top of page

Hasil pencarian

9952 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kado Pahit Ulang Tahun Jenderal Moersjid

    SITI Rachma Moersjid akan menyiapkan jamuan besar. Dua hari lagi sang suami, Mayor Jenderal Moersjid merayakan ulang tahun ke-44. Tapi bak petir di siang bolong, hari itu mendadak berubah menjadi malapetaka. “Pada pagi hari 8 Desember 1969, ayah diminta menghadap Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dan disitulah surat penahanan diberikan oleh KASAD, Pak Umar Wirahadikusuma,” tutur Siddharta Moersjid kepada Historia.ID. Pada waktu itu, Moersjid baru saja mengakhiri masa dinasnya sebagai duta besar RI untuk Filipina. Setelah kembali ke Jakarta bulan Oktober, Moersjid dikembalikan ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tanpa jabatan. Kabar yang beredar, Moersjid terlibat konflik dengan Marshall Green, asisten menteri luar negeri Amerika Serikat urusan Timur Jauh. Insiden itu hampir berujung baku hantam sehingga Moersjid dipanggil pulang ke Indonesia.

  • Kekecewaan Istri Jenderal Moersjid

    JAKARTA, akhir 1969. Siddharta Moersjid baru saja pulang sekolah. Setiba di rumah, ayahnya Mayor Jenderal Moersjid bergegas keluar, menenteng koper dan mengenakan pakaian harian tentara. Sementara sang ibu, Siti Rachma, menangis melepas kepergian Moersjid. “Sida, Papa pergi dulu, jagain mama di rumah,” kata Moersjid menitip pesan kepada Siddharta. Entah apa yang terjadi saat itu, Siddharta yang masih bocah tanggung belum tahu. Setengah abad berselang, Siddharta menuturkan apa yang terjadi hari itu. “Dia (Moersjid) pergi ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo sendirian,” kenang Sida kepada Historia. Itu adalah hari di mana Moersjid menjadi tahanan dalam penjara rezim Orde Baru.

  • Moersjid dan Kawilarang, Dua Panglima Bersimpang Jalan

    UNTUK meningkatkan kemampuan teknik tempurnya, Letnan Kolonel Moersjid belajar ke Amerika Serikat. Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) lantas mengirimkan Moersjid ke Fort Benning U.S. Army Infantry School, di negara bagian Georgia. Moersjid adalah perwira Divisi Siliwangi (dari segelintir perwira menengah TNI) yang mendapatkan kesempatan itu. Di Fort Benning, Moersjid akan mengikuti pendidikan lanjutan perwira infanteri. “Waktu berangkat ke Fort Benning, ayah sahabatan sama Alex Kawilarang. Mereka sobat. Sohib banget,” tutur putra keempat Moersjid, Siddharta Moersjid, kepada Historia. “Jadi ayah dijemput [Alex Kawilarang] waktu datang ke Amerika.” Moersjid diantarkan ke Georgia, Alex kemudian kembali ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington D.C. Alex Evert Kawilarang saat itu menjadi atase militer (atmil) Indonesia di Amerika Serikat. Pangkatnya kolonel. Sebelum menjadi atmil, Alex merupakan Panglima Divisi Siliwangi. Dia tentu kenal baik dengan Moersjid. Lagipula sebagai atmil, Alex memang bertugas mengurus perwira-perwira TNI yang dikirimkan ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan baik di Fort Benning atau Fort Leavenworth.

  • Moersjid, Soeharto dan Senapan Chung

    KETIKA hari hilangnya Letjen TNI Ahmad Yani, Presiden Sukarno berupaya mencari sosok pengganti sementara panglima Angkatan Darat. Selama berjam-jam, Sukarno memilih dan memilah para jenderal yang direkomendasikan. Dari sekian nama, justru tak ada yang ideal di mata Bung Besar. Sebagaimana disarikan Julius Pour dalam G30S: Fakta atau Rekayasa, Sukarno mengungkapkan kesannya kepada masing-masing calon panglima. Mayjen TNI Moersjid (Deputi I Menpangad) dianggap temperamental. Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad) disebut koppig (keras kepala). Mayjen TNI Ibrahim Adjie (Panglima Divisi Siliwangi) punya istri orang Yugoslavia. Mayjen TNI Basuki Rachmat (Panglima Divisi Brawijaya) terganggu kesehatannya. Brigjen TNI Rukman (Kepala Staf Divisi Siliwangi) kurang begitu dikenal. Dan Mayjen TNI Pranoto (Asisten III/Personalia Menpangad) dinilai lamban.

  • Moersjid, Jenderal Pemarah yang Disegani Sukarno

    GONJANG-ganjing terjadi dalam TNI AD setelah keberadaan pucuk pimpinan Menteri/Panglima AD (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani tak diketahui. Kabar hilangnya Yani berdekatan dengan mengudaranya siaran pagi RRI pada 1 Oktober 1965. Saat itu, RRI memberitakan tentang adanya kudeta Dewan Jenderal dan pengumuman Dewan Revolusi. Berita simpang siur tadi bikin yang mendengar bingung kelimpungan, tak terkecuali pihak Istana. Pada tengah hari, Presiden Sukarno segera mengumpulkan semua petinggi TNI lintas angkatan. Masukan dari sana-sini menghasilkan sejumlah nama. Satu persatu kandidat ditelaah oleh Bung Karno. Siapa yang pantas menggantikan Yani? Menteri Panglima Angkatan Udara, Marsekal Omar Dani menyebutkan satu nama. “Moersjid, Pak,” katanya kepada Bung Karno dituturkan dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno.

  • Sardjito dan Biskuit Anti Lapar untuk TNI

    SETELAH melewati pertempuran menghadapi pasukan Inggris di Bandung, Sardjito melanjutkan perjuangannya di Klaten, Jawa Tengah. Dia tiba di kota itu sekitar akhir November 1945 bersama dengan rombongan karyawan Institute Pasteur dan tenaga kesehatan dari Palang Merah. Di Klaten, Insttute Pastur menempati sebuah laboratorium yang biasa digunakan untuk percobaan tembakau. Selain laboratorium untuk keperluan penelitian obat dan vaksin, Sardjito juga dipercaya mengelola rumah sakit di Tegalyoso, sebelah selatan Klaten. Di rumah sakit yang hingga sekarang masih berdiri, Sardjito memberikan perawatan untuk para korban perang, baik dari sipil maupun militer. “Selain diizinkan mempergunakan gedung Laboratorium Percobaan Tembakau, Institute Pasteur diperbolehkan pula memakai alat-alat dari laboratorium tersebut,” demikian menurut buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid I.

  • Merah Putih di Lembah Merdeka

    BERITA Proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai juga ke Bali. Karena punya sejarah berperang melawan Belanda pada Puputan 1906, delapan raja Bali bersimpati pada Republik Indonesia. Namun, situasi cepat berubah. Setelah gagal melucuti Jepang pada 13 Desember 1945, yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai, sebagian besar raja Bali balik arah menentang Republik. Hanya Raja Badung yang tetap berpihak ke Indonesia. Situasi ini dimanfaatkan Pasukan Gajah Merah Belanda yang mendarat di Pantai Sanur pada 2 Maret 1946. Van Beuge, mantan Residen Bali dan Lombok, menjanjikan akan mengembalikan kekuasaan raja seperti sebelum Jepang datang jika berpihak kepada Belanda.

  • Barisan Srikandi dalam Perjuangan Kemerdekaan

    GUNA menindaklanjuti proklamasi kemerdekaan yang sampai di Medan seminggu setelah dibacakan, Kayatin Sahir Nitihardjo dan Hadjah Siregar membentuk Barisan Srikandi (BS), yang bertugas mempersiapkan dapur umum dan pos kesehatan. Keduanya mendirikan BS hanya bermodal pelatihan singkat yang didapat di Pusat Latihan Bah Birung Ulu. Sama seperti banyak badan perjuangan lain yang berdiri setelah proklamasi, BS memikul tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan. Kala itu Belanda masih kerap melancarkan serangan militer meski Indonesia sudah menyatakan kemerdekaan. Kayatin mendapat tugas di front utara, dari daerah Two Rives sampai Binjai. Dia bekerjasama dengan prajurit Mujahidin dari Aceh bernama Burhan Ali menyalurkan obat-obatan ke berbagai kesatuan di front sekitar Pemantang Siantar.

  • Sejarah Gedung Mahkamah Konstitusi dan Medan Merdeka Barat

    PAGAR kawat berduri, ratusan polisi, dan tameng anti huru-hara. Beginilah pemandangan keseharian di halaman depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) Jalan Merdeka Barat, Jakarta, menjelang hari sidang Perselisihan Hasil Pemilu pada Jumat, 14 Juni 2019. Polisi telah melarang massa berunjuk rasa di depan gedung MK. Mereka juga akan menutup Jalan Medan Merdeka Barat ketika sidang berlangsung demi menjaga keamanan gedung MK dan kawasan bersejarah di sekitarnya. Gedung MK belum lama berdiri. Gedung ini mulai dibangun pada Juli 2005. Penggunaan gedung MK secara resmi berlangsung pada 13 Agustus 2007, bertepatan dengan hari jadi MK.

  • Daging Kucing dalam Perang Kemerdekaan

    BEBERAPA waktu lalu, jagad dunia maya dihebohkan dengan viral video seorang lelaki paruh baya memakan hidup-hidup seekor kucing di Pasar Jiung Kemayoran, Jakarta Pusat. Kejadian ini langsung direspon oleh pihak kepolisian setempat. "Jadi setelah itu viral kan saya langsung koordinasi dan perintahkan anggota. Termasuk saya nyariin yang bersangkutan. Cuma yang bersangkutan sudah tidak ada," kata Kapolsek Kemayoran Kompol Syaiful Anwarsaat dikonfirmasi oleh Kumparan, Senin (29/7).Hingga kini, polisi tengah menyelidiki kasus tersebut. Mengkosumsi daging kucing sejatinya pernah dilakukan oleh para pejuang kita di era Perang Kemerdekaan (1945-1949). Setidaknya itu yang pernah dikisahkan oleh Itoh (92), seorang eks petugas dapur umum di wilayah Bandung Selatan, kepada saya.

  • Pengalaman Ahmad Subardjo di Eropa

    KAPAL Sindoro memulai perjalanan menuju negeri Belanda pada awal tahun 1919. Dari Tanjung Priok, Batavia, kapal milik perusahaan Rotterdamsche Llyod itu berlayar melewati Selat Sunda menuju Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang, Sumatra Barat. Kapal singgah sementara untuk mengambil batu bara. Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Aden, Suez, Port Said, Marseille, dan melalui Selat Gibraltar ke Terusan Inggris dengan tujuan Rotterdam. Salah satu penumpang kapal berukuran 5.000 ton itu adalah Ahmad Subardjo. Dua tahun sebelumnya dia menamatkan pendidikan sekolah menengah umum pertama Koning Willem III (KW III) School di Batavia. “Di Terusan Inggris (English Channel) kapal harus berlayar sangat perlahan-lahan. Karena sudah waktu malam tiba di sana, kami berlabuh dekat pantai Inggris. Ini untuk menghindarkan kapal dari ranjau-ranjau yang banyak mengambang di Lautan Utara (North Sea). Ada kapal Rotterdamsche Llyod yang tenggelam karena melanggar ranjau,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional.

  • Tujuh Pejuang Asing dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

    PERANG Kemerdekaan di Indonesia (1945-1949), ternyata tidak melibatkan para pejuang bumiputera semata. Sejarah mencatat beberapa nama orang asing yang aktif berjuang sebagai kombatan, demi Indonesia merdeka. Awalnya mereka sebagian besar tergabung dalam pasukan musuh. Namun, karena bisikan hati nurani mereka menjadi ragu terhadap apa yang mereka sedang lakukan: memerangi bangsa yang ingin merdeka. Ketika rasa berdosa itu semakin kuat, pada akhirnya mereka justru menjadi pembelot dan bergabung dengan gerakan pembebasan tanah air di Indonesia. Siapa saja mereka? Berikut tujuh serdadu asing dari Belanda, Jepang, India, Nepal, Jerman, Korea dan Inggris yang kemudian menjadi gerilyawan Republik Indonesia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page