Hasil pencarian
9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pagi Mencekam di Kediaman D.I. Pandjaitan
KEBAYORAN, 1 Oktober 1965. Deru suara panser memecah keheningan dini hari itu. Letkol Herman Sarens Sudiro bersama enam anak buahnya memacu kendaraan lapis baja jenis Saracen. Berdasarkan keterangan dari perwira kavaleri bernama Letkol Trihardjo, telah terjadi keributan di Jalan Hasanudin 53. Lokasi itu tidak lain merupakan kediaman Brigjen D.I. Pandjaitan, asisten IV/Logistik Menteri Panglima Angkatan Darat. “Trihardjo dari SUAD meminta panser dengan alasan untuk mengusir garong dari rumah D.I. Pandjaitan,” kata Herman dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir . Ada dua panser Saracen yang memang diparkir di rumah Herman. Perintah agar panser itu berada di rumah Herman berasal dari Brigjen Muskita, wakil Asisten II Menpangad. Saat itu, Herman menjabat sebagai kepala Biro Hubungan Antar Angkatan dan Kesiapsiagaan SUAD II. Dia bertanggung jawab atas pengawasan dan patroli Markas Besar AD. Berangkat dari kediamannya di Jalan Daksa, Herman tiba di tujuan menjelang fajar menyingsing. Setibanya di rumah Pandjaitan, panser berhenti. Herman meloncat turun sambil mendekap senjata G-3 Getmi dalam kondisi siap menyalak. Pintu gerbang halaman masih terkunci, tetapi kaca-kaca jendela pecah berantakan. Suasana rumah terlihat ganjil dan mengundang rasa curiga. Dalam buku Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam disebutkan, Herman Sarens langsung masuk dan menemui istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan, di lantai atas. Namun, Marieke masih dalam kondisi terpukul dan trauma melihat tentara berseragam. Nyonya Panjaitan itupun mengusir Herman Sarens dari rumahnya. Menurut anak-anak Pandjaitan, suasana rumah mereka benar-benar sangat mencekam. Genangan darah, bercak-bercak, dan lubang peluru tampak di mana-mana. Perabot-perabot rumah berantakan dan serpihan lampu berserakan. Demikian pula lukisan, berlubang-lubang terkena tembakan. Ketika berada di pintu halaman, Herman berpapasan dengan Brigjen Junus Samosir, wakil Asisten I Menpangad. Samosir yang merupakan sahabat Pandjaitan itu tidak menyangka Herman Sarens yang datang. Mereka saling menyapa. Dari keterangan yang diperoleh dari keluarga Pandjaitan, Herman memperoleh informasi bahwa Pandjaitan diculik oleh pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa. Persisnya, seperti disebut Aco Manafe dalam Teperpu: Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965 dan Proses Hukum bagi Para Pelakunya , pasukan yang bertugas menculik Pandjaitan sebanyak satu peleton pimpinan Serda Soekardjo dari Batalion 454 Banteng Raiders Diponegoro. Pasukan ini terdiri dari 1 regu Batalion 454, 1 regu Brigade Infantri Jaya Sakti, dan sekelompok sukarelawan Pemuda Rakyat. Keadaan kacau yang ditimbulkan pasukan itu memaksa Katherin, putri sulung Pandjaitan, berupaya mencari pertolongan. Mulanya, dia menuju rumah Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar 43. Setiba di sana, rumah Pak Nas tampak ramai. Orang-orang sekitar mengatakan Jenderal Nasution diculik. Katherin kemudian bergegas ke rumah bapak tuanya (abang dari D.I.Pandjaitan) Samuel Pandjaitan dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Ketika hari sudah terang, banyak orang berdatangan ke rumah Pandjaitan. Beberapa di antara yang datang adalah pejabat dan perwira TNI. Anak-anak Pandjaitan masih menangis dan kebingungan. “Saya sudah siuman dan menangis ketika Katherin datang, tetapi pingsan lagi. Masa, adik Katherin, juga pingsan,” tutur Marieke dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah mengamati keadaan di rumah Pandjaitan, Herman Sarens kembali ke pansernya. Herman sedianya hendak melapor kepada atasannya, Asisten II/Operasi Menpangad Mayjen Djamin Gintings. Namun, Gintings belum pulang dari Medan dalam rangka menyertai kunjungan Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. Maka, satu-satunya tujuan Herman untuk melapor ialah wakil Gintings, Brigjen Muskita. Panser Saracen itu pun melaju ke kediaman Muskita di Jalan Mangunsarkoro. Kelak, kata Herman, “Pada waktu penumpasan Gerakan 30 September 1965, panser yang ada di rumah saya, saya gunakan untuk menggebuk orang-orang PKI.”*
- Mengenang Dwitunggal Pembaharu Tari Sunda
JENIS tarian Sunda bukan hanya tari topeng, tari wayang, tari rampak gendang, jaipong, apalagi tari ronggeng. Seni tari Jawa Barat bahkan sudah mengalami modernisasi kala republik belum lama berdiri. Raden Rusdi Somantri alias Tjejte dan Tubagus Oemay Martakusuma adalah dwitunggal yang jadi pionirnya. Tjetje berasal dari Purwakarta. Pria kelahiran tahun 1892 itu sudah mendalami seni tari Jawa Barat sejak mengenyam Pendidikan di Middelbare Opleiding School voor Indlansche Ambtenaren (MOSVIA) Bandung pada 1911. Sedangkan Oemay berasal dari Rangkasbitung. Ia pegawai Djawatan Kebudayaan Jawa Barat merangkap praktisi seni rupa setempat. Keduanya bersua pada 1935 di Badan Kesenian Indonesia (BKI) dan sejak saat itu keduanya senantiasa satu pemikiran dalam mengkreasikan tarian-tarian baru, terutama untuk kalangan putri. Di antaranya tari Anjasmara, tari Sekarputri, tari Sulintang, tari Ratu Graeni, tari Kandagan, tari Topeng Koncaran, dan tari Yuyu Kangkang di masa pra-kemerdekaan. “Cikal-bakalnya memang dari Pak Oemay. Beliau guru dari Banten sejak tahun 1925, sudah bercita-cita ingin membuat suatu pertunjukan untuk putri. Karena di sana kan putri-putrinya tidak bisa tampil, paling hanya pada akhir masa sekolah saja. Beliau pindah ke Bandung, ketemu Pak Tjetje dan beberapa tokoh tari,” kata seniman tari dan koreografer Irawati Durban dalam diskusi daring Yayasan Pusat Bina Tari bertajuk “Tjetje & Oemay Kreator Tari Putri Sunda 1942-1963” via Zoom , Kamis (30/9/2021) sore. Baca juga: Tarian yang Mempesona Seniman Irawati Durban (Tangkapan Layar Pusbitari Talk) Ira pernah jadi murid mereka pada 1950-an. Dalam ingatannya, Tjetje dan Oemay pelopor yang mendorong kalangan putri untuk jadi penari profesional. Di era 1950-an, seni tari bagi mayoritas orang di Jawa Barat hanya sekadar hobi. Berbeda dengan zaman sekarang yang mana semua hobi atau seni-budaya didorong menjadi profesi yang profesional. Kala itu bila ada penari bayaran, konotasinya masih negatif. Seperti penari ronggeng, misalnya, yang mempertunjukkan sensualitas. Persepsi seperti itu didapat Ira dari ibunya. Ira sendiri mulai mendalami seni tari saat duduk di bangku SMP Santa Angela sekitar tahun 1956 di bawah asuhan Tjetje. Bersama para penari besutan Tjetje di BKI Ira sering diikutkan dalam pertunjukan tari-tarian kreasi Tjetje dan Oemay di Gedung Concordia (kini Gedung Merdeka) hingga ke Gedung Pakuan. “Amplop dari Pak Oemay itu saya serahkan ke ibu saya. Pas dibuka, beliau marah. Saya disangka jadi ronggeng dan tidak boleh menari lagi. Besoknya saya kembalikan amplopnya, tapi Pak Tjetje di sore harinya datang langsung ke rumah saya. Dia menjelaskan bahwa kami pentasnya tidak di tempat sembarangan tapi di tempat-tempat terhormat. Setelah itu saya baru boleh nari lagi,” kenang penulis buku Perkembangan Tari Sunda: Melacak Jejak TB Oemay Martakusuma (1998) dan R. Tjetje Somantri: Tokoh Pembaharu Tari Sunda (2000) tersebut. Baca juga: Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi Sisi dalam Gedung Concordia yang kini menjadi Gedung Merdeka (Fernando Randy/Historia) Dalam rombongan BKI, Ira tampil tak hanya di Bandung. Mereka sampai ke Istana Bogor dan Jakarta tampil di hadapan Presiden Sukarno. Bahkan sejak awal 1960-an Ira turut dalam rombongan misi kebudayaan ke negara-negara sahabat, seperti Jepang, Korea Selatan, Cekoslovakia, Hungaria, Polandia, Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat. Tjetje dan Oemay dikenal baik oleh Bung Karno sejak di Garut pada 1946, tepatnya pasca-Bandung Lautan Api. Keduanya dipercaya Bung Karno untuk menyiapkan seni pertunjukan saat Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga Ganefo 1963. Mengutip Muhidin M. Dahlan dalam Ganefo: Olimpiade Kiri di Indonesia , pemerintah Indonesia menggelar Ganefo Art Fest pada 8 November 1963 sebagai hiburan di luar event-event olahraga. Perhelatan itu juga salah satu upaya diplomasi politik lewat budaya lantaran tidak hanya kebudayaan Indonesia tapi juga turut menampilkan kebudayaan dan kesenian Korea, China, hingga Rusia. Baca juga: Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah Presiden Sukarno menyambut rombongan seni-budaya jelang Malam Seni Ganefo (Repro: Ganefo: Olimpiade Kiri di Indonesia ) Tetap saja, bintangnya para seniman tanah air. Rombongan dari Jawa Tengah menampilkan tari Gatotkaca, dari Bali menyuguhkan tari Tenun, dari Sumatera Barat mempertunjukkan tari Sandangpangan, dari Aceh ada tari Seudati Agam, dari Sulawesi Selatan mempertunjukkan tari Pakarena, dari Sumatera Selatan tari Gending Sriwijaya, dan dari Jawa Barat yang dipimpin Tjetje dan Oemay menghadirkan tari Kupu-Kupu. “Tari Kupu-Kupu dari Jawa Barat pada hakikatnya sebuah hiburan koreografi yang baik. Ke-30 mojang Bandung dalam pakaian aneka warna yang menyolok mengisahkan kehidupan kupu-kupu yang tak kenal susah, yang tahunya terbang dan melayang, hinggap di bunga dalam jambangan dan di taman. Tanpa perlu berpikir serius, tari ini termasuk sedap dan enak dinikmati,” tulis Muhidin. Tari Kupu-Kupu itu jadi perhatian tersendiri karena berbeda dari tari-tarian tradisional lain. Tari Kupu-Kupu hanyalah satu dari sekian kreasi tari modern yang diciptakan Tjetje dan Oemay. Keluar Pakem Tradisional Sepanjang kiprahnya, Tjetje dan Oemay berkreasi dan melakukan pembaharuan dari perpaduan gagasan modernisasi dan pengalamannya selama mempelajari tari-tarian Jawa dan Bali. Pengaruh-pengaruh itu sangat terasa dalam tari-tarian yang diciptakan Tjetje dan Oemay, semisal tari Koncaran, tari Srigati, tari Srenggana, tari Panji Nayadirana, atau tari Patih Ronggana. “Jadi ada empat pengaruhnya yang saya teliti. Bersumber dari tari Wayang, tari Payung, tari Topeng, dan tari Jawa semisal tari Serimpi dan tari Bedoyo. Terlihat banyak sekali kesamaan-kesamaan gerak yang namanya beda kalau di-Sunda-kan tapi bentuknya sama. Perbedaan lainnya adalah iringan musiknya. Di karya-karya tari Tjetje diiringi gending satu wilet yang lebih cepat iramanya ketimbang gamelan Jawa yang pelan,” sebut Prof. Dr. Endang Caturwati, guru besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Baca juga: Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah R. Rusdi 'Tjetje' Somantri (kiri) dan Gedung Concordia yang sering dipakai pentas ( Melacak Jejak Tb.Oemay Martakusuma dan Rd. Tjetje Somantri /Fernando Randy-Historia) Dari musik itu pula, ditambah perpaduan gerakan-gerakan tari Jawa, Tjetje membuka pintu untuk keluar dari pakem tradisional. Tujuan utamanya agar tak mengingatkan penonton pada jaipong apalagi ronggeng. “Menarik karena Pak Tjetje justru menghindari ronggeng itu. Tidak mengambil satupun gerakan-gerakan ronggeng. Yang diambil gerakan-gerakan dari ragam tari-tarian Jawa yang mempunyai sifat keputrian dan anggun,” lanjut penulis buku Lokalitas, Gender, dan Seni Pertunjukan di Jawa Barat (2003) dan Tari di Tatar Sunda (2007) tersebut. Baca juga: Memaknai Ulang Tari Jawa Faktor lain yang jadi pembeda dari tari Jawa dan keluar dari pakem ronggeng karya-karya Tjetje adalah kostum-kostum unik dan berwarna. Di sinilah Oemay mengambil peran terbesar. Kolaborasinya dengan kreasi koreografi Tjetje membuat modernisasi kreasi tari-tari Sundanya lengkap. “Pak Oemay ikut campurnya dalam kostum dan komposisi tari. Karena kan kostum itu harus disesuaikan dengan komposisi tari. Jadinya setiap penari yang menghadap arah berbeda kostumnya memperlihatkan warna yang berbeda juga. Bahannya lebih sering pakai beludru, tidak batik atau dominasi bahan kain hitam seperti tari-tarian Jawa,” tambah Endang. Prof. Dr. Endang Caturwati (Tangkapan Layar Pusbitari Talk) Dengan pola dan warna yang berani, Oemay membawa kreasi-kreasinya keluar dari ketradisionalan sebagaimana kostum-kostum tari Sunda sebelumnya. Pangkal gagasannya adalah semangat modernisasi, sehingga tak terkungkung ketradisian tarian rakyat seperti jaipongan atau ronggeng. “Menarik membahas Aki (kakek, red ) soal teori warna dan pola lantai. Apalagi di zaman itu lampu-lampu (panggung) belum seperti sekarang. Di sini beliau sudah menciptakan sebuah teori warna. Misal tari Kupu-Kupu. Masing-masing penari (kostumnya) beda warna dan ini bukan tanpa sengaja,” timpal Ray Bachtiar, salah satu cucu Tubagus Oemay. Baca juga: Kala Tarian dan Gamelan Jawa Memesona Eropa Oemay, lanjut Ray, membuat kostum melalui pola blok-blok warna dengan perhitungan matematis. Hal itu dipikirkan betul karena harus memperhitungkan refleksi dari tata lampu yang belum secanggih sekarang. Selain itu, tetap mempertahankan pengaruh gaya lukisan era Renaissance yang pernah dipelajari Oemay. Bagi Oemay, tarian adalah lukisan bergerak. “Seperti ketika Aki menyiapkan kostum untuk tari Kupu-Kupu yang ditampilkan di Ganefo. Baju dan sayapnya dibuat beda warna dan (hiasan) sayapnya dilukis sendiri oleh Aki. Lukisannya mengingatkan pada karya (sketsa) Leonardo da Vinci yang ‘Flying Machine’. Itu menyimpulkan betapa kuatnya Renaissance memengaruhi Pak Oemay,” sambung praktisi seni lukis, seni panggung, dan fotografi itu. Ray Bachtiar, cucu TB Oemay Martakusuma (Tangkapan Layar Pusbitari Talk) Ketika kemudian Oemay sibuk sebagai kepala Djawatan Kebudayaan, soal kostum diserahkannya pada Ira. Meski begitu, warisan keduanya tetap lestari karena visi modernisasi seni tari Sunda sudah mulai ajeg. “Pada intinya Pak Tjetje dan Pak Oemay tak bisa dipisahkan. Karena selain interupsi (kreasi) tarian Pak Tjetje, Pak Oemay tetap bisa memikirkan bagaimana tarian tersebut bisa menjadi tontonan. Selain busananya juga komposisi tarian itu sendiri. Jadi pada saat itu mereka disebut sebagai tokoh pembaharu ya untuk tari Sunda dan akhirnya menjadi inspirasi teman-teman di Jawa,” tandas Endang. Baca juga: Sendratari Kristiani
- Petualangan Gereget Pria Berusia 100 Tahun
SUATU pagi di panti jompo di Malmköping, Swedia. Allan Karlsson (diperankan Robert Gustafsson) menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Ia masih meratapi Molotov, kucing kesayangannya yang mati diterkam rubah. Balas dendam Allan dengan memasang jebakan dinamit yang menewaskan rubah itu tetap tak membuatnya tenang. Di hari itu, Allan genap berusia 100 tahun. Tubuhnya memang renta namun nyatanya semangat hidupnya masih bergejolak sebagaimana pengalamannya di masa muda. Maka ketika mengintip seorang bocah yang main petasan di halaman gereja di seberang panti, Allan membuat keputusan besar terakhir dalam hidupnya. Dengan hati-hati, Allan mendekatkan sebuah kursi sebagai pijakan kaki. Lantas ia memanjatnya dan keluar dari jendela panti. Staf panti yang sibuk menyiapkan pesta ulangtahun pun syok mendapati Allan hilang dari kamarnya. Baca juga: The Vanishing , Misteri Hilangnya Penjaga Mercusuar Namun hilangnya Allan itu sekadar plot pembuka film komedi garapan sineas Felix Herngren bertajuk Hundraåringen Som Klev ut Genom Fönstret och Försvann ( The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared ). Film ini dialihwahanakan dari komik novel bertajuk serupa karya Pär-Ola Jonas Jonasson (2009). Apa yang terjadi dengan Allan sang protagonis lantas menimbulkan banyak kejadian kocak. Dimulai dari Allan bertemu Bulten (Simon Säppenen), anggota geng Never Again, di terminal bus Malmköping. Allan yang dititipkan sebuah koper malah tanpa sadar membawanya sampai ke Desa Byringe, tempat Allan berkenalan lansia Julius Jonsson (Iwar Wiklander). Kolase rantai kejadian konyol sang protagonis usai kabur dari panti jompo (Music Box Films) Keesokannya, Allan diburu Bulten lantaran koper itu berisi uang 50 juta krona. Tapi kemudian Allan memukulnya sampai pingsan dengan tongkat kroket. Dengan konyolnya, Julius menyekap Bulten di lemari pendingin hingga tewas gegara Julius lupa mematikan mesin pendingin. Bulten ternyata adalah anak buah bos geng Per Gunnar Gäddan (Jens Hultén). Uang tadi mestinya dibawa Bulten ke Gäddan untuk kemudian dikirim ke Pim (Alan Ford), seorang bos besar yang sedang liburan di Bali, Indonesia. Baca juga: Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim Sadar sedang diburu, Allan dan Julius kabur ke Åkers Styckebruck, kemudian Sjötorp. Mereka menumpang mobil mahasiswa bernama Benny (David Wiberg) hingga numpang bermalam di vila milik gadis bernama Gunilla (Mia Skäringer). Inspektur polisi Aronsson (Ralph Carlsson) mendalami kasus hilangnya Allan dari panti jompo. Polisi tua itu justru jadi kelimpungan lantaran kasus itu berkelindan dengan geng kriminal. Pesona Bali turut ditampilkan sebagai latar belakang beberapa adegannya (Music Box Films) Dalam petualangannya yang sarat teriakan dan ledakan, Allan teringat kembali pada masa kecil hingga dewasanya yang penuh warna dengan alur cerita maju-mundur. Allan sejak usia 10 tahun sudah jadi anak yatim. Ayahnya yang menciptakan kondom, tewas di Moskow, Rusia. Hobinya yang meracik dinamit dan sempat menewaskan seorang pria membuatnya harus mendekam di rumahsakit jiwa. Di usia muda, Allan berkenalan dengan Esteban (Manuel Dubra) asal Spanyol yang merupakan pekerja di pabrik senjata dan aktivis sayap kiri penentang Diktator fasis Francisco Franco (Koldo Losada). Itu jadi pintu masuk petualangan Allan berikutnya, yakni ikut Perang Saudara Spanyol. Bergabung di Brigadas Internacionales, ia bertugas sebagai perakit bom. Tetapi di Spanyol, Allan justru dijadikan sahabat dan dihadiahi pistol mewah oleh Franco usai menyelamatkan sang generalissimo . Baca juga: Politik Dua Kaki Francisco Franco Pistol itu lantas ia jual untuk modal berlayar ke Amerika. Tak disangka, hobi Allan terhadap bahan peledak membuatnya dirangkul J. Robbert Oppenheimer, ilmuwan dan pemimpin Manhattan Project, dalam penilitian bom atom. Kiprah itu pula yang membuat fisikawan Uni Soviet Jurij Popov (Georg Nikoloff) membujuknya menyeberang ke Kremlin dan bertemu kamerad Josef Stalin (Algirdas Paulavicius) yang “ngebet” membuat program nuklir. Tetapi gara-gara Allan menyebut pernah menyelamatkan Franco, Stalin marah dan mengirim Allan ke gulag. Di kamp itulah Allan bertemu Herbert Einstein (David Schackleton), saudara kembar fisikawan Albert Einstein. Meski idiot, Herbert berjasa membantu Allan meloloskan diri dari gulag. Apa yang dialami Allan muda setelah kabur dan bagaimana Allan di usia renta meloloskan diri dari kejaran anggota geng dan polisi? Baiknya Anda saksikan sendiri kelanjutannya di platform daring Mola TV . Petualangan masa lalu sang protagonis dari Perang Saudara Spanyol sampai gulag di Uni Soviet (Music Box Films) Kocak dan Absurd Sedikit banyak, The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared bisa dibilang mirip drama komedi sohor Forrest Gump (1994) yang alurnya maju-mundur dan kisah fiktifnya “ditaburi” dengan beberapa tokoh nyata yang mempengaruhi dunia. Adegan-adegan kocak nan absurd yang dikemas dengan tone film yang cukup dinamis bertaburan. Tone film di kehidupan tua Allan yang dibuat cerah kontras dengan beberapa adegan masa lalunya yang kelam, terutama saat ia bertemu beberapa tokoh ternama macam Franco dan Stalin. Dinamika itu disempurnakan dengan music scoring komikal. Pembeda signifikan substansi komedi ini dengan Forrest Gump adalah obsesi dan kegemaran sang protagonis. Jika tokoh Forrest terobsesi untuk terus berlari, Allan terobsesi dengan bahan peledak. Tetapi secara teknis, Forrest Gump masih lebih baik dari The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared . Hal ini perhatian beberapa kritikus. Salah satunya Josh Kupecki, yang mengulasnya dalam kolom di Austin Chronicle , 5 Juni 2015. Sineas dan tim produksi, menurutnya, kurang berhasil menjahit peralihan cerita di masa tua dan masa lalu sang protagonis. “Walau menampilkan komedi yang menyegarkan, sejujurnya yang disajikan versi novel masih lebih baik dalam hal tensi dalam ceritanya. Versi filmnya juga terasa seperti dua film berbeda. Dua ceritanya dijahit bersamaan seperti monster Frankenstein,” tulis Kupecki. Baca juga: Petualangan Sonic the Hedgehog sang Landak Super Melawan Lupa dengan Tawa The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared diangkat dari komik novel bertajuk sama karya Jonas Jonasson. Dikatakan “komik novel” karena merupakan perpaduan pemikiran dan pengalaman sang penulis tapi didominasi satir dan komedi absurd fiktif. Beberapa cerita dalam novel pernah dialami Jonasson. Di antaranya, dendamnya pada seekor rubah. Di kediamannya di Pulau Gotland, ayam-ayam yang ia pelihara seringkali jadi mangsa rubah. Juga ketika seorang temannya terkena labrakan seorang tetangga gegara suatu hal yang dianggap mengganggu lingkungan permukiman. “Gagasan sentral bukunya lahir dari pengalaman nyata. Teman saya kesal karena tetangganya protes keras terhadap sesuatu yang dibuat teman saya di pekarangannya sendiri. Kami pun membalasnya dengan membuat sesuatu untuk menghalangi view depan rumahnya. Kami membalas dendam dengan cara lain sebagai terapi,” kata Jonasson kepada I News , 21 Mei 2021. Baca juga: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Pengalaman lainnya adalah saat Jonasson menjadi jurnalis, pernah suatu ketika di sebuah stasiun kereta dia harus ke toilet. Jonasson mesti menitipkan kopernya pada seorang lansia karena tak muat dibawa masuk ke toilet. Lansia itulah yang kemudian diracik Jonasson menjadi karakter Allan Karlsson. Karakter Allan dibuat sebagai sosok yang tak peduli politik. Karakternya cenderung menggambarkan pemerintahan Swedia dan mayoritas masyarakatnya yang bersikap netral terhadap beragam konflik internasional dari Perang Dunia hingga Perang Dingin. Kolase pertemuan sang protagonis dengan Francisco Franco, J. Robbert Oppenheimer, Josef Stalin, dan Presiden Ronald Reagan (Music Box Films) Karakter Allan juga digambarkan menggemari bahan peledak yang intim dengan peperangan, tapi pada akhirnya berusaha memperbaiki segala kekacauan yang ia timbulkan. Ibarat Alfred Nobel sang penemu teknologi peledak –seperti dinamit dan detonator– asal Swedia yang mesti menuliskan wasiat –meminta keluarganya menyumbangkan 94 persen kekayaannya untuk mendirikan Yayasan perdamaian Nobelpriset (Penghargaan Nobel Perdamaian) pada 1895– sebagai bentuk “penebusan” dosanya”. “Keuntungan (harta) harus diinvestasikan dengan keamanan dan harus dilimpahkan untuk sebuah yayasan yang rutin per tahun didistribusikan dalam bentuk hadiah penghargaan kepada mereka yang berjasa bagi umat manusia…” demikian bunyi potongan surat wasiat Dr. Nobel sebagaimana dikutip Agneta Levinovitz dan Nils Ringertz dalam The Nobel Prize: The First 100 Years. Baca juga: Oslo dan Perdamaian Israel-Palestina Sementara, apa yang dialami Jonasson pada awal 1990-an begitu cepat berubah. Sebagai jurnalis, ia mengalami situasi dunia yang begitu cepat berubah pasca-jatuhnya Tembok Berlin. “Dulu saya seorang reporter dan kemudian pemimpin departemen di Smalandposten dan Expressen . Saya resign pertengahan 1990-an karena tantangan pekerjaan mulai hilang. Di hari terakhir masa kerja setelah perpisahan, saya naik satu lift dengan asisten manajer dan dia menawari pekerjaan sebagai konsultan media di Polandia, Estonia, dan Latvia. Uni Soviet baru kolaps dan membuka pers yang lebih bebas. Jadi saya hanya menganggur selama 25 detik,” kenang penulis berusia 60 tahun itu kepada Hannoversche Allgemeine Zeitung , 4 Agustus 2016. Pär-Ola Jonas Jonasson dan karya pertamanya ( jonasjonasson.com ) Beraneka satir dan humor absurd dalam cerita yang diramu Jonasson ternyata bukan hal irasional dan dilebih-lebihkan. Setidaknya buat dia. “Tidak ada yang percaya kenyataan itu. Contohnya salah satu tetangga saya yang tak hanya beternak ayam tapi juga membuat arena gokar dan membangun museum tentang Pulau Gotland. Dia punya gelar doktor di bidang bisnis. Dia juga jadi komposer musik klasik dan jadi pengajar judo. Jika saya masukkan ini dalam sebuah karakter di novel, semua orang akan berpikir saya gila,” imbuhnya. Baca juga: Kematian Stalin dalam Banyolan Terakhir, satir dan komedi yang dikaitkan dengan banyak kejadian dan tokoh-tokoh dunia diracik Jonasson bukan tanpa alasan. Ia ingin pembacanya mengingat masa lalu dengan humor. Harapannya memang klise, yakni agar pembaca sadar bahwa sejarah kelam yang mengikuti para tokoh itu tak terulang. “Saya memasukkan itu untuk melawan lupa dan pembaca teringat akan kejadian-kejadian tragis di abad ke-20. Bukunya terjual puluhan juta kopi tapi dunia belum jadi tempat yang lebih baik. Kita masih lupa dengan yang terjadi di era 1930-an. Saya merangkumnya dengan humor walau terjadi pro dan kontra. Walau bagi saya humor mestinya menyelamatkan kita dari dogma dan tirani,” tandas Jonasson yang komik novelnya terjual puluhan juta kopi dan diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa itu. Deskripsi Film: Judul: Hundraåringen Som Klev ut Genom Fönstret och Försvann ( The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared ) | Sutradara: Felix Herngren | Pemain: Robert Gustaffson, Iwar Wiklander, Mia Skäringer, Jens Hultén, David Wiberg, Alan Ford, Georg Nikoloff, Koldo Losada, Bianca Cruzeiro, Algirdas Paulavicius | Produser: Felix Herngren, Hans Ingemansson, Jonas Jonasson | Produksi: Buena Vista International, NICE FLX Pictures, Nordsvensk Filmunderhallning| Distributor: Walt Disney Studios, Motion Pictures, StudioCanal |Genre: Komedi | Durasi: 112 menit | Rilis: 25 Desember 2015, Mola TV
- Hoegeng, Pensiunan Kapolri jadi Seniman
SESOSOK manusia silver terjaring razia oleh Satpol PP kota Semarang dalam operasi yustisia. Usut punya usut, ternyata yang ditangkap seorang mantan polisi bernama Aipda Agus Dartono. Dalam pengakuannya, Agus mengaku terpaksa menjalani pekerjaan seniman jalanan itu lantaran gaji pensiunannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. “Saya jalan nggak punya uang, nggak punya duit, kemudian dapat uang (jadi manusia silver) dua puluh ribu, dipegang Satpol PP. Saya bilang bekas anggota polisi, pensiunan polisi,” ujar Agus Dartono sebagaimana dilansir detik.com. Terakhir, Agus berdinas di satuan lalu lintas (satlantas). Agus Dartono akhirnya dilepas usai dibina Satpol PP. Kasus ini sempat viral di berbagai media daring dan membuat iba sejumlah pihak. Kapolrestabes Semarang kabarnya menawarkan pekerjaan agar Agus tidak lagi mengamen ke jalan.
- Balada Jenderal Tahi
Selesai berdinas di Moskow sebagai duta besar, Mayor Jenderal Mochamad Jasin dapat tugas baru. Ia diangkat Pejabat Presiden Jenderal Soeharto sebagai panglima Kodam VII Brawijaya yang membawahi wilayah operasi Jawa Timur. Pengangkatan itu menjadi cara yang diambil Soeharto untuk melenyapkan pengaruh Sukarno di Jawa Timur. “Akar-akar paham Orde Lama dan kultus individu masih kuat di masyarakat. Dan ini menjadi tantangan yang harus saya hadapi,” tutur Jasin dalam memoarnya M. Jasin: Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto. Jasin memang tipikal perwira tegas. Waktu jadi panglima Kodam di Aceh, dia berhasil memadamkam pemberontakan pimpinan Daud Beureuh. Pada 15 April 1967, Jasin mengadakan serah terima jabatan panglima Brawijaya dengan Mayor Jenderal Soemitro. Baca juga: Tamparan Jenderal Mitro Setelah menjabat panglima Brawijaya, Jasin menggebrak Jawa Timur dengan serangkaian kebijakan radikal. Orang-orang PKI ditangkapi, terutama di daerah Blitar Selatan. Sejumlah pejabat pemerintah yang dicurigai “Sukarnois” masuk target “pembersihan”. Selain itu, Jasin juga menindak mereka yang berafiliasi dengan PNI kubu Ali Sastroamidjojo-Surachman (PNI-ASU). Kebijakan Jasin menuai pro-kontra di mana-mana. Namun yang paling serius, ketegangan terjadi antara Angkatan Darat dengan Korps Komando (KKO) AL. Panglima KKO Letjen Hartono dikenal sebagai pendukung setia Sukarno. Bukti loyalitas Hartono ini kemudian melahirkan semboyan “ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Putih kata Bung Karno, putih kata KKO.” KKO tentu geram dengan langkah-langkah yang ditempuh Jasin dalam “operasi desukarnoisasi” sekaligus meng-Orde Baru-kan Jawa Timur. Hingga suatu ketika pada pertengahan 1967, pasukan KKO nekat mengumpat Jasin sewaktu mengawal beberapa truk yang membawa mayat seorang anggota PNI-ASU. Ketika melewati rumah Jasin di Jalan Darmo No. 100 Surabaya, prajurit KKO itu melontarkan cemoohan kepada Jasin. Baca juga: Ketika PNI Terbelah “ Panglima Jenderal Jasin Tahi! Panglima Jenderal Jasin Tahi! ” begitu bunyi yel-yel umpatan para anggota KKO itu yang ditujukan kepada Jasin. Jasin langsung keluar dari rumahnya begitu mendengar teriakan itu. Meski menyulut emosi, Jasin mencegah pasukan pengawalnya yang ingin bertindak. Kabar penghinaan itu sampai kepada bawahan Jasin, yakni Komandan Korem Kolonel Acub Zainal. Mengetahui panglimanya dihina, Acub tidak terima. “Dasar saya sebagai bawahan, Pak Jasin sebagai Panglima saya. Jadi buat saya, kalau ada orang luar yang menghina atasan saya, jiwa saya berontak. Dan ini menyangkut soal Sumpah Prajurit,” kata Acub dalam biografi Acub Zainal: I Love The Army karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Baca juga: AURI Ingin Membom Markas Kostrad? Acub Zainal, dalam biografinya mengakui sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang markas KKO. Namun, sebelum pasukan itu digerakkan, Jasin terlebih dahulu ingin menghadapi langsung para petinggi Angkatan Laut di Surabaya. “Jasin segera bisa menyelesaikan masalah ini lewat diplomasi,” kata Acub. Keesokan harinya, Jasin mengundang panglima AL, panglima Armada, komandan AL, dan KKO. Dalam pertemuan itu, Jasin memperkarakan peristiwa penghinaan oleh pasukan KKO yang ditujukan kepada dirinya selaku panglima Brawijaya. Jasin memperingatkan, apabila terjadi lagi, komandan Brigade dan komandan Koremnya akan mengambil tindakan. Menurut Jasin, perang dingin antara AD dan KKO mulai berakhir setelah terjadi saling pengertian dengan Panglima Daerah Maritim V Laksamana Laut Suyatno. Perwita tinggi dari dua matra yang berbeda ini sama-sama setuju untuk memenangkan Orde Baru di Jawa Timur. “Kami juga bersepakat untuk menghantam kelompok yang berusaha mengembalikan Sukarno ke posisi semula,” ungkap Jasin dalam memoarnya. Baca juga: Para Panglima Pendukung Orba Dengan adanya kesepahaman tersebut, keadaan di Surabaya relatif agak tenang. Perbedaan pendapat dapat diselesaikan tanpa harus memakan korban. Jasin pun diakui sebagai salah satu jenderal yang berjasa dalam memancangkan tonggak kekuasaan rezim Orde Baru. Namun, seiring waktu, Jasin bersimpang jalan dengan Soeharto. Bersama kelompok oposisi Petisi 50, Jasin mulai kritis menyoroti penyimpangan kekuasaan dan korupsi yang dilakukan pemerintahan Soeharto. Aktivitas Jasin dalam Petisi 50 menyebabkan hidupnya, termasuk keluarga, dipersulit. Pemerintah mencekal Jasin hingga rezim Orde Baru akhirnya tumbang pada Mei 1998. “Saya yang ikut mendirikan Orde Baru, tapi karena koreksi-koreksi yang saya lakukan terhadap Orde Baru, kemudian saya disebut sebagai ‘pengkhianat’ Orde Baru,” kenang Jasin. Baca juga: Jasin, Jenderal Penantang Soeharto
- Jimmy Greaves Sang Predator Gol
PARA pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea mengelilingi lingkaran tengah lapangan. Sekira 60 ribu penonton juga berdiri dari tempat duduk mereka. Setelah layar besar Stadion White Hart Lane, markas Spurs, menampilkan foto pemain legendaris Jimmy Greaves, gemuruh aplaus penonton mengikuti selama satu menit jelang kick off derby London di matchday kelima Premier League, Minggu petang (19/9/2021). Penghormatan itu diberikan kedua tim rival sekota itu untuk mengenang Greaves yang wafat pada Minggu paginya di usia 81 tahun. Greaves wafat dalam tidurnya di kediamannya di Essex, Inggris, karena kesehatannya yang terus menurun. Sejak 2015, mendiang Graves menderita stroke yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Chelsea dan Spurs adalah dua klub yang punya sejarah bagi Graves semasa hidupnya. Di Chelsea, Greaves memulai debut profesionalnya dan di Spurs, ia menorehkan namanya sebagai salah satu juru gol tersubur di masanya dengan membukukan 220 gol dalam 321 penampilan. “Jimmy adalah pemain dan pencetak gol luar biasa dan seorang legenda untuk klub dan negara ini. Sungguh mengerikan untuk membayangkan betapa hebatnya dia sebagai pemain. Bagi seseorang seperti saya melihat jumlah golnya dan mungkin suatu hari saya bisa memecahkan rekornya akan sangat hebat,” kata Harry Kane, kapten Spurs yang kini baru mengumpulkan 166 gol, dilansir Sky Sports , Senin (20/9/2021). Baca juga: Obituari: Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller Bukan hanya Chelsea, Spurs, dan segenap insan sepakbola Inggris yang merasa kehilangan. Tim AC Milan di Italia pun turut berduka. Walau hanya semusim, Greaves turut mengantar Rossoneri (julukan AC Milan) memenangi Serie A pada 1961-1962. “Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya mantan pemain kami Jimmy Greaves. Hati dan simpati kami bersama teman, kerabat, dan keluarga tercinta yang tengah berduka. Walau kebersamaan kami tidak panjang, kami akan mengenangnya selamanya. Selamat jalan, Jimmy,” tulis manajemen klub di akun Twitter -nya, @acmilan , Minggu (19/9/2021). Tribute para pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea untuk mendiang Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Tujuh Gol Dilahirkan di Manor Park, Essex, pada 20 Februari 1940, James Peter Greaves merupakan satu dari tiga bersaudara anak pasangan Jim dan Mary Greaves. Jim seorang pegawai kereta bawah tanah dan Mary ibu rumah tangga. Greaves kecil dan keluarganya harus beberapa kali pindah tempat tinggal karena serangan-serangan udara Jerman di masa Perang Dunia II. “Enam pekan setelah saya lahir pesawat-pesawat pembom (Adolf) Hitler mengunjungi jalan-jalan tempat tinggal kami. Lalu kami pindah ke Ivy House Road, Dagenham sampai saya berusia 10 tahun. Jendela rumah kami tetap harus ditutupi kertas menyilang demi menghindari pembom-pembom Jerman,” kenang Greaves dalam otobiografinya, Greavsie. Baca juga: Obituari: Gordon Banks Sang Penyelamat Bagi anak-anak miskin seusia Greaves saat itu, hiburan yang bisa diminati hanya sepakbola dan kriket. Greaves lebih tertarik pada sepakbola karena pamannya mantan pesepakbola walau gagal mencapai prestasi terbaik. “Paman saya pemain yang sangat berbakat dan pernah ditawari trial oleh West Ham United. Sayangnya kemudian ia mengalami cedera yang mengakhiri kariernya. Saya sendiri gila sepakbola. Saya bisa berjam-jam menendang bola tenis di halaman belakang. Bersama teman-teman di Ivy House Road, kami biasa bermain di jalanan dengan bola tenis itu sampai bolanya botak,” imbuhnya. Kolase Jimmy Greaves kecil (Twitter @Neiltruechels) Di usia 10 tahun, Greaves harus pindah ke Huntsman Road di Hainault, sebuah distrik di timur laut London, karena ayahnya dimutasi. Selama lima tahun berikutnya Greaves bermain di level sekolah. Jelang lulus, ayahnya dibantu seorang teman menyiapkan pekerjaan sebagai penyusun huruf mesin cetak di suratkabar The Times buat Greaves . Namun “semesta” punya rencana lain bagi Greaves. Di saat yang sama pada medio 1955 itu, seorang pemandu bakat Chelsea FC, Jimmy Thompson, mendatangi rumahnya. Thompson terkesan dengan bakat Greaves dan ingin menyalurkannya ke tim muda Chelsea. “Jimmy Thompson kemudian mengundang Jimmy (Greaves) dan ayahnya untuk minum teh di Strand Palace Hotel. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Jimmy menandatangani surat-surat kontrak dengan Chelsea walau ayahnya keberatan,” tulis Colin Shindler dalam Four Lions: The Lives and Times of Four Captains of England. Baca juga: Obituari: Jack Charlton yang Acap Bikin Kiper Berang Greaves yang digaji tiga poundsterling per pekan dan tunjangan akomodasi dua pounds tak langsung masuk tim utama asuhan Ted Drake. Drake baru mengetahui talenta Greaves setelah Greaves enam bulan tampil di tim yunior The Blues (julukan Chelsea). Itupun gara-gara Greaves mencetak tujuh gol di sebuah pertandingan di kompetisi South East Counties League. Dalam semusim itu, Greaves punya koleksi 122 gol. Greaves mengenang bagaimana percakapan mereka di sebuah lahan kecil latihan di belakang gawang Stadion Stamford Bridge pada suatu Senin pagi di tengah musim 1956-1957. “Saya dengar kamu mencetak tujuh gol Sabtu lalu, nak,” kata Drake. “Ya, Tuan Drake,” jawab Greaves. “Apa kamu tahu Aku pernah mencetak tujuh gol juga, nak?” “Ya, Tuan Drake. Semua orang tahu tentang tujuh gol Anda di Villa (Aston Villa 7-1 Arsenal, Desember 1953, red. ).” “Mencetak tujuh gol dalam satu laga adalah kejadian yang sangat, sangat langka. Kenanglah, nak. Kenanglah selamanya. Kamu akan selalu punya kenangan terhebat untuk diingat kembali di masa depan,” kata Drake sambil menepuk pundak Greaves. Chelsea jadi klub profesional pertama Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Predator Kotak Penalti Musim 1957-1958 jadi ajang pembuktian Greaves sebagai predator haus gol. Ia dipromosikan ke tim utama Chelsea. Debutnya di First Division (kini Premier League) dilakukan pada 24 Agustus 1957, saat Chelsea bertandang ke White Hart Lane. Dalam laga pembuka liga itu Greaves langsung dipasang jadi starter. Keputusan Drake tak keliru. Greaves meninggalkan kesan positif dengan menyelamatkan Chelsea dari kekalahan lewat golnya yang membuat kedudukan menjadi 1-1. Penyerang muda itu segera mencuri perhatian publik Inggris dan senantiasa dipercaya jadi pemain utama di starting eleven. Baca juga: Kerikil Bernama Nobby Stiles Kendati Chelsea hanya bertengger di posisi 11 klasemen akhir musim, Greaves mulai dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin di kotak penalti dengan torehan 22 gol dari 37 penampilan. Tak ayal di tahun yang sama ia sudah dipanggil ke timnas Inggris. Gol perdananya bersama timnas dicetak dalam debutnya kala Inggris menghadapi Peru dalam tur Amerikanya. Laga pada 17 Mei 1959 itu dimenangkan Peru 4-1. “Saya tak tahu kenapa tapi selalu mudah bagi saya, di mana mencetak gol jadi hal yang natural. Saya tak pernah merasakan tensi, ketegangan urat syaraf, atau tekanan apapun. Saya tak pernah kekurangan kepercayaan diri. Beberapa orang bilang saya sangat dingin di kotak penalti dan mereka mengira pembuluh darah saya dialiri es. Sebenarnya saya tak pernah emosional dan tak seperti pemain lain yang selalu cemas saat gagal mencetak gol. Karena saya yakin peluang akan datang lagi dengan lahirnya gol,” sambung Greaves. Jimmy Greaves (berdiri, ketiga dari kanan) di skuad AC Milan (EDI Milano Card 1961) Greaves bertahan di Chelsea sampai April 1961. Talentanya dilirik klub AC Milan. Torehan 125 gol dari 157 penampilannya di Chelsea membuat Milan memberi mahar 80 ribu pounds kepada Chelsea. Greaves juga diberi bonus penandatanganan kontrak senilai 15 ribu pounds dan gaji 140 pounds per pekan. Namun, Greaves tak kerasan di Italia. Bagi Greaves, Milan ibarat pelarian dari tragedi yang menimpa dirinya dan istrinya, Irene. “Di tahun 1961 putra pertamanya, Jimmy Jr., meninggal karena pneumonia di usia empat bulan. Kematiannya mengantui dirinya dan istrinya Irene sepanjang hidupnya. Jimmy awalnya tak yakin untuk pindah tapi Milan begitu gigih. Pindah ke Italia untuk Jimmy dan Irene seperti cara terbaik untuk keluar dari rasa sakit akibat kematian putra mereka,” ungkap Norm Parkin dalam Legends and Rebels of the Football World. Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi! Greaves hanya bertahan enam bulan berseragam merah-hitam AC Milan. Banyak faktor yang membuatnya tak betah. Selain culture shock dan homesick , dia tak kuat dengan kedisiplinan ekstra ketat yang diterapkan pelatih Nereo Rocco. Rutinitas dan kedisiplinan latihannya sangat ketat dengan hanya sedikit kebebasan pribadi bagi para pemain. Waktu untuk keluarga hanya sedikit. Rocco juga melarang pemainnya merokok dan menenggak minuman keras. Suatu waktu, itu jadi masalah buat Greaves karena ketahuan minum bir. Dia langsung jadi sasaran kritik pedas media-media Italia. “ Calcio (sepakbola, red. ) juga masih asing bagi Greaves. Ia syok dengan cara Rocco selalu membentak pemainnya ibarat instruktur militer. Sistem permainan Rocco kemudian juga tak berhasil, di mana Greaves yang dipasangkan dengan (José) Altafini tak dimainkan jadi penyerang out-and-out sebagaimana mestinya. Greaves selalu diperintahkan bermain lebih ke belakang atau melebar ke kanan-kiri,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History if Italian Soccer. Karier puncak Jimmy Greaves diraih semasa berseragam Spurs ( tottenhamhotspur.com ) Walau sampai akhir musim Greaves menorehkan sembilan gol dari 12 laga, manajemen Milan memutuskan akan menjual Greaves kembali. Chelsea bersedia memulangkannya dengan tawaran mahar 96 ribu pounds. Tetapi manajer Spurs, Bill Nicholson, tak ingin kalah dengan tawaran 99.999 pounds. “Milan awalnya membuka harga 100 ribu pounds. Bill keukeuh di angka 99.999 pounds dengan mengatakan: ‘Saya menolak membuatnya pesepakbola pertama yang bernilai 100 ribu pounds karena akan jadi beban baginya dan beberapa rival kami sudah mengkritik karena tawaran tinggi kami,’” singkap Brian Scovell dalam Bill Nicholson: Football’s Perfectionist . Baca juga: Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali Milan pun berkenan melepasnya ke Nicholson. Dimulailah “romantika” Greaves dengan Spurs. Greaves tetap tajam saat pulang ke Inggris. Di laga debutnya bersama Spurs pada 16 Desember 1961, Greaves mencetak hattrick dalam kemenangan 5-2 atas Blackpool. Sepanjang membela Spurs (1961-1970), Greaves jadi pencetak gol tersubur klub dengan 220 gol dalam 321 laga. Gol-golnya sangat berperan besar dalam kesuksesan Spurs menjuarai FA Cup (1961-1962 dan 1966-1967) dan Piala Winners Eropa (1962-1963). Jimmy Greaves mengoleksi 44 gol dari 57 caps di Timnas Inggris ( englandfootball.com/fifa.com ) Greaves pun kembali jadi andalan pelatih Alf Ramsey di timnas Inggris pada Piala Dunia 1966. Di babak grup, Greaves selalu jadi starter. Namun di laga terakhir grup melawan Prancis, Greaves mengalami cedera tulang kering. Alhasil pada perempatfinal hingga final, posisinya digantikan Geoff Hurst. Padahal saat Inggris sudah memijak semifinal, Greaves mengaku sudah pulih. Namun Ramsey menolak mengganti lagi skuadnya, termasuk Hurst. Maka di balik euforia kemenangan di final, terdapat perasaan getir di dalam batin Greaves. “Saya ikut menari di lapangan bersama semua anggota tim tapi bahkan di momen kebahagiaan ini, jauh di lubuk hati saya merasakan kesedihan. Sepanjang karier saya sebagai pemain, saya selalu memimpikan tampil di final Piala Dunia. Saya melewatkan laga sekali seumur hidup itu dan sakit sekali rasanya,” aku Greaves. Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena Lebih menyakitkannya, Greaves tak kebagian medali pemenang Piala Dunia. Saat itu FIFA hanya mengalungi medali untuk 11 pemain yang tampil. FA (Induk sepakbola Inggris) baru berhasil mengajukan medali bagi semua pemain, cadangan maupun starter, pada 2009. Greaves yang menorehkan 44 gol selama 57 kali membela timnas akhirnya menerima medali yang sudah menjadi haknya. Greaves gantung sepatu pada 1980. Setelah dilepas Spurs pada 1970, ia wara-wiri ke klub-klub medioker macam West Ham United (1970-1971), Brentwood (1975-1976), Chelmsford City (1976-1977), Barnet (1977-1979), dan Woodford Town (1979-1980). Ia juga makin parah kecanduan alkohol. Saat mulai sembuh dari kecanduannya di pengujung kariernya, Greaves mulai menata hidup. Tak lama setelah gantung sepatu, Greaves belajar jadi kolumnis di suratkabar The Sun dan The Sunday People. Perlahan ia juga mulai merintis karier jadi sportscaster di ITV, dan bertahan sampai 2012. Di tahun itu ia mulai kena stroke ringan dan terserang stroke berat tiga tahun berselang yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Setelah gantung sepatu, Greaves merambah dunia broadcasting ( whufc.com/thefa.com )
- Melestarikan Keberkahan Masjid Angke
BANGUNAN temboknya tak lagi kusam. Atapnya pun sudah tak lagi mengalami kebocoran jika terjadi hujan. Sejumlah ukirannya kembali cantik dan jamaah mulai meramaikannya lagi di tiap waktu salat. Beginilah kondisi Masjid Jami Al-Anwar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Angke di perkampungan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pada Kamis, 16 September 2016, Masjid Angke rampung direvitalisasi. Masjid berusia lebih dari dua abad itu direvitalisasi besar-besaran sejak 2017 lewat dua tahap yang diprakarsai mendiang tokoh Lingkar Warisan Kota Tua (Lingwa) Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Sayangnya, sang pemrakarsa tak bisa melihat langsung peresmian revitalisasinya hari ini, Senin (20/9/2021), karena sudah lebih dulu mangkat pada 13 Juni 2021. “Masjid Angke sejak 2017 kondisinya makin memprihatinkan, perlu dipugar. Dan Masjid Angke termasuk salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun tahun 1761 dan masih berfungsi sampai saat ini. Keberadaan masjid ini dianggap ikon yang mencerminkan pluralitas, multikultural, hal inilah yang membangkitkan semangat Ibu Toeti melakukan pemugaran pertama pada Masjid Angke,” ujar Inda Citraninda Noerhadi, ketua Lingwa cum putri mendiang Prof. Toeti, dalam acara “Mengenang 100 Hari Prof. Dr. Toeti Heraty N-Roosseno dan Peresmian Pemugaran Masjid Angke” via platform Zoom dan YouTube , Senin (20/9/2021) sore. Baca juga: Al-Noor, Masjid Terjauh dari Kabah Ragam bentuk akulturasi dalam Masjid Angke ( encyclopedia.jakarta-tourism.go.id ) Senada dengan yang diungkapkan Inda, ketua IAAI Dr. Wiwin Djuwita Ramelan mengatakan Masjid Angke sejak 260 tahun lampau sudah jadi masjid yang menggambarkan keharmonisan multietnis di Batavia (kini Jakarta). Itu terlihat dari gaya bangunan serta beragam dekorasi eksterior maupun interiornya yang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa, Bali, Arab, Tionghoa, dan Belanda. “Upaya mempertahankan nilai penting masjid ini sungguh membanggakan. Di tengah-tengah keprihatinan karena pandemi, Ibu Toeti dan kawan-kawan tidak melupakan pembangunan budaya. Kebhinekaan selalu menjadi ciri sikap dan pemikiran Ibu Toeti sebagai budayawan dan masjid ini menyimbolkan kebhinekaan karena jadi tempat berinteraksinya masyarakat Betawi, Melayu, Sunda, Bali, Pontianak, dan etnis lain,” kata Wiwin menimpali. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I) Merunut asal-muasalnya, sebagaimana diungkapkan Doni Swadarma, Yunus Aryanto, dan Ita Puspitasari dalam Rumah Etnik Betawi , Masjid Angke berdiri pada 2 April 1761. Perancangnya, arsitek Tionghoa Syeikh Liong Tan. Pembangunan masjid berukuran 15 x 15 meter di atas lahan seluas 400 meter persegi itu diongkosi perempuan Tionghoa bernama Nyonya Tan Nio. Nyonya Tan masih kerabat Ong Tien Nio, istri Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. “Arsitektur masjid memiliki perpaduan corak unsur Jawa dan Tionghoa karena pendirinya memang berlatarbelakang dua etnis tersebut. Terlihat dari pintu masuk dan ujung atap yang mirip kelenteng. Selain itu, desain atap tumpang susun Masjid Angke mirip Masjid Demak di Jawa Tengah,” ungkap Doni dkk. Masjid Angke di tahun 1921 (Tropenmuseum) Bentuk gapura di sisi utaranya, berbentuk gapura belah, dan gapura sisi selatan berbentuk huruf “D” terinspirasi dari bentuk bangunan-bangunan kuno di Banten dan Cirebon. Adapun nuansa Balinya sangat terasa pada bentuk ujung atap yang mirip punggel rumah Bali. “Di halaman belakang masjid terdapat pula makam Syekh Syarif Hamid al-Qadri dari Kesultanan Pontianak yang pada tahun 1800-an dibuang ke Batavia karena memberontak kepada Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, di kompleks masjid ini para pemudanya sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dalam mengoordinasi kegiatan menentang Belanda. Melalui khotbah-khotbahnya, para ulama juga melakukan provokasi untuk menentang Belanda,” tulis Abdul Baqir Zein dalam Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian II – Habis) Oleh karenanya, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana amat mensyukuri masjid yang punya nilai sejarah itu selesai dipugar. Pemugaran itu menjadi nilai lebih bagi masyarakat ibukota untuk kemudian bisa melakukan wisata sejarah dan religi. “Melakukan revitalisasi cagar budaya menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mengangkat sebuah peradaban. Apa yang dikerjakan Ibu Toeti dan kawan-kawan Lingwa sebagai bukti bukan hanya membangun secara fisik tapi juga membangun peradaban, membangun kembali bangunan cagar budaya dan memuliakannya. Ini menambah kontribusi terhadap wawasan kebangsaan, keilmuan untuk masyarakat dan generasi yang akan datang,” tutur Iwan. Peresmian pemugaran Masjid Angke yang diikuti shalat berjamaah diimami KH Nasaruddin Umar (Tangkapan Layar Youtube Cemara 6 Galeri) Peresmian usai revitalasasi itu dilakukan imam besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dengan memotong pita dan mendirikan shalat. KH Nasaruddin dipilih karena merupakan satu dari beberapa wasiat mendiang Prof. Toeti terkait pemugaran masjid. “Alhamdulillah sore ini kita jadi saksi kebaikan seseorang yang takkan bisa kita lupakan, ibunda, guru, dosen, senior kita, Prof. Toeti. Almarhumah memiliki segudang prestasi walau ia seorang perempuan. Ini satu bukti bahwa perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapapun. Tidak pernah terbayang seorang Profesor Toeti yang sehari-hari saya kenal, saya sangat kagum logika berpikirnya, filsafatnya, menggagas renovasi masjid yang sudah dibangun 200 tahun lebih,” ujar KH. Nasaruddin dalam sambutannya. Baca juga: Cerita Tercecer dari Masjid al-Makmur Tanah Abang Nasaruddin kembali teringat akan awal-mula sejarah masjidnya dibangun atas bantuan pembiayaan seorang Tionghoa yang juga perempuan, dan sekarang dipugar atas prakarsa mendiang Profesor Toeti. “Masjid tua itu tepat berkumpulnya para malaikat. Bukan di masjid megah, mahal, luas, besar. Tetapi semakin tua sebuah masjid, semakin berkah masjid itu. Semakin lama sebuah masjid ditempati sujud, maka lorong rahasia menuju langit semakin terang. Ada juga hadits nabi menyebutkan bahwa tempat yang paling sering digunakan memanggil nama Allah SWT akan kelihatan para penghuni langit. Para malaikat sangat bercahaya seperti bintang-bintang kejora,” tambah Nasaruddin. Almarhumah Hj. Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno ( kemendikbud.go.id ) Oleh karenanya, upaya Prof. Toeti sebagai pemrakarsa pemugaran masjid tua Angke tak hanya jadi pembuka jalan amal bagi mendiang tetapi juga sebagai amalan wakaf. Nasaruddin berharap, pengurus, pemerintah provinsi, serta masyarakat bisa menjaga masjid yang baru dipugar itu untuk melestarikan keberkahan bagi semua. “Beliau dengan kesibukannya masih sepat memikirkan gagasan pelestarian masjid bersejarah. Saya teringat dalam sebuah ayat, ‘Janganlah kalian mengira orang yang telah mewakafkan dirinya untuk jalan Allah itu adalah wafat. Sesungguhnya dia akan tetap hidup dan akan tetap mendapatkan pahala.’ Alhamdulillah masjid tua yang kita bangun atas prakarsa almarhumah jadi tiket almarhumah meraih istana yang sudah dijanjikan Allah SWT. Tantangan dan tugas kita kemudian bagaimana merawat, melestarikan masjid bersejarah ini,” tandasnya. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China
- Mengulik di Balik Layar Film Kadet 1947
HARI itu, 21 Juli 1947, Pangkalan Udara (lanud) Maguwo, Yogyakarta, porak-poranda. Sejumlah bangunannya hancur. Sebuah pesawat pembom tukik ringan bekas Jepang, Mitsubishi Ki-51, habis dilalap si jago merah. Tiga kadet, Adjie (diperankan Marthino Lio), Mul (Kevin Julio), dan Sigit (Bisma Karisma) menatap nanar ke langit saat pesawat-pesawat Belanda leluasa berterbangan di atas Maguwo. Peristiwa di atas merupakan potongan dari teaser film Kadet 1947 yang digarap duet sutradara Rahabi Mandra dan Aldo Swastia dari tim produksi Temata Studios. Teaser itu resmi dirilis lewat akun Instagram dan Youtube Temata Studios Jumat kemarin (17/9/2021). Teaser berdurasi satu menit tiga detik itu juga memamerkan beberapa potongan kisah dramatis pergulatan para kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) dalam merespons Agresi Militer Belanda I. Di antaranya kala para kadet itu juga ikut bergerilya menghindari serdadu darat Belanda, dan memupuk nyali melawan Belanda dengan pesawat mereka berkat seruan-seruan Presiden Sukarno (Ario Bayu) yang menggelegar. Baca juga: Sosok Sukarno dan Pak Dirman dalam Kadet 1947 Bootcamp film Kadet 1947 sejatinya sudah mulai dilakukan untuk para pemeran, syuting, dan proses produksi awal pada Maret 2020. Namun, prosesi itu sempat terhenti gegara pagebluk Covid-19 dan baru dilanjutkan pada September 2020. Filmnya direncanakan naik tayang tahun ini walau belum disebutkan tanggal dan bulannya. Celerina Judisari sang produser menyebutkan dalam konferensi pers via platform Zoom pada 15 April 2020, pihaknya bekerja keras untuk mengatur pengunduran jadwal proses produksi karena pandemi. Tak hanya soal teknis tapi juga mental para pemainnya. “Kita harus optimis. Justru kita ingin mempertahankan api perjuangan seperti kadet-kadet Angkatan Udara itu di masa seperti ini. Semangatnya bahwa kita bergotong-royong sama-sama berjuang mempertahankan eksistensi bangsa kita. Kala dulu kita melawan penjajah, sekarang kita melawannya virus,” ujar Celerina. Kolase teaser film Kadet 1947 yang baru dirilis (Tangkapan Layar Youtube) Kadet 1947 , lanjut Celerina, mengisahkan misi pemboman udara pertama Indonesia di masa revolusi fisik, tepatnya 29 Juli 1947. Misi heroik itu dilakoni tujuh kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) ke Semarang, Salatiga, dan Ambarawa untuk membalas Agresi Militer Belanda I yang dilancarkan sepekan sebelumnya. Sejarah kecil ( petite histoire ) itu jarang diketahui publik lantaran tak tertera di buku-buku pelajaran sekolah. Hal ini juga jadi tantangan tersendiri bagi tim produksi. Pasalnya, film-film bertema sejarah kalah populer bagi kaum milenial ketimbang film-film ber- genre lain. “Walau secara statistik film bertema perjuangan ada di bawah, orang kurang terlalu banyak tertarik, tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat film sejarah yang menarik untuk mereka tonton,” lanjutnya. Baca juga: Pemboman Udara Pertama Indonesia Penggarapan film Kadet 1947 sendiri, aku Celerina, idenya berangkat dari sebuah artikel sejarah tentang epos itu di media sejarah populer Historia.id . Ia tertegun dengan inti cerita bahwa 73 tahun lampau, ada tujuh kadet yang notabene belum punya jam terbang namun berani berbuat sesuatu yang punya makna besar. Air raid terhadap markas-markas Belanda membuktikan bahwa Indonesia yang baru dihantam Agresi Militer I ternyata mampu membalas. “Saya tidak sengaja membaca (artikel) di Historia , karena terpikir ya pada masa begini, apa sih yang terpenting untuk persatuan? Kita sudah mulai terpecah-belah. Apa yang bisa menyatukan kaum milenial? Saya cari cerita lain soal tema perjuangan sampai saya menemukan artikel Historia yang mengilhami,” kata Celerina. Kolase adegan dalam teaser film Kadet 1947 (Tangkapan Layar) Dari artikel bertajuk “Pemboman Udara Pertama Indonesia” itu, sang produser mendapati petite histoire itu bisa sangat mudah dipahaminya. Dia kemudian tergelitik untuk meriset lebih jauh sumber-sumber lainnya. “Justru saya mengucapkan terimakasih bahwa ternyata tertera di situ (kisahnya). Bahwa ada pemuda-pemuda tanpa keahlian dia bawa bom, dia bisa jatuhin, mungkin peristiwanya tidak sebegitu dahsyat ya, tapi cara penulisannya itu sudah menyentuh hati saya untuk saya mencari lagi buku-buku tentang itu,” tambahnya. Baca juga: Upaya Menggali Inspirasi Lewat Film Kadet 1947 Kebetulan pula Celerina mengaku punya kolega di lingkungan TNI AU. Kepada kolega itulah dia kemudian mengutarakan idenya dan lantas berhasil mendapat dukungan. Bahkan ketika ia bertemu Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, pihak TNI AU turut mendukung lewat supervisi. Bersama co-produser Dewi Umaya, Celerina lantas mencari sutradara cum penulis naskah, dan mendapatkan duet sineas muda Rahabi Mandra dan Aldo Swastia. Pengerjaan naskahnya pun dikebut sejak Januari 2020 setelah terlebih dulu dilakukan riset pustaka dan konsultasi dengan pihak TNI AU serta peneliti-peneliti sejarah. “Riset kita siapkan secara mandiri dan tidak dari satu sumber saja. Kita juga risetnya tentang tata bahasa, gaya hidup, kondisi sosial dan ekonomi pada saat itu. Kami menyadari sensitifnya cerita sejarah. Makanya kami juga tidak seberani itu untuk bilang film ini didasarkan fakta sejarahnya. Makanya kita gunakan kata ‘ inspired by true story ’,” timpal Rahabi. Aktor-Aktor Milenial Setelah naskah siap, prioritas berikutnya adalah pemilihan pemeran. Kebetulan dalam fakta historisnya, tujuh kadetnya berusia antara 18-20 tahun. Mereka adalah Sutardjo Sigit, Bambang Saptoadji, Kaput, Mulyono, Sutardjo, Suharnoko Harbani, dan Dulrachman. Oleh karena itu, pemilihan para pemeran pun diambil dari para aktor milenial. Kevin Julio, misalnya, diplot menjadi Kadet Mulyono; lalu Bisma Karisma sebagai Kadet Sutardjo Sigit, atau Omara Esteghlal sebagai Kadet Suharnoko Harbani. Mereka didampingi lima aktor kawakan sebagai pemeran tokoh-tokoh besar seperti Andri Mashadi yang memerankan Komodor Muda Agustinus Adisucipto, Ibnu Jamil sebagai Komodor Muda Halim Perdanakusuma, Mike Lucock sebagai KSAU Komodor Suryadi Suryadarma, Indra Pacique sebagai Panglima TNI Jenderal Sudirman, dan Ario Bayu sebagai Presiden Sukarno. “Untuk bisa merasakan beratnya perjuangan, sejak Januari juga mereka dilatih fisik. Khusus untuk para pemeran kadet, mereka sempat kami ikutkan bootcamp bersama Korps Paskhas TNI AU, untuk belajar juga bagaimana menjadi seorang siswa prajurit, dan bahkan bagaimana rasanya menjadi prajurit,” ungkap Aldo. Baca juga: Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara Di sisi lain, para pemeran melakukan bermacam cara untuk mendalami karakter masing-masing tokoh yang mereka mainkan. Mereka juga diberi sesi untuk pendalaman sejarah dari beberapa konsultan sejarah. “Yang menyenangkan adalah, tim produksi memberi fasilitas disediakan sesi khusus sama periset. Ini baru pertamakali buat saya, apalagi ini juga pertama terlibat di film bertema perjuangan. Seru banget,” cetus Chicco Kurniawan yang memerankan Kadet Dulrachman. Beberapa aktor milenial yang terlibat dalam film Kadet 1947 (Tangkapan Layar) Untuk mendukung latar cerita, tim produksi memilih Landasan Udara Gading di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta sebagai lokasi utamanya. Sementara, proses syuting untuk efek visualnya dilakukan di studio. “Kita memang memilih lokasi lebih banyak di Wonosari, di mana ada landasan militer yang sudah lama tak terpakai, untuk memudahkan pergerakan dan juga rasanya sesuai dengan karakter latarbelakang filmnya. Sebagian lagi lokasi syutingnya di Jawa Tengah. Juga ada set studio yang bahkan bagian set di studio ini sudah selesai syutingnya,” kata Dewi Umaya menimpali. Baca juga: Satir Penerbang Bengal dalam Catch-22 Tim produksi juga membuat beberapa pesawat replika untuk dipakai tokoh-tokoh kadet. Empat pesawat bekas Jepang yang digunakan ketujuh kadet itu yakni satu pembom tukik Guntai, satu pesawat tempur Hayabusa (Nakajima Ki-43), dan dua pesawat latih Cureng (Yokosuka K5Y). “Kita membuat beberapa pesawat itu yang tentunya enggak bisa terbang ya tapi karena kita ingin lebih real dan relate . Selebihnya efek visual ya yang sekiranya mengambil porsi lumayan sangat banyak,” tambahnya. Visualisasi para kadet dalam pemboman udara pertama Indonesia pada 1947 ( temata.id/kemendikbud.go.id ) Kadet 1947 juga akan dibumbui dramatisasi dengan dihadirkannya beberapa tokoh perempuan dari latarbelakang berbeda. Tatyana Akman memerankan seorang gadis asal Minang bernama Rosma Fauzia, lalu Lutesha Sadhewa sebagai jurnalis asal Maluku bernama Nila Latuharia. Dramatisasi itu tentu sudah melalui diskusi dengan pihak TNI AU agar tak terlalu melenceng dari fakta historisnya. “Dalam penggarapannya pasti ada ruang kreatif, ada juga ruang ketepatan pada sejarah supaya menjadi media belajar juga. Jadi selalu ada titik tengah antara hiburan dan media belajar. Karena, kata seorang dalang, yang namanya cerita itu adalah hak si penceritanya untuk menceritakan kepada orang-orang di masa itu. Jadi kita punya keleluasaan dalam bercerita karena kita mengerti kepada siapa kita bercerita,” kata Rahabi. Baca juga: Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya Kadet 1947, kata Rahabi, porsi dramatisasinya lebih dominan dibandingkan fakta sejarahnya. “Secara kapasitas, kami pikir porsi dramatisasi akan sedikit lebih dominan dibandingkan fakta sejarahnya, dengan masih memberi ruang bagi mereka yang ingin mengenal kejadian bersejarah ini. Dengan demikian makanya dikatakan lebih tepat memperkenalkan film ini sebagai film yang terinspirasi dari kisah nyata (inspired by true story, red .) , ketimbang didasarkan pada kisah nyata (based on true story) ,” lanjutnya. Bagi tim produksi, dramatisasi diharapkan bisa lebih memancing minat generasi muda sebagai target penontonnya. Jika sudah terpancing, mereka akan dengan mudah juga menyerap nilai-nilai mulia dari sejarah dan perjuangan para kadet itu. “Soal target penonton, ya semakin banyak semakin baik. Agar pesan yang kami ingin utarakan lewat film ini bisa tersebar seluas mungkin, khususnya bagi generasi muda yang punya potensi dan peranan yang penting untuk negara, apapun latarbelakang dan kemampuannya. Inilah nilai yang kami rasa perlu dirasakan oleh penonton agar memiliki semangat gotong royong, kolaborasi, dan tidak gentar menghadapi masalah dan situasi apapun,” ujar co-produser Tesadesrada Ryza via pesan singkat kepada Historia. Baca juga: Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI
- Selayang Pandang Sepakbola Afghanistan
AFGHANISTAN yang sejak sebulan lalu kembali dikuasai Taliban makin hari makin tak bersahabat terhadap atlet-atlet perempuan, khususnya sepakbola. Rombongan pengungsi pesepakbola putri Afghanistan terus mengalir ke sejumlah negara, salah satunya ke Pakistan. Di Afghanistan, masa depan para pesepakbola putri itu suram. Taliban melarang perempuan aktif dalam olahraga. Mengutip IB Times , Rabu (15/9/2021), pemerintah Pakistan menyambut rombongan 75 orang yang terdiri dari para pesepakbola putri junior Afghanistan kelompok usia U-14, U-16, dan U-18 beserta tim pelatih dan keluarga mereka. Mereka termasuk rombongan pengungsi yang tak bisa dievakuasi lewat jalur udara pasca-serangan bom di Bandara Kabul pada akhir Agustus 2021. Beruntung, permintaan tolong untuk dievakuasi dari negeri kelahiran mereka dijawab LSM Football for Peace yang berbasis di London, Inggris, kemudian diteruskan ke pemerintah Pakistan. “Saya menerima permintaan untuk menyelamatkan mereka dari LSM berbasis Inggris lainnya, lalu saya menulis surat kepada Perdana Menteri (Pakistan) Imran Khan yang lantas mengeluarkan izin bagi mereka datang ke Pakistan,” kata duta pembangunan global LSM Football for Peace, Naveed Haider, dikutip IB Times . Baca juga: Para Ibu di Lapangan Hijau Untuk bisa melintasi perbatasan Afghanistan-Pakistan, mereka terpaksa mengenakan burqa dan cadar dalam perjalanan pada Selasa (14/9/2021) malam. Perjalanan mereka berakhir di Lahore pada Rabu (15/9/2021) pagi. Mereka langsung berganti pakaian dan menerima kalungan bunga dari perwakilan pemerintah Pakistan. “Kami menyambut tim sepakbola putri Afghanistan setelah mereka tiba di Perbatasan Torkham dari Afghanistan. Para pemain memiliki paspor Afghanistan dan visa Pakistan yang sah dan kemudian diterima Nouman Nadeem dari PFF (induk sepakbola Pakistan),” ungkap Fawad Chaudhry, menteri informasi dan penyiaran Pakistan, di akun Twitter -nya, @fawadchaudhry , Rabu (15/9/2021) pagi. Ke-75 pengungsi itu jadi gelombang kedua pesepakbola putri yang memilih kabur dari rezim Taliban. Pada 24 Agustus 2021, 77 orang yang termasuk pemain timnas senior putri Afghanistan bersama keluarga mereka lebih beruntung karena bisa dievakuasi dengan pesawat ke Australia. Evakuasi mereka dibantu mantan kapten tim Khalida Popal dan dua eks-pelatih timnas putri Afghanistan asal Amerika Serikat, Haley Carter dan Kelly Lindsey. Sementara di sepakbola putra, para pesepakbola Afghanistan benasib tidak jelas setelah musim ini. Kompetisi resmi terakhir yang bergulir hanya Herat Premier League. Laga terakhirnya yakni laga penentu juara antara Attack Energy Club kontra Herat Money Changers, 19 Agustus 2021, atau empat hari setelah Taliban memasuki Kabul. Baca juga: Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan Kolase gelombang pertama pesepakbola putri Afghanistan yang dievakuasi ke Australia (Twitter @khalida_popal) Kala Afghanistan Mengenal Sepakbola Sepakbola jadi olahraga impor paling popular di Afghanistan selain kriket. Keduanya mulai eksis di tanah “Khorasan” pada akhir abad ke-19 walau hanya terbatas dimainkan para serdadu garnisun British India di Kabul. Kriket dan sepakbola baru dikenalkan pada masyarakat Kabul dan sekitarnya tak lama setelah pengakuan kedaulatan Afghanistan pada 8 Agustus 1919(Traktat Anglo-Afghan). Menurut sejarawan cum peneliti budaya Afghanistan Profesor Louis Dupree dalam bukunya, Afghanistan, hal itu dimulai oleh Emir Afghanistan Habibullah Khan yang menggalakkan olahraga tenar di kalangan elite Eropa seperti golf, kriket, dan tenis ke negerinya. Sarana-sarananya turut dibangun sebagai fasilitas para ekspatriat Eropa yang datang untuk melakukan pembangunan pabrik, jembatan, hingga sekolah-sekolah modern di awal rezimnya. “Baru kemudian beberapa olahraga kontak fisik turut diperkenalkan. Olahraga semacam ini bisa lebih diterima masyararakat karena jadi wadah kompetisi yang sengit untuk mempertaruhkan kebanggaan individu maupun kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Di antaranya basket, sepakbola, voli, dan hoki,” tulis Dupree. Baca juga: Captains of Zaatari dan Mula Sepakbola Suriah Emir Habibullah Khan I (kiri) dan perkembangan awal sepakbola Afghanistan (Repro: Under the Absolute Amir /aff.org.af) Rezim Habibullah memulainya dari lingkungan sekolah. Sejumlah instruktur sepakbola didatangkan dari Britania Raya untuk melatih tim sepakbola yang dibentuk di empat sekolah setingkat SMA: Maktab Habibiyeh, Maktab Esteghlal, Tafrih Team, dan Mohajer Team. Menukil data RSSSF , turnamen pertama yang mengikusertakan keempat tim sekolah itu pertamakali digelar pada 1923. Belum diketahui siapa yang memenangkannya. Di tahun yang sama, induk sepakbola Afghanistan Football Federation (AFF) dibentuk beserta tim nasionalnya. Lalu, Ghazi Stadium sebagai stadion pertama di Afghanistan merdeka dibangun di timur Kabul. Nama “ Ghazi ” yang berarti “pahlawan” diambil untuk mengenang kejayaan Emirat Afghanistan dalam Perang Inggris-Afghan Ketiga (6 Mei-8 Agustus 1919). Meski begitu, timnas Afghanistan baru eksis di atas kertas. Penyebabnya, perkembangan sepakbolanya masih sangat lamban dan masih terpusat di ibukota Kabul. Klub sepakbola pertama baru hadir pada 1934 di Kabul, yakni Mahmoudiyeh FC. Karena belum ada klub lain, pada 1937 Mahmoudiyeh FC terpaksa mencari lawan untuk melakoni 18 laga persahabatan ke negara tetangga, India. Mahmoudiyeh FC jadi tulang punggung Timnas Afghanistan kala melakukan laga internasional pertamanya kontra Iran pada 25 Agustus 1941. Laga di Ghazi Stadium itu berkesudahan imbang tanpa gol. Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola Ghazi Stadium usai direnovasi pada 2011 (US Embassy Kabul Afghanistan) Seiring waktu, klub-klub lain bermunculan hingga bisa dibentuk sebuah kompetisi berformat liga, Kabul City League, pada 1946. Pasca-Perang Dunia II, sepakbola di Afghanistan berkembang pesat. Alasannya karena sepakbola bisa lebih menerima keragaman etnis. Sementara, kriket kala itu masih didominasi etnis Pashtun. Olimpiade Inggris 1948 menjadi debut internasional timnas Afghanistan. Di tahun yang sama, Afghanistan diterima jadi anggota FIFA. “Afghanistan lebih dulu jadi anggota FIFA pada 1948 dan baru kemudian jadi anggota AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) pada 1954. Mereka tampil di Olimpiade 1948 meski hanya sekali bertanding karena kalah 6-0 dari Luksemburg di babak penyisihan,” ungkap Tom Dunmore dalam Historical Dictionary of Soccer. Di tingkat regional, tim “Singa Khorasan” (julukan timnas Afghanistan) sejatinya punya kans untuk unjuk gigi di Piala Asia 1956 dan 1964. Namun alasan politis membuat Afghanistan memilih mundur ketimbang berhadapan dengan Israel. Baca juga: Mimpi Indonesia di Piala Dunia Terganjal Israel Kolase Timnas Afghanistan di Olimpiade 1948 ( bfootball.com.au ) Di Bawah Rezim Taliban Pada awal 1970-an, kompetisi sepakbola mulai menjalar ke Herat, Kandahar, dan Mazar-e-Sharif. Masing-masing kota mendirikan liganya sendiri. Alhasil Kabul City League tak lagi jadi satu-satunya kompetisi di Afghanistan. “Kurang suksesnya Afghanistan di pentas internasional juga tak lain karena kekacauan organisasi domestik sepakbolanya, terlebih setelah invasi Rusia pada 1979. Di bawah rezim Taliban sejak 1996-2001 pun para pemain Afghanistan dilarang mengenakan baju lengan pendek dan celana pendek. Hasilnya Afghanistan tak tampil di pentas internasional antara 1984-2002,” sambung Dunmore. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Di bawah rezim Taliban pada 1990-an itu pula banyak pesepakbola Afghanistan, terutama yang bermain di klub-klub yang berbasis di Kabul dan sekitarnya, mengalami trauma. Sebab, Taliban acap menggunakan Ghazi Stadium sebagai arena menghukum para tahanan politik maupun tahanan kasus hukum umum. Kadang eksekusi itu berlangsung sebelum, saat turun minum, atau setelah pertandingan. “Pernah ada seorang pencuri yang dipotong tangannya. Sepasang lelaki dan perempuan yang melakukan seks di luar nikah, diberi 100 kali cambukan dan dipaksa menikah. Saya juga menyaksikan sendiri banyak tahanan yang dipenggal dan ditembak mati. Orang-orang Afghanistan takkan bisa melupakan kenangan buruk ini,” kenang Presiden Komite Olimpiade Afghanistan Letjen Mohammad Zaher Aghbar dikutip The Hindu , 14 Januari 2012. Timnas Afghanistan yang memenangkan Kejuaraan SAFF 2013 ( aff.org.af ) Pascarezim Taliban runtuh pada 2001, sepakbola Afghanistan dibangun lagi dari puing-puing kehancurannya. Timnasnya bisa dibentuk dan berlaga di pentas internasional walau harus mengungsi ke negara-negara lain gegara Perang Afghanistan (2001-2021). Tim Singa Khorasan mulai mentas di Asian Games pada 2002, Piala Emas SAFF (Federasi Sepakbola Asia Selatan), sejak 2003,Piala Asia mulai 2004, hingga Kualifikasi Piala Dunia sejak 2006. Baca juga: Masalah Sepatu Gagalkan Keikutsertaan India di Piala Dunia Sedangkan sepakbola putri kembali bergulir pada 2007 dengan diadakannya seleksi untuk pembentukan timnas putri oleh Komite Olimpiade Afghanistan. Seleksi diikuti oleh para pemain dari sekolah-sekolah di Kabul. Pesat pertumbuhan persepakbolaan Afghanistan itu mencapai titik terang pada 2012. Saat itu pemerintah Republik Islam Afghanistan turun tangan mendanai pembentukan Afghan Premier League (APL). Klub-klub yang lahir di luar kota Kabul pun bermunculan untuk melakoni liga lintas kota dan provinsi. Stadion-stadion baru bermunculan di Kandahar, Khost, hingga Jalalabad. Kolase Timnas Putri Afghanistan (Twitter @khalida_popal/the-afc.com) Baru setahun berjalan, APL sudah mampu meracik timnas yang lebih berkualitas. Setelah jadi runner-up pada 2011, Sandjar Ahmadi dkk. sukses menjuarai Kejuaraan SAFF 2013. Dua tahun berikutnya, “Singa Khorasan” kembali jadi finalis. Namun, perkembangan dan prestasi sepakbola Afghanistan terancam jalan di tempat atau bahkan melangkah mundur setelah Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Sementara sepakbola putra masih belum jelas nasibnya, sepakbola putri Afghanistan terpaksa mati suri karena larangan perempuan beraktivitas dalam olahraga. Hampir semua pemainnya di segala kelompok umur sudah mengungsi ke luar Afghanistan. Padahal, perkembangan mereka cukup menjanjikan. Mereka mampu mencapai semi-final Kejuaraan SAFF 2012. “Sangat menyakitkan bagi saya untuk mengatakan bahwa jersey sebagai identitas nasional yang sudah mereka dapatkan susah payah, harus ditinggalkan. Saya ingat pertamakali mengenakannya. Saya tak bisa menjelaskan dengan kata-kata karena itu jadi perasaan terbesar. Kami merasa bahagia, bangga, dan merasa sebagai pemenang dan sekarang saya harus bilang pada para pemain untuk membakar jersey mereka?” tandas Khalida Popal, kapten timnas putri Afghanistan periode 2008-2011, kepada The Guardian , 20 Agustus 2021. Baca juga: Sepakbola Kaum Hawa Merentang Masa Khalida Popal, eks kapten Timnas Putri Afghanistan. ( fifa.com ).
- Oslo dan Perdamaian Israel-Palestina
LANGIT cerah menaungi halaman Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, 13 September 1993. Dalam sebuah footage itu, tampak Presiden Amerika Bill Clinton tersenyum haru melihat dua pemimpin negeri yang bermusuhan, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Ketua Palestine Liberation Organization (PLO) Yasser Arafat, berjabat tangan erat dalam suasana hangat. Rabin maupun Arafat sepakat berdamai dan menghakhiri 50 tahun konflik lewat peresmian Persetujuan Oslo. Footage yang disiarkan ke seluruh dunia itu jadi kabar gembira buat warga dunia. Namun hanya sedikit yang tahu bagaimana kesepakatan damai Israel-Palestina itu bisa terjadi setelah bertahun-tahun negosiasinya selalu membentur “tembok”. Footage itu merupakan bagian dari film bertajuk Oslo garapan sutradara Bartlett Sher. Film drama tersebut menggambarkan detail negosiasi-negosiasi alot delegasi kedua belah pihak sebelum sama-sama menyepakati Declaration of Principles (DOP) dari Persetujuan Oslo I yang berisi 17 pasal kesepakatan. Baca juga: Prahara Yerusalem Diusik Amerika Presiden Amerika Serikat William Jefferson 'Bill' Clinton di tengah-tengah PM Israel Yitzhak Rabin & Mohammed Abdel Rahman Abdel Raouf al-Qudwa al-Husseini alias Yasser Arafat ( gpo.gov ) Kisahnya berangkat dari insiatif sejoli suami-istri Mona Juul (diperankan Ruth Wilson) dan Terje Rød-Larsen (Andrew Scott) pada suatu hari di bulan Desember 1992. Mona yang merupakan diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Norwegia mencoba mendekati Menteri Keuangan PLO Ahmed Qurei (Salim Daw) yang tengah berada di London, Inggris. Qurei alias Abu Alaa frustrasi karena tak bisa terlibat dalam konferensi internasional di London yang membahas konflik Palestina-Israel. Di Yerusalem, Terje yang merupakan direktur Institut Riset Fafo mencoba meyakinkan Wakil Menlu Israel Yossi Beilin (Itzik Cohen) untuk mau memulai pembicaraan langsung dengan pihak PLO. “Selama ini pembicaraan (konflik) menggunakan model negosiasi totalisme kuno. Semua isu yang tak disetujui di atas meja perundingan menjadi bencana. Prosesnya terlalu formal, kaku, dan tidak menghasilkan. Biarlah Amerika menjalankannya tapi Anda harus mau memulai proses kedua yang dibangun bukan dari pernyataan kedua pemerintahan tapi diskusi intim antara dua wakil masyarakat di tempat yang terisolasi, di mana Anda dan PLO bisa bertemu tanpa perantara,” kata Terje pada Beilin. Baca juga: Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika Kolase Terje Rød-Larsen & Mona Juul membujuk pihak Israel dan PLO mau bernegosiasi secara rahasia (HBO) Beilin setuju karena selama ini pembicaraan tentang konflik yang diperantarakan negara lain tak pernah membuahkan hasil konkret. Terlebih Israel makin mendapat tekanan dari Uni Eropa setelah mengeluarkan kebijakan resmi melarang pejabatnya bertemu perwakilan PLO. Kesetujuan Beilin memulai negosiasi lewat jalan belakang itu mendorong Terje dan Mona merancang skenario pertemuan klandestin kedua belah pihak berseteru. Izinnya didapat dari persetujuan lisan Menteri Dalam Negeri Norwegia Jan Egeland (Tobias Zilliacus) dan Menlu Norwegia Johan Jørgen Holst (Karel Dobrý). Mona lalu mengundang Qurei dan pejabat penghubung PLO Hassan Asfour (Waleed Zuaiter). Sedangkan Terje mengundang dua profesor Universitas Haifa, Yair Hirschfeld (Dov Glickman) dan Ron Pundak (Rotem Keinan). Baca juga: Nestapa Sabaya Mereka dijemput secara diam-diam dan dibawa ke Istana Borregaard di pedalaman Sarpsborg, Norwegia pada Januari 1993. Walau awalnya canggung, pembicaraan perlahan berlangsung hangat. Tetapi pembicaraan rahasia itu bukan resmi. Profesor Yair dan Pundak bukan utusan resmi, melainkan sekadar kenalan dekat Beilin dan Menlu Israel Shimon Peres (Sasson Gabai). Mona dan Terje bekerja keras. Keduanya menyambut bantuan Menlu Holst agar pihak Israel mau mengirimkan delegasi resminya. Adegan-adegan perundingan alot pihak Israel dan Palestina (HBO) Pada Maret 1993, Israel mengirim Direktur Jenderal Kemenlu Israel Uri Savir (Jeff Wilbusch) sebagai wakilnya. Sosoknya lebih kaku ketimbang dua profesor sebelumnya. Ketika bernegosiasi, terjadi lagi adu argumen hingga nyaris adu jotos. Mona dan Terje berusaha keras menahan emosi. Mereka punya prinsip sekadar jadi fasilitator sehingga tidak ikut campur negosiasi kedua pihak. Kesabaran suami-istri itu makin diuji ketika Israel mengirim penasihat hukum Kemenlu Israel Joel Singer (Igal Naor) pada Juni 1993. Di tangan Singerlah semua kesepakatan negosiasi itu bisa dianggap sah oleh pemerintah Israel. Baik Singer maupun Qurei berdebat keras mengenai pendudukan Israel di Gaza, Jericho (Tepi Barat), serta Yerusalem. Bagaimana jalannya negosiasi PLO-Israel itu serta intrik-intrik politik di dalamnya? Saksikan kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Musuh Abadi yang Humanis Dinamika negosiasi Israel-PLO berikut intrik-intrik di dalamnya yang dihadirkan Oslo sangat dinamis. Sutradara Sher tak melulu menghadirkan suasana perdebatan kaku yang membosankan, tapi juga menyisipkannya dengan dark humor sehingga ceritanya bisa lebih humanis. Suasananya makin terasa dengan iringan music scoring variatif garapan duet komposer Zoe Keating dan Jeff Russo. “Pada dasarnya ada banyak humor yang timbul dari lingkungan yang penuh tekanan. Humor selalu ada dalam interaksi manusia sesungguhnya. Dari humor Anda bisa membangun hubungan dengan orang lain – Anda bisa pindah dari titik oposisi ke titik tawa. Saya tak yakin bisa melihatnya lagi pada para politisi saat ini, di mana mereka sebenarnya bisa menjadi manusia sesungguhnya dan menertawakan hal yang sama,” kata Sher kepada Variety , 27 Mei 2021. Baca juga: Captains of Zaatari Meretas Mimpi dari Kamp Pengungsi Sosok Mona Juul & Terje Rød-Larsen yang diperankan Ruth Wilson dan Andrew Scott (HBO) Greget Oslo bertambah dengan sisipan footage-footage konflik Palestina-Israel kala Intifada Pertama (1987-1993) berlangsung. Momen itu dijahit dengan adegan alur maju-mundur yang menggambarkan Mona saat menjadi diplomat utusan Kemenlu Norwegia di Palestinapada musim gugur 1990. Hatinya terenyuh melihat pemuda-pemuda Israel dan Palestina yang terpaksa saling bunuh. “Suatu hari Terje dan saya berkeliling Gaza sebagai bagian dari tugas saya selama ditempatkan di sana. Kami sempat salah belok ke sebuah jalan sempit. Terdapat dua bocah saling berhadapan. Satu berseragam, satu mengenakan jeans . Tetapi kedua wajah mereka menampakkan rasa takut yang sama. Menampakkan keputusasaan yang sama untuk tidak berada di tempat itu dan tidak melakukan kekerasan satu sama lain,” ujar Mona, perempuankelahiran 10 April 1959, saat menerangkan motifnya mau jadi perantara pembicaraan rahasia itu. Alhasil, Oslo masuk nominasi Primetime Emmy Award 2021 dalam dua kategori: kategori film televisi terbaik dan original score . Percampuran adegan-adegan dramatis dan kejenakaan itu bertambah apik dengan sudut-sudut pengambilan gambar yang variatif, mulai dari high-angle shot , long-shot , hingga shoulder-level shot . Baca juga: A Private War , Perang Batin si Wartawati Perang Namun sebuah kebetulan yang sejatinya tak diinginkan Sher terjadi saat Oslo dirilis pada akhir Mei 2021. Kala itu konflik Israel-Palestina kembali memanas. Sher mengakui apa yang ia gambarkan dalam Oslo tak serta-merta jadi solusi. Ia hanya berharap substansi Oslo bisa jadi cerminan ke depan untuk menciptakan perdamaian di Palestina dengan dialog, bukan kekerasan. “Pandangan saya dengan film ini adalah terdapat dua hal untuk mencapai perdamaian. Pertama , duduk bersama untuk berdialog dan mencari solusi permasalan. Kedua , para pemimpin sejati yang mau melangkah dan mengambil upaya berani demi perdamaian. Saya berharap film ini membantu publik memahami sejarah dan situasi saat ini dengan lebih baik. Perjanjian Oslo memang bukan solusi dari problem yang kompleks tapi itu adalah awal dari transisi yang sayangnya tak pernah terwujud,” tandas Sher. Peran Norwegia Konflik Palestina-Israel yang sudah terjadi lebih dari setengah abad sampai kini tak kunjung berkesudahan. Kala Oslo dirilis, misalnya, situasi di Palestina sangat memprihatinkan. Jasad rakyat Palestina kembali bertumbangan sebagaimana yang pernah disaksikan Mona Juul, sang tokoh utama. “Sosiolog Terje Rød-Larsen dan istrinya, Mona Juul, seorang diplomat, mengunjungi Gaza yang jadi rumah bagi jutaan Palestina. Rød-Larsen sedang menyiapkan survei tentang kondisi kehidupan populasi di sana. Saat dikawal ke sekitar kamp pengungsi Palestina oleh petugas PBB, keduanya terjebak baku-tembak. Rød-Larsen dan Juul ketakutan saat desingan peluru dan lemparan batu melewati kepala mereka. Mereka melihat wajah kedua pihak yang penuh rasa takut dan cemas,” tulis Ian Leslie dalam Conflicted: Why Arguments Are Tearing Us Apart and How They Can Bring Together. Baca juga: The Whistleblower yang Membuka Borok PBB Adegan alur mundur pengalaman Mona Juul saat Intifada Pertama (HBO) Dua tahun setelahnya, mereka memprakarsai negosiasi klandestin antara Israel dan PLO. Dalam Oslo, tak digambarkan latar belakang mengapa PLO di bawah Arafat dan Israel percaya dan berkenan dimediasi Mona dan Terje sebagai kepanjangan tangan pemerintah Norwegia. Mengutip “Proactive Peace Diplomacy: Jan Egeland” karya Hilde Henrikse Waage, sejarawan Universitas Oslo, yang termaktub dalam buku Ways Out of War , Norwegia merupakan salah satu negara sahabat terdekat Israel sejak 1948. Sementara sejak 1979, Norwegia dipercaya Arafat sebagai mitra penting PLO yang terpaksa mengungsi ke Tunis, Tunisia. “PLO butuh sebuah negara yang bersahabat bagi PLO dan musuh mereka, Israel. Norwegia dianggap sebagai satu dari sedikit negara yang bisa dipercaya, salah satunya karena Norwegia punya hubungan dekat dengan PBB. Ketika proses perdamaian di Washington butuh dorongan dan jalur alternatif, Norwegia membuka pintu. Terlebih Norwegia sendiri sudah berusaha memediasi negosiasi rahasia sejak 1979 walau gagal karena Israel terus menolak,” tulis Waage. Baca juga: Darah dan Air Mata Palestina Sosok asli Mona Juul & Terje Rød-Larsen ( norway.no/International Peace Institute) Hal itu berubah sejak kunjungan Egeland ke Israel pada pertengahan 1992. Fakta ini merupakan hal penting untuk “mempertanyakan” Oslo yang mengecilkan peran Egeland. Padahal selain Terje dan Mona yang “bergerilya” menemui perwakilan Israel dan PLO di tempat-tempat terpisah, Egelandlah yang meyakinkan pihak Israel agar mau mengirim wakilnya ke Norwegia. “Egeland mengadakan kunjngan resmi ke Israel pada 1992, untuk mengungkapkan apakah pihak Israel dan Palestina serius menginginkan adanya jalur belakang rahasia di Norwegia. Bicara atas nama Menlu (Thorvald) Stoltenberg, Egeland mengkonfirmasi bahwa Oslo bersedia jadi tuan rumah pertemuan rahasia,” imbuhnya. Baca juga: Istana Finlandia di Antara Diplomasi Amerika dan Rusia Setelah terkonfirmasi, Egeland mempercayakan pengaturan akomodasi kedua belah pihak pada Terje dan Mona. Terje dipercaya untuk hadir di setiap rapat, sementara Mona jadi penghubung antara negosiasi pada Januari 1993 itu dengan Kemenlu Norwegia. “Jan Egeland dan menlu (Stoltenberg, kemudian digantikan Holst) jadi perwakilan akan persetujuan dan dukungan pemerintah Norwegia. Egeland juga berpartisipasi secara langsung di beberapa tahap negosiasi,” lanjut Waage. Sosok Asli diplomat Norwegia Jan Egeland ( sn4r.org ) Egeland juga berperan meredam kebocoran negosiasi rahasia itu baik saat mulai bocor di Agence France-Presse ( AFP ) maupun media massa Norwegia. Tujuannya agar pertemuan itu tetap rahasia dari pihak manapun, termasuk Amerika. Hasilnya, Israel dan Palestina segera menyetujui Declarations of Principles. Selama prosesnya, Norwegia mengambil peran baru, tak lagi sebagai fasilitator tapi sebagai mediator aktif. Norwegia terobsesi berkontribusi atas negosiasi melelahkan hingga tercapai kompromi-kompromi politik demi mencapai tujuan bersama: sebuah persetujuan. Baca juga: Helsinki Jembatan Politik Amerika-Rusia Persetujuan itu bisa tercapai karena prosesnya dilakukan langsung dua pihak yang bertikai, bukan melalui Amerika atau Uni Eropa sebagai mediator yang cenderung mengendalikan Palestina atau Israel. Di pihak PLO, Arafat bisa menunjuk perwakilan sesuai keinginannya. Begitupun pihak Menlu Israel Shimon Peres. Tak ada campur tangan pihak ketiga. “Bertahun-tahun keterlibatan penciptaan perdamaian melalui jalur mimpi ini jadi nyata. Di satu sisi cukup menyedihkan karena baru kali ini hal besar itu terjadi dan di sisi lain hal ini luar biasa sukses, tak hanya untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah tapi juga sebenarnya bisa kita tiru di tempat lain,” kata Egeland dikutip Waage. Deskripsi Film: Judul: Oslo | Sutradara: Bartlett Sher | Pemain: Ruth Wilson, Andrew Scott, Salim Daw, Itzik Cohen, Dov Glickman, Jeff Wilbusch, Igal Naor | Produser: Gary Michael Walters, Svetlana Metkina, Michael Litvak, Mark Taylor | Produksi: HBO Films, Marc Platt Productions, SRO Productions, Bold Films, DreamWorks Pictures| Distributor: HBO |Genre: Drama | Durasi: 118 menit | Rilis: 29 Mei 2021, Mola TV
- Potret Apresiasi Terhadap Pahlawan Olahraga Dulu dan Kini
PRESTASI dan prestasi. Itulah target yang diharapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada para atlet Indonesia ke depan. Hal itu diungkapan di Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-38 yang jatuh hari ini, Kamis (9/9/2021). Ironisnya, perhatian khusus yang rutin kepada para pahlawan olahraga masih amat minim. Terakhir, Kemenpora sekadar menggelar Anugerah Legenda Olahraga pada 2017 yang sayangnya tak berkelanjutan. “Dulu mah enggak ada bonus apa-apa. Makanya perbedaannya jauh. Dulu cuma nama bangsa dan merah putih saja yang kita bawa di dada. Soal penghargaan pemerintah, baru (2017) kemarin saja dari Kemenpora,” kata Robby Darwis, mantan bek timnas Indonesia, kepada Historia . Baca juga: Robby Darwis yang Legendaris Eks-bek legendaris Timnas Indonesia dan Persib Bandung, Robby Darwis (Randy Wirayudha/Historia) Padahal, banyak olahragawan kita yang dulu menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia namun kehidupan mereka memilukan di masa senja. Mereka nihil apresiasi dari pemerintahan, bahkan sampai sekarang. Ibarat langit dan bumi jika membandingkan mereka dengan para atlet sekarang. Para atlet sekarang yang juara atau meraih emas di berbagai pentas diganjar bonus miliaran rupiah. Mereka juga mendapat perhatian besar masyarakat di media sosial. Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, contohnya. Mereka pulang dari Olimpiade Tokyo 2020 pada Agustus lalu disambut meriah karena dianggap mencetak sejarah meski medali emas dari cabang bulutangkis bukan hal aneh buat kontingen Indonesia. Pasangan itu diberi bonus Rp.5,5 miliar oleh Kemenpora. Jumlah itu di luar bonus rumah, paket umrah, paket liburan dari Kementerian Pariwisata dan ratusan juta rupiah lain yang diberikan berbagai pihak. Bahkan, mereka dihadiahi perawatan kecantikan sampai dua franchise bakso dari seorang Youtuber. Baca juga: Uber Cup Demi Ibu Pertiwi Bonus tersebut agaknya sejalan dengan program Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang diluncurkan Kemenpora pada Haornas tahun ini. “Dengan desain besar olahraga nasional ini kita mempunyai kepastian, mempunyai jaminan bahwa itu terstruktur dan terencana dengan baik dan jangka panjang. Jadi misalnya ditingkat (atlet) elite nasional itu pasti kita siapkan lapisannya kedua, ketiga dan berikutnya. Itu namanya terdesain,” kata Menpora Zainudin Amali, dikutip laman Kemenpora , Rabu (8/9/2021). Atlet peraih emas di Paralimpiade Tokyo 2020 menerima besaran bonus yang sama dari pemerintah ( npcindonesia.id ) Pahlawan Olahraga Luput Perhatian Desain tentang pembinaan demi memastikan kontinuitas prestasi ke depan tentu penting. Namun, alangkah baiknya jika pemerintah juga mau menoleh ke belakang, memperhatikan banyak olahragawan legendaris kita yang tak kalah dalam soal mencetak prestasi tapi hidup mereka merana di masa senja. Gurnam Singh, salah satunya. Di era 1960-an, Gurnam merupakan pelari andalan Indonesia di nomor-nomor jarak jauh. Ia bahkan pernah dinobatkan sebagai manusia tercepat di Asia. “Ayah 4 anak ini di masa jayanya, pemegang rekor lari 5 ribu meter dengan kecepatan 14 menit 24 detik dan 10 ribu meter dengan kecepatan 30 menit 47,2 detik. Sedangkan jarak maraton 42 km ditempuhnya dalam 2 jam 27 menit 21 detik,” ungkap buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982. Baca juga: Lintasan Kehidupan Gurnam Singh Menpora Zainudin Amali yang meluncurkan DBON pada Haornas ke-38 dan diresmikan dengan Perpres No. 86 Tahun 2021 ( kemenpora.go.id ) Mirisnya, setelah dia pensiun dan bisnis toko olahraganya bangkrut, rumahnya digusur Pemkot Medan tanpa ganti-rugi. Gurnam sampai hidup menggelandang. Barulah setelah kabar Gurnam hidup menggelandang tersiar, beberapa pihak tergerak hati. Bantuan untuk Gurnam berdatangan, termasuk dari pemerintah. “Mensesneg (Moerdiono, red .) menyinggung pekerjaan Gurnam yang kini jadi penjual air, ketika menjelaskan rencana pemberian penghargaan kepada atlet peraih emas, perak, dan perunggu di Olimpiade Barcelona,” tulis Kompas , 19 Agustus 1992. Baca juga: Muda Melegenda, Tua di Panti Wreda Tapi, bantuan pemerintah pusat itu tak pernah terwujud. Bantuan berupa rumah sederhana di Deli Serdang yang diterima Gurnam pada 1996 bukan dari pemerintah pusat, melainkan dari Kodam I/Bukit Barisan. Selain Gurnam, atlet berprestasi lain yang merana di masa senja adalah Hendrik Brocks. Di masa mudanya, Hendrik memborong tiga emas balap sepeda Asian Games 1962. Mengutip biografi MF Siregar: Matahari Olahraga Indonesia , Hendrik bersama Aming Priatna, Wahju Wahdini, dan Hasjim Roesli mendapat emas di nomor Team Trial 100 km. Ketiganya, ditambah Frans Tupang dan Henry Hargini, memetik emas di nomor Open Road Race 180 km. Emas ketiga Hendrik didapat dari nomor serupa kategori individu. “Kita memang diundang ke Istana Negara tapi ya presiden dulu hanya bilang terima kasih, disuruh semangat lagi latihannya. Habis itu dia balik kanan. Kita hanya lihat punggungnya saja,” aku Hendrik. Hendrik Brocks yang di masa tuanya menderita glukoma dan kehilangan penglihatan (Randy Wirayudha/Historia) Setelah itu, Hendrik kembali menyumbang masing-masing sekeping emas dan perak di Ganefo 1963, serta satu emas, satu perak, dan dua perunggu di Ganefo Asia 1966. Prestasi Hendrik itu berbanding terbalik dengan kehidupan di masa tuanya. Saat Historia menyambanginya tahun 2019, ia hidup di rumah sederhana di Sukabumi. Rumah itu dibeli dari hasil menjual rumah warisan orangtuanya ditambah bantuan tetangga. Hendrik sendiri penglihatannya mulai terenggut akibat glukoma yang dideritanya sejak 2007. Baca juga: Roda Kehidupan Legenda Balap Sepeda Kondisi kehidupan Hendrik yang memprihatinkan membuat teman-temannya dan KONI Kabupaten Sukabumi memberikan bantuan perawatan kesehatan pada Hendrik. Pada 2007, Menpora Adhyaksa Dault menjanjikan dana pensiun pada Hendrik, namun tak kunjung ditepati. Pun surat Hendrik kepada (mantan) Ketua KOI Erick Thohir tahun 2019 juga tak kunjung mendapat jawaban. “Enggak pernah ada bonus! Enggak kayak sekarang, bonus…bonus…bonus. Enggak pernah saya merasakan bonus. Waktu pemusatan latihan saja dulu enggak dapat uang saku. Uang saku hanya dapat jika tanding kejuaraan di luar negeri. Untuk beli oleh-oleh saja tidak cukup. (Tunjangan) pensiun juga tidak ada. Kalau sekarang jangankan PON, Porda saja pegawai negeri sudah pasti di tangan kalau berprestasi,” ujarnya. Tim Bulutangkis Putri Indonesia yang merebut Uber Cup 1975 (Dok. Regina Masli) Para atlet bulutangkis sebelum era 1990-an juga mengalami keadaan serupa. Regina Masli, spesialis ganda putri era 1970-an, berkisah pemerintah pusat sama sekali tak pernah memberi bonus melimpah. Regina tergabung dalam tim putri Indonesia kala pertamakali memenangkan Uber Cup (1975). Usai meraih prestasi itu, tim putri diberi penghargaan alakadar dengan diundang ke Bina Graha bertemu Presiden Soeharto. “Ibu Tien memberi sambutan, antara lain bahwa kita sebagai wanita Indonesia harus hidup sederhana. Setelah itu kita semua diberikan bahan kain brokat buatan dalam negeri. Pak Sudirman (Ketum PBSI, red .) berkata pada kita, jangan minta apa-apa ke Presiden Soeharto. Padahal waktu itu kita semua tidak ada seorangpun yang punya rumah. Begitulah bedanya pemain dulu dan sekarang,” aku Regina dalam percakapannya dengan Historia lewat media sosial. Baca juga: Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat Bonus Tim Uber Cup 1975 justru datang dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, berupa deposito Rp.300 ribu. Kendati Regina tidak merana di masa senjanya karena bekerja di Loma Linda University Behavioral Medicine Center, rekan-rekannya tidak seberuntung dirinya. Tati Sumirah, misalnya, sampai wafat pada 20 Februari 2020 hidup merana sebatang kara. “Dia sakit darah tinggi dan gula. Memang kehidupannya memprihatinkan. Sepertinya habis tidak main lagi, tidak ada yang peduli. Dia juga tidak berkeluarga. Hidupnya selalu untuk merawat dan memperhatikan ibu dan adik-adiknya,” kata Regina yang bersama Tati sempat dibina PB Tangkas. Kosasih Kartadiredja, wasit pertama Indonesia dengan lisensi FIFA (Randy Wirayudha/Historia) Tak hanya dialami atlet, kondisi memilukan juga dialami para mantan perangkat pertandingan. Seperti yang dialami Kosasih Kartadiredja, wasit Indonesia pertama yang berlisensi FIFA. Wasit yang dikenal paling tegas dan anti-suap di pentas internasional maupun domestik itu mengatakan, perhatian yang diberikan pemerintah hanya sekali didapatnya pada 2007, yakni berupa santunan sebesar 10 juta rupiah. Itupun didapatnya setelah tetangganya mengirim surat kepada Menpora Adhyaksa Dault. Kehidupan Kosasih semakin berat sejak 2012 karena ia terserang stroke . Lantaran tak bisa segera dioperasi akibat terkendala biaya, Kosasih pun mengalami kelumpuhan sementara. Ia berjuang sendiri tanpa perhatian dari penguasa. “Ini kaki saya yang kiri sudah ngaplek begini. Tidak bisa operasi karena mahal. Tidak ada bantuan dari mana-mana. Lupa begitu saja. Ya PSSI, ya pemda,” katanya pada Historia dua tahun lalu. Baca juga: Wasit Berlisensi FIFA Pertama yang Terlupa
- Meretas Mimpi dari Kamp Pengungsi lewat Captains of Zaatari
PONDOK kecil berdinding seng di Kamp Pengungsi Zaatari, Yordania itu sama sekali tak meredam hawa dingin. Kekurangan penerangan di dalamnya menambah kesulitan. Pada suatu malam di Januari 2017 itu, Fawzi Qatleesh membantu adik perempuannya, Rose, mengerjakan PR bahasa Inggris hanya berbekal sebatang lilin. Seraya membantu Rose, Fawzi menguraikan mimpinya jadi pesepakbola profesional laiknya Cristiano Ronaldo. Dia hanya ingin membantu ibu, ayah, dan kedua adiknya keluar dari status pengungsi ke kehidupan yang lebih laik. Fawzi jadi tulang punggung keluarga lantaran ayahnya terpisah di kamp pengungsian Suriah lain di Azraq. Demi mengejar mimpinya, Fawzi memilih putus sekolah. Kesempatan itu kemudian tiba pada suatu pagi. Di lapangan berpasir di dalam kamp, Fawzi dan kawannya, Mahmoud Dagher, yang tergabung di Kamp Zaatari menampilkan aksinya mengolah si kulit bundar dengan ciamik walau beralaskan sandal jepit. Baca juga: Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira Dua sahabat pengungsi Suriah: Mahmoud Dagher (kiri) & Fawzi Qatleesh ((Dogwoof) Tim itu sedang dipantau para pemandu bakat dari Aspire Academy Qatar. Sialnya, walau bermain apik, Fawzi sang kapten tim mesti menahan kepedihan dan mengikhlaskan ban kaptennya kepada Mahmoud. Dirinya tak bisa dibawa tim pengungsi karena perkara administrasi. Fawzi yang lahir tahun 1998 dianggap terlalu tua. Hanya Mahmoud, kelahiran 1999, bersama pemain lain yang dibawa ke Doha, Qatar. Tetapi itu bukan akhir dari segalanya. Adegan haru itu sekadar permulaan dokumenter Captains of Zaatari garapan sutradara asal Mesir Ali El Arabi. Film ini kisahnya berpusar antara dua sahabat pengungsi Suriah, Fawzi dan Mahmoud, dengan beragam kepahitan kehidupan mereka di kamp pengungsian. Tanpa dinyana, “mukizat” tiba pada hari-hari berikutnya. Delegasi dari Aspire Academy yang kembali ke kamp, mengizinkan Fawzi menyusul Mahmoud dan rekan-rekannya dalam tim Syrian Dream ke Qatar demi mengikuti program eksebisi di Turnamen Al-Kass International Cup U-17 2017. Baca juga: Kamp Pengungsi Suriah dan Nestapa Sabaya Anak-anak pengungsi Suriah di Kamp Zaatari, Yordania (Sundance Institute) Dari pemandangan tandus dan memprihatinkan di kamp, mata Fawzi dimanjakan beragam kemajuan pesat dan fasilitas latihan Aspire Academy nan canggih setibanya di Doha. Dari mata Fawzi dan Mahmoud terpancar kebahagiaan yang mengharukan kala mereka ditemui petinggi sepakbola Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed al-Thani; menyaksikan latihan klub raksasa Bayern Munich; hingga bertemu legenda hidup sepakbola David Trezeguet dan Xavi Hernández. “Momen di mana kami meninggalkan Zaatari dan datang ke Qatar, tak peduli apakah nantinya kami jadi pemain profesional, momen itu jadi yang pertama saya mendapatkan kesempatan dalam hidup saya. Suatu hari ketika saya punya anak dan dia bertanya apa saja yang pernah saya lakukan, saya akan bilang bahwa saya bermain di Turnamen Al-Kass. Turnamen yang biasanya hanya bisa saya tonton di Suriah dan bermimpi berpartisipasi,” kata Fawzi. “Ada banyak orang yang pantas mendapatkan kesempatan ini, begitu juga di kamp-kamp lain. Karena yang dibutuhkan para pengungsi adalah kesempatan mendapatkan kesehatan, pendidikan, dan mimpi olahraga, bukan belas kasihan,” timpal Mahmoud. Namun ketika menjelang pertandingan penting kemudian, Fawzi mendapat cobaan fisik dan mental. Selain dibelit cedera lutut, ia juga mendengar kabar ayahnya menderita kanker. Bagaimana Fawzi bersama Mahmoud bisa meretas mimpinya kala banyak persoalan menerpa? Saksikan kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola Momen pertemuan dengan Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed al-Thani, David Sergio Trezeguet, Xavier 'Xavi' Hernández i Creus & Latihan Tim Bayern Munich (Mola TV) Kontradiksi Dua Dunia Melodi-melodi melankolis nan mengharukan mengiringi beberapa adegan pahit Fawzi dan para pengungsi Suriah dalam Captains of Zaatari . Untuk lebih memperkuat nuansa Timur Tengah, komposer Gil Talmi juga menyisipkan alunan nada khas Arab dari alat musik petik qanun. Music scoring itu begitu klop saat mengiringi adegan-adegan cerita yang diracik El Arabi yang cenderung seperti film drama ketimbang plot dokumenter klasik. Maka dalam karya pertamanya ini ia tak banyak menyajikan potret kamp yang mendetail kecuali aneka kepahitan yang dialami keluarga dua protagonisnya. “Saya ingin penonton bisa terbawa ke kehidupan kedua kapten dan berbagi segala hal tentang mereka: perjalanan, perkembangan, rasa sakit, dan kebahagiaan. Saya ingin menunjukkan bahwa para pengungsi ini punya kehidupan. Dan mereka punya hak untuk berinteraksi dengan dunia dan merasa bahwa mereka bagian dari dunia ini,” kata El Arabi kepada Variety , 28 Januari 2021. Baca juga: Senjakala "Raja Roma" dalam One Captain Anak-anak pengungsi yang tergabung di tim Syria Dream (Tangkapan Layar Mola TV) Oleh karenanya meski El Arabi mengikuti Fawzi dan Mahmoud selama enam tahun di kamp yang menampung 80 ribu pengungsi itu dan menghasilkan ratusan jam footage , ia sudah berpatokan hanya menampilkan 75 menit di antaranya. El Arabi memfokuskan kisahnya pada kontradiksi dua dunia dan kehidupan yang mereka alami secara lebih intim dan humanis. Kontradiksi itu yakni lingkungan terkungkung dan memilukan di kamp dengan suasana gedung-gedung megah serta fasilitas mutakhir di Qatar. Antara kemiskinan di keluarga mereka dengan para pemain kaya Bayern yang mereka saksikan sesi latihannya. Antara harapan yang suram di kamp dengan asa meroket di fasilitas Aspire Academy. Dengan alur cerita yang lebih intim dan humanis, penonton juga diajak merasakan lebih jauh kecemasan mereka sebagai pengungsi berusia muda. Jika tidak ada program sepakbola, bisa saja mereka diculik militan teroris ISIS atau diambil paksa untuk jadi tentara pemerintah Suriah. Masa depan mereka sekadar bisa digantungkan lewat sepakbola dan pendidikan, dua dari beberapa kebutuhan dasar untuk para pengungsi. “Fawzi bilang pada saya bahwa sepakbola adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa bukan sebagai pengungsi. Olahraga adalah salah satu cara terpenting dalam perdamaian. Melalui kampanye yang empatik, saya percaya para bintang sepakbola yang anak-anak itu temui bisa membantu kehidupan para pengungsi lebih baik,” tandasnya. Sayangnya dokumenter ini tak menjelaskan sejak kapan Fawzi mengenal sepakbola. Fawzi Qatleesh yang karier sepakbolanya terusik Perang Saudara Suriah (Dogwoof) Sejarah Sepakbola Suriah Sebagaimana yang dikisahkan dalam Captains of Zaatari , sosok Fawzi tak pernah mau jauh dari sepakbola. Selain seragam tim Syria Dream, Fawzi selalu membanggakan jersey kuning-biru klub Inggris Arsenal yang disablon namanya, “F. Qatleesh”, saat masih mengolah bola di balik pagar besi kamp. Fawzi sudah bercita-cita menjadi pesepakbola profesional sejak sebelum pecah Perang Saudara Suriah pasca-Arab Spring melanda negerinya pada 2011. “Saya dulu mulai bermain di tim Al-Shul’a pada 2009. Saya meninggalkan Daraa karena perang. Saya sudah bermain sejak kecil dan oleh karenanya sepakbola adalah hidup saya. Saya tak bisa membayangkan hidup saya tanpa sepakbola,” kata Fawzi kepada Goal Click. Baca juga: Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal Timnas Suriah di Kualifikasi Piala Dunia 1950 (Majalah Türkspor 20 November 1949) Setelah mengasah kemampuan di tim Al-Shul’a pada usia 11 tahun itu, Fawzi pindah ke klub Al-Sarih Sport Club lalu Al-Hussein FC di Irbid. Tetapi sejak 2012 Fawzi dan keluarganya terpaksa mengungsi ke Yordania. Ia sempat terpisah dari ayahnya dan di usia 17 tahun mesti jadi kepala keluarga bagi ibu dan kedua adiknya di Kamp Zaatari, kamp pengungsi Suriah terbesar di Yordania. Dengan mengenyam pengalaman di Aspire Academy pada 2017, asa Zaatari jadi pesepakbola profesional dan membela tim nasional negaranya kian besar. Terlebih, sejak Desember 2011 timnas Suriah tak pernah lagi memainkan laga-laga internasionalnya di kandang sendiri. Tim berjuluk “Elang Qasioun” itu acap mengungsi ke negara-negara Arab lain saat menghadapi tim lain di berbagai pentas internasional. Padahal, sebelum perang, Suriah jadi salah satu tim asal Timur Tengah yang cukup diperhitungkan selain Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Iran. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Perkembangan sepakbola Suriah sendiri awalnya tidak pesat. Sebagaimana banyak negara Asia lain, masyarakat Suriah mengenal sepakbola dari Prancis. Kolonialis Eropa itu menguasai Suriah sejak 1916 dan membentuk Negara Mandat Lebanon dan Suriah pada 1920. Di dalamnya turut didirikan enam negara bagian: Damaskus, Aleppo, Alawite, Jabal Druze, Hatay, dan Lebanon Raya. “Pasca-1916, saat masih di bawah mandat Prancis dan Inggris, klub-klub mulai eksis sebagai aktivitas rekreasi untuk militer. Klub pertamanya adalah Hamzasp Club yang berdiri pada 1923, walau sebuah tim non-resmi sudah pernah eksis di Sekolah Shibani di Aleppo. Lalu pada 1928 Barada Club dan Qasiyoun Club lahir di Damaskus,” tulis Nour El-Houda Karfoul dalam “Women and Sport in Syria” yang termaktub dalam buku Muslim Women and Sport. Aleppo Municipal Stadium (kiri) & Klub Suriah berlaga di Syrian Cup (Majalah Arevelk tahun 1959) Klub-klub itu masih dikhususkan buat kaum pria, baik sipil maupun militer Prancis, dan kalangan pelajar Suriah. Mayoritas klub berkembang sendiri-sendiri karena Suriah masih sangat kekurangan praktisi olahraga, terutama sepakbola, walaupun olahraga dijadikan kurikulum di sekolah-sekolah. Pada 1930-an, sepakbola dijadikan alat politik untuk menentang kolonialisme Prancis. Menjelang Olimpiade Berlin 1936, beberapa aktivis Lebanon dan Suriah, seperti kakak-beradik Gabriel dan Pierre Gemayel, Arif al-Habbal, dan Husayn Sija’an “berguru” ke Jerman untuk mempelajari manifestasi semangat kepemudaan melalui olahraga. “Menarik melihat catatan Arif al-Habbal yang mengunjungi kamp-kamp Pemuda Hitler di Jerman dan Olimpiade 1936. Husayn Sija’an ambil bagian dalam delegasi menghadiri konferensi sepakbola di Berlin pada 1936,” ungkap Götz Nordbruch dalam Nazism in Syria and Lebanon: The Ambivalence of the German Option, 1935-1945. Baca juga: Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan Di tahun itu juga La Fédération de Syrie de Football didirikan dan pada 1937 diterima jadi anggota FIFA walau secara administratif masih dianggap negeri bawahan Prancis. Perang Dunia II membuat Suriah baru bisa membuat kompetisi di masing-masing provinsinya dan timnasnya perlahan pada 1946 seiring Republik Suriah merdeka dari Prancis. Setelah bertahun-tahun sepakbola sekadar dimainkan di lapangan sederhana, pemerintah republik akhirnya membangun stadion pertamanya, Aleppo Municipal Stadium, pada 1948 (kini Stadion 7 April) di kota Aleppo. Kota Aleppo paling maju persepakbolaannya. Induk olahraganya pun diubah menjadi Syrian Arab Football Association (SFA). Timnas Suriah di Kualifikasi Piala Dunia 2022 ( the-afc.com ) SFA kemudian menggulirkan kompetisi-kompetisi resmi pertamanya. Di masa pra-kemerdekaan, klub-klub yang eksis sekadar bermain di liga atau turnamen internal di masing-masing provinsi. Mulai 1959, diciptakan turnamen lintas provinsi, Syrian Cup, yang sejak 1966 diikuti kelahiran Liga Primer Suriah. Di pentas internasional, Suriah tampil pertamakali sebagai tim negara merdeka pada Kualifikasi Piala Dunia 1950. Walau hingga kini masuk Piala Dunia masih sulit digapai, seiring waktu Suriah jadi tim yang disegani di dunia Arab, bahkan di Asia. Suriah dua kali menjadi runner-up Pan Arab Games (1953, 1997) dan juara pada 1957. Ia juga tiga kali runner-up Arab Cup (1963, 1966, 1988). Terakhir, Suriah juara Mediterranean Games (1987) dan Piala Asia Barat (2012). Deskripsi Film: Judul: Captains of Zaatari | Sutradara: Ali El Arabi | Produser: Ali El Arabi, Amjad Abu Alala, Aya Dowara, Michael Henrichs | Produksi: Ambient Light | Distributor: Dogwoof |Genre: Dokumenter | Durasi: 75 menit | Rilis: 31 Januari 2021, Mola TV





















