top of page

Hasil pencarian

9872 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Partai Tentara Zaman Belanda

    BANYAK orang pribumi yang tidak lagi buta huruf setelah bekerja di tentara kolonial Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), dan Angkatan Laut Belanda Koninklijk Marine (KM). Setelah pensiun dari dinas militer, mereka hidup dari uang pensiun yang diberikan kerajaan. Pada 1930-an, para pensiunan militer pribumi, terutama yang dari KNIL, banyak yang menghimpun diri di dalam Bond van Inheemsch Gepensioneerde Militairen (perkumpulan pensiunan militer). Perkumpulan ini berharap pemerintah kolonial memperhatikan kehidupan mereka. Mereka punya majalah Trompet yang rajin membahas kepahlawanan anggotanya. Setelah Perang Dunia II pecah, Belanda tak bisa membayar uang pensiun mereka. Kehidupan menjadi sulit bagi mereka. Maka setelah Perang Dunia II selesai dan diikuti rusaknya perekonomian pasca-perang, para pensiunan itu berharap mendapat uang pensiun lagi. Mereka lebih memilih Belanda berkuasa lagi di nusantara meski Republik Indonesia (RI) sudah berdiri. Tentu karena Belanda lebih menjanjikan dalam hidup mereka daripada RI yang baru berdiri.

  • Tentara Jepang Bantai Pejuang Semarang di Rumah Sakit

    PERANG bisa saja tak mengenal tempat. Rumah sakit sejatinya adalah tempat untuk merawat orang sakit supaya sembuh. Namun, di zaman perang rumah sakit bisa berubah bak arena penjagalan manusia. Suasana seperti itu juga pernah terjadi di Indonesia. Tepatnya pada Pertempuran Lima Hari di Semarang yang berlangsung 14—19 Oktober 1945. Pada pagi buta 15 Oktober, pasukan Jepang bergerak dari markasnya di Jatingaleh menyerang pejuang Republik di beberapa titik Kota Semarang. Mereka adalah pasukan Kido Butai, pasukan cadangan militer setara batalion, yang dipimpin oleh komandan garnisun Semarang, Mayor Shinichiro Kido. Gerakan itu sebagai reaksi atas desakan kelompok pemuda yang ingin melucuti senjata Jepang disertai ancaman penangkapan terhadap orang-orang Jepang. Terlebih lagi Mayor Kido mendengar Mayjen Imamura, komandan pasukan Jepang di Jawa dan Madura, ditawan oleh pemuda pejuang di Magelang.

  • Aksi Tentara Semut di Zaman Revolusi

    SEKILAS tak ada yang mencurigakan dari gerak-gerik anak-anak yang tengah asyik bermain di siang hari itu. Namun, tanpa disadari oleh orang-orang di sekitarnya, anak-anak tersebut sesungguhnya tengah menggali informasi mengenai pergerakan tentara Sekutu dan NICA di Padang. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tak hanya dilakukan orang-orang dewasa. Anak-anak juga tergerak untuk ikut ambil bagian dalam mengusir pasukan Belanda. Di Sumatra Barat, anak-anak ini disebut tantara samuik atau tentara semut. Dalam Ensiklopedi Minangkabau dijelaskan, tantara samuik atau tentara semut adalah sebutan populer yang diberikan masyarakat untuk menyebut kelompok anak-anak remaja yang terpanggil untuk membantu perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan pada masa Aksi Militer Belanda I dan II tahun 1947–1948. Anak-anak ini diberi latihan dasar kemiliteran dan tugas-tugas bantuan seperti menjadi kurir, mata-mata, hingga petugas palang merah.

  • Rakyat Wehale Melawan Tentara Fasis Jepang

    KERAJAAN Wewiku-Wehale terletak selatan Belu, Nusa Tenggara Timur. Kerajaan itu tentu punya hubungan dengan dunia luar. Dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Timur, Widyatmika dkk. menyebut kerajaan itu sekitar tahun 1642 berhubungan dengan imperium Makassar di Sulawesi Selatan. Buku Indonesia Membangun Volume 4 menyebut Wehale merupakan kerajaan federasi yang punya raja-raja bawahan. Kerajaan tersebut adalah saingan Portugis. Kerajaan Wehale akhirnya memeluk Islam. Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "petite histoire" Indonesia Volume 1, menyebut Raja Wehale memeluk Islam ketika merasa terancam oleh orang Eropa di daerahnya. Sebagai pesaing, Portugis memerlukan persekutuan untuk melemahkan kerajaan tersebut. Lewat persekutuan dengan kerajaan-kerajaan bawahan Wehale, Portugi berhasil memperkuat posisi politiknya. Sebagian Wehale pun masuk Timor Portugal, sementara Wehale yang lain kemudian jadi bawahan Belanda.

  • Sniper Indonesia Tewaskan Ratusan Tentara Belanda

    KETERBATASAN senjata dan amunisi tentu membuat kombatan Republik Indonesia harus bisa berhemat dalam memakai peluru. Bertempur seperti penembak jitu (Inggris: sniper; Belanda: sluipschutter) tentu menjadi cara terbaik bagi kombatan Indonesia di Perang Kemerdekaan. Satu nyawa musuh cukup dengan satu peluru saja. Tapi, hanya sedikit pejuang Indonesia yang pernah mendengar istilah sniper atau sluipschutter, apalagi paham konsep kerja mutakhirnya. Terlebih era-era sebelumnya. Termasuk orang yang menembak Jenderal Mayor Johan Harmen Rudolf Köhler (1818-1873) ketika sedang memantau pertempuran di bawah pohon depan Masjid Raya Aceh, sebagaimana disebut Daoed Joesoef dalam Dia dan Aku dan Anton Stolwijk dalam Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak Yang Ditinggalkan. Kohler tentu bukan satu-satunya militer Belanda yang jadi korban sniper di Indonesia. Terlebih dalam Perang Kemerdekaan, korban sniper Indonesia jauh lebih banyak.

  • Perang Bubat Masih Pekat

    BHRE Prabu Hayam Wuruk yang menghendaki putri Sunda mengutus Patih Madhu, seorang mantri senior, untuk mengundang pihak Sunda. Tak keberatan jadi besan, datanglah Raja Sunda Prabu Maharaja ke Majapahit. Alih-alih diterima dengan pesta menyambutan, mereka menghadapi sikap keras Mahapatih Gajah Mada yang menghendaki putri Sunda sebagai persembahan. Pihak Sunda tak setuju dan bertekad perang. Gajah Mada memberi tahu perilaku orang Sunda. Bra Prameswara dari Wengker menyatakan siap bertempur. Maka, pasukan Majapahit mengepung orang-orang Sunda. Tak mau menyerah, orang-orang Sunda memilih mempertaruhkan nyawa. Pertempuran tak terelakkan. Sorak-sorai bergemuruh ditingkahi bunyi reyong. Raja Sunda, Prabu Maharaja, meregang nyawa paling awal. Bra Prameswara datang ke Bubat, tak tahu masih banyak orang Sunda yang belum gugur. Tak ayal pasukannya mendapat serangan dan porak-poranda. Namun, ia segera melakukan serangan balasan.

  • Ujung Sketsa Hidup Henk Ngantung

    BAHKAN di masa tuanya, Henk Ngantung masih mengalami perundungan dan tak lepas dari stigma. Geni Ngantung, anak kedua Henk, masih ingat kejadian memilukan itu, menjelang wafatnya sang ayah. Pada akhir November 1991, Henk berkesempatan memamerkan lukisan-lukisannya di Galeri Jaya Ancol, Jakarta Utara. “Sebelum tanggal 29 November [1991] sebenarnya sudah mau pameran. Intel bilang dianggap berbahaya. Katanya, Henk mau reuni sama orang PKI dan Lekra,” tutur Geniati Heneve Ngantung, yang akrab dipanggil Geni, kepada Historia.ID. Itu adalah pameran terakhir Henk Ngantung. Tidak banyak yang tahu, Henk yang sudah sepuh itu mengalami tekanan sepanjang pameran berlangsung. Aparat intelijen militer dari Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) disusupkan untuk mengawasi jalannya pameran. Henk yang sehari-harinya berpembawaan tenang, memendam amarah dan sakit hati. Keluarganya pun tak habis pikir mengapa Henk sampai diperlakukan sebegitu rupa.

  • Simpanan Senjata Brigjen Frans Karangan

    SUATU hari di tahun 1981, mobil yang ditumpangi Menhankam?Panglima ABRI Jenderal M Jusuf melintasi perempatan Jalan Agus Salim dan Jalan Kebon Sirih, Jakarta. Mobil itu berhenti kena lampu merah. Dari dalam, Jenderal Jusuf melihat mobil lain yang juga sedang berhenti di sebelahnya. Pintu kanan belakang mobil itu terbuka sehingga Jenderal Jusuf mengetuk kaca mobil yang dilihatnya itu. Sopir mobil itu tahu siapa yang mengetuk pintu kaca mobil yang dikendarainya. Orang di dalam mobil yang diketuk panglima itu pun membuka pintunya. “Frans serahkan mi itu senjata-senjatamu ke Kodam,” kata Jenderal Jusuf dalam dialek Bugis.

  • Kaum Papa Tionghoa dari Benteng Tangerang

    KAPAL rombongan Tjen Tjie Lung, saudagar Tionghoa, hampir sampai di pelabuhan Jayakarta pada 1407. Sayangnya, kapal mereka rusak sehingga harus berlabuh di muara Sungai Cisadane (sekarang Teluk Naga). Tjen, ditemani sembilan gadis dalam rombongan, lantas menghadap penguasa setempat, Sanghyang Anggalarang, untuk meminta bantuan. Gadis-gadis itu menarik perhatian para pembesar kerajaan. Mereka pun menikahinya. Sebagai imbalan, rombongan Tjen diberi sebidang tanah di sebelah timur Sungai Cisadane. Ini menjadi gelombang awal pemukim Tionghoa di Tangerang. Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menduduki wilayah itupada abad ke-16. Sebuah benteng –dinamakan Benteng Makassar– dibangun untuk melindungi wilayah itu dari serangan musuh. Karena tak suka dengan aturan VOC, beberapa orang Tionghoa keluar dari Benteng Makassar dan mendirikan permukiman.

  • Kakak dan Adik Beda Timnas di Sepakbola Dunia

    SEJURUS performa tim nasional Indonesia yang kian menyala di kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, PSSI kembali mendatangkan calon pemain naturalisasi diaspora asal Belanda. Adalah Mees Hilgers dan Eliano Reijnders Lekatompessy yang akan menjalani proses naturalisasi. Menariknya, Eliano punya kakak yang sudah berseragam timnas Belanda. Mees Hilgers beribu orang Manado, sedangkan Eliano Reijnders ibunya berasal dari Maluku. Keduanya sudah diperkenalkan Ketum PSSI Erick Thohir dan dalam waktu dekat akan menjalani proses naturalisasi sebelum bergabung ke skuad timnas senior besutan Shin Tae-yong. “Tadi sore banyak teman wartawan menanyakan kabar @meeshilgerss dan @eliano.r. Ini saya sudah makan malam bareng dan salaman,” ungkap Erick di akun Instagram-nya, @erickthohir, Jumat (6/9/2024).

  • Mimpi Indonesia di Piala Dunia Terganjal Israel

    GEGAP gempita Piala Dunia 2018 di Rusia kian terasa. Sekira setahun lagi, pesta sepakbola terbesar itu akan kembali menggelorakan para penggila bola di berbagai pelosok bumi, termasuk Indonesia. Pun begitu, Indonesia lagi-lagi hanya akan menjadi penonton. Entah kenapa sepakbola Indonesia bak jalan di tempat. Suriah saja yang negaranya tengah luluh-lantak gara-gara perang, punya asa untuk mentas di Piala Dunia 2018. Menjadi salah satu tim urutan tiga terbaik di Kualifikasi Piala Dunia, Suriah punya kans jika mampu melewati Australia dan tim urutan 4 Zona Concacaf (Amerika Utara, Tengah dan Karibia). Sementara Indonesia harus gigit jari karena “pagi-pagi” sudah gugur di kualifikasi Zona Asia (Asia). Tidak sedikit yang merasa timnas Indonesia takkan tampil di Piala Dunia sampai kiamat. Selebihnya, masih membanggakan dan “mengakui” bahwa yang tampil di Piala Dunia 1938 di Prancis adalah timnas Indonesia.

  • Pemain Tunadaksa Penentu Juara Piala Dunia

    SEBELUM meniti karier di sepakbola, Hector Castro mengalami kecelakaan di bengkel kayu. Tangannya dilahap gergaji listrik hingga lengan kanan bagian bawahnya terpaksa diamputasi. Meski tunadaksa, dia kemudian menjadi pemain sepakbola untuk klub Nacional dan tim nasional Uruguay. Alberto Suppici, entrenador (pelatih) memasukan Castro dalam timnas Uruguay di Piala Dunia pertama pada 13-30 Juli 1930. Suppici tak sia-sia membawanya ke Piala Dunia yang digelar di negerinya itu. Gol terakhir Castro memastikan La Celeste (julukan timnas Uruguay) menjadi juara Piala Dunia yang saat itu bernama trofi Jules Rimet. Perjalanan Uruguay sendiri terbilang mulus sejak babak penyisihan. Tergabung di Grup 3, tuan rumah dihadang Peru dan Rumania. Castro berperan penting di partai pertama tuan rumah menghadapi Peru. Gol tunggal kemenangan Uruguay datang dari penyerang berjuluk El Manco atau “si tangan buntung” di menit ke-60.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page