top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tembakan di Hari Raya Kurban

    SALAT Iduladha di halaman Istana Merdeka Jakarta pada 14 Mei 1962, sudah masuk penghabisan rakaat kedua, saat seorang lelaki berpistol tiba-tiba berdiri dan meneriakkan takbir. Sejurus kemudian: Dor… dor...dor! Tiga letusan menyalak, melesatkan timah panas ke arah barisan terdepan. Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden Sukarno, dan wakilnya Sudiyo, dengan cepat melindungi Sukarno. Soedarjat, anggota DKP yang berjaga di belakang Sukarno, membalikkan badan sembari mencabut pistol. Nahas, dia keduluan ditembus peluru, jatuh berlumuran darah di belakang Sukarno. Soesilo, anggota DKP, juga ketika memutar badan ke belakang terkena pelor di kepalanya. Satu peluru lagi mengenai bahu Ketua DPR KH Zainul Arifin.

  • Mula Kristen di Sri Lanka

    HARI Paskah yang mestinya damai berubah duka. Korban tewas mencapai 310 orang akibat serangkaian aksi terorisme di sejumlah gereja dan hotel di Sri Lanka, Minggu (21/4/2019). Para pemimpin dunia turut berbelasungkawa, tak terkecuali Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). “Indonesia mengecam keras serangan bom di beberapa tempat di Sri Lanka, hari ini. Atas nama seluruh rakyat Indonesia, saya juga menyampaikan duka cita yang mendalam kepada Pemerintah Sri Lanka dan seluruh keluarga korban. Semoga korban yang luka-luka dapat segera pulih,” ungkapnya via akun Twitter @jokowi, Minggu malam, 21 April 2019. Aksi biadab itu jadi catatan kelam bagi umat Nasrani di Sri Lanka yang jejaknya sudah ada berabad-abad lampau. Lembaran sejarah berbicara bahwa negeri-pulau di selatan India itu sudah bersentuhan dengan agama Nasrani sejak abad pertama dan Nasrani jadi agama ketiga yang dikenal masyarakat setempat selain Buddha dan Hindu.

  • Penginjil Kristen dan Wabah di Tanah Batak

    MAKHLUK-makhluk yang telah membangkai itu berpuluhan ribu jumlahnya. Manusia yang tewas maupun kuda perang yang mati akibat pertempuran terserak bergelimpangan. Jasadnya terapung-apung di tepi sungai dan danau. Benih penyakit pun menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru. Demikianlah keadaan di Tanah Batak setelah kaum Padri melancarkan serangannya. Augustin Sibarani penulis buku Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamngaraja XII mencatat higienitas udara di Tanah Batak pada waktu itu sebenarnya sudah mulai mengerikan. Musababnya adalah merebaknya tiga macam wabah misterius. Tiga “hantu” sedang menghinggapi daerah Humbang dan Toba Holbung, yaitu Begu Attuk, Begu Aron, dan Ngenge na Birong. “Ini adalah nama-nama yang amat kesohor di Tanah Batak, tiga macam penyakit terkutuk yang amat sering melanda daerah-daerah indah di sekitar Danau Toba ini berupa epidemi-epidemi yang membawa banyak putra-putra Batak ke liang kubur: kolera, tipus, dan penyakit cacar,” tulis Sibarani.

  • Format Sejarah Cerdas Cermat

    LOMBA Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 di tingkat Provinsi Kalimantan Barat geger akibat penjuriannya kontroversial. Meski lomba cerdas cermatnya bakal digelar ulang, hingga tulisan ini diturunkan para pimpinan MPR yang mengeluarkan keputusannya belum memastikan kapan pelaksanaan lomba ulangnya. Kontroversi penjurian yang viral terjadi di babak final lomba cerdas cermat di Pontianak, Kalimantan Barat pada Sabtu (9/5/2026). Di sesi pertanyaan rebutan, peserta dari Regu C (SMAN 1 Pontianak) lebih dulu memencet tombol lalu memberikan jawaban namun dianggap salah sehingga nilainya dikurangi. Kemudian Regu B (SMAN 1 Sambas) menjawab dengan jawaban yang kurang lebih sama dan dibenarkan dewan juri sehingga keluar sebagai pemenang untuk mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional. Sontak, Regu C memprotes dan juri memberi alasan bahwa jawaban Regu C dianggap tidak menyebutkan penjelasan “pertimbangan dari DPD RI”. Regu C keberatan karena mereka yakin sudah menyebut penjelasan itu. Namun dewan juri tetap menolak. Alasannya, artikulasi Regu C kurang jelas sehingga tetap memberikan minus lima pada poin yang sudah dikumpulkan Regu C. Dalam tayangan ulang, terdengar jelas bahwa Regu C menjawab dengan tepat serta menyertakan penjelasan “pertimbangan dari Dewan Perwakilan Daerah RI”. Tak ayal, dewan juri pun jadi bulan-bulanan warganet. Maka selain meminta maaf dan memutuskan lomba akan diulang, pihak MPR RI menegur dan mengevaluasi dewan jurinya. Josepha Alexandra, siswi peserta dari SMAN 1 Pontianak yang jawabannya dianggap salah oleh dewan juri (Youtube MPRGOID) Ditiru Banyak Negara Termasuk Indonesia Cerdas cermat alias lomba uji wawasan-pengetahuan dengan konsep tanya-jawab cepat awalnya bukan dimulai untuk para pelajar atau akademisi. Ia mulanya sebuah produk hiburan pop-culture sederhana untuk menjaga mental dan semangat juang tentara Amerika Serikat (AS) di Perang Dunia II (1939-1945). Pencetusnya adalah Donald David ‘Don’ Reid, musisi muda kelahiran Montréal, Kanada, pada 28 September 1911, yang hijrah ke AS. Sewaktu Perang Dunia II, Donald tergabung di sebuah lembaga non-profit United Service Organizations (USO). Menurut sejarawan-advokat Walter Samuel Griggs Jr. dalam World War II Richmond Virginia, banyak lembaga non-profit yang bekerjasama dengan Departemen Perang AS menyediakan hiburan dan pembinaan mental untuk para serdadu AS agar diberi kesempatan cuti dari peperangan di Eropa dan Pasifik. Selain USO, terdapat Young Men’s Christian Association (YMCA), Red Cross, Jewish Army-Navy Group, dan The Army Mom’s Club dan Navy Mother’s Club. “Untuk mendukung para prajurit lebih jauh, USO mengirim perwakilan-perwakilannya ke Richmond untuk mengajak dan melibatkan seluruh pihak di kota ke dalam program-programnya. Pada Desember (1941), USO mengambil-alih beban besar terkait kesejahteraan para prajurit, meski organisasi-organisasi lain juga terus menjalankan program-program lain,” ungkap Griggs Jr. Maka, Di Richmond, AS, konsep awal cerdas cermat bermula. Tugas untuk merancang sebuah hiburan dan aktivitas rekreasi yang inovatif jatuh kepada anggota USO bernama Don Reid. “Saat penghibur Don Reid ditugaskan membuat sebuah format hiburan baru untuk para prajurit yang bertempur di Perang Dunia II, ia memutuskan untuk menguji mereka dengan pengetahuan umum, sebagaimana yang pernah para prajurit alami saat rekrutmen mereka. Namun kali ini ia akan menempatkan mereka di atas panggung,” tulis jurnalis Inggris Alan Connor dalam The Joy of Quiz. Pasca-Perang Dunia II, konsep itu mulai dikembangkan dan diperluas ke kalangan pelajar. Reid lalu menawarkan format baru konsep “cerdas cermat” didaptasi ke sebuah program radio. “Reid yang di masa kuliah merupakan seorang bintang basket, merefleksikan ide itu dan berpikir mengapa anak-anak muda yang belajar di kampus-kampus Amerika tidak punya sebuah forum untuk bisa diakui. Ia mengatakan, ‘Harus ada sebuah cara untuk bersenang-senang dengan olah pikiran.’ Ide besarnya tak lain metafora olahraga: jump ball danfree-throws – atau dalam istilah kuis, permulaan dan bonus-bonus. Dalam format ini, beberapa pertanyaan menguji kecepatan pikiran dan pendekatan yang rasional,” tambahnya. Dalam otobiografinya yang dituliskan bersama Bud Rukeyser, Tinker in Television: From General Sarnoff to General Electric, bos stasiun radio dan televisi NBC Grant Tinker menyebut, ide Reid itu kemudian didiskusikan dengan salah satu produser radio John Moses. Hasil diskusinya lantas diteruskan ke Tinker yang juga masih jadi produser salah satu program NBC. “Suatu hari John memperlihatkan berkas-berkas ide yang sketchy untuk program radio yang diberikan kepadanya beberapa tahun sebelumnya oleh Don Reid. Idenya tak lebih dari kerangka usulan sebuah kompetisi kuis antarkampus. Saat John minta pendapat, saya katakan bahwa itu bisa saja jadi sebuah program acara dan ada seseorang yang mungkin bisa membawakannya, yakni Allen Ludden yang ketika itu rangkap jabatan sebagai seorang eksekutif program dan penyiar untuk (radio) WTIC yang masih terafiliasi NBC di Hartford,” tulis Tinker. Tinker pun lantas menemui Allen di Hartford, Connecticut. Allen, sebut Tinker, juga antusias untuk mewujudkannya. Maka saat itu juga keduanya merancang program acara cerdas cermat dengan lebih detail. Hasilnya, lahir program acara bernama College Quiz Bowl. “Allen menciptakan acaranya yang kemudian menjadi College Quiz Bowl: format umum, dua kampus, dijalankan secara remote, pertanyaan-pertanyaan rebutan, pertanyaan-pertanyaan bonus. Kontribusi saya sendiri lebih kepada duduk di sana saat ia membuat outline program radionya dan sekadar bertanya, apakah ia mau terlibat dalam programnya. Ia bukan hanya mau terlibat, namun ia juga sampai mundur dari pekerjaan lamanya dan membawa serta istri dan ketiga anaknya ke Dobbs Ferry dan mulai bekerja dengan kami di Manhattan,” tambahnya. Tinker pun membawa ide-ide yang sudah final itu ke direktur program NBC Radio, Jack Cleary, yang kemudian juga menyetujuinya. Maka, program pilot College Quiz Bowl pertama pun mulai dilakukan dengan cara taping dan bekerjasama dengan radio-radio lokal di tempat kampus-kampus itu berada. “Acaranya dimulai dari sebuah studio NBC kecil di 30 Rock (Gedung Rockefeller Plaza 30, red.), di mana kru kami sendiri sangat kecil yang terdiri dari pembawa acara, seorang sutradara dan teknisi di ruang kontrol,” terang Tinker. Cerdas cermat College Quiz Bowl edisi perdana itu diputar di radio NBC pada 10 Oktober 1953. Pesertanya berasal dari dua tim kampus yang masing-masing terdiri dari empat mahasiwa. Dua kompetitor perdana yang berlomba itu adalah para mahasiswa dari Northwestern University melawan tim mahasiswa Columbia College. Menariknya, program itu masih dilakoni secara remote. Pembawa acara Allen Ludden membacakan soal-soalnya dari studio NBC di New York, sedangkan tim Columbia College menjawab pertanyaan-pertanyaan dari studio radio WNBC dan tim Northwestern University menjawabnya dari studio radio WMAQ di Chicago. “Tim berisi empat orang yang diketuai Howard Falberg, akan mewakili Columbia pada seri pertama acara kuis antarkampus bertajuk ‘College Quiz Bowl’ pada Sabtu, 10 Oktober pukul 8 malam di WNBC. Bill May, Bill Scales dan Joe Wishy adalah tiga orang anggota lainnya yang akan bertemu tim serupa dari Northwestern University dalam siarannya. Jika tim Columbia menang, mereka akn bertemu Wesleyan University pada pekan berikutnya,” tulis suratkabar Columbia Spectator edisi 2 Oktober 1953 dalam “Columbia Quiszters Set To Meet Northwestern”. Peserta dari tim University of Manchester saat mengikuti "University Challenge" tahun 1962 (blanchflower.org) Untuk episode perdana di season pertama itu, tim Northwestern University menang telak dengan skor 135-60. Bonus bagi tim pemenang berupa hadiah uang 500 dolar AS dan tim yang kalah diberikan hadiah apresiasi berupa arloji merk Longines Wittnauer. Program cerdas cermat itu dihelat radio NBC sepekan sekali hingga 1955. Setelah vakum, pada 1959 program acaranya diperbarui oleh stasiun televisi CBS -bekerjasama dengan General Electric sebagai sponsor utama– dengan tajuk GE College Bowl. “Namun program acaranya dihentikan pada 1970. Selain terdapat masalah sengketa terkait kepemilikan format acara, General Electric juga tidak nyaman terhadap kalangan mahasiswa karena banyak dari mereka yang mulai protes terhadap peran perusahaan itu dalam Perang Vietnam (1955-1975). Saat itu sudah ada 1.500 institusi (kampus) dalam waiting list untuk tampil di seri 1970-1971 yang kemudian dibatalkan,” sambung Connor. Meski begitu, program acaranya tetap “eksis” karena perlahan namun pasti, kampus-kampus mengadakan sendiri agendanya secara off-air. Bahkan, sekolah-sekolah tingkat SMA mulai mengikutinya. Di negara lain juga bermunculan versi-versi internasionalnya yang ditayangkan televisi. Seperti program acara “University Challenge” di Inggris yang sudah mengikutinya sejak 1962, atau versi-versi lain seperti di Selandia Baru, Australia, India, Belanda, Belgia, hingga Irlandia (“Challenging Times”). Di Indonesia, konsep cerdas cermat mulai diikuti pada paruh kedua 1970-an sebagai bagian dalam rangka Pemasyarakatan P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila). Ia dijadikan program pemerintahan Orde Baru melalui TAP MPR No. II Tahun 1978. “Mereka yang merasakan jadi pelajar di masa Orde Baru tentu tidak asing dengan P4. Penghayatan Pancasila menurut Orde Baru tidak cukup dengan pendidikan di kelas sehingga dibuatlah program cerdas cermat P4 yang diadakan untuk berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari SD sampai SMA. Layaknya turnamen olahraga, cerdas cermat P4 digelar dalam kompetisi berjenjang dari tingkat sekolah, kecamatan, kota, provinsi, sampai akhirnya ke tingkat nasional,” urai Dhianita Kusuma Pertiwi dalam Mengenal Orde Baru. Para pesertanya baru ditayangkan di siaran TVRI setelah memasuki perlombaan tingkat nasional. Belakangan, pesertanya tidak hanya para pelajar karena kalangan petani dan nelayan, terutama yang di bawah naungan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa), juga diikutsertakan. “Jika soal-soal yang ditanyakan dalam cerdas cermat P4 berkisar tentang Pancasila, peserta yang ikut dalam Kelompencapir harus berhadapan dengan pertanyaan tentang jenis pupuk, tanaman, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian serta teknik mencari ikan bagi nelayan. Namun jangan dibayangkan penayangan cerdas cermat pada masa Orde Baru di TVRI sama dengan yang ada baru-baru ini. Lomba tersebut berlangsung dengan tertib, serius, dan tidak seinteraktif cerdas cermat bagi pelajar seperti sekarang,” tandasnya.

  • Bertahan Hidup dengan Batu

    BUKTI linguistik menunjukkan telah terjadi ekspansi secara lambat oleh kelompok penutur Austronesia dari Formosa ke Kepulauan Nusantara sekira 4.000 tahun yang lalu. Mereka telah bercocok tanam. Gaya hidup berburu dan mengumpulkan makanan pun secara berangsur terkikis. Secara umum, kebiasaan lama itu tak pernah hilang sama sekali pada era berikutnya. Para petani juga masih berburu dan mengumpulkan makanan. Karenanya, dalam beberapa milenium terakhir, teknologi dan tata ekonomi yang berbeda dapat berlangsung bersamaan di situs yang berdekatan bagaikan mosaik. Kata Peter Bellwood, dalam Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, buktinya adalah Peralatan batu yang diserpih tetap digunakan di beberapa daerah oleh kelompok pemburu dan pengumpul makanan maupun mereka yang bercocok tanam hingga masa yang baru lalu.

  • Alat Batu, Teknologi Pertama Manusia

    PADA 2009, Gert van den Berg, peneliti dari University of Wollongong, Australia, melakukan penelitian di situs Talepu, lembah sungai Wallanae, Sulawesi Selatan. Temuannya ada ribuan tulang hewan dan alat batu. Beberapa alat batu yang berusia mencapai 118 ribu hingga 200 ribu tahun lalu, dipublikasikan pada Januari 2016. Secara arkeologis, artefak batu tidak hanya dilihat sebagai benda melainkan merekam perkembangan teknologi dan perkembangan kebudayaan masyarakat pembuatnya. Mark Moore, arkeolog eksperimental dari University of New England Armidale, Australia mengatakan, penggunaan batu dimulai di Afrika sekitar 3,2 juta tahun lalu. “Ini adalah ide manusia. Bukan muncul begitu saja,” katanya.

  • Mengapa Manusia Prasejarah Menggambar di Gua?

    DI SALAH satu situs kompleks prasejarah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terdapat tangga berbahan besi yang menghubungkannya menuju mulut gua. Namanya Leang Pettakere. Leang dalam bahasa setempat berarti gua. Di dinding dan langit-langit ada beberapa lukisan cap tangan dan gambar binatang. Pettakere memiliki dua mulut gua. Udara dalam gua cukup baik, tidak pengap dan cukup sejuk. Inilah yang dikatakan peneliti gambar gua dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Pindi Setiawan, sebagai pemilihan lokasi tempat tinggal yang tepat. “Masyarakat pada masa lalu tidak memilih gua secara acak. Mereka melihat sirkulasi udara, atau pun faktor kenyamanan,” katanya. Bagi Pindi, masyarakat penghuni gua yang diperkirakan menjejak Sulawesi sejak 40.000 tahun lalu sesuai hasil penanggalan, adalah masyarakat yang sama saja dengan manusia saat ini. Mereka hidup dengan relasi sosial, antara hubungan satu sama lain hingga spiritual. “Saya kira gambar-gambar yang tertera di langit-langit gua menunjukkan unsur spiritual,” katanya.

  • Lagi di Sulawesi, Lukisan Gua Tertua Ditemukan

    GUA kapur di Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan menyimpan harta karun peninggalan masa pra-sejarah tertua di bumi Nusantara. Di sana, ditemukan lukisan gua (cadas) bergambar tiga figur menyerupai manusia yang sedang berinteraksi dengan seekor babi hutan. Lukisan tersebut diperkirakan berasal dari 51.200 tahun lalu. Demikianlah temuan yang diriset oleh tim peneliti kerjasama antara Griffith University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Southern Cross University. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal sains multidisiplin terkemuka dunia, Nature, pada 4 Juli 2024, dengan judul “Narative cave art in Indonesia by 51.200 years ago”. Tim peneliti mengaplikasikan metode analisis mutakhir melalui laser U-series (LA-U-series) untuk mendapatkan pertanggalan akurat pada lapisan tipis kalsium karbonat di atas cadas. “Kolaborasi ini telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Yang menarik dari publikasi tentang gambar cadas yang terbaru di jurnal Nature ialah perkembangan metodenya. Sekarang menggunakan laser LA-U-series, jadi (daya teropongnya) sekitar 40 mikron atau 40 kali lebih kecil dari rambut kita,” jelas Adhi Agus Oktaviana, ahli seni cadas Indonesia dari BRIN sekaligus ketua tim peneliti, dalam konferensi pers “Perspektif Baru dari Gambar Cadas Bernarasi Tertua di Indonesia” yang diselenggarakan BRIN (5/7).

  • Seni Cadas Tertua di Dunia Rusak Akibat Perubahan Iklim

    PERUBAHAN iklim yang cepat merusak gambar cadas di Situs Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Salah satu gambar di dinding gua situs itu berupa penggambaran figuratif babi kutil Sulawesi (Sus celebensis) merupakan gambar cadas tertua di dunia sejauh ini. Penelitian yang dipimpin Griffith University mengungkapkan bahwa beberapa gambar cadas (rock art) tertua di dunia itu mulai memudar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan di Nature pada Kamis (13/05/2021), tim gabungan arkeolog Indonesia dan Australia mengungkapkan adanya bukti kristalisasi garam pada panel gambar cadas di 11 situs gua kapur Maros-Pangkep. “Saya terkejut dengan betapa meratanya kristal garam dan sifat kimianya yang merusak pada panel seni cadas, beberapa di antaranya kami tahu berusia lebih dari 40.000 tahun,” kata Jillian Huntley, pemimpin riset dari Griffith Centre for Social and Cultural Research yang mengkhususkan diri dalam konservasi seni cadas, sebagaimana dalam rilis media di laman Scimex.

  • Gambar Cadas Tertua Ditemukan di Sulawesi Selatan

    PENELITIAN arkeologi terbaru di Sulawesi Selatan mengungkap temuan yang kemungkinan adalah gambar cadas tertua di dunia. Gambar cadas ini berumur 45.500 tahun. Gambar cadas itu berupa penggambaran figuratif babi kutil Sulawesi (Sus celebensis). Babi kutil Sulawesi merupakan babi hutan endemik di Kepulauan Indonesia. Tim arkeolog dari Griffith University yang mengungkapkan temuan ini. Penemuannya berawal ketika penelitian lapangan yang dipimpin oleh lembaga penelitian arkeologi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas).

  • Ketika Cicadas Dibombardir

    RABU, 12 Desember 1945. Asikin Rachman tengah berjalan di kawasan Pasar Cicadas, Bandung pagi itu. Suasana sangat ramai. Lazimnya di pasar, para pedagang dan pembeli sibuk bertransaksi. Saat itulah, di langit biru tetiba muncul 6 pesawat tempur. Masing-masing berjenis 3 Mosquito dan 3 Thunderbolt. Setelah beberapa kalo bermanuver, burung-burung besi itu pun secara bersamaan menjatuhkan bom seraya memuntahkan peluru mitraIiur yang banyak. “Kami di bawah yang tadinya tidak menyangka mereka bermaksud akan membantai kami, jadinya kocar-kacir dan berlindung sebisanya,” ujar lelaki yang kini berusia 95 tahun itu. Insiden pemboman kali pertama oleh RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) itu tercatat dalam biografi Kolonel (Purn.) Mohamad Rivai, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Akibat pemboman itu, Markas TKR Cicadas dan Gedung Komite Nasional Indonesia Daerah Cicadas hancur berantakan, puluhan rumah penduduk hancur lebur dan banyak rakyat tewas terkena reruntuhan bangunan.

  • Gambar Cadas Tertua di Dunia Ada di Kalimantan Timur

    GAMBAR cadas tertua di dunia baru saja diidentifikasi dalam gua di Kalimantan Timur. Lukisan figuratif di pegunungan terpencil Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat Kalimantan Timur itu berusia 40.000 tahun. Para peneliti dari Puslit Arkenas, Griffith University, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil mengungkapnya. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature, Rabu (7/11). Sebenarnya, sejak 1990-an diketahui gua-gua di atas pegunungan terpencil di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan serangkaian gambar purba. Termasuk penggambaran stensil tangan manusia, hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page