top of page

Hasil pencarian

9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • SI School, Sekolah Alternatif

    BERDIRINYA SI School merupakan cara untuk mengimbangi keberadaaan Hollandsch-Indische School (HIS), sekolah menengah yang hanya ditujukan bagi segelintir kalangan pribumi. “Sekolah ini menjadi pesaing HIS, sekolah sekunder, terbuka dan terbatas untuk orang Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan dasar mereka di Sekolah Kelas II (Tweede Klasse) ,” kata sejarawan Harry Poeze, penulis biografi Tan Malaka, dalam pengantar brosur Sarekat Islam Semarang dan Onderwijs . Kualitas sekolah pada masa kolonial dikategorikan berdasarkan strata sosial dan ras. Seorang anak pribumi priayi tinggi diperbolehkan masuk ke sekolah-sekolah khusus warga kulit putih, sementara anak-anak dari rakyat biasa hanya diperbolehkan masuk di sekolah rendahan. Untuk ukuran zaman itu, sekolah Tan Malaka terbilang sangat maju dan menjadi alternatif bagi anak-anak buruh untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Tak ayal, SI School mendapatkan cercaan dan kritik dari banyak media massa pro kolonial. Tan Malaka menulis salah satu koran yang mengeritiknya adalah Soerabajaasch Handelsblad . “Hai, pemerintah awasi S.I itu,” kata Tan Malaka menirukan berita di koran terbitan Surabaya itu. Bahkan pemerintah kolonial di Semarang, melalui asisten residennya melarang siswa-siswa SI School untuk menyelenggarakan “pasar derma” untuk mengumpulkan sumbangan masyarakat demi pembiayaan sekolah mereka. Pemerintah kolonial memberlakukan larangan berdasarkan undang-undang pidana sehingga usia sekolah Tan Malaka itu tak berlangsung lama. Masa hidup SI School berakhir seiring pengusiran Tan Malaka oleh pemerintah kolonial pada 1922. Tan Malaka memilih untuk diasingkan ke Belanda. Maka berakhirlah riwayat sekolah yang bercita-cita memerdekakan jiwa dan pikiran anak-anak buruh itu. Upaya pelestarian bangunan SI School Sejak dua tahun lalu, bangunan SI School yang reyot dan hampir rubuh tersebut menjadi bahan pemberitaan berbagai media massa. Musababnya adalah rencana pemugaran bangunan oleh Yayasan Balai Muslimin Indonesia (Yabami), pengelola tanah wakaf di mana bangunan sekolah itu berdiri. Atas desakan kelompok masyarakat yang peduli sejarah Semarang, upaya pemugaran itu pun urung dilakukan. Kini Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah telah menetapkan bangunan SI tersebut sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi UU Cagar Budaya No. 11/2010. Menurut Yunantyo Adi, aktivis dari Kelompok Pegiat Sejarah Semarang (KPS Semarang), pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah telah menghibahkan dana sebesar Rp600 juta untuk merenovasi bangunan tersebut. “Menurut rencana, bangunan mau dipugar dan direnovasi seperti gambar Gedung SI tahun 1978 seperti sebuah foto yang sudah kami temukan,” katanya kepada Historia , Rabu (16/07). Adi menuturkan, Tim BPCP Jawa Tengah akan mengupayakan pembangunan kembali gedung itu semirip mungkin dengan aslinya. Dia bersama KPS Semarang juga giat melobi Pemerintah Kota Semarang untuk mengatasi persoalan hukum atas status lahan yang dimiliki oleh Yabami tersebut. “Besok (hari ini (17/07), Red .) kami akan menemui Walikota Semarang untuk mendorong dia memanggil pihak Yabami agar menyetujui pemugaran sehingga tak ada lagi kendala yang menghalangi upaya pelestarian bangunan bersejarah itu,” demikian pungkasnya.

  • Hatta Keliru Kalpataru

    DALAM debat putaran terakhir di Hotel Bidakara, Jakarta, 5 Juli 2014, calon wakil presiden Hatta Rajasa menyerang calon presiden Joko Widodo mengenai kegagalan DKI Jakarta meraih penghargaan Kalpataru tahun ini. Padahal, Jakarta langganan penghargaan itu. Hatta juga menegaskan bahwa Solo juga belum pernah mendapatkannya. Calon wakil presiden Jusuf Kalla menyanggah pernyataan Hatta itu. “Pertanyaan bapak bagus, tapi keliru. Harusnya Adipura,” kata Kalla. Kalpataru dan Adipura merupakan penghargaan lingkungan hidup yang diberikan pemerintah setiap tahun kepada dua pihak yang berbeda. Sesuai namanya dari bahasa sanskerta yang artinya “kota yang indah dan agung,”Adipura adalah penghargaan untuk kebersihan kota yang kali pertama diberikan pada 1986. Penghargaan Adipura sangat prestisius karena diberikan langsung oleh Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Jakarta. Belakangan, piala Adipura memiliki “kesakralan” lain karena dijadikan tolok ukur keberhasilan seorang pejabat daerah dalam memelihara lingkungan hidupnya. “Adipura merupakan kebanggaan luar biasa untuk kota-kota yang mendapatkannya. Bila Presiden Soeharto memberikan Adipura, dapat dipastikan bahwa bupati atau walikota yang menerimanya akan terpilih kembali pada periode berikutnya,” kata wakil presiden Jusuf Kalla dalam sambutan penganugerahan lingkungan hidup pada 2005, sebagaimana dimuat dalam Berbekal Seribu Akal Pemerintahan Dengan Logika karya Tomi Lebang. Kendati sejak reformasi kepala daerah dipilih secara langsung, penghargaan Adipura tetap menggiurkan. Demi penghargaan itu, walikota Bekasi, Mochtar Mohamad, menyuap panitia penilai dari Kementerian Lingkungan Hidup sehingga Bekasi meraih Adipura tahun 2010. Komisi Pemberantasan Korupsi kemudian menetapkan Mochtar Mohamad sebagai tersangka. Sedangkan Kalpataru adalah penghargaan yang diserahkan kepada perseorangan atau kelompok masyarakat yang dinilai berjasa dalam menjaga dan menyelamatkan lingkungan hidup. Penghargaan ini guna mendorong kepedulian masyarakat untuk memelihara, menyelamatkan, dan meningkatkan kualitas hidup. Kalpataru diambil dari nama pohon yang dikenal oleh masyarakat Jawa Kuna, selain pohon boddhi waringin . Pohon Kalpataru atau kalpawreksa ( kalpa , dari kata sansekerta klp yang berarti ingin, dan taru = wreksa = pohon). Jadi, Kalpataru berarti pohon Keinginan. Kalpataru juga sering disebut pohon surgawi yang tumbuh di surga Dewa Indra. Ada juga yang menghubungkan dengan pohon keinginan dan sebagai lambang “keabadian.” Dan belakangan Kalpataru lebih diartikan sebagai pohon kehidupan. Pohon Kalpataru terpahat dalam relief candi-candi, seperti candi Borobudur yang memiliki 1460 relief. Selain banyak relief kapal layar yang menjadi bukti kejayaan bahari nenek moyang bangsa Indonesia, yang menarik hampir setiap pigura relief-relief itu dihiasi pohon Kalpataru. Menurut Rajasa Mu’tasim dalam “Borobudur: Kearifan Lokal dan Keberagaman yang Damai,” meskipun pohon Kalpataru telah dijadikan lambang penghargaan nasional bagi para aktivis lingkungan hidup sejak menteri lingkungan hidup dipegang oleh Emil Salim dan grup Bimbo telah mendendangkan lewat lagunya Kalpataru, tetapi terasa betul bahwa perilaku bangsa kita terhadap lingkungan sungguh masih menyedihkan. “Budaya mengarungi lautan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup yang telah dikembangkan oleh nenek moyang kini semakin tidak populer,” tulis Rajasa, termuat dalam Reinventing Indonesia .

  • Pesepakbola Kulit Hitam Profesional Pertama di Dunia

    DUNIA telah mengenal Arthur Wharton sebagai pesepakbola kulit hitam profesional pertama di dunia. Nama pria yang lahir pada 28 Oktober 1865 di Jamestown, Pantai Emas (sekarang Ghana) itu telah ditahbiskan dalam English Football Hall of Fame pada 2003 atas jasanya dalam sepakbola Inggris. Kini, jejaknya dalam sejarah olahraga terpopuler di dunia itu, semakin dikuatkan dengan temuan foto dan dokumen yang rencananya akan dipublikasikan pihak keluarga dalam Antiques Roadshow , acara televisi seputar penelitian benda-benda antik di Inggris. Wharton awalnya datang ke Inggris bukan untuk bermain sepakbola. Ayahnya, seorang misionaris, mengirim Wharton ke Inggris untuk mendalami agama sebagai misionari Metodis. Dia tiba di Cannock, Staffordshire pada 1882. Setibanya di sana, dia mendalami atletik, bahkan memenangkan kejuaraan nasional Asosiasi Atletik Amatir selama dua tahun berturut-turut. Setelahnya, Wharton beralih ke sepakbola. Dia bergabung dengan kub Darlington pada 1885 sebagai pemain amatir. Posisinya sebagai penjaga gawang. Tak lama, Preston North End kepincut dengan talenta Wharton dan merekrutnya. Pada 1889, Wharton meneken kontrak profesional dengan klub Rotherham Town. Ini yang pertama untuk seorang pemain berkulit hitam di dunia. Dia kemudian bergabung dengan Sheffield United pada 1894 dan bermain di First Division, divisi teratas Liga Inggris kala itu. “Ibu saya dan saya menemukan foto-foto Arthur dan kami menelusurinya,” ujar Dorothy Rooney, cicit dari Arthur Wharton dikutip dailymail.co.uk (4/7). “Dia adalah seorang pahlawan olahraga di era Victoria.” Selama karirnya sebagai pesepakbola dari 1885 sampai 1904, Wharton tidak pernah memenangkan satupun trofi. Namun karakternya yang unik dikenang oleh kawan-kawannya, terutama kebiasaannya menangkap bola dengan kaki sambil bergelantungan di tiang gawang. Wharton tak hanya lihai bermain bola, dia atlet serba bisa. Selain atletik, dia juga pemain kriket profesional dan atlet sepeda yang disegani. Pada 1914, dia memutuskan mundur dari dunia olahraga untuk bekerja sebagai penambang di Yorkshire Selatan. Wharton meninggal dalam keadaan miskin pada 13 Desember 1930. Makamnya direnovasi pada 1997 sebagai bagian kampanye antirasisme dalam sepakbola yang dikelola Football Unites, Racism Divides. “Kisah Arthur menjadi penting karena menunjukkan bahwa orang kulit hitam pun sudah terlibat sejak sistem profesionalisme diterapkan di Liga Inggris,” ucap Howard Holmes, ketua kampanye. Setahun setelahnya, Phil Vasili menerbitkan biografi untuk mengenangnya, The First Black Footballer: Arthur Wharton 1865-1930 .*

  • Pesawat Delegasi KAA Jatuh di Perairan Natuna

    SEBUAH pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A jatuh di perairan dangkal dekat kepulauan Natuna Laut Cina Selatan, pada 11 April 1955. Pesawat yang tinggal landas dari Bandara Kai Tak, Hongkong itu sejatinya akan menuju Bandung dalam rangka Konferensi Asia Afrika. Enam belas penumpangnya dilaporkan tewas, sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka berat. Kashmir Princess, pesawat carteran milik Air India itu sebelumnya sempat mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India. Pesawat tersebut membawa delegasi Tiongkok, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Zhou Enlai. Penumpang yang selamat mengisahkan sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan. Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat. Dalam waktu sepuluh menit, situasi memburuk. Penumpang ngeri melihat api mulai melahap sayap pesawat dan membayangkan kematian di depan mata. Asap juga memasuki kabin dan kokpit. Kru sempat mengirimkan sinyal bahaya; memberi tahu posisi mereka di atas Kepulauan Natuna, sebelum radio terputus. Tak ada pilihan bagi pilot kecuali mencoba mendaratkan pesawat di laut. Para kru mengeluarkan jaket pelampung dan membuka pintu darurat. Pesawat menghujam ke laut. Sayap kanan menghantam air terlebih dahulu, merobek pesawat menjadi tiga bagian. Enambelas orang tewas. Tiga orang selamat: Anant Shridhar Karnik, teknisi perawatan pesawar Air India International Cooperation; kapten perwira pertama Dixit; dan navigator penerbangan J.C. Pathak. “Kami jatuh ke dalam air. Ketika saya menyembul ke permukaan, ada api besar di laut. Mr Dixit mengalami patah tulang di bagian leher sementara tangan saya patah. Arus sangat kuat. Kami, entah bagaimana, berenang selama sembilan jam di perairan gelap hingga akhirnya mencapai pantai... Kami akhirnya diselamatkan penduduk setempat, memakai kapal ke Singapura, kemudian dibawa ke Mumbai oleh kapal Angkatan Laut Inggris atas perintah Pandit Nehru,” kenang Karnik seperti dimuat Asian Age , 9 April 2005. Karnik menerbitkan buku tentang insiden ini berjudul Kashmir Princess . Sehari setelah insiden itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang menuding keterlibatan dinas rahasia Amerika Serikat (CIA) dan Chiang Kai-shek. Mereka, sebagaimana dikutip dari Steve Tsang, The Cold War’s Odd Couple , “berencana menyabot pesawat carteran Air India, menjalankan rencana mereka untuk membunuh delegasi kami ke Konferensi Bandung yang dipimpin oleh Perdana Menteri Zhou Enlai, dan untuk menggagalkan Konferensi Bandung.” Chiang Kai-shek adalah pemimpin Koumintang –juga dikenal dengan nama KMT atau Partai Nasionalis Tiongkok– yang berhadapan dengan kubu komunis pimpinan Mao Zedong dalam perang saudara. Mao memenangi perang dan memproklamasikan Republik Rakyat China (RRC) pada 1949 sementara Chiang Kai-shek melarikan diri ke Pulau Formosa atau Taiwan. Pemerintah Indonesia, juga peserta konferensi, terhenyak mendengar kabar kecelakaan itu. Mereka tak ingin konferensi terganggu karena sudah merancangnya jauh-jauh hari; dari usulan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada 1953, Konferensi Kolombo di Sri Lanka pada April 1954, hingga pematangannya dalam Konferensi Bogor pada Desember 1954. Mereka akhirnya bisa bernafas lega ketika tahu Zhou Enlai tak berada dalam pesawat naas itu. Untuk menyelidiki penyebab kecelakaan, pemerintah Indonesia membentuk komisi penyelidikan. Komisi mewawancarai sejumlah saksi mata, mengunjungi lokasi kejadian, melakukan pencarian fakta di Singapura, Jakarta hingga Hong Kong, serta menelisik reruntuhan pesawat.

  • Konferensi Panca Negara, Pertemuan Penting di Balik Kesuksesan KAA

    KOTA Bogor berbeda dari hari-hari biasanya. Selain banyak bendera memenuhi jalan-jalan di sekitar Kebun Raya, jalan raya di depan Hotel Salak jadi memiliki gerbang. Sejak sore, masyarakat juga berkerumun di sepanjang jalan-jalan utama.  Mereka terus menunggu kedatangan iring-iringan yang membawa lima pemimpin negara (termasuk Indonesia) ke Istana Bogor. Di tempat itulah kelima perdana menteri lima negara akan mengikuti Konferensi Panca Negara (KPN) selama dua hari, dari 28-29 Desember 1954. Pada pukul delapan malam, sirene sepeda motor voorijder mengaung-ngaung. “Orang-orang mulai bersorak,” tulis majalah Merdeka , 1 Januari 1955. Iring-iringan kepala pemerintahan lima negara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kelima kepala pemerintahan itu adalah, Jawaharlal Nehru (India), Mohammad Ali Bogra (Pakistan), U Nu (Birma),  dan Sir John Lionel Kotelawala (Seilon/Ceylon/Sri Lanka), serta Ali Sastroamidjojo (Indonesia). Mereka datang atas undangan PM Ali Sastroamidjojo. “Maksud Konperensi tersebut ialah untuk membicarakan persiapan-persiapan terakhir daripada Konperensi Asia-Afrika yang telah disetujui dengan lebih tegas oleh 4 perdana menteri daripada ketika saya mengusulkannya di dalam Konperensi Colombo,” ujar Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku . Ali mengatakan kepada empat perdana menteri yang hadir, Indonesia telah menempuh jalur diplomatik kepada negara-negara yang bakal diundang dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA). Upaya tersebut dilakukan bukan semata karena Indonesia menjadi penggagas KAA, tapi juga lantaran tiap negara yang akan diundang punya politik luar negeri yang berbeda-beda dan punya hubungan dengan negara lain yang tak selalu sama. Sebagaimana diakui Ali, masalah politik luar negeri menjadi pembicaraan paling serius dalam KPN. Salah satu pembicaraan yang paling alot adalah perlu-tidaknya mengundang RRC/Tiongkok ke KAA. Masing-masing perdana menteri berteguh pada pendapatnya, yang tentunya terkait dengan hubungan bilateral negerinya dengan Tiongkok. “Konsensus barulah bisa tercapai ketika Perdana Mentri U Nu menegaskan bahwa akan sukarlah bagi Birma untuk turut serta dalam Konperensi Afro-Asia apabila RRC sebagai negara terbesar di Asia tidak diundang. Karena Asia tanpa RRC akan tidak begitu berarti di dalam arena politik internasional,” kenang Ali. Dalam aspek-aspek persiapan lainnya, para perdana menteri tak banyak bersilang pendapat. Mereka mendukung penuh langkah-langkah yang telah diambil Indonesia. Konferensi juga merumuskan tujuan KAA, yakni: mengusahakan kerjasama antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika, membina hubungan bersahabat antara mereka sebagai tetangga baik; membicarakan soal-soal sosial, ekonomi, dan kebudayaan; kedaulatan nasional, soal-soal rasialisme dan kolonialisme; serta sumbangan apa yang mereka dapat berikan untuk memajukan perdamaian dan kerjasama dunia. KPN berjalan lancar hingga usai di hari kedua. Pada 29 Desember, konferensi mengeluarkan komunike bersama yang terdiri dari delapan butir. Selain menetapkan Bandung sebagai tempat berlangsungnya KAA, butir-butir lainnya antara lain adalah nama negara yang akan diundang ke KAA. Komunike juga menyebutkan KAA tak bertujuan membentuk blok baru di luar dua blok yang ada, kelima perdana menteri KPN mendukung langkah Indonesia atas Irian Barat, dan kekhawatiran mereka terhadap ujicoba senjata nuklir negara adikuasa. “Akhirnya kelima perdana menteri itu menyatakan harapannya pada ambang pintu tahun baru bahwa tahun 1955 akan mengalami kamjuan dalam kerjasama di antara negara-negara itu dan dengan negara-negara lain dan dengan demikian memajukan usaha-usaha ke arah perdamaian,” tulis Majalah Merdeka , 1 Januari 1955.

  • Tambora Disangka Letusan Meriam Nyi Roro Kidul

    Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mulai meletus pada 5 April 1815. Lahar menyelimuti permukaan gunung dan bergerak menyapu desa-desa di sekitarnya. Abu vulkanik menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, diikuti hujan abu seminggu kemudian. Kala itu, mereka yang berada di pulau lain hanya bisa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Laporan dari petugas kolonial di Makassar, Maluku, dan Jawa senada menyebutkan bahwa pada 5 April 1815 terdengar suara tembakan meriam dari seberang lautan, tetapi tak diketahui dari mana asal-usulnya. “Suara itu, pada awalnya disangka suara tembakan meriam, sampai-sampai satu detasemen tentara siap dikirim dari Yogyakarta untuk memeriksa apakah wilayah terdekat sedang diserang. Dan di pantai kapal-kapal langsung disiagakan untuk merespons kemunculan asal suara tersebut,” tulis Raffles dalam The History of Java, Volume 1 . Letusan terkuat Tambora terjadi pada 10 April 1815. Desa-desa di sekitarnya hancur lebur diterjang material-material vulkanik, menghancurkan daerah Sanggar dan memaksa mereka yang selamat untuk mengungsi. Begitu pula yang terjadi di Dempo dan Bima, sebelah timur dari Tambora. Residen-residen di Jawa memberikan laporan efek letusan Tambora di wilayahnya masing-masing kepada Thomas Stamford Raffles selaku letnan gubernur Inggris di Batavia. Surat-surat tersebut, sebagaimana terlampir dalam Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles, Volume 1 , senada menyebutkan bagaimana gelapnya hari-hari setelah letusan 10 April 1815 itu, akibat cahaya matahari tertutup material vulkanik yang beterbangan di langit Jawa dan sekitarnya. Residen Gresik bahkan mencatat bagaimana penduduk lokal menganggap letusan Tambora sebagai pertanda aktivitas supranatural: “Orang-orang lokal mengaitkannya dengan kisah legenda, yang mengatakan bahwa Nyai Loroh Kidul tengah menikahkan salah satu anaknya, ditandai dengan tembakan salut dari artileri supranatural miliknya. Mereka melihat abu-abu vulkanik yang beterbangan di udara merupakan ampas bubuk mesiu meriam milik Nyai Loroh Kidul.” Satu lagi laporan yang komprehensif datang dari Letnan Owen Philips, utusan Raffles yang ditugaskan untuk menginspeksi efek dari letusan Tambora terhadap masyarakat lokal Sanggar, Dempo, dan Bima, sekaligus memberikan bantuan logistik. Menurut laporannya, pemandangan di sana amat mengerikan. Mayat-mayat masih tergeletak di jalan-jalan. “Mereka juga terkena penyakit diare yang disebabkan karena meminum air yang telah tercampur abu vulkanik. Kuda-kuda mereka juga mati, dalam jumlah yang besar, dikarenakan hal yang sama,” lapor Philips sebagaimana termuat dalam History of Java Volume 1 . Owen berhasil menemui Raja Sanggar dan keluarganya yang merupakan saksi hidup letusan. Dia menceritakan dengan mendetail detik-detik terjadinya letusan Tambora, yang kemudian Philips laporkan kepada Raffles di Batavia. Diperkirakan 11.000 orang tewas terkena efek langsung letusan Tambora, menyusul 49.000 lainnya karena bencana kelaparan di Sumbawa, Lombok dan Bali. Efek Tambora juga mempengaruhi pertanian di seluruh dunia. Setahun setelah letusan Tambora, negeri-negeri belahan utara mengalami anomali cuaca hebat; yakni sebuah tahun tanpa musim panas (The Year Without Summer).

  • Gunung Tambora Meletus dalam Naskah Kuno

    Beberapa naskah kuno menyebutkan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus lantaran Abdul Gafur, raja kerajaan Tambora, melakukan kelalaian. Dia memerintahkan pembunuhan seorang warga keturunan Arab dengan alasan telah menghina kerajaan. Dalam Syair Kerajaan Bima karya Khatib Lukman, sebagaimana termuat dalam Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah karya Henri Chambert-Loir, orang yang dibunuh itu bernama Haji Mustafa. Syair yang ditulis sekitar tahun 1830 itu mengisahkan tentang Haji Mustafa yang segala permintaannya selalu dikabulkan Allah karena dirinya pernah mengunjungi Baitullah. Penduduk setempat meyakininya sebagai orang keramat. Cerita musabab letusan Tambora pun hadir dalam Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora karya Roorda van Eysinga, terbitan 1841, yang disusun berdasarkan kisah perjalanan C.G.C Reinwardt dan H. Zollinger. Keduanya mendapatkan gambaran tentang bencana Tambora dari Ismail, Raja Bima 1819-1854. Menurut cerita ini, seorang Arab dari Bengkulu bernama Said Idrus singgah di Kerajaan Tambora untuk berniaga. Ketika pergi ke mesjid, dia melihat ada seekor anjing di sana. Lalu disuruhnya penjaga mesjid untuk mengusirnya. Si penjaga berkata bahwa raja adalah empunya anjing itu. Said Idrus menjawab, “Siapa yang memasukan anjing di dalam mesjid, orang kafir itu.” Merasa tak punya kuasa, pergilah sang penjaga anjing itu menghadap raja. Raja tak terima disebut kafir, lalu memerintahkan orang untuk membunuh Said Idrus. Akibatnya, Allah murka atas ulah raja. Meletuslah Tambora. Api menyala dari pusat letusannya, mengejar para pembunuh di kota, hutan hingga ke laut yang juga ikut menyala. Lalu turun hujan abu. Kala itu langit gelap gulita, abu dan api berkuasa. Mulai 11 April 1815, selama tiga hari dua malam Tambora meletus bergemuruh tiada henti. Catatan dari Kerajaan Bima, Bo ’ Sangaji Kai , menyebutkan akibat letusan Tambora, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Papekat lenyap dari muka bumi. Kedua kerjaan itu dibanjiri lahar, ditimbun batu dan pasir. Letusan Tambora pun menyebabkan terjadinya tsunami. Kerajaan lain di Sumbawa, yakni Kerajaan Dompo, Sanggar, Sumbawa, dan Bima juga mengalami duka. Menurut Adrian B. Lapian dalam “Bencana Alam dan Penulisan Sejarah” termuat pada Dari Babad dan Hikayat Sampai Sejarah Kritis , diperkirakan Pulau Sumbawa kehilangan 85.000 warganya yang tewas karena letusan, wabah penyakit, kelaparan, serta meninggalkan Sumbawa untuk pergi ke pulau lain. Syair karya Khatib Lukman pun menceritakan malapetaka letusan Tambora berakhir karena orang sembahyang dan meminta ampun pada Allah. Tetapi kemelaratan, kelaparan dan wabah penyakit tidak bisa dihindarkan. Banyak orang meninggal tergeletak di jalan, tak dikubur dan tak disembahyangkan. Kedatangan para pedagang dari pulau sekitar Sumbawa dan Maluku serta pedagang Arab, Tionghoa dan Belanda, kemudian menyelamatkan Bima. Mereka membawa beras, gula, sagu, jagung, dan kacang kedelai yang dapat dibarter dengan piring mangkok, kain tenunan, senjata, barang emas dan perak, sereh, gambir, serta budak. * Tulisan ini direvisi pada 14 April 2022 .

  • Upaya CIA Menggagalkan Konferensi Asia Afrika

    AMERIKA Serikat tak suka pada rencana Sukarno mengadakan Konferensi Asia Afrika (KAA). Konferensi ini selain mendorong kemerdekaan bagi negara-negara Asia-Afrika, juga menetapkan sikap netral atau nonblok dalam perseteruan Blok Barat (AS) dan Blok Timur (Uni Soviet). Padahal AS sedang berupaya membentuk SEATO (South East Asia Treaty Organization), sebuah aliansi militer-politik negara-negara Asia Tenggara, yang disponsori AS, guna membendung pengaruh komunis di wilayah itu. Bagi AS, KAA adalah ancaman untuk SEATO, yang didirikan di Bangkok, Thailand pada 19 Februari 1955. Anggota SEATO terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, dan Thailand. Para pejabat dalam pemerintahan Eisenhower dan CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat), menurut sejarawan Baskara T. Wardaya, meyakini konferensi negara-negara Asia Afrika itu telah menjadi semacam “ajaran sesat” yang harus “dibereskan.” “Bertolak dari pikiran tersebut,” tulis Baskara dalam Bung Karno Menggugat!, “CIA kemudian mengambil inisiatif untuk mempertimbangkan rencana pembunuhan sebagai salah satu cara untuk menggagalkan KAA.” Setelah bertahun-tahun tersimpan sebagai rahasia, rencana jahat tersebut baru terungkap pada 1975. Komisi Church (Church Committee), yang diketuai senator AS, Frank Church, menyelidiki operasi-operasi rahasia CIA di luar negeri, termasuk di Indonesia. Komisi mendengarkan kesaksian-kesaksian berkaitan dengan operasi rahasia yang dilakukan para agen CIA di negara-negara Asia. “Menurut kesaksian,” tulis Baskara, “para pejabat CIA telah mengusulkan suatu rencana untuk membunuh seorang pemimpin Asia Timur guna mengacaukan KAA yang mereka pandang sebagai Konferensi Komunis.” Salah satu pemimpin Asia yang menjadi target pembunuhan adalah perdana menteri merangkap menteri luar negeri Tiongkok, Zhou Enlai. Pada 11 April 1955, pesawat Kashmir Princess, yang sedianya akan ditumpangi Zhou, meledak dan mendarat darurat di laut. 16 tewas dan tiga orang selamat. Sehari setelah insiden itu, kementerian luar negeri Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang menuding keterlibatan CIA dan Ching Kai-shek (pemimpin nasionalis Tiongkok, di Taiwan). “Mereka berencana menyabot pesawat carteran Air India, menjalankan rencana mereka untuk membunuh delegasi kami ke Konferensi Bandung yang dipimpin oleh Perdana Menteri Zhou Enlai, dan untuk menggagalkan Konferensi Bandung,” tulis Steve Tsang dalam The Cold War’s Odd Couple . Menariknya, Zhou selamat karena sudah mengendus rencana pembunuhan dirinya. Menurut Steve Tsang dalam “Target Zhoe Enlai,” China Quarterly , September 1994, “Zhou mengetahui rencana itu sebelumnya dan diam-diam mengubah rencana perjalanan, kendati dia tak menghentikan sebuah delegasi kader yang lebih rendah untuk mengambil tempatnya.” Ternyata CIA bukan saja mengincar Zhou Enlai, tapi juga merencanakan upaya pembunuhan Sukarno.*

  • Tak Sekadar Menangkis Bulu

    INDONESIA berusaha keras memperjuangkan Piala Sudirman agar disetujui IBF. Ternyata, anggota IBF dari Eropa juga mengusulkan Herbert A. E. Scheele Trophy (sekretaris jenderal IBF) sebagai nama piala untuk kejuaraan beregu campuran putra-putri, yang digelar dua tahun sekali. Tiga hari sebelum diputuskan dalam pertemuan dewan IBF pada Oktober 1988, Titus K. Kurniadi, salah seorang ketua komisi IBF, segera meminta agar Suharso menemui Ian Palmer, Presiden IBF asal Selandia Baru, di Singapura. Sebagai sahabat kentalnya, Suharso yakin dapat membujuk Ian agar merestui Piala Sudirman, daripada Herbert A. E. Scheele Trophy. Didampingi Titus, Suharso melobi Ian di di Singapura. “Ian, di bawah kepengurusan Anda IBF berjalan dengan baik. Seharusnya Anda pegang jabatan Presiden 2-3 tahun lagi,” kata Suharso dalam biografinya, Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis . “Saya sudah cukup capek. Lagi pula saya sudah tua. Jarak Selandia Baru-London itu sangat jauh,” balas Ian. “Ian, sekarang ada Piala Thomas untuk beregu putra dan Piala Uber untuk beregu putri, yang selalu dipertandingkan dengan semangat yang meluap-luap. Dua piala itu dari Eropa, kan? Jikalau dari Eropa lagi, berarti Eropa mau menguasai piala-piala yang dipertandingkan terus-menerus. Akibatnya akan timbul ketidakpuasan dari negara-negara lain, terutama dari kawasan Asia yang begitu kuat bulutangkisnya. Dan saya akan sangat kecewa, apabila terjadi lagi perpecahan seperti dulu, IBF-WBF. Saya ingin bertanya, kalau ada piala lagi, harus dari benua mana?” tanya Suharso. “Harus dari Asia,” jawab Ian. “Atas nama siapa?” cecar Suharso. “Sudirman!” tegas Ian. Tapi, kata Suharso, “ada suara-suara dari anggota IBF Eropa, bahwa Eropa akan mengajukan kembali orang bule. Bagaimana ini, Ian?” “Hal ini serahkan kepada saya. Sebagai presiden saya berhak untuk menentukan keputusan akhir.” Ian memenuhi janjinya menyetujui Piala Sudirman. Indonesia menjadi tuan rumah Piala Sudirman pertama sekaligus tuan rumah Kejuaraan Dunia 1989. Konsekuensinya, dana yang harus disiapkan sangat besar. Bimantara Group, perusahaan milik anak Presiden Soeharto, bersedia menjadi sponsornya. “Kalau tidak kita ambil saat itu, kita tidak tahu kapan Piala Sudirman akan mulai dipertandingkan. Mungkin ada negara yang siap menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia, tetapi kalau untuk digabung dengan Piala Sudirman mereka akan berpikir dua kali. Dengan telah dimulai oleh Indonesia, berikutnya akan lebih mudah,” kata Justian Suhandinata, anggota dewan IBF, memberi alasan. Titus kemudian memimpin panitia sayembara Piala Sudirman. Pemenangnya Rusnandi, mahasiswa ITB jurusan seni rupa, menyisihkan 207 peserta dari 20 provinsi. Pembuatan Piala Sudirman dilakukan oleh PT Master Six, Bandung. Biayanya Rp27 juta ditanggung oleh Gabungan Pengusaha Farmasi Seluruh Indonesia (GPFSI), mengingat Sudirman juga adalah Bapak Farmasi Indonesia. Indonesia menyelenggarakan Piala Sudirman pertama pada 1989 dan keluar sebagai juara. Namun, setelah itu Indonesia tak pernah juara lagi, dan harus puas menjadi runner up sebanyak enam kali. Tiongkok 13 kali juara disusul Korea Selatan dengan empat kali juara.*  Tulisan ini diperbarui pada 29 April 2024.

  • Sudan Belum Merdeka, Benderanya Sudah Berkibar di KAA

    BEBERAPA minggu sebelum Konferensi Asia Afrika dimulai, Sekretariat Bersama memerlukan bendera-bendera negara peserta untuk dikibarkan di berbagai tempat, dari lapangan udara, jalan raya, sampai gedung-gedung. Ketika semua negara peserta sudah mengirimkan benderanya, Sudan belum juga memberikan benderanya, sekalipun diminta berkali-kali melalui kawat (telegram). “Rupanya karena Sudan belum merdeka penuh, maka mereka belum mempunyai bendera nasional. Akhirnya kita putuskan saja untuk mengibarkan sebuah bendera putih dengan tulisan Sudan warna merah di tengah-tengahnya,” kata Roeslan Abdulgani, sekretaris jenderal KAA, dalam The Bandung Connection . Sekretariat Bersama memberitahukan keputusan tersebut melalui telegram ke pemerintah Sudan di ibukota Khartum. Ali Sastroamidjojo, ketua KAA sekaligus perdana menteri Indonesia, terperanjat waktu mengetahui keputusan Sekretariat Bersama tersebut. Dia menegur Roeslan dan mengingatkan bahwa pemerintah Sudah tentu akan tersinggung. “Sebab menentukan bendera nasional adalah atribut pokok dari bangsa itu sendiri. Bukan dari Joint Secretariat (Sekretariat Bersama, red ). Emosi bangsa terhimpun dan tersimpan di dalamnya. Seperti halnya dengan Lagu Kebangsaannya,” tegas Ali. “Saya agak ngeri juga mendengarkan teguran Pak Ali Sastroamidjojo ini,” kata Roeslan. Roeslan akhirnya bisa bernapas lega. Sekretariat Bersama menerima balasan dari pemerintah Sudan yang menyetujui bendera buatan panitia itu. “Selama konferensi, Sudan mengibarkan bendera ‘ciptaan’ kita,” kata Roeslan. Rosihan Anwar, wartawan yang meliput KAA, melihat langsung bendera Sudan yang beda dari negara-negara lain. Bendera negara-negara peserta berkibar di Jalan Asia Afrika Bandung. “Sebuah negara Afrika yang baru merdeka, Sudan, belum punya bendera sendiri, tetapi sekjen konferensi Roeslan Abdulgani tidak kehabisan akal. Ia bikin bendera sendiri untuk Sudan, sehelai kain putih yang bertulisan Sudan,” catat Rosihan dalam Sejarah Kecil “petite histoire” Indonesia Volume 2 . Sudan menghadiri KAA dalam status negara merdeka tapi belum sepenuhnya. Hal ini dikemukakan ketua delegasi Sudan, Perdana Menteri Sayed Ismail El Azhari, dalam sambutannya, “Lebih dari limapuluh tahun, Sudan berada di bawah kekuasaan asing dan belum lama, benar-benar lepas dari genggamannya…konferensi ini menjadi upaya pertama kami menjalankan kedaulatan dan kemerdekaan kami di luar negeri.” Bendera kebangsaan Sudan baru dikibarkan dalam upacara kemerdekaan pada 1 Januari 1956, dikerek langsung oleh Sayed Ismail El Azhari.

  • Daftar Nama Tokoh Indonesia yang Jadi Nama Jalan di Belanda

    Nama aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalib, atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Munir, akan diabadikan sebagai nama jalan di kota Den Haag, Belanda. Suciwati, istri almarhum Munir mengatakan peresmian nama tersebut akan dilaksanakan pada hari Selasa, 14 April 2015. Adapun nama Munir rencananya akan disematkan untuk sebuah jalur sepeda dalam kota dengan nama Munirpad . Pada 7 September 2004, Munir bertolak dari Jakarta menuju Amsterdam untuk menempuh pendidikan masternya. Namun dalam perjalanan udara, ia tewas diracun. Pelakunya adalah Pollycarpus Budihari Priyanto, mantan pilot Garuda Indonesia yang belakangan juga diketahui berprofes sebagai spion. Sudah jadi rahasia umum pembunuhan Munir adalah cara menutup mulut kritis aktivis kelahiran Malang tersebut. Munir meninggal pada usia 39 tahun. Munir bukan tokoh pertama yang namanya diabadikan jadi nama jalan. Relasi historis Belanda-Indonesia membuat beberapa nama tokoh Indonesia tersemat sebagai nama jalan di negeri kincir angin tersebut. Berikut beberapa nama tokoh Indonesia yang diabadikan sebagai nama jalan di Belanda. Thomas Matulessy (Pattimurastraat) Thomas Matulessy, atau yang lebih dikenal dalam sejarah sebagai Pattimura (1783-1817), disematkan sebagai nama jalan di Wierden, Pattimurastraat , pada 2011 sebagai cabang dari jalan lain, Jan Jansweg . Penyematan nama itu diusulkan oleh komunitas Maluku  telah menetap di Wierden sejak beberapa dekade lalu. Pattimura adalah seorang kelahiran Ambon yang memimpin pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda di Maluku. Pada 16 Mei 1817 ia memimpin penyerangan ke Benteng Duurstede di Saparua, Maluku, dan berhasil merebutnya. Setelahnya ia ditasbihkan sebagai pemimpin orang-orang Maluku dalam menghadapi pemerintah kolonial. Setelah dikhianati oleh Raja Booi, Pati Akon, Pattimura tertangkap dan dihukum gantung pada 16 Desember 1817. Martha Christina Tiahahu (Martha C. Tiahahustraat) Namanya disematkan di area pemukiman dan waktu yang sama dengan Pattimurastraat di Wierden. Martha Christina Tiahahu (1800-1818) diabadikan sebagai Martha C. Tiahahustraat yang letaknya dapat ditemukan begitu keluar dari jalan Pattimurastraat . Sejak kecil Tiahahu sudah aktif dalam kegiatan militer melawan pemerintah kolonial. Ia tergabung bersama pasukan Pattimura dan ikut dalam beberapa pertempuran bersamanya. Sempat tertangkap pada  1817, ia kemudian dilepaskan oleh Belanda karena masih dianggap anak-anak. Namun Tiahahu terus melawan, sampai ia akhirnya ditangkap kembali dan dikirim ke Jawa untuk bekerja paksa. Tiahahu meninggal di perjalanan pada usia 17 tahun. Seperti Pattimura, namanya harum sebagai tokoh perlawanan yang penting dalam komunitas masyarakat Maluku. R.A. Kartini (R.A Kartinistraat dan Kartinistraat) Surat menyurat yang dilakukan dengan teman-temannya di Eropa membuat nama Raden Ayu Kartini (1879-1904) harum di tengah masyarakat Belanda. Pada tahun 1911, kumpulan suratnya dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Litch (Habis Gelap Terbitlah Terang). Pandangan kritisnya terhadap situasi perempuan di Jawa kala itu mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi. Dan bagi pemerintah Indonesia Kartini dianggap sebagai pelopor kebangkitan kaum perempuan Indonesia. Nama Kartini disematkan di empat kota berbeda. Ada R.A Kartinistraat di kota Utrecht yang merupakan salah satu jalan utama. Lalu Kartinistraat di pemukiman Zuiderpolder di Haarlem. Begitu juga dengan Kartinistraat , sebuah jalan yang berbentuk lingkaran di Venlo. Terakhir, nama Kartini disematkan dengan lengkap sebagai nama jalan di wilayah Zuid-oost Amsterdam, Raden Adjeng Kartinistraat , yang menghubungkan Emmeline Pankhurstsraat dengan Bijlmerdreef. Mohammad Hatta (Mohammed Hattastraat) Mohammad Hatta (1902-1980) pergi ke Belanda pada tahun 1921 untuk melanjutkan studi ekonominya di Rotterdam. Hatta tinggal di Belanda sampai tahun 1932, yang ia isi tidak hanya dengan belajar namun juga turut aktif dalam pergerakan melalui Perhimpunan Indonesia. Sekembali ke tanah air, Hatta tetap meniti garis perjuangan dan terlibat beberapa kali dalam berbagai perundingan antara Indonesia dengan Belanda, baik itu dalam kapasitasnya sebagai Wakil Presiden Indonesia (1945-1956) atau sebagai Perdana Menteri Indonesia (1948-1950). Nama Hatta tersemat di jalan pemukiman Zuiderpolder di kota Haarlem. Mohammed Hattastraat , jalan kecil dengan deretan gedung di sisi kiri dan pepohonan rindang di sisi kanannya tersebut berakhir di sebuah perempatan antara Vrijheidsweg dan Salvador Allendestraat. Robbert Christiaan Steven Soumokil (Chris Soumokilstraat) Salah satu nama yang kontroversial dalam sejarah Indonesia. Chris Soumokil (1905-1966) sempat belajar hukum di Universitas Leiden dan lulus pada tahun 1934. Saat Perang Pasifik pecah, Soumokil ditawan dan dikirim ke Burma dan Siam. Ia kemudian menjadi jaksa agung dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT), sebelum akhirnya mendirikan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950 dan menjadi presidennya. RMS memberontak pemerintahan Indonesia dan pada tahun 1963 ia tertangkap dan dieksekusi mati setahun setelahnya. Jalan atas nama Chris Soumoukil terdapat di dua kota, Wierden dan Haarlem. Seperti Pattimurastraat , Chris Soumokilstraat tersambung dengan jalan Martha C. Tiahahustraat di pemukiman komunitas Maluku, Wierden. Yang kedua terletak di kota Haarlem dan disematkan pada tahun 1987, masih di komplek pemukiman Zuiderpolder. Chris Soumokilstraat tersambung dengan Kartinistraat dan Mohammed Hattastraat . Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat) Sutan Sjahrir (1909-1966) sempat mengenyam pendidikan hukum di Universitas Amsterdam dan Universitas Leiden. Di sana ia mendalami sosialisme dan aktif dalam wacana kaum pergerakan bersama Perhimpunan Indonesia dan Mohammad Hatta. Di masa perjuangan kemerdekaan, bersama dengan Hatta, Sjahrir sebagai Perdana Menteri Indonesia pertama (1945-1947) menjadi sosok terdepan diplomasi Indonesia melawan Belanda di pentas politik internasional. Nama Sjahrir harum di Belanda sebagai seorang "ksatria politik terhormat dengan idealisme yang tinggi", sebagaimana disematkan oleh Wim Schermerhorn, mantan Perdana Menteri Belanda (1945-1966) pada 1966 sesaat setelah kematian Sjahrir. Wim adalah sahabat dekat Sjahrir semenjak masa-masa mahasiswa di Belanda. Tiga kota di Belanda menyematkan nama Sjahrir. Di Leiden, kota bekas Sjahrir menimba ilmu, Sjahrirstraat membentang lurus bersinggungan dengan Gandhistraat sebelum tersambung ke Martin Luther Kingpad. Di kota Gouda, ada Sjahrirsingel yang menyambungkan Sacharovstraat dengan Gandhiweg. Nama terakhir terletak di permukiman Zuiderpolder di Haarlem, Sutan Sjahrirstraat , dinamakan pada 1987, yang menyambungkan jalan Mohammed Hattastraat dengan Chris Soumokilstraat . Irawan Soejono (Irawan Soejonostraat) Ia seorang mahasiswa Indonesia yang datang ke Belanda pada tahun 1934 untuk menempuh studi di Universitas Leiden, dan ketika Perang Dunia II pecah dan Belanda diduduki Jerman (1940-1945) ia ikut melawan fasisme sebagai pasukan bawah tanah. Namanya Irawan Soejono (1919-1945). Ia aktif dalam penerbitan surat kabar propaganda anti fasis, De Bevrijding (Pembebasan) dan ikut pula tergabung dalam satuan tempur mahasiswa Indonesia di Belanda (Barisan Mahasiswa Indonesia). Namanya terkenal di kalangan gerakan perjuangan bawah tanah, sampai ia dijuluki sebagai Henk Van de Bevrijding . Irawan tewas ditembak oleh tentara Nazi-Jerman pada 13 Januari 1945. Namanya diabadikan oleh pemerintah Amsterdam pada 4 Mei 1990 di wilayah Osdorp sebagai Irawan Soejonostraat . Jalan itu menghubungkan Rudi Bloemgartensingel dan Trijn Hullemanlaan, juga diapit oleh Geertruida Van Lierstraat dan Jacob Paffstraat.

  • Jean Baptiste De Guilhen, Duta Prancis di Kesultanan Banten

    JEAN BAPTISTE DE GUILHEN, Pilavoine, dan Calmel lalu mendapat tugas mengurus loji Prancis di Banten yang baru didirikan. Sultan Banten Ageng Tirtayasa memberi izin pendirian loji Prancis sebagai balasan atas niat baik Prancis yang berjanji membantu Banten dalam usahanya mengalahkan Palembang. Sultan juga berjanji akan memberikan konsesi di Bangka Belitung, yang meminta perlindungan Banten, kepada Prancis kelak ketika kepulauan itu sudah lepas dari Palembang. Tugas pertama, mencari muatan untuk kapal Saint Francois , berhasil diselesaikan Guilhen dengan baik. Dia mendapatkan 2500 bahar lada hitam, di antaranya didapatkan langsung dari Syahbandar Kaytsu. Perniagaan kompeni Prancis di Banten kian lancar berkat tangan dingin Guilhen, meski tak selalu semulus seperti diperkirakan sebelumnya. Guilhen, misalnya, dengan mudah mendapatkan pinjaman 20 ribu real dari sultan saat sebuah kapal Prancis tiba dengan muatan terlalu sedikit, pada 28 Mei 1680. Pinjaman dari sultan itu dipergunakan Guilhen untuk menambah muatan kapal yang akan berlayar ke Tonkin (Vietnam). Banten sendiri makin kuat secara ekonomi dengan berdirinya loji Prancis –dan loji-loji negara lain. Posisi tawarnya terhadap VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), pesaingnya yang berada di Batavia, menjadi lebih tinggi. Keberhasilan itu merupakan buah dari hubungan baik Guilhen dengan sultan dan perwakilan negeri-negeri Eropa di Banten. Hal itu terus terjaga hingga ketika Guilhen akhirnya menjadi ketua loji. Sultan, yang sangat percaya Guilhen, memintanya menjadi perwakilan orang Eropa yang menghadap kepadanya sewaktu kesultanan mengadakan Hari Keputraan Sultan (perayaan ulangtahun sultan). Guilhen pula perwakilan Prancis yang mendapatkan izin sultan untuk membangun rumah ibadah dan menempatkan seorang pastor di loji. Sifat filantropis Guilhen tetap terjaga selama di Banten. Dia tanpa segan langsung mendermakan uangnya kepada orang miskin atau orang yang sedang dalam kesulitan, namun dia sama sekali tak tergerak untuk memberi derma kepada pengemis; baginya sangat memalukan agama. “Ia sering berderma dan kadang-kadang di luar kemampuannya…sehingga ia menjual sehelai kain sulam yang berharga hanya untuk mengeluarkan seseorang yang berhutang dari penjara,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII . Ketika seorang pegawai Kongsi Dagang Inggris (EIC), Constance Phaulkon, difitnah atasannya dan meminta perlindungan loji Prancis, Guilhen menerimanya dengan ramah. Dia berusaha memediasi Constance dengan Arnold White, ketua loji Inggris di Banten. Namun Arnold White menolak. Guilhen kemudian menolong Constance dengan memberi pinjaman untuk modal niaga. Namun, perang Belanda-Prancis di India merembet hingga Nusantara. Keberadaan Prancis di Banten ikut memanaskan Belanda di Batavia yang hubungannya dengan Banten tegang. Belanda sendiri memanfaatkan perpecahan di Banten dengan mendukung Sultan Haji, anak Sultan Ageng Tirtayasa, yang berambisi berkuasa. Loji Prancis beraliansi dengan loji Inggris dalam menghadapi Belanda. Akibat ketegangan itu, kapal-kapal perang Belanda melakukan blokade yang mengakibatkan beberapa kapal Prancis jadi korban penangkapan kapal-kapal Belanda. Di Batavia, banyak orang Prancis ditahan. “Pihak Belanda yang takut bahwa terbentuknya aliansi antara Prancis dan sultan ditujukan pada Batavia,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX . Upaya Guilhen berdiplomasi dengan Batavia tak berhasil. Perseteruan Prancis-Belanda itu akhirnya selesai setelah Perjanjian Nijmegen ditandatangani kedua belah pihak pada 17 September 1678. Perniagaan Prancis di Banten, yang sempat surut, kembali berjalan tapi tak bertahan lama. Setelah Sultan Haji berkuasa atas dukungan VOC, perwakilan-perwakilan asing diusir. Loji Prancis bubar, Guilhen melarikan diri ke Batavia pada 27 Mei 1682. “Berakhirlah masa tinggalnya selama sepuluh tahun lebih di Banten,” tulis Guillot. Dari Batavia, Guilhen menumpang kapal Inggris dan mencapai Surat pada awal Januari 1683. Keinginannya membantu misi seminari di Siam kandas lantaran hepatitis menyerangnya. Dia akhirnya kembali ke Prancis. Di Paris, dia berjuang keras di meja hijau selama dua tahun untuk mendapatkan uangnya yang dipinjam kompeni. Meski harus merogoh kocek 18 ribu franc, dia akhirnya menang di pengadilan dan mendapatkan uangnya lebih dari 50 ribu livres. Guilhen akhirnya mendapatkan impiannya: mengabdi di Missions Etrangeres de Paris (MEP). Di sana dia menjalani hari-hari laiknya biarawan, dan aktif memberi bantuan kepada siapapun. Dia aktif menengahi konflik antara MEP dan Jesuit, sampai ikut mengawal perwakilan keduanya ke Vatikan. Namun, dia pulang lebih awal karena kesehatannya memburuk. Pada awal 1709, beberapa penyakit menyerangnya serentak. Setelah enam pekan berjuang melawan berbagai penyakit, pukul enam petang Guilhen berpulang.

bottom of page