Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tjoet Nja’ Dhien Petarung Konsisten
RUANGAN sederhana di pedalaman Aceh itu hening dan temaram diterangi obor di suatu malam pada 1896. Di sana, Teuku Umar (diperankan Slamet Rahardjo) sedang bertukar pikiran dengan para panglimanya. Pemimpin gerilya Aceh itu lalu merenung sejenak sebelum mengutarakan niatnya melancarkan serangan fisabilillah terhadap kaphe-kaphe Belanda. “Kalian harus ingat! Udep saree , matee syahid !” ujar Teuku Umar kepada pasukannya yang disambut gema takbir serentak. Sang istri, Tjoet Nja’ Dhien (Christine Hakim), dan putrinya, Tjoet Gambang (Hendra Yanuarti), hanya bisa mendoakan. Sebagai perempuan Aceh, ia pun muak dengan keberingasan Belanda sejak Perang Aceh yang bergulir 23 tahun ke belakang. Baca juga: Semesta Wiro Sableng Menyapa Dunia Kolase sosok Teuku Umar (Tangkapan Layar Mola TV) Sementara, petinggi militer Belanda di Kutaradja (kini Banda Aceh) yang belajar dari pengalaman, mendatangkan ribuan pasukan Korps Marechaussee te Voet pimpinan Letkol Johannes Benedictus van Heutsz (Huib van den Hoek) dari Jawa. Pasukan khusus anti-gerilya itu punya taktik lebih mobile dan bengis. Gabungan pasukan Marechaussee dan tentara reguler KNIL (Tentara Hindia Belanda) itu, yang diperkuat informasi dari pengkhianat bernama Teuku Leubeh (Muhamad Amin), mampu mematahkan perlawanan Teuku Umar. Teuku Umar tertembak dan tewas kala menyerang Belanda di Meulaboh pada 11 Februari 1899. Tetapi itu bukanlah akhir dari perjuangan rakyat Aceh. Kematian Teuku Umar justru menggelorakan semangat Tjoet Nja’ untuk meneruskan perlawanan. “Berjuang melawan kaphe-kaphe Belanda adalah bagian dari keimanan… Aku bersyukur karena yang ada di sekelilingku sekarang hanyalah mereka, orang-orang kita, yang mengerti arti perjuangan dalam keimanan,” ujar Tjoet Nja’ Dhien. Baca juga: Wiro Sableng si Pendekar Konyol dan Ajaran 212 Letnan Kolonel Joannes Benedictus van Heutsz yang memimpin Korps Marechaussee (Tangkapan Layar Mola TV) Adegan-adegan itu jadi permulaan film drama Tjoet Nja’ Dhien. Film ini disutradarai penulis Eros Djarot. Adegan beringsut ke upaya Tjoet Nja’ Dhien membawa keluarga dan warganya melanjutkan jihad dengan bergerilya di pedalaman. Ia bersama Pang Laot (Piet Burnama), panglima yang paling setia sejak masa Teuku Umar, memimpin sisa pasukan mendiang suaminya. Tak hanya cermat dalam taktik gerilya, Tjoet Nja’ juga pandai menjalin jaringan untuk mendukung perjuangannya dari segi perbekalan dan persenjataan. Suatu waktu, ia menyamar jadi rakyat jelata untuk masuk ke Meulaboh dan bertemu Habib Meulaboh (Rosihan Anwar). Ia diberikan bantuan harta yang digalang sang habib untuk perjuangan. Tjoet Nja’ lalu menggunakan harta itu untuk membeli senjata api dari seorang saudagar Portugis. Baca juga: Kemasan Anyar Nagabonar Adegan negosiasi Tjoet Nja' Dhien dengan saudagar Portugis (Tangkapan Layar Mola TV) Sang saudagar Portugis mengaku terkesan dengan perjuangan Tjoet Nja’. Jika perwira-perwira Belanda melancarkan perang berkepanjangan demi harta dan tahta, Tjoet Nja’ berperang dengan tulus demi membebaskan negerinya dari penjajah Belanda. “Semua ini politik. Bila pemberontakan berhenti, pemerintah pusat juga akan menghentikan dana perang yang begitu besar jumlahnya. Kenapa Van Heutsz bawa pasukan begitu besar? Hanya untuk uang, pangkat. Money and glory . Mereka itu berjuang demi gaji. Dunia ini penuh permainan. Banyak juga orangmu yang jadi pengkhianat hanya karena uang ,” kata sang saudagar itu. “Bagaimana dengan tuan sendiri?” tanya Tjoet Nja’. “Ingat, Tjoet Nja’, aku seorang pedagang. Di mana ada uang mengalir, di situlah aku berada. Kalau ada pedagang besar teriak-teriak: ‘Aku berjuang untuk negeri ini!’ Ah, omong kosong. Aku benci orang munafik.” Baca juga: De Oost dan Ikhtiar Menyembuhkan Luka Lama Sosok Teuku Leubeh, saudagar besar yang mengkhianati perjuangan rakyat Aceh (Tangkapan Layar Mola TV) Kata-kata sang saudagar ditujukan pada pengkhianatan Teuku Leubeh. Ia juga yang menginformasikan di mana dan kapan bisa menghabisi sang pengkhianat itu. Namun, pembunuhan terhadap Teuku Leubeh tak menghentikan pengkhianatan. Tjoet Nja’ kemudian mengendus pengkhianatan Nja’ Fatma, pembantunya sendiri, yang mengaku terpaksa melakukannya demi membebaskan suami dan anaknya. Fatma lantas dibunuh Nja’ Bantu (Rita Zaharah), pembantu lain Tjoet Nja’. Ketika Tjoet Nja’ tergolek sakit, Nja’ Bantu mengorbankan diri dalam sebuah pertempuran. Ia memakai pakaian selaiknya Tjoet Nja’ untuk memimpin pertempuran. Baca juga: De Oost , Perang Westerling di Timur Jauh Pang Laot yang mengaku terpaksa berkhianat demi keselamatan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Makin lama, perlawanan Tjoet Nja’ makin lemah. Pada 1906 ia terdesak ke pedalaman Beutong Le Sageu dengan kondisi kesehatan yang memburuk serta jumlah pasukan dan persenjataan yang menipis. Kondisi itu membuat Pang Laot kian prihatin dan akhirnya membelot. Diam-diam ia menemui perwira Marechaussee, Kapten Veltman (Rudy Wowor). Dia lalu mengultimatum Tjoet Nja’: jika bersedia bekerjasama, akan diberi jaminan perawatan dan takkan diasingkan dari tanah Aceh. Bagaimana kelanjutan kisah Tjoet Nja’ Dhien yang dikhianati panglima terdekatnya itu? Biar lebih seru, sepatutnya Anda saksikan sendiri di aplikasi daring Mola TV . Versi Restorasi Tjoet Nja’ Djien yang ditayangkan Mola TV sejak 17 Agustus 2021 ini adalah film versi kedua hasil restorasi. Mengutip laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 10 Juli 2021, film yang memenangi Piala Citra di kategori film terbaik Festival Film Indonesia 1988 ini ditransformasi dari pita seluloid ke Digital Camera Package (DCP) agar secara visual dan audionya lebih jernih. Film Tjoet Nja’ Djien mulanya punya dua salinan. Salinan pertama berdurasi 132 menit, dirilis pada 1988. Versi kedua durasinya lebih pendek, 108 menit, dan dirilis setahun setelahnya. Versi kedua itulah yang lantas direstorasi oleh IdFilmCenter Foundation, Haghefilm Digitaat, dan Eye Filmmuseum dalam kurun 2017-2018 dengan alasan bahwa kualitas audio versi 1989 lebih baik dan lebih mudah untuk direstorasi ketimbang versi 1988. Baca juga: Bumi Manusia Rasa Milenial Lantunan syair-syair Aceh untuk membangkitkan semangat pasukan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Hasilnya, generasi sekarang bisa lebih sedap menghayati alur demi alur kisah perjuangan Tjoet Nja’ Dhien tanpa terganggu gambar buram dan suara yang buruk. Sang sutradara selain menyemarakkan film dengan adegan-adegan peperangan nan epik juga menyuguhkan pemandangan bentangan alam pegunungan hingga pantai elok tanah Aceh. Audio yang direstorasi juga membuat penonton bisa lebih merasakan suasana Aceh lewat music scoring melankolis Melayu garapan komposer Idris Sardi. Nuansa kultur Aceh makin terasa dengan lantunan syair-syair Aceh yang diiringi rapai (alat musik tabuh khas Aceh). Baca juga: Tabula Rasa yang Menggugah Selera Hasil restorasi juga sangat terang memampang berbagai detail wardrobe dan properti yang terbilang apik di masanya. Para gerilyawan Aceh digambarkan tak hanya berjuang dengan rencong, tombak, dan klewang namun juga sudah membawa senapan seperti blunderbuss. Detail properti dan wardrobe KNIL dan Marechaussee sangat kentara hasil riset matang. Berbagai atribut seragamnya cukup sesuai dengan masanya, pun dengan senjata karbin Mannlicher M-1888 yang sohor sebagai senjata khas Marechaussee selain klewang. Kendati begitu, bukan berarti hasil versi restorasinya sempurna. Banyak cutting saat pergantian adegan tak begitu halus atau presisi. Alhasil, cukup mengganggu. Keturunan Petarung yang Konsisten Rambut memutih, kerutan di wajah, dan usianya tak muda lagi tak mengurangi semangat Tjoet Nja’ untuk angkat senjata. Kharisma membuat pengikutnya begitu hormatinya dan lawannya begitu menyeganinya. “Dhien, istri (Teuku) Umar, adalah wanita yang berbahaya. Dia adalah putri dari Teuku Nanta Seutia, musuh besar Jenderal van Swieten. Dan suami pertamanya, Ibrahim Lam Nga, juga seorang panglima perang. Saya juga pernah menjelaskan ini kepada Tuan Snouck Hurgronje. Dialah otak dari Teuku Umar,” terang sang pengkhianat, Teuku Leubeh, kepada Letkol Van Heutsz dalam sebuah adegan di film. Baca juga: Christine Hakim Bicara tentang Tjoet Nja' Dhien Sosok Tjoet Nja' Dhien yang diperankan Herlina Christine Natalia Hakim (Wikipedia/Mola TV) Dialog itu jadi upaya tim produksi menampilkan latarbelakang singkat Tjoet Nja’ yang lahir di Lampadang (kini Lamteh) sekitar tahun 1848. Mengutip H. M. Zainuddin dalam Srikandi Atjeh , ayahnya, Teuku Nanta Seutia, merupakan uleebalang di wilayah Kesultanan Aceh. Ia masih punya garis keturunan Datuk Makhudum Sati, salah satu perantau Minangkabau pertama di tanah Aceh. Sementara, ibunya sampai kini masih samar identitasnya. Hanya disebutkan ia putri dari seorang uleebalang . “Teuku Nanta Muda Seutia Radja menikahi seorang putri bangsawan Lampagar. Sebab itu pula ia dianggap seorang uleebalang yang gagah berani oleh Sultan Alaiddin Mansjursjah. Teuku Nanta Seutia mendapat 2 orang putra dan seorang putri. Di antaranya dua anak laki-laki itu seorang meninggal, seorang lagi Teuku Tjut Rajeuk kurang sempurna akalnya. Anak yang putri dinamainya Tjut Dhien dan elok parasnya, baik budi pekertinya dan tingkah lakunya tangkas,” tulis Zainuddin. Baca juga: Cut Nyak Dhien Berhijab? Sebagai salah satu uleebalang dan panglima, Teuku Nanta Seutia turut menyabung nyawa menghadapi kolonial Belanda yang mendeklarasikan perang terhadap Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873. Dalam serangkaian perlawanannya, turut pula seorang uleebalang lain, Teuku Ibrahim Lam Nga, suami pertama Tjoet Nja’. “Awal mula perang dipicu kesepakatan Traktat Sumatera 1871 antara Inggris-Belanda yang memberikan keleluasaan Belanda meluaskan pengaruh di Pulau Sumatera dan Inggris menguasai Semenanjung Malaya. Pihak Inggris dan Belanda mengabaikan kedaulatan Kesultanan Aceh yang sebelumnya diakui dalam Traktat London 1814. Ketika itu kekuasaan kolonial diberi hak mengeksplorasi merica dan hasil hutan,” tulis Jean Rocher dan Iwan Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis. Kolase Teuku Umar, suami kedua Tjoet Nja' Dhien (KITLV) Para pejuang Aceh menghadapi pasukan ekspedisi kedua Hindia Belanda yang turun dari kapal frigat Citadel van Antwerpen di pesisir timur Aceh. Pasukan ekspedisi itu terdiri dari 10 ribu kombatan KNIL pimpinan Jenderal Jan van Swieten yang dilengkapi dua senjata mesin gatling dan 75 meriam. Teuku Ibrahim syahid pada Juni 1878 dalam sebuah pertempuran di Lembah Beurandeun Gle’ Taron, sementara Teuku Nanta kembali ke kampung halamannya karena usia yang kian renta. Setelah beberapa bulan menjanda, Tjoet Nja’ dilamar Teuku Umar. Teuku Umar bukanlah orang asing baginya. Dari silsilah, Teuku Umar terhitung masih keponakan Teuku Nanta Seutia. Tjoet Nja’ bersedia dengan memberi syarat diperbolehkan ikut bergerilya bersama suaminya. Baca juga: Upaya Belanda Mengalahkan Aceh Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Tjoet Nja’ bersama putrinya, Tjoet Gambang, berikrar melanjutkan jihad sebagai seorang janda. Ia mengikuti heroisme Laksamana Keumalahayati kala menghadapi armada Portugis dan VOC (Kongsi Hindia Timur) di peralihan abad ke-16 dan abad ke-17. “Tradisi kepahlawanan perempuan Aceh telah dibangun 4 atau 5 abad sebelum mereka terlibat perang dengan Belanda. Laksamana Keumalayahati, seorang jenderal militer pertahanan laut Kesultanan Aceh, mampu menjadi penguasa laut berpengaruh dan disegani di seluruh Laut Andaman, Laut Aceh, Selat Malaka sampai pantai barat Sumatera. Keumalayahatilah yang menundukkan Portugis dan Spanyol di seluruh kekuasaan perairan Aceh,” ungkap Juftazani dalam De Atjeh Oorlog: 1873-1890 . Adegan penangkapan Tjoet Nja' Dhien (Tangkapan Layar Mola TV) Taktik gerilya Tjoet Nja’ dan sejumlah tokoh Aceh di wilayah lain melelahkan Belanda dan pihak Aceh. Selain menggembosi kas pemerintah kolonial di Batavia, gerilya Tjoet Nja’ hingga empat dekade kemudian perang itu menimbulkan korban jiwa terbesar Belanda. “Dari seluruh perang di kepulauan Nusantara, Perang Aceh adalah yang paling kejam dan berdarah. Perang Aceh adalah ujian kekuasaan Belanda dan KNIL. Secara keseluruhan jumlah prajurit Belanda yang gugur mencapai 37 ribu atau 10 kali lipat jumlah korban serdadu Belanda dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949),” tulis Rocher dan Iwan. Baca juga: Kemenangan dan Kegagalan di Aceh Namun, perlawanan Tjoet Nja’ dapat dipatahkan karena banyaknya pengkhianatan. Terakhir adalah pengkhianatan Pang Laot dengan niat “menyelamatkan” Tjoet Nja’ yang pada 1906 sudah menderita encok dan penglihatannya makin rabun. Ia pun disergap pasukan Belanda yang dipimpin Letnan van Vuuren setelah mendapat informasi lokasi persembunyiannya dari Pang Laot. “Setelah pasukannya dikepung, Cut Nyak Dien mencabut rencongnya. Dia bermaksud menikam serdadu Belanda tapi berhasil dicegah. Setelah gagal, Cut Nyak Dien bermaksud menikam rencongnya ke dadanya sendiri yang juga berhasil dicegah. Setelah semua usahanya gagal, Cut Nyak Dien memaki-maki serdadu Belanda dengan mengatakan ia tidak ingin badannya dipegang tentara kafir. Badannya telah lemas tapi semangatnya tetap menyala. Letnan Van Vuuren kagum melihat keberanian pemimpin wanita Aceh ini. Ia memberikan penghormatan militer karena Cut Nyak Dien adalah musuh tentara Belanda yang satria,” tulis Mardanas Safwan dalam Teuku Umar. Setelah ditangkap, semangat non-kooperasi Tjoet Nja’ tak luntur. Ia menolak pemberian akomodasi dan logistik dari pihak Belanda. Sikap tersebut terus dibawanya hingga akhir hayat. Potret Tjoet Nja' Dhien (duduk, kedua dari kiri) di usia senjanya kala diasingkan di Sumedang (Tropenmuseum) Deskripsi Film: Judul: Tjoet Nja’ Dhien | Sutradara: Eros Djarot | Produser: Alwin Abdullah, Alwin Arifin, Sugeng Djarot | Pemain: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Rudy Wowor, Hendra Yuniarti, Piet Burnama, Muhamad Amin, Robert Syarif, Rosihan Anwar, Rita Zahara, Huib van den Hoek, Herald Meyer | Produksi: Kanta Indah Film | Genre: Drama Biopik | Durasi: 105 menit | Rilis: 1988, 17 Agustus 2021 (Mola TV) .
- Dua Korea Nyaris Perang Gara-Gara Dahan Pohon Ditebang
KENDATI tugasnya di “daerah panas” perbatasan Korea tinggal tiga hari, Kapten Arthur G. Bonifas dari pasukan UN Command tetap berupaya menjalankan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin. Tak ada tugas berat menantinya, terlebih setelah calon penggantinya tiba. “Penggantinya –Kapten Ed Shirron, yang tingginya enam kaki enam dan lebih dari dua ratus pound bahkan besar menurut standar Merry Monk– telah tiba. Arth menghabiskan hari-hari terakhirnya di Korea untuk mengajak Shirron berkeliling, bersiap untuk pergantian komando pada tanggal dua puluh satu, dan merencanakan satu tugas yang belum selesai di JSA –pemangkasan pohon poplar Normandia,” tulis Rick Atkinson dalam The Long Gray Line: The American Journey of West Point’s Class of 1966 . Pada 18 Agustus 1976, Bonifas bersemangat memimpin sekelompok pekerja Korean Service Corps (KSC) berikut para personel perbatasan yang mengawalnya memangkas sebuah pohon poplar setinggi 40 kaki di dekat Jembatan Sach’on (Bridge of No Return) –yang merupakan batas antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut)– di sisi barat daya Joint Security Area (JSA), Demilitary Zone (DMZ) Panmunjom, Korsel. Kendati bukan pekerjaan berat, pemangkasan tersebut bisa berbahaya bagi mereka dan membahayakan keamanan lebih luas. Pasalnya, letak pohon yang akan dipangkas berada di wilayah yang dikelola bersama pasukan penjaga perbatasan kedua negara. Para penjaga perbatasan Korut sama leluasanya bergerak di sana dengan penjaga perbatasan Korsel. Hal-hal sepele bisa memicu konflik yang dapat meningkat eskalasinya dengan cepat. “Konfrontasi fisik sudah menjadi hal biasa di JSA. Penjaga Korea Utara seringkali meludahi, mendorong, atau meneriakkan ancaman dan kata-kata kotor kepada tentara Amerika dan Korea Selatan; baru-baru ini pada Juni 1975, Mayor William Handerson menderita kerusakan permanen pada laringnya setelah ditendang tenggorokannya di luar gedung gencatan senjata.” Lantaran seringnya terjadi insiden kekerasan itulah para personel UNC dan perbatasan Korsel pimpinan Bonifas memeriksa kondisi pohon poplar dekat jembatan pada 6 Agustus 1976. Pohon itu didapati terlalu rimbun. Kerimbunan itu mengakibatkan pandangan antara Pos Checkpoint UNC No. 3 –pos perbatasan terluar Korsel– dan Pos Observasi No. 5 menjadi terhalang. Jika dedaunan tidak dipangkas, mereka yang di Pos Observasi No. 5 tak bisa melihat jembatan dan keadaan rekan-rekan mereka di Pos No. 3 sehingga bila terjadi hal membahayakan personel Pos No. 3, rekan-rekan di Pos No. 5 tidak akan bisa membantu. Dipimpin Bonifas yang ditemani wakilnya Lettu Mark T. Barrett dan penerjemah Kapten AD Korsel Kim Moon-Hwan, enam pekerja KSC dikawal 10 personel dari Detasemen UNC mendatangi lokasi pohon pada pukul 10 pagi lewat, 18 Agustus 1976. Peralatan yang mereka bawah hanyalah tangga, kapak, gergaji, linggis, dan pipa plus dua pistol di pinggang Bonifas dan Barrett. “Sebagai tindakan pencegahan, dua puluh orang Pasukan Reaksi Cepat dipindahkan ke Pos Pemeriksaan PBB No. 2, tepat di dalam JSA, siap untuk campur tangan jika penebangan pohon diganggu Korea Utara. Kelompok pekerja juga menempatkan pegangan pick di belakang truk mereka, tetapi mengikuti Perjanjian Gencatan Senjata, tidak membawa senjata selain pistol,” tulis John K. Singlaub dan Malcolm MacConnell dalam Hazardous Duty: An American Soldier in the Twentieth Century . Pemangkasan dimulai pukul 10.30. Namun baru lima menit pekerjaan berjalan, sebuah truk Korut datang. Sembilan tamtama plus dua perwira Korut langsung menghampiri mereka yang sedang memangkas dan para pengawal mereka. Lettu Pak Chol, komandan pasukan Korut, langsung menanyakan apa yang sedang dilakukan para penjaga perbatasan Korsel itu. Setelah diberitahu bahwa mereka sedang memangkas, Lettu Pak meresponnya dengan mengatakan “bagus.” Perkataan Pak segera diikuti kalimat prajurit-prajuritnya yang berupaya mengajarkan cara memangkas pohon yang benar. Dua puluh menit kemudian, Pak menghampiri Bonifas. Dia perintahkan perwira asal West Point, AS itu agar menghentikan pekerjaannya. Hal itu ditolak Bonifas yang menambahkan bahwa anak buahnya akan menyelesaikan pekerjaan dan baru pergi. Mendapat jawaban begitu, Pak meradang. Dia mengatakan apabila pemangkasan tetap dilanjutkan, akan menimbulkan masalah serius. “Ketika pasukan pekerja pergi untuk memangkas pohon, mereka diberitahu tentara Korea Utara bahwa Anda tidak dapat memotong pohon ini karena Kim Il Sung sendiri yang menanam dan memeliharanya dan tumbuh di bawah pengawasan ini,” ujar Pak, dikutip James Cunningham dalam “Officer Recalls Ax Murder Incident” yang dimuat Indianhead , 15 September 2006. Lantaran diacuhkan, Pak marah lalu mengirim seorang prajuritnya melintasi perbatasan untuk meminta bantuan. Tak lama berselang, sebuah truk menurunkan 10 prajurit Korut sementara enam prajurit lain datang dengan berlari dari pos penjagaan terdekat. Hampir 30 personel Korut pun mengelilingi 13 personel UNC dan enam pekerja KSC. Situasi panas tersebut diabadikan kamera oleh beberapa personel pasukan Reaksi Cepat UNC yang sedang memantau situasi melalui radio di pos mereka. Tak lama kemudian, saat seorang personel NCO Amerika berupaya memperingatkan Kapten Bonifas, terdengar suara Lettu Pak mengeluarkan perintah: “ Chookyo ! (Bunuh!).” Para personel Korut langsung menyerang pasukan Bonifas. Letnan Pak lalu menendang selangkangan Kapten Bonifas dan langsung jatuh. Tiga personel Korut yang mengerubunginya langsung menyerangnya. Setelah merebut kapak, linggis, pipa logam, dan tongkat berat peralatan kerja KSC, beberapa personel lain segera menyerang penjaga UNC, berkonsentrasi pada perwira Amerika dan NCO. “Beberapa penjaga Korea Utara mengambil kapak yang telah digunakan pekerja Korea Selatan dan menggunakannya dalam penyerangan. Seperti dalam serangan Korea Utara sebelumnya, personel UNC secara individual diisolasi dari partai utama mereka dan diserang pasukan Korea Utara yang jumlahnya lebih banyak,” tulis Chuch Downs dalam Over the Line: North Korea’s Negotiating Strategy. Pasukan Korea Utara yang telah dibagi ke dalam tim penyerang yang efisien segera menyebar lalu mengejar para personel UNC. Tongkat dan pipa baja diayunkan untk melumpuhkan para personel UNC. Seorang personel Komunis langsung menjepit lengan seorang Amerika untuk mencegah menggunakan senjatanya. Kapten Bonifas yang tergeletak di tanah sambil terus menangkis tendangan dan pukulan akhirnya tewas dipukuli seorang tentara Komunis. Lettu Barrett dikejar enam personel Korut bersenjatakan tongkat, kapak, dan pipa baja di sekitar truk dan melewati tembok rendah. Dia akhirnya tak berdaya juga. “Para prajurit PBB bergantung pada perwira mereka untuk memerintahkan penggunaan senjata, tetapi para perwira itu tewas pada detik-detik pertama serangan itu. Untungnya, seorang tentara Amerika membebaskan diri dan mampu mengemudikan truk UNC melewati huru-hara, memaksa mundur Komunis, sementara para pekerja KSC naik ke atas. Pengalihan itu memungkinkan penjaga UNC lain membantu rekan-rekan mereka yang babak belur,” tulis Singlaub dan MacConnell. Sekejap kemudian, pasukan Reaksi Cepat UNC tiba di bagian DMZ Korea Utara. Insiden itu berakhir sekitar empat menit kemudian. Mereka kemudian mencari Lettu Barrett yang tidak ditemukan, dan akhirnya menemukan mayatnya dengan kondisi tengkorak hancur di selokan tak jauh dari jalan. UNC tak terima. Usulan pertemuan dengan pihak Korut untuk memprotes pembunuhan tersebut segera dilayangkan. Namun itu ditolak Korut dengan alasan telah meminta pertemuan petugas keamanan untuk membahas insiden tersebut. Di Washington D.C, Kelompok Penasihat Khusus Dewan Keamanan Nasional langsung membahas opsi-opsi yang akan diambil. Pemerintah AS lalu memutuskan mengambil tindakan militer dan diplomatik. Setelah memberi tahu delegasi PBB dan Dewan Keamanan PBB tentang serangan Korut, skuadron pembom F-111 dipersiapkan dan kapal induk USS Midway di Jepang diperintahkan ke perairan dekat Korea. Rencana untuk memasuki JSA dengan unjuk kekuatan militer dan menebang pohon poplar (Operasi Paul Bunyan) segera dibuat militer AS-Korsel di pasukan UNC. Di dalamnya termasuk rencana kontingensi untuk mengatasi kemungkinan eskalasi situasi selama operasi penebangan pohon. Rencana darurat termasuk opsi bagi pasukan AS-ROK menyerang dan menduduki Kaesong, kota Korea Utara yang terletak di utara DMZ, jika Korea Utara menolak operasi penebangan pohon. Juga disiapkan penggunaan artileri, namun batal dilakukan karena Presiden Korsel Park Chung-hee tidak menginginkan aksi militer. Menlu AS Henry Kissinger meminta kepala staf gabungan (JCS) memeriksa keinginan mengarahkan tembakan artileri terhadap barak pasukan keamanan Komisi Gencatan Senjata Militer (Military Armistice Commission/MAC) Korut bersamaan dengan operasi penebangan pohon. Namun, JCS lebih memilih opsi lain seperti penggunaan amunisi udara berpemandu presisi, rudal permukaan-ke-permukaan, dan peperangan non-konvensional tim Sea, Air, Land (SEAL) untuk menghancurkan instalasi militer atau infrastruktur penting Korea Utara, serta kemungkinan menghancurkan Bridge of No Return. Esoknya, 19 Agustus, status siaga AS-ROK dinaikkan menjadi Defence Condition (DEFCON) 3. Status pengintaian juga dinaikkan menjadi Watch Condition (WATCHCON) 3. Di Pyongyang pada hari yang sama, Panglima Tertinggi Korean Peoples Army (KPA) Kim Il Sung memerintahkan seluruh unit KPA dan seluruh anggota Pengawal Merah Buruh-Tani dan milisi Pengawal Merah Muda mengambil pos masing-masing dalam kesiapan tempur. Pada 19 Agustus, JCS memerintahkan pengiriman 20 F-111 dari daratan Amerika Serikat ke Korea Selatan di samping pengiriman Gugus Tugas angkatan laut –berisi kapal induk Midway , satu kapal perusak, dan empat fregat– dari Yokosuka ke perairan Korea, pesawat pengebom B-52 dari Guam ke Korea Selatan, dan 1.800 personel Divisi Marinir Ketiga AS dari Okinawa ke Korea Selatan. Pada 20 Agustus, Presiden AS Gerald Ford menyetujui rencana operasi penebangan pohon yang direncakan (Operasi Paul Bunyan). Pada 21 Agustus, Operasi Paul Bunyan dilaksanakan dengan menyelesaikan pamangkasan pohon yang belum selesai dilakukan tiga hari sebelumnya. Pasukan Korut yang berada di JSA tak memberi respon terhadap show of force singkat pasukan UNC itu. Di hari yang sama, Pemimpin Korut Kim Il Sung menyampaikan penyesalannya atas insiden yang terjadi. Perang besar di depan mata pun berhasil dihindari.*
- Gadis Maluku Pembawa Tombak
SAPARUA, 1817. Thomas Matulesia atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura memulai perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda di Maluku. Semangat perjuangannya kemudian menjalar ke berbagai wilayah di kepulauan tersebut. Di Ambon, Kapitan Ulupaha menyerang kota dan berusaha menguasai Benteng Victoria. Sementara di Nusa Laut, peperangan berkobar dengan dipimpin Kapitan Abubu bersama putrinya yang pemberani: Martha Christina Tiahahu. Martha barangkali sosok perempuan Maluku paling dikenal hingga hari ini. Ia menjadi salah satu simbol perjuangan Maluku melawan Belanda, selain Kapitan Pattimura. Perjuangannya menjadi ikonik karena ia masih belia ketika turut sang ayah bertempur. Kapan Martha dilahirkan masih belum jelas. Namun, catatan Belanda menyebut bahwa ia masih berusia antara 16 hingga 18 tahun ketika meletus peperangan pada 1817. L.J.H. Zacharias dalam Marta Christina Tiahahu, memperkirakan Martha lahir di Nusa Laut sekira tahun 1800. Martha telah kehilangan ibunya sejak kecil. Maka, sang ayah Paulus Tiahahu menjadi satu-satunya panutan baginya. Paulus bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang kapitan. Nama Tiahahu sendiri berasal dari kata “ Atihahu ” yang berarti “melompat seperti babi.” Ini menandakan bahwa sang empunya nama punya kecakapan bertarung seperti babi yang melompat-lompat ketika mengamuk. Karena ayahnya menyandang gelar “Kapitan Abubu”, Martha sering menguping pertemuan para kapitan. Ia banyak belajar mengenai perjuangan melawan penjajah hingga strategi-strategi perang. “Oleh karena itu tidak heran bahwa tugas sehari-hari ayahnya sebagai kapitan dikenal dengan baik sekali oleh Martha Christina Tiahahu dan tugas itu berbekas dan turut membentuknya ketika ia menginjak remaja,” tulis Zacharias. Pada 1817, suasana politik di Maluku begitu panas. Pasalnya, Belanda baru saja merebut wilayah ini dari Inggris yang telah dua kali bekuasa, yakni pada 1796-1803 dan 1810-1817. Sejak Inggris berkuasa, sikap rakyat Maluku terhadap Belanda juga berubah. Mereka tak lagi kagum terhadap negeri kincir air itu. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, mula-mula pemberontakan pecah di Saparua. Kapitan Pattimura bersama pasukannya berhasil menduduki Benteng Duurstede pada Mei 1817. “Setelah Residen Belanda di Saparua berikut keluarganya (kecuali seorang anak kecil) dibunuh, pihak Belanda mengirim bala bantuan dari Batavia,” tulis Ricklefs. Di Nusa Laut, Kapitan Abubu dan Hehanusa, Raja Titawaai, juga memulai perlawanan. Martha yang awalnya dilarang ayahnya ikut berperang, akhirnya turun juga ke palagan. Dengan rambut berombak yang terurai, ia begitu semangat menggunakan tombak dan parang. Pemberontakan makin menjalar. Kapitan Ulupaha yang sudah lanjut usia dan harus ditandu bahkan telah menyerang pos-pos Belanda di Pulau Ambon. Peperangan ini mengharuskan pimpinan tertinggi militer Belanda, Laksamana Buyskes, turun gunung. Buyskes harus berhadapan langsung dengan pasukan Pattimura dengan mengandalkan armada lautnya, kapal Maria Reygersbergen dan Iris serta bantuan kapal Inggris The Dispatch . Pattimura berhasil dikalahkan dan Benteng Duurstede kembali dikuasai Belanda. Menurut buku Sejarah Daerah Maluku , kampung-kampung di Pulau Lease juga berhasil diduduki. Perlawanan di daerah lainnya juga berhasil dilucuti. Pattimura ditangkap dan divonis hukuman mati bersama tiga orang lain termasuk Kapitan Abubu. Mereka digantung di depan Benteng Victoria, Ambon pada Desember 1817. Tahanan yang lain akan dikirim ke Jawa dan menjalani kerja paksa di perkebunan kopi. Martha yang turut dalam tahanan tersebut dibebaskan karena dianggap masih terlalu muda. Martha kemudian mengasingkan diri ke hutan. Meski bebas, Belanda masih mengawasi Martha karena khawatir gadis itu akan merepotkan Belanda nantinya. Martha juga disebut tengah mengumpulkan sisa-sisa pejuang yang masih bertahan. Martha kemudian dituduh telah menjadi gila sehingga harus ditangkap. Tak hanya itu, ia tak akan dipenjara di Maluku melainkan diasingkan ke Pulau Jawa. “Mungkin karena pihak Belanda kuatir Christina Martha Tiahahu akan mempengaruhi orang–orang tawanan lainnya dalam penjara dengan cita-cita politiknya,” tulis M. Sapija dalam Kisah Perjuangan Pattimura . Menurut Zacharias, Martha kemudian ditangkap dan bersama 39 tawanan lain diasingkan ke Jawa. Di atas kapal Evertsen yang membawanya ke pengasingan itu, kesehatan Martha terus menurun. Pada 2 Januari 1818, ketika kapal melintasi Laut Banda, sang mutiara Nusa Laut itu meninggal dunia.*
- Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI
PERINGATAN HUT RI ke-76 tahun ini tak bisa dirayakan dengan meriah karena masih masa pagebluk. Upacara proklamasi di Istana Merdeka pada Selasa (17/8/2021) pun digelar dengan protokol kesehatan ketat. Namun, masyarakat masih bisa berbangga karena pesawat-pesawat TNI AU tetap mengudara di langit ibukota menyunguhkan atraksi sebagai kado HUT RI. Mengutip keterangan Dispenau di laman resmi TNI AU , Rabu (18/8/2021), sebanyak 14 pesawat dikerahkan untuk beratraksi dalam dua gelombang. Gelombang pertama, Garuda Flight, terdiri dari delapan jet tempur F-16 “Fighting Falcon” berangkat dari Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi. Gelombang kedua, Nusantara Flight, diperkuat satu helikopter EC-725 “Caracal” dan tiga NAS-332 “Super Puma” dari Lanud Atang Sendjaja serta dua heli NAS-332 L1 “Super Puma” dari Lanud Halim Perdanakusuma. Tim Nusantara Flight terbang dengan enam helikopter membawa bendera dwiwarna raksasa berkuran 30x20 meter. Sedangkan tim Garuda Flight melakoni flypass , bermanuver bomb burst, dan mengucapkan selamat HUT RI dari angkasa. “Kami elang-elang Angkatan Udara penjaga tanah air dari ketinggian 1.000 kaki mengucapkan selamat ulang tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2021. Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh, salam Swa Bhuwana Paksa, Merdeka!” ujar flight leader Letkol (Pnb) Agus Dwi Aryanto dari kokpit F-16 kala terbang di atas Istana Merdeka. Atraksi dalam dua gelombang itu menurut TNI AU merupakan sejarah baru matra udara dalam memperingati HUT RI. Atraksi tersebut mengundang decak kagum warga ibukota lantaran dilakoni oleh para pilot handal yang mempersaipkannya sejak 13 Agustus. Namun, sejatinya atraksi di udara pernah dilakukan pada masa revolusi fisik. Bertujuan untuk show off force militer dalam memperingati HUT RI pertama, atraksi itu dilakoni secara nekat oleh montir pesawat yang jadi penerbang dadakan. Baca juga: Sarang Helikopter TNI AU, Lanud Atang Sendjaja Atraksi "Nusantara Flight" enam helikopter TNI AU yang membawa dua bendera raksasa ( tni-au.mil.id ) Aksi Nekat Penerbang Bujangan Syahdan, pada 16 Agustus 1946 para montir alias kru teknik Tentara Republik Indonesia (TRI) Udara Malang terus-terusan memekikkan kata “merdeka” di markas mereka, Lanud Bugis (kini Lanud Abdulrachman Saleh). Mereka begitu girang komandan mereka, Lettu Hanandjoeddin (kepala bagian teknik Lanud Bugis), dibebaskan dari hotel prodeo. Bung Anan, begitu sang komandan biasa disapa, sepekan mendekam di sel markas Polisi Tentara Divisi VII/Untung Surapati. Gara-garanya, Anan nekat menghibahkan pesawat pembom lungsuran Jepang Kawasaki Ki-48 “Sokei” yang dinamai Pangeran Diponegoro-II (PD-II) kepada Markas Tinggi TRI Udara di Yogyakarta pada awal Agustus tanpa izin Panglima Divisi VII Mayor Jenderal Imam Soedja’i. Peristiwa itu merupakan salah satu imbas dari tarik-ulur kepemilikan aset TRI Udara Malang di Lanud Bugis –yang masih berada di bawah naungan TRI Divisi VII/Untung Surapati– dan Markas TRI Udara Yogyakarta. Lanud Bugis sendiri direbut Divisi Untung Surapati dari tangan Jepang pada September 1945. Namun di lain pihak, Anan dan pasukannya merasa sebagai bagian TRI Udara Yogya berdasarkan kompetensi mereka di bidang kedirgantaraan. “Hari itu (pasca-dibebaskan, red .) Bung Anan mengumpulkan anggota. Ada hal yang ingin disampaikan. Pertama , demi solidaritas personil, Bung Anan menjelaskan permasalahan yang terjadi. Kedua , merundingkan kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan RI untuk pertamakalinya,” tulis Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI . Baca juga: Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya Tak ingin memperkeruh konflik antara Malang dan Yogya, Anan memilih merancang atraksi udara. Selain untuk mengalihkan perhatian anak buahnya dari konflik, atraksi dimaksudkan untuk memperlihatkan kekuatan militer republik kepada masyarakat. “Saudara-saudara, musuh kita adalah Belanda dan tentara Sekutu yang sewaktu-waktu akan kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia. Karena itu proklamasi kemerdekaan yang harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan. Besok pagi kita perlu adakan demonstrasi dengan pesawat merah putih untuk mengobarkan semangat rakyat,” kata Anan menyerukan, dikutip Haril. Pesawat Tachikawa Ki-55 "Cukiu" yang ada di Lanud Bugis (kiri) & Kabag Teknik Hanandjoeddin (Dispenau/Repro: Sang Elang ) Hari itu juga mereka bertukar pikiran guna merancang atraksi di langit kota Malang. Rencananya, mereka akan menggunakan pesawat Tachikawa Ki-55 “Cukiu”. Pesawat jenis itu salah satu peninggalan Jepang paling banyak yang terdapat di Lanud Bugis dan sudah dalam keadaan siap terbang. Namun, ada kendala yang mesti mereka pecahkan bersama: ketiadaan pilot. Sejak September 1945, mengutip Dispersau dalam Sedjarah Pertumbuhan AURI , di Lanud Bugis sangat minim penerbang. Mayoritas yang ada di sana sekadar montir yang sudah bekerja semenjak Jepang masih menguasai lanud. Penerbang yang ada di Bugis hanya pria yang biasa dipanggil Atmo, eks-pilot Jepang yang biasa menguji setiap pesawat yang selesai diperbaiki. Sayangnya, tak lama kemudian Atmo dipulangkan ke Jepang. Selain Anan, hanya lima montir yang pernah diajari Atmo mengoperasikan pesawat: Sukarman, Idung Sukoco, Mudjiman, Djauhari, dan Bancet Sudarmadji. Baca juga: Panglima Soedirman Diterbangkan Pilot Jepang ke Bali Meski sudah diajari, kelimanya tetap ragu menerbangkan pesawat. Rencana atraksi udara pun masih “alot”. “Jadi bagaimana? Di antara kita siapa yang berani menerbangkan pesawat? Kalau tidak ada yang siap, saya sendiri yang akan terbang besok pagi,” tantang Anan. “Jangan, Dan! Biar saya saja. Saya siap!” ujar Sukarman menyela. “Ya, komandan sudah berkeluarga. Kasihan istri dan anak. Kalau Sukarman kan masih bujangan,” timpal montir Mustari. “Baiklah kalau begitu. Kita percayakan pada saudara Sukarman untuk misi ini. Sebaiknya ditemani saudara Bancet yang sama-sama bujangan,” sambung Anan. “Siap, Dan!” tandas Bancet. Anan pun mempersiapkan segalanya, termasuk santunan. Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan cacat atau meninggal, Anan siap menggalang dana santunan dari gaji masing-masing sebesar Rp2,5 dan dana yang terkumpul akan disumbangkan ke pihak keluarga secara rutin per bulan. Pesawat Cukiu peninggalan Jepang (kiri) & montir Sukarman (Dispenau/Repro: Sang Elang ) Flypass Berujung Celaka Hingga 16 Agustus 1946 malam, pasukan Anan masih sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk atraksi keesokan paginya. Rute flypass di sekitar kota Malang, pengecekan komponen-komponen pesawat, hingga pengecatan roundel (tanda pengenal berupa lingkaran merah-putih di badan pesawat) semua diperhitungkan secara masak. “Pukul 7 pagi tanggal 17 Agustus 1946, suara mesin pesawat terdengar menderu di Lanud Bugis. Sukarman dan Sudarmadji mulai beraksi di kokpit Cukiu. Kedua pemuda nekat ini siap melakukan penerbangan ‘bunuh diri’ dengan misi mengobarkan semangat rakyat Jawa Timur, khususnya kota Malang,” sambung Haril. Anan lega. Tahap awal misinya berjalan lancar. Kedua pilot melakukan lepas landas zonder masalah. Sukarman sang pilot lantas terbang selama 30 menit melintasi beberapa titik ramai kota Malang sesuai rute yang direncanakan. “Sorak-sorai masyarakat melihat pesawat merah putih yang terbang begitu rendah di atas pasar dan alun-alun kota Malang. Begitu beraninya Sukarman bermanuver terbang rendah. Saking rendahnya, nyaris saja menyambar puncak atap gereja,” lanjutnya. Baca juga: Tarik-Ulur Lanud Bugis Antara Yogya dan Malang Beruntung Sukarman masih bisa mengendalikan pesawat sehingga ketika terbang rendah lagi dia lebih hati-hati. Penduduk kota yang mulai riuh melihat atraksinya kaget sekaligus bangga. Pekik “merdeka!” terdengar setiap kali duet Sukarman-Sudarmadji terbang di atas mereka. “Atraksi udara ini membakar semangat rakyat. Hari itu rasa nasionalisme rakyat Malang meluap. Rakyat pun jadi tahu kalau republik yang baru berumur satu tahun sudah memiliki kekuatan udara. Sungguh hebat dampak psikologis yang ditimbulkan dari aksi nekat Sukarman dan Sudarmadji,” sambung Haril. Ilustrasi Pesawat Ciukiu yang disiapkan para montir lanud (Dispenau/Repro: Sang Elang ) Setelah puas melakoni flypass beberapa kali, keduanya pun balik kanan mengarah ke lanud. Di saat itulah masalah menghampiri keduanya. Baik Sukarman maupun Sudarmadji masih gagap dalam prosedur pendaratan. Hal itu membuat Anan dan rekan-rekannya yang menanti di lanud khawatir. Mereka mengamati pesawat itu sudah 21 kali berputar-putar di atas lanud seperti hendak landing tapi melulu gagal. “Brak!” Musibah yang dikhawatirkan Anan pun terjadi. Pesawat itu ringsek setelah menghantam rerumputan di sisi landasan gegara kehabisan bahan bakar. Anan dan anak buahnya langsung berlarian dan histeris setelah mendapati pesawat itu terbelah menjadi tiga bagian. “Dari balik patahan pesawat terlihat Sukarman dan Sudarmadji tampak tak bergerak. Para anggota teknik menangis haru. (Tapi) keajaiban tiba-tiba terjadi. Saat hendak dikeluarkan dari reruntuhan pesawat, terdengar suara merintih. Sukarman dan Sudarmadji ternyata hanya pingsan. Mereka selamat dari kecelakaan tragis itu,” tulis Haril. Tangis haru para kru teknik seketika berubah jadi tangis bahagia. Sudarmadji yang baru berusia 20 tahun saat itu hanya mengalami luka di keningnya. Sedangkan Sudarmadji “Bancet” hanya luka di bagian badan gegara tertiban senapan mesin yang terlepas. Senapan mesin itu pula yang menyelamatkannya karena jaketnya tersangkut di kaki senapan mesin hingga membuatnya tak terhempas keluar dari kokpit. Baca juga: Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis
- Hitam Putih Baju Baduy
PRESIDEN Joko Widodo memakai pakaian adat suku Baduy atau Kanekes ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Jokowi memesan pakaian itu dari Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija. Kepada Kompas.com , Saija menjelaskan, pakaian adat yang dikenakan Jokowi merupakan pakaian sehari-hari warga Baduy Luar yang disebut baju kampret. Baju hitam bermakna kesederhanaan, ikat kepala ( lomar ) bermakna persatuan, dan tas koja bermakna kelestarian alam yang masih dijaga masyarakat Baduy. Namun, ada yang memaknai baju hitam itu sebagai “lambang kotor atau dosa. Orang Baduy yang lalai atau tak mampu mengikut aturan adat keluar dari kampung dan mulai berbaju hitam sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan diri”. Makna tersebut akan muncul ketika membahas klasifikasi masyarakat Baduy. Klasifikasi R. Cecep Eka Permana, guru besar arkeologi Universitas Indonesia, menyebut bahwa klasifikasi masyarakat Baduy memiliki dua makna, yakni teritorial dan tingkat kesucian/ketaatan pada adat. Pertama, teritorial menunjukkan lokasi keberadaan kelompok-kelompok masyarakat Baduy yang sebagian berada di dalam (inti) dan sebagian lagi (terbanyak) berada di luar inti. Kelompok Baduy Dalam ( tangtu atau kajeroan ) merupakan inti pemukiman Baduy (Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik) yang terletak paling selatan dari kawasan. Sedangkan Baduy Luar ( panamping ) merupakan pelapis pemukiman Baduy yang terletak di luar sekaligus merupakan benteng bagi Baduy Dalam. “Dengan adanya pemukiman Baduy Luar yang berlapis-lapis memungkinkan terjaganya kesucian inti Baduy di pemukiman Baduy Dalam,” tulis Cecep dalam Tata Ruang Masyarakat Baduy . Kedua, tingkat kesucian dan ketaatan pada adat. Baduy Dalam dianggap lebih suci dan warganya merupakan pemegang adat paling taat, sementara Baduy Luar dianggap tidak begitu suci lagi dan tidak sepenuhnya taat kepada adat. Kesucian dan ketaatan terhadap adat bagi warga Baduy Dalam haruslah tetap dipertahankan agar dunia tetap selamat dan sejahtera. Kerusakan Baduy Dalam sebagai inti jagat, berarti rusak pulalah seluruh isi jagat. Oleh karenanya, warga Baduy Dalam yang tidak suci dan tak taat lagi harus ditamping “dibuang” ke Baduy Luar atau Dangka (kotor), kampung-kampung di luar wilayah Desa Kanekes. “Tingkat kesucian dan ketaatan pada adat tercermin pula dalam warna ‘putih’ dan ‘hitam’,” tulis Cecep. “Putih warna pakaian warga Baduy Dalam dan warna pakaian hitam dikenakan oleh warga Baduy Luar. Bagi masyarakat Baduy, warna putih merupakan simbol kesucian, kejujuran, dan ketaatan mempertahankan tradisi, sedangkan warna hitam (juga biru tua) sering dianggap sebagai kotor, dosa, dan pelanggar aturan.” “Walaupun demikian, ‘putih’ dan ‘hitam’ dianggap sebagai pasangan alamiah, bagaikan siang dan malam, terang dan gelap, baik dan buruk, pahala dan dosa, yang tidak dapat dipisahkan sekalipun bertentangan,” tulis Cecep. Terlepas dari klasifikasi tersebut, warga Baduy Dalam dan Baduy Luar tetap menjalin hubungan baik karena terikat oleh kekeluargaan. Sejarawan Sunda, Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda dalam Kehidupan Masyarakat Kanekes menyebut bahwa di panamping banyak menetap keturunan orang tangtu , bahkan banyak keluarga puun (pemimpin adat). “Hubungan kekerabatan di antara mereka tidak terganggu oleh status kemandalaan (kawasan suci), dan saling menjenguk anggota keluarga merupakan hal biasa. Dalam hal ini kerabat panamping biasanya lebih tahu diri dan membatasi pergaulannya dengan kerabat di kampung tangtu ,” tulis Saleh dan Anis. Kesederhanaan Saleh dan Anis menjelaskan perbedaan pakaian Baduy Dalam dan Baduy Luar. Pakaian pria Baduy terdiri atas tiga bagian, yaitu ikat kepala yang disebut telekung , romal/lomar , atau iket , baju tanpa kerah berlengan panjang yang disebut kutung , dan sarung yang disebut aros . Pakaian pria tangtu agak berbeda dari pria panamping , terutama pada warna dan kualitas bahannya. Pria tangtu memakai ikat kepala dan baju warna putih serta sarung terbuat dari benang kanteb (benang kasar) bergaris putih dan biru tua yang dikenakan sebatas dengkul (mirip rok wanita) dan diikat dengan beubeur (ikat pinggang) berupa selendang kecil. Sedangkan pria panamping mengenakan ikat kepala berwarna nila dan disebut merong . Bajunya disebut jamang kampret (baju kampret). Menurut tradisinya, baju pria panamping itu terdiri atas dua lapis. Baju putih di dalam dan baju hitam di luar. Ukuran dibuat sedemikian rupa sehingga sisi-sisi baju dalam yang putih tersebut menyembul lebih panjang sedikit sehingga kelihatan jelas dari luar. Sekarang ada juga yang mengenakan baju rangkap “semu” karena warna putih yang mencuat ke luar itu bukan berasal dari baju dalam, melainkan dari carikan kain putih yang dijaitkan pada ujung bagian dalam baju hitamnya. Di samping itu banyak juga kaum pria panamping yang hanya mengenakan baju hitam tanpa rangkap putih. Kain sarung pria panamping disebut poleng hideung . Kendati pakaian mereka berbeda warna, tapi tetap sama: sederhana. Sebagaimana ungkapan bijak mereka dalam menjalani hidup: sare tamba teu tunduh , madang tamba teu lapar , make tamba teu talanjang (tidur sekadar pelepas kantuk, makan sekadar pelepas lapar, berpakaian sekadar tidak telanjang). “Pakaian orang Baduy pun memancarkan kesederhanaan,” tulis Cecep. “Menurut mereka meninggalkan kesederhanaan berarti membatalkan tapa dunianya.”*
- Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller
AWAN duka menaungi persepakbolaan Jerman. Pemain legendarisnya yang sangat berpengaruh pada prestasi Timnas Jerman dan Bayern Munich, Gerd Müller, menghadap Sang Pencipta pada Minggu, 15 Agustus 2021 lalu. Pemain gempal berjuluk Der Bomber itu wafat setelah enam tahun bertarung melawan penyakit alzheimer. Bagi kebanyakan warga Jerman, nama Müller dibesarkan Bayern Munich. Namun tidak bagi Franz Beckenbauer, pemain dan pelatih legendaris Jerman yang merupakan rekan Muller. Menurut Beckenbauer, Bayern besar karena Müller. Bayern yang mapan di Eropa saat ini, kata Beckenbauer, takkan eksis jika tak ada Müller di skuad Bayern era 1960-an. “Tanpa Gerd Müller dan gol-golnya, kami semua (Bayern, red .) masih akan berada di pondokan kayu kami di (kamp latihan) Säbener Straße,” kata Beckenbauer di laman resmi Bundesliga . Baca juga: Obituari: Jack Charlton Legenda yang Acap Bikin Kiper Berang Franz Beckenbauer (kiri) saat masih setim dengan Gerd Müller di Bayern Munich ( bundesliga.com ) Empat gelar juara Bundesliga dan tiga titel Piala Champions (pendahulu Liga Champions) saat berseragam “ Die Roten” (julukan Bayern) menjadi bukti kualitas Muller. Meski posturnya tak tinggi dengan tubuh gempal, Müller begitu sangar di gawang lawan. Bukti sahihnya adalah torehan 388 gol dari 453 penampilannya bersama Bayern selama 16 tahun. Ia juga tujuh kali menyabet gelar Torjägerkanone (pencetak gol terbanyak) Bundesliga. “Müller posturnya pendek (176 cm, red. ), penampilannya juga aneh dan tak punya kecepatan; dia tak pernah masuk dalam kategori pesepakbola hebat yang ideal, namun dia memiliki akselerasi jarak pendek yang mematikan, permainan bola udara yang luar biasa, dan insting gol yang menakjubkan. Kakinya yang pendek memberinya gravitasi yang rendah, jadi dia bisa mengecoh dengan cepat dan bisa membuat pemain lawan bertumbangan. Dia juga punya skill mencetak gol dari situasi sulit,” ungkap jurnalis senior David Winner dalam Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football. Baca juga: Paul Breitner si Pemain Kiri Keberingasannya tetap sama kala ia mengenakan seragam timnas. Di skuad “ Der Panzer” , Müller menyempurnakan gelar juara Euro (Piala Eropa) 1972 dengan sepatu emas sebagai pemain tersubur (4 gol). Di Piala Dunia 1974, Müller yang ikut mengantarkan Jerman merebut trofinya, juga menjadi pencetak gol terbanyak dengan 14 gol hanya dalam dua gelaran: 1970 dan 1974. Rekornya baru dipecahkan pada 2006 oleh Ronaldo Luis Nazario de Lima (Brasil). “Gerd Müller adalah pesepakbola paling penting yang pernah dimiliki Jerman. Hanya dia orangnya,” ujar pemain legendaris Jerman lain, Paul Breitner, di laman yang sama. Anak Putus Sekolah ke Pentas Dunia Desa Zinsen di kota Nördlingen, Bavaria pada musim gugur 1945 masih termasuk daerah yang dikuasai Sekutu pasca-Perang Dunia II. Di desa itulah pada 3 November 1945 Gerhard ‘Gerd’ Müller dilahirkan sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Müller kecil tumbuh di lingkungan amat sederhana karena Jerman masih porak-poranda. Ibunya, Christina Karolin, hanyalah ibu rumah tangga dan pendapatan ayahnya, Johann Heinrich Müller, sebagai sopir truk sekadar cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sepakbola jadi salah satu dari sedikit hiburan bagi Müller kecil. Ia mulai getol dengan si kulit bundar sejak “Keajaiban Bern” (momen Timnas Jerman Barat membawa pulang trofi Piala Dunia 1954). Tetapi setahun setelah ikut bereuforia atas kegemilangan Fritz Walter dkk. itu, Müller diterpa musibah. Ia harus menjadi yatim saat baru berusia 10 tahun. “Ayah Müller wafat saat ia masih muda dan ia harus putus sekolah di umur 15 tahun untuk magang jadi perajin kain tenun. Di saat yang sama ia ‘nyambi’ jadi pesepakbola. Bermain dengan sepatu pinjaman, Müller mencetak dua gol dalam sebuah tryout dengan klub lokal TSV 1861 Nördlingen dan langsung mendapat kontrak,” tulis Filip Bondy dalam The World Cup: The Players, Coaches, History, and Excitement. Baca juga: Final Piala Dunia 1954 Berujung Gempita dan Prahara Gerd Müller mengawali kariernya di TSV 1861 Nördlingen ( tsv1861noerdlingen.de ) Kontrak pertama Müller bersama TSV 1861 pada 1958 itu baru membawanya ke tim akademi. Baru pada 1963 ia menembus tim senior dan mendapat kontrak profesional. Kendati begitu, Müller tetap menyambi latihannya dengan jadi perajin tenun guna membantu saudari sulung dan pamannya yang jadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Lima tahun menimba ilmu di tim muda tak sia-sia. Müller langsung menunjukkan tajinya jadi predator haus gol. Dalam setahun, Müller mampu mengoleksi 51 gol dari 31 penampilan. Tak ayal Bayern langsung kepincut untuk meminangnya. Baca juga: Kiper Legendaris Manchester Bekas Pemuda Hitler Müller tak membuang kesempatan emas itu, dia langsung menerima pinangan Bayern meski ia tahu juga sedang diincar rival sekota Bayern, TSV 1860 Munich. Tak ingin kalah cepat, Bayern mengutus Walter Fembeck ke flat tempat Muller tinggal di Nördlingen. Dia langsung memencet bel flat untuk segera mendapatkan tanda tangan Müller di akta kontrak musim 1964-1965. “Alkisah delegasi Bayern yang dipimpin Walter Fembeck mendahului TSV 1860 mendapatkan tanda tangan Müller karena rivalnya dari TSV, Ludwig Maierböck keliru membaca jadwal keretaapi dan akibatnya datang terlambat. Müller sendiri selalu bilang lebih memilih Bayern karena diisi skuad muda dan di divisi dua (Regionalliga Süd) tekanannya takkan besar,” tulis Uli Hesse dalam Bayern: Creating a Global Superclub . Gerd Müller (kiri) bersama pelatih Zlatko ‘Tschik’ Čajkovski ( fcbayern.com ) Namun di luar dugaan, kedatangan Müller justru tak diinginkan pelatih anyar Bayern, Zlatko ‘Tschik’ Čajkovski. Müller bahkan diledek sebagai atlet angkat berat karena posturnya yang tak atletis. Akibatnya, di musim perdananya Müller lebih sering ditinggalkan skuad yang saat itu juga sudah dihuni Beckenbauer dan Sepp Maier. “Bakat Müller memang awalnya terlacak oleh scout Bayern, Alexander Kotter dan kemudian Fembeck yang meresmikan kontraknya, bukan Čajkovski. Saat Müller datang melapor ke Säbener Straße, sang pelatih keheranan. Anda bisa paham karena Müller pendek, gempal, dan pahanya besar. Čajkovski menyindir: ‘Saya tidak butuh seorang atlet angkat berat’,” imbuh Hesse. Baca juga: Pelatih Legendaris Sepp Herberger dan Bayang-bayang Nazi Müller bukan hanya sekadar penghangat bench . Ia bahkan sering tak diajak masuk skuad cadangan. Alhasil ia tak mendapat bonus pertandingan sesuai klausul kontraknya. Karena itulah demi menambah uang saku, ia jadi asisten wartawan Hans Schiefele. Setiap kali Müller membantu membawa papan tulis Schiefele, ia diganjar lima Deutschemarks. “Adalah Schiefele yang kemudian mengatakan nasib Müller itu kepada presiden klub (Wilhelm) Neudecker. Sang presiden pun mengonfrontir sang pelatih dan mengatakan: ‘Jika Anda tidak memainkan pemain dengan kaki besar itu (Müller, red. ), saya tidak akan mau nonton sepakbola lagi sepanjang hidup saya,’” tambahnya. Kolase Gerd Müller di masa keemasan Bayern Munich ( fcbayern.com ) Kesempatan main akhirnya mendatangi Müller pada 18 Oktober 1964 ketika Bayern bertandang ke Möslestadion, markas Freiburg FC. Walau enam ribu suporter tuan rumah harus menelan malu dikalahkan tamunya 2-11, mereka menyaksikan kelahiran bomber sangar yang mencetak gol perdananya pula di laga debutnya. Pelatih Bayern pun mulai insyaf sejak itu sehingga tak pernah lagi mencadangkan Müller. Müller membayarnya dengan mencetak 33 gol pada 26 laga di musim itu. “Di waktu yang sama, itu adalah permulaan karier luar biasanya karena di kemudian hari dia dijuluki Bomber der Nation . Di hari itu (18 Oktober 1964) pertamakali Müller mengenakan jersey Bayern yang kemudian jadi juara dan promosi ke Bundesliga. Itu juga jadi tonggak kejayaan tim Bavaria,” kenang Peter Kunter, kiper Freiburg periode 1961-1965, di laman resmi klub . Baca juga: Fritz Walter, Dari Perang Dunia ke Piala Dunia Setelah Bayern promosi, gol-gol Müller mengantakan tim tersebut bereinkarnasi. Selain meraih lima gelar DFB-Pokal (1965, 1966, 1967, 1969, dan 1971), Bayern meraih juara Bundesliga keduanya pada musim 1968-1969. Raihan itu merupakan prestasi pertama Bayern setelah puasa juara liga teratas Jerman itu selama 36 tahun. Bersama Müller pula Bayern mendapat tiga titel Bundesliga lain tiga musim berturut-turut dari 1971 sampai 1974. Di Eropa, tiga trofi European Cup diboyong Bayern beruntun dari 1973 hingga 1976. Maka, Müller dipuji tinggi Bayern sebagai pemain paling penting dalam sejarah klub. “Tidak akan ada uang tanpa Neudecker, tidak ada kelas tanpa Beckenbauer, tidak akan ada kebahagiaan tanpa Maier. Tetapi terlepas dari itu sebuah klub takkan mempunyai itu semua tanpa gol-gol. Dan untuk itulah si pendek dan gempal Müller hadir hingga sejak saat itu Bayern tak pernah kesulitan mencetak gol,” sambung Hesse. Gerd Müller turut berperan meraih titel Euro 1972 (atas) dan Piala Dunia 1974 (bawah) ( fcbayern.com/uefa.com ) Timnas Jerman Barat yang ditukangi Helmut Schön pun merasakan ketajaman kaki dan kepala Müller yang mulai mengenakan seragam timnas pada laga persahabatan kontra Turki di Ankara pada 12 Oktober 1966. Gol pertama Müller dibuat dalam laga keduanya kala Jerman menghajar Albania, 6-0, pada kualifikasi Euro 1968 di Dortmund, 8 April 1967. Walau Jerman gagal di babak grup Euro 1968, Müller menebusnya empat tahun kemudian. Di Euro 1972, Müller mengoleksi empat gol yang dua di antaranya mengantarkan kemenangan 3-0 Jerman Barat atas Uni Soviet di partai final. Dua tahun berselang, di Piala Dunia 1974, Müller menyumbangkan empat gol lagi. Satu di antaranya jadi penentu kemenangan atas Belanda (2-1) di final. “Menjelang turun minum, final 1974 sudah ditentukan pemenangnya. (Jürgen) Grabowski mengumpan bola datar ke (Rainer) Bonhof di sayap kanan dan memberi umpan. Si kiper gila (Jan) Jongbloed gagal menggapainya. Müller berada di dekat bola walau posisi tubuhnya sedang sulit. Mungkin bagi penyerang lain peluang itu akan gagal tapi tidak dengan Müller. Ia membalikkan badan dan menyambar bola dengan tenang ke jaring gawang,” tulis The Glasgow Herald , 8 Juli 1974. Baca juga: Obituari: Kerikil Bernama Nobby Stiles Gol itu juga jadi gol terakhir Müller bersama timnas Jerman Barat. Ia memilih pensiun dari pentas internasional tak lama kemudian. Keputusan itu diambilnya sebagai bentuk protes kepada induk sepakbola Jerman DFB terkait soal bonus pemain maupun izin pendampingan istri dan keluarga. Müller pensiun dengan rekor 68 gol dari 62 laga. Rekor gol di timnas itu baru dipecahkan Miroslav Klose pada 2014. “ Mood skuad Jerman cukup buruk saat itu. Mereka seperti terpenjara dalam gulag di Malente. Beckenbauer sampai harus menelepon Wakil Presiden DFB dan FIFA Hermann Neuberger. Setelah bernegosiasi, DFB setuju memberi bonus 70 ribu marks per pemain. Tetapi Müller tetap angkat kaki karena selama Piala Dunia, para pemain tak boleh membawa istri mereka sementara para petinggi DFB diperbolehkan,” ungkap Rebeccak Chabot dalam artikel “A Tale of Two Kaisers” di buku Legacies of Great Men in Word Soccer. Setelah pensiun di Fort Lauderdale Strikers (kiri), Gerd Müller sempat melatih akademi Bayern ( fcbayern.com ) Setelah pensiun usai Piala Dunia 1974, lima tahun berselang Müller juga berpisah dari Bayern. Ia berserteru dengan pelatih Pál Csernai dan petinggi klub di awal tahun 1979. Penyebabnya, Müller menolak lalu protes keras ketika digantikan Norbert Janzon kala Bayern menelan kekalahan dari Eintracht Frankfurt, 1-2, pada 3 Februari 1979. Müller kemudian angkat kaki dan menyeberangi Samudera Atlantik menuju Amerika Serikat (AS). Di AS, ia menjalani senjakala kariernya bersama Fort Lauderdale Strikers. Di sana pula Müller mulai kecanduan alkohol. Saat gantung sepatu pada 1982, Müller makin parah kecanduan alkohol. Namun, pihak klub tak lepas tangan di saat Muller tertimpa getir itu. Setelah mendorong dan membiayai rehabilitasi Müller, klub memberdayakannya jadi staf pelatih di tim akademi. Müller baru meninggalkan dunia sepakbola pada Oktober 2015 ketika sudah didiagnosa menderita alzheimer. Enam tahun lamanya Müller bertarung dengan penyakit itu sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir di usia 75 tahun. Auf Wiedersehen, Der Bomber ! Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi!
- Dana Awal Pendirian Republik
PRANGKO itu sudah lusuh. Warnanya memudar. Tapi gambarnya masih cukup terlihat. Seekor sapi di tengah sawah dengan latar belakang alam perdesaan. Di sudut atas tertera tulisan “FONDS KEMERDEKAAN”. Perangko ini terbit pada 1946 dan hasil penjualannya digunakan untuk membiayai Republik Indonesia yang baru lahir pada Agustus 1945. Fonds Kemerdekaan tadinya bernama Fonds Perang dan Kemerdekaan. Dibentuk pada 1 Februari 1945, fonds ini bertujuan untuk mendanai persiapan Indonesia sebagai negara merdeka setelah keluarnya janji Perdana Menteri Kuniaki Koiso pada September 1944.
- Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah
HARI ini 17 Agustus, 76 tahun lalu. Hari di mana Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hari di saat orang Indonesia menyobek biru dari bendera Belanda dan di seluruh negara Merah Putih mulai berkibar. Hari Kemerdekaan? Apakah orang-orang di Belanda juga akan menyebut hal yang sama, karena sebenarnya di Indonesia si penjajah belum sepenuhnya menghilang. Negara dan rakyat masih harus melewati empat tahun masa Revolusi, dan menghadapi Agresi Militer Belanda , dua rangkaian peristiwa berdarah yang mengakibatkan belasan ribu orang mati. Kemenangan terasa manis: ia membuat semua korban menjadi martir, menjadikan mereka sebagai pahlawan, sementara orang-orang Belanda jadi pecundang. Di tahun 1950, saat Indonesia akhirnya bisa menulis sejarahnya sendiri, sementara itu Belanda dengan malu menutupi luka-lukanya, sebagai pecundang yang tidak terlalu baik. Belanda merajuk, bahkan menolak mengakui 17 Agustus 1945 sebagai momen kemerdekaan Indonesia. Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka bulan Desember 1949, ketika Belanda dan Indonesia menandatangani apa yang disebut " De Overdracht " (penyerahan kedaulatan) di dalam buku-buku sejarah Belanda. Sebuah sikap picik yang sama seperti Inggris saat mereka tak mengakui 4 Juli sebagai hari kemerdekaan Amerika, karena setelah 1772 Inggris terus menerus memerangi Amerika. Ini mungkin omong kosong historis, tetapi untuk orang Belanda argumen itu absah dari segi hukum. Sebab kalau Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, artinya Belanda mengakui bahwa mereka berperang selama empat tahun di wilayah negara Indonesia merdeka. Sama artinya dengan invasi yang bisa menjadi serangkaian klaim ganti rugi Indonesia atas Belanda untuk kerusakan yang berkepanjangan. Belanda dan Indonesia tidak pernah bersepakat tentang 17 Agustus 1945, –orang Indonesia meninggalkan masalah itu dan melihat ke depan, sementara orang Belanda paling banyak menatap ke belakang. Kedua negara menulis versi sejarahnya sendiri, dengan terminologi yang berbeda dan dengan versi sendiri dari apa yang persis terjadi dan kenapa itu terjadi. Dan sejak Desember 1949 mereka berjalan sendiri-sendiri saat berbicara sejarah. Saling berlawanan, bukan saling bertautan satu sama lain. Tapi tentu saja para pegawai Kedutaan Besar Belanda di Jakarta bersedia menghadiri upacara-upacara resmi tujuhbelasan, dan pada 2005 Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot datang ke Jakarta untuk ikut merayakannya –sebagai pejabat tinggi pemerintah Belanda. Menurut Bot, kehadirannya itu adalah pengakuan. "Pengakuan bahwa di Belanda ada kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia secara de facto sudah mulai pada 17 Agustus 1945 dan bahwa kami, enampuluh tahun setelahnya dengan murah hati menerima fakta itu dalam arti politik dan moral". Dia pasti bersungguh-sungguh tanpa keraguan, tetapi dengan semua kemurahan hati sang menteri terkesan seakan melarikan diri dengan menggunakan kata " de facto ". Belanda telah mengakui 17 Agustus secara " de facto ", tetapi itu sangat berbeda dengan " de jure ", secara hukum. Jadi pengacara manapun tidak bisa berbuat apapun dengan pengakuan itu, begitu pula dengan orang Indonesia. Saat itu orang Belanda dan beberapa warga Jakarta bertanya kepada saya, "benar atau tidak kalau Belanda mengakui 17 Agustus?" Saya hanya bisa menjawab, “Iya secara de facto , tidak secara de jure .” Keraguan yang sama juga terjadi pada soal "meminta maaf", sebuah kalimat yang selama bertahun-tahun tidak mau Belanda ucapkan –misalnya berhubungan dengan pembunuhan massal di Rawagede. Tanpa disadari, Indonesia menjadi saksi atas permainan kata-kata yuridis yang halus dan sejatinya memiliki perbedaan makna antara "meminta maaf" atas sesuatu hal dengan "menyesali" sesuatu hal. Sekali lagi orang-orang bertanya kepada saya sebenarnya apa persoalan sekarang ini? Sekali lagi saya jawab dengan penjelasan, yang dalam bahasa Indonesia lebih sulit lagi dimengerti daripada dalam bahasa Belanda: "Kalau Anda minta maaf, Anda mengakui bahwa Anda salah. Kalau Anda menyesali sesuatu, Anda hanya mengakui bahwa sesuatu pernah terjadi..." "De-jurisme" ini telah lama menjadi ciri khas sikap Belanda berhubungan dengan sejarah: sebuah upaya untuk tidak pernah mengatakan sesuatu secara terus terang dalam arti yuridis dan tidak bersedia menggunakan kata-kata yang disarankan dalam sudut pandang itu. Dapat dimengerti jika Anda berpikir bahwa pemerintah Belanda selalu mencari keseimbangan antara kesalahan dari masa lalu dengan beberapa isu sensitif, misalnya veteran-veteran perang Belanda yang merasa tersingkirkan, janji-janji yang tidak realistis kepada orang-orang Maluku dan Papua, warga Indo yang memikul beban dari trauma yang dalam. Belanda merasa dikhianati dan dirampok. Di antara semua itu, pemerintah Belanda mencoba menyelamatkan mukanya dengan bermain kata-kata dan eufemisme supaya aman. Sejak hubungan Belanda-Indonesia terputus, Belanda sudah memainkan hal tersebut. Itu terlihat dari beberapa perbedaan istilah yang digunakan di kedua negara. Contoh: orang Indonesia memakai kata "Agresi Militer". Itu adalah ungkapan untuk periode yang oleh orang Belanda disebut sebagai "Politionele Acties" (aksi polisionil). Orang Indonesia terbiasa dengan istilah Agresi Militer. Sementara "Aksi Polisionil" tidak bisa ditemukan di buku sejarah mereka. Untuk apa harus begitu? Itu bukan tentang upaya menegakan hukum oleh polisi, tetapi sebetulnya tentang kampanye kekerasan oleh tentara Belanda yang direncanakan dan disetujui oleh pemerintah Belanda. Karena pada saat yang sama, ketika "Aksi Polisionil" itu dilancarkan, banyak sekali pembantaian di desa-desa di Indonesia yang telah membuka banyak luka. Sebaliknya orang Belanda lebih banyak bicara tentang "Periode Bersiap": sebuah istilah yang dipakai untuk merujuk kepada periode yang penuh kekerasan tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno 17 Agustus 1945. Seperti halnya istilah ‘Aksi Polisionil’, istilah ‘Periode Bersiap’ juga tak bisa ditemukan dalam buku pelajaran sejarah di Indonesia. Apa yang terjadi pada periode itu: Hasutan dikumandangkan melalui radio "pemuda" (pejuang muda) untuk memburu semua orang Belanda atau orang yang pernah berkolaborasi dengan orang Belanda. Dalam beberapa bulan mereka membunuh antara 20 dan 30-ribu lelaki, perempuan, orang lansia dan anak-anak. Misalnya tiga anak-anak Van Slooten, yang berusia 7, 8, dan 10 saat mereka dibunuh di Batavia pada 7 Desember 1945. Nama dan tanggal kematian mereka disebut pada nisan salib putih di kompleks pemakaman Menteng Pulo di Jakarta. Untuk orang Indonesia "Periode Bersiap" tidak pernah ada. Di dalam buku-buku sejarah, periode itu tidak disebut secara tersendiri. Kekerasan ada kapan saja dan di mana-mana. Itu adalah revolusi. Hanya ada sedikit korban mati Indonesia yang nisan kuburannya yang dirawat sebaik di pekuburan Menteng Pulo (kecuali kuburan korban Rawagede), bahkan untuk semua anak-anak yang meninggal. Dan bagi mayoritas orang Indonesia "bersiap" hanya adalah sebuah kata yang hanya berarti, bersiap (siap siaga). Suatu pembantaian tidak boleh menjadi pemakluman untuk hal lain. "Periode Bersiap" tidak boleh disandingkan dengan "Aksi-aksi Polisionil" dengan perbandingan siapa yang paling kejam di dalam perang: orang Belanda atau orang Indonesia? Memilih untuk menggunakan terminologi tertentu selalu memiliki maknanya sendiri: pada semua istilah yang dipakai merujuk kepada tafsiran atas kejadian. Penggunaan istilah itu adalah pernyataan sikap dan posisi dari sebuah kontestasi sudut pandang. Sementara itu semua terjadi, dunia sedang terjaga. Suara dari yang pernah dijajah lebih terdengar dan perlakuan dari para penjajah tiba tiba menjadi kejahatan. Pameran dan buku-buku menggambarkan sudut pandang yang berbeda tentang kejadian di masa lalu. Artefak-artefak di museum menjadi terkuak bawah itu "hasil rampokan" dan harus dikembalikan, patung-patung dirobohkan dan sejarah kembali diteliti. Sejarawan-sejarawan Belanda dikirim ke Indonesia dalam sebuah misi yang mahal untuk meneliti kembali kekerasan-kerasan yang terjadi, terutama di tahun 1940-an. Mereka punya tugas khusus untuk meneliti "Periode Bersiap". Hingga kini mereka masih menyusun hasil penelitiannya. Di tengah dunia yang sedang terjaga ini, harian nasional Belanda De Volkskrant memilih tanggal 17 Agustus untuk mengirimkan kuesioner kepada orang-orang Indonesia, bekerjasama dengan majalah sejarah popular Indonesia Historia.ID . Ide ini tampaknya sederhana: Bagaimana pendapat orang Indonesia tentang orang Belanda? Tetapi saat menyusun kuesioner ini, para penyusun kuesioner sadar bahwa bicara sejarah tak pernah terhindar dari beban masa lalu. Di balik beberapa pertanyaan tanpa disadari ada kemungkinan bahwa pertanyaan itu mengandung maksud yang tidak terucap, prasangka-prasangka dan kesalahpahaman. Yang jelas bahwa selama 76 tahun tidak pernah ada percakapan yang baik antara dua bangsa tentang masa lalu, selain enggan mengotak-atik masa lalu dengan motif di baliknya dan alasan-alasan kompensasi. Mungkin lebih gampang bagi saya untuk melupakan semua hal dari masa lalu dalam sudut pandang Belanda dan menjawab pertanyaan dalam kuesioner dari sudut pandang Indonesia masa kini –sebagaimana pernah saya alami selama 18 tahun tinggal di Indonesia yang membuat saya lebih memahami sejarah dari perspektif Indonesia. Pertanyaannya kini bagaimana perlakuan orang Indonesia terhadap orang Belanda? Orang Indonesia menerima orang Belanda secara ramah, karena pada dasarnya mereka adalah bangsa yang sangat ramah tamah. Mereka bisa tertawa dengan hal-hal nostalgia yang terhubung dengan ikhtiar pencarian akar masa lalu orang Belanda di Indonesia, tetapi mereka memanfaatkan nostalgia itu juga di hotel-hotel dan restoran-restoran, di mana mereka memamerkan suasana kolonial dan menyediakan rijstafel Belanda. Mereka memainkan musik keroncong dan menyanyi " Als de orchideeën bloeien " dan dengan senyum mengucapkan " hotperdom ", satu-satunya kata Belanda yang semua orang Indonesia kenal. Bagaimana dengan orang Belanda menurut orang Indonesia? Mereka bicara keras, sangat kaku, banyak minum (minuman keras) dan punya hidung yang mancung. Mereka tinggal di "Negeri Kincir Angin". Tapi kalau orang Indonesia liburan ke Belanda mereka akan senang selfie di De Zaanse Schans, mereka berfoto dengan pakaian tradisional Volendam dan berkunjung taman tulip De Keukenhof. Kalau Belanda terlalu jauh mereka akan kunjungi Holland Village di Jawa untuk ambil selfie dan memakai klompen, sepatu kayu, seolah mereka berada di Belanda. Sementara itu kalau orang Belanda berkunjung ke Indonesia, mereka akan mencari rumah kelahiran kakek-neneknya, sebuah rumah yang mereka kenal dari selembar foto hitam putih dengan orang berpakaian rapih yang sedang menyenangkan diri di kebun yang terawat dengan pohon besar. Dalam foto itu kakek-nenek mereka berdiri di teras rumah besar dan megah. Tentu mereka, orang-orang Belanda yang sedang berkunjung ke Indonesia, akan senang ketika rumahnya masih ada, walaupun kebunnya sudah tidak ada lagi dan sekarang rumah itu sudah menjadi bangunan sekolah. Mereka malahan membiarkan diri mereka terkejut oleh bunyi riuh tawa seisi kelas saat murid-murid meneriakkan ‘penjajahan’ saat mereka bertanya soal zaman kolonial. Kami tidak merasa diacuhkan. Lagipula mereka merasa bukan kolonialis. Perasaan mereka juga sama ketika mereka berpikir tentang ayah, kakek, kakek buyut mereka, semunya orang baik juga. Orang Belanda menjadi sangat hangat ketika mereka mendengar orang Indonesia memakai kata-kata seperti "waslap", "asbak", "handuk", "persneling", "rem", "notaris", dan "kantor". Sementara itu pemuda pemudi Indonesia masa kini bereaksi sama terkejutnya dengan orang Belanda tentang kata-kata tersebut. "Lho, apakah itu sama dalam bahasa Belanda?" Sebab untuk mereka, orang Indonesia, kata-kata itu sudah lama tidak lagi menjadi kata dalam bahasa Belanda, melainkan kosakata Indonesia yang mereka gunakan sehari-hari. Turisme membebaskan sejarah dari esensinya yang berat, dengan menjadikan sesuatu hal yang sebenarnya serius dan ruwet menjadi sesuatu yang lucu. Biarkan waktu yang akan mengubahnya. Suatu saat, "hubungan lama" antara Belanda dan Indonesia yang penuh kerumitan, akan menjadi latar belakang untuk selfie saja. Kuesioner dari harian De Volkskrant , berkolaborasi dengan Historia.ID ini adalah sesuatu eksperimen kecil tetapi penting, di tengah persimpangan dua dunia pemikiran yang begitu berbeda ini. Penulis adalah wartawan senior De Volkskrant. Artikel ini ditulis sebagai pengantar survei Persepsi Pembaca Historia.ID terhadap Kolonialisme Belanda di Indonesia. Artikel dalam bahasa Belanda berjudul “ Hoe denken de Indonesiërs over de Nederlanders? Een nodig, maar moeilijk gesprek in een ontwakende wereld” terbit di De Volkskrant, 17 Agustus 2021. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Arjan Onderdenwijngaard dan Bonnie Triyana. Survei dilakukan oleh harian De Volkskrant dengan Historia.ID.
- Menjelang Proklamasi Tiba
KEPANIKAN terjadi saat Bung Karno dan Bung Hatta dikabarkan menghilang dari kediamannya. Dua lakon utama yang tengah mempersiapkan proklamasi itu tetiba tidak diketahui rimbanya. Petunjuk mengarah kepada golongan muda yang memang beberapa waktu menekan Bung Karno dan Bung Hatta menyegerakan proklamasi. Ahmad Subardjo, ditemani Sudiro, segera menemui salah seorang tokoh golongan muda, Wikana. Subardjo, sebagaimana disebutkan Suhartono dalam Kaigun Penentu Krisis Proklamasi , dikenal dekat dengan Wikana. Dia yakin kawannya itu akan mengatakan keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta kepadanya. Namun Wikana bersikukuh merahasiakan keberadaan mereka. Akhirnya, dengan “menggadaikan” namanya, Subardjo berjanji melaksanakan proklamasi begitu Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta. Wikana pun akhirnya betus. Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada, Subardjo langsung menjemput keduanya. Pada waktu yang bersamaan, Wikana bersama beberapa pemuda yang sengaja ditinggal di Jakarta melakukan persiapan penyelenggaraan proklamasi. Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Tadashi Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. “Rumah Laksamana Maeda yang dipakai untuk merumuskan teks proklamasi tersebut terjamin keamanannya selama rapat karena Laksamana Maeda merupakan Kepala Perwakilan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang). Rumah tersebut merupakan extra territorial yang harus dihormati oleh Rikugun (Angkatan Darat Kekaisaran Jepang),” tulis Sutan Remy Sjahdeini dalam Sejarah Hukum Indonesia . Setiba di Jakarta, Sang Dwi Tunggal segera menyelesaikan segala urusan yang sempat tertunda, termasuk menemui perwakilan Jepang, Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, untuk menagih kemerdekaan yang mereka janjikan. Akan tetapi rupanya hanya kekecewaan yang mereka dapatkan. Jenderal Nishimura menolak memberikan kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta yang terlanjur murka segera beranjak dan meninggalkan tempat Nishimura. Mereka lalu bergerak ke rumah Maeda. Di tempat Maeda, telah berkumpul banyak sekali tokoh. Diceritakan Bung Hatta dalam otobiografinya, Memoir , hadir secara lengkap anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pemimpin-pemimpin pemuda, dan beberapa orang pemimpin pergerakan. Semuanya ada kira-kira 40-50 orang terkemuka. Di jalan juga banyak pemuda yang menonton atau menunggu hasil pembicaraan. Melalui keterangan Subardjo, dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi , diketahui sejumlah tokoh penting hadir, di antaranya: Radjiman Wedyodiningrat, Supomo, Sam Ratulangi, Johannes Latuharhary, Iwa Kusuma Sumantri, dan lainnya. Dari pihak pemuda: Chairul Saleh, B.M. Diah, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dan Maruto Nitimihardjo. Sisanya masih banyak lagi tokoh yang tidak terlalu dikenal oleh Subardjo. Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Bung Karno dan Bung Hatta, bersama Subardjo, Sukarni dan Sayuti Melik, mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil menuju pekarangan di belakang rumah Maeda. Mereka duduk di sekitar meja berbentuk bundar dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas yang menandai lahirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Maka disepakati bahwa kalimat pertama teks tersebut diambil dari pembukaan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, isinya: Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. “Bahwa kalimat pendek dan sederhana ini telah dianggap cukup bagi suatu langkah yang menentukan dan mempunyai arti penting dalam sejarah dunia, yang mencerminkan keadaan yang dihadapkan kepada kami pada waktu itu, suatu keadaan yang dikuasai oleh ketegangan jiwa yang luar biasa,” tulis Subardjo. Setelah bertukar pikiran sebentar, lima orang yang duduk di ruangan kecil itu menyetujui seluruh ide teks proklamasi sementara yang merupakan hasil tulis tangan Bung Karno. Sebelum dihadirkan ke tengah panitia persiapan, naskah proklamasi tersebut diketik oleh Sayuti Melik, ditemani wartawan B.M. Diah. Sambil menunggu naskah selesai diketik, tutur Subardjo, panitia kecil pergi ke ruang dapur untuk mengambil makanan dan minuman yang sebelumnya telah disiapkan tuan rumah. “Kami belum makan apa-apa sejak meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk bersahur, makan terakhir sebelum sembahyang Subuh,” ujar Subardjo. Waktu menunjukkan pukul 4 dini hari, naskah selesai diketik Sayuti Melik. Seluruh panitia kecil pun beranjak kembali ke ruang besar di depan rumah. Suasana di sana semakin ramai. Orang-orang mulai berdatangan, mengerumuni rumah yang sekarang digunakan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Suasana riuh di ruang utama seketika hening saat Sukarno membuka sidang untuk membacakan rumusan naskah proklamasi. Tetapi ketegangan mulai muncul di antara anggota sidang ketika memasuki agenda pengesahan naskah. Menurut Adam Malik dalam Riwayat dan Perjuangan Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 , usul Sukarno supaya naskah Proklamasi ditandatangani besok siang dan diumumkan di depan anggota PPKI ditolak keras oleh Sukarni dan Chaerul Saleh. Tokoh-tokoh dari golongan pemuda tidak ingin urusan kemerdekaan ini dicampuri oleh badan-badan berbau Jepang. Hatta lalu menyuarakan agar naskah Proklamasi ditandatangani oleh seluruh peserta yang hadir saat itu. “Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia Merdeka.” Usul tersebut menimbulkan kegaduhan. Sukarni kembali melayangkan protesnya. Dia mengatakan jika mereka yang tidak menyumbang sedikit pun persiapan-persiapan proklamasi tidak berhak untuk menandatangani. Sukarni pun lalu mengusulkan agar naskah cukup disahkan oleh Sukarno dan Hatta atas nama rakyat Indonesia. Ucapan itu, imbuh Hatta, disambut oleh seluruh orang yang hadir dengan tepuk tangan yang riuh dan muka yang berseri-seri. Sebelum menutup sidang, Sukarno meminta semua orang hadir dalam pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timur No. 56 sekitar pukul 10 pagi. “Babak terakhir dari perjuangan besar itu, untuk mana aku telah mempersembahkan jiwa dan ragaku, sekarang telah selesai. Dan peristiwa itu tidak menimbulkan apa-apa. Aku tidak merasakan kegembiraan. Aku hanya letih. Sangat letih,” tutur Sukarno seperti diceritakan Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Sekira pukul 6 pagi, tanggal 17 Agustus, seluruh kegiatan malam perumusan naskah proklamasi di kediaman Maeda selesai dilakukan. Digambarkan Subardjo, sedikit demi sedikit peserta sidang mulai meninggalkan tempat pertemuan dalam keadaan sangat lelah. Subardjo pun berpamitan kepada Sukarno dan Hatta yang saat itu dilihatnya masih cukup segar. Mereka saling memberikan ucapan selamat satu sama lain atas apa yang telah dicapai. Meski ketiganya sadar bahwa itu bukanlah akhir, tetapi awal dari tugas kenegaraan yang berat di masa kemudian. “Demikianlah berakhirnya suatu pertemuan malam yang tak terlupakan di tempat kediaman Laksamana Muda Jepang yang penuh keberanian,” ujar Subardjo.*
- Jajak Pendapat Pembaca Historia.ID: Persepsi terhadap Penjajahan Belanda di Indonesia
Jika Anda kesulitan mengakses form survei di bawah silahkan klik tautan berikut ini: Form Jajak Pendapat
- Repotnya Menyusun Pidato Sukarno
SETIAP memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, sudah kewajiban bagi Bung Karno untuk menyampaikan pidato kenegaraan. Menjelang 17 Agustus, kesibukan selalu terjadi di ruang tengah Istana Merdeka. Di tempat itulah Bung Karno biasa menyusun konsep pidatonya. Ketelitian Sukarno dalam menyusun pidato kenegaraan diungkapkan oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra. Bung Karno, menurut Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku, selalu mendiskusikan tema pidatonya terlebih dahulu dengan orang-orang penting seperti para menteri dan tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu, Sukarno mengumpulkan bahan-bahan pendukung melalui literatur, suratkabar, majalah, hingga berita dan laporan dari luar negeri. Kebiasaan lain Sukarno dalam menyusun teks pidatonya adalah penggunaan pulpen kelas atas merk Parker dengan tinta warna biru merek Quink. Penulisan dilakukan di atas kertas kepresidenan ukuran folio. Setelah selesai ditulis tangan, naskah pidato itu kemudian diketik sebagai konsep. Sukarno kerap kali mengutip pemikiran dari tokoh-tokoh besar maupun istilah asing yang semakin menambah bobot pidatonya. Guntur dalam memoarnya mengisahkan pengalaman keterlibatannya dirinya dalam penyusunan teks pidato kenegaraan Sukarno. Entah tahun berapa persisnya, yang jelas bulan Agustus antara tahun 1955—1959. Waktu itu Guntur yang beranjak remaja, sepulang sekolah mendapati sang ayah tengah sibuk menulis naskah pidato. Supaya tidak mengganggu, Guntur masuk mengendap-endap menuju kamarnya. Sukarno ternyata menyadari kehadiran Guntur yang melangkah. Tetiba Sukarno memerintahkan Guntur untuk mengambil tinta di sebelah tempat penyimpanan tongkat komando yang ada di kamar Sukarno. “Ini Pak tintanya,” kata Guntur. “Kau sudah makan,” tanya Bung Karno. “Belum. Bapak sudah makan belum?” Guntur balik nanya. “Sebentar lagi. Jangan makan dulu. Bantu dulu Bapak,” pinta Sukarno. “Ya Pak,” jawab Guntur, “Belum selesai nulisnya, Pak?” “Belum! Heh, kau jangan jauh-jauh dari Bapak. Kalau-kalau aku perlu kau ambilkan buku-buku.” Sukarno berpesan. Di tengah perutnya yang sudah keroncongan, Guntur siaga di kursi dekat pintu keluar ke ruang tengah, tempat Bung Karno menulis. Dari situ, tidak jauh dengan beranda depan yang tidak lain ruang pribadi Sukarno yang difungsikannya sebagai perpustakaan. Di dalam perpustakaan tersebut, terdapat koleksi buku Sukarno sejak tahun 1919 meliputi beragam tema. Mulai dari politik, ekonomi, filsafat, kebudayaan, sosiologi, agama, dan sebagainya. Tidak lama kemudian, terdengar suara menggelegar memanggil Guntur yang akrab dipanggil Totok itu. “Tok!! Bawa kemari Declaration of Independent dari Thomas Jefferson,” perintah Sukarno. Thomas Jefferson ialah presiden Amerika Serikat ketiga sekaligus penyusun Konstitusi Amerika. Buru-buru Guntur beranjak ke perpustakaan mengambil buku yang diminta. Setelah buku diserahkan Guntur duduk kembali ke tempat semula. “Toook!! Ambilkan bukunya Abraham Lincoln,” minta Bung Karno lagi. Abraham Lincoln ialah presiden Amerika Serikat ke-16 yang menentang perbudakan di Amerika. Guntur menjalankan tugasnya. “Toook!!” Bawa kemari bukunya Vivekananda,” perintah selanjutnya. Swami Vivekananda ialah seorang ahli filsafat India yang menjiwai gerakan nasionalisme India. Tanpa banyak cakap, Guntur melangkah ke perpustakaan mengambil buku dan menyerahkannya. “Kembalikan buku ini! Bawa kemari buku Nehru dan Karl Kautsky,” kata Sukarno. Pandit Jawaharlal Nehru adalah pemimpin nasionalis India sedangkan Karl Johann Kautsky filsuf beraliran Marxis dari Jerman. Guntur lagi-lagi kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku tersebut. Masih belum cukup, Sukarno kemudian memanggil Guntur lagi. Dimintanya buku karya Lothrop Stoddard. Stoddard adalah seorang orientalis terkemuka penulis buku The Rising Tide of Color yang dialihbahasakan menjadi Pasang Surut Kulit Berwarna . Untuk kesekian kalinya Guntur menjadi asisten ayahnya. Sukarno melanjutkan kembali menulis teks pidatonya. Tidak berapa lama kemudian, Sukarno kembali memanggil Guntur. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Rupanya Guntur tertidur karena kecapaian bolak-balik dari perpustakaan ke ruangan tengah Istana Merdeka. “Toook!” “Took!” “Toook, Toook, Toook!” “Ayo bangun,” ujar Sukarno. “Haah…eh… a, a, apa Pak??” jawab Guntur yang mendadak terjaga dari tidurnya, “Bukunya Karl Marx ya Pak?” katanya lagi seraya mengusap-usap mata. “Husy! Kau ngelindur! Ayo temani bapak makan” Guntur pun bergegas mengikuti ayahnya yang presiden RI itu ke ruangan makan. Perutnya sudah kelaparan dari tadi. Menurut Guntur, Sukarno selalu dibantu oleh sebuah tim yang bekerja 24 jam tanpa berhenti dalam penyusunan naskah pidatonya. Terdiri dari seorang Liaison Officer (pegawai penghubung) yang membawahkan 2 sampai 3 orang pengetik cepat dari Sekretariat Negara. “Kalau saat penulisan dimulai maka tidak seorangpun boleh mengganggu Bapak mulai dari pagi sampai pagi lagi,” kenang Guntur. Kerepotan dalam menysusun pidato Sukarno juga diakui oleh Molly Bondan. Pada 1960-an, Molly yang berkewarganegaraan Australia itu bertugas sebagai penyusun pidato bahasa Inggris Presiden Sukarno. Menurut Molly cara Bung Karno berpidato bagaikan seorang dalang yang bercerita. Sukarno gemar melakukan pengulangan kata sebagai upaya untuk lebih menjelaskan, seolah-olah dirinya secara pribadi berbicara kepada hadirin. Selingan humor, kutipan kalimat dan juga sarat lukisan suasana berwarna-warni. Begitu dalam berpidato, demikian pula keadaannya kalau Bung Karno menulis. “Menyadari keadaan ini dan juga untuk menjaga agar nuansa terjemahan bahasa Inggrisnya tetap sepadan, Molly terus terang mengaku seringkali sengaja agak mengorbankan akurasi pidato Bung Karno, tanpa harus mengurangi maknanya” seperti tersua dalam Kisah Istimewa Bung Karno yang disusun Hero Triatmono. Kendati demikian, Molly menegaskan, Bung Karno sangat terampil dalam merumuskan pemikiran serta menyampaikan gagasan. Semua pidatonya termasuk pidato tahunan setiap tanggal 17 Agustus selalu diperbincangkan dengan semua anggota kabinetnya. Ide dasarnya tentu datang dari Bung Karno sendiri. Dengan persiapan yang teliti dan seksama ditambah dengan kecakapan berorasi, pidato kenegaraan Sukarno selalu ditunggu-tunggu bahkan menjadi daya tarik bagi rakyat yang mendengarnya.*
- Sukarno dan Baduy
PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jokowi memakai pakaian adat. Kali ini pakaian adat suku Baduy atau Kanekes yang terletak di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dari empat tugas hidup masyarakat Baduy, salah satunya berkaitan dengan pemerintah, yaitu ngasuh ratu ngajayak menak (mengasuh penguasa dan mengemong para pembesar negara). "Oleh karena itu, mereka tabu melawan atau memberontak kepada pemerintah 'yang harus diasuh dan dibimbingnya'. Keyakinan terhadap tugas tersebut tidak pernah luntur ataupun berubah sekalipun terjadi pergantian pemerintahan," tulis Toto Sucipto dan Julianus Limbeng dalam Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten . Dengan demikian, hubungan Baduy dengan pemerintah daerah dan pusat terjaga dengan baik. Sebagai wujud hubungan baik itu, mereka memiliki tradisi seba , yaitu upacara adat tahunan menghadap pemerintah daerah Lebak dan Banten untuk mempersembahkan hasil pertanian. Mereka datang berduyun-duyun dengan berjalan kaki sebagai ciri khasnya menuju pendopo kabupaten dan provinsi. Di samping acara seba yang diikuti ratusan sampai ribuan orang Baduy, dalam keadaan tertentu pemimpin adat ( puun ) biasa mengirim utusan untuk menghadap presiden. Dan utusan Baduy beberapa kali bertemu Presiden Sukarno. Fatmawati mendampingi Presiden Sukarno menerima utusan Baduy di Istana Negara, Jakarta, pada 1950. (Perpusnas RI). Pada 1950, Sukarno menerima dua orang Baduy di Istana Negara, Jakarta. Foto pertemuannya tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Foto lain koleksi Yayasan Idayu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan Ibu Negara Fatmawati hadir dalam pertemuan itu. Tahun berikutnya, pada 1951, dalam kunjungan kedua kalinya ke Banten, Sukarno juga bertemu utusan masyarakat Baduy. Berikutnya, pada 3 Juli 1954, Sukarno menerima utusan Baduy bernama Saltiwin dan Darjeuni di Istana Bogor. Pikiran Rakjat , 22 Juli 1954, sebagaimana dimuat dalam blog Sekecap , menyebutkan bahwa utusan Baduy itu meminta supaya leuweung (hutan) titipan kebuyutan (leluhur yang keramat) mereka dilindungi dari penyerobotan yang dilakukan orang luar. Peristiwa penyerobotan itu mengakibatkan rusaknya stroomgebied (Daerah Aliran Sungai) Kali Ciujung yang meliputi kawasan Lebak dan sebagian Kabupaten Bogor. Hal itu terjadi sejak berapa tahun sebelumnya. Permintaan itu berulang kali disampaikan dalam dua tahun kepada Jawatan Kehutanan, pamongpraja, dan Kementrian Dalam Negeri. Berita Antara , 22 Juli 1954, melaporkan dalam Agustus 1952 Sekretaris Jenderal Dalam Negeri mengeluarkan larangan supaya hutan Baduy tidak diganggu dan dijadikan huma (lahan untuk menanam padi) secara liar oleh rakyat. Pada 1953, beberapa orang dihukum karena menyerobot hutan. Namun, perusakan hutan tetap terjadi hingga 1954. Hutan seluas 500 hektar dalam wilayah Baduy digunduli. Itu sebabnya mereka melaporkan langsung ke Sukarno. Berita pertemuan itu juga dimuat dalam majalah Warga . Melalui majalah inilah, Ayatrohaedi, arkeolog, linguis, dan peneliti sejarah Sunda, mengenal masyarakat Baduy. "Gambar yang muncul dalam tulisan yang dimuat majalah Warga itu adalah beberapa orang Baduy yang berpakaian serba hitam, memakai destar, bertelanjang kaki, bersama dengan Bung Karno," kata Ayat dalam memoarnya 65=67: Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya . Presiden Sukarno menyalami Pak Hasan, utusan Baduy, di Rangkasbitung, pada 29 Maret 1957. (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten). Ada bagian dari tulisan itu yang menghentak Ayat bahwa "pada saatnya nanti, bahasa Sunda, akan naik derajatnya, sejajar dengan bahasa lain. Begitu keyakinan orang Baduy itu." Orang Sunda harus ngamumule (menghidupkan) bahasanya jika ingin naik derajat. Selain kata "aing", yuk kenalkan kata-kata Sunda lain! Kendati telah mengenal suku Baduy sejak tahun 1950-an, Ayat baru bertemu langsung dengan mereka pada tahun 1967. "Perkenalan jasadiku dengan orang Baduy menyebabkan aku merasa kian kerdil sebagai orang Sunda," kata Ayat yang kemudian menjadi guru besar arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Orang Baduy kembali bertemu dengan Sukarno pada 29 Maret 1957 ketika Sukarno berkunjung ke Rangkasbitung (Lebak), Banten. Partaatmadja, staf direktorat publikasi departemen penerangan, yang mengikuti kunjungan itu melaporkan dalam Mimbar Penerangan , Tahun VIII, No. 4, April 1957: "Setelah kurang lebih tujuh tahun tak bertemu dengan rakyat Rangkasbitung, Bung Karno merasa sono (kangen), demikian pula sebaliknya rakyat Rangkasbitung merasa sono pula dengan Bung Karno." Sebelum menyampaikan pidato dalam rapat umum "Persatuan" di alun-alun Rangkasbitung, Sukarno menemui utusan Baduy sebanyak tujuh orang yang diketuai oleh Pak Hasan, mantan lurah di daerah Baduy, dan Pak Katje. "Sampaikanlah salamku kepada saudara-saudara lainnya dari Baduy yang tak dapat hadir," kata Sukarno kepada Pak Hasan. Sukarno merupakan presiden yang paling dikenang oleh masyarakat Baduy. Mereka beberapa kali bertemu. Sehingga mereka punya joke soal presiden, sebagaimana dicatat budayawan Radhar Panca Dahana: “Presiden saya Soekarno, kalau Pak Harto kan cuma penggantinya.” Presiden Soeharto menerima Jaro Nakiwin, utusan Baduy, di Bina Graha, pada 27 Mei 1985. ( Selecta , 17 Juni 1985). Ketika berkunjung ke Baduy Dalam pada 2015, Gubernur Banten Rano Karno membuktikannya. "Di sana, tak seorang pun yang kenal saya…Tetapi, yang mengagetkan saya, ada warga Baduy yang menyimpan dan memasang foto Presiden Sukarno ketika bertemu masyarakat Baduy tahun 1950-an," kata Rano dikutip J. Osdar dalam tulisannya, "Rano, Jokowi, dan Badui", Kompas , 21 April 2015. Presiden Soeharto sendiri pertama kali menerima utusan Baduy bernama Jaro Nakiwin di Bina Graha pada 27 Mei 1985. Dia didampingi Aspan Sudiro, staf Menko Kesra. Nakiwin menyampaikan bahwa masyarakat Baduy ingin hidup tentram dan damai dengan menjalani hidup sesuai adat dan istiadat. Oleh karena itu, masyarakat Baduy memohon kepada pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap hutan, sumber air, dan lingkungan hidup mereka dari berbagai usaha perusakan. Ini harapan semua masyarakat adat. Bisakah pemerintah?*





















