top of page

Hasil pencarian

9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sejarah Ilmu Mengolah Suara Perut

    MASIH ingat Ria Enes dan Suzan? Ria, alias Wiwik Suryaningsih, seorang ventriloquis atau ahli suara perut. Ventriloquis mampu berbicara tanpa terlihat menggerakkan bibir. Sedangkan Suzan boneka perempuan. Ia bisa berbicara, seolah hidup. Ria menggunakan kemampuannya untuk menghidupkan Suzan demi menghibur dan mendidik anak-anak selama dekade 1990-an. Sebelum Ria Enes, Indonesia sempat memiliki sejumlah ventriloquis. Bagaimana mula kemunculan mereka? Ventriloquisme atau ilmu mengolah suara perut berkembang di masyarakat Semit, Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno. Menurut Steven Connor dalam Dumbstruck: A Cultural History of Ventriloquism , masyarakat kuno menggunakan ventriloquisme sebagai penghubung orang hidup dengan orang mati. Ventriloquis menduduki posisi terhormat. Para pendeta dan biarawan pada abad pertengahan (abad ke-5 sampai 16) merombak pandangan tentang ventriloquisme. Ilmu ini terlarang. Pelakunya termasuk kaum pagan dan penyihir. Hukuman dan siksaan untuk mereka mulai berlaku. Para ilmuan masa Renaisans (abad ke-17) menghantam balik pandangan biarawan. Mereka berpendapat ventriloquisme tak ada hubungannya dengan keyakinan dan sihir. Ventriloquisme mendapat tempat lagi. Bahkan beralih ke arena hiburan. Melalui pesulap dalam rombongan sirkus, ventriloquisme menyebar ke pelbagai penjuru dunia. Di Indonesia, ventriloquisme berkembang berkat jasa pesulap bernama W. Duve. “Satu-satunya ventriloquis yang pada waktu itu terdapat di Indonesia,” kata Setiawan Tebiono alias Pak Seladri, dikutip Djaja, 1 Februari 1964. Pak Seladri pesulap asal Surabaya. Dia belajar sulap sejak umur 13 tahun pada 1940-an dan tertarik pada ventriloquisme saat bertemu W. Duve memainkan “boneka bicaranya”. Pak Seladri lalu pergi ke Pasar Baru, Jakarta. Dia membeli boneka kayu mungil seukuran 12 cm berwujud anak laki-laki seperti Charlie McCarthy, boneka ventriloquis terkenal Amerika Edgar Bergen. Di bagian tubuh boneka itu terdapat celah untuk memasukkan dua tangan. Dari celah ini, tangan Pak Seladri bisa menggerak-gerakkan bibir boneka seolah kelihatan berbicara. Dia menamakan boneka itu “si Didi”. Untuk mengisi suara boneka, Pak Seladri belajar dari W. Duve. Dia berlatih keras tiap hari. “Bicara dan bernyanyi sendiri di rumah, di kamar tidur, di kamar mandi, atau di manapun. Malah di mobil yang menjemputnya tiap hari ke kantor, ia berlatih terus,” tulis Djaja . Hasilnya, dia mulai mahir dan berani tampil di hadapan khalayak pada 1958. Bersama Didi, dia menghibur anak-anak. “Di manapun Pak Seladri dan si Didi muncul, suasana di antara para hadirin selalu riang gembira dan gelak tertawa memenuhi ruangan,” tulis Djaja . Dalam tiap pertunjukan, Pak Seladri mampu membuat penonton aktif. Dia terutama suka sekali meminta anak-anak turut serta. “Si Didi mengajak mereka berdialog, berkelakar, dan berjenaka.” Pak Seladri melakukan semuanya tanpa bayaran. “Tetapi amatir semacam Pak Seladri dengan kawan-kawan dan murid-muridnya memiliki taraf profesional yang bermutu tinggi.” Gatot Soenjoto, ventriloquis kelahiran 1940, mengikuti jejak Pak Seladri sebagai penghibur yang menekankan mutu penampilan. Sejak mengenal ventriloquisme dari seorang pastur di Surabaya pada 1950-an, Gatot menempa diri dengan latihan keras. Dia belajar ventriloquisme sampai ke Amerika pada 1974, membeli boneka kayu, dan berhasil memperoleh sertifikat dari Michael Tannen, ventriloquis sohor AS. “Saya tak akan menjadi lebih besar kalau saya sendiri menganggap main sulap atau ventriloquist sangat remeh,” kata Gatot, dikutip Kompas , 28 April 1985. Balik ke Indonesia, Gatot tampil bersama boneka bernama Tongki pada 1976. “Filosofinya jadi boneka itu ditemukan dari tong sampah. Saya memberi pengertian pada anak-anak kalau punya barang masih bagus jangan dibuang, nanti akan berguna di kemudian hari,” kata Gatot, dikutip Jakarta-Jakarta , 12 Oktober 1996. Kehadiran mereka di TVRI , pesta anak-anak, dan hajatan lain berhasil menarik perhatian masyarakat. Keterkenalan tak membuat Gatot lantas aji mumpung dan ngoyo . Tarif tampil terjangkau semua kalangan. Dan dia membatasi penampilannya. Banyak tampil bikin persiapan kurang. Sebaliknya, sedikit tampil memberinya waktu persiapan lebih banyak. Dia juga tak mau tampil lama-lama. “Baginya lebih baik sebentar tapi puas, daripada berlarat-larat tanpa mutu,” tulis Kompas , 8 Mei 1988. Kemudian zaman bergerak. Nama-nama ventriloquis itu tidak tampil lagi. Pertunjukan ventriloquis seakan menjadi asing. Baru belakangan melalui ajang pencarian bakat, muncul penampil ventriloquis seperti Jerry Gogapasha, bahkan komedian Iwel Sastra pun menekuninya. Padahal, ventriloquis dapat menjadi penghibur dan pendidik anak-anak.

  • Sudirman Bukan Sembarang Piala

    KEJUARAAN bulutangkis Piala Sudirman yang akan digelar di Dongguan, Tiongkok, 10-17 Mei 2015, tidak akan dapat disaksikan melalui layar kaca. Pasalnya, tidak ada satupun televisi nasional yang membeli hak siarnya. Melalui twitter, netizen pun protes dengan tagar #RIPTVNasional pada Minggu (12/4). Padahal, perjuangan mewujudkan Piala Sudirman menempuh jalan yang panjang. Indonesia harus bangga karena putra terbaiknya, Dick Sudirman, diabadikan menjadi nama kejuaraan beregu campuran putra dan putri: Piala Sudirman. Sudirman, pendiri PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia), didaulat sebagai Bapak Bulutangkis Indonesia. Dia menjabat ketua umum PBSI (1952-1963 dan 1967-1981) dan wakil presiden IBF (International Badminton Federation, kemudian jadi Badminton World Federation) pada 1975. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya dalam bulutangkis Indonesia, namanya diusukan sebagai Piala Sudirman untuk kompetisi beregu putra dan Piala Rameli Rikin untuk beregu putri. Usul itu kali pertama dikemukakan pada kongres PBSI tahun 1963 di Makassar. Namun, Sudirman selalu menolak usul itu, sampai dia meninggal pada 10 Juni 1986. Suharso Suhandinata, wakil ketua umum PBSI tahun 1968, sahabat Dick Sudirman, berusaha keras memperjuangkan Piala Sudirman agar disetujui IBF. “Suharso Suhandinata adalah orang pertama yang mengangkat kembali persoalan Piala Sudirman ini ke permukaan setelah satu setengah bulan Sudirman meninggal dunia,” tulis Justian Suhandinata dalam biografi bapaknya, Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis . Suharso memulai langkahnya secara diam-diam dengan mengirim surat ke beberapa tokoh IBF, seperti mantan Presiden IBF Poul Erik Nielsen, agar jasa-jasa Sudirman dalam mempersatukan IBF dan WBF selalu dikenang. Mulanya hanya mendapat sedikit tanggapan, namun kemudian jumlah anggota IBF yang mendukung semakin bertambah, sampai akhirnya mayoritas anggota setuju. Karena Suharso tidak lagi aktif di PBSI apalagi IBF, perjuangannya dilanjutkan anaknya, Justian Suhandinata, anggota dewan IBF dan Titus K. Kurniadi, salah seorang ketua komisi IBF. Hampir dalam setiap forum IBF, mereka mengangkat masalah Piala Sudirman. Langkah pertamanya, yaitu merebut tempat sebagai tuan rumah kejuaraan dunia. Dalam sidang IBF di Beijing, Indonesia menyatakan siap menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia 1989 dengan menyiapkan dana 375.000 dollar AS, dua kali lipat dari dana yang disiapkan Denmark. Setelah ini gol, langkah berikutnya adalah memperjuangkan Piala Sudirman. Namun, baik Justian maupun Titus belum tahu kira-kira untuk kejuaraan apa Piala Sudirman itu. “Untuk pemain terbaik dalam kontes Piala Thomas? Pemain terbaik Kejuaraan Dunia? Atau? Masih gelap,” tulis Justian. Akhirnya, dalam omongan lepas di luar sidang di Beijing itu, seorang pengurus Persatuan Bulu Tangkis Eropa, mengatakan bahwa di Eropa sejak 1972 diselenggarakan kejuaraan beregu campuran (putra dan putri) yang menarik dan banyak peminatnya. Justian dan Titus menangkap ide itu: Piala Sudirman untuk kejuaraan beregu campuran putra dan putri. Mulailah dikampanyekan adanya sebuah kejuaraan beregu campuran tingkat dunia di bawah IBF. Justian dan Titus mengangkat masalah itu ke pertemuan tahunan IBF di Seoul, Korea Selatan, dilanjutkan di Kuala Lumpur, Mei 1988. Keputusan final diambil dalam pertemuan IBF di Singapura, Oktober 1988. Tiga hari sebelum pertemuan dewan (council meeting) IBF diadakan, Titus datang memberitahu Suharso bahwa Piala Sudirman terancam digagalkan, karena anggota IBF dari belahan Eropa cenderung memutuskan memberi nama Herbert A.E. Scheele Trophy (sekretaris jenderal IBF). Dukungan dari daratan Eropa terhadap gagasan itu mengalir deras.

  • Jejak Orang Prancis di Kesultanan Banten

    AKUNTAN sekaligus ahli tekstil Prancis, Jean Baptiste de Guilhen, masih menyelesaikan pembukuan perusahaannya. Suara langkah terdengar memasuki rumahnya pada malam di tahun 1668. Dia mengambil senjata dan menembak dua orang yang dia anggap rampok itu. Seorang tewas, seorang lagi berhasil diselamatkan. Ternyata, kedua orang itu anak buahnya yang tinggal serumah di Beaucaire, Prancis. Guilhen tak pernah menduga peristiwa itu bakal mengubah jalan hidupnya. Lahir di Tarascon, Foix, Prancis pada 8 September 1634, Guilhen merupakan anak keluarga borjuis kaya yang menganut Katolik taat. Sejak kecil dia dititipkan ke neneknya, seorang Katolik puritan, agar mendapat pendidikan yang baik. Selain itu, dia mendapat pendidikan ilmu umum dari guru privat. Minat belajar besar dan dia berbakat. Setahun setelah neneknya meninggal, dia berangkat ke Lyon. Menurut Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII , pada 1649, ayahnya memutuskan untuk menghentikan pendidikannya dan mengirimnya ke Lyon untuk bekerja di sebuah perusahaan perdagangan tekstil ternama.  Ayahnya menyuruh dia bekerja di perusahaan tekstil ternama. Dia memulai kariernya dari penjaga gudang. Namun hasratnya untuk terus belajar membuatnya cepat maju. Pertemuan sehari-hari dengan tekstil membuatnya jadi ahli tekstil dengan spesialisasi sprei. Dia juga belajar akuntansi waktu menjadi penjaga gudang, ini yang membuatnya diminta perusahaan menangani pembukuan. Atasan Guilhen sangat terkesan oleh prestasinya. Selain menaikkan pangkat Guilhen, sang atasan juga meminta Guilhen menjadi mitra perusahaan. Dia diminta menangani pengiriman barang ke Italia, tempat yang sering dia kunjungi. Guilhen pula yang mendapat kepercayaan untuk membawa uang gaji prajurit yang bertugas di Pignerol dan Casal di Piemont, Italia utara. Guilhen sadar, risiko kerjanya sangat tinggi. Pernah beberapakali dia hampir dirampok di daerah antara Bologna dan Modena ketika mengantarkan uang perusahaan. Namun, peristiwa di Beaucaire tak bisa membuatnya tetap di perusahaan. Salah satu anak buah yang menjadi korban penembakan Guilhen, atas dorongan teman-temannya, bersaksi di pengadilan. Guilhen divonis hukuman mati. Setelah memutuskan keluar dari perusahaan, Guilhen melarikan diri. Tak lama kemudian dia mendapatkan pekerjaan di Royale Compagnie Francaise des Indes (Kongsi Dagang Prancis di Hindia Timur), yang sedang meluaskan jaringan ke Asia Timur dan membutuhkan tenaga kerja. Menggunakan kapal Vautour , Guilhen berangkat pada awal Mei 1670 dan tiba di Surat, India, awal tahun berikutnya. Namun di Surat, Francois Caron, pimpinan Kongsi Dagang Prancis di Asia sekaligus pemimpin armada pelayaran, mendapat ide untuk membuka kantor perwakilan di Banten. Hal itu berangkat dari pengalaman Caron yang pernah bekerja pada VOC dan berambisi membuat kongsi dagang Prancis sebesar VOC. “Perancis, atau lebih tepatnya personil Belanda yang direkrut oleh mereka, serta partisipan Belanda di East India Company Perancis, akrab dengan kondisi di kepulauan Indonesia, seperti yang ditunjukkan oleh pilihan mereka terhadap Banten sebagai pelabuhan impian,” tulis Thomas G. Watkin dalam Legal Record and Historical Reality: Proceedings of the Eighth British Legal. Guilhen ikut di dalam rombongan tersebut. Pada Maret 1671, tiga kapal niaga yang baru tiba dari Prancis itu pun berlayar menuju Banten.

  • Agar Sulawesi Tetap Indonesia

    PADA 5 April 1950 pukul 05.00 pagi. Kapten Andi Azis, bekas perwira KNIL (Tentara Hindia Belanda), memimpin Pasukan Bebas, terdiri dari bekas pasukan KNIL dan KL (Koninklijk Leger atau Tentara Kerajaan Belanda), menyerang markas APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) di Makassar. Beberapa tentara APRIS/TNI menjadi korban dan beberapa perwira, termasuk Letkol A.J. Mokoginta, ditawan. Padahal sebelumnya, Mokoginta, selaku ketua komisi militer dan teritorial Indonesia Timur, menerima penyerahan Andi Azis dan pasukannya ke dalam APRIS, pada 30 Maret 1950. Andi Azis, bekas ajudan senior presiden NIT (Negara Indonesia Timur) melakukan pemberontakan karena pemerintah RIS mengirimkan sekira 900 tentara APRIS yang berasal dari TNI di bawah pimpinan Mayor HV Worang. Tujuan pengiriman pasukan ini karena situasi di Makassar tidak stabil akibat pertentangan dua golongan. Golongan unitaris mendesak NIT membubarkan diri dan bergabung ke dalam NKRI, sementara para federalis berupaya sekuat tenaga mempertahankan NIT. Pembubaran beberapa negara bagian pada 8 Maret 1950 membuat keadaan bertambah panas. Para unitaris makin keras mendesak pembubaran NIT. Temuan dokumen berisi dorongan untuk membubarkan NIT membuat pemerintah NIT mengirim surat protes kepada pemerintah RIS. NIT bahkan ingin memisahkan diri dari RIS dan mendirikan Republik Indonesia Timur. Pengiriman pasukan APRIS, menurut Marwati Djoened Poeponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia VI , “mengkhawatirkan pasukan bekas KNIL yang takut akan terdesak oleh pasukan baru yang akan datang itu.” Selain itu, menurut Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional Volume 2 , Andi Azis secara mendadak menyerbu dan menduduki markas APRIS, menguasai kota Makassar, dan menghalangi pendaratan batalion Worang, dengan kedok demi keselamatan NIT, namun tanpa meminta persetujuan pemerintah NIT. Karena Makassar jatuh ke tangan Andi Azis, pasukan Worang, yang sudah berada di perairan Makassar, memutuskan mendarat di Jeneponto. Pada 7 April, pemerintah RIS mengirimkan pasukan ekspedisi berkekuatan 12.000 pasukan di bawah Letkol A.E. Kawilarang, namun baru mendarat di Sulawesi Selatan pada 26 April 1950. Di internal NIT, gerakan Andi Azis membuat Kabinet DP Diapari, yang tak mendukung gerakan tersebut, jatuh dan diganti pemerintahan pro-Republik. Pada 8 April 1950, pemerintah RIS mengultimatum Andi Azis agar mempertanggungjawabkan perbuatannya ke Jakarta dalam waktu 2 x 24 jam, mengkonsinyir pasukannya, mengembalikan senjata rampasan, dan membebaskan tawanan. Di lapangan, rakyat pro-Republik bergabung dengan pasukan APRIS untuk bergerilya menyerang pasukan KNIL dan siapapun yang dianggap kaki tangan Belanda. Lantaran sampai batas waktu yang ditentukan Andi Azis belum merespons ultimatum, dia dicap pemberontak. “Pada 13 April Presiden RIS, Soekarno, menyatakan lewat radio bahwa Andi Azis pemberontak dan kepada APRIS diperintahkan untuk menumpas pemberontakan,” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Volume 1 . Andi Azis akhirnya menyerahkan diri kepada Mokoginta, disusul pasukannya empat hari kemudian. Pada 14 April 1950, Andi Azis ke Jakarta. Pengadilan memvonisnya 13 tahun penjara, namun di tahun ketujuh dia mendapatkan grasi. Pemberontakan Andi Azis, menurut R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia, adalah tanda nyata pertama ketidakpercayaan dan keraguan mendalam serta serius di NIT terhadap niat sentralisasi Republik Indonesia.

  • Wayang Wahyu Melakonkan Kisah Injil

    Suatu malam, Oktober 1957, M.M. Atmowiyono, guru di Sekolah Guru Bantu II Surakarta, mementaskan wayang di gedung Himpunan Budaya Surakarta. Dia melakonkan Dawud Mendapat Wahyu Keraton , yang diambil dari Perjanjian Lama. Seorang penonton, Bruder Timotheus L. Wignjosoebroto FIC, kepala SD Pangudi Luhur Purbayan Surakarta, tergerak untuk menjadikan wayang sebagai sarana menyampaikan wahyu atau firman Tuhan. Dia mendiskusikannya dengan banyak orang, termasuk Atmowiyono. Timotheus membentuk tim untuk merumuskan bentuk wayang wahyu, yang kemudian dilukis oleh Roosradi, kepala inspeksi pendidikan jasmani Kota Sala. Urusan penyusunan pedalangan, tulis Anton Sudjiono dalam Mingguan Djaja , Agustus 1963, diserahkan kepada tiga orang: M. Atmawidjaja (guru SMP), Marosudirdjo (kepala Sekolah Rakyat Kanisius), dan A. Suradi (letnan katekis tentara). Timotheus juga meminta tiga orang rohaniwan untuk duduk sebagai penasihat: Sutapanitera, S.J (Semarang), Hadisudjana M.S.F (Salatiga), dan Darmajuwana Pr. (vikaris jenderal di Semarang). Keinginan Timotheus akhirnya terwujud. Pada 2 Februari 1960, dipentaskanlah wayang di gedung Sekolah Kejuruan Kepandaian Puteri Purbayan Solo. Pementasan ini menampilkan serangkaian lakon Malaikat Mbalela , Manusia Pertama Jatuh dalam Dosa , dan Kelahiran Tuhan Yesus Kristus . Wayang ini mulanya disebut wayang Katolik. Namun, atas saran PC Soetopranito SJ, dinamakan wayang wahyu. Pada 17 Oktober 1960, wayang wahyu mendapat kesempatan tampil di depan uskup agung Mgr. Albertus Soegijapranata. Wayang wahyu rekaan Timotheus dan timnya mendapat apresiasi positif dari Soegijapranata. Bahkan, Soegijapranata memberi saran-saran supaya wayang wahyu menjadi lebih baik. Di antaranya adalah wayang wahyu sepenuhnya disetujui dan sebaiknya terus dilakukan perbaikan/percobaan di lingkungan sendiri sebelum imprimatur (pernyataan resmi otoritas gereja yang menyatakan bahwa sebuah buku atau karya-karya cetak lainnya boleh diterbitkan). Perbaikan wayang dan pementasan dilakukan. Wayangnya semula sederhana, terbuat dari karton atau kardus, lalu disempurnakan dan mulai berbahan kulit. Lakon yang dipentaskan juga bertambah yaitu Dawud-Goliat dan Sang Kristus dan Gereja Katholik . Dari sisi pementasan, satu lakon memiliki durasi tak lebih dari tiga jam, tentu tidak mengabaikan seni pedalangan dan karawitan. Wayang wahyu kerap digelar pada hari-hari besar Kristiani (Natal dan Paskah), ulangtahun gereja atau paroki, ulang tahun pastor, dan peresmian gereja. Wayang wahyu, notabene milik Katolik, telah menginspirasi wayang warta (wayang Kristen), sekitar 1970. Wayang warta kreasi dari Hadi Subroto, dengan dalang Sumiyanto, mantan pegawai dinas pendidikan dan kebudayaan, atas inisiatif Sukimin, seorang guru SD di Klaten.

  • Jelang KAA, Presiden Mengganti Nama Gedung dan Jalan di Bandung

    PADA 6 April 1955, Presiden Sukarno didampingi Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo melakukan pemeriksaan terakhir persiapan KAA. Seperti dikutip dari majalah Merdeka , 16 April 1955, Presiden Sukarno memutuskan untuk mengubah beberapa nama gedung dan jalan terkait pelaksanaan KAA. Gedung Concordia diubah menjadi gedung Merdeka, gedung Dana Pensiun menjadi gedung Dwi Warna. Sementara itu Jalan Raya Timur yang membentang di depan gedung sidang pleno, diganti menjadi Jalan Asia-Afrika. Di sepanjang jalan ini, selama KAA berlangsung, kendaraan umum, becak bahkan sepeda dilarang melintas, kecuali kendaraan milik panitia dan pejalan kaki. Sejumlah ruas jalan di Bandung yang masih bolong dan rusak, seperti jalan Braga, Merdeka dan jurusan Lembang, langsung diperbaiki sampai mulus demi lancarnya konferensi. Arus lalu lintas di dalam kota Bandung pun mengalami pengalihan. Bus luar kota yang biasanya boleh masuk ke depan stasiun, demi keamanan penyelenggaraan KAA dilarang ngetem. Presiden Sukarno agaknya tak ingin peserta perhelatan akbar bangsa-bangsa Asia dan Afrika itu kecewa. Bandung, kota di mana presiden pernah melewati masa-masa kuliahnya di TH (Technische Hogeschool, kini ITB) semakin mempercantik dirinya seiring makin dekatnya pelaksanaan KAA.   Gubuk-gubuk pedagang di pinggir jalan ditata sedemikian rupa dan sejumlah toko-toko diperintahkan untuk menata etalasenya. Presiden juga turun langsung untuk mengawasi dalam renovasi gedung-gedung yang akan dipakai sidang-sidang KAA. Dia memberi instruksi langsung kepada para arsitek mengenai desain interior gedung Merdeka, terutama renovasi balkon yang ada di tengah ruangan. “Demikianlah perobahan-perobahan yang terdapat di Bandung menjelang konperensi ini,” tulis majalah Merdeka .

  • Candrasengkala Prasasti Batutulis

    ADOLF Winkler, seorang kapten VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), dibantu seorang ahli ukur, 16 pasukan Eropa, dan 26 orang Makassar, melakukan ekspedisi untuk membuat peta lokasi “bekas kerajaan Pajajaran”. Pedomannya: hasil laporan ekspedisi pertama pasukan VOC yang dipimpin Sersan Scipio tiga tahun sebelumnya. Pada 25 Juni 1690, rombongan Winkler tiba di daerah yang kini dikenal dengan daerah Batutulis, Bogor. Mereka mendapati batu prasasti setinggi dua hasta yang memuat informasi penting terkait sejarah Sunda Kuna. Winkler mencatat temuannya dalam Daghregister 1690 . Laporan Winkler memantik perhatian orang-orang Eropa untuk menyelidiki lebih lanjut prasasti Batutulis. Hasil penyelidikan mereka hanya membahas letak dan betuk prasasti Batutulis. Penelitian epigrafis baru dilakukan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles pada 1817, yang dituangkan dalam karya monumental, The History of Java . Raffles melampirkan transkripsi prasasti Batutulis sebagai objek penyelidikannya, namun dia menyebut kondisi prasasti itu kurang baik. Sarjana Belanda, R. Friederich, menentang pendapat itu. Dalam “Verklaring van den Batoe-toelis van Buitenzorg,” dimuat jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde , I. 1853, dia menganggap prasasti itu masih layak baca. Walaupun hasil kajiannya menyisakan celah soal transliterasi, dia merupakan perintis kajian isi prasasti Batutulis. Dia membuat alih aksara dan terjemahan ke bahasa Belanda lengkap dengan transkripsinya pada 1853. Prasasti Batutulis, yang memuat teks beraksara Jawa Kuna dalam sembilan baris susunan dan berbahasa Sunda Kuna, tak seluruhnya menampilkan bentuk aksara yang tampak dan ajeg. Satu aksara di depan frasa ban yang hanya tampak tanda diakritik ( pepet ) merupakan objek yang kerap diperdebatkan dan ditafsir ulang para ahli. Pasalnya ia berkaitan dengan candrasengkala atau atau kronogram (gambaran waktu dalam penentuan angka tahun) prasasti Batutulis. Candrasengkala itu berbunyi panca pandawa ban bumi . Dalam “Het jaartal op den Batoe-toelis nabij Buitenzorg”, jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde , LIII, 1911, etnolog Belanda, CM Pleyte, menafsirkan aksara yang tidak terbaca di depan kata ban adalah huruf Ä›, kemudian dia menyisipkan huruf m , menjadi emban ( Ä›(m)ban ). Pleyte memberi taksiran bahwa kata emban beroleh angka empat berdasar jumlah panakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Dengan demikian jumlah sengakalan itu; panca (5), pandawa (5), emban (4), dan bumi (1). Jadi, prasasti Batutulis bertarikh 1455 Çaka atau 1533 M. Taksiran angka tahun Pleyte disanggah sejarawan Hoesein Djajadiningrat. Dia menjadi bumiputera pertama yang mengkaji prasasti Batutulis, dalam disertasi Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten pada 1913 di Rijksuniversiteit Leiden. Tanpa alasan pasti, Hoesein berpendapat bahwa ngemban lebih patut berangka tiga. Sehingga, angka tahun prasasti Batutulis ialah 1355 Çaka atau 1433 M. Pendapat lain dipaparkan ahli epigrafi Poerbatjaraka. Dalam “De Batoe-Toelis bij Buitenzorg” jurnal TBG (Tijdschrift Bataviaasch Genootschap), 59, 1920, dia menyebut frasa ngemban adalah dua. Dasarnya, arti kata ngemban yang bermakna menggendong atau mengemban/mengutus selalu berjumlah dua: menggendong dan yang digendong, mengutus dan yang diutus. Jadi, tarikh prasasti Batutulis ialah 1255 Çaka atau 1333 M. Hasan Djafar, ahli epigrafi yang kerap mengkaji prasasti masa kerajaan Sunda, mencoba menjernihkan silang pendapat para ahli. Dia menyelaraskan angka tahun yang dipaparkan para ahli dengan masa bertahta raja yang mengeluarkan prasasti Batutulis. Bila merujuk pendapat Hoesein, angka tahun Batutulis bertepatan dengan masa Niskala Wastukancana bertahta (1363-1467). Sedangkan pendapat Poerbatjaraka justru menempatkan prasasti Batutulis pada masa Prabu Maharaja (1350-1357) yang tewas di tanah lapang Bubat. Kedua pendapat itu, menurut Hasan, berbeda jauh dari informasi dalam prasasti. Isi prasasti Batutulis menyebut bahwa prasasti dibuat pada masa Prabu Surawisesa bertahta untuk mengenang jasa-jasa Prabu Ratu, cucu dari Niskala Wastukancana yang mangkat di Nusalarang. Prabu Ratu dinobatkan dengan nama Prabu Dewataprana, dan kembali dinobatkan bernama Sri Baduga Maharaja yang mangkat di Gunatiga. “Dari Carita Parahiyangan dan Pustaka Rajya I Bhumi Nusantara, terutama parwa IV, Sarga I, diketahui bahwa Prabu Surawisesa memerintah pada tahun 1521-1535 dan berkedudukan di Pakuan-Pajajaran,” ujar Hasan kepada Historia . “Maka angka tahun yang paling mendekati adalah angka tahun 1433 M.” Pendapat Hasan Djafar selaras dengan tafsiran Pleyte. Isi prasasti Batutulis, menurut Hasan, dapat dibagi menjadi tiga bagian: pembuka ( manggala ) yang memuat seruan wang na pun dan permohonan keselamatan kepada Dewa; tujuan ( sambandha ) pembuatan prasasti sebagai sakakala atau tanda peringatan untuk mendiang Sri Baduga Maharaja atas jasanya dalam membuat parit pertahanan sekeliling ibukota Pakuan-Pajajaran, membuat jalan yang diurug batu, membuat hutan larangan ( samida ), dan membuat Telaga Warna Mahawijaya; titimangsa atau candrasengkala bertulis panca pandawa ngemban bumi berangka 1455 Çaka atau 1533 M.

  • Sumbangsih Indonesia untuk Asia-Afrika

    PERINGATAN 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) akan berlangsung 22-24 April 2015 di Bandung, Jawa Barat. Selain melahirkan Dasa Sila Bandung, KAA menumbuhkan semangat solidaritas di antara negara-negara Asia dan Afrika. Sebagai tindak lanjut dari KAA, pada Desember 1957, Mesir menjadi tuan rumah Konferensi Setiakawan Rakyat Asia-Afrika, yang dihelat di Universitas Kairo. Dari konferensi ini terbentuklah Afro-Asian’s Peoples Solidarity Organization (AAPSO). Negara-negara peserta akan mendirikan organisasi setiakawan di wilayahnya lalu mengirimkan wakilnya ke Kairo. Di Indonesia, Komite Perdamaian Indonesia (KPI), badan nonpemerintah yang mendukung gerakan internasional pelarangan senjata atom, membentuk Organisasi Indonesia untuk Setiakawan Asia-Afrika (OISRAA) pada 1960. Para pendiri OISRAA adalah Anwar Tjokroaminoto (Partai Syarikat Islam Indonesia), KH Sirajuddin Abbas (Perti), Njoto (PKI), Mansur (PNI), dan Sunito (DPR GR). Rapat pleno menunjuk Utami Suryadarma, rektor Universitas Res Publica, sebagai ketua umum dan Ibrahim Isa sebagai sekretaris jenderal. OISRAA berbagi kantor dengan KPI di Jalan Raden Saleh No. 52, Jakarta. Isa ditunjuk sebagai wakil OISRAA di AAPSO. OISRAA aktif mengkampanyekan dan menggalang dukungan demi pembebasan Irian Barat. Antara lain melobi pemerintah Mesir untuk menutup Terusan Suez dari kapal-kapal perang Belanda yang bertujuan ke Irian. OISRAA juga membantu perjuangan kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. “OISRAA mendukung perjuangan Aljazair melawan Prancis, Vietnam Selatan melawan Amerika Serikat, dan menentang apartheid di Afrika Selatan,” ujar Vannessa Hearman, pengajar Indonesian Studies di University of Sydney, kepada Historia . Berkat lobi OISRAA, Departemen Luar Negeri RI memberi lampu hijau agar Front Pembebasan Nasional (FLN) Aljazair, Kongres Nasional Afrika, dan Front Nasional Pembebasan Vietnam Selatan membuka kantor perwakilan di Jakarta. FLN Aljazair, misalnya, punya kantor perwakilan di Jalan Serang, yang dikepalai Lakhdar Brahimi (kini diplomat senior PBB). Melalui Brahimi, bantuan Indonesia mengalir ke unit-unit perjuangan Aljazair. Menurut Ibrahim Isa, keberhasilan OISRAA tak bisa lepas dari peran Presiden Sukarno. Sukarno mengutus Dubes Keliling RI Supeni Pudjobuntoro untuk menemui Pangeran Kamboja Norodom Sihanouk. Tujuannya, Sihanouk bersedia meminta Presiden Prancis Charles De Gaulle agar melarang kaum kanan Prancis menjadikan Aljazair sebagai negara apartheid . “Mula-mula Sihanouk ragu, tapi kemudian meneruskan pesan tersebut kepada De Gaulle,” ujar Isa. Aljazair akhirnya merdeka pada Juli 1962. Terkait Afrika Selatan, lobi OISRAA ikut menentukan tindakan yang diambil pemerintah Indonesia. “Pada 19 Agustus 1963 Indonesia menutup hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Afrika Selatan serta menutup pelabuhan-pelabuhannya dari kapal-kapal Afrika Selatan,” tulis J.A. Kalley dan E. Schoeman dalam Southern African Political History .  OISRAA juga berhasil meyakinkan negara-negara Asia, Timur Tengah, dan Afrika untuk mengirimkan perwakilan ke Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) di Jakarta pada 17 Oktober 1965. Selanjutnya, selain menjadi salah satu panitia, OISRAA mengkampanyekan Konferensi Trikontinental (Asia, Afrika, Amerika Latin) di Havana, Kuba, pada 3-12 Januari 1966. Namun justru di Kuba-lah OISRAA mengalami titik balik, yang tak lepas dari dampak perubahan politik di Indonesia. Kendati OSIRAA mendapat kepercayaan dari Presiden Kuba Fidel Castro dan dianggap sebagai perwakilan Indonesia yang sah oleh negara-negara peserta konferensi, Indonesia mengirim delegasi lain yang diketuai Brigjen Latief Hendraningrat. Keterusterangan wakil OISRAA mengenai dualisme kepemimpinan di Indonesia membuat Jenderal Soeharto berang. Para anggota OISRAA harus kehilangan paspor dan tak bisa pulang ke Indonesia. Isa harus hidup di pengasingan. Di dalam negeri, para pegiatnya ditangkap, dibunuh, atau hilang seperti Njoto, salah satu ketua OISRAA. Melemahnya Sukarno ikut meredupkan OISRAA.

  • Mengupas Mitos Pohon Upas

    SEROMBONGAN pengembara berteduh di bawah pohon di sebuah tanah lapang. Semenit kemudian seorang jatuh dan mati tanpa sebab. Yang lain lari tunggang-langgang sebelum akhirnya satu persatu juga jatuh dan mati. Mereka tidak tahu pohon itu adalah pohon upas. Cerita menyeramkan pohon upas terus-menerus direproduksi, sejak kali pertama keberadaannya dicatat Friar Odoric (1286-1331), misionaris Italia yang mengunjungi Nusantara abad ke-14. Tiga abad kemudian, botanis Belanda kelahiran Jerman, George Eberhard Rumphius (1627-1702), mendapat sampel batang pohon upas ketika menjadi pegawai VOC di Makassar. Dalam bukunya yang monumental, Herbairum Amboinese , Rumphius menulis tentang pohon upas dengan menarik dan agak berlebihan. “Udara di sekitar pohon begitu tercemar sampai-sampai jika ada seekor burung hinggap di dahan pohon, burung itu akan langsung kehilangan kesadaran dan jatuh mati,” tulis Rumphius. Namun, orang paling bertanggungjawab atas kehebohan mitos pohon upas adalah seorang Jerman yang pernah tinggal di Jawa, John Nichols Foersch, dalam artikelnya di The London Magazine tahun 1783. Dia menulis bagaimana para tahanan penjara sering ditugaskan mengumpulkan getah pohon upas; hanya satu dari sepuluh orang yang bisa kembali hidup-hidup. Pohon upas juga disebut dalam buku The Botanic Garden yang ditulis tahun 1791 oleh sastrawan dan naturalis Inggris, Erasmus Darwin (1731-1802). Dalam buku puisinya yang laris terjual itu, dia meromantisasi mitos upas sebagai pohon keramat yang melahirkan monster-monster pembawa kematian. Apakah cerita pohon upas itu sepenuhnya benar? Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1781-1826) mengutus Thomas Horsfield (1773-1859), naturalis asal Amerika Serikat, untuk membuktikan mitos tersebut. Hasilnya, pohon upas memang mematikan, tapi hanya lendir getahnya. “Efek racun pohon upas itu cukup mengejutkan kala diujicobakan kepada seekor ayam dan anjing, yang pertama langsung mati kurang dari dua menit dan yang satunya dalam sekitar delapan menit,” tulis Victoria Glendinning dalam Raffles and the Golden Opportunity . Dalam laporannya pada 1812, Horsfield mengutarakan bahwa penduduk lokal sudah menyadari khasiat racun pohon upas untuk keperluan membunuh lawan-lawannya. Sekali terkena getah racunnya, orang tersebut akan kejang-kejang lalu mati. “Orang-orang Makassar, Borneo, dan pulau-pulau di daerah timur menggunakan racun itu melalui panah bambu (yang ujungnya ditajamkan), lalu kemudian mereka lepaskan dengan cara ditiup (disumpit),” demikian laporan Horsfield yang dimuat dalam Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles, F.R.S. &c suntingan Sophia Raffles. Mitos di sekitar pohon upas sudah begitu mengakar di tengah-tengah para naturalis Eropa di awal abad ke-19. Raffles dalam History of Java , William Marsden (1754-1836) dalam The History of Sumatra , dan John Crawfurd (1783-1868) dalam History of the Indian Archipelago , menyinggung keberadaan pohon upas, sekaligus menyangkal mitosnya. “Segala hal yang kita tahu mengenai kebenaran pohon upas ialah, sebuah dusta mengerikan dari orang yang menyebarkan mitos ini dan sikap prasangka buruk yang luar biasa dari mereka yang mau mempercayai khayalan sia-sia ini darinya,” tulis Crawfurd dengan ketus. Sampai sekarang, pohon upas masih dapat ditemukan di Indonesia. Di Jawa, ia lebih dikenal sebagai pohon ancar, yang akhirnya menjadi nama ilmiah untuk pohon ini, Antiaris toxicaria .

  • Jejak Kurator Indonesia

    DUNIA senirupa kontemporer Indonesia belakangan ramai dengan kehadiran kurator. Mereka muncul dari pergulatan wacana seni dan perkembangan politik-ekonomi. “Tapi kajian sejarah seni di Indonesia belum cukup membahas kehadiran kurator dan hubungannya dengan faktor-faktor itu,” kata Agung Hujatnika, dalam diskusi bukunya, Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Senirupa Kontemporer di Indonesia , di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, (20/3). Kurator, sosok penting dalam penyelenggaraan pameran seni. Tugas mereka antara lain menyeleksi, menilai, menulis, dan menampilkan karya seni dalam satu tema tertentu. “Kurator tak bisa sembarangan mengumpulkan karya,” kata Tommy F Awuy, pengajar filsafat pada Universitas Indonesia. Mereka mesti memiliki pemahaman teoritis khusus dan mendalam tentang karya seni. Kurator Hendro Wiyanto, menemukan istilah kurator dalam katalog pameran di Indonesia bertahun 1986. Saat itu, Juan Mor’O, seniman muda dari Filipina, menggelar pameran pamitan setelah ngendon beberapa lama di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. “Dia memohon seniman-seniman muda yang bekerja di Bentara Budaya Yogyakarta menjadi ‘kurator’ pameran yang tajuknya ‘Moro-Moro Dadi’ (tiba-tiba menjelma, red ). Nah, itu dia ada kurator-kurator yang mendadak jadi,” kata Hendro.Tapi Hendro tak yakin kalangan senirupa Indonesia telah menyebut dan memahami istilah kurator. Sementara Agung berpendapat praktik kuratorial di Indonesia lebih dulu muncul jauh sebelum istilah kurator populer. Dasar argument Agung terletak pada keberadaan pameran dan ruang seni seperti Bataviasche Kunstkring pada 1914 dan Keimin Bunka Shidoso pada 1942. Dengan menggelar pameran seni, lembaga ini telah menunjukkan praktik kuratorial. Antara lain mengoleksi dan merawat karya seni. Sebelum pendapat Agung muncul, M. Dwi Marianto, kurator dan pengajar pada ISI Yogyakarta, pernah mengutarakan pendapat hampir serupa. Perbedaannya, Dwi merujuk pada praktik kuratorial dalam seni batik, kriya, dan desain di Jepara. Dalam artikelnya di Kompas , 6 April 2001, Dwi menyebut R.A. Kartini sebagai “seniwati-kurator dan kurator independen, serta pelindung dan promotor seni.” Sebab Kartini menulis pengantar komprehensif dan detail tentang karya batik dalam Pameran Nasional Karya Perempuan di Belanda pada 1898. Lalu adakah tokoh kurator pemula dalam senirupa Indonesia? Agung menyebut satu nama sohor masa 1950-1960. “Dari sejumlah sosok yang layak disebut sebagai ‘proto-kurator’ pada masa itu, tercatat nama Dullah… Apa yang dikerjakan Dullah sangat memadai untuk diperbandingkan dengan cakupan kerja seorang kurator museum senirupa pada umumnya,” tulis Agung. Dullah sendiri seorang pelukis kesayangan Sukarno. Pada masa Sukarno, patronase seni mengarah pada partai politik atau badan pemerintah. Ini mempengaruhi praktik kuratorial. Negara dan badan pemerintah lebih banyak melakukan praktik kuratorial ketimbang partikelir (swasta). Perubahan muncul pada masa Soeharto. Partikelir perlahan mendominasi praktik kuratorial. Beberapa di antaranya Sanento Yuliman dan Jim Supangkat. Kekuratoran juga mulai menjadi profesi khusus di Indonesia. Ini tak lepas dari boom karya seni pada 1990-an sebagai akibat munculnya kelas ekonomi mapan di Indonesia. Galeri dan eksebisi seni pun ikut tumbuh subur. Para pemilik galeri dan penyelenggara eksebisi seni juga mulai menyadari pentingnya kehadiran kurator. Keberhasilan pameran seni dengan kehadiran kurator menjadi tak terpisahkan. Ini terbukti pada 1993 saat Jim Supangkat menjadi kurator pada Biennale di Jakarta. “Inilah titik awal untuk memahami kekuratoran senirupa kontemporer Indonesia,” kata Tommy. Sejak itu, kurator-kurator partikelir terus bermunculan hingga sekarang.

  • Penyelundup Kaum Paderi

    REPUTASI Peto Magek sebagai saudagar besar asal Tiku jelek di mata Belanda. Dia menguasai perdagangan di pantai barat Sumatra sejak awal abad ke-19, dengan pusatnya di Pasaman. Dia aktif berniaga dengan raja dan saudagar di daerah Pasaman, Tapanuli, dan Aceh sebagai mitra dagang yang utama. “Pandangan Belanda terhadap Peto Magek memang sangat negatif,” kata Gusti Asnan, guru besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang, melalui sambungan telepon kepada Historia , Selasa (17/3). Peto Magek menikahi putri Yang Dipertuan Parik Batu, pejabat tertinggi di kerajan Parik Batu, bagian Kerajaan Alam Minangkabau, yang berhulu di lereng Gunuang Pasaman. J.C. Boulhouwer, komandan pasukan Belanda, melukiskan Peto Magek dalam laporannya yang kemudian dibukukan di Amsterdam pada 1841, Herrinneringen van Mijn Verblijf op Sumatra’s Westkust gudurende de Jaren 1831-1834 . Tubuhnya tak bisa dibilang tinggi, bahkan untuk ukuran orang Melayu. Dia selalu membunyikan sendi jari tangan saat bicara. Dan bila omongan masuk, dijentikkannya jari itu. Dia selalu tersenyum licik dengan sorot mata liar. Berkali-kali Boulhouwer melontarkan sumpah serapah: Peto Magek saudagar anak haram jadah! Selain dalam laporan Boulhouwer, sepak terjang Peto Magek bertebaran dalam arsip kolonial. Salah satunya, arsip Brieven aan Minister van Kolonien betreffende de Indisch Ambtenaren, Handel, Militair 1835-1837 , yang bisa dilacak di Arsip Nasional Republik Indonesia, menyebut Peto Magek seorang smokelhandler (penyelundup). Saudagar-saudagar yang berhubungan dagang dengannya juga dicap smokelhandler . Ketika Belanda campur tangan dalam Perang Paderi (1821-1838), sebagaimana ditulis H. Mas’oed Abidin dalam Sejarah Pemikiran Islam di Minangkabau ,Peto Magek orang yang memasok meriam Inggris ke pasukan Imam Bonjol. Tak hanya dengan Inggris, Peto Magek berhasil menjalin “bisnis gelap” dengan A.F. van den Berg, mantan asisten residen Padang pertama. Van den Berg pernah jadi juru runding perdamaian antara Belanda dan kaum Paderi pada 1825 dan 1826, ketika Belanda menjalankan strategi bertahan karena sebagian besar tentaranya ditarik ke Pulau Jawa menghadapi pasukan Diponegoro. Tahu kesuksesan “perdagangan gelap” Peto Magek, pemerintah Hindia Belanda naik pitam. Pada 1831, Boelhouwer memimpin 120 tentara Belanda menyerang Ujung Rajo, pusat perdagangan kaum Paderi. Di sinilah rumah dan gudang milik Peto Magek berada. Serangan itu, sebagaimana dicatat Boelhouwer, memporak-porandakkan basis Peto Magek. Namun sang buronan gagal ditangkap. “Di rumah dan gudang Peto Magek ditemukan barang-barang yang akan diekspor dan yang baru datang. Barang-barang yang ditemukan itu hanyalah sisa dari barang yang tidak sempat dibawa lari oleh Peto Magek dan orang-orangnya,” tulis Boulhouwer. Boulhouwer membawa barang-barang tersebut sebagai rampasan perang. Saking banyaknya, tidak semua barang terbawa pasukannya. Sisanya dibakar berikut rumah dan gudang milik Peto Magek. Setelah itu, nama dan sepak terjang Peto Magek tak terdengar lagi. Arsip lawas hanya mencatat, begitu saluran niaga di pantai barat Sumatra dikuasai Belanda, saudagar Paderi pindah haluan perdagangan ke pantai timur, Selat Malaka. Jalur dagang utama ke pantai timur, menurut Gusti Asnan dalam Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera , adalah sungai-sungai yang mengalir ke sana: Sungai Rokan, Barumun, Bila, dan Panei. Hasil-hasil daerah pedalaman dibawa ke Pulau Penang dan Singapura. Dari dua bandar dagang ini pula kebutuhan kaum Paderi didatangkan.

  • Jakarta Kota Tinja

    GUBERNUR DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali mengumpat. Kali ini dalam siaran langsung ketika diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta. “Lalu apa tuduhan yang lebih keji lagi, istri saya menerima dana CSR (dana sosial perusahaan swasta) untuk main di Kota Tua. Lu buktiin, tahi, bangsat, goblok, nenek bego ,” ujarnya dengan jengkel sebelum disela. Umpatannya itu keluar terkait konflik antara dirinya dan DPRD DKI Jakarta dalam kasus APBD. Kata “tahi” bukan sekali ini keluar dari mulut Ahok. Tahun lalu, dia pernah menyebut Jakarta sebagai “Kota Tahi” kala mengomentari kepengurusan kawasan Kota Tua yang tak becus. Ternyata “tahi” memiliki ceritanya sendiri dalam sejarah Jakarta (dulu Batavia). Tepatnya ketika pasukan Mataram menyerbu Batavia pada 1629. Raja Mataram, Sultan Agung (1593-1646) berambisi menaklukkan Batavia untuk memuluskan jalan menaklukkan Kesultanan Banten. Pasukan Mataram menyerbu Batavia dua kali, tahun 1628 dan 1629. Adapun episode pertempuran yang berkaitan dengan “tahi” terjadi di salah satu menara benteng pertahanan Belanda, Hollandia , pada malam hari 20 Oktober 1629. Kisah tersebut ditemukan dalam buku karya penjelajah Belanda, Johan Nieuhof (1618-1672), Het Gezandtschap der Neêrlandtsche Oost-Indische Compagnie, aan den grooten Tartarischen Cham, den tegenwoordigen Keizer van China (Kedutaan Besar dari Kongsi Dagang Belanda Republik Belanda kepada Tartar Cham, Kaisar Cina) yang kali pertama terbit pada 1665 di Belanda. Kala itu, pertahanan Hollandia dipimpin oleh sersan asal Jerman, Hans Madelijn. Sudah kehabisan senjata untuk mempertahankan benteng dari pasukan Mataram, Hans menelurkan gagasan sinting. “Benteng itu dipertahankan oleh hanya 15 serdadu. Mereka kehabisan peluru, dan untuk bertahan terpaksa melemparkan segala macam benda yang bisa dilempar, konon termasuk isi tangki kakus,” tulis Parakitri T. Simbolon dalam Menjadi Indonesia . Sejarawan Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta , mencatat, “saat mereka diserang oleh peluru jenis baru ini, orang-orang Jawa itu langsung melarikan diri sambil berteriak jengkel, “ 0, seytang orang Hollanda de bakkalay samma tay (Oh, Belanda setan, kalian berkelahi pakai tahi!).” “Ini adalah kata berbahasa Melayu pertama yang tercatat dalam buku yang ditulis oleh orang Jerman,” tambah Heuken. Hermanus Johannes de Graaf dalam bukunya, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung mengatakan kejadian itu dijadikan dalih untuk menghentikan pengepungan. “Akan tetapi Valentijn melihat bahwa bukan karena alasan inilah mereka mundur melainkan terutama juga karena mereka melihat datangnya pasukan pembebasan dari kota menuju ke arah mereka,” tulis de Graaf mengutip dari catatan penulis Belanda, Francois Valentijn (1666-1727). Batavia gagal direbut dan prajurit Mataram pulang dengan terlunta-lunta. Orang Mataram kemudian menjuluki Batavia sebagai “Kota Tahi”, baik dalam artian umpatan maupun merujuk peristiwa konyol yang mereka alami di benteng Hollandia . Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1781-1826) dalam bukunya, History of Java , menulis bahwa julukan tersebut masih digunakan oleh orang-orang Jawa setidaknya sampai awal abad ke-19. Sebuah kampung bernama “Kota Tahi” juga pernah eksis sebelum namanya menghilang di pertengahan abad yang sama. Adapun di bekas lokasi situs benteng Hollandia kini berdiri pusat perbelanjaan Glodok.

bottom of page