- 31 Agu 2021
- 3 menit membaca
LEPAS isya di Asrama Mahasiswa Prapatan 10, Jakarta. Enam puluhan orang bersiap gelar rapat penentuan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), badan legislatif sementara Republik Indonesia. Mereka menunggu Sukarno dan Hatta tapi tak kunjung datang. Rapat tetap berlangsung hingga pukul 22.00.
Dalam rapat 22 Agustus 1945 itu, Sutan Sjahrir sempat berbicara. Dia berkomentar tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagi dia, cara Proklamasi kurang sreg. “Dianggapnya sebagai made in Japan,” kenang Alizar Thaib dalam 19 September dan Angkatan Pemuda Indonesia.
Sjahrir anti-Jepang, tapi dia condong “lunak” terhadap Sekutu. “Sjahrir sama sekali tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa kita harus menyiapkan diri untuk berperang, sehingga perdamaian atau memakai jalan perundingan merupakan satu-satunya alternatif cara perjuangan Sjahrir,” tulis Hadidjojo Nitimihardjo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















