- 14 Jun 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 22 Mar
DI MASA pemerintahan Adolf Hitler, tak hanya orang-orang Yahudi yang menjadi target Nazi, tetapi juga para penyuka sesama jenis. Nazi memandang mereka sebagai orang-orang dekaden yang dapat merusak kehidupan masyarakat ideal yakni kemurnian ras Arya.
Naiknya Hitler ke tampuk kekuasaan diikuti dengan kampanye antihomoseksual. Menteri Dalam Negeri Hermann Goering memberlakukan tiga dekrit untuk memerangi ketidaksenonohan publik. Pertama terkait prostitusi dan penyakit kelamin; kedua menutup bar yang digunakan untuk tujuan tidak senonoh; dan ketiga melarang kios, toko buku, dan perpustakaan menjual maupun meminjamkan buku-buku atau apapun yang, “baik karena mengandung ilustrasi telanjang, atau karena judul atau isinya, dapat menimbulkan efek erotis bagi yang membacanya.” Mereka yang tertangkap akan dikenai denda, atau kehilangan lisensi maupun izin peminjaman.
Penggerebekan sejumlah bar yang menjadi tempat berkumpulnya para penyuka sesama jenis berlangsung secara besar-besaran tahun 1934 setelah kematian Ernst Röhm, mantan stabschef (setara kolonel jenderal) pasukan Sturmabteilung (SA, sayap militer Partai Nazi), yang ramai dilaporkan berbagai media khususnya corong Partai Nazi, sebagai penyuka sesama jenis.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















