top of page

Hasil pencarian

9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengulik di Balik Layar Film Kadet 1947

    HARI itu, 21 Juli 1947, Pangkalan Udara (lanud) Maguwo, Yogyakarta, porak-poranda. Sejumlah bangunannya hancur. Sebuah pesawat pembom tukik ringan bekas Jepang, Mitsubishi Ki-51, habis dilalap si jago merah. Tiga kadet, Adjie (diperankan Marthino Lio), Mul (Kevin Julio), dan Sigit (Bisma Karisma) menatap nanar ke langit saat pesawat-pesawat Belanda leluasa berterbangan di atas Maguwo. Peristiwa di atas merupakan potongan dari teaser  film Kadet 1947  yang digarap duet sutradara Rahabi Mandra dan Aldo Swastia dari tim produksi Temata Studios. Teaser  itu resmi dirilis lewat akun Instagram  dan Youtube  Temata Studios Jumat kemarin (17/9/2021). Teaser berdurasi satu menit tiga detik itu juga memamerkan beberapa potongan kisah dramatis pergulatan para kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) dalam merespons Agresi Militer Belanda I. Di antaranya kala para kadet itu juga ikut bergerilya menghindari serdadu darat Belanda, dan memupuk nyali melawan Belanda dengan pesawat mereka berkat seruan-seruan Presiden Sukarno (Ario Bayu) yang menggelegar. Baca juga: Sosok Sukarno dan Pak Dirman dalam Kadet 1947 Bootcamp film Kadet 1947 sejatinya sudah mulai dilakukan untuk para pemeran, syuting, dan proses produksi awal pada Maret 2020. Namun, prosesi itu sempat terhenti gegara pagebluk Covid-19 dan baru dilanjutkan pada September 2020. Filmnya direncanakan naik tayang tahun ini walau belum disebutkan tanggal dan bulannya. Celerina Judisari sang produser menyebutkan dalam konferensi pers via platform Zoom pada 15 April 2020, pihaknya bekerja keras untuk mengatur pengunduran jadwal proses produksi karena pandemi. Tak hanya soal teknis tapi juga mental para pemainnya. “Kita harus optimis. Justru kita ingin mempertahankan api perjuangan seperti kadet-kadet Angkatan Udara itu di masa seperti ini. Semangatnya bahwa kita bergotong-royong sama-sama berjuang mempertahankan eksistensi bangsa kita. Kala dulu kita melawan penjajah, sekarang kita melawannya virus,” ujar Celerina. Kolase teaser  film Kadet 1947 yang baru dirilis (Tangkapan Layar Youtube) Kadet 1947 , lanjut Celerina, mengisahkan misi pemboman udara pertama Indonesia di masa revolusi fisik, tepatnya 29 Juli 1947. Misi heroik itu dilakoni tujuh kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) ke Semarang, Salatiga, dan Ambarawa untuk membalas Agresi Militer Belanda I yang dilancarkan sepekan sebelumnya. Sejarah kecil ( petite histoire ) itu jarang diketahui publik lantaran tak tertera di buku-buku pelajaran sekolah. Hal ini juga jadi tantangan tersendiri bagi tim produksi. Pasalnya, film-film bertema sejarah kalah populer bagi kaum milenial ketimbang film-film ber- genre lain. “Walau secara statistik film bertema perjuangan ada di bawah, orang kurang terlalu banyak tertarik, tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat film sejarah yang menarik untuk mereka tonton,” lanjutnya. Baca juga: Pemboman Udara Pertama Indonesia Penggarapan film Kadet 1947 sendiri, aku Celerina, idenya berangkat dari sebuah artikel sejarah tentang epos itu di media sejarah populer Historia.id . Ia tertegun dengan inti cerita bahwa 73 tahun lampau, ada tujuh kadet yang notabene belum punya jam terbang namun berani berbuat sesuatu yang punya makna besar. Air raid terhadap markas-markas Belanda membuktikan bahwa Indonesia yang baru dihantam Agresi Militer I ternyata mampu membalas. “Saya tidak sengaja membaca (artikel) di Historia , karena terpikir ya pada masa begini, apa sih yang terpenting untuk persatuan? Kita sudah mulai terpecah-belah. Apa yang bisa menyatukan kaum milenial? Saya cari cerita lain soal tema perjuangan sampai saya menemukan artikel Historia yang mengilhami,” kata Celerina. Kolase adegan dalam teaser film Kadet 1947 (Tangkapan Layar) Dari artikel bertajuk “Pemboman Udara Pertama Indonesia” itu, sang produser mendapati petite histoire itu bisa sangat mudah dipahaminya. Dia kemudian tergelitik untuk meriset lebih jauh sumber-sumber lainnya. “Justru saya mengucapkan terimakasih bahwa ternyata tertera di situ (kisahnya). Bahwa ada pemuda-pemuda tanpa keahlian dia bawa bom, dia bisa jatuhin, mungkin peristiwanya tidak sebegitu dahsyat ya, tapi cara penulisannya itu sudah menyentuh hati saya untuk saya mencari lagi buku-buku tentang itu,” tambahnya. Baca juga: Upaya Menggali Inspirasi Lewat Film Kadet 1947 Kebetulan pula Celerina mengaku punya kolega di lingkungan TNI AU. Kepada kolega itulah dia kemudian mengutarakan idenya dan lantas berhasil mendapat dukungan. Bahkan ketika ia bertemu Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, pihak TNI AU turut mendukung lewat supervisi. Bersama co-produser Dewi Umaya, Celerina lantas mencari sutradara cum penulis naskah, dan mendapatkan duet sineas muda Rahabi Mandra dan Aldo Swastia. Pengerjaan naskahnya pun dikebut sejak Januari 2020 setelah terlebih dulu dilakukan riset pustaka dan konsultasi dengan pihak TNI AU serta peneliti-peneliti sejarah. “Riset kita siapkan secara mandiri dan tidak dari satu sumber saja. Kita juga risetnya tentang tata bahasa, gaya hidup, kondisi sosial dan ekonomi pada saat itu. Kami menyadari sensitifnya cerita sejarah. Makanya kami juga tidak seberani itu untuk bilang film ini didasarkan fakta sejarahnya. Makanya kita gunakan kata ‘ inspired by true story ’,” timpal Rahabi. Aktor-Aktor Milenial Setelah naskah siap, prioritas berikutnya adalah pemilihan pemeran. Kebetulan dalam fakta historisnya, tujuh kadetnya berusia antara 18-20 tahun. Mereka adalah Sutardjo Sigit, Bambang Saptoadji, Kaput, Mulyono, Sutardjo, Suharnoko Harbani, dan Dulrachman. Oleh karena itu, pemilihan para pemeran pun diambil dari para aktor milenial. Kevin Julio, misalnya, diplot menjadi Kadet Mulyono; lalu Bisma Karisma sebagai Kadet Sutardjo Sigit, atau Omara Esteghlal sebagai Kadet Suharnoko Harbani. Mereka didampingi lima aktor kawakan sebagai pemeran tokoh-tokoh besar seperti Andri Mashadi yang memerankan Komodor Muda Agustinus Adisucipto, Ibnu Jamil sebagai Komodor Muda Halim Perdanakusuma, Mike Lucock sebagai KSAU Komodor Suryadi Suryadarma, Indra Pacique sebagai Panglima TNI Jenderal Sudirman, dan Ario Bayu sebagai Presiden Sukarno. “Untuk bisa merasakan beratnya perjuangan, sejak Januari juga mereka dilatih fisik. Khusus untuk para pemeran kadet, mereka sempat kami ikutkan bootcamp bersama Korps Paskhas TNI AU, untuk belajar juga bagaimana menjadi seorang siswa prajurit, dan bahkan bagaimana rasanya menjadi prajurit,” ungkap Aldo. Baca juga: Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara Di sisi lain, para pemeran melakukan bermacam cara untuk mendalami karakter masing-masing tokoh yang mereka mainkan. Mereka juga diberi sesi untuk pendalaman sejarah dari beberapa konsultan sejarah. “Yang menyenangkan adalah, tim produksi memberi fasilitas disediakan sesi khusus sama periset. Ini baru pertamakali buat saya, apalagi ini juga pertama terlibat di film bertema perjuangan. Seru banget,” cetus Chicco Kurniawan yang memerankan Kadet Dulrachman. Beberapa aktor milenial yang terlibat dalam film Kadet 1947  (Tangkapan Layar) Untuk mendukung latar cerita, tim produksi memilih Landasan Udara Gading di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta sebagai lokasi utamanya. Sementara, proses syuting untuk efek visualnya dilakukan di studio. “Kita memang memilih lokasi lebih banyak di Wonosari, di mana ada landasan militer yang sudah lama tak terpakai, untuk memudahkan pergerakan dan juga rasanya sesuai dengan karakter latarbelakang filmnya. Sebagian lagi lokasi syutingnya di Jawa Tengah. Juga ada set studio yang bahkan bagian set di studio ini sudah selesai syutingnya,” kata Dewi Umaya menimpali. Baca juga: Satir Penerbang Bengal dalam Catch-22 Tim produksi juga membuat beberapa pesawat replika untuk dipakai tokoh-tokoh kadet. Empat pesawat bekas Jepang yang digunakan ketujuh kadet itu yakni satu pembom tukik Guntai, satu pesawat tempur Hayabusa (Nakajima Ki-43), dan dua pesawat latih Cureng (Yokosuka K5Y). “Kita membuat beberapa pesawat itu yang tentunya enggak bisa terbang ya tapi karena kita ingin lebih real dan relate . Selebihnya efek visual ya yang sekiranya mengambil porsi lumayan sangat banyak,” tambahnya. Visualisasi para kadet dalam pemboman udara pertama Indonesia pada 1947 ( temata.id/kemendikbud.go.id ) Kadet 1947 juga akan dibumbui dramatisasi dengan dihadirkannya beberapa tokoh perempuan dari latarbelakang berbeda. Tatyana Akman memerankan seorang gadis asal Minang bernama Rosma Fauzia, lalu Lutesha Sadhewa sebagai jurnalis asal Maluku bernama Nila Latuharia. Dramatisasi itu tentu sudah melalui diskusi dengan pihak TNI AU agar tak terlalu melenceng dari fakta historisnya. “Dalam penggarapannya pasti ada ruang kreatif, ada juga ruang ketepatan pada sejarah supaya menjadi media belajar juga. Jadi selalu ada titik tengah antara hiburan dan media belajar. Karena, kata seorang dalang, yang namanya cerita itu adalah hak si penceritanya untuk menceritakan kepada orang-orang di masa itu. Jadi kita punya keleluasaan dalam bercerita karena kita mengerti kepada siapa kita bercerita,” kata Rahabi. Baca juga: Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya Kadet 1947, kata Rahabi, porsi dramatisasinya lebih dominan dibandingkan fakta sejarahnya. “Secara kapasitas, kami pikir porsi dramatisasi akan sedikit lebih dominan dibandingkan fakta sejarahnya, dengan masih memberi ruang bagi mereka yang ingin mengenal kejadian bersejarah ini. Dengan demikian makanya dikatakan lebih tepat memperkenalkan film ini sebagai film yang terinspirasi dari kisah nyata (inspired by true story, red .) , ketimbang didasarkan pada kisah nyata (based on true story) ,” lanjutnya. Bagi tim produksi, dramatisasi diharapkan bisa lebih memancing minat generasi muda sebagai target penontonnya. Jika sudah terpancing, mereka akan dengan mudah juga menyerap nilai-nilai mulia dari sejarah dan perjuangan para kadet itu. “Soal target penonton, ya semakin banyak semakin baik. Agar pesan yang kami ingin utarakan lewat film ini bisa tersebar seluas mungkin, khususnya bagi generasi muda yang punya potensi dan peranan yang penting untuk negara, apapun latarbelakang dan kemampuannya. Inilah nilai yang kami rasa perlu dirasakan oleh penonton agar memiliki semangat gotong royong, kolaborasi, dan tidak gentar menghadapi masalah dan situasi apapun,” ujar co-produser Tesadesrada Ryza via pesan singkat kepada Historia. Baca juga: Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI

  • Selayang Pandang Sepakbola Afghanistan

    AFGHANISTAN yang sejak sebulan lalu kembali dikuasai Taliban makin hari makin tak bersahabat terhadap atlet-atlet perempuan, khususnya sepakbola. Rombongan pengungsi pesepakbola putri Afghanistan terus mengalir ke sejumlah negara, salah satunya ke Pakistan. Di Afghanistan, masa depan para pesepakbola putri itu suram. Taliban melarang perempuan aktif dalam olahraga. Mengutip IB Times , Rabu (15/9/2021), pemerintah Pakistan menyambut rombongan 75 orang yang terdiri dari para pesepakbola putri junior Afghanistan kelompok usia U-14, U-16, dan U-18 beserta tim pelatih dan keluarga mereka. Mereka termasuk rombongan pengungsi yang tak bisa dievakuasi lewat jalur udara pasca-serangan bom di Bandara Kabul pada akhir Agustus 2021. Beruntung, permintaan tolong untuk dievakuasi dari negeri kelahiran mereka dijawab LSM Football for Peace yang berbasis di London, Inggris, kemudian diteruskan ke pemerintah Pakistan. “Saya menerima permintaan untuk menyelamatkan mereka dari LSM berbasis Inggris lainnya, lalu saya menulis surat kepada Perdana Menteri (Pakistan) Imran Khan yang lantas mengeluarkan izin bagi mereka datang ke Pakistan,” kata duta pembangunan global LSM Football for Peace, Naveed Haider, dikutip   IB Times . Baca juga: Para Ibu di Lapangan Hijau Untuk bisa melintasi perbatasan Afghanistan-Pakistan, mereka terpaksa mengenakan burqa dan cadar dalam perjalanan pada Selasa (14/9/2021) malam. Perjalanan mereka berakhir di Lahore pada Rabu (15/9/2021) pagi. Mereka langsung berganti pakaian dan menerima kalungan bunga dari perwakilan pemerintah Pakistan. “Kami menyambut tim sepakbola putri Afghanistan setelah mereka tiba di Perbatasan Torkham dari Afghanistan. Para pemain memiliki paspor Afghanistan dan visa Pakistan yang sah dan kemudian diterima Nouman Nadeem dari PFF (induk sepakbola Pakistan),” ungkap Fawad Chaudhry, menteri informasi dan penyiaran Pakistan, di akun Twitter -nya, @fawadchaudhry , Rabu (15/9/2021) pagi. Ke-75 pengungsi itu jadi gelombang kedua pesepakbola putri yang memilih kabur dari rezim Taliban. Pada 24 Agustus 2021, 77 orang yang termasuk pemain timnas senior putri Afghanistan bersama keluarga mereka lebih beruntung karena bisa dievakuasi dengan pesawat ke Australia. Evakuasi mereka dibantu mantan kapten tim Khalida Popal dan dua eks-pelatih timnas putri Afghanistan asal Amerika Serikat, Haley Carter dan Kelly Lindsey. Sementara di sepakbola putra, para pesepakbola Afghanistan benasib tidak jelas setelah musim ini. Kompetisi resmi terakhir yang bergulir hanya Herat Premier League. Laga terakhirnya yakni laga penentu juara antara Attack Energy Club kontra Herat Money Changers, 19 Agustus 2021, atau empat hari setelah Taliban memasuki Kabul. Baca juga: Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan Kolase gelombang pertama pesepakbola putri Afghanistan yang dievakuasi ke Australia (Twitter @khalida_popal) Kala Afghanistan Mengenal Sepakbola Sepakbola jadi olahraga impor paling popular di Afghanistan selain kriket. Keduanya mulai eksis di tanah “Khorasan” pada akhir abad ke-19 walau hanya terbatas dimainkan para serdadu garnisun British India di Kabul. Kriket dan sepakbola baru dikenalkan pada masyarakat Kabul dan sekitarnya tak lama setelah pengakuan kedaulatan Afghanistan pada 8 Agustus 1919(Traktat Anglo-Afghan). Menurut sejarawan cum peneliti budaya Afghanistan Profesor Louis Dupree dalam bukunya, Afghanistan, hal itu dimulai oleh Emir Afghanistan Habibullah Khan yang menggalakkan olahraga tenar di kalangan elite Eropa seperti golf, kriket, dan tenis ke negerinya. Sarana-sarananya turut dibangun sebagai fasilitas para ekspatriat Eropa yang datang untuk melakukan pembangunan pabrik, jembatan, hingga sekolah-sekolah modern di awal rezimnya. “Baru kemudian beberapa olahraga kontak fisik turut diperkenalkan. Olahraga semacam ini bisa lebih diterima masyararakat karena jadi wadah kompetisi yang sengit untuk mempertaruhkan kebanggaan individu maupun kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Di antaranya basket, sepakbola, voli, dan hoki,” tulis Dupree. Baca juga: Captains of Zaatari dan Mula Sepakbola Suriah Emir Habibullah Khan I (kiri) dan perkembangan awal sepakbola Afghanistan (Repro: Under the Absolute Amir /aff.org.af) Rezim Habibullah memulainya dari lingkungan sekolah. Sejumlah instruktur sepakbola didatangkan dari Britania Raya untuk melatih tim sepakbola yang dibentuk di empat sekolah setingkat SMA: Maktab Habibiyeh, Maktab Esteghlal, Tafrih Team, dan Mohajer Team. Menukil data RSSSF , turnamen pertama yang mengikusertakan keempat tim sekolah itu pertamakali digelar pada 1923. Belum diketahui siapa yang memenangkannya. Di tahun yang sama, induk sepakbola Afghanistan Football Federation (AFF) dibentuk beserta tim nasionalnya. Lalu, Ghazi Stadium sebagai stadion pertama di Afghanistan merdeka dibangun di timur Kabul. Nama “ Ghazi ” yang berarti “pahlawan” diambil untuk mengenang kejayaan Emirat Afghanistan dalam Perang Inggris-Afghan Ketiga (6 Mei-8 Agustus 1919). Meski begitu, timnas Afghanistan baru eksis di atas kertas. Penyebabnya, perkembangan sepakbolanya masih sangat lamban dan masih terpusat di ibukota Kabul. Klub sepakbola pertama baru hadir pada 1934 di Kabul, yakni Mahmoudiyeh FC. Karena belum ada klub lain, pada 1937 Mahmoudiyeh FC terpaksa mencari lawan untuk melakoni 18 laga persahabatan ke negara tetangga, India. Mahmoudiyeh FC jadi tulang punggung Timnas Afghanistan kala melakukan laga internasional pertamanya kontra Iran pada 25 Agustus 1941. Laga di Ghazi Stadium itu berkesudahan imbang tanpa gol. Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola Ghazi Stadium usai direnovasi pada 2011 (US Embassy Kabul Afghanistan) Seiring waktu, klub-klub lain bermunculan hingga bisa dibentuk sebuah kompetisi berformat liga, Kabul City League, pada 1946. Pasca-Perang Dunia II, sepakbola di Afghanistan berkembang pesat. Alasannya karena sepakbola bisa lebih menerima keragaman etnis. Sementara, kriket kala itu masih didominasi etnis Pashtun. Olimpiade Inggris 1948 menjadi debut internasional timnas Afghanistan. Di tahun yang sama, Afghanistan diterima jadi anggota FIFA. “Afghanistan lebih dulu jadi anggota FIFA pada 1948 dan baru kemudian jadi anggota AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) pada 1954. Mereka tampil di Olimpiade 1948 meski hanya sekali bertanding karena kalah 6-0 dari Luksemburg di babak penyisihan,” ungkap Tom Dunmore dalam Historical Dictionary of Soccer. Di tingkat regional, tim “Singa Khorasan” (julukan timnas Afghanistan) sejatinya punya kans untuk unjuk gigi di Piala Asia 1956 dan 1964. Namun alasan politis membuat Afghanistan memilih mundur ketimbang berhadapan dengan Israel. Baca juga: Mimpi Indonesia di Piala Dunia Terganjal Israel Kolase Timnas Afghanistan di Olimpiade 1948 ( bfootball.com.au ) Di Bawah Rezim Taliban Pada awal 1970-an, kompetisi sepakbola mulai menjalar ke Herat, Kandahar, dan Mazar-e-Sharif. Masing-masing kota mendirikan liganya sendiri. Alhasil Kabul City League tak lagi jadi satu-satunya kompetisi di Afghanistan. “Kurang suksesnya Afghanistan di pentas internasional juga tak lain karena kekacauan organisasi domestik sepakbolanya, terlebih setelah invasi Rusia pada 1979. Di bawah rezim Taliban sejak 1996-2001 pun para pemain Afghanistan dilarang mengenakan baju lengan pendek dan celana pendek. Hasilnya Afghanistan tak tampil di pentas internasional antara 1984-2002,” sambung Dunmore. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Di bawah rezim Taliban pada 1990-an itu pula banyak pesepakbola Afghanistan, terutama yang bermain di klub-klub yang berbasis di Kabul dan sekitarnya, mengalami trauma. Sebab, Taliban acap menggunakan Ghazi Stadium sebagai arena menghukum para tahanan politik maupun tahanan kasus hukum umum. Kadang eksekusi itu berlangsung sebelum, saat turun minum, atau setelah pertandingan. “Pernah ada seorang pencuri yang dipotong tangannya. Sepasang lelaki dan perempuan yang melakukan seks di luar nikah, diberi 100 kali cambukan dan dipaksa menikah. Saya juga menyaksikan sendiri banyak tahanan yang dipenggal dan ditembak mati. Orang-orang Afghanistan takkan bisa melupakan kenangan buruk ini,” kenang Presiden Komite Olimpiade Afghanistan Letjen Mohammad Zaher Aghbar dikutip The Hindu , 14 Januari 2012. Timnas Afghanistan yang memenangkan Kejuaraan SAFF 2013 ( aff.org.af ) Pascarezim Taliban runtuh pada 2001, sepakbola Afghanistan dibangun lagi dari puing-puing kehancurannya. Timnasnya bisa dibentuk dan berlaga di pentas internasional walau harus mengungsi ke negara-negara lain gegara Perang Afghanistan (2001-2021). Tim Singa Khorasan mulai mentas di Asian Games pada 2002, Piala Emas SAFF (Federasi Sepakbola Asia Selatan), sejak 2003,Piala Asia mulai 2004, hingga Kualifikasi Piala Dunia sejak 2006. Baca juga: Masalah Sepatu Gagalkan Keikutsertaan India di Piala Dunia Sedangkan sepakbola putri kembali bergulir pada 2007 dengan diadakannya seleksi untuk pembentukan timnas putri oleh Komite Olimpiade Afghanistan. Seleksi diikuti oleh para pemain dari sekolah-sekolah di Kabul. Pesat pertumbuhan persepakbolaan Afghanistan itu mencapai titik terang pada 2012. Saat itu pemerintah Republik Islam Afghanistan turun tangan mendanai pembentukan Afghan Premier League (APL). Klub-klub yang lahir di luar kota Kabul pun bermunculan untuk melakoni liga lintas kota dan provinsi. Stadion-stadion baru bermunculan di Kandahar, Khost, hingga Jalalabad. Kolase Timnas Putri Afghanistan (Twitter @khalida_popal/the-afc.com) Baru setahun berjalan, APL sudah mampu meracik timnas yang lebih berkualitas. Setelah jadi runner-up pada 2011, Sandjar Ahmadi dkk. sukses menjuarai Kejuaraan SAFF 2013. Dua tahun berikutnya, “Singa Khorasan” kembali jadi finalis. Namun, perkembangan dan prestasi sepakbola Afghanistan terancam jalan di tempat atau bahkan melangkah mundur setelah Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021. Sementara sepakbola putra masih belum jelas nasibnya, sepakbola putri Afghanistan terpaksa mati suri karena larangan perempuan beraktivitas dalam olahraga. Hampir semua pemainnya di segala kelompok umur sudah mengungsi ke luar Afghanistan. Padahal, perkembangan mereka cukup menjanjikan. Mereka mampu mencapai semi-final Kejuaraan SAFF 2012. “Sangat menyakitkan bagi saya untuk mengatakan bahwa jersey sebagai identitas nasional yang sudah mereka dapatkan susah payah, harus ditinggalkan. Saya ingat pertamakali mengenakannya. Saya tak bisa menjelaskan dengan kata-kata karena itu jadi perasaan terbesar. Kami merasa bahagia, bangga, dan merasa sebagai pemenang dan sekarang saya harus bilang pada para pemain untuk membakar jersey mereka?” tandas Khalida Popal, kapten timnas putri Afghanistan periode 2008-2011, kepada The Guardian , 20 Agustus 2021. Baca juga: Sepakbola Kaum Hawa Merentang Masa Khalida Popal, eks kapten Timnas Putri Afghanistan. ( fifa.com ).

  • Oslo dan Perdamaian Israel-Palestina

    LANGIT cerah menaungi halaman Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, 13 September 1993. Dalam sebuah footage itu, tampak Presiden Amerika Bill Clinton tersenyum haru melihat dua pemimpin negeri yang bermusuhan, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Ketua Palestine Liberation Organization (PLO) Yasser Arafat, berjabat tangan erat dalam suasana hangat. Rabin maupun Arafat sepakat berdamai dan menghakhiri 50 tahun konflik lewat peresmian Persetujuan Oslo. Footage yang disiarkan ke seluruh dunia itu jadi kabar gembira buat warga dunia. Namun hanya sedikit yang tahu bagaimana kesepakatan damai Israel-Palestina itu bisa terjadi setelah bertahun-tahun negosiasinya selalu membentur “tembok”. Footage itu merupakan bagian dari film bertajuk Oslo garapan sutradara Bartlett Sher. Film drama tersebut menggambarkan detail negosiasi-negosiasi alot delegasi kedua belah pihak sebelum sama-sama menyepakati Declaration of Principles (DOP) dari Persetujuan Oslo I yang berisi 17 pasal kesepakatan. Baca juga: Prahara Yerusalem Diusik Amerika Presiden Amerika Serikat William Jefferson 'Bill' Clinton di tengah-tengah PM Israel Yitzhak Rabin & Mohammed Abdel Rahman Abdel Raouf al-Qudwa al-Husseini alias Yasser Arafat ( gpo.gov ) Kisahnya berangkat dari insiatif sejoli suami-istri Mona Juul (diperankan Ruth Wilson) dan Terje Rød-Larsen (Andrew Scott) pada suatu hari di bulan Desember 1992. Mona yang merupakan diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Norwegia mencoba mendekati Menteri Keuangan PLO Ahmed Qurei (Salim Daw) yang tengah berada di London, Inggris. Qurei alias Abu Alaa frustrasi karena tak bisa terlibat dalam konferensi internasional di London yang membahas konflik Palestina-Israel. Di Yerusalem, Terje yang merupakan direktur Institut Riset Fafo mencoba meyakinkan Wakil Menlu Israel Yossi Beilin (Itzik Cohen) untuk mau memulai pembicaraan langsung dengan pihak PLO. “Selama ini pembicaraan (konflik) menggunakan model negosiasi totalisme kuno. Semua isu yang tak disetujui di atas meja perundingan menjadi bencana. Prosesnya terlalu formal, kaku, dan tidak menghasilkan. Biarlah Amerika menjalankannya tapi Anda harus mau memulai proses kedua yang dibangun bukan dari pernyataan kedua pemerintahan tapi diskusi intim antara dua wakil masyarakat di tempat yang terisolasi, di mana Anda dan PLO bisa bertemu tanpa perantara,” kata Terje pada Beilin. Baca juga: Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika Kolase Terje Rød-Larsen & Mona Juul membujuk pihak Israel dan PLO mau bernegosiasi secara rahasia (HBO) Beilin setuju karena selama ini pembicaraan tentang konflik yang diperantarakan negara lain tak pernah membuahkan hasil konkret. Terlebih Israel makin mendapat tekanan dari Uni Eropa setelah mengeluarkan kebijakan resmi melarang pejabatnya bertemu perwakilan PLO. Kesetujuan Beilin memulai negosiasi lewat jalan belakang itu mendorong Terje dan Mona merancang skenario pertemuan klandestin kedua belah pihak berseteru. Izinnya didapat dari persetujuan lisan Menteri Dalam Negeri Norwegia Jan Egeland (Tobias Zilliacus) dan Menlu Norwegia Johan Jørgen Holst (Karel Dobrý). Mona lalu  mengundang Qurei dan pejabat penghubung PLO Hassan Asfour (Waleed Zuaiter). Sedangkan Terje mengundang dua profesor Universitas Haifa, Yair Hirschfeld (Dov Glickman) dan Ron Pundak (Rotem Keinan). Baca juga: Nestapa Sabaya Mereka dijemput secara diam-diam dan dibawa ke Istana Borregaard di pedalaman Sarpsborg, Norwegia pada Januari 1993. Walau awalnya canggung, pembicaraan perlahan berlangsung hangat. Tetapi pembicaraan rahasia itu bukan resmi. Profesor Yair dan Pundak bukan utusan resmi, melainkan sekadar kenalan dekat Beilin dan Menlu Israel Shimon Peres (Sasson Gabai). Mona dan Terje bekerja keras. Keduanya menyambut bantuan Menlu Holst agar pihak Israel mau mengirimkan delegasi resminya. Adegan-adegan perundingan alot pihak Israel dan Palestina (HBO) Pada Maret 1993, Israel mengirim Direktur Jenderal Kemenlu Israel Uri Savir (Jeff Wilbusch) sebagai wakilnya. Sosoknya lebih kaku ketimbang dua profesor sebelumnya. Ketika bernegosiasi, terjadi lagi adu argumen hingga nyaris adu jotos. Mona dan Terje berusaha keras menahan emosi. Mereka punya prinsip sekadar jadi fasilitator sehingga tidak ikut campur negosiasi kedua pihak. Kesabaran suami-istri itu makin diuji ketika Israel mengirim penasihat hukum Kemenlu Israel Joel Singer (Igal Naor) pada Juni 1993. Di tangan Singerlah semua kesepakatan negosiasi itu bisa dianggap sah oleh pemerintah Israel. Baik Singer maupun Qurei berdebat keras mengenai pendudukan Israel di Gaza, Jericho (Tepi Barat), serta Yerusalem. Bagaimana jalannya negosiasi PLO-Israel itu serta intrik-intrik politik di dalamnya? Saksikan kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Musuh Abadi yang Humanis Dinamika negosiasi Israel-PLO berikut intrik-intrik di dalamnya yang dihadirkan Oslo sangat dinamis. Sutradara Sher tak melulu menghadirkan suasana perdebatan kaku yang membosankan, tapi juga menyisipkannya dengan dark humor sehingga ceritanya bisa lebih humanis. Suasananya makin terasa dengan iringan music scoring variatif garapan duet komposer Zoe Keating dan Jeff Russo. “Pada dasarnya ada banyak humor yang timbul dari lingkungan yang penuh tekanan. Humor selalu ada dalam interaksi manusia sesungguhnya. Dari humor Anda bisa membangun hubungan dengan orang lain – Anda bisa pindah dari titik oposisi ke titik tawa. Saya tak yakin bisa melihatnya lagi pada para politisi saat ini, di mana mereka sebenarnya bisa menjadi manusia sesungguhnya dan menertawakan hal yang sama,” kata Sher kepada Variety , 27 Mei 2021. Baca juga: Captains of Zaatari Meretas Mimpi dari Kamp Pengungsi Sosok Mona Juul & Terje Rød-Larsen yang diperankan Ruth Wilson dan Andrew Scott (HBO) Greget Oslo bertambah dengan sisipan footage-footage konflik Palestina-Israel kala Intifada Pertama (1987-1993) berlangsung. Momen itu dijahit dengan adegan alur maju-mundur yang menggambarkan Mona saat menjadi diplomat utusan Kemenlu Norwegia di Palestinapada musim gugur 1990. Hatinya terenyuh melihat pemuda-pemuda Israel dan Palestina yang terpaksa saling bunuh. “Suatu hari Terje dan saya berkeliling Gaza sebagai bagian dari tugas saya selama ditempatkan di sana. Kami sempat salah belok ke sebuah jalan sempit. Terdapat dua bocah saling berhadapan. Satu berseragam, satu mengenakan jeans . Tetapi kedua wajah mereka menampakkan rasa takut yang sama. Menampakkan keputusasaan yang sama untuk tidak berada di tempat itu dan tidak melakukan kekerasan satu sama lain,” ujar Mona, perempuankelahiran 10 April 1959, saat menerangkan motifnya mau jadi perantara pembicaraan rahasia itu. Alhasil, Oslo masuk nominasi Primetime Emmy Award 2021 dalam dua kategori: kategori film televisi terbaik dan original score . Percampuran adegan-adegan dramatis dan kejenakaan itu bertambah apik dengan sudut-sudut pengambilan gambar yang variatif, mulai dari high-angle shot , long-shot , hingga shoulder-level shot . Baca juga: A Private War , Perang Batin si Wartawati Perang Namun sebuah kebetulan yang sejatinya tak diinginkan Sher terjadi saat Oslo dirilis pada akhir Mei 2021. Kala itu konflik Israel-Palestina kembali memanas. Sher mengakui apa yang ia gambarkan dalam Oslo tak serta-merta jadi solusi. Ia hanya berharap substansi Oslo bisa jadi cerminan ke depan untuk menciptakan perdamaian di Palestina dengan dialog, bukan kekerasan. “Pandangan saya dengan film ini adalah terdapat dua hal untuk mencapai perdamaian. Pertama , duduk bersama untuk berdialog dan mencari solusi permasalan. Kedua , para pemimpin sejati yang mau melangkah dan mengambil upaya berani demi perdamaian. Saya berharap film ini membantu publik memahami sejarah dan situasi saat ini dengan lebih baik. Perjanjian Oslo memang bukan solusi dari problem yang kompleks tapi itu adalah awal dari transisi yang sayangnya tak pernah terwujud,” tandas Sher. Peran Norwegia Konflik Palestina-Israel yang sudah terjadi lebih dari setengah abad sampai kini tak kunjung berkesudahan. Kala Oslo dirilis, misalnya, situasi di Palestina sangat memprihatinkan. Jasad rakyat Palestina kembali bertumbangan sebagaimana yang pernah disaksikan Mona Juul, sang tokoh utama. “Sosiolog Terje Rød-Larsen dan istrinya, Mona Juul, seorang diplomat, mengunjungi Gaza yang jadi rumah bagi jutaan Palestina. Rød-Larsen sedang menyiapkan survei tentang kondisi kehidupan populasi di sana. Saat dikawal ke sekitar kamp pengungsi Palestina oleh petugas PBB, keduanya terjebak baku-tembak. Rød-Larsen dan Juul ketakutan saat desingan peluru dan lemparan batu melewati kepala mereka. Mereka melihat wajah kedua pihak yang penuh rasa takut dan cemas,” tulis Ian Leslie dalam Conflicted: Why Arguments Are Tearing Us Apart and How They Can Bring Together. Baca juga: The Whistleblower yang Membuka Borok PBB Adegan alur mundur pengalaman Mona Juul saat Intifada Pertama (HBO) Dua tahun setelahnya, mereka memprakarsai negosiasi klandestin antara Israel dan PLO. Dalam Oslo, tak digambarkan latar belakang mengapa PLO di bawah Arafat dan Israel percaya dan berkenan dimediasi Mona dan Terje sebagai kepanjangan tangan pemerintah Norwegia. Mengutip “Proactive Peace Diplomacy: Jan Egeland” karya Hilde Henrikse Waage, sejarawan Universitas Oslo, yang termaktub dalam buku Ways Out of War , Norwegia merupakan salah satu negara sahabat terdekat Israel sejak 1948. Sementara sejak 1979, Norwegia dipercaya Arafat sebagai mitra penting PLO yang terpaksa mengungsi ke Tunis, Tunisia. “PLO butuh sebuah negara yang bersahabat bagi PLO dan musuh mereka, Israel. Norwegia dianggap sebagai satu dari sedikit negara yang bisa dipercaya, salah satunya karena Norwegia punya hubungan dekat dengan PBB. Ketika proses perdamaian di Washington butuh dorongan dan jalur alternatif, Norwegia membuka pintu. Terlebih Norwegia sendiri sudah berusaha memediasi negosiasi rahasia sejak 1979 walau gagal karena Israel terus menolak,” tulis Waage. Baca juga: Darah dan Air Mata Palestina Sosok asli Mona Juul & Terje Rød-Larsen ( norway.no/International Peace Institute) Hal itu berubah sejak kunjungan Egeland ke Israel pada pertengahan 1992. Fakta ini merupakan hal penting untuk “mempertanyakan” Oslo yang mengecilkan peran Egeland. Padahal selain Terje dan Mona yang “bergerilya” menemui perwakilan Israel dan PLO di tempat-tempat terpisah, Egelandlah yang meyakinkan pihak Israel agar mau mengirim wakilnya ke Norwegia. “Egeland mengadakan kunjngan resmi ke Israel pada 1992, untuk mengungkapkan apakah pihak Israel dan Palestina serius menginginkan adanya jalur belakang rahasia di Norwegia. Bicara atas nama Menlu (Thorvald) Stoltenberg, Egeland mengkonfirmasi bahwa Oslo bersedia jadi tuan rumah pertemuan rahasia,” imbuhnya. Baca juga: Istana Finlandia di Antara Diplomasi Amerika dan Rusia Setelah terkonfirmasi, Egeland mempercayakan pengaturan akomodasi kedua belah pihak pada Terje dan Mona. Terje dipercaya untuk hadir di setiap rapat, sementara Mona jadi penghubung antara negosiasi pada Januari 1993 itu dengan Kemenlu Norwegia. “Jan Egeland dan menlu (Stoltenberg, kemudian digantikan Holst) jadi perwakilan akan persetujuan dan dukungan pemerintah Norwegia. Egeland juga berpartisipasi secara langsung di beberapa tahap negosiasi,” lanjut Waage. Sosok Asli diplomat Norwegia Jan Egeland ( sn4r.org ) Egeland juga berperan meredam kebocoran negosiasi rahasia itu baik saat mulai bocor di Agence France-Presse ( AFP ) maupun media massa Norwegia. Tujuannya agar pertemuan itu tetap rahasia dari pihak manapun, termasuk Amerika. Hasilnya, Israel dan Palestina segera menyetujui Declarations of Principles. Selama prosesnya, Norwegia mengambil peran baru, tak lagi sebagai fasilitator tapi sebagai mediator aktif. Norwegia terobsesi berkontribusi atas negosiasi melelahkan hingga tercapai kompromi-kompromi politik demi mencapai tujuan bersama: sebuah persetujuan. Baca juga: Helsinki Jembatan Politik Amerika-Rusia Persetujuan itu bisa tercapai karena prosesnya dilakukan langsung dua pihak yang bertikai, bukan melalui Amerika atau Uni Eropa sebagai mediator yang cenderung mengendalikan Palestina atau Israel. Di pihak PLO, Arafat bisa menunjuk perwakilan sesuai keinginannya. Begitupun pihak Menlu Israel Shimon Peres. Tak ada campur tangan pihak ketiga. “Bertahun-tahun keterlibatan penciptaan perdamaian melalui jalur mimpi ini jadi nyata. Di satu sisi cukup menyedihkan karena baru kali ini hal besar itu terjadi dan di sisi lain hal ini luar biasa sukses, tak hanya untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah tapi juga sebenarnya bisa kita tiru di tempat lain,” kata Egeland dikutip Waage. Deskripsi Film: Judul: Oslo | Sutradara: Bartlett Sher | Pemain: Ruth Wilson, Andrew Scott, Salim Daw, Itzik Cohen, Dov Glickman, Jeff Wilbusch, Igal Naor | Produser: Gary Michael Walters, Svetlana Metkina, Michael Litvak, Mark Taylor | Produksi: HBO Films, Marc Platt Productions, SRO Productions, Bold Films, DreamWorks Pictures| Distributor: HBO |Genre: Drama | Durasi: 118 menit | Rilis: 29 Mei 2021, Mola TV

  • Potret Apresiasi Terhadap Pahlawan Olahraga Dulu dan Kini

    PRESTASI dan prestasi. Itulah target yang diharapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada para atlet Indonesia ke depan. Hal itu diungkapan di Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-38 yang jatuh hari ini, Kamis (9/9/2021). Ironisnya, perhatian khusus yang rutin kepada para pahlawan olahraga masih amat minim. Terakhir, Kemenpora sekadar menggelar Anugerah Legenda Olahraga pada 2017 yang sayangnya tak berkelanjutan. “Dulu mah enggak ada bonus apa-apa. Makanya perbedaannya jauh. Dulu cuma nama bangsa dan merah putih saja yang kita bawa di dada. Soal penghargaan pemerintah, baru (2017) kemarin saja dari Kemenpora,” kata Robby Darwis, mantan bek timnas Indonesia, kepada Historia . Baca juga: Robby Darwis yang Legendaris Eks-bek legendaris Timnas Indonesia dan Persib Bandung, Robby Darwis (Randy Wirayudha/Historia) Padahal, banyak olahragawan kita yang dulu menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia namun kehidupan mereka memilukan di masa senja. Mereka nihil apresiasi dari pemerintahan, bahkan sampai sekarang. Ibarat langit dan bumi jika membandingkan mereka dengan para atlet sekarang. Para atlet sekarang yang juara atau meraih emas di berbagai pentas diganjar bonus miliaran rupiah. Mereka juga mendapat perhatian besar masyarakat di media sosial. Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, contohnya. Mereka pulang dari Olimpiade Tokyo 2020 pada Agustus lalu disambut meriah karena dianggap mencetak sejarah meski medali emas dari cabang bulutangkis bukan hal aneh buat kontingen Indonesia. Pasangan itu diberi bonus Rp.5,5 miliar oleh Kemenpora. Jumlah itu di luar bonus rumah, paket umrah, paket liburan dari Kementerian Pariwisata dan ratusan juta rupiah lain yang diberikan berbagai pihak. Bahkan, mereka dihadiahi perawatan kecantikan sampai dua franchise bakso dari seorang Youtuber. Baca juga: Uber Cup Demi Ibu Pertiwi Bonus tersebut agaknya sejalan dengan program Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang diluncurkan Kemenpora pada Haornas tahun ini. “Dengan desain besar olahraga nasional ini kita mempunyai kepastian, mempunyai jaminan bahwa itu terstruktur dan terencana dengan baik dan jangka panjang. Jadi misalnya ditingkat (atlet) elite nasional itu pasti kita siapkan lapisannya kedua, ketiga dan berikutnya. Itu namanya terdesain,” kata Menpora Zainudin Amali, dikutip laman Kemenpora , Rabu (8/9/2021). Atlet peraih emas di Paralimpiade Tokyo 2020 menerima besaran bonus yang sama dari pemerintah ( npcindonesia.id ) Pahlawan Olahraga Luput Perhatian Desain tentang pembinaan demi memastikan kontinuitas prestasi ke depan tentu penting. Namun, alangkah baiknya jika pemerintah juga mau menoleh ke belakang, memperhatikan banyak olahragawan legendaris kita yang tak kalah dalam soal mencetak prestasi tapi hidup mereka merana di masa senja. Gurnam Singh, salah satunya. Di era 1960-an, Gurnam merupakan pelari andalan Indonesia di nomor-nomor jarak jauh. Ia bahkan pernah dinobatkan sebagai manusia tercepat di Asia. “Ayah 4 anak ini di masa jayanya, pemegang rekor lari 5 ribu meter dengan kecepatan 14 menit 24 detik dan 10 ribu meter dengan kecepatan 30 menit 47,2 detik. Sedangkan jarak maraton 42 km ditempuhnya dalam 2 jam 27 menit 21 detik,” ungkap buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982. Baca juga: Lintasan Kehidupan Gurnam Singh Menpora Zainudin Amali yang meluncurkan DBON pada Haornas ke-38 dan diresmikan dengan Perpres No. 86 Tahun 2021 ( kemenpora.go.id ) Mirisnya, setelah dia pensiun dan bisnis toko olahraganya bangkrut, rumahnya digusur Pemkot Medan tanpa ganti-rugi. Gurnam sampai hidup menggelandang.  Barulah setelah kabar Gurnam hidup menggelandang tersiar, beberapa pihak tergerak hati. Bantuan untuk Gurnam berdatangan, termasuk dari pemerintah. “Mensesneg (Moerdiono, red .) menyinggung pekerjaan Gurnam yang kini jadi penjual air, ketika menjelaskan rencana pemberian penghargaan kepada atlet peraih emas, perak, dan perunggu di Olimpiade Barcelona,” tulis Kompas , 19 Agustus 1992. Baca juga: Muda Melegenda, Tua di Panti Wreda Tapi, bantuan pemerintah pusat itu tak pernah terwujud. Bantuan berupa rumah  sederhana di Deli Serdang yang diterima Gurnam pada 1996 bukan dari pemerintah pusat, melainkan dari Kodam I/Bukit Barisan. Selain Gurnam, atlet berprestasi lain yang merana di masa senja adalah Hendrik Brocks. Di masa mudanya, Hendrik memborong tiga emas balap sepeda Asian Games 1962. Mengutip biografi MF Siregar: Matahari Olahraga Indonesia , Hendrik bersama Aming Priatna, Wahju Wahdini, dan Hasjim Roesli mendapat emas di nomor Team Trial 100 km. Ketiganya, ditambah Frans Tupang dan Henry Hargini, memetik emas di nomor Open Road Race 180 km. Emas ketiga Hendrik didapat dari nomor serupa kategori individu. “Kita memang diundang ke Istana Negara tapi ya presiden dulu hanya bilang terima kasih, disuruh semangat lagi latihannya. Habis itu dia balik kanan. Kita hanya lihat punggungnya saja,” aku Hendrik. Hendrik Brocks yang di masa tuanya menderita glukoma dan kehilangan penglihatan (Randy Wirayudha/Historia) Setelah itu, Hendrik kembali menyumbang masing-masing sekeping emas dan perak di Ganefo 1963, serta satu emas, satu perak, dan dua perunggu di Ganefo Asia 1966. Prestasi Hendrik itu berbanding terbalik dengan kehidupan di masa tuanya. Saat Historia menyambanginya tahun 2019, ia hidup di rumah sederhana di Sukabumi. Rumah itu dibeli dari hasil menjual rumah warisan orangtuanya ditambah bantuan tetangga. Hendrik sendiri penglihatannya mulai terenggut akibat glukoma yang dideritanya sejak 2007. Baca juga: Roda Kehidupan Legenda Balap Sepeda Kondisi kehidupan Hendrik yang memprihatinkan membuat teman-temannya dan KONI Kabupaten Sukabumi memberikan bantuan perawatan kesehatan pada Hendrik. Pada 2007, Menpora Adhyaksa Dault menjanjikan dana pensiun pada Hendrik, namun tak kunjung ditepati. Pun surat Hendrik kepada (mantan) Ketua KOI Erick Thohir tahun 2019 juga tak kunjung mendapat jawaban. “Enggak pernah ada bonus! Enggak kayak sekarang, bonus…bonus…bonus. Enggak pernah saya merasakan bonus. Waktu pemusatan latihan saja dulu enggak dapat uang saku. Uang saku hanya dapat jika tanding kejuaraan di luar negeri. Untuk beli oleh-oleh saja tidak cukup. (Tunjangan) pensiun juga tidak ada. Kalau sekarang jangankan PON, Porda saja pegawai negeri sudah pasti di tangan kalau berprestasi,” ujarnya. Tim Bulutangkis Putri Indonesia yang merebut Uber Cup 1975 (Dok. Regina Masli) Para atlet bulutangkis sebelum era 1990-an juga mengalami keadaan serupa. Regina Masli, spesialis ganda putri era 1970-an, berkisah pemerintah pusat sama sekali tak pernah memberi bonus melimpah. Regina tergabung dalam tim putri Indonesia kala pertamakali memenangkan Uber Cup (1975). Usai meraih prestasi itu, tim putri diberi penghargaan alakadar dengan diundang ke Bina Graha bertemu Presiden Soeharto. “Ibu Tien memberi sambutan, antara lain bahwa kita sebagai wanita Indonesia harus hidup sederhana. Setelah itu kita semua diberikan bahan kain brokat buatan dalam negeri. Pak Sudirman (Ketum PBSI, red .) berkata pada kita, jangan minta apa-apa ke Presiden Soeharto. Padahal waktu itu kita semua tidak ada seorangpun yang punya rumah. Begitulah bedanya pemain dulu dan sekarang,” aku Regina dalam percakapannya dengan Historia lewat media sosial. Baca juga: Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat Bonus Tim Uber Cup 1975 justru datang dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, berupa deposito Rp.300 ribu. Kendati Regina tidak merana di masa senjanya karena bekerja di Loma Linda University Behavioral Medicine Center, rekan-rekannya tidak seberuntung dirinya. Tati Sumirah, misalnya, sampai wafat pada 20 Februari 2020 hidup merana sebatang kara. “Dia sakit darah tinggi dan gula. Memang kehidupannya memprihatinkan. Sepertinya habis tidak main lagi, tidak ada yang peduli. Dia juga tidak berkeluarga. Hidupnya selalu untuk merawat dan memperhatikan ibu dan adik-adiknya,” kata Regina yang bersama Tati sempat dibina PB Tangkas. Kosasih Kartadiredja, wasit pertama Indonesia dengan lisensi FIFA (Randy Wirayudha/Historia) Tak hanya dialami atlet, kondisi memilukan juga dialami para mantan perangkat pertandingan. Seperti yang dialami Kosasih Kartadiredja, wasit Indonesia pertama yang berlisensi FIFA. Wasit yang dikenal paling tegas dan anti-suap di pentas internasional maupun domestik itu mengatakan, perhatian yang diberikan pemerintah hanya sekali didapatnya pada 2007, yakni berupa santunan sebesar 10 juta rupiah. Itupun didapatnya setelah tetangganya mengirim surat kepada Menpora Adhyaksa Dault. Kehidupan Kosasih semakin berat sejak 2012 karena ia terserang stroke . Lantaran tak bisa segera dioperasi akibat terkendala biaya, Kosasih pun mengalami kelumpuhan sementara. Ia berjuang sendiri tanpa perhatian dari penguasa. “Ini kaki saya yang kiri sudah ngaplek begini. Tidak bisa operasi karena mahal. Tidak ada bantuan dari mana-mana. Lupa begitu saja. Ya PSSI, ya pemda,” katanya pada Historia dua tahun lalu. Baca juga: Wasit Berlisensi FIFA Pertama yang Terlupa

  • Meretas Mimpi dari Kamp Pengungsi lewat Captains of Zaatari

    PONDOK kecil berdinding seng di Kamp Pengungsi Zaatari, Yordania itu sama sekali tak meredam hawa dingin. Kekurangan penerangan di dalamnya menambah kesulitan. Pada suatu malam di Januari 2017 itu, Fawzi Qatleesh membantu adik perempuannya, Rose, mengerjakan PR bahasa Inggris hanya berbekal sebatang lilin. Seraya membantu Rose, Fawzi menguraikan mimpinya jadi pesepakbola profesional laiknya Cristiano Ronaldo. Dia hanya ingin membantu ibu, ayah, dan kedua adiknya keluar dari status pengungsi ke kehidupan yang lebih laik. Fawzi jadi tulang punggung keluarga lantaran ayahnya terpisah di kamp pengungsian Suriah lain di Azraq. Demi mengejar mimpinya, Fawzi memilih putus sekolah. Kesempatan itu kemudian tiba pada suatu pagi. Di lapangan berpasir di dalam kamp, Fawzi dan kawannya, Mahmoud Dagher, yang tergabung di Kamp Zaatari menampilkan aksinya mengolah si kulit bundar dengan ciamik walau beralaskan sandal jepit. Baca juga: Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira Dua sahabat pengungsi Suriah: Mahmoud Dagher (kiri) & Fawzi Qatleesh ((Dogwoof) Tim itu sedang dipantau para pemandu bakat dari Aspire Academy Qatar. Sialnya, walau bermain apik, Fawzi sang kapten tim mesti menahan kepedihan dan mengikhlaskan ban kaptennya kepada Mahmoud. Dirinya tak bisa dibawa tim pengungsi karena perkara administrasi. Fawzi yang lahir tahun 1998 dianggap terlalu tua. Hanya Mahmoud, kelahiran 1999, bersama pemain lain yang dibawa ke Doha, Qatar. Tetapi itu bukan akhir dari segalanya. Adegan haru itu sekadar permulaan dokumenter Captains of Zaatari garapan sutradara asal Mesir Ali El Arabi. Film ini kisahnya berpusar antara dua sahabat pengungsi Suriah, Fawzi dan Mahmoud, dengan beragam kepahitan kehidupan mereka di kamp pengungsian. Tanpa dinyana, “mukizat” tiba pada hari-hari berikutnya. Delegasi dari Aspire Academy yang kembali ke kamp, mengizinkan Fawzi menyusul Mahmoud dan rekan-rekannya dalam tim Syrian Dream ke Qatar demi mengikuti program eksebisi di Turnamen Al-Kass International Cup U-17 2017. Baca juga: Kamp Pengungsi Suriah dan Nestapa Sabaya Anak-anak pengungsi Suriah di Kamp Zaatari, Yordania (Sundance Institute) Dari pemandangan tandus dan memprihatinkan di kamp, mata Fawzi dimanjakan beragam kemajuan pesat dan fasilitas latihan Aspire Academy nan canggih setibanya di Doha. Dari mata Fawzi dan Mahmoud terpancar kebahagiaan yang mengharukan kala mereka ditemui petinggi sepakbola Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed al-Thani; menyaksikan latihan klub raksasa Bayern Munich; hingga bertemu legenda hidup sepakbola David Trezeguet dan Xavi Hernández. “Momen di mana kami meninggalkan Zaatari dan datang ke Qatar, tak peduli apakah nantinya kami jadi pemain profesional, momen itu jadi yang pertama saya mendapatkan kesempatan dalam hidup saya. Suatu hari ketika saya punya anak dan dia bertanya apa saja yang pernah saya lakukan, saya akan bilang bahwa saya bermain di Turnamen Al-Kass. Turnamen yang biasanya hanya bisa saya tonton di Suriah dan bermimpi berpartisipasi,” kata Fawzi. “Ada banyak orang yang pantas mendapatkan kesempatan ini, begitu juga di kamp-kamp lain. Karena yang dibutuhkan para pengungsi adalah kesempatan mendapatkan kesehatan, pendidikan, dan mimpi olahraga, bukan belas kasihan,” timpal Mahmoud. Namun ketika menjelang pertandingan penting kemudian, Fawzi mendapat cobaan fisik dan mental. Selain dibelit cedera lutut, ia juga mendengar kabar ayahnya menderita kanker. Bagaimana Fawzi bersama Mahmoud bisa meretas mimpinya kala banyak persoalan menerpa? Saksikan kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola Momen pertemuan dengan Sheikh Hamad bin Khalifa bin Ahmed al-Thani, David Sergio Trezeguet, Xavier 'Xavi' Hernández i Creus & Latihan Tim Bayern Munich (Mola TV) Kontradiksi Dua Dunia Melodi-melodi melankolis nan mengharukan mengiringi beberapa adegan pahit Fawzi dan para pengungsi Suriah dalam Captains of Zaatari . Untuk lebih memperkuat nuansa Timur Tengah, komposer Gil Talmi juga menyisipkan alunan nada khas Arab dari alat musik petik qanun. Music scoring itu begitu klop saat mengiringi adegan-adegan cerita yang diracik El Arabi yang cenderung seperti film drama ketimbang plot dokumenter klasik. Maka dalam karya pertamanya ini ia tak banyak menyajikan potret kamp yang mendetail kecuali aneka kepahitan yang dialami keluarga dua protagonisnya. “Saya ingin penonton bisa terbawa ke kehidupan kedua kapten dan berbagi segala hal tentang mereka: perjalanan, perkembangan, rasa sakit, dan kebahagiaan. Saya ingin menunjukkan bahwa para pengungsi ini punya kehidupan. Dan mereka punya hak untuk berinteraksi dengan dunia dan merasa bahwa mereka bagian dari dunia ini,” kata El Arabi kepada Variety , 28 Januari 2021. Baca juga: Senjakala "Raja Roma" dalam One Captain Anak-anak pengungsi yang tergabung di tim Syria Dream (Tangkapan Layar Mola TV) Oleh karenanya meski El Arabi mengikuti Fawzi dan Mahmoud selama enam tahun di kamp yang menampung 80 ribu pengungsi itu dan menghasilkan ratusan jam footage , ia sudah berpatokan hanya menampilkan 75 menit di antaranya. El Arabi memfokuskan kisahnya pada kontradiksi dua dunia dan kehidupan yang mereka alami secara lebih intim dan humanis. Kontradiksi itu yakni lingkungan terkungkung dan memilukan di kamp dengan suasana gedung-gedung megah serta fasilitas mutakhir di Qatar. Antara kemiskinan di keluarga mereka dengan para pemain kaya Bayern yang mereka saksikan sesi latihannya. Antara harapan yang suram di kamp dengan asa meroket di fasilitas Aspire Academy. Dengan alur cerita yang lebih intim dan humanis, penonton juga diajak merasakan lebih jauh kecemasan mereka sebagai pengungsi berusia muda. Jika tidak ada program sepakbola, bisa saja mereka diculik militan teroris ISIS atau diambil paksa untuk jadi tentara pemerintah Suriah. Masa depan mereka sekadar bisa digantungkan lewat sepakbola dan pendidikan, dua dari beberapa kebutuhan dasar untuk para pengungsi. “Fawzi bilang pada saya bahwa sepakbola adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa bukan sebagai pengungsi. Olahraga adalah salah satu cara terpenting dalam perdamaian. Melalui kampanye yang empatik, saya percaya para bintang sepakbola yang anak-anak itu temui bisa membantu kehidupan para pengungsi lebih baik,” tandasnya. Sayangnya dokumenter ini tak menjelaskan sejak kapan Fawzi mengenal sepakbola. Fawzi Qatleesh yang karier sepakbolanya terusik Perang Saudara Suriah (Dogwoof) Sejarah Sepakbola Suriah Sebagaimana yang dikisahkan dalam Captains of Zaatari , sosok Fawzi tak pernah mau jauh dari sepakbola. Selain seragam tim Syria Dream, Fawzi selalu membanggakan jersey kuning-biru klub Inggris Arsenal yang disablon namanya, “F. Qatleesh”, saat masih mengolah bola di balik pagar besi kamp. Fawzi sudah bercita-cita menjadi pesepakbola profesional sejak sebelum pecah Perang Saudara Suriah pasca-Arab Spring melanda negerinya pada 2011. “Saya dulu mulai bermain di tim Al-Shul’a pada 2009. Saya meninggalkan Daraa karena perang. Saya sudah bermain sejak kecil dan oleh karenanya sepakbola adalah hidup saya. Saya tak bisa membayangkan hidup saya tanpa sepakbola,” kata Fawzi kepada Goal Click. Baca juga: Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal Timnas Suriah di Kualifikasi Piala Dunia 1950 (Majalah Türkspor 20 November 1949) Setelah mengasah kemampuan di tim Al-Shul’a pada usia 11 tahun itu, Fawzi pindah ke klub Al-Sarih Sport Club lalu Al-Hussein FC di Irbid. Tetapi sejak 2012 Fawzi dan keluarganya terpaksa mengungsi ke Yordania. Ia sempat terpisah dari ayahnya dan di usia 17 tahun mesti jadi kepala keluarga bagi ibu dan kedua adiknya di Kamp Zaatari, kamp pengungsi Suriah terbesar di Yordania. Dengan mengenyam pengalaman di Aspire Academy pada 2017, asa Zaatari jadi pesepakbola profesional dan membela tim nasional negaranya kian besar. Terlebih, sejak Desember 2011 timnas Suriah tak pernah lagi memainkan laga-laga internasionalnya di kandang sendiri. Tim berjuluk “Elang Qasioun” itu acap mengungsi ke negara-negara Arab lain saat menghadapi tim lain di berbagai pentas internasional. Padahal, sebelum perang, Suriah jadi salah satu tim asal Timur Tengah yang cukup diperhitungkan selain Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Iran. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Perkembangan sepakbola Suriah sendiri awalnya tidak pesat. Sebagaimana banyak negara Asia lain, masyarakat Suriah mengenal sepakbola dari Prancis. Kolonialis Eropa itu menguasai Suriah sejak 1916 dan membentuk Negara Mandat Lebanon dan Suriah pada 1920. Di dalamnya turut didirikan enam negara bagian: Damaskus, Aleppo, Alawite, Jabal Druze, Hatay, dan Lebanon Raya. “Pasca-1916, saat masih di bawah mandat Prancis dan Inggris, klub-klub mulai eksis sebagai aktivitas rekreasi untuk militer. Klub pertamanya adalah Hamzasp Club yang berdiri pada 1923, walau sebuah tim non-resmi sudah pernah eksis di Sekolah Shibani di Aleppo. Lalu pada 1928 Barada Club dan Qasiyoun Club lahir di Damaskus,” tulis Nour El-Houda Karfoul dalam “Women and Sport in Syria” yang termaktub dalam buku Muslim Women and Sport. Aleppo Municipal Stadium (kiri) & Klub Suriah berlaga di Syrian Cup (Majalah Arevelk  tahun 1959) Klub-klub itu masih dikhususkan buat kaum pria, baik sipil maupun militer Prancis, dan kalangan pelajar Suriah. Mayoritas klub berkembang sendiri-sendiri karena Suriah masih sangat kekurangan praktisi olahraga, terutama sepakbola, walaupun olahraga dijadikan kurikulum di sekolah-sekolah. Pada 1930-an, sepakbola dijadikan alat politik untuk menentang kolonialisme Prancis. Menjelang Olimpiade Berlin 1936, beberapa aktivis Lebanon dan Suriah, seperti kakak-beradik Gabriel dan Pierre Gemayel, Arif al-Habbal, dan Husayn Sija’an “berguru” ke Jerman untuk mempelajari manifestasi semangat kepemudaan melalui olahraga. “Menarik melihat catatan Arif al-Habbal yang mengunjungi kamp-kamp Pemuda Hitler di Jerman dan Olimpiade 1936. Husayn Sija’an ambil bagian dalam delegasi menghadiri konferensi sepakbola di Berlin pada 1936,” ungkap Götz Nordbruch dalam Nazism in Syria and Lebanon: The Ambivalence of the German Option, 1935-1945. Baca juga: Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan Di tahun itu juga La Fédération de Syrie de Football didirikan dan pada 1937 diterima jadi anggota FIFA walau secara administratif masih dianggap negeri bawahan Prancis. Perang Dunia II membuat Suriah baru bisa membuat kompetisi di masing-masing provinsinya dan timnasnya perlahan pada 1946 seiring Republik Suriah merdeka dari Prancis. Setelah bertahun-tahun sepakbola sekadar dimainkan di lapangan sederhana, pemerintah republik akhirnya membangun stadion pertamanya, Aleppo Municipal Stadium, pada 1948 (kini Stadion 7 April) di kota Aleppo. Kota Aleppo paling maju persepakbolaannya. Induk olahraganya pun diubah menjadi Syrian Arab Football Association (SFA). Timnas Suriah di Kualifikasi Piala Dunia 2022 ( the-afc.com ) SFA kemudian menggulirkan kompetisi-kompetisi resmi pertamanya. Di masa pra-kemerdekaan, klub-klub yang eksis sekadar bermain di liga atau turnamen internal di masing-masing provinsi. Mulai 1959, diciptakan turnamen lintas provinsi, Syrian Cup, yang sejak 1966 diikuti kelahiran Liga Primer Suriah. Di pentas internasional, Suriah tampil pertamakali sebagai tim negara merdeka pada Kualifikasi Piala Dunia 1950. Walau hingga kini masuk Piala Dunia masih sulit digapai, seiring waktu Suriah jadi tim yang disegani di dunia Arab, bahkan di Asia. Suriah dua kali menjadi runner-up Pan Arab Games (1953, 1997) dan juara pada 1957. Ia juga tiga kali runner-up Arab Cup (1963, 1966, 1988). Terakhir, Suriah juara Mediterranean Games (1987) dan Piala Asia Barat (2012). Deskripsi Film: Judul: Captains of Zaatari | Sutradara: Ali El Arabi | Produser: Ali El Arabi, Amjad Abu Alala, Aya Dowara, Michael Henrichs | Produksi: Ambient Light | Distributor: Dogwoof |Genre: Dokumenter | Durasi: 75 menit | Rilis: 31 Januari 2021, Mola TV

  • Peris Pardede, Pedagang Arloji Jadi Petinggi PKI

    SETELAH pemerintah menganjurkan pendirian partai-partai politik, Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali bangkit. Mr. Mohammad Jusuf menggunakan kesempatan itu untuk menghidupkan PKI secara legal. Sebelumnya, PKI ilegal atau bergerak di bawah tanah setelah dilarang pemerintah kolonial karena memberontak pada 1926. Pada 21 Oktober 1945, PKI secara resmi berdiri dengan pengurus: Mr. Mohammad Jusuf sebagai ketua, Mr. Soeprapto sebagai sekretaris, Likasi Ali Kasim sebagai bendahara, dan Mohammad Sain sebagai salah satu anggota komisaris.

  • Nestapa Sabaya

    MAHMUD Resho berusaha tenang. Sambil mengawasi putranya yang bermain di halaman depan rumahnya di sebuah desa di timur laut Suriah pada suatu hari di tahun 2019, Mahmud terus-menerus berupaya mencari sinyal telepon selulernya. Karena tak jua berhasil mendapatkan sinyal, ia menyiapkan sepucuk pistol M1911 yang diambil dari lemari pakaiannya. Bersama kawannya yang merupakan kepala LSM Mala Êzîdîyan (Yazidi Home Center), Shejk Ziyad, ia kemudian berkendara ke Kamp Al-Hol. Selain pistol di balik pakaiannya, Mahmud juga membawa sepucuk senapan otomatis AK-47 di mobilnya. Kamp Al-Hol adalah pusat pengungsian 73 ribu sipil eks-Daesh yang paling kacau dan berbahaya. Dulunya Al-Hol dikuasai Daesh atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Pada 2015, kamp itu direbut Syrian Democratic Forces (SDF), pasukan militer Kurdi yang merupakan musuh ISIS, rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan militer Turki sekaligus. Baca juga: A Private War , Perang Batin si Wartawati Perang Kamp itulah yang jadi fokus dokumenter bertajuk Sabaya karya sineas merangkap kameramen dan editor Hogir Hirori . “ Sabaya ” adalah sebutan untuk ribuan gadis Yazidi, sub-etnis Kurdi, yang dijadikan budak seks setelah diculik saat wilayah asal mereka di Sinjar, Irak Utara, diserang dan dikuasai Daesh. Lazimnya setelah para ayah dan saudara laki-laki mereka dibantai, para perempuan Yazidi itu diperbudak, dijual, dan dinikahkan paksa oleh pasukan Daesh. Mereka dipindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Mosul, Raqqa. Banyak dari mereka akhirnya disembunyikan oleh para pelaku human trafficking di Kamp Al-Hol. Mahmud Resho di Kamp Al-Hol (Dogwoof) Adegan beringsut ke saat Mahmud melapor ke pos keamanan Kamp Al-Hol yang dijaga pasukan SDF. Mahmud menyampaikan maksudnya yakni menjalankan misi menyusupkan seorang gadis Yazidi yang menyamar jadi Daesh. Gadis yang menyamar jadi informan itu dibekali telepon seluler untuk melaporkan perkembangan pencarian para sabaya . Setelah mendapatkan info lebih banyak, beberapa hari kemudian Mahmud dan Ziyad membawa lebih banyak anggota bersenjata ke dalam kamp pada dini hari. Mereka men- sweeping sejumlah tenda pengungsi dengan dibantu Eylol, komandan pasukan perempuan SDF. Mereka tetap harus bersiaga. Meskipun kamp itu sudah dijaga dan dikuasai pasukan SDF, senjata masih mudah keluar-masuk kamp itu lewat sejumlah kelompok penyelundup senjata. “Al-Hol adalah kamp paling kacau. Ia seperti bom waktu karena masih banyak sel-sel tidur Daesh. Militer mereka memang sudah kalah, tapi mentalitas (Daesh) mereka masih tinggi,” kata Mahmud. Baca juga: The Whistleblower yang Membuka Borok PBB Pencarian gadis-gadis Yazidi yang dibantu pasukan wanita SDF (Dogwoof) Dalam pencarian dini hari itu, Mahmud dan kawan-kawannya menemukan satu korban bernama Leila. Perjalanan mereka membawa Leila keluar dari kamp pun diliputi teror. Mobil mereka dikuntit dan ditembaki mobil yang diduga kelompok Daesh atau penyelundup senjata. Beruntung, mereka bisa meloloskan diri dan membawa Leila keluar dari kamp. Leila lalu ditampung di kediaman Mahmud. Ia dirawat secara fisik dan psikis oleh Siham, istri Mahmud, dan Zahra, ibunda Mahmud. “Kami mencoba menyelamatkan mereka. Mengembalikan mereka ke asalnya, ke agamanya, dan ke budayanya,” kata Mahmud. Baca juga: Harriet "Musa" Pembebas Budak Keluarga Mahmud yang menampung para penyintas sabaya sebelum dipulangkan ke kampung halamannya (Dogwoof) Leila hanyalah satu dari sekian banyak perempuan yang berhasil diselamatkan kelompok Mahmud. Perempuan korban penculikan itu tak melulu gadis dewasa, tapi ada juga ibu satu anak dan gadis tujuh tahun. Mereka semua ditampung sementara di rumah Mahmud setelah diselamatkan. Tetapi seiring makin intensnya aktivitas mereka, bahaya makin mengancam. Ancaman itu datang dari kelompok human trafficking yang resah ataupun militan Daesh yang kabur dari kamp. Semua berpotensi menimbulkan invasi militer Turki terhadap Suriah Utara yang didiami pasukan SDF. Bagaimana kelompok Mahmud terus melakoni aktivitasnya meski banyak ancaman yang membahayakan nyawa? Saksikan sendiri kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Menjaga Kerahasiaan Satu setengah tahun lamanya Hogir Hirori mengikuti Mahmud dan keluarganya dalam beragam aktivitas yang diabadikan lewat kameranya. Keseriusan Hirori juga dibuktikan dengan penghadiran twist yang yahud. Setelah menampilkan keseharian Mahmud dan beberapa gambar wawancara, Hirori membawa penonton masuk ke suasana ramai dan mencekam di dalam kamp. Suasana itu dikontraskan lagi dengan adegan berikutnya berupa ketenangan suasana pedesaan dengan hamparan perkebunan yang menjadi keseharian Shadi, Siham, dan Zahra. “Saya memang ingin menampilkan pemandangan yang sangat kontras antara kamp Al-Hol yang berbahaya dan kacau dengan atmosfer yang tenang dan aman dalam keseharian keluarga Mahmud, sekaligus memperlihatkan peran penting keluarga mereka terhadap para gadis Yazidi,” kata Hirori kepada Filmmaker Magazine , 30 Januari 2021. Baca juga: Wind River , Potret Kehidupan Pribumi Amerika Suasana Kamp Al-Hol yang menampung 70 ribu simpatisan Daesh/ISIS (Dogwoof) Hirori tak banyak menyisipkan music scoring lantaran ingin membiarkan penonton merasakan suara-suara alami di timur laut Suriah, keriuhan suasana pasar di dalam kamp, hingga letusan-letusan senjata dalam baku tembak buronan Daesh dengan pasukan SDF. Hanya sedikit musik bernuansa sendu khas Timur Tengah yang dimasukkan Hirori ke dalam scene wawancara beberapa korban. Satu dari 206 perempuan Yazidi yang berhasil diselamatkan LSM Mala Êzîdîyan adalah Leila. Masih ada lebih dari dua ribu lainnya yang nasibnya tak diketahui.. Sambil menenggelamkan wajah ke lutut dan berderai air mata, ia menceritakan pengalamannya hampir memutuskan bunuh diri karena mentalnya nyaris mencapai titik nadir. Ia diculik saat masih belia, dipaksa masuk Islam, dan dijadikan budak seks selama lima tahun sebelum akhirnya diselamatkan LSM Yazidi Home Center. Seorang sabaya lain bahkan sampai melahirkan seorang anak. Nestapanya bertambah saat ia hendak dibawa ke perbatasan Suriah-Irak untuk dipulangkan bersama beberapa penyintas lain ke Sinjar. Perempuan itu harus menahan pedih karena tak bisa membawa putranya yang berusia satu tahun. Pasalnya, anaknya adalah hasil hubungannya dengan militan Daesh dan takkan diterima keluarga maupun masyarakat Yazidi di Sinjar. Baca juga: Konflik Kashmir Tiada Akhir Upaya pencarian informasi korban sabaya  ke tahanan Daesh (Dogwoof) Saat itulah sang sineas dituntut bisa mengendalikan emosinya. Tantangan lain Hirori yakni harus menyunting 90 jam durasi film menjadi 91 menit. Ia juga mesti memotong sejumlah adegan penting tentang ruang dan waktu demi kerahasiaan. Alasan kerahasiaan itulah yang membuat beberapa mantan “sabaya” yang disusupkan sebagai informan ke kamp mesti di- blur gambarnya . Alhasil transisi beberapa adegan dalam Sabaya kurang halus. “Ada banyak gambar yang tak saya masukkan karena alasan pribadi dan terutama alasan keamanan. Menjadi penting gambar-gambar tentang lokasi tidak disajikan, agar militan Daesh tak bisa mengidentifikasi mereka dan menggunakan gambar saya untuk merencanakan serangan mereka,” tandas Hirori. Genosida Kaum Yazidi Sebagaimana diceritakan dalam Sabaya , etnis Yazidi jadi sasaran genosida Daesh sejak 2014. Ketika Daesh menginvasi kampung halaman mereka di Sinjar, sekitar lima ribu nyawa orang Yazidi melayang dan lebih dari dua ribu kaum perempuannya diculik. Mereka dipaksa meninggalkan keyakinan mereka dan dipaksa masuk Islam. Mereka kemudian diperbudak. Bukan hanya Daesh atau ISIS pihak yang berupaya melakoni pembersihan etnis terhadap orang Yazidi. Jauh sebelum invasi Irak oleh Amerika Serikat pada 2003 dan serangan Daesh, kaum sub-etnis Kurdi itu dalam sejarah sudah berulang-kali jadi target genosida bangsa Turki sejak abad ke-17. Baca juga: Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa Pada abad ke-10, kaum Yazidi menolak masuk Islam atau Kristen. Ketika mayoritas etnis Kurdi menganut Islam, orang-orang Yazidi tetap memegang teguh keyakinan monoteis Yazidisme atau Sharfadin. Menurut Profesor Sebastian Maisel, peneliti dunia Arab di Universitas Leipzig, dalam Yezidis in Syria: Identity Building among a Double Minority , Yazidisme adalah keyakinan yang percaya pada satu Tuhan yang dibantu tiga makhluk suci dalam menjaga kehidupan di dunia. “Tuhan menjadi satu pencipta spiritual dan setelah menciptakan dunia serta umat manusia, Tuhan tersebut memanifestasikan kehidupan di dunia melalui tiga makhluk: Tawsi Melek, Sheikh Adi, dan Sultan Ezid. Yang terpenting dari ketiganya adalah Tawsi Melek atau malaikat Merak yang jadi pemimpin di antara ketiganya,” tulis Maisel. Ilustrasi kuil Yazidisme (British Library) Keteguhan sikap itu membuat kaum Yazidis acap jadi korban persekusi, bahkan pembantaian. Namun, keteguhan sikap bukan satu-satunya penyebab. Pada 1640, ketika wilayah Yazidi sudah masuk ke dalam kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, mereka dibantai. Pembantaian itu sebagai respons atas ulah orang-orang Yazidi yang acap menyerang jalur perdagangan Baghdad-Mosul dan Aleppo-Diyarbakır-Mardin. “Tetapi karavan-karavan (kafilah) di jalur itu sering dirampok suku Yazidi. Penjelajah Utsmaniyah, Evliya Çelebi, dalam ekspedisinya menyebut Yazidi kaum barbar pemuja anjing. Maka kemudian penguasa Diyarbakır melancarkan ekspedisi yang menghasilkan pembantaian dan perbudakan ribuan Yazidi,” tulis Günes Murat Tezcür dalam Kurds and Yezidis in the Middle East. Baca juga: Nestapa Yahudi Afrika demi Tanah yang Dijanjikan Sekitar 300 desa kaum Yazidi di Pegunungan Sinjar pun jadi sasaran amuk 40 ribu pasukan Utsmaniyah. Lebih dari tiga ribu orang Yazidi tewas. Ribuan lainnya diperbudak. Hanya sekitar dua ribu penyintas yang bisa melarikan diri ke gua-gua di pegunungan. Sejak saat itu persekusi atau pembantaian terhadap Yazidi terus terjadi dari masa ke masa. Dalam In Search of Safety: Voices of Refugees, Susan Kuklin mencatat ada lima peristiwa pembantaian di abad ke-18 oleh Utsmaniyah, suku Kurdi, dan orang-orang Arab. Dua kali di abad ke-19 dan empat kali di abad ke-20. Ilustrasi pembantaian kaum Yazidi oleh pasukan Utsmaniyah ( ezidipress.com ) Deskripsi Film: Judul: Sabaya | Sutradara: Hogir Hirori | Produser: Hogir Hirori, Antonio Russio Merenda | Produksi: Dogwoof, Lolav Media, Ginestra Film, Swedish Film Institute, YLE | Distributor: Folkets Bio |Genre: Dokumenter | Durasi: 91 menit | Rilis: 30 Januari 2021, Mola TV

  • Seni Jalanan Masa Revolusi

    Pada masa revolusi kemerdekaan, ruang-ruang publik di berbagai kota menjadi medan pertarungan visual Republik melawan Belanda. Dari mural, grafiti, poster, hingga baliho dalam bentuk yang masih sederhana. Sebagian besar dipakai sebagai propaganda membakar semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sejarawan seni rupa Mikke Susanto dalam webinar “Jakarta Art Movement: Vandalisme, Ruang Publik, dan Street Art”, Selasa, 31 Agustus 2021, mengatakan seni jalanan sesungguhnya sudah berkembang sejak 1930-an. Namun, kala itu sebagian besar karya masih jauh dari pesan-pesan revolusioner. Pasca Proklamasi, seni jalanan sontak ramai berpartisipasi dalam revolusi. Baca juga:  Grafiti Setelah Proklamasi Mikke menyebut bahwa bentuk awal seni jalanan ( street art ) saat itu berupa stensil. Bentuk ini dipakai karena pembuatannya lebih mudah dan murah. Stensil yang dibuat juga masih sederhana dengan menggunakan negatif film dari kertas dan semprotan manual. Dari stensil, seni jalanan berkembang ke grafiti dan mural yang dibuat ditembok-tembok kota. Di Yogyakarta misalnya, sebuah tugu yang dulu berada di depan Hotel Garuda Malioboro menjadi titik strategis propaganda revolusi. Selain itu, poster-poster juga ditempel pada tembok dan kaca gedung, papan-papan, hingga pohon di pinggir jalan. “Nah, ini adalah bentuk pertarungan opini ya. Jadi bagaimana kemudian antara orang-orang Belanda dan pejuang-pejuang Indonesia itu berebut ruang,” jelas Mikke. Poster stensil digunakan pada masa revolusi karena mudah dan murah. (Dok. Mikke Susanto). Selain grafiti, mural, dan poster, ada pula seni jalanan berbentuk baliho. Dalam penelusurannya, Mikke menemukan baliho yang memuat visual laiknya komik. Konsep ini dipakai untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai situasi yang tengah terjadi. Konsep ini menjadi penting karena dapat menengahi minimnya publikasi-publikasi berbentuk buku. “Jadi kita bisa membaca dari panel ke panel yang kemudian di sana muncul narasi baru yang bisa dipersepsikan oleh para penyimak karya tersebut,” kata Mikke. Baca juga:  Antara Estetika dan Propaganda Penempatan seni jalanan juga diperhatikan. Sama seperti konsep memasang patung di ruang publik, menurut Mikke, seni jalanan seperti baliho misalnya dibuat dengan mempertimbangkan jarak terbaik untuk dipandang atau dibaca. “Sehingga di sini kita perlu melihat bahwa kehadiran baliho itu memberikan satu dimensi ruang yang luar biasa sebagai bagian dari bentuk perjuangan kala itu,” terang Mikke. Grafiti yang dibuat pada gerbong kereta. (Dok. Mikke Susanto). Menurut amatan Mikke, seni jalanan masa revolusi juga tidak sembarang bikin. Para seniman ternyata juga memperhatikan komposisi, garis, hingga bidang ruang. Seni jalanan yang terlihat seperti goresan-goresan belaka ternyata buah pemikiran yang bersifat estetik. Selain dibuat di dinding atau papan, seni jalanan seperti grafiti juga ditorehkan pada gerbong kereta api. Ini dilakukan untuk menyebarluaskan berita Proklamasi dan semangat revolusi hingga ke kota-kota kecil yang dilalui kereta api. “Dengan demikian kita bisa membayangkan betapa grafiti itu punya pengaruh yang sangat besar di masa revolusi,” tegas Mikke. Baca juga:  Bung, Saudara Serevolusi Mikke juga menambahkan, poster-poster kemudian dibuat dengan teknik yang lebih rumit dan dicetak. Adapula poster Sukarno yang dilukis oleh pelukis kenamaan Basuki Abdullah. Lukisan itu digandakan dengan ukuran A4 dan disebarkan ke seluruh Jawa. Tak hanya Basuki Abdullah, ada pula Affandi yang melukis poster revolusi “Boeng, Ajo Boeng!” D ia juga melukis poster kemerdekaan lain yang kemudian dikoleksi oleh Sukarno. Lukisan berjudul Laskar Rakjat M engatur Siasat (1946) itu kini tersimpan di Gedung Agung, Yogyakarta.

  • Gugurnya Mayor Bahrin Yoga

    SUASANA mencekam menyelimuti Desa Pancur Batu, Deli Serdang, 28 Juni 1947. Hari masih pagi tapi berbagai kelompok laskar dan tentara Republik sudah berjejal di mana-mana. Entah mengapa, kebanyakan dari mereka menampilkan wajah bengis. Alamat bakal terjadi pertempuran begitu terasa. “Di sana kami mendengar berita bahwa kemarin malamnya seorang mayor ditembak oleh seorang sersan mayor,” kenang Mohammad Radjab, wartawan kantor berita Antara,  dalam reportasenya yang dibukukan berjudul Tjatatan di Sumatra . Saat itu, Radjab ditugaskan Departemen Penerangan Republik Indonesia untuk meliput kondisi perjuangan di Sumatra. Kasus penembakan yang terjadi ketika rombongannya singgah di Pancur Batu turut terekam dalam catatan Radjab. Warga setempat menyebutkan bahwa yang ditembak seorang Aceh sedangkan yang menembak orang Batak. Rombongan Radjab pun berlalu meneruskan perjalanan dengan meninggalkan kesan atas insiden yang baru saja disaksikan.

  • Marsose dari Eropa sampai Perang Aceh

    SIGAP, cepat, dan efektif. Begitulah pasukan Marsose ( Maréchaussée ) Belanda ketika mendesak pasukan Tjoet Nja’ Dhien sampai ke pedalaman Beutong Le Sageu pada suatu hari tahun 1906. Atas bocoran info dari pengkhianat bernama Pang Laot, pasukan Belanda itupun berhasil menangkap Tjoet Nja’ Dhien. Begitu epilog film Tjoet Nja’ Dhien  (1988) garapan Eros Djarot. Perlawanan Tjoet Nja’ Dhien dan mendiang suaminya, Teuku Umar, dapat dipatahkan selain karena pengkhianatan juga karena efektivitas manuver-manuver kontra-gerilya pasukan Marsose . Bernama lengkap Korps Marechaussee te Voet, unit pasukan khusus Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda itu dibentuk pada 2 April 1890. Marsose dibentuk berangkat dari kebutuhan akan pasukan lebih mobile  ketimbang pasukan reguler KNIL. Kebutuhan itu muncul akibat realitas medan pedalaman Aceh yang menyulitkan untuk perang frontal. Baca juga: Tjoet Nja’ Dhien Petarung Konsisten Berbeda dari Marsose di Hindia Belanda, Maréchaussée di Eropa atau Amerika Serikat sekadar unit kepolisian militer yang bukan diperuntukkan bagi peperangan gerilya. Sebelum di Hindia Belanda, unit Maréchaussée sudah eksis di Eropa. Ia sejatinya semacam provost atau polisi militer di masa sekarang; atau gendarmerie dalam istilah Prancis, feldgendarmerie (Jerman), Guardia Civil (Spanyol), dan Carabinieri (Italia). “Sebutan Maréchaussée yang berarti korps polisi berkuda diambil dari istilah militer Prancis, atau kavaleri provinsi di Prancis yang berpatroli sebagai penegak hukum. Lema itu sendiri berasal dari awal Abad Pertengahan: Prévôt des Maréchaux , atau pasukan yang menjaga jalan-jalan kota besar. Pada abad ke-18 Maréchaussée berubah fungsi seperti provost di kemiliteran untuk mendisiplinkan personel dan melakoni eksekusi,” tulis Harry M. Ward dalam George Washington’s Enforcers: Policing the Continental Army. Di Prancis, Maréchaussée kemudian direorganisasi menjadi Gendarmerie Nationale pada 1791 atau tiga tahun setelah Revolusi Prancis bergulir. Konsep kesatuan sejenis Maréchaussée kemudian dipakai di Belanda, Jerman, Italia, hingga Amerika Utara oleh Jenderal George Washington yang kemudian jadi presiden pertama Amerika Serikat. “Washington menyadari perlunya disiplin ketat pasukan. Perwakilan luar negeri di Pasukan Kontinental menyarankan dibentuknya Korps Maréchaussée. Panglima tertinggi meminta kepada Kapten Bartholomew von Heer untuk merancangnya dibantu Kolonel Henry Lutterloh. Rancangannya kemudian disetujui Kongres pada 29 Juli 1778,” sambung Ward. Ilustrasi  Maréchaussée  di Prancis (kiri) & Amerika Serikat (Lepressoir/Journal of the American Revolution) Keberingasan Maréchaussée di Aceh Sebagaimana Depot Specialetroepen (DST) yang kemudian berubah menjadi Korps Specialetroepen (KST) sebagai “penerusnya” di periode 1946-1949, Marsose  merupakan pasukan khusus tentara kolonial Belanda. Ketiganya juga sama-sama berdarah dingin dalam melakoni tugas. “Korps Maréchaussée atau Marsose merupakan prajurit pilihan dari serdadu terbaik. Operasi gerilya lawan gerilya adalah konsep personel Marsose yang mengharuskan prajurit hidup seperti lawannya, yakni para pejuang Aceh di rimba yang buas dan kerapkali harus bertempur satu lawan satu dengan kelewang. Keberadaan Korps Marsose mendahului KST yang kemudian menjadi cikal-bakal Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD,” tulis Jean Rocher dan Iwan “Ong” Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis. Baca juga: Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa Perang Aceh yang bergulir sejak 1873 menjadi pertempuran terlama dan paling menguras keuangan pemerintah Hindia Belanda dibanding perang-perang kolonial lainnya. Kendati pemerintah mengklaim memenanginya pada 1904, faktanya perlawanan rakyat Aceh masih berjalan sampai Jepang datang tahun 1942 dan menewaskan lebih dari 37 ribu personel pasukan Hindia Belanda. “Perang Aceh hampir menelan biaya 1 miliar gulden bagi Belanda. Orang Aceh membuat Belanda kehabisan napas,” tulis Pavel Durdik, dokter militer KNIL, dalam catatan hariannya yang dikutip Rocher dan Iwan Ong. Joannes Benedictus van Heutsz (kiri) & Gottfried Coenraad Ernst “Frits” van Daalen yang membentuk Marsose (Tropenmuseum) Terlepas dari banyaknya kerugian yang diderita pemerintah kolonial, Perang Aceh sedikit demi sedikit bisa diredam pasukan Maréchaussée berkat efektivitasnya . Kelahiran Marsose merupakan perwujudan dari gagasan yang dilontarkan seorang jaksa (beberapa sumber menyebut bekas jaksa) di Kutaraja (kini Banda Aceh) bernama Mohamad Arif (beberapa sumber menyebut Muhammad Syarif). “Seorang anak Minang yang banyak berjasa membantu Belanda memenangkan Perang Aceh, yakni Muhammad Arif. Dia menjabat jaksa di Aceh sewaktu kedudukan Belanda hanya bertahan. Sekitar 1885 muncullah Muhammad Arif dengan gagasannya. Kumpulkan para sukarelawan dari kalangan tentara, katanya, yang cukup berani mendekati musuh, berani menaklukkannya dalam pertarungan jarak dekat. Mereka harus dipersenjatai dengan senjata tajam seperti orang Aceh, mencari musuh di tempat-tempat persembunyian mereka dan menghancurkan mereka,” ungkap Rusli Amran dalam Padang: Riwayatmu Dulu. Baca juga: KNIL dari Eropa ke Bumiputera Selain itu, kata Arif, pasukan itu harus dibentuk dengan unit-unit kecil dan persenjataan serta perlengkapan ringan agar lebih mudah bermanuver. Gagasan itu ia sampaikan kepada Gubernur Militer Aceh Jenderal Henri Karel van Teijn dan kepala staf Kapten Joannes Benedictus van Heutsz. Ketika gagasannya disetujui, termasuk oleh pemerintah pusat di Batavia, hasilnya adalah Marechaussee te Voet. Personil Marsose diambil dari serdadu KNIL pilihan. “Di bawah persetujuan pemerintah, gubernur jenderal memberi kewenangan membentuk Korps Marechaussee te Voet di Aceh. Korpsnya akan dikomando seorang kapten dibantu seorang letnan dan 12 sersan Eropa. Prajuritnya terdiri dari orang-orang bumiputera yang ditransfer dari KNIL berkekuatan 204 personil,” tulis suratkabar Bataviaasch Nieuwsblad , 13 Mei 1890. Panji Marsose (kiri) dan ilustrasi pasukannya karya pelukis Jan Hoynck van Papsendrecht ( kvkb.nl ) Marechaussee berada di bawah Van Heutsz yang naik pangkat jadi kolonel. Setelah Van Heutsz jadi gubernur militer, KNIL dan Marsose dikomandani Kolonel Gottfried Coenraad Ernst “Frits” van Daalen yang kelak dikenal karena pembantaiannya. Pemerintah pusat menggelontorkan dana 1.200 gulden per tahun khusus untuk Marsose. Jumlah tersebut dibagi untuk operasional, termasuk untuk menyokong gaji khusus harian para anggotanya. Perwira (kapten dan letnan) Marsose digaji 30 gulden; sersan mayor sebanyak 2,35 gulden; sersan dan bintara, 2 gulden; sersan Ambon, 1,80 gulden; prajurit Afrika, 1,22 gulden; dan prajurit bumiputera, 1,05 gulden. Baca juga: Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba Karena perwira maupun prajurit Marsose “comotan” dari KNIL, tak ada perubahan masif pada atribut maupun perlengkapan unit itu. Seragam tunic -nya sama seperti KNIL. Perbedaannya hanya terletak pada variasi pengenal, berupa pola garis kuning di kerah dan sakunya. Senjata tajamnya juga kelewang sebagaimana KNIL, namun senjata apinya diberikan yang lebih modern. “Korps Marechaussee beroperasi dengan pasukan-pasukan kecil yang kurang lebih 18 orang dengan persenjataan kelewang dan karaben repetir pendek (karbin Remington Rolling Block, red. ). Setelah tahun 1895 diganti semua dengan karaben baru, (Mannlicher) M95. Pasukan Marsose dilatih perang jarak dekat seperti gerilyawan Aceh. Ditugaskan mencari, mengejar, dan menghancurkan kelompok-kelompok gerilya Aceh di perbukitan, pegunungan, hutan belukar, lembah-lembah pedalaman yang luas. Cara baru ini membawa hasil yang memuaskan kaum kolonialis,” katan matan Pangdam Mulawarman Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Kolase perwira dan prajurit Marsose di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 (Tropenmuseum) Namun, dalam setiap operasi atau manuvernya, pasukan Marsose acap meninggalkan kekejaman berupa pembantaian. Hal itu tak lepas dari doktrin yang dikeluarkan perwiranya. Para perwira Marsose merespons perlawanan rakyat Aceh dengan membumihanguskan kampung-kampung yang diduga membantu gerilyawan dan menghabisi populasinya yang menolak menyerah pada Belanda. Salah satu kekejaman Marsose terjadi dalam kampanye Kolonel Van Daalen ke Gayo dan Alas pada 1904. Kampanye itu menewaskan 2.900 jiwa, termasuk 1.150 perempuan dan anak-anak di dalamnya. Yang paling memancing reaksi keras dari pihak Belanda sendiri terhadap kampanye itu adalah Pembantaian Benteng Kuta Reh( Bloedbad van Koetoh Reh ), 14 Juni 1904. Dalam operasi memburu gerilyawan Aceh yang bertahan di Benteng Kuta Reh itu, Van Daalen membawa 241 personil, termasuk 10 perwira Eropa. Baca juga: Van Heutsz, Pahlawan di Belanda Penjahat di Aceh Kolase Bloedbad van Koetoh Reh (Tropenmuseum) Walau kalah persenjataan, gerilyawan Aceh bersama ratusan warga yang terkepung pantang mengibarkan bendera putih. Mereka terus bertahan. Setelah satu setengah jam diserang, mereka akhirnya “disapu bersih”. Total 563 gerilyawan dan sipil, termasuk 189 perempuan dan 59 anak-anak, tewas di benteng itu. Sejak saat itu Marechaussee kondang akan kekejiannya hingga ia bubar seiring masuknya Jepang pada 1942. Tak hanya di Aceh, tapi juga di Sumatera Utara. “Pada watu itu timbul suara di Tweede Kamer Belanda yang mengutuk tindakan Van Daalen, seperti Victor de Stuers, sebagai pembunuhan massal yang biadab. Tetapi Perang Aceh tetap dilanjutkan karena masih menguntungkan kelompok kapitalis baru. Para kapitalis birokrat ini mendapatkan uang banyak dari pembelian atau produksi senjata dan perlengkapan baru,” tandas Hario Kecik. Baca juga: Ketika Amerika Menginvasi Aceh pada 1832

  • Mengubah Wajah Bisbol dengan Moneyball

    YANKEE Stadium begitu riuh oleh puluhan ribu penonton tuan rumah pada malam 5 Oktober 2001. New York Yankees begitu superior saat menjamu Oakland Athletics di game 5 American Division League (ADL) Series 2001. Billy Beane (diperankan Brad Pitt), General Manager Oakland A’s, memilih menyepi mendengarkan pertandingan itu lewat radio kecilnya. Dia serius dalam senyap di tribun stadion Oakland Coliseum. Billy insyaf tim bisbolnya yang hanya ber- budget 39,7 juta dolar tentu kalah tajir dari Yankees yang bernilai 114,4 juta dolar dalam semusim. Keinginannya membangun tim juara pun terbentur keterbatasan uang belanja sang pemilik Oakland A’s, Stephen Schott (Bobby Kotick). Schott menolak belanja besar-besaran walau Billy memohon untuk bisa membeli tiga pemain pengganti yang hengkang di akhir musim: Johnny Damon, Jason Giambi, dan Jason Isringhausen. Billy pun pasrah. Ia hanya bisa blusukan mencari pemain dengan dana terbatas. Baca juga: Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone Pandangan Billy terhadap bisbol tiba-tiba berubah setelah bertandang ke markas tim Cleveland Indians. Billy ke sana mulanya ingin bertemu GM Indians Mark Shapiro (Reed Diamond) guna bernegosiasi mendapatkan beberapa pemain, namun gagal. Kendati begitu, pertemuannya dengan Peter Brand (Jonah Hill) benar-benar mengubah pendekatan Billy terhadap bisbol dan itu menjadi fokus sutradara Bennett Miller dalam menggarap Moneyball . Film biopik olahraga ini diangkat dari kisah nyata Billy ditambah penguatan dari biografi tim Oakland A’s karya Michael Lewis berjudul Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game . Film ini mengisahkan tentang sebuah tim gurem yang hendak bangkit bermodalkan sejumlah perhitungan statistik. David Justice, Scott Hatteberg, dan Chad Bradford, pemain direkrut dengan metode statistik (Sony Pictures Entertainment) Cerita pun berganti ke adegan Billy pulang dari markas Indians. Alih-alih merekrut pemain, ia justru menjadikan Peter staf khususnya. Billy ingin lulusan anyar jurusan ekonomi Universitas Yale itu membangun tim berdasarkan hitungan kode statistik yang sejak 1970-an diperkenalkan pakar statistik Bill James namun tak pernah jadi perhatian tim-tim bisbol Amerika. “Ini kode-kode yang saya tulis untuk proyek tahunan. Kode-kode ini membangun pengetahuan untuk menilai pemain. Semuanya dirangkum menjadi satu angka. Menggunakan statistik untuk membaca mereka dan kita akan menemukan nilai pemain yang tak pernah bisa dilihat orang lain. Orang lain menilai dengan alasan bias dan hanya dengan perasaan: umur, penampilan fisik, kepribadian. Bill James dan matematikanya melangkahi itu semua,” kata Peter. Baca juga: Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata Dengan bantuan Peter, Billy tak hanya mendapat belasan tapi sampai 20 ribu calon pemain potensial yang sesuai anggaran. Peter mencontohkan reliever (pelempar cadangan) bernama Chad Bradford (Casey Bond). Bradford diremehkan banyak scout (pemandu bakat) hanya karena gaya melemparnya yang aneh. Namun di mata Peter, Bradford adalah pelempar yang efektif jika menengok catatan statistiknya. Billy yang terkesan pun menjalankan pendekatan radikal dalam membangun tim musim barunya. Selain Braford, Billy mendatangkan outfielder veteran, David Justice (Stephen Bishop), dan catcher yang bermasalah pada syaraf di tangannya, Scott Hatteberg (Chris Pratt). Pelatih Art Howe (kiri) & kepala scout Grady Fuson yang menentang metode statistik " moneyball " (Sony Pictures Entertainment) “Revolusi” Billy sayangnya ditentang sekumpulan scout senior Oakland A’s. Ketegangan pun terjadi hingga berujung pada pemecatan ketua scout Grady Fuson (Ken Medlock). Grady tak habis pikir Billy memilih percaya membangun tim hanya berdasarkan komputer dan angka ketimbang pengalaman dan intuisi tim scout -nya. Masalah tak berhenti sampai di situ. Kepala pelatih Art Howe (Philip Seymour Hoffman) menolak menurunkan para pemain baru itu. Perang dingin pun terjadi dan Billy terpaksa menukar sejumlah pemain langganan Howe agar para rekrutan barunya bisa dimainkan. Baca juga: Race, Drama Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Nazi Billy juga percaya takhayul bahwa jika ia menonton langsung pertandingan, timnya akan kalah. Maka itu ia tak pernah menyaksikan langsung laga. Kala timnya bertanding, ia memilih ke luar stadion untuk putrinya, Casey Beane (Kerris Dorsey). Maklum Billy hanya punya jatah bertemu seminggu sekali setelah cerai dari istrinya, Sharon Beane (Robin Wright). Tanpa dinyana, keputusan Billy tepat. Setelah Howe mengalah, Oakland A’s justru memetik rekor dalam sejarah bisbol Amerika dengan 20 kemenangan beruntun. Pendekatan “ moneyball ” itu bahkan menarik perhatian pemilik klub Boston Red Sox, John W. Henry (Arliss Howard). Henry mengajukan tawaran 12,5 juta dolar dan jika diterima, Billy akan jadi general manager (GM) dengan bayaran tertinggi dalam sejarah bisbol Amerika. Apakah Billy dengan “ moneyball ”-nya benar-benar bisa mengubah wajah bisbol? Saksikan keseruan lanjutan filmnya di aplikasi daring Mola TV. Tim Oakland A's yang mencetak 20 kemenangan beruntun sebagai imbas metode statistik " moneyball " (Sony Pictures Entertainment) Uang Bukan Segalanya Sebagaimana tone film yang cukup bervariasi antaraterang dan muram, music scoring film ini pun cukup berwarna. Gemuruh penonton di stadion juga dihadirkan. Komposer Mychael Danna mengiringi beberapa adegan sang tokoh utama, Billy Beane, dengan variasi melodi mengharukan, lagu pop bertajuk ‘The Show” yang dipopulerkan biduan Lenka, serta musik instrumen khas 1980-an. Iringan instrumen 1980-an itu cukup penting karena sutradara Miller membuat alur dramanya maju-mundur ke masa Billy masih jadi pemain. Di masa lalu itu Billy pernah membuat keputusan terbesar dalam hidupnya berdasarkan uang dan ia tak ingin mengulanginya lagi. “Dia adalah orang yang pernah dinilai begitu tinggi semasa jadi pemain dan sekarang bekerja sebagai GM di tim papan bawah. Terdapat jurang yang begitu besar bagi tim-tim seperti ini, di mana mereka takkan pernah bisa setara, mereka takkan pernah bisa kompetitif,” kata Brad Pitt, si pemeran utama, kepada National Public Radio , 13 Februari 2012. Baca juga: Membangkitkan Kasti yang Mati Suri Kolase adegan Billy Beane yang mengombinasikan metode moneyball  dengan pendekatan personal (Sony Pictures Entertainment) Di situlah Beane ingin mengubah peta perbisbolan Amerika. Kisahnya yang didramatisir dalam Moneyball juga menggambarkan pembuktian bahwa bahwa uang bukan segalanya untuk menang sehingga tim beranggaran kecil sanggup bersaing dengan tim kaya. Sang sineas juga menyajikan banyak hal yang jarang diketahui penonton terkait bagaimana intensnya negosiasi di balik layar dari setiap perekrutan pemain. Hal lainnya, penggambaran bahwa metode “moneyball” tak serta-merta bisa membuahkan kemenangan instan. Selain perhitungan statistik, dibutuhkan pula pendekatan personal antara pelatih atau GM kepada pemain. Hal itu sebelumnya sangat jarang terjadi di tim-tim bisbol Amerika. Ini tak pernah didapatkan Billy semasa berkarier sebagai pemain profesional. Belajar dari Masa Lalu Billy lahir di Orlando, Florida pada 29 Maret 1962 dengan nama lahir William Lamar Beane III. Sejak kecil sudah mengenal bisbol dari ayahnya yang seorang perwira Angkatan Laut Amerika. Billy berbakat dalam American football, basket, dan bisbol. Namun, Billy kemudian fokus pada bisbol. Ia bahkan sudah masuk tim utama sekolahnya di tahun ajaran pertamanya. Menjelang lulus, banyak tawaran dari tim-tim bisbol profesional mendatanginya lantaran Billy punya lima bakat alamiah dalam bisbol: running, fielding, throwing, hitting, dan hitting hard. Di sisi lain, Billy juga mendapat tawaran beasiswa kuliah sambil bermain untuk tim kampus Universitas Stanford. “Billy Beane adalah bintang olahraga SMA Mount Carmel, di mana ia memimpin tim sekolahnya memenangi kejuaraan bisbol dan basket. Dia sempat ditawari beasiswa Universitas Stanford sebelum datang tawaran dari tim kami,” kata eks-GM Boston Red Sox, Lou Gorman, dalam otobiografinya, High and Inside: My Life in the Front Offices of Baseball. Baca juga: Kurt Russell dari Bisbol ke Hollywood Pada 1980, datang pula tawaran dari New York Mets. Nilai kontraknya terbilang sangat besar untuk seorang pemain semuda Billy, yakni 125 ribu dolar (setara 392 ribu dolar saat ini atau Rp.5,2 miliar dalam kurs 2020). Ibunya cenderung menginginkan Billy menerima beasiswa Stanford, sementara sang ayah mempercayakan keputusan itu pada putranya sendiri. “Suatu hari ayahnya menantang Billy adu panco. Billy sempat terkejut walau kemudian Billy yang menang. Setelahnya sang ayah mengatakan pada Billy bahwa jika ia sudah berani mengalahkan ayahnya dalam adu panco, maka ia sudah cukup dewasa untuk menentukan keputusan dalam hidupnya. Tawaran dari Mets adalah keputusan besar pertama bagi Billy,” tulis Michael Lewis dalam Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game. Sosok asli William Lamar 'Billy' Beane III (kanan) yang diperankan aktor William Bradley 'Brad' Pitt (Sony Pictures Entertainment/mlb.com) Selain nilai kontrak yang menggiurkan, rayuan scout Mets Roger Jongerwaard begitu manis dengan banyak hal yang dijanjikan. Billy pun luluh untuk menandatangani kontrak dengan Mets di jendela transfer Major League Baseball (MLB) 1980. “New York adalah dunia baru baginya. Seumur hidup ia hampir tak pernah meninggalkan San Diego. Saat penyambutan pemain baru, Billy tercengang mendapat sapaan para pemain besar: Lee Mazzilli, Mookie Wilson, Wally Backman. Ia mengatakan: ‘Saya akan bermain dengan mereka. Mets seperti tempat keramat dan saya ada di dalamnya. Mimpi itu jadi nyata,’” kata Lewis. Baca juga: Rush Memicu Adrenalin hingga Garis Finis Namun ekspektasinya masih jauh dari realita. Billy tak langung diturunkan di tim utama. Mets memutuskan Billy lebih dulu beradaptasi di tim satelit yang bermain di liga bawah, seperti Little Fall Mets, lalu Lynchburg Mets, dan Jackson Mets. Billy baru dipromosikan ke tim utama Mets pada musim 1984 walau penampilannya justru mulai menurun dan tak bisa mencapai ekspektasi terdahulu. “Beane tak pernah sukses di liga kecil. Angka rata-rata batting -nya (memukul) hanya .210 di musim pertama dan .211 pada 1982. Beberapa tahun kemudian Beane memang muncul di tim Mets tapi akhirnya ditukar dengan pemain Minnesota Twins, Tim Teufel,” ungkap Brett Topel dan Greg W. Prince dalam Mount Rushmore of the New York Mets. Billy Beane semasa di Mets (kiri) & Oakland Athletics ( jeffreykeeten.com/Oakland A's) Semenjak “dibuang” Mets ke Twins, Billy jadi pribadi yang temperamental. Kegagalan demi kegagalan dalam memukul atau menangkap bola memperparah rasa frustrasinya. Mentalnya jatuh menghujam tanah dan oleh karenanya Billy tak pernah bisa bangkit lagi meski kemudian terus berganti tim dari Twins ke Detroit Tigers pada 1988 hingga Oakland A’s pada 1989. Walau merasa kariernya di lapangan habis, Billy belum mau jauh dari bisbol. Pada April 1990, ia mendatangi GM Oakland A’s Richard Lynn ‘Sandy’ Alderson dan melamar jadi scout untuk Oakland A’s. Di bawah Schott sang pemilik baru, Alderson diminta membangun tim dengan dana terbatas. Dari Alderson pula Billy, yang kemudian naik menjadi asisten GM, belajar statistik dalam bisbol yang dikenal dengan istilah “ sabermetrics ”. Baca juga: Rasisme Memuakkan Klub Israel dalam Forever Pure Sabermetrics atau SABRmetrics adalah hitung-hitungan matematika dan data statistik yang dipopulerkan Bill James sejak 1971. Hal ini juga menjadi pelurusan fakta yang digambarkan dalam Moneyball bahwa Billy baru mengenal sabermetric dari seorang analis muda Peter Brand pada 2002. “Sebenarnya Aldersonlah yang memperkenalkan sabermetrics di kepengurusan A’s sejak pertengahan 1980-an dan kemudian mengajarkan itu kepada Beane pada pertengahan 1990-an,” tulis Benjamin Baumer dan Andrew Zimbalist dalam The Sabermetric Revolution: Assessing the Growth of Analytics in Baseball. Figur George William 'Bill' James (kiri) & Richard Lynch 'Sandy' Alderson ( mlb.com ) Ketika menggantikan Alderson sebagai GM Oakland A’s pada 17 Oktober 1997, Billy sudah menerapkan sabermetrics untuk merekrut para pemain baru. Ia dibantu Paul DePodesta, mantan pemain Cleveland Indians yang direkrut Billy jadi asisten GM. Tokoh Peter Brand dalam Moneyball merupakan penggambaran sosok DePodesta yang didramatisir. Keberhasilan Billy dengan sabermetrics -nya terjadi di musim 2002 walau ia harus puas sekadar mencetak sejarah bisbol dengan 20 kemenangan beruntun. Meski begitu, berkat Billy pula sejumlah petinggi tim bisbol lain mau membuka mata lebih lebar soal sabermetrics yang sebelumnya disepelekan. Bos Red Sox bahkan sampai merekrut “Bapak Sabremetrics ” Bill James ke jajaran timnya pada 2003. Baca juga: Lima Gebrakan Revolusioner Wenger Billy juga memanfaatkan data statistik pemain setelah terinspirasi dua manajer tersukses dalam sepakbola Inggris, Sir Alex Ferguson (Manchester United) dan Arsène Wenger (Arsenal). Billy sangat terkesan dengan filosofi keduanya, terutama Wenger, dalam memantau data statistik pemain berprospek cerah yang kemudian diasah jadi pemain bintang yang sangat bernilai. “Wenger bertahun-tahun mampu menemukan pemain muda atau bakat mentah, lalu dikembangkan dan dijual dengan keuntungan besar. Emmanuel Adebayor, Nicolas Anelka, Samir Nasri, Marc Overmars, Emmanuel Petit, Robin van Persie, dan Kolo Touré hanya sebagian dari bukti metode ekonomi dan stastistik Wenger. Filosofi Beane juga bergantung pada statistik untuk mengidentifikasi talenta potensial, bertaruh pada pengembangannya dan dijual mahal. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Moneyball Effect ,” tulis John Cross dalam The Inside Story of Arsenal Under Wenger. Manajer legendaris Arsène Charles Ernest Wenger (kiri) yang diidolakan Billy Beane ( premierlague.com/passionmlb.com ) Deskripsi Film: Judul: Moneyball | Sutradara: Bennett Miller | Produser: Michael De Luca, Rachael Horovitz, Brad Pitt | Pemain: Brad Pitt, Jonah Hill, Chris Pratt, Philip Seymour Hoffman, Reed Diamond, Casey Bond, Kerris Dorsey, Bobby Kotick, Robin Wright, Stephen Bishop | Produksi: Columbia Pictures, Scott Rudin Productions, Michael De Luca Productions, Rachael Horovitz Productions, Plan B Entertainment | Distributor: Sony Pictures Releasing |Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 133 menit | Rilis: 9 September 2011, Mola TV

  • Pecah Kongsi Pemuda Pasca Proklamasi

    LEPAS isya di Asrama Mahasiswa Prapatan 10, Jakarta. Enam puluhan orang bersiap gelar rapat penentuan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), badan legislatif sementara Republik Indonesia. Mereka menunggu Sukarno dan Hatta tapi tak kunjung datang. Rapat tetap berlangsung hingga pukul 22.00. Dalam rapat 22 Agustus 1945 itu, Sutan Sjahrir sempat berbicara. Dia berkomentar tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagi dia, cara Proklamasi kurang sreg. “Dianggapnya sebagai made in Japan ,” kenang Alizar Thaib dalam 19 September dan Angkatan Pemuda Indonesia. Sjahrir anti-Jepang, tapi dia condong “lunak” terhadap Sekutu. “Sjahrir sama sekali tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa kita harus menyiapkan diri untuk berperang, sehingga perdamaian atau memakai jalan perundingan merupakan satu-satunya alternatif cara perjuangan Sjahrir,” tulis Hadidjojo Nitimihardjo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo.   Rapat selama dua jam itu tak mencapai kesepakatan siapa saja nama-nama yang akan menjadi anggota KNIP. Meski rapat sudah bubar, masih ada sepuluh orang bertahan di ruang rapat. Mereka anggota Komite van Aksi, komite yang dibentuk oleh kelompok pemuda dari Prapatan 10 dan Menteng 31 untuk mempersiapkan Proklamasi. Nama itu mengacu pada nama jalan dan nomor kediaman mereka. Kelompok Prapatan 10 terdiri dari mahasiswa kedokteran Ika Daigaku yang terpengaruh kuat pemikiran Sutan Sjahrir, sedangkan Menteng 31 berasal dari pemuda-pemuda yang beraliran kiri dan cenderung lebih revolusioner. Dua kelompok inilah yang terlibat aktif dalam mendesak Sukarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Tapi setelah Proklamasi, Prapatan 10 dan Menteng 31 berbeda pendapat tentang langkah selanjutnya yang harus ditempuh oleh gerakan pemuda. Prapatan 10 berupaya mengikuti saran Sjahrir dengan membentuk organisasi damai semacam palang merah. Sebab Sekutu dan Belanda akan datang lagi ke Indonesia. Itu dikatakan Sjahrir seusai rapat di depan anggota Komite van Aksi. “Kalian tidak tahu bahwa Sekutu menang perang dan Belanda salah satu anggota Sekutu. Sebaiknya kita bentuk organisasi. Biarlah orang-orang Belanda itu kita terima. Sesudah lima tahun kita adakan pemberontakan,” kata Sjahrir seperti dikutip oleh A.M. Hanafi dalam Menteng 31 Membangun Jembatan Dua Angkatan. Mendengar itu, anggota Komite van Aksi terdiam. Lalu Djohar Noor, perwakilan kelompok Prapatan 10 di Komite van Aksi, berteriak, “Tidak! Tidak!” tanda ketidaksetujuan pada usulan Sjahrir. Dia lebih sepakat Komite van Aksi melakukan aksi frontal seperti pengambilalihan markas tentara Jepang dan memobilisasi massa seperti telah ditetapkan pada 15 Agustus 1945. Eri Soedewo, salah satu anggota Komite van Aksi dari Prapatan 10, bangkit dari duduknya dan menghampiri Djohar. Dia tak sepakat dengan usulan itu dan buru-buru mengajak Djohar ke ruangan lain. Eri mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke kening Djohar. Terasa dingin bagi Djohar. Nyawanya hampir lepas. “Sabar-sabar,” kata Djohar. Saat itu, para pemuda dan mahasiswa membawa senjata api sudah kaprah. Kemudian Eri mengatakan, “Revolusi sudah gagal. Pemimpin-pemimpin mesti menanggung akibatnya. Kau mengorbankan mahasiswa, padahal mahasiswa itu bunganya bangsa.” Djohar lantas menanyakan apa mau Eri. “Mari kita dirikan palang merah. Berdemonstrasi di jalan-jalan dengan slogan-slogan. Di mana-mana, di tembok dan gedung-gedung kita coreti slogan dengan pinsil dan kwas,” kata Eri sambil menurunkan pistolnya. Djohar meminta Eri untuk merapatkan usulan itu dengan anggota lainnya. Eri lalu menjadi pemimpin rapatnya. Ketika Eri memimpin, Djohar mewanti-wanti anggota Komite van Aksi lainnya untuk berhati-hati dengan Eri karena dia punya niat untuk membunuh mereka. Untuk menyelamatkan mereka, Djohar memasukkan teman-temannya ke mobil jenazah agar segera keluar dari Prapatan 10. Dalam rapat, Eri menelanjangi kegagalan penerapan gagasan kelompok Menteng 31 yang memilih menggunakan cara-cara frontal dan konfrontatif untuk melucuti kekuasaan Jepang. Tapi wakil-wakil Menteng 31 membela diri. “Bukan bermula dari kesalahan kami, pemuda Komite van Aksi. Sebab yang utama dan pertama-tama ialah kegagalan dari pihak Daindancho  Kasman Singodimedjo,” terang Hanafi. Kelompok pemuda telah meminta Kasman untuk merebut senjata-senjata tentara Jepang. Setelah itu, senjata akan diberikan ke pemuda. Tapi Kasman tak segera melakukannya. Jepang keburu menyingkirkan senjata itu. “Maka nama Kasman Singodimedjo di lingkungan kami berubah menjadi ‘Singa Kentut di atas Meja’,” lanjut Hanafi. Hanafi menambahkan, julukan itu bukan bermaksud menghina. “Ini melukiskan situasi psikologis di kalangan barisan para pemuda revolusioner pada waktu itu,” sebut Hanafi.   Djohar lalu dapat kesempatan berbicara. Dia mengajukan opsi kepada para pemuda untuk memilih: ikut Komite van Aksi atau Eri Soedewo. “Siapa yang mau ikut dengan saya bersama dalam Komite van Aksi Proklamasi, mari ke Menteng 31,” kata Djohar. Rapat makin kisruh. Perpecahan kian nyata. Kelompok Prapatan 10 menyangsikan strategi Komite van Aksi.   Chaerul Saleh, wakil kelompok Menteng 31, minta kesempatan berpendapat. Jam telah menunjukkan hampir pukul 3 dini hari. Dia mencoba menengahi ketegangan rapat. Menurutnya, orang-orang yang berada di ruangan itu, yang menyusun langkah-langkah Komite van Aksi setelah kemerdekaan, telah mengorbankan segalanya untuk Republik. “Mereka adalah avant garde  nasional Indonesia... Tidak satu pun di antara kawan-kawan kita anggota Komite van Aksi yang tukang catut seperti yang saudara-saudara sangsikan dan curigai,” kata Chaerul. Chaerul juga mengatakan jika ada ketidakcocokan, selesaikan baik-baik. Dan pada akhirnya, dia mengucapkan terima kasih kepada kelompok Prapatan 10 telah memperkenankan asramanya dipakai untuk menggelar rapat-rapat penting. Ucapan Chaerul berhasil meredakan ketegangan, tapi tidak mampu mencegah perpecahan kelompok pemuda. Kelompok Prapatan 10 tetap menempuh jalannya sendiri seperti usulan Eri Soedewo. Perjuangan kelompok pemuda terpecah dua.*

bg-gray.jpg
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
bg-gray.jpg
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
bg-gray.jpg
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
bottom of page