top of page

Kisah Cinta Aktor Jerman di Bawah Cengkeraman Nazi

Nazi mendirikan biro khusus untuk mengurusi kehidupan pribadi para sineas Jerman. Aktor ternama Hans Albers menyusun rencana menyelamatkan kekasihnya seorang Yahudi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Potret Hans Albers dan Hansi Burg saat menghadiri pemutaran drama ‘’Liliom’’ karya Franz Molnar di Zurich pada tahun 1947. (D. Fuchsberger/Wikipedia).

11 Jun 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 26 Mar

SEIRING didapuknya Adolf Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman dan didirikannya Dewan Budaya Reich (Reichkulturkammer) pada 1930-an, kampanye di media massa mendorong penonton untuk tidak menoleransi aktor dan aktris non-Arya dan menuntut semua bintang film untuk memberikan bukti asal-usul ras mereka. Lembaga Biro Promosi Seni (Amt für Kunstpflege) didirikan untuk mengurusi urusan pribadi para aktor, sutradara, produser, penulis naskah, penerbit, dan sejenisnya.


Menurut sejarawan David Welch dalam Propaganda and the German Cinema, 1933–1945, biro itu pada dasarnya adalah organisasi partai dan bekerja sama dengan Filmkontingenstelle, yang berada di bawah pengawasan Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda. “Tidak puas dengan menyelidiki asal-usul ras orang-orang yang bekerja di dunia seni, biro ini juga memiliki perhatian yang besar terhadap ‘sikap’ dan pergaulan mereka,” tulis Welch. RMVP atau Kementerian Negara bidang Penerangan dan Propaganda Reich di bawah Joseph Goebbels.


Biro tersebut menerima kiriman banyak surat dari pembaca yang bertanya tentang asal-usul ras para aktor kenamaan Jerman. Salah satu pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah tentang hubungan aktor Hans Albers dengan aktris berdarah Yahudi bernama Hansi Burg.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page