Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Fasisme Kontra Komunisme di Final Euro
PUBLIK Spanyol patut kecewa. Di hadapan publik sendiri, timnas Spanyol asuhan Luis Enrique ditahan imbang 0-0 oleh Swedia dalam laga pembuka Euro 2020 Grup E yang dimainkan di Stadion La Cartuja, Sevilla, 14 Juni 2021. Bahkan akibat membuang beberapa peluang emas, bomber Álvaro Morata mendapatkan siulan dan ejekan dari fans. Padahal, Morata salah satu pemain senior yang paling diharapkan bisa memecah kebuntuan sekaligus memimpin tim muda Spanyol mengulang sukses di Piala Eropa 1964, 2008, dan 2012. “Akan lebih baik ketika publik bisa mengapresiasi Anda ketimbang memberi siulan. Saya ingin bertarung bersama orang-orang yang mengapresiasi kami dan membantu kami melewati masa-masa sulit. Jika kami bermain dengan cara yang sama melawan Polandia, saya yakin peluang-peluang itu akan berubah jadi gol. Saya pikir Morata paham bagaimana mengatasinya dan di laga berikutnya dia akan mencetak gol,” ujar rekan setim cum pemain debutan Pedri González kepada Marca , 15 Juni 2021. Pedro González López alias Pedri (kiri) berharap fans setia mendukung Spanyol usai ditahan imbang Swedia, 0-0 ( uefa.com ) La Furia Roja (julukan Timnas Spanyol) berharap publik tetap setia mendukung di dua partai grup tersisa, kontra Polandia pada 19 Juni dan Slovakia empat hari berselang. Dukungan yang diharapkan itu sebagaimana dukungan di final Euro 1964, kala skuad muda Spanyol meladeni juara bertahan Uni Soviet di Stadion Santiago Bernabeu di bulan yang sama 57 tahun silam. Tak jauh berbeda dari skuad Euro 2020, timnas Spanyol di Euro 1964 itu juga punya jalan sulit untuk sampai ke final. Pemain legendaris Spanyol Luis Suárez mengingat, di babak kualifikasi mereka susah payah untuk bisa menang 2-1 atas Irlandia Utara dan memetik skor yang sama di semifinal ketika bertemu tim kuat Hungaria lewat perpanjangan waktu. “Memori yang paling dikenang di final itu adalah atmosfernya karena (stadion) Bernabéu sangat penuh. Kami sangat menderita di semifinal melawan Hungaria, jadi fans sangat penting keberadaannya di belakang kami. Mereka memberikan rasa aman dan membantu kami tetap tenang,” kenang Suárez di laman UEFA. Di Euro kedua itu, Spanyol juga diisi para pilar muda minim pengalaman. Hanya Suárez yang punya pengalaman bermain di pentas internasional di antara skuad besutan José Villalonga kala itu. “Kami bermain sebagai satu tim. Kami sangat kompak dan memahami satu sama lain. Di skuad hanya saya pemain yang punya banyak pengalaman internasional. Saya yang paling tua (29 tahun) dan sudah lama bermain di luar negeri. Kami bukan sekumpulan pemain top dan kerjasama tim serta dukungan luar biasa dari publik Spanyol memberi semangat bagi tim muda kami untuk bisa meraih sesuatu,” lanjutnya. Final Euro 1954 di Estádio Santiago Bernabéu yang penuh sesak ( uefa.com ) Pertarungan Ideologi Franco vs Khrushchev Stadion Santiago Bernabéu bergemuruh tiada henti pada 21 Juni 1964. Stadion megah di distrik Chamartín, Madrid itu penuh sesak jelang final Euro 1964 yang mempertemukan Spanyol kontra Uni Soviet. UEFA mencatat 79.115 orang memenuhi Bernabéu, sementara suratkabar ABC menyebut 120 ribu penonton. Diktator fasis Spanyol Generalísimo Francisco Franco menyaksikan langsung partai puncak itu dari tribun kehormatan. Kala ia menyapa, seantero Bernabéu serentak berdiri dan memberi aplaus. “Di hadapan tim USSR (Uni Soviet), di mana bendera merah berkibar di atas stadion, di depan 600 jurnalis dari seluruh dunia dan di hadapan jutaan pemirsa televisi, 120 ribu penonton Spanyol memberi penghormatan kepada kepala negara. Sebuah gestur spontan rakyat Spanyol yang dipamerkan kepada Uni Soviet. Setelah 28 tahun masa damai, di balik setiap aplaus turut terdengar spirit 18 Juli (hari pertama Perang Saudara Spanyol, 18 Juli 1936),” tulis ABC edisi 23 Agustus 1964. Laga final itu jadi momen pertama Franco berkenan menjamu musuh komunisnya. Ia bahkan mengizinkan bendera palu-arit bersanding dengan Bandera de España di Bernabéu kendati Perang Dingin sedang panas-panasnya. Empat tahun sebelumnya, Franco lebih suka timnasnya tidak bertanding di lapangan hijau ketimbang bertanding namun bertemu Uni Soviet. Franco masih menyimpan dendam lantaran Soviet ikut menyokong kaum Republiken berhaluan kiri di Perang Saudara Spanyol (1936-1939). Untuk itu Franco mencoba bernegosiasi dengan UEFA agar dua laga Spanyol kontra Uni Soviet dimainkan di negara netral. Tapi usulan itu ditolak Uni Soviet. Franco pun memaksa timnasnya mundur dari Euro 1960 kendati mesti kena denda dua juta franc Swiss dari UEFA. Skuad Spanyol di Piala Eropa 1964 ( sefutbol.com ) Khrushchev pun menertawakan Franco yang memaksa Alfredo Di Stéfano dkk. mundur ketimbang bertemu Lev Yashin cs. di dua laga home-away pada babak perempatfinal Piala Eropa 1960. “Partai perempatfinal Spanyol melawan Uni Soviet dijadwalkan pada 29 Mei di Moskow dan 9 Juni di Madrid. Tiket pertandingan di Moskow bahkan sudah habis terjual dan pada akhir April kedua pelatih telah menyerahkan daftar tim. Akan tetapi kabinet (pemerintahan Franco) memutuskan untuk menolak izin untuk tim Spanyol melawan Uni Soviet pada 25 Mei,” ungkap Juan Antonio Simón dalam “Football, Diplomacy, and International Relations during Francoism, 1937-1975” yang termaktub dalam Soccer Diplomacy. Banyak pihak menyayangkan keputusan Franco. Pasalnya, Timnas Spanyol yang dilatih Helenio Herrera itu masih dipenuhi pemain top. Selain Alfredo Di Stéfano, ada Luis Suárez, Luis Del Sol, Francisco Gento, Antoni Ramallets, Joaquín Peiró, Chus Pereda, dan Joan Segarra. “Kami pulang dengan kesedihan. Kami tidak bisa pergi ke Rusia. Padahal kami tertarik mengunjungi negeri yang masih jadi misteri bagi kami dan bagi kebanyakan orang Spanyol yang tak mengalami Perang Saudara atau Perang Dunia II. Saya ingat kami dikumpulkan di kantor federasi (sepakbola) di Madrid ketika mereka tiba-tiba mengatakan pertandingannya dibatalkan. Itu karena tekanan politik. Beberapa menteri mengizinkan tapi lainnya menolak. Tetapi Franco adalah bosnya dan dia berkata, ‘tidak’,” kenang Chus Pereda, dikutip Jimmy Burns dalam La Roja: A Journey through Spanish Football. Nikita Sergeyevich Khrushchev (kiri) & Francisco Franco Bahamonde (Library of Congress/Nationaal Archief) Rumor pun menyelimuti alasan di balik keputusan Franco itu. Yang paling diyakini adalah, Franco mengendus adanya konspirasi komunis setelah meneliti laporan kepolisian. Laporan kepolisian itu merangkum sejumlah media Uni Soviet yang mencoba mengompori spirit kaum separatis kiri di Spanyol untuk menggalang dukungan bagi Timnas Uni Soviet. Belum lagi pihak Khrushchev menuntut lagu kebangsaan Uni Soviet diperdengarkan bersamaan dengan bendera Uni Soviet yang diterbangkan dengan pesawat di langit Bernabéu. Bagi Franco, tuntutan itu ibarat deklarasi perang terhadap negerinya. Spanyol kala itu dianggap sebagai benteng terakhir fasisme di Eropa. Apapun alasan Franco, di Moskow Khrushchev “geli”. Dia meledek Franco yang memaksa timnasnya mundur. “Seantero dunia tertawa melihat trik terbaru (Franco) itu. Dari posisinya sebagai bek ‘sayap kanan’ yang mempertahankan prestis Amerika, dia mencetak gol bunuh diri dengan melarang para pemain Spanyol bertanding melawan tim Soviet,” ujar Khrushchev meledek. Timnas Spanyol tampil spartan di final Euro 1964 kontra Uni Soviet ( sefutbol.com ) Dua tahun kemudian, Franco insyaf. Dia mulai lebih membuka diri. Adalah Menteri Luar Negeri Fernando María Castiella dan Menteri Sekretaris Negara José Solís yang meyakinkan Franco bahwa olahraga bisa jadi ujung tombak kepentingan politik luar negeri dan meningkatkan relasi internasional. “Francoisme mulai mengandalkan gelaran olahraga sebagai alat konsolidasi identitas dan prestis nasional. Media massa pro-pemerintah juga mendukung dengan menyanjung Francoisme di masa perayaan 25 tahun masa damai usai Perang Saudara Spanyol. Olahraga juga memperkuat hubungan diplomatik Francoisme, terutama kerjasama mereka dengan Amerika Serikat dan pada akhirnya meretas jalan menuju Komunitas Ekonomi Eropa,” sambung Simón. Langkah awal mewujudkan keterbukaan Franco dilakukan dengan mengizinkan tim basket Real Madrid memainkan tiga laga final FIBA European Champions Cup 1963 kontra CSKA Moskow. Franco lebih menggebu memanfaatkan olahraga sebagai propaganda kala Spanyol dipercaya jadi tuan rumah Piala Eropa 1964. Alasannya, Euro ke-2 itu akan disiarkan ke seluruh dunia lewat dua stasiun televisi, Eurovision dan Intervision . Maka, Franco dengan bangga mau hadir ke tribun kehormatan Estádio Santiago Bernabéu untuk menyaksikan langsung final Spanyol kontra Uni Soviet. Ia pun harus melihat bendera palu-arit berkibar berdampingan dengan bendera negaranya. Spanyol meraih Trofi Henri Delaunay untuk pertamakali pada Euro 1964 usai menang 2-1 atas Uni Soviet ( sefutbol.com/olympics.org ) Pada final yang dipimpin wasit Arthur Holland asal Inggris itu, Suárez dkk. bertarung sengit sejak awal laga. Berkat besarnya dukungan moril penonton, Chus Pereda mencetak gol pembuka ke gawang Lev Yashin di menit keenam kendati dua menit kemudian disamakan oleh Galimzyan Khusainov. Skor itu bertahan hingga menjelang laga berakhir sehingga berpotensi akan dimainkan laga ulangan. Namun, enam menit sebelum pertandingan usai, Marcelino Martínez membukukan gol penentu. Euforia pun memenuhi seisi stadion. Franco ikut senang. Spanyol juara Piala Eropa untuk pertamakalinya di rumah sendiri. Momen itu pun digunakan Franco untuk membalas ejekan Khrushchev pada 1960. “Persatuan dan patriotisme kita telah dibuktikan kepada jutaan orang di berbagai belahan dunia yang menyaksikan pertandingan hebat ini lewat televisi,” kata Franco dikutip sepupu sang diktator, Francisco Franco Salgado-Araújo, dalam Mis Conversaciones Privadas con Franco .
- Serba-serbi Maskot Piala Eropa
DI mana ada perhelatan akbar olahraga, di situ ada maskot. Termasuk di Piala Eropa 2020 kali ini. Pada Piala Eropa (Euro) ke-16 ini, UEFA menghadirkan Skillzy, maskot ke-11 dalam sejarah Piala Eropa. Kendati Euro sudah dihelat pada 1960, baru dua dasawarsa kemudian panitia penyelenggaranya menghadirkan maskot. Sebagai bagian dari branding perhelatan itu, maskot mesti aktual, relatable, dan ramah bagi semua usia. Skillzy didesain UEFA dengan sosok yang lebih humanis dan intim dengan passion generasi muda. Skillzy terinspirasi dari pesepakbola jalanan dan freestyler yang belakangan ini nge -tren di seantero dunia. Ia digambarkan sebagai sosok humanoid berambut stylish , bermata besar, berjaket biru dengan logo Euro 2020 serta bersepatu merah dan membawa bola. Skillzy menyapa dunia pertamakali di Johan Cruijf ArenA, Amsterdam, Belanda pada 24 Maret 2019 dalam sebuah aksi trik-trik menimang bola bersama dua freestyler kondang, Liv Cooke dan Tobias Becs. “Kami ingin meninggalkan maskot tradisional yang kita lihat dalam gelaran-gelaran Euro sebelumnya demi menciptakan sebuah simbol yang bisa berinteraksi lebih dekat dengan fans sepakbola lintas benua. Penting bagi UEFA mendekatkan diri pada fans semua usia dan dengan menciptakan maskot yang secara fisik bisa memainkan permainan yang kita semua cintai agar bisa menginspirasi generasi muda dari Dublin (Irlandia) sampai Baku (Azerbaijan),” ujar Marketing Director of UEFA Events SA, Guy-Laurent Epstein, di laman UEFA , 24 Maret 2019. Skillzy melanjutkan kehadiran maskot di era sepakbola modern. Namun di sisi lain, ia juga menandai sejarah baru lantaran ke-10 maskot Euro sebelumnya berupa karakter-karakter tradisional yang menyimbolkan masing-masing tuan rumah. Berikut 10 maskot pendahulu Skillzy: Pinocchio (Euro 1980) Karakter "Pinocchio" yang jadi identitas Italia sebagai tuan rumah Piala Eropa 1980 ( uefa.com ) Euro 1980 di Italia jadi pijakan pertama gelaran Euro yang lebih modern. Di turnamen inilah untuk pertamakalinya diterapkan sistem penyisihan grup yang menggantikan sistem gugur. Selain itu, untuk lebih menyamai sistem di Piala Dunia, di Piala Eropa 1980 inilah pertamakali maskot dihadirkan, yakni Pinocchio. Karakter bocah dari buku Le Avventure di Pinocchio karya – yang paling banyak dicetak dengan multi-bahasa selain Alkitab dan Alquran– Carlo Collodi itu dianggap induk sepakbola Italia, FIGC, paling pas sebagai simbol yang mewakili Italia sebagai tuan rumah. Bedanya dari pinocchio yang ada di buku atau seri televisi, Pinocchio maskot Euro 1980 digambarkan sebagai boneka kayu tanpa jari kaki dan tangan tanpa mengenakan busana apapun. Ia sekadar sosok berhidung panjang yang diwarnai hijau-putih-merah sebagaimana warna bendera Italia mengenakan topi putih bertuliskan “Europa 80” sambil mengapit bola di sisi kanan. Mengutip Mondiali , 1 Mei 2021, maskot itu mulai diperkenalkan FIGC pada Oktober 1979 walau kala itu Presiden UEFA dan FIGC Artemio Franchi belum mau menyebut nama “Pinocchio” karena mengira hak atas nama Pinocchio masih dipegang Walt Disney. Tetapi pada momen drawing , 16 Januari 1980, nama Pinocchio akhirnya bisa dipakai maskot setelah Fondazione Nazionale Carlo Collodi memastikan hak atas buku Pinocchio yang dipegang Walt Disney telah habis kontraknya sejak 50 tahun sebelumnya. Péno (Euro 1984) La Coq Gaulois yang jadi simbol keberuntungan Prancis dan dijadikan maskot bernama Péno ( uefa.com ) Sebagaimana logo induk sepakbola dan tim nasionalnya, Prancis sebagai tuan rumah Euro 1984 menghadirkan sosok ayam jantan dalam versi antropomorfik. Maskot ayam jantan itu dinamai Péno. Nama Péno, sebagaimana dimuat laman UEFA, diserap dari kata “gaul” Prancis untuk menyebut penalti. Le Coq Gaulois (ayam jantan Gaul) jadi bagian sejarah Prancis sejak era Renaissance di abad ke-14. Ia diserap dari tradisi budaya yang menganggap ayam jantan sebagai hewan keberuntungan. “Ayam jantan jadi simbol bagi republik dan bagi perwakilan di olahraga dunia. Tim nasional Prancis mengenakan kostum dengan logo ayam jantan sejak 100 tahun lebih. Mereka pun menggunakannya sebagai maskot di banyak perhelatan olahraga demi menginspirasi keangkuhan dan keberuntungan orang Prancis,” tulis Margo Lestz dalam Berets, Baguettes, and Beyond: Curious Histories of France. Péno digambarkan sebagai seekor ayam jantan putih yang mengenakan kaus biru, celana putih, dan kaus kaki merah (seragam timnas Prancis) serta dilengkapi sepasang sepatu bola besar. Di bagian dada kirinya dicantumkan angka 84, merujuk tahun perhelatan. Péno seolah membawa keberuntungan buat Prancis. Di event itu, tuan rumah Prancis keluar sebagai juara. Berni (Euro 1988) Berni si Kelinci Paskah dijadikan harapan Jerman jelang unifikasi ( uefa.com ) Jika Prancis punya ayam jantan, Jerman Barat punya kelinci paskah ( Osterhaus) kartun sebagai simbol yang mewakilinya sebagai tuan rumah Euro 1988. Berni, nama kelinci itu, dihadirkan DFB, induk sepakbola Jerman sekaligus panitia penyelenggara, sebagai hewan kelinci enerjik mengenakan jersey hitam dengan logo Euro 1988, celana merah, kaus kaki kuning –menyimbolkan bendera Jerman– serta ikat kepala dan gelang tangan sporty putih. Osterhaus berbulu cokelat gelap itu punya makna kelahiran kembali bagi masyarakat Jerman. Kelahiran kembali yang dimaksud adalah kelahiran masyarakat Jerman yang bersatu di ambang unifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur menjelang peruntuhan Tembok Berlin. Nama “Berni” sendiri merujuk pada nama kota Bern di Swiss, kota di mana UEFA bermarkas dan Jerman (Barat) untuk pertamakali meraih Piala Dunia (1954) lewat “Keajaiban Bern”. Maka, Berni sebagai maskot jadi pengingat akan awal kejayaan sepakbola Jerman serta harapan akan persatuan negeri mereka lewat sepakbola. “DFB dalam pernyataan resminya mengungkapkan, ‘Berni adalah penggemar sepakbola yang tampan, antusias, dan menyimbolkan sisi positif dari olahraga paling populer di dunia’,” tulis suratkabar Zeit , edisi 10 April 1987. Rabbit (Euro 1992) Swedia menyontek Jerman untuk maskot Euro 1992 ( uefa.com ) Swedia seperti tidak siap jadi tuan rumah Euro 1992. UEFA memilihnya ketimbang Spanyol, yang juga mengajukan diri, lebih karena Spanyol belum lama menggelar dua event besar. Bujet Swedia untuk jadi tuan rumah pun pas-pasan. “Swedia dipilih komite eksekutif UEFA sebagai tuan rumah mengalahkan Spanyol karena Spanyol adalah tuan rumah pameran dunia (Expo 1992) dan Olimpiade. Putaran finalnya akan digelar di Stockholm, Gothenburg, Malmoe, dan Norrkoeping,” tulis suratkabar New Strait Times , 18 Desember 1988. Alhasil, Swedia seperti tidak mempersiapkan maskotnya dengan matang. Dilansir laman UEFA, Euro 1992 menghadirkan maskot bernama Rabbit, nama yang diambil mentah-mentah dari kata bahasa Inggris yang berarti kelinci. Pihak Swedia sama sekali tak punya ide orisinil. Selain nama maskot, wujud Rabbit juga meniru maskot Euro sebelumnya, Berni. Rabbit ibarat kloningan Berni. Perbedaannya hanya bulu Rabbit lebih terang dan kostumnya kuning-biru warna bendera Swedia. Goaliath (Euro 1996) "Goaliath" si singa yang jadi simbol Inggris sebagai tuan rumah Euro 1996 ( uefa.com ) Seperti Prancis dengan ayam jantannya, Inggris juga gemar menonjolkan singa sebagai identitasnya. Setelah Willie si anak singa jadi maskot Piala Dunia 1966, di Euro 1996 Inggris mengulanginya dengan menghadirkan maskot singa bernama Goaliath. Goaliath didesain FA (induk sepakbola Inggris) sebagai singa antropomorfik berwajah ramah berseragam Timnas Inggris, putih-biru, dan mengapit bola bermotif klasik hitam-putih di lengan kanannya. Nama Goaliath sendiri dipetik dari perpaduan kata “Goal” (gol) dan “Goliath”, musuh David yang terdapat dalam kitab Perjanjian Lama. Sebagaimana Willie pada 1966, Goaliath juga dijadikan memorabilia Euro 1996 yang tersebar di seantero Inggris. Penyerang Inggris Robbie Fowler dalam otobiografinya, My Life in Football, Goals, Glory & the Lessons I’ve Learnt, mengenang: “Histeria Euro 96 berubah jadi demam sepakbola. Di setiap suratkabar, stasiun pengisian bahan bakar, supermarket selalu berhias merchandise si singa ‘Goaliath’. Seantero negeri menggila dan berharap sepakbola (gelar juara) kembali ke rumahnya.” Sayangnya Inggris harus gigit jari. Goaliath “gagal” memberi keberuntungan. Di rumah sendiri, Timnas Inggris harus terhenti langkahnya di semifinal gegara kalah adu penalti dari Jerman. Benelucky (Euro 2000) Benelucky si maskot hybrid singa-setan merah (Twitter @EURO2020) Euro 2000 yang menjadi Euro pertama yang digelar di dua negara menghadirkan maskot hasil perpaduan simbol tuan rumah Belgia dan Belanda. Maskotnya berupa makhluk hibrid singa bertanduk dan ekor setan dengan rambut berwarna hitam-kuning-merah-putih-biru sebagai kombinasi bendera Belgia dan Belanda. “Maskotnya dinamai ‘Benelucky’. Sesosok setan yang justru mirip singa tanpa leher. Sosok setan diambil dari julukan (timnas) Belgia, Red Devil , dan singanya merupakan simbol Timnas Belanda,” tulis Michael Graf dalam Fussballmaskottchen. Untuk menentukan namanya, UEFA untuk pertamakalinya sampai menggelar jajak pendapat lewat sejumlah suratkabar Belanda dan Belgia. Dari enam ribu usulan yang masuk, nama “Benelucky” yang diusulkan Jurrian Reurings, pelajar asal Utrecht, diputuskan juri UEFA sebagai pemenangnya. Nama itu merupakan bahasa gaul dari perpaduan tiga negara serumpun, Benelux (Belgium, the Netherlands, Luxembourg) sekaligus penyatuan dua lema bahasa latin “Bene” dan bahasa Inggris “Lucky” yang berarti semoga beruntung. Kinas (Euro 2004) Kinas mempelopori maskot yang lebih humanis di Euro 2004 ( uefa.com ) Setelah Benelucky di Euro 2000, UEFA tak pernah lagi menampilkan desain maskot berupa hewan antropomorfik. Euro 2004 di Portugal dengan maskot “Kinas”-nya mempelopori penggunaan desain maskot lebih modern dan humanis. Dikutip dari laman UEFA , 31 Maret 2003, nama Kinas diambil dari penggalan kata “Bandeira das Quinas” yang bararti bendera nasional Portugal. Menariknya, Kinas bukan didesain UEFA atau panitia penyelenggara, melainkan oleh Warner Bros. Kinas digambarkan sebagai anak muda muda atraktif dan enerjik yang mengenakan seragam Timnas Portugal. Maskot yang lebih ramah terhadap generasi muda itu diperkenalkan pemerintah Portugal pada 29 Maret 2013 di auditorium Casa Serralves, Porto. “Menjadi penting bahwa maskot haruslah atraktif dan mesti bisa mewakili martabat negara. Saya menikmati reaksi publik saat maskotnya diluncurkan. Sambutannya sungguh hangat dan bagus,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Portugal Herminio Laoureiro. Trix dan Flix (Euro 2008) Si kembar "Trix and Flix" mewarnai Euro 2008 (Twitter @EURO2020) Seperti Kinas di Euro 2004, maskot untuk Euro 2008 di Austria-Swiss pun didesain Warner Bros. Karena digelar di dua negara, maskot yang dihadirkan pun berupa anak kembar bertopeng dengan warna kombinasi merah dan putih. Untuk menunjukkan tahun gelaran, satu anak mengenakan kaus bertuliskan angka “20” dan anak yang lain mengenakan kaus nomor “08”. Maskotnya juga diberi sentuhan gaya rambut spike yang mencerminkan Pegunungan Alpen. Untuk menentukan namanya dan terus menyambung interaksi kepada fans, UEFA menggelar jajak pendapat dari 27 September-8 Oktober 2006. Panitia meminta puluhan ribu fans untuk memilih satu dari tiga opsi nama: Zigi dan Zagi, Flitz dan Bitz, serta Trix dan Flix. Dari 67 ribu lebih suara yang masuk, nama Trix dan Flix mendapat suara terbanyak dengan 36,3 persen. Nama itupun resmi disandang maskot kembar hasil desain Warner Bros tersebut saat peluncurannya pada April 2007. “Seperti ketika orangtua mengumumkan kelahiran seorang anak. Nama anak itu memang tak disukai semua orang tapi faktanya dari hasil pemungutan suara 67.406 fans sepakbola Austria dan Swiss, nama itu (Trix dan Flix) paling populer,” ujar direktur penyelenggara Euro 2008 Christian Mutschler, disitat laman UEFA. Slavek dan Slavko (Euro 2012) Identitas Polandia dan Ukraina yang diwakili Slavek dan Slavko ( uefa.com ) Warner Bros (WB) kembali mendesain maskot untuk Euro 2012 yang dihelat di Polandia dan Ukraina. Mirip dengan Trix dan Flix, bedanya maskot kembar kali ini tanpa topeng. Masing-masing anak di maskot menonjolkan warna kebesaran yang jadi identitas tuan rumah. Satu figurnya mengenakan seragam dan warna rambut putih-merah khas Polandia, sedangkan satunya lagi perpaduan kuning-biru khas Ukraina. Nama maskot kembar itu juga merupakan hasil pemungutan suara yang diadakan UEFA. Dari tiga opsi nama: Slavek dan Slavko, Siemko dan Strimko, serta Klemek dan Ladko, Slavek-Slavko menang 56 persen suara dari total 39.233 fans. Maskot itu mulai diperkenalkan kepada publik di Teater Warsawa pada November 2010. “Kedua maskot merepresentasikan upaya dan komitmen bersama dua negara untuk menyukseskan penyelenggaraan Euro 2012. Kami berbagi gagasan yang sama dan kami sangat menantikan keceriaan dalam turnamennya. Satu-satunya yang memisahkan maskot itu adalah masing-masing dari mereka mendukung tim berbeda,” ujar Presiden FFU (induk sepakbola Ukraina) Grigoriy Surkis di laman UEFA . Super Victor (Euro 2016) "Super Victor" si bocah ajaib sebagai maskot Euro 2016 ( uefa.com ) Prancis sebagai penyelenggara Euro 2016 memilih mendesain sendiri maskotnya. Dengan konsep berupa karakter anak berkekuatan super setelah menemukan jubah, sepatu, dan bola ajaib, desain maskot pun dihadirkan berupa anak berseragam Timnas Prancis berikut sayap belakang dan bola. Pada 18 November 2014, panitia penyelenggara sudah meluncurkan maskotnya walau belum menentukan nama. Penamaannya dipercayakan kepada fans sepakbola dengan memilih satu dari tiga opsi: Driblou, Goalix, dan Super Victor. Dari total 107.790 suara yang masuk, nama Super Victor paling digemari dengan mendapatkan 51.781 suara. UEFA pun kemudian merilis hasil itu dan menetapkan nama Super Victor untuk maskotnya pada 30 November 2014. Lucunya, nama maskot itu persis nama merk alat bantu seksual perempuan buatan Amerika Serikat. UEFA pun menyatakan kesamaan nama itu hanya kebetulan belaka tanpa adanya unsur kesengajaan. “Yang bisa kami katakan adalah, barang-barang (mainan seks) itu bukan diproduksi UEFA. Nama Super Victor berdasarkan gagasan yang merujuk pada kekuatan super bocah kecil yang menemukan jubah, sepatu, dan bola magis,” kata UEFA .
- Timur Pane Si Jenderal Bohongan
Sekali waktu, anak buah Naga Bonar berembuk. Mereka membincangkan strategi untuk menghadapi Belanda. Besok hari, mereka akan merundingkan pembatasan garis demarkasi. “Untuk berunding dengan tentara Belanda, masing-masing kita harus punya pangkat, supaya mereka segan,” kata Lukman si juru bicara markas. Tidak tanggung-tanggung, pimpinan mereka Naga Bonar diberikan pangkat tertinggi: Marsekal Medan. Alasannya, Marsekal Medan ( field marshal ) itulah pangkat yang disandang para panglima besar dalam Perang Dunia II. Tapi, dalam kenaifannya Naga Bonar menolak dan salah pengertian. Dia minta pangkatnya ditambahkan menjadi Marsekal Medan-Lubuk Pakam. Lukman yang sekolahnya paling tinggi itu mengatakan pangkat demikian tidak ada. Naga Bonar jadi emosi. “Kalau tak ada, dibikin!” hardik Naga Bonar dengan logat Medannya yang kental. Akhirnya disepakati, Naga Bonar menjadi jenderal. Murad jadi kolonel, Pardjo jadi letnan kolonel, dan Lukman jadi mayor. Sementara itu, Bujang, asistennya Naga Bonar diberi pangkat kopral. Begitulah rapat kepangkatan itu diputuskan secara kilat seperti tersua dalam film Naga Bonar (1987) besutan sineas Asrul Sani. Fragmen di atas memang rekaan Asrul Sani semata. Begitu pula dengan sosok Naga Bonar. Hanya saja perkara menaikan pangkat diri sendiri dalam sekejap memang jamak terjadi di masa revolusi. Kisah paling beken barangkali menyangkut sosok Timur Pane, tokoh laskar legendaris dari Medan. Dari kiprah Timur Pane inilah Asrul Sani disebut-sebut terinpirasi menciptakan karakter Naga Bonar. Timur Pane, menurut catatan wartawan Antara Muhammad Radjab adalah seorang pedagang jengkol dan sayur-sayuran yang sekaligus berprofesi sebagai pencopet di kota Medan. Badannya pendek kecil, mukanya separuh bagian bawah kebiru-biruan, sorot matanya liar. Orang-orang mengenalnya memiliki nyali besar. Sewaktu terjadi Pertempuran Medan Area, Timur Pane menghimpun pasukannya dalam “Laskar Naga Terbang” yang terdiri dari para kriminal. Di kawasan Sumatra Timur, Timur Pane seorang figur yang terkenal dan menggelisahkan. “Katanya, ia sendiri sudah banyak menyembelih orang di medan pertempuran. Kenekatan inilah yang menjadikannya terkemuka, ditakuti, dan namanya terkenal,” tutur Radjab dalam Tjatatan di Sumatra . Uniknya, Timur Pane selalu melekatkan pangkat jenderal mayor pada namanya. Entah darimana si mantan copet ini memperoleh pangkat yang sekarang setara perwira tinggi bintang dua itu. Demi mengesankan citra diri sebagai perwira tinggi, Timur Pane punya lagak khas. Sebagaimana dituturkan Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi , Timur Pane gemar sekali memasang bendera kuning ala Jepang pada kendaraannya. Di masa pendudukan Jepang, bendera kuning yang melekat pada kendaraan menandakan bahwa penumpang di dalamnya adalah seorang perwira tinggi, setingkat jenderal. Menurut Kementerian Penerangan dalam Republik Indonesia: Provinsi Sumatra Utara, kekuatan pasukan Timur Pane makin diperhitungkan setelah dia berhasil meleburkan beberapa barisan laskar ke dalam “Tentara Marsose”. Disitulah Timur Pane mendaulat dirinya sebagai jenderal mayor. Secara sepihak, Timur Pane menyatakan dirinya telah menjadi Tentara Republik Indonesia. Seluruh pasukannya, mulai dari komandan sampai kepada anak buah diberikan tanda pangkat militer. Untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah pusat, Timur Pane banyak bikin ulah. Pada pertengahan 1947, Timur Pane serta pasukan pengawalnya mendatangi S.M. Amin selaku gubernur muda Sumatra Utara. Tanpa basa-basi, Timur Pane mendesak Amin agar pasukan Marsose diterima sebagai tentara republik. Namun yang lebih mencengangkan, Timur Pane meminta anggaran belanja untuk pasukannya sebesar 120 juta gulden setiap bulannya. Selain itu, aksi Timur Pane melalui Tentara Marsosenya menyebabkan friksi dengan TRI Divisi X Sumatra yang dipimpin oleh Kolonel Husein Jusuf dan kepala stafnya Letkol Hopman Sitompul. Seperti disebutkan Jenderal Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 6: Perang Gerilya Semesta I , pasukan Timur Pane kerap melucuti TRI dan polisi negara yang ada di wilayahnya. Kendati demikian, pimpinan TRI Divisi X Sumatra maupun Komandemen Sumatra tidak dapat berbuat apa-apa. Timur Pane sendiri, kata Nasution awalnya diberi pangkat kolonel. Karena pengaruhnya begitu besar di kalangan kelompoknya, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta terpaksa merestui pangkat jenderal mayor kepada Timur Pane secara sementara. Itu diusulkan Residen Sumatra Timur Mr. Abu Bakar Jaar. Maka resmilah Tentara Marsose diakui Komandemen Tentara Sumatra sebagai kesatuan perang dengan nama Legiun Penggempur. Kendati demikian, kejenderalan Timur Pane itu hanya omong kosong. Ketika Belanda melancarkan agresi militer yang pertama pada akhir Juli 1947, pasukan Timur Pane kocar-kacir. Padahal dia telah sesumbar kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta akan merebut kembali kota Medan dari tangan Belanda. Pasukan Legiun Penggempur akhirnya dibubarkan setelah Hatta menetapkan kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi Angkatan Perang. Dengan sendirinya, Timur Pane dicopot dari kedudukan militernya. Gelar jenderal mayor kebanggaannya pun tanggal begitu saja.
- Jayakatwang Mengakhiri Hegemoni Singhasari
Jayakatwang bimbang ketika menerima surat dari Arya Wiraraja. Di sana tertulis inilah saat yang tepat untuk menyerang Kertanagara. Singhasari sedang lemah karena para punggawa dan pasukan teladannya pergi menunaikan misi politik ke seberang lautan. Patihnya mendorong raja Glang-Glang itu supaya tak melewatkan kesempatan itu. “Ingatlah paduka, pendahulu paduka adalah raja terakhir di Kadiri, tetapi kemudian dikalahkan dan dijadikan bawahan pendahulu Kertanagara,” ujar sang patih. Jayakatwang pun memutuskan untuk menyerang Singhasari dengan mengirim dua pasukan.Pasukan pertama lewat utara untuk membuat keributan. Sedangkan pasukan kedua menyerang dalam diam, tersembunyi, melintasi hutan-hutan di wilayah selatan. Tak banyak yang memprediksi serangan itu. Mungkin hanya Mpu Ragananta, mantan patih tua yang dalam Pararaton disebut sebagai macan ompong. Peringatannya tak pernah didengar Kertanagara. Jayakatwang merupakan sepupu Kertanagara. D ia juga menjadikan adik Kertanagara, Turukbali, sebagai permaisuri. Putranya, Ardharaja, d ia nikahkan dengan salah satu putri Kertanagara. Dia juga mendapat kepercayaan Kertanagara untuk lungguh di tanah leluhurnya di Daha. Maka, wajar jika Jayakatwang membuat Kertanagara lengah. Maharaja Singhasari itu merasa jasanya telah cukup membuat Jayakatwang tak berhasrat pada kekuasaan yang lebih besar. “Tidak mungkin Jayakatwang berbuat begitu kepadaku karena dia mendapat kesenangan dari saya,” ujar Kartanegara, sebagaimana dicatat Serat Pararaton. Ternyata, perkiraan Kertanagara salah. Serangan Jayakatwang berhasil menumbangkannya. Sehingga, Kidung Harsawijaya menyebutnyamenjadi penguasa di seluruh Pulau Jawa. Pengkhianat Singhasari Semula Jayakatwang adalah raja bawahan yang berkedudukan di Glang-Glang. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Bhumi Wurawan. Itu semua berkat pernikahannya dengan Turukbali, putri Singhasari. Pada 1271, pusat pemerintahannya pindah ke Daha. Kekuasaan Jayakatwang jadi bertambah meliputi Bhumi Wurawan dan Kadiri. Itulah mengapa Prasasti Kudadu, Kakawin Nagarakertagama, Serat Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mencatat Sri Jayakatwang sebagai penguasa Daha. Begitu pula berita Cina, Sejarah Dinasti Yuan , yang melaporkan pusat kekuasaannya berada di Da-ha. “Walaupun istana pusat pemerintahan telah berganti di Daha, ternyata Jayakatwang masih disebut sebagai Raja Glang-Glang, ” tulis Novi Bahrul Munib dalam skripsinya di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang berjudul “Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyǝng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik”. Jayakatwang memperoleh kekuasaan atas wilayah Kadiri karena penguasa sebelumnya, Kertanagara, pindah jabatan. Sepupunya itu naik takhta menjadi maharaja di Singhasari. Prasasti Mula Malurung (1255) mencatat, saat masih menjadi putra mahkota, Kertanagara berkedudukan di Daha. Bhumi Kadiri dengan pusatnya di Daha agaknya menjadi tempat penggojlokan sebelum dia mewarisi takhta ayahnya. Karenanya, kata epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, tak berlebihanlah jika Jayakatwang kemudian sering diingat sebagai pengkhianat dan pengingkar janji. Seperti Mpu Prapanca menuliskannya dalam Kakawin Nagarakrtagama , “Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat, berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kadiri...Raja Kadiri Jayakatwang membuta dan mendurhaka.” Prasasti Kudadu (1294) pun mencatat bahwa Jayakatwang telah bertindak seperti musuh. Tindakannya buruk. Dia mengkhianati sahabat dan melanggar perjanjian karena telah mengharapkan runtuhnya Sri Kertanagara di Tumapel (Singhasari). Namun, menurut Boechari, sikap membelot Jayakatwang itu bukanlah hal yang tiba-tiba terjadi. Jayakatwang sudah lama memendam rasa tak puas dan sakit hati terhadap trah Kertanagara. Secara turun-temurun leluhur Jayakatwang memegang kekuasaan di Daha yang meliputi seluruh Bhumi Kadiri. Tapi, berdasarkan Nagarakrtagama , sejak Raja Kadiri Kertajaya jatuh pada 1222 M oleh Ken Angrok, raja-raja yang memerintah wilayah itu terus berada di bawah kendali Tumapel (Singhasari). Boechari berpendapat, mungkin itu yang menjadi sebab mengapa Jayakatwang memberontak. Dia merasa tak senang, wilayah kekuasaan moyangnya, Kadiri diambil oleh raja untuk diberikan kepada putra mahkota. “Sementara dia hanya dijadikan menantu dan mendampingi istrinya sebagai penguasa Glang-Glang,” jelas Boechari. Kendati begitu, dengan menjadi adik ipar sekaligus besan Kertanagara, Jayakatwang sadar dirinya telah diikat perjanjian damai dengan penguasa Singhasari itu. “Hubungan perkawinan dahulu merupakan upaya politik untuk menjamin loyalitas raja bawahan yang kuat, juga perjanjian persahabatan,” jelas Boechari. Maka, sejak Kertanagara masih bertakhta di Kadiri selama 38 tahun, Jayakatwang menahan diri. Sampai akhirnya pada 1292, dia tuntaskan rasa sakit hatinya dalam serbuan tiba-tiba ke Singhasari. “Demi menunggu saat yang tepat,” tulis Boechari. Mengembalikan Kejayaan Kadiri Tindakan Jayakatwang dianggap pengkhianatan oleh Singasari, tapi sebaliknya bagi Glang-Glang dan Daha. Bagi mereka peristiwa itu adalah pembebasan. Prasasti Kudadu mencatat bendera merah putih berkibar ketika kemenangan di tangan pasukan Jayakatwang. Menurut Novi Bahrul Munif dalam “Kajian Sejarah Nagara Glang-Glang di Bumi Wurawan” yang terbit dalam Bhumi Wurawan, pengibaran bendera merah dan putih oleh pasukan Jayakatwang itu merupakan simbol kemerdekaan pengikut Jayakatwang atas hegemoni Kerajaan Singhasari. Sebagaimana disebutkan KakawinNagarakrtagama , yang diinginkan Jayakatwang adalah kekuasaan di Bhumi Kadiri, bukan di Tumapel (Singhasari). “Sebagai salah satu keturunan raja-raja yang pernah bertakhta di Kadiri, Sri Jayakatwang berupaya mengembalikan kedaulatan Kadiri sebagai pusat kerajaan,” jelas Novi dalam skripsinya. Dari sisi geopolitik pun, dibandingkan Tumapel, pusat pemerintahan Singhasari, Daha sebagai pusat Kadiri lebih menguntungkan. “Tumapel berada jauh dari pelabuhan, sungai maupun laut,” tulis Novi. Perpaduan antara Gunung Kampud (Kelud) yang aktif dan aliran Brantas beserta anak sungainya menjadikan Kadiri sebagai daerah subur yang cocok untuk bermukim. “Pertimbangan kesuburan tanah itu dimanfaatkan Sri Jayakatwang untuk menghimpun kekuatan logistiknya,” jelas Novi. Proses distribusi hasil bumi juga menjadi lebih mudah. Pasalnya, Daha dilalui Sungai Brantas yang lebar dan dalam. Bisa dibilang, dengan menguasai Bengawan Brantas berarti Jayakatwang juga telah menguasai urat nadi perekonomian Jawa. Karenanya seperti pendapat arkeolog Bambang Sulistyanto dalam “Prolog Editor: Melacak Jejak Kerajaan Glang-Glang” yang terbit dalam Bhumi Wurawan , bahwa Jayakatwang sama sekali bukan pengkhianat bagi rakyat Kadiri. Dia justru merupakan pahlawan. Berbeda dengan padangan rakyat Singhasari yang menudingnya sebagai musuh negara. “Begitulah yang namanya sejarah politik. H akikat kebenaran itu tak ada. Yang ada adalah kebenaran berdasarkan kepentingan,” tulis Bambang.
- Kisah Moestopo, Penyandang Gelar Terbanyak
Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar sebagai profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Dengan pengukuhan itu, Megawati menjadi salah satu tokoh Indonesia yang menyandang gelar terbanyak. Namun jauh sebelumnya, ada seorang tokoh yang telah memiliki gelar lebih banyak yakni Moestopo. Dia tercatat setidaknya memiliki 18 gelar. “Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapal Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila,” tulis Pikiran Rakyat , 20 Februari 1986. Lelaki kelahiran Ngadiluwih, Kediri pada 13 Juni 1913 tersebut memang sudah meniti karir sejak muda. Dalam usia 24 tahun, Moestopo sudah mendapatkan gelar sebagai dokter gigi dari Sekolah Kedokteran Gigi Surabaya. Karena kepintarannya, dia lantas diangkat sebagai asisten dari dokter gigi ternama di Surabaya saat itu yakni Prof. Dr. M. Knap. “Jika dia pergi ke luar negeri, saya selalu disuruh menggantikannya, “ ujar Moestopo dalam sebuah buku kecil berjudul Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof.Dr. Moestopo. Tidak hanya melayani orang-orang kaya saja, Moestopo juga mendermakan keahliannya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Minggu atau hari libur, Moestopo muda akan berangkat ke Gresik guna melakukan pelayanan umum di Alun-Alun kota Gresik. Ketika balatentara Jepang berkuasa, Moestopo diangkat sebagai wakil kepala pada Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi (Shikadaigaku Ikabu) yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Sjaaf. Justru di era itulah, Moestopo kemudian memiliki minat menjadi seorang militer. Pada 1944, dia kemudian memasuki Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. “Kawan-kawan se-angkatan Pak Moes di PETA antara lain Pak Gatot Soebroto dan Pak Dirman (Soedirman, Panglima Besar TNI pertama),” ungkap R. Muslich M, salah satu putra Moestopo. Semasa dididik menjadi perwira PETA itulah Moestopo pernah menjadikan bambu runcing sebagai tema “disertasi-nya”. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, eks pimpinan Pertempuran Surabaya itu berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul ‘Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence dan Attack serta Biological War Fare ’. Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya ini malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu. Ketika pecah pertempuran melawan Inggris di Surabaya pada akhir Oktober 1945, sebagai komandan Badan Keaman Rakyat (BKR) Jawa Timur dia mendapuk dirinya sendiri sebagai Menteri Pertahanan RI ad interim sekaligus pemimpin revolusi di Jawa Timur. Soal itu sempat menjadi sebab pertengkaran mulut antara dirinya dengan Wakil Presiden Mochamad Hatta. Untunglah Presiden Sukarno cepat melerai dan “membebastugaskan” Moestopo untuk diangkat sebagai salah satu penasehat militernya. Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949), Moestopo terbilang aktif di berbagai palagan. Namanya dikenal harum di Yogyakarta dan Jawa Barat karena insiatif-nya membentuk Pasukan Terate (Tentara Rahasia Tertinggi) yang dia ambil dari lingkungan dunia hitam seperti kaum pencoleng, perampok dan pekerja seks komersial. Menurut almarhum Letnan Jenderal (Purn) Himawan Soetanto yang pernah menjadi anak buahnya, soal itu sempat mengegerkan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogayakarta. “Tapi ya gimana, semua orang tahu Pak Moes itu memang orangnya nyentrik. Jadi ya dimaklumi saja, apalagi saat itu lagi zaman darurat juga kan,” ujar mantan Panglima Kodam Siliwangi tersebut. Ketika pihak Angkatan Perang RI pimpinan Kolonel A.H. Nasution bersebrangan dengan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mochamad Hatta pada 17 Oktober 1952, Moestopo menempatkan dirinya di kubu Nasution. “Dialah yang mengerahkan massa dari Tanjung Priok untuk berdemo ke Istana Negara,” ungkap Satya Graha, eks wartawan senior yang pernah menjadi anak buah Moestopo di Jawa Timur. Usai pensiun dari tentara, Moestopo lebih banyak menjalankan kehidupannya di dunia pendidikan. Pada 1961, dia kemudian mendirikan Universitas Moestopo Beragama. Embel-embel kata “beragama” itu ternyata memiliki makna tersendiri. Menurut Muslich, itu ditabalkan sebagai ciri kepribadian Moestopo yang selalu berupaya menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan melaksanakan pola kehidupan kerukunan antar umat beragama. “Bapak akan marah sekali jika ada mahasiswa-nya yang tidak melaksanakan perintah agamanya,” ujar Muslich. Secara tegas, Moestopo juga mengharamkan mahasiswa didikannya untuk mengkonsumsi minuman keras dan narkoba, terlibat dalam tindakan kriminal, merongrong almamater dan terlibat dalam tindakan subversiv melawan negara. Bahkan secara khusus, Moestopo menyebut praktek-praktek dan prilaku seks yang tidak dia sukai. “Jangan sekali-kali mahasiswa melakukan onani dan mahasiswi melakukan (praktek) lesbian, yang menyebabkan daya pemikiran dan penangkapan kuliah menjadi lemah,” ujarnya seperti terkutip dalam buku kecil memperingati 100 hari wafatnya. Sebagai tokoh, Moestopo tentu saja banyak mendapatkan gelar kehormatan. Secara pribadi, sang jenderal eksentrik itu sangat menghargai gelar-gelar kehormatan yang ditabalkan kepadanya. Dalam berbagai kesempatan, dia kerap tanpa ragu menuliskannya secara lengkap 18 gelar itu. Bisa jadi jika ditambah gelar yang lain yang tak sempat dia tuliskan (seperti Pahlawan Nasional), Moestopo akan tercatat sebagai manusia yang memiliki gelar terpanjang sepanjang sejarah Indonesia.
- Jejak Bung Karno di Jakarta
Mengulas Bung Karno dari berbagai segi tak akan ada habisnya. Pemikiran dan gagasannya masih hidup hingga saat ini. Salah satunya tentang pembangunan kota. Pria kelahiran 6 Juni ini punya andil besar atas berdirinya bangunan dan monumen di Jakarta sehingga kota ini memiliki identitas tersendiri. Berikut adalah beberapa bangunan dan monumen yang lahir dari ide Bung Karno. Monumen Nasional yang terletak di pusat kota Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Monumen Nasional (Monas) Dibangun pada 1960-an, Monas menjadi lambang perjuangan rakyat Indonesia dalam merengkuh kemerdekan dari para penjajah. Tidak mudah untuk membangun monumen setinggi 132 Meter ini. Perlu waktu hingga 14 tahun lamanya. Selain itu, dalam prosesnya Sukarno tidak menemukan karya yang sesuai dalam sayembara pembabgunan tugu monas sehingga beliau menunjuk langsung Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono sebagai arsitek monumen yang di atasnya dilapisi emas tersebut. Hingga kini Monas menjadi salah satu objek wisata populer di Jakarta. Monas yang kini menjadi salah satu tempat wisata di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pengunjung saat melihat kemegahan Monas. (Fernando Randy/ Historia.id ). Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dan Hotel Indonesia Dua bangunan untuk gelaran Asian Games edisi keempat, 1962. Hotel Indonesia diresmikan pada 5 Agustus 1962. Hotel ini menjadi hotel bintang lima pertama di Indonesia saat itu. Sedangkan SUGBK dibangun untuk memenuhi persyaratan Federasi Asian Games yang menunjuk Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games. Salah satu syaratnya adalah ketersediaan kompleks olahraga. Dengan latar belakang keilmuan teknik sipil, ambisi dan selera yang tinggi, Sukarno akhirnya terjun langsung. Mulai dari pemilihan tempat sampai perancangan dua bangunan yang hingga kini masih berdiri tegak itu. Suasana di Stadion Utama Gelora Bung Karno saat pertandingan Liga Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tim Persija Jakarta saat merayakan gelar juara Piala Presiden di SUGBK. (Fernando Randy/ Historia.id ). SUGBK saat menyelenggarakan pembukaan Asian Games 2018. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di sekitar Hotel Indonesia saat malam hari. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hotel Indonesia yang merupakan hotel bintang lima pertama di Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Wisma Nusantara Terletak tidak jauh dari Hotel Indonesia, bangunan ini lahir karena keinginan Sukarno untuk membangun gedung pencakar langit pertama di Indonesia. Dalam perjalanannya, bangunan setinggi 100 meter tersebut mengalami berbagai gejolak. Salah satunya adalah sempat mangkraknya pembangunan gedung tersebut karena kehabisan dana akibat penurunan nilai rupiah pada masa 1960-an. Wisma Nusantara rampung pada 1972. Bangunan ini sempat menyandang sebagai gedung tertinggi di Asia Tenggara hingga 1983. Wisma Nusantara yang masih berdiri tegak di Jakarta hingga kini. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Dirgantara dan Pembebasan Irian Barat Dua patung yang bertekstur kasar dan keras karya pematung legendaris Edhi Sunarso. Cerita patung Dirgantara dimulai pada 1965. Sukarno meminta Edhi membuat patung untuk mengenang jasa para penerbang Indonesia. Edhi pun merealisasikan pesanan Bung Karno dengan membuat patung setinggi 11 meter tersebut dan diletakan di daerah Pancoran. Sedangkan patung Pembebasan Irian Barat lahir karena Sukarno menganggap bahwa patung J.P. Coen, Gubernur VOC, yang lebih dulu ada di Lapangan Banteng adalah simbol warisan kolonial yang tidak sesuai dengan negeri ini. Itulah mengapa Bung Karno berinisiatif menggantinya dengan patung yang menjadi simbol para pejuang Trikora dan masyarakat Irian Barat yang memilih menjadi bagian dari Republik Indonesia. Hingga hari ini kemegahan Patung Dirgantara dan Pembebasan Irian Barat masih bisa dinikmati. Patung Dirgantara di kawasan Pancoran Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Dirgantara yang tampak kokoh di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di sekitara pancoran dan Patung Dirgantara yang berdiri tegak hingga sekarang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Pembebasan Irian Barat yang terletak di pusat kota Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Perintah dari Bung Karno yang terpampang di Lapangan Banteng Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Patung Pembebasan Irian Barat yang terletak di pusat kota Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Masjid Istiqlal Tempat ibadah yang berada di tengah kota Jakarta ini merupakan salah satu bangunan buah pemikiran Bung Karno. Friedrich Silaban ditunjuk menjadi arsitek masjid yang mulai dibangun pada 1961 tersebut. Walau sempat ada polemik karena Silaban adalah seorang Nasrani, namun itu tak sampai menghambat pembangunan Istiqlal. Kolaborasi Bung Karno dan Silaban inilah yang akhirnya membuat Jakarta mempunyai tempat ibadah yang begitu besar dan bergaya modern hingga saat ini. Masjid Istiqlal yang beberapa waktu lalu direnovasi agar tampak lebih indah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di dalam Masjid Istiqlal yang beberapa waktu lalu direnovasi agar tampak lebih indah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Masjid Istiqlal yang beberapa waktu lalu direnovasi agar tampak lebih indah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pengunjung saat berkunjung ke Masjid Istiqlal beberapa waktu. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Strategi Perang Jayakatwang Tumbangkan Kertanagara
Bendera merah putih berkibar. Musuh mendekat, terlihat di timurnya Haniru. Tentara Ardharaja kocar-kacir. Pasukan Wijaya pun tercerai berai. Kedua menantu Raja Kertanagara itu tak mengira kedatangan pasukan musuh dari arah berbeda. Peristiwa itu menjadi awal tercerai berainya pasukan Wijaya. Begitulah Prasasti Kudadu mencatat pengalaman Wijaya, yang nantinya mendirikan Majapahit, ketika menghadapi serangan pasukan Sri Jayakatwang pada 1214 Saka (1292 M). Arkeolog Bambang Sulistyanto dalam “Melacak Jejak Kerajaan Glang-Glang” yang terbit dalam Bhumi Wurawan menjelaskan dikibarkannya bendera merah putih adalah tanda dimulainya perang besar yang meluluhlantakkan pasukan Singhasari dan menewaskan raja terakhirnya, Sri Maharaja Kertanagara, raja yang bahkan tak takut melawan ancaman kaisar Mongol, Kubilai Khan. Serangan Mendadak Serangan datang tiba-tiba. Bahkan , Kertanagara sendiri tak percaya kalau tentara Jayakatwang sudah menggasak desa-desa di perbatasan utara negara Singhasari. “Tidak mungkin Jayakatong berbuat begitu kepadaku karena dia mendapat kesenangan dari saya,” ujar Kertanagara sebagaimana dicatat Serat Pararaton. Kertanagara baru percaya ketika dia melihat banyak orang menangis, berteriak, dengan tubuh penuh luka, membanjiri ibukota. Mereka adalah penduduk dari utara yang desanya telah diratakan tentara Jayakatwang. “Pasukan membawa bendera dan alat bunyi-bunyian. Rusaklah orang-orang yang melawannya,” catat SeratPararaton . Terkejut dengan apa yang dia disaksikan, Kertanagara mengutus menantunya yang masih muda dan kurang pengalaman, Wijaya untuk menghalau pemberontak di utara ibukota Singhasari. Tak ada pilihan lain, personel yang lebih berpengalaman sudah dia kirim ke misi di seberang laut dalam ekspedisi Pamalayu . Prasasti Kudadu mencatat, Ardharaja, menantu Kertanagara lainnya sekaligus putra Jayakatwang, dikirim juga untuk ikut menghadang serangan. Serat Pararaton bercerita, para aryya terkemuka pun disuruh membantu. Mereka adalah Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang, Sora, Dangdi, Gajah Pagon, Nambi, Peteng, dan Wirot. “Mereka [para aryya terkemuka] itu prajurit terbaik yang melawan pasukan Jayakatwang dari utara,” tulis Novi Bahrul Munif, pelestari sejarah-budaya Kadhiri, dalam “Kajian Sejarah Nagara Glang-Glang di Bumi Wurawan” yang terbit dalam Bhumi Wurawan. Sewaktu rombongan Wijaya dan Ardharaja berangkat ke utara, pasukan Jayakatwang telah tiba di Jasun Wungkal. Sesampainya di Desa Kdungpluk, Wijaya bertemu musuh dan menang dalam pertarungan pertamanya itu. Pasukan Wijaya melanjutkan perjalanan ke Lembah, tapi tak menemukan musuh di sana. Mereka lalu bergerak lagi melewati Batang. Sesampainya di Kapulungan, mereka bertemu lagi dengan musuh. Wijaya berperang di sebelah barat Kapulungan dan kembali mengalahkan musuh. Pasukan Wijaya bergerak lagi. Sampailah mereka di Rabut Carat. Tak lama musuh datang dari barat, tapi tak sanggup melawan pasukan Wijaya hingga lari terbirit-birit. Tapi sesaat kemudian mereka menyadari ada iring-iringan bendera merah dan putih melambai-lambai dari sebelah timur Haniru. Itu bukan bendera pasukan Singhasari, melainkan milik musuh. Melihat bendera-bendera itu, Ardharaja dan prajurit bawahannya balik arah, mundur melarikan diri. Mereka menuju Kapulungan. Ada serangan pasukan lain yang tak mereka ketahui. Yang mana serangan ini lebih fatal. Bendera-bendera yang melambai tinggi itu seakan memberitakan kemenangan sudah di tangan musuh. Serangan Tipuan Kemenangan mudah dan sementara yang didapat Wijaya sebelumnya bukannya tanpa alasan. Pasukan penyerang yang dikirim ke Singhasari dari utara memang bukanlah tentara unggulan. Di tengah keributan yang dibawa pasukan dari utara, tentara Jayakatwang lainnya sudah siap menyergap dari selatan. Menurut Pararaton, pasukan Jayakatwang yang menyerang dari selatan, tak seperti tentara dari utara, mereka datang dengan mengendap-endap dari tepi Sungai Aksa ke Lawor menuju Singhasari. Yang menjadi prajurit utama dari tentara selatan ini adalah Patih Daha Kebo-Mundarang, Pudot, dan Bowong. “Secara samar kesuksesan serangan Jayakatwang dari selatan dapat dilihat pada saat berkhianatnya Ardharaja setelah melihat bendera berwarna merah dan putih berkibar-kibar,” tulis Novi. SeratPararaton dan Kidung Harsawijaya menyebutkan bahwa Batara Siwa-Buddha atau Kertanagara sedang minum tuak bersama patihnya ketika pasukan selatan menyerbu masuk ke istana. Tapi sebenarnya bukan minum tuak untuk berpesta. Menurut Suwardono, sejarawan Malang yang menulis buku Kertanagara dan Misteri Candi Jawi ,Kertanagara sedang melaksanakan upacara untuk mendatangkan Dewi Heruka, kekuatan feminim yang bersifat tantris. Tapi dia terlambat. Upacaranya tak selesai. Dia dan bawahannya keburu tewas di tangan pasukan raja bawahannya sendiri. Sebagai penganut Tantrayana yang taat, inilah usaha terakhir Kertanagara menyelamatkan negaranya. Strategi Makara-Wyuha Menurut Bambang Sulistyanto, strategi perang Jayakatwang itu kemudian terkenal dengan sebutan makara-wyuha . Maksudnya, serangan mendadak dengan membagi pasukan dari dua arah yang berlawanan dari utara dan selatan. “Pasukan menyerang dari utara sebagai siasat agar pasukan Singhasari keluar dari keraton dan mengerahkan seluruh kekuatannya,” jelas Bambang. “Padahal kekuatan penuh berada pada pasukan di sebelah selatan.” Epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, menjelaskan soal jalan yang ditempuh oleh pasukan Jayakatwang waktu menyerang Singhasari. Sumber-sumber sastra yakni Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, dan Kidung Harsawijaya, semua bercerita tentang bagaimana pasukan Jayakatwang menyerang dari dua jurusan. Pasukan dari utara berhenti di Memeling, lalu menjarah desa itu. Penjelasan yang lebih rinci dari Kidung Harsawijaya mengatakan bahwa setelah tujuh hari perjalanan, pasukan utara sampai ke Jurang Angsoka, daerah jajahan Singhasari. Sore harinya mereka tiba di Kali Turan. Di sini mereka berkemah. Baru keesokannya mereka menyerang Memeling. Sedangkan pasukan yang menyerang dari selatan, ketiga sumber mengatakan pasukan itu melewati Lawor dan Sridahabhawana. Dari sana langsung masuk ke kota Singhasari. Dalam Pararaton ditambahkan informasi bahwa sebelum sampai di Lawor, mereka melewati Pingiraksa. Menurut Boechari, masuk akal jika pasukan Jayakatwang menyerang dari Glang-Glang atau daerah Madiun sekarang. Jalur utara yang diambil, bisa dibayangkan kalau sekarang pasukan itu melewati Nganjuk, Kartosono, Jombang, Prigen, dan Lawang. Sementara yang dari selatan melalui Tulungagung, Blitar, Wlingi, dan Malang (Singhasari). Begitulah kehancuran Kertanagara dan kerajaannya, Singhasari. Kejatuhannya rupanya bukan disebabkan Kubilai Khan, kaisar Mongol penguasa Dinasti Yuan yang ambisinya telah membuat Kertanagara waspada dan bersiap sedia. Kekuasaan Kertanagara justru binasa gara-gara serangan tak terduga dari raja bawahan sekaligus besannya sendiri, Jayakatwang.
- A Private War, Perang Batin si Wartawati Perang
RUANG redaksi The Sunday Times di suatu pagi tahun 2001 ramai dengan rutinitas para awaknya. Suasana tersebut justru bikin koresponden perang Marie Colvin (diperankan Rosamund Pike) uring-uringan. Ia tak betah, sampai menyebutnya “Ruangan Horor”. Ketersiksaan Marie kian bertambah dengan transisi teknologi yang mulai marak dipakai para jurnalis saat itu. Marie yang masih gaptek merasa keteteran. Ia kadung terbiasa dengan alat perekam, pena, notes, dan telepon satelit untuk mendiktekan beritanya dari lapangan ketimbang membongkar-pasang sambungan internet ke laptopnya. Maka ketika bertemu editor kanal internasional, Sean Ryan (Tom Hollander), Marie memohon untuk kembali ke lapangan ketimbang di belakang meja redaksi. Marie bersikeras ingin terbang ke Sri Lanka lantaran di sana ada perang saudara antara milisi Macan Tamil dengan militer pemerintah yang sudah bertahun-tahun tak terliput media manapun. Namun sayangnya, setelah berhasil menemui pemimpin pemberontak Macan Tamil di sebuah desa di Vanni, Marie dan beberapa milisi pemberontak yang mengawalnya tepergok patroli pasukan pemerintah. Maria pun berinisiatif menunjukkan jati dirinya sebagai orang Amerika dan wartawan. Dalam momen itulah sebuah RPG (Rocket-Propelled Grenade) meledak di dekatnya hingga membuatnya tumbang, lalu ditawan pasukan pemerintah hingga berakhir di sebuah rumahsakit. Selain mengalami luka di dada, Marie kehilangan mata kirinya. Marie Colvin di Sri Lanka sebelum kehilangan mata kirinya (Aviron Pictures) Tetapi kejadian yang membuat Marie mengalami PTSD ( post-traumatic stress disorder ) itu baru sekadar pembuka drama biopik bertajuk A Private War yang disutradarai Matthew Heineman. Biopik yang merangkum 11 tahun terakhir (2001-2012) aktivitas jurnalistik Marie di sejumlah zona konflik itu diadaptasi dari artikel karya Marie Brenner yang dimuat Vanity Fair , 18 Juli 2012 bertajuk “Marie Colvin’s Private War”. Scene berganti ke adegan Marie sudah pulih dan sedang meyakinkan Ryan bahwa dia belum akan menanggalkan rompi wartawannya. Meski begitu, baru dua tahun kemudian ia bertugas lagi ke lapangan, tepatnya Irak, karena ia masih butuh waktu untuk mengatasi PTSD-nya yang membuatnya sering bermimpi buruk dan makin kecanduan alkohol. Meski dicemaskan Rita Williams (Nikki Amuka-Bird) sahabatnya dan David Irens (Greg Wise) mantan suaminya, Marie tetap mengepak alat perekam, pena, buku catatan, telepon satelit dan tak ketinggalan buku Face of War , kumpulan pengalaman wartawati perang Martha Gellhorn yang diperlakukannya sebagai jimat keberuntungan. Di markas pasukan koalisi di Irak, Marie ditandem dengan wartawan yunior Kate Richardson (Faye Marsay) dan bereuni dengan Norm Coburn (Corey Johnson), fotografer kenalan lamanya sejak konflik di Timor Timur. Kala para wartawan di- briefing tentara Amerika Serikat di markas militer itu, Marie juga bersua bekas perwira artileri Inggris yang beralih jadi fotografer lepas, Paul Conroy (Jamie Dornan). Saat Richardson dan Coburn digiring mengikuti militer Amerika, Marie mengajak Conroy untuk meliput cerita lain, sebuah kuburan massal rahasia di sebelah barat Baghdad. Keduanya pun menyelinap bersama Mourad (Fady Elsayed), wartawan Irak yang merangkap penerjemah, untuk melacak kuburan massal itu dekat Danau Habbaniyah. Para janda korban pembantaian rezim Saddam Hussein yang diwawancara Marie Colvin (Aviron Pictures) Benar saja. Saat operator ekskavator sewaan mulai menguruk lokasi sesuai informasi yang didapat Marie, ditemukan tulang-belulang yang masih terbungkus pakaian yang membusuk. Mereka adalah 600 tahanan politik yang dibantai rezmi Saddam Hussein sejak 1991 dan baru terungkap pada 2003 itu oleh Marie. Saking herannya, Richardson menghampiri Marie dan bertanya mengapa ia sampai nekat melakukan jurnalisme investigatif itu di tengah situasi yang membahayakan. “Karena yang kita lakukan adalah draf kasar dari sebuah sejarah. Kau harus bisa menemukan kebenaran dari apa yang kita lihat. Jika kau kehilangan itu, maka kau tak membantu siapapun di sini,” kata Marie. Setelah ke Irak, Marie absen lama dari lapangan. Selain terus mengalami mimpi buruk karena PTSD-nya, dia mulai sering berpesta. Di satu pesta yang diadakan temannya, ia bertemu pebisnis berstatus duda, Tony Shaw (Stanley Tucci). Berbeda dari mantan suaminya, Shaw menganggap tempat Marie adalah di lapangan, bukan di balik meja redaksi. Marie akhirnya kembali ke zona konflik. Kali ini ke Libya di masa “Arab Spring” (2011). Ia bahkan bisa kembali mewawancarai langsung Muammar Gaddafi sebelum pemimpin flamboyan itu ditemukan tewas di pipa saluran limbah. Tetapi di Libya itu juga mentalnya kembali terpukul usai melihat kawan lamanya, Norm Coburn, tewas. Marie Colvin sempat mewawancarai Muammar Gaddafi sebelum sang diktator tewas (Aviron Pictures) Perang mulai membuat batinnya berkecamuk. Di satu sisi dia ingin terus memberitakan kebenaran dari zona konflik demi mata dunia bisa terbuka. Di sisi lain, ia makin menderita kecanduan alkohol dan rokok dan dihantui mimpi buruk akibat PTSD. Ia selalu bermimpi melihat seorang gadis Palestina berusia 12 tahun, Safa Abu Seif, yang tampak cantik tapi berlumuran darah. Bagaimana ia tetap bisa bertugas dalam kondisi trauma dan di bawah dentuman roket dan meriam serta desingan peluru di Homs (Suriah) pada Februari 2012 bersama Conroy? Saksikan kelanjutan A Private War di aplikasi daring Mola TV . Dramatisasi dan Fakta Historis Music scoring dipadu efek suara desingan peluru dan gelegar meriam cukup berhasil mengiringi adegan-adegan menegangkan, trauma, dan teror yang mendominasi petualangan Marie di berbagai medan konflik. Perpaduan itu cukup mengaduk-aduk perasaan penonton, bahkan serasa tersayat ketika diperlihatkan suasana horor perang yang dialami karakter Marie dan Conroy melalui kameranya. Maka ketika dirilis pada 2 November 2018, biopik ini menuai respon positif para kritikus film. Kritikus Neil Pollack sampai merekomendasikan A Private War diputar di kampus-kampus yang punya jurusan jurnalistik. Pasalnya sutradara cukup berhasil menggambarkan bagaimana para jurnalis di garis depan acap bertaruh nyawa demi memberitakan kebenaran di samping menunjukkan betapa kehidupan mereka juga selalu diteror trauma saat kembali ke kehidupan normal. “Sebagaimana yang digambarkan dengan terang dalam film, Colvin menjadi salah satu orang yang paling kacau hidupnya akibat jalan hidup yang ia pilih sendiri. Colvin melaporkan kebenaran sampai ia terbunuh. A Private War mestinya bisa diputar dan ditonton minimal sekali di sekolah-sekolah jurnalisme,” tulis Pollack di kolom Book and Film Globe , 16 November 2018. Namun, seyogyanya penonton mesti bisa menempatkan diri agar tak terjebak ke dalam perasaannya. Pasalnya, biopik ini dikemas dalam drama sehingga sutradara tak sepenuhnya menggambarkan kisah Marie sesuai fakta. Sosok Kate Richardson dalam film, misalnya, itu adalah karakter gabungan para wartawati muda yang mengagumi dan pernah dibimbing Marie. Pun tokoh Norm Coburn, merupakan karakter gabungan para kolega Marie di lapangan yang menjalin persahabatan erat meski kantor berita mereka bersaingan. “Kami merasa perlu memfiksikan karakter itu demi kebutuhan cerita dan menjaga sensitivitas bagi mereka yang masih berkabung akan kematian Colvin. Ada beberapa karakter juga yang memaksa kami untuk menjadikannya sebagai satu karakter gabungan. Tanpa mengurangi rasa hormat orang-orang yang pernah terlibat, kami juga mesti melakukannya demi durasi dan membuatnya jadi lebih masuk akal,” ujar Heineman, disitat Time , 5 November 2018. Sutradara Matthew Heineman (kanan) di lokasi syuting A Private War (Aviron Pictures) Heineman mencoba memberi gambaran cukup detail lewat pribadi Marie. Hal-hal seperti pakaian dalam mahal La Perla yang acap dikenakan di balik kemeja dan rompi wartawan, atau mantel nilon merk Prada yang dikenakan Marie demi menyamarkan diri di Homs karena pasukan pemerintah Suriah menargetkan wartawan, ditampilkan Heineman dengan perfect . Namun, Heineman justru “terpeleset” dalam beberapa hal fundamental tentang Marie karena melenceng dari fakta historisnya. Soal pertemuan Marie dengan Conroy, contohnya. Di film, Marie bertemu Conroy saat tiba di Irak pada 2003 dan sejak saat itu Conroy selalu mendampingi Marie di Irak, Libya, hingga Suriah. Faktanya, setelah Marie dan Conroy bertemu di Irak di tahun itu, keduanya hanya beberapa kali bertemu dan sejak saat itu tak pernah lagi bertatap muka hingga tujuh tahun kemudian. Dalam artikelnya di Vanity Fair yang jadi dasar adaptasi film ini, Brenner menceritakan bahwa Marie mendengar nama Conroy karena tertarik akan kelakuan Conroy membuat rakit demi bisa menembus perbatasan Suriah-Irak. “Selama berhari-hari para jurnalis berkemah, tidur di kursi plastik di kantor konsul terdekat di perbatasan. Itu pertamakali saya melihat sosoknya. Saya melihat dia masuk ke sebuah ruangan tapi kemudian berbalik dan keluar dari pintu,” kata Conroy kepada Brenner. Marie Colvin dan Paul Conroy digambarkan sudah bertandem sejak Perang Irak (Aviron Pictures) Saat itu, medio Maret 2003, banyak jurnalis berusaha mendapatkan visa untuk bisa masuk ke Irak demi meliput Perang Irak (2003-2011). Saking tak sabaran menunggu, Conroy bersama seorang stringer dari The New York Times membuat rakit di kamar hotelnya, lalu meluncurkannya ke sungai dekat hotel. Namun, mereka tepergok tentara Suriah dan baru dilepaskan setelah ditahan beberapa jam. “Colvin yang mendengar cerita itu lalu mencari saya. ‘Kau membuat sebuah perahu? Saya suka itu! Semua orang di sini terlihat seperti mayat tak berdaya. Mari berlayar!’” kata Conroy mengenang obrolan pertamanya dengan Marie. Setelah itu mereka hanya melanjutkan obrolan sembari menenggak alkohol di bar hotel dan baru bertemu lagi tujuh tahun kemudian. Baru pada 2011 Marie dan Conroy bekerjasama sebagai koresponden-fotografer lepas meliput Arab Spring di Misrata, Libya. Sosok asli Paul Conroy (kiri) dan Marie Catharine Colvin semasa bertandem sejak di Libya ( rorypecktrust.org ) Fakta lain yang juga melenceng adalah kebiasaan merokok Marie. Sampai menjalani tugas terakhir pada masa hidupnya di Homs pada 2012, Marie digambarkan masih kerap menyulut rokoknya sembari menulis berita. Padahal, faktanya Conroy mengklaim bahwa Marie sudah berhenti merokok penuh saat masih di Libya setahun sebelumnya. “Di Libya kami terpaksa diet. Tidak ada roti, tidak ada minuman keras. Terkadang hanya ada kurma kering dan tuna kaleng. Lebih sering Marie bertahan dengan (keripik) pringles, air mineral, dan pernah satu kali dia mendapatkan telur dari toko. Marie benar-benar berhenti merokok. Dia sudah kehilangan semua giginya. Setiap kali saya mau menyalakan rokok, dia akan bilang: ‘Hembuskan asapnya untuk aku, Paul. Aku sangat merindukannya’,” imbuh Conroy. Trauma Gadis Palestina Kisah Marie sedikit-banyak menyerupai kisah idolanya, Martha Gellhorn. Di mana ada perang, di situlah Gellhorn berada. Itu membuat Marie selalu membawa dan menjaga buku Face of War karya Gellhorn di setiap tugas lapangannya. Marie mengikuti jejaknya dengan jadi koresponden konflik di Timur Tengah pada 1986 serta Chechnya, Kosovo, Sierra Leone, Zimbabwe, dan Timor Timur pada dekade 1990-an. Namun, pengalaman-pengalamannya itu hanya disinggung sedikit dalam film A Private War. Pasalnya, sang sutradara ingin memfokuskan pada 11 tahun terakhir Marie saja, dari Sri Lanka hingga Suriah. Tetapi ada satu trauma yang senantiasa ditampilkan Heineman, yakni Marie dalam mimpi buruknya selalu dihantui ingatan akan kematian seorang gadis Palestina. Kendati dalam film identitas gadis itu diganti dengan dinamai Safa Abu Seif dan berusia 12 tahun, Marie melihatnya sendiri ketika nyawanya melayang di kamp pengungsian di Beirut, Lebanon. “Safa Abu Seif, gadis Palestina 12 tahun, tewas dengan timah panas menembus jantungnya. Aku menyaksikan bagaimana orangtuanya terus memeluk jasadnya yang berlumuran darah. Dia mengenakan anting mutiara. Mungkin dia mengira bisa terlihat cantik hari itu,” kata Marie dalam satu adegan. Marie Colvin memberitakan kebenaran sampai akhir hayatnya ( mariecolvin.org ) Gadis bernama asli Haji Achmed Ali dan berusia 22 tahun itu tewas dalam sebuah baku tembak di Kamp Pengungsi Bourj el-Baranjneh, Beirut Barat pada 1987. Marie melihatnya saat bersama fotografer Tom Stoddart meliput Perang Saudara Lebanon (1975-1990) untuk United Press International mulai medio April 1987. Menurut Lindsey Hilsum dalam In Extremis: The Life of War Correspondent Marie Colvin , momen getir itu terjadi pada pagi 5 April 1987 kala Achmed Ali membeli bahan makanan dan persediaan air minum untuk keluarganya di luar kamp. Saat itu sedang terjadi baku tembak antara milisi Amal dengan PLO. Akibatnya, Achmed Ali harus berlari menghindari desingan peluru untuk bisa kembali ke kamp dengan menenteng belanjaannya. Nahas, dua butir peluru penembak runduk milisi Amal menembus kepala dan dadanya menjelang gerbang kamp. Saat Achmed Ali tumbang, nyaris tiada seorangpun yang berani mengevakuasi tubuhnya yang berlumur darah dan debu. “Tetapi ada dua perempuan pemberani yang berlarian membawa tandu sambil melindungi diri dari tembakan untuk mengambil (tubuh) Ali dari tanah dan membawanya ke tempat aman. Dia (Ali) sempat terjatuh dari tandu dan kemudian dibawa ke kamp dengan diseret. Mereka adalah perempuan yang jengah dengan para lelaki penakut,” ujar Marie dalam laporannya yang dikutip Hilsum. Ali langsung dibawa ke klinik di dalam kamp namun nyawanya tak terselamatkan. Marie menyaksikan bagaimana orangtuanya sedih saat jasad Ali dimandikan sebelum dimakamkan. “Walau rambutnya masih berlumur darah, Haji Achmed Ali kini terlihat lebih muda. Ia sedang dimandikan. Tubuhnya begitu lembut dan cantik. Dia mengenakan sepasang anting emas kecil. Tampak seseorang mencoba membuka kepalan tangannya yang menggenggam butiran debu berlumur darah, sisa rasa sakit yang jadi saksi bisu menjelang ajalnya,” sambung Marie. Bersama Marie, Stoddart turut menjadi saksi. Lensa kameranya bahkan mengabadikan prosesi sejak Achmed Ali masih coba diselamatkan tim dokter sampai dinyatakan tewas. Film hasil rekaman itu disimpan Marie dalam sebuah kaleng yang disembunyikannya di balik pakaian dalamnya bersama dengan surat Dr. Pauline Cutting, dokter Inggris yang ingin minta ratu Inggris ikut bertindak. Film dan surat itu lantas dibawa Marie dan Stoddart keluar Beirut menggunakan feri menuju Siprus. Baru ketika di Siprus, ia mengirim berita via faksimil dan rekamannya dikirimkan kemudian. Kisah itu lantas dijadikan headline di suratkabar The Sunday Times dengan tajuk “Snipers Stalk Palestinian Women on the Path of Death”. Deskripsi Film: Judul: A Private War | Sutradara: Matthew Heineman | Produser: Matthew Heineman, Matthew George, Charlize Theron, Marissa McMahon, Basil Iwanyk | Pemain: Rosamund Pike, Jamie Dornan, Tom Hollander, Stanley Tucci, Faye Marsay, Corey Johnson, Nikki Amuka-Bird, Greg Wise | Produksi: Acacia Filmed Entertainment, Thunder Road Pictures, Denver and Delilah Productions | Distributor: Aviron Pictures | Genre: Drama Biopik | Durasi: 110 menit | Rilis: 2 November 2018, Mola TV
- Emas untuk Perjuangan Republik
Pemerintah Indonesia tak punya banyak anggaran untuk membiayai pemerintahannya ketika merdeka pada 1945. Pendapatan negara saat itu berasal dari dana kemerdekaan (Fonds Kemerdekaan Indonesia) yang digalang sejak 1944. Bentuknya berupa uang dan perhiasan dari masyarakat. Indonesia menggunakannya untuk biaya pengamanan Sukarno dan Hatta, mencari atau merampas senjata dari Jepang, pengiriman kurir, pencetakan bendera dan kertas, dan modal kerja kepada Poesat Bank Indonesia (PBI, pendahulu Bank Negara Indonesia). Karena itulah, pemerintah berupaya mencari pendapatan dari sumber lain dari yang halal sampai yang haram seperti jual candu. Lama-kelamaan fonds kemerdekaan makin sedikit. Sementara sumber pendapatan lain dari produksi perkebunan belum bisa berjalan. Oey Beng To dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia menyebut masa itu sebagai “kehancuran di sektor produksi”. Cara lain untuk mendapatkan pendapatan adalah dengan menjual emas. Emas-emas itu diperoleh dari tambang di Cikotok (Banten Selatan), Aceh, dan Rejang Lebong (Bengkulu). Tambang-tambang itu tadinya milik Belanda, lalu dikuasai oleh Jepang, kemudian diambil alih oleh Republik. Aset-aset itu masuk dalam kekayaan negara dan berada dalam naungan Kementerian Kemakmuran. Pengambilalihan tambang itu membutuhkan biaya. Pemerintah meminjam kepada PBI sebesar f.150.000 uang Jepang. “Pinjaman tersebut digunakan untuk pengadaan bahan pangan bagi 3000 karyawan tambang emas Cikotok, di samping pembayaran gaji dan biaya pengeluaran lainnya,” catat Mundardjito dalam 50 Tahun Bank BNI: Melangkah ke Masa Depan dengan Kearifan Masa Lalu . Emas-emas dari tambang dibawa ke pabrik pengolahan emas di Jakarta. Ketika ibu kota Republik pindah ke Yogyakarta pada Januari 1946, gumpalan biji emas ( bullion ) turut dibawa ke Yogyakarta untuk menghindari perampasan tentara Belanda. Belanda memerlukan emas untuk menambah cadangan devisa dan menjamin nilai tukar mata uangnya di daerah Republik. Sisa-sisa emas batangan yang dimiliki pemerintah Hindia Belanda sempat diselamatkan ke Australia dan Afrika Selatan. Demikian keterangan John O. Sutter dalam Indonesianisasi: Politics in a Changing Economy, 1940–1955. Sebaliknya bagi pemerintah Republik, emas-emas itu dapat berguna untuk ditukar dengan kebutuhan mendesak. Sebab kala itu Republik belum mempunyai mata uang sendiri. Mundardjito mencatat aset logam mulia milik Republik yang dipindahkan itu sebanyak 82 peti berisi 5.015,365 kg bul lion emas dan 560.451,050 kg perak murni. “Diangkut ke Yogyakarta dengan kereta api yang menjemput di Pegangsaan untuk diserahkan ke PBI guna keperluan perjuangan,” terang Mundardjito. Sesampai di Yogyakarta, aset berharga dibawa ke kantor PBI di Jalan Setiodiningratan No. 4 dengan mobil tahanan. Kelak aset itu digunakan untuk pembelian senjata dan pesawat. Selama ibu kota di Yogyakarta, suplai emas dari Cikotok untuk Republik berjalan secara rahasia. Republik juga secara teratur mengirim dana untuk operasional tambang Cikotok. Tapi agresi militer Belanda ke sejumlah wilayah Republik pada Juli 1947 menghentikan aktivitas penambangan emas Cikotok. Mereka juga menarget tambang Cikotok. Tapi sebelum tentara Belanda datang, para buruh tambang telah menghancurkan mesin-mesin tambang dengan merendamnya ke air. Penyelamatan aset emas Republik juga terjadi pada agresi militer Belanda kedua, 19 Desember 1948. Belanda memang berhasil menduduki Yogyakarta. Tapi mereka gagal mendapatkan emas batangan milik Republik. Emas seberat tujuh ton bercap Bank Negara Indonesia (didirikan untuk menggantikan PBI) itu keluar Yogyakarta melalui lapangan terbang Maguwo. Untuk menyamarkan emas dari pandangan orang, pegawai BNI menggunakan truk dan gerobak sapi ke Maguwo. Emas itu juga ditutup oleh blarak (daun kelapa). Emas itu berhasil sampai ke Filipina, lalu dijual ke Kasino di Makau. Dari penjualan itu, Republik mendapat dana sekira Rp140 juta. Angka itu diperoleh dari perhitungan harga 5 gram emas murni ketika itu yang mencapai Rp10. “Hasil penjualan digunakan untuk membiayai perjuangan Republik Indonesia di luar negeri, baik melalui perwakilan-perwakilannya termasuk di PBB,” tulis Aboe Bakar Loebis dalam Kilas Balik Kenangan, Pelaku, dan Saksi. Menurut Tengku Moh. Isa dalam Tengku Moh. Ali Panglima Polim: Sumbangsih Aceh Bagi Republik, tambang emas lain sebagai dana perjuangan adalah tambang emas di Meulaboh, Aceh yang rencananya untuk membeli dua pesawat. Namun, yang dibeli hanya sebuah pesawat karena dananya "digelapkan" oleh seorang perwira logistik komando Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatra. Namun, sejarah yang umumnya telah diketahui bahwa pembelian dua pesawat berkat sumbangan rakyat Aceh yang digalang oleh GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh). Pesawat Dakota yang dibeli diberi nama Seulawah I dan Seulawah II. Pesawat yang diberi registrasi RI-001 ini berperan penting selama perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Tulisan ini diperbarui pada 18 Oktober 2021 .
- Surga Burung Langka Terancam Tambang Emas
Pulau Sangihe, pulau kecil nan indah di ujung utara perairan Indonesia. Wilayahnya berbatasan laut dengan Filipina. Jika ingin menggapainya mesti menyeberang dari Manado, Sulawesi Utara. Pilihannya bisa dengan pesawat jarak pendek selama 45 menit atau kapal penyeberangan selama tujuh jam. Jarak 2.000 km dari Jakarta mungkin membuat banyak orang tak familiar dengan nama Sangihe. Ironisnya, nama pulau ini kini lebih sering terdengar setelah alamnya terancam penambangan emas. Sebagaimana diberitakan BBC Indonesia , penambangan emas di pulau itu akan dilakukan di atas lahan seluas 42.000 hektare dari luas keseluruhan pulau 737 km². PT Tambang Mas Sangihe (TMS) telah mengantongi izin lingkungan dan izin usaha produksi pertambangan emas seluas 3.500 hektare dari total 42.000 hektare. Luas itu meliputi setengah bagian selatan Pulau Sangihe. Sungguh sangat disayangkan mengingat Pulau Sangihe bukan sekadar pulau kecil di wilayah perbatasan yang menandai wilayah Indonesia. Melihat posisinya, dahulu pulau ini menjadi pintu masuk migrasi manusia dan fauna ke Kepulauan Nusantara dari sisi utara. Berdasarkan pengamatan naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace pada abad ke-19, Pulau Sangihe termasuk ke dalam kawasan Wallacea. Dalam perjalanannya di Kepulauan Nusantara selama delapan tahun (1854–1862), Wallace membagi batas-batas fauna secara geografis yang dikenal sebagai Garis Wallacea. Wallacea adalah kawasan biogeografis yang mencakup kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah. Di kawasan Wallacea tinggal flora dan fauna khas yang tak ditemukan di tempat lain. Di antaranya burung-burung endemik yang kini di ambang kepunahan. Yang tersisa kini diketahui mendiami Gunung Sahendaruman, gunung yang akan segera berubah menjadi lahan tambang emas di Sangihe. Surga Burung Langka Menurut Wallace, keunikan fauna di kawasan Wallacea disebabkan keletakannya. Posisi Sulawesi yang sedemikian rupa menjadikannya bisa menerima migrasi fauna dari segala penjuru. Termasuk Kepulauan Sangihe. Ia merupakan jembatan penghubung migrasi manusia dan fauna antara wilayah daratan Asia, khususnya Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik. Temuan fosil gajah dan fosil mamalia besar lainnya menjadi bukti, dahulu Sangihe pernah menjadi perlintasan gajah purba, mamalia yang kini tidak akan pernah ditemukan di daratan Sulawesi. Sebagaimana dicatat Wallace dalam Kepulauan Nusantara , wilayah Sulawesi dan kepulauan di sekitarnya, atau yang dia sebut Celebes, telah menarik minat banyak naturalis mancanegara. Wallace sendiri tiba di Sulawesi pada 1856. Pertama-tama, dia sampai di Makasar. Selanjutnya pada 1859, dia beranjak ke Manado dan Tondano di Sulawesi Utara. Dari kelompok hewan lainnya, kata Wallace, burung-burung yang ada di kawasan Sulawesi adalah yang paling dikenal. “Saya sendiri mengumpulkan spesimen burung dengan tekun di Celebes selama hampir 10 bulan, sedangkan asisten saya, Allen dua bulan di Kepulauan Sula,” tulisnya. Wallace bercerita, 20 tahun sebelum kedatangannya, naturalis Belanda, Eltio Alegondas Forsten,pernah tinggal selama dua tahun di Celebes Utara untuk mengumpulkan spesimen burung. Koleksinya dikirim ke Belanda dari Makassar. Wallace pun mengetahui sejak kepulangannya ke Inggris ada dua naturalis Jerman, Hermann von Rosenberg dan Heinrich Agathon Bernstein, yang telah membuat koleksi beragam jenis burung dari Celebes Utara dan Kepulauan Sula. “Hanya delapan jenis burung darat yang belum ada dalam koleksi saya,” tulis Wallace membandingkan koleksi spesimen kedua naturalis itu dengan miliknya. Tak mengherankan jika burung-burung di kawasan Sulawesi menarik minat banyak kolektor dan naturalis. Berdasarkan penelitian Adolf Bernard Meyer, naturalis Jerman dan para naturalis lainnya yang pernah mengunjungi Celebes dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, jumlah burung yang ditemukan di kawasan ini hampir berjumlah 400 spesies. Sebanyak 288 di antaranya adalah burung-burung darat. Dari jumlah itu, menurut ahli botani Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bogor, Elizabeth A. Widjaja, dkk. dalam Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014 , sebanyak 107 jenis adalah burung endemik. “Kawasan Wallacea merupakan surga endemisitas burung Indonesia,” tulisnya. Terlebih lagi 21 jenis di antaranya merupakan burung bermarga tunggal. Jenis-jenis itu tak memiliki kerabat dengan jenis lain. Jumlah ini 95 persen dari total marga tunggal di Indonesia. Tahuna, kota di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara (Bastian AS/Shutterstock) Burung Paling Langka di Dunia Menurut data Burung Indonesia ,ada delapan jenis burung endemik di Pulau Sangihe, yakni serindit sangihe ( Loriculus catamene ), raja-udang bengkaratu ( Cittura sanghirensis ), udang-merah sangihe ( Ceyx sangirensis ), anis-bentet sangihe ( Colluricincla sanghirensis ), seriwang sangihe ( Eutrichomyas rowleyi ), burung-madu sangihe ( Aethopyga duyvenbodei ), celepuk sangihe ( Otus collari ), dan kacamata sangihe ( Zosterops nehrkorni ). Dari delapan jenis itu, empat di antaranya terancam punah, yaitu udang-merah sangihe, anis-bentet sangihe, seriwang sangihe, dan kacamata sangihe. Di antara empat jenis burung terancam punah itu, seriwang sangihe dianggap paling langka. International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau L embaga I nternasional untuk K onservasi A lam telah mengkategorikannya sebagai jenis kritis. Seriwang sangihe berukuran sekira 18 cm. Bagian atas tubuhnya berwarna biru, sedangkan bagian bawahnya abu-abu kebiruan yang lebih pucat. Burung ini senang menghuni hutan pada ketinggian 450-750 meter di atas permukaan laut. Selama lebih dari 100 tahun burung ini hanya dikenal lewat spesimen awetan. Spesimen ini diperoleh pada 1873 oleh Adolf Bernard Meyer. Setelah penemuan itu, pembuatan spesimen lain burung ini maupun penglihatan langsung dari lapangan belum pernah terjadi lagi. Spesimen seriwang sangihe yang disimpan di Museum für Tierkunde Dresden (MTD) atau Museum Sejarah Alam di Dresden pun menjadi satu-satunya yang diketahui mengenai burung ini. Selama akhir abad 19 , Pulau Sangihe telah dikunjungi oleh sejumlah naturalis dan kolektor. Namun , tetap tak satu pun dari mereka yang menemukan atau melaporkan keberadaan burung seriwang sangihe. Klaim pertama baru muncul pada akhir dekade 1970-an dan 1980-an. Herman Teguh dan Willy Noor Effendi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utaradalam Burung-Burung Bersebaran Terbatas di Kepulauan Sangihe-Talaud: Taksonomi, Populasi, dan Keterancamannya menjelaskan, waktu itu tiga ahli burung secara terpisah berkunjung ke Kepulauan Sangihe-Talaud. Mereka adalah Murray Bruce pada 1978, Frank Rozendaal pada 1985, dan David Bishop pada 1986. Bruce mengaku mengamati seekor seriwang sangihe pada Desember 1978 di lereng atas yang berhutan Gunung Awu. Dia mengumumkannya pada 1986 lewat buku Birds of Wallacea . Rozendaal kemudian mencari keberadaan burung itu di Gunung Sahendaruman. Sementara Bishopmencarinya di Gunung Awu. Tapi keduanya gagal. Rozendaal dan Bishop justru mengkonfirmasi jenis burung endemik lain, yakni burung-madu sangihe. Rozendaal juga mencatat keberadaan anis-bentet sangihe dan celepuk sangihe. Kekhawatiran seriwang sangihe telah punah pun merebak. Namun, ada pandangan yang lebih optimistis, bahwa burung surga penangkap lalat itu merupakan burung paling langka di dunia. Bergantung Pada Sahendaruman Harapan bahwa seriwang sangihe masih eksis pun muncul. Pada 1998, Anius Dadoali, penduduk Desa Ulungpeliang, melaporkan telah melihat seekor burung yang tak pernah dia ketahui sebelumnya, kepada peneliti asal Inggris dan Manado yang kala itu tengah riset. Begitu dia sebutkan cirinya, rupanya mirip dengan seriwang sangihe. Katanya,dia melihat burung itu tengah mencari makan di pohon-pohon tinggi di pinggiran hutan primer Gunung Sahendaruman. Kebenaran pun dipastikan. Yang mereka lihat selanjutnya adalah dua ekor burung misterius dengan ciri sebagaimana disebutkan Anius, tengah asik mencari serangga di pohon yang tinggi. Karena belum memiliki nama lokal, nama panggilan sehari-hari Anius Dadoali pun dipakai untuk menyebut burung itu. Manu’ niu, begitu burung itu dipanggil oleh orang lokal. Survei lanjutan dilakukan di lereng-lereng bagian bawah Gunung Sahendaruman. Menurut Hanom Bashari, dkk., pemerhati ekologi dan konservasi burung liar,dalam “The current status of the critically endangered Caerulean Paradise-flycatcher Eutrichomyias rowleyi on Sangihe, North Sulawesi”, yang termuat dalam Kukila 19, 2016, manu’ niu rupanya amat bergantung pada hutan. Sementara di Sangihe hutan yang tersisa di pulau utama hanyalah di petak-petak sekunder di Gunung Awu dan di sekitar puncak Gunung Sahendaruman. Tak seberuntung penemuan di Gunung Sahendaruman, survei yang mereka lakukan di Gunung Awu tidak berhasil menemukan burung langka itu. Kini populasi manu’ niu hanya tersisa di lembah-lembah hutan primer pada ketinggian 390-674 mdpl di Pegunungan Sahendaruman, di sisi selatan pulau. Menurut Bashari, luasan kecil hutan primer di pegunungan ini (519 hektare) diduga menjadi faktor pembatas utama pertumbuhan populasi seriwang sangihe. “ Hilangnya tutupan hutan menjadi ancaman utama jenis ini, di samping perubahan komposisi hutan dengan tanaman-tanaman introduksi yang terus mendesak ke habitat utama seriwang sangihe, ” tulisnya. Lalu akan bagaimana nasib Gunung Sahendaruman setelah pertambangan emas nantinya menggeser petak-petak hutannya? Yang mana dari sanalah sumber air sungai mengaliri desa-desa di Pulau Sangihe. Di gunung itu pulalah satwa-satwa yang kini telah ada di batas eksistensinyamasih bergantung harapan hidup. Populasi manu’ niu saat ini sudah sangat sedikit. Survei yang dilakukan Bashari, dkk. pada 2014 menunjukkan populasinya ditaksir hanya berjumlah 34-150 ekor. “Di bawah kondisi yang seperti ini, maka sedikit saja lembah-lembah itu diganggu, burung pasti akan lenyap selamanya,”tulis Bashari. Bashari pun menegaskan, kondisi ini juga harus diperhitungkan bagi beberapa jenis endemik lain yang hidup bergantung pada Gunung Sahendaruman.
- Menggocek Sejarah Sepakbola Vietnam
STADION Al Maktoum di Dubai, Uni Emirat Arab pada Senin (7/6/2021) malam jadi saksi bisu kedigdayaan Vietnam. Negeri “Paman Ho” itu berpesta gol ke gawang Indonesia di laga kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar Grup G. Kemenangan 4-0 itu sekaligus memantapkan posisi mereka di puncak klasemen. Nguyễn Quang Hải dkk. masih akan menghadapi Malaysia di venue yang sama pada 11 Juni. Untuk menentukan lolos-tidaknya ke fase ketiga kualifikasi zona AFC sebagai juara grup, Vietnam dijadwalkan akan melakoni partai terakhir grup kontra UEA pada 15 Juni. “Kami ingin mendedikasikan kemenangan ini kepada semua rakyat Vietnam yang selalu mengikuti dan mendukung tim. Mereka akan jadi sumber motivasi besar bagi persiapan kami menyongsong pertandingan-pertandingan berikutnya,” papar Nguyễn Hải, disitat Nhân Dân , Selasa (8/6/2021). Langkah tim besutan Park Hang-seo untuk jadi kontestan Asia Tenggara kedua setelah Hindia Belanda (kini Indonesia) ke putaran final Piala Dunia pun terbuka lebar. Dari fase ketiga, Vietnam bakal tinggal selangkah lagi lolos ke pesta sepakbola terakbar itu. Ada 4,5 jatah zona AFC –di luar Qatar sebagai tuan rumah– untuk diperebutkan Vietnam dan 15 tim lain. Empat di antaranya akan langsung ke putaran final Piala Dunia, sementara jatah kelima harusdiperebutkan lewat playoff inter-konfederasi antara satu tim zona Asia dan satu tim zona Oseania/Amerika Selatan. Timnas Vietnam yang melibas Indonesia 4-0 di Kualifikasi Piala Dunia Zona AFC ( the-afc.com ) Prestasi negeri Indochina itu pun menuai banyak pujian. Pasalnya, Vietnam termasuk sangat telatmenseriusi sepakbola sehinggasempat jauh tertinggal dari Indonesia yang mereka pecundangi Senin malam lalu. Saat Indonesia jadi “Macan Asia” pada 1950-1960, Vietnam masih disibukkan oleh perang hingga1970-an. Usai perang pun Vietnam masih mengesampingkan sepakbola lantaran fokus membangun negerinya yang porak-poranda. Namun begitu sepakbola diseriusi Vietnam pada 1990-an, tak butuh waktu lama bagi negeri itu untuk menjadi disegani. Vietnam mulaimeruntuhkan hegemoni “Big Four” (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura)Asia Tenggara pada medio 2000-an. Olahraga Impor Perang terus menyertai perjalanan sejarah Vietnam sejak kemerdekaannya pasca-Perang Dunia II. Akibatnya,perkembangan sepakbolanya berbeda dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Padahal, ungkap Cho Young-han dalam Football in Asia: History, Culture and Business , titik nol sepakbola di Vietnam tak berbeda jauh dari ketiga negara ASEAN di atas atau negeri-negeri Afrika dan Amerika Latin, sepakbola dibawa masuk masing-masing kolonisator mereka. “Di Afrika sepakbola diperkenalkan para pedagang Eropa. Di Asia biasanya diperkenalkan lewat institusi militer, para misionaris, dan di sekolah-sekolah. Di India sepakbolanya dikenalkan dari para tentara dan misionaris. Di Vietnam oleh militer Prancis. Di Malaysia sepakbolanya dibawa Inggris bersamaan dengan olahraga Barat lainnya. Kolonialis Belanda mengenalkan sepakbola di Indonesia melalui kantor-kantor dagang, militer, dan pegawai sipil,” tulis Cho. Kendati tidakdiketahui pasti kapan pertamakali sepakbola dimainkan di Vietnam, beberapa sumber menyebutkan sepakbola sudah dimainkan di Cochinchina oleh pegawai sipil, pedagang, dan militer kolonial Prancis sejak 1896. Ada pula yang menyebutkan sepakbola baru eksis setelah pergantian abad. “Karena sejarah olahraga di Vietnam sampai saat ini tetap dituliskan hanya sebagai bagian kecil dari refleksi yang lebih besar dalam dinamika masyarakatnya yang berubah-ubah. Padahal, tidak banyak yang tahu bahwa sepakbola di Vietnam lebih ‘senior’ (se-Asia Tenggara). Sejarah olahraga di Vietnam acap jadi tema marjinal dan kalaupun dituliskan oleh beberapa penulis tidaklah lengkap,” kataAgathe Larcher-Goscha dalam Du Football au Vietnam (1905-1949): Colonialisme, Culture, Sportive et Sociabilités en Jeux . Saigon, ibukota Cochinchina (Vietnam Selatan) semasa Fédération Indochinoise (Indocina Prancis),sebagai kota terbesar dan tersibuk memungkinkan sepakbola bisa lebih populer dari tempat-tempat lain saat diperkenalkan kolonialis Prancis.Pertandingan sepakbola pertama yang tercatat dimainkandi Cochinchina antara tim militer Prancis kontra Inggris, sebagai jamuan tuan rumah atas kedatangan kapal penjelajah Angkatan Laut Inggris HMS King Alfred pada medio 1905. Pada1906, perhimpunan olahraga tertua di VietnamCercle Sportif Saigonnais (CSS) mendirikan tim sepakbola dengan nama sama. Tim amatir itu tercatat sebagai tim sepakbola pertama di Vietnam. “Cercle Sportif Saigonnais sudah berdiri sejak 1902 yang menaungi banyak aktivitas olahraga dalam satu wadah walau sejak 1890-an sudah ada klub-klub anggar dan angkat besi yang berdiri sendiri di Rue Lagrandière,” terang Albert Oriol dalam Le Sport au Vietnam . Tim CSS meniru sistem , manajemen, maupun peraturan sepakbola baku dari Prancis yang diperkenalkan E. Breton, anggota L’Union des Sociétés Français des Sports Athlétiques. Breton kemudian dipilih para anggota tim me njadi ketua CSS. Pemain dan pengurus CSS terdiri dari pedagang asal Prancis, Swiss, dan Inggris.Mereka kemudian menyewa lapangan di stadion milik militer Prancis. Selain militer Prancis, CSS acap menggelar laga melawan tim-tim militer negara lain yang datang silih-berganti ke pelabuhan Saigon. Pertandingannya sering terbuka untuk umum sehingga menularkan antusiasme sepakbola yang sama kepada anak negeri. “Seiring waktu tim-tim baru bermunculan di Saigon: Athletic Club yang berisi para pegawai perusahaan swasta, Tabert Club oleh para pelajar Eurasian (blasteran Eropa-Asia) dari institusi gereja, Chinese Sporting Club dari golongan orang-orang China, dan klub orang lokal, Gia Đinh Sport,” sambung Larcher-Goscha. Sejak 1906 itu p u l a sepakbola merambah Tonkin dan Annam. Geliatnya kemudian meningkat dengan k emuncul a n klub-klub amatir pada medio 1915, selaras dengan didirikannya komisi olahraga di tiga wilayah itu . Pada medio 1915, klub-klub lokal pun bermunculan di Cochinchina, Annam, maupun Tonkin dengan Cochinchina sebagai yang terbesar. Larcher-Goscha mencatat, hingga pecahnya Perang Dunia II, sebanyak 67 klub eksis di Cochinchina, 16 di Tonkin, dan lima di Annam. Mereka umumnya saling“adu kuat” lewat laga persahabatan yang dimainkan tanpa perlengkapan memadai. “Para pesepakbola kami (lokal) yang sebagian besar tak pernah menyentuh bola dengan kaki, tentunya punya kekurangan pengetahuan aturan sepakbola. Kami sering bermain tanpa sepatu. Lebih sering ada yang terjatuh ketimbang tendangan-tendangan yang bagus dan pertandingannya bukannya menarik justru cenderung lucu,” kenang pemain veteran klub lokal kepada suratkabar L’Écho Annamite edisi 14 Oktober 1925. Kompetisi di Vietnam baru eksis pada 1914, yakni Kejuaraan Cochinchina. Kompetisi ini diikuti tim-tim bentukan orang Eropa di selatan Vietnam. Baru pada 1920 banyak kompetisi lain bermunculan.Tak hanya diikuti klub-klub lokal, kompetisi-kompetisi itu juga diikuti klub-klub asal Laos dan Kamboja, seperti Championnats Héraut, Coupe de la Ville de Cholon, Coupe de l’Armistice, Challenge Khoa HocTap Chi, dan Coupe Nguyen ChieuThong. Uniknya , sepakbola di Vietnam juga digemari kaum perempuan. Vietnam jadi salah satu pionir sepakbola putri di Asia . Tim putri pertama nya, Cái V ồ n , berdiri pada 1932 dan diikuti Rach Giá Sport pada 1933. Timnas Vietnam Selatan di Merdeka Games 1973 ( dongnhacvang.com ) Terbelah Dua Pada masa Perang Dunia II, aktivitas sepakbola di Vietnam mati suri. Kondisi tersebut berlanjut ke masa berikutnya, di mana Perang Indocina melumpuhkan banyak sendi kehidupan. Setelah Vietnam dibagi menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan dalam Konferensi Jenewa (26 April-20 Juli 1954), di Saigon berdiriAsosiasi Sepakbola Republik Vietnam pada 1949 dan di Hanoi berdiri Asosiasi Sepakbola Republik Demokratik Vietnam pada 1954. “Induk sepakbolanya terbagi dua, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, di mana keduanya sama-sama mencari pengakuan akan identitas nasional mereka dan masing-masing mengklaim sebagai yang paling unggul. Referensi tentang masa lalu sepakbola mereka di masa kolonial tak lagi diakui dan terhapus seiring bertahun-tahun dalam situasi perang,” terang Larcher-Goscha. Timnas Vietnam Utara (kanan) dalam laga persahabatan kontra Kuba pada September 1970 ( showsport.me ) Keduanya asosiasi itu diakui AFC walau kemudian hanya Vietnam Selatan yang diterima masuk jadi anggota FIFA. Maka, hanya Vietnam Selatan yang tercatat pernah ikut kualifikasi Piala Dunia (1974) selain Piala Asia (1956 dan 1960), dan Asian Games (1951, 1954, 1958, 1962, 1966, dan 1970). Se mentara , kendati diakui AFC, Vietnam Utara tak pernah ikut Piala Asia maupun Asian Games. Dua perhelatan internasional yang pernah diikuti Vietnam Utara ada lah Ganefo (Games of the New Emerging Forces) I di Jakarta pada 1963 dan Ganefo II di Pnom Penh pada 1967. Si sa nya , mayoritas laga yang dimainkan Vietnam Utara hanya laga persahabatan dengan sesama negara kiri, sepert i laga kontra RR C, Kamboja, Korea Utara, dan Kuba. Walau perang mulai reda sejak 1976,pemerintah Vietnambelum punya banyak perhatian pada sepakbola. Reformasi Đổi Mới yang menghasilkan pembentukan induk baru, Federasi Sepakbola Vietnam (VFF), pada Agustus 1989 –dengan Wakil Menteri OlahragaTrịnh Ngọc Chữ sebagai presiden pertamanya– tak serta-merta membuat perubahan besar dalam persepakbolaan Vietnam. Pada 1976 bahkan dua asosiasi sepakbola Vietnam gulung tikar. Perhatian serius pada sepakbola baru diberikan pemerintah Vietnam pada 1989.Kendati begitu, persepakbolaan masih belum beranjak jauh. Liganya acap dibelit skandal, timnasnya pun kerap jadi bulan-bulanan tim seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand.Kebijakan terbuka yang mengizinkan keterlibatan pemain dan pelatih asing sejak tahun 2000 belum bisa memberikan kemajuan sesuai ekspektasi. Timnas Vietnam (putih) di semifinal Piala AFF 2016 Baru setelah mengetahui pangkal permasalahannya pada mentalitas di bidang pembinaan pemain usia dini, VFF berupaya berbenah pada awal 2007 dengan menggandeng klub top InggrisArsenal FC dan sekolah sepakbola Prancis JMG Academy. Kerjasama itu menghasilkan pusat pelatihan HAGL-Arsenal JMG Academy di Pleiku yanginfrastrukturnya berstandar internasional. Hasilnya,pada 2007 timnas Vietnam mampu mencapai perempatfinal Piala AFF –yang diulangi pada 2019. Pada 2018, Vietnam berhasil menjuarai Piala AFF dan setahun kemudian merebut medali emas cabang sepakbola SEA Games. Kini, tim berjuluk Golden Star Warriors itu membidik satu dari empat jatah Piala Dunia 2022 dari zona Asia. “Akademi (HAGL-Arsenal JMG) memberikan para pemain mindset yang benar, kekuatan fisik dan determinasi untuk bicara banyak di Asia. Kami semua berharap dan percaya Vietnam akan jadi negara sepakbola kuat di masa mendatang,” tukas pemain timnas Vietnam jebolan HAGL-Arsenal JMG, Nguyễn Công Phượng dikutip Esquire , 15 Juni 2018.
- Kekalahan Pasukan Diponegoro dalam Pertempuran Plered
OPERASI pengejaran Pangeran Diponegoro diteruskan ke wilayah Yogyakarta Utara. Mayor Jenderal Joseph van Geen mengerahkan kekuatan dua kolone. Masing-masing pasukan dipimpin oleh Kolonel Frans David Cochius dan Kolonel Bernard Sollewijn. Kolonel Cochius, perwira zeni paling senior, mendapatkan informasi adanya pemusatan pasukan Diponegoro di Plered, bekas keraton Sunan Amangkurat I. “Benteng Plered dengan tinggi lebih dari 20 kaki dan tembok tebal merupakan tempat pertahanan yang bagus. Benteng ini dipertahankan oleh 800-1000 orang yang dipimpin oleh Tumenggung Kerto Pengalasan,” tulis sejarawan Saleh Asʼad Djamhari dalam Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng 1827–1830 . Sejarawan Peter Carey dalam Sisi Lain Diponegoro menerangkan bahwa menurut laporan Belanda yang dibuat selama berlangsung Perang Jawa, Kerto Pengalasan sebelum perang menjabat sebagai demang di Desa Tanjung Selatan, Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, dengan nama Kromowijoyo. Laporan Belanda yang lain menyatakan dia bertugas di Wates. Namun, nama Pengalasan memberikan petunjuk bahwa mungkin dia pernah memangku suatu jabatan resmi di lingkungan Keraton Yogyakarta. Pengalasan menikah dengan putri Pangeran Blitar I, salah seorang putra Sultan Pertama. Jadi, dia sudah punya kekerabatan dengan keluarga inti keraton. Ayah mertuanya adalah pangeran Keraton Yogyakarta yang bergabung paling awal dengan Diponegoro di Selarong pada 29 Juli 1825. Carey mencatat bahwa Pengalasan memainkan peranan penting dalam pertahanan Selarong selama musim panas (Juli–Oktober) 1825. Ketika Diponegoro memerintahkan untuk mengosongkan dan meninggalkan Selarong, dia membentuk pasukan sayap belakang serta bertanggung jawab atas pasukan meriam (artileri berkuda). Pengalasan juga melindungi satu sisi rombongan pasukan Diponegoro yang tengah mengundurkan diri melintasi bukit-bukit kapur Selarong. Dia bergabung kembali dengan Diponegoro di markas besarnya yang pertama di Kulon Progo di Banyumeneng. Dia kemudian bertempur mempertahankan markas kedua Diponegoro di Dekso (Kulon Progo) pada November 1825. Setelah pertempuran itu, lanjut Carey, Pengalasan diangkat sebagai Basah dengan nama Ngabdullatip (Abdul Latif). Kepada Pengalasan diserahkan komando atas semua pasukan Diponegoro yang berada di sebelah barat Sungai Progo. Pada 1826, Pengalasan memainkan peranan penting dalam mempertahankan benteng Diponegoro di bekas keraton Sunan Amangkurat I di Plered (Mei–Juni 1826). “Pada 9 Juni 1826, Kolonel Cochius dengan kekuatan 7.342 orang menyerbu Benteng Plered dari empat arah,” tulis Saleh. Sementara Carey mencatat jumlah pasukan Belanda berjumlah 4.200. Sejarawan Sartono Kartodirdjo menambahkan, pasukan Belanda itu dibantu oleh prajurit Mangkunegaran. Jumlah pasukan Belanda besar sekali sehingga kekuatan tidak seimbang. “Pasukan Diponegoro mundur dan dikejar terus oleh pasukan Belanda sampai di sebelah timur sungai Progo. Pasukan Diponegoro lalu bertahan di sebelah barat sungai Progo,” tulis Sartono dalam Sejarah Perlawanan-perlawanan terhadap Kolonialisme . Menurut Saleh, s etelah bertempur selama satu hari, Kerto Pengalasan, pemimpin pasukan Diponegoro, berhasil meloloskan diri menuju ke utara. Operasi pengejaran dilanjutkan ke Jekso (Dekso), markas besar Diponegoro yang baru. Kolonel Cochius diserahi tugas untuk memimpin penyerbuan. “Pertempuran Plered merupakan pertempuran yang paling banyak memakan korban,” tulis Saleh. Carey mencatat, dalam pembantaian itu hanya 40 dari 400 prajurit Diponegoro yang lolos, di antaranya Pengalasan. Pengalasan menderita luka parah. Dia dibawa oleh Haji Ngiso, teman akrabnya, ke Selarong untuk menyembuhkan diri serta memulihkan kekuatannya. Setelah pulih, Pengalasan kembali memimpin pasukan dan setia di samping Diponegoro sampai kekalahan yang menentukan di Siluk, di utara bukit-bukit Selarong pada 17 September 1829. Setelah itu, dia menyerahkan diri pada 11 November 1829, tepat pada hari ulang tahun Diponegoro. “Kendati demikian, terdapat kecurigaan bahwa penyerahan dirinya punya motif tersembunyi,” tulis Carey. “Pun, di sisi Belanda, ada yang menduga bahwa sebenarnya Pengalasan diutus sendiri oleh Diponegoro untuk membuka perundingan perdamaian.” Menurut Carey, pada awal dasawarsa 1860-an, nama Pengalasan tersua dalam buku harian seorang syekh tarekat Naqsyabandiah di Pulau Pinang. Dia disebut menunaikan ibadah haji walaupun belum jelas apakah dia sampai ke Haramain. Waktu itu, dia dicatat pulang dengan gelar Haji Abdul Latif. “Kalau memang sesungguhnya ke Makkah pada akhir hidupnya, Pengalasan dapat meraih sesuatu yang atasannya, Diponegoro, selalu mengidamkan namun tidak pernah diberi izin Belanda untuk melaksanakannya: ibadah haji,” tulis Carey.





















