top of page

Hasil pencarian

9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dinamika Majalah Sastra di Indonesia (Bagian 3)

    SEJAK Orde Baru, Horison tampil sebagai majalah sastra yang mendominasi penerbitan karya sastra di Indonesia. Sebagai majalah sastra paling berpengaruh, Horison menjadi tolok ukur karya kesusastraan. Belum afdol jadi sastrawan kalau karyanya belum pernah dimuat dalam Horison. Begitulah pandangan umum yang berlaku saat itu. Namun, memasuki dekade 1990-an, Horison mengalami penurunan. “Pada saat yang sama, muncul juga media-media sastra dan budaya alternatif yang penting. Misalnya, jurnal kebudayaan Kalam yang terbit pada 1994, yang dikelola oleh Goenawan Muhammad dan kawan-kawan, kemudian juga menguatnya otoritas koran,” terang kritikus sastra Zen Hae. Pada 1992, harian Kompas, menggagas penghargaan anugerah cerita pendek (cerpen) terbaik. Cerpen pilihan Kompas dibukukan dari tahun ke tahun. Sejak itu, cerpen-cerpen bermutu bermunculan dalam Kompas maupun koran lain. Hal ini mulai menggeser perhatian para sastrawan, khususnya penulis cerpen. Orientasi mereka yang semula ingin diterbitkan dalam majalah sastra beralih ke media cetak. “Mengingat posisi Kompas sebagai surat kabar nomor wahid di negeri ini, sekarang dan kedudukan cerpen dalam media massa. Harus diakui, kini Kompas menjadi salah satu dari sedikit sisa tempat pelarian cerita pendek –yang berkualitas maksud saya. Apalagi karena memberikan penghargaan honorarium yang lebih layak dari media massa lain kepada penulisnya,” tulis sastrawan Putu Wijaya dalam surat pembaca Kompas, 26 Juli 1992. Menurut Zen, pergeseran itu menandai juga orientasi pengarang yang tidak lagi mengandalkan majalah sastra sebagai medan perhitungan kreativitas mereka. Mereka mulai mempercayai otoritas koran-koran harian yang punya lembar sastra setiap hari Minggu. Selain itu, menjelang Orde Baru runtuh, semangat demokratisasi dan desentralisasi mulai merekah, termasuk dalam kesusastraan. Sebagaimana otonomi daerah, komunitas sastra mulai bermunculan di berbagai daerah. Mereka mendirikan semacam perkauman sastra yang salah satu tujuannya membangun kembali kultur budaya tulisan yang kuat dan tak lagi mengandalkan majalah sastra terbitan ibu kota. Misalnya, sastrawan Bali menerbitkan jurnal budaya CAK, yang meski tampilannya sederhana tapi punya isi serius. Di Pekanbaru, ada jurnal budaya Menyimak, sementara di Jawa Tengah terkenal dengan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP). Di Bekasi, ada buletin Jejak yang diterbitkan Forum Sastra Bekasi. “Jadi, mereka tidak lagi mengandalkan otoritas Jakarta sebagai legitimator atau episentrum dari sastra nasional. Sebaliknya, mereka ingin melahirkan kembali kultur sastra yang tidak mengandalkan Jakarta sebagai pusat karena menurut mereka redaktur Jakarta itu sangat arogan, tidak memuatkan karya-karya mereka,” beber Zen. Komunitas sastra daerah yang dianggap minoritas itu, menurut Jamal D. Rahman, mantan pemimpin redaksi Horison, sejatinya adalah roh yang menghidupkan kebudayaan. Karena berada dalam lingkup kecil, mereka sangat relevan dengan komunitasnya. Buletin yang diterbitkan komunitas sastra daerah misalnya, selain bernilai sastra juga berfungsi sebagai arsip rekaman sezaman yang punya nilai sejarah. “Roh sastra yang benar-benar hidup berada di tempat yang selama ini kita anggap minoritas, pinggiran, dan tepermanai, tapi tak terekam dalam sejarah sastra Indonesia,” kata Jamal. “Orang hanya tahu majalah-majalah besar, tapi ironisnya kita tidak tahu apa yang sebenarnya benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakat kita.” Memasuki era kekinian, kepengarangan bertumbuh tapi kepenyuntingan melemah. Tranformasi ke wahana digital menyebabkan setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri, seperti menerbitkan kumpulan puisi ke dalam blog atau media sosial. Begitu pula dengan karya sastra lain, yang terbit tanpa melalui proses penyuntingan. Fenomena ini berbeda dengan penerbitan konvensional di era sebelumnya ketika kepenyuntingan berperan besar dalam suatu karya. Dulu, pengarang atau sastrawan bisa menunggu bertahun-tahun untuk karyanya di muat dalam majalah sastra. Meski demikian, karya sastra bermutu tetap punya acuan di tengah membanjirnya karya sastra. Biasanya berupa penghargaan, seperti dari Badan Bahasa, Kusala Sastra Khatulistiwa atau masuk nominasi media seperti Cerpen Pilihan Kompas maupun Buku Sastra Pilihan Tempo. “Situasinya sekarang berubah karena ada aspek hilangnya kepakaran. Semua orang merasa bisa menulis sesuatu yang namanya sastra Indonesia. Jadi kalau orang mencari, karya sastra yang baik tadi, lihat saja yang mendapat penghargaan. Itu kan acuan yang bisa dipegang untuk menilai karya sastra hari ini,” pungkas Zen.*

  • Aksi Spionase di Balik Kematian Leon Trotsky

    BERITA kegagalan kelompok David Alfaro Siqueiros, muralis terkemuka Meksiko, membunuh Leon Trotsky sampai ke telinga Joseph Stalin. Pemimpin Uni Soviet itu geram saat tahu tokoh revolusi Bolshevik yang lahir dengan nama Lev Davidovich Bronstein tersebut selamat dari serangan pada Mei 1940. Sejarawan Rusia Dmitri Volkogonov dalam Trotsky: The Eternal Revolutionary menulis bahwa Stalin mendesak Lavrenti Beria, polisi rahasia yang pernah memimpin Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri Uni Soviet (NKVD), untuk melanjutkan operasi menyingkirkan Trotsky. Yang mendapat tugas menjalankan operasi tersebut adalah Naum Isakovich Eitingon atau Leonid Eitingon. Baik Beria maupun Eitingon tahu betul bahwa operasi kali ini tidak boleh ada kesalahan. “Yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa orang yang bersembunyi di Meksiko, tetapi nyawa Eitingon dan keluarganya. Ia harus menemukan cara untuk menyusupkan anak buahnya ke dalam rumah Trotsky, karena sejak percobaan pembunuhan di bulan Mei, Trotsky telah menghentikan kebiasaannya melakukan perjalanan ke bukit-bukit untuk mencari kaktus,” tulis Volkogonov.

  • Kontes Memasak Tempo Dulu

    KOMPETISI memasak Master Chef Indonesia (MCI) musim ke-11 baru saja usai. Pada babak final, Belinda keluar sebagai juara mengalahkan Kiki. Hasil ini tidak begitu memuaskan penonton. Kiki lebih diunggulkan karena kemampuan memasaknya acapkali memenangi tantangan. Kedua finalis masih sama-sama muda dan berpotensi. Kiki berpengalaman sebagai pegawai restoran (kitchen helper) di Medan. Sementara itu, Belinda adalah jebolan sekolah masak ternama Le Cordon Bleu, Selandia Baru. Keluhan para penonton itu terlihat dalam komentar di berbagai laman media sosial -seperti Twitter, Facebook, dan Instagram- hingga menjadi topik yang sedang sejak kemarin. Jauh sebelum MCI menjadi tontonan populer, kontes memasak sudah eksis setidaknya pada warsa 1980-an. Pada 1988, majalah Femina untuk kali pertama menyelenggarakan kompetisi memasak untuk amatir bertajuk “Lomba Masak Pria”. Kontes ini dihelat dalam rangka memeriahkan Festival Telur dan Ayam. Tujuannya untuk menggalakan konsumsi protein di tengah masyarakat.

  • Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (3)

    TEPAT setelah jam lima pagi, Nina Epton terbangun oleh kilatan cahaya dan suara berisik di belakang rumah kepala desa. Cahaya itu berasal dari obor yang dibawa penduduk desa ke dan dari sungai. Sementara suara berisik berasal dari dapur di mana para wanita tengah menumbuk padi untuk memisahkan gabah dari sekam. Setelah sarapan, Epton bersama rombongan melanjutkan perjalanan untuk menemui Suku Baduy Dalam, yang ia sebut the invisible people atau orang-orang tak terlihat. “Kami kini telah terbiasa berjalan tanpa alas kaki, dan kami membuat kemajuan yang baik sehingga kami sampai di Ciboleger, desa terdepan di perbatasan wilayah Baduy, sebelum tengah hari,” tulis Epton, mantan wartawan BBC London, dalam Magic and Mystic of Java. Desa Ciboleger berada di lereng bukit berhutan lebat dan dikeliling hamparan sawah yang membentang luas. Bersama dengan Darmono, Japar, dan para porter yang membawa barang-barang keperluan ekspedisi, Epton menuju rumah kepala desa Ciboleger. Setelah tiba di sana, Japar menyeberang ke wilayah Baduy untuk menyampaikan berita kedatangan mereka bersama pesan Hilman Djajadiningrat tentang Epton dan rombongannya, kepada puun di desa terdekat.

  • Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (2)

    TUKANG becak mengantar Nina Consuelo Epton, pelancong asal Inggris, dari tempat Hoesein Djajadiningrat ke sebuah bungalow di sudut jalan yang sepi di daerah permukiman Jakarta. Setibanya di sana, ia disambut pelayan yang mengantarkannya ke ruangan yang nyaman dan berperabot lengkap. Tak lama kemudian Hilman Djajadiningrat masuk ke dalam ruangan. “Sama sekali tidak ada gunanya kamu pergi sendirian, kamu tidak akan bertemu siapa-siapa dan tidak ada yang bisa masuk ke wilayah Baduy Dalam kecuali orang Baduy,” kata Hilman sebagaimana ditulis Epton dalam Magic and Mystic of Java yang berisi catatan perjalanannya selama mengunjungi Indonesia pada 1950-an. Hilman pernah menjabat bupati Serang (1935–1945) dan gubernur daerah federal Batavia (1948–1950). Ia bercerita kepada Epton bahwa salah satu anggota keluarganya mempekerjakan seorang Baduy pelarian bernama Japar di perkebunan karetnya. Seperti nenek moyang Djajadiningrat kami dari abad ke-17, ia juga anak seorang Pu’un atau pemimpin Suku Baduy Dalam.

  • Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (1)

    PERJALANAN mengunjungi sejumlah wilayah di Indonesia pada 1950-an menjadi pengalaman yang berkesan bagi Nina Consuelo Epton (1913–2010). Tak heran bila tiga tahun setelah perjalanan pertamanya, wanita yang pernah bekerja sebagai wartawan BBC London itu kembali ke Indonesia untuk melakukan ekspedisi. Kali ini misinya menemui Suku Baduy yang ia sebut sebagai “the invisible people” atau “orang-orang tak terlihat”. Dalam bukunya, Magic and Mystic of Java, Epton berkisah awal mula perkenalannya dengan Suku Baduy. Wanita kelahiran Hampstead, London tahun 1913 itu mulai tertarik dengan suku yang mendiami wilayah Banten tersebut sejak membaca tentang mereka di buku The History of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles. Mantan Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa itu menulis bahwa Suku Baduy yang tinggal di pedalaman Banten merupakan keturunan dari orang-orang yang lari ke dalam hutan setelah runtuhnya bagian barat kota Pajajaran pada abad kelima belas. Meski tidak sempat bertemu orang-orang Baduy selama masa tugasnya di Hindia Belanda, Raffles memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar terhadap masyarakat tersebut. Oleh karena itu, ia mengumpulkan informasi mengenai Suku Baduy dan menuliskannya ke dalam salah satu bagian bukunya.

  • Jiwa Seni Asrul Sani

    NAMA Asrul Sani turut mewarnai sejarah kebudayaan Indonesia modern. Sebagai seniman, karya-karyanya sohor dalam berbagai puisi, cerpen, drama, dan film. Meski telah wafat pada 11 Januari 2004 silam, namanya dikenang sebagai salah satu seniman terbesar Indonesia. “Asrul Sani sosok yang tidak hanya menghasilkan karya-karya tetapi juga membentuk arah perkembangan kebudayaan nasional. Sebagai penyair Angkatan ‘45, dia turut menghadirkan semangat kemerdekaan dan kemanusiaan dalam sastra Indonesia. Sebagai penulis skenario dan sutradara, karya-karyanya menjadi tonggak penting dalam sejarah perfilman nasional,” kata Sekjen Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta dalam pembukaan pameran “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” di Perpustakaan Nasional, Jakarta, 9 Juni 2026. Asrul Sani lahir di Rao, Pasaman, Sumatra Barat, pada 10 Juni 1925. Bungsu dari tiga bersaudara ini berayah-ibu Sultan Marah Sani Syair Alamsyah dan Nuraini Nasution. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Bukittinggi, Asrul melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Setamatnya dari sekolah Taman Siswa, dia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Kedokteran Hewan Bogor. Tapi, ketertarikannya pada sastra dan suasana perjuangan kemerdekaan saat itu menyebabkan kuliah kedokteran hewannya mangkrak. Pada 1945, Asrul Sani bergabung dalam Pasukan 301 Laskar Rakyat yang ditugaskan di belakang garis musuh. Tak tanggung-tanggung, komandannya adalah Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai Bapak Intelijen Indonesia. Asrul kemudian bergaul dengan Chairil Anwar, penyair revolusioner keponakan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Mutiara Sani Sarumpaet, istri Asrul Sani sekaligus pemimpin Pelaku Sanggar Pelakon, dalam pembukaan dialog budaya dan pameran "Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani". (Martin Sitompul/Historia.ID). Bersama Chairil dan Rivai Apin, Asrul Sani mengasuh penerbitan majalah sastra Gema Suasana. Mereka dikenal sebagai sastrawan pelopor Angkatan ‘45. Namun, kiprah Asrul Sani dalam kesusastraan mulai mengemuka ketika menerbitkan buku kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir (1950) yang memuat karya-karya Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin. Asrul juga menjadi salah satu redaktur rubrik sastra dan budaya di majalah Siasat. Di majalah itulah sikap berkesenian para seniman Angkatan ‘45 dicetuskan melalui “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada 22 Oktober 1950. Sejak 1950-an, Asrul Sani memulai kariernya di dunia perfilman. Mulai dari layar lebar kemudian merambah ke layar kaca. Perkenalan pertamanya dengan film bermula ketika dia diminta menyelesaikan skenario film Long March/Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail. Pada periode ini, Asrul menikmati perannya sebagai sineas. Meski demikian, ia tak mengabaikan pendidikannya sehingga pada 1955, dia berhasil menggondol sarjana kedokteran hewan. Tapi, Asrul tak pernah membuka praktik karena waktunya tercurah untuk membuat film. Kendati tak setenar Usmar Ismail yang digelari Bapak Perfilman Nasional, Asrul Sani termasuk sineas yang cukup produktif. Sepanjang 40 tahun kariernya sebagai sineas, dia terlibat dalam penggarapan 55 film. Dia juga memenangkan delapan Piala Citra, penghargaan tertinggi dalam Festival Film Indonesia (FFI). Capaian itu menjadikannya salah satu peraih Piala Citra terbanyak dalam sejarah perfilman Indonesia, di samping Idris Sardi (10 piala), Teguh Karya (7), dan Arifin C. Noer (7). Poster-poster film karya Asrul Sani. (Martin Sitompul/Historia.ID). Sebagai penulis skenario, karya Asrul Sani yang terkenal antara lain Lewat Djam Malam (1954), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa yang Kau Tjari, Palupi? (1969), Para Perintis Kemerdekaan (1977), Naga Bonar (1986), dan Pelangi di Nusa Laut (1992). Lewat Naga Bonar, Asrul memenangkan Piala Citra sebagai penulis cerita asli terbaik dan digadang-gadang sebagai karya terbaiknya. Film ini berkisah tentang Naga Bonar (diperankan Dedy Mizwar), mantan copet yang menjadi pejuang serta mengangkat dirinya sebagai jenderal, lengkap dengan segala tingkah polahnya di masa perang kemerdekaan. Sejalan dengan karya sastra dan dramanya, menurut kurator pameran Dhianita Kusuma Pertiwi, skenario-skenario film yang digarap Asrul Sani sarat akan gagasan dan dituturkan dengan gaya cerita modern. Konflik psikologis tokoh protagonis yang menggerakkan plot menjadi kekhasan skenario Asrul, dengan corak pedagogis terutama pada film-film yang mengangkat cerita religi. Dialog tokoh-tokohnya pun menggunakan bahasa Indonesia yang ekspresif, mengingatkan pada semangat Angkatan ‘45 untuk melepaskan diri dari gaya tutur Pujangga Baru. “Dari Apa Jang Kau Tjari, Palupi? yang memperoleh pengakuan internasional sebagai film terbaik Asian Film Festival 1970 sampai Naga Bonar yang kelakarnya masih terdengar sampai hari ini, Asrul telah membuktikan diri sebagai seorang sineas yang menjadikan film sebagai alat ekspresi dan medium pemikiran, bukan sekadar sarana ketakjuban,” terang Dhianita. Pameran "Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani" dalam rangka 101 tahun Asrul Sani di Perpustakaan Nasional, 9 Juni 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID). Menurut Kepala Perpustakaan Nasional E. Aminuddin Azis, karya-karya Asrul Sani masuk dalam koleksi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang meliputi berbagai wahana: audio, visual, dan teks. “Perpusnas memiliki karya-karya Asrul Sani. Dalam catatan saya, yang bisa kita temukan sementara ini terdeteksi ada 80 judul. Dari 80 koleksi tersebut terdapat 31 judul monograf, 16 majalah, 3 koleksi suratkabar, 3 koleksi foto, dan 27 koleksi audio,” ungkap Aminuddin. Selama hidupnya, sebagaimana disaksikan sang istri, Mutiara Sani Sarumpaet yang juga pemimpin Pelaku Sanggar Pelakon, Asrul Sani telah menunjukkan bahwa seni bukan sekadar ekspresi, melainkan juga tanggung jawab moral. Melalui puisi, cerpen, drama, film, dan berbagai karya lainnya, Asrul menghadirkan refleksi mendalam tentang manusia, kebangsaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. “Ia tidak hanya berbicara tentang zamannya, tetapi juga melampaui zaman –menjadi relevan hingga hari ini, bahkan untuk masa depan,” tutup Mutiara.*

  • Gatotkaca Terbang, Mendarat di Museum

    HARI Penerbangan Nasional tahun ini, Selasa (27/10/2020), patut dijadikan cermin untuk merenungkan sudah sejauh mana Indonesia melangkah dalam dunia kedirgantaraan. Persaingan ketat di bidang kedirgantaraan internasional yang telah diikuti negara seperti RRC, India, bahkan Brazil, boleh dibilang belum “mengikutsertakan” Indonesia secara penuh di dalamnya. Kondisi tersebut seakan mundur dari masa ketika Indonesia masih bayi. Menurut Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta Kolonel Sus. Dede Nasrudin dalam webinar “Gatotkaca Mengguncang Dunia”, Selasa (27/10/2020), republik yang walaupun masih bayi sudah berusaha menelurkan pembuktian kompetensinya dalam hal dirgantara berkat penerbangan yang dilakukan Komodor Udara Agustinus Adisutjipto pada 27 Oktober 1945. Saat itu yang digunakan adalah pesawat bekas Jepang, Yokosuka K5Y alias “Cureng”. “Hari ini ditetapkan sebagai Hari Penerbangan Nasional sejak 27 Oktober 1945 Pak Adisutjipto menggunakan pesawat Cureng dengan identitas roundel merah putih pertamakali terbang di atas Maguwo (kini Lanud Adisutjipto) dan kota Yogyakarta. Ini bukti kepada dunia internasional bahwa kita sudah bisa menerbangkan pesawat dengan pilot asli orang Indonesia berlogo merah putih,” ujarnya.

  • Saat Jenderal Gatot Soebroto Beraksi di Yugoslavia

    SEPTEMBER, 1961. Presiden Sukarno berkunjung ke Yugoslavia dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok. Selain didampingi Letjen TNI Gatot Soebroto, Deputi Kepala Staf Angkatan Darat, Bung Karno juga mengajak putra sulungnya, Guntur. Rombongan Bung Karno menumpang pesawat carter Pan Am DC-707. Selain untuk menghadiri KTT Non-Blok, tujuan muhibah Sukarno adalah meninjau kapal perang pesanan Indonesia yang sedang dibuat di Yugoslavia. Sehubungan dengan kepentingan tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Abdul Haris Nasution telah tiba duluan di Yugoslavia. Adapun kapal perang yang tengah dipesan itu adalah jenis Submarin chaser buatan Yugoslavia, kapal anti kapal selam yang mampu bergerak cepat sebagai kapal pemuburu. Dalam penerbangan, Sukarno menuturkan betapa canggihnya kapal tempur pesanan TNI itu. Guntur antusias mendengarnya dan menanyakan berbagai hal, mulai dari meriam, radar, hingga daya tempuh tembakan. Sayangnya, Sukarno kurang begitu paham soal seluk-beluk alustista. Dia menyarankan Guntur untuk bertanya lebih lanjut kepada Jenderal Gatot.

  • A.H. Nasution dan Zulkifli Lubis Akur, Gatot Soebroto Senang

    DEMI bisa melihat upacara pelantikan suaminya, Kolonel A.H. Nasution, menjadi KSAD untuk kali kedua, di Lapangan Banteng pada 1 November 1955, Johana Sunarti terpaksa menumpang pada seorang kenalan suaminya, Kadir. Dari rumah Kadir yang berada di pinggir Lapangan Banteng itulah Johana bisa leluasa melihat upacara pelantikan itu. “Beda dengan protokol masa Orde Baru (Orba), maka di masa liberal itu sang isteri pejabat tidak masuk protokol, jadi tidak diundang, kebiasaan dari masa perjuangan 1945-50 masih dihayati,” kata Nasution dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 3. Upacara pelantikan itu juga berbeda dari pelantikannya sebagai KSAD saat pertamakali (1949) dan pelantikan-pelantikan para petinggi militer lain sebelumnya. “Sejak 1945 baru kali inilah pelantikan pejabat tinggi TNI dilakukan di depan pasukan. Sejak dulu pelantikan dilakukan di Istana Presiden. Prakarsa ini datang dari Kolonel Z. Lubis, yang menganggap lebih tepat di depan pasukan daripada di Istana. Saya sependapat dengan beliau,” sambung Nasution.

  • Bahasa Belanda Gatot Soebroto di India

    DI BANDARA Kemayoran, sejumlah petinggi negara berkumpul. Tampak di antara mereka Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Abdul Haris Nasution, yang berbincang dengan wakilnya Letnan Jenderal Gatot Soebroto. Selain Nasution, turut mendampingi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Surjadi Suryadarma bersama Gubernur DKI Jakarta Soemarmo dan Panglima Kodam V Jaya Kolonel Umar Wirahadiusumah. Duta Besar India dan Myanmar beserta atase militer masing-masing pun tampak mengiringi. Mereka hendak mengantar rombongan misi Angkatan Darat bertolak ke India dan Myanmar. “Misi ADRI ke India dan Birma untuk persahabatan dan meninjau objek militer,” demikian diwartakan Harian Patriot, 19 April 1960.

  • Pembajakan 19 Hari

    DESA De Punt, Glimmen, Belanda, 11 Juni 1975 pukul 05 pagi. Keheningan suasana desa disobek suara enam pesawat F-104 Starfighter AU Belanda yang terbang rendah di atas sebuah keretapi. Para personil Bijzondere Bijstands Eenheid/BBE Marinir Belanda di dekat kereta itu langsung menyerbu kereta. Mereka berupaya membebaskan penduduk sipil yang disandera sekelompok pemuda pejuang Republik Maluku Selatan (RMS) di dalam kereta tadi. Pembajakan kereta dan penyanderaan itu jadi imbas tak langsung dari Pengakuan Kedaulatan di pengujung 1949 dan penguasaan Kepulauan Maluku oleh Tentara Nasional Indonesia setahun berikutnya. Banyak mantan personel KNIL yang jadi pejuang dan simpatisan kemerdekaan RMS lalu memilih tinggal Belanda. Selain adanya ikatan emosional kuat antara mereka dengan Belanda, jaminan bantuan pemerintah Belanda untuk mewujudkan RMS menjadi alasan kuat mengapa mereka memilih tinggal di Belanda. Namun, alih-alih mendapatkan apa yang mereka impikan, dari hari ke hari mereka justru mendapat perlakuan sebaliknya. Tempat penampungan mereka tak layak, hanya kamp-kamp berkondisi buruk. Yang lebih penting, tak terlihat upaya sungguh-sungguh pemerintah Belanda dalam menepati janji mewujudkan RMS. Mereka pun marah.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page