- 5 jam yang lalu
- 2 menit membaca
ANAK juragan dari Arnhem ini memlih jalan berbeda. Usai bersekolah di sekolah menengah Hogere Burger School (HBS), jiwa mudanya menuntunnya berpetualang ala film laga. Maka mendaftarlah dia ke Legion d’Estranger alias Legiun Asing Prancis di Afrika Utara.
Dari rumah yang nyaman dia harus hidup di barak dan tempat latihan. Waktu bersantainya tergerus. Latihan keras dengan disiplin dan kekerasan jadi pengalaman hariannya. Semua itu dijalaninya agar siap ketika mendapat giliran jaga malam di bawah langit berbintang Afrika Utara. Hidupnya dilingkupi bahaya, apalagi ketika Perang Dunia pecah.
“Dialah Légionnaire Michels, yang melindungi mundurnya Pasukan Ekspedisi Inggris dengan rentetan peluru dari senapan mesinnya. Dia adalah salah satu yang terakhir naik ke pesawat,” tulis Arnhemse Courant edisi 24 Maret 1949 tentang Robert Cornelis Michels yang bernama alias Bob (1917-1988).
Ketika pasukannya mundur, Michiels sudah sekitar dua tahun bertugas di Legiun Asing Perancis. Sesampainya di Inggris, Michiels minta pindah kesatuan. Dia lalu ditempatkan di satuan perintis tentara Inggris.
Namun, tak lama di London, Michiels kembali dikirim ke garis depan. Dia kembali bertempur, kini di Norwegia.
Michiels lalu minta dipindahkan ke kesatuan tentara Belanda yang berada di Inggris. Setelah mengikuti latihan berat di pelatihan komando Achnacerry, Skotlandia, Michiels ditempatkan di Dutch Army No. 2 yang punya spesialisasi pasukan komando. Di kesatuan dengan baret berwarna merah dan lambang sayap tersebut, Michiels berpangkat kopral.
Kopral Michels keahliannya tak hanya berkelahi dan memakai senjata api, tapi juga terjun payung dari pesawat. Terjun itu dialaminya juga saat dilibatkan dalam Operasi Market Garden –yang dilancarkan pasukan Sekutu untuk membebaskan Belanda yang diduduki Jerman-Nasi– pada suatu hari di bulan September 1944.
“Awalnya dia ditempatkan di dekat Groningen, tetapi entah bagaimana posisinya di sana menjadi tidak aman, mereka memindahkannya ke tempat kami dekat pertanian kami,” aku Rudy Blatt dalam laporannya To Live You Fight: A War Diary.
Rudy ketika itu berada di sekitar Drenthe, Belanda. Rudy merasa prihatin dengan Michiels yang dianggapnya tidak cocok untuk pekerjaan dengan kelicikan menguras mental. Arnhemse Courant tanggal 24 Maret 1949 menulis, di sekitar Veenhuizen dan Drenthe pada Oktober 1944 Michels berusaha melatih orang Belanda yang ikut perlawanan terhadap tentara Jerman di Belanda. Dia terlibat dalam penggerebakan di Rumah Tahanan di Assen.
Beberapa anggota pasukan khsusus Belanda yang ikut Operasi Market Garden setelah 1945 dijadikan perwira, termasuk Bob Michels, Rudy Blatt, Raymond Paul Pierre Westerling, dan juga Rodes Barendrecht Visser yang kelak dikenal sebagai Idjon Djambi "sang pendiri Kopassus". Mereka menjadi letnan. Keempat prajurit pasukan khusus Belanda yang dilatih Inggris itu kemudian dikirim ke Indonesia.
Di Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya itu, Rudy Blatt ditugaskan di bawah Kolonel Simon Hendrik Spoor selaku kepala Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS). Banyak informasi soal Indonesia mereka kumpulkan. Sementara, Visser bertugas melatih pasukan payung, dan Westerling melatih pasukan baret hijau Depot Special Troepen di Polonia, Jatinegara. Michiels sendiri ditugaskan di kesatuan infanteri biasa.
Bob Michels pernah ditugaskan di Sumatra Selatan di bawah komando Kolonel Fritz Mollinger. Di daerah itu pula dia memetik “kemenangan” lantaran aksinya di Veenhuizen-Drenthe pada Oktober 1944 diapresiasi petinggi militer dan Kerajaan Belanda. Berdasarkan Koninklijk Besluit 4 November 1948, Letnan Satu Robert Cornelis Michels dianugerahi Bronzen Leeuwe atau Singa Perunggu. Sebuah upacara penganugerahan lantas diadakan di Palembang. Koran Het Dagblad edisi 14 Februari 1949 memberitakan, penghargaan untuk Michels itu disematkan oleh Komandan Tentara Teritorial Sumatera Selatan Kolonel Mollinger.*













Komentar