- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
TERCANGGIH atau terbaru tak serta-merta menjadikan sebuah kapal perang bisa diandalkan setiap waktu. Kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) contohnya. Kapal induk sepanjang 337 meter dan lebar dek terbang 78 meter serta bobot 100 ribu ton itu ditarik mundur dari Asia Barat gegara masalah toilet.
Gerald R. Ford termasuk kapal induk terbaru dan terbesar AS. Biaya pembuatannya yang dimulai pada 2005 mencapai 13 miliar dolar Amerika (lebih dari Rp.220 triliun). Setelah dibangun di perusahaan Newport New Shipbuilding dan rampung pada 2013, kapal induk itu diberi nama Gerald R. Ford –mengabadaikan nama Presiden AS ke-38– dan ditugaskan di AL AS pada 2017 menggantikan pendahulunya, USS Enterprise (CVN-65), kapal induk AS pertama yang bertenaga nuklir (1961-2017).
Ditenagai dua reaktor nuklir Bechtel A1B PWR yang menggerakkan empat baling-balingnya, Gerald R. Ford bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 30 knot (56 kilometer per jam) dengan durasi 25 tahun sebelum proses mid-life refuel. Sebagai bandara terapung operasi udara, Gerald R. Ford mampu maksimal 75 pesawat berbagai jenis.
Sebagai pertahanan diri, selain dilengkapi radar-radar canggih, Gerald R. Ford juga dipersenjatai empat pasang peluncur misil permukaan ke udara, tiga meriam otomatis berpandu radar Phalanx CIWS kaliber 20 milimeter, serta delapan sistem senapan mesin yang masing-masing empat kaliber 25 mm dan 12,7 mm.
Sebelum diikutkan dalam operasi menyerang Iran, Gerald R. Ford tercatat pernah mendukung “Operasi Southern Spear” untuk blokade kapal-kapal tanker minyak dari Venezuela. Mengutip Reuters, Sabtu (28/3/2026), kapal induk itu sudah tiba di kota pelabuhan Split, Kroasia di untuk perbaikan. Sebelumnya ketika mendukung “Operasi Epic Fury” dari Laut Merah untuk menyerang Iran pada 12 Maret, Gerald R. Ford dilaporkan mengalami kebakaran di ruang binatu.
Kebakaran itu merembet kabin-kabin kru hingga menghanguskan sekitar 100 tempat tidur. Butuh waktu sampai 30 jam hingga api bisa dipadamkan.
“Kebakarannya begitu hebat sampai-sampai helikopter-helikopter harus memindahkan cucian kotor mereka ke kapal-kapal lain agar bisa dicuci,” terang Senator AS, Jack Reed, dikutip NY Post, Sabtu (28/3/2026).
Kejadian pahit itu turut membuat sekitar 200 krunya harus dirawat karena menghirup asapnya. Kapal itu juga sebelumnya acap mengalami masalah sistem pipa air limbah di hampir semua 650 toiletnya. Padahal saat pembuatannya, Gerald R. Ford menggunakan sistem pipa eco-friendly untuk toilet-toiletnya sebagaimana yang terdapat di pesawat-pesawat komersil.
“Toilet-toilet eco-friendly ini tidak bertekanan dengan cara yang sama (dengan di pesawat) – toilet-toiletnya tidak bisa terbilas,” jelas pakar maritim Steve Wills.
Problem Toilet Kasel Jerman
Teknologi terbaru semestinya mempermudah, memperkaya, hingga mempercanggih beragam keperluan perang. Namun, kenyataannya acapkali berbeda. Kasus yang dialami Gerald R. Ford juga pernah dialami sebuah kapal selam (kasel) Jerman delapan dekade silam. Petaka itu dialami kasel U-1206 di perairan Inggris ketika Perang Dunia II.
Dalam “teater” Perang Dunia II, U-1206 termasuk alutsista baru Kriegsmarine (AL Jerman). Baru dibuat oleh maskapai Schichau-Werke di Danzig pada 1942 dan rampung pada akhir 1943, ia resmi bertugas pada 16 Maret 1944.
Kasel sepanjang 50,5 meter dengan bobot 769 ton itu terbilang canggih di zamannya. Ditenagai masing-masing dua mesin diesel 2.800-3.200 PS dan tenaga listrik 750 PS guna menggerakkan sepasang baling-balingnya, U-1206 bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 10 knot (19 km/jam) di permukaan dan 4 knot (7,4 km/jam) saat menyelam.

Sebagai mesin perang, U-1206 bisa membawa maksimal 14 torpedo kaliber 53,5 milimeter yang bisa diluncurkan melalui lima tabung torpedonya. Dilengkapi pula masing-masing sepucuk meriam SK C/35 kaliber 8,8 cm dan meriam Flak M42 kaliber 3,7 cm, serta sepasang meriam ganda anti-pesawat kaliber 2 cm di dek atasnya.
U-1206 juga dilengkapi snorkel bawah air untuk bisa menyelam sampai dengan kedalaman maksimal 250-295 meter. Toiletnya bersistem hi-tech bertekanan tinggi untuk menghemat ruang dan bobot kaselnya.
“Kasel-kasel u-boat dengan Type VIIC/41 seperti U1206 dilengkapi sistem toilet bertekanan tinggi. Akan tetapi prosedur dan penggunannya cukup rumit karena jika salah bisa membuat air laut –ditambah limbah toilet– masuk dan mengalir kembali ke interior U-boat,” tulis Lawrence Paterson dalam Dönitz’s Last Gamble: The Inshore U-Boat Campaign 1944-45.
U-1206 menjalani patroli pertamanya pada 6 April 1954 dengan dinakhodai Kapitänleutnant Karl-Adolf Schlitt yang memimpin sekitar 50 kru. Kasel itu berpatroli dari Kristiansand, Norwegia ke perairan utara Kepulauan Inggris Raya, sebagai bagian dari unit Flotilla Kasel ke-11.
Nahas, itu jadi patroli terakhir mereka. Pada 14 April 1945, saat sedang berada di kedalaman 200 meter lepas pantai Peterhead, Skotlandia, toiletnya mengalami malfungsi. Beberapa sumber menyebutkan petaka itu dipicu Kapten Schlitt sendiri ketika menggunakan toiletnya yang kemudian mengalami mampet.
“Walaupun kemudian melalui pengakuan pribadi Schlitt, petaka itu terjadi ketika toiletnya sedang diperbaiki,” ungkap Roger Moorhouse dalam Wolfpack: Inside Hitler’s U-Boat War.
Siapapun biang keroknya, lanjut Moorhouse, prosedur pembilasan toiletnya yang memerlukan pembukaan dan penutupan berbagai katup secara berurutan, tidak dilakukan dengan benar. Alhasil, air laut berikut limbah toiletnya pun masuk ke dalam kaselnya. Para kru berusaha mengendalikan arus airnya namun gagal. Air laut pun merembes ke kompartemen listrik hingga baterainya tenggelam dan melepaskan gas klorinnya ke berbagai kompartemen.
“Dengan U-1206 mulai makin tenggelam dan kru berisiko keracunan, Schlitt memerintahkan mengosongkan tangki pemberat. Begitu kaselnya sudah dipermukaan, mereka segera membuka pintu-pintu kedap air demi masuknya udara melalui ventilasi,” imbuhnya.
Ketika di permukaan tanpa bisa menyelam lagi, posisi U-1206 tepergok dua patroli pesawat Sekutu yang segera menjatuhkan bom-bomnya. Setelah memerintahkan menghancurkan dokumen-dokumen rahasianya, Schlitt menginstruksikan kaselnya ditenggelamkan dan para krunya menyelamatkan diri.
Sekitar empat krunya tewas saat meloncat ke air laut dan tenggelam. Sementara 46 lainnya, termasuk Schlitt, menyelamatkan diri ke pantai terdekat hingga kemudian “diamankan” pasukan Inggris.













Komentar