top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pembajak Pesawat Garuda Woyla Tuntut Tebusan 1.5 Juta Dolar Amerika

    KELOMPOK Kriminal Bersenjata (KKB) Papua dikabarkan meminta Rp5 miliar sebagai tebusan untuk membebaskan pilot Susi Air bernama Philips Mark Mehrtens yang disandera Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Egianus Kagoya sejak Februari. Panglima TNI Laksamana Yudo Margono memberikan lampu hijau perihal uang tebusan. Namun, isu uang tebusan dibantah oleh Egianus Kagoya. Kelompoknya hanya menginginkan kemerdekaan Papua untuk ditukar dengan Philips. Kapolda Papua Irjen Pol. Mathius Fakhiri mengklarifikasi bahwa uang Rp5 miliar merupakan arahan darinya kepada pejabat bupati Nduga. Apabila negosiasi membuahkan hasil, dia meminta bupati menyiapkan uang dari kas pemerintah daerah. Berbeda halnya dengan pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” pada 28 Maret 1981, pemerintah lebih memilih opsi militer meski pembajak mengajukan tuntutan uang disertai ancaman peledakan pesawat. Pembajak meminta tebusan sebesar US$1,5 juta. Selain itu, mereka juga meminta pembebasan rekan-rekannya yang ditangkap karena menyerang Polsek Cicendo. Itulah syarat yang mereka ajukan untuk ditukar dengan penumpang pesawat yang disandera.

  • Indonesia Dukung Palestina dengan Prangko

    WARGA Palestina tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan ini dengan khusyuk. Tentara Israel menyerang warga Palestina, mulai dari anak-anak, perempuan, hingga orang lanjut usia di Masjid Al-Aqsha, Jerusalem. Negara-negara Eropa diam, tak seperti kepada Ukraina yang diserang Rusia. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sejak awal merdeka telah menunjukkan keberpihakan kepada Palestina. Indonesia menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel hingga kini, meskipun Israel memberikan pengakuan kedaulatan kepada Indonesia.

  • Prangko, Si Kecil Sarat Arti

    USAI memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Jakarta tetap bukanlah tempat yang aman. Tentara NICA-Belanda terus melancarkan aksi untuk menguasai Jakarta. Dalam rapat kabinet 3 Januari 1946 para pemimpin Republik memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta. Sejumlah upaya dilakukan untuk menunjukkan eksistensi negara yang baru merdeka dan berdaulat ini. Salah satunya menerbitkan prangko. “Indonesia mencetak prangko untuk kali pertama pada 1946 untuk memperingati setengah tahun kemerdekaan. Gambarnya banteng sedang menarik rantai, sebagai simbol telah terbebas dari penjajahan,” ujar Lutfie, ketua Bidang Pameran di Perkumpulan Filatelis Indonesia.

  • Lelucon 1 April

    PADA 31 Maret 1969, koran terbitan Jakarta, Indonesia Raya , menurunkan berita mengenai Ratna Sari Dewi, istri mantan Presiden Sukarno. Judul beritanya sih biasa-biasa saja. Namun subjudulnya, apalagi isinya, bikin orang tergoda membacanya. Isteri Sukarno ke-3 Sari Dewi Kembali ke Indonesia  Tobat Atas Dosa2-nja–Akan Kembalikan Semua Harta Tjurian Untuk Dana Pendidikan   Djakarta, Selasa (IR), - Sari Dewi, isteri wanita Djepang bekas Presiden Soekarno jang baru2 ini dihebohkan berada di Bangkok dan Hongkong, dan menjatakan kepada pers di sana, bahwa dia ingin sekali kembali ke Indonesia untuk menengok suaminja, menurut sumber2 jang mengetahui telah berada di Djakarta. Sari Dewi kini tinggal disuatu tempat yang belum dapat disebutkan didalam kota Djakarta, tak djauh dari rumahnja dahulu, tempat bekas presiden Soekarno kini dikenakan tahanan rumah.

  • Miris, Nasib Bandara Internasional Pertama di Indonesia

    BANDAR Udara (Bandara) Kemayoran, Jakarta, resmi berdiri pada 8 Juli 1940. Inilah bandara pertama untuk pelayanan penerbangan internasional di Indonesia. Selama beroperasi, bandara ini sangat terkenal. Komik  Tin-Tin  karangan Herge, seniman asal Belgia, yang terkenal itu menyebut Bandara Kemayoran dalam seri  Flight 714 to Sydney . Seri ini menceritakan perjalanan Tin-Tin, tokoh utama komik, dari London menuju Sydney untuk mengikuti kongres Astronotika Internasional. Dia pergi bersama Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy.

  • Jejak Cinta yang Terpahat di Bandara

    KABAR melegakan itu pun datang. Setelah lama terbengkalai, eks Bandara Kemayoran akan dijadikan cagar budaya dan dibuka untuk publik. Selain merupakan bandara internasional pertama di Indonesia, ia menyimpan beberapa relief karya maestro Indonesia. Pada 17 hingga 21 Juli 2019, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran menggelar kegiatan Konservasi Karya Relief di eks Bandara Kemayoran. Mereka memamerkan tiga relief yang dulu menemani para penumpang di ruang VIP ( Very Important Person ) Bandara Kemayoran. Ketiga relief itu bercerita tentang Sangkuriang, flora dan fauna, serta manusia Indonesia.

  • Ketika Hatta dan Pengusaha India Kerjai PM Nehru

    SUDAH lima hari Wakil Presiden Mohammad Hatta berada di Bukittinggi, Sumatra Barat. Safari politik pada pertengahan 1947 itu merupakan kunjungan pertama ke kota kelahirannya setelah Indonesia merdeka. Kunjungan itu dilakukan Hatta untuk memberi penjelasan kondisi negara kepada rakyat atas permintaan beberapa anggota KNIP Daerah Sumatra. Pada hari kelima, Hatta kedatangan tamu seorang India bernama Biju Patnaik. Ia merupakan pengusaha penerbangan sekaligus sahabat Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru. Ia datang ke ibukota Indonesia, Yogyakarta, untuk membawakan bantuan obat-obatan dari Nehru sebagai bentuk dukungan terhadap revolusi Indonesia dan balas budi India atas tawaran bantuan beras dari Indonesia.

  • Jasa Biju Patnaik untuk Republik

    PADA masa Republik Indonesia belum lama lahir, India dengan tokoh nasionalisnya, Jawaharlal Nehru yang kemudian perdana menteri, merupakan salah satu pendukung terpenting. Banyak bantuan India tiba di Indonesia karena simpati, keberanian, dan kerja keras Biju Patnaik. Bijayananda Patnaik, lebih dikenal dengan Biju Patnaik, merupakan pilot sekaligus pengusaha maskapai penerbangan Kalinga Air. Pria kelahiran Orissa (kini Odisha, India), 5 Maret 1916 itu merupakan pejuang nasionalis India sejak muda. Kesamaan pandangannya dengan Nehru membuatnya menjadi salah satu sahabat yang dipercaya Nehru. Keduanya sama-sama bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal itu menjadi pertimbangan Nehru memilihnya untuk memikul tanggung jawab dalam membantu perjuangan Indonesia.

  • Charlie Chaplin Berkunjung ke Garut

    PRESIDEN Joko Widodo mengadakan kunjungan kerja ke Bandung, Jawa Barat (17/1). Dari Bandung, Jokowi menuju Kabupaten Garut dengan kereta api untuk meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut. Dalam akun twitter -nya, Jokowi mencuit: “Komedian legendaris abad ke-20 Charlie Chaplin pernah dua kali berlibur ke Garut dengan kereta api. Jalur yang dilewati Charlie Chaplin di Garut kini jadi rel mati dan akan kita hidupkan lagi untuk pengembangan kawasan wisata dan perekonomian.” Menurut Haryoto Kunto, yang dijuluki “kuncen Bandung”, dalam Seabad Grand Hotel Preanger, 1897-1997 , Garut merupakan kota kecil yang sering dikunjungi kaum preangerplanters (tuan-tuan perkebunan) , yang dihubungkan oleh jalur kereta api, di mana Stasiun Cibatu merupakan tempat alih kereta rute Bandung-Surabaya.

  • Nasib Pahit Kapal Perang Gegara Toilet

    TERCANGGIH atau terbaru tak serta-merta menjadikan sebuah kapal perang bisa diandalkan setiap waktu. Kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) contohnya. Kapal induk sepanjang 337 meter dan lebar dek terbang 78 meter serta bobot 100 ribu ton itu ditarik mundur dari Asia Barat gegara masalah toilet. Gerald R. Ford termasuk kapal induk terbaru dan terbesar AS. Biaya pembuatannya yang dimulai pada 2005 mencapai 13 miliar dolar Amerika (lebih dari Rp.220 triliun). Setelah dibangun di perusahaan Newport New Shipbuilding dan rampung pada 2013, kapal induk itu diberi nama Gerald R. Ford – mengabadaikan nama Presiden AS ke-38– dan ditugaskan di AL AS pada 2017 menggantikan pendahulunya, USS Enterprise (CVN-65), kapal induk AS pertama yang bertenaga nuklir (1961-2017). Ditenagai dua reaktor nuklir Bechtel A1B PWR yang menggerakkan empat baling-balingnya, Gerald R. Ford bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 30 knot (56 kilometer per jam) dengan durasi 25 tahun sebelum proses mid-life refuel . Sebagai bandara terapung operasi udara, Gerald R. Ford mampu maksimal 75 pesawat berbagai jenis. Sebagai pertahanan diri, selain dilengkapi radar-radar canggih, Gerald R. Ford juga dipersenjatai empat pasang peluncur misil permukaan ke udara, tiga meriam otomatis berpandu radar Phalanx CIWS kaliber 20 milimeter, serta delapan sistem senapan mesin yang masing-masing empat kaliber 25 mm dan 12,7 mm. Sebelum diikutkan dalam operasi menyerang Iran, Gerald R. Ford tercatat pernah mendukung “Operasi Southern Spear” untuk blokade kapal-kapal tanker minyak dari Venezuela. Mengutip Reuters , Sabtu (28/3/2026), kapal induk itu sudah tiba di kota pelabuhan Split, Kroasia di untuk perbaikan. Sebelumnya ketika mendukung “Operasi Epic Fury” dari Laut Merah untuk menyerang Iran pada 12 Maret, Gerald R. Ford dilaporkan mengalami kebakaran di ruang binatu. Kebakaran itu merembet kabin-kabin kru hingga menghanguskan sekitar 100 tempat tidur. Butuh waktu sampai 30 jam hingga api bisa dipadamkan. “Kebakarannya begitu hebat sampai-sampai helikopter-helikopter harus memindahkan cucian kotor mereka ke kapal-kapal lain agar bisa dicuci,” terang Senator AS, Jack Reed, dikutip NY Post , Sabtu (28/3/2026). Kejadian pahit itu turut membuat sekitar 200 krunya harus dirawat karena menghirup asapnya. Kapal itu juga sebelumnya acap mengalami masalah sistem pipa air limbah di hampir semua 650 toiletnya. Padahal saat pembuatannya, Gerald R. Ford menggunakan sistem pipa eco-friendly untuk toilet-toiletnya sebagaimana yang terdapat di pesawat-pesawat komersil. “Toilet-toilet eco-friendly ini tidak bertekanan dengan cara yang sama (dengan di pesawat) – toilet-toiletnya tidak bisa terbilas,” jelas pakar maritim Steve Wills. Problem Toilet Kasel Jerman Teknologi terbaru semestinya mempermudah, memperkaya, hingga mempercanggih beragam keperluan perang. Namun, kenyataannya acapkali berbeda. Kasus yang dialami Gerald R. Ford juga pernah dialami sebuah kapal selam (kasel) Jerman delapan dekade silam. Petaka itu dialami kasel U-1206 di perairan Inggris ketika Perang Dunia II. Dalam “teater” Perang Dunia II, U-1206 termasuk alutsista baru Kriegsmarine (AL Jerman). Baru dibuat oleh maskapai Schichau-Werke di Danzig pada 1942 dan rampung pada akhir 1943, ia resmi bertugas pada 16 Maret 1944. Kasel sepanjang 50,5 meter dengan bobot 769 ton itu terbilang canggih di zamannya. Ditenagai masing-masing dua mesin diesel 2.800-3.200 PS dan tenaga listrik 750 PS guna menggerakkan sepasang baling-balingnya, U-1206 bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 10 knot (19 km/jam) di permukaan dan 4 knot (7,4 km/jam) saat menyelam. Kasel U-995 dari kelas Type VII yang sejenis dengan Kasel U-1206 ( naval-encyclopedia.com ) Sebagai mesin perang, U-1206 bisa membawa maksimal 14 torpedo kaliber 53,5 milimeter yang bisa diluncurkan melalui lima tabung torpedonya. Dilengkapi pula masing-masing sepucuk meriam SK C/35 kaliber 8,8 cm dan meriam Flak M42 kaliber 3,7 cm, serta sepasang meriam ganda anti-pesawat kaliber 2 cm di dek atasnya. U-1206 juga dilengkapi snorkel bawah air untuk bisa menyelam sampai dengan kedalaman maksimal 250-295 meter. Toiletnya bersistem hi-tech bertekanan tinggi untuk menghemat ruang dan bobot kaselnya. “Kasel-kasel u-boat dengan Type VIIC/41 seperti U1206 dilengkapi sistem toilet bertekanan tinggi. Akan tetapi prosedur dan penggunannya cukup rumit karena jika salah bisa membuat air laut –ditambah limbah toilet– masuk dan mengalir kembali ke interior U-boat ,” tulis Lawrence Paterson dalam Dönitz’s Last Gamble: The Inshore U-Boat Campaign 1944-45. U-1206 menjalani patroli pertamanya pada 6 April 1954 dengan dinakhodai Kapitänleutnant Karl-Adolf Schlitt yang memimpin sekitar 50 kru. Kasel itu berpatroli dari Kristiansand, Norwegia ke perairan utara Kepulauan Inggris Raya, sebagai bagian dari unit Flotilla Kasel ke-11. Nahas, itu jadi patroli terakhir mereka. Pada 14 April 1945, saat sedang berada di kedalaman 200 meter lepas pantai Peterhead, Skotlandia, toiletnya mengalami malfungsi. Beberapa sumber menyebutkan petaka itu dipicu Kapten Schlitt sendiri ketika menggunakan toiletnya yang kemudian mengalami mampet. “Walaupun kemudian melalui pengakuan pribadi Schlitt, petaka itu terjadi ketika toiletnya sedang diperbaiki,” ungkap Roger Moorhouse dalam Wolfpack: Inside Hitler’s U-Boat War. Siapapun biang keroknya, lanjut Moorhouse, prosedur pembilasan toiletnya yang memerlukan pembukaan dan penutupan berbagai katup secara berurutan, tidak dilakukan dengan benar. Alhasil, air laut berikut limbah toiletnya pun masuk ke dalam kaselnya. Para kru berusaha mengendalikan arus airnya namun gagal. Air laut pun merembes ke kompartemen listrik hingga baterainya tenggelam dan melepaskan gas klorinnya ke berbagai kompartemen. “Dengan U-1206 mulai makin tenggelam dan kru berisiko keracunan, Schlitt memerintahkan mengosongkan tangki pemberat. Begitu kaselnya sudah dipermukaan, mereka segera membuka pintu-pintu kedap air demi masuknya udara melalui ventilasi,” imbuhnya. Ketika di permukaan tanpa bisa menyelam lagi, posisi U-1206 tepergok dua patroli pesawat Sekutu yang segera menjatuhkan bom-bomnya. Setelah memerintahkan menghancurkan dokumen-dokumen rahasianya, Schlitt menginstruksikan kaselnya ditenggelamkan dan para krunya menyelamatkan diri. Sekitar empat krunya tewas saat meloncat ke air laut dan tenggelam. Sementara 46 lainnya, termasuk Schlitt, menyelamatkan diri ke pantai terdekat hingga kemudian “diamankan” pasukan Inggris.

  • Invasi Kelinci

    PEMANDANGAN yang menyambut mata para peternak domba di sejumlah wilayah di Selandia Baru, sungguh mengerikan. Padang rumput berubah menjadi hamparan tanah tandus. Rumput, tanaman herba, hingga kulit kayu pohon-pohon muda lenyap oleh kawanan kelinci bak “mesin penyedot”. Nyaris tak ada yang tersisa bagi domba-domba penghasil wol. Produksi peternakan terkena dampaknya. Di Pulau Utara, suratkabar Poverty Bay Herald edisi 18 Desember 1922 melaporkan, jumlah domba berkurang drastis hampir 100.000 ekor di beberapa peternakan besar antara Taihape dan Hawke's Bay. Salah satu peternakan yang sebelumnya mampu memelihara 30.000 domba saat itu hanya menampung 8.000 ekor.

  • Aksi Para Sailor untuk Emperor

    MINGGU, 15 Mei 1932 di Kuil Yasukuni, Tokyo. Setelah turun dari dua taksi yang membawa ke depan pintu masuk samping kuil, sembilan perwira muda Angkatan Laut (AL) Kekaisaran Jepang langsung membungkuk ke arah Dewa Matahari. Usai melakukan ritual, mereka membeli sebuah jimat kepada seorang pendeta Shinto dan kembali ke dua taksi tadi. Mereka menuju kediaman resmi Perdana Menteri (PM) Tsuyoshi Inukai, politisi senior berpandangan moderat dari partai Rikken Seiyukai. Tak lama kemudian, mereka tiba di tujuan. “Di sini mereka memaksa melewati seorang sersan polisi dan masuk ke kamar Perdana Menteri Tsuyoshi Inukai, lelaki kecil berjenggot berumur 75 tahun,” tulis John Toland dalam The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire, 1936-1945 . Sejurus kemudian, peristiwa penting dalam sejarah Jepang yang ikut membentuk sejarah dunia pun diciptakan para perwira AL itu.

bottom of page