- 11 Jun 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 26 Mar
SEIRING didapuknya Adolf Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman dan didirikannya Dewan Budaya Reich (Reichkulturkammer) pada 1930-an, kampanye di media massa mendorong penonton untuk tidak menoleransi aktor dan aktris non-Arya dan menuntut semua bintang film untuk memberikan bukti asal-usul ras mereka. Lembaga Biro Promosi Seni (Amt für Kunstpflege) didirikan untuk mengurusi urusan pribadi para aktor, sutradara, produser, penulis naskah, penerbit, dan sejenisnya.
Menurut sejarawan David Welch dalam Propaganda and the German Cinema, 1933–1945, biro itu pada dasarnya adalah organisasi partai dan bekerja sama dengan Filmkontingenstelle, yang berada di bawah pengawasan Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda. “Tidak puas dengan menyelidiki asal-usul ras orang-orang yang bekerja di dunia seni, biro ini juga memiliki perhatian yang besar terhadap ‘sikap’ dan pergaulan mereka,” tulis Welch. RMVP atau Kementerian Negara bidang Penerangan dan Propaganda Reich di bawah Joseph Goebbels.
Biro tersebut menerima kiriman banyak surat dari pembaca yang bertanya tentang asal-usul ras para aktor kenamaan Jerman. Salah satu pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah tentang hubungan aktor Hans Albers dengan aktris berdarah Yahudi bernama Hansi Burg.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















