Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Seulawah RI-001, dari Aceh untuk Republik Indonesia
Sebelum memiliki pesawat kepresidenan, Presiden Sukarno mesti datang ke Aceh untuk menggalang dana pembelian pesawat pada 16 Juni 1948. Bung Karno menyebut Aceh sebagai daerah modal perjuangan bangsa Indonesia. Waktu itu, kas negara sedang cekak lantaran blokade ekonomi yang dilancarkan Belanda usai agresi militer pertama. Sementara itu, Aceh merupakan satu-satunya daerah yang belum dikuasai Belanda sepenuhnya. Dalam suatu jamuan makan malam bertempat di Atjeh Hotel Kutaradja, Bung Karno menjelaskan situasi negara yang tengah dilanda krisis. Selain itu, dia juga mengharapkan derma para saudagar Aceh yang tergabung dalam organisasi Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA). Sukarno menyerukan agar para saudagar bahu-membah membantu pemerintah membeli pesawat terbang. “Alangkah baiknya apabila kaum Saudagar dan Rakyat Aceh berusaha membuat ‘jembatan udara’ antara satu pulau dengan pulau lain di Indonesia. Untuk ini, saya anjurkan agar kaum Saudagar bersama-sama Rakyat mengumpulkan dana untuk membeli kapal udara, umpamanya pesawat Dakota, yang harganya hanya 25 kilogram emas,” kata Bung Karno seperti dikisahkan Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area. Bung Karno berkata sambil berkelakar, “Saya tidak makan malam ini, kalau dana itu belum terkumpul,” katanya menutup pidato. Para saudagar yang hadir disana saling melirik satu sama lain. Adalah M. Djoened Joesoef yang tidak lain ketua Gasida yang pertama kali menyanggupi kemudian disusul oleh para saudagar yang lain. Malam itu terkumpul dana yang cukup besar. Bung Karno bungah melihat hasil galangan dana. Dengan wajah berseri-seri, dia mulai mengajak hadirin beranjak ke meja makan. Selanjutnya, GASIDA membentuk suatu panitia pembelian pesawat yang diketuai TM Ali Panglima Polem. Berdasarkan pembicaraan dengan Residen Aceh Teuku Chik M. Daudsyah, diputuskan bahwa para saudagar Aceh bersama rakyat Aceh akan membeli pesawat terbang pengangkut jenis Dakota. Di seluruh Aceh kemudian dibentuklah “Dakota Fonds” yang bertugas menghimpun sumbangan dari masyarakat. Tidak hanya satu, dana yang terkumpul akhirnya mampu membeli dua pesawat. Menurut tim peneliti Depdikbud dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh harga masing-masing pesawat tersua dalam cek bernilai 120.000 dan 140.000 Dollar Malaya. Satu pesawat atas nama GASIDA dan satu pesawat lagi atas nama seluruh rakyat Aceh. Masing-masing pesawat diberi nama Seulawah I dan Seulawah II, diambil dari nama gunung di Aceh yang berarti Gunung Emas. Pesawat-pesawat ini mulanya mengambil rute luar negeri, yaitu Rangoon (Myanmar) dan India. Pesawat Seulawah RI-001 baru tiba di tanah air pada penghujung Oktober 1948. Pada akhir November, Pesawat RI-001 Seulawah menyebarkan pamflet berisi ucapan terimakasih Pemerintah Republik Indonesia kepada rakyat Aceh. Ribuan penduduk dengan kegembiraan yang meluap-luap datang mengelu-elukan pesawat yang kemudian mendarat. Dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid IV (1948) , Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil mencatat, sejak adanya pesawat Seulawah sumbangsih rakyat Aceh, hubungan antar daerah di sebagian wilayah Republik dapat diperbaiki. Pesawat itu digunakan untuk mengangkut para pemimpin nasional yang datang berkunjung dan mengangkut bahan logistik perjuangan dari Yogyakarta ke berbagai daerah. Pesawat ini juga digunakan untuk hubungan luar negeri: mengangkut dokumen, obat-obatan, dan biaya perwakilan Republik di luar negeri, seperti Dr. Sudarsono yang bertugas di New Delhi India. Pesawat Seulawah RI-001 sangat berperan menerobos blokade Belanda ketika terjadi agresi militer kedua pada Desember 1948. Seperti dituturkan Abdul Karim Jakobi dalam Aceh Daerah Modal: Long March ke Medan Area , Seulawah RI-001 menjadi penghubung antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan PDRI di Suliki dan Kutaraja (Banda Aceh). Di masa genting menghadapi agresi Belanda, pesawat yang diterbangkan penerbang AURI Opsir Udara II Wiweko Soepono ini kerap kali bertugas membawa senjata, mesiu, dan obat-obatan. Pesawat ini sekaligus mengangkut Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta dari Yogyakarta bermuhibah ke Sumatra. Siapa nyana, pesawat yang berasal dari hasil sumbangan ini berhasil dalam berbagai misi penerbangan. Ia sekaligus menjadi cikal bakal pesawat Garuda pertama yang dikomersilkan. Pesawat itu kembali dari Rangoon sekitar akhir Juli 1949 dan masih dioperasikan setahun kemudian. Setelahnya, Seulawah RI-001 tidak lagi beroperasi secara aktif seiring dengan perkembangan teknologi dirgantara sebab Dakota tergolong pesawat generasi tua. Namun, karena jasanya begitu besar, replika Seulawah RI-001 diabadikan sebagai monumen yang kini berdiri tegak di lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Ia menjadi saksi perjuangan dan kesetiaan rakyat Aceh pada Republik.
- Pakaian pada Masa Jawa Kuno
Pada 992, raja Jawa mengirim utusan ke Cina. Utusan itu membawa persembahan berupa kain sutra bersulam hiasan bunga, sutra bersulam benang emas, dan sutra beraneka warna lainnya. Penduduk Jawa memelihara ulat sutra. Mereka menenun kain sutra yang halus, sutra kuning, dan kain dari katun. Demikianlah berita Sejarah Dinasti Sung (960–1279) mencatat produksi kain di Jawa. Informasi mengenai pembuatan dan penjualan pakaian juga tercatat dalam prasasti. Sebagian besar prasasti mencatat pakaian atau kain merupakan hadiah ( pasek pasek ) yang diberikan kepada pejabat yang menghadiri upacara penetapan daerah perdikan ( sima ). Jenis pakaiannya disebut wdihan. Arkeolog Edhie Wurjantoro dan Tawalinuddin Haris dalam “Kain dalam Masyarakat Jawa Kuna”, laporan penelitian arkeologi di Universitas Indonesia tahun 1995, menjelaskan wdihan merupakan sebutan umum bagi pakaian laki-laki, karena selalu diberikan kepada pejabat laki-laki. Sementara untuk perempuan namanya kain atau ken berupa kain panjang untuk menutupi tubuh bagian bawah. Dalam prasasti juga ditemukan istilah kalambi dan singhel. Kalambi bisa berarti baju atau pakaian atas. Sedangkan singhel adalah pakaian khusus bagi pendeta. Hadiah untuk Pejabat Pada masa Kerajaan Mataram berpusat di Jawa Tengah, penerima anugerah sima memberikan pasek pasek kepada para pejabat yang hadir bisa mencapai ratusan pasang wdihan beragam jenis, puluhan cincin emas, puluhan uang emas, ratusan suwarna/masa/dharana/kupang uang emas/perak,puluhan helai kain/ken , serta beberapa helai kalambi dan salimut . “Kebiasaan memberikan pasek pasek pada waktu upacara penetapan sima kelihatannya makin berkurang setelah pusat Kerajaan Mataram pindah ke Jawa Timur,” tulis Edhie. K ebiasaan itu berangsur hilang sejak masa pemerintahan Airlangga hingga masa Kerajaan Majapahit. Kalaupun ada hadiah berupa uang dan wdihan dalam jumlah terbatas. “Mengapa hal itu terjadi belum jelas, mungkin ada kaitannya dengan keadaan perekonomian pada masa itu,” tulis Edhie. Pekerjaan Kena Pajak Ada beragam sebutan untuk orang-orang yang bekerja berhubungan dengan pakaian. Misalnya, tukang membuat wdihan disebut pawdihan. Sedangkan pembuat kain tipis disebut manwring. Winda Saputri, lulusan arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam “Distribusi Pakaian pada Abad X Masehi: Kajian Melalui Prasasti-Prasasti Sindok”, termuat dalam Menggores Aksara Mengurai Kata, Menafsir Makna , menyebut penjual pakaian dengan cara dipikul disebut mabhasana atau adagang abasana. Sementara penjual kapas disebut makapas atau adagang kapas . Winda menjelaskan, kapas merupakan titik awal produksi pakaian, khususnya pada era kekuasaan Mpu Sindok di Kerajaan Mataram Jawa Timur. Kapas bisa dijual langsung atau dipintal menjadi benang ( lawe ). Pemintal biasanya menghasilkan benang polos atau berwarna putih. Untuk benang berwarna, benang putih itu kemudian dibawa ke tukang celup. Menurut Edhie, penyebutan tukang celup dibedakan berdasarkan warna kain yang dibuat. Tukang celup kain warna merah disebut manglakha , warna hitam ( manambul ), dan warna biru ( manila ). Benang-benangitu dijual kepada penenun untuk diolah menjadi kain. Setelah menjadi pakaian kemudian dijual oleh mabasana. Pekerjaan-pekerjaan itu termasuk dalam golongan pengrajin yang dikenai pajak usaha dalam batas tertentu. Prasasti Jeru Jeru (930) mencatat ada beberapa usaha yang dikenakan pembatasan. “Pembatasan usaha di sebuah sima diterapkan kepada sejumlah pedagang, termasuk pedagang pakaian, pedagang mengkudu, dan pedagang kapas,” tulis Edhie. Untuk pedagang kapas dan mengkudu, dagangannya dibatasi sembilan buntal. Sedangkan pedagang pakaian dagangannya dibatasi lima buntal. “Apabila memiliki barang dagangan melebihi batasan yang ditatapkan akan dikenai pajak,” tulis Edhie. Menurut Prasasti Cungrang II (929), lawe juga termasuk barang dagangan yang dibatasi. Apabila pedagang lawe membawa dagangan lebih dari lima buntal, dia wajib membayar pajak. “Pedagang lawe membawa dagangannya dengan cara dipikul,” tulis Winda. Macadar atau penenun juga diwajibkan membayar pajak dan dibatasi usahanya. Dalam Prasasti Gulung-Gulung disebutkan seorang macadar hanya diperbolehkan memiliki empat alat tenun. Distribusi Pakaian Dalam proses distribusi, penenun bisa menjual pakaian langsung ke konsumen atau melalui pedagang perantara. “ Mabasana bisa diasumsikan sebagai perantara karena di dalam prasasti Sindok, mabasana disebut sebagai pedagang,” tulis Winda. Distribusi pakaian tak hanya di Jawa. Jual beli pakaian juga melibatkan perdagangan internasional. Epigraf Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi , menjelaskan sebagaimana berita dari Dinasti Sung yang menyebutkan pengiriman berbagai jenis kain ke Cina, Jawa juga mengimpor kain dari luar wilayah. Ada kain yang dibuat di India dan Cina. Baca juga: Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno Dalam Prasasti Jurunan (876) disebutkan wdihan bwat king putih atau wdihan buatan Keling putih atau India. Prasasti Taji (901) menyebut kain bwat waitan atau kain buatan Timur. Sedangkan Prasasti Saranan (929) menyebut kain bwat lor (kain buatan Utara). “Belum jelas asalnya karena hanya disebut dari Utara dan Timur saja,” tulis Titi. Kain-kain itu nilainya tinggi. Kain bwat waitan berharga 8 masa emas atau setara 19,2 gram emas. Kain-kain ini hanya dipersembahkan kepada pejabat tinggi kerajaan. “Dari jenis kain yang banyak sekali, sebagian besar merupakan produksi dalam negeri,” tulis Edhie. Baca juga: Hiburan Masyarakat Jawa Kuno
- Tabula Rasa yang Menggugah Selera
SUATU pagi di jembatan keretaapi, Mak (diperankan Dewi Irawan) mendapati sesosok pemuda Papua dengan pakaian compang-camping tergolek tak sadarkan diri. Setelah diamati lebih dalam, orang itu ternyata masih hidup. Keduanya sama-sama kaget sampai Mak melayangkan tamparan spontan yang membuat pemuda Papua itu pingsan lagi. Adegan kocak itu hanya sebagian dari pembuka drama komedi bertajuk Tabula Rasa garapan sutradara Adriyanto Dewo. Tabula Rasa mengisahkan perantauan Hans (Jimmy Kobogau) dari Serui ke Jakarta demi jadi pesepakbola. Nasib getir menimpa Hans kemudian. Cedera patah kaki membunuh mimpinya hingga harus hidup menggelandang. Hans, pemuda Papua yang jadi gelandangan akibat karier sepakbolanya hancur (Lifelike Picture) Cerita kemudian beralih ke adegan ajakan Mak pada Hans untuk membantu di rumah makan masakan Padang Takana Juo milik Mak. Rumah makan itu pasalnya hanya beroperasi dengan dibantu Natsir (Ozzol Ramdan) sebagai pelayan dan Parmanto (Yayu Unru) sebagai juru masaknya. Hari di mana Mak menemukan Hans adalah hari spesial bagi penyintas gempa Padang 2009 itu. Mak meracik sendiri sajian istimewa untuk Hans, gulai kepala ikan kakap. Satu-dua suap, Hans menyesapi cita rasanya dan langsung jatuh hati pada kuliner Minang itu. Tetapi kehadiran Hans di RM Takana Juo tak disikapi hangat oleh Parmanto. Karena rumah makan mereka sedang sepi, tak semestinya mengambil karyawan baru. Alhasil Parmanto pilih angkat kaki. Yang membuat Mak sakit hati adalah Parmanto bekerja di restoran Padang lebih besar tepat di seberang rumah makan mereka yang sederhana. Harapan Mak kini hanya bergantung pada Hans dan Natsir. Kolase konflik dalam Tabula Rasa gegara kehadiran Hans (Lifelike Picture) Mak mengajari Hans memasak aneka masakan Padang dengan sabar. Proses memasaknya masih memakai banyak peralatan sederhana, seperti tungku kayu bakar atau alat pemeras santan tradisional sebagaimana leluhur. “Hans, ingat ini setiap masak randang ya. ‘ Kurang kacau cik kambiangan, talampau kacau bapalantiangan. ’ Kalau kurang diaduk, kuah santan akan menggumpal seperti tahi kambing. Aduknya pakai perasaan,” kata Mak berpesan dengan menyisipkan pantun. Namun, tetap saja rumah makan mereka sepi pengunjung. Mak, Hans, dan Natsir hanya menatap kosong saat melihat restoran lebih besar di seberang sedang ramai pembeli. Dalam hati Hans, kunci mereka bisa menang persaingan hanya dengan menu istimewa yang pernah ia cicipi: gulai kepala ikan. Menu tersebut tidak dijajakan di semua rumah makan atau restoran Padang, termasuk Restoran Caniago yang jadi saingannya itu. Namun Mak urung mengabulkan ide Hans lantaran punya pengalaman getir terhadap sajian spesial itu. Apakah Mak akan berubah pikiran? Apakah gulai kepala ikan itu akan menyelamatkan rumah makan mereka dari jurang kebangkrutan? Agar lebih seru, saksikan sendiri kelanjutannya di aplikasi daring Mola TV. Gulai yang Menyatukan Tabula Rasa memanjakan mata dengan aneka suguhan kuliner khas Minang dan telinga seperti kita sedang berada rumah makan Padang. Selain membumbui music scoring melankolis dan komikal di adegan-adengan jenaka, komposer Lie Indra Perkasa cukup banyak menyisipkan irama musik Melayu dan Minang. Alur ceritanya memang cenderung klasik dan sederhana. Namun ibarat kuliner Minang itu sendiri, di sinilah letak esensinya: sarata nilai dan pesan di balik kesederhanaannya. Kesederhanaan yang paling tampak namun punya makna mendalam adalah soal persatuan antarsesama orang Indonesia, antara Hans yang berasal dari timur dan Mak dari barat. Persatuan itu makin kuat lantaran adanya silang budaya, di mana Hans jatuh hati pada gulai kepala ikan khas Minang dan Mak menikmati masakan ikan kuah kuning dengan papeda Hans. Tak melulu kuliner Minang, Tabula Rasa juga menyisipkan satu kuliner timur, Ikan Kuah Kuning dengan Papeda (Lifelike Picture) Semua itu dikemas dalam drama cantik yang bertolak dari riset mendalam. Tim produksi membuatnya dibantu advisor pakar kuliner Reno Andam Suri dan kakaknya, chef Adzan Tri Budiman. Risetnya dilakukan langsung di Pariaman, Sumatera Barat. Hasilnya kemudian dipresentasikan dalam sebuah workshop agar para pemerannya bisa menguasai teknik-teknik memasak dan juga menggunakan banyak peralatan tradisional. “Karena enggak semua orang bisa masuk ke Sumatera Barat, ke dapur-dapur mereka karena dapur kan area tertutup. Enggak bisa berbagi cerita atau rahasia. Ya aku bantu karena sudah (mudah) lewat dari bukuku udah ketemu banyak ibu-ibu. Kita datang untuk bikin dokumentasi, untuk melihat dapur tradisionalnya juga, termasuk gimana bikin dapurnya Mak dalam film harus seperti apa,” kata Reno kepada Historia secara virtual. Selain soal keotentikan cara meracik randang, yang jadi highlight dalam Tabula Rasa, yang tak kalah penting adalah soal cara mengolah dan menyajikan gulai kepala ikan khas Minang. Tidak seperti gulai dari daerah lain, gulai kepala ikan lazimnya dibuat orang-orang Minang dengan tidak menyajikan secara utuh dan matanya menghadap ke atas. “Memang biasanya (gulai kepala ikan) disajikan terbalik, matanya di bawah. Dibelah dua dulu jadi kita enggak lihat (matanya). Ada yang bilang bahwa tega enggak tega lihat matanya. Ada yang bilang jadi lebih estetik,” imbuh penulis buku Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang dan Rendang: Minang Legacy to the World tersebut. Penggambaran dapur tradisional dengan beragam alat masak tradisional pula sesuai aslinya di tanah Minang (Lifelike Picture) Gulai kepala ikan, diungkapkan Yuyun Alamsyah dalam Bangkitnya Bisnis Kuliner Tradisional , sejak dulu jadi menu yang menggugah emosi dan menimbulkan pengalaman tersendiri bagi para penikmatnya. Cita rasa bumbu gulainya yang sensasional akan menggugah hati untuk berupaya keras mendapatkan daging yang sedikit di kepala ikannya. “Cara makan dengan mengerahkan banyak tenaga baik dengan cara memecah kepala ikan sampai menghisap tulangnya ternyata menjadi kegiatan yang menyenangkan. Orang akan kembali menikmati gulai kepala ikan tidak hanya rasa gulainya yang sedap tapi cara makan yang unik,” tulis Yuyun. Hidangan itu, menurut Tabula Rasa , adalah versi gulai ikan khas pesisir dan perantauan yang memang jamak ditemui di rumah-rumah makan di luar Sumatera Barat. Perbedaannya dengan gulai dari daerah pedalaman Minang adalah penggunaan rempah-rempah yang lebih banyak. “Jadi rata-rata orang (umum) mengenal gulai kepala ikan adalah (versi) orang-orang rantau: orang Bungus, orang Pariaman, Teluk Bayur; jadi orang pesisir. Orang rantau ini memasukkan rempah-rempah ke dalam gulainya. Bumbu dasarnya sama tapi kemudian yang rantau menambahkan rempah-rempah seiring perdagangan rempah-rempah,” sambung Reno. Gulai Kepala Ikan versi dibelah dua (kiri) dan versi disajikan utuh (Lifelike Picture/ Aneka Masakan Gulai & Kari ) Memang, berabad-abad lalu orang pedalaman Minangkabau banyak menanam rempah-rempah macam lada, damar, kayu manis, dan pala. Namun hasilnya diperdagangkan oleh para saudagar Aceh karena Minangkabau masuk dalam wilayah Kesultanan Aceh sejak awal abad ke-17. “Mereka hanya menanam. Hasilnya dibawa oleh Aceh dan diperdagangkan sampai ke India dan ke mana-mana. Jadi perdagangan rempahnya itu ramai di pesisir. Kemudian ketika Aceh mengalami kemunduran, masuklah Belanda sehingga lebih terbuka. Tadinya begitu dikuasai Aceh itu inklusif, tertutup. Ketika mulai terbuka, masuklah lebih banyak orang-orang India sampai ke pesisir,” imbuh perintis bisnis kuliner rendang kemasan bermerk “Rendang Uni Farah” itu. Maka, gulai kepala ikan dengan tambahan rempah-rempah, terutama gulai yang bumbunya sudah terkandung rempah-rempah asal India seperti kardamungu dan kapulaga, kemudian tak hanya dikenal masyarakat Minang tapi juga masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Satu yang tetap dilestarikan jadi ciri khas gulai kepala ikan Minang adalah pemakaian asam kandis dan daun ruku-ruku, sebagaimana yang digambarkan dalam salah satu adegan Tabula Rasa . “Jadi salah satu bahan utama yang ada di gulai kepala ikan adalah menambahkan asam kandis. Memang ada yang bilang asam kandis tanaman endemik Sumatera Barat, ada juga yang bilang itu dari India. Bedanya lagi, di Sumatera Barat pakai daun ruku-ruku. Kita (orang Minang) bangga banget dengan ruku-ruku itu untuk menghilangkan amis, menambah aroma dan buat menambah rasanya juga,” terang Reno. Pakar kuliner Reno Andam Suri (Tangkapan Layar Google Meet) Dari cara memasak dan komposisi bumbunya itu terkandung filosofi persatuan dari sekian yang berbeda, bhinneka tunggal ika . Jadi aneka kuliner kondang bersantan Minang, seperti gulai kepala ikan atau randang, bermula dari satu kumpulan bumbu dasar yang sama. Dari situ bisa lahir masakan yang berbeda-beda hanya karena berbeda proses memasaknya. “Karena gulai sesungguhnya adalah proses memasak. Jadi bisa gulai apapun. Gulai kepala ikan, gulai tunjang, gulai (sayur) nangka dan sebagainya. Bumbu-bumbu membuat gulai itu adalah sama dengan membuat rendang. Makanya kalau ditanya sejarah sejak kapan gulai kepala ikan ada, hampir sama dengan waktu kapan kita mengenal randang,” jelasnya. Menurut Reno, cara orang Minang memasak hidangan bersantan berjenjang dengan tiga tahap: menggulai, kalio, dan merandang. Dari ketiga tahapan itu bisa lahir beraneka santapan. Daging sapi atau daging kerbau, misalnya, juga bisa digulai dan kepala ikan pun bisa dirandang. “Kapan gulai kepala ikan itu dikenal? Ya seiring kita tahu ada randang. Karena menggulai adalah proses mematangkan bumbu-bumbu itu menjadi kuah santan yang sudah keluar sedikit minyaknya. Kalau sudah keluar lebih banyak minyaknya dan makin kental namanya kalio. Merandang jadi tahap akhir karena dia proses menihilkan air,” tandasnya. Masakan Gulai Kepala Ikan yang khas dengan daun ruku-ruku (Lifelike Picture) Deskripsi Film: Judul: Tabula Rasa | Sutradara: Adriyanto Dewo | Produser: Sheila Timothy | Pemain: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Yayu Unru, Ozzol Ramdan | Produksi: Lifelike Pictures | Genre: Drama Komedi | Durasi: 107 menit | Rilis: 24 September 2014, Mola TV .
- Perempuan Dobrak Patriarki Olimpiade
OLIMPIADE Tokyo 2020 menjadi momen makin ditinggalkannya budaya patriarki. Keikutsertaan para atletnya yang imbang antara putra dan putri merupakan salah satu indikatornya. Selain itu, olimpiade kali ini juga menjadi yang pertama kali mengikutsertakan seorang transgender, yakni Laura Hubbard (Selandia Baru), yang bertanding di cabang angkat besi nomor +87 kg putri. Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga memprogramkan, setiap kontingen diwajibkan membawa dua pengusung bendera, satu atlet putra dan satu putri, dalam defile upacara pembukaan. “IOC berkomitmen terhadap kesetaraan gender di semua area, dari atlet-atlet yang bertanding maupun perempuan yang berperan dalam kepemimpinan di organisasi olahraga. Gerakan Olimpiade mulai bersiap menyongsong tonggak sejarah baru dalam upaya menciptakan dunia olahraga yang setara bagi semua gender –menjadi Olimpiade yang paling berimbang dalam sejarah,” ujar Presiden IOC Thomas Bach di laman IOC . Mengutip laman resmi IOC, 8 Maret 2021, keikutsertaan atlet putri nyaris mencapai 48,8 persen dari keseluruhan 11.090 atlet yang berlaga. Angka tersebut naik dari Olimpiade Rio de Janeiro 2016 yang mencapai 45 persen. Kontingen China menjadi kontingen dengan atlet putri terbanyak. Dari 433 atlet yang ikut serta, 69 persennya adalah atlet putri. Padahal, Olimpiade Tokyo 2020 sempat diwarnai kontroversi terkait diskriminasi gender. Mengutip Reuters , 22 Juli 2021, setidaknya ada dua kontroversi yang menyinggung kaum perempuan. Pertama , pernyataan presiden Komite Olimpiade Tokyo Yoshirō Mori pada 12 Februari 2021. Dia menyatakan perempuan terlalu banyak bicara jika ikut dalam rapat atau pertemuan. Akibatnya, dunia internasional mengecamnya. Mori mundur dari jabatannya dan digantikan tokoh olahraga perempuan, Seiko Hashimoto. Kedua , ulah kepala bidang kreatif Olimpiade Tokyo Hiroshi Sasaki pada 18 Maret 2021. Dia juga mundur setelah melontarkan komentar body shaming terhadap komedian Naomi Watanabe dengan mengatakan, ia bisa ikut jadi atlet “Olympig”. Kontingen Republik Rakyat China membawa atlet putri terbanyak di Olimpiade Tokyo 2020 ( olympic.cn ) Patriarki Sejak Olimpiade Kuno Budaya patriarki dalam olimpiade sejatinya sudah ada sejak Olimpiade kuno yang rutin digelar empat tahun sekali sejak 776 SM-393 M di Yunani. Walaupun ritual api Olimpiade disulut oleh para biarawati perawan, kaum perempuan tetap diharamkan terlibat lebih. Jangankan ikut serta dalam laga, untuk bisa menonton saja mereka sangat dilarang. Jika melanggar, bisa dijatuhi hukuman mati. Pengecualian hanya dibuat untuk para biarawati Demeter, dewi kesuburan dan hukum suci. Demeter dianggap paling berperan dalam setiap musim panen dan pergantian musim dingin dan musim panas yang stabil di muka bumi. “Itulah mengapa Demeter dipuja semua orang Yunani dan oleh karenanya para biarawati Demeter Chamune adalah perempuan yang hanya boleh hadir di Olimpiade. Mereka disediakan kursi dan altar khusus di stadion untuk bisa melakukan ritual-ritual persembahan untuk Dewi Demeter,” tulis Neil Faulkner dalam A Visitor’s Guide to the Ancient Olympics. Patung perunggu atlet putri dari zaman Yunani Kuno ( britishmuseum.org ) Lantaran hanya mereka yang diizinkan, maka ketika seorang janda Kallipateira menyamar sebagai laki-laki demi mendampingi putranya, Peisirodos, bertanding dalam cabang tinju, ia menanggung akibatnya kendati banyak yang terkecoh dibuatnya. “Saat putranya menang, ia meloncat pagar sampai pakaiannya tersingkap dan membongkar penyamarannya. Dia mestinya dihukum mati; tetapi karena ia adalah seorang putri dan saudari para juara Olimpiade sebelumnya, dia diampuni,” ungkap Nigel Spivey dalam The Ancient Olympics. Oleh karena itulah Olimpiade khusus perempuan diadakan terpisah. Dalam catatannya yang berjudul Hellados Periegesis ( Description of Greece ), penjelajah Yunani pada abad kedua Masehi bernama Pausanias mengungkapkan, di sekitar abad kedua ada sebuah festival olahraga perempuan empat tahunan untuk menghormati Dewa Hera bernama “Heraia” di kota Eleia (kini kota Elis). “Pausanias memberikan penggambaran detail tentang pengaturan olahraganya, termasuk trek (atletik) di stadion diperpendek jaraknya dari 180 meter menjadi 160 meter. Perbedaan ini tak merefleksikan perbedaan kemampuan fisik namun karena pandangan kaum pria Yunani yang menganggap perempuan secara alamiah inferior dari kaum pria,” tulis Judith Swaddling dalam The Ancient Olympic Games. Namun, setiap pemenang tetap berhak mendapat tanda kemenangan yang sama, berupa mahkota daun zaitun plus seekor sapi betina muda sebagai tumbal persembahan untuk Dewi Hera, dan sebuah patung perunggu berbentuk si atlet sendiri untuk dipajang di kuil Dewi Hera. Gebrakan Perempuan di Olimpiade Modern Kultur patriarki itulah yang tetap dibawa Baron Pierre de Coubertin, tokoh olahraga Prancis, kala menggagas Olimpiade modern. Ia menganggap kaum perempuan tidak pantas diikutsertakan dalam cabang olahraga apapun dalam Olimpiade modern pertama, Olimpiade Athena 1896. “Walau seorang visioner dalam Olimpiade modern, Coubertin tak pernah mendukung partisipasi perempuan sampai ia wafat pada 1937. Ia mengatakan: ‘Betapapun tangguhnya seorang olahragawati, fisiknya secara biologis tidak cocok menahan benturan atau syok tertentu. Mestinya perempuan sekadar menyemangati putra atau suaminya yang bertanding semata. Mengikutsertakan perempuan dalam olahraga tidak akan praktis, menarik, estetik, dan pantas,’” ungkap Satpal Kaur dalam Glimpse of Women in Sport. Kendati begitu, tetap saja ada perempuan yang berupaya ikut serta di Olimpiade tersebut. Adalah pelari Yunani Stamata Revithi yang bersikeras untuk ikut di cabang atletik nomor maraton 40 kilometer. Namun, upaya atlet yang oleh publik dijuluki “Melpomene”, merujuk pada penyanyi tragedi Yunani Kuno, itu tetap ditolak keikutsertaannya. Panitia beralasan ia terlambat mendaftar. Banyak pihak meyakini, penolakan terhadapnya karena isu gender. Charles Pierre de Frédy, Baron de Coubertin (kiri) dan ilustrasi Stamata Revithi ( olympics.com/storiedisport.it ) Revithi tak terima. Sebagai bentuk protes, ia pun melakoni lari maraton 40 kilometer seorang diri. “Stamata Revithi, seorang perempuan sekitar 30 tahun dari Piraeus, ibu dari seorang bayi berumur 17 bulan, berlari selama lima setengah jam pada 11 April, satu hari setelah perlombaan (maraton) resmi,” tulis Surat kabar Astion , 12 April 1896. Dalam Olimpade Paris 1900, yang dihelat dalam rangka pameran dunia L’Exposition Universelle Internationale, IOC mulai membuka pintu buat para atlet putri. Meski Coubertin masih menentangnya, ia terpaksa melunak lantaran didesak beberapa negara anggota. Alhasil, 22 atlet putri ikut bertanding dengan 975 atlet putra dalam cabang-cabang olahraga golf, tenis, croquet, dan berlayar. Cabang-cabang olahraga elite dan kompetitif seperti atletik dan akuatik belum mengizinkan perempuan berpartisipasi. Sejarah mencatat nama Hélène de Pourtalès sebagai perempuan pertama yang memenangi medali emas berlayar nomor “1 to 2 ton” yang dihelat 22-25 Mei 1900. Ia memenanginya dalam kategori “tim” untuk kontingen Swiss lantaran cabang itu dilakoninya bersama suaminya, Hermann, dan keponakan suaminya, Bernard. Charlotte Cooper Sterry yang mestinya menang medali emas pertama sebagai atlet putri individu ( teamgb.com ) Dua bulan berselang, Charlotte Cooper dari Inggris tampil sebagai atlet perempuan pertama yang menang medali emas di kategori individu. Charlotte juara di cabang olahraga tenis tunggal putri. Langganan kampiun Wimbledon itu juga merebut emas di nomor ganda campuran berpasangan dengan Reginald Doherty. Seiring perjalanan waktu, keikutsertaan atlet putri mengalami pasang-surut. Di Olimpiade St. Louis 1904 hanya ada enam atlet putri berbanding 645 atlet putra. Di olimpiade ini cabang panahan mulai mengikutsertakan perempuan. Jumlah atlet putri yang berpartisipasi naik drastis menjadi 37 orang di Olimpiade London 1908. Kendati begitu, persentasenya masih kecil karena ada 1.971 atlet putra yang berpartisipasi. Selain berlaga di cabang tenis dan panahan, para atlet putri itu mulai ikut cabang baru, figure skating (seluncur indah). Di Olimpiade Stockholm 1912, sebanyak 47 atlet putri ikut serta dan mulai tampil dalam laga-laga akuatik. Namun hingga awal 1920-an, isu tentang gender masih dipermasalahkan para pembuat kebijakan IOC dan IAAF (induk atletik amatir internasional). Upaya Alice Milliat, pendiri La Fédération Sportive Féminine Internationale (FSFI), sejak 1919 memperjuangkan atlet putri bisa diikutkan di cabang atletik melulu berbuah penolakan. Alice Joséphine Marie Milliat (atas) dan kolase atlet Olimpiade Wanita (Bibliothèque nationale de France/Twitter @FAMilliat/nationaalarchief.nl/Agence Rol) Oleh karena itulah Milliat bersama Camille Blanc yang memimpin FSFI akhirnya menggelar Olimpiade tandingan khusus atlet putri secara berturut-turut pada 1921, 1922, dan 1923 di Monaco, dan pada 1924 di London. Olimpiade tandingan yang perlahan populer itu pun mulai membuka mata para petinggi IAAF hingga akhirnya bersedia memberi rekomendasi kepada IOC agar para atlet putri bisa berlaga di cabang atletik Olimpiade Amsterdam 1928. “Meluasnya kepopuleran olimpiade wanita itu membuat IAAF mau melakukan pendekatan ke FSFI demi mencapai beberapa kesepakatan. Namun di balik itu IAAF sebenarnya tetap ingin mengontrol atletik putri. IAAF setuju mengikutkan perempuan di atletik hanya di lima nomor. Milliat bersikeras ingin semua nomor dan tim putri Inggris memprotes lebih keras dengan memboikot Olimpiade 1928,” ungkap Margarete Costa dan Sharon Ruth Guthrie dalam Women and Sport: Interdisciplinary Perspectives. Olympisch Stadion di Amsterdam yang jadi venue atletik Olimpiade 1928 akhirnya jadi saksi bisu keikutsertaan atlet putri di cabang atletik dan senam. Olimpiade musim panas itu sendiri diikuti 277 atlet putri (berbanding 2.606 atlet putra). Sebanyak 95 atlet putri berlaga di lima nomor cabang atletik. Seiring zaman atlet putri tampil di atletik, sepakbola, basket, hingga voli indoor (IAAF/FIBA/Twitter @usavolleyball/jfa.jp) Sprinter Amerika Serikat Betty Robinson tercatat jadi atlet pertama yang memenangi emas di nomor 100 meter putri. Lina Radke (Jerman) menguasai nomor 800 meter; kuartet Myrtle Cook, Ethel Smith, Bobbie Rosenfeld, dan Jane Bell (Kanada) di nomor estafet 4 x 100 meter; Ethel Catherwood (Kanada) di nomor lompat tinggi, dan Halina Konopacka (Polandia) di nomor lempar cakram. Sementara, cabang senam yang baru melibatkan nomor artistik beregu dimenangkan tim Belanda. Pasca-Perang Dunia II, IOC perlahan membuka pintu lebih lebar buat keikutsertaan atlet putri. Semua cabang baru yang dilombakan di Olimpiade, termasuk bulutangkis dan sepakbola, mengizinkan kekutsertaan atlet putri. “Untuk mendorong dan mendukung promosi terhadap kaum perempuan dalam olahraga pada semua level dan semua struktur dengan pandangan untuk mengimplementasikan prinsip kesetaraan laki-laki dan perempuan,” demikian bunyi butir 2.8 dalam Olympic Charter.
- Mata-mata Jepang dalam Kekalahan Belanda
ORANG-orang Jepang telah tinggal di Surabaya sejak zaman kolonial Belanda. Di antara mereka banyak yang membuka toko, misalnya toko Chioda yang bersebelahan dengan toko besar milik orang Inggris, Whiteway. Namun, mereka tiba-tiba meninggalkan tokonya. Mencurigakan. Ternyata, pemerintah Jepang telah memberi tahu warganya bahwa perang dengan Belanda tidak terhindarkan. Mereka pun pulang secara bertahap dengan kapal-kapal Jepang yang rutin berlayar ke Hindia Belanda. “Toko Jepang terbengkalai atau dibeli pedagang Tionghoa. Ada sebagian diklaim pemerintah militer Jepang. Tetapi, banyak sumber menyebutkan terbengkalai,” kata Meta Sekar Puji Astuti, Ketua Departemen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin Makassar, kepada Historia beberapa waktu lalu. Sejarawan Frank Palmos dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku menyebut bahwa perginya mereka bagian dari rencana panjang Jepang yang terpantau oleh badan intelijen Hindia Belanda. Seperti dijabarkan dalam laporan resmi tentang kegiatan mata-mata Jepang, Ten Years of Japanese Burrowing in the Netherlands East Indies , yang diterbitkan oleh Netherlands East Indies Service pada 1942. “Dokumen ini melaporkan secara detail siasat Jepang memperkuat jaringan spionase beberapa tahun sebelum menyerang,” tulis Palmos. Palmos melanjutkan, pihak intelijen pemerintah kolonial Belanda melampirkan bukti bahwa warga sipil Jepang yang menghilang sebelum pasukan Jepang mendarat, datang kembali dalam seragam militer bersama pasukan pendudukan. Ide Anak Agung Gde Agung, menteri luar negeri era Sukarno, mengungkapkan bahwa mata-mata Jepang pada masa kolonial Belanda sering bepergian dari kota ke kota, dari pelabuhan ke pelabuhan, untuk menghimpun informasi, tanpa menimbulkan kecurigaan karena menyamar sebagai pebisnis. “Gerak-gerik mata-mata Jepang menjadi gamblang maksudnya ketika mereka kembali sebagai bagian dari pasukan pendudukan,” tulis Palmos. Yang jelas, informasi yang mereka kumpulkan telah dilaporkan dan dimanfaatkan dengan baik oleh militer Jepang dalam menentukan lokasi pendaratan pasukan infanteri mereka. Bahkan, menurut Palmos, berkat pengetahuan mendalam mata-mata Jepang soal industri minyak bumi di Hindia Belanda, sabotase Belanda pada instalasi minyak bumi menjelang kekalahan dengan mudah dapat diperbaiki oleh Jepang. Pada 8 Desember 1941 melalui siaran radio diumumkan perang antara Jepang dan Belanda. Pada 9 Januari 1942, Belanda menangkap sekira 2.093 orang Jepang, hampir semuanya laki-laki, yang masih berada di Hindia Belanda dan mengasingkannya ke Australia. Jepang mengalahkan Belanda dengan mudah dan mengambil alih pendudukan atas Indonesia pada Maret 1942. “Sejarah toko Jepang ini bisa dikatakan terhapus dari Hindia Belanda yang kemudian digantikan dengan sejarah pendudukan Jepang di Hindia Belanda,” kata Meta. Meskipun sebagian besar pemilik dan pengelola toko Jepang kembali ke Jepang, namun sekira 707 orang Jepang kembali ke Indonesia. Menurut Meta, kembalinya mereka sebagai pegawai pemerintah militer Jepang menguatkan dugaan bahwa semua mantan pemilik dan pengelola toko Jepang di Hindia Belanda adalah mata-mata. “Mereka datang bukan untuk berdagang, tetapi bekerja untuk pemerintah pendudukan,” kata Meta yang menulis buku Apakah Mereka Mata-mata? Orang-orang Jepang di Indonesia 1868–1942. Mengapa Belanda tidak siap menghadapi Jepang padahal rajin mengumpulkan data tentang kegiatan mata-mata Jepang? Menurut Palmos, salah satu sebab Belanda kedodoran adalah keyakinan mereka bahwa pangkalan militer Inggris di Singapura tidak mungkin dikalahkan Jepang. Jika Singapura tidak bisa runtuh, Jepang pun tidak bisa masuk ke Hindia Belanda. Ketika Inggris di Singapura benar-benar takluk, pemerintah Hindia Belanda panik. Belanda dengan mudah ditaklukkan oleh Jepang. Rakyat Surabaya penasaran bagaimana rupa bangsa penakluk Belanda. Mereka keluar rumah untuk menyaksikan tentara Jepang yang masuk melewati jalan-jalan. Mereka terkejut melihat tentara Jepang yang pendek di atas sepeda, memanggul bedil yang terlihat kebesaran untuk postur mereka. Awalnya kehidupan berjalan seperti biasa. Semuanya berubah dalam waktu singkat. Jepang mengerahkan dengan paksaan semua sumber daya untuk keperluan perang. Meski hanya tiga setengah tahun, pendudukan Jepang telah mengakibatkan penderitaan bagi rakyat Indonesia.*
- Pelajar Indonesia di Jepang Bekerja di Markas Sekutu
SERANGKAIAN kereta listrik tiba di stasiun Tokyo. Hampir tiap keretanya penuh sesak oleh penumpang orang Jepang. Kecuali satu kereta. Sangat lowong. Tertulis di badan kereta tersebut “Kereta Khusus untuk Tentara Sekutu”. Bahrin Samad, seorang pelajar Indonesia di Jepang, langsung memasukinya. Bahrin percaya diri memasukinya karena mengenakan seragam GI ( Government Issue atau Tentara Amerika Serikat). Pada stasiun berikutnya, beberapa anggota GI kulit putih masuk. Sebagian bernyanyi-nyanyi, lainnya kelihatan mabuk. Seorang GI mabuk mendekat ke Bahrin. Tanpa banyak cingcong, dia langsung menampar muka Bahrin.
- Pertarungan Dua Raksasa Komunis di Perbatasan
YURI Vasilievich Babansky (terakhir berpangkat letnan jenderal) kesal generasi muda Rusia banyak yang tak paham sejarah negerinya. Terlebih, pada Perang Perbatasan pada 1969 yang dirinya ikuti. Konflik singkat namun berdarah itu lama dipendam sehingga kini nyaris terlupakan. “Sayang sekali untuk disadari, tetapi orang-orang muda, yang sudah berusia lebih dari 20 tahun, tidak mengetahuinya, seperti yang Anda lihat, tidak ada apa-apa. Seringkali, Anda dapat mendengar yang berikut: ‘Kami melupakan Perang Patriotik Hebat, kami hampir tidak ingat perang dengan Prancis pada tahun 1812, kami tidak mengingat Perang Saudara sama sekali.’ Dua komponen mendidih dalam diriku sekarang. Dengan perasaan emosional saya untuk Damansky, saya lebih suka bahwa Rusia berdiri tegak dan tidak memberikan pulau ini, dan, saya pikir, tidak ada yang akan menjadi lebih buruk dari ini. Dan dari posisi sadar, saya menemukan Cina sebuah negara yang masih mampu merebut sebidang tanahnya sendiri,” ujarnya sebagaimana dikutip Ratibor Khmelev dalam artikelnya di en . topwar . ru edisi 9 April 2021, “Yuri Babansky Will Not Forget Damansky”. Perang Perbatasan antara Soviet dan Republik Rakyat China (RRC), yang tak dideklarasikan, terjadi pada Maret 1969. Perang tersebut memperebutkan pulau kecil Zhenbao atau Damansky dalam perspektif Russia di Sungai Ussuri, sungai yang menjadi batas wilayah RRC dan Soviet. Hingga tahun 1858, Sungai Ussuri merupakan jalur air internal Tiongkok. Kepemilikan itu diperkuat dengan perjanjian Nerchinsk yang ditandatangani ke-Tsar-an Russia dan Kekaisaran Dinasti Qing pada 1689, yang menyatakan perbatasan kedua negeri berada di Xing’an Luar/Stanovoy yang terletak di utara Amur (sungai yang tegak lurus dengan Ussuri). Setelah Perjanjian Aigun (1858) dan Perjanjian Peking (1860) ditandatangani barulah kepemilikan wilayah timur Ussuri beralih ke Russia. Namun, status kepemilikan itu terus bertahan bahkan hingga kedua negara telah menjadi republik komunis. Solidaritas sesama negeri komunis membuat pemimpin RRC Mao Zedong tak mempermasalahkannya. Upaya mempertanyakan perjanjian tersebut baru mengemuka setelah RRC dan Soviet mulai tidak akur pada akhir 1950-an. Pangkal ketidakakuran tersebut berada pada perbedaan doktrin sebagai hasil interpretasi –yang dilanjutkan dengan praksis– terhadap Marxisme-Leninisme. Kebijakan “Peaceful Coexistence” Soviet, yang mengupayakan perdamaian dengan Blok Barat, dikecam pemimpin RRC Mao Zedong sebagai revisionisme. Tensi hubungan dua raksasa komunis itu meningkat pesat dan akhirnya pecah pada awal 1960-an. Pada 1961 RRC menolak komunisme ala Soviet yang dianggapnya sebagai karya “pengkhianat revisionis.” Hubungan kedua negara pun diwarnai dengan saling lempar kritik. Setelah RRC mengkritik lemahnya respon Soviet terhadap blokade AS dalam Krisis Rudal Kuba (1962), pemimpin Soviet Nikita Khrushchev membalasnya dengan mengejek RRC karena menggertak India dalam sengketa perbatasan RRC-India di wilayah Himalaya (Oktober-November 1962). Pada Juli 1964, RRC membalas lagi dengan menyuarakan dukungannya terhadap Jepang dalam sengketa empat pulau di Kepulauan Kuril antara Soviet-Jepang. RRC kemudian meninjau ulang perbatasannya dengan Soviet, di mana Sungai Ussuri berikut ratusan pulau kecil di dalamnya, termasuk Zhenbao/Damansky, berada. Menurut RRC, Perjanjian Aigun (1858) dan Perjanjian Peking (1860) yang ditandatangani semasa tsar Russia adalah perjanjian tidak setara. Upaya dialog sempat diadakan pada 1964, namun tak menghasilkan apa-apa. Sementara, hubungan buruk kedua negara tetap berlanjut, terlebih ketika pada paruh kedua 1960-an Sekretaris Pertama Soviet Leonid Brezhnev mengambil kebijakan luar negeri lebih keras. Pada musim semi 1969, RRC menolak klaim Soviet sebagai pemimpin gerakan Komunis dunia. Konflik politik tersebut berlanjut dengan perhatian masing-masing terhadap perbatasan bersama. Sementara Soviet menambah kekuatan pasukan perbatasannya dari satu divisi pada 1961 menjadi 22 divisi pada 1969, RRC mengalihkan fokus utama militernya dari perbatasannya di pantai tenggara ke daratan di utara. Di lapangan, konflik politik itu mengubah para pasukan penjaga perbatasan kedua negara dari yang saling tukar hadiah menjadi saling curiga dan waspada. Bentrok antara nelayan kedua negara dengan pasukan penjaga perbatasan negeri tetangganya juga acap terjadi. Konflik fisik antara kedua pasukan penjaga perbatasan yang dimulai pada Januari 1967 kian hari kian bertambah kendati tidak satu pun peluru dimuntahkan militer masing-masing negara. Perintah yang mereka terima dari komando tertinggi masing-masing jelas: dilarang memulai tembakan pertama. “Saat itu, episode seperti itu biasa terjadi: penjaga perbatasan Soviet atau Cina akan berpatroli di salah satu dari banyak pulau yang disengketakan, dan penjaga dari negara lain akan menemui mereka di pulau itu, mengklaim bahwa mereka melanggar wilayah kedaulatan mereka, dan menuntut mereka pergi. Sampai saat ini, konfrontasi biasanya hanya melibatkan sedikit lebih dari teriakan, perkelahian, dan penggunaan pentungan, tongkat, dan sesekali selang kebakaran,” tulis Michael S. Gerson dalam The Sino-Soviet Border Conflict: Deterrence, Escalation, and the Threat of Nuclear War in 1969 . Namun, bentrokan antara nelayan-nelayan Tiongkok dengan pasukan penjaga perbatasan Soviet pada awal 1968 mengubah pola konflik yang ada. Empat warga sipil RRC yang merupakan nelayan di Ussuri tewas oleh peluru penjaga perbatasan Soviet yang panik. Beijing segera memerintahkan militer distrik setempat melakukan pembalasan setimpal. Perintah itu lalu dijabarkan komandan regional dengan membentuk unit komando dari personel elite unit-unit garnisun Shenyang guna menyergap patroli perbatasan Soviet. Pada 25 Januari 1969, proposal diajukan petinggi Distrik Militer Provinsi Heilongjiang dan disetujui Staf Umum Tentara Pembebasan Rakyat dan kemudian pemimpin politik tertinggi. “Pada 19 Februari 1969, sebuah rencana yang diprakarsai otoritas militer Heilongjiang untuk menempatkan tiga batalyon infanteri di Damansky/Zhenbao guna pertahanan melawan ‘revisionisme’ telah disetujui Staf Umum PLA, dan mungkin mengingat kemungkinan dampak internasional, Kementerian Luar Negeri RRT. Pada saat itu, perasaan permusuhan di antara elit dan massa di kedua negara terhadap satu sama lain telah dihasut sedemikian rupa sehingga peluang untuk menyelesaikan masalah perbatasan sama sekali tidak ada,” tulis Chien-peng Chung dalam Domestic Politics, International Bargaining and China’s Territorial Disputes. Konflik makin panas. Kewaspadaan RRC makin meningkat menyusul invasi Soviet terhadap sekutu Blok Timurnya, Cekoslowakia, pada Agustus 1968. “Orang Cina prihatin atas patroli militer Soviet yang semakin intensif di sepanjang perbatasan utara Cina, dan menjadi waspada setelah invasi Chezchoslovakia pada 21 Agustus 1968, dan proklamasi Doktrin Brezhnev berikutnya, yang menyatakan hak Uni Soviet untuk campur tangan dalam negara sosialis guna melestarikan ‘sistem sosial’ mereka. Setelah invasi, Beijing menyatakan dukungan untuk rakyat Cekoslowakia dan mendorong penarikan Albania dari Pakta Warsawa. Karena hubungan Tiongkok-Soviet pada 1969 mencapai titik tidak bisa kembali, Mao mengizinkan demonstrasi perbatasan berlanjut, untuk ‘memberi isyarat’ kepada Uni Soviet bahwa Cina bukanlah Cekoslowakia, dan bahwa Doktrin Brezhnev tidak dapat diterapkan pada ‘sistem sosial Mao.’ Dokumen yang tidak diklasifikasikan dari wilayah Khabarovsk Krai di Timur Jauh Rusia menuduh bahwa pada 1969 saja, sekitar 300 insiden serangan lintas batas harian oleh warga China terjadi,” sambung Chien-peng. Muara dari semua kisruh yang ada itu terjadi pada 2 Maret 1969. Saat itu, lewat dari pukul 10 pagi, Babansky bersama segelintir pasukan perbatasan Soviet yang tak ikut latihan dibuat kaget oleh pemandangan di seberang Sungai Ussuri, di titik perbatasan NIzhne-Mikhailovka. Sekira 30 personel militer RRC terlihat berpakaian kamuflase sedang berbaris melintasi sungai yang sedang membeku menuju Zhenbao. Babansky langsung melaporkannya pada Letnan Senior Ivan Strelnikov selaku komandan pos. Dipimpin langsung Strelnikov, pasukan Soviet segera menuju lokasi guna memperingatkan pasukan RRC menggunakan sebuah BTR-60 dan dua truk ringan. Strelnikov memerintahkan Babansky menghadapi pasukan RRC yang dipimpin Sun Yuguo (komandan pos perbatasan RRC setempat), sementara dia dan enam personelnya bermanuver menuju sungai guna mengapit. Sun Yuguo yang ditugaskan untuk memancing pasukan Soviet, tak khawatir sedikit pun didatangi pasukan Babansky. Di tempat yang tak terlihat lawan di dekatnya telah bersiaga kompi komando RRC yang siap menyergap. Wang Guoxiang, salah satu anggota pasukan komando RRC itu, telah berbaring di atas salju sejak malam sebelumnya di titik kurang dari 20 kaki dari Babansky berada. Dia dan kawan-kawannya tinggal menunggu tembakan aba-aba dari Sun. Begitu tembakan aba-aba berbunyi, pasukan komando RRC langsung memberondong lawannya. Ketika Babansky menoleh ke arah pasukan Strelnikov untuk mencari tahu apa yang terjadi, peluru dari senapan-senapan mesin pasukan RRC telah berhamburan di sekelilingnya. Babansky langsung tiarap sembari melihat pasukan Strelnikov dihabisi komando RRC. “Cina adalah yang pertama memulai ketika pengangkut personel lapis baja kami ditembak terbakar pada 2 Maret,” kata Babansky sebagaimana dikutip Ratibor Khmelev dalam artikelnya di en . topwar . ru edisi 9 April 2021, “Yuri Babansky Will Not Forget Damansky”. Babansky yang mengambil alih komando mencoba bertahan dengan pasukan yang tersisa. Permintaan bantuan segera dilayangkan, dan diterima langsung Komandan Detasemen Perbatasan ke-57 Kolonel Demokrat Leonov yang sebetulnya akan melaporkan keberhasilan unitnya menyelesaikan latihan militer. “Dalam waktu satu jam Kolonel Jenderal Oleg Losik, komandan Distrik Militer Timur Jauh, sedang berbicara di telepon dengan Alexei Kosygin, ketua Dewan Menteri Soviet yang kebingungan. Para pemimpin politik Rusia telah sepenuhnya lengah oleh serangan China. Brezhnev berada di luar negeri, sementara Kremlin disibukkan dengan dampak lanjutan invasi Cekoslowakia tahun sebelumnya serta pertempuan puncak yang akan datang dengan Amerika Serikat,” sejarawan militer Jesse Du dalam “Russia vs. China: How Conflict at the Sino-Soviet Border Nearly Started Nuclear War”, dimuat dalam historynet . com , Juli 2021. Dua jam bertempur hingga hampir kehabisan amunisi, Babansky akhirnya mendapat perintah mundur dari Kolonel Leonov. Gerak mundurnya dibantu oleh beberapa BTR-60 yang didatangkan dari pos 1 Kulebyakiny Sopki dan dipimpin langsung Letnan Senior Vitaly Bubenin. Bubenin justru harus bertempur lantaran BTR-60-nya dimaksa RPG pasukan RRC. Tapi dengan pertempuran itu, Bubenin justru berhasil menyeberang ke sisi RRC dan merebut pos komando RRC. Soviet kehilangan lebih dari 30 serdadunya, termasuk Strelnikov, dalam pertempuran tersebut. Sementara, jumlah korban di pihak RRC tidak diketahui pasti. Kendati hari itu juga pertempuran berdarah itu telah selesai, konflik justru kian tajam. Masing-masing pihak memperkuat pasukannya di perbatasan. Losik memperkuat pasukannya dengan menambahkan Divisi Senapan Motor ke-135 ke belakang Ussuri dan mengerahkan tank T-62 serta peluncur roket multi BM-21 Grad kendati masih menunggu persetujuan Moscow. Di Beijing, Chen Xilian, komandan Distrik Militer Shenyang, mengirim tambahan resimen infanteri dan artileri dari Divisi ke-67. “Cina tampaknya tidak hanya siap secara militer tetapi juga secara politik, dengan cepat meluncurkan gerakan massa pada hari berikutnya yang mencakup lebih dari 400.000 orang. Bahkan lebih banyak orang berpartisipasi dalam protes dan demonstrasi publik selama beberapa hari berikutnya, dan secara keseluruhan sekitar 260 juta orang, atau sepertiga dari populasi RRC, ambil bagian. Namun, demonstrasi dukungan publik ini sama sekali tidak sekeras serangan yang dilakukan terhadap kedutaan besar China di Moskow pada 7 dan 8 Maret oleh ‘gerombolan’ pelempar batu yang berjumlah masing-masing 50.000 dan 100.000, dengan tujuan untuk memecahkan jendela kedutaan dan meneror stafnya,” tulis Chien-peng.*
- Ragam Kuliner Favorit Stalin
HUBUNGAN Rusia dan Inggris memanas Juni hingga akhir Juli ini. Rusia bahkan mengancam akan membinasakan militer Inggris di Laut Hitam. Kemarahan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Inggris disebabkan oleh aksi provokatif kapal perang Inggris pada akhir Juni. Kala itu Putin langsung memberi peringatan yang dipertegasnya lagi kala menghadiri parade Hari Angkatan Laut di Saint Petersburg pada 25 Juli lalu. “Kami mampu mendeteksi musuh di dalam laut, di permukaan, dan di udara dan jika diperlukan, akan melancarkan serangan yang tak terhindarkan,” kata Putin, dikutip Reuters , Senin (26/7/2021). Pertikaian kedua negeri berkekuatan nuklir itu bukan hal baru. Di Perang Dunia II, pemimpin tertinggi Uni Soviet (pendahulu Rusia) Joseph Stalin pernah bertikai dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill. Keduanya berselisih hebat tentang nasib para tawanan perang Jerman dan jalannya kelanjutan perang. Stalin mendesak Sekutu segera membuka front baru di barat, tepatnya di pantai Prancis, demi meringankan pertempuran pasukannya di front timur. Operation Torch, pendaratan pasukan Sekutu di Afrika Utara (8-16 November 1942), yang dilancarkan dianggap Stalin belum meringankan bebannya. Sementara, Churchill bersikeras menentang rencana Stalin mengeksekusi puluhan ribu perwira Jerman. Demi stabilitas Eropa di masa depan, Churchill juga menginginkan Eropa Timur tak begitu saja dikuasai Uni Soviet. Pertikaian itu mendorong Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt memediasi. “The Big Three” (ketiga pemimpin Sekutu) itu pun bertemu di meja makan dalam Konferensi Tehran, 28 November-1 Desember 1943. The Big Three: Joseph Vissarionovich Stalin, Franklin Delano Roosevelt & Sir Winston Leonard Spencer Churchill (US National Archives) Diungkapkan Robert Gellately dalam Stalin’s Curse: Battling for Communism in War and Cold War , perselisihan itu terjadi di permulaan makan malam pada hari ketiga konferensi di gedung Monumen Eynoddowleh, Tehran, dalam pembicaraan tentang tawanan Jerman. Stalin mengatakan ingin mengeksekusi 50 ribu perwira Jerman yang tertawan agar tak bisa melanjutkan perang. “Roosevelt menganggap Stalin hanya bergurau dan menambahi lelucon: ‘mungkin cukup 49 ribu saja.’ Tetapi Churcill yang marah mengatakan: ‘itu akan menjadi eksekusi berdarah dingin. Penjahat perang mestinya lebih dulu diadili menurut Deklarasi Moskow (30 Oktober 1943) yang juga Anda (Stalin) tandatangani.’ Stalin keluar dari ruang makan tapi Stalin membawanya kembali dengan mengatakan ia hanya bercanda. Rupanya Stalin sedang mengecek ombak,” tulis Gellately. Ketegangan mulai sedikit reda saat jamuan makan dimulai. Jika di sarapan atau makan siang ketiganya punya koki-koki pribadi yang menyiapkan sajian, dalam gala dinner menu-menunya disiapkan oleh tim koki asal Inggris. Sebagaimana dituliskan Struan Stevenson dan Tony Singh dalam The Course of History: Ten Meals That Changed the World , menu makan malam itu terdiri dari tiga bagian. Untuk entrée -nya berupa Ash-e-Jow (sup jelai Persia) dan salmon rebus dengan kaviar beluga dilengkapi opsi minuman sampanye, koktail “Bloody Mary”, dan wiski. “Lalu diikuti (hidangan utama) kalkun panggang dengan kentang dan sayuran rebus, serta minumannya anggur Persia Shiraz. Pencuci mulutnya sudah disiapkan chef senior Inggris, yakni soufflé keju, dan ‘Persian Lantern Ice’. Hidangan mewah ini berupa batu es yang berbentuk seperti menara dan di atasnya dihiasi gula halus dan es krim Persia,” ungkap Stevenson dan Singh. Stalin menolak membicarakan politik atau militer selagi bersantap. Seiring berjalannya makan malam, hubungan Stalin dan Churchill kembali mencair akrab. Walau pada awalnya Stalin sempat kebingungan menggunakan bermacam alat makan mewah itu, momen itu membuktikan Stalin mampu menyesuaikan diri dengan kuliner internasional. Selera Lokal Buatan Kakek Putin Meski bisa beradaptasi dengan selera internasional, Stalin sejatinya lebih menyukai hidangan-hidangan lokal. Di masa kecil dan mudanya, sosok bernama lahir Ioseb Besarionis dze Jugashvili itu sangat menggemari kuliner lokal tempat kelahirannya, Georgia, baik yang dimasak ibunya, Ekaterine Giorgis ‘Keke’ Geladze, maupun makanan di asrama atau seminari Gereja Ortodoks Gori. Makanan-makanan lokal Georgia yang disukai Stalin di antaranya da-chire (manisan buah kering), sulguni (acar keju), dan chanakhi (daging domba dewasa yang disemur dengan tomat, terong, kentang, dan bawang putih). Jika tak menemukan restoran yang sesuai seleranya, Stalin kadang memasak sendiri chanakhi versinya. “Stalin sosok yang inovatif (di dapur). Dia bisa mencampurkan dua sup dan remah-remah roti menjadi sebuah hidangan yang rustic . Dia juga menciptakan hidangan bernama ‘Aragvi’ yang diambil dari nama sungai di Georgia. Hidangan itu terdiri dari daging domba muda, terong, tomat, kentang, dan lada hitam yang dicampurkan dalam saus pedas,” ungkap Anastas Mikoyan, mantan menteri perdagangan Soviet, dalam The Book of Tasty and Healthy Food. Hidangan chanakhi khas Georgia (Twitter @BevriFood) Setelah chanakhi atau aragvi , makanan favorit Stalin adalah stroganina . Hidangan khas Siberia ini mirip carpaccio di Italia atau sashimi di Jepang, sama-sama menyajikan ikan mentah. Kuliner itu mulai jadi favorit Stalin semenjak ia diasingkan ke Siberia pada 1903. Ketika sudah jadi pemimpin tertinggi Uni Soviet, Stalin selalu meminta dikirimkan bahan baku ikannya dari Siberia. Stroganina adalah makanan yang lazim disantap masyarakat yang mendiami kawasan Arktik Siberia pada musim dingin, seperti Eskimo, Komi, dan Yakut. Hidangan sederhana itu hanya terdiri dari ikan nelma (sejenis bandeng) atau ikan muksun (sejenis salmon) yang berhabitat di perairan utara. Sebelum dijadikan hidangan, daging ikan nelma atau muksun dibekukan terlebih dulu lalu di- fillet dan ditaburi garam serta merica sebelum disuguhkan mentah-mentah. “Di meja makan Stalin biasanya terdapat ikan bandeng (sungai) Danube, dan favoritnya stroganina selalu juga disajikan di antara zakuski (aneka makanan pembuka). Tidak lupa sup tradisional ukha (kaldu ikan) dan shchi (sup kol),” ungkap Anya von Bremzen dalam Mastering the Art of Soviet Cooking. Stroganina yang mirip carpaccio khas Italia atau sashimi dari Jepang (Twitter @Russia) Menu-menu untuk makan siang dan santap malam itu mulai jadi tanggungjawab Spiridon Ivanovich Putin –yang merupakan kakek Presiden Putin dari garis ayah– setelah Stalin menggantikan Vladimir Lenin. Spiridon pernah bertugas sebagai kru kapal selam dan NKVD (Polisi Rahasia Soviet). “Spiridon sudah belajar memasak sejak usia 15 tahun dan kemudian mencuat jadi chef terkenal di Hotel Astoria di St. Petersburg. Pernah suatu ketika ia melayani Grigory Rasputin. Rasputin begitu terkesan dengan hasil masakannya dan karena punya kemiripan nama, Rasputin memberinya uang tip berupa sekeping rubel emas,” singkap Allen Lynch dalam Vladimir Putin and Russian Statecraft . Pasca-Revolusi 1917, Spiridon diminta Lenin jadi koki pribadi di dacha (rumah peristirahatan) milik Lenin. Meski kemudian rezim berganti, Spiridon tetap dipercaya jadi koki di markas besar Partai Komunis dan kemudian di dacha -nya Stalin. “ Skill kuliner Spiridon membuat elite komunis baru terkesan. Stalin yang juga mengaguminya akhirnya memintanya untuk pindah jadi koki di dacha -nya di Illichovsky yang lazimnya jadi rumah untuk menjamu para pejabat Partai Komunis. Sebagai koki kepala, ia diberikan flat dengan dua kamar dan istrinya, Olga, selalu membantu menyiapkan bahan-bahan sayur dan buahnya,” tulis Chris Hutchins dan Alexander Korobko dalam Putin . Spiridon Ivanovich Putin (kiri), kakek Presiden Rusia Vladimir Vladimirovich Putin dari garis ayah ( kremlin.ru ) Racun dalam Anggur? Sebagai pemimpin tertinggi, tentu Stalin punya banyak musuh baik di luar maupun di dalam negeri. Maka itu Stalin selalu berhati-hati soal potensi racun dalam makanannya. Oleh karenanya, ia membuat beberapa aturan protokoler untuk sebagai upaya preventif. Pertama , ketika sedang menjamu tamu, ia selalu memerintahkan staf pelayan menghidangkan entrée , makanan utama, dan pencuci mulut sekaligus di atas meja. Tujuannya agar mencegah adanya penyusup yang mencemari satu atau beberapa makanan dalam tiga tahap suguhan itu dari dapur. Kedua , jika sedang menjamu tamu, Stalin tak pernah mau makan duluan. Ia akan meminta tamu-tamunya untuk lebih dulu menyantapnya. Bila tiada satupun yang bermasalah, barulah Stalin ikut makan. Ketiga , jika sedang santap sendirian, dia akan memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk mencicipi setiap makanannya terlebih dahulu. Untuk tugas ini selalu dipercayakan Stalin pada Jenderal Alexander Egnatashvili. Disebutkan Roman Brackman dalam The Secret File of Joseph Stalin: A Hidden Life , Alexander adalah putra dari Yakobi ‘Koba’ Egnatashvili, pendeta yang memberkati perkawinan ibu dan ayah Stalin. “Stalin yang mempromosikan Alexander Yakovlevich Egnatashvili ke Kepolisian Rahasia (NKVD) Georgia dan kemudian ditransfer ke Moskow, di mana ia menjadi jenderal di kesatuan pengawal pribadi Stalin. Dia juga dikenal dengan panggilan ‘ rabbit’ (si kelinci) karena tanggungjawab utamanya adalah mencicipi semua makanan yang akan disuguhkan untuk ‘saudaranya’, untuk memastikan tidak mengandung racun,” tulis Brackman. Tiga anggur kesukaan Stalin: khvanchkara , kindzmarauli & chkhaveri ( royalkhvanchkara.ge/allwine.ge/batumarani.ge ) Kendati begitu, potensi peracunan tetap lolos juga karena kuat dugaan kemudian Stalin meninggal pada 5 Maret 1953 karena diracun. Bukan melalui makanan, melainkan lewat anggur. Selain hobi menenggak bir dan vodka, Stalin dikenal menggemari minuman anggur. Selain anggur-anggur dari berbagai negara Eropa, Stalin doyan anggur lokal Georgia. Untuk anggur merah ia doyan khvanchkara dan kindzmarauli. Untuk anggur putih, favoritnya adalah chkhaveri . Namun, lewat minuman anggurlah Stalin kemungkinan terbunuh dengan diracun. Dua calon suksesor Stalin, yakni Nikita Khrushchev dan Lavrenty Beria, jadi terduganya lantaran keduanya paling sering ikut makan malam dengan Stalin di hari-hari terakhirnya. “Konspirasinya mengarah pada Khrushchev yang punya orang dalam untuk meracuni hidangan Stalin agar bisa menggantikan posisinya. Tokoh lain yang juga terduga dan sering ikut makan malam adalah Lavrentiy Beria, sang kepala NKVD. Ketika Stalin tewas, Beria berseteru dengannya (Khrushchev),” ungkap James Egan dalam 3000 Facts about Historic Figures. Kamerad Stalin yang mangkat pada 5 Maret 1953 (Library of Congress) Beberapa hari sebelum tewas, Stalin dilaporkan sering muntah darah akibat pendarahan pada organ pencernaannya. Anehnya, laporan resmi yang keluar kemudian menyatakan Stalin meninggal karena stroke dan pendarahan otak. Pendarahan organ pencernaan yang dideritanya sama sekali tidak disebut. Dua bulan setelah tewasnya Stalin, muncul pengakuan dari mulut Beria. Dengan bangga ia mengatakannya pada Khrushchev bahwa dialah pelakunya. Dalam memoarnya, Khrushchev Remembers , Beria mengatakan dialah yang meracuninya sehingga menyelamatkan Anda semua. “Diduga Beria menggunakan obat baru, warfarin , sebuah cairan yang tak berwarna dan rasanya hambar yang dicampurkan pada anggurnya (Stalin) di malam 28 Februari. Butuh waktu 5-10 hari untuk racunnya bisa membunuh. Menurut pemeriksaan catatan medis yang dilakukan pakar kesehatan Amerika pada 2003, gejala-gejalanya sangat cocok disebabkan oleh keracunan warfarin ,” ujar Paul Simpson dalam That’s What They Want You to Think: Conspiracies Real, Possible, and Paranoid.
- Tiga Arca Selundupan Dikembalikan ke Indonesia
Jaksa Wilayah Manhattan Cyrus Vance menyerahkan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) kepada pemerintah Indonesia yang diwakili Konsul Jenderal RI New York Arifi Saiman. Tiga arca perunggu dewa dan dewi itu diterima KJRI New York pada Rabu, 21 Juli 2021. Tiga arca itu berupa arca Siwa berukuran 6 x 4 x 8,25 inci, arca Parvati berukuran 5,5 x 5,4 x 7,5 inci, dan arca Ganesha berukuran 3x 2,5 x 4,5 inci. Pernyataan resmi KJRI New York menyebut estimasi masing-masing arca itu bernilai US$12.857, US$32.273, dan US$41.176. “Artefak yang dipulangkan hari ini adalah bagian dari kekayaan sejarah budaya Indonesia,” kata Peter C. Fitzhugh, Special Agent in Charge dari Homeland Security Investigations (HIS), New York, dalam rilis yang dipublikasikan Manhattan DA’s . Artefak itu diselundupkan warga negara Amerika Serikat keturunan India, Subhash Kapoor. Unit Perdagangan Barang Antik Manhattan bersama penegak hukum dari HSI melakukan penyelidikan selama bertahun-tahun terhadap Kapoor dan kawanannya terkait penjarahan, penyelundupan, dan penjualan ilegal benda seni kuno dari Sri Lanka, India, Pakistan, Afghanistan, Kamboja, Thailand, Nepal, Indonesia, Myanmar, dan negara lainnya. Tiga arca selundupan yang dikembalikan Kantor Kejaksaan Wilayah Manhattan kepada Indonesia melalui KJRI New York pada 21 Juli 2021. ( manhattanda.org ). Kapoor dan kawanannya menyelundupkan barang antik curian ke Manhattan. Mereka menjualnya melalui galeri Art of the Past milik Kapoor di Madison Avenue. Sejak 2011 hingga 2020, Kantor Kejaksaan Wilayah Manhattan dan HSI menemukan lebih dari 2.500 barang yang diperdagangkan oleh Kapoor dan jaringannya. Nilainya diperkirakan lebih dari US$143 juta. Ratusan artefak tak ternilai kini telah dikembalikan ke pemiliknya yang sah. Total 393 benda dipulangkan ke sebelas negara sejak Agustus 2020. Dalam beberapa bulan terakhir 12 benda dikembalikan ke China, 13 artefak ke Thailand, dan 33 relik ke Afghanistan. Baca juga: Sepuluh Benda Bersejarah Hasil Repatriasi dari Belanda Benda-benda lain yang dikembalikan ke negara asalnya yaitu sepasang patung Buddha dari Sri Lanka, sebuah prasasti batu kapur tahun 664 SM dari Mesir, 45 barang antik abad ke-2 dari Pakistan, peti mati emas yang dicuri setelah Revolusi Mesir pada 2011, tiga patung marmer dari Lebanon, sebuah mosaik Romawi yang digali dari Kapal Nemi, peninggalan Etruria yang dicuri dari situs pekuburan bersejarah yang dikenal sebagai Kota Orang Mati, fragmen sarkofagus marmer, arca Buddha yang dicuri dari situs penggalian arkeologi, sepasang arca abad ke-12 dari India, koleksi arca perunggu abad ke-8 SM, dan satu set koin Yunani Kuno. Ratusan artefak lainnya segera dipulangkan setelah negara pemilik bisa menerimanya di tengah pandemi. Sementara itu, lebih dari seribu artefak ditahan pengembaliannya karena menunggu proses pidana terhadap para penyelundup. “Atas nama Republik Indonesia, izinkan saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Satuan Perdagangan Barang Antik Kejaksaan Wilayah Manhattan dan Keamanan Dalam Negeri atas kerja keras dan dedikasi mereka dalam melakukan penyelidikan terhadap para pelaku kejahatan untuk membawa keadilan dan pengembalian artefak budaya ke negara asalnya yang sah,” ujar Arifi Saiman. Baca juga: Kasus-kasus Pencurian Benda Koleksi Museum di Indonesia
- Main Judi Masa Jawa Kuno
Bango Samparan, seorang penjudi dari Karuman. Suatu hari, dia kalah judi, ditagih tak bisa membayar. Dia kemudian pergi bertapa di Rabut Jalu. Di sana, dia mendengar suara dari langit yang menyuruhnya pulang ke Karuman. Kata suara itu: “Anak saya yang akan melunasi utangmu. Namanya Ken Angrok.” Bango Samparan pun pulang. Dia berjalan semalaman sampai akhirnya bertemu anak yang dimaksud. Dia bawa pulang anak itu dan jadi anak angkat. Besoknya, Bango Samparan mengajak Ken Angrok pergi ke tempat judi. Di sana, dia diajak berjudi oleh malandang . Dia menang. “Sungguh pertolongan dewa,” pikirnya. Bango Samparan kemudian pulang bersama Ken Angrok. Gambaran tentang perjudian itu muncul dalam Serat Pararaton. Adegan ini menjadi penggambaran kehidupan awal Ken Angrok sebelum menjadi raja di Tumapel (Singhasari). Kendati mengisahkan kejadian abad ke-13 hingga Kerajaan Majapahit, Pararaton ditulis bukan pada periode yang sama. Dalam Masa Akhir Majapahit ,arkeolog Hasan Djafar menyebut Pararaton ditulis pada masa akhir Majapahit. Patokannya adalah peristiwa gunung Meletus 1403 Saka (1481 M) yang disebutkan pada bagian akhir naskah. Berarti, Pararaton ditulis tak lama setelah 1403 Saka, yakni masa pemerintahan Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Perjudian seperti dilakukan Bango Samparan, tokoh dalam Pararaton , telah ada sejak masa Jawa Kuno. Tak diketahui bagaimana Bango Samparan dan teman-temannya bermain judi. Namun, dari sumber-sumber lain bisa diketahui cara berjudi orang Jawa Kuno bermacam-macam. Contohnya, Mahabharata menceritakan perjudian terkenal antara Duryodana dari Kurawa dan Yudhistira mewakili Pandawa. Episode cerita ini tergambar dalam relief Parthayajna di dinding Candi Jago, Malang. Pada relief, empat tokoh digambarkan berjudi di balai-balai. Di sisi kiri terlihat tokoh Duryodana didampingi Sengkuni. Di belakang mereka berdiri tiga anggota keluarga Kurawa. Berhadapan dengan Yudhistira yang didampingi Arjuna. Tiga anggota Pandawa lainnya berdiri di luar balai-balai. Tak jelas alat judi yang mereka main kan . Namun , terlihat ada bidang datar persegi panjang dengan beberapa benda kecil di atasnya. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, menafsirkan itu sebagai perjudian menggunakan dadu. “Apabila dibandingkan dengan permainan dadu sekarang, itu mengingatkan kepada ‘lapak dadu’, tempat petaruh memasang taruhannya,” kataDwi. Jika relief candi mengambil kisah dari kesusastraan India menampilkan judi dadu, maka berbeda halnya dengan perjudian yang disebut dalam beberapa prasasti. Agaknya ada perbedaan antara perjudian di India dengan di Jawa pada masa kuno. Adu Hewan Dzulfiqar Isham dalam “Perjudian pada Masa Jawa Kuno: Sumber Prasasti Abad ke-8 Hingga ke-13”, skripsi jurusan arkeologi Universitas Indonesiatahun 2015, menunjukkan bentuk perjudian yang paling banyak disebutkan dalam prasasti adalah sabung ayam. Lebih dari sepuluh prasasti dari era Jawa Kuno yang menyebutkan judi sabung ayam. Di antaranya Prasasti Wangwang Bangen (824 M), Prasasti Waharu Kuti (840 M), Prasasti Kancana (860 M), Prasasti Waharu I (873 M), Prasasti Telang I (903 M), Prasasti Kubu-Kubu (905 M), Prasasti Sangsang (907 M), Prasasti Kaladi (909 M), Prasasti Timbanan Wungkal (912 M), Prasasti Sugih Manek (915 M), Prasasti Harinjing B (921 M), Prasasti Sangguran (928 M), Prasasti Gulung-Gulung (929 M), Prasasti Linggasuntan (929 M), Prasasti Turryan (929 M), Prasasti Cunggrang I (929 M), Prasasti Cunggrang II (929 M), Prasasti Poh Rinting (929 M), Prasasti Jru-jru (930 M), Prasasti Waharu IV (931 M), Prasasti Anjukladang (935 M), Prasasti Gandhakuti (1042 M), Prasasti Pupus (1100 M), Prasasti Talan (1136 M), Prasasti Tuhanaru (1323 M), dan Prasasti Pabuharan (-). Sedangkan bentuk perjudian lain hanya muncul sesekali di dalam prasasti, seperti adu burung merpati dalam Prasasti Waharu Kuti, adu babi dalam Prasasti Taji (901 M) dan Padlegan I (1116 M), serta adu kambing dalam Prasasti Hantang (1135 M). Pejabat Perjudian Pemerintah Jawa Kuno membentuk pejabat khusus untuk mengawasi perjudian. Isham menyebutkan pejabat yang disebut malandang, lca, lěbělěb, dan taji.Malandang adalah pengawas perjudian sabung ayam. Lca adalahasistennya. Taji diperkirakan petugas yang menangani senjata pada kaki ayam ( taji ). Sedangkan lěbělěb adalah pengawas perjudian atau bisa juga diartikan tukang jagal. Istilah malandang muncul pula dalam Pararaton. Malandang ,menurut Dwi Cahyono,adalah bandar sekaligus pengawas judi. Ada juga yang disebut dengan juru judi atau tuha judi. Artinya pemimpin, kepala, dan pengawas perjudian. Tugasnya menjadi koordinator penarik pajak perjudian. Juru judi termasuk pejabat abdi dalem kerajaan yang digaji oleh raja atau sebutannya mangilala drwaya haji. Jadi, ia bukan hanya bertugas menarik pajak. “Namun juga sebagai pejabat yang ditunjuk raja untuk mengurus perjudian,” tulis Isham. Juru judi berada di urutan teratas dalam sistem perjudian di dalam kerajaan. Penyebutannya dalam prasasti biasanya bersebelahan dengan juru jalir atau kepala prostitusi. Di antaranya seperti disebutkan dalam Prasasti Kancana dan Prasasti Hring (937 M). Selain diatur oleh petugas khusus, izin berjudi juga menjadi hak istimewa yang diberikan kepada seseorang, biasanya yang berjasa kepada raja atau penguasa. Misalnya disebutkan dalam Prasasti Panumbangan 1 (1140 M): “…boleh berjudi di balai-balai, boleh berjudi di tempat belajar agama,…” Prasasti Talan (1136 M) juga menyebut: “…boleh berjudi di balai,...” Balai untuk berjudi mungkin seperti di relief Parthayajna, Candi Jago. Kendati begitu perjudian pada masa Jawa Kuno masuk dalam daftar kejahatan versi kitab Purwadhigama (abad ke-9). Sebagaimana dijelaskan epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, kitab ini membagi tindak pidana dan perdata kedalam 18 jenis kejahatan yang disebut astadasawyawahara, salah satunya totohan prani dan totohan tan prani atau taruhan dan perjudian.
- Aneka Cerita Menembak Sasaran di Olimpiade
SEJAK karpet merah Olimpiade Tokyo digelar pada 23 Juli 2021, kontingen Indonesia sudah mengoleksi dua medali dari cabang olahraga (cabor) angkat besi. Sekeping perunggu didapat dari lifter putri Windy Cantika Aisah dan sekeping perak dari lifter putra Eko Yuli. Potensi bertambahnya medali masih terbuka dari beberapa cabor yang diikuti putra-putri terbaik tanah air. Salah satunya dari cabang menembak. Tak seperti cabor bulutangkis, atletik, panahan, angkat besi, dayung, dan renang yang diikuti banyak perwakilan, cabor menembak hanya diwakili Vidya Rafika Rahmatan Toyyiba. Penembak putri berusia 20 tahun itu turun di dua nomor: 10 meter Air Rifle dan 50 meter Rifle 3 Positions. Namun, di nomor pertama, atlet yang biasa disapa Fika itu masih nirmedali. Ia gagal menembus delapan besar putaran final. Fika hanya bertengger di urutan ke-35 di fase kualifikasi, Sabtu (24/7/2021). Tinggallah asa tersisa di nomor kedua, 50 Meter Rifle 3 Positions, yang akan diikutinya pada Sabtu (31/7/2021) besok. “Ini adalah Olimpiade pertama saya dan saya masih belajar akan pengalaman berharga. Semuanya berawal dari nol lagi karena sekali lagi, ini event (10 Meter Air Rifle) pertama saya di Olimpiade,” kata Fika, dikutip laman resmi Komite Olimpiade Indonesia, Sabtu (24/7/2021). Fika masih punya kesempatan di nomor 50 Meter Air Rifle 3 Positions ( nocindonesia.id ) Indonesia sendiri sudah mengikuti cabor menembak sejak 1956, tepatnya di Olimpiade Melbourne. Kala itu Indonesia diwakili Lukman Saketi, penembak pertama Indonesia. Namun mesti diakui, hingga kini belum satupun medali bisa disumbangkan dari cabor menembak. Olahraga menembak sendiri sudah diikutkan sejak Olimpiade modern dihelat pada 1896 di Athena, Yunani, kendati ISSF atau induk olahraga menembak dunia baru lahir pada 1907. Menariknya, dalam Olimpiade di masa lampau, cabang menembak tak hanya mempertandingkan kategori mainstream seperti sekarang. Beberapa kategori yang dipertandingkan bisa dibilang “aneh bin ajaib”. Pigeon Shooting Peserta event menembak merpati, ki-ka: Maurice Fauré, Léon de Lunden & Donald Mackintosh ( Sporting Life edisi 7 Juli 1900) Jika pada Olimpiade Athena 1896 menembak hanya mempertandingkan berbagai kategori menembak sasaran, di Olimpiade Paris 1900 kategori cabor menembak ditambah eksebisi Live Pigeon Shooting (menembak burung merpati). Namun, pertandingan menembak merpati hidup itu hanyalah kontes yang merupakan salah satu agenda dalam L’Exposition Universelle de Paris, di mana Olimpiade 1900 itu sendiri juga digelar dalam rangka pameran dunia tersebut. “Menembak merpati hidup ikut dipertandingkan di Olimpiade Paris 1900. Objek kompetisinya adalah menembak dan membunuh merpati sebanyak mungkin. Seorang kontestan akan tereliminasi jika ia meleset dua kali berturut-turut. Hampir 300 ekor merpati yang dilepaskan untuk pertandingan ini,” ungkap Floyd Conner dalam The Olympic’s Most Wanted. Kontes menembak merpati itu sendiri dibagi menjadi tiga nomor yang diikuti 166 penembak: Running Game Target, Live Pigeon 20 Franc Entrance, dan Live Pigeon 200 France Entrance. Selain memperebutkan medali emas, perak, dan perunggu, ratusan penembak peserta juga membidik hadiah uang 5.000 franc (juara I), 2.500 franc (juara II), 1.500 franc (juara III), dan 1.000 franc (juara IV). Di nomor Running Game Target, tiga medalinya disapu bersih para penembak tuan rumah: Louis Debray, Pierre Nivet (20 ekor), dan Comte de Lambert (19 ekor). Adapun di nomor Live Pigeon Shooting 200 Franc Entrance, dimenangkan Léon de Lunden dari Belgia (21 ekor), Maurice Fauré dari Prancis (20 ekor), dan Donald Mackintosh dari Australia dan Crittenden Robinson dari Amerika Serikat (18 ekor). Mackintosh yang juga ikut di kategori Live Pigeon Shooting 20 Franc Entrance keluar sebagai pemenangnya dengan 22 ekor, disusul Pedro Pidal, 1st Marquess of Villaviciosa asal Spanyol (21 ekor); dan Edgar Murphy asal Amerika Serikat (19 ekor). “Kontes akbar menembak merpati dimenangkan Mackintosh, Australia, dengan 22 kali mengenai sasaran; Marquis Villavicosa, Spanyol, di tempat kedua; dan Edgar Murphy, Amerika, ketiga dengan 20 (ekor). Ted Sloan sempat ikut tapi ia sudah meleset pada dua burung pertama. Mereka pun berbagi hadiah pada kontes penting Grand Prix du Centenaire yang diadakan di Cercle du Bois de Buologne,” tulis suratkabar Sporting Life , 30 Juni 1900. Kontes itu kemudian memicu gelombang protes para aktivis dan kaum perempuan. Kategori menembak fauna hidup pun tak pernah lagi eksis di olimpiade-olimpiade berikutnya. “Kampanye tentang olahraga (menembak merpati) itu mulai digencarkan. Kaum perempuan yang menentangnya mengenakan topi dengan hiasan bulu burung sebagai bentuk fesyen dan protesnya. Kemudian Amerika melarang menembak fauna hidup pada 1902 dan sasaran untuk menembak dialihkan pada sasaran burung yang terbuat dari tanah liat,” singkap Tim Harris dalam Sport: Almost Everything You Ever Wanted to Know. Pistol Duelling Event duel pistol à la koboi yang jadi eksebisi di Olimpiade 1908 (Library of Congress) Olimpiade Athena 1906 –kadang disebut Intercalated Games 1906– menyimpan cerita menarik cabor menembak. Tentu tidak ada lagi nomor menembak sasaran fauna hidup lantaran sudah dilarang sejak 1902. Dari 16 nomor, terselip dua nomor unik, yakni 20 Meter Duelling Pistol dan 30 Meter Duelling Pistol. Dua nomor itu mengingatkan pada adegan-adegan film koboi di Amerika yang kondang dengan duel pistol. Namun, sasaran dua nomor itu bukanlah orang, tapi hanya dada manekin yang dipakaikan mantel laiknya seorang pria betulan. “Para peserta menembakkan pistol mereka dari jarak 20 atau 30 meter terhadap target yang dikenakan mantel. Walau sasaran manekinnya tak menembak balik, event ini memelihara daya tarik dan sensasi menegangkan dan kemuliaan dalam duel pistol sesungguhnya,” ungkap John Leigh dalam Touché: The Duel in Literature. Di Olimpiade Athena 1906 itu, penembak Prancis Léon Moreaux merebut medali emas kategori 20 meter, diikuti Cesare Liverziani (Italia) dengan perak, dan Maurice Lecoq (Prancis) dengan perunggu. Sedangkan di nomor 30 meter, medali emasnya jadi milik Konstantinos Skarlatos (Yunani), dan perak serta perunggunya diraih Johan Hübner van Holst dan Vilhelm Carlberg dari Swedia. Duel pistol àla koboi ekstrem baru sungguh-sungguh terjadi di Olimpiade London 1908 walau nomor duel itu dimasukkan sebagai event eksebisi. Mengutip Jonathan Gottschall dalam The Professor in the Cage: Why Men Fight and Why We Like to Watch , tujuan eventnya untuk saling membidik dan menembak dan pemenangnya ditentukan siapa yang paling tepat menembak bidang sasaran di tubuh masing-masing. “Di Olimpiade London 1908, duel (pistol) dengan peluru yang terbuat dari lilin menjadi olahraga eksebisi, di mana para kompetitor yang saling berhadapan mengenakan mantel besar berlapis kanvas berat, topeng wajah, dan pelindung pelatuk pistol untuk melindungi tangan mereka,” tulis Gottschall. Karena hanya bertajuk demonstrasi, event tersebut hanya diikuti Inggris dan Prancis yang bertanding sebagai tim. Tim Prancis yang terdiri dari Jacques Rouvcanachi, Gustave Voulquin, Joseph Marais, dan Walter Winans keluar sebagai pemenangnya walau tiada medali yang dibagikan. Running Deer Oscar Gomer Swahn berlaga di nomor single-shot running deer (olympics/.org/issf-sports.org) Dari Olimpiade London 1908 pula hadir tiga nomor baru cabor menembak, yakni Single-shot Running Deer, Double-shot Running Deer, dan Team Single-shot Running Deer. Adanya larangan menembak sasaran hidup membuat rusa berlari yang dijadikan target pun sekadar terbuat dari kertas tebal. Disebutkan Conner, rusa yang dijadikan target itu bisa digerakkan dengan kecepatan 75 kaki atau 23 meter per empat detik. Sementara para penembak diharuskan bisa membidik pada tiga sasaran lingkaran yang terkonsentrasi dari jarak 110 yard (100,5 meter). Nomor ini jadi salah satu tontonan favorit hingga terus dipertandingkan sampai Olimpiade London 1948. Baca juga: Kabaddi di Panggung Olimpiade Nazi “Oscar Swahn yang berusia 60 tahun memenangkan medali emas di (nomor) team running deer shooting dan nomor single-shot. Dua belas tahun kemudian, penembak Swedia berjanggut itu memenangkan perak di nomor team running deer, dan double-shot. Putranya, Alfred, juga turut dalam nomor tim yang memenangkan medali,” tulis Conner. Pada debut nomor menembak rusa di Olimpiade 1908 itu Swahn total mengoleksi dua emas dan satu perunggu. Jika dua emasnya didapat dari nomor single-shot dan team single-shot, perunggunya didapat dari nomor double-shot. Ia kalah dari Walter Winans (Amerika Serikat) yang mendapat emas, dan Ted Ranken (Inggris) yang mengalungi perak. Modern Pentathlon George Smith Patton Jr. kala ikut nomor menembak di cabang pancalomba modern pada Olimpiade 1912 ( uipmworld.org ) Nomor modern pentathlon atau pancalomba modern pertamakali dipertandingkan di Olimpiade Stockholm 1912. Nomor ini menggabungkan olahraga menembak untuk kategori putra dan putri dengan anggar, renang, equestrian, dan lari cross country . Jenderal Amerika George S. Patton yang kelak kondang di Perang Dunia II, ikut berpartisipasi dalam debut event-nya di Stockholm 1912. “Pancalomba modern digagas Presiden Komite Olimpiade Internasional Baron Pierre de Coubertin sebagai latihan militer. Cabor ini juga punya latarbelakang ideologis walau banyak menuai kritik,” tulis Sandra Heck dalam “Modern Pentathlon at the London 2012 Olympics: Between Traditional Heritage and Modern Changes for Survival” yang termaktub dalam London, Europe, and the Olympic Games: European Perspectives. Baca juga: Etalase Nazi di Olimpiade Prinsipnya, lanjut Heck, Pancalomba Modern adalah modernisasi dari Pancalomba Kuno yang meliputi lari, lompat jauh, lempar lembing, lempar cakram, dan gulat. Setelah pancalomba kuno ditiadakan pada 1924 dan diperluas jadi saptalomba, Pancalomba Modern terus menggapai popularitas sampai sekarang. Pada debutnya di Olimpiade 1912, olahraga menembak di dalam Pancalomba Modern masih membolehkan para peserta membawa beragam jenis pistol pribadi untuk menembak sasaran dari jaram 10 meter. Perubahan alat baru terjadi pada 2009, di mana yang digunakan adalah pistol angin. Pada 1912, juara pertama sampai ketiga nomor menembaknya disapu bersih atlet Swedia: Karl ‘Gösta’ Âsbrink, George de Laval, dan Gustaf ‘Gösta’ Lilliehöök. Sedangkan George Patton yang kemudian sohor hanya mampu bertengger di urutan ke-20. Baca juga: Asa yang Kandas di Olimpiade Negeri Sakura
- Kisah Rektor UI yang Rangkap Jabatan
Ari Kuncoro, Rektor Universitas Indonesia, mengajukan surat pengunduran dari jabatan Wakil Komisaris Utama BRI pada 21 Juli 2021. Sebelumnya, dia sempat merangkap jabatan tersebut sehingga dikecam publik. Sebab statuta UI melarang rektor rangkap jabatan. Meski kemudian statuta tentang rangkap jabatan itu diubah, Ari tetap ingin mundur. Ari bukanlah rektor UI pertama yang merangkap jabatan. Sebelum Ari, ada Soemantri Brodjonegoro dan Nugroho Notosusanto. Soemantri menjadi rektor UI pada 1964–1973. Saat bersamaan dia juga sempat menjadi Menteri Pertambangan Oktober 1967–Maret 1973. Dia lalu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Maret 1973–Desember 1973. Netral dan Egaliter Saat menjadi rektor, Soemantri menghadapi situasi kampus yang panas. Mahasiswa UI sedang gencar mengkritik pemerintahan Sukarno. Kampus juga terbelah menjadi dua kekuatan besar: anti-Sukarno dan pro-Sukarno. Pembelahan tak hanya terjadi di kalangan mahasiswa, tapi juga dosen-dosennya. Saat mahasiswa menggelar demonstrasi anti-Sukarno, dosen pun berbeda pendapat. “Di kalangan dosen juga terjadi gejolak. Sebagian dosen mengambil sikap tidak mau ikut terlibat. Sebagian dosen tetap setia pada Bung Karno,” tulis Nizam Yunus dalam Soemantri Brodjonegoro , Teguh di Jalan Lurus . Soemantri memilih bersikap netral. Tapi bukan berarti dia tak peduli pada situasi terkini dan gerakan mahasiswa. “Setiap hari mahasiswa berhubungan dengannya. Setiap permintaan mahasiswa selalu dipenuhi,” lanjut Nizam. Selama menjadi rektor, Soemantri enggan menggunakan pendekatan kekuasaan dan ancaman kepada bawahan atau mahasiswa. “Sikapnya terhadap para karyawan di kantor rektor tidaklah seperti bos.” Dia juga kurang suka dengan protokoler ketat. Soemantri berusaha tegas dalam urusan pekerjaan dengan pendekatan contoh. Misalnya soal berhemat, dia sering mengetik di balik kertas bekas. Dengan begitu, karyawan di kantor dan mahasiswa menghormatinya lebih dari hubungan formal dan menganggapnya sebagai pribadi yang menyenangkan. Ketika menjadi Menteri Pertambangan, Soemantri mencoba meningkatkan kemampuan staf pertambangan. Dia juga memperbaiki tata kelola perusahaan tambang negara. Selain itu, dia mengubah sistem kerja sama dengan pemodal asing. “Sistem konsesi mulai ditinggalkan, diganti dengan sistem kontrak karya,” urai Nizam. Soemantri sebenarnya dinilai berhasil selama enam tahun menjadi Menteri Pertambangan. Tapi Soeharto menghendakinya menjabat Menteri P dan K. Soemantri menerima tugas ini dan langsung mengupayakan perbaikan nasib guru. “Yang pertama kali akan dilakukannya adalah pergi ke daerah-daerah, ingin bertemu guru-guru,” lanjut Nizam. Tapi dia keburu sakit berkepanjangan hingga napasnya habis pada 18 Desember 1973, sebelum jabatannya finis. Kritik MaharMardjono Posisi Soemantri sebagai rektor UI diganti oleh Mahar Mardjono, menjabat 1973–1982. Mahar sempat berpendapat bahwa rektor UI sebaiknya tidak rangkap jabatan. “Tugas sebagai rektor itu merupakan suatu tugas full time , yang sulit untuk dirangkap dengan jabatan lain,” kata Mahar dalam Mahar Pejuang, Pendidik, dan Pendidik Pejuang . Mahar juga mengatakan sangat mungkin jika rektor rangkap jabatan sebagai menteri akan penuh konflik kepentingan. “Tidak bisa seorang menteri datang setiap hari ke kampus sebagai menteri. UI tidak akan bisa berkembang. Apalagi kalau Menteri P dan K dan sekaligus rektor dari salah satu universitas,” kata Mahar. Tapi pendapat ini tak berlaku bagi Nugroho Notosusanto. Dia naik jadi rektor menggantikan Mahar pada 1982 lalu menjadi Menteri P dan K menggantikan Daoed Joesoef. Saat dia naik, program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) usulan Daoed Joesof telah menancap kuat di banyak universitas. NKK/BKK merupakan program untuk membatasi kegiatan politik praktis mahasiswa di dalam kampus dan mengurangi kemungkinan kegiatan di luar kuliah. Protes keras datang dari mahasiswa. Tapi program tersebut tetap berjalan di banyak kampus, termasuk kampus UI. Peluang Rangkap Jabatan Nugroho memandang posisi rangkap jabatannya sebagai rektor dan Menteri P dan K bukan sesuatu yang bermasalah. Dia malah mengungkapkan bahwa posisi rangkap itu sebagai peluang menjadikan UI sebagai pilot project untuk setiap masalah di jenjang pendidikan tinggi di Indonesia. Kebijakan Nugroho sebagai Menteri P dan K selalu berkaitan dengan kebijakannya di dalam kampus UI. Misalnya ketika dia membatasi kegiatan politik mahasiswa di kampus dan beraktivitas di organisasi ekstrauniversitas. Ini sangat sejalan dengan kebijakannya di lingkup nasional sebagai menteri yang juga melarang politik di dalam kampus dan organisasi ekstrauniversitas masuk ke kampus. Bagi Nugroho, universitas bukan suatu lembaga politik dan kampus bukan pula masyarakat politik. “Hakekat sesuatu universitas adalah sesuatu lembaga ilmiah, sedangkan hakekat kampus yang merupakan lingkungan tempat para sivitas akademika bergiat, adalah sesuatu masyarakat ilmiah,” kata Nugroho dalam “Identitas Universitas Indonesia”, pidato kepada orangtua mahasiswa baru UI pada 1982. Nugroho juga terlihat ingin menghubungkan kebijakannya di UI ke universitas lainnya. Di UI, dia berusaha menanamkan tiga program besarnya: institusionalisasi, profesionalisasi, dan transpolitisasi. Institusionalisasi menyangkut upaya memperteguh fungsi tridarma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. “Termasuk di dalam bidang-bidang yang harus diinstitusionalisasi adalah tata nilai. Karena jika tata nilai yang kita anggap negatif belum berubah, maka pergantian personalia dalam pelbagai jabatan tidak menjamin timbulnya perbaikan,” kata Nugroho dalam pidato “Institusionalisasi dan Profesionalisasi melalui Transpolitisasi” pada 12 Februari 1982. Institusionalisasi nilai ke dalam kampus juga menyasar pula ke bidang profesi tiap lulusan universitas. Menurut Nugroho, profesionalisasi berkaitan dengan apa yang diharapkan perguruan tinggi dari para lulusannya. Setidaknya ada tiga hal yang diinginkan: keahlian, tanggung jawab, dan kesejawatan. Tiga hal ini perlu diisi oleh nilai-nilai khusus yang diberikan dari kampus. Terakhir adalah transpolitisasi. Nugroho menyebut dua praktik sebelumnya tak akan berguna tanpa adanya transpolitisasi atau pemindahan kegiatan politik praktis dari kampus ke luar kampus. Nugroho memandang sudah tak zamannya lagi kampus didikte kekuatan dari luar kampus. Nugroho ingin kampus bebas dari kekuatan di luar kampus. “Universitas bukan pasar loak bagi gagasan-gagasan usang dari luar dinding-dindingnya,” kata Nugroho. Dia juga menyebut praktik mahasiswa selama 1970-an adalah buah dari “kebebasan yang berayun terlalu jauh”. “Di beberapa kampus, libertarianisme ini sempat menimbulkan rezim anarkistik di kalangan suatu segmen mahasiswa yang relatif kecil tetapi vokal. Di kampus UI, gejala anarkisme ini pada awal 1980-an telah mencapai proporsi destruktif,” kata Nugroho dalam pidato “Senat Mahasiswa mengabdi Alma Mater”. Karena itulah, Nugroho meneruskan program NKK/BKK dan mengupayakan segala kebijakan pendidikan tinggi nasional seperti apa yang dia pikirkan dan terapkan di UI. Sebab dia percaya NKK/BKK sangat ampuh untuk menahan kekuatan dari luar kampus untuk masuk ke kampus. Tapi Nugroho belum mampu mewujudkan semua rencananya. Seperti Soemantri, napasnya lebih dulu habis sebelum masa jabatannya menyentuh garis finis. Dia wafat pada 3 Juni 1985. Soemantri dan Nugroho sama-sama wafat ketika merangkap jabatan.





















