top of page

Inilah Asal-Usul Profesi Tukang Catut

Mereka beredar di bioskop, bikin geram penonton. Polisi sampai gubernur Jakarta pun ikut turun tangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bioskop Menteng Jakarta, 1950-1960. Foto: Tropenmuseum/commons.wikimedia.org.

  • 29 Mar 2015
  • 2 menit membaca

MENYAMBUT Hari Film Nasional pada 30 maret 2015, sejumlah bioskop memberi promo bagi calon penonton film nasional pada hari-H. Calon penonton cukup beli satu tiket untuk nonton dua film nasional. Tawaran lain berupa kemudahan pembelian tiket bioskop secara online, tak perlu mengantre. Tapi puluhan tahun silam, tiket bioskop jadi lahan subur tukang catut. Sejak kapan profesi tukang catut karcis bioskop dimulai?


Kerja mencatut kali pertama muncul pada masa pendudukan Jepang. “Orang yang jadi catut memang bukan sengaja. Karena itu tempo memang banyak yang tidak kerja,” tulis Piso Tjoekoer (kemungkinan nama samaran) dalam Warisan Djepang terbitan 1946. Mingguan Djaja, 4 Mei 1963, bahkan menyebut inilah awal masa merajalelanya tukang catut di negeri ini.


Liberty, 1 April 1946, mendeskripsikan mencatut sebagai “gampangnya mendapat untung besar… lantas orang jadi tidak suka berusaha putar otak lebih keras atau gunakan tenaga urat lebih banyak buat mencipta apa-apa yang kekal.” Tukang catut hadir di segala tempat. Termasuk bioskop. Ini terekam dalam film Tiga Dara buatan Usmar Ismail, sutradara sohor Indonesia, pada 1956.


Toto dan Nenny, sepasang muda-mudi, datang ke bioskop pada malam hari. Mereka agak telat. Calon penonton telah mengantre hingga luar bioskop. Toto dan Nenny berada di baris paling belakang. Belum lama mereka mengantre, petugas loket bilang tiket habis.


Toto dan Nenny lekas ke parkiran bioskop. Seorang lelaki tukang catut menawarkan tiket bioskop ke mereka. Harganya tiga kali lipat ketimbang harga normal di semua kelas tempat duduk: loge (kelas satu), stalles (kelas dua), kelas kambing (kelas tiga), dan kelas balkon (khusus).


Firman Lubis (alm), seorang dokter dan penulis, punya gambaran serupa dengan Usmar Ismail tentang tukang catut. Saat masih remaja pada 1950-an, dia sering nonton di bioskop. Jika film lagi bagus dan bintangnya pun terkenal, bioskop bakal ramai. Tukang catut pun bersliweran di bioskop.


“Mereka sudah mengantre duluan di depan, atau menyelak (biasanya mereka berkelompok sehingga orang tidak berani menegur) begitu saja ke depan,” tulis Firman dalam Jakarta 1960-an.


Untuk menjadi tukang catut, orang harus punya  keahlian beladiri dan keberanian. Firman menyebut beberapa nama tukang catut sohor pada masa itu. Antara lain si Jaim alias Eddy dan Lorens. Kehadiran mereka bikin beberapa calon penonton kesal. Sebab “Harga yang mereka tawarkan bisa berlipat dua, tergantung ramainya orang yang mau menonton,” tulis Firman.


Sementara sebagian calon penonton dari kalangan atas justru mencari mereka. Berapapun harga tiket, calon penonton ini pasti membeli. Lagi pula calon penonton ini enggan capek-capek mengantre lama.


Menilai sepak terjang tukang catut lebih banyak merugikan orang, pemilik bioskop di Jakarta meminta bantuan polisi mengawasi catut pada 1960-an. “Di Bioskop Menteng, alat-alat negara bukan saja menjaga keamanan dan keberesan penjualan karcis bioskop dari luar loket, tetapi juga dari dalam loket,” tulis Djaja.


Menghadapi penjagaan ketat, tukang catut tak kehilangan akal. Mereka bekerja sembunyi-sembunyi. Strategi ini berhasil. “Tukang catut masih saja sempat berbisik-bisik ke telinga penonton yang tidak kebagian karcis: loge…loge… stalles…stalles!” tulis Djaja.


Ali Sadikin, Gubernur Jakarta, turun tangan mengatasi tukang catut pada 1970. Dia bilang butuh kerjasama menghadapi tukang catut. Dia berjanji bakal menurunkan harga tiket bioskop. Sebaliknya, dia juga meminta calon penonton jangan malas antre. Dengan cara ini, tukang catut perlahan menghilang dari bioskop. Beralih ke tempat lain seperti terminal dan stasiun kereta api.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
bg-gray.jpg
Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
bg-gray.jpg
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
bg-gray.jpg
Pernah populer sebagai pohon peneduh bersama asam jawa dan flamboyan. Kini, tanaman ini menjadi salah satu pohon yang paling populer untuk aktivitas penghijauan.
Cerita dari negeri yang jauh, tentang mereka yang menanti dan mengikhtiarkan keadilan.
Cerita dari negeri yang jauh, tentang mereka yang menanti dan mengikhtiarkan keadilan.
Kumpulan lukisan koleksi Istana Kepresidenan kembali dipamerkan di Jakarta. Ada kisah menarik di baliknya
Kumpulan lukisan koleksi Istana Kepresidenan kembali dipamerkan di Jakarta. Ada kisah menarik di baliknya
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
Koboi sebermula seorang penunggang kuda penggembala ternak. Berubah jadi sosok heroik dan dibanggakan oleh pemuda revolusi di Surabaya.
Koboi sebermula seorang penunggang kuda penggembala ternak. Berubah jadi sosok heroik dan dibanggakan oleh pemuda revolusi di Surabaya.
RS Al-Quds dan RS Indonesia berhenti beroperasi. Menyisakan RS Al-Shifa yang bertahan di kota Gaza.
RS Al-Quds dan RS Indonesia berhenti beroperasi. Menyisakan RS Al-Shifa yang bertahan di kota Gaza.
Tak hanya iklan jual beli, agen periklanan juga memasangkan iklan pertunangan atau pernikahan. Ini kisah Hamid yang memasang iklan pertunangan palsu.
Tak hanya iklan jual beli, agen periklanan juga memasangkan iklan pertunangan atau pernikahan. Ini kisah Hamid yang memasang iklan pertunangan palsu.
transparant.png
bottom of page