top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Bianglala Kehidupan di Balik Kamp Interniran Jepang

Selain mencerminkan kejamnya perang, kamp interniran merekam sisi-sisi humanisme yang dialami para tahanan. Kamp-kamp interniran itu kini tak berjejak lagi.

2 Apr 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Interniran perempuan dan anak-anak di kamp Cideng. (NIOD).

  • 11 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

SETIAP pagi, orang-orang Belanda penghuni kamp interniran, harus berbaris menghadap ke sebelah timur arah matahari terbit. Kebiasaan ini mengikuti tradisi orang Jepang yang disebut seikerei sebagai wujud penghormatan kepada kaisar Jepang. Di bawah pemerintah pendudukan Jepang, orang Belanda tak bisa berbuat banyak. Mereka terpaksa ikut tunduk membungkuk di bawah sengatan terik mentari pagi.


Celakanya, membungkuk ke arah matahari ketika seikerei itu bisa makan waktu lama. Sikap tunduknya bahkan bisa membentuk sudut tubuh mencapai 25 derajat hingga 40 derajat. Tak ayal, banyak interniran Belanda tak kuat sampai pingsan. Alih-alih ditolong, serdadu Jepang penjaga kamp malah menambah derita mereka dengan gamparan dan tendangan.


Meski kehidupan kamp interniran di bawah represi Jepang, orang Belanda tak ingin tunduk bulat-bulat pada Jepang. Beredar cerita yang mengisahkan bagaimana mereka mempertahankan kesetiaan pada negaranya. Dengan segala cara walau berisiko bila ketahuan.


Alkisah, seorang tawanan menyobek kain berwarna oranye, warna kebanggaan Kerajaan Belanda, dan membagikannya kepada tawanan lain. Mereka mengikatkan kain itu ke jempol kaki masing-masing. Ketika melakukan seikerei, mereka kuat membungkuk karena merasa memberi hormat kepada Sri Ratu Wilhelmina, bukan kepada Kaisar Jepang.


Begitulah kehidupan dalam kamp interniran semasa pendudukan Jepang. Pakar cagar budaya, Nunus Supardi menuturkan beragam segi kehidupan di balik kamp interniran dalam dua buku, Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran. Selain mencerminkan kekejaman perang, dia juga memotret kisah-kisah kemanusiaan yang dialami para tawanan.


“Ada 864 kamp [interniran] di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua. Cukup banyak. Yang paling dikenal dan dianggap sebagai kamp paling keras adalah Tjideng (Cideng)” terang Nunus dalam bedah bukunya di Galeri Cemara 6–Toety Heraty Museum, Jakarta Pusat, 1 April 2026.


Kamp interniran yang dibangun pemerintah pendudukan Jepang ditujukan kepada warga Belanda dan sebagian orang Eropa. Menurut Nunus, Jepang ingin menghilangkan semua pengaruh Barat dan pemisahan yang tegas masyarakat Asia dari bangsa Barat. Andai kata tidak ditangani, warga Belanda dan Eropa yang jumlahnya mencapai 300.000 orang bakal membangun kekuatan untuk melawan Jepang. Selain itu, Jepang melalui kamp interniran ingin mempermalukan bangsa Barat, yang telah merendahkan Jepang untuk waktu yang lama.


Diperkirakan sebanyak 294.000 orang Eropa, terutama Belanda, dijebloskan ke dalam kamp interniran yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka mulai dari perwira militer, warga biasa, perempuan, hingga anak-anak. Jumlah dan lokasi kamp interniran yang terdaftar sebanyak 864 kamp. Sebanyak 174 kamp di Jawa Barat, 191 kamp di Jawa Tengah, 179 kamp di Jawa Timur, 180 kamp di Sumatra, 50 kamp di Kalimantan, 39 kamp di Sulawesi, 26 kamp di Sunda kecil, 20 kamp di Maluku, dan 5 kamp di Papua.


Bedah buku Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Akhir Revolusi di Indonesia. (Martin Sitompul/Historia.ID).
Bedah buku Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Akhir Revolusi di Indonesia. (Martin Sitompul/Historia.ID).

Jenis kamp interniran bermacam-macam. Mulai dari kamp tahanan perang, kamp VIP atau tahanan orang penting, kamp anak laki-laki, kamp warga sipil, kamp penjahat, kamp tahanan dan penjara, kamp perlindungan, hingga kamp konsentrasi. Namun, tidak semua orang Belanda ditahan di kamp interniran.


Mereka yang punya keahlian sebagai teknisi atau ahli di bidang tertentu dibebaskan dan dikaryakan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Misalnya, Kepala Dinas Purbakala Hindia Belanda Willem Frederick Stutterheim, semula ditahan di Yogyakarta kemudian dipindahkan ke Batavia. Dia dibebaskan mengingat keahliannya sebagai arkeolog yang dibutuhkan pemerintah pendudukan Jepang.


Orang-orang Belanda di kamp interniran hidup nelangsa. Berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sebelumnya di masa kolonial sebagai warga kelas satu. Di kamp interniran, mereka harus berjuang untuk memperoleh makanan dan air bersih. Belum lagi kondisi kamp yang kotor dan sumpek lantaran tinggal berdesak-desakan. Nasib anak-anak paling memprihatinkan. Badan mereka kurus kerempeng karena kekurangan gizi. Tak sedikit pula anak-anak yang didera penyakit selama tinggal dalam kamp interniran.


Dalam berbagai sumber Jepang, menurut sejarawan Universitas Indonesia Dwi Mulyatari, kamp interniran disebut sebagai “daerah perlindungan”. Jepang berkilah, kamp interniran bagi orang Belanda dan Eropa untuk melindungi mereka dari sasaran kebencian pemuda-pemuda Indonesia. Di balik itu, Jepang sejatinya hanya ingin mengamankan dan menawan mereka sebagai wujud hegemoni kekuasaan.


“Bagi sejarawan, penting juga kita melihat sumber apa yang kita gunakan lalu istilah apa yang dipakai dalam sumber tersebut. Untuk sumber-sumber Kan Po, koran sezaman terbitan masa pendudukan Jepang yang memuat peraturan-peraturan pemerintah, kecenderungannya memakai kata yang diperhalus seperti daerah perlindungan. Atau untuk menjaga orang Belanda terhindar dari amukan pemuda revolusioner ketika memasuki masa revolusi,” jelas Mulyatari.


Mulyatari juga mengutip kisah humanisme dalam kamp interniran tentang para biarawati yang membuat dan mengirimkan kartu ucapan Natal kepada sesama interniran. Meski sederhana, kartu ucapan Natal ini memberikan harapan akan keselamatan dan kedekatan kepada Tuhan.


Sementara itu, Teuku Reza Fadeli, sejarawan Universitas Indonesia, menyatakan bahwa kamp interniran menggambarkan bagaimana memori dibuat, diproduksi, dan dijaga. Ini terlihat dari artefak-artefak sejarah yang ditinggalkan oleh para interniran. Banyak dari mereka menyelingi waktu dalam interniran dengan membuat lukisan, renda, bahkan centong nasi dengan ukiran unik. Itu semua membutuhkan pembacaan lebih lanjut untuk merekonstruksi sejarah dari keseharian para interniran.


“Ini mungkin bisa dibingkai dalam studi lanjutan sebagai satu sumbangan studi memori atau bagaimana aspek gender juga membentuk pengalaman dari tawanan kamp interniran ini,” kata Reza.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Catatan Snouck Hurgronje Tentang Kebiasaan Umat Islam di Hindia Belanda

Catatan Snouck Hurgronje Tentang Kebiasaan Umat Islam di Hindia Belanda

Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje pergi ke Jeddah dan Makkah untuk mengamati dan menggali informasi mengenai umat Islam dari Hindia Belanda.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page