top of page

Di Balik Kutukan Keris Mpu Gandring

Kisah berdarah di balik kutukan Mpu Gandring merupakan perebutan takhta tiga faksi di Singhasari.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Candi Kidal, tempat pendharmaan Anusapati. (Wikipedia).

23 Okt 2018
4 menit membaca

Diperbarui: 3 Apr

KEN ANGROK dikutuk mati oleh Mpu Gandring. Maestro keris itu mengucap sumpah bahwa keris buatannya akan memutus hidup sang pendiri Singhasari dan tujuh turunannya.


Begitulah Pararaton mengisahkan bagaimana Mpu Gadring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Angrok, Anusapati, hingga Tohjaya menemui ajalnya. Katuturanira Ken Anrok itu hanya memberikan penjelasan sederhana soal tragedi berdarah di keluarga Singhasari. Si penulis yang anonim hanya bilang kalau pembunuhan berantai terjadi akibat kutukan Mpu Gandring.


Namun, di baliknya, menurut Dwi Cahyono, pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, pertumpahan darah di singgasana Singhasari bukan cuma persoalan balas dendam. Tragedi itu lebih menunjukkan perebutan pengaruh antara trah Ken Angrok dan trah Tunggul Ametung. Secara lebih luas, drama itu merupakan kelanjutan usaha wilayah timur Gunung Kawi, yaitu Tumapel-Singhasari memisahkan diri dari genggaman Kadiri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page