top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Raja Ali Haji, Sastrawan Besar Kesultanan Riau

    Pada 1824, melalui Traktat London, Belanda mengakhiri perselisihannya dengan Inggris atas kawasan Malaka. Inggris diberi kekuasaan di Singapura dan Malaysia, sedangkan Belanda mengukuhkan kuasanya atas Nusantara. Peraturan baru pun ditetapkan para kolonialis di wilayah jajahannya, yang otomatis membawa dampak bagi kerajaan-kerajaan di sana. Kesultanan Riau Lingga salah satunya. Kerajaan yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Johor-Riau dengan pusat pemerintahan di Tumasik (Singapura) tersebut mengalami perkembangan yang lambat di segala bidang kehidupan, termasuk budaya, setelah Belanda berkuasa di wilayahnya. Di tengah perkembangan yang tidak menentu tersebut muncul nama Raja Ali Haji. Dia adalah seorang pujangga Riau Lingga yang karya-karyanya begitu menggugah minat kebudayaan masyarakat. Meski di bawah tekanan penjajahan, Raja Ali Haji berhasil membawa angin perubahan di alam kesusastraan Melayu, utamanya Riau. “Dapat disebutkan bahwa Riau yang menjadi tempat Raja Ali Haji mengembangkan nalar dan intuisinya pada awal abad ke-19, sudah menjadi daerah pedalaman setelah tidak kurang dari 100 tahun memimpin kawasan Selat Malaka,” tulis Taufik Ikram Jamil “Antara Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto. Memperoleh Gelar Haji Raja Ali Haji dilahirkan di Selangor (sumber lain menyebut tempat kelahirannya di pulau Penyengat) pada 1809. Dia putra dari pasangan Raja Ahmad, seorang pembesar Kesultanan Johor-Riau, dengan putri Selangor bernama Hamidah. Raja Ali Haji dibesarkan di Pulau Penyengat, Riau, di tengah lingkungan keluarga Islam Melayu yang kuat. Sejak usia muda, dia sudah mempelajari agama Islam dengan baik. Menurut Hendrik M.J. Maier dalam  Raja Ali Haji dan Hang Tuah: Arloji dan Mufassar , ketertarikannya terhadap karya-karya Melayu dan kitab-kitab Arab juga tumbuh dia usia yang sangat belia. Pada 1822, ketika berusia 13 tahun, Raja Ali Haji pergi ke Batavia mendampingi ayahnya untuk membicarakan perkembangan politik di Kesultanan Johor-Riau. Di sana, dia bertemu banyak pejabat kolonial yang dikemudian hari akan berhubungan dengannya. Menginjak usia 19 tahun, Raja Ali Haji pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama Islam. Sepulang dari Mekah, dia memperoleh gelar “haji”, yang kemudian disematkan di akhir namanya. Raja Ali Haji pun mendapat tempat terhormat di masyarakat Riau sebagai seorang cendekiawan muda terkemuka. “Dia terbuka kepada hal baru dan asing. Dia dihormati dan disegani orang, baik di Pulau Peyengat atau di luar pulau kecil itu. Dia selalu gelisah mengenai keadaannya. Dia ingin melarikan diri “ke hutan dan gunung” setelah menyadari sanak saudaranya bodoh-bodoh, kurang taat, tidak beribadat dan tidak menghiraukan kemelayuan,” ungkap Maier. Pada 1830-an, setelah suasana di Riau Lingga kembali tenang pasca terpisah dari Johor-Riau di Tumasik, Raja Ali Haji mulai aktif terlibat dalam urusan pemerintahan Kesultanan Riau Lingga. Bersama saudara sepupunya, Yang Dipertuan Muda Riau VIII, dia melakukan banyak perjalanan di sepanjang Riau-Malaka dalam upaya menghapuskan kegiatan perompakan dan kerusuhan-kerusuhan di wilayah kekuasaannya. Pada 1840-an, Raja Ali Haji diserahi jabatan penting di Kesultanan Riau Lingga. Dia menjadi penasihat keluarga Yang Dipertuan Muda untuk urusan politik dan hukum. Pada masa-masa itu juga dia mulai mengajari kerabatnya perihal masalah-masalah keagamaan dan kebahasaan. Namanya kian dikenal masyarakat setelah dua karangannya diterbitkan:  Syair Abdul Muluk , dan  Gurindam Dua Belas . Raja Ali Haji semakin jauh menempatkan namanya dalam alam kebudayaan Melayu kala menerbitkan Bustamul Katibin pada September 1851. Kitab yang berisi tata bahasa Melayu dengan menerapkan aturan tata bahasa Arab tersebut merupakan permintaan langsung Yang Dipertuan Muda Riau VIII untuk memperkenalkan aturan berbahasa Melayu di negerinya. “Dari berbagai aspek intelektual Raja Ali Haji, dapat dipastikan bahwa aspek pemikiran keagamaannya yang paling utama dalam memberikan pencerahan bagi masyarakat Melayu-Riau,” kata Alimuddin Hassan dalam  Pemikiran Keagamaan Raja Ali Haji . Pengabdian kepada Sastra Jauh sebelum menghasilkan karangan-karangan yang menjadi kebanggaan alam sastra Melayu, Raja Ali Haji memulai minat kepenulisannya dengan mempelajari sejarah dan silsilah keluarganya dari naskah dan cerita. Meski hasil pekerjaannya baru dia terbitkan pada 1865 dalam  Silsilah Melayu dan Bugis . “Pengarangan buku sejarah itu dianggapnya pekerjaan yang berat: sumber-sumber tulisan dan lisan yang ada harus dikumpulkan, diperbandingkan satu dengan lain, lalu dipertimbangkan kebenarannya. Hasilnya memang tidak boleh tidak menentukan kesahihan kerajaan Riau Lingga dan adanya orang Bugis di kepulauan itu,” tulis Meier. Gairah kepenulisan Raja Ali Haji semakin tinggi kala orang-orang Eropa melirik dan menyukai karya-karyanya. Bahkan pada 1850-an, pemerintahan Hindia Belanda melalui Residen Riau Willer sempat meminta bantuannya dalam menyusun dan melengkapi silsilah keluarga istana Riau. Diceritakan Jan van der Putter dan Al Azhar dalam Dalam Berkekalan Pesahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall, pada 1857, Raja Ali Haji berkenalan dengan seorang pejabat Belanda di Riau bernama Von de Wall. Kawan Belanda-nya itu memiliki minat besar kepada kesusasteraan Melayu, termasuk karya-karya Raja Ali Haji. Kedekatan keduanya semakin terlihat jelas manakala Raja Ali Haji membantu Von de Wall dalam proses penyusunan kamus bahasa Belanda-Melayu. Von de Wall juga memberi banyak hadiah berupa buku-buku berbahasa Arab yang menjadi kegemaran Raja Ali Haji. Menurut Van der Putter dan Al Azhar, tahun-tahun penyusunan kamus itu telah menjadi jembatan persahabatan keduanya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Von de Wall kerap menyebut Raja Ali Haji sebagai kawan baiknya. “Tuan Von de Wall didekati Raja Ali dengan perasaan hormat bercampur dengan perasaan akrab. Tidak dapat disangsikan dalam persahabatan itu pun ada banyak masalah yang tidak terungkapkan, apalagi tidak tertuliskan,” tulis Meier. Raja Ali Haji wafat pada 1873 di Pulau Penyengat, Riau. Dia meninggalkan sejumlah besar karya, di antaranya  Bustanul Katibin ,  Kampus Pengetahuan Bahasa ,  Tsamaratul Muhimmah ,  Muqaddimah fi Intizam ,  Syair Suluh Pegawai ,  Gurindam Duabelas , dan surat-surat bersama Von de Wall. Tidak hanya karangan-karangan, Raja Ali Haji juga meninggalkan penerusnya di bidang sastra Melayu. Jumlahnya, menurut Taufik, ada lebih dari 20 orang yang menjadi tokoh sastra ternama Melayu. Mereka adalah orang-orang yang pernah berguru kepada Raja Ali Haji.  “Mereka tak hanya bermain bahasa, tetapi juga membuat penemuan-penemuan dalam kebudayaan, termasuk menyusun tata bahasa seperti diperlihatkan Raja Ali Kelana dan Khalid Hitam,” ungkap Taufik.

  • Pemujaan di Bukit Tandus

    DI atas perbukitan Batur Agung, sebuah kompleks percandian berdiri megah. Di tempat ini, masyarakat Jawa kuno melakukan pemujaan kepada Dewi Sri untuk memohon berkah dan kesuburan pada lahan pertanian mereka. Kompleks percandian ini terletak di Dusun Candisari, Desa Sambireja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Namanya Candi Sari. Karena ada candi lain dengan nama yang sama di daerah ini, yakni Candi Sari di Kalasan, maka agar tak terjadi kekacauan penyebutan candi ini dinamakan Candi Sari Sorogedug. Sementara penduduk sekitar menamakannya Candi Barong. “Mungkin penamaan ini berdasarkan kepala kala yang menyerupai barongan,” ujar arkeolog Timbul Haryono dalam “Candi Sari (Sorogedug): Suatu Tinjauan Arsitektur”, makalah pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi II di Jakarta, 25-29 Februari 1980. Candi Barong dibangun di atas puncak sebuah bukit yang telah dipangkas, dengan tiga bagian halaman berundak, memanjang dengan arah timur ke barat. Pola percandian seperti itu mengingatkan pada tradisi pemujaan megalitik pada masa prasejarah. “Bentuk batur candi pun dibuat berundak-undak secara jelas, suatu hal yang jarang ditemui pada batur candi di lain tempat,” ujar Timbul Haryono . Ketiga halaman itu dibatasi oleh pagar keliling. Di halaman pertama tak ditemukan bekas-bekas bangunan. Di halaman kedua terdapat bekas-bekas susunan batu putih yang mungkin merupakan bekas pondasi bangunan. Sedangkan di halaman teratas dan paling belakang, dua candi induk berdiri sejajar. Candi Barong I terletak di selatan dan Candi Barong II di tengah halaman. Gapura berhias kepala kala dan sulur-suluran menyambut siapapun yang memasuki halaman teratas sekaligus tersakral ini. Memuja Dewi Kesuburan Candi Barong I dan Candi Barong II memiliki bentuk arsitektur dan ragam hias yang sama. Bagian-bagiannya masih lengkap; dari kaki, tubuh, hingga atap. Motif sulur-suluran, geometris, dan kerang bersayap ( śaṅkha ) menghiasi bagian kaki candi. Ukiran sulur gelung menghiasi tubuh candi. Hiasan kala dan makara masing-masing tampak pada bagian atas relung candi dan ujung pipi tangga. Sementara motif-motif geometris terukir di dindingnya. Kedua candi itu tak punya pintu masuk kendati ketika dipugar memiliki rongga di dalamnya.Pada keempat sisi dinding candi terdapat relung kosong, yang mungkin dahulu diisi dengan arca. Di Candi Barong ditemukan dua arca Dewi Sri, dua arca Wisnu, sebuah arca Ganesa yang belum selesai, dua arca lainnya yang tidak dapat diidentifikasikan, dan hiasan kerang bersayap ( śaṅkha ) yang merupakan lambang Dewa Wisnu. “Berdasarkan temuan tersebut dapatlah diketahui bahwa Candi Barong merupakan percandian agama Hindu dan diperkirakan digunakan untuk pemujaan kepada Dewi Sri yang merupakan Dewi Kesuburan,” tulis arkeolog Edy Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Kedua arca Dewi Sri di Candi Barong terbuat dari batu.Arca pertama, Dewi Sri duduk dalam posisi paryangkasana di atas padmasana (singgasana teratai). Tangannya empat. Tangan kanan depan seperti tengah memberi anugerah. Tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka.Tangan kanan belakang memegang kamandalu (kendi). Tangan kiri belakang memegang setangkai padi. Arca kedua dalam posisi duduk bersila di atas padmasana . Namun bagian atasnya tak utuh lagi. Tangannya dua. Tangan kanan memegang sebuah kamandalu. Tangankiri memegang sebatang padi. Memakai kirītamakuta (mahkota), anting, kalung, kelat bahu, gelang siku, dan channawīra (tali yang diselempangkan menyilang di antara buah dada). Dewi Sri dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung kelahiran dan kehidupan. Ia juga dipuja sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan yang memberikan kekayaan, kemakmuran, dan terutama berkah panen padi yang melimpah. Karenanya, bahkan hingga kini, Dewi Sri dihubungkan dengan mitos asal usul padi. Pemujaan terhadap Dewi Sri sudah berlangsung sebelum pengaruh Hindu-Buddha datang ke Nusantara, yaitu sejak masuknya penyebaran budidaya padi di Asia pada masa prasejarah. Kepercayaan ini mampu bertahan menghadapi perubahan sosial dan agama. Menurut arkeolog Titi Surti Nastiti dalam “Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia” terbit di Tumotowa Vol. 3 No. 1,Dewi Sri dalam agama Hindu dikenal sebagai istri Dewa Wisnu. Namun, secara ikonografis, pengarcaan Dewi Sri di Indonesia lebih mirip dengan Wasudhārā, yang dalam agama Hindu disebut Bhūdewi (Dewi Kesuburan) atau sebagai sakti Dewa Kuwera. Sikap duduk dan atribut Dewi Sri sama dengan Wasudhāra. Bedanya, jika tangan kiri Wasudhārā memegang setangkai gandum, tangan kiri Dewi Sri memegang setangkai padi dan tidak memakai mahkota berelief Aksbobhya atau Wairocana seperti Wasudhārā. Kata Titi, hal tersebut kemungkinan disebabkan silpin (pembuat arca) pada masa Jawa Kuno mempunyai konsep sendiri mengenai Dewi Sri. Pembuat arca mengawinkan konsep Dewi Sri dalam agama Hindu dengan Dewi Kesuburan atau Dewi Padi yang dipuja pada masa prasejarah. Menghadirkan Unsur Air Di masa lalu, keberadaan arca Dewi Sri di Candi Barong menjadi dimengerti ketika melihat kondisi lingkungan di sekitar candi yang jauh dari kata subur. Tandus, kering, dan jauh dari sumber mata air. Padahal masyarakat di sekitar candi hidup dari pertanian. Karenanya mereka menggunakan sistem pertanian tadah hujan agar kebutuhan air terpenuhi. Kondisi itu juga mendorong masyarakat untuk menghadirkan berbagai benda yang menyimbolkan dan memiliki hubungan dengan air di Candi Barong dalam bentuk motif hias śaṅkha bersayap. Menurut arkeolog Harriyadi dalam “Makna Ragam Hias Śankha Bersayap pada Candi Hindu dan Buddha di Jawa”, Purbawidya , Vol. 9 No. 2, November 2020, penggambaran śaṅkha dimaksudkan untuk menghadirkan unsur air bagi candi dan lingkungannya. Śaṅkha pada dasarnya merupakan binatang laut. Binatang ini lekat dengan Dewa Wisnu. Dalam mitologi, salah satu avatara atau perwujudan Dewa Wisnu, yakni Narayana, menggunakan śaṅkha sebagai atributnya. Narayana merupakan dewa air.  Di Candi Barong ada dua arca Dewa Wisnu. Arca pertama digambarkan duduk di atas padmasana dalam sikap paryangkasana . Ia bertangan empat. Tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan, dengan telapak tangan terbuka menengadah. Tangan kanan depan mulai pada pertengahan lengan atas. Menurut bekas-bekasnya mungkin telapak tangan kanan diletakkan di atas lutut kaki kanan. Tangan kiri belakang ditekuk ke atas di samping kepala, tapi sudah patah (hilang) sehingga tak diketahui jelas jenis benda yang dipegang. Melihat bekas-bekasnya, mungkin yang dipegang śaṅkha . Kepala sudah patah (hilang). Pelipit stela mempunyai pinggiran lidah api. Arca kedua hanya bagian dada ke atas. Ia juga bertangan empat. Kedua tangan depan sudah patah. Tangan kiri belakang memegang śaṅkha , sedangkan tangan kanan belakang memegang cakra. Selain dalam arca Dewa Wisnu, śaṅkha dipahatkan pada bagian kaki candi. Menurut Harriyadi, ragam hias śaṅkha di Candi Barong memiliki sayap dan rumah siput ( spire ) yang berada pada bagian atas dan lingkar tubuh yang menghadap bawah. Śaṅkha bersayap Candi Barong berdiri pada lapik yang berbentuk teratai mekar, padma, dan di sekelilingnya terdapat hiasan berupa sulur gelung dan hiasan geometris. “ Śaṅkha bersayap dipahatkan pada candi agar mendatangkan kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Harriyadi. Gaya Peralihan Kapan Candi Barong berdiri belum diketahui dengan pasti. Sampai kini belum ditemukan sumber prasasti yang mencatatnya. Candi Barong sudah dalam keadaan runtuh ketika ditemukan pertama kali pada 1913. Semak belukar menyembunyikan keberadaannya. Pada 1979 candi ini mulai ditangani secara intensif. Kegiatan pemugaran baru dilakukan pada 1986 hingga 2009. Menurut Timbul Haryono, pembagian teras halaman candi yang roboh ke belakang biasa ditemui pada candi-candi Jawa Timur. Di Jawa Tengah, hal semacam ini dapat dilihat pada Candi Ijo, yang memperlihatkan gaya seni masa akhir Jawa Tengah sekitar tahun 850-900 M. Selain itu, relief kepala kala yang dilukiskan lengkap dengan rahang bawah dan ada gambar tangan di kanan-kiri dengan kuku-kuku tajam juga biasa dijumpai pada periode Jawa Timur. Begitu pula profil kaki candi yang tidak mengenal kombinasi bingkai setengah lingkaran dan bingkai sisi genta. Kemudian batu luar kaki candi diberi hiasan geometris dan śaṅkha sebagai padmamula (akar teratai). Hiasan pada candi dikerjakan dengan teliti dan halus. Karenanya, Candi Barong tak bisa digolongkan sebagai candi tua. Timbul Haryono menetapkan umurnya kurang lebih sekitar tahun 900 M. Jadi, Candi Barong diperkirakan berasal dari masa peralihan periode Jawa Tengah ke Jawa Timur. Kini, Candi Barong merupakan salah satu destinasi wisata alternatif di Yogyakarta. Letaknya sekira 25 km ke arah timur dari Tugu Yogyakarta. Ia pun bukan satu-satunya peninggalan arkeologi di kawasan itu. Ada Candi Miri, Candi Dawangsari, Arca Ganesha, Situs Ratu Boko, dan Arca Dhyani Bodhisatwa Sumberwatu. Sebuah paket wisata yang menarik dan tak bisa diabaikan jika Anda berkunjung ke Yogyakarta. Candi Barong juga bisa dinikmati melalui sajian virtual tour dengan kamera 360 0 . Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) akan mengajak Anda untuk menjelajahi setiap sudut candi. Dalam rangkaian program Candi Darling From Home, Anda pun bisa melihat aksi penanaman pohon yang dilakukan oleh anak-anak muda tanah air dan turut dalam aksi peduli lingkungan dengan menyumbangkan bibit tanaman. Informasi selanjutnya mengenai program ini bisa diakses melalui siapdarling.id atau melalui Instagram @siapdarling .

  • Fasilitas "Plus-plus" dalam Konferensi Asia Afrika

    Sepekan setelah Konfrensi Asia Afrika (KAA) rampung dengan sukses, bau skandal justru tercium ke tengah publik. Koran Indonesia Raya  bikin geger dengan berita adanya “Panitia Ramah Tamah” selama konferensi tersebut. Isu itu dibongkar langsung oleh pemimpin redaksinya, Mochtar Lubis. Pada waktu meliput konferensi, seperti terkisah dalam biografinya, Mochtar Lubis diberitahu desas-desus kartu “ hospitality comitee ” dari Panitia Ramah Tamah. Dengan kartu itu, si empunya bakal punya akses memasuki “rumah aman” ( safe house ). Rumah itu seperti halnya rumah bordil yang menyediakan perempuan untuk layanan prostitusi. Untuk membuktikannya, Mochtar bahkan melakukan investigasi langsung ke rumah-rumah itu, mewawancarai para perempuan yang menjadi penghuninya dan menyiarkan berita itu sebagai liputan eksklusif. “Kemudian Mochtar menyatakan secara pribadi bahwa ia tak keberatan jika laki-laki dalam kedudukan berwenang berkunjung ke pelacur, tetapi yang ia tolak adalah pemerintah menyediakan perempuan bagi para utusan konferensi,” ungkap David T. Hill dalam Jurnalisme dan   Politik di Indonesia:Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922--2004) . Penyingkapan atas kegiatan gelap Panitia Ramah Tamah ini mencoreng wajah pemerintah. Itu suatu aib yang seolah membayangi citra gemilang pemerintah Indonesia selaku tuan rumah KAA. Kendati demikian, pemerintah Indonesia tidak meneruskan isu ini untuk diinvestigasi lebih lanjut. Indikasi Prostitusi Menjelang pelaksanaan KAA pada pertengahan April 1955, polisi Bandung merazia lebih dari 500  pekerja seks komersial (dan gelandangan). Pada awalnya, warga Bandung memuji langkah tersebut karena keberadaan mereka yang biasa mangkal di lorong dan pojok-pojok gelap berkurang drastis. Kelangkaan para pekerja seks komersial (PSK) itu menjadi indikasi awal mengenai prostitusi yang diorganisasi Panitia Ramah Tamah dalam perhelatan KAA. Menurut pers oposisi, tulis Boyd Compton dalam surat-suratnya yang dibukukan Kemelut Demokrasi Liberal, suatu “Panitia Ramah Tamah” telah dibentuk untuk menyediakan para PSK bagi anggota delegasi, yang diseleksi dan disponsori oleh pemerintah. Sebuah koran ( Indonesia Raya ) memberikan dokumenter secara sangat terinci sehingga keberadaan panitia ini tidak dapat diragukan. “Dinas-dinas pemerintah dengan dongkol menyatakan tidak tahu menahu dengan panitia itu, tapi pernyataan-pernyataan mereka menyiratkan bahwa praktik itu rupanya dilakukan oleh dinas-dinas lain di tingkat-tingkat lain,” kata Compton. Panitia konfrensi pun ikut menyanggah tudingan prostitusi terselubung ini. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang menjabat pula sebagai ketua panitia KAA membantah adanya komite yang mengurusi hal itu. Bung Karno pun tidak tahu pasti, kata Ali. Namun, sejarawan John David Legge dalam Sukarno: Sebuah Biografi Politik mengatakan, “Pertemuan besar seperti ini tentu menyibukkan sejumlah 1.700 petugas keamanan dan juga panitia ‘istimewa’ yang khusus menyediakan wanita-wanita panggilan untuk melayani para tamu berbagai negara ini.” Indonesia Raya tidak berhenti menguak tabir gelap dalam perhelatan akbar KAA. Tahun berikutnya, koran ini menyinggung lagi persoalan Panitia Ramah Tamah KAA ketika mengangkat kasus Lie Hok Tay, seorang pegawai negeri keturunan Tionghoa. Lie Hok Tay, wakil direktur Percetakan Negara diberitakan terlibat dalam skandal keuangan dan disebut-sebut memfasilitasi pembentukan Panitia Ramah Tamah. Orang itu pula yang dikabarkan berperan sebagai muncikari bagi pejabat penting di Indonesia. Indonesia Raya Dikecam Menurut Rosihan Anwar, pers Indonesia yang meliput KAA terbagi atas dua kubu. Kubu yang pro Kabinet Ali dan kubu yang menentangnya sebagai oposisi. Indonesia Raya , Pedoman  (afiliasi dengan PSI), dan Abadi  (afiliasi dengan Masjumi) termasuk dalam golongan oposisi. Ketiga suratkabar ini berpaduan suara dalam menggoreng isu skandal “ hospitality comitee ”. “Sudah barang tentu suratkabar yang propemerintah pada waktu itu seperti organ parpol PNI Suluh Indonesia , PKI Harian Rakyat , dan NU Duta Masyarakat  tidak turut memberitakan tentang ‘ ladies  yang dikoordinir oleh seorang istri dokter yang tinggal di Bandung’,” kata Rosihan dalam Sejarah Kecil Indonesia: Petite Histoire Indonesia Jilid 2 . Dari berbagai suratkabar yang gencar menurunkan berita miring dalam perhelatan KAA, Indonesia Raya  memang paling menjadi perhatian publik. Njoto, pemimpin redaksi Harian Rakyat  bahkan mengecam peliputan Indonesia Raya  atas Panitia Ramah Tamah KAA (dan juga perkawinan Presiden Sukarno dengan Hartini). Pemberitaan “pers sayap kanan” itu, menurut Njoto telah mengecilkan prestasi pemerintah (dan mencemooh Presiden terkait Hartini). Meski demikian, arus pemberitaan ini turut mempengaruhi reputasi Indonesia di luar negeri. Hasjim Ning, pengusaha nasional yang dekat dengan Presiden Sukarno salah satu yang kena getahnya. Dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang karya A.A Navis, Hasjim Ning mengonfirmasi kebenaran kartu “ hospitality comitee ”. Kartu itu dapat digunakan oleh para delegasi peserta konferensi untuk memilih PSK yang disediakan tanpa dipungut biaya. Karena soal fasilitas "plus-plus" itu, Hasyim mengaku sempat terganggu. Jika dia pergi ke luar negeri, para mitra bisnisnya kadang "secara nakal" menanyakan masalah tersebut. Tak urung dia pun ditertawakan atas berita mengenai "keramahtamahan pemerintah Indonesia yang berlebihan itu". "Rasanya, lama sekali gema itu hilang dari telingaku saban aku ke luar negeri,” kenang Hasjim Ning.

  • Bukti Toleransi dari Candi

    Dua bangunan suci kembar yang megah dari masa lalu menyembul di tengah persawahan dan permukiman warga di Dusun Plaosan Lor, Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Puncak-puncak stupa menghiasi atapnya. Di sekelilingnya 174 candi yang lebih mungil disusun dalam tiga baris. Sebagian besar sudah runtuh, sebagian lainnya telah dipugar kembali.  Kompleks Percandian Plaosan Lor itu, menurut Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), adalah wujud toleransi yang telah berakar di tengah masyarakat Nusantara sejak masa silam. Percandian dari era Mataram Kuno abad ke-9 itu didirikan secara bergotong royong.  “Dibangun oleh maharaja yang beragama Buddha Mahayana, tapi candi-candi kecilnya dibangun oleh raja beragama Hindu,” kata Bambang yang akrab disapa Tomi dalam diskusi daring yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berjudul “Toleransi, Akar Lama Penguat Bangsa”, Kamis, 29 April 2021. Sikap toleransi bukan hal baru bagi masyarakat Nusantara. Mengingat kawasan Nusantara telah menjadi tempat bertemunya bangsa-bangsa dari segala penjuru dunia. “Ada India, Tiongkok, lalu sekira abad ke-14 ada Eropa. Kita dari sini melihat yang tadinya dihuni penutur bahasa Austronesia lalu bercampur dengan lainnya, maka masyarakat kita jadi multikultural, bukan hanya multietnis,” kata Tomi. Akar Toleransi Beragama Dalam Candi Indonesia Seri Jawa, arkeolog Edi Sedyawati menjelaskan candi-candi di Plaosan Lor dibangun sebagai dharma yang dipersembahkan oleh raja, keluarganya, dan para pejabat tinggi kerajaan sebagai wakaf bangunan suci kebuddhaan. Pada candi-candi kecil atau perwara terdapat prasasti pendek yang menyebutkan nama para penyumbang atau pemberi wakaf. Di antaranya adalah dharmma sri maharaja, asthupa sri maharaja Rakai Pikatan (Stupa persembahan Rakai Pikatan), anumoda sang kalung warak Pu Daksa (persembahan Sang Kalungwarak Pu Daksa), anumoda sri kahulunnan (persembahan Sri Kahulunnan), dan anumoda sang da pankur pu agam (persembahan Sang Da Pangkur Pu Agam). Dalam “Laporan Penelitian Candi Sari, Prambanan, Yogyakarta” yang disusun arkeolog Soeroso SP, Titi Surti Nastiti, Bambang Budi Utomo, Richadiana Kartakusuma, dan P.E.J. Ferdinandus pada 1985 , dijelaskan sesuai prasasti pendek itu, nama Rakai Pikatan bersama Sri Kahulunan mendirikan candi Buddhis. Sementara di dalam Prasasti Siwagrha (856 M) Rakai Pikatan dihubungkan dengan pembangunan candi untuk pemeluk agama Siwa.  Adapun Sri Kahulunan dalam beberapa prasasti dihubungkan dengan pendirian bangunan suci bagi penganut Buddha. Misalnya, Prasasti Tri Tpusan (842 M) menyebut dia meresmikan kamulan bernama Bhumisambhara yang banyak diartikan sebagai Candi Borobudur. “Sri Kahulunan adalah gelar Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga yang beragama Buddha. Dia menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Siwa. Tak heran jika bersama-sama mendirikan suatu bangunan suci,” tulis laporan penelitian itu. Karenanya menurut Tomi, pada abad ke-9 para pemeluk Buddha dan Hindu hidup damai berdampingan. “Saling membantu dalam pendirian bangunan suci meski keyakinan berbeda,” kata Tomi. Sekira pada masa yang sama hubungan harmonis antara kedua agama itu nampak pula dalam Arca Awalokiteswara yang ditemukan di Desa Bingin Janggut, Musi Rawas, Sumatra Selatan. Arca ini berasal dari masa Sriwijaya sekira abad ke-8 hingga ke-9. Di bagian punggungnya terpahat sebuah tulisan dalam bahasa Melayu Kuno: “ dang acaryya syuta ”. “Ini adalah arca Buddha Mahayana, arca bodhisatva yang dibuat untuk dipersembahkan kepada masyarakat penganut Buddha dari seorang pendeta Hindu,” jelas Tomi . “Dihadiahkan oleh pendeta Hindu bernama Syuta. Dang acaryya adalah gelar pendeta Hindu.” Toleransi antara pemeluk Hindu dan Buddha, menurut Tomi, muncul pula pada pembangunan Candi Jawi di Desa Candi Wates, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. KakawinNagarakrtagama menyebut Candi Jawi didirikan Kertanagara, raja terakhir Singhasari. Pengelolaan candi juga dilakukan oleh sang raja.  Ketika Kertanagara wafat, candi ini dijadikan pendharmaan baginya. Kemudian dia diziarahi oleh Hayam Wuruk, yang tak lain adalah cicitnya, penerus Dinasti Rajasa. “Di sinilah para penganut agama Siwa-Buddha melakukan ritual,” catatnya sebagaimana diterjemahkan Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama. Pada Candi Jawi, Tomi menjelaskan, bagian atas tubuh candi melambangkan aliran Buddha, sedangkan bagian bawahnya bernapaskan ajaran Siwa.  “Di candi inilah terbentuk toleransi di bidang agama, ajaran yang berkembang pada masa Singhasari (ajaran Siwa-Buddha),” jelas Tomi . Pada masa yang lebih modern toleransi terlihat dari sikap penguasa Kesultanan Tidore terhadap para misionaris Jerman. Pada 5 Februari 1855, Carl Willem Ottow dan Johann Gotteb Geissler, pekabar Injil dari Jerman tiba di Pulau Mansinam, Papua. Mereka singgah terlebih dahulu di Ternate sebelum bertolak ke Papua. “Di awal tugasnya mengkristenkan Papua, mereka mendapat izin dan bantuan Sultan Tidore. Dari Ternate mereka diantar Sultan Tidore menuju Papua dengan kapal,” jelas Tomi. Hingga kini orang Papua memperingati Hari Pekabaran Injil setiap 5 Februari. Kedatangan Ottow dan Geissler dirayakan setiap lima tahun sekali dengan arak-arakan replika perahu yang digunakan Sultan Tidore saat mengantar kedua misionaris itu. Jejak toleransi di Nusantara, kata Tomi, rupanya tak hanya dari sisi agama. Tapi juga dalam lingkup adat dan kebiasaan dari suku bangsa yang berbeda.  Soal itu banyak yang bisa dipelajari dari temuan masa prasejarah. Misalnya, temuan di Gua Harimau di daerah hulu Sungai Ogan, Baturaja, Sumatra Selatan. Gua itu dihuni sejak sekira 22.000 tahun lalu hingga awal masehi.  Para arkeolog menemukan sebanyak 81 individu kerangka manusia dari ras Australomelanesid dan Mongoloid di dalam gua itu. Ras Australomelanesid adalah penghuni awal. Sementara ras Mongoloid penghuni selanjutnya. “Mungkin kedua ras itu sempat hidup berdampingan,” kata Tomi. “Mereka sudah bergaul antarras.” Bahaya Intoleransi Hidup tanpa sikap toleransi amat berbahaya, khususnya di Indonesia. Begitu menurut Franz Magnis-Suseno, guru besar filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. “Indonesia adalah negara paling majemuk di dunia, dengan ratusan etnik dan bahasa, perbedaan agama dan kepercayaan. Betapa berhasil Indonesia sampai sekarang dalam hal toleransi,” kata Magnis . Perjalanan masyarakat Nusantara selama 2.000 tahun terakhir membuktikan keberhasilan itu. Bahwa perbedaan dalam agama dan ras tak membuat orang-orang saling membunuh. Namun itu justru memperkuat dan mengembangkan identitas masyarakat Nusantara. “Saya pernah membaca tulisan orang Amerika, bahwa Indonesia adalah bangsa yang tak masuk akal selama 76 tahun, mantap berdiri tak memberi kesan akan pecah. Bagaimana prestasi ini mungkin?” kata Magnis. Secara tradisional masyarakat Indonesia begitu terbuka dan toleran. “Orang Indonesia bahkan di pedalaman saja ta h u di dekatnya ada orang berbahasa lain, kepercayaan lain, mereka menerima,” kata Magnis. Menurut Magnis, sikap intoleran muncul pada masyarakat karena adanya tekanan yang mereka rasakan. Termasuk perasaan tidak adil dan terdeskriminasi. “Suatu kelompok jika merasa diperlakukan tidak adil, intoleransi akan tumbuh. Maka penting bagi negara untuk memperhatikan keadilan sosial bagi semua,” tegas Magnis. Maka, sebagaimana kata I Made Geria, Kepala Pus lit Arkenas , “Kita berikhtiar merawat kekayaan alam pikir. Saat ini perlu penguatan warisan leluhur kita, akulturasi, saling menghargai, toleransi. Toleransi itu bukan pilihan tapi keharusan.”

  • Sungai yang Membangun Peradaban di Sumatra

    Berbagai peradaban muncul di sepanjang aliran sungai. Termasuk Kadatuan Sriwijaya yang awalnya dimulai dari permukiman di Daerah Aliran Sungai Musi, mulai dari muara hingga hulunya. “Jauh sebelum Sriwijaya lahir sudah ada permukiman di DAS Musi,” kata arkeolog Bambang Budi Utomo atau akrab disapa Tomi, dalam diskusi daring berjudul “Budaya Hindu Buddha di Pulau Sumatra” yang diadakan Balai Arkeologi Sumatra Utara, Rabu, 28 April 2021. Sungai menjadi pintu masuk budaya luar ke Sumatra dan berbagai tempat lain di Nusantara. Mulanya dibawa para pedagang yang masuk ke pedalaman untuk mencari komoditas perdagangan. Jalurnya lewat sungai-sungai besar, seperti Sungai Musi, Batanghari, dan Kampar. “Kebudaan India yang masuk ke Sumatra diwujudkan dalam bentuk arca, bangunan-bangunan suci, juga prasasti,” jelas Tomi. Sumatra telah tercatat lama dalam berita Tiongkok. Disebutkan ada sebuah tempat bernama Mo-lo-yeu . “ Mo-lo-yeu ini identik dengan Pulau Sumatra, bukan nama kerajaan,” kata Tomi.  Di pulau Mo-lo-yeu terdapat beberapa pusat kekuasaan. Berita Tiongkok menyebutnya dengan Shi-Li-Fo-Shih (abad ke-7–11), Chan-pi (abad ke-8–13), To-lang-po-hwang (abad ke-7), ada pula di Kota Cina (abad ke-11–14), Panai (abad ke-11–14), Dharmasraya (abad ke-13–15). Semuanya berada di dekat sungai, seperti Shi-Li-Fo-Shih berada di DAS Musi, Chan-pi di DAS Batanghari, To-lang-po-hwang di DAS Tulangbawang, Kota Cina di lembah Sungai Deli Pantai Timur Sumatra, Panai di lembah Sungai Panai dan Barumun, serta Dharmasraya di hulu Batanghari. “Pusat-pusat pemerintahan ini pada suatu masa muncul sebagai kekuatan politik yang besar,” kata Tomi. Salah satunya pada 682 muncul Kadatuan Sriwijaya di Shih-li-fo-shih . “Populer dengan sebutan kerajaan, tapi nama yang spesifik sebetulnya kadatuan,” jelas Tomi. Komunitas Hindu dan Buddha Awal Namun, kemunculan Sriwijaya bukanlah pertanda pertama masuknya budaya India ke Sumatra. Pasalnya, kata Tomi, sebelum Kadatuan Sriwijaya lahir, sudah ada komunitas pemeluk Hindu dan Buddha di Palembang.  Buktinya keberadaan Arca Sakyamuni yang ditemukan di Bukit Siguntang, Palembang. Kemungkinan, kata Tomi, Sang Sakyamuni dulunya berdiri di puncak bukit yang suci itu. Arca Sakyamuni berlanggam sekira abad ke-6 M. Dari penggambaran pakaian arca, nampak pengaruh seni antara Gupta dan post-Gupta.  “Sriwijaya baru lahir abad ke-7. Artinya sebelum abad ke-7 sudah ada komunitas yang menganut ajaran Buddha,” jelas Tomi.  Berdasarkan arca itu, Tomi memperkirakan, aliran Buddha yang dianut adalah Hinayana. “Mungkin ini satu-satunya arca pemujaan para penganut ajaran Hinayana yang pernah ditemukan,” kata Tomi. Pada abad ke-7, Sriwijaya sudah berupa permukiman yang tertata dengan baik. Bangunan-bangunan religi di tempat yang tinggi dengan pusatnya di Bukit Siguntang, permukiman di tepian Sungai Musi, dan Taman Sriksetra ditempatkan di kawasan berbukit dan berlembah di barat laut kota Sriwijaya. “Jadi orang tidak asal bertempat tinggal,” kata Tomi. Menurut Tomi, kota Sriwijaya dapat berkembang berkat daerah pedalaman. Kawasan pedalaman di daerah kaki Pegunungan Bukit Barisan merupakan penghasil komodit as perdagangan, seperti hasil bumi, hutan, dan tambang. Komoditas itu dibawa melewati aliran sungai ke Palembang untuk dipasarkan. Palembang menjadi muara banyak sungai yang mengalir dari pedalaman, yakni Sungai Musi, Keramasan, Ogan, dan Komering.  “Di Palembanglah bertemu sungai-sungai ini, sehingga di Palembanglah para pedagang berkumpul menjadi pasar, lama-lama daerah itu menjadi maju,” jelas Tomi. Permukiman di Lahan Basah Permukiman masa Sriwijaya dibangun di sepanjang aliran sungai. Dari berita Tiongkok diketahui kalau orang-orang di Sriwijaya berdiam di perahu dan di rumah panggung di rawa-rawa. Mereka hidup dengan mencari ikan dan berdagang. Bukti permukiman di lahan basah ini ditemukan di Situs Air Sugihan di pantai timur Palembang. Penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 2008 menemukan sisa-sisa permukiman di lahan berawa dari awal abad masehi. Terdapat 74 situs yang ditemukan di kawasan Air Sugihan. Situs itu diperkirakan berasal dari periode awal masehi, sekira abad ke-1-2 dan terus berlanjut sampai abad 12-13, yakni periode akhir Sriwijaya. Permukiman itu diperkirakan cikal bakal atau pendahulu Sriwijaya. Secara keruangan situs-situs yang ada di dekat muara berusia lebih tua. Semakin ke hulu semakin muda.  Di sana ditemukan sisa permukiman berupa tiang pancang dari kayu nibung. Dari jenis-jenis temuannya, kata Tomi, masyarakat yang dulu tinggal di kawasan ini memiliki hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, serta daerah lain di Nusantara. “Sebelum Sriwijaya lahir sudah terbentuk jaringan perdagangan Guangdong-Palembang, Persia/India-Palembang, dan Palembang-Kalimantan Barat,” jelas Tomi.  Mengembangkan Sayap Melalui sungai pula, balatentara Sriwijaya menyerang Kota Kapur di Bangka. Mereka datang melalui Sungai Musi kemudian menyeberang ke Selat Bangka dan masuk ke Sungai Menduk. Penaklukkan Sriwijaya atas Bangka itu dibuktikan oleh temuan Prasasti Kota Kapur (686 M).  Menurut Tomi, ke letak an strategis Kota Kapur dengan hasil tambang timah dan sumber air bersihnya menjadikan tempat ini disinggahi kapal-kapal yang berlayar dari dan ke Jawa. “Bangka terletak di jalur pelayaran, yang seolah menghalangi jalur masuk atau keluar Palembang,” jelas Tomi . Secara geografis Kota Kapur berhadapan langsung dengan Selat Bangka. Pada selat ini bermuara juga Sungai Upang, Sungsang, dan Saleh dari daratan Sumatra. “Karena sumberdaya alam, timah, dan keletakannya yang strategis maka Sriwijaya menguasainya,” jelas Tomi.  Penelitian yang dilakukan Tomi telah menemukan sebuah dermaga di kaki bukit Kota Kapur. Dermaga itu ditemukan di tepian Sungai Menduk. “Rupanya dulu sungai ini adalah teluk yang besar di Kota Kapur, tempat berlabuh kapal-kapal dagang,” kata Tomi.  Timah kemungkinan menjadi daya tarik Kota Kapur. Komoditas ini diekspor ke berbagai kawasan Nusantara dan Asia Tenggara. Timah ini merupakan salah satu bahan campuran untuk membuat arca perunggu yang marak dilakukan pada abad ke-8–9.  “Sejak zaman Sriwijaya sudah menambang timah untuk keperluan membuat arca,” kata Tomi .  Didukung pula oleh berita Tiongkok abad ke-7 bahwa komoditas perdagangan Sriwijaya di antaranya timah. Sementara di Asia, timah hanya ditemukan di Myanmar, Semenanjung Melayu, dan Kepulauan Bangka Belitung. Melupakan Sungai Peran sungai begitu penting dalam perkembangan peradaban Nusantara, khususnya di Sumatra. Namun, dalam penulisan sejarah kedatangan luluhur baik menurut tradisi maupun modern (sampai 1970-an), peran sungai nyaris dilupakan.  “Di sejumlah suku bangsa di pedalaman Sumatra, sungai tak disebut sebagai salah satu faktor penting dalam proses datangnya para leluhur,” catat Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas dalam Sungai dan Sejarah Sumatra.  Misalnya , dalam sejarah tradisional Minangkabau. Menurut Asnan, mitos kedatangan leluhur versi mereka lebih mementingkan arti laut. Dikisahkan leluhur masyarakat Minangkabau terdampar ketika banjir besar Nabi Nuh terjadi. Mereka mendarat di sebuah daratan kecil yang kemudian diketahui sebagai puncak Gunung Marapi. Setelah permukaan laut surut, para leluhur mendirikan permukiman pertama di kaki gunung itu. Demikian pula dalam penulisan sejarah modern mereka, baik yang ditulis orang Belanda, Indonesia, maupun orang Minangkabau. “Peranan sungai dalam proses kedatangan moyang suku bangsa itu tak disinggung sama sekali,” jelas Asnan. Orang Kerinci juga mengaitkan kedatangan moyang mereka dengan banjir besar Nabi Nuh. Mereka memulai sejarah kedatangan leluhurnya dengan lautan yang luas. Sementara di dalam tradisi Batak, mitosnya menyebut kalau leluhur mereka berasal dari langit. Leluhur batak turun ke bumi pertama kali di Gunung Pusuk Buhit di Pulau Samosir. Arti penting sungai bagi perkembangan kebudayaan masyarakat Sumatra terkuak lewat penelitian arkeologis dan kajian linguistik. Berbagai temuan arkeologis ditemukan di kawasan hulu dari sungai-sungai, seperi Panai, Roman, Kampar, Batanghari, dan Musi.  “Sungai-sungai besar ini menghubungkan pantai timur Sumatra dengan wilayah pedalaman,” jelas Asnan. Pun dari penelitian dialek yang ada di dalam bahasa Minangkabau, seperti dialek Payakumbuh atau Limapuluh Kota, diketahui kalau dialek yang dipraktikkan penduduk di kawasan hulu Sungai Kampar merupakan dialek tertua di Minangkabau. Artinya Limapuluh Kota, yang ada di kawasan sebelah timur Minangkabau, merupakan daerah yang lebih dulu ditempati. “Sungai ternyata juga punya peran yang besar dalam kemunculan permukiman dan penyebaran penduduk Pulau Sumatra,” jelas Asnan.

  • Hikayat Dua Pujangga Melayu

    Selama penghujung abad ke-18 hingga permulaan abad ke-19, ketegangan di antara dua bangsa penjajah memuncak di wilayah Selat Malaka. Inggris dan Belanda saling klaim kekuasaan di kawasan perdagangan penting di Asia Tenggara tersebut. Puncaknya, melalui Traktat London tahun 1824, para kolonialis Eropa sepakat membagi wilayah Selat Malaka menjadi dua bagian: utara (Singapura dan Malaysia) dimiliki Inggris; sementara selatan (Nusantara) dimiliki Belanda. Konflik pun akhirnya terselsaikan dengan baik. Kesepakatan itu rupanya berdampak juga kepada kerajaan-kerajaan di sepanjang Selat Malaka. Kesultanan Riau-Johor, misalnya, terpaksa harus membagi kekuasaannya menjadi dua. Itu karena Kesultanan Johor-Riau memiliki kekuasaan di dua wilayah yang terpecah, yakni Tumasik (Singapura), dan Riau (Nusantara). Terpisahnya kekuasaan tersebut membawa perpecahan di dalam internal kerajaan. Pemerintahan di Riau, maupun Singapura saling klaim kekuasaan. Akhirnya, melalui sokongan dari Inggris dan Belanda, masing-masing pemerintahan mengangkat seorang penguasa. Maka terputuslah hubungan kerajaan yang pernah menjadi vassal Sriwijaya dan Majapahit tersebut. Terpecahnya Riau-Johor membawa perubahan juga kepada kehidupan masyarakat di dalamnya. Hal itu terjadi terutama karena Inggris dan Belanda menjalankan kebijakan yang berbeda. Perubahan meliputi bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya. Menurut Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto, khusus di bidang budaya, perpecahan itu telah memisahkan secara paksa dua pujangga besar Melayu, yakni Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, dan Raja Ali Haji. Keduanya sama-sama terlahir di bawah kuasa Kesultanan Riau-Johor. Tetapi akhirnya Abdullah tinggal dan berkarya di Singapura dan Malaysia, sementara Raja Ali Haji menetap di Riau. “Jarak di antara keduanya terasa begitu sayup antara tampak dan tiada... Jarak yang jauh terutama terlihat dari bagaimana keduanya menyikapi keadaan kemasyarakatan dan kebudayaan Melayu pada waktu bersamaan. Suatu zaman ketika sistem kehidupan yang sudah berakar tunggang memperoleh gempuran luar biasa dari rengkuhan baratisasi yang juga selalu disebut orang sebagai kemodernan,” tulis Taufik. Hidup dan Berkarya Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi hidup pada kurun masa yang sama. Keduanya mengembangkan karya dalam alam kebudayaan serupa: budaya Melayu. Namun dalam suasana yang berbeda. Baik Inggris maupun Belanda memiliki pandangan lain terkait sastra Melayu. Dikisahkan Amin Sweeny dalam  Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Abdullah lahir di Malaka pada 1796 dari keluarga campuran Arab dan India. Dia tumbuh di lingkungan Melayu Muslim kuat di bawah pemerintahan Riau-Johor. Memasuki abad ke-19, ketika usia remaja, Abdullah memutuskan pindah ke Singapura. Menurut Irfan, sebagaimana disebutkan U.U. Hamidy dalam  Pengarang Melayu dalam Kerajaan Riau dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dalam Sastra Melayu , kepindahannya ke Singapura dilakukan untuk menghilangkan kesedihan atas meninggalnya sang istri di Malaka. Tetapi jika dilihat dari jalan hidup Abdullah, kepindahannya ke Singapura terjadi karena Belanda menggantikan kekuasaan Inggris di Malaka. Hal itu, imbuh Irfan, tidak memberikan iklim yang baik bagi Abdullah. “Tampaknya Belanda tidak memerlukan orang-orang yang ahli dalam bidang bahasa seperti Abdullah,” jelas Irfan. Sementara itu Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad lahir di Selangor pada 1808. Dia berasal dari keluarga Kerajaan Riau. Raja Ali Haji tumbuh dan dibesarkan di Pulau Penyengat, Inderasakti, Riau. Dia hidup dalam suasana intelektual yang kental, yang menjadi dasar pengembangan nalar dan intuisi dalam menggambarkan alam Melayu melalui karya-karya sastranya. Menurut Irfan terdapat perbedaan yang cukup besar di antara dua pujangga ternama Melayu tersebut. Sebuah jurang pembeda yang membuat nama Abdullah lebih mencuat dibandingkan Raja Ali Haji. Itu ditentukan oleh adanya pemberian kesempatan berkarya dari bangsa yang menjajah mereka. Sikap pemerintah Inggris, di bawah Raffles, sangat terbuka kepada kehidupan kebudayaan orang-orang Melayu. Kondisi itu yang membuat Abdullah lebih leluasa mengembangkan karya-karyanya. Di lain pihak, Belanda amat membatasi kegiatan kebudayaan masyarakat pribumi. Terlebih, antara Riau dan Belanda kerap terlibat ketegangan yang memperburuk hubungan keduanya. “Secara sederhana dapatlah dikatakan, Abdullah berada dalam suatu kawasan, yakni Singapura yang waktu itu sedang bangkit secaa mengejutkan dan kini terus meninggi, jauh meninggalkan Riau yang cukup lama memayunginya,” kata Irfan. Sepanjang hidupnya, Abdullah berhasil menghasilkan banyak karya, di antaranya  Syair Singapura Dimakan Api,Kisah Pelayran Abdullah dari Singapura ke Klantan, Syair Kampung Gelam Terbakar, Hikayat Abdullah, dan  Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Sedangkan karya-karya Raja Ali Haji, di antaranya  Bustanul Katibin, Kampus Pengetahuan Bahasa, Tsamaratul Muhimmah, Muqaddimah fi Intizam, Syair Suluh Pegawai, dan  Gurindam Duabelas. Hubungan dengan Barat Raja Ali Haji dan Abdullah diketahui sama-sama memiliki kedekatan dengan orang-orang Eropa. Utamanya mereka yang tertarik dengan budaya Melayu. Abdullah sendiri, dengan kemampuan bahasa Melayu, Inggris, Tiongkok, dan India, mendapat kesempatan menjadi juru tulis Raffles. Dia pun berhubungan erat dengan para penyebar Kristen di Singapura, seperti Wiilliam Milner da C.H. Thomsen. Tidak hanya bersahabat dan mengajarkan para misionaris bahasa Melayu, Abdullah juga membantu menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Melayu. Alam kebebasan di bawah kuasa Inggris, serta pergaulannya dengan orang-orang Eropa, membuat karya-karya yang dilahirkan Abdullah dinilai oleh para ahli berbeda dengan karya pengarang Melayu lain yang hidup sezaman dengannya. Subjek tulisan Abdullah, misalnya, tidak terbatas pada persoalan kekuasaan dan raja-raja saja, tetapi ada tentang kehidupan sehari-hari. Bahkan dia terkadang membuat tulisan berupa kritik terhadap raja-raja dan masyarakat Melayu. “Boleh dikatakan, Abdullah-lah, pelahir otobiografi dalam alam Melayu,” tulis Irfan. “Tak dapat dipungkiri bahwa gaya Abdullah itu merupakan berkat pergaulannya dengan Barat dan coba menyerapnya dalam kehidupan sehari-hari, sampai-sampai ada orang mengatakan bahwa Abdullah cendekiawan pertama di kawasan Nusantara yang mampu menyerap Barat.” Sementara Raja Ali Haji memiliki hubungan kedekatan dengan sejumlah penguasa dan pakar bahasa. Seperti dikisahkan Jan van der Putten dan Al Azhar dalam  Di dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall,  Raja Ali Haji bersahabat baik dengan Von de Wall yang kala itu menjabat Asisten Residen Riau. Berkat Von de Wall, Raja Ali Haji bisa mendapatkan buku-buku dari Negeri Belanda, ataupun dari Timur Tengah, yang dia butuhkan untuk referensi tulisan-tulisannya. Sebagai balasan, Raja Ali Haji memberikan pengetahuan tentang bahasa Melayu kepada Von de Wall. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Irfan. Tidak hanya dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga berhubungan baik dengan sejumlah pejabat Belanda. Hal itu semata dia lakukan untuk menarik perhatian Belanda akan karya-karyanya, yang memungkinkan karangannya tersebut disebar dan dicetak. Sampai-sampai dia pernah berharap diperkenankan memperoleh mesin cetak di Riau. Kendati Raja Ali Haji dan Abdullah memiliki ketenaran dibanding pengarang-pengarang lain, serta mendapat tempat spesial di dunia sastra Melayu, bukan berarti tidak ada pujangga lain yang menghasilkan karya fenomenal. Masih banyak nama lain. Salah satunya Raja Chulan bin Raja Abdul Hamid yang menulis  Silsilah Perak dan Misa Melayu . Apalagi di Riau, sepeninggalan Raja Ali Haji, lahir 20-an pengarang baru yang tidak kalah hebat.

  • Just Mercy, Tiada Kata Terlambat untuk Keadilan

    LANGIT mulai temaram saat Walter ‘Johnny D’ McMillian (diperankan Jamie Foxx) berkendara di sebuah jalan sepi di Monroeville, Alabama pada suatu petang di bulan Juni 1987. Perjalanan pulang itu dinikmatinya sambil menghayati lagu “Ode to Billie Joe” yang ditembangkan Martha Reeves & the Vandellas dari radio. Namun, tiba-tiba mobilnya dicegat aparat Kepolisian Monroe County. John n y diciduk begitu saja tanpa dijelaskan kesalahannya, lalu dijebloskan ke penjara. Kenyataan pahit kemudian menghampiri pengusaha pengolahan kayu berkulit hitam itu. Ia didakwa membunuh gadis kulit putih berusia 18 tahun, Ronda Morrison, pada 1 November 1986. Pengadilan distrik memvonis Johnny bersalah walau tanpa bukti. Hakim menghukum mati Johnny sekadar berdasarkan kesaksian amat meragukan dari residivis Ralph Myers (Tim Blake Nelson). Johnny pun dijebloskan ke Lapas Holman dan masuk daftar “ death row ” alias menunggu waktu eksekusi yang belum ditentukan. Baca juga: Richard Jewell dalam Kemelut Bom Olimpiade Begitulah sutradara Destin Daniel Cretton membuka film Just Mercy. Drama biopik berdasarkan kisah nyata ini diadaptasi dari memoar pengacara HAM Bryan Stevenson bertajuk Just Mercy: A Story of Justice and Redemption . Cretton tak bertele-tele dalam menghadirkan sosok Stevenson (Michael B. Jordan) yang tetiba datang untuk jadi juru selamat Johnny pada alur cerita berikutnya. Pengacara muda lulusan Universitas Harvard itu punya motivasi tersendiri dalam membela tahanan yang kasusnya meragukan seperti Johnny. Tokoh Herbert Richardson, veteran Perang Vietnam yang gagal diselamatkan Bryan Stevenson. (Warner Bros.). Dibantu advokat setempat, Eva Ansley (Brie Larson), Stevenson mendirikan lembaga bantuan hukum Equal Justice Initiative yang didanai The Southern Prisoners Defense Committee. Selain Johnny, ada lima klien lain di daftar “ death row ” yang ditangani Stevenson. Salah satunya veteran Perang Vietnam Herbert Richardson (Rob Morgan). Perjuangan Stevenson dan Ansley jelas sarat gangguan. Beragam intimidasi, termasuk ancaman bom, mereka terima walau itu tak menyurutkan niat mereka membantu keenam klien. Konflik keduanya juga terjadi dengan Sheriff Tom Tate (Michael Harding) dan jaksa distrik Tommy Chapman (Rafe Spall) yang cenderung rasis dan bersikeras Johnny bersalah kendati tanpa bukti kuat. Baca juga: Medali Pahlawan Perang Vietnam yang Dipertanyakan Nurani Stevenson makin terpukul ketika upayanya membela Richardson gagal. Veteran Perang Vietnam itu menerima tanggal eksekusi setelah peninjauan kembali (PK) yang diajukan Stevenson ditolak Mahkamah Agung Negara Bagian Alabama. Bagaimana proses dan hasil perjuangan Stevenson agar tak kecolongan lagi dalam menyelamatkan Johnny dari eksekusi mati? Saksikan sendiri kelanjutan drama Just Mercy di aplikasi daring Mola TV. Diskriminasi Hukum Selain menyisipkan lagu-lagu bergenre soul khas Afro-Amerika di era 1980-an, Cretton mengiringi adegan-adegan diskriminatif dengan music scoring orisinil nan mengharukan karya komposer Michael West. Suasana adegan demi adegan tambah terasa nyata karena pengambilan gambarnya dilakukan di Alabama, negara bagian dengan tingkat diskriminasi tinggi. Cretton mencoba menggarapnya seotentik mungkin dengan menulis skenario berdasarkan memoar Stevenson yang juga terjun langsung jadi konsultan. Beberapa cerita tak didramatisir berlebihan dan Cretton mengupayakan adegan-adegan di ruang pengadilan senyata mungkin lewat arahan Stevenson. “Adegan-adegan di ruang pengadilan paling membuat saya dan Michael B. gugup hanya karena kami ingin membuatnya senyata mungkin. Tetapi Michael B. didampingi Stevenson terkait pertanyaan-pertanyaan tertentu dalam menghadapi saksi dan tentunya bahasa tubuh, agar bagaimana dia sebagai pengacara muda Afro-Amerika bisa tetap tegar menghadapi sistem peradilan yang dikuasai orang kulit putih,” ungkap Cretton, dilansir Collider , 29 Desember 2019. Baca juga: Percy Pantang Kibarkan Bendera Putih Michael B. Jordan (kiri) & Jamie Foxx yang memerankan tokoh utama Bryan Stevenson & Walter 'Johnny D' McMillian. (Warner Bros.). Walau kemasannya semi-dokumenter dengan gaya klasik dan minim plot twist tentang perjuangan mendobrak sistem rasis dan diskriminatif, toh Just Mercy tetap menuai banyak pujian. Selain karena kisah nyatanya inspiratif, Just Mercy cukup laris di pasaran dengan meraup keuntungan dua kali lipat dari budget -nya, 25 juta dolar. Kesuksesan itu antara lain berkat penampilan Foxx dan Michael B. sebagai dua tokoh utama yang berhasil memancing empati penonton. “Tak seperti kebanyakan film berlabel ‘berdasarkan kisah nyata’, Just Mercy tetap setia pada fakta-fakta kasusnya. Terlebih fakta-faktanya sendiri sudah merupakan drama tersendiri,” kata kritikus Ty Burr di Boston Globe , 8 Januari 2020. Walau kisah nyata itu sudah berlalu tiga dekade, isunya sampai kini masih sangat relevan. Mayoritas masyarakat Afro-Amerika di sejumlah negara bagian selatan Amerika mengalami diskriminasi dalam sistem hukum yang dikuasai orang kulit putih. Baca juga: Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7 Just Mercy berhasil membuka kembali problem klasik tentang bagaimana terdakwa dan tahanan Afro-Amerika lazimnya tak mendapatkan hak hukum semestinya. Penderitaan mereka bertambah berat karena sedikit pihak yang mau peduli. Stevenson yang datang dari belahan utara Amerika salah satu yang peduli. Baginya, “tidak ada kata terlambat bagi keadilan.” Perkara serupa yang dialami tokoh Johnny dan Richardson –yang kemudian dieksekusi mati sebelum kasusnya berhasil ditinjau ulang– jadi bukti ketidakberesan sistem hukum bagi orang-orang kulit hitam. Cretton menegaskannya dalam keterangan tersurat di akhir film: “Dari sembilan orang yang masuk daftar ‘ death row ’ dan diseksekusi di Amerika, satu di antaranya terbukti tak bersalah dan dibebaskan, sebuah angka kesalahan (sistem hukum) yang mengejutkan.” To Kill a Mockingbird “Home of ‘To Kill a Mockingbird,’” demikian bunyi tulisan di papan jalan menuju Monroeville. Beberapa orang kulit putih yang ditemui Stevenson selalu menganjurkannya untuk mengunjungi museum yang dinamakan dari novel laris era 1960-an karya Harper Lee itu. Bagi Stevenson, novel itu memuat ironi karena menyelipkan kisah ketidakadilan rasial orang kulit putih terhadap Afro-Amerika. Di kota kecil itulah Johnny D lahir pada 27 Oktober 1941. Sebagaimana umumnya anak-anak Afro-Amerika, Johnny tumbuh jadi pemetik kapas. “Walau dia tinggal di Monroe County sepanjang hidupnya, Walter (Johnny D) McMillian tak pernah mendengar tentang Harper Lee atau To Kill a Mockingbird . Monroeville begitu bangga merayakan buku Harper Lee setelah jadi novel terlaris. Para petinggi kota bahkan mengubah gedung pengadilan tua menjadi museum ‘Mockingbird’,” ungkap Stevenson dalam memoarnya, Just Mercy: A Story of Justice and Redemption . Baca juga: Allied, Kisah Mata-Mata Perempuan di Tengah Perang Johnny tak pernah tahu Harper Lee atau novel larisnya lantaran buku itu sekadar beredar di kalangan kulit putih. Toh Johnny juga tak pernah punya waktu lantaran sejak kecil sudah harus menguras keringat di perkebunan kapas. Saat dewasa dan sudah menikahi Minnie, kondisi ekonomi Johnny membaik karena punya pengolahan kayu. Namun hal itu menyeretnya ke gaya hidup yang menyimpang. Selain terlibat perdagangan ganja, Johnny sering kelayapan ke bar-bar, bahkan selingkuh dengan perempuan kulit putih bernama Karen Kelly. Sosok asli Walter "Johnny D" McMillian (kiri) & Bryan Stevenson. ( eji.org ). Pada 1 November 1986 pagi, pegawai dry-cleaning Jackson Cleaners bernama Ronda Morrison ditemukan tak bernyawa dengan tiga luka tembak di belakang kepalanya oleh beberapa pengunjung. Menurut Pete Earley dalam Circumstantial Evidence: Death, Life, and Justice in a Southern Town , laporan kepolisian dan Alabama Bureau of Investigation (ABI) menyimpulkan Ronda tewas sebagai korban perampokan dan transaksi narkoba. “Teori (kesimpulan) itu sangat pas dengan kasus rekayasa terhadap Johnny D yang mereka klaim adalah seorang bandar ganja yang biasanya melakukan pencucian uang di tempat dry-cleaning ,” ungkap Earley. Baca juga: Race , Kisah Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Nazi Selain atas dasar itu, Johnny ditetapkan sebagai tersangka sebagai kulminasi kebencian orang-orang kulit putih terhadapnya. Nama Johnny cukup dikenal karena hobinya masuk bar-bar orang kulit putih dan selingkuh dengan perempuan kulit putih. Betapapun Johnny berulangkali mengungkapkan dirinya sedang di gereja untuk makan malam dengan para jemaat di hari ketika Ronda dibunuh, Sherif Tom Tate dan pihak kejaksaan bersikeras mendakwanya. Kesaksian para anggota jemaat tak dipedulikan otoritas peradilan yang ironisnya justru mempercayai kesaksian seorang kriminal bernama Ralph Myers. Para juri kemudian memutuskan Johnny bersalah dan memvonisnya penjara seumur hidup. Namun hakim Robert E. Lee Key Jr. menolaknya dan meningkatkan hukuman menjadi hukuman mati. Ilustrasi tokoh Atticus Finch yang membela Tom Robinson dalam persidangan. ( imageofjustice.org ). Ketidakberesan kasus itu mendorong Stevenson membantu Johnny agar tak senasib dengan Tom Robinson, tokoh di novel Harper Lee. Stevenson melihat Johnny ibarat Tom yang pada 1930-an didakwa bersalah atas kasus pemerkosaan. Dalam persidangannya, Tom dibela pengacara kulit putih Atticus Finch yang sebelumnya melindungi Tom dari aksi main hakim sendiri para warga kulit putih. “Cerita tentang orang kulit hitam tak bersalah yang dengan berani dibela pengacara kulit putih begitu dikagumi jutaan pembaca. Karakter Atticus Finch dan putrinya yang masih remaja, Scout, memikat pembaca seiring mengkonfrontir mereka dengan realitas dan keadaan tentang ras dan keadilan di selatan,” sambung Stevenson. Baca juga: Seberg Melawan Arus Finch percaya bahwa Tom tidak bersalah memerkosa gadis bernama Mayella Ewell karena Tom cacat pada tangan kirinya. Namun dia nahas, tetap diputus bersalah. Ia tewas ditembak saat berusaha kabur dari penahanannya. Pengalaman pahit Tom itulah yang hendak dihindarkan Stevenson terkait nasib Johnny yang diyakininya tidak bersalah. Ketiadaan motif maupun alat bukti fisik menjadi alasan utama Stevenson. Lantas, siapa pembunuh sebenarnya? Earley yang kala itu berkarier sebagai jurnalis merangkap penulis buku kriminal mengungkapkan, setelah kasus Johnny D diliput program televisi “60 Minutes” yang ditayangkan CBS News , agen-agen ABI membuka kembali arsip-arsip tentang pembunuhan Ronda dan mengubah laporan mereka dari korban perampokan menjadi korban kekerasan seksual. “Kemudian agen-agen ABI Thomas Taylor dan Thomas Greg Cole tiba pada kesimpulan dalam mengidentifikasi tersangka sesungguhnya. Tersangka bernama samaran Howard Denmar. Saya samarkan karena dia belum pernah ditangkap dan didakwa,” imbuh Earley. Baca juga: Minggu Berdarah di Kota Selma Howard tak pernah melarikan diri dan justru menikmati kesenangan kala Johnny D dihukum atas kejahatan yang dilakukan Howard. Earley sempat bertemu Howard karena dia dianggap salah satu warga Monroeville yang paling antusias membicarakan kasus Ronda Morrison. “Ia (Howard) punya obsesi yang aneh soal pembunuhan Ronda. Dia sering memberi teori-teori tertentu tentang pembunuhan itu. Tampaknya setiap ada orang baru yang tertarik pada kasus itu, Howard sudah akan tiba di depan pintu,” lanjutnya. Sebelum Howard diperiksa ABI, Earley sempat mewawancarainya. Kepada Earley, Howard memberi teori yang menyiratkan bahwa dialah pelakunya. Si pelaku, katanya, menelepon Ronda untuk mengancam setelah sehari sebelumnya terlibat pertikaian di Jackson Cleaners. “Oke, ini teori saya. Pada pagi di hari pembunuhan si penelepon mendatangi Ronda. Mungkin dia sebelumnya menelepon untuk menggoda dengan kata-kata cabul. Katakanlah mungkin si penelepon datang ke tempat itu dan Ronda tiba-tiba meneriaki dia di depan wajahnya. Ronda menjadi sangat marah dan mengancam akan telepon polisi. Mungkin si pelaku tak merencanakan untuk mengambil pistolnya dan jadi marah serta kehilangan kendali. Itu terjadi begitu saja karena mungkin orang itu panik,” tutur Howard, dikutip Earley. Setelah wawancara itu, agen ABI mendatangi Earley untuk meminta informasi tentang Howard. Howard akhirnya ditemukan dan diinterogasi walau tak ditahan. “Para agen ABI merekomendasikan Howard untuk didakwa atas pembunuhan Ronda setelah investigasi mereka rampung. Akan tetapi sejumlah pejabat kota menolak dan kemudian Howard keburu kabur ke luar kota. Ia berasal dari keluarga terpandang. Pembunuh Ronda pun tetap bebas dan tuduhan terhadap Johnny D jelas tidak adil dan semua yang mencintai Ronda masih menunggu keadilan ditegakkan,” tandas Earley. Data Film: Judul: Just Mercy| Sutradara: Destin Daniel Cretton | Produser: Gil Netter | Pemain: Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Brie Larson, Rob Morgan, Tim Blake Nelson, Rafe Spall, Michael Harding, Karan Kendrick | Produksi: Endeavor Content, One Community, Macro Media, Gil Netter Productions, Outlier Society | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Drama Biopik | Durasi: 129 menit | Rilis: 25 Desember 2019, Mola TV Baca juga: Spike Lee Joints , dari Malcolm X hingga Viagra

  • Tentara Rusia di Kapal Selam Indonesia

    ANGGOTA Korps Hiu Kencana memanggilnya: Pak Zukov. Orangnya tidak begitu tinggi namun memiliki wajah keras khas Rusia. Berbeda dengan penampakan luarnya yang garang, Zukov yang konon merupakan seorang perwira Angkatan Laut Uni Soviet (soal itu memang sengaja dirahasiakan) keseharian-nya sangat ramah. “Dia mengajarkan saya banyak hal tentang dunia kapal selam, terutama mengenai detil yang terkait dengan kapal selam kelas Whiskey yang memang dibuat Uni Soviet,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana TNI-AL angkatan awal. Zukov adalah salah satu dari sekira 300 anggota AL Uni Soviet yang sempat “ditugaskan” untuk mengawaki 6 kapal selam jenis Whiskey yang dibeli Indonesia. Ceritanya, sekira Juni 1962, pihak intelijen Indonesia menginformasikan HNMLS Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Kapal induk yang memiliki nomor lambung R81 itu khusus datang dari pangkalan mereka di Den Helder demi memperkuat pertahanan laut militer Belanda di wilayah Irian Barat (sekarang Papua). Informasi itu langsung direspon secara cepat oleh Presiden Sukarno. Dia lantas memerintahkan jajaran angkatan bersenjata-nya (terutama ALRI) untuk menambah pembelian kapal selam kelas Whiskey dari Uni Soviet: dari 6 menjadi 12. Permintaan itu langsung diamini Perdana Menteri Nikita Krushchev. Maka dikirimlah kapal selam yang memiliki torpedo otomatis 533 mm yang merupakan senjata bawah air tercanggih di zamannya. Persoalan muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam tambahan itu. Maka untuk mengantisipasi situasi itu, pemerintah RI “mengundang” ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet untuk menjadi sukarelawan. Lagi-lagi Uni Soviet mengabulkan permintaan RI tersebut. “Yang saya ingat, ada sekitar 300-an anggota Angkatan Laut Uni Soviet hadir di Surabaya guna memperkuat 6 kapal selam yang belum memiliki kru Indonesia itu,” ungkap Suharta. Menurut Suharta, semua anggota Angkatan Laut Uni Soviet itu praktis melakukan aktifitas di Indonesia atas dasar sukarela. Maka dalam kegiatan sehari-hari, mereka menjalankan tugas tanpa menyandang jabatan resmi dan pangkat sama sekali. Soal kehadiran dan peran penting orang-orang Rusia itu diakui juga oleh F.X. Soeyatno. Bahkan tidak sekadar sebagai instruktur, mereka pun terlibat aktif dalam patroli. Alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu bersaksi jika mereka merupakan prajurit bawah laut yang tangguh. “Saya pernah bertugas bersama mereka mengawasi perairan sepanjang Pantai Utara Irian Barat…” ungkap eks awak kapal selam RI Tjudamani tersebut. Kesan Soeyatno terhadap mereka sangat baik. Walaupun berasal dari negara adidaya, prajurit-prajurit AL Uni Soviet itu jauh dari sikap arogan. Mereka memang tegas saat menjadi instruktur namun dalam keseharian sangat bersahabat. Kendati berbeda bangsa dan bahasa, hubungan antara awak Rusia dengan awak Indonesia berjalan lancar. “Jauh hari kami memang sudah diajarkan bahasa dan budaya Rusia sehinga faktor perbedaan bangsa itu tidak menjadi masalah saat kami bekerja sama,” ungkap anggota ALRI yang mengakhiri karirnya sebagai kolonel itu. Selama di Indonesia, orang-orang Rusia itu ditempatkan di Asrama KPALU masuk kawasan Dermaga Ujung, Surabaya. Hidup mereka sehari-hari ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah RI. Menurut Suharta, cukup sulit bagi orang luar untuk menemui mereka. Selain sibuk mengajar calon awak kapal Indonesia, orang-orang Rusia itu pun tidak sembarangan bergaul kecuali dengan para anak didik mereka. Tetapi menurut Kolonel (Purn) Arifin Rosadi, kehadiran tenaga tempur Rusia di pihak Indonesia sempat sampai ke telinga pihak Belanda dan Amerika Serikat (AS). Kedua-nya tentu sangat mengkhawatirkan kehadiran orang-orang Rusia itu di Indonesia akan memantik perang dunia ketiga. Bisa jadi karena pertimbangan itu, Belanda pada akhirnya mau maju ke meja perundingan. “Andaikan Belanda ngeyel dan perang pecah di Irian, tentara Rusia itu akan dicatat dalam sejarah sebagai tentara Blok Timur pertama yang langsung berhadapan dengan Belanda yang mewakili Blok Barat ,” ungkap eks Kepala Kamar Mesin RI Nagabanda itu. Ketika konflik Indonesia-Belanda mulai mereda, sejak Agustus 1962, secara bertahap orang-orang Rusia pun mulai pulang kampung. Ada cerita menarik ketika orang-orang Rusia itu tahu bahwa perang akan berakhir. Alih-alih bergembira, mereka malah agak kecewa. Mengapa? Ternyata mereka telah dijanjikan oleh Perdana Menteri Kruschev: jika mereka kembali ke Uni Soviet dalam keadaan hidup dan lolos dari peperangan yang terjadi di Indonesia, maka mereka akan dimutasikan ke kapal selam nuklir. “Karena peperangan tak jadi meletus, mereka mengira mutasi pun akan dibatalkan,” ungkap Suharta. Tetapi di depan para komandannya, soal itu segera ditutupi. Mereka tetap menunjukan disiplin yang kuat. Namun bisa jadi itu mereka lakukan untuk menghindar dari pengaduan komisaris politik yang ada di setiap kapal selam. Memperlihatkan sikap membangkang pada perintah atasan, bagi tentara Uni Soviet adalah kiamat. Karena bisa jadi dosanya tak terampuni.

  • Ketika Ali Sastroamidjojo Menutup Konferensi Asia-Afrika

    Para Sri Paduka. Para Paduka Yang Mulia, Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan! Saudara-saudara sekalian! Setelah kita sekarang tiba pada penutupan Konperensi ini, sesudah mengalami suatu minggu yang amat penting, saya ingin untuk mengucapkan terima kasih kepada tuan-tuan sekaliannya atas semangat goodwill dan kesudian untuk memaklumi yang tuan-tuan telah perlihatkan dengan nyata dan terus menerus selama pembicaraan-pembicaraan kita yang berhasil itu: Adalah semangat dan kesudian ini yang memungkinkan untuk bekerja sama dan mendapatkan hasil-hasil yang baik, serta apabila tuan-tuan memperkenankan saya menyatakan suatu perasaan hati saya sendiri yang membuatnya suatu kegembiraan bagi saya, untuk menjadi ketuanya. Paragraf di atas merupakan penggalan pidato penutupan acara Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Kota Bandung, Jawa Barat, yang dibacakan oleh Ketua Umum Kofrensi Asia-Afrika (KAA) Ali Sastroamidjojo. Di hadapan tamu-tamu kehormatan, serta para perwakilan negara-negara di Asia dan Afrika, Ali Sastroamidjojo mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya konferensi negara-negara se-Asia dan Afrika yang pertama, dengan Indonesia sebagai tuan rumahnya. “Kita harus memberikan kredit kepada Ali Sastroamidjojo karena dia juga merupakan tokoh penting penggalang pedamaian dunia di tahun 1950-an, di mana keresahannya atas situasi politik Asia yang terancam oleh kontestasi adidaya Perang Dingin ...” kata sejarawan Wildan Sena Utama dalam acara “Tadaruan dan Pembahasan Pidato Penutup Ali Sastroamidjojo di Konperensi Asia Afrika 1955”, diselenggarakan Asian African Reading Club (AARC), Sabtu (24/04/2021). Ali membuka pidatonya dengan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan KAA, terutama para pimpinan negara yang sejak awal memberikan dorongan kepadanya untuk membuat gagasan konferensi tersebut menjadi nyata. Selanjutnya, Ali mengatakan kalau KAA telah menjadi jembatan persahabatan antara Asia dan Afrika. Acara itu juga menjadi ajang pertemuan langka bagi para perwakilan dari dua benua berbeda, yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi jika KAA tidak terselenggara. “Kita berharap dalam hati kita bahwa perkenalan itu akan membawa tumbuh sesuatu, yakni sesuatu yang berharga yang dapat menguntungkan bukan saja rakyat Asia dan Afrika, akan tetapi juga dunia raya,” kata Ali. Ali mengatakan jika KAA merupakan jawaban dari segala keraguan negara-negara, terutama yang baru saja mengecap rasa dari sebuah kemerdekaan, atas perannya memajukan perdamaian dunia. Selain juga keraguan atas persatuan dan kesatuan Asia dan Afrika yang terhalang oleh perbedaan politik, sosial, serta budaya. Melalui KAA, mereka telah membuktikan bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika dapat bersatu membela perdamaian dunia. Sekalipun mereka memiliki perbedaan yang amat besar di bidang politik, sosial, dan budaya. Melalui kesepakatan bersama, serta kebulatan tekad, para perwakilan menunjukkan bentuk persatuan yang penting. Ali sadar jika dalam proses mencari persatuan dalam konferensi tersebut kadang kala mereka terbentur oleh kepentingan masing-masing, yang membuat perdebatan seringkali terjadi. Namun itu semua baik untuk dicarikan solusinya. Hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan jawaban yang sesuai dengan kepentingan bersama. “Demikianlah pertemuan kita itu tumbuh menjadi lebih bernilai daripada hanya sesuatu konperensi semata-mata. Kita menjadi saling mengerti dalam suasana ramah-tamah dan tulus hati. Kita jadi percaya atas kecakapan kita untuk memberikan bantuan yang berharga buat perdamaian dunia meskipun kita meninjau tujuan kita bersama itu dari sudut pandang berlainan,” ujar Ali. Perdana Menteri ke-8 RI itu menegaskan bahwa keputusan-keputusan yang dibuat bersama di KAA tidak serta-merta menghalangi kepentingan negara perwakilan masing-masing. Justru keberadaan KAA harus dapat membantu permasalahan bersama untuk senantiasa terbebas dari segala beban, tidak hanya politik tetapi ekonomi, sosial, serta budaya. Juga membantu mengurangi ketegangan dunia. Dalam paragraf penutupan pidatonya, Ali berharap sekembalinya para perwakilan ke negara masing-masing dapat membawa rasa kepuasan dan semangat demokrasi yang mereka tunjukkan di dalam KAA. Mereka juga diharapkan bisa membuktikan kepada dunia bahwa negara-negara Asia dan Afrika dapat bersatu menjaga perdamaian. “Banyak tali persahabatan telah diikat selama hari-hari yang lampau, hubungan-hubungan yang berfaedah telah terbentuk. Kita mengetahui sekarang sesama kita, bahwa kita ingin mempraktekkan toleransi dan hidup bersama-sama secara damai satu dengan yang lainnya sebagai tetangga baik,” tegas Ali. “Semoga kita dapat meneruskan perjalanan kita di atas jalan yang telah kita pilih bersama-sama dan semoga Konperensi Bandung ini tetap tegak sebagai sebuah mercusuar yang membimbing kemajuan di masa depan dari Asia dan Afrika,” pungkasnya.

  • Setetes Air di Tanah Gersang

    DAHULU kala, sekelompok masyarakat tinggal di kawasan gersang yang kini menjadi Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Kalau musim kemarau angin menjadi lebih kering dari biasanya.  Di area sekitarnya pun tak ada mata air. Padahal mereka hidup dari bercocok tanam. Orang-orang Cepit di masa lalu mengandalkan rumah peribadatan yang kini dikenal sebagai Candi Banyunibo. Nama itu dalam bahasa Jawa bisa diartikan air ( banyu ) yang jatuh atau menetes ( nibo ). Keberadaan candi ini diharapkan bisa mendatangkan hujan yang membuat sawah dan kebun mereka terus bersemi.  Agar tanah subur dan keluarga mereka hidup sejahtera, mereka juga mengandalkan Hāritī ( Dewi Kesuburan) dan Kuvera atau Atavaka (Dewa Kemakmuran). Kedua sosok ini terpahat di dinding candi. Candi Banyunibo merupakan sebuah gugusan candi. Terdiri dari satu candi induk beratap stupika pada puncaknya. Lalu enam candi perwara (pendamping) berupa stupa berderet di sisi selatan dan timur. Untuk masuk ke ruang candi, orang harus menaiki 14 anak tangga dengan ragam hias kala-makara. Ruang candi sudah kosong. Terdapat tiga relung di dinding utara, timur, dan selatan. Relung sebelah timur ukurannya paling besar dan dihias dengan ukiran kala-makara dengan bingkai berbentuk tapal kuda. “Apa fungsi ketiga relung tersebut, kemungkinan untuk menempatkan arca-arca. Arca di relung timur mungkin arca utama, diapit oleh dua arca dalam relung utara dan selatan. Dugaan ini diperkuat karena tidak ada pentas persajian seperti lazimnya candi-candi Buddha untuk menempatkan singgasana arcanya,” jelas arkeolog Edy Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa. Hāritī dan Kuvera tak diletakkan pada relung-relung utama itu. Tapi di ambang pintu masuk candi; seakan memberkati siapapun yang masuk. Pemujaan Kuno Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan sudah dipuja manusia sejak Zaman Batu Akhir ( Paleolitikum ). Ia dipercaya punya andil dalam segala hal di alam semesta. Ketika manusia mulai bercocok  tanam, keberadaannya menjadi semakin penting. Pemujaan terhadapnya bisa ditemui di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan seringkali diidentikkan dengan Dewi Sri. Padahal, ada sosok perempuan lain yang memiliki peran yang sama, yakni Dewi Hāritī. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara dalam tugas akhirnya berjudul “Penggambaran Hariti di Jawa dan Bali (Abad ke-7-15 M)”, dalam kajian arkeologis, Hāritī tergolong dewa-dewi pendukung ( minor ), bukan dewa-dewi yang punya kedudukan tinggi ( mayor ). Gambaran tentangnya tersua dalam agama Buddha dan Hindu. Menurut versi agama Buddha aliran Sarvvāstivāda, Hāritī adalah seorang yaksi (manusia setengah dewa) bernama Huanshi dari Rajagrha. Ia memiliki 500 anak. Karena mengalami keguguran, Huanshi menjadi bengis dan suka memangsa anak-anak. Tindakannya membuat penduduk Rajagrha gelisah dan memohon pertolongan Buddha. Agar Huanshi bertobat, Buddha membawa pergi dan menyembunyikan putra bungsu sekaligus anak kesayangannya, Priyankara. Sampai akhirnya datanglah Huanshi yang memohon agar anaknya dikembalikan. Buddha memberi pelajaran kepada Huanshi bahwa kehilangan anak adalah petaka bagi ibu manapun. Huanshi akhirnya bertobat. Ia kemudian ditasbihkan Buddha menjadi Hāritī dan ditugaskan menjadi Dewi Kesuburan dan pelindung anak. Versi agama Hindu menyebut Hāritī dengan nama Vrddhi, yang dalam bahasa Sansekerta artinya berkembang. Ia merupakan istri dari Dewa Kuvera, penjaga arah mata angin utara. Hāritī menjalankan peran sebagai Dewi Kesuburan karena menjadi pendamping dari Dewa Kesuburan pula. Di Indonesia, penggambaran Hāritī dituangkan dalam bentuk arca maupun relief candi dan dapat dijumpai di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Di Candi Banyunibo, relief Hāritī dipahatkan di dinding lorong pintu masuk sebelah utara. Relief ini terdiri dari tiga bagian yang terpisah diagonal. Perkiraan ukuran panil utuh memiliki panjang 174 cm dan lebar 103 cm. Kondisi sudah tidak utuh dan banyak bagian yang terpotong. Hāritī digambarkan dengan posisi duduk virasana (bersila) dan sikap tangan varamudra (memberi anugerah). Di dekat kakinya, lima anak duduk berjejer; seorang di kanan dan empat di sebelah kiri. Anak-anak itu berjongkok dan merapat satu sama lain, kecuali seorang anak di sebelah kanan yang duduk miring bersandar pada Hāritī. Ada dua anak lain sedang memanjat pohon. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara, penggambaran tersebut mewakili peran serta kedudukan Hāritī sebagai dewi kesuburan dan pelindung anak. Masyarakat Jawa Kuno mungkin juga menyamakannya dengan Dewi Sri. Sebagian besar masyarakat waktu itu bercocok tanam. Agar lahan pertanian subur dan panen melimpah, peran Hāritī pun dibutuhkan. “Tidak hanya untuk kesuburan perempuan dan kesejahteraan keluarga tetapi juga kesuburan tanah pertanian dan hasil panen,” tulis dia. Jika Hāritī dipahatkan di dinding sisi utara lorong pintu masuk candi, relief Kuvera atau Atavaka yang merupakan Dewa Kemakmuran dipahatkan di dinding sisi selatan lorong pintu masuknya. Maka, lengkap sudah harapan masyarakat Cepit di masa lalu dengan keberadaan dua sosok itu di Candi Banyunibo. Lahan pertanian mereka subur. Anak-anak mereka terlindungi. Hidup mereka makmur dan sejahtera. Pemugaran yang Sulit Candi Banyunibo ditemukan pada 1932 dalam keadaan runtuh. Sebagian besar batu lepas, berserakan, dan tertimbun tanah. Banyak batu asli yang tak bisa ditemukan kembali. Ketika ditemukan, ruang candinya kosong. Tak ada arca pada relung-relungnya. Stupa-stupa pendampingnya pun tak lagi berdiri tegak. Pemugaran sulit dilakukan dan memakan waktu lama. Pemugaran dilakukan dua kali dan selesai pada 1978. Siapa yang membangun Candi Banyunibo belum jelas. Sebab, tak ada prasasti yang menyebut keberadaan candi ini. Namun, menurut Edy Sedyawati, bentuk atap candinya mirip dengan Candi Semar di Kompleks Candi Dieng, candi perwara Candi Gedongsongo III, dan Candi Plaosan Lor. Karenanya, “Diperkirakan Candi Banyunibo berasal dari abad ke-9, yaitu masa pemerintahan Dinasti Sailendra.” Candi Banyunibo telah kembali tegak. Keberadaannya melengkapi khazanah budaya Nusantara yang bisa dinikmati beragam generasi untuk bersantai sekaligus mempelajari sejarah dan kearifan masa lalu. Saat ini di sekeliling Candi Banyunibo terhampar perkebunan tebu dan persawahan yang luas. Jika ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana suasana di Candi Banyunibo, Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diiniasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation tengah menggelar Candi Darling From Home. Anda bisa menyaksikan penananaman pohon di arena candi dan virtual tour Candi Darling melalui video di channel youtube Siapdarling  dan informasi mengenai kegiatan ini di website  siapdarling.id dan instagram  @siapdarling. Kalau sudah lebih rimbun, candi ini pasti akan semakin nyaman dikunjungi. Maka, Candi Banyunibo pun akan sesuai namanya. Ia seakan menjadi setetes air di tanah yang gersang.

  • Enam Aktor Asia Pemilik Piala Oscar

    ACADEMY Awards atau kondang disebut Piala Oscar ke-93 pada Minggu (25/4/2021) menghadirkan sejarah tersendiri bagi para pelaku film asal Asia. Dua sutradara dan tiga aktor Asia masuk beragam nominasi. Dua di antara mereka pulang dengan menggenggam trofi penghargaan tertinggi di ajang perfilman global itu. Sineas asal China Chloé Zhao naik ke atas panggung untuk menerima trofi setelah filmnya, Nomadland (2020), jadi film terbaik. Ia mencatatkan diri sebagai sutradara perempuan Asia pertama yang memenangi Piala Oscar. Selain Zhao, Youn Yuh-jung menerima Piala Oscar setelah aktris berusia 73 tahun itu menang di kategori aktris pendukung terbaik di film Minari  (2020). Sementara, Christina Oh (sutradara terbaik/ Minari ), Riz Ahmed (aktor terbaik/ The Sound of Metal ), dan Steven Yeun (aktor terbaik/ Minari ) harus puas sekadar masuk nominasi. Zhào Tíng alias Chloé Zhao yang memenangi film terbaik dan sutradara terbaik untuk film Nomadland  ( oscars.org ) Dari 92 gelaran Piala Oscar, sangat jarang aktor Asia mendapat apresiasi layak. Hingga kini tak lebih dari 20 aktor berdarah Asia yang pernah masuk nominasi. Hanya enam di antaranya membawa pulang trofi, termasuk Youn yang terbaru. Hal itu dianggap takkan mengubah pandangan Hollywood terhadap aktor-aktor Asia. “Hollywood bisa mengklaim bahwa mereka mempromosikan keragaman dengan award itu. Itu bagian dari resume mereka namun itu bukan berarti menjadi indikasi sesungguhnya dari sebuah perubahan besar. Kita bisa bicara tentang sejarah semau kita tetapi bagi saya ‘sejarah’ hanya sekadar jadi trivia, kecuali sejarah itu sendiri bisa mengubah banyak hal secara kultural,” ungkap Brian Hu, kritikus film dan televisi dari San Diego State University, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Isu diskriminasi dan seksis acap jadi penghambat para aktor dan aktris Asia bisa diapresiasi secara layak dalam Piala Oscar sejak pertamakali dihelat pada 1929. Berikut lima di antara pemenangnya selain Youn: Yul Brynner Yuliy Borisovich Bryner alias Yul Brynner yang menang Piala Oscar untuk film The King and I (Vandamm Studios/oscars.org) Lahir di Vladivostok, Uni Soviet (kini Rusia) pada 11 Juli 1920, aktor bernama asli Yuliy Borisovich Bryner punya perpaduan darah Rusia, Jerman, Swiss, dan Mongolia. Aktor beretnis Buryat ini sempat hidup berpindah-pindah dari China hingga Prancis sebelum akhirnya hijrah ke Amerika Serikat setahun pasca-pecahnya Perang Dunia II. Di Amerika itulah Brynner mulai belajar akting. Debutnya dilakoni di Broadway pada 1941. Butuh delapan tahun baginya untuk bisa tampil perdana di film, Port of New York (1949). Namanya kian melejit setelah mendapatkan peran utama sebagai Raja Mongkut asal Siam (kini Thailand) di film musikal The King and I (1956). Film tersebut mengantarkan Brynner sebagai aktor keturunan Asia pertama yang menang Piala Oscar di kategori aktor terbaik pada 1957. Tetapi hampir sepanjang kariernya Brynner selalu diusik pertanyaan soal asal-usulnya, antara lain tentang benarkah ia keturunan dari salah satu panglima Genghis Khan atau keturunan Gipsi Rumania? Spekulasi berseliweran di sekitarnya. Salah satunya menyebutkan, ayahnya orang Mongolia bernama Taidjie Khan yang lahir di Swiss dan meminjam nama “Bryner” agar dapat pekerjaan. Simpang siur asal-usul itu betebaran lantaran Brynner tak pernah tahu detail garis keluarga dari ayahnya. Kebenaran asal-usul Brynner justru baru disingkap Yul “Rock” Brynner, putra sulungnya dari istri pertama, Virginia Gilmore. Michaelangelo Capua dalam Yul Brynner: A Biography mengungkapkan, Rock mendapati kebenaran bahwa ayahnya merupakan keturunan seorang dokter asal Swiss, Johannes Bruner, dan istrinya, Marie Huber von Windisch. Putra bungsu mereka, Julius Bruner, jadi petualang ke Afrika Utara hingga Jepang. Saat bekerja jadi juru tulis di perusahaan impor di Yokohama, ia mengganti namanya jadi Yulius Bryner. “Yulius kemudian pindah ke Vladivostok dan menikahi Natalya Kurtukova, seorang perempuan berwatak keras dan berkarakter dingin putri dari seorang pangeran Mongolia yang garisnya bisa ditarik sampai ke Genghis Khan. Salah satu dari putra mereka adalah Boris, yang kemudian menikah dengan Marousia Blagovidova. Anak pertama mereka yang lahir 11 Juli 1920 dinamai Youl Borisovitch Bryner alias Yul Brynner,” tandas Capua. Umeki Miyoshi Umeki Miyoshi, aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar ( oscars.org/Metro-Goldwyn-Mayer Inc) Nancy Umeki. Begitu nama panggungnya saat merintis karier sebagai biduan klub malam di Hokkaido pasca-Perang Dunia II. Aktris kelahiran Otaru pada 8 Mei 1929 ini kemudian menseriusi musik pop dan seni peran di teater kabuki. Akhirnya Umeki mendapatkan peran pendukung perempuan di film drama Sayonara (1957) dengan memerankan karakter bernama Katsumi. Sayonara diangkat dari novel bertajuk sama karya James Michener (1954) yang mengisahkan cinta terlarang antara personil militer Amerika dan perempuan Jepang di masa Perang Korea. Film tersebut memetik tiga Piala Oscar, termasuk kategori aktor terbaik atas nama Red Buttons dan aktris terbaik yang dimenangi Umeki. Umeki jadi aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar 1958. “Filmnya menyandingkan suasana kemiliteran dengan eksotisme Jepang: antara pangkalan yang kaku dengan teater kabuki dan rumah-rumah beralaskan tatami ; antara seragam militer dengan kimono; prajurit Amerika bersuara berat dengan perempuan Jepang. Hubungan yang digambarkan antara prajurit dan perempuan Jepang menempatkan hubungan interasial ke era baru yang tidak menyenangkan,” tulis Sarah Kovner dalam Occupying Power: Sex Workers and Servicemen in Japan. Sayonara juga mengumbar “eksotisme” Jepang dalam bentuk kevulgaran perempuan Jepang. Hal ini menjadi sorotan sosiolog Nancy Wang Yuen, bahwa stereotip dan imej eksotis dari peran seperti yang dimainkan Umeki itu terus terbawa di industri film Hollywood hingga kini. “Melihat (karakter) Katsumi memandikan orang kulit putih, kurang lebih seperti itulah cara perempuan Asia yang diumbar seksualitasnya dan dianggap eksotis dalam imajinasi Hollywood. Seksualitas itulah satu-satunya cara aktris Asia bisa memenangkan Piala Oscar dan dia (Umeki) benar-benar mencontohkan masalah-masalah representasi perempuan Asia,” tandas Yuen, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Ben Kingsley Piala Oscar yang diraih Ben Kingsley atas perannya di biopik Gandhi (Columbia Pictures/oscars.org) Bernama lahir Krishna Pandit Bhanji, dia dilahirkan pada 31 Desember 1943. Namun demi memperlancar kariernya di dunia akting, pada medio 1960-an Krishna memilih ganti nama berbau Inggris menjadi Ben Kingsley. Seni peran sudah mendarah daging dalam dirinya, terutama diturunkan dari ibunya, Anna Lyna Mary Goodman. Anna merupakan aktris dan model sebelum dipersunting peneliti asal Gujarat, Dr. Rahimtulla Harji Bhanji. Terjun ke dunia film sejak 1972, Kingsley membintangi 97 film, termasuk yang terakhir Locked Down (2021). Namanya melejit setelah memenangi Piala Oscar 1983 sebagai aktor terbaik dengan memerankan tokoh legendaris Mahatma Gandhi dalam biopik Gandhi (1982). Saat ikut casting , Kingsley sudah punya banyak keunggulan. Selain penampilan fisik dan warna kulitnya mirip dengan Gandhi, Kingsley sudah malang-melintang 15 tahun di seni teater di Royal Shakespeare Company. Saat diumumkan, Kingsley mendapat dukungan dari Indira Gandhi. “Tetapi pekerjaan saya terusik banyak orang. Bahkan satu adegan sederhana saja bisa jadi perhatian. Dua puluh kali dalam sehari orang-orang akan mendesak saya dengan gagasan-gagasan mereka. Dan ketika adegan pemakaman Gandhi dengan 300 ribu (pemeran) ekstra, sayalah sosok yang dilihat semua orang. Saya belajar mendengarkan suara hati saya dengan sabar yang mengatakan untuk jadi diri sendiri,” ujar Kingsley kepada New York Magazine , 20 September 1982. Haing Somnang Ngor Satu-satunya aktor Asia Tenggara yang memenangkan Piala Oscar ( unl.edu/oscars.org ) Sebelum munculnya biopik The Killing Fields (1984), tak satu pun di kalangan perfilman mengenal Haing S. Ngor. Namanya dalam sekejap melejit setelah memerankan tokoh wartawan Kamboja, Dith Pran, dengan latar belakang perang saudara Kamboja dan teror Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Lahir di Samrong Yong pada 22 Maret 1940, Haing berprofesi sebagai dokter kandungan di Pnom Penh hingga Khmer Merah merebut kekuasaan di ibukota Kamboja itu. Pendudukan itu membuat Haing terpaksa menyamar sebagai orang biasa di kamp tawanan lantaran rezim Khmer Merah menargetkan membantai para intelektual dalam rangka eksperimen sosial “Year Zero”. Saking harus mempertahankan “aktingnya” sebagai orang awam, Haing sampai harus mengikhlaskan istri dan anak dalam kandungannya meninggal di kamp. Ia tak bisa membongkar penyamarannya demi melakoni operasi Caesar . Pasca-kejatuhan Khmer Merah, Haing pindah ke Amerika untuk meneruskan kariernya sebagai dokter. Yang tak disangkanya kemudian adalah sutradara Roland Joffé mendekatinya ketika akan menggarap The Killing Fields. “Setelah sebulan casting , dia (Joffé) punya sekumpulan aktor yang menarik. Ada John Malkovich, Sam Waterston, dan Haing S. Ngor awalnya tidak diperhitungkan tapi pertemuan mereka sangat intens. Faktanya memang Haing belum pernah berakting sebelumnya tapi John melihat hal berbeda: dia bilang Haing justru sudah berakting sepanjang hidupnya –Anda harus jadi aktor yang hebat untuk bisa selamat dari Khmer Merah,” kenang aktor Julian Sands kepada The Guardian , 10 November 2014. Meski sempat menolak untuk masuk ke proyek film dan memerankan Dith Pran, Haing kemudian berubah pikiran setelah dibujuk tim produksi. Keputusannya ternyata tak keliru. Pada ajang Academy Awards 1985, Haing memenangkan Piala Oscar untuk kategori aktor pendukung terbaik dan jadi aktor Asia pertama yang memenangkannya di debut film. “Lagipula saya menghabiskan empat tahun di sekolah akting Khmer Merah. Saya ingin memperlihatkan pada dunia betapa dalamnya bencana kelaparan di Kamboja dan berapa banyak orang yang mati di bawah rezim komunis,” ujar Haing, dikutip The Vietnam Experience: A Concise Encyclopedia of American Literature, Songs, and Films. F. Murray Abraham Film Amadeus  meroketkan nama Murray Abraham (Los Angeles Public Library/Orion Pictures Corporation) Sosok kelahiran Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat pada 24 Oktober 1939 ini tak punya darah seni dari ibunya, Josephine Stello, maupun ayahnya, Fahrid Abraham. Namun begitu aktor blasteran Suriah-Italia ini ikut teater sekolah, minatnya pada seni peran tumbuh dengan sendirinya. Hingga kini ia sudah membintangi 73 film. Lewat film Amadeus (1984), ia memenangkan Piala Oscar kategori aktor terbaik di ajang Academy Awards 1985. Di film itu Abraham memerankan komposer Italia Antonio Salieri, yang dari kawan menjadi lawan komposer Wolfgang Amadeus Mozart. Amadeus yand diproduksi dengan biaya hanya 19 juta dolar laris di pasaran dengan meraup laba 90 juta dolar. Capaian tersebut kian sempurna karena Abraham memenangkan Oscar dengan mengalahkan Jeff Bridges ( Starman ), Albert Finney ( Under the Volcano ), Sam Waterston ( The Killing Fields ), dan rekan Abraham sendiri di film Amadeus , Tom Hulce. “ Amadeus jadi film ketujuh dalam sejarah yang menang delapan Oscar (dari 11 nominasi). Penampilan Abraham mengungguli rekannya sendiri, Albert Finney. Sampai lima tahun kemudian Abraham tetap tak menyangka: ‘Piala Oscar adalah event paling penting dalam karier saya. Saya diundang makan malam oleh para raja, pendapatan yang setara dengan para idola saya, memberi kuliah umum di Harvard dan Columbia, serta merasa bangga bisa ambil bagian di perkumpulan seniman internasional terhebat dunia,” kata Abraham, dikutip Anthony Holden dalam The Oscars.

  • Peran Indonesia dalam Kemerdekaan Aljazair

    PADA akhir Mei 1956, Mohammed Benyahia dan Lakhdar Brahimi pergi dari Paris ke Bandung. Kedua pemuda Aljazair itu adalah anggota dari Union Générale des Etudiants Musulmans Algériens (UGEMA), organisasi aktivis mahasiswa yang memiliki koneksi dengan organisasi revolusioner Aljazair, Front de Libération Nationale (FLN). Benyahia baru saja memulai kariernya sebagai pengacara, sementara Brahimi adalah mahasiswa ilmu politik di Paris. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari karier dan sekolah demi mencurahkan waktu dan tenaga untuk perjuangan kemerdekaan Aljazair dengan pergi ke Bandung.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page