top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Skandal Perselingkuhan Propagandis Nazi Joseph Goebbels

    PAUL Joseph Goebbels merupakan salah seorang tangan kanan Adolf Hitler. Bergabung dengan Nazi pada 1924, Goebbels diberi posisi kunci sebagai Menteri Penerangan dan Propaganda ketika Hitler menjabat Kanselir Jerman sejak tahun 1933 hingga 1945. Meski dekat dengan sang Führer, hubungan keduanya sempat merenggang akibat skandal perselingkuhan Goebbels dengan seorang aktris, Lida Baarová. Goebbels dan Baarová pertama kali bertemu di tahun 1936. Sejarawan Jerman, Peter Longerich menulis dalam Goebbels: A Biography, mereka bertemu ketika Goebbels tengah jalan-jalan sore di Schwanenwerder. “Menjadi suatu kebetulan karena ketika itu, Baarová yang merupakan kekasih dari aktor Gustav Fröhlich, baru saja pindah ke sebuah rumah yang berlokasi sangat dekat dengan kediaman Goebbels di Schwanenwerder,” tulis Longerich.

  • Marie Antoinette, Ratu Prancis yang Mati Tragis

    RATUSAN tahun sejak kematiannya, Marie Antoinette masih menjadi salah satu tokoh yang kerap diperbincangkan. Ratu Prancis itu memang dikenal memiliki paras cantik dan selera fesyen yang memukau.Akan tetapi pembahasan mengenai sosoknya lebih banyak dikaitkan dengan Revolusi Prancis yang berujung pada jatuhnya kekuasaan sang suami, Louis XVI, dan berujung keduanya dieksekusi mati. Lahir di Wina, Austria tahun 1755, Marie Antoinette masih begitu muda ketika mengetahui dia akan menikah dengan calon raja Prancis. Sejumlah sejarawan menyebut putri pasangan Kaisar Romawi Suci Francis I dan permaisuri Habsburg yang berkuasa, Maria Theresa, itu baru berumur 14 atau 15 tahun ketika dinikahkan dengan Pangeran Louis, cucu Raja Prancis Louis XV, yang juga masih remaja dan berusia sekitar 16 tahun pada 16 Mei 1770. Pernikahan itu dianggap sebagai pernikahan politis karena bertujuan untuk memperkuat hubungan Prancis dengan Habsburg.

  • Marie Antoinette, Let Them Eat Cake, dan Revolusi Prancis

    UNGKAPAN “ Let them eat cake ” yang dalam bahasa Indonesia berarti biarkan mereka makan kue merupakan kutipan paling terkenal yang dikaitkan dengan Ratu Marie Antoinette di tengah gejolak Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18. Dikisahkan, kalimat tersebut diungkapkan sang ratu Prancis sebagai respons atas kondisi rakyatnya yang kelaparan karena kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga memicu terjadinya Perang Tepung di sejumlah wilayah Kerajaan Prancis pada 1775. Menurut Cynthia A. Bouton dalam The Flour War , ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusuhan ini terjadi, di antaranya panen gandum yang buruk pada 1774 hingga memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang tak terelakkan, serta kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan yang diberlakukan pihak kerajaan terkait dengan aturan perdagangan biji-bijian.

  • Akhir Tragis Sahabat Marie Antoinette

    KEMARAHAN rakyat Prancis yang berujung pada gejolak revolusi tak hanya mengarah kepada Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette. Sejumlah bangsawan lain yang memiliki hubungan dekat dengan pasangan itu juga turut menjadi sasaran massa, salah satunya adalah Putri de Lamballe, teman dan pelayan yang setia kepada Marie Antoinette. Putri de Lamballe lahir di Turin, 8 September 1749, dengan nama Marie Thérèse de Savoie-Carignan, putri Pangeran Louis-Victor de Savoie-Carignan. Dia menikah dengan Louis-Alexandre-Stanislas de Bourbon, Pangeran de Lamballe, putra tunggal bangsawan Duc de Penthièvre. Keduanya masih belia saat pernikahan digelar pada 1767, Pangeran de Lamballe berusia 20 tahun, sedangkan sang pengantin wanita baru akan menginjak umur 18. Nahas, pernikahan ini tak berlangsung lama karena Pangeran de Lamballe meninggal dunia.

  • Marie Antoinette dan Skandal Kalung Berlian yang Menyulut Revolusi Prancis (Bagian I)

    GAYA hidup mewah Ratu Marie Antoinette sudah lama membuat geram masyarakat Prancis. Kemarahan terhadap monarki yang dipimpin oleh Raja Louis XVI semakin memuncak ketikaskandal penipuan menyeret nama ratu yang dijuluki Madame Deficit itu. Pemeran utama dalam skandal yang terjadi pada 1785 ini sesungguhnya bukan Marie Antoinette, tetapi nama sang ratu dicatut seorang wanita bernama Jeanne yang juga dikenal dengan Countess de La Motte-Valois untuk menipu Kardinal Louis de Rohan. Siapa sesungguhnya Countess de La Motte-Valois dan apa hubungannya dengan Marie Antoinette? Jeanne de Valois-Saint-Rémy merupakan anak dari keturunan tidak sah Raja Henri II (1547–1559). Meski mengaku bangsawan, keluarga Jeanne hidup dalam kemiskinan. Ia menikah dengan seorang perwira bernama Nicolas de la Motte pada 1780 dan menamakan diri mereka sebagai Count dan Countess de La Motte. Gaya hidup Jeanne tidak sejalan dengan kondisi keuangannya yang pas-pasan. Gelar bangsawan yang disandangnya menuntut wanita itu untuk selalu tampil modis dan menunjukkan kekayaannya demi menjaga status sosialnya.

  • Marie Antoinette dan Skandal Kalung Berlian yang Menyulut Revolusi Prancis (Bagian II)

    TAK pernah terpikir oleh Kardinal Louis de Rohan bahwa surat yang selama ini ia terima tak berasal dari Ratu Marie Antoinette. Surat-surat tersebut ditulis oleh Rétaux de Villette yang didiktekan Jeanne de Valois-Saint-Rémy, seorang wanita yang mengaku memiliki hubungan dekat dengan sang ratu Prancis. Dalam salah satu surat yang dikirimkannya kepada de Rohan, Marie Antoinette meminta bantuan sang kardinal untuk membeli kalung berlian senilai 1,6 juta livre. Ratu palsu itu mengatakan bahwa ia tertarik memiliki kalung mewah tersebut. Akan tetapi, ia tak dapat membelinya secara langsung karena kondisi negara tengah sulit dan meluasnya sentimen negatif di kalangan rakyat Prancis yang menganggapnya boros. Oleh karena itu, ia berharap de Rohan mau membantunya melakukan transaksi jual beli dengan Boehmer dan Baesenge, perajin perhiasan tersebut, atas nama sang ratu.

  • Guru Arung Palakka

    NAMA Sultan Hasanuddin mungkin kini nama paling populer di Sulawesi Selatan. Raja Gowa yang jadi Pahlawan Nasional itu namanya dijadikan nama jalan dan nama fasilitas-fasilitas umum seperti bandara ataupun universitas negeri. Namun, sebenarnya di zaman Sultan Hasanuddin hidup, ada seorang raja Tallo yang tidak kalah hebat. Selain sukses dalam politik, raja tersebut punya rasa cinta kepada ilmu pengetahuan. Bangsawan intelek itu bernama Karaeng Pattingaloang. “Karaeng Pattingaloang adalah putra Raja Tallo ke-6, lahir tahun 1600. Nama lengkapnya adalah I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud Syah,” tulis Syahruddin Yasen dalam  Maestro Dua Puluh Tujuh Karaeng Bugis-Makassar .

  • Jenderal Sudirman Naik Haji

    MOMENTUM tidak datang dua kali. Maka, orang yang mendapatkannya semestinya bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Orang yang bisa memanfaatkan momentum niscaya akan beruntung ketimbang bila dia menyia-nyiakan momentum yang dimilikinya.   Momentum itulah yang tak ingin disia-siakan Komandan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) Brigjen TNI Sudirman (1913-1993) ketika mendapat kesempatan pergi haji pada tahun 1964. Pada tahun tersebut, mantan guru yang paham perkara agama sejak muda ini usianya sudah lebih dari 50 tahun. Artinya, Brigjen Sudirman yang masuk ketentaraan di zaman pendudukan Jepang ini akan pensiun dari kemiliteran beberapa tahun lagi.   Brigjen Sudirman yang ayah dari mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman ini pun berangkat haji. Menurut Totok Djuroto dalam Perjalanan Panjang Seorang Dai, K.H. Bey Arifin dalam Biografi , Brigjen Sudirman ke Makkah dalam rombongan jamaah yang berangkat tanggal 25 Maret 1964. Mereka tidak naik pesawat seperti “Bapak Intelijen” Kolonel Zulkifli Lubis, tetapi masih naik kapal laut.

  • Sebelum Hari Moekti Gabung HTI

    SEBELUM 1990-an, Hariadi Wibowo alias Hari Moekti dikenal sebagai penyanyi rock , dan setelah 1990-an dia dikenal sebagai pendakwah. Dia sudah lama hijrah, jauh sebelum hijrah menjadi tren seperti sekarang. Hari Moekti dikenal sebagai tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dia menjadi ustad dan aktif berdakwah. Popularitasnya tak membuatnya aji mumpung untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Agama bukan mainan politik baginya. “Jangan gunakan ajaran agama untuk menipu umat karena balasan dari Allah akan sangat pedih,” kata Hari Moekti seperti dicatat Salman Iskandar dalam 99 Tokoh Muslim Indonesia . Laki-laki kelahiran kota tangsi Cimahi, 25 Maret 1957 ini lebih memilih ketenangan dengan jauh dari dunia politik.

  • Perginya Sang Rocker Kutu Loncat

    PENDAKWAH Hariadi Wibowo atau tenar dengan nama Hari Moekti mengembuskan napas terakhir tadi malam. Sebelum banting setir menjadi pendakwah, Hari merupakan musisi rock tenar era 1980-an hingga awal 1990-an. Hari Moekti, kelahiran Cimahi pada 25 Maret 1957, meniti karier melalui sebuah grup musik lokal bernama Darodox kala dia tinggal di Semarang. Saat itu dia ikut ayahnya yang pindah-tugas sebagai tentara ke Semarang. Sebelum membentuk Darodox, Hari sempat bekerja menjadi roomboy di sebuah hotel selama setahun. Menurut Femina, volume 18, 1990, Hari juga pernah menjual suaranya di Simpang Lima, Semarang. “Mungkin orang menganggap saya gila, tapi biar sajalah,” kata Hari kepada Femina.

  • Skandal Pernikahan Raden Saleh

    PADA 25 Maret 1904, Constancia von Mansfeldt meninggal dunia di Kupang dalam usia 78 tahun. Istri pertama pelukis Raden Saleh ini seakan terselubung misteri. Dia tak pernah disebut dalam surat-surat Raden Saleh, dalam laporan-laporan kontemporer, dan berita-berita dari banyak kunjungan ke sanggarnya. “Gambar atau potretnya pun tidak ada,” tulis Werner Kraus dalam Raden Saleh dan Karyanya. Constancia merupakan keturunan Jerman yang lahir di Semarang pada 1826. Pada 3 Juli 1840, di usia 14 tahun dia menikah dengan pengusaha keturunan Jerman, Christoffel Nicolaas Winckelhaagen (1802-1850) di Semarang. Mereka dikaruniai lima orang anak.

  • Pom Bensin dari Apotek ke SPBU

    KEHADIRAN Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi kebutuhan masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. SPBU tak pernah sepi dari para pengendara yang hendak mengisi bahan bakar yang saat ini tengah menjadi sorotan publik karena harganya akan naik. Melihat jauh ke belakang, kemunculan SPBU berkaitan dengan perkembangan mobil dari masa ke masa. Mengutip Britannica , seorang insinyur asal Prancis, Nicolas-Joseph Cugnot disebut sebagai orang pertama yang merancang mobil pada 1769. Kendaraan itu beroda tiga, berukuran besar, dan bertenaga uap. Pembuatan mobil terus disempurnakan hingga pada 1876 Nikolaus August Otto menciptakan mesin dengan empat dorongan pembakaran. Beberapa tahun kemudian, pada 1885, Karl Friedrich Benz menciptakan mobil beroda tiga yang bekerja menggunakan penggerak mesin empat langkah, satu silinder, dan berbahan bakar bensin yang disebut ligroin .

bottom of page