Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Omar Dani, Kisah Tragis Panglima Sukarnois
DI kalangan perwira tinggi AD (Angkatan Darat), Menteri/Panglima AU Omar Dani kerap kali dirundung. Namanya dijengkali sekaligus disegani. Dani dijengkali karena dianggap masih perwira belia. Di jajaran panglima angkatan perang, Dani adalah yang termuda. Meski demikian, reputasi Dani tetap diperhitungkan sebab dia panglima pilihan Presiden Sukarno. “Sejak saya di Kalimantan Timur, saya tidak senang pada orang itu (Dani). Saya selalu berpikir tentangnya (sebagai) ‘anak kemarin sore sudah mau memimpin kita’,” demikian pendapat Soemitro kepada Ramadhan K.H. dalam Soemitro: Dari Panglima Mulawarman sampai Pangkopkamtib . Soemitro adalah salah satu jenderal AD yang punya pengalaman tidak enak terhadap Dani. Waktu itu, Soemitro menjabat Panglima Mulawarman di Kalimantan Timur. Di saat yang sama, Omar Dani ditunjuk sebagai Panglima Komando Siaga (KOGA) dalam rangka konfrontasi ganyang Malaysia. Sebagai panglima di wilayah perbatasan dengan Malaysia, Soemitro harus menyokong rencana operasi KOGA. “Omar Dani, bocah kemarin sore, masih belum punya pengalaman perang,” kata Soemitro. “Tetapi malah disuruh memimpin kami-yang sudah bongkel-bongkel , yang sudah sejak zaman revolusi 45 sampai tua masih terus diajak perang.” Digembosi Oknum AD Penujukan Omar Dani sebagai Panglima KOGA cukup menohok bagi pihak AD. Perasaan itu sudah mengakar sejak Presiden Sukarno mendapuk Dani selaku Panglima AU. Menurut mereka, masih banyak perwira AURI lain yang jauh lebih senior ketimbang Omar Dani. Dan lagi, Dani dikenal sebagai panglima Sukarnois yang mendukung Sukarno tanpa reserve. Dalam perkembangannya, AD menampilkan sikap antagonis terhadap AU. “Mereka yang berada di luar sering lupa, Omar Dani memang seorang komandan yang handal, berpendidikan cukup bagus, berpengalaman tempur serta mempunyai prestasi bagus sebagai komandan skuadron,” ujar mantan tokoh AU Marsekal Madya (Purn.) Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi . Ketika menangani konfrontasi Malaysia, disitulah Dani “dihajar” oleh oknum petinggi AD. Semula yang membantu Dani adalah Laksamana Muda Mulyadi, deputi operasi AL (wakil I) dan Brigjen Achmad Wiranatakusuma, kepala staf Kostrad (wakil II). Pada awal 1965, konflik dengan Malaysia kian memanas. KOGA diganti menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Susunan pembantu Dani diganti lagi. Mayjen Soeharto, panglima Kostrad menjadi wakil I sementara Laksamana Mulyadi turun menjadi wakil II. Kabarnya, Soeharto begitu menginginkan posisi dalam jajaran tertinggi Kolaga sehingga dia menggeser Achmad Wiranatakusuma. Menurut Omar Dani, sebenarnya kinerja Achmad Wiranatakusuma cukup memuaskan. Achmad cukup berjasa menyusun organisasi dan rencana operasi KOGA. Selain itu, Dani dan Achmad membentuk staf yang kompak dengan sinergi kerjasama lintas angkatan. Kedatangan Soeharto membawa perubahan organisasi, mengutak-atik rencana, dan mengacaukan strategi dasar Kolaga sehingga meruwetkan suasana. “Segala apa yang diminta Jenderal Soeharto, tidak ada seorangpun yang berani menolaknya,” ujar Omar Dani dalam biografinya Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno. Kepemimpinan Omar Dani dalam Kolaga gagal mencapai sasaran. Rencana operasi kerap kali tidak berjalan di lapangan karena AD punya agenda tersendiri untuk mengakhiri konfrontasi. Soeharto secara diam-diam menjalankan operasi khusus berupa aksi penyelundupan pangan ke pihak musuh. Gerakan klandestin ini dijalankan anak buah Soeharto di Kostrad: Ali Moertopo dan Benny Moerdani. Mereka mengerahkan 200 speedboat yang dipakai melintasi Sumatra, Malaysia dan Singapura. Keduanya juga berperan melakukan lobi-lobi rahasia terhadap pejabat politik Malaysia yang bertentangan dengan kebijakan Omar Dani. Selain itu, ada lagi Brigjen TNI Kemal Idris, panglima komando tempur I yang enggan melaksanakan perintah komando untuk melakukan infiltrasi. Puncaknya, dalam rapat pimpinan KOTI, Soeharto mengatakan kepada Presiden Sukarno bahwa Omar Dani kurang pantas menjadi panglima Kolaga. Omar Dani sendiri tidak mengambil tindakan atau mengadu ke mana-mana atas perlakuan yang menyudutkan dirinya itu. Hanya dengan Brigjen Soepardjo, panglima komando tempur II, Omar dani dapat bekerja sama dengan baik. Menurut sejarawan Humaidi, pembangkangan terhadap komando Omar Dani merupakan suatu petunjuk bahwa AD tidak sepenuhnya mendukung upaya Konfrontasi Malaysia. AD beranggapan konfrontasi adalah suatu langkah provokasi PKI menarik dukungan masyarakat dan memperkeruh situasi politik. Sehingga keberlangsungannya harus dihindari. “Keikutsertaan Angkatan Darat dalam Konfrontasi Malaysia adalah suatu tindakan yang kontra-produktif, karena isu konfrontasi hanya menguatkan dukungan bagi kaum komunis yang menjadi pendukung politik gagasan tersebut,” tulis Humaidi dalam tesisnya di Universitas Indonesia “Politik Militer Angkatan Udara Republik Indonesia dalam Pemerintahan Sukarno 1962-1966.” Rontok Setelah Gestok Hari laknat itu tiba: 1 Oktober 1965. RRI mengumandangkan berita terjadinya operasi militer Gerakan 30 September (G30S) yang telah menyelamatkan Presiden Sukarno. Gerakan yang dipimpin Letkol Untung itu menciduk sejumlah jenderal AD yang diduga akan melancarkan kudeta Dewan Jenderal. Omar Dani menganggap kejadian itu bagian dari konflik internal AD. Segera dia mengeluarkan surat perintah harian yang mengatakan: AURI tidak turut campur dalam G30S dan AURI setuju dengan tiap gerakan pembersihan yang diadakan dalam tubuh tiap alat revolusi sesuai garis Pemimpin Besar Revolusi (Presiden Sukarno). Namun setelah perintah harian itu tersiar, baru diketahui Gerakan 30 September didalangi oleh biro politik yang dipimpin oleh D.N. Aidit, pemimpin PKI. Jelas, Dani mengambil langkah tergesa-gesa yang berakibat fatal dalam hidupnya. “Perintah harian itu kemudian menjadi persoalan besar di mata kelompok Soeharto,” demikian catatan sejarawan Asvi Warman Adam dalam Menguak Misteri Sejarah . “Perintah itu dianggap oleh kelompok Soeharto sebagai bukti keterlibatan Omar Dani dalam mendukung G30S.” Situasi politik menggoyahkan kepemimpinan Presiden Sukarno. Secara perlahan, kekuasaan beralih ke tangan Jenderal Soeharto. Dengan dalil pemulihan keamanan yang diperoleh lewat Surat Perintah 11 Maret, Soeharto mulai menangkapi orang-orang yang dicurigai, termasuk Omar Dani. Tudingan yang memberatkan Dani adalah kawasan Pangkalan AU Halim Perdana Kusumah yang kerap dijadikan tempat latihan Pemuda Rakyat, organ pemuda PKI. Selain itu, beberapa anggota AURI diduga terlibat dalam G30S. Pada April 1966, Omar Dani ditahan untuk dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Jurnalis kawakan Julius Pour dalam G30S: Fakta atau Rekayasa mencatat, Omar Dani menyadari dirinya bakal diajukan ke depan sidang peradilan yang penuh fitnah, tekanan serta campur tangan penguasa. Di depan sidang Mahmilub, dengan sikap gagah Omar Dani memberi penegasan: “Segala macam tindakan dari anggota AURI selama berlangsungnya Peristiwa G30S, semuanya tanggung jawab saya, sama sekali bukan tanggung jawab mereka.” Pengadilan Mahmilub pada akhirnya menyatakan Omar Dani bersalah. Panglima Sukarnois ini dijatuhi vonis hukuman mati. Namanya pun dinista selama rezim Orde Baru.*
- Katie dan Margaret yang Berjasa dalam Riset Antariksa
KATIE Bouman membuat gebrakan. Berkat algoritma yang disusunnya, foto lubang hitam bisa terwujud pertamakali dalam sejarah. “Saya sangat senang akhirnya kami dapat membagikan apa yang telah kami kerjakan selama beberapa tahun terakhir. Gambar yang ditampilkan hari ini adalah kombinasi dari gambar yang dihasilkan oleh berbagai metode,” tulis Katie dalam akun Facebook -nya. Gambar yang dirilis NASA menunjukkan bayangan lubang hitam supermasif di pusat galaksi Messier 87 (M87), sebuah galaksi elips berjarak sekitar 55 juta tahun cahaya dari Bumi. Lubang hitam M87 punya masa 6,5 miliar lebih berat dari Matahari. Pengambilan foto lubang hitam tersebut menggunakan delapan teleskop radio (Event Horizon Telescope, EHT). Kedelapan teleskop tersebar itu berada di Hawaii, Meksiko, Arizona, Sierra Nevada Spanyol, Gurun Atacama Chili, dan Antartika. Semuanya beroperasi secara bersamaan untuk menagkap foto lubang hitam. Katherine Louise Bouman lahir di Indiana, 9 May 1989. Ahli komputer itu menyelesaikan studi doktoralnya di Massachusetts Institute of Technology (MIT). The Guardian menyebut, Katie bergabung dengan tim proyek penyusunan algoritma enam tahun lalu, ketika usianya masih 23 tahun. Ia duduk sebagai peneliti muda, mengembangkan alogaritma untuk menyusun data dari teleskop menjadi satu gambar yang koheren. Setelah tiga tahun membangun kode pencitraan, Katie bekerja dengan puluhan peneliti EHT selama dua tahun untuk mengumpulkan pencitraan lubang hitam. Pada Juni 2018 semua data teleskop akhirnya terkumpul. Katie bersama peneliti lain lalu menguji alogaritma yang sudah mereka susun di Harvard, sampai akhirnya foto lubang hitam itu rilis Rabu, 10 April 2019. Dalam sejarah penelitian antariksa, Katie tak sendiri. Ada juga Margaret Hamilton, perempuan yang berjasa dalam pendaratan tim Neil Amstrong di bulan pada 1969. Margaret lahir di Indiana, 17 Agustus 1936. Lulusan jurusan matematika Universitas Michigan tahun 1955 itu kala berusia 24 tahun bergabung sebagai programmer di MIT. Dari MIT ia bergabung dengan proyek Apollo 11 –yang dicetuskan Presiden John F Kennedy pada 1961– sebagai peneliti. Keikutsertaannya terjadi lantaran program pendaratan manusia di bulan merupakan kolaborasi pemerintah dengan MIT. Margaret bekerjasama dengan 400.000 peneliti lain. Ia duduk sebagai kepala Divisi Rekayasa Perangkat Lunak dari Laboratorium Instrumentasi MIT. Margaret bertugas mengembangkan sistem bimbingan dan navigasi untuk Apollo 11. Sebagai ahli komputer, ia memimpin tim yang mengembangkan perangkat lunak dengan pengujian ketat. “Tidak ada kesempatan kedua. Kami semua tahu itu,” kata Margaret seperti dimuat dalam situs NASA. Progam yang disusun Margaret berhasil. Amstrong yang menjajal software bikinan Margaret berhasil mendarat di bulan pada 20 Juli 1969 bersama dua rekannya, Michael Collins dan Edwin “Buzz” Aldrin. Perangkat lunak panduan Apollo 11 bikinan Margaret sangat mutahir dan tidak terjadi kesalahan atau kemacetan sistem. Kesuksesan program itu kemudian dipakai pula untuk roket Skylab, Space Shuttle, dan sistem fly-by-wire digital di pesawat (sistem yang membantu pilot mengoreksi kendali terbang pesawat). Atas temuan pentingnya ini, NASA memberikan penghargaan khusus untuk Margaret pada 2003. “Penghargaan tersebut termasuk penghargaan finansial terbesar yang pernah diberikan NASA kepada individu mana pun hingga saat itu.” Ia kembali mendapat penghargaan pada 22 November 2016 ketika Presiden Barack Obama memberi Presidential Medal of Freedom untuk kontribusinya atas pendaratan sukses Apollo 11.
- Awal Modernisasi Perekonomian Mangkunegaran
BISING kendaraan seolah lenyap begitu memasuki Mangkunegaran. Luasnya kompleks keraton seolah membuat suara kendaraan-kendaraan tak mampu memasukinya. Sebagai gantinya, yang terdengar hanya suara desis angin, kicau burung, dan tawa riang anak-anak yang berlarian. Siang 18 Maret 2019 itu, Mangkunegaran tak ramai. Selain serombongan turis asing, hanya ada satu-dua keluarga dan beberapa mahasiswa yang berkunjung. “Kalau musim liburan, dari berbagai kota itu banyak ke sini. Satu sekolah kadang-kadang 10 bus, 15 bus. Ya dari berbagai kota,” ujar Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia. Para turis itu terlihat kagum terhadap bangunan maupun benda-benda antik koleksi Museum Puro Mangkunegaran. Mayoritas kondisinya masih terawat baik. “Ada kewajiban turun-temurun untuk memelihara. Memelihara biar generasi berikutnya tidak kehilangan sumber, kehilangan arah. Nah itu diupayakan tetap terpelihara,” sambungnya. Modernisasi Ekonomi Kesadaran para penguasanya memelihara warisan leluhur berperan penting dalam memajukan Mangkunegaran. Dipadukan dengan pengetahuan baru yang diperoleh dari luar, kesadaran itu membuat Mangkunegaran memulai banyak hal baru di zaman banyak kerajaan di Nusantara belum mengenalnya. Di bidang ekonomi, Mangkunegaran mempelopori penggunaan sistem perekonomian modern. Hal itu dimulai oleh Mangkunegara IV. “Untuk menopang keuangan praja, ia tidak hanya mengandalkan pajak secara tradisional sebagaimana yang umumnya berlaku di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan perusahaan-perusahaan perkebunan dan industri pengelolaannya untuk menopang perekonomian praja,” tulis Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 . Untuk itu, langkah pertama yang diambilnya setelah naik takhta adalah langsung mengambil kembali tanah-tanah apanage (tanah lungguh). Sebagian besar tanah apanage itu telah disewakan pemegangnya kepada para pengusaha swasta Eropa. “Penarikan tanah dimulai dari kalangan keluarga raja yang berlangsung dari tahun 1862-1871. Setelah itu baru dilanjutkan dengan para patuh lainnya, termasuk para anggota Legiun Mangkunegaran. Tindakan ini mendapat dukungan dari residen Nieuwenhuizen. Pada tahun 1871, tanah lungguh yang telah ditarik mencapai luas 121,25 jung atau 485 bau yang berasal dari lungguh yang diberikan kepada delapan putra Mangkunegara II, dua putra Mangkunegara III, tiga putra Mangkunegara IV, dan seorang saudara dari Mangkunegara IV,” tulis Wasino dalam buku lainnya, Kapitalisme Bumiputra: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran . Para pemegang tanah apanage kemudian digaji dengan uang setiap bulan, bukan lagi menerima bayaran dari hasil pengusahaan tanah itu. “Perubahan dari sistem gaji tanah apanage menjadi uang merupakan suatu loncatan yang luar biasa dari sebuah praja tradisional di Jawa,” tulis Wasino dalam buku lainnya. Selain digaji, para pemegang apanage yang tanahnya ditarik juga mendapat ganti rugi yang jumlahnya berbeda-beda tergantung luas dan kualitas tanah. Setiap jung diganti f 120 per tahun. Mereka juga mendapatkan pembagian keuntungan bila bekas tanah mereka menguntungkan setelah diusahakan. Selain mengambil kembali apanage yang dipegang kalangan keluarga, tulis Vincent JH Houben dalam Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta 1830-1870 , “Mangkunegara IV mencoba mendapatkan kembali kekuasaan atas tanah-tanah yang telah disewakan kepada orang-orang Eropa. Dua kali usaha yang dilakukanya untuk itu, pada tahun 1856 dan 1877, gagal.” Tanah-tanah yang telah kembali itu oleh Mangkunegara IV lalu digunakan untuk pertanian dan perkebunan secara modern seperti yang dilakukan pemerintah kolonial atau perusahaan swasta Eropa. Selain perkebunan kopi dan tebu yang jadi andalan, tanah-tanah itu digunakan untuk penanaman padi boga, kina, kapas, tembakau, dan lain sebagainya. Mangkunegaran juga mendirikan pabrik gula modern, yakni Colomadu (1861) dan Tasikmadu (1871). Memakan biaya sebesar 400 ribu gulden, pendirian PG Colomadu dilakukan setelah ada pinjaman dana dari pemerintah dan Mayor China di Semarang Be Bin Coan. Untuk mendukung perniagaan itu, Mangkunegara IV memprakarsai pembangunan Stasiun keretaapi Balapan sebagai bagian dari jalur keretaapi Solo-Semarang. Besarnya modal yang dikeluarkan Mangkunegaran sebanding dengan hasil yang didapatkan darinya. “Perusahaan perkebunan kopi serta perkebunan tebu dan pabrik gula yang paling besar sumbangannya bagi pendapatan Praja Mangkunegaran. Pada kurun waktu 1871-1881, Praja Mangkunegaran menerima laba dari hasil penjualan kopinya sebesar f 13.873.149, atau f 1.261.195, suatu jumlah penerimaan yang cukup besar bagi sebuah kerajaan tradisional,” tulis Wasino. Ketika mangkat, Mangkunegara IV mewariskan kekayaan sebesar 25 juta gulden.
- Kejanggalan Operasi Mapenduma
KALA Kopassus yang dipimpin Brigjen Prabowo Subianto bersiap untuk misi pembebasan sandera Tim Ekspedisi Lorentz ‘95 di Papua, seorang anak buahnya malah bikin ulah. Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum operasi militer dilancarkan. Insiden berdarah telah menyeret nama Letnan Sanurip. Pada 15 April 1996, Sanurip, seorang penembak runduk Kopassus, menembaki orang-orang di lapangan terbang Timika. Atas aksinya, sepuluh tentara – termasuk Letkol Adel Gustinigo, Komandan Den-81 yang saat itu menjadi perwira kepercayaan Prabowo - , empat warga sipil, dan seorang pilot maskapai Twin Otter berpaspor Selandia Baru tewas. Sementara korban yang mengalami luka sebanyak sepuluh tentara dan tiga warga sipil. Sanurip sejatinya adalah seorang instruktur penembak runduk yang akan diterjunkan dalam operasi. Namun kemudian dia tidak dilibatkan. Pihak ABRI mengatakan, Sanurip stres dan berlaku laiknya koboy lantaran kecewa namanya tak masuk rencana operasi. Proses pengadilan Sanurip sarat keganjilan. Pihak Kopassus terkesan menutupi pemeriksaan. Ada indikasi Prabowo khawatir Sanurip akan mengungkapkan hal-hal yang dapat membuka aibnya. Tak berapa lama, tiba tiba terdengar kabar kalau Sanurip meninggal bunuh diri di dalam sel. Kisah tragis nan aneh Sanurip itu mengawali keganjilan dalam operasi pembebasan sandera di Mapenduma. Heli Jatuh Kasus Sanurip berlalu. Operasi penyelamatan sandera tetap harus jalan. Perintah eksekusi masih menunggu perintah dari Panglima ABRI, Jenderal Feisal Tanjung yang sedang berada di Jawa Timur. Jawaban yang ditunggu tak kunjung datang. Letjen Soeyono, Lepala Staf Umum ABRI meminta jaminan Prabowo berapa persen kemungkinan keberhasilan operasi. “80 sampai 90 persen,“ jawab Prabowo dengan yakin. Mendengar itu, Soeyono mengizinkan operasi dilancarkan. Pada 9 Mei 1996, Kopassus akhirnya diturunkan ke Mapenduma. Namun pada menit pertama, Soeyono mendapat laporan bahwa helikopter yang mengangkut pasukan mengalami kecelakaan fatal. Heli naas yang diterbangkan Lettu CPN Agus Riyanto dan Lettu CPN Tukiman jatuh terjerembab. Ekornya menghantam pohon dan terbalik. “Laporan 80 sampai 90 persen ternyata omong kosong belaka dan merupakan suatu kecerobohan,” tukas Soeyono dalam biografinya Soeyono: Bukan Puntung Rokok yang disusun Benny Siga Butar-butar. Pengakuan lain dituturkan Markus Warib, salah seorang sandera yang selamat. Menurut Markus, ketika heli TNI AU jenis Bolco sedang mencari-cari tanah lapang untuk menurunkan pasukan, tetiba diberondong gerilyawan Organisasi Papua Merdeka. (OPM) . Helikopter tersebut jatuh ditembak oleh seorang pemuda yang memegang sebuah senjata berat. Akibat penembakan tersebut, sebanyak 12 penumpang menjadi korban. Lima orang tewas dan sisanya mengalami luka-luka. Korban yang meninggal, Kapten Penerbang Agus (pilot), Sertu Parlan (AU), dan tiga prajurit Kopassus yakni, Lettu Umar, Serda Pitoyo, dan Pratu Sudiono. Keterlibatan Pasukan Asing Kejanggalan lain menyangkut sandera yang gagal diselamatkan. Keterangan resmi menyebutkan Yosias Lasamahu dan Navy Panekanan terbunuh di tengah hutan dengan luka bacokan di tubuh. Kematian dua sandera ini belum diketahui persis siapa pelakunya. “Selama kami disandera para penyandera telah bersumpah untuk tidak menghilangkan nyawa para sandera, sebab menghilangkan nyawa berarti harga yang harus dibayar mahal atas kritikan dan hilangnya simpati dunia terhadap perjuangan OPM,” kata Markus Warib kepada Decki Natalis Pigay dalam wawancara yang termuat di Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik di Papua . Menurut Letkol I Nyoman Cantiyasa, komandan Tim Kilat II Kopassus yang terlibat dalam operasi, kedua sandera itu berusaha menyelamatkan diri ketika terjadi baku tembak antara gerombolan OPM dan pasukan penjejak Kopassus dari Tim Kasuari I. Untuk menutup ruang gerak OPM, pasukan penyerbu Tim Kilat Kopassus meminta bantuan tim penutup Pandawa dari Kostrad untuk menghadang gerombolan. Baku tembak terjadi cukup ramai. "Beberapa anggota gerombolan penyandera tewas tertembak dan sebagian melarikan diri, Dua orang sandera tewas dibacok dan yang lain luka-luka ketika mencoba kabur," tutur Nyoman dalam "Pembebasan Tim Lorentz di di Mapenduma" termuat di Kopassus untuk Indonesia suntingan Iwan Santosa dan E.A. Natanegara. Upaya pembebasan itu sendiri menyisakan tanda tanya seputar keterlibatan pasukan asing. Pasukan komando Kerajaan Inggrs, Special Air Service (SAS) dan para serdadu bayaran dari perusahaan keamanan ternama Executive Outcomes (EO) yang berpengalaman dalam operasi intelijen anti-teror diduga ikut serta dalam operasi. Decki Natalis Pigay menulis, CEO Commander EO, Nick van den Bergh mengakui bahwa timnya yang beranggotakan lima orang telah diterjunkan untuk mengatasi krisis di Irian Jaya. Dugaan ini diperkuat laporan Jawa Pos , Juli 1997 yang mengutip keterangan seorang sandera bernama Daniel Start. Kesaksian itu menyebutkan, para anggota OPM yang tewas tidak lain merupakan korban dari pasukan SAS dan EO yang menyamar sebagai petugas International Red Cross (Palang Merah Internasional). Namun yang umum tersiar ke publik adalah keberhasilan pasukan Kopassus yang dipimpin Prabowo. “Upaya pembebasan ini menjadi misteri,” tulis Pigay. Jurnalis sejarah militer Iwan Santosa, menyebut keterlibatan pemerintah Inggris bukanlah suatu hal yang mustahil mengingat begitu sibuknya kedutaan besar mereka di Jakarta saat itu. Menurut sebuah artikel yang diturunkan oleh bisnis.com , saat kejadian atase militer Kedutaan Besar Inggris di Jakarta Kolonel Ivan Helberg (yang merupakan alumni SAS) langsung turun didampingi oleh tiga anggota Unit Negosiasi Penyaderaan (HNU) dari Kepolisian Inggris serta sejumlah anggota SAS. Soal kehadiran tentara bayaran dari EO pun adalah sebuah keniscayaan karena saat itu salah satu perusahaan kemanan terkemuka di dunia tersebut tengah memiliki "proyek" di Papua Nugini. Mereka, disebutkan tengah terlibat kontrak kerja dengan pemerintahan Perdana Menteri Julius Chan untuk menghadapi pemberontak Tentara Revolusiener Bougainville yang secara sepihak menyegel sekaligus menutup tambang emas Bougainville "milik" Rio Tinto (pemilik sebagian besar Freeport McMoran). "Kalaupun ada personil EO yang terlibat di Mapenduma bisa saja, karena saat itu EO lagi ada di Papua Nugini guna menangani para pemberontak di Bougainville" ujar Iwan kepada HISTORIA.ID. Keterangan Iwan berkelindan dengan paparan Pacific Journalism Review (edisi Januari 2000). Dalam jurnal terkemuka itu, Peter Cronau menyebutkan bahwa sejumlah instruktur tempur berpengalaman dari EO digunakan jasanya oleh Kopassus. Bukan saja berperan sebagai penasehat militer, bahkan mereka ikut terjun langsung dalam operasi penyerbuan para penyandera dari OPM di Desa Geselema, Mapenduma pada 9 Mei 1996. Salah satu helikopter yang terlibat dalam serangan terhadap Geselema terlihat membawa tanda Palang Merah sambil membawa para prajurit Kopassus dan sejumlah tentara berkulit putih. Soal kehadiran "serdadu bule" dalam helikopter berwarna putih ini dikonfirmasi dalam program Mark Davis's Four Corners di ABC TV yang kali pertama ditayangkan pada 12 Juli 1999 di Australia.
- Mobil Biru yang Ditunggu
MUNIAR, seorang transmigran di Tempuling, Riau, tinggal terpisah dengan anaknya yang kuliah di Yogyakarta. Untuk sekadar berkomunikasi dengan anaknya menggunakan surat, Muniar seringkali harus pergi ke Kantor Pos yang jaraknya cukup jauh. Kala itu warung telekomunikasi (wartel) belum masuk ke daerahnya. Jumlah wartel pada 1991 pun masih 181 unit yang didirikan Telkom dan 176 wartel didirikan swasta. Namun, kesulitan Muniar hilang sejak kehadiran Jasa Telekomunikasi Mobil (Jastel Mobil). Dia tak lagi pakai surat untuk berkirim kabar. Rute keliling Jastel diumumkan di koran maupun radio sehingga masyarakat yang hendak memakai bisa dengan mudah menemukannya. Muniar selalu menanti kehadiran mobil berwarna biru itu. Di bagian pintu depan mobil terpampang logo Telkom. Di dalamnya, seorang petugas layanan akan membantu tiap pelanggan mengoperasikan telepon atau telegram. “Dalam kota max. 3 jam, luar kota max. 5 jam,” demikian peringatan di Warteling itu tertulis. Dari warteling itulah Muniar menelepon anaknya di Yogyakarta. Ilustrasi Jastel Mobil dalam majalah Gema Telekomunikasi, April 1988 Jastel Mobil merupakan –istilah resmi yang dikeluarkan Telkom namun kurang dikenal masyarakat yang lebih suka menyebut Telegrap Keliling atau Wartel Keliling (Warteling)– satu terobosan baru di masanya. Rute yang dilewati merupakan daerah pelosok yang belum terjangkau telepon umum dan wartel. Pasalnya, kabel Telkom baru bisa menjangkau daerah yang berjarak lebih dari 60km dari sentral telepon otomat. Bila ingin menjangkau daerah tersebut, Telkom harus membangun stasiun repeater yang memakan biaya besar. “Kalau wartel keliling itu nggak pakai kabel dan harganya berusaha kita murahkan. Tapi kita nggak punya banyak, seperti wartel atau telepon umum,” kata Direktur Utama Telkom 1992-1996, Setyanto P Santosa, pada Historia. Layanan ini sebenarnya sudah direncanakan sejak akhir 1980-an. Namun, urung dilaksanakan lantaran Telkom belum memiliki teknologinya. Baru setelah Telkom berhasil membeli ultaphone, unit-unit warteling bisa dibuat. Biaya pembuatan dan operasional warteling mencapai 35 juta rupiah per unit. Angka ini jauh lebih efektif dibanding membangun stasiun repeater tiap radius 60km dari sentral telepon otomat di tiap daerah. “Pelayanan ini untuk sementara dikhususkan pada wilayah pinggiran kota Jakarta yang tak terjangkau oleh jaringan kabel,” kata Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Soesilo Soedarman seperti diberitakan Kompas , 11 Oktober 1991. Dengan demikian, kebutuhan percakapan lokal, interlokal, maupun pengiriman telegram dapat dilakukan. Warteling menjadi proyek perintis untuk mendekatkan teknologi komunikasi pada pelanggan yang ada di wilayah pelosok. Selain beroprasi di Riau sejak pertengahan tahun 1991, Warteling juga beroperasi di pinggiran Kota Jakarta pada akhir 1991. Operasi di pinggiran Jakarta lebih ditujukan untuk mencari segmen pasar baru yang belum kenal layanan telepon umum. Kala itu baru lima unit warteling yang dioperasikan untuk berkeliling di sekitar Depok, Tangerang, Bekasi. Dengan adanya Warteling, masyarakat tidak perlu bersusah-payah pergi ke layanan komunikasi yang ada di kota besar. Warteling juga mengurangi antrian telepon umum. “Daripada menunggu antrian telepon umum yang memakan waktu lama,” tulis Gema Telekomunikasi April 1988. Warteling berkeliling ke daerah yang telah ditentukan dan ada beberapa titik pemberhentian, seperti lapangan, dekat pasar, Balai Desa, atau tempat-tempat yang mudah dijangkau masyarakat di pelosok. Tiap mobil warteling dilengkapi telepon dan telegraf. Pengiriman informasi tidak dilakukan melalui kabel seperti cara kerja telepon pada umumnya di tahun 1990-an, melainkan melalui teknologi radio ultraphone. Di warteling inilah, komunikasi nirkabel mulai digunakan. “Selama ini hanya bisa dilakukan lewat surat yang dikirim via pos. Tetapi, sejak dua bulan lalu kami mendapat kemudahan dengan adanya pelayanan baru berupa telegram keliling," kata Muniar seperti dimuat dalam Kompas , 8 September 1991.
- Spesies Baru Manusia Ditemukan
Di bawah lantai berbatu Gua Callao di Pulau Luzon, Filipina, para peneliti menemukan sejumlah fosil yang diyakini sebagai spesies manusia purba yang sebelumnya tidak diketahui. Temuan baru ini pun disebut akan memperbarui lagi teori evolusi manusia yang selama ini dipahami. Dijuluki Homo luzonensis, spesies yang baru diidentifikasi ini mendiami Luzon lebih dari 50.000 tahun yang lalu, selama zaman Pleistosen Akhir. Artinya, mereka berbagai bumi dengan hominin lainnya, termasuk Homo neanderthalensis (Neanderthal) dan Homo sapiens atau manusia modern. Homo luzonensis, hidup di wilayah yang sama dan pada saat yang sama dengan spesies "Hobbit", Homo floresiensis. Fosil tengkorak “Hobbit” sebelumnya ditemukan pada 2004 di Flores. Menariknya, Homo luzonensis diduga juga bertubuh kerdil, bahkan lebih pendek dibanding Homo floresiensis. Diperkirakan tingginya di bawah tiga kaki, yaitu sekira 92 cm. Ini diketahui lewat gigi mungilnya yang ditemukan. Meski sama-sama mungil, dari bentuk gigi dan kakinya, dan juga sifat-sifat lainnya, Homo luzonensis merupakan spesies yang berbeda. Sampai sekira 15 tahun yang lalu, spesies manusia seakan kesepian. Itu bila dibandingkan dengan gorila yang punya dua spesies, simpanse punya dua spesies, dan orang utan punya tiga spesies. Sementara manusia hanya satu jenis. Namun tak selalu begitu. Ada suatu masa ketika Homo sapiens dan Homo Neanderthal hidup berbagi daratan Eropa selama lima milenium lebih. Hasil studi yang dipublikasikan jurnal Nature itu menyimpulkan adanya kemungkinan kalau kantong-kantong kultur Neanderthal bertahan hingga antara 41.030 dan 39.260 tahun lalu. Kemudian, Homo floresiensis menjadi kerabat sezaman manusia yang ketiga. Setelahnya, pada 2010, para ahli genetika menyatakan satu tulang jari ditemukan di sebuah gua di Pegunungan Altai, Siberia barat. Ia membawa genom berbeda yang mengisyaratkan bahwa itu milik kelompok keempat, Denisovans. Lalu studi terbaru kali ini, penemuan baru yang menggambarkan spesies hominin yang sama sekali baru. Seperti dilansir dari History (10/4), para ilmuwan telah lama mengetahui kalau generasi hominin purba menyebut pulau Luzon sebagai rumah di Asia Tenggara. Pada 2007, para arkeolog di Luzon menemukan tulang kaki tunggal (metatarsal) di Gua Callao, dari 67.000 tahun yang lalu. Analisis menunjukkan fosil itu milik anggota genus Homo. Namun tak diketahui spesies mana. Dalam penggalian berikutnya pada 2011 dan 2015, tim peneliti internasional menemukan 12 tulang dan gigi hominin lainnya. Penelitian yang dipimpin Florent Détroit, dari Musée de l'Homme di Museum Sejarah Alam di Paris, dan Armand Mijares, dari Universitas Filipina di Kota Quezon menemukannya di lapisan batu yang sama di mana sebelumnya ditemukan tulang kaki tunggal. Hasil analisis yang diterbitkan di jurnal Nature menguak sisa-sisa jasad itu terdiri dari tiga individu yang berbeda, termasuk satu remaja. Yang terkini, penelitian berhasil menggali beberapa fosil tulang kaki dan tangan, tulang paha dan gigi. Fosil-fosil itu memiliki beberapa ciri morfologis spesies hominin yang lebih primitif, seperti Australopithecus dan Homo erectus, dan yang lebih maju, termasuk Homo sapiens dan Homo floresiensis. “Apa yang membuat mereka sebagai spesies baru sebenarnya adalah kombinasi dari semua fitur yang diambil bersama," kata Détroit, seperti dikutip History . “Jika Anda mengambil setiap fitur satu per satu, Anda tentu akan menemukannya dalam satu atau beberapa spesies hominin. Tetapi jika Anda mengambil secara keseluruhan, tidak ada spesies lain dari genus Homo yang serupa, sehingga menunjukkan bahwa mereka adalah spesies baru.” Sementara, secara khusus, gigi yang ditemukan di Gua Callao berbeda dari yang dimiliki spesies hominin lainnya. Gigi premolar, gigi yang terletak di antara gigi taring depan dan gigi geraham, memiliki dua hingga tiga akar. Padahal Homo sapiens biasanya punya gigi premolar dengan satu atau paling banyak dua akar. Adapun gigi premolar itu, serta enamel gigi dan dentin, jaringan tulang keras yang membentuk tubuh gigi, lebih mirip dengan Australopithecus dan spesies purba dari genus Homo, seperti Homo habilis dan Homo erectus. Di sisi lain, gigi molar (geraham)-nya sangat kecil. Ini mirip seperti milik manusia modern. "Individu dengan karakteristik gabungan semacam ini tidak dapat diklasifikasikan dalam spesies yang dikenal saat ini," kata Détroit. Gigi molar dan premolar milik Homo luzonensis (Dok. Callao Cave Archaeology Project) Tulang kaki yang diidentifikasi sebagai Homo luzonensis juga menonjol. Ini karena kombinasi fitur primitif dan yang sudah berkembang. Tandanya, ia mungkin memiliki cara berjalan yang khas. Sementara bagian phalanx proksimal, tulang yang membentuk pangkal jari kaki, bentuknya melengkung. Itu dengan pelekatan otot pada tulang yang sudah sangat berkembang. "Karakteristik ini tidak ada dalam Homo sapiens," kata Détroit. Bahkan, tulang kaki yang ditemukan di Gua Callao lebih mirip dengan Australopithecus. Sementara Australopithecus diketahui hanya hidup di Afrika sekira 2-3 juta tahun yang lalu. Hal itu menunjukkan, Homo luzonensis mungkin seperti Australopithecus, memiliki kemampuan untuk dengan mudah memanjat pohon. Ia juga sudah berjalan tegak dengan dua kaki meski tak jelas apakah mereka melakukannya. Homo Luzonensis dan Evolusi Manusia Meski spesies Homo lain diketahui telah menghuni pulau-pulau Asia Tenggara, para peneliti berpikir Homo luzonensis adalah satu-satunya hominin yang ada di Luzon pada saat itu. Homo sapiens paling awal yang dikenal di Filipina adalah fosil yang ditemukan di Gua Tabon di Pulau Palawan. Yang paling tua berusia 30.000 hingga 40.000 tahun lalu. Sebaliknya, para arkeolog baru-baru ini menggali alat-alat batu dan tulang-tulang dari badak yang disembelih di lembah dekat Gua Callao. Ini menunjukkan bahwa Homo luzonensis atau leluhurnya berada di Luzon sekira 700.000 tahun yang lalu. Luzon adalah pulau besar. Pulau ini tidak pernah dapat diakses oleh seluruh benua melalui jembatan darat. Akibatnya, banyak flora dan fauna yang endemik di pulau itu dengan keragaman genetik yang relatif rendah. Fenomena itu, menurut para peneliti, dapat meningkat menjadi spesies yang berbeda secara signifikan dari spesies terkait di benua itu. Ini yang menjelaskan mengapa Homo luzonensis mungkin terlihat sangat berbeda dari kerabat hominin daratannya. Setidaknya selusin spesies dalam genus Homo telah diidentifikasi sejauh ini. Homo sapiens adalah satu-satunya yang selamat. Adapun jumlah pasti spesies manusia purba masih menjadi topik perdebatan yang berkembang selama bertahun-tahun. Pada 2012, para ilmuwan mengumumkan fosil yang ditemukan di Tiongkok adalah milik manusia purba yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka menyebutnya Red Deer Cave people. Penemuan itu kontroversial. Para ilmuwan pun berspekulasi, fosil dapat mewakili spesies baru tak dikenal atau mungkin mewakili populasi sangat awal dan primitif dari manusia modern, yang telah bermigrasi ke kawasan itu lebih dari 100.000 tahun lalu. Seperti penemuan baru lainnya, terkuaknya keberadaan Homo luzonensis telah memperluas pemahaman ilmuwan tentang evolusi manusia. Homo luzonensis dan pembauran dalam ciri fisiknya menunjukkan evolusi Homo. Détroit mengatakan, lima belas tahun yang lalu, evolusi manusia di Asia sangatlah sederhana. Dikatakan kalau Homo erectus keluar dari Afrika, menetap di Asia Timur dan Tenggara dan tidak ada yang terjadi sampai kedatangan Homo sapiens sekira 40-50.000 tahun yang lalu. "Temuan ini adalah bukti baru yang signifikan untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang evolusi manusia, terutama di Asia, di mana evolusi manusia jelas jauh lebih kompleks dan jauh lebih menarik daripada apa yang kita pikirkan sebelumnya,” ujar dia.
- Warisan Si Mbah Buat Jokowi
SEJAK awal kepemimpinannya di Solo, Jokowi (panggilan akrab Joko Widodo) kadung dikenal sebagai pemimpin yang kerap blusukan (masuk ke sana ke mari) untuk mengetahui aspirasi yang beredar di kalangan rakyatnya. Ketika menjadi gubernur DKI Jakarta dan presiden Republik Indonesia, kebiasaan itu tetap dipertahankannya. “Itu saya lakukan untuk mengenali hati rakyat. Mengunjungi dan berdialog dengan rakyat bagaikan nafas yang menghidupkan tubuh pemerintahan,” ujar Jokowi kepada Alberthiene Endah dalam Jokowi Menuju Cahaya . Tradisi blusukan itu tak urung mendapat sambutan baik. Kebiasaan itu dinilai tepat untuk menyerap segala keinginan rakyat di bawah sekaligus menjadikannya sebagai media pengawasan langsung dari pihak pemerintah terhadap suatu program. Sebaliknya, tak sedikit pula pihak yang berpendapat negatif terhadap tradisi blusukan itu. Mereka menilainya hal tersebut tak lebih hanya pencitraan, laiknya dilakukan oleh para politisi untuk mengambil simpati media dan rakyat. Salah satu kritik itu datang dari politisi yang kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta: Anies Baswedan. Menurut Anies blusukan bukanlah suatu cara yang efektif karena hanya sekadar mendengarkan keluhan masyarakat tanpa memberikan solusi. "Saya enggak mau pencitraan dengan blusukan. Bukan cuma mendengarkan tapi mengajak berubah. Blusukan itu hanya menonton masyarakat. Hanya hadir lalu kesannya sudah melakukan," ujar Anies seperti pernah dikutip merdeka.com . Lantas dari mana sebenarnya Jokowi mengadopsi kebiasaan itu? Tradisi Sang Kakek Tersebutlah Lamidi Wiryomihardjo, kakek Jokowi dari garis ayah. Dia terpilih sebagai lurah di Desa Kragan (masuk wilayah Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar) pada 1948. Sebagai seorang pemimpin yang terpilih di masa perang, Wiryo harus bisa menjaga desanya agar tetap aman. Kendati demikian, situasi itu tidak menjadikan Wiryo balik badan berpihak kepada Belanda. Boleh saja secara de jure kawasannya dimasukan dalam kekuasaan Belanda namun simpati sang lurah tetap kepada Republik. Itu dibuktikan Wiryo dengan selalu melindungi unit-unit gerilyawan Republik yang berlindung dari kejaran tentara Belanda. Pada 7-10 Agustus 1949 terjadi pertempuran besar antara gerilyawan Republik dengan militer Belanda di Surakarta. Di hari ke-4, sebuah unit pasukan Tentara Pelajar (TP) mundur jauh hingga ke Desa Kragan. Tak mau kehilangan mangsa, tentara Belanda tetap memburu dan menekan Lurah Wiryo untuk memberitahu perlindungan para gerilyawan tersebut. Namun Lurah Wiryo bergeming. Guna memberi kesempatan kepada anak-anak TP untuk meluputkan diri, Lurah Wiryo terus melobi kelompok pasukan Belanda itu untuk tidak meneruskan aksi militer mereka di Desa Kragan. “Saya lurah di sini. Saya tahu betul semua yang ada di sini. Silakan cari. Kalaupun ada satu orang saja Tentara Pelajar tertangkap, silakan tembak saja saya,” ujar Wiryo seperti dikisahkan dalam buku Jadul Kinanti: Jokowi, Dulu, Kini dan Nanti karya Widjiono Wasis. Keberanian Mbah Lurah (panggilan akrab penduduk Desa Kragan kepada Wiryo) membela para pejuang menimbulkan rasa percaya bukan hanya di kalangan rakyatnya namun juga pemerintah Republik Indonesia. Sebagai bukti, pasca revolusi, dia tetap didapuk sebagai lurah hingga 1983. Pada 1955, Wiryo terlibat dalam proses pemilihan umum dan mendukung PNI (Partai Nasional Indonesia). “Mbah Lurah adalah juga tokoh PNI di desanya, yang memiliki kedakatan dengan kekuatan Masyumi di desanya,” demikian menurut Wawan Mas’udi dan Akhmad Ramdhon dalam Jokowi, dari Bantaran Kalianyar ke Istana: Mobilitas Vertikal Keluarga Jawa. Sebagai pemimpin, Mbah Lurah bukan hanya dipercaya juga dicintai oleh rakyatnya. Hal itu terjadi karena selama kepemimpinannya, Mbah Lurah kerap mengedepankan dialog. Segala keinginan dan cita-cita rakyat diserapnya lewat cara mengunjungi langsung orang-orang di desanya. Tak jarang Mbah Lurah pun mengadakan kegiatan dengar pendapat secara massif dengan penduduk Desa Kragan. Tidak hanya sebatas mendengar, apa yang diminta dan dikeluhkan oleh rakyatnya, dia laksanakan atau hindari jika itu memang tidak sesuai keinginan rakyat. Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, tak mungkin Mbah Wiryo bisa bertahan sebagai lurah hingga 35 tahun lamanya. Rupanya “blusukan” gaya Mbah Lurah itu diwariskan kepada cucunya yang bernama Joko Widodo. Bukan hanya di tingkat desa, tetapi juga di tingkat kota, provinsi dan bahkan saat ini, di tingkat negara. Berawal dari Kampanye Tahun 2005, Jokowi mencalonkan diri sebagai walikota Solo. Dari ketiga kandidat yang bertarung, hanya dialah yang dinilai memiliki peluang kecil. Itu terbukti dengan hasil survey yang dilakukan oleh tim suksesnya sendiri. Kans Jokowi untuk duduk sebagai walikota Solo hanya 10%. Berdasarkan data tersebut, tim sukses Jokowi yang dipimpin oleh Anggit Noegroho (eks jurnalis Solo Pos ) lantas bergerak cepat. Setelah berdiskusi alot dengan Jokowi, maka diputuskan bahwa mereka harus memiliki gaya tersendiri dalam berkampanye, sesuai dengan keinginan Jokowi yang mau kampanyenya sederhana, mengena dan merakyat. Akhir mereka menemukan solusi untuk lebih menyentuh hati rakyat yakni dengan bersilaturahmi, persis seperti yang dilakukan oleh Mbah Lurah saat memimpin Desa Kragan. Maka masuklah Jokowi ke kampung-kampung, menyusup gang kecil, menghampiri kawasan paling terpencil. Dia juga tak segan berbecek ria di pasar-pasar dan berkeringat di tengah rakyat banyak. “Ya hanya dengan begitu saya bisa 'mengenali rakyat'. Pemimpin harusnya menghampiri mereka, mengenal mereka,” ujar Jokowi dalam biografinya, Jalan Menuju Cahaya . Kegiatan Jokowi itu kemudian mendapat tempat di media massa. Mereka mulai bertanya, apa nama gaya kampanye yang sangat berbeda dari kandidat-kandidat lainnya itu? Maka muncullah istilah blusukan. Sebuah kata yang menurut Jokowi sendiri sangat pas menjadi ciri kepemimpinannya. Jadilah kemudian blusukan populer. Terlebih setelah gaya ini diterapkan pula oleh Jokowi saat memimpin DKI Jakarta dan Republik Indonesia. Tentu saja banyak juga orang yang tidak setuju dan memandang cara ini hanya sebagai strategi politik semata guna memelihara elektabilitas. Namun Jokowi tak peduli. “Yang penting bagi saya adalah bekerja dan bekerja. Kalaupun ada orang yang melihatnya lain ya silakan saja, terserah orang untuk menilai hasil pekerjaan saya,” ujarnya.
- Asal Usul Setrika
Sejak kapan orang terganggu melihat pakaian kusut? Ini pertanyaan yang sulit dijawab dengan jelas kapan pastinya. Yang jelas, alat pelicin pakaian, atau kini dikenal dengan setrika telah berevolusi selama ratusan tahun dari benda-benda sederhana. Terkadang ia dibuat dari batu, kaca, kayu, atau logam. Bahan-bahan itu seringkali membuat setrika pada masa lalu begitu berat dan sulit digunakan. Karenanya tak heran, mereka yang pakaiannya terawat pastilah orang berada. Menggunakan alat-alat seperti itu pastinya sulit dan melelahkan. Hanya orang kaya yang mampu mempekerjakan seseorang utnuk mengerjakannya. Mereka biasanya budak atau pelayan. Selain untuk menghilangkan kusut pada pakaian, setrika panas kemudian juga difungsikan untuk membunuh parasit, jamur, dan bakteri lain dalam pakaian. Ini khususnya sebelum pengering yang dipanaskan ditemukan. Pada perkembangannya, sebagian besar setrika modern terbuat dari logam dan plastik. Mereka memiliki banyak fitur seperti uap dan kontrol suhu. Goffering iron Goffering iron (Koleksi Saffron Walden Museum) Dipakai oleh orang-orang di Yunani pada sekira 400 SM. Mereka menggunakan alat besi ini untuk membuat lipatan pada jubah linennya. Goffering Iron adalah batang bundar seperti batang penggiling yang dipanaskan sebelum digunakan. Pemukul pakaian Alat pemukul pakaian (Koleksi Vesterheim Museum, Iowa) Orang-orang pada era Kekaisaran Romawi punya beberapa macam alat yang berfungsi seperti setrika masa kini. Salah satunya adalah alat pengepres pakaian dengan tangan. Alatnya semacam dayung atau palu logam datar yang digunakan untuk memukul-mukul pakaian. Kerutan pada kain akan hilang berkat cara itu. Alat lain adalah prelum. Ini terbuat dari kayu yang tak berbeda bentuknya dengan alat pemeras anggur. Dua papan berat rata diletakkan di antara tuas yang juga terbuat dari kayu. Kain atau pakaian kemudian diletakkan di antara kedua papan itu. Papan-papan itu, yang digerakan dengan tuas, akan menekan kain di tengah-tengahnya dan membuat kain bebas kerutan. ilustrasi prelum Logam panas Orang Korea kuno tengah menyetrika pakaiannya Bisa dibilang orang-orang di Asia Timur yang pertama kali menggunakan logam panas untuk menyetrika pakaiannya. Paling tidak sejak 1.000 tahun yang lalu orang Tiongkok kuno telah memiliki alat untuk melincinkan pakaiannya. Alatnya terbuat dari besi yang dipanaskan. Bentuknya terlihat seperti sendok es krim besar. Alat ini diisi dengan batu bara panas, lalu ditekan di atas kain. Alat ini memiliki ruang terbuka dengan bagian bawah yang rata dan pegangan. Ruang ini yang nantinya diisi batu bara atau pasir panas, yang memanaskan bagian bawah alat besi itu. Cara menggunakannya mirip dengan cara menggunakan setrika sekarang, yaitu digosokkan di atas kain untuk menghilangkan kerutan. Setrika Viking Alat pelicin pakaian dari kaca dan batu beserta papan setrikanya (Koleksi Historiska Museet, Stockholm) Sekira abad ke-8 dan ke-9 M, orang-orang Viking di Skandinavia menggunakan setrika kuno yang terbuat dari bahan kayu, kaca, dan batu. Ketika akan digunakan, alat-alat itu diletakkan di dekat uap untuk memanaskan, lalu digosokkan pada kain. Alat ini dianggap sebagai alat setrika paling awal di dunia barat. Bentuknya mirip jamur. Flat iron Flat iron (Shutterstock) Setrika yang lebih mirip dengan bentuk masa kini muncul di Eropa pada 1300-an. Setrika ini berupa sepotong besi datar dengan pegangan logam. Untuk memanaskannya, alat ini diletakkan di atas atau di dalam api. Ketika sudah panas, alat ini harus diambil dengan kain empuk yang kemudian digosokkan di atas kain. Sebelum itu, secarik kain tipis harus lebih dulu diletakkan di atas kain yang akan disetrika. Ini untuk mencegah jelaga langsung mengenai kain. Setrika digunakan sampai menjadi terlalu dingin untuk dipakai. Ketika itu, banyak orang merasa harus punya lebih dari satu setrika. Dengan begitu mereka bisa menggunakannya ketika setrika yang lain sedang dipanaskan. Setrika arang Setrika arang (Shutterstock) Pada sekira abad ke-15, perbaikan pada bentuk seterika diperkenalkan. Kotak besi panas ini dibuat dengan rongga di dalamnya untuk meletakkan elemen pemanas, seperti arang. Bagian atasnya dilengkapi pegangan. Sementara bagian bawahnya dibuat dengan logam yang halus. Ini pun menghilangkan kebutuhan akan kain tambahan di antara kain dan besi. Karena bagian bawah setrika tak akan membuat permukaan pakaian kotor. Alat ini digunakan selama beberapa ratus tahun di berbagai negara. Setrika arang kini menjadi barang antik dan menarik bagi banyak kolektor. Bahkan, setrika arang modern diproduksi di Asia dan di sebagian besar Afrika. Sad iron Smithsonian National Museum of African American History and Culture Pada abad ke- 17, setrika muncul di dunia barat dengan bentuk sepotong besi yang tebal, permukaan bawahnya rata, serta diberi pegangan besi. Setrika ini disebut dengan sad iron . Sebelum digunakan, sad iron dipanaskan di depan perapian atau kompor, baru setelah itu dipakai untuk melicinkan pakaian. Kelemahan dari setrika ini adalah pada saat dipanaskan, pegangannya ikut panas karena terbuat dari besi yang sifatnya mudah menyerap panas. Ketika teknologi kompor tungku ditemukan pada abad ke-19, beberapa masalah yang ditinggalkan flat iron mendapat jalan keluar. Setrika ini pun bisa dipanaskan di atas kompor tungku, yang jauh lebih bersih daripada api. Setrika ini disebut setrika sedih karena beratnya, beratnya sekitar 5,6 kg, dan sulit untuk dipindahkan. Setrika Mary Potts dan reklame iklan (Wikipedia) Pada 1870, seorang ibu rumah tangga bernama Mary Florence Potts di Ottumwa, Iowa, menemukan setrika cetak. Setrika ini adalah hasil pengembangan dari sad iron . Setrika ini, kedua ujungnya dibuat runcing. Dibuat seperti itu agar lebih mudah saat menyetrika. Tak sampai di situ, tahun berikutnya Mary juga membuat sad iron yang pegangannya bisa dilepas. Tujuannya agar pegangannya tidak ikut panas saat sad iron dipanaskan. Potts juga membuat pegangan kayu yang bisa dilepas. Ide itu dinilai brilian mengingat pegangan setrika telah dibuat dari bahan yang sama sejak abad pertengahan. Ketika setrika tradisional dibiarkan di atas bara, diperlukan kain tebal atau sarung tangan untuk mengangkat setrika agar tidak panas. Pegangan kayu Potts memastikan tidak akan ada luka bakar. Tak heran setrikanya diproduksi selama hampir 75 tahun. Setrika gas Setrika gas Setelah gas tersedia di rumah-rumah di Amerika pada akhir 1800-an, setrika gas pun muncul. Yang paling awal dipatenkan pada tahun 1874. Waktu itu masing-masing rumah sudah memiliki saluran gas. Setrika gas dihubungkan ke saluran gas dengan pipa. Setrika gas punya tempat pembakaran yang berhubungan dengan aliran gas. Ketika tempat pembakaran ini dinyalakan dengan korek api, setrika pun memanas. Setrika sangat panas dan gas terkadang bocor. Namun, setrika gas lebih ringan daripada sad iron. Berikutnya, setrika berbahan bakar lainnya menyusul. Setrika ini dipanaskan dengan minyak, bensin, parafin, dan bahan bakar lainnya. Setrika listrik Seely dan mekanisme setrika listrik ciptaannya Banyak orang percaya kalau setrika listrik ditemukan pertama kali dan dipatenkan oleh seorang Amerika, Henry W. Seely pada 1882. Desainnya dia kembangkan setahun sebelumnya. Setrika ini berupa setrika listrik datar yangmasih mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya lama untuk panas, tetapi sangatcepat dingin. Pun waktu itu belum semua rumah menggunakan listrik. Jadi, tak semua orang bisa menggunakan setrika listrik. Hotpoin Hot point rancangan Richardson Setrika listrik ini diperkenalkan ke pasar pada 1905 oleh seorang kelahiran Wisconsin, Earl Holmes Richardson. Setrika ini mengatur elemen pemanas dengan cara yang memusatkan panas pada titik ujung tapak setrika. Cara ini diklaim membuat proses penyetrikaan lebih baik. Hotpoin pun menjadi setrika binatu listrik pertama yang sukses secara komersial. Secara resmi dinamai setrika Hotpoint pada 1907. Setrika Termostat Setrika dengan pengatur suhu Pada 1920-an, Joseph Myers dari The Silex Company memperbaiki setrika dan kabelnya dengan menambahkan kontrol panas otomatis yang terbuat dari perak murni. Thermostat pun segera menjadi fitur standar. Setrika nirkabel (tanpa kabel) pertama kali diperkenalkan pada 1922, meski mereka tidak begitu berhasil. Setrika ini untuk pertama kalinya berhasil dijual pada 1984. Setrika uap Setrika Uap Thomas Sears adalah penciptanya. Uap membuatnya lebih mudah untuk melicinkan kain kaku yang kering. Sebelumnya pengguna harus mencipratkan air ke kain. Kalau tidak pakaian harus disetrika saat lembab. Setrika uap menggunakan tangki air yang memungkinkan uap air yang dipanaskan dapat dibuat dan diterapkan melalui lubang kecil di dasar setrika. Secara komersial, setrika uap pertama kali diperkenalkan pada 1926 oleh perusahaan pengeringan dan pembersihan New York, Eldec. Sayangnya, tidak sukses secara komersial. Paten untuk setrika uap listrik kemudian dikeluarkan kepada Max Skolnik dari Chicago pada 1934. Pada 1938 Skolnik memberikan hak patennya kepada Steam-O-Matic Corporation di New York berupa hak eksklusif untuk memproduksi setrika uap listrik. Ini adalah setrika uap pertama yang mencapai tingkat popularitas. Selama 1940-an dan 1950-an setrika uap pun digunakan secara lebih luas. Setrika modern Alat pelipat pakaian otomatis. Kini setrika sudah mengalami berbagai perubahan yang lebih canggih, seperti setrika yang sudah dilengkapi dengan wadah air, uap panas, dan inovasi lainnya. Contohnya, mesin pelipat pakaian robotik. Ini merupakan mesin lipat cucian. Pengguna hanya perlu memasang pakaian ke bagian luar mesin. Selanjutnya ia akan melipatnya secara otomatis. Mesin ini juga bisa menguapi, menghilangkan kerut, dan melembutkan, serta mengharumkan pakaian. Mesin semacam ini dipatenkan sebuah perusahaan di California, FoldiMate.
- Isu PKI Buat Jokowi
KETIKA bertemu Presiden Joko Widodo di Jawa Timur pada Oktober 2018, La Nyalla Mahmud Mattaliti menyatakan rasa penyesalan atas prilakunya di masa lalu. Sebagai oposan, dia mengakui pada Pilpres 2014 telah ikut menyebarkan isu bahwa Jokowi adalah keturunan anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). "Saya minta maaf karena pernah ikut menyebarkan informasi-informasi negatif, termasuk isu-isu Jokowi keturunan dan pendukung PKI saat Pilpres yang lalu," ujar La Nyalla seperti diberitakan Antara pada Minggu (28/10/2018). Mantan walikota Solo itu menyambut baik permintaan maaf La Nyalla. Menurut eks politisi Partai Gerindra tersebut, Jokowi menyatakan sudah melupakannya dan tidak menanggapi berbagai fitnah terkait dirinya. Tokoh PKI Boyolali Isu Jokowi keturunan anggota PKI mulai tersebar sejak tabloid Obor Rakyat ( OR ), menurunkan sebuah tulisan mengenai riwayat calon presiden Joko Widodo pada Mei 2014 (dua bulan sebelum Pilpres 2014 berlangsung). Dalam sebuah artikelnya, OR menyebutkan bahwa Joko Widodo sejatinya bukan putra dari Widjiatno Notomihardjo melainkan putra salah seorang tokoh PKI bernama Oey Hong Leong. Dia juga disebut-sebut memiliki nama baptis: Hubertus Handoko. Tulisan lain menyebut bahwa Widjiatno Notomihardjo adalah Ketua OPR (Organisasi Perlawanan Rakyat) yang merupakan organisasi mantel dari PKI di Kabupaten Boyolali. Dia kemudian menikahi Sudjiatmi yang disebut-sebut juga merupakan Sekjen Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang lagi-lagi adalah onderbouw PKI. Pasca meletus peristiwa 30 September 1965, Widjiatno Notomihardjo lantas diburu oleh tentara dan sempat meluputkan diri ke hutan Gunung Merbabu selama 4 tahun. Versi ini sempat ditayangkan oleh situs berita pojoksatu.id berjudul “Ayah Jadi Pimpinan PKI Boyolali? Ini Kata Presiden Jokowi” pada Rabu, 30 September 2015 jam 14.28 WIB. Meskipun sudah dibantah langsung oleh pihak Presiden Jokowi, namun tak urung soal ini tetap diyakini kebenarannya oleh sebagian orang. Anehnya tuduhan itu tak pernah ditegaskan dalam suatu buku resmi atau tulisan ilmiah yang kadar kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan. Jadilah isu itu tetap beredar dan menjadi santer kembali justru pada saat menjelang Pilpres 2019 yang akan berlangsung sebentar lagi. Anak Tukang Bambu Dalam biografinya, Jokowi sendiri tak pernah membahas afiliasi politik dari kedua orangtuanya. Dia hanya menyebut bahwa Widjiatno Notomihardjo dan Sudjiatmi merupakan orangtua yang baik dan bertanggungjawab terhadap anak-anaknya, terutama dalam soal pendidikan. Khusus mengenai ayahnya, Jokowi menggambarkannya sebagai seorang pekerja keras. Ketika anak-anaknya masih bersiap-siap untuk sarapan, sang ayah sudah menghilang di pagi hari guna bertarung mencari rezeki. Kesan yang terbangun, segala sepak terjang Notomihardjo saat itu sangat jauh dari hal-hal yang berbau politik. “Dia berjualan bambu dan kayu di lapak sederhana dalam pasar tak jauh dari rumah,” ungkap Jokowi seperti disampaikan kepada Alberthiene Endah dalam Jokowi Menuju Cahaya . Lantas apa yang terjadi dengan orangtua Jokowi usai insiden 30 September 1965 meletus? Belum jelas benar. Namun disebutkan bahwa di Kota Solo, lingkungan Jokowi tinggal kala itu, pembersihan terhadap orang-orang PKI memang berlangsung secara intens. “Bahkan beberapa tetangga keluarga Pak Noto waktu itu juga ditangkap karena dianggap sebagai anggota atau simpatisan PKI,” ungkap Wawan Mas’udi dan Akhmad Ramdhon dalam Jokowi, Dari Bantaran Kalianyar ke Istana: Mobilitas Vertikal Keluarga Jawa. Notomihardjo dan Sudjiatmi sendiri tak pernah sekalipun disentuh oleh tentara. Itu terjadi karena mereka memang tidak memiliki keterkaitan dengan Peristiwa 30 September 1965. Jika memang benar mereka adalah tokoh PKI, itu jelas suatu keanehan. Saat itu, alih-alih anggota PKI, seorang seniman profesional yang sama sekali bukan komunis pun bisa dipenjarakan tanpa pengadilan hanya karena dia pernah mengisi sebuah acara seni yang diadakan oleh PKI.
- Legenda Keroncong Itu Berpulang
DARI Surabaya, ia menapaki kebintangannya. Bermula dari pop, Mus Mulyadi hingga akhir hayatnya dikenal sebagai “Raja Keroncong”. Dalam beberapa kesempatan, mendiang juga dijuluki “Buaya Keroncong”, untuk mengingatkan pada kota kelahirannya. Hari ini, Kamis (11/4/2019), kakak maestro jazz Mus Mujiono itu berpulang di usia 73 tahun. Kabar duka itu datang dari putra keduanya, Erick Haryadi, melalui akun Instagram -nya. Mus Mulyadi mengembuskan nafas terakhir pada Kamis pagi di Rumah Sakit Pondok Indah karena penyakit diabetes. Pria kelahiran 14 Agustus 1945 itu lalu dimakamkan di Joglo, Jakarta Barat. Mus Mulyadi sudah berjuang melawan penyakitnya sejak 1984. Sejak itu, penglihatannya mulai terganggu. Bahkan pada 2004 mata kanannya sudah tak lagi bisa melihat dan lima tahun berselang mata kirinya juga tak lagi bisa berfungsi normal. Pun begitu, Mus Mulyadi tetap berkarya. Pada medio 1980-1985 ia bahkan mentas sampai ke Amerika Selatan, tempat banyak komunitas keturunan Jawa bermukim. “Ia bahkan sering manggung ke Suriname. Saingannya Didi Kempot ,” ungkap pengamat sejarah musik Dhahana Adi Pamungkas alias Ipung kepada Historia . Luntang-lantung di Singapura hingga Pulang Sejatinya, darah seni menurun dari ayahnya yang pemain gamelan. Pun begitu turut menular ke kakaknya, Sumiati dan adiknya, Mus Mujiono, meski berbeda jalan. Mus Mulyadi sudah merintis karier menyanyinya sejak muda, dengan meramu band Irama Puspita. Band berisi 13 personel perempuan itu dibuat untuk tampil di pesta olahraga Ganefo 1963 di Jakarta. Setelah band itu bubar setahun kemudian, Mus Mulyadi tetap malang melintang dengan beberapa band lain seperti Arista Birawa hingga Favourite's Group. “Itu isi personelnya pencipta-pencipta lagu. Jadi sebenarnya warna musiknya cenderung pop,” lanjut Ipung yang juga penulis Surabaya Punya Cerita itu. Mus Mulyadi bersama beberapa anggota band Arista Birawa juga sempat mencoba peruntungan merantau ke “Negeri Singa” pada 1967. Butuh dua tahun terlunta-lunta sampai akhirnya sukses di Singapura lewat band The Exotic. Di band itu, Mus Mulyadi berposisi sebagai basis, Jerry Souisa sebagai gitaris, Arkan gitar rhythm , dan Jeffry Zaenal sebagai drummer . Selain menelurkan lagu-lagu pop, ia juga memasukkan unsur keroncong yang memincut perusahaan rekaman Live Recording Jurong. Tapi pada 1970, ia memilih mudik ke tanah air. Mus Mulyadi lalu menggabungkan diri ke Favourite’s Group bersama A Riyanto, Nana Sumarna, Eddy Syam, dan M. Sani. Nyaris semua karya band itu meledak di pasaran. Naiknya nama Mus Mulyadi juga mendatangkan tawaran berkarier solo lagu-lagu berbahasa Jawa. Termasuk mempopulerkan tembang “Rek Ayo Rek” yang ternama di Kota Pahlawan. “Meski ia bukan penciptanya, dia yang mengaransemen. Enggak tahu kalau lagu itu enggak diaransemen Mus Mulyadi bakal kayak gimana. Mungkin enggak seterkenal saat ini,” sambung Ipung. Mus Mulyadi juga mulai menseriusi karya-karyanya yang memasukkan unsur-unsur keroncong. “(Mus Mulyadi) dikenal dengan keberaniannya melakukan terobosan baru dalam membawakan lagu-lagu keroncong konvensional dalam cengkok modern,” tulis Gus Joman dalam Campursari: Catatan Pinggir . Hingga akhir hayat, entah sudah berapa karya album ditelurkannya hingga dijuluki si “Raja Keroncong” setelah era Gesang. “Ia sudah mengeluarkan ratusan album, sampai-sampai ia tak bisa menghitungnya. Beberapa lagu yang mencuatkan namanya di antaranya ‘Kota Solo’, ‘Dinda Bestari’, ‘Telomoyo’, dan ‘Jembatan Merah’. Irama keroncong ini sangat memengaruhi musik campursari,” lanjut Gus Joman. Selain di dunia musik, Mus Mulyadi tercatat pernah dua kali terlibat dalam produksi layar lebar, Putri Solo dan Aku Mau Hidup. Kedua film dirilis pada 1974. Kini, sang maestro sudah berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa. Hingga kini, kiprahnya dalam musik keroncong belum ada lagi yang mendekati apalagi yang menyamai. Selamat jalan, Mus Mulyadi!
- Bentuk Kerajaan Sriwijaya Berdasarkan Catatan I-Tsing
Keberadaan prasasti-prasasti mandala yang melingkari kadatuan Sriwijaya membuktikan datu di pusat Sriwijaya mampu memperluas otoritasnya ke wilayah luar. Apa yang dibuktikan dalam prasasti itu ternyata sejalan dengan catatan biksu I-Tsing selama berada di Sriwijaya. Setelah berlayar selama 20 hari dari Guangzhou, I-Tsing tiba di Sriwijaya ( Foshi ) pada 651 M. Dia belajar di Sriwijaya selama enam bulan. Raja membantunya untuk sampai ke Melayu dan tinggal di sana selama dua bulan. Dari sana dia ke Kedah kemudian sampai India pada 673 M. Baru pada 675, dia memulai pengajarannya di Nalanda selama sepuluh tahun. I-Tsing kembali berlayar ke Kedah dan tiba di Melayu untuk kedua kalinya. “Melayu kini telah menjadi bagian dari Shili Foshi dan ada banyak daerah di bawah kekuasaannya,” catat I-Tsing. Di Shili Foshi, I-Tsing tinggal selama empat tahun (685-689 M). Dia sempat terbawa pulang kapal ke Tiongkok. Namun dia kembali dan tinggal lagi di Sriwijaya selama lima tahun (689-695 M). Selama tinggal beberapa tahun di Sriwijaya itu, I-Tsing memberikan banyak petunjuk mengenai bentuk politik Sriwijaya. Berdasarkan kajian sejarawan Inggris, Oliver William Wolters, tulisan-tulisan I-Tsing memuat dua istilah kunci yang relevan mengenai politik Sriwijaya. Ada istilah zhou dan guo. Wolters mengartikan zhou sebagai kata Tionghoa yang dipakai sebagai terjemahan istilah Sanskerta dvipa atau tanah berbatas laut. “ Yijing (I-Tsing, red. ) menggunakan pulau sebagai padanan zhou, ” tulis Wolters dalam “Restudying some Chinese Writings on Srivijaya”. Sementara guo bisa diartikansebagai kerajaan atau negara atau negeri. Guo juga berarti tempat tertentu berbentuk ibu kota. Kata guo digunakan I-Tsing ketika menulis “negeri Melayu kini adalah negeri Srivijaya”. Dia menulisnya dengan guo Sriwijaya. I-Tsing kembali mengulang pernyataan dalam catatannya yang lain . Di sana tertulis“ guo Melayu kini telah menjadi Sriwijaya”. Lalu dalam catatan ketiga, Mulasarvastivada-ekasata-karman, I-Tsing menyatakan: “ Zhou Melayu kini telah menjadi salah satu dari banyak guo Sriwijaya.”. Berdasarkan tiga kutipan catatan I-Tsing itu, jelas kalau Melayu telah menjadi salah satu dari banyak guo Sriwijaya. “Sebuah fakta yang sepenuhnya diperkuat oleh Prasasti Karang Brahi yang sezaman di hulu sungai dari Melayu atau Jambi,” tulis Hermann Kulke dalam Kadatuan Sriwijaya. Karenanya tafsiran Wolters terhadap catatan I-Tsing mengatakan kalau istilah guo juga bisa merujuk pada politik yang tidak perlu sepenuhnya independen, baik sebagai negeri maupun kota. Guo juga mengacu pada suatu bagian dari politik yang lebih besar yang terdiri dari banyak guo lainnya. Wolters kemudian memadankan istilah guo dengan istilah mandala dalam prasasti-prasasti Sriwijaya awal yang sezaman. Menurut Wolters kata-kata yang hampir identik tentang ‘banyak guo Srivijaya’ dan ‘semua mandala kadatuan- ku (Sriwijaya) dalam Prasasti Sabokingking (Telaga Batu), jelas sudah mengacu pada situasi sosial politik yang sama. “Kita dapat menduga bahwa penguasa Sriwijaya memiliki mandala sendiri (yang dianggap oleh I-Tsing sebagai guo ) dan juga sebagai maharaja mandala lain di kadatuan- nya,” jelasnya. Pada akhirnya, Wolters menyimpulkan berdasarkan catatan I-Tsing, Sriwijaya semata-mata hanyalah salah satu dari sejumlah guo di Sumatra. Pendapat ini sedikit berbeda dengan pendapat sejarawan Jerman, Hermann Kulke di Kadatuan Sriwijaya . Menurut Kulke, memang Sriwijaya pada awalnya juga sebuah mandala. Kawasan intinya yang berada di bawah seorang datu mungkin tetap menjadi guo atau mandala di sepanjang sejarahnya. Namun, jelas ada yang membedakan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 M dari mandala-mandala Sumatra lainnya. Datu di pusat Sriwijayaini mampu memperluas wilayah otoritasnya. Buktinya adalah prasasti-prasasti yang tersebar di radius ratusan kilometer darinya. Kulke menyarankan untuk menyamakan istilah zhou yang dipakai I-Tsing dengan istilah bhumi seperti yang sering disebut dalam prasasti-prasasti Sriwijaya awal. “Jika penyamaan fungsional dapat diterima, definisi sezaman I-Tsing tentang politi Sriwijaya memang menjadi sangat dekat dengan defisini politi berdasarkan prasasti-prasastinya,” catat Kulke. Sebelumnya, berdasarkan kajian epigrafi, Kulke membuktikan Sriwijaya lebih merupakan sebuah kadatuan yang membawahi kerajaan-kerajaan lain yang mengakui kedaulatannya. Kerangka politi Sriwijaya berdasarkan prasasti abad ke-7 M (Dok. Hermann Kulke) Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia, pun sepakat bahwa Sriwijaya tak pernah menyebut dirinya kerajaan, tetapi kadatuan yang berasal dari kata datu artinya orang yang dituakan. Menurut ahli epigrafi, Boechari, secara harfiah, kadatuan yang sepadan dengan karatwan (Jawa Kuno) berarti tempat datu , yaitu puri, istana, atau keraton. Arkeolog dan sejarawan Prancis, Coedes, mengartikan kadatuan sebagai wilayah yang dikuasai oleh datu atau kerajaan. Begitu pula Kulke, menafsirkan kadatuan sebagai tempat datu , dalam arti tempat tinggal atau keratonnya. Kadatuan Sriwijaya yang diyakininya berpusat di Sumatra Selatan, diakui kedaulatannya oleh Kedah, Ligor, Semenanjung Malayu, Kota Kapur, Jambi, Lampung, dan Batu Raja. “Batu Raja adalah prasasti terakhir yang ditemukan tahun lalu di Ogan Kemering Ulu,” jelas Ninie. Ninie pun menjelaskan bagaimana peran Sriwijaya dalam pembentukan pemerintahan maritim. Sebagaimana yang diungkapkan Kulke dalam Kadatuan Sriwijaya , bahwa terdapat masyarakat yang berdiam di tiap mandala. “Jadi bukan suatu imperium, masyarakat ini berdiam di mandala yang dipimpin oleh para datu yang otonom dan memiliki privasi,” jelas Ninie.
- Nasihat Soeharto untuk Gubernur Irian Jaya
PEMILU tinggal sepekan lagi. Dalam hajatan akbar pesta demokrasi itu, kita berperan menentukan masa depan bangsa untuk lima tahun ke depan. Calon presiden ataupun calon legislatif saling bersaing untuk memenangkan kursi jabatan. Siapapun yang terpilih, mereka akan menjadi pejabat publik yang sejatinya mengabdi pada rakyat.






















