dipublikasikan Majalah Tempo  pada 2002, Aiko Kurasawa menyebut selama di kamp para pekerja menerima beberapa jenis vaksin imunisasi, termasuk pes dan campuran vaksin TCD (Typhus Cholera Dysentry). Suntikan vaksi inilah yang diketahui menjadi penyebab tewasnya para romusha tersebut.

  • Jejak Sejarah di Selembar Kartu Pos

    26 MARET 1873 perang Aceh meletus. Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah yang memimpin rakyat Aceh harus menghadapi keganasan sekira 3 ribu serdadu KNIL di bawah pimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler. Serangan Belanda sukses dipatahkan, bahkan berakibat fatal. Sang jenderal, Kohler, tewas terbunuh di peperangan pada 14 April 1873. Belanda memang akhirnya sukses menguasai Aceh pada 1904, ditandai penyerahan diri Sultan Muhammad Dawood, anak Sultan Muhammad Syah, kepada Belanda tahun 1903. Sebelum dia ditangkap, dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Tetapi kerugian besar baik dari sisi korban maupun materil akibat perang Aceh, harus pula ditanggung Belanda. Sebagai penghormatan bagi para prajuritnya yang meninggal selama perang, Belanda mendirikan Monument Atjeh (Monumen Aceh) di sekitar kompleks Taman Wilhelmina di Batavia. Saat Masjid Istiqlal dibangun pada 1951 dan memakan area taman, Monument Atjeh pun lebur jadi satu dengan tanah.

  • Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II

    ANAK juragan dari Arnhem ini memlih jalan berbeda. Usai bersekolah di sekolah menengah Hogere Burger School (HBS), jiwa mudanya menuntunnya berpetualang ala film laga. Maka mendaftarlah dia ke Legion d’Estranger alias Legiun Asing Prancis di Afrika Utara.   Dari rumah yang nyaman dia harus hidup di barak dan tempat latihan. Waktu bersantainya tergerus. Latihan keras dengan disiplin dan kekerasan jadi pengalaman hariannya. Semua itu dijalaninya agar siap ketika mendapat giliran jaga malam di bawah langit berbintang Afrika Utara. Hidupnya dilingkupi bahaya, apalagi ketika Perang Dunia pecah.   “Dialah Légionnaire Michels, yang melindungi mundurnya Pasukan Ekspedisi Inggris dengan rentetan peluru dari senapan mesinnya. Dia adalah salah satu yang terakhir naik ke pesawat,” tulis Arnhemse Courant  edisi 24 Maret 1949 tentang Robert Cornelis Michels yang bernama alias Bob (1917-1988).   Ketika pasukannya mundur, Michiels sudah sekitar dua tahun bertugas di Legiun Asing Perancis. Sesampainya di Inggris, Michiels minta pindah kesatuan. Dia lalu ditempatkan di satuan perintis tentara Inggris.   Namun, tak lama di London, Michiels kembali dikirim ke garis depan. Dia kembali bertempur, kini di Norwegia.   Michiels lalu minta dipindahkan ke kesatuan tentara Belanda yang berada di Inggris. Setelah mengikuti latihan berat di pelatihan komando Achnacerry, Skotlandia, Michiels ditempatkan di Dutch Army No. 2 yang punya spesialisasi pasukan komando. Di kesatuan dengan baret berwarna merah dan lambang sayap tersebut, Michiels berpangkat kopral.   Kopral Michels keahliannya tak hanya berkelahi dan memakai senjata api, tapi juga terjun payung dari pesawat. Terjun itu dialaminya juga saat dilibatkan dalam Operasi Market Garden –yang dilancarkan pasukan Sekutu untuk membebaskan Belanda yang diduduki Jerman-Nasi– pada suatu hari di bulan September 1944.   “Awalnya dia ditempatkan di dekat Groningen, tetapi entah bagaimana posisinya di sana menjadi tidak aman, mereka memindahkannya ke tempat kami dekat pertanian kami,” aku Rudy Blatt dalam laporannya To Live  You Fight: A War Diary .   Rudy ketika itu berada di sekitar Drenthe, Belanda. Rudy merasa prihatin dengan Michiels yang dianggapnya tidak cocok untuk pekerjaan dengan kelicikan menguras mental. Arnhemse Courant  tanggal 24 Maret 1949 menulis, di sekitar Veenhuizen dan Drenthe pada Oktober 1944 Michels berusaha melatih orang Belanda yang ikut perlawanan terhadap tentara Jerman di Belanda. Dia terlibat dalam penggerebakan di Rumah Tahanan di Assen.   Beberapa anggota pasukan khsusus Belanda yang ikut Operasi Market Garden setelah 1945 dijadikan perwira, termasuk Bob Michels, Rudy Blatt, Raymond Paul Pierre Westerling, dan juga Rodes Barendrecht Visser yang kelak dikenal sebagai Idjon Djambi "sang pendiri Kopassus". Mereka menjadi letnan. Keempat prajurit pasukan khusus Belanda yang dilatih Inggris itu kemudian dikirim ke Indonesia.   Di Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya itu, Rudy Blatt ditugaskan di bawah Kolonel Simon Hendrik Spoor selaku kepala Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS). Banyak informasi soal Indonesia mereka kumpulkan. Sementara, Visser bertugas melatih pasukan payung, dan Westerling melatih pasukan baret hijau Depot Special Troepen di Polonia, Jatinegara. Michiels sendiri ditugaskan di kesatuan infanteri biasa.   Bob Michels pernah ditugaskan di Sumatra Selatan di bawah komando Kolonel Fritz Mollinger. Di daerah itu pula dia memetik “kemenangan” lantaran aksinya di Veenhuizen-Drenthe pada Oktober 1944 diapresiasi petinggi militer dan Kerajaan Belanda. Berdasarkan Koninklijk Besluit 4 November 1948, Letnan Satu Robert Cornelis Michels dianugerahi Bronzen Leeuwe atau Singa Perunggu. Sebuah upacara penganugerahan lantas diadakan di Palembang. Koran Het Dagblad  edisi 14 Februari 1949 memberitakan, penghargaan untuk Michels itu disematkan oleh Komandan Tentara Teritorial Sumatera Selatan Kolonel Mollinger.*

  • Hamka dan Patung Nabi Muhammad

    SUATU hari Hamka benar-benar dibuat heran. Keberadaan patung Nabi Muhammad SAW di New York, di luar akal sehatnya. Dalam muhibahnya selama 4 bulan (25 Agustus–25 Desember 1952) di Amerika Serikat (AS) itu, Hamka banyak dibuat terkejut. Dan soal patung Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi yang paling menohok baginya. Namun di lain pihak, hal itu membuatnya sadar bahwa pengetahuan tentang Islam di negeri Paman Sam saat itu masih sangat kecil. Ada rasa ironik dalam diri Hamka jika mengingat Sang Nabi yang berupaya menjauhkan umatnya dari patung-patung seperti itu sekarang malah dipatungkan. Di dalam memoarnya, 4 Bulan di Amerika , Hamka menelusuri keberadaan patung tersebut dan menghubungkannya dengan pemahaman tentang Islam di negara Barat, khususnya AS.

  • The Godfather: Part II dan Seluk-Beluk Organisasi Mafia

    DALAM satu hari pada tahun 1901, Vito Andolini (diperankan Oreste Baldini) diterpa musibah berlipat ganda di Kota Corleone, Pulau Sisilia, Italia. Bocah sembilan tahun itu terpaksa jadi anak yatim setelah ayahnya dibunuh bos mafia Don Ciccio. Saat hari pemakaman pun Vito mendapati kakaknya dan ibunya dibunuh oleh pelaku yang sama. Vito kecil pun diburu. Namun ia bisa menyelamatkan diri dibantu sahabat ayahnya, Tommasino (Mario Cotone). Vito akhirnya kabur hingga ke New York, Amerika Serikat. Dalam pemeriksaan imigrasi, petugas salah menyebut namanya: Vito Andolini menjadi Vito Corleone. Lantaran terinfeksi virus cacar, Vito terpaksa dikarantina tiga bulan di Pulau Ellis. Di kamar karantinanya, Vito duduk dengan anteng menghadap jendela. Dari kejauhan tampak Patung Liberty. Vito tak sabar mendambakan kehidupan barunya sebatang kara di kota yang sedang berkembang pesat itu.

  • Francis Ford Coppola dan Trilogi The Godfather

    NAMA Francis Ford Coppola diakui sebagai satu dari sedikit senias legendaris yang sejajar dengan Martin Scorsese, Steven Spielberg, James Cameron, Roman Polański, Spike Lee, ataupun Quentin Tarantino. Bukti sahihnya adalah raihan enam Piala Oscar (Academy Awards) dan enam Golden Globe. Tiga di antaranya ia menangkan di kategori sutradara terbaik lewat film-film epiknya, trilogi The Godfather  (1972, 1974, 1990) dan Apocalypse Now  (1979). Dalam rentang waktu hampir enam dekade, Coppola terlibat dalam 30 film epik, 26 di antaranya sebagai sutradara. Film merupakan hal familiar baginya. Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan keluarga yang berkecimpung di dunia seni, baik seni peran maupun musik. Kala berbincang dalam program “Living Live” yang ditayangkan Mola TV , Jumat (22/1/2021) malam dengan dipandu sineas Rayya Makarim dan eks-Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, Coppola berkisah bagaimana keluarganya yang imigran Italia sampai pada generasi kelima tetap dekat dengan industri film.

  • Melihat Lebih Dekat Dunia Mafia Lewat The Godfather

    DI TENGAH hingar bingar pesta pernikahan putrinya pada musim gugur 1945, Vito Corleone (diperankan Marlon Brando Jr.) masih disibukkan urusan dunia “hitam”. Seperti ketika Bonasera (Salvatore Corsitto) menghadapnya untuk memohon kepada bos mafia dari Keluarga Corleone itu agar mau membantunya menegakkan “keadilan” yang dialami putri Bonasera. Don Corleone memperingatkan bahwa jikalau ia mau membantu Bonasera, Bonasera kelak harus mau “berteman”. Artinya, Bonasera mesti loyal ketika nanti Don Corleone membutuhkan dirinya untuk urusan dunia gelap lain. Persyaratan itu dipenuhi Bonasera dengan mencium tangan sang godfather. Selebihnya, urusan itu diserahkan Don Corleone kepada tangan kanannya, Tom Hagen (Robert Duvall), yang akan mengatur tindakan di lapangan. Adegan itu jadi gambaran jelas bagaimana lika-liku di lingkaran keluarga mafia Italia. Deskripsi mendetail tentang segala hal yang berkaitan dengan hutang budi sebagai salah satu aktivitas dunia gelap itu diperlihatkan lebih dulu oleh sineas Francis Ford Coppola untuk mengawali film fiksi kriminal The Godfather .

  • The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan

    KATEDRAL tua Santo Patricius, New York pada suatu hari di bulan November 1979. Para hadirin, baik kerabat maupun keluarga, begitu khusyuk menjalani upacara pelantikan Don Michael Corleone (diperankan Al Pacino) sebagai penerima gelar anggota kehormatan Ordo Santo Patricius. Sebuah medali penandanya kemudian dikalungkan di lehernya oleh seorang uskup. Penobatan itu lantas disambung dengan pesta meriah di kediamannya. Namun di tengah pesta itu, Michael diusik perkara yang membelit keponakannya, Vincenzo ‘Vincent’ Mancini-Corleone (Andy García), dengan bos mafia yang baru naik daun, Joey Zasa (Joe Mantegna). Karena tak kunjung damai, rekan senior Michael, Don Altobello (Eli Wallach), berjanji untuk membantunya mendamaikan suasana. Michael tentu berterimakasih karena ia sedang tak ingin diganggu masalah sang keponakan. Yang lebih penting, Michael berencana membawa organisasi keluarganya keluar dari dunia hitam. Lewat Yayasan Vito Andolini Corleone Foundation yang didirikannya, Michael ingin semua aktivitas keluarganya tak lagi bergulir di luar aturan legal.

bottom of page