top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Ketika Hatta dan Pengusaha India Kerjai PM Nehru

Demi alasan keamanan menuju India guna menemui PM Nehru, Hatta menggunakan nama paspor orang lain. Nehru pun tertipu.

21 Okt 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Biju Patnaik bersama saat akan membawa rombongan Kowani ke India (repro "Saya, Soeriadi, dan Tanah Air")

  • 21 Okt 2019
  • 2 menit membaca

SUDAH lima hari Wapres Moh. Hatta berada di Bukittinggi. Kunjungan safari politik pada pertengahan 1947 itu merupakan kunjungan pertamanya ke kota kelahirannya setelah Indonesia merdeka. Kunjungan itu dilakukan Hatta untuk memberi penjelasan kondisi negara kepada rakyat atas permintaan beberapa anggota KNIP Daerah Sumatra.


Pada hari kelima, Hatta kedatangan tamu seorang India bernama Biju Patnaik. Ia merupakan pengusaha penerbangan sekaligus sahabat PM India Pandit Jawaharlal Nehru. Ia datang ke ibukota Indonesia, Yogyakarta, untuk membawakan bantuan obat-obatan dari PM Nehru sebagai bentuk dukungan terhadap revolusi Indonesia dan balas budi India atas tawaran bantuan beras dari Indonesia.


Sebelum kembali ke India, Patnaik mendapat pesan dari Presiden Sukarno agar menemui Wapres Hatta di Bukittinggi terlebih dulu. Berbekal surat dari Sukarno, Patnaik lalu menemui Hatta. “Bung Karno menerangkan kepadanya untuk membawa aku kepada Nehru, membicarakan dengan Nehru, apakah dapat India membantu Republik Indonesia sebab Belanda sedang bersiap-siap untuk menyerbu ke daerah Republik dengan mengadakan interpretasi lain terhadap Persetujuan Linggarjati,”kata Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi.


Selain menyodorkan surat Sukarno, Patnaik juga memberikan pakaian co-pilot kepada Hatta yang sengaja dia buatkan saat di Yogya. “Dibawakannya pula paspor untukku atas nama Abdullah,” sambung Hatta. Pemalsuan nama Hatta itu dilakukan Patnaik untuk keamanan penerbangan mengingat Belanda dengan ketat memblokade Indonesia saat itu.


Mendengar keterangan Patnaik, Hatta langsung merasa senang. “Tentu saja aku bersedia untuk pergi menemui sahabat lamaku Jawaharlal Nehru, teman seperjuangan dulu di Brussels, tahun 1927, dalam organisasi Liga Menentang Penjajahan dan untuk Kemerdekaan Nasional.”


Sambil menuggu esok tiba, Hatta menjamu tamu negara itu. Setelah makan malam, Hatta mengajak Patnaik menyaksikan pertunjukan kesenian di Padang Panjang. Tunanetra bernama Arsjad dengan permainan biolanya dalam pertunjukan itu memukau Patnaik. Di tempat tinggal Hatta usai pertunjukan, Patnaik setelah bertemu Arsjad meminta Hatta agar Pemerintah Republik Indonesia menyekolahkan Arsjad ke sebuah akademi musik di Brussels dengan biaya yang semua ditanggung Patnaik.


Tiga hari kemudian, setelah menempuh perjalanan panjang dan transit di beberapa kota, Hatta tiba di New Delhi. Keesokan paginya, Hatta bertandang ke kediaman Nehri dengan diantar Patnaik. Hatta menunggu ketika Patnaik masuk untuk memberitahu Nehru bahwa ada tamu.


Nehru sama sekali tidak mengetahui keberadaan Hatta di India. Maka begitu Patnaik menemuinya dan mengatakan bahwa ada tamu dari Indonesia bernama Abdullah yang hendak bertemu untuk menyampaikan pesan penting, Nehru bersiap-siap sebagaimana biasa dia menerima tamu yang tak kenal secara pribadi. Begitu persiapan selesai, Nehru langsung menemui tamunya.


Nehru kaget bukan kepalang ketika ternyata tamunya bukan orang asing baginya. “Mohammad Hatta yang ada di sini, mengapa kau katakan bahwa seorang Abdullah yang tidak terkenal yang datang?” kata Nehru memarahi Patnaik sebagaimana dikutip Hatta.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page