top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Orang Jerman Dibuat Kagum Orang Indonesia

    Ketika memulai tugasnya sebagai perwakilan perusahaan telekomunikasi Jerman Telefunken di Indonesia pada akhir 1963, Horst Henry Geerken kaget lantaran menemukan banyak hal baru. Udara panas dan bau rokok kretek di hampir tiap tempat yang disinggahinya amat mengganggunya. Namun, hal yang paling sulit dipahaminya adalah kebiasaan “ngaret”, istilah untuk menamakan sikap tidak tepat waktu, orang Indonesia. Bukan perkara mudah baginya untuk bisa menyesuaikan diri dengan kultur tersebut. “Di mata saya, jam karet melambangkan ketidakpedulian terbesar sehingga pada awalnya, saya sulit mengerti karakter orang Indonesia yang satu ini. Jam karet adalah idealisme orang Indonesia. Bagi kami, hal ini membuat pekerjaan jauh lebih sulit dan makan waktu. Salah satu aspek positifnya adalah kelenturan di mana beberapa masalah dapat diatasi dengan lebih mudah dibandingkan di negara-negara lain,” ujarnya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . Namun, Geerken akhirnya bisa beradaptasi dan mengatasi semua kendala itu. Dari 18 tahun masa tinggalnya di Indonesia untuk mengerjakan beragam proyek pemerintah Indonesia, Geerken berubah menjadi pengagum Indonesia. Dia kagum pada kekayaan alam Indonesia, pada tradisi-budayanya yang amat beragam, dan senang pada orang Indonesia yang umumnya ramah, sopan, setia, dan berselera humor tinggi. “Di mana-mana di negara kepulauan ini, baik di kota besar maupun kota kecil, kita selalu berjumpa dengan orang-orang yang selalu punya bahan tertawaan. Sulit mencari orang Indonesia yang tidak punya selera humor,” ujarnya. Humor berkesan didapatnya ketika berkenalan dengan Ir. Gunung Marpaung, kepala penerbangan sipil di Jakarta, saat mengerjakan proyek bandara internasional Tuban (kini Bandara Internasional Ngurah Rai) di Bali pada awal 1964. Pria berdarah Batak itu memperkenalkan dirinya berdarah Jerman meski berkulit gelap dan postur tubuhnya seperti orang Melayu kebanyakan. Pernyataan itu mengejutkan Geerken yang jelas tak paham arah omongan Marpaung sebagai banyolan “gaya Medan”. Dia baru paham ketika Marpaung menjelaskan lebih lanjut. “Kakek saya makan misionaris Jerman,” kata Marpaung, dikutip Geerken. Kesan baik yang didapat Geerken juga datang dari tingginya penguasaan orang-orang Indonesia pada pekerjaan dan kreativitasnya. Itu antara lain dilihatnya dari seorang pembantu di rumahnya yang bertugas sebagai koki. Meski tak pernah membaca resep, pembantu itu hapal begitu banyak cara memproses masakan dan cepat menguasai ketika diajarkan menu baru. Kemampuan para dukun mengobati juga amat mengagumkan Geerken, yang antara lain didapatnya dari cerita seorang dokter di Kedubes Jerman yang mengalami kecelakaan mobil. Luka-luka sang dokter sembuh begitu diobati seorang dukun atas saran kawannya yang Indonesia.  “Setelah pulang, dokter itu bercerita panjang lebar tentang pengobatan ajaib ini. Luka itu tak kelihatan lagi 24 jam kemudian. Dia bisa meneruskan perjalanannya tanpa kesulitan. Katanya, hal ini mustahil dengan pengobatan Barat yang ortodoks,” ujar Geerken. Kreativitas orang Indonesia amat dikagumi Geerken. Yang paling berkesan adalah ketika dia bersama Sudjono, supir Geerken, ke Bali menggunakan mobil. Di tengah perjalanan, tangki mobil mereka bocor setelah menghantam batu besar. Alih-alih bingung, Sudjono bersikap tenang sambil berkata “tidak apa-apa” dan turun dari mobil. Sudjono lalu mengambil sebuah pisang dari pohon yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Pisang tersebut lalu diremasnya berbarengan dengan sepotong sabun sehingga bentuknya berubah menjadi seperti permen karet. Adonan itulah yang digunakan Sudjono untuk menambal tangki bahan bakar mobil. Hasilnya, ajaib, tangki tak bocor lagi bukan hanya bertahan sampai bengkel terdekat namun hingga mencapai Bali dan kembali lagi ke Jakarta. “Orang Indonesia memang genius dalam soal improvisasi. Saya terus saja terkaget-kaget dengan keahlian dan kemampuan mereka mengatasi masalah yang paling sulit dengan cara yang paling sederhana,” kata Geerken.

  • Romantika Cinta Gus Dur dan Nuriyah

    Sejak remaja Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak pernah lepas dari buku. Dari sekian waktu yang dijalani, dia lebih memilih menghabiskan untuk membaca. Itulah yang membuat Gus Dur, meski sudah berusia 20-an, belum pernah berkencan, apalagi mempunyai pacar. Fokusnya teralihkan oleh alam pikir yang liar, hasil kebebasan membaca beragam buku. Ditambah dia pun "menggilai" sepakbola dan film. Gus Dur dikenal sebagai pria serius, tapi pemalu. Melihat sifatnya itu, K.H. Fatah, paman Gus Dur merasa khawatir. Apalagi keponakannya itu telah mendapat tawaran kuliah di Kairo, Mesir. Makin jauh saja dia dengan romantika percintaan yang seharusnya dirasakan oleh remaja seusianya. Sang paman menganjurkan agar Gus Dur mencari istri terlebih dahulu sebelum berangkat ke Kairo. “Soalnya, kalau menunggu pulang dari luar negeri, kamu hanya akan mendapat wanita tua dan cerewet,” ujar K.H. Fatah kepada Gus Dur seperti ditulis M. Hamid dalam Gus Gerr: Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa . Gus Dur cukup tertegun dengan ucapan sang paman. Rupanya dia juga khawatir jika perkataan itu menjadi kenyataan. Untungnya K.H. Fatah tidak cuma memberi saran saja. Sejak awal dia memang berniat mencarikan calon buat keponakannya. Lalu disodorkan putri seorang pedagang terkenal di Jombang, H. Abdullah Syukur, bernama Sinta Nuriyah. Gus Dur tidak menolak. Sayangnya, Nuriyah tidak langsung menerima Gus Dur. Ada keraguan dalam diri si gadis tentang calon pendamping hidupnya itu. Gus Dur pun mau tidak mau terbang ke Kairo masih dengan status lajangannya. Kepada Greg Barton, Gus Dur mengenang jika selama menghabiskan tahun-tahun di Kairo dia terus berkorespondensi dengan Nuriyah. Surat yang datang secara teratur membuktikan bahwa Gus Dur tidak benar-benar ditolak. Dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid , Barton menyebut kalau keduanya mulai yakin satu sama lain menjelang tahun 1966. Bahkan demi meyakinkan dirinya, Nuriyah sempat pergi ke “tukang ramal”. Dia ingin memastikan jika pemuda yang dipilihnya itu benar-benar tepat untuknya. “Jangan mencari-cari lagi. Yang sekarang ini akan menjadi teman hidup Anda,” ujar Nuriyah, menirukan perkataan si “tukang ramal”, kepada Barton. Meski begitu, Nuriyah masih belum sepenuhnya yakin. Gus Dur sebenarnya bukanlah satu-satunya pemuda yang tertarik kepadanya. Banyak pemuda lain yang menaruh hati dan bahkan berusaha meminangnya. Tetapi pribadi yang halus, serta pikiran yang tajam, sebagaimana terlihat dari surat-suratnya, menjadi Gus Dur memiliki nilai lebih di mata Nuriyah. Dan dia menyukai sisi Gus Dur tersebut. Pertengahan tahun 1966, seperti biasa Gus Dur mengirimi Nuriyah sepucuk surat. Namun isi surat kali ini amat berbeda dengan surat-surat sebelumnya. Gus Dur mencurahkan segenap perasaan sedih karena kegagalan studinya di Mesir. Mengungkapkan rasa putus asa, dan segala hal yang telah dialaminya di negeri itu. “Mengapa orang harus gagal dalam segala hal? Anda boleh gagal dalam studi, tetapi paling tidak Anda berhasil dalam kisah cinta,” kata Nuriyah. Surat balasan Nuriyah menjadi obat bagi Gus Dur. Kesedihannya berubah menjadi kebahagiaan. Tanpa menunggu Gus Dur segera menulis surat kepada ibunya di Jombang untuk meminang Nuriyah. Pernikahan Unik Tahun 1968, Nuriyah diterima di  Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sebelum memulai studi dan mondok di Kota Pelajar itu, orang tua Nuriyah memutuskan agar putrinya melangsungkan pernikahan terlebih dahulu dengan Gus Dur. Namun ada sedikit kendala. Gus Dur saat itu belum pulang ke tanah air. Dia baru setengah jalan menempuh studi di Baghdad, Irak. Setelah berembuk, permasalahan jarak itu akhirnya dapat dipecahkan. Kedua keluarga pun sepakat melangsungkan pernikahan bulan September (sumber lain menyebut Juli) tahun itu juga. Lalu bagaimana dengan Gus Dur yang terpaut jarak lebih dari 12.000 kilometer dari Indonesia? Di sinilah keunikan pernikahannya. “Pemecahan masalah ini malah menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak bagi mereka yang tidak tahu apa rencana ini sebenarnya,” ungkap Barton. Gus Dur tidak bisa meninggalkan studinya. Dia juga tidak bisa seenaknya pulang ke tanah air. Sebab tidak bisa hadir langsung sebagai mempelai pria, sosok Gus Dur diwakilkan oleh Kiai Bisri Syansuri, kakeknya. Para tamu mendadak heboh ketika melihat seorang kiai berusia 80 tahun bersanding di pelaminan dengan seorang pengantin perempuan belia. “Walaupun secara teknis Gus Dur dan Nuriyah telah menikah, mereka menganggap pernikahan itu tak lebih daripada sekedar pertunangan. Mereka sepakat bahwa mereka akan hidup bersama hanya setelah keduanya menyelesaikan studi mereka masing-masing,” lanjut Barton. Pada 1971, setelah gagal melanjutkan studi di Eropa, Gus Dur pulang ke Jawa. Pasangan yang selama tiga tahun terakhir menjalani hubungan jarak jauh itu pun akhirnya bertemu. September 1971 mereka mengadakan resepsi pernikahan dan memulai hidup berumah tangga. Nuriyah pun kerap menemani Gus Dur dalam banyak kegiatan, seperti berkunjung secara teratur ke Jombang.

  • Ekspedisi Awal ke Pedalaman Papua

    Potensi alam Indonesia memang tak ada habisnya. Dengan luas daratan hampir 2 juta km² dan lautan lebih dari 3 juta km², ditambah keberadaan 17 ribu pulau, masih banyak tempat di Indonesia yang tidak terdokumentasi dengan baik. Bahkan di Papua, sebagai pulau terbesar di Indonesia, para peneliti kerap menemukan jenis flora-fauna baru. Artinya potensi alam di tanah Papua sangat terbuka untuk dieksplorasi. Ahmad Yunus dalam Meraba Indonesia: Ekspedisi Gila Keliling Nusantara , mencatat bahwa ekspedisi alam di tanah Papua dilakukan sejak abad ke-19. Saat itu eksplorasi dilakukan oleh tiga bangsa Eropa: Belanda, Inggris, dan Jerman. Belanda lebih banyak menjelajah wilayah sebelah barat sekitar tahun 1848; Jerman menguasai daratan sebelah utara; sementara Inggris di sebelah selatan. Kepentingan Belanda lebih politis ketimbang dua negara lain. Sebagai pemilik Hindia Belanda, aparat Raja Willem II itu melakukan ekspedisi di Papua demi kepentingan kerajaannya. Selama pertengahan abad ke-19, Belanda mengumpulkan banyak informasi terkait kondisi alam di pulau terbesar ke-2 di dunia tersebut. Pada masa itu juga naturalis besar Inggris, Alfred Russel Wallace, berhasil menjelajahi sebagian hutan Papua. Dia meneliti berbagai jenis burung, kupu-kupu, dan hewan lain sepanjang Juni-September 1860. “Sekitar seminggu saya pergi ke gunung mengumpulkan sampel, dan kembali untuk mempersiapkan perjalanan ke Papua. Saya pikir saya akan tinggal di tempat ini dua atau tiga tahun, karena ini adalah pusat dari daerah yang paling menarik dan hampir tidak dikenal,” tulis Wallace dalam Alfred Russel Wallace: Letters and Reminiscence Vol 1 . Pada 1909, tim ekspedisi dari Inggris memasuki wilayah selatan Carstenz. Menurut Anton Sujarwo dalam Wajah Maut Mountaineering Indonesia: Jejak Pendakian Gunung Nusantara , daerah yang dimasuki para ahli burung itu dipenuhi oleh rawa-rawa mematikan. Selama ekspedisi, setidaknya ada 16 orang anggota yang tewas dan lebih banyak yang jatuh sakit. Ekspedisi itu pun dianggap sebagai kegagalan. Pada 1912, Inggris kembali mengirim tim penjelajah, beranggotakan 200 orang lebih. “Tidak ada catatan terperinci mengenai sejauh mana keberhasilan ekspedisi ini mendaki Puncak Carstenz, namun yang jelas tiga orang anggota ekspedisi tewas dalam perjalanan ini,” terang Anton. Sekira tahun 1930-an, giliran Amerika Serikat yang mengirim ekspedisi besar ke tanah Papua. Penjelajahan para naturalis Negeri Paman Sam itu, kata Yunus, merupakan bagian dari penelitian ekologi mendalam yang dilakukan tim American Museum of Natural History, New York untuk mengungkap kekayaan flora-fauna di Papua, melengkapi laporan perjalanan para petualang Eropa sejak abad ke-19. “Mereka melakukan peneltian hingga Pegunungan Jayawijaya. Dari lembaga inilah kemudian lahir para peneliti yang ulung tentang burung-burung Papua di dunia,” terangnya. Dijelaskan Bruce Beehler, dkk dalam Ekologi Papua , perjalanan para ilmuwan AS itu dibiayai penuh oleh pewaris Standard Oil, Richard Archbold. Ekspedisinya pun dikenal sebagai Ekspedisi Archbold. Dia diketahui menaruh minat cukup besar terhadap bidang ekosistem dan flora-fauna. Sebagai seorang pakar mamalia, Richard memimpin langsung ekplorasi, yang disebut-sebut sebagai terbesar, di tanah Papua. AS melakukan tiga kali ekspedisi besar: Ekspedisi Archbold I (Maret 1933- Maret 1934), Ekspedisi Archbold II (Februari 1936- Maret 1937), dan Ekspedisi Archbold III (April 1938- Mei 1939). Tujuannya adalah meliput transek berdasarkan ketinggian di berbagai wilayah berbeda. Richard membawa serta kolektor dan ilmuwan berpengalaman yang ahli di bidang eksplorasi alam. Tim Archbold mencoba memetakan kondisi alam, serta keberadaan flora-fauna di Papua. Pada Ekspedisi Archbold III, tim AS bekerja sama dengan Belanda. Mereka mengirim pakar zoologi, pakar kehutanan dan botani, serta pakar entomologi. Ekspedisi Archbold III fokus menjelajah jajaran Pegunungan Nassau, mulai dari dataran tingi yang saat ini disebut sebagai Gunung Trikora sampai ke Dataran Plain. Sebagian besar rute perjalanan dilalui dengan pesawat amfibi baru, di samping perahu dan jalan darat. “Ekspedisi ini mencerminkan kebanggaan Belanda dan juga kondisi ekonomi yang membaik di Hindia Belanda,” tulis Beehler, dkk. Banyak hal ditemukan Richard dan tim dalam ekspedisi ketiganya itu. Satu di antaranya sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan tinggi, yang oleh tim Richard dinamai “Grand Valley” atau “Lembah Baliem” dalam bahasa setempat. Dataran itu dihuni oleh suku Dani, penduduk asli Papua. Dicatat oleh Beehler, para penjelajah yang datang ke lembah Baliem pernah mengadakan kontak dengan orang-orang Dani. Ekspedisi alam di tanah Papua terus berlanjut setelah berakhirnya tiga ekspedisi Archbold. Mayoritas dipelopori oleh Kerajaan Belanda. Meski sempat berhenti akibat pecahnya perang, dan situasi kemerdekaan di Indonesia, beberapa eksepdisi masih tetap dilakukan setelah 1950-an. Bahkan misionaris dari Eropa sempat tinggal di pedalaman Papua untuk misi agama, sekaligus eksplorasi alam.

  • Utusan Presiden RI Dikerjai Kala Berupaya Ambil Hati Pemimpin PRRI

    Ketika mengunjungi pamannya, Bung Hatta, pada awal 1958, Hasjim Ning mendapat reaksi tak biasa dari Bung Hatta yang berpembawaan tenang. Bung Hatta naik pitam karena diberitahu bahwa Kolonel Ahmad Husein ingin memberontak. “Apa A. Husein sudah gila, mau berontak? Apa ia tidak tahu bahwa anak buahnya yang sudah rata-rata berusia 30 tahun itu tidak lagi seampuh pada waktu berusia 20 tahun? Apalagi mereka itu sudah berkeluarga semua,” kata Bung Hatta, dikutip Hasjim dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Apa yang dilakukan Husein merupakan respon lebih lanjut para perwira daerah terhadap jawaban yang diberikan pemerintah pusat tentang permintaan otonomi lebih luas dan pengembalian dwitunggal Sukarno-Hatta. “Pada tanggal 10 Februari 1958 mereka mengeluarkan sebuah ultimatum dari Padang yang menuntut supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dalam tempo lima hari, dan supaya dibentuk kabinet baru oleh Hatta dan Sultan Yogya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka akan membentuk pemerintah tandingan di Sumatera,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Tuntutan itu dijawab PM Djuanda-KSAD Nasution dengan memecat para perwira daerah yang membangkang. “Sikap yang diambil pemerintah pusat itu memaksa kaum pembangkang untuk melaksanakan ancaman mereka. Pada tanggal 15 Februari di Padang dibentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri,” sambung Sundhaussen. Rumitnya masalah dan cara penanganan yang mesti diambil itulah isi obrolan Bung Hatta dan Hasjim. Di tengah obrolan itulah Hasjim dipanggil Presiden Sukarno untuk makan malam di Istana Bogor. Hasjim lalu diberi tugas. “Hasjim, temui Husein ke Padang. Katakan kepadanya bahwa aku mau bicara dengan dia di sini. Aku jamin tidak akan terjadi apa-apa atas dirinya. Takkan seorang pun yang boleh dan berani melakukan penangkapan atasnya. Karena dia adalah anakku. Katakan juga kepadanya, kalau pemerintah dan angkatan perang bertekad melakukan tindakan militer, akan sulit bagiku untuk mencegahnya. Ini suatu dilema bagiku. Katakan begitu,” kata Presiden Sukarno memberi perintah sebagaimana dikutip Hasjim. Hasjim tak bisa menolaknya meski tugas itu amat berat. Meski yang akan ditemuinya sesama orang Minang dan dia punya reputasi bagus di sana sekaligus dikenal sebagai keponakan Bung Hatta, Hasjim masih dibayangi kegagalan tugas serupa sebelumnya. Terlebih, utusan-utusan yang berulangkali dikirim Jakarta untuk bernegosiasi dengan A. Husein selalu gagal. Eni Karim, utusan resmi pemerintah pusat; Mr. Hardi, utusan PM Djuanda; Bachtar Lubis, kawan Hasjim yang diutus KSAD Nasution; Mr. Nazir Pamontjak; dan Mr. Zairin Zain merupakan sederet utusan Jakarta yang gagal itu. Maka sebelum berangkat ke Padang, Hasjim kembali menemui Bung Hatta untuk meminta petunjuk. Penjelasan Bung Hatta justru membuat nyalinya ciut.  “Aku katakan, Hasjim tidak akan berhasil, karena Husein sedang merasa dirinya di atas angin. Ia pikir rakyat Sumatera Barat mendukungnya. Sebenarnya tidak. Rakyat Sumatera Barat menghendaki daerah otonomi yang lebih luas. Kalau Sukarno mau membicarakan otonomi itu, Husein tidak berarti apa-apa lagi. Karena ia memang tidak berarti apa-apa bagi rakyat,” kata Bung Hatta. Kendati mengkritik cara penyelesaian Sukarno, Hatta tetap menyalahkan Husein. “Tindakan Husein itu sama dengan putsch militer. Itu sangat berbahaya bagi negara dan demokrasi. Penyelesaiannya mesti penyelesaian politik, bukan militer,” sambung Hatta. Hatta sendiri sudah berupaya ikut menyelesaikan persoalan itu dengan mengutus Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil. Keduanya gagal. “Namun,” sambung Bung Hatta, “tidak ada salahnya kalau Hasjim mencoba. Hasjim harus tahu, aku orang partikelir. Beda dengan Sukarno, yang mengutus Hasjim. Karena ia presiden. Kalau Hasjim gagal, A. Husein telah betul-betul menentang pemerintah menurut konstitusi.” Hasjim akhirnya berangkat ke Padang. Di Bandara Kemyoran, dia ketemu Direktur BI Mr. Lukman Hakim. Hasjim dititipi pesan untuk Sjafruddin Prawiranegara yang jabatan resminya presiden Bank Indonesia. “Bung Hasjim, temui Pak Sjafruddin. Katakan kepada beliau, pergilah ke mana saja dalam rangka cuti atas tanggungan Bank Indonesia,” kata Lukman pada Hasjim. Tiba di Padang, Hasjim langsung mencoba menemui Husein namun gagal. Kata orang-orang yang ditemuinya, Husein berada di Bukittinggi. Maka Hasjim langsung menemui Wowo, perwakilan dari Djakarta Motor Company, perusahaan otomotif milik Hasjim, untuk diantar ke Bukittinggi. Hasjim dan Wowo berangkat selepas magrib diantar seorang driver . Dalam keadaan hujan lebat di daerah menjelang Kayutanam, Wowo menghentikan bus dari lawan arah untuk menanyai keberadaan Husein. “Sopir mengulangi pertanyaan itu kepada penumpang. Aku mendengar penumpang berteriak mengatakan bahwa A. Husein tidak ada di Bukittinggi,” kata Hasjim mengisahkan kelakuan supirnya. “Aku sudah mulai curiga pada Wowo. Dahulu ia seorang perwira, kini ia seorang pengusaha. Kok ia menanyakan A. Husein kepada orang banyak. Seolah-olah ia tidak memahami sekuriti militer lagi.” Kecurigaan Hasjim bertambah ketika tiba-tiba mobil yang ditumpanginya mogok dalam perjalanan setelahnya. Hasjim menganggap janggal tindakan Wowo yang, sebagai orang paham mesin, langsung mengatakan perjalanan tak bisa dilanjutkan alih-alih mengecek mesin mobil terlebih dulu. Lantaran dongkol, Hasjim menyerahkan perjalanan selanjutnya kepada Wowo yang kemudian memilih putar arah ke Padang. Setelah keduanya basah kuyup mendorong mobil agar mengarah ke Padang, perjalanan dilanjutkan dengan mobil bergerak di jalan menurun dalam kondisi mesin mati. Atas perintah Hasjim, supir memasukkan persneling ke gigi empat dan mesin pun hidup. Namun, mesin mobil hanya hidup sampai Lubuk Buaya. Kali ini, mobil mogok karena kehabisan bensin. “Aku bertambah dongkol. Masa untuk perjalanan jauh, Wowo tidak menyuruh tangki mobilnya diisi penuh,” kata Hasjim. Hasjim dan Wowo akhirnya menyewa bendi untuk mencapai Padang. Mobil dan supir mereka tinggalkan di tempat. Setelah itu Hasjim tak pernah mau ditemui Wowo meski Wowo dua kali berupaya menemuinya dengan mendatangi hotel. Hasjim berpaling kepada Ketua IPKI –partai politik yang Hasjim ikut dirikan bersama AH Nasution– Padang Mustafa Kamal untuk upayanya menemui Husein. Namun alih-alih membantu, Mustafa justru menasihati Hasjim. “Percuma saja menemui A. Husein. Bung bisa ditangkap dan dikenai tahanan rumah seperti Bujung Djalil yang diutus Bung Hatta baru-baru ini,” kata Mustafa, dikutip Hasjim. Atas saran Mustafa agar segera kembali ke Jakarta sebelum hari ultimatum Husein tiba, Hasjim akhirnya kembali ke Jakarta tanpa bisa menemui Husein. Sempat tanpa sengaja bertemu Sjafruddin Prawiranegara dan menyampaikan pesan dari Lukman Hakim, Hasjim menumpang pesawat Garuda Indonesia untuk kembali esoknya. “Aku pikir, nasihatnya itu benar juga. Ternyata, pada hari keberangkatanku itu A. Husein dan kawan-kawannya mengumumkan pembentukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Jadi, aku benar-benar berangkat dengan pesawat terakhir,” kata Hasjim yang akhirnya membenarkan prediksi Bung Hatta sebelum berangkat.

  • Sulitnya Menghadapi Wabah

    KASUS penularan virus korona di Indonesia terus naik. Per Juli 2020, jumlah kasus di Indonesia sudah melampaui China. Syahrizal Syarif, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, menilai tingginya kasus baru dikarenakan pemerintah tidak serius dalam menangani wabah dengan melonggarkan pembatasan wilayah di saat kondisi belum terkendali. "Harus ada langkah ekstrem dan berani dalam situasi yang sangat longgar saat ini," kata Syahrizal seperti dikabarkan Tempo . Syahrizal juga menilai pemerintah menganggap enteng pandemi yang seolah akan berakhir seiring waktu. Saran dari para ahli kesehatan dan wabah seperti karantina wilayah, penerapan protokol kesehatan, pemeriksaan, dan pelacakan tidak dijalankan secara serius. Sikap pemerintah tersebut juga menyebabkan kelengahan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan covid. Beberapa bahkan mengaggap pandemi ini bukanlah situasi genting atau tidak separah yang diberitakan. Kondisi serupa juga terjadi dalam sejarah wabah yang terjadi di Indonesia. Kala wabah tifus menyerang Jawa, pemerintah kolonial tidak sepenuhnya mendengarkan saran dari ahli kesehatan. Gubernur Jenderal J.J. Rochussen mulanya meminta nasihat Kepala Dinas Kesehatan Koloni dokter Willem Bosch, 1847. Pada 13 April 1847, giliran Sekretaris Jenderal C. Visscher meminta Bosch memberi usulan langkah kesehatan yang bisa diambil pemerintah kolonial untuk menangani wabah. Bosch meresponnya dengan melakukan riset kesehatan tentang penyebab wabah. Bosch menemukan: wabah terjadi karena penduduk kurang gizi setelah gagal panen, musim yang tidak menguntungkan, akomodasi buruk, pakaian tidak memadai, dan makanan tidak mencukupi. Ia juga menekankan penduduk membutuhkan bantuan segera agar tak makin banyak korban. Bosch mengusulkan pemerintah memberi bantuan dana, pembagian selimut, karantina wilayah, dan penyediaan obat dan layanan kesehatan. Usulan Bosch pada 25 April 1847 diteruskan Gubernur Jenderal Rochussen kepada Menteri Koloni JC Baud. Namun dalam memonya, Rochussen berkomentar sinis pada usulan Bosch. Rochussen menilai usulan Bosch sebagai sebuah pemborosan besar-besaran. Rochussen menganggap enteng masalah wabah itu dan meyakini Bosch hanya melebih-lebihkan kondisi yang ada. “Saya ingin percaya bahwa epidemi memang terjadi dengan banyak nyawa hilang, tetapi saya tidak percaya bahwa wabah ini seburuk yang dikatakan orang,” kata Rochussen seperti ditulis Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market. Liesbeth mencatat, beberapa bupati menjalankan saran Bosch meski Rochussen berkomentar negatif. Sementara kala wabah pes menyerang Jawa, kenaifan penduduk tidak hanya berakibat pada rendahnya kepatuhan pada aturan karantina tetapi juga sempat memicu konflik dengan petugas medis. Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina Safitry menceritakan kala wabah pes melanda pada awal abad ke-20, tiap desa terjangkit dijaga dua-tiga petugas atau polisi desa saat penduduk diungsikan ke barak karantina. Namun, penduduk sering kucing-kucingan dengan menyelinap keluar kamp karantina pada sore hari. Mereka menjaga rumah masing-masing pada malam hari agar tak kemalingan. Paginya, penduduk kembali ke kamp karantina. Penolakan juga terjadi kala petugas kesehatan hendak mendeteksi penyebab kematian penduduk. Biasanya aktivitas itu dilakukan dengan pengambilan jaringan limfa pada jasad korban oleh mantri. Jaringan limfa kemudian diteliti untuk menentukan penyebab kematian, pes atau bukan. Namun, ketidaktahuan warga seringkali menyulitkan mantri yang bertugas. Mereka menolak prosedur tersebut dan mengusir petugas kesehatan, bahkan melemparinya dengan batu. Menurut Liesbeth, petugas disinfektan bahkan ada yang dibunuh oleh warga. Mereka mengira petugas tersebut dikirim pemerintah kolonial untuk memasang sihir. Proses disinfektasi demi mencegah wabah dikira mereka sebagai ritual ilmu hitam untuk mencelakai desa. Keawaman penduduk terhadap layanan medis juga dijumpai dalam pencacaran di abad ke-19. Sebagaimana diceritakan Baha’Udin dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa” yang dimuat jurnal Humaniora Oktober 2006, para orang tua di Madiun enggan mencacarkan anaknya pada 1831. Kabar burung yang tersebar menyatakan bahwa vaksinasi hanya akal bulus residen yang ingin menjadikan anak-anak kampung sebagai makanan untuk buaya peliharaannya. Beredarnya kabar ini membuat para ibu langsung melarikan anak mereka dengan bersembunyi ke hutan. Penolakan vaksin juga terjadi di Pulau Bawean. Seluruh penduduk tidak mau menerima vaksin karena tidak disetujui ulama. Namun ada pula alasan penolakan layanan kesehatan yang bisa diterima akal. Beberapa warga meragukan efektivitas vaksin karena ada anak yang tetap tertular cacar meski sudah divaksin. Mereka tidak tahu di masa itu vaksin rentan rusak bila terpapar panas dan tidak segera digunakan. Maka meski para ilmuwan dan ahli kesehatan terus berupaya memperbarui vaksin dan memberikan layanan kesehatan, penolakan tetap hadir di depan mata.

  • Adam Malik Hilangkan Sketsa-sketsa Karya Sudjojono

    Pada masa revolusi kemerdekaa, pelukis S. Sudjojono turut bergerilya di tengah pertempuran-petempuran melawan Belanda. Meski tak bisa menembak, ia memiliki senjata untuk berjaga-jaga. Namun, perannya yang lebih penting pada masa ini adalah menggambar sketsa-sketsa yang menjadi sumber sejarah dalam bentuk visual. Dosen FSRD ITB, Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya” di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa, 21 Juli 2020, menyebut bahwa banyak sketsa yang dibuat Sudjojono merekam berbagai peristiwa di sekitar revolusi. Aminudin mencontohkan, kala itu Sudjojono sering mengisi ilustrasi dalam majalah Suluh Tentara. Tema-tema revolusi seperti situasi gerilya dan keadaan para prajurit banyak ia abadikan dalam sketsa. Sketsa-sketsa itu kemudian ia buat versi lukisannya setelah revolusi fisik usai.   Sayangnya, sketsa-sketsa penting periode 1946-1949 itu kini telah tiada. “Nah ini kita kehilangan, karena menurut pengakuan Sudjojono sendiri di tahun 1980-an, dalam satu wawancara dia mengatakan bahwa sebenarnya sketsa-sketsa itu pernah dibeli oleh Adam Malik,” ungkap Aminudin, kandidat doktor Universitas Leiden, Belanda. Sementara itu, Tedjabayu Sudjojono, anak pertama Sudjojono, mengaku sebagai pemilik sketsa-sketsa itu. Sketsa itu diberikan Sudjojono kepadanya. Namun suatu ketika dipinjam lagi untuk keperluan Adam Malik. “Betul sekali dan saya sakit hati karena seluruhnya sketsa-sketsa itu milik saya, Bung. Diberikan kepada saya, lalu dipinjam oleh Sudjojono. Lalu ketika saya tanyakan lagi tahun ‘65 beliau tidak mengaku. Bung Adam Malik saya tanya juga tidak mengaku,” kata Tedjabayu. Tedjabayu menerangkan bahwa sketsa-sketsa tersebut merupakan rekaman peristiwa pada periode ketika keluarga Sudjojono mengungsi di Desa Senden, Yogyakarta. Sketsa-sketsa itu kebanyakan menggambarkan taruna-taruna serta kadet-kadet Militer Akademi (MA) Yogyakarta. Menurut Aminudin, sketsa itu hilang karena kesibukan Adam Malik sebagai seorang diplomat. Adam Malik banyak melakukan perjalanan ke luar negeri yang menyebabkan barang-barangnya sering berpindah-pindah tempat. Hal inilah yang memungkinkan salah satu koper yang berisi sketsa-sketsa itu terselip dan hilang. “Jadi dia bolak-balik dan itu ada terselip dalam satu koper. Menurut pengakuan Pak Djon, Pak Djon juga nanyain  ke Adam Malik sketsa-sketsa beliau di mana saat itu. Kata Adam Malik, wah  sudah keselip di koper,” kata Aminudin. Hilangnya karya-karya Sudjojono juga tak hanya kali itu terjadi. Aminudin menyebut bahwa pada masa revolusi, sekitar 40 lukisan Sudjojono hilang. Kehilangan besar itu terjadi ketika Sudjojono tengah menyiapkan pameran tunggal. Namun, sebelum pameran terlaksana, Belanda melancarkan agresi militer kedua. Pameran dibatalkan, Sudjojono dan keluarga lalu mengungsi. Sementara itu, lukisan-lukisannya sempat disembunyikan di bawah tanah namun ketahuan oleh Belanda. “Lukisan itu disimpan, kemudian ditemukan dan dihancurkan oleh tentara-tentara Belanda, ditembak-tembak,” kata Aminudin. Selain lukisan, patung-patung pahatan Sudjojono juga tak luput dari amukan serdadu Belanda. Patung-patung itu dibuat ketika berada di Bogem, Yogyakarta, di mana ia banyak memahat batu-batu dari pinggir sungai sebagai bentuk eksplorasi media baru kala itu. Hilangnya karya-karya Sudjojono tentu sangat disayangkan. Selain merupakan bagian dari sumber sejarah dalam bentuk visual, karya-karya itu juga merupakan bagian penting yang bisa melengkapi timeline jejak Sudjojono sebagai seorang seniman.

  • Menanti Reuni Tyson vs Holyfield

    ANDAI samsak hijau yang bergantung pada seutas rantai atau punching ball oranye bisa bicara, mungkin ia akan teriak minta ampun setelah bertubi-tubi jadi sasaran pukulan petinju legendaris Mike Tyson. Walau usianya tak lagi muda, 54 tahun, berjuluk “si Leher Beton” itu sejak April 2020 sedang intens latihan di sasana Kings MMA, Huntington Beach, California, Amerika Serikat. Pukulan-pukulan kombinasi Tyson juga terus menerjang sepasang mitt tinju yang dikenakan pelatihnya kala sesi sparring . Derasnya peluh yang mengucur dari kepala dan tubuhnya kian memacu keganasannya “menembak” sasaran-sasaran itu dengan pukulannya, sebagaimana yang terlihat lewat video yang ia unggah di media sosial Instagramnya, @miketyson , Selasa (21/7/2020). Tyson sedang merencanakan serangkaian pertarungan. Tentu bukan pertarungan kompetitif, melainkan eksebisi untuk tujuan amal yang akan disalurkan lewat yayasan amalnya, TYSON Cares Foundation. Beberapa nama petinju dimunculkan untuk jadi lawannya di atas ring. Mulai dari Tyson Fury, Riddick Bowe, hingga Evander Holyfield yang telinganya digigit Tyson dalam pertarungan 23 tahun lampau yang populer sebagai “Bite Fight”. Evander Holyfield & Michael Gerard 'Mike' Tyson bersahabat di masa tua (Foto: Instagram @miketyson) Baca juga: Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson Jika keduanya bersua di atas ring kembali untuk kali ketiga, akan jadi momen bersejarah. Toh sejak Mei 2020, Holyfield yang kini berusia 57 tahun juga membuka diri menyoal pertarungan eksebisi Tyson vs Holyfield jilid III. “Mike dan saya sudah membicarakan tentang (eksebisi) ini dan sejak itu perwakilan saya dan dia juga sudah saling diskusi. Kami memang belum mencapai kata sepakat tapi yang pasti sudah ada pembicaraan ke arah sana,” kata Holyfield, disitat Essentially Sports , 19 Mei 2020.  “Banyak orang-orang besar dari negara-negara berbeda ingin kami menggelar pertarungan. Saya pribadi, ya, jika ada cara untuk kami bertarung lagi, saya bersedia. Saya yakin akan jadi ajang besar. Lagipula takkan ada yang mendapat keputusan menang atau kalah atau tersungkur KO. (Hanya) eksebisi,” tambahnya. Di Balik Tyson vs Holyfield MGM Grand Garden Arena di Paradise, Nevada, Amerika Serikat pada malam 9 November 1996 jadi saksi pertarungan pertama Tyson dan Holyfield. Keduanya tengah dalam puncak karier kedua. Baik Tyson maupun Holyfield sebelumnya sama-sama mati-matian bangkit dari penurunan performa di tinju kelas berat dunia. Namun, itu bukan pertemuan pertama mereka. Menurut James J. Thomas II, pengacara yang turut jadi manajer Holyfield di karier profesionalnya, dalam biografi The Holyfield Way: What I Learned about Courage, Perseverance, and the Bizarre World of Boxing , keduanya bertemu untuk pertamakali saat meniti karier di tinju amatir. “Evander dan Tyson bertemu di ring pada awal 1984, sebagai dua dari beberapa petinju amatir teratas Amerika Serikat yang berkumpul di Colorado Springs, sebuah fasilitas pelatihan jelang Olimpiade 1984 di Los Angeles. Sosok Tyson di usia 18 tahun sangat berotot, powerful , cepat, dan bertalenta. Ia jadi perhatian di antara peserta seleksi dan tak heran tiada seorangpun yang mau berisiko cedera jika sparring dengan petinju ganas asal Brooklyn, New York itu,” tulis Thomas. “Kecuali Evander, petinju kelas berat-ringan berprospek dari Atlanta, Georgia yang pendiam, sopan, dan khas laiknya bocah dari Selatan. Ketika pelatih Pat Nappy kesulitan mencari lawan latih tanding dengan Tyson, Evander mengajukan diri. Pelatih sempat menolak karena mereka beda kelas dan Tyson berbobot 25 pound (11,3 kg) di atas Evander. Namun Evander bersikukuh dan Nappy akhirnya mengizinkan dengan syarat, pertarungannya half speed (tidak 100 persen serius),” imbuhnya. Baca juga: Jalan Berliku Judoka Krisna Bayu ke Olimpiade Tetapi ketika lonceng dibunyikan, Holyfield justru bertarung dengan 100 persen kemampuannya. Keduanya sampai terlibat pergulatan sengit yang memaksa pelatih Nappy menghentikan sparring . Singkat cerita, Tyson gagal lolos seleksi tim Amerika, sementara Holyfield terpilih dan di olimpiade ia merebut medali perunggu. Keduanya lalu memilih jalan berbeda ketika masuk tinju profesional. Tyson tetap di kelas berat, sementara Holyfield dari kelas berat-ringan masih “bertualang” lagi di kelas jelajah sebelum masuk kelas berat di tahun 1989. Keduanya baru bertemu lagi 12 tahun setelah sparring di “pelatnas” tinju Amerika itu. “Holyfield dan saya sudah kenal lama. Kami berteman baik di (pelatnas) yunior Olimpiade. Dia memang selalu mendukung saya saat bertarung dan sebaliknya. Di tinju amatir dia sering kalah di mana semestinya dia bisa menang. Saat kami masih muda, kami takkan menyangka akan berhadapan dan sama-sama mendulang banyak uang,” ujar Tyson dalam otobiografinya, Undisputed Truth . Holyfield dan Tyson berkawan sejak masa muda di "pelatnas" tinju Amerika, di mana Holyfield berkalung perunggu Olimpiade 1984 (Foto: Instagram @miketyson/@evanderholyfield) Tyson saat itu belum lama keluar dari penjara akibat kasus pemerkosaan pada 1992. Karena campur tangan Donald Trump, pebisnis yang kini jadi presiden Amerika, Tyson bebas bersyarat pada 1995 meski hakim memvonisnya enam tahun penjara. Sekembalinya ke atas ring, Tyson merebut sabuk gelar kelas berat WBC setelah menganvaskan Frank Bruno hanya dalam tiga ronde pada Maret 1996. Di tahun yang sama, Tyson sukses meraih gelar WBA pada September setelah menyungkurkan Bruce Seldon lewat kemenangan TKO. Adapun Holyfield yang sempat pensiun pada 1995, comeback untuk mendaki tangga WBA agar bisa jadi penantang gelar. Debutnya gemilang meski menang lewat keputusan RTD (Referee Technical Decision) atas Bobby Czyz pada Mei 1996. Baca juga: Presiden Jago Tinju, Gulat Hingga Jiu-Jitsu Bagi Holyfield, bisa menantang Tyson akan jadi “jalan pintas” untuknya menggapai masa keemasan keduanya. Tak lama setelah melawan Czyz, Holyfield meminta Thomas manajernya untuk mengikat kesepakatan pertarungan dengan Tyson meski saat itu Tyson sudah dijadwalkan bertarung melawan Seldon pada September. “Dia bilang sangat yakin bisa mengalahkan Tyson jika saya bisa membuat kesepakatan pertarungannya. Saya tanya, kenapa dia berpikir bahwa dia akan mengalahkan petinju berjuluk ‘ The Baddest Man on the Planet ’ ketika tiada satupun petinju kelas berat top bisa bertahan sekian ronde. Evander mengoreksi saya dan bilang bahwa dia tak berpikir, namun dia tahu akan mengalahkannya,” sambung Thomas. Holyfield (kanan) saat melawan Bobby Czyz (Foto: boxinghalloffame.com ) Holyfield lantas mengatakan, sejak ia berhadapan dengan Tyson di tinju amatir, ia merasa suatu saat akan kembali berhadapan di arena profesional dan di tahun itu adalah saat yang tepat. Tiada rasa gentar karena Holyfield selalu melihat celah atas keuntungan psikis terhadap Tyson. “Tiada alasan untuk takut pada Mike Tyson. Dia petinju hebat dan sangat powerful , namun dia hanya manusia seperti saya. Ibu saya mengajarkan hanya takut pada Tuhan. Lagipula saya yakin benar Mike takkan melukai saya separah kakak saya Eloise saat kami kecil. Mike memang punya power yang besar, tetapi begitupun saya,” tutur Holyfield, dikutip Thomas. Baca juga: Tinju Kiri Ali di Jakarta Pada April dan Mei 1996, Thomas menjajaki rencana itu dengan promotor kondang Don King. Rencana itu nyaris batal lantaran Don King dianggap Holyfield tak adil dalam pembagian pendapatan pertarungan. Di muka, Don King menawarkan Holyfield mendapat USD5 juta, sementara Tyson USD30 juta dari pertarungan itu. Negosiasi alot berjalan sampai Don King bersedia menaikkan tawaran USD10 juta untuk Holyfield, serupa dengan yang diterima Seldon ketika melawan Tyson pada September 1996. Tyson vs Holyfield I pada November 1996 (Foto: Youtube @ElTerribleProductions/Instagram @lesboxeursdudimanche) Sementara, Holyfield bersikeras setidaknya ia bisa mendapat USD15 juta. Tetapi akhirnya Holyfield sudi menerima USD10 juta dengan opsi rematch jika menang dan akan mendapatkan kenaikan hingga USD20 juta. Tyson pun tak butuh waktu lama untuk menyatakan kesediaannya meladeni Holyfield. Dia “pede” bisa mengalahkan kawan lamanya itu. “Holyfield sedang tak dalam performa baik dalam beberapa pertarungan sebelum pertarungan kami. Saya menonton dia saat melawan Czyz dan Czyz benar-benar menghajarnya sebelum dia kalah (dari Holyfield) di ronde kesepuluh. Jadi saya tak latihan serius jelang lawan Holyfield. Saya juga tak menetapkan strategi khusus, sekadar maju dan memukul saja. Lagipula saya diunggulkan 25:1,” kata Tyson mengenang. Sebaliknya, Holyfield menyiapkan diri dengan sangat serius. Dia merekrut eks-jawara WBA Mike Weaver sebagai asisten pribadi dan eks-jawara WBC David Tua sebagai lawan latih tanding yang punya style bertarung mirip Tyson. Tandukan Dibalas Gigitan Pertarungan Tyson vs Holyfield jilid I memperebutkan gelar kelas berat WBA akhirnya dimenangi Holyfield secara TKO di ronde kesebelas. Sesuai kontrak dengan Don King sebelumnya, rematch digelar karena Hollyfield menang. Tyson sangat menantikan tarung ulang itu lantaran ia merasa dicurangi oleh wasit yang mengabaikan serangkaian tandukan kepala Holyfield. Tim pelatih Tyson juga mencurigai Holyfield menggunakan steroid. “Croc (Steve ‘Crocodile’ Fitch, red. ) yakin bahwa Holyfield mengonsumsi steroid. Salah satu petinju mantan atlet olimpiade Lee Haney juga menggunakannya. Dia bilang Holyfield terlihat normal ketika timbang berat badan namun saat dia masuk ring, dia tampak seperti Goliath,” singkap Tyson. “Saya ingin melawan Holyfield lagi, saya sangat marah. Walau masih nyeri, saya sudah mulai latihan lagi malam setelah pertarungan. Saya marah mengingat kehilangan gelar, namun saya tak ingin menengok ke belakang,” lanjutnya. Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi Tyson vs Holyfield II pada Juni 1997 (Foto: Instagram @mistahprince/@boxinglegacy) Tyson belajar dari pengalaman sehingga menyiapkan diri dengan lebih serius. Ia beralih pelatih dari Jay Bright ke Richie Giachetti. Meski begitu, di pertarungan itu Tyson harus kembali merelakan gelar WBA gagal direbutnya. Ia dinyatakan kalah lewat keputusan diskualifikasi. Arena MGM Grand Garden kembali jadi medan pertarungan Tyson Holyfield II, 28 Juni 1997. Di ronde ketiga ketika pertarungan sengit, Tyson berulang-kali terkena tandukan Holyfield. Alhasil pipi dekat mata kanan Tyson sobek. Tiap kali insiden itu terjadi, Tyson protes namun wasit Mills Lane selalu menyatakan tandukan itu tidak disengaja. Tyson yang kesal lantas membalas dengan menggigit kuping kanan Holyfield ketika lawannya kembali “bermanuver” menunduk dan hendak menyundul Tyson lagi. “Saya akan melakukannya lagi jika terprovokasi dan sedang berada dalam situasi yang sama. (Wasit) Mills Lane tak melindungi saya dari tandukan-tandukan Holyfield,” ketus Tyson. Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather Telinga kanan Holyfield setelah digigit Tyson (Foto: Instagram @evanderholyfield) Holyfield yang mengerang kesakitan berlari ke sudut ringnya dan dikejar Tyson. Ketika wasit sukar memisahkan Tyson, petugas keamanan pun naik ring untuk melerai keributan dan pertarungan dihentikan. Holyfield dinyatakan menang lewat putusan diskualifikasi dan Tyson disanksi larangan bertarung serta denda USD3 juta oleh Nevada State Athletic Commission, walau setahun kemudian sanksi itu dicabut. “Tetapi itu sudah berlalu. Hari-hari berikutnya sangat hebat. Saya juara dunia yang mendapat penghasilan USD33 juta. Jeleknya memang kuping saya jadi berbentuk runcing walau tentu ada hikmah di balik itu,” ujar Holyfield. Namun seiring keduanya pensiun dari tinju profesional, tiada rasa dendam di benak masing-masing legenda tinju dunia itu. Terlebih pada 16 Oktober 2009 dalam program TV “The Oprah Winfrey Show”, Tyson meminta maaf secara langsung pada Holyfield dan Holyfield dengan tulus memaafkan Tyson. Baca juga: Melacak Jejak Pencak Silat

  • Sukarno vs Majalah Time

    Di masa kekuasannya, Presiden Sukarno acap kali diberitakan secara miring oleh media asing. Dari sekian banyak, majalah terbitan Amerika Time dan Life menjadi media asing yang masuk daftar hitamnya. Sukarno mencurahkan kejengkelannya kepada Presiden John F. Kennedy ketika berkunjung ke Amerika Serikat pada April 1961. “Majalah Tuan,  Time dan Life terutama sangat kurang ajar terhadap saya,” ujar Sukarno kepada Kennedy sebagaimana dituturkan dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Siapa nyana, Time sebagai salah satu majalah ternama Amerika pernah menulis berita utama tentang Sukarno yang sumbernya berasal dari kabar isapan jempol. Ganis Harsono, juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) menjadi saksi bagaimana kekeliruan itu bisa terjadi. Dalam memoarnya, Ganis mengakui kelalaiannya meneruskan gosip belaka berbuah petaka. Baca juga:  Ketika Sukarno dan Kennedy Berdebat Sebagai juru bicara Deplu, Ganis adalah figur yang cukup dekat dengan wartawan. Para juru warta dalam negeri maupun asing kerap kali mendatangi Ganis untuk meminta siaran pers. Tentu saja berita yang berkaitan dengan hubungan luar negeri Indonesia.   Sekali waktu pada 1958, Ganis menyambangi kediaman Menteri Luar Negeri Soebandrio untuk menyiapkan bahan-bahan siaran pers. Karena Soebandrio masih menerima beberapa orang di ruangan tamu, Ganis masuk melalui jalan lain menuju ruang makan. Di sana, Ganis bersua dengan Ma’ruf, wartawan suratkabar Keng Po. “Saya cukup mengenal Ma’ruf. Dia adalah salah seorang kader inti Partai Sosialis Indonesia, dan di kalangan wartawan dia lebih dikenal sebagai seorang politisi,” kenang Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno . Ma’ruf bertanya kepada Ganis, apakah ada siaran pers yang dapat diberitakan. Ganis menyarankan Ma’ruf agar meminta keterangan lengkap kepada Menteri Soebandrio saja. Tiba-tiba, Ma’ruf melontarkan berita aneh yang berasal dari Nyonya Suprapti. “Siapa Nyonya Suprapti itu?” tanya Ganis. “Nyonya Suprapti adalah seorang dukun yang meramalkan akan segera terjadi perang antara Amerika dengan Republik Rakyat Cina (RRC), dan katanya RRC akan menang,” terang Ma’ruf. Baca juga:  Sepuluh Teori Konspirasi Amerika yang Terbukti Benar Mendengar itu, Ganis cuek saja. Dia hanya percaya fakta bukan gosip murahan. Namun untuk menyenangkan Ma’ruf, Ganis berjanji akan membicarakan gosip itu di tempat minum kopi. Sekadar main-main, dalam benak Ganis. Pertemuan dengan Ma’ruf maupun urusan di kediaman Soebandrio pun selesai begitu saja. Ganis kembali ke kantor Departemen Luar Negeri di Jalan Pejambon. Pada siang harinya, Ganis kedatangan wartawan Time J. Bell bersama dengan pembantunya – penerjemah bahasa – S.T. Hsieh, seorang Cina nasionalis yang tinggal di Jakarta. Mereka hanya membicarakan hal-hal yang ringan. Ganis mengatakan pada Bell bahwa tidak ada keterangan pers hari itu. Saat bercengkrama, Ganis melihat Hsieh sedang membaca sebuah buku. Ternyata itu buku horoskop yang biasa dipakai untuk meramal. Mendengar itu, ingatan Ganis terbawa kepada celotehan Ma’ruf tadi pagi. Begitulah, Ganis menyampaikan cerita Ma’ruf kepada Hsieh tanpa ditambah maupun dikurangi. Beberapa bulan berselang, Agustus 1958, Time muncul dengan berita utama mengenai Presiden Sukarno. Dalam sampul depan majalah itu, wajah Bung Karno ditampilkan seperti drakula yang memandang dengan tatap penuh ancaman. Mengenai potret Sukarno dalam sampul, bukanlah masalah berarti. Yang jadi persoalan, Time dalam laporannya memuat ramalan Nyonya Suprapti bahwa RRC akan mengalahkan Amerika Serikat. Dengan demikian. Sukarno akan bersorak-sorai.   Baca juga:  Sukarno, Majalah Playboy, dan CIA Ganis segera menelepon Hsieh. Dia mengatakan betapa bahaya menyiarkan berita isapan jempol dalam negara yang sedang keadaan darurat perang. Hsieh berkilah dengan mengaku bahwa Bell-lah yang menulis berita setelah memaksa dirinya menerjemahkan pembicaraan dengan Ganis. Sepekan setelah kejadian itu, Hsieh ditangkap. Dari Hongkong, Bell mendatangi kantor Deplu untuk minta pembantunya, Hsieh dibebaskan. Ganis yang menghadapinya keburu berang dan mengusir Bell. Namun Bell berdalih, katanya, keterangan tambahan itu bukan darinya melainkan editornya di New York. Jadi, Bell menolak bertanggung jawab namun bersikukuh membebaskan Hsieh dari tahanan. Time kemudian mengirim orang lain sebagai pengganti Bell di Indonesia. Seorang berkebangsaan Kanada dengan postur tinggi tegap bernama Paul Hermuses. Untuk mengurus pembebasan Hsieh, Hermuses melobi ke Istana. Melalui ajudan presiden Letkol Sugandi,  Ganis mendapat informasi “sumber dari laporan utama Time itu tidak lain ialah juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia sendiri, dan karena itu pembantu Time S.T. Hsieh harus segera dibebaskan.” Baca juga:  Sukarno dan Majalah Playboy “Saya harus menyalahkan diri sendiri karena telah menjadi korban tipu muslihat Ma’ruf yang telah menyebarkan gosip di ibukota,” ujar Ganis. Pada akhirnya semua pihak dirugikan akibat berita itu. Hsieh, pembantu Time tersebut tetap mendekam di penjara. Majalah Time , Bell, dan Hermuses dilarang masuk ke Indonesia. Di sisi lain, Bung Karno menuai kesan negatif dalam pergaulan internasional gara-gara liputan sensasional Time . Sementara itu, Ganis Harsono dinyatakan persona non grata alias orang yang tidak disukai di Istana, walaupun tidak secara resmi. Sukarno sendiri, kata Ganis, tidak pernah memperlihatkan kemarahannya terang-terangan. Meski demikian, selama dua tahun antara 1958—1960, Ganis diperlakukan dengan dingin setiap kali hadir dalam upacara-upacara resmi di Istana. Menteri Soebandrio juga “menghukum” Ganis dengan membebas-tugaskannya dari pekerjaan humas kepresidenan dalam perjalan Sukarno ke luar negeri. Baca juga:  Bentakan Menlu RI Buat Diplomat AS Dalam disertasinya yang dibukukan Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 , Baskara Tulus Wardaya menelusuri ihwal sikap antipati media Amerika pada Sukarno. Menurut sejarawan Universitas Sanata Dharma ini, banyak kalangan di Amerika merasa gusar saat mengetahui sepulangnya dari kunjungan ke Amerika pada Mei 1956, Sukarno melakukan kunjungannya ke Uni Soviet dan RRC. Bung Karno yakin bahwa banyak rakyat Amerika yang melihat kunjungannya ke kedua negara komunis tersebut sebagai “balasan yang tidak sopan” atas keramah-tamahan mereka. “Media massa Amerika mulai mencercanya, dan ‘mulai mengatakan bahwa orang yang ngakunya percaya pada Tuhan itu ternyata adalah seorang dedengkot Komunis,’” tulis Baskara.   Sejak itulah media massa Amerika doyan melancarkan serangannya kepada Sukarno dengan berita-berita bernada provokatif.

  • Sudjojono, Proklamator Seni Rupa Modern Indonesia

    Pelukis Sindudarsono Sudjojono hidup dalam empat zaman berbeda. Dari zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Orde Lama, hingga Orde Baru. Perannya dalam dunia seni rupa Indonesia juga cukup penting. Ia sudah menulis wacana-wacana seni rupa Indonesia sejak muda dan melahirkan gagasan seni rupa Indonesia modern. Peneliti seni Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya” di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa, 21 Juli 2020, menyebut bahwa berkat perannya itu, Sudjojono diibaratkan sebagai proklamator seni rupa modern Indonesia. “Pak Djon ini harus kita tempatkan sebagai, kalau dalam konteks politik, beliau itu seperti seorang proklamator. Beliau itu Sukarnonya seni rupa Indonesia. Dia yang pertama memproklamasikan keberadaan seni lukis Indonesia. Itu dia lakukan di tahun 1939,” kata Aminudin. Menggantikan Mooi Indie Tulisan-tulisan Sudjojono sejak 1939 terhimpun dalam buku Seni Lukis, Kesenian, dan Seniman yang terbit pada 1946. Buku ini kemudian menjadi rujukan para sejarawan untuk memahami konteks lahirnya seni rupa modern Indonesia. Lebih jauh, jika Raden Saleh didapuk sebagai pelopor, melalui manifestonya Sudjojono adalah proklamator. Dalam tulisannya yang terbit dalam Majalah Keboedajaan dan Masjarakat pada Oktober 1939, Sudjojono mengimbau pelukis-pelukis Indonesia untuk tidak melukis dengan gaya mooi indie . Mooi indie sendiri kala itu tengah populer dan memiliki corak yang khas yang menggambarkan pemandangan Hindia Belanda yang molek. Sebagai gantinya, laki-laki kelahiran Kisaran, Sumatera Utara pada 1913 ini menganjurkan para seniman fokus pada persoalan-persoalan kebangsaan. Tentang kesadaran bahwa saat itu rakyat berada dalam penjajahan. “Sudjojono saat itu mengatakan bahwa kita harus keluar dari gaya ini ( mooi indie ). Itu menjadi sangat terkenal sekali karena tulisan ini seperti manifesto atau seperti proklamasi,” kata Aminudin. Namun, menurut Aminudin, hal ini seringkali disalahpahami oleh para sejarawan. Banyak yang mengira Sudjojono memaksakan atau mengharuskan realisme. Padahal, Sudjojono justru menawarkan gagasan tentang bagaimana membangun corak seni lukis Indonesia baru. Bukan Melawan Barat Kesalahpahaman tenyata tak hanya sampai di situ. Aminudin menyebut bahwa seringkali mooi indie sendiri sering diidentikkan dengan seni rupa Barat. Hal ini kemudian memunculkan kesimpulan bahwa Sudjojono melawan seni rupa Barat. Menurut Aminudin, kesalahan awal para sejarawan ini disebabkan oleh pembacaan terhadap Sudjojono tanpa melihat konteks. Padahal, tiap tulisan Sudjojono yang berbeda-beda tahun terbitnya memiliki konteks masing-masing. “Ada dua artikel ditulis di zaman Jepang. Itu sudah beda. Kemudian ada beberapa artikel ditulis di zaman Belanda. Satu artikel ditulis tahun 1946. Sudjojono sudah berubah cara berpikirnya. Nah , tapi sejarawan atau siapapun seringkali menyamaratakan, seakan-akan buku ini satu (bagian) sekaligus,” kata Aminudin. Jika dibaca konteksnya, Sudjojono sendiri tidak pernah bermasalah dengan seni rupa Barat. Pasalnya, menurut Aminudin, seniman Indonesia saat itu tidak bisa memberikan alternatif artistik untuk melawan seni lukis Barat atau Eropa yang dominan di Hindia Belanda khususnya Batavia saat itu. “Melawan dengan apa? Melawan dengan gambar wayang? Nggak mungkin. Sudjojono nggak mau itu. Sudjojono itu nggak mau banget menggambar wayang. Dia justru megatakan bahwa keindonesiaan dalam seni lukis hanya bisa dihasilkan dengan cara kita mempelajari Barat,” kata Aminudin. Menangkap Modernitas Sudjojono menegaskan bahwa dengan mempelajari Barat, seniman Indonesia akan memahami apa itu Timur. Sementara itu, menganggap Timur itu otentik justru akan berbahaya. Kala itu, seringkali seniman-seniman Barat di Batavia mendatangi museum untuk melihat karya-karya seni Nusantara dan menjadikannya inspirasi. Hal ini yang juga ditentang Sudjojono jika dilakukan oleh seniman-seniman Indonesia. Menurutnya, meski karya-karya itu warisan kesenian Indonesia, perlu adanya kekinian sebagai representasi zaman. “Kekontemporeran kita itu hanya bisa didapat, kata dia, kemodernan kita itu kalau kita melihat realitas itu sendiri. Apa realitas itu, yaitu kata dia, para pemuda yang ada di jalanan, sepatu orang kaya, mobil. Itu scenery modern saat itu di Hindia Belanda. Itulah kemodernan yang mau dia tangkap,” kata Aminudin. Visi modernitas itu kemudian juga dibarengi dengan semangat belajar yang tak membedakan mana Barat dan Timur. Aminudin mencontohkan, dalam lukisan yang berjudul Cap Go Meh, Sudjojono terpengaruh oleh lukisan Carnival in Flanders dan Intrigue karya pelukis Belgia James Ensor. Kedua lukisan Ensor itu pernah dipamerkan oleh kolektor Maurice Raynal antara tahun 1935 hingga 1940-an di Kunstkring, Batavia. “Dia (Sudjojono) melihat pameran itu dan kemudian dia mencoba meramu. Saya kira itu yang dia bilang, kita jangan segan-segan belajar sama Barat untuk menemukan ini (identitas) kita,” kata Aminudin. Sudjojono juga percaya, tema-tema yang diangkat oleh pelukis Barat akan tetap berbeda jika dibuat oleh pelukis-pelukis Indonesia. Hal inilah yang terlihat dalam lukisan Cap Go Meh yang dilukis dengan cara dan warna khas Sudjojono sendiri. Sudjojono juga mengagumi pelukis Jerman, Marc Chagall. Lukisan Sudjojono berjudul Di Depan Kelambu Terbuka disebut Aminuddin terinspirasi secara artistik dari lukisan Bella in Green karya Chagall. Modernitas yang ditawarkan Sudjojono serta anjurannya untuk belajar dari Barat agar dapat menemukan identitas seni lukis Indonesia inilah yang kemudian hari melambungkan nama Sudjojono. Namun , perjalanannya sebagai pelukis masih panjang melalui zaman Jepang, Revolusi, Orde Lama , dan Orde Baru kelak.

  • Dari Kopi hingga Anggur

    Kopi Tersebar ke Seluruh Dunia Kopi tersebar ke seluruh dunia secara tak terduga. Selepas tunai berhaji, seorang jamaah haji asal Mysore, India, menyelundupkan tujuh biji kopi ke kampungnya pada abad ke-15. Dia hanya berniat ingin menikmatinya sendiri. O rang - orang kampung mendorongnya lebih jauh. Sejak itu, kopi mulai dikenal di beberapa kota pelabuhan dunia seperti Venezia, Lisabon, dan Amsterdam. Orang-orang pun segera gandrung minum kopi. Melihat permintaan yang tinggi, pedagang-pedagang Eropa mencari cara mendatangkan kopi. Mereka membawa pulang kopi dari wilayah Timur Tengah seperti Israel, Yordania, Libanon, dan Syiria. Belanda kemudian membawa biji kopi dari Yaman ke Ceylon (Srilanka). Di sana, mereka membudidayakannya. Tak puas dengan Ceylon, Belanda meluaskan ekspansinya ke Nusantara. Bersama itu, mereka juga menjadikan Nusantara, terutama Jawa, sebagai tanah budidaya kopi pada abad ke-17. Tak beberapa lama, Belanda berhasil menguasai penjualan kopi dunia. Tradisi Minum Teh Teh memiliki beragam kisah muasal. Salah satunya menyebut berasal dari Tiongkok. Disebutkan seorang Kaisar Tiongkok pada 2737 SM, Shen Nung, tengah duduk di bawah pohon sembari memasak air. Tiba-tiba helai daun teh jatuh dan masuk ke dalamnya. Aroma wangi menyeruak saat daun itu diseduh. Seduhan itu lalu diminum. Rasanya pahit dan sepat. Namun , kaisar menyukainya karena tubuhnya terasa segar. Sekarang daun itu dikena l dengan Camellia sinensis , sedangkan seduhannya disebut teh. Meski telah diminum khalayak sejak lama, pengolahan daun teh baru berkembang pada masa Dinasti Tang (618-906). Teh diolah dengan cara ditumbuk lalu dicetak dalam bentuk bata. Setelah mengering, teh bisa diseduh. Kala itu teh sudah menjadi minuman mewah. Tak sembarang orang bisa menikmatinya. Keluarga kaisar meminumnya sebagai simbol status. Saat upacara pengadilan kekaisaran dihelat, teh wajib dihidangkan. Bersama keluarga kaisar, sastrawan mendapat kehormatan ikut meminumnya. Kebiasaan ini diperkenalkan ke Jepang pada masa Dinasti Song (960-1279). Secara bertahap, teh akhirnya menyebar ke wilayah Eropa dan belahan dunia lainnya. Budidaya teh di Indonesia Awalnya teh hanyalah tanaman hias yang ditanam di beberapa lokasi, termasuk Istana Gubernur Jenderal di Batavia. Harga teh yang tinggi di pasar Eropa mendorong pemerintah Hindia Belanda melakukan percobaan membudidayakan teh. Pada 1826, teh berhasil dibudidayakan di Kebun Raya Bogor. Setahun kemudian penanaman dilakukan di Cisurupan, Garut, lalu dalam skala besar di Purwakarta dan Banyuwangi. Keberhasilan ini mendorong Jacob Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, untuk mendirikan perkebunan teh komersial di Jawa. Pada 1835, untuk kali pertama teh dari Jawa diekspor dan sebanyak 200 peti dilelang di Amsterdam. Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch menjadikan teh sebagai salah satu tanaman yang harus ditanam di masa Tanam Paksa. Teh adalah salah satu komoditas ekspor penting. Penemuan dan Pemanfaatan Tuak Minuman keras ini khas Nusantara. Penduduk lokal meracik tuak dengan menyadap pohon aren –sejenis palem. Pohon ini tersebar di beberapa wilayah Nusantara. Air sadapannya disebut nira. Cara menyadap ini bertahan turun-temurun. Catatan historis tertua mengenai minuman ini berasal dari berita Tiongkok masa Dinasti T’ang (618-906 M). Berita itu menyebut penduduk Ho-ling –sebuah kerajaan di Jawa Tengah– gemar meracik minuman keras dari nira kelapa. Sementara itu, Prasasti Taji (901 M), Kembang Arum (902 M), dan Rukam (907 M) mengisahkan pemanfaatan tuak yang dihidangkan saat penetapan suatu sima (tanah perdikan/bebas pajak). Penyulingan Anggur Tertua Sejumlah arkeolog mengungkap beberapa tempat yang diduga sebagai penyulingan anggur tertua. Tempatnya tersebar di pelbagai penjuru dunia. Pada 1963, arkeolog menemukan sebuah penyulingan anggur kuno di Tepi Barat, Palestina. Tempat itu diperkirakan dibangun pada 1650 SM. Temuan lain pada 1996 mengungkap sisa-sisa penyulingan anggur berusia 7400 tahun di desa Neolitik Hajji Firuz, bagian utara Iran. Sedangkan temuan paling mutakhir pada Juni 2010 mengungkap wilayah Areni, selatan Armenia, sebagai penyulingan anggur berusia lebih 5500 tahun.

  • Dari Nina Bobo hingga Salam Metal

    Lagu untuk Menidurkan Anak Ada banyak kisah mengenai lagu ini. Mulai terkait lagu kematian hingga pemujaan terhadap setan. Tapi semua kisah itu tak bersandar pada catatan sejarah yang terang. Lagu itu sebenarnya sejenis lullaby , sebuah lagu yang enak didengar, menyejukkan hati, dan biasa didendangkan kepada anak kecil agar tertidur. Tiap bangsa punya lagu seperti itu. Tak ada catatan sejarah yang terang menyebut kapan lagu itu mulai dikenal masyarakat Indonesia. Tapi Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menyebut judul lagu itu berasal dari gabungan bahasa Portugis dan Spanyol; Menina (gadis kecil) dan Bobo (bodoh dalam pengertian disayang). Mungkin mula lagu ini bisa terjejaki dari sejarah interaksi penduduk Nusantara dengan bangsa Portugis dan Spanyol pada abad ke-15. Sejarah Titilaras di Indonesia Sebelum berjumpa dengan kebudayaan Barat (diatonik, tujuh nada), titilaras yang dikenal di Indonesia adalah pentatonik (lima nada). Sebutannya berbeda di tiap daerah: selonding di Bali, pelog dan slendro di Jawa, maoling di Minahasa, dan sorog atau madenda di Sunda. Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menulis, di antara semua titilaras yang dipunyai kebudayaan Indonesia, hanya slendro yang diketahui sejarahnya.” Dalam catatan Tiongkok terungkap titilaras itu dikenal pada masa pemerintahan Buddha, Syailendra, di sekitar Candi Borobudur pada abad ke­-8. Orang Jawa mengenal titilaras itu melalui seorang guru agama Buddha dari Tiongkok, Hwi Ming. Titilaras itu sudah dikenal masyarakat Tiongkok sejak 2700 SM. Fenomena British invasion British invasion adalah fenomena dalam dunia musik Amerika Serikat pada dekade 1960-an. “Invasi Inggris” ini merujuk pada grup band legendaris Inggris asal Liverpool, The Beatles. Mengusung genre rock n roll , lagu bertajuk “I Want to hold Your Hand” sukses merajai tangga lagu Amerika saat dirilis pada 26 Desember 1963. Dalam kurun dua bulan, singel itu mencapai penjualan album tertinggi di Amerika. Ketika melakukan tur ke Amerika pada Februari 1964, penampilan The Beatles disaksikan 74 juta pemirsa ketika tampil di acara The Ed Sullivan Show.The Beatles, sejak itu, menguasai industri musik Amerika lewat lagu-lagu mereka. Korps Marching Band Bermula Bentuk awal korps marching band tercatat bermula di Kesultanan Ottoman pada abad ke-13. Dalam setiap pertempuran, sebuah korps khusus akan mengiringi pasukan Ottoman dengan memainkan musik-musik yang menggetarkan musuh sekaligus meningkatkan semangat juang prajurit kesultanan. Korps ini dinamakan mehter , yang juga merupakan bagian dari korps elite Janissary , pasukan budak milik sultan. Pada awalnya, musik-musik mehter hanya dimainkan di medan pertempuran. Namun kemudian berkembang menjadi musik orkestra dan dipertunjukkan dalam acara-acara seremonial di istana. Dengan perantaraan perang antara Ottoman dan kerajaan-kerajaan Eropa, pada abad ke-17 musik mehter pun merambah dunia Barat dan mempengaruhi karya-karya komposer kenamaan Eropa saat itu, seperti Mozart dan Beethoven. Salam Metal Jadi Populer Salam berupa isyarat tangan yang mengangkat jari telunjuk dan kelingking ke udara kali pertama dipopulerkan Ronnie James Dio, vokalis Black Sabbath, grup musik asal Inggris yang sering disebut sebagai perintis genre musik heavy metal . Dalam setiap konsernya, Dio melakukan salam ini sebagai sarana berkomunikasi dengan penonton. Salam ini kemudian melekat dengan musik-musik metal; juga rock dan pop. Menurut Dio, dia tahu “salam metal” ini sejak kecil dari neneknya yang seorang keturunan Italia. “Saya diberitahu bahwa hal ini disebut malocchio . Jika seseorang dilanda nasib buruk karena pengaruh setan, nenek saya akan menunjukkan malocchio untuk menghindari nasib buruk tersebut,” ujar Dio dalam Louder Than Hell: The Definitive Oral History of Metal yang disusun Jon Wiederhorn dan Katherine Turman.

  • Ketika Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud

    PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta. Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho , namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas. Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam. “Namun rupanya Cornel menyadari juga, bahwa ia perlu mencari jalan keluar dari kemelut itu. Pada suatu sore sepulang di rumah ia menyatakan, bahwa di Gang Thimas, Tanah Abang, ada barang dagangan berupa arang,” tulis Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang. Arang itu harus dijual dan mendapatkan untung karena modal pokoknya harus disetorkan kepada pemilik arang. Mereka yang biasanya bergelut di dunia kesenian itu pun harus rela menjadi penjual arang agar dapur kembali mengepul. Agar arang itu cepat laku, mereka menodong orang-orang yang dikenal. Cornel meyebut nama-nama yang kemungkinan mau membeli arang, seperti Lasmidjah Hardi yang turut berjuang ketika revolusi, dan Ibu Sud, pencipta lagu kenamaan. “Esok harinya kami berangkat ke Gang Thomas. Segera pula keranjang-keranjang berisi arang kami tumpuk di atas sebuah gerobak dorong. Cornel bekerja keras tanpa menghiraukan tangan dan pakaiannya yang menjadi hitam. Kami pun berangkat. Saya memegang bagian depan gerobak untuk menjaga keseimbangannya, dan Cornel mendorong dari belakang,” kata Binsar. Setelah basah kuyup oleh keringat, mereka sampai di Jalan Maluku, Menteng, tempat Ibu Sud tinggal. Tanpa bertanya dulu, mereka lalu menurunkan lima keranjang arang dan mengangkutnya ke dapur rumah Ibu Sud. Ibu Sud hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak muda itu. Ia juga tidak menawar harga arang ketika Cornel menyebut nominal. Tak sampai di situ, pada kesempatan itu Cornel menodong lagi. “Ibu Sud, kami lapar nih,” kata Cornel. Ibu Sud segera pergi ke dapur. Kembali dari dapur, Ibu Sud membawa dua piring nasi goreng yang masih hangat dan baunya harum. “Aduhai, sudah lama kami tidak menikmati hidangan seenak itu,” kata Binsar. Melihat anak-anak muda kumal dan kelaparan itu Ibu Sud hanya termenung. “Hai Cornel, mana lagumu yang baru? Jangan asyik mengurus arang saja dong,” kata Ibu Sud. “Tunggu saja Bu, kalau sudah laku semua ini, akan saya buat lagu Romantika Penjual Arang ,” jawab Cornel. Mendengar jawaban Cornel, Ibu Sud hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Hubungan Cornel dengan Ibu Sud memang sudah erat sejak lama. Cornel banyak belajar musik dari Ibu Sud sejak pindah ke Jakarta. Biasanya, ketika Cornel selesai membuat lagu baru, Ibu Sud yang menjadi pendengar pertamanya. Ibu Sud juga yang menganjurkan Cornel mengikuti les menyanyi pada Ny. Kempers, seorang guru musik berkebangsaan Belanda.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page