top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Rasisme Memuakkan Klub Israel dalam Forever Pure

    KOMPLEKS Stadion Teddy di Yerusalem pada 29 Oktober 2012 malam didominasi warna kuning-hitam. Ribuan fans klub tuan rumah Beitar Yerushalayim FC menanti kedatangan tim pujaan mereka dekat gerbang stadion. Sorak-sorai seketika membahana saat bus rombongan tim tiba. Kedatangan rombongan tim amat dielu-elukan karena Beitar menang 3-2 saat menjamu Hapoel Tel Aviv. Tak ayal, para pemain yang menyapa suporter, terutama fans fanatik La Familia di tribun timur, turut dalam euforia yang dimeriahkan  nyanyian “Ohev otach! Ah-Nee Neesh-Bah!” (artinya “aku mencintaimu dan aku bersumpah”). Ariel Harush (24), kiper utama sekaligus kapten tim, jadi salah satu yang paling dielu-elukan. Di pundaknya digantungkan harapan besar fans agar Beitar bisa jadi juara dengan tren positif selama dua bulan terakhir. Momen kapten tim, Ariel Harush (tengah) yang menyambut Dzhabrail Aslanbekovich Kadiyev (kiri) & Zaur Umarovich Sadayev (Yes Docu) Namun, semua itu berubah 180 derajat saat pemilik klub, Arcadi Gaydamak, mendatangkan dua pemain muslim asal Chechnya, Dzhabrail Kadiyev (19) dan Zaur Sadayev (23), pada bursa transfer Januari 2013. Kedatangan mereka jadi pemicu konflik utama dalam film dokumenter Forever Pure garapan sineas cantik Maya Zinshtein. Konflik itu kemudian merembet ke sejumlah peristiwa yang kacau dalam klub paling kontroversial dan rasis di Israel itu. Klub yang didirikan pada 1936 itu sejak lahirnya sudah rasis dan punya tradisi tidak tertulis larangan merekrut pemain berdarah Arab, apalagi muslim. Klub yang punya fans terbesar di Israel itu pada gilirannya membuat banyak politikus Israel menunggangi fansnya demi tujuan politik. Itu turut diperlihatkan Zinshtein lewat sejumlah footage tentang para politikus yang naik daun setelah turut dalam manajemen klub kala berjaya atau sekadar mengidolakan Beitar. Selain Presiden Reuvlin Rivlin, politikus oportunis itu antara lain Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Wakil Perdana Menteri Avigdor Lieberman. “Beitar selalu jadi bentengnya Partai Likud. Siapapun yang ingin meraih kekuasaan pasti akan melalui Beitar. Presiden Rivlin dulu jadi ketua klub,” tutur pelatih Eli Cohen dalam film itu. Ultras "La Familia" memboikot pertandingan (kiri) meski Sadayev produktif mencetak gol (Yes Docu) Maka suporter Beitar, terutama La Familia, yang punya pengaruh besar dalam kebijakan klub, mengamuk ketika manajemen klub membeli dua pemain muslim asal Chechen. Teror psikologis pun mereka dilancarkan kepada Kadiyev dan Sadayev, juga kepada Harush sang kapten klub, dan ketua klub Itzik Kornfein. Atmosfer stadion berganti jadi horor. Para pemain Beitar mesti tahan disoraki dan dicaci pendukung tim lawan sekaligus suporter sendiri. Mereka hanya mau mendukung Ofir Kriaf, gelandang tim yang berdiri di belakang prinsip La Familia. Sementara, Harush yang mencoba melindungi dua rekan barunya justru dihina habis-habisan. “Saya tak pernah dimaki oleh fans sendiri. Itu fans kami yang pekan lalu memuja nama saya. Saya hanya menuruti klub untuk ikut konferensi pers dan mengatakan kami akan menerima keduanya dan kemudian fans menentang saya. Saya mencintai fans seperti halnya Ofir. Saya juga tumbuh bersama fans,” kata Harush. Kadiyev (kiri) yang dicaci rasisme verbal & Ofir Kriaf yang dipuja "La Familia" (Yes Docu) Cercaan fans juga memilukan hati kedua rekrutan baru itu. Saking terpengaruhnya, Kadiyev ingin pulang. Sementara, Sadayev yang lebih dewasa berusaha menahan emosinya dalam setiap latihan dan pertandingan. “(Sorakan rasis) bisa terjadi di mana saja. Mereka berpikir kami orang Arab. Seseorang harus bisa menjelaskan bahwa kami bukan Arab. Kami orang Chechen,” ungkap Sadayev. Kemarahan La Familia perlahan turut memengaruhi basis fans lain. Spanduk “Murni (Yahudi) Selamanya” dibentangkan di mana-mana. Boikot pun terjadi. Lebih gawat ketika markas klub dan fasilitas latihan di Bait Vagan jadi sasaran pembakaran. Ancaman terhadap para pemain dan manajemen kian nyata. “Saya sampai harus masuk daftar prioritas perlindungan. Itu kategori yang biasanya khusus para menteri. Saya harus mengecek apakah ada bom di kolong mobil saya setiap pagi. Suatu ketika orang-orang yang berkerumun meneriakkan: ‘Kami akan datang dan memerkosa putri Anda.’ Mereka mencerminkan kekerasan yang ada dalam masyarakat,” ungkap Kornfein. Markas klub yang dibakar oknum "La Familia" (Yes Docu) Atmosfer tak sehat itu bahkan, kata legiun asing asal Argentina Darío Fernández, terasa sampai di ruang ganti. Menurutnya, atmosfer sangat dingin. Para pemain, terutama pemain Israel, seperti tutup mata pada aksi rasisme terhadap rekan muslim mereka. “Saya tak mengerti kenapa orang-orang ini begitu rasis. Dua pemain malang itu datang untuk bermain, membantu kami, dan mereka harus menelan omong kosong ini. Para pemain Israel tidak peduli pada mereka. Hanya saya dan Harush yang berusaha menentang (rasisme) fans itu sementara yang lain diam saja,” ujar Fernández menyesali. Bagaimana detail rasisme nan mengiris hati itu harus dilewati kedua pemain muslim itu? Biar lebih seru, Anda saksikan sendiri sajalah di aplikasi daring Mola TV . Mendelegitimasi Rasisme Forever Pure hanya menampilkan sedikit music scoring melankolis dan beat - beat yang menaikkan emosi. Pasalnya, suara nyanyian, gemuruh drum fans, dan peluit wasit sudah cukup membawa emosi penonton ke dalam rasa muak akan gambaran-gambaran rasisme fans Beitar. Atas izin ketua klub, Zinshtein mengambil banyak stok video dengan berbagai angle kendati fokusnya pada emosi Harush dan kedua rekrutan asal Chechnya yang jadi korban rasisme itu. Ia juga mewawancarai banyak pihak, seperti Ofir Kriaf, pelatih Eli Cohen, jurnalis Erel Segal, dan Presiden Rivlin. Sisanya seperti scene pernyataan PM Netanyahu soal pembakaran markas klub, ia pinjam dari video wawancara media lain. Saat dirilis pada 2016, Forever Pure memancing kehebohan tentang isu rasisme lagi. Alhasil Forever Pure tak dihargai di Israel. Ia justru lebih diapresiasi di luar. Raihan Emmy Awards 2018 kategori News & Documentary terbaik cukup bicara banyak. Dampaknya, sang sineas ikut jadi sasaran ancaman La Familia. Maya Zinshtein yang menggarap dokumenter Forever Pure  sebagai debutnya sebagai sutradara (Israel Film Festival) Kendati tindakan-tindakan seperti itu sedari awal sudah diduga Zinshtein, ia punya alasan tersendiri mengapa Forever Pure cenderung berat sebelah sehingga dianggap film anti-Israel karena tak menampilkan pihak La Familia dalam debut filmnya. “Karena filmnya bukan tentang fans, maka saya harus berpihak pada satu sisi dan saya memihak klub. Ada suatu level luar biasa tentang kebencian, tentang emosi yang ditampilkan massa. Saya tak habis pikir anak-anak kecil bisa ikut meneriakkan cacian rasis. Itu alasannya saya membawa film ini untuk bisa didiskusikan di sekolah-sekolah, betapa rasisme bisa muncul dari dalam komunitas kita,” terang Zinshtein kepada Haaretz , 1 November 2018. Rasis Sejak Lahir Alasan kenapa Beitar begitu rasis dan sangat terafiliasi dengan sayap kanan tak lain karena ia lahir pada 1936 dari dua petinggi pergerakan yang jadi cikal-bakal Partai Likud, yakni organisasi pemuda zionis Betar oleh Shmuel Kirschtein dan David Horn. Berdirinya klub dijadikan wadah olahraga bagi para milisi Irgun dan Lehi yang sebelumnya selalu merongrong pemerintahan Inggris di Palestina. “Keduanya adalah nasionalis ekstrem, paramiliter bawah tanah Yahudi. Para pemain dan suporternya aktif terlibat dalam kelompok-kelompok sayap kanan bawah tanah Yahudi yang berkampanye dengan tindakan kekerasan kepada otoritas Inggris. Hasilnya banyak dari mereka yang ditangkap dan dibuang ke Eritrea pada 1940-an,” tulis James Michael Dorsey dalam Shifting Sands: Essays on Sports and Politics in the Middle East and North Africa . Searah jarum jam, skuad Beitar Yerushalayim pada musim 1977, 1985, 1992, dan 1996 (La Galeria de Futbol) Maka, dari masa ke masa manajemen klub dan suporter begitu bangga menjadi “rasis” dengan kebijakan tidak akan pernah merekrut pemain Arab. Berkepanjangan dengan Palestina sejak berdirinya negara Israel pada 1948 menjadi pangkal masalahnya. Kendati punya segudang prestasi sejak ditunggangi banyak politikus sayap kanan pada 1970-an, klub berjuluk “The Menorah” itu lebih kondang karena rasismenya. “Beitar adalah salah satu klub tertua dan begitu bangga tidak pernah mendatangkan pemain Arab. Spanduk-spanduk rasisnya mengingatkan akan masa lalu di mana Jerman Nazi menyisihkan orang Yahudi dari olahraga,” tulis Witt Raczka dalam Unholy Land: In Search of Hope in Israel/Palestine. Kadiyev dan Sadayev sejatinya bukan pemain muslim pertama yang pernah mengenakan jersey berlogo menorah atau kandil bercabang tujuh khas Yahudi itu. Adalah Goram Ajoyev yang berdarah Tajikistan yang jadi pemain muslim pertama Beitar, yakni pada musim 1989-1990. Namun karena latarbelakang agama Ajoyev tak diketahui fans Beitar, ia pun lebih beruntung. Ajoyev bahkan dielu-elukan karena di laga terakhir pada musim itu ia bermain apik dan menyelamatkan Beitar dari jurang degradasi. Kolase ultras "La Familia" yang dikenal paling rasis (Yes Docu) Setelah Ajoyev, ada Victor Paço, striker asal Albania yang didatangkan dari Maccabi Haifa pada 1999. Ia jadi pujaan fans karena jadi topskor klub selama dua musim. Sebagaimana Ajoyev, Paço juga mesti menyembunyikan agama Islamnya sebelum hengkang dari Beitar pada 2002. Ndala Ibrahim menjadi pemain muslim ketiga di Beitar. Bek muslim asal Nigeria yang dipinjam dari Maccabi Tel Aviv untuk musim 2004-2005 itu hanya bertahan empat pertandingan dan memilih pergi lantaran tak tahan jadi korban kekerasan verbal dan fisik dari fans. Kepergian Ibrahim pada 2005 hampir berbarengan dengan kedatangan Gaydamak yang membeli 55 persen saham Beitar. Selain untuk memperkuat jaringan bisnis, Gaydamak ingin meniru para politikus sayap kanan memanfaatkan massa Beitar untuk alat politiknya. “Pada level di bawah alam sadar, sepakbola adalah benturan di antara kelompok-kelompok berbeda. Sepakbola jadi semacam perang. Saya sendiri bukan penggemar sepakbola tapi Beitar punya fans terbanyak, bahkan jika semua fans klub se-Israel dikombinasikan. Ini alasannya mengapa sepakbola jadi alat propaganda yang menarik,” terang Gaydamak. Pemilik klub Arcadi Aleksandrovich Gaydamak (kiri) dan ketua klub Yitzhak "Itzik" Kornfein (Yes Docu) Gaydamak belajar memanfaatkan massa untuk kendaraan politiknya dari Rivlin dan Netanyahu. Faktor politis itu di sisi lain dianggap sebagai perusak sepakbola di era modern. Dampaknya begitu negatif. Para politikus yang kemudian punya kekuasaan tidak berani bicara apalagi menindak aksi-aksi rasis bahkan kriminal fans La Familia. Alhasil rasisme itu awet dari waktu ke waktu karena fans merasa “diperbolehkan” bertindak demikian. “Saya ingat saat duduk di tribun barat dengan para politikus yang kemudian menjadi walikota-walikota Yerusalem. Mereka semua fans Beitar. Saya terus-menerus mengatakan: ‘Rekan-rekan, apa yang terjadi di tribun timur (La Familia) tidaklah baik dan diamnya kita melegitimasi mereka. Sudah cukup, kawan! Anda semua adalah pemimpin masyarakat, perwakilan pemerintah!’ Tetapi seringkali mereka mengabaikannya agar tidak membuat marah fans,” aku Presiden Rivlin. Baca juga: Rasis Sepakbola Tak Kunjung Habis Waperdam Avigdor Lieberman (kiri) & Presiden Reuven Rivlin (Twitter @ROADSEntertainment/@PresidentRuvi) Sebagaimana Rivlin, Gaydamak juga jengah dengan aksi-aksi rasisme fans. Terlebih, pada pemilihan walikota Yerusalem 2008 ia kalah telak. Dugaan “membalas” fans, terutama La Familia, pun muncul saat Gaydamak mendatangkan Kadayev dan Sadayev. Kendati mulanya alasan sikapnya itu klise, yakni untuk memperluas jaringan bisnisnya dengan pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov, Gaydamak akhirnya mengakui bahwa mendatangkan dua pemain muslim itu juga bertujuan agar mata dunia lebih terbuka terhadap Beitar yang merupakan klub sekaligus bangga terhadap rasisme itu sendiri. “Transfer keduanya memang diatur dengan alasan menimbulkan reaksi dan gejolak. Bukan karena keduanya pesepakbola bagus. Saya tidak tahu persis apa mereka pemain bagus. Saya hanya berasumsi akan menimbulkan reaksi besar. Kenapa? Agar saya bisa menunjukkan bahwa inilah cerminan masyarakatnya, agar wajah aslinya (rasisme) terekspos,” Gaydamak mengakui. Baca juga: Sepakbola Palestina Merentang Masa Untuk sesaat, La Familia menang karena setelah akhir musim Sadayev dan Kadiyev memilih pergi. Mereka tepuk dada karena kemurnian Beitar kembali dipulihkan. Namun, toh Beitar kemudian menempuh arah baru sesudah klubnya dibeli pengusaha Moshe Hogeg. Dua tahun berselang, Hogeg menjual 50 persen saham klub kepada pebisnis Arab asal Abu Dhabi, Sheikh Hamad bin Khalifa al-Nahyan. Hogeg beralasan ia ingin mengubah citra klub yang rasis menjadi lebih egaliter. “Pesan kami adalah, kita semua adalah sama. Kami ingin menunjukkan pada generasi muda bahwa kita semua setara dan bisa bekerjasama dan melakukan hal-hal yang indah bersama-sama,” tandas Hogeg, dikutip The New York Times , 7 Desember 2020. Deskripsi Film: Judul: Forever Pure | Sutradara: Maya Zinshtein | Produser: Geoff Arbourne | Produksi: Inside Out Films, Maya Films | Distributor: Yes Docu | Genre: Dokumenter | Durasi: 85 menit | Rilis: 12 Juli 2016, Mola TV.

  • Satgas Flu Spanyol di Hindia Belanda

    Pandemi Covid-19 di Indonesia telah berjalan selama lebih dari satu tahun lamanya. Tercatat hampir tiga juta orang terpapar virus tersebut. Hingga Juli 2021, sebagaimana dikutip laman  Covid.go.id , pasien meninggal di Indonesia telah menembus angka 76 ribu jiwa. Sementara pasien sembuh mencapai 2,3 juta jiwa. Pemerintah Indonesia terus berupaya menanggulangi bencana kesehatan global ini. Berbagai cara pun dilakukan untuk menekan laju penyebaran virus di masyarakat, seperti membatasi kegiatan di luar rumah, memberlakukan jam malam, mengesahkan aturan baru tentang pandemi, hingga mengadakan vaksinasi. Upaya lain dari pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini adalah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Secara resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 dibentuk pada 13 Maret 2020, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pembentukan Gugus Tugas itu bertujuan untuk meningkatkan ketahanan nasional di bidang kesehatan; mempercepat penanganan Covid-19; mengantisipasi penyebaran virus; serta meningkatkan kemampuan dan kesiapan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons Covid-19. “… untuk menghindari kesimpangsiuran informasi yang disampaikan kepada publik, saya minta agar Satgas Covid-19 menjadi satu-satunya rujukan informasi kepada masyarakat,” ujar Presiden Jokowi dalam sebuah keterangan pers di Istana Kepresidenan Bogor pada 16 Maret 2020, seperti dikutip laman Presidenri.go.id . Di masa lalu, ketika pandemi flu Spanyol mewabah di Hindia-Belanda pada permulaan abad ke-20, pemerintah kolonial juga melakukan hal serupa dengan membentuk Satgas penanggulangan pandemi. Gugus Tugas yang sebagian besar diisi oleh ahli kesehatan dan peneliti itu diberi nama Influenza Commisie (Komisi Influenza). Pembentukan Komisi Influenza merupakan langkah konkret yang diambil pemerintah kolonial dalam menghadapi gempuran virus Flu Spanyol di Hindia Belanda pada 1918. Menurut Arie Rukmantara, dkk dalam Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda , Komisi Influenza dibentuk pada November 1918 di bawah naungan Burgerlijke Geneeskundige Dienst (BGD) atau Dinas Kesehatan Rakyat. Pencetusnya adalah inspektur BGD, Dr. Thomas de Vogel. Komisi tersebut bertugas menanggulangi penyebaran wabah dan mencari upaya penyembuhan terhadap virus. Mereka juga harus mengadakan investigasi terkait penyebaran virus, mula dari penyebab, akar penyebaran, wilayah-wilayah terjangkit, gejala-gejala dari penyakit, tingkat mortalitas, hingga cara penanggulangan Flu Spanyol tersebut. Komisi Influenza dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Burgerlijke Geneeskundige Dienst No. 11767 Tanggal 16 November 1918. Disebutkan Iswara N. Raditya dalam 1918: Kronik Kebangkitan Nasional , Gugus Tugas penyebaran virus Flu Spanyol tersebut diketuai oleh Dr. C.D. de Langen. Dalam menjalankan tugasnya, Dr. Langen dibantu oleh empat orang dokter ahli, yakni Dr. G.O.E. Lignac, Dr. P.C. Flu, Dr. J. Huizinga, dan Dr. Sardjito. “Pembentukan tim tersebut mendorong diambilnya tindakan cepat untuk mencegah penyebaran penyakit itu dan menjangkau lapisan bawah masyarakat dengan penyebaran informasi yang berkaitan,” tulis Rukmantara, dkk. Dr. Langen bersama Komisi Influenza membawahi banyak dokter dan peneliti di laboratorium yang berkaitan langsung dengan Flu Spanyol. Ketika pertama kali dibentuk, komisi itu memulai pekerjaannya dengan melakukan survei terhadap kondisi Flu Spanyol di masyarakat. Mereka membagikan daftar pertanyaan ke seluruh dokter di Hindia Belanda. Nantinya hasil survei tersebut akan menjadi rujukan bagi penanganan pandemi di masa mendatang. Dijelaskan Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 , hasil survei Komisi Influenza menunjukkan bahwa gejala umum para penderita Flu Spanyol cenderung beragam. Namun ada kondisi yang hampir sama pada tiap penderita, yakni demam tinggi selama tiga hingga tujuh hari saat pertama terjangkit. Selain itu, gejala lain yang biasanya diderita oleh pasien Flu Spanyol adalah batuk kering, sakit kepala, sakit di sekitar pinggang, nyeri otot, sampai sakit di belakang mata. Dalam beberapa kasus para penderita sampai merasakan gejala cukup berat, seperti tubuh menggigil, mimisan, muntah-muntah, diare, dan gejala akut lainnya. “Dari segi kejiwaan dan mental, beberapa dokter menemukan bahwa Flu Spanyol menyebabkan berbagai gangguan psikis, seperti cemas berlebihan, mudah lupa, afasia, sulit tidur, kegilaan, dan berbagai gangguan lainnya,” kata Ravando. Berdasarkan survei Komisi Influenza itu juga diketahui bahwa sejumlah dokter melakukan beragam cara untuk melakukan pertolongan pertama terhadap pasien Flu Spanyol, seperti menggunakan minyak kayu putih yang diuapkan. Selain itu ada juga dokter yang menggunakan campuran kina dan codeine, meski akhirnya banyak ditentang karena ada kandungan narkotika di dalamnya. Beberapa dokter juga merekomendasikan campuran salypirin, kina, dan rad:rhei. Ketidakpastian dalam penanganan Flu Spanyol itu membuat kondisi pandemi kian memburuk. Baik dokter maupun masyarakat tidak memiliki cukup informasi tentang obat yang benar-benar ampuh menyembuhkan Flu Spanyol. Mereka hanya mengikuti isu-isu yang beredar. Para dokter juga umumnya hanya mengobati gejala yang muncul saja. Melihat kondisi itu Pemerintah kolonial segera memerintahkan BGD melakukan penelitian laboratorium guna mendapatkan obat Flu Spanyol resmi. Pemerintah berusaha menghentikan penggunaan racikan-racikan yang belum diuji secara laboratorium agar tidak menimbulkan kesalahan medis lain. Setelah beberapa bulan pengujian, imbuh Ravando, BGD akhirnya mengeluarkan obat resmi pemerintah, dengan komposisi utamanya: champor, pulvis doveri, dan aspirin. “Ketika racikan obat tersebut diproduksi untuk pertama kali dalam skala besar, dihasilkan 972.300 tablet yang seluruhnya dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Ravando. Pada Mei 1919, Komisi Influenza mengeluarkan tujuh keputusan penting dalam merespons pandemi Flu Spanyol yang masih mewabah di sejumlah tempat di Hindia Belanda. Tujuh keputusan tersebut, di antaranya membentuk komite khusus yang bertugas menyiapkan makanan dan obat-obatan bagi penduduk; membuat obat influenza; melakukan penyiraman secara berkala di jalan; mengimbau penggunaan obat kumur yang terdiri dari campuran air dan garam; imbauan penggunaan masker; menugaskan dokter pemerintah di daerah; dan menyebarkan informasi tentang Flu Spanyol di berbagai daerah.

  • Kritik Soe Hok Gie kepada Rektor UI

    Rektor Universitas Indonesia (UI) menjadi sorotan pemberitaan di berbagai media. Isu tak sedap dari kampus kuning tercium ketika sang rektor Ari Kuncoro diketahui merangkap jabatan sebagai wakil komisaris utama BRI. Sebagai akademisi, Ari Kuncoro dianggap melanggar statuta UI perihal rangkap jabatan. Belakangan dia  mengundurkan diri dari jajaran tersebut lantaran derasnya kecaman publik. Persoalan serupa juga pernah terjadi pada waktu lampau. Pada 1967, Rektor UI Soemantri Brodjonegoro diangkat menjadi menteri pertambangan dalam Kabinet Ampera II. Kedua jabatan itu dijalankan secara bersamaan oleh Soemantri. Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa UI Angkatan 66 menyorot rangkap jabatan yang diemban oleh Soemantri. Gie dalam artikelnya “Pelacuran Intelektual” yang termuat dalam Sinar Harapan  21 April 1969, mempertanyakan keputusan Soemantri yang merapat dengan kekuasaan. “Saya datang padanya. Saya tanyakan padanya mengapa ia mau diangkat menjadi menteri dan bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat-pejabat yang korup dan sloganistis,” tulis Gie. Soemantri menjawab bahwa kegundahan Gie itupun disadari olehnya. Kepada Gie, Soemantri mengatakan dirinya hanya punya dua pilihan. Terjun ke dalam pemerintahan dan berusaha memperbaiki keadaan meskipun belum tentu berhasil. Pilihan lain, tinggal di luar dan tidak berbuat apa-apa. Soemantri memilih yang pertama dengan segala konsekuensinya. Sebelum menjadi menteri pertambangan, Soemantri telah menjabat rektor UI sejak 1964. Gie menggolongkan Soemantri ke dalam kaum intelektual yang turut bekerja sama dengan rezim Sukarno. Bersama Soemantri, Gie menyebut lagi tokoh-tokoh cendekiawan seperti Johanes Leimena, Nugroho Notosutanto, dan Widjojonitisastro dalam kelompok ini. Menurut Gie, sebagian dari mereka gagal dan kemudian dicap sebagai pengkhianat intelektual. Sebagian dari mereka berhasil. “Prof. Dr. Soemantri dan Nugroho (pembantu rektor) dalam keadaan yang paling sulit berhasil sampai batas-batas maksimal menyelamatkan UI. Walaupun mereka terpaksa berbicara dengan istilah-istilah Nasakom, Manipol, dan lain-lainnya. Apakah kepada mereka akan kita berikan gelar ‘pelacur intelektual’?” kata Gie dalam Sinar Harapan . Sebagai seorang yang berlatar pendidikan teknik, penunjukan Soemantri sebagai menteri pertambangan terbilang tepat. Pertambangan yang di masa Orde Lama tidak optimal itu ditata kembali di bawah kepemimpinan Soemantri. Dalam rencana pembangunan lima tahun (repelita) I yang digagas Presiden Soeharto, sektor pertambangan menjadi amat penting untuk mendulang devisa bagi negara. Dari hasil tambang akan diperoleh dana yang diperlukan untuk memulai pembangunan, khususnya dari minyak bumi. Kendati demikian, kebijakan Soemantri tidak luput dari kritik. Mochtar Lubis dalam tajuk rencana harian Indonesia Raya 8 Juli 1970 menyoroti kunjungan Soemantri ke Amerika Serikat atas undangan perusahaan tambang swasta Freeport Sulphur. Saat itu, Freeport Sulphur baru saja memenangkan konsesi untuk mengeksploitasi tambang tembaga di Papua. Menurut Mochtar Lubis, tak patut seorang menteri diundang dan diongkosi oleh perusahaan swasta. Soemantri menjabat sebagai menteri penerangan dua periode berturut-turut. Periode keduanya berlangsung pada 1968—1973 dalam Kabinet Pembangunan I. Di saat yang sama, Soemantri tetap menjabat sebagai rektor UI. Hal ini menjadikannya sebagai rektor UI dengan masa jabatan terlama (1964—1973). Rangkap jabatan ini membuat Soemantri lagi-lagi menjadi sorotan. Namun, rangkap jabatan tersebut bukan atas kemauan Soemantri sendiri. Mochtar Lubis dalam tajuk rencana Indonesia Raya 4 April 1973 mencatat dewan guru-guru besar UI menghadapi kesulitan mencari pengganti Soemantri. Karena itu, jabatan rektor UI dibiarkan saja dirangkap oleh Soemantri selain jabatannya sebagai menteri pertambangan. Apalagi pada Kabinet Pembangunan II, Presiden Soeharto kembali menyertakan Soemantri untuk menempati posisi menteri pendidikan dan kebudayaan.    “Akan sulit sekali bagi seorang menteri pendidikan dan kebudayaan meneruskan jabatan rektor UI tanpa nanti dicurigai mendahulukan UI dari universitas-universitas lainnya. Juga ini akan merupakan preseden yang kurang baik mengenai kebebasan universitas,” tulis Mochtar Lubis. Soemantri tidak lama menjabat menteri pendidikan dan kebudayaan. Soemantri wafat pada 18 Desember 1973. Di Papua, namanya diabadikan untuk puncak gunung di pegunungan Sudirman yakni, Puncak Soemantri Brodjonegoro. Sementara itu di UI, namanya diabadikan sebagai nama jalan dan stadion.

  • Setan Influenza Menyerang Hindia Belanda

    Saat ini, Indonesia sedang menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19. Kondisi tersebut ditandai dengan munculnya berbagai virus baru, meningkatnya jumlah orang yang terkena virus Corona, serta adanya angka kematian yang masih tinggi. Indonesia pun tercatat sebagai negara dengan kasus harian tertinggi di Asia Tenggara. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan puncak gelombang pertama kasus Covid-19 di Indonesia terjadi pada Januari 2021 dengan kasus mingguan menyentuh angka 89.902 kasus. Sementara pada pekan terakhir bulan Juni 2021 angkanya jauh lebih tinggi, mencapai 125.396 kasus. “Hal ini menandakan second wave atau gelombang kedua kenaikan kasus Covid di Indonesia,” ujar Wiku, sebagaimana dilansir laman Tempo . Dalam sejarah, kasus serupa juga pernah terjadi di Indonesia pada permulaan abad ke-20. Kala itu, Hindia-Belanda harus menghadapi dua gelombang penyebaran virus Flu Spanyol yang merenggut nyawa lebih dari satu juta jiwa. Gelombang pertama terjadi antara bulan Juli hingga September 1918. Sedangkan gelombang kedua berlangsung antar November hingga Desember 1918. Di beberapa wilayah bahkan masih mewabah sampai pertengahan 1919. Lebih Mematikan Efek yang ditimbulkan gelombang kedua pandemi Flu Spanyol ternyata lebih destruktif ketimbang gelombang pertama. Dalam Koloniaal Verslag (Laporan Kolonial) pemerintah Hindia-Belanda tahun 1919, sebagaimana dikutip Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 , tercatat bahwa selama bulan November 1918 terjadi peningkatan angka kematian mencapai 416.000 jiwa bila dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya. Sebagian besar kematian tersebut disebabkan Flu Spanyol dan komplikasi pneumonia. “Saking parahnya serangan gelombang kedua tersebut, laporan Burgerlijke Geneeskundige Dienst (Dinas Kesehatan Rakyat) menyebutkan bahwa hampir tidak ada satu pun daerah di kawasan Indonesia kolonial yang luput dari serangan influenza,” kata Ravando. Disebutkan Samudra Eka Cipta dalam “Upaya Penanganan Pemerintah Hindia Belanda dalam Menghadapi Berbagai Wabah Penyakit di Jawa 1911-1943” dimuat Jurnal Candrasangkala Vol. 6, No. 1 Tahun 2020, daerah pelabuhan menjadi pusat persebaran penyakit. Virus asal Benua Biru tersebut dibawa oleh para pelaut dan pedagang di pelabuhan yang sebelumnya telah terpapar kemudian membawanya ke pedalaman. Menurut Ravando, di wilayah dekat pelabuhan, persebaran virus mencapai puncaknya selama kurun waktu satu minggu. Biasanya dalam periode tersebut, muncul banyak laporan mengenai penduduk yang terinfeksi dan meninggal dunia. Namun jika melihat angka mortalitas antara November-Desember 1918, baik di daerah maupun kota besar, persebaran virus tidak jauh berbeda. Hanya durasi yang membedakannya, di kota besar lebih lama karena populasi yang tertular jauh lebih banyak. “Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, baik di daerah maupun dari laporan hasil penelitian laboratorium, sumber penularan penyakit diduga berasal dari udara ( lucht ). Untuk itu pemerintah kolonial kemudian mengeluarkan instruksi pembagian masker yang diserahkan kepada warga yang tinggal di daerah yang terjangkit,” tulis Arie Rukmantara, dkk dalam Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda . Tidak Terbendung Ketika pertama kali muncul pada Oktober 1918, tidak ada satu pun yang menyangka jika gelombang kedua pandemi Flu Spanyol akan begitu menyengsarakan. Sejumlah surat kabar masih menganggap penyakit itu tidak berbahaya. Koran Andalas , misalnya, menyebut jika Flu Spanyol hanya suatu penyakit yang lebih berat dari flu biasa. Pernyataan serupa juga tertulis dalam Sinar Makassar yang menyatakan jika penyakit itu tidak lebih berbahaya ketimbang penyakit kronis lain, seperti disentri, malaria, atau kolera. Ironisnya, pernyataan yang muncul di surat kabar itu diperkuat oleh argumen sejumlah dokter yang menyebut jika Flu Spanyol hanya sedikit berbahaya dari influenza biasa. Dalam Sinar Makassar , dikutip Ravando, seorang dokter membuat sebuah pernyataan tentang Flu Spanyol: “Pada permulaan orang kata itu penyakit namanya SpanischeInfluenza , tetapi menurut keterangan seorang thabib, maka penyakit ini tidak lain daripada penyakit pilek yang lebih jahat dari biasa.” Munculnya berbagai argumen itu, imbuh Ravando, terjadi lantaran gelombang pertama Flu Spanyol tidak terlalu mematikan bila dibandingkan dengan pes, cacar, atau kolera. Tetapi gelombang kedua sangat berbeda. Serangannya jauh lebih mematikan. Banyak ahli di Hindia-Belanda yang tidak siap menerimanya karena tidak akrab dengan jenis penyakit tu, juga kekurangan informasi untuk menelitinya. Pandangan masyarakat tentang serangan Flu Spanyol gelombang kedua juga mulai berubah ketika ribuan orang menjadi korban hanya dalam kurun waktu beberapa minggu saja. Selain itu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pun lumpuh total. Pemandangan seperti itulah yang membuka mata masyarakat tentang betapa berbahayanya gelombang kedua Flu Spanyol. Sampai-sampai surat kabar Tjhoen Tjhioe menyebut jika tidak ada tempat yang aman dari terjangan virus, kecuali hutan rimba. Sementara Pewarta Soerabaia berulang kali menyebut penyakit itu dengan sebutan ‘setan influenza’ dan ‘penyakit bangsat’. “Banyak penduduk yang berpikir bahwa tidak lama lagi dunia akan kiamat. Di berbagai daerah, hampir mustahil bagi satu keluarga untuk bisa terbebas sepenuhnya dari Flu Spanyol. Minimal pasti ada satu orang di dalam satu rumah yang terjangkit virus tersebut,” tulis Ravando. Berdasarkan laporan BGD, selama gelombang kedua Flu Spanyol itu para penderita mulai menunjukkan gejala dan komplikasi yang beragam, sehingga durasi kesembuhan dari penyakit tersebut menjadi lebih lama dan tingkat kematian juga menjadi lebih tinggi. Tingkat mortalitas di sejumlah tempat meningkat secara signifikan. Kondisi itu menjadi pembeda antara gelombang kedua dengan gelombang pertama. Hal lain yang membuktikan bahwa gelombang kedua lebih ganas dari sebelumnya adalah meningkatnya angka kematian di kawasan timur Hindia Belanda. Di wilayah seperti Maluku dan Sulawesi, pada gelombang pertama pandemi, sangat jarang ditemukan laporan tentang kasus Flu Spanyol. Akan tetapi selama gelombang kedua, hampir setiap hari beragam kasus kematian akibat Flu Spanyol dilaporkan di wilayah tersebut. “Peningkatan hubungan dagang antar wilayah di Indonesia kolonial, yang dibarengi dengan semakin mudahnya mobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat lainnya, ditengarai menjadi penyebab utama penularan virus tersebut hingga ke pelosok-pelosok daerah,” ujar Ravando.

  • Pembatasan Kegiatan Masyarakat Masa Kompeni

    Pemerintah memperpanjang waktu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa-Bali hingga 25 Juli 2021. Perpanjangan ini menyebabkan penyekatan jalan di berbagai daerah masih berlaku. Hanya orang yang membawa Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) yang diperkenankan melintasi penyekatan yang dijaga panser dan tentara. Penyekatan membuat masyarakat tak leluasa bergerak di dalam wilayahnya sendiri. Sebagian mengeluh harus mengurus administrasi STRP. Ketidakleluasaan bergerak ini sebenarnya juga pernah terjadi pada masa lampau. Tapi kasusnya bukan karena pandemi, melainkan untuk menjaga keamanan kota pelabuhan milik VOC seperti di Batavia sejak 1620-an. “Menurut sejarawan Mona Lohanda peraturan ini dimulai sejak 1628,” sebut Yerry Wirawan dalam Keberagaman Masyarakat Indonesia. Peraturan ini berlaku bagi setiap orang lokal tanpa memandang asal sukunya. Setiap orang harus membawa surat pas atau surat jalan agar bisa keluar-masuk kota VOC ( passenstelsel ). “Di masa kekuasaan VOC, warga pribumi yang akan memasuki kota Batavia (wilayah Intramuros ) harus memiliki surat pas ( Plakaat 6 Agustus 1640) yang dikeluarkan oleh licentiemeester ,” catat Mona Lohanda dalam Para Pembesar Mengatur Batavia. Kala itu, Batavia terbagi menjadi dua wilayah besar: dalam tembok kota dan luar tembok. Orang-orang Eropa beserta budaknya (asisten rumah tangganya) menghuni tembok kota, sedangkan orang-orang lokal tinggal di luar tembok. Pembangunan tembok kota juga tak lepas dari pertimbangan keamanan. Diurus Kepala Kampung Adolf Heuken dalam Sejarah Jakarta dari Masa Prasejarah Sampai Akhir Abad ke-20 menyebut kebijakan passenstelsel berpangkal dari ketakutan orang-orang VOC terhadap kemungkinan serangan orang-orang Jawa Mataram. Untuk memperkuat passenstelsel , VOC menempatkan orang-orang lokal di luar tembok kota dan membaginya berdasarkan latar belakang suku atau daerahnya. Kebijakan itu disebut wijkenstelsel (sistem kampung). VOC menunjuk kepala kampung atau bek di setiap wilayah wijk. Bek bertanggung jawab terhadap keamanan kampungnya masing-masing. Dia juga harus mengurus warga yang mengajukan surat jalan. Dengan begitu, bek menjadi perpanjangan tangan VOC untuk mengetahui pergerakan warga di luar tembok kota. Urusan membuat surat pas ini sangat merepotkan. Warga mesti menemui kepala kampungnya untuk meminta formulir isiannya. Warga harus mengisi “alamat yang dituju, angkutan yang digunakan, lama perjalanan, berapa orang yang pergi bersamanya, dan maksud dari perjalanan tersebut,” sebut Mona. Tak selesai di situ, warga juga wajib membayar biaya pembuatan surat pas itu. Bila surat pas sudah dibuat, warga harus membawanya selama keluar dari kampungnya. Kemudian warga mesti melapor setibanya di tempat tujuan kepada petugas berwenang. “Kalau orang Cina, ia harus melapor kepada bek Cina atau Opsir Cina setempat untuk mendapatkan tanda tangan dan cap stempel,” lanjut Mona. Dari sini, warga bisa mengeluarkan biaya lagi. Meski aturan ini tampak ketat dan merepotkan, interaksi warga antarkampung di luar tembok kota tetap berjalan normal. Bahkan kawin-mawin antarkelompok menjadi hal yang kaprah. Untuk Warga Tionghoa Perubahan terjadi setelah 1740. Saat itu, orang-orang VOC membantai ribuan warga Tionghoa karena dianggap ingin memberontak. Sejak itu, orang-orang VOC mulai mencurigai warga Tionghoa. Mereka memberlakukan aturan surat pas secara lebih ketat khusus untuk mereka. Pemberlakuan ini terus berlangsung bahkan ketika aturan surat pas tak lagi diberlakukan untuk warga lainnya pada 1835. “Tahun 1862 ketika Kultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) dihapus, passenstelsel malah diberlakukan lebih ketat bagi etnis Tionghoa dengan maksud menghambat aktivitas mereka,” tulis Mona Lohanda dalam “The Passen en Wijkenstelsel: Dutch Practice of Restriction Policy on the Chinese” Jurnal Sejarah , Vol. 12 No. 12, Juni 2005. Tapi Ong Hok Ham menyebut penegakan dan ketaatan pada aturan surat pas ini sangat bergantung pada orang Tionghoa dan pegawai atau pejabat setempat. “Banyak yang memang mengabaikan pembatasan-pembatasan bepergian ini, khususnya untuk jarak pendek dan yang berwenang kadang-kadang membiarkannya,” tulis Ong dalam “Refleksi Seorang Peranakan Mengenai Sejarah Cina-Jawa” yang termuat dalam Rakyat dan Negara . Menurut Ong, pemerintah kolonial mempunyai kepentingan atas orang Tionghoa terkait penjualan candu, rumah gadai, pembuatan garam, perahu tambang, dan pajak pasar. “Karena mereka membawa keuntungan bagi usaha pemerintah, mereka harus dapat bergerak secara leluasa,” lanjut Ong. Bayar Denda Tapi buat sejumlah pedagang Tionghoa, aturan surat pas itu tetap berlaku. Seperti yang dialami oleh Tio Tek Hong pada 1905. Dia harus tetap membuat surat pas untuk pergi dari Batavia ke sejumlah kota di Jawa. “Saya minta surat jalan untuk ke Yogya dan Solo kepada Asisten Residen Ketjen di Jakarta. Saya cuma diberi surat jalan ke Surabaya. Katanya dengan surat itu saya boleh singgah dimana saja,” kenang Tio dalam “Cina Pasar Baru tentang Betawi Tempo Doeloe” yang termuat dalam Batavia Kisah Jakarta Tempo Doeloe . Tio dan seorang temannya sempat khawatir ketika menginap di sebuah hotel yang dikelola orang Belanda di Yogyakarta. Kepada pemilik hotel, dia katakan hanya punya surat jalan ke Surabaya. Tak ada surat jalan secara khusus untuk kota yang dia singgahi. “Kami terus terang memberi tahu tak berbekal surat jalan khusus,” kata Tio. Tio lalu menghubungi Kapten Yap Ping Liem, kepala orang Tionghoa di Yogyakarta. Dia meminta kepadanya agar mau membuatkan surat jalan untuk keliling Yogyakarta dan Solo. Kapten Yap menyanggupinya dan meminta Tio beserta kawannya tak usah khawatir. Sepulang dari rumah Kapten Yap, polisi telah menunggu Tio dan kawannya di hotel. “Kami masing-masing tak luput dari denda f.5,00. Kami terpaksa membayarnya karena tak mau masuk penjara,” terang Tio. Tio dan temannya menunggu surat pas selama empat hari. Tapi surat itu tak jadi-jadi juga. Mereka akhirnya nekat berangkat ke Solo. “Tanpa surat kami berangkat ke Solo. Syukur kami tak mendapat kesulitan,” cerita Tio. Pemerintah kolonial mencabut aturan surat pas di seluruh wilayah koloni pada 1916. Penghapusan ini hasil dari tuntutan organisasi orang Tionghoa terhadap pemerintah kolonial. Mereka mengatakan dunia sudah berubah dan bergerak ke arah liberalisasi. Pemerintah kolonial pun menilai kebijakan itu sudah usang dan mempersulit pertumbuhan ekonomi.

  • Pertama Kali Manusia Memakai Narkoba

    Ketergantungan manusia modern pada narkoba dan alkohol memunculkan dugaan mungkin mabuk-mabukan adalah tradisi kuno, bahkan sejak masa prasejarah. Dua hal itu bahkan mungkin mendorong tumbuhnya suatu peradaban. “Minum dapat membantu orang bersosialisasi, mengubah perspektif, mendorong kreativitas, dan kafein membuat kita produktif,” catat laman   Phys . Kemungkinan lain bisa jadi zat psikoaktif dikembangkan sebagai respons terhadap penyakit peradaban. Masyarakat besar menciptakan masalah besar, seperti perang, wabah penyakit, ketidaksetaraan dalam kekayaan dan kekuasaan. “Mungkin ketika orang tidak dapat mengubah keadaan mereka, mereka memutuskan untuk mengubah pikiran mereka,” lanjut laman itu. Sayangnya, menelusuri asal-usul kapan manusia membutuhkan narkoba sebagai pengalih pikiran tak mudah. Hanya sedikit bukti arkeologi yang bisa menunjukkan penggunaan narkoba pada masa prasejarah. Untuk Ritual Benih ganja muncul di dalam penggalian arkeologi di Asia dan diketahui usianya 8.100 SM. Data arkeologi pun menunjukkan opium pertama kali digunakan di Eropa pada 5.700 SM. Sejarawan Yunani Kuno Herodotus melaporkan orang Skit mulai kecanduan gulma pada 450 SM.  “Orang-orang menemukan opium dari bunga popi di Mediterania, ganja dan teh di Asia,” tulis Phys . Namun, bisa jadi leluhur manusia sudah bereksperimen dengan zat adiktif sebelum dibuktikan data arkeologis. Batu dan tembikar terawetkan dengan baik, tetapi tanaman dan bahan kimia cepat membusuk. Sejauh ini bukti arkeologi menunjukkan penemuan dan penggunaan intensif zat psikoaktif kebanyakan berasal dari masa revolusi neolitik pada 10.000 SM. Itu saat manusia telah menemukan cara bertani dan hidup menetap. Secara historis zat psikoaktif telah digunakan oleh pendeta dalam upacara keagamaan. Sebagaimana menurut Marc-Antoine Crocq, ahli psikiatri Prancis, dalam “Historical and Cultural Aspects of Man’s Relationship with Addictive Drugs” jurnal Dialogues Clin Neurosci. 2007 Dec; 9(4) ,manusia pada awalnya mungkin menemukan efek psikoaktif dari beberapa tanaman melalui hewan ternak mereka. “Tradisi mengatakan bahwa para pendeta Ethiopia mulai memanggang dan merebus biji kopi agar tetap terjaga sepanjang malam untuk berdoa. Itu setelah seorang gembala memperhatikan bagaimana kambingnya bermain-main setelah makan di semak-semak kopi,” tulis Crocq. Lalu ada jamur Amanita muscaria yang mengandung zat halusinogen. Jamur ini, menurut Crocq, telah digunakan dalam ritual keagamaan di Asia Tengah setidaknya selama 4.000 tahun. Amanita muscaria memiliki makna religius di India kuno.  “Anak-anak mengenal jamur merah dengan bintik putih yang indah ini dari ilustrasi dongeng dan kartu Natal,” jelasnya. Sementara di Amerika, penduduk aslinya telah mengenal efek dari kaktus peyote, kaktus san pedro, morning glory, datura, salvia, anadenanthera, ayahuasca, dan lebih dari 20 spesies jamur psikoaktif. Pernah ada temuan berupa sisa buah kaktus peyote berbentuk kancing berusia 4.000 SM menurut penanggalan karbon. Penduduk asli di Meksiko pra-Columbus dan juga Navajo di barat daya Amerika Serikat, menggunakan kaktus peyote ( Lophophora williamsii ) untuk memicu keadaan introspeksi spiritual. Kaktus ini mengandung efek psikoaktif, terutama mescaline. Temuan patung berbentuk jamur dari Meksiko mengisyaratkan penggunaan jamur jenis psilocybe pada 500 SM. Jamur ini diketahui mengandung zat halusinogen. Sebagai Obat Opium dari bunga popi oleh bangsa Sumeria pada akhir milenium ke-3 SM disebut dengan istilah “gil”, artinya kegembiraan. Biji-bijian dari bunga popi juga dipercaya menjadi obat untuk mencegah tangisan berlebihan pada anak-anak. Ini terbaca dalam Papirus Ebers dari sekira 1500 SM, salah satu dokumen medis tertua umat manusia. Pertama-tama biji popi disaring menjadi bubur dan diberikan kepada pasien selama empat hari berturut-turut.  Stewart Ross dalam The First of Everything: a Celebration of Human Invention mencatat,Paracelsus (1493–1541), alkimiawan dari Swiss, adalah yang pertama kali meresepkan laudanum atau ekstrak alkohol dari opium pada 1525. Resep ini untuk obat pereda nyeri. Pada abad ke-19, laudanum secara luas digunakan pada orang dewasa dan anak-anak. Mereka memakainya untuk berbagai penyakit, seperti insomnia, penyakit jantung, dan infeksi. “Kelas pekerja sebagian besar mengonsumsi laudanum karena lebih murah daripada gin atau anggur, karena lolos dari pajak,” jelas Ross. Morfin pertama kali digunakan oleh ahli kimia Jerman, Friedrich Serturner pada sekira 1804. Tiga tahun kemudian morfin mulai dijual. Sementara ahli bedah China, Hua Tuo (sekira 140–208 M) mendapat kredit atas penggunaan pertama kali ganja sebagai obat bius. “Meskipun orang Mesir hampir pasti menggunakannya sebelum ini,” tulis Ross.  Mulai Disalahgunakan Orang-orang asli Amerika juga menemukan cara menghirup tembakau dan halusinogen melalui hidung. “Mereka adalah orang pertama yang menghirup narkoba, praktik yang kemudian dipinjam orang Eropa,” tulis laman Phys . Crocq berpendapat, persoalan kehilangan kendali dan penyalahgunaan zat-zat adiktif mulai menjadi bahan diskusi pada abad ke-17. Isu-isu yang diperdebatkan seperti apakah kecanduan itu dosa atau penyakit, sehingga mana yang perlu dilakukan, pengobatan moral atau medis? Didiskusikan pula soal apakah pemakaian zat adiktif ini berkaitan dengan kerentanan dan psikologi seseorang. Diperdebatkan juga apakah zat ini harus diatur penjualannya atau tetap bisa diperjualbelikan secara bebas. Pada awal abad ke-20, ensiklopedia di negara-negara Barat masih menyatakan bahwa orang dengan kesehatan mental dan fisik yang baik dapat menggunakan opium tanpa risiko ketergantungan.  Namun, opium adalah contoh dari zat yang pola penggunaannya berubah pada beberapa abad terakhir. Dari obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dan anestesi menjadi zat yang terkait dengan penyalahgunaan dan ketergantungan. Sama halnya dengan metode fermentasi gandum yang mengandung pati untuk kemudian menghasilkan bir dengan kandungan alkohol sekira 5 persen. Proses fermentasi yang sama dengan anggur menghasilkan kandungan alkohol hingga 14 persen. “Orang bisa minum alkohol dengan kekuatan 50 persen dan lebih, membuatnya lebih mudah untuk mabuk,” lanjut Crocq. “Demikian pula rokok yang memungkinkan nikotin dapat diserap dengan cepat.”   Pada era kolonial, revolusi industri, dan perdagangan internasional, kecanduan menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Pada abad ke-18, potensi kecanduan opium diakui ketika sejumlah besar orang Tiongkok menjadi kecanduan. Pemerintah Tiongkok berusaha menekan penjualan dan penggunaannya.  Di Eropa, kelas pekerja terancam pula oleh kecanduan alkohol. Emil Kraepelin, psikiater Jerman yang berpengaruh besar pada pembentukan psikiatri modern, menjadi salah satu yang memerangi alkohol. Dia menerbitkan data psikometrik pertama tentang pengaruh teh dan alkohol pada awal 1890-an. Sebagai hasil dari penelitiannya, dia sampai pada kesimpulan bahwa kecanduan alkohol kronis memicu lesi otak kortikal yang menyebabkan penurunan kognitif permanen. Sigmund Freud, ahli ilmu saraf yang sezaman dengan Kraepelin, kemudian melakukan pendekatan psikologis terhadap efek kecanduan. Konsekuensinya, kecanduan alkohol, opiat, dan bahkan perjudian telah dikelompokkan bersama di bawah penyebutan yang sama. Namun, itu dianggap sebagai ekspresi berbeda dari satu sindrom kecanduan yang mendasarinya. “Menariknya, Al-Qur’an memperingatkan soal anggur ( khamr ) dan perjudian ( maisir ) dalam surat yang sama (Al-Baqarah: 219),” jelas Crocq. Demikianlah orang-orang terdahulu menyempurnakan psikotropika menjadi lebih kuat. Lalu membuat efek yang lebih cepat. “Berujung pada penyalahgunaan,” tulis Crocq.

  • Vice yang Menyibak Tabir Kebohongan Amerika

    ALARM di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat meraung-raung pada pagi 11 September 2001. Dengan tatapan kosong, Wakil Presiden (Wapres) Dick Cheney (diperankan Christian Bale) menyaksikan layar televisi yang menayangkan serangan teroris terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC). Ia akhirnya dievakuasi paksa oleh anggota Secret Service (pasukan pengaman presiden dan wakil presiden). Jam menunjuk pukul 9.38 pagi saat sang wapres tiba di Presidential Emergency Operations Center. Sejumlah pejabat dan staf keamanan tampak panik, tapi tidak dengan Dick. Sementara, Presiden George Walker Bush (Sam Rockwell) masih mengudara dengan Air Force One. Di pundak Dicklah segala keputusan eksekutif bertumpu. Bersama dengan sejumlah sisipan adegan dan footage  tentang perang global terhadap terorisme, momen itu membuka film biopik bertajuk Vice  garapan sutradara Adam McKay. Dikemas dalam drama-komedi hitam, biopik itu mengisahkan tentang Dick sebagai wapres yang punya wewenang setara dengan presiden. Adegan Wapres Dick Cheney dan istrinya, Lynne di Presidential Emergency Operations Center (Annapurna Pictures) Namun sebelum menyibak wewenang apa saja yang dipegang Dick saat itu, McKay lebih dulu menarik mundur alur cerita untuk menyingkap masa lalu sang wapres. Tepatnya pada medio 1963, saat Dick terpaksa mengubah jalan hidupnya. Dick saat itu seorang buruh perakit kawat yang punya kebiasaan mabuk-mabukan dan berkelahi. Lynne Vincent Cheney (Amy Adams) istrinya sampai mengancam akan mencampakkannya jika Dick tak jua berubah dan meluruskan hidupnya. Dick yang insyaf ketimbang diceraikan, akhirnya kuliah lagi. Setelah lulus, ia menjajal peruntungannya dalam program magang Gedung Putih pada 1969. Di saat itulah ia mulai mengenal dan banyak belajar di bawah naungan Donald Rumsfeld (Steve Carell), anggota Kongres yang juga penasihat ekonomi Presiden Richard Nixon. Perlahan tapi pasti, Dick mulai menikmati jaringan politiknya yang meluas baik di antara para staf Gedung Putih maupun dengan para politikus Partai Republik. Saat Gerald Ford naik jadi presiden menggantikan Nixon yang mengundurkan diri, Dick merasakan berkahnya. Dia dipromosikan jadi kepala Staf Gedung Putih, kemudian menteri pertahanan. Donald Henry Rumsfeld (kanan) yang melambungkan karier Dick Cheney (Annapurna Pictures) Dick kemudian masuk dalam daftar calon wapres atau presiden dari Partai Republik. Namun ia memilih pamit dari panggung politik. Ia sadar keluarganya bisa jadi sasaran hujatan karena putri bungsunya, Mary Cheney (Alison Pill), diketahui seorang lesbian. Dick beralih membangun kariernya di bisnis minyak hingga menjadi CEO perusahaan multinasional Halliburton Co. Di masa-masa itu keluarganya hidup bahagia. Pada milenium baru, tetiba ia mendapat telepon dari George W. Bush yang menginginkannya jadi cawapres dalam pilpres Amerika tahun 2000. Dick memberi syarat, setuju dipinang asal tak sekadar jadi simbol alias diberi wewenang lebih oleh Bush di bidang energi, militer, dan kebijakan luar negeri. Kendati kontroversial, pasangan Bush-Dick menang tipis dari pasangan Al Gore-Joe Lieberman asal Partai Demokrat. Dengan wewenang lebih yang diberikan Bush, Dick pun menempatkan banyak sekutu politiknya di berbagai sendi kehidupan politik Amerika. Antara lain memanggil kembali Donald Rumsfeld, yang “diasingkan” sebagai perwakilan tetap Amerika di NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara), menjadi menteri pertahanannya. Adegan Dick Cheney (kedua dari kiri) maju jadi cawapres tahun 2000 (Annapurna Pictures) Setelah itu, cerita kembali ke momen ke awal, di mana Dick memegang peranan penting di belakang keputusan-keputusan presiden terhadap perang global terhadap terorisme. Tidak hanya menginvasi Afghanistan, Dick bermanuver dengan sejumlah intrik untuk memaksa Menteri Luar Negeri Colin Powell (Tyler Perry) mengumumkan di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Amerika akan menginvasi Irak dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal. Hal itu menimbulkan rantai kejadian yang mengubah peta politik dan dinamika internasional sebagaimana yang kita lihat saat ini. Bagaimana intrik-intrik itu dilakoni Dick di masa kepresidenan George W. Bush? Tonton selengkapnya hanya di aplikasi daring Mola TV . Bukan “King of Silent” Drama, konflik, dan komedi yang menyatu dalam satu paket bukan hal bagi komposer Nicholas Britell untuk melengkapinya dengan music scoring . Ragam genre menjadi keniscayaan, mulai dari tembang-tembang khas 1960-an kala alur cerita mundur ke masa lalu Dick, hingga irama-irama komikal dan lantunan simfoni melankolis seiring perjalanan karier Dick. Di situlah kecakapan Britell dibuktikan. Ia sukses menyajikan musicscoring yang selalu cepat berganti seiring perubahan-perubahan cerita. Justru editorlah yang kurang cakap. Potongan-potongan scene -nya kurang rapi dan cukup mengganggu. Terlebih saat sisipan foto atau footage lawas tetiba datang. Sutradara Adam McKay (tengah) saat mengarahkan suatu adegan (Annapurna Pictures) Selain hal teknis itu, menurut sejumlah kritikus, Vice juga cenderung fokus pada satir atau komedi hitam kendati McKay melabelinya sebagai biopik. Alhasil, kendati dianggap gagal menggali lebih dalam kepribadian sang wapres, McKay menyajikan aktivitas-aktivitas politik Dick yang mengundang humor sekaligus ironi. “Fungsi sentral biopik mestinya memperdalam pemahaman kita tentang subyeknya. Seperti Bohemian Rhapsody , misalnya. Vice tak sedikitpun mendekati fungsi itu. Ketika premis filmnya berfokus pada seorang subyek yang membentuk sejarah dunia saat ini, Anda pasti ingin mendapatkan kedalaman lebih dari yang disajikan,” tulis Matthew Norman dalam kolomnya di Evening Standard , 25 Januari 2019. Meluruskan Fakta Dick memang tak pandai berorasi. Namun, ia pemikir yang tajam. Maka, ia bukan sekadar simbol dan bukan “King of Silent” sebagaimana pada wapres terdahulu. Kebijakan-kebijakan Presiden George W. Bush tak lain adalah hasil dari “desain” politik Dick. Dick pintar memanfaatkan kemarahan publik Amerika akibat 9/11 untuk menjustifikasi tindakan-tindakannya, terutama invasi ke Irak, walau akhirnya terkuak itu hanya topengnya untuk menguasai ladang-ladang dan jalur-jalur pipa minyak. Vice membuka tirai tentang apa dan bagaimana manuver-manuver legal eksekutif yang diambil tanpa persetujuan legislatif di masa darurat. Berbekal dukungan negara-negara sekutu Amerika, wewenang itu menjadikan eksekutif, baik presiden maupun wapres, seperti punya otoritas absolut yang tidak hanya melampaui konstitusi Amerika tapi juga dunia. Posisi itulah yang memungkinkan Dick menjadi otak di balik peran Amerika sebagai “polisi dunia” pasca-9/11. Sebagai “polisi dunia”, sejumlah skandal kemanusiaan global lain kemudian menyusul, mulai dari penyiksaan tahanan di Kamp Guantanamo dan Abu Ghraib hingga invasi ke Irak. Wapres yang hobi memancing itu tak pernah menyesal meski telah memicu rangkaian kejadian yang mengubah tatanan politik dunia, khususnya Timur Tengah. Dari Afghanistan, konflik melebar ke Irak, Suriah, hingga negara-negara Arab di Afrika Utara. Semua gegara Dick memaksakan klaim: Al-Qaeda punya keterkaitan dengan milisi di Irak utara pimpinan Abu Musab al-Zarqawi yang kemudian melahirkan ISIS. Eksesnya adalah Islamofobia di dunia Barat yang masih kuat  sampai saat ini akibat aktivitas-aktivitas terorisme ISIS dan Al-Qaeda. Sosok asli Lynne dan Dick Cheney (kiri) dan penokohannya dalam film (US National Archives/Annapurna Pictures) Sebagai penambah buat generasi kekinian memahaminya, McKay menyisipkan data-data statisitik di akhir film. Selain angka kematian serdadu Amerika yang mencapai lebih dari 4.000 jiwa, ada juga catatan korban sipil Irak lebih dari 600 ribu, atau saham perusahaan minyak Halliburton yang melonjak 500 persen sejak invasi ke Irak. “Hal terbesar yang dilakukannya adalah melancarkan perang (di Irak) dan nyatanya kemudian dalihnya palsu. Pada titik itu kita mulai menyadari fakta bahwa pemerintah kita tidaklah bekerja melayani kita dan terdapat agenda-agenda terselubung yang tidak mewakili kepentingan publik. Ia mengubah pandangan kita terhadap pemerintah tapi kemudian, akui saja, hasilnya Timur Tengah menjadi tidak stabil. Lalu lahirnya ISIS. Perang juga memperbesar utang tiga kali lipat dan membuat ekonomi dunia kolaps,” tutur McKay kepada National Public Radio , 3 Januari 2019. Namun, apa yang jadi suguhan Vice tentu tak 100 persen lurus pada fakta-fakta historis. Selain ada beberapa tokoh politik yang dihilangkan karena keterbatasan durasi, beberapa pengisahan kejadian pun tak sesuai fakta. Contoh pertama, misal, tentang Donald Rumsfeld yang disebutkan narator sebagai veteran pilot jet tempur Angkatan Laut (AL) Amerika. Padahal, ia tak pernah sekali pun berada di balik kokpit pesawat jet tempur meski pernah bertugas sebagai penerbang dan instruktur AL Amerika pada 1954-1960. Donald Rumsfeld saat jadi pilot AL (kiri) & Menteri Pertahanan Amerika (Rumsfeld Foundation Archive/US National Archives) Mengutip Air Force Times , 3 Maret 2003, Rumsfeld yang bertugas di USNR (kesatuan cadangan AL) Pangkalan AL Anacostia dan Pangkalan AL Grosse Ile, hanya pernah memiloti pesawat anti-kapal selam Grumman S-2 Tracker. Ketika kemudian sudah menjadi instruktur, ia sekadar menerbangkan pesawat latih T-6 Texan dan T-28 Trojan. Ketiga pesawat itu digerakkan baling-baling, bukan mesin jet. Penggambaran lain Vice yang melenceng adalah ketika Dick memulai program magangnya pada 1968. Ia dideskripsikan langsung dimentori Rumsfeld. Pada kenyataannya, Dick mulai jadi staf magang di Gedung Putih di bawah naungan anggota Kongres William A. Steiger, yang ketokohannya dihilangkan dalam film. “Politik selalu membuatnya tertarik. Tidak seperti orangtuanya yang memihak (partai) Demokrat, Dick memilih bergabung dengan Partai Republik. Lalu pada 1968 ia menerima pekerjaan di bawah anggota Kongres Amerika William Steiger yang juga Republikan,” tulis Elaine K. Andrews dalam Dick Cheney: A Life in Public Service . Adalah Steiger, lanjut Andrews, yang mengenalkan Dick pada Rumsfeld. Steiger memuji kinerja Dick hingga pada April 1969 Dick diminta Rumsfeld pindah dari staf Steiger untuk menjadi asisten khususnya yang baru merangkap jabatan sebagai direktur Office of Economic Opportunity. Terakhir, adalah dramatisasi misteri kematian ibu mertua Dick, Edna Vincent, pada 24 Mei 1973. Padahal, baik Cheney maupun istrinya tak pernah tahu pasti apa penyebab sesungguhnya kematian itu sampai investigasi singkat Kepolisian Casper, Wyoming menyatakan Edna meninggal karena kecelakaan. Sosok asli Lynne Ann Cheney (kiri) dan ibunya, Edna Vincent (US National Archives/ Casper Star Tribune , 26 Mei 1973) Dalam film digambarkan Edna meninggal akibat tenggelam di Danau Yesness setelah bertengkar hebat dengan suaminya, Wayne Vincent. Hal itu mengesankan bahwa ayah Lynne secara tak sengaja membunuh Edna. Padahal, laporan kepolisian yang dikutip suratkabar Casper Star Tribune edisi 26 Mei 1973 menyatakan hal berbeda. “Nyonya Vincent meninggal pada Kamis malam ketika ia terpeleset ke Danau Yesness di selatan Casper dan tenggelam.” Ketika itu, lanjut suratkabar tersebut, sekitar pukul 9 malam Edna sedang mengajak jalan-jalan anjing peliharaannya di sekitar danau. Lantaran tak kunjung pulang sampai tengah malam, Vincent kemudian melapor kepada polisi bahwa istrinya hilang. Lynne sendiri menyatakan dalam memoarnya, Blue Skies, No Fences: A Memoir of Childhood and Family, ayahnya memang tidak sedang bersama ibunya saat ibunya meninggal. Ia meyakini ibunya meninggal karena kecelakaan akibat gangguan kesehatan, di mana ibunya diketahui sering mengeluh pusing karena tekanan darah rendah. Deskripsi Film: Judul: Vice | Sutradara: Adam McKay | Produser: Brad Pitt, Will Ferrell, Adam McKay, Kevin J. Messick, Jeremy Kleiner, Dede Gardner | Pemain: Christian Bale, Amy Adams, Sam Rockwell, Steve Carell, Tyler Perry, Alison Pill, Jesse Plemons | Produksi: Plan B Entertainment, Gary Sanchez Productions, Annapurna Pictures | Distributor: Mirror Releasing | Genre: Drama Biopik | Durasi: 132 menit | Rilis: 11 Desember 2018, Mola TV.

  • Petualangan Westerling di Barat Jawa

    SUATU siang 73 tahun yang lalu, Atjep Abidien tengah berjalan di atas pematang sawah ketika sebuah truk militer tertutup berhenti di depan-nya. Alih-alih menghindar, dia malah langsung bersembunyi di balik semak-semak. Sebagai anggota gerilyawan Republik, keingintahuannya lebih besar dibanding ketakutannya saat melihat kendaraan militer Belanda yang mencurigakan itu. Benar saja, begitu berhenti di depan hutan Cigunung Putri (masuk wilayah Kecamatan Takokak, Cianjur), tiga prajurit berbaret hijau dengan senjata terkokang, keluar dari truk tersebut. Mereka terdiri dari dua orang bule dan seorang pribumi. “Saya tahu salah satu dari bule itu adalah algojo Belanda yang terkenal paling bengis. Namanya Werling,” kenang lelaki kelahiran tahun 1925 itu.

  • Teror Armenia di Paris

    PSIKIATER Dr. Cyrus Irampour asal Prancis tak saling kenal dengan Peter Schultze, pelajar 24 tahun yang berpaspor Amerika Serikat dan Yunani, atau bocah Prancis bernama Francois Luc. Namun, pada 15 Juli 1983, ketiganya sama-sama berada di dekat konter check-in maskapai Turkish Airlines di Bandara Orly, Paris. Meski beda nasib, ketiganya sama-sama menjadi korban dari sebuah serangan teror. Pengeboman Bandara Orly, demikian nama serangan teror itu, dilakukan kelompok militan Armenia bernama Armenian Secret Army for the Liberation of Armenia (ASALA). Kelompok militan beraliran kiri yang dipimpin Hagop Hagopian itu memperjuangkan kemerdekaan Anatolia Timur (Armenia Barat dari kacamata orang Armenia) dari Turki sekaligus menuntut pengakuan resmi Turki atas pembantaian sekira 1,5 juta orang Armenia pada 1915. “Kami datang dari aliran dan lingkaran Armenia yang berbeda-beda, dan bersatu di ASALA, mengesampingkan semua konflik antar-komunal untuk mencapai tujuan utama, membebaskan Armenia Barat [Turki] dan menggabungkannya dengan Soviet Armenia yang merdeka sekarang, membentuk Armenia yang integral dan revolusioner,” demikian kata organisasi tersebut, dikutip Michael M. Gunter dalam Armenian History and the Question of Genocide.

  • CIA, Tan Malaka, dan Kampret

    CIA telah beroperasi di Indonesia sejak masa revolusi kemerdekaan. Agennya melaporkan situasi yang terjadi di Indonesia. Termasuk melaporkan kegiatan tokoh pergerakan seperti Tan Malaka dan para pengikutnya. Di antaranya adalah Saeroen.

  • Banjir Produk Jepang di Hindia Belanda

    “SIAPA belandja lebih dari f.1 dapat presen barang bagoes”. Begitu pesan promosi terpampang di Toko Okamura milik orang Jepang di Kramat, Batavia, pada 1936. Barang-barang yang dijual adalah kebutuhan rumah tangga. Lebih murah daripada barang-barang impor lainnya. Dalam masa resesi ekonomi, promo itu sangat menggiurkan.

  • The Vanishing dan Misteri Hilangnya Penjaga Mercusuar

    DARI jendela anjungan kapal suplai, penjaga mercusuar senior Northern Lighthouse Board (NLB) Thomas Marshall (diperankan Peter Mullan) menatap kosong hamparan lautan di hadapannya. Kenny (Gary Lewis) sang nakhoda yang mengajaknya berbincang pun diabaikannya. Thomas yang masih belum bisa move on  dari musibah yang menimpa keluarganya belum tertarik berakrab ria seperti biasanya. Sementara, di geladak kapal suplai yang membawa mereka dari dermaga pulau utama ke Pulau Eilean Mòr yang terpencil di Kepulauan Flannan, Skotlandia, penjaga mercusuar berpengalaman James Ducat (Gerard Butler) menertawai rekrutan anyar Donald McArthur (Connor Swindells) yang muntah-muntah gegara mabuk laut. Sesampainya di dermaga Pulau Eilean Mòr, Thomas mendapat kabar buruk bahwa perangkat radio gelombang pendeknya rusak. Namun perangkat lain seperti lampu mercusuar maupun peluit kabut yang diperiksa James masih dalam keadaan layak fungsi. Tiga penjaga mercusuar Kepulauan Flannan saat baru tiba dari daratan utama (Lionsgate) Tetapi baru dua hari setelah menjalankan tugasnya, ketiga penjaga itu sudah mendapati dua kejadian aneh. Selain ditemukannya serakan bangkai-bangkai burung camar di sekitar bangunan mercusuar, mereka menemukan sesosok pelaut sekarat yang terdampar di salah satu pesisir pulau. Mereka mengira pelaut itu sudah mati. Donald yang kaget dan ketakutan lantas membunuhnya dengan sebongkah batu. Di dekat jenazah sang pelaut, terdapat sekoci rusak dan sebuah peti kayu berisi sejumlah emas batangan. Kendati menghadirkan tempo lambat, sutradara Kristoffer Nyholm tak bertele-tele menyuguhkan konflik di adegan-adegan pembuka drama- thriller bertajuk The Vanishing. Film ini terinspirasi dari kisah nyata tentang misteri menghilangnya tiga penjaga mercusuar tanpa jejak medio Desember 1900. Alur berlanjut ke cerita kepanikan Donald, yang dimafhumi Thomas dan James karena Donald masih sangat muda. Masa tugas mereka sendiri masih enam pekan ke depan sebelum diganti shift penjaga mercusuar lain. Kepanikannya bertambah terutama lantaran kemudian datang lagi dua pelaut Norwegia menggunakan kapal motor mencari rekan mereka yang kemungkinan terdampar ke pulau tak berpenghuni itu. James menenangkan Donald agar tetap tenang dan menyembunyikan mayat pelaut nahas serta peti kayu berikut emas batangannya. Sementara, Thomas mencoba menyapa kedua pelaut tadi, Locke (Søren Malling) dan Boor (Ólafur Darri Ólafsson). Thomas berupaya mengelabui keduanya dengan mengatakan jasad rekan mereka dan peti kayu yang dicari itu sudah dilaporkan ke NLB dan telah dibawa ke daratan utama Skotlandia. Adegan tiga penjaga mercusuar yang berkonfrontasi dengan dua pelaut Norwegia (Lionsgate) Locke dan Boor yang tak percaya lantas terlibat saling serang dengan Thomas, James, dan Donald. Kalah jumlah, kedua pelaut Norwegia itu berakhir tragis. Pun dengan seorang pelaut lain yang dikejar James dan dibunuh dengan kait besi. Pelaut yang melarikan diri itu ternyata hanya seorang bocah belasan tahun. Tetapi ketegangan dan konflik tak berhenti sampai di situ. Kelakuan James mulai berubah karena merasa bersalah. Ia tak lagi jadi orang yang sama . Tak ayal , tensi di antara ketiganya memuncak kala memperdebatkan tentang rencana mereka membawa kabur harta karun itu. Bagaimana kelanjutan nasib mereka dan berbatang-batang emas itu sampai kemudian justru dikabarkan hilang tanpa jejak? Saksikan kelanjutannya hanya di aplikasi daring Mola TV. Tempo Lamban Menghanyutkan Tim produksi begitu apik dalam menyajikan bentangan alam yang sangat khas wilayah utara Skotlandia: sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di seberang daratan utama dengan hanya tiga bangunan yang berdiri di arealnya: mercusuar, bangunan mesin peluit kabut, dan sebuah kapel kecil sederhana. Berpadu dengan suara-suara hembusan badai, deburan ombak, dan suara burung camar, music scoring bernuansa teror begitu kuat membuat penonton terhanyut dalam suasana keterasingan dan ketegangan di antara ketiga penjaga mercusuarnya. Hanya saja memang tetap ada kekurangan-kekurangan di dalamnya. Salah satunya, ketidakakuratan pada properti korek api zippo yang digunakan Thomas untuk menyalakan tembakau dengan pipanya. Padahal, faktanya korek api semacam itu baru eksis tahun 1932. Lalu, faktor kurangnya nuansa lokal, di mana tak ada satupun dialog dengan logat atau aksen Skotlandia, juga amat mengganggu. Kekurangan lain yang disoroti sejumlah kritikus adalah tempo lambat. Kolase konflik dan ketegangan yang dialami tiga penjaga mercusuar Flannan (Lionsgate) Untung saja The Vanishing diisi tiga aktor utama yang penampilannya membuat pemirsanya tidak segera bosan sehingga mendapat pujian hingga. Ketiga penjaga mercusuar itu membawa karakter berbeda-berbeda. Thomas yang veteran masih dalam kondisi berduka akibat ditinggal mati istri dan kedua putri kembarnya. Mentalnya belum pulih, dia kadang meracau dalam kegelapan dan kesendirian. Sementara, James yang berpengalaman punya tekanan dalam kehidupan keluarganya yang pas-pasan. Adapun Donald yang masih “hijau”, punya ketakutan akan hal-hal baru dan kadang tak sabaran. Menariknya, ketiga aktor mampu membawakan dimensi lain dari karakter masing-masing sehingga mampu menghanyutkan emosi penonton seperti di scene ketika mereka menemukan sepeti emas batangan. Thomas bisa menjadi lebih tenang dan bijak, Donald beralih jadi pribadi nekat, dan James yang mulanya punya ketenangan justru berubah jadi tidak waras. “Apakah kita belajar sesuatu tentang sifat manusia dalam perjalanan menuju bencana yang akhirannya sudah kita ketahui bersama? Jawaban singkatnya tidak tapi filmnya dibuat dengan cukup baik dan tiga aktor yang memainkannya sangat bisa dirasakan penderitaannya oleh kita yang menyaksikan,” tulis David Edelstein di kolomnya di Vulture , 7 Januari 2019. Spekulasi Misteri Sudah lebih dari 121 tahun misteri hilangnya tiga penjaga mercusuar Pulau Eilean Mòr (Thomas Marshall, James Ducat, dan Donald McArthur) masih gelap. Dugaan-dugaan spekulatif tentang nasib mereka pun berhembus tanpa arah di media massa Skotlandia. Seiring waktu, beberapa dugaan dan teori itu mulai tidak masuk akal. Semisal, ketiganya dimangsa ular laut atau burung laut raksasa, diculik mata-mata negara musuh, menjadi korban kapal dan kru hantu, diculik alien, bunuh diri bersamaan, atau dugaan mereka melarikan diri dan memulai hidup baru di tempat yang tak diketahui. The Vanishing mendramatisasi hipotesis terakhir dengan menambahkan “bumbu” intrik dan konflik yang disebabkan oleh penemuan peti harta karun. Jelas bukan tanpa alasan, lantaran investigasi NLB menjelang akhir tahun merujuk pada dugaan hilangnya tiga penjaga mercusuar yang dibangun pada 1895 itu. Dalam Scotland’s Islands, Richard Clubley menguraikan bahwa keanehan yang berujung pada misteri hilangnya ketiga penjaga mercusuar itu terpantau pertamakali oleh kapal uap Archtor yang sedang berlayar dari Philadelphia, Amerika Serikat menuju kota pelabuhan Leith, Skotlandia pada 15 Desember 1900. Setelah merapat di Leith tiga hari berselang, nakhoda kapal, Kapten Jim Harvie, melaporkan pada NLB bahwa saat mereka lewat dekat Kepulauan Flannan dengan cuaca buruk, ia tidak mendapati lampu mercusuar dan peluit kabut berfungsi sebagaimana biasanya. “Kapal suplai rutin Hesperus kemudian berlayar ke pulau itu pada 26 Desember. Penjaga mercusuar pengganti, John Smith (di beberapa sumber menyebutkan Joseph Moore), kemudian melaporkan pandangan mata ke Edinburgh bahwa: ‘sebuah musibah yang mengerikan telah terjadi di (kepulauan) Flannan’,” tulis Clubley. Mercusuar Pulau Eilean Mòr di Kepulauan Flannan ( nlb.org.uk ) Smith mulanya mengabarkan bahwa tidak ada hal aneh karena gerbang dan pintu di mercusuar dalam keadaan tertutup. Mantel-mantel mercusuar juga dalam keadaan tergantung dengan rapi di gantungannya dan dapur tampak bersih. Lampu mercusuar juga bersih dan dalam keadaan siap dinyalakan. Tetapi lantas Smith mendapati beberapa hal ganjil ketika memeriksa kabin-kabin istirahatnya. “Ranjang-ranjangnya masih dalam keadaan berantakan. Sedangkan di ruang makan masih tampak sebuah piring dengan makanan yang belum dihabiskan, posisi kursi makan tergeletak di lantai, jam di ruang makan tidak berfungsi, serta temuan catatan harian yang terakhir di- input tanggal 15 Desember,” lanjutnya. Tiga hari setelah temuan Smith, pengawas NLB Robert Muirhead menggelar investigasi resmi ke pulau tersebut. Selain mengerahkan anak buahnya untuk menyisir setiap sudut pulau, Muirhead juga meneliti input terakhir di catatan harian tertanggal 15 Desember 1900 itu. “Dari bukti yang saya temukan, saya mendapati para penjaga masih menjalankan tugasnya sampai waktu makan malam pada Sabtu 15 Desember, di mana mereka menuliskan bahwa mereka akan mengangkat sebuah peti yang sempat ditemukan di dasar tebing setinggi 110 kaki,” ungkap Muirhead, dikutip R. W. Munro dalam Scottish Lighthouses. Sosok asli para penjaga mercusuar, ki-ka: Thomas Marshall, James Ducat, Donald MacArthur, dan pengawas NLB Robert Muirhead ( oddtruths.com ) Yang menjadi ganjil adalah, dalam salah satu tulisan di catatan terakhir 15 Desember itu, juga disebutkan telah terjadi badai dalam kurun beberapa hari. “Badai telah berlalu, lautan menjadi tenang. Tuhan di atas segalanya,” demikian bunyi diary itu. Padahal faktanya, tidak ada laporan cuaca yang menyatakan terjadi badai baik pada 12, 13, maupun 14 Desember 1900 di wilayah Kepulauan Flannan. Sementara, dari penyisiran seluruh sudut pulau, ditemukan kerusakan tangga di sisi tebing barat pulau. Di dasar tebing berjarak 108 kaki juga ditemukan sebuah peti yang sudah rusak. Isinya bukan emas batangan seperti di The Vanishing , melainkan hanya potongan-potongan besi railing atau pagar yang telah bengkok. Muirhead tak menemukan bukti-bukti lain tentang dugaan adanya tindakan kekerasan. Ia menyimpulkan kerusakan tangga itu akibat ketiganya terjatuh saat berupaya mengangkat peti tersebut. Ketiganya disimpulkan hilang tanpa jejak karena tersapu ombak. “Tetapi teori-teorinya tidak berhenti sampai di situ. Berdasarkan catatan psikis para penjaga, kemungkinan dugaannya juga bermula dari perkelahian di antara mereka di bibir tebing yang menyebabkan ketiganya jatuh dan tewas. Dugaan lain adalah salah satunya terjatuh dan keduanya yang mencoba menolong ikut terjatuh. Teori lainnya menyebutkan salah satu dari mereka menjadi gila, lantas membunuh dua rekannya dan dibuang ke laut, lantas si pelaku ikut melompat dari tebing untuk bunuh diri,” tandas Keith McCloskey dalam The Lighthouse: The Mystery of the Eilean Mor Lighthouse Keepers. Deskripsi Film: Judul: The Vanishing | Sutradara: Kristoffer Nyholm | Produser: Gerard Butler Maurice Fadida, Andy Evans, Sean Marley, Ade Shannon, DG Guyer, Mickey Gooch Jr., James Lejsek, Matt Antoun, Alan Siegel | Pemain: Gerard Butler, Peter Mullan, Connor Swindells, Ólafur Darri Ólafsson, Søren Malling | Produksi: Mad As Birds, Kodiak Pictures, Cross Creek Pictures, G-BASE, iWood Studios | Distributor: Lionsgate | Genre: Drama-Thriller | Durasi: 107 menit | Rilis: 11 Oktober 2018, Mola TV .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page