top of page

Lagak Laskar Sumatra Timur

Banyak gaya dan bermulut besar. Begitulah tingkah kebanyakan anggota laskar di Sumatra Timur dalam pengamatan seorang wartawan zaman perang.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 Jun 2021
  • 2 menit membaca

Pematang Siantar merupakan ibu kota kawasan Sumatra Timur di masa revolusi. Sejak dulu kala kota ini termasyur makmur dan banyak penduduknya. Untuk menguasai Sumatra Timur, Belanda menduduki Pematang Siantar dengan menempatkan pasukannya. Maka tidak heran, keamanan di sana cukup rawan. Bentrokan kerap terjadi antara tentara Belanda dengan kelompok laskar pro republik.


Keadaan itulah yang disaksikan Muhamad Radjab, wartawan Kantor Berita Antara yang ditugaskan Kementerian Penerangan untuk meliput suasana perjuangan revolusi di Sumatra. Pada Juni 1947, Radjab menyambangi beberapa kota di Sumatra Timur. Menurut Radjab, di sana partai-partai politik dan barisan laskar rakyat sangat subur. Ada sekira 20 macam perkumpulan, antara lain: Napindo, Naga Terbang, Barisan Harimau Liar (BHL), Halilintar, Ular Sendok, Pesindo, Angkatan Pemberontak Indonesia (API), Parkindo, Barisan Merah, Sabililah, Mujahidin, Marsose, disamping polisi militer dan tentara.


“Banyaknya laskar ini pada awalnya sangat menggirangkan, sebab akan kuatlah pertahanan militer kita di belakang hari,” tutur Radjab dalam Tjatatan di Sumatra.


Pada 22 Juni 1947, Radjab mengunjungi Pematang Siantar yang tengah ramai oleh kaum pengungsi dari Medan. Radjab mencatat, mulai dari restoran, lepau-lepau kopi, dan hotel penuh sesak oleh pencatut, laskar, dan pegawai-pegawai negeri yang kerjanya mondar-mandir. Bersamaan dengan kunjungan Radjab, telah terbentuk kelompok laskar paling disegani “Marsose” dikepalai oleh Timur Pane, bandit yang memasang sendiri pangkat jenderal mayor di pundaknya.    


Di mana banyak orang berkumpul, di sana hiruklah kelompok laskar yang mengumbar bicara. Begitulah pemandangan yang dilihat Radjab tatkala menongkrongi lapau kopi di Pematang Siantar. Dalam setiap obrolan, mereka mengeluarkan tiap-tiap kalimat spektakuler demi terdengar gagah berani di telinga pendengar. Bualan itu ditegaskan dengan gerak badan, tangan dan kaki, kalau perlu berdiri sambil menghadrik-hardik membelalangkan mata. Cerita yang dipamerkan kebanyakan seputar pengalaman bertempur dengan Belanda di garis depan.

Sekilas, Radjab yang baru datang dari Jawa lekas saja percaya. Sungguh dinamis dan bernyali orang-orang Sumatra Timur ini, begitu pikirnya. Radjab pun turut terbuai. Tanpa sadar dirinya ikutan gembira dan semangatnya meluap. Namun, Radjab di sisi lain menangkap kesan kecongkakan tersisip dalam cerita heroik mereka.


“Apalagi kalau didengarkan ceritanya di medan pertempuran, kita yang belum pernah berjuang, mereka merasa diri kecil sekali,” kata Radjab, “yang bercerita itu tidak senang diam, selalu bergerak, kedua tangannya turun naik, matanya bersinar-sinar, dan kopi susu habis beberapa cangkir.”     


Dengan cekat, sesosok laskar yang mengoceh itu diamati Radjab mulai ujung kepala sampai ujung kaki. Rambutnya yang panjang terumbai-umbai sampai bahu. Kadang-kadang, janggutnya tidak dicukur. Pistol revolver ada dua melekat di saku pinggang. Mulutnya mendongak ke atas. Tidak luput dari pandangan, sepatu lars yang merentak-rentak ke ubin. Radjab si wartawan Antara dari Yogyakarta itu terkagum-kagum.


Namun, seorang teman Radjab yang juga warga Siantar, datang sejurus kemudian. Dia membisikkan sesuatu kepada Radjab bahwa pelagak-pelagak yang unjuk taji itu sesungguhnya tidak pernah ke garis depan. Mereka hanya mondar-mandir di garis belakang. Sebaliknya, yang selalu bertempur di garis depan biasanya tidak banyak lagak.

Radjab kaget mendengarnya. “Pistol itu?” tanya Radjab.


“Ah, untuk mengancam tukang warung kopi, yang minta bayaran, bila pahlawan garis belakang itu sudah minum,” ujar sang kawan.  


Mengetahui fakta tersebut, Radjab hanya bisa tercengang dan terheran-heran. Laskar yang tampak memukau itu ternyata hanya jago tipu yang berlagak bak pahlawan. Empat hari berada di Pematang Siantar, Radjab dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke Brastagi di Tanah Karo. Tidak lupa, Radjab membawa oleh-oleh berupa kisah kesaksiannya tentang laskar Sumatra Timur untuk dituliskan kemudian dalam reportasenya.  

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sudiro berjuang melalui pendidikan dan partai politik, membuatnya masuk daftar hitam. Pengikut Sukarno ini dipenjara hingga sempat tak bisa berbicara.
bg-gray.jpg
Jauh sebelum kedatangan Belanda, tradisi literasi masyarakat Betawi telah berkembang pesat. Bahkan, mereka sudah mengenal penyewaan naskah.
bg-gray.jpg
Sebagai lulusan sekolah guru, Sudiro menghabiskan masa mudanya dengan menjadi guru sekaligus aktivis pergerakan nasional.
bg-gray.jpg
Selain jago catur, Sudiro muda mengisi hari-harinya semasa sekolah dengan aktif dalam pergerakan Jong Java dan kepanduan.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
transparant.png
bottom of page