Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bung Karno Pecinta Sambal Pecel
Mungkin tak ada makanan yang paling disukai di dunia ini oleh Presiden Sukarno selain sambal pecel. Kemana pun Si Bung Besar pergi, hampir selalu dia meminta para pelayannya menyediakan saus kacang tanah itu. Termasuk ketika dia sedang melakukan kunjungan ke luar negeri. Kolonel (Purn) Bambang Widjanarko, salah seorang mantan ajudan Bung Karno (1960-1965), menjadi saksi betapa gandrungnya sang presiden akan pecel. Bahkan jika di luar negeri tak tersedia sayuran khusus untuk pecel seperti daun papaya muda, tauge, daun kenikir dan kacang panjang, dia cukup puas hanya dengan menikmati sambal pecelnya saja (yang selalu dibawa kemanapun pergi). “Biasanya Bapak mengoleskannya ke roti sebagai selai pengganti keju atau mentega,” ungkap Bambang dalam bukunya Sewindu Dekat Bung Karno . Kesaksian Bambang dikuatkan oleh Muslih bin Risan. Lelaki berusia 73 tahun itu menyatakan Bung Karno akan “blingsatan” jika di meja makannya tidak tersediamenu pecel sayur atau sambal pecel. “Kalau enggak ada, pasti Bapak menanyakan,” uja bekas pelayan pribadi keluarga Sukarno tersebut. Sambal pecel selalu menemani santap siang Sukarno, biasanya disajikan bersama lele plus lalapan daun singkong dan daun pepaya. Sukarno akan mencomot langsung dari cobekan dan menyantapnya dengan tangan zonder sendok dan garpu. “Kalau lagi makan pecel lele, Bapak seperti ‘tidak ingat sekitarnya’,” kata Muslih sambil terkekeh. Dikisahkan jika setiap mudik ke Blitar, Sukarno tak mau melewatkan kesempatan menikmati pecel Blitar yang terkenal itu. Dia akan mencari Mbok Rah, penjual nasi pecel keliling favoritnya, untuk melahap 2-3 pincuk pecel di pagi hari. Menurut Guruh Sukarno dalam Bung Karno & Kesayangannya , Sukarno jadi pelanggan Mbok Rah sejak 1950. “Wah kalau Bapak sedang menikmati (pecel sayur) , walaupun yang namanya revolusi Indonesia berhenti, pasti Bapak tidak akan ambil pusing!” ungkap Guruh. Pulang ke Jakarta, bumbu pecel Mbok Rah dibawanya serta. Bumbu itu pula yang menemani Sukarno dalam lawatan ke mancanegara. Terutama jika tak satu pun makanan di suatu negara cocok di lidahnya. Misalnya di Mongolia di mana semua makanan selalu dicampur susu kuda. “Di sana setiap harinya bapak selalu makan roti dengan sambal pecel saja. Kadang-kadang juga dengan kecap,” ujar Guruh. Kalau sedang berkunjung ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Sukarno biasanya minta disediakan salad segar tanpa saus kepada manajemen hotel tempat menginap atau kepala rumah tangga istana di sana. Sebagai pengganti sausnya, Sukarno mencairkan sambal pecel yang dibawanya. Jadilah Indonesia salad yang lezat dan siap disantap. Selain Mbok Rah, Sukarno juga keranjingan pecel Mbok Pin alias Rukiyem. Setiap Mbok Pin datang, wajah Sukarno akan terlihat sumringah lantas berjongkok sembari menunjuk daun-daun yang digemarinya. “Saya sampai hafal berapa banyak harus memberi sambalnya dan daun apa saja yang menjadi kesukaa Bung Karno,” kata Mbok Pin kepada Anjar Any, penulis buku Menyingkap Tabir Bung Karno . Sadar suaminya penggemar berat pecel, istri-istri Sukarno selalu membuat dan menyediakan bumbu pecel di rumah. Dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno karya Kadjat Adra’i, Fatmawati yang orang Sumatra juga berupaya keras mempelajari cara membuat sambal pecel. “Belajarnya bisa dari siapa saja, misalnya dari bakul pecel ketika masih di Bengkulu,” ungkap Fatmawati. Muslih ingat kalau sepulang dari Istana menuju Kebayoran (rumah Fatmawati), pas di Pasar Tenabang, Fatmawati kerap menyuruh Dalimin Ronoatmodjo (salah satu anggota pengawal keluarga Presiden Sukarno) untuk membeli cabe rawit dan terasi buat bikin sambal pecel. Selain Fatmawati, istri yang lain yakni Hartini juga belajar membuat sekaligus menikmatinya demi memenangi perhatian sang suami. “Walaupun sebenarnya Hartini kurang menyukai makanan itu,” ungkap Anjar Any. Kalau sudah ketemu makanan kesukaannya itu , Sukarno dengan lahap akan menghabiskannya tanpa menoleh kanan-kiri. “Ia bersantap seperti dikejar setan,” ungkap Howard P. Jones, eks Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia seperti dikutip Anjar Any.
- Ketika Para Perwira Mengkritik Penampilan Sukarno
Jenderal Abdul Haris Nasution punya kesan tersendiri terhadap penampilan Presiden Sukarno. Menurutnya, Bung Karno senang terlihat modis dan perlente. Hingga sekali waktu, Nasution memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sifatnya agak pribadi. “Mengapa selalu pakai dasi, mengapa tidak dengan kemeja kerja saja?” tanya Nasution kepada Bung Karno. “Ah, nanti saya masuk angin,” jawab Bung Karno sekedarnya seperti dikisahkan Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Sudah jadi rahasia umum kalau Sukarno memang gemar bersolek. Dari atas ke bawah, Sukarno piawai memadukan kombinasi busana rancangannya sendiri. Seragam kepresidenan bergaya militer lengkap dengan atribut acap kali membalut tubuhnya. Kemudian, Sukarno suka pakai peci khas yang memahkotai kepalanya. Tidak luput, kaca mata hitam dan tongkat komando sebagai aksesoris. Kepiawaian Bung Karno dalam mengenakan itu semua diakui sendiri oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnaputra. “Dari sekian banyak kepala negara atau kepala pemerintahan,” kata Guntur dalam Bung Karno dan Kesayangannya , “Bapak terkenal sebagai salah satunya yang berpakaian secara dandy (rapih) dan mentereng.” Meski demikian, perkara gaya berpakaian Sukarno menjadi sorotan bagi sejumlah perwira militer. Soalnya, Sukarno yang orang sipil itu suka tampil dengan uniform militer ke mana-mana. Nasution mengatakan bahwa Sukarno amat teliti dalam berpakaian. Penampilan Nasution sendiri bahkan tidak luput dari koreksi Sukarno. “Saya berkali-kali diingatkan karena kurang teliti berpakaian, bahwa taille baju saya tidak tepat dan sebagainya,” kenang Nasution. Kritik yang tajam pernah disampaikan Brigjen Surachman, panglima Divisi Brawijaya. Masih dalam tuturan Nasution, ketika Sukarno berkunjung ke Jawa Timur, Surachman turut menyambut di lapangan terbang. Di sela-sela sambutan itu, Surachman menyisipkan pesan langsung kepada Sukarno. Begini kata Surachman, “Rakyat akan lebih senang melihat Presiden berpakaian sederhana, daripada dalam seragam militer gemerlapan.” Sontak saja perkataan itu bikin Sukarno marah. Kejadian itu membuat Sukarno tidak mau bicara. Surachman pun dicuekin. Masukan yang paling menohok bagi Sukarno barangkali datang dari Jenderal Mayor Tahi Bonar Simatupang. Ketika menjabat Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), Simatupang pernah terang-terangan meminta Sukarno agar jangan lagi memakai seragam militer. Dalam Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang , Simatupang mengenang “kelancangannya” kala menasihati Bung Karno itu terjadi saat dirinya masih perwira muda berusia 29 atau 30 tahun. “Bung Karno”, kata Simatupang, “Saya sebagai Kepala Staf Angkatan Perang memakai uniform dan memberikan hormat kepada Bung Karno yang tidak memakai uniform , sehingga dengan demikian masyarakat melihat bukan yang memakai uniform itu yang tinggi, tapi yang tidak pakai uniform .” Menurut Simatupang, presiden dapat memberikan contoh yang sangat baik dengan mengenakan pakaian sipil pada upacara militer. Dengan begitu, Sukarno memperoleh penghormatan sebagai panglima tertinggi bukan karena uniform- melainkan karena yang bersangkutan adalah kepala negara. Alih-alih menerima saran, Sukarno malah tersinggung dengan ucapan Simatupang. Namun, dia hanya memendam jengkel tanpa mau membicarakannya. Simatupang kemudian mendengar dari orang lain betapa marahnya Sukarno sehingga beredar rumor kalau Simatupang melarang Sukarno memakai uniform . Bagi Sukarno, seperti diungkap Walentina Waluyanti de Jong, gaya dan penampilannya lebih pada soal insting, selera, kesadaran, dan pemahamannya tentang estetika. Jauh sebelum menjadi pemimpin bangsa, penampilannya selalu terjaga apik. Kecenderungan Sukarno untuk selalu tampil representatif memang sudah jadi bakat alamiah. “Pada zaman Jepang yang serba susah pun, tetap saja Sukarno tampil flamboyan bak model saat tampil pada sampul majalah Djawa Baroe ,” tulis Walentina dalam Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen . Soal penampilan, Sukarno sendiri dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat mengatakan seragam dan peci hitam adalah tanda pengenal dirinya. Menurutnya itu adalah pakaian yang patut dikenakan bagi presiden selaku panglima tertinggi. Penampilan dengan uniform militer itu juga jadi suatu tanda yang dapat mengangkat kepercayaan diri, tidak hanya bagi diri Sukarno tetapi juga untuk rakyatnya. “Setelah kemerdekaan Indonesia aku proklamirkan, aku harus bisa memberikan kepada mereka sebuah citra, suatu kebanggaan. Maka aku selalu memakai seragam,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam My Friend the Dictator .
- Kisah D.N. Aidit di Putera
Utuy Tatang Sontani penasaran betul kala kepala kantor Pusat Tenaga Rakyat (Putera) cabang Bandung memberitahunya bahwa akan ada tenaga baru dari Jakarta. Orang baru itu tampaknya bukan orang biasa. Kepala kantor mengatakan bahwa orang itu adalah anak emas Bung Hatta. “Coba saja kau bayangkan! Kalau pada waktu itu ada orang yang dikatakan anak mas Bung Hatta, maka paling tidak dia itu mewarisi semangat juang dari Bung Hatta, yang sudah dengan sendirinya pula berhak diberi julukan ‘pemuda yang berwajah semangat’,” kenang Utuy dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang . Tebakan Utuy ternyata tak meleset. Orang itu bermata melotot, gerak-geriknya kaku, dan suaranya datar. Karakter itu sangat cocok dengan karakter tokoh Kawista dalam novel Utuy yang berjudul Tambera . Kawista merupakan seorang pemberontak radikal yang melawan kolonialisme Belanda di Pulau Banda. Namun, orang itu bukan orang Banda seperti tokoh novelnya. Orang baru itu ternyata asal Belitung, bernama Dipa Nusantara Aidit. Sesuai perkiraan Utuy, Aidit ternyata memang seorang pembangkang. Di Putera, semua pegawai harus taiso setiap pagi sebelum masuk kerja. Namun, suatu hari hanya segelintir orang yang datang taiso . Pimpinan Sendenbu pun marah, mereka kemudian dikumpulkan oleh opsir Jepang berseragam lengkap dengan katananya. Ketika dimarahi dan ditanya siapa yang mau mencoba menberontak, Aidit maju dan menepuk dada. “Saya. Saya yang mengajak teman-teman lainnya untuk tidak ber- taiso ,” kata Aidit seperti dikisahkan Utuy. Aidit beralasan bahwa mereka yang tak datang taiso adalah para pemimpin yang berkerja hingga larut malam. Paginya, mereka juga harus lanjut bekerja sehingga tidak sempat datang taiso . Ia berdalih, taiso dilakukan di rumah sebelum berangkat ke kantor. Si opsir Jepang ternyata tak membalas lagi jawaban Aidit. Justru sejak peristiwa itu taiso pagi dilakukan dengan sukarela. Jika Utuy menyebut bahwa Aidit adalah anak emas Bung Hatta dari Jakarta, Bung Hatta justru berkata tak menyukai Aidit. Sebagaimana termuat dalam buku Mengenang Bung Hatta yang ditulis Iding Wangsa Widjaja, Bung Hatta mengatakan bahwa ia telah lama mengenal Aidit di Putera. “Waktu itu saya sering diminta untuk memberi kursus mengenai seluk beluk pers kepada generasi yang lebih muda dari saya. Salah seorang dari peserta kursus itu ialah Aidit,” kata Bung Hatta. Sejarah mencatat, di kemudian hari kedua tokoh ini bersimpang jalan. Hatta tak menyukai Aidit dengan jalan komunismenya. “Amat disayangkan, rupanya perjalanan waktu membawa dia ke alam pikiran yang amat berbeda dengan saya. Aidit memilih PKI sebagai organisasi tempat ia menempa dirinya,” kata Hatta. Dalam Bung Hatta Menjawab, ia juga mengatakan bahwa Aiditlah yang belakangan membuat hubungannya dengan Bung Karno menjadi renggang. Bahkan Hatta menyebut, sejak di Putera, Aidit tak menyukai Bung Karno. Selama bergabung dengan Putera yang berkantor di Jalan Gereja Theresia, Bung Hatta juga berkantor di Pegangsaan sebagai penasehat tentara Jepang. Di kantor Pegangsaan ini, ia memiliki ruangan yang tak boleh ada satupun orang Jepang di dalamnya. “Waktu itu, salah seorang pegawai di kantor itu adalah Aidit. Yang lain ada lagi, Yusuf Yahya,” ungkap Bung Hatta. Suatu hari, kata Bung Hatta, Bung Karno masuk dan semua orang yang ada dalam ruangan tersebut berdiri. Namun ada satu orang yang tak mau berdiri, yakni Aidit. Sikap itu membuat Bung Karno marah. “Kenapa kau tidak berdiri?" tanya Bung Karno. "Biasanya orang yang datang dan baru masuk memberi salam, baru kami berdiri. Ini Bung masuk tanpa memberi salam. Lihat Bung Hatta, kalau dia masuk, seperti biasanya orang Islam, ia memberi salam, baru kami berdiri membalasnya. Ini, Bung minta kami berdiri. Ini sistem Jepang. Kami tidak biasa demikian,” jawab Aidit. Menurut Bung Hatta, Bung Karno sangat marah dengan jawaban Aidit. Bung Hattapun membicarakan kasus ini dengan Mr. Sartono agar Aidit dipindah ke kantor lain agar berjauhan dengan Bung Karno. “Kalau tidak, lama-lama nanti bisa repot,” katanya. Tidak jelas apakah peristiwa tersebut yang kemudian membuat Aidit dipindah ke kantor Putera di Bandung. Yang pasti, soal kabar Aidit sebagai anak emas Bung Hatta diamini sang adik Sobron Aidit dalam bukunya Aidit: Abang, Sahabat, dan Guru di Masa Pergolakan. “Dia muridnya Bung Karno, Bung Hatta, Muhammad Yamin di Menteng 31, markas pejuang kemerdekaan ketika itu. Dia juga, katanya, bahkan murid yang termasuk disayangi Hatta. Meskipun pada akhirnya menjadi musuh bebuyutan karena aliran politiknya berlainan dengan Hatta,” tulis Sobron.
- Roma Harga Mati bagi Francesco Totti
DI hadapan ribuan fans yang memenuhi Stadion Olimpico pada 28 Mei 2017, Francesco Totti tenggelam dalam isak tangis. Legenda hidup AS Roma berjuluk “ L’Ottavo Re di Roma” (Raja Roma Kedelapan) itu bersiap menjalani laga Serie A musim 2016/2017 kontra Genoa. Laga ituamat menentukankarena Giallorossi (julukan Roma) butuh tiga angka terakhir demi bisa lolos ke Liga Champions musim 2017/2018. Totti diberi kesempatan bermain lebih lama oleh allenatore (pelatih) Luciano Spalletti di 36 menit terakhir menggantikan Mohamed Salah. Namun bukan kesempatan main atau pentingnya laga buat Roma itu yang membuat Totti menangis haru. Laga ke-786 Totti itu merupakan laga terakhirnya berseragam AS Roma yang sudah dibelanya selama 28 tahun. Olimpico yang penuh sesak oleh Romanisti (fans AS Roma) pun bergemuruh usai wasit meniup peluit panjang. Roma menang 3-2. Totti laluikut rekan-rekannya kembali ke lorong stadion. Momen yang terekam dalam sebuah footage itu disisipkansutradara Luca Ribuoli di pengujung filmnya, Speravo de Morì Prima ,biopik drama miniseri yang dirilis dan ditayangkan Sky Atlantic pada 19 Maret-2 April 2021. Momen itulah momen perpisahan Totti dengan Roma. Kolase momen terakhir Francesco Totti berseragam AS Roma ( asroma.com ) Bocah 150 Juta Lira Jalan-jalan sempit di lingkungan padat masyarakat pekerja Via Vetulonia di selatan situs kuno Colosseum di Roma jadi saksi bisu kelahiran seorang “Raja Roma ke-8” pada 27 September 1976. Tottimerupakan anak kedua pasangan suami-istri Lorenzo dan Fiorella Totti. Lorenzo merupakanjuru tulis sebuah bank dan Fiorella ibu rumah tangga. Keduaorangtua Totti itu fanssejati Roma, mengikuti kakek Totti Gianluca Totti. Sejak Totti berusia 11 bulan, Lorenzo sudah mengenalkannya pada si kulit bundar saat sedang bersantai di sebuah pantai di Torvaianica. Ketika berusia empat tahun, Totti didorong ayahnya untuk bermain bola dengan anak-anak yang dua kali usianya saat kembali liburan ke pantai di Torvaianica. Saat sudah bersekolah, Totti menyelingi waktu luangnya dengan memainkan bola sendiridi sekitar rumahnya di Porta Metronia. “Bakat? Tembok, berawal dari tembok sejak masa kanak-kanak di dekat rumah dan di halaman sekolah, di mana saya belajar kontrol bola. Kontrol bola adalah kunci dari permainan sepakbola,” kenang Totti dalam otobiografinya, Un Capitano . Francesco Totti kala berusia 11 bulan bersama ayahnya, Lorenzo Totti (Instagram @francescototti) Ia mulai menseriusinya sepakbola di usia enam tahun dengan mengasah dasar-dasar di klub amatir Fortitudo Luditor. Setahun kemudian, Totti pertamakali dikenalkan pada AS Roma oleh Lorenzo dengan diajakke Olimpico untuk merasakan atmosfer sepakbola sebenarnya. “Kami jarang menonton pertandingan di televisi karena bahkan di Roma, pertandingan tak selalu disiarkan di era 1980-an. Tetapi ketika saya berumur tujuh tahun, ayah saya selalu membeli tiket. Saya bisa mengenang perasaan itu. Warna kebesaran, nyanyian, dan bom asap yang mengepul. Sungguh masa kecil yang menyenangkan bisa berada di stadion bersama para fans lain Roma,” imbuhnya. Dari ayahnya Totti bisa ke stadion setiap akhir pekan, sementara dari ibunya Totti diantar berlatih di Fortitudo, kemudian Smit Trastevere, dan Lodigiani setiap pulang sekolah. “Faktor penentu ada pada keluarganya. Enzo dan Fiorella selalu hadir walau tak menonjolkan diri. Mereka menularkan kerendahan hati dan keseriusan (Totti) dalam berlatih. Di usia 10 tahun Francesco bocah kecil yang cepat. Anda bisa tahu bahwa dia punya bakat alami. Tantangannya bukan pada mengasah skill -nya, melainkan membimbingnya ke arah yang tepat. Dia punya DNA sepakbola dalam dirinya. Kadang dia bermain ceroboh tapi tiba-tiba dia bisa mencetak gol,” kataEmidio Neroni, pelatih Totti di Lodigiani, kepada Four Four Two , 3 Mei 2017. Francesco Totti di tim Lodigiani pada 1988 (Wikipedia) Di Lodigiani, bakatnya mulai diendus banyak pemandu bakat. Selain AS Roma, para pemandu bakat dari SS Lazio, Juventus, dan AC Milan pun kepincut padanya. Lodigiani sendiri menjanjikan Totti akan dimasukkan ke Lazio. Akan tetapi Fiorella tidak rela. Ia mengontak Gildo Giannini,staf pelatih tim Primavera Roma sekaligus ayah striker RomaGiuseppe Giannini, agar bernegosiasi dengan Lodigiani supayaTotti tak dibawa ke Lazio, tapike AS Roma. “Ibunya yang minta Roma mengambil putranya. Saya tak perlu berpikir ulang karena kami sudah tahu tentang dia dan pada akhirnya, saya yang meyakinkan Lodigiani untuk menjualnya kepada kami,” kata Giannini. Berbeda dari Juventus dan Lazio yang lempar handuk, AC Milan lewat Manajer umumnya, Ariedo Braida, mendatangikediaman orangtua Totti di musim panas 1988. “Kami menyambutnya di ruang keluarga. Ibu dan ayah saya duduk di hadapannya. Riccardo di sebelahnya. Dan sayahanya duduk di sudut ruangan ibarat yang terjadi di situ tidak ada hubungannya dengan saya. Tentu saya sadar tidak punya hak bersuara di usia 12 tahun,” kenang Totti. Transformasi Francesco Totti di tim yunior AS Roma ( asromaultras.org/Instagram @francescototti) Di hadapan Enzo dan Fiorella, Braida bermonolog dengan tutur kata halus dan sopan. Totti masih ingat Braida berulangkali membetulkan dasinya untuk menenangkan diri saat memaparkan investasi dan rencana besar AC Milan di bawah Presiden Silvio Berlusconi yang bakal melakukan regenerasi dengan para pemain muda berbakat seperti Totti. Totti dijanjikan akan dibiayai sekolahnya dan tinggal di asrama pemain di Milanello. Enzo dan Fiorella juga akan selalu diberi cek jika ingin keMilan demi bisa melihat putranya. “Setelah pidato itu, Braida mengambil jersey Milan dengan ukuran saya dari tas yang dibawanya. Saya melihat ibu yang masih terdiam dan menunggu izin darinya untuk menerimanya. Tetapi pada akhirnya saya berinisiatif berdiri dari kursi dan mengambilnya sendiri,” lanjutnya. Sebelum pamit, Braida berpesanbahwa mereka tak perlu buru-buru mengambil keputusan. Milan bersedia menunggu satu atau dua tahun jika Totti masih ingin bermain di Lodigiani.Jika waktunya tiba, Braida berharap bisa mengambil nomor antrian pertama untuk mendapatkan tanda tangan Totti dengan tawaran kontrak fantastis. “Sebelum pergi ia menyebutkan angka yang membuat kami speechless : seratus lima puluh juta (lira). Itu nilai yang siap ia berikan kepada saya dan Lodigiani. Saat kami berpisah dan saya menjabat tangannya, dia meminta saya untuk melihat ke atas karena sedari tadi mata saya tertunduk ke lantai dan mengatakan: ‘Suatu hari tatapanmu akan mendominasi San Siro. Tegakkan kepalamu, nak!’” tambah Totti. Namun, tawaran kontrak senilai 150 juta lira itu tak menggoyahkan keluarga Totti. Kota abaditak pernah ditinggalkan Totti. AS Roma tetap jadi destinasi Totti melebarkan sayapnya.Diabergabung ke tim yunior Roma pada 1989 dan promosi ke tim senior tiga tahun berselang. “Saat Anda masih seorang bocah di Roma, hanya ada dua kemungkinan: entah Anda merah atau biru. AS Roma atau Lazio. Tetapi di keluarga kami hanya ada satu kemungkinan di dalam darah dan jiwa kami. Hanya ada Roma,” ujarTotti. Di Balik Lima Julukan Sedikitnya lima julukan diterima Totti dari publik maupun media sepanjang kariernya:“ Er Pupone” (Bayi Besar), “ Er Bimbo de Oro” (Anak Emas), “ Il Capitano” (Sang Kapten), “ Il Gladiatore” (Sang Gladiator), dan “ L’Ottavo Re di Roma” (Raja Roma Kedelapan). Lima julukan itu punya makna tersendiri seiring banyak aral melintang di dalam maupun di luar lapangan. Julukan “ Er Pupone” berawal dari bakat Totti sebagai playmaker di tim yunior Roma saat masih berusia 15 tahun. Bakat itu menggelitik Vito Scala,staf pelatih, untuk melakukan “pencurian umur” agar bisa memasukkan Totti ke tim U-17 Roma. Walau usianya dua tahun lebih muda dari rekan-rekannya, posturbesar Totti –yang disebabkan gemar makanmakanan berkalori dan bergula tinggi yang dipadu program diet dan latihan fisik– cukup meyakinkan.Hasil “pencurian umur” itu berbuah manis scudetto 1991.Dalam laga penentuan juara, Totti memborong gol untuk kemenangan 2-0 Roma atas AC Milan. “Dia mengindari setiap tekel keras, tak peduli seberapa sering tim lawan coba menghentikannya. Ingat, lawannya adalah tim yang pernah mencoba merekrutnya lebih dari sekali. Saya memainkannya baik sebagai gelandang sentral dan penyerang, dan dia menciptakan semua golnya untuk menang 2-0. Dia pemain terbaik yang pernah saya latih. Dia tak butuh latihan teknik – itu hanya jadi kesia-siaan belaka,” terang Ezio Sella, pelatih kepala Roma U-17 saat itu. Francesco Totti pada 1996 masih mengenakan nomor punggung 17 ( asroma.com ) Setahun berselang, pelatih Timnas Italia U-20Luciano Spinosi meniru cara Scala dengan memasukkan nama Totti ke skuadnya walau umurnya masih 16 tahun. “Tiada yang bisa meniru caranya menendang bola. Saya sering melihat pesepakbola muda tapi dia istimewa. Dia bisa membawa serta semangat segenap tim bersamanya. Saya sekadar membiarkanya bermain. Tak pernah saya melihat pemain 16 tahun seperti ini. Dia membuat pekerjaan saya jadi lebih mudah,” kata Spinosi. Setelah disarankan bek seniorSiniša Mihajlović, pelatih tim senior RomaVujadin Boškov mengambil Totti dari tim yunior. Totti pun mengecap debutnya pada 28 Maret 1993 kala menggantikan Ruggiero Rizzitelli dalam laga tandang kontra Brescia. “Sudah beberapa lama saya memerhatikan bocah itu dan bilang kepada Boškov untuk membawa dan membiarkan bocah itu bermain bersama kami. Saya katakan bahwa dia akan menambah kekuatan tim. Boškov membawanya ke Brescia dan 10 menit jelang akhir laga, saya tegaskan agar pelatih membiarkannya main hingga jadilah Totti melakukan debutnya,” ungkap Mihajlović di otobiografinya, The Game of Life . Francesco Totti (bawah, ketiga dari kiri) bersama tim AS Roma yang memenangkan Torneo Città di Roma 1997 ( asroma.com ) Sejak saat itu Totti tak pernah lagi kembali ke tim yunior.Setelah Carlo Mazzone menggantikan Boškov, Totti mulai sering jadi starter sebagai second striker . Perlahan, ia mendapat julukan “ Er Bimbo de Oro” karena Mazzone dan Presiden klubFranco Sensi blak-blakan menganakemaskannya. Mulanya internal tim tak pernah iri pada Totti. Tetapi semua berubah pada musim panas 1996 ketika Mazzone digantikan Carlos Bianchi. Pelatih asal Argentina itu merombak banyak hal hingga menimbulkan tensi di tubuh tim. Giannini, idola Totti yang nomor punggung 10-nya sejak lama diinginkannya, memilih hengkang. Totti pun nyaris mengikuti jejak Giannini.Kala itu Tottenham Hotspur berminat menampungnya dan Genoa mengajukan tawaran status pinjaman. “Bianchi tidak mampu mengatasi para pemain kelahiran asli Roma dan utamanya saya karena saya masih muda. Percayakah Anda bahwa dalam sesi latihan bermain dia pernah mengadu antara dua tim pemain asal Roma dan non-Roma? Isi kepala saya sudah ingin pergi ke Genoa tapi jika saya pergi, saya tahu takkan pernah bisa kembali,” ujar Totti. Publik Roma berhasil meyakinkan Totti bertahan. Publik juga mulai menjulukinya sebagai Il Gladiatore , sebagaimana para petarung kuno di Colosseum yang senantiasa setia pada Roma. Imbasnya, ketegangan antara Bianchi dan Totti meningkat.Presiden Sensi akhirnya turun tangan. Kala Bianchi “menantang” Sensi untuk memilih dirinya atau Totti, Sensi tak berpikir dua kali untuk memilih anak emasnya. Selain mendapatkan nomor punggung 10, Francesco Totti didapuk jadi kapten termuda Serie A pada 1998 ( asroma.com ) Di masa kepelatihan Zdeněk Zeman, yang menggantikan Bianchi, pada musim 1997/1998, Totti mendapatkan nomor punggung 10.Dia kemudian dipercaya menjadi kapten tim di usia 22 tahun. Saat itulah Totti mulai dijuluki“ Il Capitano” lantaran menjadi kapten termuda dalam sejarah Serie A. “Sebenarnya bukan saya seorang yang memilihnya menjadi kapten; tim yang memilih dia setelah pengambilan suara. Bek tengah kami asal Brasil, Aldair , mulanya punya suara terbanyak tapi dia menolak tanggung jawab itu. Pada momen itu, para pemain menyepakati Francesco sebagai pemimpin. Suaranya memang bukan yang paling lantang di ruang ganti tetapi dia pemimpin sempurna buat Roma di lapangan,” aku Zeman kepada La Gazzetta dello Sport edisi 19 Juli 1997. Julukan terakhir Totti,“ L’Ottavo Re di Roma” , disandangnyakarena dianggap sebagai penerus tujuh raja Romawi kuno: Romulus, Numa Pompilius, Tullus Hostilius, Ancus Marcius, Lucius Tarquinius Priscus, Servius Tullius, dan Lucius Tarquinius Superbus. Julukan itu menjadi klimaks dalam kariernya yang memukau dengan skill elegan. Totti memukau seantero Eropa pada Euro 2000 dan juga mengantar Roma meraih Scudetto pada 2000/2001 setelah 18 tahun puasa gelar liga. “ Skill Totti tidak terbatas. Ia mampu melakukan apa saja dengan bola: dari tendangan bebas yang keras maupun tendangan bebas tipuan. Musim 2001 jadi musim terbaik sang raja Roma setelah tampil luar biasa di Euro 2000 walau perangainya terkadang labil. Suatu kali bisa sedingin air tapi terkadang kepalanya gampang panas. Ia juga arogan tapi tak kenal takut menghadapi situasi apapun, termasuk saat timnya berada di bawah tekanan,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer. Sepakan penalti kondang Totti di Euro 2000 ( asroma.com ) Tetapi raja tetaplah manusia dengan segala kekurangannya. Menjelang usia 30 tahun, Totti mulai sering menampakkan temperamennya. Ia mulai acap mengejek fans Lazio dalam setiap Derby della Capitale. Emosinya yang gampang diprovokasi juga menyebabkannya disanksi kartu merah. Publik Italia pernah dibuatnya jengkel. Ulahnya meludahi bek Denmark Christian Poulsen di laga penyisihan Grup C membuat Italia gagal menang sehingga tak lolos ke babak berikutnya.Totti pun dijadikan kambing hitam kegagalan Italia lolos. Di musim 2004 pula Totti bertengkar dengan pelatihnya, Fabio Capello. Tottidianggap Capello makin arogan dan mulai malas-malasan latihan. Namun,Totti bertahan dan Capello akhirnya angkat kaki. Kendati ada “iming-iming” Real Madrid yang mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan itu dibantu media-media Italia dan Spanyol, Totti menolak tawaran raksasa Spanyol itu. “Terserah orang lain mau berpikir apa. Saya lahir sebagai orang Roma dan akan mati sebagai orang Roma. Saya takkan pernah meninggalkan tim atau kota saya. Saya takkan pernah memberikan orang lain kepuasan itu,” Totti menegaskan. Luciano Spalletti (kanan) yang jadi sahabat pada 2006 tapi jadi musuh kesumat 10 tahun kemudian ( asroma.com ) Luciano Spalletti yang datang menggantikan Capello tak ingin melakoni kesalahan yang sama. Dia mengembalikanTotti jadiporos permainan tim.Hasilnya, Roma menbuatrekor Serie A dengan memenangkan 11 laga berturut-turut. “Memberinya bola seperti mempercayakan uang ke bank. Francesco sangat penting di ruang ganti dan bagi segenap kota ini. Dia layak atas semua gelar yang diraihnya dan segala pujian terhadapnya. Totti adalah pemain terbaik di dunia,” k at a Spalletti meny anjung. Walau sudah memasuki usia 30 tahun dan mulai sering diterpa cedera, Totti nyaris tak pernah absen mencetak gol penting. Bahkan dari total 250 golnya buat Roma, hampir separuhnya ia torehkan saat sudah berkepala tiga. Setelah membantu Italia memenangkan Piala Dunia 2006, di Serie A musim 2006/2007 Totti masih sanggup mencetak 32 gol dan 15 assists . Gol indahnya lewat tendangan voli kaki kiri ke gawang Sampdoriadi Stadion Luigi Ferraris bahkan membuat30 ribu fans tuan rumah bangkit dari kursi untuk melakoni standing ovation . Euforia Francesco Totti (kanan) pada perayaan Scudetto musim 2000/2001 ( asroma.com ) Satu dekade berselang dari momen di kandang Sampdoria itu, puluhan ribu Romanisti yang berdesakan di setiap sudut Olimpico melakukan hal sama. Mereka melakukan standing ovation sambil menangis usai Totti memainkan pertandingan terakhirnya, 28 Mei 2017. Totti men umpahkan semua cintanya pada publik Roma hari itu. Totti sadar takkan mungkin bisa meraih Scudetto musim 2000/2001, Coppa Italia 2006/2007 dan 2007/2008, Supercoppa Italiana 2001 dan 2007, serta Piala Dunia 2006 tanpa dukungan fans. Pikiran itu hanya satu dari sekianmemori yang berseliweran di kepalanya saat duduk termenung di ujung lorong stadionsebelum kembali ke lapangan. Momen itu terekam kamera fotografer resmi klub, Fabio Rossi. “Saya memerhatikan ekspresinya dengan cermat lewat lensa kamera. Saya tak bisa berhenti menangis. Itu momen spontan: semua tensi yang telah menumpuk seolah butuh dilepaskan, jadi saya menangis sesengukan. Dia menoleh pada saya dan bilang: ‘Hei, jangan sekarang Fabie, ini belum selesai. Sudah cukup (menangisnya)!’” kenang Fabiodi laman klub , 18 April 2018. Kolase momen perpisahan Francesco Totti yang disambut haru seisi Stadio Olimpico ( asroma.com ) Rossi kemudian mengikuti beberapa langkah di belakang Totti yang keluar lagi ke lapangan dan disambut “rakyatnya” dengan nyanyian dan tangisan.Totti masih berusaha menahan emosi saat merentangkan tangan menyambut salam yang dibuat rekan-rekan setimnya. Emosinya baru lepas seiring membacakan beberapa lembar pidato perpisahan dengan ditemani istrinya, Ilary Blasi, dan ketiga anaknya, Christian, Chanel, dan Isabel. “Saya melepas seragam untuk terakhir kali dan melipatnya dengan baik; meski saya belum siap dan mungkin takkan pernah siap. Maaf jika saya jarang bicara beberapa bulan terakhir ini karena mematikan lampu takkan pernah mudah. Saya datang sebagai bocah dan saya pergi sebagai orang dewasa. Saya bangga dan bahagia memberikan 28 tahun penuh cinta. Saya mencintai Anda,” kataTotti dalam pidato perpisahannya itu.
- Kebijakan yang Mengabaikan Lingkungan
Kerusakan lingkungan berkorelasi erat dengan praktik berdemokrasi. Terlihat dari beberapa kebijakan yang kendati sudah dilawan banyak pihak tetapi tetap dilaksanakan. “Kebijakan yang ada sekarang lebih fokus pada pembangunan infrastruktur dan mengabaikan isu HAM serta kerusakan lingkungan. Jadi, ada korelasi yang clear di sana,” kata Wijayanto, Direktur Pusat Studi Media dan Demokrasi LP3ES, dalam Forum 100 Ilmuwan Sosial Politik dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sabtu (5/06/2021). Hal itu muncul dalam wawancara Presiden Joko Widodo dengan BBC pada 2020. “Periode pertama saya fokus ke infrastruktur, periode kedua saya ingin fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Mungkin setelah itu nanti lingkungan, inovasi, kemudian HAM. Kenapa tidak, tapi tidak bisa semua dikerjakan. Bukan tidak mau, tetapi saya senang kerja fokus,”kata Jokowi. Menurut Wijayanto, jawaban itu mengingatkannya pada bagaimana struktur politik Orde Baru terbentuk, di mana fokusnya pada pembangunan. “Semakin Orde Baru kuat, semakin abai dengan kebebasan sipil, HAM, lingkungan, dan seterusnya,” ujarnya. Fenomena Sejak Orde Baru Yety Rochwulaningsih, sejarawan Universitas Diponegoro dalam “Dinamika Gerakan Lingkungan dan Global Environmental Governance”, Jurnal Sejarah Citra Lekha ,Vol. 2, No. 2, 2017,menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan, terutama yang terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, disebabkan oleh ekspansi kapitalisme yang terwujud melalui proses penjajahan pada masa lalu. Eksploitasi sumber daya alam, sumber daya manusia melalui perbudakan, dan sumber sosial budaya di tanah jajahan dikerjakan demi keuntungan ekonomi sebesar-besarnya. Misalnya yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda sejak 1830 dengan program Cultuurstelsel atau Tanam Paksa. “Banyak kajian mengenai sejarah Tanam Paksa, namun suatu kajian mengenai dampak sistem eksploitasi ini terhadap perusakan lingkungan masih belum memadai,” catat Yety. Setelah merdeka terutama sejak Orde Baru, Indonesia masih cenderung melanjutkan sistem ekonomi kapitalis. Perubahan ekologi secara drastis yang terjadi pada masa itu merupakan dampak dari modernisasi dan industrialisasi. Yety menjelaskan, melalui berbagai produk hukum, pemerintah lebih berpihak pada pemilik modal, seperti tercermin dalam UU No.5/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan dan UU No. 11/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. “Dengan berbagai kebijakan itu posisi masyarakat lokal semakin lemah dan semakin tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan pemerintah dan pemodal asing maupun dalam negeri,” jelas Yety. Menurut Yety, kerusakan ekologi pun semakin parah. Program pembangunan masa Orde Barulebih merupakan wujud dari hubungan produksi kapitalisme. Di sini negara diposisikan sebagai pasar dan pemasok tenaga kerja murah dan bahan baku. Ditambah dengan privatisasi dan komersialisasi sumber kehidupan, seperti air dan hutan, yang ikut mengancam kelestarian lingkungan. Alam dieksploitasi seoptimal mungkin demi menaikkan laba. Perhitungan untung rugi secara ekonomi kerap mengabaikan dampak kerusakan di lingkungan. “ Padahal sumber daya lingkungan itu bukan merupakan warisan nenek moyang, tetapi merupakan pinjaman dari generasi mendatang, ” tegasnya. Yety pun memaknai, terjadinya berbagai peristiwa bencana alam di Indonesia, dari sudut pandang politik ekologi, sangat berkait erat dengan kebijakan politik nasional sebelum bencana itu terjadi. Ini berikatan pula dengan kekuatan ekonomi global. Masalahnya, pandangan para pembuat kebijakan terus menerus menekankan pada capaian target pertumbuhan ekonomi untuk masa sekarang. Sementara kebutuhan generasi mendatang tak masuk hitungan. “ Bencana alam yang terjadi antara lain disebabkan oleh ketidaksetimbangan bahkan kerusakan ekosistem dan itu merupakan akibat dari pelaksanaan pembangunan yang berideologi pertumbuhan ekonomi, ” catatnya. Tak Merasa di Tengah Krisis Gerry van Klinken, peneliti senior di KITLV, antropolog dan profesor sejarah Asia Tenggara di Universitas Amsterdam, yang juga penulis Manifesto: Menuju Peradaban Ekologis untuk Indonesia menjelaskan bahwa isu perubahan iklim dunia sebenarnya bukan baru saja disadari. Adalah John Tyndall, ilmuwan Inggris, yang pertama kali menyuarakan gejala efek rumah kaca dalam kuliahnya pada 10 Juni 1859. “ Jadi sudah 160 tahun ya, ” kata V an Klinken yang menjadi pembicara utama dalam diskusi itu. Namun , sejak 1859, soal gejala rumah kaca, perubahan iklim atau pemanasan global telah lama tak dibahas. Baru pada 1970-an pembahasan tentangnya muncul kembali dan makin meningkat pada 1980-an. Kendati begitu hingga kini tingkat emisi CO2 manusia ke dalam atmosfer belum juga menurun. Bahkan tetap memecahkan rekor baru setiap tahunnya. Mengapa kondisi saat ini tidak terasa seperti di tengah krisis? Menurut Van Klinken, bisa jadi karena masyarakat kini kurang imajinasi, atau bisa juga karena lembaga-lembaga universitas terlalu didominasi oleh para pemodal besar. Bisa jugakarena orang-orang di Indonesia merasa sebagai masyarakat negara berkembang, sehingga jika terjadi masalah di dunia yang dianggap akan menyelesaikannya adalah negara adikuasa. “ Indonesia hanya merasa sebagai korban, ” kata Van Klinken. “ Sepanjang sejarah I ndonesia memang tak banyak menyumbang CO2. Yang banyak adalah Inggris, Eropa .” Kenyataannya, lanjutVan Klinken, Indonesia masuk ke dalam empat besar dunia penyumbang pemanasan global. Penyebabnya alih fungsi lahan dan kebakaran hutan di Kalimantan. “Pada saat yang sama bersaing dengan Australia mengekspor batubara. Jadinya juga pelaku,” katanya. Sama dengan pemerintah Australia, pemerintah Indonesia memiliki hubungan bisnis yang intim dengan industri batubara. “Indonesia pada 2015 memberi subsidi yang besar pada pertambangan batubara. Subsidi batubara begitu besar, tapi aksi mengurangi emisi gas CO2 begitu tak memadai,” jelas Van Klinken. Menurutnya, menciptakan peradaban ekologis adalah hal yang harus dilakukan kini. Peradaban ekologis menuntut kolaborasi sosial dan dunia ekonomi. “Bukannya persaingan yang menjadi ciri dasar kapitalisme. Persaingan yang sangat boros karena harus menghasilkan barang sebanyak mungkin untuk mematikan lawannya menonjol,” kata Van Klinken. V an Klinken pun menambahkan, jika peradaban ekologis yang semacam itu masih terlalu jauh untuk dicapai, setidaknya orang-orang kini bisa menjadikannya sebagai teladan untuk bertindak. “ Bagaimana menciptakan demokrasi, di mana alam bermain peran di dalamnya, Bukan hanya adil kepada manusia, tetapi juga kepada alam, ” ujarnya.
- Senjakala "Raja Roma" dalam One Captain
LEGENDA hidup AS Roma Francesco Totti (diperankan Pietro Castellitto) terintimidasi oleh lampu-lampu mesin pemindai MRI (Magnetic Resonance Imaging). Di suatu hari pada Desember 2015 itu, Totti divonis dokter harus absen beberapa waktu gegara cedera betis. Pelatih fisiknya, Vito Scala (Massimo De Santis), mencoba menenangkannya. Sementara, Ilary Blasi (Greta Scarano), istri Totti yang sedang hamil anak ketiga, dan ibunya, Fiorella Totti (Monica Guerritori), begitu panik di rumahnya. Mereka tak sabaran menunggu update tentang kondisi Totti. Dalam lamunannya memikirkan cedera yang dialaminya untuk kesekian kali di pengujung kariernya hingga memunculkan pikiran untuk pensiun, Totti teringat akan masa kala pertamakali bersentuhan dengan si kulit bundar di usia 11 bulan. Dia juga ingat masa ketika mendapatkan anugerah berupa bakat sepakbola setelah kepalanya diberkati Paus Yohanes Paulus II di usia 10 tahun. Kilas balik dengan cuplikan footage lawas asli Totti di masa dini itu menghiasi episode pertama biopik berseri One Captain ( Speravo de Morì Prima ) yang diracik sineas Luca Ribuoli. Ribuoli menggarapnya bertolak dari otobiografi Totti, Un Capitano, dengan bumbu-bumbu drama dalam enam episode yang berfokus pada dua tahun terakhir pengabdian Totti sebagai one-club man di klub ibukota berjuluk Il Lupi (Serigala Roma) tersebut. Situasinya tambah pelik bagi Totti setelah Luciano Spalletti (Gianmarco Tognazzi) kembali melatih AS Roma pada 2016. Kendati saat periode pertama kepelatihannya (2006) ia bersahabat baik dengan Totti, satu dekade berselang keadaannya sama sekali berbeda. Perlahan justru muncul gejala api dalam sekam. Spalletti mulai menyingkirkan Totti dari sejumlah rencana permainannya. Spalletti (kedua dari kanan) yang bertengkar hebat dengan Totti (Sky Italia) Perseteruan Totti dan Spalletti mulai memanas di episode kedua. Totti menantang Spalletti untuk melihat para tifosi dan publik Roma akan berpihak ke dirinya atau Spalleti. Totti yang sedang naik temperamennya tetiba memutar kembali ingatannya ke musim 2000-2001, kala Totti sedang di masa jayanya sebagai kapten yang mengantarkan AS Roma merebut Scudetto (juara Serie A) ketiga sepanjang sejarah klub. Sejak saat itu pula Totti menuai banyak julukan dari publik: Er Bimbo de Oro (Bocah Emas), Er Pupone (Bayi Besar), Il Gladiatore (Sang Gladiator), Il Capitano (Sang Kapten), hingga L’Ottavo Re di Roma (Raja Roma Ke-8). Setelah bertengkar dengan Spalletti di markas latihan tim, Trigoria, Totti ngambek. Dia enggan hadir di pertandingan pada Februari 2016 dengan alasan sedang terkena flu. Namun Ilary Blasi menyadarkannya agar bersikap dewasa dengan tetap datang ke Stadio Olimpico walau sekadar duduk di tribun VIP. Totti kemudian meluapkan rasa haru lantaran fans di sekelilingnya menggemakan nyanyian “C’è un Solo Capitano…C’è Un Solo Capitano!” yang berarti “hanya ada satu kapten!” Totti perlahan juga sadar bahwa ia tak bisa melawan waktu, baik karena usianya yang menjelang kepala empat maupun kondisinya yang sering cedera. Di episode ketiga itu Vito Scala dan rekan setimnya, Daniele De Rossi (Marco Rossetti), punya peran besar pada Totti dengan memberi suntikan moril agar Totti mau berlatih lebih keras dan disiplin terhadap dietnya –tanpa kalori, gula berlebih, serta alkohol–demi menjaga kebugaran. Adegan Ilary Blasi (kanan) menyemangati suaminya di masa pelik (Sky Italia) Bak tokoh petinju fiktif Rocky Balboa di film Rocky III (1982), Totti pun mulai sering bangun lebih pagi. Saat fajar menjelang ia sudah lari pagi menyusuri jalan-jalan di Roma. Meniru adegan Rocky, Totti mengakhiri lari paginya dengan mengangkat kedua tangannya di Altare della Patria di halaman Monumento Nazionale a Vittorio Emanuele II. Itu hanya satu dari sekian bumbu komedi ringan di film ini. Sisipan komedi lain terdapat dalam adegan saat Totti harus disembunyikan di bagasi mobil Vito Scala demi menghindari publik untuk bisa ke sebuah restoran. Adegan-adegan lucu itu menambah warna biopik berseri itu sehingga tak melulu bersuasana haru dan emosional. Pasalnya penonton akan dibawa emosional saat adegan manajemen Roma memaksa Totti meneken kontrak setahun terakhir. Totti pun diterpa dilema, apakah akan gantung sepatu di AS Roma atau akan pergi ke klub di luar Italia demi bisa terus bermain. Untuk mengungkap lebih detail bagaimana Totti menghadapi dilema-dilema itu, Anda bisa menonton sendiri kelanjutan One Captain di aplikasi daring Mola TV . Pastikan untuk menyaksikannya sampai episode keenam karena selain juga menghadirkan kejutan mantan pemain Andrea Pirlo dan Alessandro Del Piero, sosok Totti asli juga akan muncul sebagai cameo di salah satu dari enam episodenya. Mendalami Emosi Totti Bahasa Italia yang jadi bahasa utama dalam One Captain ( Spravo de Morì Prima ) ditemani rangkaian music scoring komikal dan lagu-lagu pop khas Italia. Atmosfernya kian berwarna lantaran di beberapa adegan disisipi lagu-lagu country khas Amerika Serikat, negeri asal Presiden AS Roma Dan Friedkin. Lagu-lagu country itu begitu pas dengan beberapa humor ringan yang dibuat sangat khas Amerika. Selain peniruan adegan dalam Rocky III , sutradara Ribuoli menambah feel “Paman Sam” itu dengan adegan Totti menatap tajam Spalletti di halaman Trigoria, bak koboi akan berduel. Mobil mainan DeLorean khas film Back to the Future yang jadi kado ultah Spalletti untuk Totti (Sky Italia) Untuk menciptakan atmosfer yang membuat penonton bergidik, Ribuoli juga memanfaatkan sejumlah footage pertandingan dan memadukannya dengan gambar di Stadio Olimpico. Cuplikan-cuplikan berisi Totti di akhir kariernya itu banyak memuat kepahlawanan Totti meski lebih sering dimainkan di menit-menit akhir laga. Feel makin campur aduk dengan sejumlah adegan di luar lapangan terkait dilema pelik yang dihadapi Totti akibat rentan cedera dan usia yang sudah tak lagi muda. Premis-premisnya di setiap episode yang disisipi cuplikan masa lalu dengan alur maju-mundur juga menghanyutkan perasaan penonton karena Ribuoli menggali sisi lain dalam batin Totti yang begitu emosional kendati terbungkus senyum Totti di hadapan publik. “Saya sendiri banyak menghabiskan waktu dengannya untuk bisa lebih mengenal dia dengan cara yang lebih intim agar bisa menceritakan kisah dia lewat cara terbaik. Karena saya ingin menceritakan beberapa bagian dalam hidup Francesco Totti yang belum pernah terungkap. Penting untuk melihat film ini bukan sebagai film olahraga tapi film yang menceritakan sebuah akhir dari seseorang yang mencintai sepakbola tapi harus menerima kenyataan bahwa dia tak bisa terus melakukannya. Sebuah cerita yang bisa relate bagi siapapun,” tutur Ribuoli kepada Radio Gold , 18 Maret 2021. Sosok asli Francesco Totti (kiri) yang dalam serialnya diperankan Pietro Castellitto (Sky Italia) Namun, Ribuoli menggambarkan sosok Totti cenderung subyektif. Dari enam episode, Totti selalu ditampakkan sebagai anak manis penuh bakat sepakbola yang kemudian menjelma jadi bintang pujaan publik Roma dan Italia. Ribuoli seperti mengesampingkan sejumlah kontroversi Totti, kecuali perseteruannya yang kekanak-kanakan dengan Spalletti. Padahal di balik kharisma, jiwa pemimpin, dan teknik-teknik apiknya di lapangan, Totti juga punya pengalaman miring akibat sifat temperamentalnya dan kebiasaan buruknya mengejek pihak lawan. Pada Derby della Capitale (derbi ibukota) kontra SS Lazio, 11 April 1999, misalnya. Usai laga yang berkesudahan 3-1 untuk AS Roma itu, Totti menyingkap jersey -nya untuk memamerkan kaus putih bertuliskan “Vi Ho Purgato Ancora” (Saya menghabisi kalian lagi) ke hadapan Laziale (fans Lazio). “Hinaan itu adalah jawaban Totti kepada fans Lazio yang sebelumnya memenuhi laman fans dengan foto Totti duduk di toilet. Bek-bek di Italia juga paham bahwa Totti kurang bisa menjaga temperamennya dan sering memprovokasinya. Dia paling jengkel jika dikawal dengan taktik man-marking dan sering menerima hukuman sanksi. (Bek Arsenal) Martin Keown mencoba menirunya pada partai Liga Champions di Highbury pada 2003 dan Totti masuk ke dalam perangkap itu dengan menyikut Keown yang berujung pengusiran oleh wasit,” ungkap John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer. Ulah Totti meludahi Christian Poulsen di Euro 2004 (Ekstrabladet) Sayangnya Totti tak segera insyaf dirinya sangat mudah masuk jebakan provokasi lawan. Akibatnya antara lain, di laga partai Grup C Euro 2004 yang dimainkan di Estádio D. Afonso Henriques, 14 Juni 2004, Totti sampai tiga kali meludahi gelandang Denmark Christian Poulsen akibat terprovokasi oleh pengawalan ketatnya. “Si pemilik nomor 10 di Roma dan Azzurra yang dipuja bak kaisar Romawi, bikin dosa yang melanggar kepatutan dan juga sepakbola. Totti meminta maaf pada bangsanya, bukan pada Poulsen. Tetapi terlambat. Gara-gara ulahnya, Italia gagal mengungguli Denmark. Media-media se-Eropa menyerangnya: ‘Totti, unta Italia yang suka meludah!’” tulis Arief Natakusumah dalam Drama Itu Bernama Sepakbola . Perilaku emosional Totti bahkan pernah mengakibatkannya mendapat kartu merah. Itu terjadi dalam laga Serie A Roma kontra Livorno pada Januari 2007. Totti diganjar wasit dengan kartu merah karena bertikai dan hampir memukul bek Livorno, Fabio Galante, untuk membalas sikutan yang dialami Totti. Tetapi bukan insiden itu yang membuatnya dicerca dan dijatuhi sanksi 10 ribu euro oleh operator Serie A, melainkan sikap kasarnya pada pelatih fisik Vito Scala. Saat masih “ misuh-misuh ” kala keluar lapangan, Totti dihampiri Scala yang mencoba menenangkan. Tapi Totti yang masih emosi justru mendorong Scala sampai terjengkang. “Selain ibunya, Scala adalah orang yang diakui Totti sangat dekat dengannya. Perbuatan itu (mendorong Scala sampai jatuh) sungguh gila!” kata Spalletti, dikutip Angryanto Rachdyatmaka dalam It’s Injury Time. Loyalitas Vito Scala Scala bukanlah sekadar pelatih fisik tapi juga sahabat bagi Totti. Sosok Scala sedikit digambarkan dalam serial One Captain sebagai figur yang paling setia menemani Totti sedari muda. “Di samping saya adalah Vito Scala. Dia yang mengasuh saya sejak saya masih kecil dan tak pernah pergi dari sisi saya,” kata Totti yang diperankan Pietro Castellitto di adegan-adegan awal One Captain. Tidak banyak yang bisa diketahui tentang masa lalu Scala. Kendati sosok Scala (Massimo De Santis) tak pernah absen dari enam episode, sineas Ribuoli seolah tak mau menyediakan tempat untuk menjelaskan latarbelakang figur kelahiran Roma, 30 Desember 1963 itu. Adegan Vito Scala (kiri) yang menemani latihan fisik Totti (Sky Italia) Nama Vito Scala mulai dikenal di klub sebagai staf pelatih fisik tim Primavera AS Roma sejak 1 Juli 1989. Di tahun yang sama, Totti mulai meniti kariernya di tim yunior AS Roma setelah pindah dari SSB (sekolah sepakbola) Lodigiani. Pada musim 1996/1997, Scala dipromosikan ke staf pelatih tim senior AS Roma, menyusul Totti yang naik ke tim senior Roma empat tahun sebelumnya. Persahabatan di antara keduanya perlahan tumbuh hingga kemudian Scala bersedia jadi pelatih fisik pribadi Totti. “Scalalah yang diakui paling berjasa membangun karier si kapten Roma itu. Peran itu dimulai sejak Totti masih berumur 13 tahun saat Scala menjadi (staf) pelatih tim yunior Roma. Dalam perjalanannya, atas permintaan sang bintang, tiga tahun terakhir Scala diikat kontrak sebagai pelatih (fisik) pribadi,” sambung Angryanto. Sosok asli Vito Scala yang mengasuh Totti sejak dini (Twitter @OfficialASRoma) Scala tidak hanya bertanggungjawab atas kebugaran Totti lewat sejumlah program latihan fisik serta disiplin dalam diet Totti, namun juga sudah menjadi manajer sang pemain. Scala paham sifat Totti yang temperamental hingga Scala berinisiatif jadi “filter” bagi Totti jika sudah membuat pernyataan di media-media. Tidak hanya berjasa di balik kesuksesan Totti membantu AS Roma meraih scudetto , Scala juga berperan besar menyuntik moril Totti dalam pemulihan fisiknya akibat cedera jelang Piala Dunia 2006. Hasilnya, Totti mampu ikut membawa Italia meraih trofi Piala Dunia kendati persepakbolaan Italia belum lama dinodai Skandal Calciopoli. Kendati jadi korban pelampiasan amarah Totti di laga tandang kontra Livorno pada Januari 2007, Scala tetap setia berada di sisi Totti. Scala sangat paham Totti sehingga memaafkannya. “Apakah Totti sudah meminta maaf? Buat apa? Persahabatan kami tak terancam. Kami saling mendukung. Dalam situasi sulit, itu saatnya saya mendampinginya. Kami sudah melewati banyak masa suka dan duka bersama-sama,” papar Scala. Saat Totti pensiun di musim panas 2017, Scala jadi salah satu sosok yang paling kehilangan. Jalinan persahabatannya dengan Totti masih lestari hingga kini. “Dia (Scala) salah satu bagian besar dalam segala yang pernah saya raih. Dia menjaga setiap aspek kebugaran tubuh saya dan banyak hal lain. Penting bagi pesepakbola punya seseorang seperti dia di sisi Anda. Pengamatannya lebih tajam dari siapapun. Dia berperan besar dalam kehidupan sepakbola saya. Dia sudah seperti saudara,” aku Totti kepada Forza Roma , 3 Juni 2016. Deskripsi Film: Judul: One Captain (Speravo de Morì Prima) | Sutradara: Luca Ribuoli | Produser: Ludovica Damiani, Lorenzo Gangarossa, Mario Gianani, Virginia Valsechhi | Pemain: Pietro Castellito, Greta Scarano, Massimo De Santis, Gianmarco Tognazzi, Giorgio Colangeli, Monica Guerritore, Marco Rossetti, Gabriel Montesi, Francesco Totti | Produksi: Sky Studios, Wildside, S.r.l, Capri Entertainment, Freemantle | Genre: Drama Biopik | Durasi: 40 menit/6 episode | Rilis: 19 Maret 2021 (Sky Atlantic), Mola TV
- Manipulasi Hari Lahir Pancasila
Hari kelahiran Pancasila telah ditetapkan pada 1 Juni 1945 melalui Keputusan Presiden No. 24 tahun 2016. Tanggal ini berangkat dari pidato Sukarno pada sidang Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 1 Juni 1945. Hari itu, Sukarno menjabarkan lima sila sebagai dasar negara yang kemudian disebut sebagai Pancasila. Meski demikian, narasi mengenai hari lahir Pancasila ternyata masih kerap diperdebatkan. Ada narasi yang menyebut bahwa sebelum Sukarno berpidato pada 1 Juni, Mohammad Yamin telah mengemukakan hal yang sama pada 29 Mei. Selain Yamin, Soepomo juga disebut telah menyampaikan dasar negara pada 31 Mei. Kedua tokoh ini sering disebut dalam buku pelajaran sekolah sebagai pengusul lima sila sebelum Sukarno. Buku yang Disusun Yamin Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila (PSPP) Syaiful Arif dalam Dialog Sejarah “Pancasila: Alat Kuasa atau Pemersatu Bangsa?” di saluran Youtube dan Facebook Historia, Jumat, 4 Juni 2021, menyebut bahwa narasi sejarah yang mengecilkan peran Sukarno sebagai penggagas Pancasila adalah hoaks sejarah. Hoaks ini, jelas Syaiful, bermula dari buku Naskah Persiapan UUD 1945 yang diterbitkan pada 1959. Buku ini disusun Yamin berdasarkan notulen sidang BPUPK yang dipinjamnya dari Abdul Gaffar Pringgodigdo (A.G. Pringgodigdo), wakil Kepala Tata Usaha BPUPK. Dalam menyusun buku itu, Yamin memasukan naskah pidatonya sepanjang 21 halaman. Di dalam pidato Yamin itu, tertulis pula usulan lima sila dasar negara yang mirip dengan Pancasila. Buku ini kemudian menjadi rujukan penulisan sejarah era Orde Baru, terutama pada buku Risalah Sidang BPUPKI-PPKI yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia pada 1992, 1995, dan 1998. “Kalau kita menggunakan konstruksi sejarah selama Orde Baru itu, pertama , Pak Karno atau Bung Karno ini tidak hanya kita sebut sebagai sebatas mengusulkan nama Pancasila, tetapi juga beliau ini kalau menggunakan kontruksi ini (adalah) seorang plagiator,” terang Syaiful. Padahal, naskah pidato 21 halaman itu sebenarnya bukanlah pidato Yamin yang disampaikan pada 29 Mei 1945. Naskah itu adalah rancangan Pembukaan UUD 1945 yang dibuat Yamin atas perintah Sukarno yang juga bersumber dari pidato 1 Juni. Sayangnya, naskah itu ditolak oleh Panitia Sembilan karena terlalu panjang. Fakta ini dikuatkan oleh buku Uraian Pancasila yang disusun oleh Panitia Lima. Panitia Lima beranggotakan Moh. Hatta, A.A. Maramis, Ahmad Subardjo, Sunario, dan A.G. Pringgodigdo. Dalam Uraian Pancasila , dengan jelas disebutkan bahwa Pancasila lahir dari pidato Sukarno 1 Juni 1945. Selain itu, Hatta juga memberi kesaksian dalam bukunya Memoir. “Nah kata Bung Hatta, ternyata draft Pembukaan Undang-Undang Dasar yang ditulis atas perintah Bung Karno sebagai Ketua Panitia Sembilan itu masih disimpan oleh Yamin sejak tahun ‘45 lalu kemudian diterbitkan tahun ‘59 sebagai pengganti notulensi pidato Pak Yamin yang asli,” jelas Syaiful. Pidato Yamin yang Asli Penggantian naskah pidato Yamin inilah yang memanipulasi kronologi sejarah lahirnya Pancasila. Sementara, notulen pidato asli Yamin pada 29 Mei 1945 sampai sekarang belum ditemukan setelah dipinjam Yamin dari A.G. Pringgodigdo. Padahal, notulen selain mengenai pidato Yamin kini telah ditemukan dan disimpan di Arsip Nasional RI. Meski notulensi asli A.G. Pringgodigdo hilang, ternyata masih ada satu lagi arsip notulensi yang mencatat sidang BPUPK. Notulensi itu adalah milik Abdul Karim Pringgodigdo (A.K. Pringgodigo) yang merupakan adik A.G. Pringgodigdo. “Pasca-Agresi Militer kedua ya, arsip A.K. Pringgodigdo itu dibawa tantara Belanda, disimpan di Museum Belanda. Tetapi sejak tahun ‘89 dikembalikan kepada pemerintah Indonesia, sekarang tersimpan di ANRI,” kata Syaiful. Dalam arsip A.K. Pringgodigdo itu, terdapat notulensi pidato Yamin pada 29 Mei. Notulensi pidato Yamin hanya sepanjang dua halaman dan isinya sangat berbeda dengan naskah 21 halaman yang ditukar oleh Yamin. Syaiful menyebut, setidaknya Yamin menyampaikan tiga ide dasar negara. Pertama, dasar negara adalah dasar bagi kemerdekaan yang berisi tentang konsep kedaulatan dari dalam (kedaulatan rakyat) dan kedaulatan dari luar (hubungan internasional). Yang kedua, dasar negara adalah dasar tujuan kemerdekaan yang isinya sama dengan poin pertama. Yang ketiga , Yamin menyampaikan dasar negara yang disebut dengan istilah “dasar-dasar yang tiga”. “’Dasar-dasar yang tiga’ ini adalah peri kerakyatan, permusyawaratan dan kebijaksanaan,” jelas Syaiful yang pada 2017-2018 menjadi Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila dan melakukan riset mengenai kasus ini. Sementara, Soepomo, yang juga disebut menawarkan gagasan dasar negara dalam pidatonya, ternyata tidak membahas dasar negara. Ia mengusulkan pengertian tentang negara atau teori kenegaraan. Ide Soepomo kemudian dikenal sebagai teori negara integralistik. “Lima sila ala Soepomo ya, ada persatuan lahir batin, ada permusyawaratan dan sebagainya, mirip-mirip dengan Pancasila. Itu sebatas comotan-comotan saja dari para penulis era Orde Baru itu untuk menunjukan bahwa, ya, ini Soepomo juga ngusulin ini kayak Sukarno,” kata Syaiful. 1 Juni atau 18 Agustus? Selain perdebatan mengenai siapa yang berpidato lebih dulu mengenai lima sila dasar negara, perdebatan juga muncul mengenai tanggal yang seharusnya ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Tanggal 18 Agustus 1945 seringkali disebut sebagai tanggal yang lebih tepat karena pada tanggal itu Pancasila disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Menurut Syaiful, perspektif ini justru keliru. Pancasila yang disahkan pada 18 Agustus, jelasnya, gagasannya masih sama dengan pidato Sukarno pada 1 Juni. “Setelah Sukarno berpidato tanggal 1 Juni, ini kesaksian dari Panitia Lima, maka BPUPK membentuk panitia kecil yang kemudian menjadi Panitia Sembilan. Tugas panitia kecil adalah merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara berdasarkan pidato 1 Juni Sukarno,” ujar Syaiful. Syaiful menegaskan bahwa kala itu Pancasila dalam pidato Sukarno telah diterima dan disepakati sebagai dasar negara. Pidato Sukarno juga menjadi bahan utama untuk proses perumusan kembali Pancasila yang sebenarnya hanya dibuat ulang redaksionalnya saja. Dalam perumusan kembali Pancasila, semua gagasan Sukarno tidak ada yang diubah. Satu-satunya yang diubah adalah konsep mengenai Ketuhanan. Dari konsep Ketuhanan yang pluralis dan inklusif menjadi konsep yang eksklusif dan lahirlah sila “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Namun, sila yang termuat dalam Piagam Jakarta itu akhirnya kembali ke konsep awal “Ketuhanan Yang Maha Esa.” “Sampai kemudian 18 Agustus, substansi gagasan Pancasila masih substansi gagasannya Sukarno. Tidak ada perubahan di dalam tema-tema dan substansi gagasannya,” jelasnya.
- Minum Spirtus Bersama Perwira Rusia
ORANG-orang Rusia dikenal sebagai peminum sejati. Salah satu minuman yang menjadi favorit mereka adalah vodka. Itu sejenis minuman keras khas Rusia yang dibuat dari hasil fermentasi kentang dan biji-bijian dengan kadar alkohol sebanyak 40 persen. Tentara Rusia yang ditempatkan pemerintah Uni Sovyet di Pangkalan Angkatan Laut Dermaga Ujung Surbabaya pada era Operasi Trikora (1961-1962) tak lepas dari kebiasaan tersebut. Laiknya orang-orang Rusia, mereka pun mengkonsumsi vodka dalam keseharian-nya. “Vodka yang mereka minum, khusus dikirim langsung dari negeri mereka setiap bulannya,” ungkap Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno yang pernah bergaul akrab dengan orang-orang Rusia itu. Namun ada kalanya, kiriman vodka terlambat datang ke Surabaya. Jika itu terjadi, para sukarelawan Uni Sovyet pun akan blingsatan. Mereka akan mencari apapun yang rasa dan sensasinya sama seperti vodka. Salah satu yang kerap dianggap cocok sebagai pengganti vodka adalah cairan spirtus. Cairan kimia itu memang tersedia cukup banyak di kapal-kapal perang sebagai pencuci komponen-komponen senjata. Tak aneh jika vodka terlambat datang, persedian spirtus di kapal-kapal perang cepat habis. Itu terjadi juga di kapal-kapal selam yang dirawat oleh para anggota Korps Hiu Kencana Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Menurut Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta, biasanya diam-diam para sukarelawan Rusia itu akan menuangkan persedian spirtus itu ke sebuah botol tipis. “Biasanya mereka akan meminum sebagian saat bekerja di kapal. Sisanya mereka sembunyikan di balik baju untuk dinikmati di asrama,” ungkap eks anggota Korps Hiu Kencana itu. Kalau cairan spirtus sudah banyak berkurang, para anggota Korps Hiu Kencana biasanya akan langsung melaporkan soal tersebut kepada komandan kapal selam. Selanjutnya komandan kapal selam akan meneruskan kepada komandan orang-orang Rusia itu. “Barulah setelah dilaporkan, pemborosan spirtus tak terjadi lagi,” ungkap Suharta. Perihal minum spirtus ini, Suharta pernah terpaksa melakukannya. Ceritanya, pada suatu hari dia diundang para perwira Rusia untuk makan malam di asrama mereka. Untuk penghormatan, Suharta pun mengiyakan ajakan tersebut dan mengajak seorang kawan untuk menyertainya. Sebelum acara makan malam berlangsung, mereka ngobrol-ngobrol di ruang tamu yang terletak di lantai dua asrama. Tetiba tanpa dinyana, seorang perwira Rusia menyodorkan segelas spirtus ke hadapan Suharta dan kawannya. “ Tavarish (artinya “teman”, panggilan akrab yang agak formil) Suharta coba tunjukan seberapa jantan perwira Indonesia. Kami ingin tahu, kalian berani minum ini atau tidak,” katanya. Menurut Suharta, tadinya dia tak ingin melayani ajakan itu. Namun ketika orang-orang Rusia itu terus menantang dengan menyinggung rasa kebangsaannya, darah mudanya tak tahan juga. Tanpa banyak bicara, Suharta lantas mengambil salah satu gelas kecil yang sudah terisi penuh spirtus. Dengan tenang, ditenggaknya cairan kimia itu hingga tandas. “ Ya predlagayu tost zanasyu druzhbu!” seru Suharta. Artinya: Mari kita minum untuk persahabatan kita. Aksi Suharta diikuti oleh semua, termasuk kawan yang dia ajak. Apakah spirtus yang dia minum itu tidak ada efeknya? Tentu saja ada. Suharta merasakan hawa panas langsung membakar kerongkongannya, meluncur turun ke lambung. Sensasi terbakar itu menjalar dengan cepat melalui sumsum tulang belakang ke ruas tulang leher, lalu ke otak. Beberapa saat, Suharta merasakan tubuhnya seperti diperas. Butiran keringat keluar, seluruh tubuh memanas. “Namun saya menahan semua itu dan berupaya tetap tenang di depan mereka,” kenang Suharta. Semua mata para perwira Rusia mengarah kepada Suharta dan kawannya. Setelah ikut minum spirtus juga, mereka lantas bertepuk tangan dan mengajak para perwira itu bersalaman. “ Za mir wa wisyem mire! (demi perdamaian dunia)” teriak salah seorang dari mereka sambil mengangkat gelas berisi spirtus. Kondisi panas yang menghantam tubuh terus dirasakan oleh Suharta selama mereka bercengkrama. Mata serasa berkunang-kunang. Namun setelah dia makan roti campur sup panas penuh daging yang kaya lemak, rasa panas dan pusing itu langsung lenyap. Alih-alih menjadi lesu, justru dia merasakan tubuhnya menjadi lebih segar. “Ketika saya pulang ke asrama, saya langsung tertidur pulas,” kenang alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu.*
- Ketika Kapten Toni Mrlak "Ditumbalkan" dalam Perang Kemerdekaan Slovenia
Kapten Udara Toni Merlak, komandan Squadron Helikopter Gazelle AU Yugoslavia di Brnik, Ljubljana, Slovenia, segera menghentikan laju helikopter Gazelle SA 341 yang dipilotinya begitu mencapai Distrik Potrčeva. Helikopter AU Yugoslavia bernomor seri 664 itu pun melayang di atas flat-flat penduduk pada 27 Juni 1991 malam itu. Toni segera melambaikan tangannya begitu ibu mertuanya sudah terlihat keluar ke balkon dari flatnya di lantai delapan. Lambaian itu dibalas lambaian tangan oleh mertuanya. Menyapa anggota keluarga sesaat dari udara merupakan hal biasa yang dilakukan Toni ketika terbang di atas Potrčeva. “Toni selalu terbang agar kami bisa mendengarnya dan kami semua lari ke balkon,” kata Dragica Potočnjak, aktris sekaligus penulis yang merupakan ipar Toni, sebagaimana dikutip jurnalis Patricia Malicev dalam “Why did Toni Mrlak have to Die?” yang dimuat di www.old.delo.si . Malam itu, Toni mendapat tugas mengantar roti ke barak militer Vrhnika. Toni nekat menjalankan misi tersebut. Selain helinya tidak dipersenjatai, barak Vrhnika dikelilingi wilayah kantong-kantong pertahanan pasukan perjuangan kemerdekaan Slovenia. Padahal, 27 Juni itu merupakan hari pertama Perang 10 Hari atau Perang Kemerdekaan Slovenia. Perang 10 Hari merupakan buntut dari konflik politik panjang di Yugoslavia pasca-kematian Presiden Joseph Bros Tito pada 1980. Warga Negara bagian Slovenia, yang merasa bahasa serta kebudayaannya lebih dekat dengan orang Astro-Hungaria ketimbang Serbia, menuntut perluasan otonomi kepada pemerintah federal. Namun tuntutan itu justru terbentur dengan kepentingan pemerintah federal yang –dimayoritasi etnis Serbia–berupaya memperkuat Yugoslavia dengan meningkatkan sentralisasi. Stabilitas politik kian buruk setelah gagasan “Yugoslavia baru” dikeluarkan Pemimpin Komunis Serbia Slobodan Milosevic pada 1987. Milosevic ingin meningkatkan dan mengukuhkan dominasi Serbia dan Montenegro, yang kemudian diwujudkannya setelah terpilih menjadi presiden Republik SOsialis Serbia pada 1989. Beberapa kebijakan yang diambilnya kemudian meningkatkan ketegangan di antara negara bagian di Yugoslavia. Antara lain, memasukkan kembali para serdadu TO –merupakan pasukan teritorial yang berada di bawah pemerintahan negara bagian; pasukan ini dibentuk Tito untuk menghadapi invasi Uni Soviet selepas Yugo keluar dari Blok Timur – langsung ke bawah komando Tentara Nasional Rakyat Yugoslavia (JNA), mencopot perwira lapangan non-Serbia atau Montenegro, dan menggambil alih gudang-gudang senjata Slovenia, Kroasia, dan Bosnia-Herzegovina. Pemerintah Negara Bagian Slovenia akhirnya memilih merdeka dari Yugoslavia pada 23 Desember 1990. “Perlu ditekankan bahwa orang Slovenia mendukung gagasan negara Slovenia merdeka hanya ketika kehidupan di Yugoslavia menjadi tak tertahankan. Ini pertama dan terutama karena kondisi ekonomi yang buruk, tetapi juga karena, selain dari rencana tidak realistis perdana menteri terakhir Yugoslavia dan oposisi Serbia yang enerjik terhadap konsep federasi asimetris, tidak ada alternatif lain yang terlihat,” tulis buku yng dieditori Oto Luthar, The Land Between: A History of Slovenia . Tiga bulan kemudian, 8 Maret 1991, Parlemen Slovenia mengesahkan konstitusi yang membuat dinas militer di JNA tidak lagi wajib bagi warga negara Slovenia, memungkinkan warga Slovenia untuk melakukan dinas militer di Slovenia. Tindakan itu juga memungkinkan untuk layanan alternatif. Sehubungan dengan itu, Presiden Milan Kucan bersama Menhan Janes Jansa dan Panglima militer Mayjen Janez Slapar membentuk National Defense Maneuvering Structure (MSNZ) yang kelak menjadi Tentara Nasional Slovenia. “Tujuan serupa, tetapi secara eksklusif defensif ditandai dengan pembentukan markas pertahanan dan kelompok koordinasi, yang pada pertengahan 1991 secara efektif mengatur tindakan pertahanan teritorial dan pasukan polisi dalam semua keterlibatan mereka dengan JNA. Saat-saat paling tidak stabil (misalnya, penangkapan Kepala Markas Besar Pertahanan Teritorial Regional atau blokade pusat perekrutan pertahanan teritorial Slovenia) memuncak dengan pemutusan pasokan listrik dan air serta tawaran negosiasi yang tak terelakkan,” tulis sejarawan Nigel Thomas dan K. Mikulan dalam The Yugoslav Wars (1): Slovenia & Croatia 1991-95 . Sebelum kemerdekaan diproklamirkan, para personil TO Slovenia maupun JNA asal Slovenia mulai membuat gerakan bawah tanah untuk “menyeberang”. Selain memindahkan senjata dari gudang-gudang senjata di Slovenia, para personel militer asal Slovenia merancang pelarian dan penyelundupan bermacam senjata milik JNA ke Slovenia. Langkah berikutnya, para personil TO Slovenia, yang dipayungi Distrik Militer 5 di Zagreb (Kroasia), enggan mengabdi pada JNA. Toni merupakan salah satu personel yang sejak jauh hari memikirkan untuk “menyeberang” dari JNA ke militer Slovenia. Selama berhari-hari dalam rentang hampir setahun, dia intensif mendiskusikan rencana itu sekaligus rencana melarikan heli-heli Gazelle di bawah komandonya ke Slovenia. “Pada musim semi 1991, Jelko Kacin, asisten menteri pertahanan, dan Komandan Departemen Helikopter Militer Gazelle Toni Mrlak mulai mendiskusikan cara-cara yang mungkin untuk mendapatkan Gazelle ini ke Slovenia,” tulis Boris M. Gombac dalam “On the Other Hand”: Parent’s Committee for the Protection and Return of Slovene Soldiers at Slovene Independence 1991 . Kendati kemudian Toni ketahuan berkomplot sehingga dia selalu diawasi Dinas Keamanan AD dan posisinya digantikan Letkol Miko Stamenkovic, upayanya melarikan Gazelle terus dipikirkannya hingga ketika markas mereka dipindah dari Brnik ke Sentvid pada 24 Juni 1991. Toni menjalaninya di tengah tugas rutin sebagai pilot AU Yugoslavia. Toni akhirnya menemukan tempat aman di Slovenia yang berada dalam kendali TO untuk melarikan Gazelle, di sebuah padang rumput milik August Koprivnikar kawan ayah Toni. Di sana terdapat sebuah pohon ek amat besar yang dapat menyembunyikan heli. Dengan jaminan dari pamannya, El Rijavec, di padang itu pula akan didatangkan traktor yang akan digunakan untuk melarikan Gazelle ke tempat aman. Setelah titik didapat, komplotan menyusun rencana penerbangan dan orang-orang yang mengawakinya. Pada 24 Juni 1991 Toni memerintahkan teknisi radio Josip Wolf untuk menetapkan frekuensi rahasia (122,05 MHz) di tiga heli Gazelle (nomor seri 660, 664, dan 718) yang hanya diketahui oleh para personel yang akan melakukan penerbangan ke TO Slovenia. Penerbangan ditetapkan pada 27 Juni. Toni bersama teknisi Bojance Sibinovski di Gazelle nomor 664 dan sahabat Toni, Joze Kalan, bersama teknisi Bogomir Sustar di Gazelle 660. Pada 27 Juni, Toni ditugaskan menerbangkan Kepala Staf Umum Garnisun ke-14/Ljubljana Jenderal Marjan Vidmar melakukan pengintaian udara. Setelah berkeliling antara lain ke Goriska, Gorenjska, Jazersko, Ljubel, dan Primorska mereka mendarat sekira pukul enam sore. Toni kemudian mengatakan pada komandannya, Stamenkovic, bahwa dia sudah memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan JNA sehingga mulai saat itu dia tak akan terbang lagi bersama AU Yugoslavia. Toni lalu ke kantin mengobrol dengan Letnan Ljuboir Sandevski, membahas rencana penghentian kerjasama mereka dengan AU Yugoslavia. Saat sedang mengobrol itulah Stamenkovic datang. Toni diperintahkan membeli roti ke toko roti Kodeljevo dan mengangkutnya ke barak Vrhnika. Toni menyambut tugas itu dengan antusias. Dia melihat kesempatan emas untuk melarikan Gazelle ke Slovenia. Pukul 19 kurang, Toni terbang ke Kodeljevo ditemani Sibinovski. Setelah memuat rotinya ke dalam heli, pukul 19.16 Toni menerbangkan Gazelle-nya dari Kodeljevo ke Vodmat, kemudian ke Potrčeva. Di atas Potrčeva, Toni menghentikan laju heli untuk memberi salam pada mertua dan saudara-saudaranya. Toni mendapat balasan lambaian tangan dari ibu mertuanya. Namun, pemberhentian sementara Toni malam itu tak didengar oleh Dragica Potocncak, akrtis sekaligus penulis yang merupakan adik ipar Toni, dan suaminya yang tinggal sekira tiga rumah dari flat mertua Toni. Padahal, tiga hari sebelumnya, suami Dragica, Igor Koršič, menasehati Toni bahwa sudah saatnya sang kapten meninggalkan JNA. “Kami berada di rumah bersama keluarga saat itu – dan anehnya, kami tidak mendengar Toni. Belakangan, saya bertanya-tanya. Dia tidak mendarat seperti biasanya. Kali ini tidak begitu. Dia tidak mendekati rumah kami,” kata Dragica, dikutip Patricia Malicev dalam “Why did Toni Mrlak have to Die?” yang dimuat di www.old.delo.si . Setelah menyapa mertuanya, Toni kembali melanjutkan penerbangannya. Dia menuju Bohoričeva, lalu berbelok ke arah stasiun keretaapi di persimpangan jalan Njegoseva, dan terbang lurus di atas rel melewati gedung tinggi Delo lalu menuju Rozna dolina melewati kolam renang Illyria. Di darat, para prajurit Brigade Khusus Moris pimpinan Anton Krkovic, unit khusus anti-pesawt Slovenia yang berada langsung di bawah komando Menhan Janez Jansa, telah bersiap di Menara TR3 dan di dataran tinggi antara dua blok di Prežihova. Mereka sejak beberapa hari telah mengetahui perintah yang ditandatangani Jenderal Slapar, yang berisi perintah tembak semua helikopter AU Yugoslavia di manapun berada. Perintah itu diperinci Krkovic dengan “Perintah Rahasia” beberapa jam sebelum Toni melakukan penerbangannya, yang berisi agar menembak jatuh Gazelle di atas Rose Valley. Di udara, Toni tidak mengetahui larangan terbang itu. Dia terus menerbangkan helinya menuju barak Vrhnika. Begitu heli Toni melintas menuju Rozna donila, tepatnya di antara kolam renang Illyria dan sebuah gereja ortodok, para prajurit Krkovic menembakkan misil jinjing Strela 2M mereka. Misil pertama, yang ditembakkan sekira dua menit sejak Toni terbang, gagal mengenai sasaran. Misil kedua berhasil menengai ekor Gazelle 664 pada pukul 19.19 waktu setempat. Gazelle itu jatuh di persimpangan Cesta-Rozna dolina-Cesta III, tak jauh dari kantor Konsulat Austria. Toni dan Sibinovski tewas tak lama kemudian. Kendati dipendam cukup lama dari sejarah Slovenia, nama Toni akhirnya dipulihkan secara berangsur. Pada 1994, sebuah monumen didirikan di tempat jatuhnya Gazelle 664. “Sangat sulit untuk melihat orang menepuk dada mereka ketika Anda tahu Anda seharusnya tidak melakukannya. Di sisi lain, penderitaan bagi orang yang mereka cintai, yang disebabkan oleh sikap keras kepala orang lain. Dan pada saat yang sama menyaksikan ‘runtuhnya’ negara, di mana mereka yang paling menepuk dada yang bertanggung jawab. Pejuang kemerdekaan Slovenia terbesar mengobarkan perang dari bunker. Mereka yang berada di darat menyelamatkan kulit Slovenia. Mereka bilang sejarah sedang dipalsukan dan dicuri… Itu benar! Terlalu banyak aksi pertempuran, yang mulai saya eksplorasi lebih detail, berbeda dengan apa yang tertulis tentangnya. Ini luar biasa!” kata Dragica. “Slovenia di tahun 2017, sayangnya, masih menyisakan diri sebagai negeri yang tak menghargai peran para pejuang kemerdekaan Slovenia, meski mereka berjasa dalam membangun fondasinya. Dalam pendiskreditan, struktur sayap kiri tidak memperhatikan cara yang digunakan, yang dapat diganjar hukuman penjara dan pentuntutan di pengadilan. Pahlawan Kemerdekaan Slovenia, Jenderal Krkovic, khusus dalam kasus Toni Mrlak, yang jelas merupakan korban dari upaya pendiskreditan, dengan bantuan media mainstream ingin menodai namanya dan sepenuhnya mengaburkan perannya dalam kemerdekaan,” demikian bunyi artikel berjudul “Scandal: The Slovenian Left is Working Hard to Rehabilitate YLA Pilot Mrlak” yang dimuat di , 23 Juni 2017
- Pertaruhan Sukarno untuk Papua
Dengan bergabungnya Papua, maka paripurnalah Republik Indonesia. Begitu kira-kira keyakinan Bung Karno terhadap kepulauan di ujung timur Nusantara itu. Sayangnya, harapan itu mesti diperjuangkan lantaran Belanda masih bercokol di Papua kendati Indonesia sudah merdeka. “Sejak Konferensi Meja Bundar ditandatangani akhir Desember 1949, Bung Karno merasa bahwa kemerdekaan RI itu belum utuh secara teritorial. Itulah yang diperjuangkannya sampai tahun 1963,” kata sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam kepada Historia . Perjuangan memasukan Papua itu telah dimulai sejak 1950, setahun setelah pengakuan kedaulatan. Belanda terus-terusan mangkir untuk membicarakan persoalan Papua. Alasan mempertahankan Papua dalam kuasa panji tri warna meliputi berbagai dalih. Mulai dari identitas Papua yang berbeda etnis dengan Indonesia hingga upaya dekolonisasi untuk menjadikan Papua sebagai negara sendiri. Tahun demi tahun masalah Papua berlalu tanpa penyelesaian. Selama satu dekade, tujuh kabinet silih berganti memerintah. Mulai dari Kabinet Natsir hingga Kabinet Juanda, persoalan Irian Barat selalu masuk agenda program kerja kabinet. Namun, semuanya berujung kandas. Sukarno sendiri tidak dapat berbuat banyak. Sistem pemerintahan parlementer saat itu menutup celah bagi kepala negara menentukan jalannya pemerintahan. Sukarno Bertindak Selama warsa 1950-an, menurut Bernard Dahm dalam Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, kedudukan Sukarno sebagai presiden tidak lebih dari simbol belaka. Segala tindakannya harus atas persetujuan perdana menteri yang bertanggung jawab terhadap parlemen. Keputusan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas angkatan perang pun harus ditandatangani oleh menteri pertahanan. Satu-satunya hak prerogatif politik yang dimiliki Sukarno adalah menunjuk seseorang atau beberapa orang untuk menjadi formatur kabinet. Menghadapi Belanda dalam kondisi demikian terbukti menyulitkan penyelesaian persoalan Papua yang saat itu masih disebut Irian Barat. Untuk menyatukan semua unsur dalam negeri, Sukarno kemudian menggagas sistem Demokrasi Terpimpin. Sukarno menyatakannya dalam Konsepsi Presiden pada 21 Februari 1957. Karena belum mendapat dukungan mutlak, untuk sementara Demokrasi Terpimpin belum dapat direalisasikan. Namun seiring waktu, keadaan politik dalam negeri semakin bergejolak menyusul kegagalan Konstituante merumuskan dasar negara yang baru. Pada 5 Juli 1959, Sukarno bertindak. Dia mengeluarkan Dekrit Presiden yang membawa negara kembali kepada UUD 1945. Momentum itu sekaligus menjadi kesempatan bagi Sukarno memberlakukan Demokrasi Tepimpin. Dengan begitu, Sukarno punya otoritas merestorasi politik dalam negeri menjadi terpusat di bawah kendalinya. “Dengan perlengkapan berupa slogan-slogan, Sukarno mendorong rakyatnya ke arah tugas nation building , membangun suatu bangsa yang bersatu,” kata John David Legge dalam Sukarno: Sebuah Biografi Politik . Presiden Sukarno kemudian membentuk kabinet baru bernama “Kabinet Kerja” yang tanpa lagi melibatkan persetujuan dari partai-partai politik. Kabinet ini memprioritaskan program kerjanya terhadap tiga hal mendesak: sandang pangan bagi rakyat, pemulihan keamanan, dan perjuangan Irian Barat. Sejak itu, politik luar negeri Indonesia dapat difokuskan sepenuhnya untuk membebaskan Irian Barat dengan Sukarno sebagai pemuka utamanya. Sukarno menggalang kekuatan dengan menyalakan kembali semangat revolusi seperti di masa kemerdekaan. Menurutnya seperti dinyatakan dalam pidato kenegaraan “Penemuan Kembali Revolusi Kita” pada 17 Agustus 1959, revolusi masih belum selesai dan baru akan pungkas setelah terwujud kekuasaan Indonesia seutuhnya dari Sabang sampai Merauke. “Kita akan memperbesar wilayah kekuasaan kita itu dengan memasukan kembali Irian Barat! Malahan kita akan mempersatukan kembali Bangsa Indonesia itu, dengan membebaskan Irian Barat. Dunia luar harus tahu, bahwa mengenai pembebasan Irian Barat itu kita tidak main-main dan tidak mengenal kompromis!” seru Sukarno. Berdiri di Atas Adikuasa Di bawah Sukarno, kebijakan Indonesia dalam masalah Irian Barat lebih konfrontatif untuk menekan Belanda. Hal ini dibuktikan ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatiknya terhadap Belanda pada 17 Agustus 1960. Saat itu, Sukarno berang karena Belanda mengirimkan kapal induk satu-satunya “ Karel Doorman ” ke Papua untuk pawai kekuatan. Untuk mengimbangi Belanda yang didukung para sekutunya, Sukarno menjalin pergaulan internasional seluas-luasnya. Dari sini Indonesia berhasil menggalang dukungan diplomatik dari negara-negara Asia-Afrika dan Blok Timur yang sehaluan menetang kolonialisme. Selain itu, Sukarno juga mencurahkan perhatiannya untuk memperkuat Angkatan Perang Indonesia. Dana ratusan juta dollar AS digelontorkan guna memborong senjata mutakhir dari Uni Soviet. Urusan belanja senjata ini dipercayakan Sukarno kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama , Nasution tercatat beberapa kali bolak-balik Jakarta-Moskow menyelesaikan kontrak pembelian senjata. Kecuali Indonesia dan Mesir, tidak semua negara diperkenankan membeli senjata berat dari Uni Soviet. Tidak ayal, jasa Uni Soviet dalam memodernisasi peralatan tempur Indonesia menjadikan Angkatan Perang RI sebagai kekuatan militer terkuat dibelahan bumi bagian selatan. Menurut Johannes Soedjati Djiwandono dalam Konfrontasi Revisited: Indonesia’s Foreign Policy Under Soekarno, Sukarno menempatkan Uni Soviet sebagai kekuatan penyeimbang menghadapi Belanda yang berlindung di belakang Amerika Serikat (AS) beserta sekutu Blok Barat. Sementara itu, pemerintah AS di bawah rezim John. F. Kennedy memantau penuh was-was. Para penasihat Kennedy untuk Urusan Keamanan Nasional (NSA) menyaksikan Sukarno seperti tidak terbendung lagi. Mereka menyarankan Kennedy untuk bertindak cepat dan sesegera mungkin. “Cepat atau lambat, orang Indonesia akan mendapatkan Irian Barat,” demikian disampaikan Walt Whitman Rostow, Deputi Asisten Khusus Kepresidenan untuk Urusan Luar Negeri, kepada Presiden Kennedy seperti termuat dalam arsip departemen luar negeri Amerika, Foreign Relations of the United States, 1961–1963 , Volume XXIII, Southeast Asia, Document 205. Memasuki tahun 1962, perjuangan Indonesia dalam sengketa Irian Barat menemui puncaknya. Sukarno bertekad untuk membebaskan wilayah itu dari Belanda dengan jalan apapun. Mau jalan damai lewat perundingan atau kekerasan yang berarti perang, Belanda tinggal pilih. “Tidak perduli Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan meskipun meminjam tangannya setan, aku tidak perduli. Ya, meskipun tangannya setan. I do not care. I do not mind , asal Irian Barat pada tahun ‘62 ini juga kembali kepada kita, kepada Indonesia,” kata Sukarno di Palembang, 10 April 1962. Seruan itu termaktub dalam pidato Sukarno berjudul “Seluruh Rakyat dari Sabang sampai Merauke Bertekad Membebaskan Irian Barat dalam Tahun ini juga”. Dan benar saja, tahun itu juga Irian Barat dikembalikan kepada Indonesia. Setelah mendapat desakan dari AS, Belanda bersedia mengakhiri kekuasaannya atas Irian Barat. Penyerahan Irian Barat kepada Indonesia disepakati dalam Perjanjian New York 15 Agustus 1962. Sukarno, pada perayaan hari kemerdekaan dua hari hari kemudian menyebutnya sebagai “Tahun Kemenangan” ( A Year of Triumph ) sebagaimana judul pidato kenegaraannya. Dengan demikian, terwujudlah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
- Arena Sejarah Piala Eropa
PIALA Eropa atau UEFA European Championship (Euro) 2020 (11 Juni-11 Juli 2021) akan berbeda dari 15 gelaran sebelumnya. Pesta sepakbola terpopuler kedua setelah Piala Dunia itu tak lagi dihelat hanya di satu atau dua negara tuan rumah, melainkan 11 kota di 11 negara Eropa. Inggris dengan Stadion Wembley-nya diberi kehormatan jadi host partai semifinal dan finalnya. Format baru itu digagas eks Presiden UEFA Michel Platini pada 2012 silam. Format ini mirip dengan edisi Piala Eropa perdana pada 1960 di Prancis. Partai kualifikasi hingga perempatfinalnya tak dimainkan di satu negara, melainkan di negeri masing-masing tim peserta dengan sistem home-away . Saat itu Prancis baru menjamu empat tamunya ketika sudah masuk babak semifinal dan kemudian final. Hanya saja, di edisi perdana itu Piala Eropa masih minim tim mentereng macam Inggris, Belanda, Italia, dan Jerman Barat. Tim-tim asal Eropa Timur yang merajai saat itu. Trofi Henri Delaunay bersama maskot Euro 2020 bernama "Skillzy" ( euro2020.affa.az ) Mimpi Henri Delaunay Piala Eropa berangkat dari ide Henri Delaunay yang diupayakannya sejak 1920-an. Deputi Presiden FIFA (1924-1928) cum sekretaris jenderal FFF atau induk sepakbola Prancis (1919-1955) itu menggagas kompetisi pan-Eropa bahkan sebelum UEFA sebagai otoritas sepakbola Eropa lahir. Gagasan Delaunay berangkat dari banyaknya kompetisi regional antarnegara Eropa pasca-Perang Dunia I. Namun, kompetisi-kompetisi itu lazimnya dikhususkan untuk negara-negara serumpun saja, semisal kompetisi Inggris Raya dan Skandinavia. Oleh karena itu Delaunay mencoba mendobrak sekat teritorial itu. Tetapi bukan hal mudah bagi Delaunay untuk mendapat dukungan. Pasalnya, di era 1920-an profesionalisasi sepakbola di level klub Eropa juga sedang digencarkan hingga melahirkan Mitropa Cup pada 1927 yang disebut-sebut sebagai pendahulu Liga Champions. “British Championship yang digelar perdana pada 1883 menjadi turnamen transnasional pertama dengan diikuti Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia. Praktik kejuaraan regional itu diikuti negara-negara Skandinavia selama 1924-1977. Satu langkah lebih jauh tentang didirikannya kerangka sepakbola pan-Eropa lalu dimulai dengan Mitropa Cup yang digagas Hugo Meisl asal Austria,” tulis Jürgen Mittag dan Benjamin Legrand dalam “Towards a Europeanization of Football? Historical Phases in the Evolution of the UEFA European Football Championship” yang termuat dalam Governance, Citizenship, and the New European Football Championships. Ketika Mitropa Cup diratifikasi FIFA pada kongres Juli 1927, Delaunay mengajukan proposal kompetisi antarnegara Eropa. Namun upayanya belum mendapat lampu hijau FIFA karena alasan teknis dan ekonomis. Selain karena FIFA masih sibuk dengan agenda Piala Dunia, letak geografis semua negara Eropa memerlukan teknis waktu perjalanan dan biaya yang tidak sedikit. Alhasil kompetisi antarnegara Eropa sekadar digelar dalam lingkup regional yang lebih kecil. Selain kejuaraan antarnegara Inggris Raya dan Skandinavia, pada 1927 Meisl memunculkan Švehla Cup yang diikuti negara-negara Eropa Tengah. Pada 1948, kompetisi ini berganti nama menjadi Dr. Gerö Cup. Henri Delaunay teknokrat sepakbola Prancis ( fff.fr ) Tak ingin menyerah, Delaunay mengajak Presiden FIGC (Induk Sepakbola Italia) Ottorino Barassi dan Sekjen RBFA (Induk Sepakbola Belgia) José Crahay merancang cetak-biru konfederasi sepakbola Eropa pada 13 Mei 1952. Setelah diajukan sebagai proposal ke FIFA, proposal mereka disetujui dalam sebuah konvensi luar biasa FIFA di Paris pada November 1953. Sebagai kelanjutannya, pada 15 Juni 1954 didirikanlah Union des Associations Européennes de Football (UEFA). UEFA lalu menyebar undangan permintaan agar federasi-federasi sepakbola di Eropa jadi anggotanya. Pada kongres pertama UEFA di Basel, 22 Juni 1954, total anggotanya berjumlah 30 federasi. Birokrat sepakbola Denmark, Ebbe Schwartz, terpilih jadi presiden pertamanya, sementara Delaunay dan dua pemrakarsa lain duduk sebagai sekjen. Sayangnya, Schwartz yang ingin mewujudkan gagasan Delaunay terhalang penolakan mayoritas anggotanya. Dari 30 negara anggota, hanya 10 yang –kebanyakan berasal dari Eropa Timur– berkenan mendukung gagasan menggelar kejuaraan Eropa. Ironisnya, sampai Delaunay wafat pada 9 November 1955 pun, mimpinya tak jua terwujud. “Setelah meninggalnya Delaunay pada 1955, putranya, Pierre yang menggantikannya untuk meneruskan cita-cita European Nations’ Cup. Proposalnya masih saja ditolak mayoritas anggota pada Kongres UEFA Juli 1956 dengan alasan kalender internasional sudah penuh dan beberapa negara Eropa masih berjuang untuk pulih pasca-Perang dunia II,” sambung Mittag dan Legrand. Pierre Delaunay (kiri) melanjutkan cita-cita ayahnya melahirkan Piala Eropa ( uefa.com ) Sebagaimana ayahnya, Pierre juga menolak lempar handuk. Ia lalu mengajukan proposal dengan format baru, di mana turnamen dimainkan sepanjang dua tahun, termasuk satu fase final di satu negara. Perjuangan Pierre berbuah manis kala ia menang suara di Kongres UEFA di Copenhagen, Denmark pada Juni 1957. “Hasil voting -nya menyatakan 14 anggota bersedia dan tujuh menolak, sementara lima lainnya abstain. Demi mencapai kuota 16 peserta, deadline pendaftarannya diperpanjang sampai empat bulan kemudian. Pada Kongres UEFA 1958 di Stockholm (Swedia), 17 dari 33 negara anggota menyatakan bersedia ikut European Nations’s Cup. Tim mapan sepakbola dunia seperti Inggris, Italia, dan Jerman Barat, serta Belgia, Belanda, dan Swiss, memutuskan melewatkan kesempatan untuk berpartisipasi,” imbuhnya. Lima dari enam negara yang menolak itu mengusung alasan diplomatis dan ekonomis. Selain karena ingin lebih banyak memenuhi kalender dengan partai persahabatan yang secara ekonomis menguntungkan bagi federasi, mereka ingin lebih dulu jadi pemantau kompetisi anyar itu. Mereka ragu kompetisi bakal populer, sebagaimana Piala Dunia pertama pada 1930. Sementara, Inggris punya alasan politis di samping alasan ekonomi. Sebagai pelopor sepakbola modern, Inggris punya dunia sepakbola sendiri dan sudah cukup bangga dengan British Home International Championship-nya sebagai kompetisi transnasional pertama dunia. Selain itu yang tak kalah penting, orang-orang Inggris merasa organisasi sepakbola macam FIFA dan UEFA terlalu didominasi orang Prancis. “Sepakbola Inggris Raya seperti mengisolasi diri sendiri. Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara menolak ikut inagurasi Europan Nations Cup. Empat induk sepakbolanya menghindari turnamen baru itu dan percaya diri bahwa turnamen Home International lebih penting. Memang European Nations Cup saat itu statusnya belum sekondang sekarang tapi fakta bahwa kami pernah menolak bermain melawan tim-tim kompetitif justru membuat kami melangkah mundur ketimbang maju sepakbolanya,” aku Gordon Banks, kiper timnas Inggris periode 1963-1972, dalam Banksy: The Autobiography of an English Football Hero. Dominasi Partisipan Kiri dan Trofi Kehormatan Sesuai proposal awal Pierre Delaunay, inagurasi European Nations’ Cup atau Euro didahului fase kualifikasi yang diikuti 18 partisipan dalam titimangsa 28 September 1958-29 Mei 1960. Sistem kualifikasinya dimainkan secara home-away di negara masing-masing peserta. Mengingat penolakan negara-negara Eropa Barat langganan Piala Dunia, peserta kualifikasi Euro 1960 itu pun didominasi negara-negara kiri (Komunis-Sosialis). Delapan dari total 18 peserta berasal dari Eropa Timur dan Eropa Tengah: Uni Soviet, Cekoslovakia, Hungaria, Rumania, Yugoslavia, Bulgaria, Jerman Timur, dan Polandia. Ketika turnamen sudah bergulir hingga babak perempatfinal, Spanyol memutuskan mundur karena bertemu Uni Soviet yang berseberangan haluan politik. Diktator fasis Spanyol, Francisco Franco, memerintahkan La Furia Roja (julukan Timnas Spanyol) mundur ketimbang harus main di tanah negeri komunis di partai away. Lucunya, kritik terhadap Spanyol justru jamak datang dari pers Inggris yang negaranya menolak ikutan turnamen. “Tindakan sewenang-wenang secara paksa terhadap para pemain Spanyol yang ingin bermain melawan Uni Soviet menunjukkan bahwa diktator fasis Spanyol melanggar prinsip Olimpiade internasional dan federasi internasional,” tulis suratkabar Inggris The Times edisi 26 Mei 1960. Partai semifinal Euro 1960 antara tuan rumah Prancis vs Yugoslavia ( uefa.com ) Mundurnya Spanyol menjadi berkah buat Lev Yashin dkk. Mereka siap menyongsong semifinal dengan kondisi lebih bugar. Di semifinal, selain Uni Soviet ada pula Cekoslovakia dan Yugoslavia di samping tuan rumah Prancis. Langkah Prancis harus terhenti di babak semifinal itu juga setelah kalah 4-5 dari Yugoslavia di Parc des Princes, 6 Juli 1960. Sementara Uni Soviet mencapai partai puncak untuk bertemu Yugoslavia setelah menumbangkan Cekoslovakia, 3-0, di Stade Vélodrome, Marseille. Di final, panji merah berhias bintang emas dan palu-arit berkibar di pucuk tertinggi setelah Uni Soviet menang 2-1 atas Yugoslavia melalui perpanjangan waktu. Selain mendapat hadiah uang 200 dolar per pemain, tim Uni Soviet berhak mengusung trofi The Henri Delaunay Cup. Trofi itu disediakan langsung oleh Pierre Delaunay. “Sejak aspirasi (Piala Eropa) terwujud pada 1958, hanya ada satu kemungkinan nama untuk dilekatkan pada trofinya. Seperti Piala Dunia yang trofinya dinamai Jules Rimet. Trofi itu sempat jadi hak milik Brasil setelah kemenangan ketiga pada 1970 dan hilang pada 1983. Bedanya Henri Delaunay Cup tetap lestari sampai sekarang,” tulis Huw Richards dalam “The Game-Changers: Henri Delaunay” yang termuat dalam buku The Cambridge Companion to Football . Timnas Uni Soviet jadi pemilik pertama Trofi Henri Delaunay ( fff.fr ) Trofi Henri Delaunay didesain dan diproduksi perusahaan emas Chobillion –kemudian lisensi dan hak ciptanya dibeli perusahaan perhiasan dan medali Arthus-Bertrand– dengan bentuk mirip guci dengan sepasang “telinga” di kedua sisinya. Berbahan dasar perak dengan dimensi tinggi 42 centimeter dan bobot enam kilogram, tiga sisi trofi itu dipahat tulisan berbunyi: Coupe Henri Delaunay, Coupe d’Europe, dan Championnat d’Europe. Sejak 1960-2004, trofi itu diperebutkan setiap empat tahun sekali sampai akhirnya dibuat trofi baru yang hampir sepenuhnya meniru trofi lama untuk Euro 2008 hingga sekarang. Desainnya tetap sama, perubahannya hanya pada dimensinya. Trofi baru lebih tinggi 18 centimeter dan lebih berat dua kilogram (60cm/8kg). Untuk Euro 2020, trofi itu sejak 30 April sudah dibawa keliling ke 11 kota di 11 negara Eropa yang dimulai di Budapest (Hungaria) dan akan berakhir di London (Inggris) pada 5 Juni 2021.
- Lagak Laskar Sumatra Timur
Pematang Siantar merupakan ibu kota kawasan Sumatra Timur di masa revolusi. Sejak dulu kala kota ini termasyur makmur dan banyak penduduknya. Untuk menguasai Sumatra Timur, Belanda menduduki Pematang Siantar dengan menempatkan pasukannya. Maka tidak heran, keamanan di sana cukup rawan. Bentrokan kerap terjadi antara tentara Belanda dengan kelompok laskar pro republik. Keadaan itulah yang disaksikan Muhamad Radjab, wartawan Kantor Berita Antara yang ditugaskan Kementerian Penerangan untuk meliput suasana perjuangan revolusi di Sumatra. Pada Juni 1947, Radjab menyambangi beberapa kota di Sumatra Timur. Menurut Radjab, di sana partai-partai politik dan barisan laskar rakyat sangat subur. Ada sekira 20 macam perkumpulan, antara lain: Napindo, Naga Terbang, Barisan Harimau Liar (BHL), Halilintar, Ular Sendok, Pesindo, Angkatan Pemberontak Indonesia (API), Parkindo, Barisan Merah, Sabililah, Mujahidin, Marsose, disamping polisi militer dan tentara. “Banyaknya laskar ini pada awalnya sangat menggirangkan, sebab akan kuatlah pertahanan militer kita di belakang hari,” tutur Radjab dalam Tjatatan di Sumatra . Pada 22 Juni 1947, Radjab mengunjungi Pematang Siantar yang tengah ramai oleh kaum pengungsi dari Medan. Radjab mencatat, mulai dari restoran, lepau-lepau kopi, dan hotel penuh sesak oleh pencatut, laskar, dan pegawai-pegawai negeri yang kerjanya mondar-mandir. Bersamaan dengan kunjungan Radjab, telah terbentuk kelompok laskar paling disegani “Marsose” dikepalai oleh Timur Pane, bandit yang memasang sendiri pangkat jenderal mayor di pundaknya. Di mana banyak orang berkumpul, di sana hiruklah kelompok laskar yang mengumbar bicara. Begitulah pemandangan yang dilihat Radjab tatkala menongkrongi lapau kopi di Pematang Siantar. Dalam setiap obrolan, mereka mengeluarkan tiap-tiap kalimat spektakuler demi terdengar gagah berani di telinga pendengar. Bualan itu ditegaskan dengan gerak badan, tangan dan kaki, kalau perlu berdiri sambil menghadrik-hardik membelalangkan mata. Cerita yang dipamerkan kebanyakan seputar pengalaman bertempur dengan Belanda di garis depan. Sekilas, Radjab yang baru datang dari Jawa lekas saja percaya. Sungguh dinamis dan bernyali orang-orang Sumatra Timur ini, begitu pikirnya. Radjab pun turut terbuai. Tanpa sadar dirinya ikutan gembira dan semangatnya meluap. Namun, Radjab di sisi lain menangkap kesan kecongkakan tersisip dalam cerita heroik mereka. “Apalagi kalau didengarkan ceritanya di medan pertempuran, kita yang belum pernah berjuang, mereka merasa diri kecil sekali,” kata Radjab, “yang bercerita itu tidak senang diam, selalu bergerak, kedua tangannya turun naik, matanya bersinar-sinar, dan kopi susu habis beberapa cangkir.” Dengan cekat, sesosok laskar yang mengoceh itu diamati Radjab mulai ujung kepala sampai ujung kaki. Rambutnya yang panjang terumbai-umbai sampai bahu. Kadang-kadang, janggutnya tidak dicukur. Pistol revolver ada dua melekat di saku pinggang. Mulutnya mendongak ke atas. Tidak luput dari pandangan, sepatu lars yang merentak-rentak ke ubin. Radjab si wartawan Antara dari Yogyakarta itu terkagum-kagum. Namun, seorang teman Radjab yang juga warga Siantar, datang sejurus kemudian. Dia membisikkan sesuatu kepada Radjab bahwa pelagak-pelagak yang unjuk taji itu sesungguhnya tidak pernah ke garis depan. Mereka hanya mondar-mandir di garis belakang. Sebaliknya, yang selalu bertempur di garis depan biasanya tidak banyak lagak. Radjab kaget mendengarnya. “Pistol itu?” tanya Radjab. “Ah, untuk mengancam tukang warung kopi, yang minta bayaran, bila pahlawan garis belakang itu sudah minum,” ujar sang kawan. Mengetahui fakta tersebut, Radjab hanya bisa tercengang dan terheran-heran. Laskar yang tampak memukau itu ternyata hanya jago tipu yang berlagak bak pahlawan. Empat hari berada di Pematang Siantar, Radjab dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke Brastagi di Tanah Karo. Tidak lupa, Radjab membawa oleh-oleh berupa kisah kesaksiannya tentang laskar Sumatra Timur untuk dituliskan kemudian dalam reportasenya.





















