top of page

Hasil pencarian

9631 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Musuh Napoleon di Waterloo Hina Diponegoro

    BEGITU Napoleon Bonaparte menguasai Negeri Belanda, dia menjadikan adiknya, Luis Napoleon, raja di sana. Nusantara yang berada di bawah Hindia Belanda pun menjadi bawahan Napoleon.

  • Runtuhnya Kesultanan Banten

    932 Banten masih berupa kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Pusat kadipaten Banten berada di Banten Girang, 13 km di selatan Banten Lama sekarang. 1524 Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati datang ke Banten untuk menyebarkan agama Islam. 1525 Dengan bantuan pasukan dari Kerajaan Demak, Syarif Hidayatullah menyerang dan menaklukkan Banten. 1526 Kesultanan Banten berdiri sebagai protektorat yang dikontrol Kerajaan Demak, dengan Maulana Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah, sebagai penguasanya. 1527 Pusat pemerintahan Kesultanan Banten pindah ke delta Sungai Cibanten. 1552 Banten berdiri sendiri dan bebas dari pengaruh Kerajaan Demak, yang mulai melemah. Sultan membangun Keraton Surosowan dan Masjid Pacinan Tinggi. 1566 Masjid Agung Banten mulai dibangun. 1570 Maulana Yusuf berkuasa. Pada masanya dilakukan pembangunan benteng, merampungkan Masjid Agung, mendirikan Masjid Kasunyataan, membangun pertanian, kompleks sumber air yang disebut Tasikardi, dan irigasi. 1580 Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan menjadi sultan. Karena masih terlalu muda, pemerintahan dijalankan wali. Pada masa jabatannya, Masjid Agung Banten diperindah; melapisi tembok masjid dengan porselen dan tiangnya dibuat dengan kayu cendana, serta menambahkan tempat salat untuk perempuan, yang disebut pawestren  atau pawadonan . 1596 Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir naik takhta. Namun, selama belum dewasa, pemerintahan dijalankan wali. Terjadi konflik internal kesultanan. 1596 Belanda berlabuh di pelabuhan Banten di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. 1602 VOC mendirikan kantor dagang di Banten. 1651 Sultan Abulfath Abdulfattah, yang terkenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa, memerintah. Pada masa kekuasannya, Banten mengalami kejayaan. Penolakannya bekerjasama dengan VOC membawa Banten ke dalam peperangan. 1680 Sultan Ageng Tirtayasa pindah ke keraton Tirtayasa. Sultan Abu Nasr Abdul Kahar atau Sultan Haji, putranya yang diserahi menangani Keraton Surosowan, mengklaim takhta kesultanan. 1682 Sultan Ageng Tirtayasa menyerang dan menguasai Surosowan. 1683 Sultan Ageng Tirtayasa kalah dalam perang melawan Belanda yang bersekutu dengan Sultan Haji. Sultan Haji berkuasa. 1683 Pembangunan Benteng Speelwijk, dengan arsitek Hendrik Lucaszoon Cardeel, yang menandai kekuasaan VOC atas Banten. 1864 Perjanjian ditandatangani Sultan Haji dan VOC. Banten mengalami kemunduran. VOC menentukan sultan-sultan Banten berikutnya. 1808 Keraton Surosowan dirusak Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels karena Sultan Abul Mafakih Muhammad Aliyuddin atau Sultan Aliyuddin II menolak mengerahkan rakyat Banten untuk kerja rodi membangun jalan pertahanan di Ujung Kulon dan memindahkan keraton ke Anyer. 1813 Ketika Sultan Muhammad Syaifuddin berkuasa, dia dipaksa turun takhta dan kesultanan Banten dihapuskan oleh Inggris, yang menggantikan Belanda di Banten, di bawah kekuasaan Thomas Stamford Raffles. Keraton Surosowan yang rusak ditinggalkan penghuninya. 1815 Keraton Kaibon dibangun bagi Ratu Aisyah yang menjadi wali sultan yang masih kecil, Sultan Muhammad Rafiuddin. 1832 Kehancuran total Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon oleh pemerintah Hindia Belanda. Majalah Historia Nomor 33, Tahun III, 2016

  • Waktu The Tielman Brothers Masih di Indonesia

    PERANG telah memisahkan Herman Dirk Tielman dari keluarganya. Duda dari Nora Tielman yang menikahi Flora Lorine Hess ini setidaknya sudah punya lima anak di tahun 1942. Keoknya Hindia Belanda membuat Tielman harus jadi tawanan perang.

  • Filantropi Tjong A Fie

    DAERAH Kesawan di Medan sejak dulu daerah ramai. Selain kantor perkebunan, stasiun keretaapi, restoran legendaris di Medan, Tip Top, pun ada di sana. Namun, ada satu titik menarik di Kesawan, tepatnya dekat Restoran Tip Top, yang “mampu mengubah” semua keramaian Kesawan jadi ketenangan dan kenyamanan. Namanya Tjong A Fie Mansion.

  • Jenderal Nasution Mengucapkan Selamat Hari Natal

    SEPEKAN lagi hari Natal tiba. Menjelang hari raya bagi umat Kristen itu, berbagai pernak-pernik mulai menghiasi rumah maupun tempat-tempat umum. Pohon Natal dengan lampu-lampu, bunga bundar di muka pintu, boneka Santa Klaus, maupun kumandang lagu atau film yang bertemakan Natal sudah menghiasi berbagai tempat.

  • Duka Atim dan Piati Picu Kemarahan PKI

    TIDAK ada orang yang ingin sakit. Selain rasa badan tak enak, sedikit-banyak akan merepotkan orang lain. Terlebih, bila uang untuk berobat tidak punya. Hal itulah yang dialami Atim, perempuan petani asal Probolinggo, pada awal dekade 1950-an.

  • T.B. Simatupang, Jenderal Jenius yang Religius

    KETIKA Panglima Besar Jenderal Soedirman mangkat pada 29 Januari 1950, pucuk pimpinan TNI diembankan kepada wakilnya, Jenderal Mayor TNI Tahi Bonar Simatupang. Kala itu, Simatupang  baru sehari menginjak usia ke-30.  Sejak itulah, Sim –panggilan akrabnya– diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) yang membawahkan tiap matra.

  • Perlawanan Perempuan Nigeria Terhadap Kebijakan Pajak

    PEMERINTAH resmi mengumumkan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen yang mulai berlaku 1 Januari 2025. Keputusan ini menuai penolakan masyarakat. Warganet di sosial media menggaungkan tagar #TolakPPN12Persen. Penolakan juga dilakukan dengan unjuk rasa. Kendati pemerintah mengatakan PPN 12 persen diterapkan pada barang dan jasa mewah atau premium, namun kebijakan ini akan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.

  • Tertipu Paranormal Palsu

    DUA minggu sebelum Natal 1847, seorang pandai besi, John David Fox, bersama istri, Margaret, dan kedua putri bungsu mereka, Maggie dan Kate, pindah ke lingkungan pedesaan Hydesville, New York. Empat anak mereka, Leah, Elizabeth, Maria, dan David sudah dewasa dan berkeluarga.

  • Poorwo Soedarmo Sebelum Jadi Bapak Gizi Indonesia

    NASIB kadang membawa seseorang pada tujuan dengan cara berliku yang tak pernah terpikirkan. Hal itulah yang dialami Poorwo Soedarmo, dokter di Hindia Belanda yang kelak menjadi “Bapak Gizi Indonesia”. Lantaran tak bisa berbuat banyak untuk membantu masyarakat di Jakarta karena situasi Perang Kemerdekaan tak memungkinkan kaum “Kiblik” bergerak bebas, Poorwo melamar pada sebuah perusahaan pelayaran. Lamarannya diterima. Petualangannya pun dimulai.

  • Pasukan Kelima, Kombatan Batak dalam Pesindo

    PEMUDA Sosialis Indonesia (Pesindo) merupakan salah satu laskar terkuat di Sumatra Timur pada masa awal Indonesia merdeka. Dalam Pesindo terdapat Pasukan Kelima yang punya reputasi menonjol di Kota Medan. Selain pejuang kemerdekaan, anggota-anggota Pasukan Kelima juga dikenal doyan merampok.

  • Perupa Pita Maha yang Karyanya Disukai Sukarno

    KEINDAHAN Pulau Dewata telah menarik banyak wisatawan asing. Para turis yang kebanyakan berasal dari Eropa tak hanya terpukau oleh panorama alam, tetapi juga terpesona dengan beragam karya para perupa Bali. Salah satu perupa yang menonjol dan dianggap tokoh penting dalam penciptaan gaya baru seni lukis Bali yang berkembang sejak akhir tahun 1920-an adalah Ida Bagus Made “Poleng”.

bottom of page