Hasil pencarian
9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lagu untuk Pattie Boyd
Lagu yang ditulis George Harrison untuk The Beatles, tidak sebanyak yang ditulis John Lennon dan Paul McCartney terutama pada tahun-tahun pertama The Beatles. George nyaris hanya terlihat sebagai pemetik gitar melodi dalam lagu-lagu The Beatles. Meski George bukan tipe pemain gitar virtuoso, lagu-lagu The Beatles bisa hidup dengan permainan gitarnya. George baru membuat sejarah dalam penulisan lagu pada 1969, tahun-tahun terakhir The Beatles, sebelum raksasa musik pop itu redup pada 1970-an. Ada karya George yang keluar dengan gemilang tahun itu, Something dalam album Abbey Road . “ Something , lagu George pertama yang dipilih untuk single Beatles sebagai sisi-A,” tulis Philip Norman dalam Shout! The True Story of The Beatles . Album itu dirilis pertama kali pada 26 September 1969, lebih dari setengah abad silam. Something in the Way She Moves . Attracts me like no other lover . Begitu bunyi dua baris pertama lagu tersebut. Kalimat pertama lagu itu mirip dengan apa yang pernah dinyanyikan oleh James Taylor. Lagu karya George itu kerap dikaitkan dengan istri George ketika lagu ini ditulis, yaitu Pattie Boyd alias Patricia Anne Boyd. “Dia mengatakan kepada saya, dengan cara yang sebenarnya, bahwa dia telah menulisnya untuk saya,” kata Pattie Boyd dalam Wonderful Tonight George Harrison, Eric Clapton, and Me . Pattie menganggap lagu ini begitu cantik. Sebagaimana yang dilihat George pada dirinya. Bagi George, Pattie memang “sesuatu”. Baca juga: Razia Rambut The Beatles dan Sasak Pattie hanya setahun lebih muda dari George. Ketika mereka bertemu, George sudah terkenal sebagai gitaris The Beatles, sementara Pattie adalah model kelas atas. Pattie ikut muncul sebagai salah satu bidadari sekolah dalam film The Beatles, A Hard Day’s Night (1964). George dan Pattie mulai berkencan ketika Pattie baru berusia 19 tahun. Pattie kelahiran 17 Maret 1944, sedangkan George kelahiran 25 Februari 1943. A walnya Pattie menolak George karena masih terlibat hubungan dengan fotografer Eric Swayne. S etelah hubungan itu selesai , mereka baru berkencan. Kencan-kencan mereka berlanjut sampai pernikahan pada Januari 1966 ketika keduanya hampir berusia 23 dan 22 tahun. Pasangan itu lalu tinggal di Kinfauns, Surrey. Mereka juga sempat menikmati hebatnya mabuk LSD pada masa-masa mesra mereka. Pasangan ini berkawan dengan gitaris Eric Clapton. Meski band Eric tak sepopuler The Beatles, band yang pernah diikutinya dianggap band berpengaruh dalam musik pop. Eric yang lahir pada 30 Maret 1945 pernah bermain bersama John Mayall & the Bluesbreakers, The Yardbirds, Derek and the Dominoes, dan tentu saja Cream. Eric juga pernah membantu rekaman The Beatles dengan isian gitarnya pada lagu While My Guitar Gently Weeps dalam The White Album. Baca juga: Van Halen, Van Banten Meski berkecukupan, pasangan George dan Pattie tidak bisa bertahan lama dalam status pernikahan. Perceraian pun terjadi. Banyak yang menyebut telah terjadi cinta segitiga antara George, Pattie, dan Eric. “Eric Clapton telah tergila-gila dengan Patti bertahun-tahun sebelumnya, tetapi, sebagai sahabat George, merasa terhormat untuk tidak mengejarnya,” tulis Philip Norman. Meski begitu, Eric diam-diam mencintainya dengan menuliskan lagu untuk Pattie berjudul, Layla. Eric merilis lagu itu bersama Derek and the Dominoes dalam album Layla and Other Assorted Love Songs yang diluncurkan pada November 1970. Ada lirik dalam lagu itu:“Aku mencoba memberimu penghiburan... ketika orang tuamu mengecewakanmu…” Ketika lagu itu dirilis, Pattie masih berstatus istri George. Pattie meninggalkan George pada 1974. Kala itu George sudah sukses bersolo karier dan The Beatles sudah lama vakum. Baca juga: Eddie van Halen dan Teknik Gitar Tapping Setelah bercerai dengan George, Pattie kemudian dekat dengan Eric. Eric yang setahun lebih muda dari Pattie, akhirnya menikahi Pattie pada 1979. George hadir dalam pernikahan mereka. Mereka bertiga terus bersahabat. “Jika istri saya akan lari dengan seseorang, aku lebih suka dengan pria yang kucintai,” kata George. Kala itu George sudah menikah dengan Olivia Trinidad Arias dan mendapat anak lahi-laki yang dikenal sebagai Dhani Harrison pada 1978. Seperti George, Eric juga sedang produktif di era 1970-an. Sama seperti George, Eric juga terinspirasi oleh Pattie. Dari tangan Eric lahir lagu Wonderful Tonight . Lagu itu ditulis pada 1976 dan dirilis pada 1977. Eric menulisnya sebelum mereka berangkat menghadiri sebuah pesta dimana hadir Paul dan Linda McCartney. Kisah yang dialami Pattie pun terulang lagi, dituliskan sebuah lagu. Seperti masa bersama George dulu. Seperti Something , Wonderful Tonight menjadi lagu yang banyak diputar. Eric pun lebih diingat karena Wonderful Tonight oleh para pecinta musik setelah era 1970-an daripada kiprahnya bersama Cream yang sebetulnya cukup dahsyat. Baca juga: Gordon Tobing dan Gitarnya Apa yang dialami bersama George, terulang lagi bersama Eric. Pattie harus bercerai lagi pada 1989. Eric yang masih asyik dengan narkoba melakukan perselingkuhan meski dalam lagu katanya Pattie sangat indah. Eric dan Pattie pernah mencoba punya anak, namun Pattie keguguran. Setelahnya Eric malah memiliki anak dari Lory Del Santo, yakni Conor, pada 21 Agustus 1986. Namun, Conor tidak hidup lama. Dia terjatuh dari lantai 53 di Manhattan pada 20 Maret 1991. Keguncangan hidup Eric tertuang dalam lagu Tears in Heaven. Pattie melanjutkan hidupnya.Hubungannyadengan Rod Westonberumur panjang, sejak 1991 tapi baru menikah pada 2015. Kala itu George sudah lebih dari 14 tahun meninggal dunia pada 29 November 2001. George adalah anggota The Beatles kedua yang tutup usia menyusul John Lennon pada 1980. Untuk mengenang George kemudian diadakan konser . Dhani Harrison, yang sudah jadi seniman multitalen ta , ikut bermain gitar. Tak hanya Ringo Star dan Paul McCartney (dua mantan The Beatles yang tersisa), Eric Clapton juga ikut bermain. Dengan sebuah ukulele, lagu Something, yang dulu ditulis Geoge untuk Pattie , dinyanyikan oleh Paul McCartney. Ringo Star meng g ebuk drum dan Eric memainkan solo gitarnya sambil menyanyikan Something . *
- Black Adam Memburu Dendam
EKSPRESI arkeolog Adrianna Tomaz (diperankan Sarah Shahi) yang menyunggingkan senyum seketika berubah pahit tak lama setelah ia mendapatkan Mahkota Sabbac dari sebuah gua. Ia dijebak rekannya sendiri, Ishmael Gregor (Marwan Kenzari), yang berkomplot dengan pasukan Intergang. Namun, Adriana tak patah arang. Kala sudah ditodong senjata, ia merapal mantra berbahasa Kahndaq kuno sembari memegang sebuah prasasti. Hasilnya, boom ! Sesosok perkasa hadir usai terjadi ledakan ajaib itu dan membabi buta menghabisi nyawa pasukan Intergang. Adrianna mengenali sosok itu sebagai Teth Adam (Dwayne Johnson), eks-budak negeri Kahndaq dari 2.600 SM yang dahulu mendapat kekuatan super dari Penyihir Shazam (Djimon Honsou) untuk mengakhiri rezim tirani Raja Akh-Ton. Adrianna punya harapan besar dengan kembalinya Teth Adam yang –lantas punya sebutan baru Black Adam– bakal mengulang hal serupa di masa kini, yakni dibebaskannya rakyat setempat dari cengkeraman sindikat kriminal Intergang. Namun laiknya superhero Superman yang punya kelemahan dengan material Krypton, Black Adam pun punya kelemahan terhadap batu mulia Eternium. Ia terluka ketika seorang pasukan Intergang menembakkan roket yang mengandung Eternium. Menjadi jelas bahwa Black Adam yang mulanya seperti Superman –mampu melesat ke angkasa dan kebal segala macam senjata– tetap butuh bantuan. Di sinilah kemudian empat serangkai Justice Society: Kent Nelson/Doctor Fate (Pierce Brosnan), Carter Hall/Hawkman (Aldis Hodge), Al Rothstein/Atom Smasher (Noah Centineo), dan Maxine Hunkel/Cyclone (Quintessa Swindell) mengambil peran. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Searah jarum jam: Doctor Fate, Hawkman, Cyclone, dan Atom Smasher ( dc.com ) Keseruan-keseruan itu sudah langsung dimunculkan sutradara Jaume Collet-Serra dalam film superhero bertajuk Black Adam. Film ke-11 dari franchise DC Extended Universe (DCEU) ini sekaligus jadi spin-off film Shazam! (2019). Kehadiran para pahlawan Justice Society itu juga menjadi penting karena kekuatan yang dimiliki Black Adam ternyata membuatnya hanyut dalam sifat destruktif, nafsu membalaskan dendam dan naluri membunuh. Sementara, Doctor Fate dkk. merasa kekuatan super yang jadi anugerah itu tak semestinya digunakan untuk membunuh dan mengentaskan dendam mendiang putra Black Adam, melainkan untuk menegakkan keadilan. Black Adam mengusung dendam pada Intergang dan terutama Ishmael, mengingat Ishmael adalah keturunan terakhir Raja Akh-Ton. Ribuan tahun silam, pasukan Raja Akh-Ton membunuh putra Black Adam, Hurut. Di sisi lain, Adrianna dan Justice Society juga punya kepentingan agar Ishmael tak dibunuh. Pasalnya jika Ishmael dibunuh saat sedang menguasai Mahkota Sabbac, ia bakal bangkit menjadi Iblis Sabbac yang bakal mengancam kedamaian Kahndaq juga seantero muka bumi. Bagaimana cara empat serangkai Justice League itu menanamkan awareness itu pada Black Adam yang kian lama jadi antihero? Seperti apa pula intrik dan aksi-aksi mereka mencegah Iblis Sabbac menghancurkan dunia? Saksikan kelanjutannya di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Adegan Kent Nelson (kiri) alias Doctor Fate memperingatkan Teth Adam bahwa pahlawan tidaklah membunuh siapapun ( dc.com ) Adegan-Adegan Kekerasan yang Menjemukan Sudah sekira 15 tahun proyek Black Adam yang juga memunculkan karakter-karakter Justice Society didambakan Dwayne “The Rock” Johnson tertunda. DC dan Warner Bros kala itu lebih disibukkan dengan trilogi The Dark Knight (Batman, 2005-2012) hingga Justice League (2017). Padahal menilik historisnya di berbagai komik, Justice Society (muncul 1940) merupakan pendahulu Justice League (1960). Sinematografinya juga tergolong menarik. Hampir sepanjang dua jam film disesaki efek visual CGI yang sudah tak diragukan lagi kecanggihannya. Hanya saja tone filmnya yang didominasi atmosfer muram dan warna kuning serta hijau mengikuti latarbelakang kota Kahndaq, nyaris membosankan jika tak diselingi warna-warna merah dan biru yang terdapat dalam seragam para superhero Justice Society dan efek visual kekuatan petirnya Black Adam. Sementara kemasan music scoring -nya cukup bervariatif. Komposer Lorne Balfe memadukan iringan orkestra kelam dan megah dengan beberapa lagu populer semisal “Bullet with Butterfly Wings” (Smashing Pumpkins), “Paint It Black” (The Rolling Stones), dan “Power” (Kanye West Feat. Dwele). Baca juga: The Batman dan Sisi Kelam Kehidupan Nyata Akan tetapi plot cerita Black Adam menuai kritik terlepas dari penampilan sang aktor utama yang patut dipuji. Selain minim plot twist , ceritanya mudah diprediksi, dan di beberapa bagian menjadi “nanggung” hingga menjadikannya nyaris menjadi cerita pahlawan untuk anak-anak. Terlebih, setiap alur ceritanya sarat adegan kekerasan yang berlebihan. Tak heran bila Black Adam diberi kategori “PG 13”. “Dari adegan ke adegan selalu ada kekerasan seperti video game saja lewat plot yang di satu sisi tanggung dan di sisi lain berlebihan. Di satu titik juga ketika penonton bisa lelah dengan semua kehancuran yang ada, mereka menampilkan tengkorak yang bangkit sebagai legion dari neraka, benar-benar seperti yang kita inginkan,” tulis kritikus Mark Kennedy menyiratkan sarkasme di kolom Associated Press , 19 Oktober 2022. Rupa-rupa adegan Black Adam yang sarat kekerasan ( warnerbros.com ) Matt Singer mengungkapkan hal senada di kolomnya di ScreenCrush , 18 Oktober 2022. Namun di sisi lain ia juga melihat Black Adam jadi potensi besar untuk melihat arah baru DCEU ke depannya. Terlebih di film ini DC juga menyelipkan banyak “ easter eggs ” alias pesan-pesan tersembunyi tentang masa depan Black Adam dan DCEU. “Disayangkan, 15 tahun prosesnya menghasilkan film yang sedang-sedang saja, film yang tak merefleksikan ratusan jam penulisan dan draft skenario tak terhingga. Akan tetapi di lain pihak setelah (durasi) dua jam setidaknya Anda bisa melihat arah yang jelas untuk masa depan sinematik DC.” Baca juga: Serba-serbi Superhero Pertama Asia Kendati begitu, Black Adam bukan tak bisa dinikmati para fans DC. Plot ceritanya tidak se- random dan masih lebih logis ketimbang alur cerita film-film superhero tanah air seperti Gundala (2019), Satria Dewa: Gatotkaca (2022), atau mungkin saja Sri Asih yang –bakal rilis pada November 2022– mesti diakui masih tertinggal di beragam aspek kualitas. Tak heran bila Black Adam melesat ke urutan puncak Box Office selama dua hari. “Ini fenomenal 90% audience score untuk #BlackAdam sangat memuaskan untuk banyak alasan. 15 tahun. Terima kasih atas cinta dan dukungan kalian semua. Pada akhirnya yang terpenting bagi saya adalah mengirimkan kebahagiaan buat banyak orang. Dan itu yang akan selalu saya perjuangkan,” cuit Dwayne Johnson menanggapi banjir kritik, di akun Twitter -nya, @TheRock , 23 Oktober 2022. Black Adam dari Marvel Family Teth Adam alias Black Adam diklaim sebagai karakter berkekuatan super terkuat di muka bumi. Dari waktu ke waktu, karakternya acap dibandingkan dengan Superman yang juga dianggap sebagai superhero terkuat di alam semesta. Teth Adam tinggal mengucapkan kata “Shazam!” untuk bisa bertransformasi. Lema itu merupakan akronim lima dewa dalam mitologi Mesir kuno, yakni: Shu (kekuatan stamina tak terbatas), Horus (kekuatan kecepatan supernatural), Amon (ketangguhan super), Zehuti (kekuatan pengetahuan luas), Aten (kekuatan petir ajaib), dan Mehen (kekuatan psikis dan spiritual untuk keberanian). Karakternya diciptakan penulis Otto Oscar Binder dan ilustrator Charles Clarence Beck pada 1940-an. Mulanya Binder dan Beck membidani kelahiran Black Adam sebagai sosok supervillain alias penjahat super yang jadi musuh bagi serangkai pahlawan super Marvel Family (kelak disebut Shazam Family/Shazamily) yang beranggotakan Billy Batson/Captain Marvel (kini Shazam), Mary Bromfield/Mary Marvel (kini Lady Shazam), dan Freddy Freeman/Captain Marvel Jr. (kini Shazam Jr.). Baca juga: Captain Marvel , Antara Nostalgia dan Isu Feminisme Kemunculan perdana Black Adam di komik Marvel Family edisi pertama pada 1945 ( majorspoilers.com ) Maka pakaian Black Adam dibuat mirip dengan Marvel Family, hanya berbeda warna: pakaian ketat hitam dengan logo petir di dada. Itu sebagai antithesis Marvel Family yang berpakaian ketat merah juga dengan logo petir di dada. Menariknya, pakaian Black Adam nyaris tak pernah berubah jenis dan warnanya. Nick Jones dalam DC Comics Covert Art: 350 of the Greatest Covers in DC’s History mencatat, karakter Teth Adam/Black Adam paling jarang dimunculkan baik di masa pra maupun pasca-DC. Black Adam ditampilkan pertamakali di edisi perdana komik The Marvel Family terbitan Fawcett Comics , pada 21 November 1945,. Karakternya kemudian comeback dengan penulis dan ilustrator baru pada 1973 di komik DC, Shazam!, edisi kedelapan yang rilis pada 10 Desember 1973. Binder dan Beck mengisahkan Black Adam yang sumber kekuatannya disebutkan di atas, berubah menjadi tiran bengis di masa Mesir Kuno. Penyihir Shazamlah yang kemudian bisa menaklukkan dan mengasingkan Black Adam ke luar angkasa. Baca juga: Aquaman Sang Penguasa Tujuh Lautan Black Adam di era DC Comics ( comic.org ) Black Adam baru bisa kembali ke bumi pada 1945 atau lima ribu tahun kemudian. Akan tetapi dendam dan haus kekuasaannya harus bentrok dengan trio pahlawan Captain Marvel, Mary Marvel, dan Captain Marvel Jr. “Diciptakan oleh Otto Binder dan C. C. Beck, Black Adam hanya muncul sekali untuk bertarung dengan Shazam! di (era komik) Golden Age (1945), dan hanya muncul lagi beberapa kali saja di Bronze Age (1973). Pengembangan besar karakternya baru terjadi pada 2000-an ketika ia dikisahkan sebagai penguasa Kahndaq,” tulis Jones. Begitu lamanya Black Adam absen di belantika komik juga terpengaruh dari bubarnya Fawcett Comics pada 1953 dan trademark “Captain Marvel” yang diambil Marvel Comics. Maka sejak 1972 DC memberi nama baru bagi Marvel Family: Shazam Family. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker Setahun berselang, DC kembali memunculkan karakter Black Adam di komik Shazam! edisi kedelapan. Di kemunculan keduanya, Black Adam dibuat sebagai penjahat yang lebih perkasa dan ambisius. “Black Adam mengklaim diri sebagai sosok pahlawan terhebat di dunia. Akan tetapi superhero Shazam mengetahui lebih baik bahwa dia bukan pahlawan. Seringkali Black Adam jauh dari kata mulia saat mengambil jalan demi mengentaskan ambisinya. Tak peduli seberapa hebat kekuatannya, Black Adam tak pernah merasa puas,” tulis Matthew K. Manning dalam Black Adam: An Origin Story. Pengembangan cerita pada karakternya baru terjadi pada transisi 1999-2000. Mulai dari komik JSA (Justice Society of America, red. ) edisi keenam terbitan 1999, Black Adam mulai berubah dari penjahat menjadi antihero, dari yang memusuhi jadi beraliansi dengan Justice Society, sebagaimana yang digambarkan dalam film Black Adam . Deskripsi Film: Judul: Black Adam| Sutradara: Jaume Collet-Serra | Produser: Beau Flynn, Hiram Garcia, Dany Garcia, Dwayne Johnson | Pemain: Dwayne Johnson, Sarah Shahi, Pierce Brosnan, Aldis Hodge, Marwan Kenzari, Noah Centineo, Quintessa Swindell, Bodhi Sabongui, Henry Cavill | Produksi: DC Films, New Line Cinema, Seven Bucks Productions, FlynnPictureCo. | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Superhero | Durasi: 124 menit | Rilis: 21 Oktober 2022.
- Dulu Sersan Bisa Terbangkan Pesawat
Ismail Marzuki (1914–1958), komponis produktif yang peka dengan zaman, termasuk pada kehidupan tentara kelas bawah yang jumlahnya sangat banyak. Barangkali dia hendak membesarkan hati para kopral dengan lagu Kopral Jono . Oh, Kopral Jono Gadis mana yang tak rindu akan dikau Dalam lagu itu, Kopral Jono digambarkan sebagai sosok yang kuat, seperti pada lirik Gayamu yang perkasa, mirip dengan panglima . Lirik Dengan jambulmu semua gadis bertekuk lutut menjelaskan sosok gagah ini punya model rambut berjambul, tren rambut laki-laki era 1950-an. Era 1950-an adalah era pergolakan daerah dan keamanan di luar kota diganggu gerombolan bersenjata. Tidak adanya rasa aman membuat rakyat membutuhkan perlindungan. Sehingga, di kalangan masyarakat, kopral termasuk menantu idaman yang bisa melindungi. Sejarawan Anhar Gonggong menyebut ada tiga pangkat idaman mertua di era 1950-an, yaitu kopral, sersan, dan sersan mayor, meski gajinya tak sebesar zaman Belanda. Baca juga: Kopral Anthony Menjebol Benteng Salubanga Jika kopral saja terlihat kuat, apalagi pangkat diatasnya. Tak heran jika kawin dengan anggota tentara menjadi harapan untuk hidup aman. Tak hanya pada zaman dulu, sekarang juga abdi negara apapun jenisnya dianggap punya masa depan karena mendapat uang pensiun dari negara untuk hari tua. Sedari dulu seorang sersan biasanya memimpin sebuah regu. Anggotanya sekitar 8 hingga 15 orang. Bedanya, setelah era 1960-an seorang sersan di Angkatan Darat yang sudah senior biasanya dijadikan Bintara Pembina Desa (Babinsa). Ini terjadi sampai sekarang. Gaji Sersan Tinggi Pangkat letnan keatas bukannya tidak dilirik. Pangkat ini biasanya sudah diambil golongan priayi baru. Pada 1950-an, kebanyakan letnan dan pangkat diatasnya berasal dari golongan priayi. Bagi pemuda golongan priayi, menjadi letnan di zaman Belanda sangat sulit, meski punya ijazah setara SMA yang disyaratkan, yaitu HBS (Hogere Burger School)atau AMS (Algemene Middelsbare School). Hanya sedikit pemuda Indonesia yang bisa jadi letnan dalamAngkatan Darat bernama KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger). Ada masa serdadu menjadi profesi yang hina dalam masyarakat pribumi pada masa kolonial Belanda. Haji Daeng Mangemba dalam Takutlah pada Orang Jujur menyebut masyarakat Sulawesi Selatan memandang serdadu sebagai orang yang jatuh martabatnya. Hanya yang miskin tanpa jalan dan frustrasilah yang mau menjalani profesi ini. Baca juga: Oerip Soemohardjo Bapak Tentara yang Dilupakan Pada 1910, orangtua Oerip Soemohardjo tidak bisa menerima anaknya masuk KNIL dan meninggalkan sekolah pamongpraja di Magelang, meski Oerip akan menjadi letnan. Bahkan, setelah Indonesia merdeka, Oerip berpangkat letnan jenderal. Orangtua Gatot Soebroto dan keluarga Boediardjo juga tak suka anak mereka jadi tentara kolonial. Mereka kemudian menjadi perwira tinggi TNI. Tentu saja ada masa jadi tentara merupakan profesi yang bagus. Setelah jumlah pegawai negeri sipil kolonial bertambah dan depresi ekonomi yang melanda dunia tahun 1930, sebagian pemuda bahkan orangtua rela anaknya menjadi tentara. Dengan catatan pangkat dan gajinya tidak rendah. Tak heran jika pemuda Indonesia yang masuk Akademi Militer Belanda di Breda pada 1930 jauh lebih banyak daripada dekade sebelumnya. Baca juga: Mantan KNIL yang Menolak Masuk TNI Tak bisa letnan, sersan pun boleh. Bagi kebanyakan pemuda Indonesia, terutama yang hanya punya ijazah setara SD, entah itu ELS (Europeesche Lagere School), HIS (Hollandsche Inlandsche School), atau Schakel School, menjadi sersan sudah cukup baik dalam jenjang karier di KNIL. “Rasanya kalau sudah jadi sersan sudah merupakan prestasi yang dapat dibanggakan,” kata Jakasa Agung Soegih Arto dalam Sanul Daca . Soegih Arto punya ijazah setingkat SMP, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sebelum 1942. Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi menyebut seorang sersan KNIL sudah sangat berharga di mata masyarakat. Gajinya 60 gulden sebulan dan mendapat jatah rumah tipe G. Itu belum termasuk jaminan kesehatan dan pakaian. Gaji militer Belanda biasanya naik berdasarkan masa dinas, tidak hanya berdasar kenaikan pangkat. Baca juga: Martir Letnan Kadir dan Seloroh Kopral Panamo Pada zaman Belanda, menurut Raden Soeprono dalam autobiografinya, Selangkah Tapak Tiga Zaman: Mahasiswa Pejuang Kedokteran , antara 1930 hingga 1942 harga emas antara 1,5 hingga 2 gulden tiap satu gramnya. Satu gulden nilainya 100 sen dan dengan uang sebesar 6 sen kita bisa membeli satu kilogram beras. Beberapa tahun terakhir ini gaji dan tunjangan seorang sersan dua berkisar Rp2.103.700 hingga Rp3.457.100. Sementara harga emas hari ini sekitar Rp930.000 per gram. Katakanlah seorang sersan TNI punya pemasukan Rp3.000.000 sebulan, mereka hanya bisa membeli 3 gram sebulan dengan gajinya. Sementara itu, sersan KNIL bergaji 60 gulden dengan harga emas pada masa itu katakanlah 2 gulden per gram, maka mereka bisa membeli 30 gram emas tiap bulan. Dengan modal ijazah SD, Gatot Soebroto, Soeharto, dan lainnya bisa jadi sersan KNIL. Soeharto muda jelas senang dengan pangkat itu, tak hanya punya gaji yang lebih dari cukup untuk hidup tapi juga disegani orang. Meski masih ada yang menganggap tentara kolonial adalah profesi hina. Sersan Terbangkan Pesawat Selain Kopral Jono , Ismail Marzuki juga bikin lagu berjudul Sersan Mayorku untuk menunjukkan kehebatan seorang sersan mayor. Kalau ibuku pilih menantu Pilihlah dia sersan mayorku Pria idaman, hasratnya hatiku Juru terbang angkatan udara negaraku Lirik Juru terbang angkatan udara negaraku sebetulnya tidak berlebihan sebelum 1950-an. Sekarang juru terbang di Angkatan Udara berpangkat letnan ke atas. Setidaknya harus jadi letnan dulu baru masuk sekolah penerbang. Mustahil zaman ini menemukan seorang sersan TNI AU punya pendidikan dan izin menerbangkan pesawat. Tapi pada masa Ismail Marzuki masih bocah di zaman Belanda, seorang sersan memang bisa menerbangkan pesawat. Baca juga: Sersan Jacob Johannes Pilot Bumiputra Pertama “Sekarang mulai ada juru terbang ( vliegenier ) bumiputra. Adapun yang mendapat kehormatan memperoleh nama vliegenier itu yang pertama-tama ialah tuan Jacob Johannes, orang Ambon, Inlandsch Sergeant Schrijver (sersan jurut tulis bumiputra),” terang surat kabar Pandji Poestaka , 24 Januari 1928. Jadi, sembilan bulan sebelum Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda, sudah ada pemuda Indonesia yang menjadi penerbang. Sersan Jacob Johannes adalah anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Satu dekade kemudian, ada sersan lain yang belajar terbang, juga orang Ambon, yaitu Sersan Julius Tahija. “Setelah beberapa bulan pelatihan infanteri, saya mulai sekolah penerbangan di Jawa Barat,” kata Julius Tahija dalam Horizon Beyond . Pangkat Tahija waktu itu belum letnan dan baru masuk militer pada 1937. Baca juga: Tinggi Badan Pas-Pasan Tapi Jadi Jenderal KNIL punya sekolah penerbang di Kalijati, Subang. Sulit menemukan juru terbang di bagian penerbangan KNIL. Di bagian itu, orang Indonesia hanya jadi penjaga, juru ampelas atau tukang kayu. Paling hebat adalah Ahmad bin Talim yang bisa merakit pesawat terbang ringan. Jadi, penerbang macam Letnan Suryadi Suryadarma jelas luar biasa. Julius Tahija (1916–2002) rupanya tidak mengikuti jejak Sersan Jacob Johannes. Suatu kali, ketika latihan terbang, Tahija dipanggil komandan sekolah penerbang. “Terbangmu tidak begitu baik. Kami akan memindahkanmu kembali ke infanteri,” kata perwira Belanda itu kepada Tahija. Tahija merasa terbangnya biasa saja dan dia mencurigai ada masalah lain yang membuatnya harus keluar dari bagian penerbangan yang merupakan korps elite. Dia menduga karena pamannya, Abraham Tahija, adalah orang pergerakan nasional Indonesia. Baca juga: Suryadi Suryadarma dalam Operasi Mengebom Kapal Jepang Setelahnya Sersan Julius Tahija masuk Korps Marsose di Aceh dan dalam Perang Dunia II bergerilya di Saumlaki, Maluku Tenggara. Berkat aksinya di Maluku Tenggara, dia mendapat bintang kesatria Militaire Willemsorde dan naik pangkat jadi letnan. Setelah berpangkat kapten, dia pernah jadi menteri sosial Negara Indonesia Timur. Lama setelah gagal jadi sersan penerbang, Tahija pernah jadi pemilik Bank Niaga serta pembesar Caltex dan Freeport di Indonesia. Sekitar 1938, Boediardjo yang lulusan MULO Magelang juga sangat ingin menjadi sersan penerbang di KNIL. Dia mendaftar lalu pergi ke Cimahi. “Sesampai di Cimahi, ternyata badan saya terlalu pendek. Tidak memenuhi syarat untuk jadi pilot yang minimal harus 165 cm itu,” kata Boediardjo. Akhirnya, Boediardjo rela jadi serdadu dengan upah 1 guden 76 sen seminggu. Dia hanya jadi kopral juru radio. Namun, dia kemudian menjadi marsekal di Angkatan Udara Republik Indonesia.*
- A.A. Maramis Bertemu Belahan Jiwa
PEREMPUAN tua blasteran Indo berbusana hitam-hitam itu duduk di kursi. Matanya memandang sebuah foto yang terpajang di samping pajangan bunga anggrek ungu di atas meja. Foto itu memuat Alexander Andries Maramis (Alex Maramis). Perempuan tua itu Elizabeth Marie Diena Veldhoedt atau karib disapa Beth, istri Alex. Di hadapannya duduk dua wartawan majalah Kartini , Titie dan Lies Said. ”Saya akan tetap di sini mendampingi Alex, sampai hayatku terlepas dari badan,” tutur Beth kepada dua wartawan tersebut dalam Kartini edisi nomor 73, Agustus 1977. Beth masih tidak percaya bahwa Alex telah meninggalkannya untuk selamanya. Alex sudah lama sakit-sakitan semenjak tinggal di Lugano, Swiss. Namun setelah kembali ke Jakarta pada Juni 1976, keadaan Alex perlahan membaik. Sampai Alex jatuh sakit lagi pada 17 Mei 1977. Sejak itu, keadaan Alex semakin memburuk hingga menemui ajalnya pada 31 Juli 1977. Beth masih teringat-ingat tiap babak perjalanan hidupnya dengan Alex. Kehidupan rumah tangga Alex dan Beth terbilang harmonis. Sepanjang pernikahannya, Beth telah mengikuti jalan hidup Alex, mulai dari mengarungi bahaya pada masa awal kemerdekaan hingga hidup kesepian di Lugano. “Rasanya, sepanjang kehidupan perkawinan kami, yang terasa hanya manisnya. Saling pengertian, saling menghargai dan saling menghayati terutama saling mencintai adalah resep perkawinan kami,” ucap Beth kepada dua wartawati itu. Bertemu Belahan Jiwa Usai lulus dari Universitas Leiden pada 1924, Alex kembali ke Hindia Belanda. Bermodal gelar Meester in de Rechten yang digondolnya, Alex bertekad untuk menjadi advokat partikelir di tanah Jawa. Karir Alex sebagai advokat yang independen dimulai pada medio 1920-an di Semarang. Alex pun mulai banyak menangani kasus. Dari sekian banyak kasus yang ditanganinya, ada satu kasus yang terpenting, kasus perceraian. Kasus tersebut membawa Alex ke babak baru hidupnya. Suatu hari pada Oktober 1928, seorang perempuan Indo datang meminta bantuan hukum pada kantor Alex Maramis. Nama perempuan itu Elizabeth Marie Diena Veldhoedt (Beth). Dia beranak satu dan sedang menghadapi keretakan rumah tangga. Koran De Locomotief 2 November 1928 menyebut Beth ingin bercerai dari suaminya, Ludovik Bartolomeus Tadic, seorang indo turunan Perancis. Keduanya bermukim di Pati, Jawa Tengah. Koran tersebut menyebutkan bahwa Lady Elisabeth Marie Diena Veldhoedt meminta juru sita di Semarang Cornelis Mirande untuk memanggil Ludovik Bartolomeus Tadic untuk menghadiri sidang umum Majelis Peradilan Semarang pada 8 Maret 1928. Deli Courant edisi 4 Juni 1928 menyebutkan bahwa Beth mengajukan cerai karena Ludovik kedapatan selingkuh. Perselingkuhan adalah tindakan tak termaafkan dalam pandangan Beth yang merupakan seorang Kristen taat. Beth telah lama mengusahakan perceraian itu, namun belum membuahkan hasil. Hingga dia mendatangi kantor tempat Alex Maramis bekerja. Kota Pati tempat Beth bermukim termasuk wilayah kerja Alex sebagai advokat yang berkedudukan di Semarang. Mendengar keluhan Beth, Alex pun membantu mengurus kasus tersebut. Ujung keputusan pengadilan adalah mengabulkan permintaan cerai Elizabeth. Hubungan Alex dengan Beth tak berhenti di situ. Arkian perceraian Beth, hubungan pengacara dengan klien berubah menjadi hubungan yang lebih personal. Benih-benih cinta mulai tumbuh. Saat bersamaan, karier Alex sebagai advokat membawanya hijrah ke Sumatera, tepatnya di Kota Palembang. Wilayah kerja Alex di Palembang mencakup Jambi dan Lampung. Semasa Alex di Palembang, keduanya telah menjalin hubungan asmara. Hubungan mereka kemudian berujung kepada pernikahan. FEW Parengkuan dalam bukunya A.A. Maramis, S.H., menyebut Alex dan Beth menikah pada 1928. Namun keterangan berbeda datang dari Bataviaasch Nieuwsblad . Koran tersebut pada edisi 15 September 1930 mencantumkan iklan baris tentang Alex dan Beth yang baru saja bertunangan. Disebutkan pula bahwa pernikahan itu akan dilaksanakan pada 3 Oktober 1930 di kota Pati Jawa Tengah. ”Pemberitahuan Unik dan Umum: telah bertunangan Tuan A A. Maramis dan Nona Elizabeth Veldhoedt. Akad nikah 8 Oktober 1930 di Pati,” tulis iklan tersebut. Mengarungi Lautan Rumah Tangga Pernikahan membawa persoalan baru bagi Alex dan Beth. Salah satunya menyangkut ras Beth yang blasteran Belanda pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah Jepang memang dikenal sangat anti Eropa. Firman Lubis, dalam Kenangan Semasa Remaja bercerita tentang tindakan Jepang terhadap orang Indo dan Eropa. Orang-orang Belanda asli dimasukkan ke dalam kamp di Kampung Cideng, Jakarta. Sedangkan yang berdarah indo masih bisa hidup bebas. Tetapi, jika dirasa ras Eropanya dominan, orang itu akan ikut masuk kamp. Tapi Beth beruntung. Dia bisa lolos dari sergapan Jepang hanya dengan meletakkan patung Budha. Alex mendapatkan patung itu dari pengusaha Jepang yang pernah menjadi kliennya. Pengusaha itu berpesan untuk menggunakan patung tersebut jika sedang menghadapi masalah dengan tentara Jepang. Kala lain, Alex berupaya memperjuangkan nasib Beth beserta orang-orang Indo. Dalam salah satu sidangnya tentang rancangan undang-undang dasar (RUU), Alex bersuara tentang status kewarganegaraan bagi orang Indo dan blasteran asing lainnya yang ingin hidup dan mati di Indonesia. Alex mengusulkan tambahan mengenai blasteran pada pasal 26 RUU tersebut yang menerangkan soal kewarganegaraan. ”…Supaya aturan ditambah dengan satu pasal yang menetapkan, bahwa orang-orang lain dari pada orang Indonesia, misalnya peranakan Arab, Belanda atau Tionghoa yang mempunyai kedudukan Nederlandsch Onderdaan dianggap sebagai warga negara,” terang Alex, dikutip dalam Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar djilid I (1960) karya Muhammad Yamin. Usaha Alex tersebut tak hanya penting bagi orang-orang turunan asing di Indonesia, tetapi juga khususnya bagi sang istri. Beth juga memberikan segala yang diperlukan Alex dalam perjuangan. Kesetiaannya teruji ketika mereka hidup di Lugano sepanjang1957-1976. Di kota itu, mereka tinggal di sebuah flat kecil, Hanya berdua saja. Memasuki 1960-an, Alex yang sudah sepuh mulai sakit-sakitan. Pada awal 1970-an, Alex sempat terkena serangan stroke. Sebelum dr. Pratisto datang untuk merawat, tak ada orang di Lugano yang bisa merawat Alex secara intensif. Hanya Beth yang merawat Alex. Padahal Beth yang sama-sama sudah sepuh juga sering sakit. Dia terkena penyakit rematik yang membuat persendian jari-jarinya membengkak dan nyeri. Beth sendirian yang mengurus segala keperluan rumah tangga. Mulai dari mencuci, memasak, berbelanja ke pasar, sampai membelikan obat untuk Alex di apotek. Meski sedang sakit-sakitan, Alex tidak tinggal diam. Dia membantu istrinya seperti menemaninya belanja. “Karena kaki dan tangannya tidak kuat lagi akibat serangan rematik, maka teman satu-satunya untuk menjinjing atau mengangkat barang-barang belanjaan dari pasar, adalah Alex Maramis sendiri,” terang Parengkuan. Ayah yang Baik Sepanjang pernikahannya, Alex tidak dikaruniai seorang anak pun. Ia hanya mendapatkan anak dari pernikahan Beth dengan suami sebelumnya. Anak itu bernama Alexander, persis sama dengan nama Alex. Nama itu nama asli si anak jauh sebelum Alex menikah dengan Beth. Nama Alexander disebutkan dalam Deli Courant edisi 2 Mei 1928 dan edisi 4 Juni 1928, sebagai anak yang diperjuangkan Beth dalam perceraian. Alexander kecil menjadi tempat Alex menumpahkan sayangnya sebagai seorang ayah. Alex memberikan nama marganya, Maramis, di belakang nama Alexander kecil itu. Nama Alexander sepertinya nama pasaran dalam keluarga Maramis. Nama Alex (Alexander Andries Maramis) sendiri didapat dari nama sang ayah Andries Alexander Maramis. Sedangkan adik lelaki Alex menggunakan nama ayahnya secara persis. Kini tambah lagi ’Alexander’ lainnya di keluarga Maramis. Maka ada empat ‘Alexander’ di keluarga Maramis. Agar tidak memusingkan buat keluarga Maramis dalam memanggil empat ”Alexander” tersebut, selain sang ayah, ketiga “Alexander” lainnya diberi nama panggil khusus, yaitu ‘Alex’ untuk Alex yang menteri Keuangan, ‘Inyo’ untuk sang adik, dan ‘Lexy’ untuk anak Alex. Meski Lexy anak tiri, Alex menyayanginya sepenuh hati. Alex juga pernah mengalami posisi seperti yang Lexy alami. Alex terlahir dari rahim seorang ibu bernama Charlotte Ticoalu. Namun Charlotte wafat ketika Alex masih kecil. Kemudian ayahnya menikah kembali dengan seorang gadis Minahasa bernama Adriana Yulia Mogot. Adriana-lah yang kemudian menggantikan Charlotte sebagai sosok ibu. Adriana memang ibu tiri, tapi dia sangat sayang kepada anak-anaknya, baik tiri maupun kandung. Demikian juga kepada Alex. Pengalaman ini Alex ingat sampai dewasanya. ”Baginya Adriana Yulia Mogot bukanlah seorang ibu tiri yang harus dijauhi, tapi dianggap sebagai ibu sendiri yang sejak kecil mengasuhnya dengan penuh kasih sayang, sama dengan yang diterima oleh saudara-saudaranya yang lain,” tulis Parengkuan. Pengalaman hidup membuat Alex mengerti bagaimana memperlakukan anak dan istrinya secara layak, bermartabat, dan penuh kasih sayang.*
- A.A. Maramis Advokat Andal yang Nasionalis
ALA bisa karena biasa. Witing tresno jalaran soko kulino , kata orang Jawa. Terbiasa melihat sang ayah dan mendengar kiprah sang kakek yang berprofesi sebagai pembela rakyat kecil yang memiliki masalah hukum, Alex Maramis pun memutuskan mengikuti jejak mereka: menjadi pokrol bambu. Pokrol bambu adalah sebutan untuk orang yang menjadi pembela bagi orang-orang yang tersangkut perkara hukum pada masa kolonial. Mereka umumnya cukup berpendidikan meskipun bukan lulusan sekolah hukum. Mereka juga memiliki kepedulian untuk membela rakyat kecil yang sedang berperkara. Salah duanya Ayah dan kakek Alex Maramis. Alex Maramis bukan sekedar pokrol bambu. Ia seorang advokat sungguhan lulusan dari salah satu universitas bergengsi di negeri Belanda, Universitas Leiden. Meester in de Rechten (Mr.), gelar bergengsi bidang hukum pada masa kolonial resmi disandangnya pada 19 Juni 1924, tepat sehari sebelum ia berulang tahun ke-27. Seperti dikutip Provinciale Overijsselsche en Zwolsche Courant , 20 Juni 1924. Usai lulus, Alex bergegas pulang ke Manado untuk menemui keluarga tercinta. Namun tak lama, dia berlayar ke Batavia untuk segera memulai karirnya sebagai seorang advokat. Darah pejuang yang mengalir di tubuhnya tak menghendakinya menjadi abdi penjajah sebagai ambtenaar. Pilihannya mantap : menjadi advokat partikelir. Alex Maramis yang sangat menyadari pilihan karirnya tidak main-main dalam menempatkan posisi profesionalnya. Ia mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkedudukan di Bogor pada 15 November 1924, untuk memberinya izin menjadi Advokat dan Pokrol dari Pengadilan Negeri di Semarang. “Permintaan tersebut disambut baik oleh pemerintah kolonial. Melalui surat keputusan tertanggal 12 Februari 1925 No. 19, mulai saat itulah Mr. A.A. Alex Maramis resmi menjadi Advokat dan Pokrol yang untuk pertama kalinya berkedudukan di Semarang,” tulis Parengkuan dalam A.A. Alex Maramis, SH Profesi sebagai advokat di kota utama Jawa Tengah tersebut tak berlangsung lama. September 1926 Alex Maramis mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal untuk pindah ke Palembang, Sumatera. Permohonan itu direstui. “Gubernur Jenderal menyetujui kepindahannya ke Palembang dengan beslit No. 14 mulai tangga1 4 November 1926,” catat Algemeene handelsblad voor Nederlandsch-Indië , 08 Oktober 1926. Tidak terlalu jelas apa yang menjadi alasan Alex Maramis mengajukan kepindahan dari Semarang ke Palembang. Kemungkinan karena tak banyak perkara hukum yang ditanganinya selama di Semarang. Parengkuan mencatat saat di Palembang inilah Alex Maramis menangani kasus-kasus yang kemudian menunjukan kelasnya sebagai seorang advokat jempolan. Selama lebih dari sepuluh tahun berpraktek di Palembang, Alex Maramis menunjukkan sisi kemanusiaannya yang begitu luhur dengan tak membeda-bedakan perlakuan terhadap klien yang dibelanya. Dari sekian kasus yang ditanganinya, dua kasus yang cukup menarik perhatian adalah saat ia membela seorang janda bernama Hadji Marijem binti Hadji Mohd. Tohir dan Dirk Jurriaan Manupassa yang memegang jabatan sebagai Controleur PTT di Tanjungkarang. Hadji Maridjem hampir kehilangan rumah peninggalan almarhum suaminya. Dia mendapat gugatan dari saudara almarhum suaminya yang merasa juga memiliki hak secara adat terhadap rumah tersebut. Setelah proses hukum berjalan, dia mendapati kenyataan pahit. Rumahnya akan dilelang oleh panitia lelang pemerintah. Merasa tidak diperlakukan tidak adil oleh pemerintah setempat, dia mengirim surat kepada Gubernur Jenderal untuk memohon keadilan. Dia bahkan mengirim pula surat kepada ketua Volksraad alias dewan rakyat. Kasus tersebut menimbulkan kesimpangsiuran. Saat itulah Alex Maramis tampil sebagai pembela Hadji Maridjem dan sukses menjernihkan akar permasalahan. Kata Alex Maramis, Hadji Maridjem adalah orang sederhana yang tidak mengerti prosedur hukum. Karena itu, Alex mengirim surat kepada Gubernur Jenderal dan Ketua Volksraad. Dia Maramis menjernihkan perkara tersebut dengan mengurai duduk perkaranya secara lengkap. Berkat pembelaannya tersebut, kasus Hadji Maridjem menjadi jernih dan terarah. Residen Jambi kemudian menyurati Gubernur Jenderal pada 14 Maret 1938. Isinya, akan memperhatikan sungguh-sungguh masalah itu dan menyelesaikannya sesuai hukum yang berlaku. Sementara itu kasus Dirk Jurriaan Manupassa, Controleur PTT di Tanjungkarang.yang ditangani Alex Maramis adalah kasus dirugikannya seorang pegawai kolonial karena tak dipenuhinya hak yang seharusnya diperolehnya. Tunjangan isterinya tak pernah dibayar oleh pemerintah. Melalui kerjasama dengan sesama advokat yang bekerja di Batavia, Mr. Cl. A.S.M. Martens, Alex Maramis mengadukan perkara ini kepada Gubernur Jenderal dalam sepucuk surat bertanggal 14 Oktober 1933. Alex memenangi perkara tersebut. Tunjangan isteri D.J . Manupassa dibayarkan sepenuhnya. Selepas dari Palembang, pada Juli 1939, Alex Maramis pindah berpraktek ke Batavia. Dia berkongsi dengan Mr. K.E. Kan. Keduanya diberi izin praktek di dalam wilayah kewenangan Mahkamah Agung Bagian B. Advokat Nasionalis Selain karena darah keluarga dan pengalaman bersekolah di Batavia, kecintaan pada tanah air dan bangsa dalam diri Alex Maramis mengental selama menempuh studi di Belanda. Dia, seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia di Belanda pada dekade 1920-an, memilih bergabung dengan Indonesische Vereeniging alias Perhimpunan Indonesia (PI). Saat dia kembali ke Hindia-Belanda, dia bergabung dengan PNI pimpinan Sukarno. Tidak banyak informasi mengenai keterlibatan Alex Maramis dalam PNI, namun beberapa aktivitas politik di luar statusnya sebagai advokat tersebut sempat tercatat jejak rekamnya. Buku Rupiah Di Tengah Rentang Sejarah terbitan Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa Alex Maramis pernah ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai anggota pimpinan harian PNI. Disebut pula bahwa Alex Maramis menyampaikan pemikirannya tentang perundingan Linggarjati, dalam kongres Istimewa PNI di Malang pada 1947. Alex Maramis berpandangan bahwa jika Linggarjati diterima oleh Indonesia, itu berarti Indonesia tak memiliki kemerdekaan secara penuh. Sebab, persetujuan tersebut hanya mengakui kekuasaan de facto atas Jawa dan Sumatera saja. Pendapat Maramis beroleh dukungan dari Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Sartono, Sidik Djojosoekarto, dan Mr. Wirjono Prodjodikoro. Selain PNI, Alex juga sepertinya aktif di organisasi kepemudaan Persatuan Pemuda Maesa. Organisasi ini berbasis kesukuan. Anggotanya pemuda Minahasa. Tapi apa saja sumbangsih Alex di organisasi ini, tak tercatat secara terang. Menurut Parengkuan, Alex Maramis merupakan salah satu tokoh senior Persatuan Pemuda Maesa. Alex dihormati bersama beberapa tokoh lainnya seperti Dr. Sam Ratulangi, G.A. Maengkom, E.J. Lapian, J.R.O. Supit, A.E. Maengkom, M.R. Dajoh, P.W, dan Wuwungan. Keterangan itu diperoleh dari wawancara dengan G.A. Maengkom, Menteri Kehakiman pada Kabinet Djuanda (1957—1959). Status Alex sebagai seorang ahli hukum lulusan universitas ternama di Belanda sebenarnya membuka peluangnya untuk jadi ambtenaar atau pegawai pemerintah Hindia Belanda. Dia bisa hidup sangat sejahtera dari situ. Tapi Alex telah memilih jalan pedangnya sendiri : menjadi advokat partikelir. Meski pendapatannya jauh di bawah ambtenaar, Alex dapat mewujudkan cinta dan simpatinya pada bangsa serta orang-orang kecil melalui jalan advokat partikelir. Darah juangnya mengalir dan terpatri kuat. Dia seperti kakek dan ayahnya : mengabdikan diri untuk membela saudara sebangsanya. Tak seorang pun menduga, Alex yang pendiam itu punya semangat menggelegak terhadap bangsanya dan rakyat kecil, Sebagai seorang nasionalis, Alex Maramis lebih memilih jalur sepi dengan langsung terjun pada persoalan-persoalan konkret yang dihadapi oleh saudara sebangsanya sebagai seorang advokat. Alex Maramis, anak seorang pokrol bambu tersebut, nyata-nyata seorang advokat nasionalis yang andal.*
- Rijsttafel, Harmoni Eropa-Nusantara dalam Budaya Makan
HALAMAN belakang Museum Kesejarahan Jakarta Kamis (20/10/2022) siang itu ramai. Sebuah gapura bergaya neoklasik turut “menyambut” serombongan pelajar SMP ke sebuah ruangan yang bersolek dengan dua lampu gantung keemasan yang menaungi tiga meja makan bundar berbalut kain putih susu serta kursi-kursi dengan ukiran cantik. Di atas masing-masing meja itu beraneka perangkat makan era kolonial, termasuk dua lembar surat makan alias menu, diletakkan. Beberapa siswa tadi tak buang kesempatan untuk mengabadikannya lewat kamera smartphone dengan beragam pose seolah sedang menembus waktu ke masa yang sama dengan tata ruang dan peralatan makan itu. Itu memang jadi salah satu tujuan digelarnya pameran “Jejak Memori Rijsttafel: Cita Rasa Indonesia dalam Memori”. Pameran yang dihelat Museum Kesejarahan Jakarta bersama Tugu Kunstkring Paleis itu berlangsung sepanjang 12-29 Oktober 2022. Baca juga: Soerat Makan Kolonial Tujuan pameran yakni untuk mengenalkan kembali sebuah kebudayaan Indies –merupakan kebudayaan hasil perkawinan dua budaya yang harmonis di era kolonial– dalam konteks tradisi dan budaya makan. Narasi-narasi historis rijsttafel yang bukan sekadar menggoyang lidah dan asal perut kenyang itu cukup apik dan atraktif ditampilkan dalam beragam panel yang mengelilingi ruangannya guna membuka awareness khalayak tentang budaya yang kini sudah sulit ditemui. “Meskipun merupakan bagian penting dalam perkembangan kuliner di Indonesia, rijsttafel belum banyak dikaji dari sudut pandang kesejarahan. Sejarah rijsttafel perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia apalagi sumber-sumber primer dan sekunder terkait rijsttafel sendiri dapat dilacak keberadaannya, sehingga memungkinkan untuk ditelusuri jejaknya,” tulis sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran Fadly Rahman dalam Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942. Pameran Rijsttafel yang diramaikan rombongan pengunjung kalangan pelajar (Randy Wirayudha/Historia) Secara etimologi, rijsttafel berhulu pada dua lema bahasa Belanda, rijst yang artinya nasi dan tafel berarti meja. Sastrawan cum jurnalis Indo, Hans van de Wall (Victor Ido), dalam kumpulan transkrip kisah acara radio NIROM, Indië in den goeden ouden tijd: radio-voordrachten voor de NIROM gehouden , mengartikan rijsttafel sebagai hidangan nasi yang disajikan dengan cara spesial. Kendati zaman kolonial sarat dengan penindasan dan rasisme, lanjut Fadly, budaya makan rijsttafel memberi pengaruh dan inspirasi bagi evolusi kuliner modern Indonesia. Pengaruhnya meliputi gaya hidup, tata penyajian, hingga jadi pelopor daya tarik wisata kuliner. “Maka dari itulah untuk pertama kalinya dalam perkembangan kuliner di Indonesia, makanan Pribumi mendapat kedudukan istimewa pada masa kolonial. Bahkan hingga sekarang rijsttafel masih menjadi daya tarik pariwisata di Belanda,” sambungnya. Hidangan Nusantara, Cara Makan Eropa Anna Augusta Henriette de Wit terpukau pada keriuhan dan kesibukan kota Batavia (kini Jakarta) yang ramai dengan beragam aktivitas di suatu siang medio 1896. Dari sebuah hotel di kawasan Rijswijk (kini kawasan Lapangan Banteng), jurnalis Belanda berusia 32 tahun itu dalam pelesirannya penasaran pada sebuah bangunan bertuliskan “Roemah Makan”. Jawa dengan Batavia sebagai etalasenya selalu menghadirkan pengalaman baru bagi De Wit. Padahal, sudah dua tahun ia mengajar di sebuah asrama perempuan. Selain mengajar, sosok kelahiran Sibolga itu juga menjadi kontributor untuk suratkabar berbahasa Inggris The Strait Times . Di suratkabar itulah artikel-artikelnya tentang beragam pengalamannya di Jawa, termasuk pengalamannya di sebuah restoran tadi, dialihbahasakan. “Sejak saya melihat Batavia, saya sudah melihat hotel di Batavia – sebuah roemah makan. Ah! Itu jadi pencerahan yang mengejutkan. Bagi saya Batavia ibarat ‘ un frisson nouveau ’. Tapi ketika melihat sebuah misteri besar yang dirayakan pada siang hari, sebuah sajian nasi ( rijsttafel ), bagi saya itu ibarat ‘ un étouffement nouveau ’,” De Wit mengisahkannya dalam kumpulan artikel yang dibukukan dengan judul Java: Facts and Fancies. Baca juga: Jejak Eropa dalam Kuliner Nusantara Kesaksian De Wit menjadi jendela penting untuk mendapatkan gambaran tentang apa dan bagaimana rijsttafel di masa-masa puncak popularitasnya. Bukan hanya hidangannya, tata cara makan para pengunjung Eropa hingga laku para pelayannya pun ia kisahkan. “Menu utamanya adalah nasi dan ayam yang mungkin terdengar sederhana. Tapi di atas itu terdapat sebuah sistem yang terdiri dari banyak hal yang ditata baik: selain ikan, daging, dan semur, segala macam kari, saus, acar, manisan buah, telur asin, pisang goreng, ‘sambal’ goreng ati ampela, telur ikan, di mana semuanya sarat rempah dan taburan (potongan) cabai,” lanjutnya. Litograf karya Josias Cornelis Rappard antara tahun 1883-1889 yang menggambarkan rijsttafel (Nationaal Museum van Wereldculturen) Karbohidrat, protein, hingga vitamin dalam sayur-mayur semua disajikan dalam satu waktu di atas meja. Bukan seperti di Eropa, di mana sajian dikeluarkan berurutan dari makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Yang tak berubah adalah manner -nya yang menggunakan dan menempatkan alat-alat makan seperti pisau, garpu, dan sendok yang tidak terdapat dalam kebiasaan makan pribumi yang mayoritas makan menggunakan tangan. Menu-menu yang disebutkan De Wit tentu tidak sama dalam setiap rijsttafel. Namun yang pasti, setiap makanan Nusantara yang dikonsumsi orang-orang elite Eropa itu lazimnya dikombinasikan dengan makanan yang cita rasanya sesuai selera masing-masing. Baca juga: Dari Tangan hingga Prasmanan Pun dengan sistem pelayanannya. Para pelayan yang biasanya berasal dari kalangan bumiputera tak hanya diberi seragam pelayan tapi juga dididik untuk melayani ala Eropa. “Semuanya berawal dari sebuah galeri belakang berupa aula panjang dan besar. Kemudian sajiannya diserahkan pada pelayan-pelayan lokal yang bertelanjang kaki tapi berpakaian semi-Eropa, bersarung Jawa, dan blangkon.” Sajian rijsttafel dengan aneka kuliner Nusantara di rumah sebuah keluarga Belanda di Bandung (Nationaal Museum van Wereldculturen) Popularitas rijsttafel dimulai saat masifnya kedatangan orang-orang Eropa, terutama Belanda, setelah dibukanya Terusan Suez pada 1869. Selain mempengaruhi gaya kuliner banyak elite bumiputera, rijsttafel juga mempengaruhi gaya berpakaian mereka. “Istilah rijsttafel sendiri memang baru muncul seiring meningkatnya jumlah orang Eropa pasca-pembukaan Terusan Suez yang secara tidak langsung berdampak besar terhadap perubahan sosial budaya di tanah jajahan. Perkembangan rijsttafel dimulai dari kebiasaan hidup membujang para pria Eropa. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan perempuan Eropa ke Hindia memunculkan percampuran darah dengan perempuan Pribumi dan kemudian menghasilkan gaya hidup campuran,” sambung Fadly. Baca juga: Hidangan Favorit Napoléon Rijsttafel makin “naik daun” setelah mulai disukai para pejabat Eropa saat menggelar acara-acara besar. Lambat-laun para kolega mereka dari elite bumiputera pun latah mengikuti. Popularitas itu ikut melahirkan tren penulisan buku-buku masak atau catatan harian yang mengulas tentang rijsttafel pada peralihan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-21. Sebut saja misalnya Ons Huis in Indië (1908), Eet Rijst! De Indische Rijsttafel (1922), Groot nieuw volledig Indisch kook-boek (1925), dan Het Geheim van de Rijsttafel (1934). Sajian rijsttafel di acara-acara besar kalangan elite Eropa (Repro Tugu Kunstkring Paleis) Seiring perjalanan waktu, budaya makan hibrid itu secara tidak langsung menaikkan derajat kuliner Nusantara di mata orang-orang Eropa. Rijsttafel turut mempengaruhi minat orang Eropa yang ingin datang ke Nusantara hanya untuk “wisata kuliner”. Tak pelak, selain di rumah-rumah pribadi dan acara-acara pejabat, rijsttafel mulai marak disuguhkan berbagai hotel dan restoran. “Melalui rijsttafel pula untuk pertamakalinya nasi dan hidangan daerah-daerah di Indonesia mulai dikemas dalam penyajian bergaya Barat serta dipopulerkan sebagai daya tarik wisata kolonial,” lanjut Fadly. Namun, pergantian situasi politik amat mempengaruhi eksistensi rijsttafel . Kendati tak serta-merta hilang sepenuhnya kala Hindia Belanda ditumbangkan Jepang dan berlanjut masa kemerdekaan Indonesia, rijsttafel jadi langka ditemui di Indonesia yang terus berdinamika. “Ketika Indonesia merdeka pasca-1945 orang-orang Belanda membawa pulang cita rasa rijsttafel ke negeri Belanda dan justru sejak itu berkembang pesat, mengingat banyaknya imigran dari Indonesia yang mengerti cara menyiapkan berbagai macam makanannya. Hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Rijsttafel menghilang begitu saja. Saat ini hanya ada sedikit restoran yang masih menyajikannya,” tulis epikur yang menulis 30 buku masak, Georgeanne Brennan dalam kolomnya yang dimuat di laman The Cook’s Book . Baca juga: Aroma Kopi yang Menggugah Revolusi Dunia
- A.A. Maramis di Negeri Belanda, Mengadu Peruntungan Mendapatkan Kebangsaan
GERHANA matahari total membayangi langit pada Kamis 29 Mei 1919. Berdurasi enam menit 50,75 detik, gerhana ini yang terlama sejak 27 Mei 1416. Gerhana itu membayangi Kapal SS Wilis yang perlahan meninggalkan pelabuhan Tandjoeng Priok, Batavia, menuju Rotterdam, Belanda. SS Wilis merayapi ombak lautan melewati Samudera Hindia dan Samudera Atlantik selama sebulan lebih. Kapal baru sampai ke pelabuhan Rotterdam pada 3 Juli. Dari ratusan orang yang menumpangi SS Wilis, salah satunya adalah Alexander Andries Maramis, pemuda asal Minahasa yang karib disapa Alex Maramis. Namanya tercantum dalam manifes penumpang yang dirilis harian Sumatra-Bode edisi 27 Mei 1919, dan De Maasbode edisi 8 Juli 1919. Alex lulusan Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III School, Batavia. Sang ayah, Andries Alexander Maramis memang memanas-manasi Alex untuk sekolah ke Batavia. Andries sendiri adalah seorang prokol bambu, advokat hukum amatir untuk masyarakat jelata. Andries ingin Alex mengikuti jejaknya sebagai pokrol bambu untuk membela saudara-saudaranya se-Minahasa di hadapan hukum. Alex disekolahkannya setinggi mungkin. Hingga dia lulus HBS. Koran Belanda, Het Vaderland edisi 12 Juli 1916, menyebutkan namanya sebagai salah satu peserta yang lulus ujian akhir pada awal Juli. Alih-alih pulang kampung untuk menjadi pokrol bambu, Alex ingin menuntut ilmu hukum untuk menjadi advokat yang sesungguhnya. Dia tidak puas hanya bermodal ijazah HBS. Leiden, Belanda, menjadi tempat pilihannya menimba ilmu hukum. Andries mendukung penuh niat Alex. Meskipun hanya berprofesi pokrol bambu, Andries merasa mampu membiayai hidup dan kuliah Alex di Leiden. Jadilah Alex menumpang kapal ke Belanda, untuk singgah di Rotterdam, hingga menjejakkan kakinya di Leiden. Untuk bisa masuk perguruan tinggi di Leiden, Alex harus menempuh ujian demi mendapatkan sertifikat kompetensi. Ujian tersebut syarat wajib menurut pasal 12 Undang-Undang Pendidikan Tinggi Pemerintah Belanda ketika itu. Alex baru mengikuti ujian itu setahun setelah kedatangannya. Ujian berlangsung di Utrecht dari 12 Juli hingga 27 Agustus 1920. Alex lulus. Nederlandsche Staatscourant edisi 20 Oktober 1920 mencantumkan namanya sebagai salah seorang yang mendapatkan sertifikat kompetensi. Namun koran tersebut menyebut Alex mendapatkan sertifikat untuk kuliah di fakultas kedokteran, matematika, dan fisika. Bagaimanapun, Alex lantas menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Leiden untuk beberapa tahun kedepannya. Alex termasuk beruntung. Selain sertifikat kompetensi, ijazah HBS yang Alex kantongi juga menolongnya duduk di bangku Universitas Leiden. Berbeda dengan pemuda Minahasa lainnya, GSSR Ratulangi (Sam Ratulangi) batal kuliah di Leiden karena tidak mengantongi ijazah HBS atau AMS. Ijazah Middlebare Acte en Paedagogiek, walau diperolehnya di negeri Belanda pada 1913, tidak bisa digunakan untuk masuk ke Universitas Leiden. Ratulangi mengambil kesempatan lain. Dia memilih mendalami ilmu alam di Universitas Zurich, Swiss, sampai menggondol gelar doktor. Keberuntungan Alex tidak hanya di situ. Dia juga tidak perlu memusingkan soal beasiswa di Leiden. Semua biaya kuliah dan hidupnya di sana murni dari sang ayah di Manado. Keluarga Maramis termasuk keluarga kelas atas di Manado. Keluarga ini memiliki perkebunan kelapa yang luas. FEW Parengkuan dalam A.A. Maramis, S.H. , menyebutkan bahwa keluarga Alex adalah salah satu dari sedikit keluarga di Manado yang memiliki kendaraan bermotor pada 1920. “Hal ini dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa memang soal biaya tidaklah amat memberatkan bagi keluarga Maramis untuk kelanjutan studi anak mereka ke luar negeri sebentar,” lanjut Parengkuan. Nasib Alex memang berbeda dengan mahasiswa Hindia Belanda lainnya seperti Hatta, yang harus berburu beasiswa dan mengirit biaya hidup. Semasa mahasiswa, hidup keseharian Alex terkesan seperti kebanyakan mahasiswa di Belanda. Selain studi, dia senang mengikuti acara dansa dan musik. Di bidang yang terakhir ini, Alex berbakat dalam bermain biola meskipun tidak menonjol. Dia sudah akrab dengan biola sejak di HBS. Hobinya itu terbawa sampai Leiden. Di waktu senggang, Alex dan Arnold Mononutu, kawan Minahasa sesama mahasiswa hukum, kerap bermain biola. Selain Arnold, teman bermain biola lainnya adalah Achmad Subardjo. “Alex Maramis ini bersama Ahmad Subardjo sama-sama senang main biola di mana Alex suara kedua dan Subardjo suara pertama,” urai Parengkuan. Semasa berkuliah di Leiden, beberapa sumber mencantumkan nama A.A. Maramis sebagai redaksi koran lokal Manado, Tjahaja Siang . Koran ini berbahasa Melayu (Indonesia) dan membahas isu di seputar Manado. Nama A.A. Maramis dalam redaksi Tjahaja Siang berturut-turut tercatat dalam majalah Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers , edisi no. 12 tahun 1922; edisi no. 5, 18, 30, dan 42 tahun 1923; serta edisi no. 16, 28, dan 43 tahun 1924. Tapi tak jelas apakah A.A. Maramis yang dimaksud adalah Alex, atau orang lain. Jika memang Alex, tidak disebutkan pula keterangan bagaimana dia mengasuh koran di Manado, sedangkan dia sedang berkuliah di Leiden. Berkenalan dengan Pemikiran Kebangsaan Indonesia Alex memang tipe pendiam. Orang tidak banyak tahu tentang isi di dalam kepalanya. Termasuk pula Arnold. Dia mengira Alex seperti halnya mahasiswa kebanyakan, senang musik dan jalan-jalan. Sampai suatu ketika pada tahun 1923 pandangan Arnold tentang Alex berubah total. Ceritanya, saat itu Alex mengajak Arnold untuk mengunjungi sebuah hotel. Kabarnya ada acara di hotel tersebut. Biasanya tiap hari Sabtu, Maramis dan Arnold makan di warung Jawa. Selesai makan, Arnold bertanya ke Maramis, mau pergi menonton di bioskop mana. Tapi dia menjawab bahwa tak menonton hari ini. ”Saya mau pergi ke Hotel De Twee Steden. Di sana ada rapat dari Indonesische Vereeniging, yang akan ganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Ayo Arnold, mari ikut saya”, kata Maramis seperti dikutip Parengkuan. Di balik sikap kalemnya, Alex mengikuti arus perjuangan kebangsaan para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Dia menjadi anggota Indonesische Vereeneging. Indonesische Vereeniging awalnya bernama Indische Vereeniging. Organisasi ini adalah perkumpulan mahasiswa Hindia Belanda di negeri Belanda. Berdiri pada tahun 1908, Indische Vereeneging berkutat pada kegiatan sosial, seni, juga plesiran. Wajah Indische Vereeniging kemudian berubah ketika Suwardi Suryaningrat, karib dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, masuk ke dalamnya. Diskusi-diskusi politik tentang keadaan tanah air, kolonialisme, dan hak-hak bumiputera mulai marak. ”Perkumpulan tersebut mulai dipolitisasi sekitar tahun 1916 yang diwujudkan dalam terbitnya sebuah jurnal bulanan Hindia Poetra. Karakter politiknya menjadi lebih jelas setelah berakhirnya Perang Dunia I, ketika doktrin penentuan nasib sendiri bagi masyarakat kolonial menyebar luas di kalangan mahasiswa Asia,” terang Leo Suryadinata, dalam “Indonesian Nationalism and the Pre-war Youth Movement: A Reexamination”, yang termuat pada Journal of Southeast Asian Studies , 9, (1978). Sikap politik nasionalis Indische Vereeniging semakin menjadi ketika diisi oleh angkatan muda seperti Hatta, Ali Sastroamidjojo, Soekiman, Sitalana, Dr. Mochtar, termasuk Alex Maramis. “Merekalah yang meneruskan proses ‘nasionalisasi’ terhadap Indische Vereeniging, yang sudah dimulai sejak datangnya Driemanschap I.P (Indische Partij) di tahun 1913,” tulis Ki Hajar Dewantara sendiri dalam Kenang-Kenangan Ki Hajar Dewantara: Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan , terbit 1952. Senada dengan Ki Hajar, George McTurnan Kahin juga menyebutkan bahwa generasi Alex dkk lah yang mengkristalkan gagasan kebangsaan Indonesia. “Mahasiswa-mahasiswa ini lebih terpolitisir daripada generasi sebelumnya dan melanjutkan pekerjaan politik mereka di Belanda,” tulisnya dalam Nationalism and Revolution in Indonesia , terbit tahun 1952. Alex sempat menjadi sekretaris dalam kepengurusan Indische Vereeniging yang keempat, di bawah pimpinan Nazir Pamontjak. Nazir menggantikan Iwa Koesoemasoemantri sebagai ketua. Mohammad Hatta mencatat dalam Memoir bahwa Alex mulai menjabat dari 9 Februari 1924, berdasarkan keputusan rapat. Selain Nazir dan Alex, pengurus lainnya adalah R. Soewarno sebagai bendahara, M. Soekiman (komisaris), dan Mohammad Nazif (archivaris). Tahun 1924 adalah momen penting bagi sejarah Indische Vereeniging, juga bangsa Indonesia. Sebab di tahun itu, Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Nama ‘Indonesia’ mulai berkumandang di antero Eropa. Di dalam Indonesische Vereeniging, Alex kerap menuangkan gagasan-gagasannya, baik dalam diskusi maupun lewat tulisan. Salah satunya adalah tulisan ”Terugblik” (Meninjau Kembali) yang termuat di dalam Gedenkboek Indonesische Vereeneging edisi April 1924. Isinya tentang keharusan menyatukan perjuangan kebangsaan Indonesia dengan arus kebangkitan Asia. Alex ingin Indonesische Vereeniging menjadi bagian dari perjuangan bangsa-bangsa Asia. Sebab dengan demikian pergerakan Indonesische Vereeniging akan mendapatkan banyak dukungan dari para mahasiswa dan pelajar Asia lainnya. “Akhir-akhir ini, penting bagi orang Indonesia di negara ini untuk mengupayakan orientasi internasional, lebih tepatnya, orientasi intra-Asia <…>. Sekitar sembilan tahun yang lalu, Dr. Ratulangi di Zurich mendirikan 'Société Asiatique des tudiants', yang, bagaimanapun, mungkin tidak memenuhi harapan karena kurangnya sentuhan pribadi. Semoga pertemuan yang cukup sering belakangan ini memberikan landasan yang lebih kuat bagi kemungkinan Asosiasi Pelajar Asia yang baru,” terang Alex seperti dikutip dalam "Behind the Banner of Unity Nationalism and Anticolonialism among Indonesian Students in Europe, 1917-1931", tesis doktoral karya Klaas Stutje. Gedenkboek Indonesische Vereeniging tersebut memantik kritikan dari kalangan pers Belanda. ”Ada yang mengatakan bahwa ’de inlandsche studenten’ sudah dihinggapi oleh semangat revolusioner yang susah mengikisnya kembali,” ungkap Hatta. Kiprah lanjut Alex di Indonesische Vereeniging kurang terdengar lagi setelahnya. Sebab pada tahun yang sama, Alex menempuh ujian akhir. Alex pun lulus. Kelulusannya diberitakan oleh berbagai media massa Belanda. Salah satunya adalah Arnhemsche Courant edisi 20 Juni 1924 yang menyebutkan bahwa Alex Maramis (A.A. Maramis) lulus Doctoraal examen rechten de heer, dari Universitas Leiden. Harian De Telegraaf edisi 20 Juni 1924 menyebut Alex lulus ujian pada 19 Juni. Alex sah menjadi master ilmu hukum. Dia berhak menyandang gelar Meester in de Rechten di depan namanya. Sebulan setelah kelulusannya, Alex kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ke Batavia. Alex singgah sebentar di Batavia. ”Ia untuk sementara tinggal di jalan Pintu Kecil No. 46 Jakarta Barat,” tulis Parengkuan. Tak lama setelahnya, Alex kembali ke Manado. Tapi hanya sebentar. Alih-alih menjadi pokrol bambu di Manado seperti harapan ayahnya, Alex malah lebih memilih membaktikan dirinya sebagai advokat di tanah Jawa.
- Obat Batuk Tradisional ala Jawa
Jagat kesehatan sedang heboh dengan kasus gagal ginjal akut yang menimpa anak-anak. Penyebabnya diduga kerena konsumsi obat batuk. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 19 Oktober 2022, terjadi 99 kematian karena penggunaan obat sirup. Meskipun belum dapat dipastikan penyebab gagal ginjal akut tersebut, Kemenkes menangguhkan penggunaan obat sirup untuk sementara waktu. “Untuk meningkatkan kewaspadaan dan dalam rangka pencegahan, Kemenkes sudah meminta tenaga kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair/sirup, sampai hasil penelusuran dan penelitian tuntas,” demikian kata Kemenkes dalam laman resmi informasi kesehatannya, sehatnegeriku.kemkes.go.id . Lantas, bagaimana penderita batuk bila ingin sembuh? Baca juga: Mengobati Penyakit pada Zaman Kuno Tak ada salahnya mencoba resep “baheula”. Toh, batuk bukan penyakit baru bagi masyarakat di Nusantara, khususnya di Jawa. Jauh sebelum ilmu pengobatan modern berkembang di Indonesia, orang-orang di Jawa telah mengenal jamu dan beberapa racikan tumbuhan sebagai obat tradisional. Pada sekitar abad ke-17, pengobatan itu ditulis dalam manuskrip berjudul Serat Jampi Jawi . Menurut serat tersebut, penyakit yang sering menjangkiti anak-anak adalah batuk. Ada dua ramuan yang dapat mengobati sakit ini. “ Jeruk nipis 2 iris, dilumuri/dibaluri api sampai rata lalu dipanggang di atas lampu teplok (lampu minyak red.) ,kemudian diperas langsung dimasukkan ke dalam mulut,” kata Serat Jampi Jawi . Ramuan kedua untuk obat batuk menurut Serat Jampi Jawi adalah 3 siung bawang merah dibakar; 5 saga kayu manis cina, 1 jari kayu manis jawa dibakar, semua dihaluskan sampai lembut. Ramuan kedua ini dapat diminum dengan campuran air jeruk nipis. Baca juga: Pengobatan Nusantara Selain Serat Jampi Jawi , ada pula manuskrip yang mencatat pengobatan batuk, yakni Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 . Dalam catatan ini, batuk dibagi menjadi tiga: batuk anak-anak, dewasa, dan lansia. Untuk batuk dewasa, ada tiga resep obat yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahannya. Apabila orang dewasa mengidap batuk biasa, resepnya berupa jeruk nipis dikupas lalu dipotong-potong dan bawang merah 3 bungkul. Keduanya dihaluskan jadi satu, lalu diminum. Resep tersebut berbeda dari resep untuk batuk disertai menggigil. Untuk batuk disertai menggigil, beginilah resepnya: “Rajanglah daun cabe setelungkup tangan, bungkuslah dengan daun lalu dikukus setengah matang. Setiap akan makan, bakarlah kelapa diiris-iris, makanlah bersama cabe tadi,” kata Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 . Pada beberapa kasus, ada batuk hingga mengeluarkan darah. Menurut Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2, pengobatannya dilakukan dengan dua cara: boreh dan minum. Resep obat batuk darah berupa kerikan tanduk rusa 5 saga, kerikan gigi badhak 5 saga, dan klembak 3 saga. Seluruh bahan tersebut direbus dengan air lalu diminum, kemudian diusapkan di dada dan leher. Baca juga: Kisah Rempah dan Kuliner Khas Yogyakarta Resep obat batuk yang paling enak dikonsumsi adalah resep obat batuk untuk anak-anak dan lansia. Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 menggolongkan batuk yang diderita anak-anak dan lansia adalah sakit ringan dan umum yang menyerang dua golongan ini, terutama saat musim berganti. Resep obatnya berupa daun teh dan sebutir telur ayam, satu ruas jari kulit jahe, sepotong kecil gula batu. Semua diseduh air mendidih lalu diaduk sampai campur, kemudian diminumkan. Resep-resep yang tertuang dalam Serat Jampi Jawi dan Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 hanyalah salah satu alternatif mengatasi penyakit. Serat tersebut ditulis berdasarkan pengalaman masyarakat pada zamannya, sehingga belum dapat dibuktikan tingkat keakuratannya dari segi ilmiah. Jika tertarik mencoba, pastikan sakit yang diderita belum terlalu parah. Apabila tidak kunjung sembuh, harap tetap mengakses fasilitas kesehatan resmi terdekat.
- Blok M Mal Dulu Hiruk Pikuk Kini Mati Suri
Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, identik dengan keramaian anak muda perkotaan. Hal ini tidak lepas dari perencanaan tata kota pada 1950an, yang menjadikan Kebayoran Baru, termasuk Blok M, sebagai pusat kegiatan ekonomi dengan berbagai infrastruktur pendukung. Blok M pada 1980-2000an adalah tempat yang ramai oleh banyak orang dengan berbagai aktivitas, mulai dari berwisata kuliner, berbelanja, atau hanya sekadar berkumpul bersama teman. Seorang warga saat ingin memasuki gerbang menuju ke Blok M Mal dari arah terminal. (Historia/Fernando Randy) Karena dianggap sebagai daerah yang potensial dari aspek ekonomi, pemerintah melakukan pengembangan kawasan Blok M, antara lain dengan membangun Mal Blok M dan Terminal Blok M pada 1992 yang terintegrasi. Bagian mal berada di bawah terminal dan dilengkapi akses bagi masyarakat untuk masuk dan keluar terminal. Jadilah Mal Blok M tempat yang selalu ramai oleh banyak orang, oleh pedagang, pembeli, maupun orang yang sekadar lewat. Namun, layaknya roda kehidupan, keriuhan terminal maupun aktivitas jual-beli orang terus menurun seiring perubahan zaman. Kini, tak terdengar lagi suara lantang para pedagang menawarkan dagangannya atau suara pembeli menawar harga. Bahkan keramaian orang yang melintas keluar-masuk kawasan mal dan terminal juga sudah menghilang. Suasana saat ini di depan pintu masuk utama Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Tampak deretan toko yang tutup saat ini di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Tampak barang didalam toko yang dibiarkan begitu saja di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Suasana sepi dan sunyi di dalam Blok M Mal saat ini. (Historia/Fernando Randy) Kini, suasana mal Blok M sunyi dan temaram. Para pedangang yang masih bertahan bisa dihitung dengan jari. Jumlah mereka tampak sangat sedikit dibanding deretan toko yang sudah tutup. Bahkan ketika hujan mall yang diresmikan oleh Wiyogo Atmodarminto itu bocor hingga menyebabkan lantai menjadi basah dan licin. “Sebenarnya jauh sebelum pandemi COVID-19, di sini sudah sepi. Ya faktornya utama mungkin sudah kalah sama yang belanja online ya. Dan kemudian diperparah dengan pandemi ini,” ujar Aji (29), seorang pedangan aksesoris. Tania salah satu toko yang masih bertahan di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Aji salah satu penjual yang masih bertahan ditengah sunyinya Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Bekas toko handphone yang sudah ditinggalkan oleh penjualnya. (Historia/Fernando Randy) Toko baju Tania yang masih bertahan walau semua toko disampingnya sudah tutup. (Historia/Fernando Randy) Kesunyian juga tampak di kawasan terminal. Jumlah bus sudah tak sebanyak dulu. “Wah waktu 1980 hingga 1990an itu di sini ramai sekali apalagi saat pagi atau sore. Orang pulang kerja transitnya di sini. Dulu saya jualan apa saja laku mulai dari permen, koran, hingga tisu. Kalo sekarang, lihat sendiri dagangan saya masih utuh. Lebih enak zaman dulu,” kata Sidun (61) pedagang yang sudah dari tahun 1976 berada di kawasan Blok M. Meski kawasan Blok M berubah menjadi sepi, masih ada orang-orang yang mencoba bertahan sambil berharap keadaan membaik karena perubahan zaman tidak selalu berarti meninggalkan yang lama, tetapi juga bisa berarti membangkitkan yang nyaris padam. Salah seorang pekerja saat melintas ditengah deretan toko yang tutup di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) (Kiri) Toko handphone yang sepi pengunjung. (Kanan) Sidun pedagang yang sudah puluhan tahun di Blok M. (Historia/Fernando Randy) Seorang warga saat menunggu bis di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Suasana saat ini didalam terowongan Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Seorang pengunjung saat tertidur ditangga menuju Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy)
- Awal Mula Dokter Hewan di Indonesia
Seperti klinik dokter umum atau dokter gigi, klinik dokter hewan mudah ditemui di berbagai tempat. Dokter-dokter hewan menjadi tujuan pemilik hewan peliharaan ketika kucing, anjing, hingga kelinci mereka terluka atau sakit. Kemajuan teknologi membuat konsultasi mengenai kondisi kesehatan hewan peliharaan dapat dilakukan secara online atau virtual. Pemilik hewan dapat melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum membawa hewan peliharaannya ke klinik hewan. Memiliki hewan peliharaan tak bisa dipandang sepele. Seperti halnya manusia, hewan juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi mulai dari makanan, kebersihan, hingga kesehatan yang harus ditangani khusus oleh dokter hewan. Lantas bagaimana awal mula munculnya profesi dokter hewan di Indonesia? Soedjasmiran Prodjodihardo, dkk. dalam 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia: Sejarah, Kiprah, dan Tantangan menjelaskan, pada masa lalu praktik yang berkaitan dengan profesi kedokteran hewan telah dikenal oleh masyarakat di wilayah Indonesia. Kala itu profesi yang disebut “tabib” atau “dukun” hewan tersebut memiliki spesialisasi keahlian yakni memelihara maupun mengobati hewan ternak seperti kerbau, sapi, dan kuda. “Di desa-desa tabib atau dukun ini banyak menggunakan berbagai ramuan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk menyembuhkan penyakit hewan,” tulis Soedjasmiran. Baca juga: Dokter Perempuan Pertama Indonesia Keadaan penyakit hewan yang kian mengkhawatirkan serta keterbatasan dokter hewan membuat pemerintah kolonial Belanda mendatangkan dokter-dokter hewan dari negara asal mereka ke Indonesia. Mulanya dokter hewan yang bertugas di Indonesia merupakan dokter hewan militer dan dokter hewan pemerintah kolonial Belanda yang bekerja di Burgelijke Veeartsnijkundige Dienst atau Jawatan Kehewanan Pusat. Keterbatasan dokter hewan membuat pemerintah kolonial mendatangkan dokter-dokter hewan dari negeri Belanda. Wabah penyakit yang menyerang hewan ternak pada abad 19 mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk mendidik tenaga dokter hewan pribumi. Pada 1861, J. van der Helde, dokter hewan pemerintah ( gouvernement veearts ), ditugaskan mendirikan dan memimpin sekolah dokter hewan di Surabaya. Lama pendidikannya dua tahun. Murid pertamanya hanya tiga orang yang semuanya berasal dari Jawa. Baru pada 1867, muridnya datang dari pulau-pulau lain. Namun, kurang dari sepuluh tahun berjalan, sekolah dokter hewan di Surabaya itu dibubarkan pada 1875. Baca juga: Tak Ada Dokter, Mantri pun Jadi Pada 1880, sekolah dokter hewan dibuka di Purwokerto, Jawa Tengah. Sekolah ini diselenggarakan secara informal dengan cara mengikuti praktik dokter hewan pemerintah. Soedjasmiran menyebut pendidikan dengan cara ini ditiadakan setelah menghasilkan delapan orang dokter hewan dari sembilan orang siswa. Usaha mendirikan Indlandsche Veeartzen School (Sekolah Dokter Hewan yang serupa dengan Sekolah Dokter Jawa) di Surabaya pada 1893 ditolak oleh Direktur Departemen Pengajaran, Ibadat dan Kerajinan. Direktur Stovia (Sekolah Dokter Bumiputra) juga tidak setuju. Penolakan itu muncul karena dokter-dokter Belanda khawatir posisi mereka terancam oleh kehadiran para dokter hewan pribumi. Sementara itu, guna memenuhi tenaga dokter hewan yang siap sewaktu-waktu saat dibutuhkan, pemerintah kolonial Belanda mendatangkan dokter hewan dari Eropa untuk membantu para dokter hewan Belanda. Meski begitu pemerintah kolonial tetap merekrut tenaga pribumi untuk menangani pelayanan kesehatan hewan. Para tenaga pribumi yang lolos seleksi kemudian dilatih membaca dan menulis mengenai pembuatan laporan serta tentang materi kesehatan hewan. Mereka yang dikenal sebagai “mantri hewan” ditugaskan di berbagai daerah dengan gaji 15 gulden. Baca juga: Dokter dalam Daftar Kematian Penerapan Politik Etis tahun 1901 berdampak besar pada perkembangan sekolah dokter hewan untuk pribumi. Selain membangun Veeartsenijkundige Laboratorium atau Laboratorium Penyakit Hewan dengan biaya 48.000 gulden, pemerintah kolonial Belanda juga mendirikan Indische Veeartzen School atau Sekolah Dokter Hewan Pribumi. Masa pendidikannya selama empat tahun. Sekolah Dokter Hewan Pribumi ini didirikan di Bogor, Jawa Barat, pada 1906. Syarat masuk sekolah ini harus lulus sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah menengah pertama. Alumni pertama Sekolah Dokter Hewan Pribumi adalah drh. Johannes Alexander Kaligis (J.A. Kaligis) yang lulus tahun 1910. Setelah itu, drh. R. Noto Soediro dan drh. R. Soetedjo lulus tahun 1911. Baca juga: Jejak J.A. Kaligis, Dokter Hewan Bumiputra Pertama Pada 1914, sekolah ini berganti nama menjadi Nederland Indische Veeartzen School (NIVS). Selain J.A. Kaligis, Noto Soediro, dan R. Soetedjo, alumni NIVS yang juga berjasa dalam perkembangan ilmu kesehatan hewan di Indonesia di antaranya A.F. Waworoentoe, peneliti dan perintis Lembaga Virologi Kehewanan; R. Djaenoedin, kepala Lembaga Penelitian Penyakit Hewan (LPPH) dan profesor di NIVS; serta Anwar Nasution, penemu pengganti fosfor untuk pemberantasan tikus sawah yang berasal dari bakteri botulisme yakni toksin botulinus . Berbeda dengan dokter hewan lulusan dari negeri Belanda yang disebut dierenarts (dokter hewan), dokter hewan lulusan Sekolah Dokter Hewan Pribumi disebut veearts (dokter ternak) karena disesuaikan dengan kepentingan pemerintah kolonial untuk mengamankan hewan-hewan ternak milik pemerintah dan perkebunan-perkebunan. Ketegangan antara Belanda dan Jepang berdampak pada Sekolah Dokter Hewan Pribumi di Bogor. Sekolah yang telah menghasilkan 143 dokter hewan ditutup pada 1941. Pada masa pendudukan Jepang, sekolah itu dilanjutkan dengan nama Bogor Zui Semon Gakko. Setelah Indonesia merdeka, pada 1946 sekolah ini berganti nama menjadi Sekolah Dokter Hewan Bogor hingga pada 1947 menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan.*
- A.A. Maramis Kecil, dari Tikala untuk Indonesia
HIDUP masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara pada masa kolonial Belanda tak beda jauh dari masyarakat wilayah lain Nusantara. Mereka dikaruniai alam yang indah dan sumber tanaman pangan yang melimpah. Orang Minahasa umumnya penganut Kristiani, sama dengan kebanyakan orang Belanda. Kristen membuat masyarakat Minahasa menjadi masyarakat yang berkarakter lembut. Kejahatan yang dulunya marak, berkurang pesat selama masa penyebaran Kristen. ”…Orang Minahasa telah menjadi penurut yang lembut, kejahatan telah berkurang. Keadaan ini telah berubah atas usaha agama Kristen dan hasil sekolah Zending yang mulai didirikan pada tahun 1831,” terang Bambang Suwondo, dkk, dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara. Tetapi kesamaan agama tak lantas membawa pada kesamaan nasib bagi orang Minahasa. Belanda menganggap mereka sebagai warga kelas dua yang layak dieksploitasi karena mereka pribumi non-Eropa. Akibatnya alam yang indah dan tanaman pangan yang berlimpah tak berarti banyak buat hidup mereka. Di sisi lain, periode awal 1900-an menandai munculnya kelas baru di tengah masyarakat di Manado. Kelas ini mendapat pendidikan Belanda. Mereka kemudian mengisi pos-pos pemerintahan Belanda di Manado dan hidup berkecukupan. Di antaranya banyak juga yang menjadi anggota Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Anggota KNIL dari Manado adalah salah satu kelompok yang karirnya maju saat itu. Bahkan Pemerintah kolonial memberikan perhatian khusus kepada mereka. ”Sesuai dengan pandangan yang berlaku tentang kelompok etnis mana yang menjadi prajurit yang hebat, perhatian khusus diberikan pada pendaftaran rekrutan orang Ambon dan Manado. Di Sulawesi Utara para kepala nagari dijanjikan tambahan sepuluh gulden untuk setiap penduduk desa yang mendaftar,” tulis Kees Van Dijk, dalam The Netherlands Indies and The Great War. Sebelumnya, kelompok ini pernah membantu Belanda dalam memerangi Pangeran Diponegoro. ”Pada masa ini pula (1826 - 1830) orang-orang Minahasa di bawah pimpinan H.W. Dotulong, Palar, H. Supit, B.Th. Sigar, Inkiriwang, Mandagi, dan lain-lain membantu Belanda dalam perang Diponegoro, sehingga Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado pada tahun 1830, kemudian ke Makasar, dan meninggal di sana pada tahun 1855,” tulis Bambang Suwondo dkk, dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara. Berbeda dengan kelompok itu, orang Minahasa lainnya seperti hidup segan, tapi mati pun tak mau. Hingga tampil seorang dari keluarga Maramis yang mengabdikan dirinya untuk membela masyarakat kaum papa. Sebutlah nama Bernadus Maramis, dari Tonsea, salah satu distrik di Kota Manado. Dia menjabat sebagai pokrol bambu. Tugasnya menjaga hak-hak orang Minahasa dari ketidakadilan hukum pemerintah kolonial. Peran pokrol bambu di tengah-tengah masyarakat Minahasa ketika itu amat penting. Pokrol bambu adalah seseorang yang memberi nasihat hukum tetapi belum memperoleh kualifikasi atau pendidikan hukum. Dahulu pokrol bambu menjadi aktor penting dalam pelayanan hukum karena masyarakat umum merasa berjarak dengan advokat yang berizin. Kiprah Bernadus sebagai pokrol bambu dikenal antero Distrik Tonsea, juga Kota Manado. Bernardus mengangkat marwah nama keluarga Maramis. Keluarga ini merupakan salah satu keluarga terpandang di Tonsea. Selain karena tergolong kelas atas, marga Maramis juga dikenal karena kiprah perjuangannya membela rakyat. Selain Bernadus, ada seorang tokoh lagi yang namanya abadi sebagai pahlawan. Dialah sang anak, Maria Walanda Maramis. Anak Bernadus lainnya, Andries Alexander Maramis pada kemudian hari melanjutkan perjuangan sang ayah sebagai pokrol bambu. Andries lulusan Hoofdenschool (sekolah raja) Tondano. Dari Andries nantinya lahir seorang anak yang mengangkat martabat keluarga Maramis di pentas nasional. Dia adalah Alexander Andries Maramis. Masyarakat Indonesia mengenalnya dengan nama A.A. Maramis. Sedangkan keluarga dan orang-orang dekatnya memanggilnya dengan nama Alex Maramis. Alex Maramis lahir di Tonsea pada 20 Juni 1897. Dia tumbuh jadi anak yang pendiam, tapi cerdas dan menyukai seni. Namanya kopian langsung dari nama sang ayah. Cuma ditukar saja posisinya. Alexander-nya di depan, Andries-nya di belakang. Keluarga Andries cukup unik. Adik Alex pun punya nama serupa. Bahkan namanya sama persis dengan nama sang ayah. Andries Alexander Maramis. Kalau tidak jeli, ketiga nama itu bisa tertukar. Soal ini bukannya tak pernah terjadi. Pernah buku Rupiah di Tengah Rentang Sejarah, terbitan Departemen Keuangan tahun 1991 membahas Alexander Andries Maramis. Buku itu menyebut bahwa Alex bersaudara kandung dengan Maria Walanda Maramis. Berikut cuplikannya. ”Ketika ORI diterbitkan pertama kali, tanda tangan A.A. Maramis telah tercantum di sana. Beliau diangkat menjadi Menteri Keuangan pada 2 September 1945 menggantikan Dr. Samsi yang hanya menjabat selama dua minggu. Pada saat itulah bentuk organisasi Kementerian Keuangan baru dibicarakan. Kakak kandung Maria Walanda Maramis ini mengalami pendidikan dasarnya di bawah pengawasan para guru Belanda, tetapi sebagian besar usianya diabdikan pada pergerakan kemerdekaan bangsanya,” tulis buku tersebut. Padahal Maria adalah bibi Alex. Maria adalah anak kandung Bernadus, adik Andries Alexander Maramis. Maria menikah dengan Joseph Frederik Calusung Walanda sehingga mendapat nama keluarga Walanda Maramis. Ketiga nama ayah anak ini memang merepotkan orang yang ingin mengkaji kiprah keluarga Maramis. Salah nama, salah pula tokoh yang dibahas. Tapi ’ulah’ Andries memberi nama anak-anaknya seperti itu bukan tanpa alasan. Dia ingin anak lelakinya mengikuti jejaknya sebagai pembela kaum lemah Minahasa: jadi pokrol bambu. Menelisik kehidupan masa kecil Alex pun bukan urusan gampang. Keluarga Maramis dikenal low profile. Tambahan lagi, dokumen-dokumen sejarah memang jarang mengangkat kehidupan pribadi tokoh. Keterangan tentangnya justru banyak didapat dari orang-orang yang dekat dengannya. Sayangnya kebanyakan dari mereka sudah tiada. Buku A.A. Maramis, S.H karya F.E.W Parengkuan menjadi sumber yang layak. Buku ini mewawancarai dua belas orang yang dekat dengan kehidupan Alex. Mulai dari kakak dan adik Alex, keponakannya, sampai sahabat terdekatnya. Parengkuan menerangkan, semangat keluarga Maramis membela kaum lemah dapat dilihat dari sejarah sosial budaya masyarakat Minahasa. Meskipun ajaran Kristiani mengajarkan sikap lemah lembut, bukan berarti orang Minahasa manut-manut saja dengan Belanda. Kristen memang mengajarkan kasih, namun juga mengajarkan keadilan dan pembelaan terhadapnya. Dasar keagamaan tersebut membuat sebagian Minahasa membuat perlawanan terhadap Belanda. Antara lain perlawanan rakyat Siau, Manganitu, Perang Panipi, Banteng Mahesa, sampai perlawanan Pasukan Pemuda Indonesia Laskar Banteng pada 1942. Bernadus membawa semangat tersebut kepada Andries, dan Andries mewariskannya lagi kepada keluarganya. Dia mengajarkan anak-anaknya untuk membela kebenaran apapun risikonya. Dia juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjauhi popularitas, dan menjaga kehormatan diri dan masyarakatnya. Soal yang terakhir ini pernah teruji. Suatu ketika seorang Belanda bertamu di rumah keluarga Maramis di Tikala. Tamu itu tidak mengindahkan sopan santun ala Minahasa kepada keluarga Maramis. Dia dengan seenaknya masuk ke dalam rumah sebelum diterima tuan rumah. Rupanya si orang Belanda yang bertamu itu merasa dirinya lebih berharga daripada tuan rumah yang pribumi. “Tamu Belanda yang belum dipersilahkan masuk apalagi duduk itu dengan segera dihardik dan disuruh keluar dulu. Ia dituntut bahwa seandainya memang bermaksud baik, maka mestilah menghormati tata cara bertamu di rumah keluarga Maramis,” tulis F.E.W. Parengkuan. Andries menunjukkan kepada keluarganya betapa kehormatan harus dijunjung, bahkan kepada Eropa Belanda yang nota bene warga kelas satu sekalipun, apapun risikonya. Keberanian ini pada masa itu terhitung langka. Dari Tikala untuk Indonesia Tikala tempat keluarga Maramis bermukim adalah kawasan elit Manado di zaman kolonial. Banyak keluarga Belanda kaya bermukim di sana. Sedangkan yang asli Minahasa cuma sedikit yang berumah di sana. Salah satunya keluarga Andries Alexander Maramis. Lantaran keluarga Maramis tergolong mampu, Andries dapat menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda di Manado. Alex kecil kemudian mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS) di Manado. Parengkuan memperkirakan Alex mulai bersekolah di sana pada tahun 1903. ”Kapan Alex mulai disekolahkan di Manado tidak pula diperoleh keterangan. Hanya dapat diperkirakan bahwa sekitar tahun 1903, yaitu setelah ia berumur enam tahun,” terang Parengkuan. Lulus dari ELS, Alex kemudian melanjutkan studinya di Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III, Batavia (Jakarta). Lokasinya terletak di sekitar Jalan Matraman Raya sekarang. Studi Alex di HBS tergolong lancar. Media-media massa ketika itu rajin memuat berita tentang ujian para murid HBS. Misalnya, De Expres edisi 14 Mei 1912 menyebut Alex dipromosikan ke kelas dua. Alex kemudian naik kelas 3 (Bataviaasch Nieuwsblad, 13 Mei 1913), naik kelas 4 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 23 April 1914), dan seterusnya. Hingga akhirnya Alex lulus ujian akhir HBS Koning Willem III. Beritanya dimuat Bataviaasch Nieuwsblad edisi 27 Mei 1916. Lulus dari HBS, Alex tidak lantas kembali ke Manado untuk jadi pokrol bambu. Dia ingin lebih mendalami studinya. Alex pun memberanikan diri untuk mendaftar ke Universitas Leiden, Belanda, dan mahasiswa hukum hingga lulus pada 19 Juni 1926. Alex kemudian mendapat gelar Meester de Rechten itu kemudian membaktikan dirinya menjadi advokat di banyak tempat. Semasa itu Alex banyak menangani kasus yang membela kepentingan pribumi. Perjalanan hidup Alex kemudian berubah. Dia ikut mendirikan Republik Indonesia. Sepak terjangnya menjadi penting untuk bangsa Indonesia. Harapan sang ayah Andries kepada sang anak Alex terpenuhi. Alex menjadi ’pokrol bambu’, pembela rakyat, bukan hanya untuk masyarakat Minahasa, tetapi juga untuk rakyat Indonesia.*





















