top of page

Melestarikan Keberkahan Masjid Angke

Salah satu masjid tertua di Jakarta yang jadi simbol kebhinekaan. Dipugar atas prakarsa mendiang filsuf dan budayawan perempuan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Masjid Jami Al-Anwar alias Masjid Angke di Tambora, Jakarta Barat yang sudah berusia 260 tahun (encyclopedia.jakarta-tourism.go.id)

  • 20 Sep 2021
  • 4 menit membaca

BANGUNAN temboknya tak lagi kusam. Atapnya pun sudah tak lagi mengalami kebocoran jika terjadi hujan. Sejumlah ukirannya kembali cantik dan jamaah mulai meramaikannya lagi di tiap waktu salat. Beginilah kondisi Masjid Jami Al-Anwar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Angke di perkampungan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.


Pada Kamis, 16 September 2016, Masjid Angke rampung direvitalisasi. Masjid berusia lebih dari dua abad itu direvitalisasi besar-besaran sejak 2017 lewat dua tahap yang diprakarsai mendiang tokoh Lingkar Warisan Kota Tua (Lingwa) Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Sayangnya, sang pemrakarsa tak bisa melihat langsung peresmian revitalisasinya hari ini, Senin (20/9/2021), karena sudah lebih dulu mangkat pada 13 Juni 2021.


“Masjid Angke sejak 2017 kondisinya makin memprihatinkan, perlu dipugar. Dan Masjid Angke termasuk salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun tahun 1761 dan masih berfungsi sampai saat ini. Keberadaan masjid ini dianggap ikon yang mencerminkan pluralitas, multikultural, hal inilah yang membangkitkan semangat Ibu Toeti melakukan pemugaran pertama pada Masjid Angke,” ujar Inda Citraninda Noerhadi, ketua Lingwa cum putri mendiang Prof. Toeti, dalam acara “Mengenang 100 Hari Prof. Dr. Toeti Heraty N-Roosseno dan Peresmian Pemugaran Masjid Angke” via platform Zoom dan YouTube, Senin (20/9/2021) sore.



Ragam bentuk akulturasi dalam Masjid Angke (encyclopedia.jakarta-tourism.go.id)
Ragam bentuk akulturasi dalam Masjid Angke (encyclopedia.jakarta-tourism.go.id)

Senada dengan yang diungkapkan Inda, ketua IAAI Dr. Wiwin Djuwita Ramelan mengatakan Masjid Angke sejak 260 tahun lampau sudah jadi masjid yang menggambarkan keharmonisan multietnis di Batavia (kini Jakarta). Itu terlihat dari gaya bangunan serta beragam dekorasi eksterior maupun interiornya yang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa, Bali, Arab, Tionghoa, dan Belanda.


“Upaya mempertahankan nilai penting masjid ini sungguh membanggakan. Di tengah-tengah keprihatinan karena pandemi, Ibu Toeti dan kawan-kawan tidak melupakan pembangunan budaya. Kebhinekaan selalu menjadi ciri sikap dan pemikiran Ibu Toeti sebagai budayawan dan masjid ini menyimbolkan kebhinekaan karena jadi tempat berinteraksinya masyarakat Betawi, Melayu, Sunda, Bali, Pontianak, dan etnis lain,” kata Wiwin menimpali.



Merunut asal-muasalnya, sebagaimana diungkapkan Doni Swadarma, Yunus Aryanto, dan Ita Puspitasari dalam Rumah Etnik Betawi, Masjid Angke berdiri pada 2 April 1761. Perancangnya, arsitek Tionghoa Syeikh Liong Tan. Pembangunan masjid berukuran 15 x 15 meter di atas lahan seluas 400 meter persegi itu diongkosi perempuan Tionghoa bernama Nyonya Tan Nio. Nyonya Tan masih kerabat Ong Tien Nio, istri Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.


“Arsitektur masjid memiliki perpaduan corak unsur Jawa dan Tionghoa karena pendirinya memang berlatarbelakang dua etnis tersebut. Terlihat dari pintu masuk dan ujung atap yang mirip kelenteng. Selain itu, desain atap tumpang susun Masjid Angke mirip Masjid Demak di Jawa Tengah,” ungkap Doni dkk.


Masjid Angke di tahun 1921 (Tropenmuseum)
Masjid Angke di tahun 1921 (Tropenmuseum)

Bentuk gapura di sisi utaranya, berbentuk gapura belah, dan gapura sisi selatan berbentuk huruf “D” terinspirasi dari bentuk bangunan-bangunan kuno di Banten dan Cirebon. Adapun nuansa Balinya sangat terasa pada bentuk ujung atap yang mirip punggel rumah Bali.


“Di halaman belakang masjid terdapat pula makam Syekh Syarif Hamid al-Qadri dari Kesultanan Pontianak yang pada tahun 1800-an dibuang ke Batavia karena memberontak kepada Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, di kompleks masjid ini para pemudanya sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dalam mengoordinasi kegiatan menentang Belanda. Melalui khotbah-khotbahnya, para ulama juga melakukan provokasi untuk menentang Belanda,” tulis Abdul Baqir Zein dalam Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia.



Oleh karenanya, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana amat mensyukuri masjid yang punya nilai sejarah itu selesai dipugar. Pemugaran itu menjadi nilai lebih bagi masyarakat ibukota untuk kemudian bisa melakukan wisata sejarah dan religi.


“Melakukan revitalisasi cagar budaya menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mengangkat sebuah peradaban. Apa yang dikerjakan Ibu Toeti dan kawan-kawan Lingwa sebagai bukti bukan hanya membangun secara fisik tapi juga membangun peradaban, membangun kembali bangunan cagar budaya dan memuliakannya. Ini menambah kontribusi terhadap wawasan kebangsaan, keilmuan untuk masyarakat dan generasi yang akan datang,” tutur Iwan.


Peresmian pemugaran Masjid Angke yang diikuti shalat berjamaah diimami KH Nasaruddin Umar (Tangkapan Layar Youtube Cemara 6 Galeri)
Peresmian pemugaran Masjid Angke yang diikuti shalat berjamaah diimami KH Nasaruddin Umar (Tangkapan Layar Youtube Cemara 6 Galeri)

Peresmian usai revitalasasi itu dilakukan imam besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dengan memotong pita dan mendirikan shalat. KH Nasaruddin dipilih karena merupakan satu dari beberapa wasiat mendiang Prof. Toeti terkait pemugaran masjid.


“Alhamdulillah sore ini kita jadi saksi kebaikan seseorang yang takkan bisa kita lupakan, ibunda, guru, dosen, senior kita, Prof. Toeti. Almarhumah memiliki segudang prestasi walau ia seorang perempuan. Ini satu bukti bahwa perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapapun. Tidak pernah terbayang seorang Profesor Toeti yang sehari-hari saya kenal, saya sangat kagum logika berpikirnya, filsafatnya, menggagas renovasi masjid yang sudah dibangun 200 tahun lebih,” ujar KH. Nasaruddin dalam sambutannya.



Nasaruddin kembali teringat akan awal-mula sejarah masjidnya dibangun atas bantuan pembiayaan seorang Tionghoa yang juga perempuan, dan sekarang dipugar atas prakarsa mendiang Profesor Toeti.


“Masjid tua itu tepat berkumpulnya para malaikat. Bukan di masjid megah, mahal, luas, besar. Tetapi semakin tua sebuah masjid, semakin berkah masjid itu. Semakin lama sebuah masjid ditempati sujud, maka lorong rahasia menuju langit semakin terang. Ada juga hadits nabi menyebutkan bahwa tempat yang paling sering digunakan memanggil nama Allah SWT akan kelihatan para penghuni langit. Para malaikat sangat bercahaya seperti bintang-bintang kejora,” tambah Nasaruddin.


Almarhumah Hj. Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno (kemendikbud.go.id)
Almarhumah Hj. Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno (kemendikbud.go.id)

Oleh karenanya, upaya Prof. Toeti sebagai pemrakarsa pemugaran masjid tua Angke tak hanya jadi pembuka jalan amal bagi mendiang tetapi juga sebagai amalan wakaf. Nasaruddin berharap, pengurus, pemerintah provinsi, serta masyarakat bisa menjaga masjid yang baru dipugar itu untuk melestarikan keberkahan bagi semua.


“Beliau dengan kesibukannya masih sepat memikirkan gagasan pelestarian masjid bersejarah. Saya teringat dalam sebuah ayat, ‘Janganlah kalian mengira orang yang telah mewakafkan dirinya untuk jalan Allah itu adalah wafat. Sesungguhnya dia akan tetap hidup dan akan tetap mendapatkan pahala.’ Alhamdulillah masjid tua yang kita bangun atas prakarsa almarhumah jadi tiket almarhumah meraih istana yang sudah dijanjikan Allah SWT. Tantangan dan tugas kita kemudian bagaimana merawat, melestarikan masjid bersejarah ini,” tandasnya.






Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pernah populer sebagai pohon peneduh bersama asam jawa dan flamboyan. Kini, tanaman ini menjadi salah satu pohon yang paling populer untuk aktivitas penghijauan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah berduka secara beruntun. Kehilangan orang dekat dalam waktu singkat.
bg-gray.jpg
Penyebaran pamflet provokatif oleh Front Pemuda Sunda bikin geger. Parlemen sampai memanggil perdana menteri. Ketidakadilan jadi pangkalnya.
bg-gray.jpg
Tubagus Angke asal Banten melanjutkan Fatahillah memimpin Jayakarta. Sebagai Pangeran Jayakarta II, dia membawa Pelabuhan Sunda Kelapa menandingi Pelabuhan Malaka.
Folarin Balogun tetap tampil meski terkena kartu merah di laga sebelumnya. Enam dekade silam, kasus kartu merah juga menimpa bintang Brasil Garrincha.
Folarin Balogun tetap tampil meski terkena kartu merah di laga sebelumnya. Enam dekade silam, kasus kartu merah juga menimpa bintang Brasil Garrincha.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Budaya bahari bisa tumbuh bukan semata-mata karena infrastruktur fisik.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Kain tenun di berbagai daerah di Indonesia punya ciri khas masing-masing. Sayangnya, pendataan tentang para perajinnya masih belum memadai.
Kain tenun di berbagai daerah di Indonesia punya ciri khas masing-masing. Sayangnya, pendataan tentang para perajinnya masih belum memadai.
transparant.png
bottom of page