- 8 Nov 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 14 Mei
SALAT Iduladha di halaman Istana Merdeka Jakarta pada 14 Mei 1962, sudah masuk penghabisan rakaat kedua, saat seorang lelaki berpistol tiba-tiba berdiri dan meneriakkan takbir. Sejurus kemudian: Dor… dor...dor! Tiga letusan menyalak, melesatkan timah panas ke arah barisan terdepan.
Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden Sukarno, dan wakilnya Sudiyo, dengan cepat melindungi Sukarno.
Soedarjat, anggota DKP yang berjaga di belakang Sukarno, membalikkan badan sembari mencabut pistol. Nahas, dia keduluan ditembus peluru, jatuh berlumuran darah di belakang Sukarno. Soesilo, anggota DKP, juga ketika memutar badan ke belakang terkena pelor di kepalanya. Satu peluru lagi mengenai bahu Ketua DPR KH Zainul Arifin.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















