Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Repatriasi Harga Mati
HARI masih pagi ketika Kapal Waterman tiba di Rotterdam, Belanda pada 6 September 1958. Kapal terakhir itu mengangkut ribuan orang Belanda dari Indonesia. Pemerintah Indonesia memulangkan (repatriasi) mereka sebagai buntut dari sengketa Irian Barat. Pada 29 November 1957, PBB gagal menyetujui resolusi yang menyerukan kepada Belanda supaya berunding dengan Indonesia soal Irian Barat. Irian Barat pun tetap di bawah kekuasaan Belanda. Sukarno menyatakan, jika mosi yang diajukan Indonesia di Sidang Umum PBB ditolak, pemerintah Indonesia akan mengambil “jalan lain yang akan mengejutkan dunia.”
- Partono, Pilot Jadi Menteri
PRESIDEN Sukarno beberapa kali melawat ke Jepang. Kunjungan terakhirnya pada Januari 1965 menghadapi masalah ketika akan kembali ke Indonesia. Petugas keamanan memberitahukan bahwa rute terbang melalui Okinawa, Hongkong, dan Manila, tidak aman. Setelah menerima laporan itu, Sukarno memanggil dan bertanya kepada Kapten Partono, pilot pesawat jet Garuda: apakah mampu untuk menerbangkan rombongan presiden secara nonstop melalui rute di luar peta penerbangan, yakni dari Tokyo langsung ke Biak di Irian Barat (Papua). “Kapten Partono menyatakan kesanggupannya untuk menerbangkan pesawat melalui rute yang panjang di barat daya Pasifik itu, walaupun penerbangan semacam itu, dengan membawa presiden, biasanya didahului dengan beberapa kali penerbangan penjajakan,” kata Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno . Saat itu, Ganis menjabat deputi menteri dan juru bicara Departemen Luar Negeri.
- Keris yang Dikubur Bersama Pangeran Diponegoro
PANGERAN Diponegoro memiliki banyak senjata pusaka berupa keris dan tombak. Sebagian besar pusakanya diberikan kepada putra dan putrinya, kecuali satu keris yang menyertainya ke liang lahad. Diponegoro memberikan keris Kiai Bromo Kedali (cundrik) dan tombak Kiai Rondan kepada Pangeran Diponegoro II; keris Kiai Habit (Abijoyo?) dan tombak Kiai Gagasono kepada Raden Mas Joned; keris Kiai Blabar dan tombak Kiai Mundingwangi kepada Raden Mas Raib. Keris Kiai Wreso Gemilar dan tombak Kiai Tejo diberikan kepada Raden Ayu Mertonegoro; keris Kiai Hatim dan tombak kiai Simo kepada Raden Ayu Joyokusumo; tombak Kiai Dipoyono kepada Rade Ajeng Impun; dan tombak Kiai Bandung kepada Raden Ajeng Munteng.
- Di Balik Kutukan Keris Mpu Gandring
KEN ANGROK dikutuk mati oleh Mpu Gandring. Maestro keris itu mengucap sumpah bahwa keris buatannya akan memutus hidup sang pendiri Singhasari dan tujuh turunannya. Begitulah Pararaton mengisahkan bagaimana Mpu Gadring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Angrok, Anusapati, hingga Tohjaya menemui ajalnya. Katuturanira Ken Anrok itu hanya memberikan penjelasan sederhana soal tragedi berdarah di keluarga Singhasari. Si penulis yang anonim hanya bilang kalau pembunuhan berantai terjadi akibat kutukan Mpu Gandring. Namun, di baliknya, menurut Dwi Cahyono, pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, pertumpahan darah di singgasana Singhasari bukan cuma persoalan balas dendam. Tragedi itu lebih menunjukkan perebutan pengaruh antara trah Ken Angrok dan trah Tunggul Ametung. Secara lebih luas, drama itu merupakan kelanjutan usaha wilayah timur Gunung Kawi, yaitu Tumapel-Singhasari memisahkan diri dari genggaman Kadiri.
- Korban Keris Mpu Gandring
SIAPA yang tak kenal dengan kisah keris Mpu Gandring? Keris ini dikutuk pembuatnya, Mpu Gandring, akan membawa malapetaka. Keris pencabut maut ini dikisahkan dalam kitab Pararaton atau Katuturanira Ken Anrok (gubahan tahun 1478 dan 1486 tanpa disebutkan penggubahnya). Di luar mitos soal magis keris Mpu Gandring, kisah ini menggambarkan suksesi berdarah yang mengiringi perjalanan kerajaan Singasari, yang didirikan Ken Angrok. Berikut ini para korban kutukan keris Mpu Gandring.
- Bianglala Kehidupan di Balik Kamp Interniran Jepang
SETIAP pagi, orang-orang Belanda penghuni kamp interniran, harus berbaris menghadap ke sebelah timur arah matahari terbit. Kebiasaan ini mengikuti tradisi orang Jepang yang disebut seikerei sebagai wujud penghormatan kepada kaisar Jepang. Di bawah pemerintah pendudukan Jepang, orang Belanda tak bisa berbuat banyak. Mereka terpaksa ikut tunduk membungkuk di bawah sengatan terik mentari pagi. Celakanya, membungkuk ke arah matahari ketika seikerei itu bisa makan waktu lama. Sikap tunduknya bahkan bisa membentuk sudut tubuh mencapai 25 derajat hingga 40 derajat. Tak ayal, banyak interniran Belanda tak kuat sampai pingsan. Alih-alih ditolong, serdadu Jepang penjaga kamp malah menambah derita mereka dengan gamparan dan tendangan. Meski kehidupan kamp interniran di bawah represi Jepang, orang Belanda tak ingin tunduk bulat-bulat pada Jepang. Beredar cerita yang mengisahkan bagaimana mereka mempertahankan kesetiaan pada negaranya. Dengan segala cara walau berisiko bila ketahuan. Alkisah, seorang tawanan menyobek kain berwarna oranye, warna kebanggaan Kerajaan Belanda, dan membagikannya kepada tawanan lain. Mereka mengikatkan kain itu ke jempol kaki masing-masing. Ketika melakukan seikerei , mereka kuat membungkuk karena merasa memberi hormat kepada Sri Ratu Wilhelmina, bukan kepada Kaisar Jepang. Begitulah kehidupan dalam kamp interniran semasa pendudukan Jepang. Pakar cagar budaya, Nunus Supardi menuturkan beragam segi kehidupan di balik kamp interniran dalam dua buku, Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran . Selain mencerminkan kekejaman perang, dia juga memotret kisah-kisah kemanusiaan yang dialami para tawanan. “Ada 864 kamp [interniran] di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua. Cukup banyak. Yang paling dikenal dan dianggap sebagai kamp paling keras adalah Tjideng (Cideng)” terang Nunus dalam bedah bukunya di Galeri Cemara 6–Toety Heraty Museum, Jakarta Pusat, 1 April 2026. Kamp interniran yang dibangun pemerintah pendudukan Jepang ditujukan kepada warga Belanda dan sebagian orang Eropa. Menurut Nunus, Jepang ingin menghilangkan semua pengaruh Barat dan pemisahan yang tegas masyarakat Asia dari bangsa Barat. Andai kata tidak ditangani, warga Belanda dan Eropa yang jumlahnya mencapai 300.000 orang bakal membangun kekuatan untuk melawan Jepang. Selain itu, Jepang melalui kamp interniran ingin mempermalukan bangsa Barat, yang telah merendahkan Jepang untuk waktu yang lama. Diperkirakan sebanyak 294.000 orang Eropa, terutama Belanda, dijebloskan ke dalam kamp interniran yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka mulai dari perwira militer, warga biasa, perempuan, hingga anak-anak. Jumlah dan lokasi kamp interniran yang terdaftar sebanyak 864 kamp. Sebanyak 174 kamp di Jawa Barat, 191 kamp di Jawa Tengah, 179 kamp di Jawa Timur, 180 kamp di Sumatra, 50 kamp di Kalimantan, 39 kamp di Sulawesi, 26 kamp di Sunda kecil, 20 kamp di Maluku, dan 5 kamp di Papua. Bedah buku Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Akhir Revolusi di Indonesia . (Martin Sitompul/Historia.ID). Jenis kamp interniran bermacam-macam. Mulai dari kamp tahanan perang, kamp VIP atau tahanan orang penting, kamp anak laki-laki, kamp warga sipil, kamp penjahat, kamp tahanan dan penjara, kamp perlindungan, hingga kamp konsentrasi. Namun, tidak semua orang Belanda ditahan di kamp interniran. Mereka yang punya keahlian sebagai teknisi atau ahli di bidang tertentu dibebaskan dan dikaryakan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Misalnya, Kepala Dinas Purbakala Hindia Belanda Willem Frederick Stutterheim, semula ditahan di Yogyakarta kemudian dipindahkan ke Batavia. Dia dibebaskan mengingat keahliannya sebagai arkeolog yang dibutuhkan pemerintah pendudukan Jepang. Orang-orang Belanda di kamp interniran hidup nelangsa. Berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sebelumnya di masa kolonial sebagai warga kelas satu. Di kamp interniran, mereka harus berjuang untuk memperoleh makanan dan air bersih. Belum lagi kondisi kamp yang kotor dan sumpek lantaran tinggal berdesak-desakan. Nasib anak-anak paling memprihatinkan. Badan mereka kurus kerempeng karena kekurangan gizi. Tak sedikit pula anak-anak yang didera penyakit selama tinggal dalam kamp interniran. Dalam berbagai sumber Jepang, menurut sejarawan Universitas Indonesia Dwi Mulyatari, kamp interniran disebut sebagai “daerah perlindungan”. Jepang berkilah, kamp interniran bagi orang Belanda dan Eropa untuk melindungi mereka dari sasaran kebencian pemuda-pemuda Indonesia. Di balik itu, Jepang sejatinya hanya ingin mengamankan dan menawan mereka sebagai wujud hegemoni kekuasaan. “Bagi sejarawan, penting juga kita melihat sumber apa yang kita gunakan lalu istilah apa yang dipakai dalam sumber tersebut. Untuk sumber-sumber Kan Po , koran sezaman terbitan masa pendudukan Jepang yang memuat peraturan-peraturan pemerintah, kecenderungannya memakai kata yang diperhalus seperti daerah perlindungan. Atau untuk menjaga orang Belanda terhindar dari amukan pemuda revolusioner ketika memasuki masa revolusi,” jelas Mulyatari. Mulyatari juga mengutip kisah humanisme dalam kamp interniran tentang para biarawati yang membuat dan mengirimkan kartu ucapan Natal kepada sesama interniran. Meski sederhana, kartu ucapan Natal ini memberikan harapan akan keselamatan dan kedekatan kepada Tuhan. Sementara itu, Teuku Reza Fadeli, sejarawan Universitas Indonesia, menyatakan bahwa kamp interniran menggambarkan bagaimana memori dibuat, diproduksi, dan dijaga. Ini terlihat dari artefak-artefak sejarah yang ditinggalkan oleh para interniran. Banyak dari mereka menyelingi waktu dalam interniran dengan membuat lukisan, renda, bahkan centong nasi dengan ukiran unik. Itu semua membutuhkan pembacaan lebih lanjut untuk merekonstruksi sejarah dari keseharian para interniran. “Ini mungkin bisa dibingkai dalam studi lanjutan sebagai satu sumbangan studi memori atau bagaimana aspek gender juga membentuk pengalaman dari tawanan kamp interniran ini,” kata Reza.*
- Anusapati dan Candi Kidal
BANYAK yang percaya Candi Kidal di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur ditemukan oleh Thomas Stanford Raffles (1781-1826) tahun 1817. Padahal, Raffles yang menulis History of Java hanya sebentar menjadi Letnan Gubernur Jenderal di Jawa. Dalam Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I, misalnya, I.G.N. Anom, Sri Sugiyanti, dan Hadniwati Hasibuan menyebutkan, ketika ditemukan Raffles pada 1817, Candi Kidal diselimuti oleh hutan. Tanpa harus mengaitkanya dengan Raffles, Candi Kidal tetaplah candi menarik. Candi yang terletak di barat Gunung Bromo ini adalah warisan dari penganut Hindu-Siwa yang dulu berkembang di daerah ini. Di zaman Hindia Belanda, candi ini diteliti B. de Haan, J.F.G. Brumund, A.J. Bernet, dan Raden Soekmono.
- Berburu Keris Bukan Mistis
PRABU Brawijaya murka. Pengaruh Sunan Giri, salah satu dari sembilan wali, dianggap sudah mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Gresik tumbuh menjadi pusat politik dan perdagangan yang penting di Jawa. Brawijaya pun mengirim Patih Gajah Mada dan pasukannya untuk menyerang Giri. Penduduk Giri panik dan berhamburan ke dalam keraton. Sunan Giri, yang sedang menulis, terkejut dan terlemparlah penanya (kalam). Dia lalu berdoa dan berubahlah pena itu menjadi keris berputar-putar, Keris itu mengamuk dan menewaskan banyak tentara Majapahit. Keris itu lalu kembali ke keraton dan tergeletak di hadapan Sunan dengan berlumuran darah. Sunan lalu berdoa meminta ampunan. Sekejap keris itu pun bersih kembali. Kisah dalam Babad Tanah Jawa itu begitu populer di kalangan penggemar keris. Konon, setelah itu, Sunan mengatakan kepada rakyat Giri bahwa dia menamakan kerisnya Kalam Munyeng.
- Jasa Sang Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia
PADA masa pendudukanJepang didirikan Bandung Koo Gyoo Dai Gaku tahun 1944. Perguruan tinggi ini sebagai kelanjutan dari Technische Hoogeschool yang ditutup pada 1942. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Bandung Koo Gyoo Dai Gaku diambil alih dan diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandoeng yang dipimpin oleh Prof. Ir. Roosseno. Tak lama berjalan, STT Bandoeng mengungsi ke Yogyakarta karena terjadi perang kemerdekaan melawan Sekutu dan Belanda. STT Bandoeng dibuka kembali di Yogyakarta pada 17 Februari 1946 (ditetapkan sebagai Hari Perguruan Tinggi Teknik). Pemrakarsanya adalah Ir. Wreksodiningrat, insinyur teknik sipil pertama Indonesia lulusan Belanda. Dia kemudian menggantikan Roosseno sebagai pemimpin STT Bandoeng pada 1 Maret 1947.
- Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia Lulusan Belanda
JEMBATAN sepanjang 145 meter melintasi sungai Code. Jembatan dengan lebar 15 meter itu menghubungkan Kabupaten Sleman dengan Kota Yogyakarta, melewati Jalan Condro Lukito dan A.M. Sangaji, menuju ke Kaliurang dan kawasan perguruan tinggi. Dengan melewati jembatan itu, waktu tempuh pun berkurang 25 menit dari Kawasan Monjali menuju Universitas Gadjah Mada dan RS dr. Sardjito. Jembatan itu dibangun mulai dari Oktober 2007 sampai selesai pada November 2008 dengan menelan biaya Rp24,2 milyar dari APBN tahun 2007 dan 2008. Jembatan itu diberi nama Jembatan Wreksodiningrat.
- Keris Menteri Pertahanan
MENTERI Pertahanan Prabowo Subianto mengadakan pertemuan empat mata dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Prancis, Selasa (15/3/2022). Mereka membahas kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis, yaitu mengenai pembelian pesawat jet Rafale dan kapal selam Scorpene yang telah disepakati pada 10 Februari 2022. Di pengujung pertemuan, Prabowo menyerahkan cendera mata berupa keris Bali kepada Macron. Prabowo kerap memberikan keris Bali sebagai cendera mata kepada para pejabat negara lain. Sebelumnya, Prabowo memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace di London, Selasa (23/3/2021). Dia juga memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd James Austin di Bahrain, Sabtu (20/11/2021).
- ITB Rayakan Seabad TH Bandung
PERANG Dunia I menghalangi orang Hindia Belanda melanjutkan pendidikan tinggi ke Belanda, khususnya ke Technische Hogeschool (TH) Delft. Namun, perang juga telah mengubah pandangan orang Belanda, yang semula berpendapat bahwa Hindia Belanda belum siap memiliki perguruan tinggi. Bahkan, pada 30 Mei 1917 beberapa orang terkemuka d ar i kalangan perbankan, perdagangan, dan perusahaan, mengadakan pertemuan di gedung Nederlandse Handelsmaatschappij di Amsterdam , untuk mendirikan Koninklijk Instituut voor Hoger Onderwijs in Nederlands Indie (Institut Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi di Hindia Belanda) . Sebagai pelaksana program, dibentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) yang diketuai oleh Dr. C.J.K. van Aalst, kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Dia memiliki pengalaman dalam perkeretaapian di Jawa dan Sumatra, serta pengetahuan yang luas tentang masyarakat Hindia Belanda, termasuk sejarah kuno Jawa dan Sumatra.





















