top of page

Sekelumit Kisah Gedung Merdeka

Ali ingin berhemat, Roeslan tak ada waktu, sementara Sukarno ingin gedung KAA tak bikin Indonesia malu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Societeit Concordia (1935) kemudian menjadi Gedung Merdeka, tempat penyelenggaraan KAA 1955. Foto: KITLV.

23 Apr 2015
2 menit membaca

TIBA-tiba Presiden Sukarno marah pada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan Sekjen KAA Roeslan Abdulgani. Kemarahannya bermula saat dia temukan renovasi gedung yang semula bernama Concordia itu tak sesuai harapannya. Padahal penyelenggaraan KAA tinggal sebelas hari lagi.


Menurut wartawan senior Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil: Petite Histoire Indonesiajilid 2, keinginan Sukarno tak segera terlaksana karena Ali Sastroamidjojo tak segera mengucurkan dana renovasi sementara Roeslan tak bergegas menjalankan perintah Sukarno. “PM Ali tidak bersedia memberikan duit. Murah meriah saja. Dan Roeslan punya jadwal sempit,” tulis Rosihan.


Menemukan gedung belum sempurna ditata saat menginspeksi persiapan KAA, Sukarno menyindir Ali tak bakal mampu membikin revolusi. “Dengan sarjana hukum (SH) orang tidak bisa membuat revolusi,” ujarnya sebagaimana dikutip Rosihan. Setengah bercanda, Sukarno mengejek Ali yang sarjana hukum. Menurut presiden yang terkenal pecinta karya seni itu renovasi yang dilakukan Ali hanya membuat gedung terlihat seperti ruang pengadilan.


Dalam waktu yang serba mepet, akhirnya presiden menunjuk arsitek F Silaban untuk mendesain renovasi tersebut, sekaligus mengganti namanya menjadi Gedung Merdeka. Sukarno ingin menjadikan gedung itu tempat penyelenggaraan KAA yang megah dan membanggakan.


Memang bukan perkara mudah menjadikan Gedung Concordia sebagai tempat KAA. Jauh sebelum dikuasai pemerintah, gedung tersebut berfungsi ajang sosialita warga elite Belanda di Bandung. Societeit Concordia, demikian nama klab orang kaya Belanda itu, selalu disambangi para pengusaha perkebunan. Setelah kemerdekaan, kepemilikan tetap ada di tangan mereka dan enggan melepaskan kepemilikannya kepada siapa pun.


“Tetapi setelah mereka dihadapkan dengan kemungkinan pengambilalihan demi kepentingan negara, akhirnya gedung Concordia tersebut dijual kepada pemerintah,” kenang Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku.


Penanda kota Bandung peninggalan era kolonial itu merupakan karya arsitektur Van Gallen Last dan CP Wolf Schoemaker itu berdiri pada 1895. Semasa pendudukan Jepang, Gedung Concordia berubah nama menjadi Dai Toa Kaikan. Pemerintah militer Jepang menggunakannya sebagai kantor propaganda dan pusat kebudayaan. Ketika Jepang kalah perang, gedung itu lalu kosong hingga era Republik Indonesia Serikat (RIS) berdiri, di mana Negara Pasundan memfungsikan Gedung Concordia menjadi gedung pertemuan.


Bubarnya Negara Pasundan kembali membuat gedung terbengkalai. Oleh karena itulah ketika menjelang penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika, panitia lokal di bawah pimpinan Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata memilih gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun (Pensioenfonds) menjadi dua gedung yang paling memungkinkan untuk dijadikanwahana perhelatan KAA.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
transparant.png
bottom of page