Hasil pencarian
9830 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jejak Perjuangan Bangsa di Stadion VIJ
Tahun 2018 menjadi momen yang cukup indah bagi Persija. Dua Gelar juara berhasil diraih : Piala Presiden dan Liga Indonesia. Pesta pun digelar di jalanan utama Ibukota. Bahkan mereka hampir meraih gelar ketiga. Tapi mereka takluk oleh PSM Makassar di final Piala Indonesia. Pesta pun urung digelar. Para pemain dari tim Rantau FC bersiap sebelum berlatih di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Berdiri sejak 1928, Persija mempunyai sejarah panjang. Sebuah stadion menjadi saksi bisu lahirnya tim kebanggaan kota Jakarta ini. Letak stadion tersebut berada di Petojo, Jakarta Pusat. Kawasan ini sekarang padat penduduk dan banyak bangunan berhimpit. Nama stadionnya merujuk pada nama lama Persija, Stadion Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ). Karat yang terdapat pada setiap besi di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Dibangun pada 1928, tadinya nama stadion VIJ adalah Lapangan Petojo. Di balik sejarah stadion VIJ, tergurat nama tokoh Pergerakan Nasional, Mohammad Hoesni (M.H.) Thamrin. Dia figur penting dalam sejarah VIJ dan sepakbola kota Jakarta. Para pemain tim Rantau FC saat beraksi di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Thamrin menggunakan sepakbola sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Tidak tanggung-tanggung, dia keluarkan uang sebesar 2000 gulden (sekarang senilai Rp 170 juta) untuk memperbaiki Lapangan Petojo. Tujuannya agar pemuda anak negeri mempunyai stadion layak pakai untuk menggelar kompetisi. Sepinya penonton seakan menjadi saksi VIJ mulai tak lagi dilirik oleh berbagai tim sepakbola. (Fernando Randy/Historia). Thamrin berharap, tumbuhnya kompetisi sepakbola anak negeri akan membuat klub VIJ mampu bersaing dengan klub milik orang Belanda, Nederlandsch Indie Voetbal Bond, yang melarang anak negeri bergabung ke klubnya. Dan pada gilirannya, ide-ide kebangsaan juga akan ikut tumbuh dari lapangan sepakbola. Persites tim asal Kalimantan menjadi salah satu tim yang rutin berlatih di VIJ. (Fernando Randy/Historia). Namun sayang, Stadion VIJ sekarang sangat tidak terawat. Papan skor rusak dan patah, kontur lapangan tidak ideal, tanahnya bergelombang, dan rumputnya mulai botak. Seakan menutupi keanggunan Stadion VIJ pada masa lampau. Kerusakan di sana-sini memaksa pengelola mengalihkan stadion VIJ untuk berbagai fungsi. Tidak lagi hanya digunakan untuk bermain sepakbola, tetapi juga disewakan untuk acara musik dan pesta pernikahan. Ada sedikit keuntungan, tapi tidak mampu menutup biaya perbaikan sehingga mengurangi minat orang bermain bola di sini. Kondisi papan skor di stadion VIJ yang sudah rusak dan tidak terawat. (Fernando Randy/Historia) Di tengah pemukiman padat penduduk, hingga sisa mural tentang pemain sepakbola menjadi hiasan dan cerita bagi stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). “Ya, sekarang sudah tidak sebanyak dulu yang bermain sepakbola disini. Dulu saat saya kecil, hampir tiap hari ada yang main sepakbola di sini. Timnya macam-macam. Sekarang paling hanya Sekolah Sepak Bola Atamora, Tim Rantau FC, dan Persites,” ujar Roby (60) yang bekerja sebagai tukang parkir VIJ. Kualitas rumput yang tidak begitu bagus, menjadi salah satu alasan VIJ mulai sepi peminat. (Fernando Randy/Historia). Ironis. Tempat yang menjadi cikal bakal Persija Jakarta, kini telah kehilangan pesona. Tempat yang dulu melahirkan banyak bintang sepakbola Indonesia, kini sudah ditinggalkan. Tempat yang dulu menarik Bung Karno untuk datang menyaksikan pertandingan antara VIJ vs PSIM pada 1932, kini mulai dilupakan. Bagian stadion yang tampak tak terawat di stadion VIJ. (Fernando Randy/Historia). Apapun kondisinya saat ini, VIJ akan tetap dicatat sebagai salah satu tempat bersejarah. Perjuangan bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan ternyata bukan hanya dengan senjata, tetapi juga melalui sepakbola. Banyak anak-anak memakai kostum sepakbola di lingkungan VIJ, salah satu bukti sepakbola masih begitu dicintai di Petojo. (Fernando Randy/Historia).
- Kesaksian di Teuku Umar 40
JAKARTA, 1 Oktober 1965. Rumah kediaman Menteri Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar No.40 dibekap sepi pagi buta itu. Beberapa prajurit nampak masih terkantuk-kantuk di pos jaga, ketika satu regu pasukan berseragam Resimen Tjakrabirawa (Pasukan Pengawal Khusus Presiden Sukarno) menyergap mereka secara tiba-tiba. “Kami lucuti senjata-senjata mereka dan secara baik-baik komandan kami Pembantu Letnan Satu Djahurup mengatakan agar mereka tidak melawan, karena kami datang terkait dengan perintah langsung dari Presiden Sukarno selaku Panglima Tertinggi ABRI,”kenang Soelemi, eks anggota Tjakra (sebutan untuk Resimen Tjakrabirawa). Usai mengamankan para penjaga, Sersan Satu Soelemi memimpin dua rekannya (Prajurit Kepala Hargijono dan Kopral Kepala Soemardjo) merangsek ke ruangan depan rumah Jenderal Nasution. Dia lantas memutar tangkai pintu. Klik, ternyata pintu tak terkunci sama sekali. Aksi dilanjutkan oleh Soelemi dengan mengetuk pintu kamar Jenderal Nasution secara pelan. “Saya berusaha berlaku secara baik-baik memperlakukan seorang panglima, kami jelas bukan sekelompok garong yang harus mendobrak langsung pintu kamar Pak Nasution,” ungkap Soelemi. Beberapa detik kemudian, terdengar seseorang membuka pintu kamar. Namun entah kenapa, tetiba pintu tersebut dibanting secara keras dan langsung dikunci kembali. Soelemi panik. Insting tentara-nya mengatakan bahwa target akan melakukan perlawanan. Maka diperintahkannya Hargijono untuk membuka paksa pintu dengan cara menembak bagian tangkai pintu. Tretetetetett! Stengun milik Hargijono pun menyalak. Begitu tembakan berhenti, Soelemi langsung menendang pintu dan langsung merangsek masuk kamar. Mereka mendapatkan Johanna Sunarti, istri Nasution, tengah berdiri dalam jarak sekitar 6 meter sambil memangku putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution. Tubuh Sunarti terlihat gemetar. “Pak Nasution di mana?!” tanya Soelemi “Ada urusan apa dengan Pak Nasution?!” Sunarti malah balik bertanya. “Urusannya Bu, Pak Nasution harus menghadap Presiden pagi ini juga karena ada masalah penting!” “Pak Nasution tidak ada di rumah!” Ketiga prajurit Tjakra itu tertegun. Beberapa menit sebelumnya, mereka mendengar suara rentetan senjata Brengun dari arah depan rumah. Solemi sempat berpikir, apakah tembakan itu berasal dari Brengun rekannya (Kopral Sardjo) yang ditujukan kepada Nasution? Tanpa banyak bicara mereka kemudian bergegas keluar dan memberitahu Djahurup bahwa Nasution sudah tak berada di kamarnya lagi. Karena keterbatasan waktu, Djahurup memutuskan untuk menyudahi operasi. “Priiittt!!!” bunyi peluit tanda berakhirnya operasi pun ditiup oleh Djahurup. Suaranya terdengar nyaring memecah kesunyian Jakarta di pagi buta itu. Puluhan orang bersenjata kemudian muncul dari setiap sudut rumah Nasution. Mereka lantas kembali menaiki kendaraan masing-masing: 3 truk dan dua jip, dengan membawa serta ajudan Nasution, Letnan Satu Piere Tandean. Cepat sekali mobil-mobil militer itu meluncur ke arah timur Jakarta, meninggalkan asap dan debu yang berterbangan, mengotori kesejukan kawasan Menteng. Kemudian sunyi kembali membekap. * BEBERAPA jam sebelumnya. Hawa panas mendera, nyamuk-nyamuk mengganas. Sunarti lantas bangkit dari ranjang, lalu duduk di sebuah dipan. Dia memandangi suaminya yang sedang sibuk mengusir nyamuk-nyamuk yang tengah berpesta di atas tubuh Ade Irma. Saat itulah dari arah depan rumah, mereka mendengar suara gaduh dan beberapa kali letusan tembakan. Sunarti bergegas keluar kamar dan langsung membuka kunci pintu depan. Begitu melihat rombongan tentara berseragam Tjakra di depan rumahnya, hatinya langsung tercekat. Pikiran buruk pun muncul. Tanpa mengunci kembali pintu utama, dia kembali ke kamarnya, memberitahu sang suami tentang keadaan di luar. “Saya menjadi heran, mengapa Cakrabirawa yang datang?” pikir Sunarti seperti dikutip oleh koran Berita Yudha , 6 Oktober 1965. Sunarti memohon agar Nasution tidak keluar kamar. Dia menyatakan bahwa dirinya memiliki perasaan jelek dengan kedatangan Tjakra. Ade Irma yang terbangun karena suara pembicaraan kedua orangtua-nya, lantas menghampiri Sunarti dan berdiri di dekatnya. Merasa kurang percaya dengan keterangan istrinya, Nasution memutuskan untuk keluar kamar. “Saya akan bicara sendiri dengan orang-orang itu,” ujar Nasution dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid VI: Masa Kebangkitan Orde Baru. Kendati dihalang-halangi oleh Sunarti, Nasution tetap memaksa untuk keluar. Begitu membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya Nasution ketika didapatkannya para prajurit Tjakra sudah berada di depan pintu kamarnya. Refleks, dia membanting pintu kamar. Beberapa detik kemudian terdengar rentetan tembakan menyalak. Nasution spontan bertiarap, sementara dengan susah payah, Sunarti menguci pintu. “Beberapa Cakrabirawa menggasak pintu dengan senjata, sampai retak-retak,” ungkap Nasution. Mendengar kegaduhan di kamar anaknya, Zahara Lubis dan Mardiyah (saudara perempuan Nasution) ikut terbangun. Lewat kamar sebelah yang ada pintu penghubungnya, Mardiyah lantas mengambil Ade Irma dengan maksud menyelamatkan bocah itu ke tempat lain. Tetapi karena gugup, Mardiyah salah jalan. Dia justru menuju ruangan di mana terdapat beberapa prajurit Tjakra. Begitu pintu dibuka oleh Mardiyah, langsung disambut rentetan tembakan yang mengenai punggung Ade Irma. Dengan agak nekad, Sunarti lantas menutup pintu itu kembali dan langsung menguncinya. Berondongan peluru kembali menghujam pintu. Dua butir peluru menyerempet tubuh Sunarti: satu mengenai kulit kepalanya, satu lagi mengenai permukaan dadanya. Tanpa mengindahkan maut yang menyasar dirinya, Sunarti menarik Nasution untuk lari keluar kamar. Melalui kamar sebelah dan lorong di depan toilet, Nasution lari menuju ke samping rumah. “Saya naik ke tembok. Dari atas tembok saya menoleh, dan baru jelas betul bahwa anak perempuan saya Ade terkena tembakan di bagian punggungnya,” kenang Nasution. * NASUTION sudah berada di atas tembok pembatas rumahnya dengan gedung Kedutaan Besar Irak, ketika menyaksikan buah hatinya berlumuran darah. Hatinya tercekat sekaligus pilu. Hampir saja dia turun kembali untuk menghadapi para prajurit Tjakra itu. Namun Sunarti mencegahnya. “Selamatkan diri! Selamatkan diri!” ujar Sunarti. Seiring ucapan Sunarti, tetiba terdengar serentetan tembakan. Nasution cepat tersadar dan langsung meloncat ke halaman Kedubes Irak. Terdengar kemudian prajurit yang menembaknya setengah berteriak berbicara kepada kawan-kawannya. “Ada orang lari ke sebelah, saya tembak tidak kena, pelurunya kurang ke bawah!” Nasution memilih tumpukan drum di pekarangan Kedubes Irak untuk tempat persembunyiannya. Orang-orang bersenjata itu seperti tak memiliki nafsu untuk masuk ke pekarangan gedung tersebut. Bisa jadi mereka tahu jika terus merangsek ke gedung itu maka akan menimbulkan masalah diplomatik antara Indonesia dengan Irak. Menjelang jam 5, Nasution mendengar lengkingan peluit berbunyi. Para penyerbu itu pun pergi dalam hitungan menit. * Sejarah kemudian mencatat, Jenderal A.H. Nasution lolos dari dari incaran grup Pasopati, nama kelompok yang ditugaskan untuk ”menjemput”nya. Dia bahkan bersama Letnan Jenderal Soeharto, masih sempat memukul balik Gerakan 30 September-nya Letnan Kolonel Oentoeng Sjamsoeri, bahkan memberangus kekuatan PKI dan menurunkan Sukarno sekaligus menyapu para loyalis-nya dari pemerintahan . Nasution memang menjadi satu-satunya target yang selamat dari “kegilaan” di Lubang Buaya. Namun untuk itu, dia harus rela kehilangan putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution. Mengenai tertembaknya Ade ini, Soelemi memiliki versi lain. Menurutnya, Ade terluka parah karena pantulan peluru Stengun yang dimuntahkan dari senjata Hargijono, saat berusaha membongkar pintu kamar Nasution yang terkunci. “Saya bersumpah Demi Allah, kami tidak secara sengaja menembak putri-nya Pak Nas. Kami fokus kepada Pak Nas saja. Setelah tahu dia lolos, ya kami langsung pergi,” papar Soelemi kepada saya dua tahun yang lalu. Soelemi sendiri harus menebus secara setimpal akibat menjalankan “tugas” yang diembannya itu. 13 tahun lamanya (1965-1978), dia harus menjadi penghuni Rutan Salemba, termasuk beberapa bulan mendiami “neraka” bernama Kapal Selam. Itu julukan dari para penghuni Rutan Salemba untuk tempat isolasi yang berada di Blok N. Di Kapal Selam dia harus melupakan dirinya adalah manusia. Di ruangan yang hanya cukup untuk tidur dan membuang hajat itu, dirinya pernah selama berbulan-bulan hanya bisa duduk dan berbaring karena tinggi ruangan yang gelap itu sama sekali tidak memungkinkan seorang manusia untuk berdiri. Selama berbulan-bulan juga dirinya harus puas menahan rasa lapar dengan nasi basi bercampur bangsal (beras yang dimasak dengan kulit-kulitnya) tanpa air minum sama sekali. “Terpaksa saya minum air comberan atau malah air kencing sendiri,” kenangnya dalam nada pahit. Eks prajurit Tjakra itu menghabiskan waktunya di Blok N dengan berteman tikus-tikus got, kecoa, cicak dan kelabang yang kadang harus dia santap. Tumpukan kotoran dan genangan air seni sendiri sudah tak digubrisnya. Penyakit kulit dan pencernaan jadi langganan dia sehari-hari. Namun semua dijalaninya secara tabah. Dia sadar, semua itu sudah menjadi resiko hidupnya. "Saya sudah menyerahkan semuanya: harga diri, rasa sakit,dan masa depan saya kepada mereka, demi menebus apa yang pernah saya lakukan sebagai seorang tentara yang harus melaksanakan perintah atasan. Saya ikhlaskan semua. Tapi memaksa saya untuk mengakui sebagai komunis, sampai mereka membuat saya mati tak akan saya lakukan.Bukan apa-apa, karena memang saya tak pernah merasa menjadi seorang komunis..." ungkap Soelemi. Matanya menerawang seolah sedang menyaksikan masa lalunya.
- Saat Pengawal Kepergok Sukarno Curi Sawo
SEBAGAI pengawal Presiden Sukarno sejak awal kemerdekaan, AKBP Mangil menyediakan sebagian besar waktunya untuk sang presiden. Besarnya tanggung jawab pada tugas itu membuat keluarganya sering menjadi “korban”. “Biasanya bapak kalau di rumah senang main piano atau ngajak anak-anaknya jalan-jalan. Tapi kalau ditelepon Istana, ya langsung berangkat. Kita anak-anaknya kadang marah nggak jadi diajak jalan-jalan,” kata Teguh Mangil, putra bungsu Mangil, kepada Historia . Lantaran sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berada dekat presiden, Mangil tahu betul kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan presiden dan anak-anaknya. Banyak pengalaman bersama presiden dan para pengawal yang dia dapatkan, mulai dari yang pahit hingga yang manis atau menggelitik. Pengalaman-pengalaman itu dituliskannya dalam memoar berjudul Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967 . Sukarno, kata Mangil, merupakan pribadi yang sangat dekat dengan rakyat dan bawahannya. Arif, supir presiden sejak masa pendudukan Jepang, merupakan salah seorang yang paling diperhatikan. Hal itu dibuktikan dari momen ketika Sukarno singgah di Cisurupan, Garut, guna memberi penerangan kepada penduduk setempat tak lama setelah proklamasi. Usai memberi penerangan dan beramah-tamah dengan rakyat, Sukarno kembali ke mobilnya. Namun tak lama kemudian dia kembali turun karena supir belum ada. Arif ternyata sedang minum kopi dan makan kue ketika ajudan presiden dan beberapa polisi pengawal menemukannya di sebuah warung. Dia tak terburu-buru menyelesaikan aktivitasnya ketika diberi tahu bahwa presiden sudah menunggu. Alih-alih takut, Arif justru menunggu pertanyaan dari presiden ketika rombongan telah kembali memulai perjalanan. Benar saja, pertanyaan yang ditunggu Arif pun tiba. “Rif, kau dari mana?” kata Sukarno. “Dari ngopi, Tuan. Habis mulai dari pagi saya belum minum kopi. Ajudan tidak ngurusi saya. Dan saya kalau belum minum kopi bisa ngantuk di jalan dan bisa kecelakaan. Di dalam mobil, saya yang tanggung jawab sama Tuan, bukan pengawal. Pengawal ‘kan kalau ada bahaya serangan, itu baru tugas pengawal’,” kata Arif, dikutip Mangil. Mendengar penjelasan Arif, presiden pun mafhum. “Sejak peristiwa tersebut Bung Karno memerintahkan kepada ajudan untuk selalu memperhatikan semua sopir yang mengikuti konvoi,” kata Mangil. Perhatian Sukarno juga diberikan kepada para personil polisi pengawal yang bertugas di Istana, sejak masa ibukota berada di Yogyakarta. Ketika buah-buahan di pohon-pohon yang ada di taman istana matang, Sukarno dan Ibu Fatmawati biasa membagikan kepada para polisi pengawal yang tinggal di paviliun belakang istana. Karena kebiasaan itulah seorang polisi pengawal tak sabar untuk menikmati buah sawo ketika suatu hari melihat sawo-sawo di pohon dekat istana tempat tinggal presiden sudah mulai masak. Dia lantas memanjat pohon itu. Sesampainya di atas, dia melihat presiden berjalan menuju pohon tersebut. Karena takut, polisi itu diam saja di atas pohon sembari berharap presiden tak melihatnya. Bung Karno memang tak sedikit pun menoleh ke arah atas pohon. Namun, mata presiden mendapati seesorang di atas pohon sedang berdiam. Sukarno langsung bertanya sekaligus menyindir kepada polisi-polisi yang mengiringinya. “Itu buah sawonya kok tambah?” tanya presiden. Pertanyaan presiden sontak menimbulkan tawa para polisi yang mengawalnya. Pertanyaan presiden pun membuat polisi yang bersembunyi di atas pohon ikut tertawa. Dia pun pasrah karena presiden ternyata mengetahui keberadaannya. “Bapak ‘kan sudah bilang, biar buahnya tua dan matang dulu. Nanti kamu orang juga dibagi. Kalau kamu tidak sabar, pindahkan saja pohon sawo ini ke dekat asramamu itu,” kata presiden menasehati sang polisi. Si polisi pun baru berani turun ketika presiden sudah pergi. Teman-temannya langsung menyambut dengan tertawaan dan ejekan. “Rasain lu.”
- Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker
DI tepi jalan tengah Kota Gotham, Arthur Fleck (diperankan Joaquin Phoenix) tak henti menyunggingkan senyum sesuai dengan job- nya sebagai badut. Dengan papan iklan ia berakrobat mempromosikan sebuah toko yang tengah obral barang. Nahas, keceriaannya dirusak oleh gangguan sekelompok geng anak muda. Hari itu, nasib Arthur berakhir dengan tergolek di atas aspal akibat dipukuli. Gambaran pedihnya hidup Arthur yang terhimpit kondisi ekonomi itu jadi pilihan sutradara Todd Phillips untuk membuka tirai film Joker . Karakter ini familiar di masyarakat sebagai penjahat yang acap jadi musuhnya superhero Batman beralter ego Bruce Wayne. Namun film ini bukan tentang Batman yang berkelahi melawan kejahatan Joker. Film berdurasi 122 menit ini justru disajikan Phillips untuk mengisahkan kepedihan-kepedihan Arthur, hingga ia menjelma jadi sosok Joker. Peringatan buat Anda yang tak ingin kesal akibat spoiler , mungkin bisa stop baca sampai sini! Arthur Fleck yang diganggu geng anak muda saat bekerja jadi badut (Foto: dccomics.com ) Phillips yang juga bertindak sebagai penulis naskah bersama Scott Silver memang mengambil latarbelakang filmnya di awal 1980-an. Namun suguhannya masih sangat relevan dengan situasi Amerika Serikat maupun Indonesia saat ini, bahwa kehidupan jelata masih tetap dalam genggaman kaum kaya. Arthur digambarkan sebagai seorang dengan penyakit syaraf otak. Jika ia melihat hal menyedihkan, reaksi pada otaknya bukan memunculkan kesedihan, melainkan tawa. Ia tinggal di apartemen kelas bawah bersama ibunya, Penny Fleck (Frances Conroy). Wanita tengah baya itu mengaku pernah 30 tahun bekerja di perusahaan raksasa milik Thomas Wayne (Brett Cullen), namun kondisi kesehatannya memprihatinkan. Jika di siang hari Arthur berprofesi sebagai badut, malamnya ia menjajaki karier sebagai stand-up comedian atau komika dalam bahasa beken di Indonesia. Suatu hari, ia dipecat dari kantor penyalur jasa badut tempatnya bekerja. Upayanya merintis karier sebagai komika pun gagal total. Depresi, ia pun hanya bisa berkhayal punya karier bagus demi bisa diundang ke program tv “Murray Franklin Live Show”, acara tv favorit sang ibunda yang dipandu Murray Franklin (Robert De Niro). Bagi Arthur, Murray figur ayah yang diidamkan tapi tak pernah ia miliki. Arthur juga berkhayal bisa memacari tetangganya yang seorang janda satu anak, Sophie Dumond (Zazie Beetz). Arthur Fleck banting tulang jadi kepala keluarga untuk menafkahi ibunya (Foto: IMDb) Sayang disayang, semua itu hanya ilusi buatnya sampai pada suatu ketika sebuah kejadian mengubah jalan hidupnya. Di sebuah keretaapi, ia membunuh tiga bankir muda yang bekerja untuk Thomas Wayne gegara mem- bully dia. Momen yang tak disadarinya itu melahirkan sebuah gerakan massa, “Kill the Rich”. Ah , untuk menikmati lebih dalam detailnya, baiknya Anda tonton sendiri Joker yang meski di Amerika baru diputar pada 4 Oktober 2019, namun di Tanah Air sudah tayang sejak 1 Oktober 2019. Selain sajian sinematografi yang apik lantaran pengambilan gambarnya tak monoton dan sangat kental suasana retro -nya, Anda juga akan dimanjakan potongan-potongan lagu klasik dan modern macam “Send in the Clowns” (Frank Sinatra), “Rock and Roll Part 2” (Gary Glitter). Kontroversi Kekerasan Film ini menjadi film pertama raksasa Warner Bros yang berbasis serial DC Comics yang bukan tentang DC Extended Universe ( Man of Steel, Batman v Superman: Dawn of Justice, Suicide Squad, Wonder Woman, Justice League, Aquaman, Shazam! ). Anda takkan disuguhkan aksi-aksi superhero di sini, yang nyatanya belakangan sudah mulai membosankan. Joker menghadirkan pemahaman lain pada para penikmatnya atau bahkan kita. Sosok Joker bisa jadi adalah kita semua, masyarakat umum yang hanya bisa menertawakan kepahitan hidup akibat beragam himpitan ekonomi. Tidak selamanya kebaikan bisa mengalahkan kejahatan, yang dibuktikan dengan sosok Thomas Wayne. Di balik sosok konglomerat yang dermawan itu ternyata terdapat sifat munafik. Pesan lain yang disampaikan adalah, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa, entah politik maupun ekonomi, serta “perselingkuhan” mereka dengan aparat penegak hukum turut memupuk keradikalan seseorang. Pada gilirannya, keradikalan itu menular ke masyarakat luas yang punya nasib serupa. Alhasil, situasi yang tercipta adalah anarki, sebagaimana satu adegan yang diselipkan Phillips di bagian akhir film. Maka meski kemudian memetik banyak pujian, Joker jugamenuai kontroversi. Adegan-adegannya, seperti adegan penembakan massal di Aurora, Colorado, oleh beberapa pihak dianggap bisa memicu kekerasan bersenjata. Adegan itu diyakini terinspirasi dari film yang bertema dark,The Dark Knight Rises (2012). Joker yang Orisinil Setuju atau tidak, salah satu kelebihan film ini adalah sosok Joker-nya. Tak lain karena penampilan Phoenix yang menghipnotis. Banyak kritikus film menyatakan ia pantas dapat Oscar di edisi mendatang atas peran itu. Fans DC Comics mungkin takkan lagi membicarakan Heath Ledger sebagai pemeran Joker terbaik di salah satu seri garapan Christopher Nolan: The Dark Knight (2008). Phoenix dipuji sudah bisa menyandingi Ledger. Phillips menghadirkan Joker yang orisinil. Terlepas dari ciri-ciri fisik yang tak jauh beda, Phillips menghadirkan Arthur Fleck alias Joker yang bukan copy-paste dari versi komik DC. Sosok Joker sendiri sejak kemunculan pertamanya pada 1940 hingga detik ini masih menimbulkan perdebatan. Berbeda dari karakternya yang jelas dikreasikan penulis Bill Finger, sosok visual Joker masih mengundang perdebatan tentang siapa ilustrator penciptanya. Karakter Joker muncul kali pertama di edisi nomor 1 komik Batman pada 25 April 1940 (kiri) terinspirasi dari aktor Conrad Veidt (Foto: Universal Pictures) Dua pendapat masih bersilang pendapat tentang siapa ilustrator pencipta Joker. Kubu pertama menyatakan Bob Kane, kubu lainnya Jerry Robinson. Kubu pendukung Kane berargumen, Kane lebih dulu menciptakan Joker yang terinspirasi dari gambar Joker di kartu remi. Sementara, Robinson mengklaim bahwa dia yang pertamakali mengkreasikan tokoh Joker, terinspirasi dari aktor Conrad Veidt dalam film The Man Who Laughs (1928). Bill Finger sendiri, sebagaimana dimuat Jurnal Con-Tinued: Batmania, dalam diskusi panel di New York Acedemy pada 14 Agustus 1966 mengaku tidak ingat betul siapa di antara keduanya yang menciptakan Joker. “Mulanya saya ditelefon Bob. Dia punya ide tokoh penjahat baru. Dia memegang kartu permainan. Rupanya Jerry Robinson atau Bob, saya tidak ingat siapa, melihat kartu itu dan mereka (Jerry atau Bob) membuat sketsanya. Awalnya tak seperti Joker, lebih seperti badut. Tapi kemudian saya perlihatkan gambar aktor di The Man Who Laughs kepada Bob yang kemudian menggambarnya untuk memberi aspek yang lebih sinis. Lalu dia menggambar sosoknya dengan wajah putih, bibir merah, rambut hijau. Dan itulah Joker,” tutur Finger. Untuk latarbelakang, Finger membuat karakter Arthur menjelma menjadi Joker karena cairan kimia yang menjadikan kulitnya seputih susu, rambutnya sehijau rumput, dan bibir semerah delima. Cairan itu juga yang membuatnya jadi psikopat gila namun cerdik. Sosok Joker pertamakali dimunculkan DC Comic di komik Batman edisi 25 April 1940. Seiring zaman, dalam komik-komik DC turut muncul beragam versi latarbelakang Joker, mulai dari seorang anggota gangster, pegawai yang mencuri uang perusahaan, hingga seorang komika yang depresi. Namun semua versi serupa soal kegilaan Joker, yakni berawal dari terceburnya dia ke sebuah tangki cairan kimia. Arthur Fleck yang punya penyakit gangguan syaraf otak (Foto: warnerbros.com ) Namun bukan itu yang dihadirkan Phillips dalam film Joker . Arthur alias Joker dalam karya Phillips merupakan anak yang diadopsi Penny Fleck, wanita pengidap halusinasi akibat patah hati pada Thomas Wayne. Kegilaan Arthur datang dari kelainan syaraf otak yang disebabkan kekerasan oleh pacar Penny di masa kecil. “Kami tidak mengambil apapun dari komik. Kami membuat versi sendiri dari mana seseorang seperti Joker berasal. Kami bahkan tak membuat Joker, namun kisah bagaimana seseorang bisa menjadi Joker. Seorang yang lemah dan tersakiti namun menjadi psikopat yang menggalang anarki di Kota Gotham,” papar Phillips kepada Empire , 8 Juli 2019.
- Jenderal Jago Gaple
SUATU hari di tahun 1993 , Jenderal Edi Sudradjat (Panglima ABRI sekaligus Menteri Pertahanan RI) meminta Sersan Mayor Nius Maapanawang, sopir pribadi merangkap pengawal, mengantarkannya ke rumah mertuanya di Kuningan, Jawa Barat. “Saya ingat saat itu saya masih terbilang baru sebagai sopir beliau,” kenang eks prajurit Kopassus AD itu. Begitu sampai di Kuningan malam hari, Edi tidak langsung tidur. Dia malah memanggil Nius dan memerintahkannya untuk mengeluarkan “gambar kelelawar” dari mobilnya. Nius yang kebingungan dengan perintah itu, lantas bertanya: “Mohon izin, Jenderal! Maksudnya apa? Obat nyamuk?” “Ah kau ini…Biasa, itu kartu gaple,” ujar Edi sambil tersenyum. Nius pun diam-diam merasa geli dalam hatinya. Selain jago telik sandi dan menembak, Edi pun dikenal piawai bermain gaple. Hobi itu ditekuninya sejak menjadi taruna AKABRI dan kerap dimainkannya ketika dia terlibat dalam berbagai operasi militer seperti di Timor-Timur. Di luar tugas, Edi pun sering bermain gaple ketika waktu senggang, terutama saat menunggu waktu berburu rusa dan babi hutan, salah satu hobinya yang lain. “Dia itu jago kalau main gaple. Dia bisa “tahu” siapa yang lagi memegang kartu balak enam di antara kami, kawan-kawannya main gaple,” kenang Letnan Jenderal (Purn) F.X. Sudjasmin, koleganya di ketentaraan. Jarang sekali Edi kalah dalam setiap permainan. Karena itulah, kata Sudjasmin, Edi nyaris tak pernah mendapatkan “sanksi” khusus untuk pecundang, seperti memakai helm baja berlapis-lapis atau kuping dipasangi karet. Namun sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya dia terjatuh jua. Dalam suatu pertandingan seru, dia pernah harus mengakui keunggulan dua lawan tanding-nya, yang tak lain adalah para juniornya: Kolonel Sutiyoso dan Kolonel Agum Gumelar. Syahdan, pada suatu siang di tahun 1988, Kolonel Sutiyoso (Asisten Operasi Komandan Jenderal Kopassus) dan Kolonel Agum (Asisten Intel Kopassus) diperintahkan untuk datang ke rumah Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Edi Sudradjat. Saat menuju rumah KASAD, mereka berdua sempat bertanya-tanya, ada apa gerangan? Setiba di sana, ternyata sudah ada komandan mereka, Brigjen Kuntara. Rupanya Edi mengundang mereka bertiga hanya untuk mengajak bermain gaple. Singkat cerita, mulailah mereka masuk dalam permainan. Edi berpasangan dengan Kuntara, sedangkan Sutiyoso bermitra dengan Agum. Meskipun menghadapi senior-seniornya, Agum dan Sutiyoso tetap melakukan perlawanan secara serius. Pada suatu kesempatan, Agum bisa menggaple kartu sehingga skor langsung berubah menjadi 2-0 untuk kemenangan pasangan Agum-Sutiyoso. Saking gembiranya atas kemenangan itu, Agum berteriak senang sambil menari-nari jejingkrakan. Melihat ulah rekannya itu, Sutiyoso sempat was-was. Dia khawatir kedua perwira tinggi yang ada di hadapannya itu tersinggung. Namun hatinya mulai lega saat melihat sikap Edi dan Kuntara. Alih-alih tersinggung, mereka berdua malah tertawa-tawa melihat ulah Agum. “Di situlah saya melihat sosok Pak Edi yang sangat fair dan gentlemen . Kalau main kalah, ya kalah,” ujar Sutiyoso dalam biografi Edi Sudradjat, Back to Basic: Dari Operasi ke Operasi karya Yudhistira ANM Massardi, Iwan Santosa dan Hendi Jo. Namun tak urung, sepulang dari rumah Edi, Agum sempat ditegur juga oleh Sutiyoso. “Gum, enggak nyadar apa kamu tadi, nari-nari depan KASAD?” ujar Sutiyoso. “Waduh! Iya ya Yos, aku lupa,” kata Agum seraya mesam-mesem.
- Menterinya Dibilang Goblok, Sukarno Tersinggung
SEBELUM mundur dari jabatan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly sempat bikin gaduh. Yasonna menyebut artis peran Dian Sastrowardoyo terlihat sebagai orang bodoh. Pasalnya, Yasonna menganggap Dian gagal paham dalam menanggapi revisi RKUHP. Meski dinista, Dian berlapang dada dan mengatakan akan terus belajar. Di sisi lain, Yasonna tetap menjadi pejabat publik karena berhasil melenggang ke parlemen sebagai anggota DPR. Sementara itu, Presiden Joko Widodo tidak memberikan reaksi atau tanggapan apapun soal kelakuan salah satu anak buahnya itu. Kalau Yasonna dalam kapasitasnya sebagai menteri mengolok-olok orang biasa macam Dian Sastro, maka di zaman Presiden Sukarno para menteri pernah mendapat cap goblok dari rakyat. Predikat itu tercetus dalam aksi demonstrasi mahasiswa pada Januari 1966. Mahasiswa marah karena terjadi kenaikan drastis harga bahan bakar. Kebijakan tersebut ikut mempengaruhi harga kebutuhan pokok lainnya. “Harga bensin dinaikkan dari harga Rp.4 menjadi Rp.250 dan ini mengakibatkan kenaikan harga-harga. Yang paling terkena tindakan ini adalah Angkatan Darat kerena Angkatan Darat-lah yang paling banyak pakai bensin,” tulis Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa UI dalam buku hariannya yang diterbitkan Catatan Seorang Demonstran . Mahasiswa sebagai rakyat kecil biasa, juga terkena imbas kebijakan kenaikan harga. Sebagai kritik terhadap pemerintah, mahasiswa mogok kuliah dan melakukan unjuk rasa. Pada 10 Januari 1966, ribuan mahasiswa berdemonstrasi ke Sekretariat Negara memprotes kenaikan harga. Mereka yang tergolong ke dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) meminta agar kebijakan itu ditinjau kembali. Demonstrasi berlangsung sampai 15 Januari. Soe Hok Gie mencatat cara-cara mahasiswa menyampaikan aspirasinya. Di bilangan Salemba Jakarta Pusat, mahasiswa menyetop mobil-mobil yang melintas hingga menyebabkan kemacetan. Mereka menempel pamflet atau poster yang bertuliskan aneka slogan: “Dekat-jauh dua ratus”, “Turunkan harga bensin”, “DPR banci”, “Ritul menteri-menteri goblok” Chaerul menteri goblok”. Sementara itu mahasiswa Fakultas Psikologi UI berdemonstrasi di sekitar Hotel Indonesia. Mereka melantunkan lagu Anak Ayam yang diplesetkan. Tek, kotek-kotek-kotek Ada menteri tukang ngobyek Blok, goblok-goblok-goblok Kita ganyang menteri goblok Selain itu, delegasi mahasiswa diutus untuk mendatangi menteri-menteri tertentu. Salah satunya adalah Chaerul Saleh, Wakil Perdana Menteri III merangkap Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan yang disebut-sebut biang keladi kenaikan harga. Beberapa nama menteri atau pejabat setara menteri yang ikut kena catut sebagai menteri goblok ialah Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I merangkap Menteri Luar Negeri) dan Jusuf Muda Dalam (Gubernur BI). “Mendengar tuntutan mahasiswa tersebut Chaerul Saleh mengatakan, ia bukan presiden, ia hanya pembantu presiden. Karena itu, ia menegaskan pula bahwa ia akan menyampaikan tuntuntan itu kepada presiden,” tutur Cosmas Batubara, saat itu menjabat ketua Presidum KAMI dalam Cosmas Batubara: Sebuah Otobiografi Politik. Pada 15 Januari 1966, Presiden Sukarno angkat suara. Dalam sidang paripurna Kabinet Dwikora di Istana Bogor, Sukarno berpidato mengecam aksi demonstrasi mahasiswa. Sukarno tersinggung menterinya dikatakan goblok. Cacian mahasiswa itu dianggapnya tidak sopan karena ditujukan kepada orang yang lebih tua. “Ini yang membikin sedih kepada saya itu, ya maksudnya, sedih kepada saya, sampai ada ucapan-ucapan dari kalangan mahasiswa, ‘menteri goblok’. Lebih kasar daripada perkataan bodoh,” ujar Sukarno dalam pidatonya yang terhimpun dalam Revolusi Belum Selesai : Kumpulan Pidato Presiden Sukarno 30 September 1965 – Pelengkap Nawaksara suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana. “Karena itu saya meminta kepada pemuda-pemuda kita, mbok ya sabar, sampaikan kepada Bapak. Jangan sekonyong-konyong sudah mengatakan, menteri goblok dan lain-lain. Saya sakit hati.” Dalam pidatonya Sukarno menumpahkan kemarahan sekaligus kesedihan. Dirinya juga tidak terima kehidupan pribadinya dan para menterinya disangkut-pautkan dengan tuduhan yang bukan-bukan. Tuduhan ini sehubungan dengan perilaku seksual dan poligami. Untuk mengajak mahasiswa terlibat dalam mengatasi persoalan harga, Sukarno menyisipkan tantangan: “Siapa saja yang berani dan sanggup menurunkan harga dalam waktu tiga bulan akan diangkat menjadi Menteri Penurunan Harga. Tetapi jika gagal, ia akan ditembak mati,” demikian Sukarno menguraikan sayembara versinya. Pada kenyatannya, tiada seorang pun mahasiswa yang mampu menyanggupi tantangan itu.*
- Pelopor Jurnalisme Komik di Indonesia
Bicara soal komik dan jurnalisme, nama Joe Sacco barangkali akan sering disebut. Jurnalis dan kartunis Amerika Serikat ini terkenal karena karyanya, Palestine (1996). Palestine bercerita tentang pengalamannya di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza pada Desember 1991 dan Januari 1992. Sacco menggambarkan situasi di tempat tersebut dan menekankan pada sejarah dan keadaan menyedihkan rakyat Palestina. Selain Palestine , Sacco juga membuat komik hasil reportase Save Area Gorazde (2000), The Fixer (2003), dan Footnotes in Gaza (2009). Karya-karya Sacco kemudian dikategorikan sebagai jurnalisme komik. Di Indonesia, Harian Rakjat , koran yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), telah membuat –yang oleh Harian Rakjat disebut sebagai "cerita gambar yang diangkat dari reportase"– pada 1965. Komik pertama tersebut berjudul Indramajutak Terlupakan , terbit pada 14 Maret 1965. Indramayu tak Terlupakan bercerita mengenai konflik lahan antara petani dengan Jawatan Kehutanan pada 15–16 Oktober 1964. Konflik tersebut mengakibatkan diprosesnya lima orang petani karena dituduh melakukan pengeroyokan terhadap seorang polisi kehutanan. Kelima petani Indramayu tersebut lantas dijatuhi hukuman penjara. Kisah tersebut ditulis oleh Nurlan, wartawan Harian Rakjat yang belakangan diketahui sebagai Martin Aleida. Ia baru berusia 22 tahun saat meliput persidangan lima petani dalam kasus konflik lahan tersebut. Naskah Martin kemudian dilukis oleh pelukis Lekra bernama Bramastho. Kisah tersebut terbagi dalam tiga seri dan terbit setiap hari Minggu, tepatnya pada 14 Maret, 21 Maret, dan 28 Maret 1965. Tiap seri terdiri dari tiga panel gambar beserta narasi reportase di bawahnya. “Saya kira (ide) ini dari Bramastho,” kata Martin Aleida yang menjadi wartawan Harian Rakjat sejak 1963 hingga 1965 ini kepada Historia . Di Harian Rakjat , tidak ada pelukis tetap. Bramastho merupakan pelukis lepas yang hidup dari lukisan. Pasca peristiwa 1965, Martin hanya beberapa kali bertemu dengan Bramastho dan tidak mengetahui kabarnya lagi. “Sesudah peristiwa itu kita masih ketemu beberapa kali. Saling bersembunyi. Saya kira dia sudah meninggal sejak lama,” kata Martin. Sejauh ini, komik yang dibuat Bramastho tersebut menjadi komik berdasar reportase pertama di Indonesia mengingat belum ada karya serupa pada era itu. “Saya kira itu pertama kali di Indonesia. Reportase terus dijadikan komik. Setahu saya itu,” kata Martin. Pada 16 Mei 1965, Harian Rakjat kembali mengeluarkan komik berjudul Bojolali . Kali ini, Harian Rakjat tidak memberi keterangan apakah komik ini berdasarkan hasil reportase. Namun, kisah ini berdasarkan pada peristiwa Boyolali pada November 1964. Komik ini juga disusun menggunakan template yang sama dengan Indramaju tak Terlupakan . Bojolali terbit tujuh bagian selama Mei hingga Juni 1965. Komik ini dilukis oleh Bramastho, sedangkan naskahnya ditulis oleh Amarzan. Menurut Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia , pada masa pimpinan Sukarno, komik Indonesia dipenuhi gagasan nasonalisme. Tema-tema pahlawan menjadi arus utama komik Indonesia. Komik dalam Harian Rakjat masuk dalam era ini. Namun, perbedaanya, komik Indramaju tak Terlupakan dibuat berdasarkan hasil reportase. Bonneff mencatat pada 1971 terdapat beberapa koran di Indonesia telah menampilkan komik. Indonesia Raya memuat komik Tarzan , Flash Gordon hingga Dunia Charlie Brown . Kompas memuat komik Perdagangan Sendjata dengan Suku Sioux , sedangkan Berita Yudha menampilkan The Lone Ranger . Bukan hanya koran, majalah mingguan hingga majalah anak-anak juga telah memuat komik. Namun belum ditemukan lagi produk jurnalisme komik saat itu, sebagian besar koran-koran tersebut menyajikan komik fiksi Amerika, cerita wayang, hingga komik satir. Brad Mackay dalam artikelnya "Comic Journalism: A Guest Post By Brad Mackay" di adastracomix.com menyebut bahwa contoh pertama dari jurnalisme komik datang dari Harvey Kurtzman, editor pendiri majalah Mad . Peran Kurtzman dalam jurnalisme komik muncul setelah ia meninggalkan Mad pada 1955. Ia menjadi semacam kartunis selebritas (menggambar kehidupan selebritas). Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Kurtzman menulis dan menggambar komik untuk Esquire , Pageant, dan TV Guide . Pada 1960, ketika memulai majalah Help!, Kurtzman semakin memperjuangkan tren jurnalisme komik. Ia mempekerjakan sejumlah pemain muda berbakat untuk membantu mengisi halaman-halamannya, seperti Woody Allen, John Cleese, Terry Gilliam, dan Gloria Steinem. Kurtzman juga mengirim kartunis seperti Jack Davis dan Arnold Roth untuk mewawancarai Casey Stengel atau melaporkan kehidupan sehari-hari di Moskow.
- Solidaritas untuk Massa Aksi
SEMASA demonstrasi massif menolak RKUHP beberapa waktu lalu, Ananda Badudu menggalang solidaritas dengan membuka donasi lewat akun Twitter -nya. Dana yang terkumpul kemudian ia gunakan untuk keperluan medis dan logistik mahasiswa yang berdemo di depan DPR pada 23 dan 24 September 2019. Demonstrasi oleh mahasiswa di Jakarta. (Foto : Fernando Randy/Historia) Maka begitu mendapat laporan lewat Twitter bahwa ada mahasiswa yang kekurangan air, ia langsung mengirimkan air tak berapa lama kemudian. Begitu pula bila ada mahasiswa yang tumbang karena terus ditembaki gas air mata oleh polisi, Ananda akan langsung mengirimkan tim medis. Namun, aksi kemanusiaan itu hanya berlangsung beberapa hari. Pada 27 September dini hari, Ananda ditangkap polisi di rumahnya. Penangkapan itu memicu protes dari masyarakat. Ananda dibebaskan pada sore harinya dengan status saksi. Selain Ananda, para ibu pedagang minuman dan pedagang buah di Jalan Colombo Yogyakarta pun tak ingin ketinggalan membantu aksi. Mereka membagikan sebagian dagangan mereka pada para pendemo. Upaya penggalangan solidaritas untuk gerakan massa juga terjadi pada demonstrasi mahasiswa 1998. Sejumlah ibu bahu-membahu menyediakan nasi bungkus untuk para mahasiswa yang sedang menduduki DPR. Suara Ibu Peduli (SIP) menjadi salah satu gerakan dari para perempuan aktivis. Dalam artikelnya “Politik Representasi Suara Ibu Peduli”, inisiator SIP Gadis Arivia menyebutkan, sebelum membantu logistik mahasiswa pendemo, SIP lebih dulu membuka bazar susu murah. Penjualan susu dan penggalangan dana dari masyarakat untuk aksi mahasiswa itu berhasil mengumpulkan dana lebih dari satu miliar rupiah. Dengan dana itu, para ibu menyalurkan 70.576 nasi bungkus yang mayoritas merupakan nasi padang yang dibeli dari warung di hampir seluruh Jakarta. Selain nasi, mereka menyalurkan pula 1.947 kardus air mineral, 2.811 kardus snack, dan ribuan buah. Jumlah tersebut belum termasuk sumbangan masyarakat berupa bahan makanan seperti telur dan ayam hidup. Selain menyiapkan logistik, SIP juga memberi sumbangan pada newsletter mahasiswa Bergerak dan kaos dengan tulisan “Reformasi Total”. Solidaritas untuk mengirim logistik ke massa aksi juga dilakukan para ibu rumah tangga. Aksi solidaritas ini bisa berjalan berkat hubungan baik yang sudah terjalin ketika rush sembako pada krisis moneter 1997. Kala itu, Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) yang terdiri dari berbagai LSM, salah satunya Kalyanamitra, membentuk koperasi sembako. “Lokasi koperasinya di Kalyanamitra, di Rawa Jati, Kalibat. Tapi itu pekerjaan kolektif dari berbagai organisasi,” kata Ruth Indiah Rahayu yang kala itu tergabung dalam Kalyanamitra, kepada Historia . Dengan memotong jalur distribusi yang panjang, semisal membeli beras langsung ke petani, TRK berhasil menyediakan sembako ke masyarakat dengan harga jauh lebih murah. Harga beras di pasaran saat itu berkisar 2000-2500 rupiah per kilogram . Sementara di koperasi harnya 1000 rupiah per kilogram. Agar penjualan sembako murah tidak salah sasaran, TRK meminta bantuan pada para RT untuk mendata keluarga miskin kota yang tidak mampu membeli sembako. Mereka yang tersaring kemudian diberi kartu. Tiap minggu, antrian koperasi dibuka. “Wah ya orang antri untuk jadi anggota koperasi. Waktu itu yang didata ialah nama ibu, bukan nama bapak,” kata Ruth. Ruth menjelaskan lebih jauh dalam artikelnya “The Women’s Movement in Reformasi Indonesia”, pembuatan koperasi bukan berarti mendomestifikasi perempuan. Sesuatu yang domestik ketika dijadikan gerakan politik justru akan menjadi politis. Ruth menyebutnya politik logistik. Pilihan TRK untuk mendaftar perwakilan tiap keluarga dengan nama ibu pun karena alasan politis. Dari kegiatan koperasi sembako TRK inilah uang untuk membiayai kegiatan dapur umum di didapat. Lebih jauh, Kalyanamitra jadi punya kedekatan dengan ibu-ibu di kampung sekitar. Para ibu dari keluarga miskin-kota-anggota-koperasi inilah yang bekerja di dapur umum Kalyanamitra pada demonstrasi 1998. “Para ibu ini bukan aktivis. Itu aksi kolektif politik para ibu,” sambung Ruth. Nasi bungkus untuk mahasiswa-demonstran dikirim tiga kali sehari. Bahan mentahnya, seperti beras, diambil dari barang-barang koperasi. Makanan ini diolah secara bergantian oleh ibu-ibu di kampung sekitar Kalyanamitra. Tugas memasak dibagi menjadi tiga shift: pagi, siang, dan sore. Ada yang berbelanja kebutuhan seperti kertas nasi dan minuman kemasan, ada juga yang bertugas mengantarkan makanan ke DPR dan membagikannya. Politik ibuisme yang dijalankan Soeharto membuat para ibu itu aman ketika mengirimkan makanan ke para mahasiswa pendemo. Sumbangan obat-obatan juga diberikan untuk mahasiswa yang tumbang. “Makin hari yang daftar mau ikut masak makin banyak. Mereka ingin memberikan kontribusi politik dalam perubahan,” kata Ruth.
- Jejak Kaum Intelektual Era Kesultanan Aceh
SEJAK awal abad ke-15, pelabuhan-pelabuhan di utara Sumatera telah menjadi pusat pertukaran kebudayaan dari seluruh dunia. Situasi tersebut merupakan imbas langsung semakin terbukanya jaringan dagang internasional kala itu. Keterbukaan itu pun dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat Aceh untuk menyerap pengetahuan seluas-luasnya dan menerapkan nilai-nilai baru yang positif di negerinya. Karena keuletan orang-orang Aceh itu, sejak era Kesultanan Samudera Pasai, Aceh banyak melahirkan kaum ulama. Kepandaian mereka pun terkenal di kalangan negeri-negeri Melayu. Seorang ahli budaya Melayu Richard Olaf Winstedt pernah menulis di dalam penelitiannya, A History of Malaya , tentang seorang alim dari Pasai yang diberi hadiah emas dan budak perempuan muda berkat pengetahuan yang dimilikinya. Saat itu Sultan Malaka Mansur Syah (wafat 1477) mengirim seorang utusan ke Pasai untuk mencari jawaban atas keresahan yang sedang dihadapinya. Sambil membawa beberapa peti hadiah, si utusan menyerahkan sepucuk surat dari Sultan kepada seorang alim Pasai. Surat itu berisi pertanyaan: ‘apakah sekali orang masuk neraka atau surga, ia harus tinggal di sana untuk selama-lamanya?’ Sang alim awalnya menjawab, berdasarkan dalil al-Qur’an, bahwa manusia akan tinggal di sana selamanya. Namun itu kemudian diralat karena menurut salah seorang muridnya, Sultan Mansur Syah tidak akan puas dengan jawaban tersebut. “Panggilah utusan itu dan terangkan kepadanya bahwa anda tadi tidak dapat memberikan keterangan esoteris di depan umum, tetapi bahwa secara tersendiri bisa”. Setelah melakukannya sang alim pun pulang dengan membawa emas dan budak-budak yang dijanjikan Sultan. Kemunculan Kaum Bidah Kepandaian orang-orang Pasai memang telah diakui oleh negeri-negeri di sekitarnya. Pengetahuan dan budaya di sana masuk melalui jalur perdagangan. Namun bagi masyarakat, keberadaan pengetahuan asing itu memberikan dampak yang terlampau besar. Banyak alim yang mulai mencampurkannya dengan kehidupan sehari-hari, bahkan keyakinan mereka. Sejarawan Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) menjelaskan bahwa pada abad ke-16 wilayah Sumatera mulai dipenuhi orang-orang pandai yang terpengaruh oleh pemikiran India dan Neo-Platonisme, yang juga berkembang di banyak tempat suci keagamaan seperti Hindustan. Dalam literatur Barat, mereka disebut sebagai ‘kaum bidah’. Kaum ini menganggap segala perbedaan antara Tuhan dan makhluknya harus dihilangkan. Sehingga bagi mereka kewajiban manusia bukan lagi menjalankan sembahyang setiap hari –lima waktu dalam Islam– tetapi lebih mendalami rasa di balik keberadaan manusia, dunia, dan Tuhan sebagai penciptanya. Lombard mencatat ada dua tokoh yang sedikit banyaknya telah membawa pengaruh yang cukup besar terhadap pemikiran Barat di Sumatera. Mereka adalah Faḍl Allāh al-Burhānpūrī dari Burhānpūr (India) dan Ahmad Kushāshi yang mengajar di Madinah. Nama keduanya disebut dalam banyak literatur tentang Sumatera karya peneliti-peneliti Barat. Satu di antaranya dapat dijumpai dalam Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial karya C. Snouck Hurgronje. “Di samping pengaruh-pengaruh ini, sebenarnya perlu ditetapkan bagian mana dari pemikiran itu merupakan sumbangan yang orisinal,” tulis Lombard. Melahirkan Pemikir Besar Orang Sumatra pertama yang diketahui terpengaruh asing dan menyebarkan pemikiran-pemikirannya adalah Hamzah Fansuri dari Barus. Ia mengarang sebuah uraian pendek, Asraru’l-arifin fi bayan ‘ilm al-suluk wa’l-tawhid , tentang inti sifat-sifat dan karya-karya Tuhan menurut teologi Islam. Tulisan Hamzah Fansuri disebut turut mempengaruhi pemikiran ulama besar Aceh Syamsuddin As-Sumatrani (Syams ud-Din). Sebagai alim penting Kesultanan Aceh, pemikiran Syamsuddin turut mempengaruhi perkembangan teologi di Aceh. Dalam Hikayat Aceh: Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandar Muda , Teuku Iskandar menggambarkan Syamsuddin sebagai pemimpin rohani rakyat. Dialah yang memimpin banyak upacara keagamaan di Kesultanan Aceh, termasuk menerima laporan dari peziarah yang baru kembali dari Mekkah. Syamsuddin mengasihlkan banyak karya fenomenal yang banyak dibaca di negeri-negeri Melayu. Beberapa di antaranya, meski bukan hasil karyanya, mencerminkan pengaruh dari pemikirannya. Karya yang paling terkenal ialah Mirat al-Muminin (Cermin Kaum Beriman), berbentuk tanya jawab yang dikarang pada awal abad ke-17. “Persoalan yang agaknya paling ditekuni pemikir tersebut ialah kehidupan yang sekaligus dipahami sebagai keanekaragaman dan dirasakan sebagai kesatuan,” ucap Lombard. Dalam kesehariannya, Syamsuddin lebih menekankan pada ajaran zikir dan tauhid. Ia meyakini bahwa setiap orang harus memiliki seorang guru rohaniah untuk diikuti dan menyerap segala ajarannya. Akan tetapi setelah kematian Syamsuddin, mulai bermunculan pemikir-pemikir yang menentang ajarannya tersebut. Satu di antaranya Nuruddin al-Raniri, pengarang Bustan us-Salatin , yang diperintahkan oleh Sultan Iskandar Thani membuat karya tandingan agar rakyat Aceh kembali ke ajaran tradisional dan terlepas dari belenggu Barat. “Semua karyanya ditulis terdorong oleh keinginan memberantas gagasan-gagasan Hamzah dan Syam ud-Din, dan terutama paham mereka mengenai kesatuan,” tulis Lombard. Salah satu karya terbesar Nuruddin adalah Siratal Mustakim , yang ditulis dalam bahasa Melayu dan menjadi salah satu sastra Melayu yang paling banyak dibaca di Nusantara. Bahkan dalam Hikayat Merong Mahawangsa disebutkan Siratal Mustakim telah dibaca hingga ke negeri Kedah, Malaysia. Memasuki pertengahan abad ke-17 Aceh kembali melahirkan seorang pemikir besar. Ia adalah Abdurrauf as-Singkili (Abd al-Rauf al-Sinkili). Di dalam karyanya, ‘Umdat al-Muhtajin , Abdurrauf mengatakan bahwa ia pergi menuntut ilmu hingga ke Madinah, Mekkah, dan Jiddah. Ia mengaku diajari oleh 15 orang guru, 27 orang pandit, dan 15 orang Sufi. Meski bagi pandangan sebagian pemikir, Abdurrauf telah banyak dipengaruhi pemikiran Barat, seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin tetapi ia lebih dapat diterima oleh para alim ulama Aceh. Bahkan ajarannya banyak yang bertentangan dengan para pendahulunya tersebut. Para pemikir Aceh menyebarkan ajarannya tidak hanya di Sumatra dan negeri-negeri Melayu. Hingga akhir abad ke-17 telah banyak alim ulama Aceh yang berkhotbah hingga ke Makassar dan Siam. Hal itu menjadi bukti kemajuan pengetahuan di negeri Aceh. “Meskipun Aceh sudah jelas hampir langsung dipengaruhi oleh perdebatan pemikiran di Barat dalam abad-abad ke-16 dan ke-17, namun perlu dikemukakan pula pengaruh guru-guru Aceh ke timur supaya peranannya sebagai perantara dapat dihargai selayaknya,” tulis Lombard.
- Salam Olahraga! Apa Kabar Ary Sudarsono?
KENDATI usianya nyaris kepala tujuh, sosok presenter olahraga populer RCTI era 1990-an itu bicaranya masih lugas. Terlebih jika membicarakan bola basket, olahraga yang mengorbitkan namanya, dia jadi berapi-api. Lama menghilang dari sorotan publik, Ary Sudarsono, pria tadi, berkenan menerima Historia di sebuah kedai teh tarik Aceh di Bintaro, Tangerang Selatan. Mengenakan pakaian serba hitam plus peci berwarna sama, Ary bicara banyak soal dunia basket dan kiprahnya di dalamnya. “Basket memang sudah dari SD, jadi enggak mungkin saya lupain,” ujarnya. Menurutnya, dia masih ingin mendarmabaktikan hidupnya buat basket kendati usianya tak lagi muda. Bakti itu dia wujudkan dengan menggagas Liga Bocah Indonesia (LBI). Untuk mewujudkan kompetisi basket setingkat Sekolah Dasar (SD) itu, Ary menggandeng institusi-institusi pendidikan. Ide itu, kata Ary, terinspirasi dari kebijakan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang menetapkan olahraga kompetitif dimasukkan ke dalam kurikulum wajib sebagai bentuk dukungan institusi pendidikan. “Jadi program gue di LBI itu student athlete , kayak Kennedy dulu. Harus ada kerjasama dengan sekolah-sekolah. Agar si murid bisa jago olahraga tapi rapor juga enggak jelek. Itu sejak 2017, tapi sampai sekarang belum terwujud. Saya sudah coba sampaikan ke Erick (Thohir, Dewan Kehormatan PP Perbasi) tapi enggak didukung,” sambungnya. Antara Basket dan Sepakbola Kendati cinta basket, beragam olahraga pernah Ary jajal. “Olahraga itu sebenarnya hobi keluarga. Bapak gue sempat jadi Ketua PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) dan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jakarta Pusat. Bapak, sebagaimana ibu, juga mantan atlet korfball,” kata Ary. Ary lahir dari pasangan Sudarsono Brotomidjojo dan Tini Ambar Suarti di Jakarta, 20 Juli 1951. Ia anak sulung dari tujuh bersaudara. Sebagai anak pengurus olahraga, Ary ingin pula jadi atlet. Skill basketnya pun terus dia asah hingga di kemudian hari Ary berhasil masuk timnas basket Perbasi sebagai point guard . Di masa senjanya Ary Sudarsono masih berusaha mendarmabaktikan diri di basket nasional (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Semasa SMA, Ary punya tiga pilihan cabang olahraga untuk masa depannya: basket, sepakbola, dan judo. Namun, pada akhirnya Ary memilih basket lantaran itu olahraga pertama yang membuatnya ingin berkiprah di jalur olahraga meski belum tentu bisa menunjang masa depannya. Ary akhirnya berhasil menjadi anggota timnas basket. Di liga, Ary merupakan pemain klub Indonesia Indonesia Muda (IM). Saat sudah mantap di basket dengan rutinnya mengikuti latihan IM itulah Ary digoyahkan pendiriannya. Ajakan berkecimpung di sepakbola mendatanginya. Adalah pelatih legendaris Endang Witarsa yang mengajaknya. “Waktu SMA saya dilihat oleh Endang Witarsa. Dia ajak saya jadi kiper. Dia juga yang melatih saya. Saya tanya, kenapa saya jadi kiper? Kata dia, tangkapan saya bagus. Posisi badan juga bagus, nangkep bolanya bener. Toh karena saya juga pemain basket, kan,” ujar Ary berkisah. Namun sepakbola bukan satu-satunya olahraga lain yang menarik hatinya. Majalah Jakarta Jakarta edisi 1989 mencatat, Ary pernah jadi juara nasional judo yunior pada 1970, hingga diikutkan ke kejuaraan-kejuaraan mancanegara. “Beladiri judo juga sejak kecil. Namanya anak laki, harus punya beladiri. Tapi dari judo saya juga terhindar dari cedera latihan bola. Dari teknik judo saya bisa terbang dan berjatuhan nangkap bola dengan posisi jatuh yang benar,” tambahnya. Ketidakfokusannya itu membuat sang ayah komplain, terlebih saat tahu Ary dilirik pelatih tim PSSI Yunior Djamiat Dalhar. Sang ayah yang saat itu menjabat Ketum PASI, khawatir pendidikan Ary terganggu jika terlalu banyak aktivitas olahraga. Sang ayah mewanti-wantinya bahwa olahraga tak menjamin masa depan cerah. “Bapak saya komplain. Dia lari ke Ketua PSSI, Pak Kosasih (Poerwanegara, red .). Dia tanya, ‘ Broer , ini anak saya elo mau jadiin apa? Masa depannya gimana kalau jadi kiper?’ Pak Kosasih jawabnya, ‘Wah, kalau sampai ke situ saya enggak bisa ngomong apa-apa. Beginilah olahraga Indonesia’,” kata Ary mengenang dialog ayahnya dan Kosasih. Bukan hanya ke PSSI, ayah Ary juga mendatangi Menpora R. Maladi seraya membawa Ary untuk dikenalkan ke sang menteri. “Pesannya sama, ‘Coba dikaji lagi, Dek. Kalau bisa sekolahnya yang benar. Contoh Sarengat. Setelah juara Asian Games dia ambil sekolah dokter’,” tambah Ary. Walhasil, terjadi benturan ambisi antara Ary yang menginginkan olahraga dan ayahnya yang ingin Ary lebih menseriusi pendidikan. Ary mengakui, kesibukannya di dunia olahraga bikin pendidikannya di SMA Perguruan Cikini keteter . Namun, ia memantapkan tekad untuk jalan terus di jalur olahraga. “Ayah saya kasih warning . Siap-siap ya, di olahraga tuh enggak akan jadi apa-apa, katanya. Tapi saya bilang, setiap manusia hidup sudah ada garisnya. Mungkin garis saya di sini (olahraga),” sambungnya. Sang ayah akhirnya luluh. Ary dibebaskan menentukan pilihan hidupnya dengan syarat tak boleh setengah-setengah menjalaninya dan siap menanggung risiko yang bakal menimpa. Seiring perjalanan waktu, Ary akhirnya mesti memilih satu dari kiprahnya di dua cabang. “Suatu saat saya terpilih antara timnas basket dan PSSI Yunior. Ada dua agenda, satu Kejuaraan Asia Yunior di Manila tinggal sebulan lagi, bersama tim PSSI Yunior; satu lagi Kejuaraan Asia untuk basket yang dua bulan lagi. Pak Djamiat enggak mau saya ke basket,” kenangnya. Ary Sudarsono punya alasan memilih basket ketimbang sepakbola dan judo di masa mudanya (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Setelah memikirkan masak-masak, Ary pilih basket. Dengan berat hati ditinggalkannya sepakbola. Ia pun kena omel pelatih Djamiat Dalhar dan Endang Witarsa. “Dasar kamu tampang sinyo, otak pacul, katanya. Kenapa enggak pilih bola? Karena kalau habis latihan kiper, saya enggak bisa belajar. Drill -nya kan gila, bisa babak belur sampai muntah-muntah. Tangan gemetar habis nahan tendangan-tendangan,” ujar Ary. Alasan lain yang bikin Ary menyisihkan sepakbola adalah atmosfernya. Bagi Ary, atmosfer di basket jauh lebih terasa lantaran jarak antara penonton dan lapangan berdekatan. “Interaksi sama penonton terasa sama kita. Meningkat semangat ingin jadi hero di lapangan. Kalau di bola, paling kalau bola kemasukan saja terdengar ‘ Woy , kiper goblok’, hahaha …,” sambung pria tampan yang selalu ceria itu. Keputusan Ary ternyata betul. Dalam kurun 1970-1978, dia selalu menjadi bagian dari timnas basket Indonesia. Popularitas namanya pun merambah ke luar negeri. Setelah pensiun, Ary tak ingin hidup jauh dari basket. Sempat terpilih menjadi wasit internasional FIBA (federasi basket internasional) pertama dari Indonesia, Ary terus bersemangat mengabdi di basket dengan masuk Perbasi. Di situlah dia gigih mempopulerkan basket ke kalangan muda lewat Indonesian Basketball League (IBL) (kini NBL) hingga Liga Basket Mahasiswa Indonesia (LMI, kini LIMA). Upaya untuk mempopulerkan basket di tanah air juga dilakukan Ary dengan menegosiasikan siaran NBA, dan berhasil dengan bukti disiarkannya NBA di sebuah stasiun tv swasta pada 1990-an. Anda para fans NBA tanah air tentu tak asing dengan wajah dan suara khas Ary yang selalu muncul sebelum pertandingan dimulai dan setelah usai. Dari menjadi presenter NBA itulah Ary kemudian “laku keras” sebagai presenter yang khas dengan jargon “Salam Olahraga!”-nya. Tidak hanya basket, ternyata ia juga jempolan bicara olahraga lain macam sepakbola sampai judo. Selain pernah jadi ring announcer tinju, curriculum vitae -nya penuh dengan beragam julukan: Mr. Golden Whistle, Mr. NBA Asia, Mr. Nike, Mr. FILA, hingga Mr. Showtime. Setelah pensiun basket sebagai pemain dan wasit, nama Ary Sudarsono mengorbit sebagai presenter olahraga legendaris (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Di luar dunia olahraga, Ary juga “melek” politik. Itu dibuktikannya dengan pernah menjadi kader Partai Amanat Nasional (PAN) meski tak lama. Hanya satu bidang yang tidak dikuasai pria multitalenta itu. “Ya paling berdagang (bisnis) saja yang gue enggak bisa, hahaha …,” celetuknya. Dari basketlah nama Ary populer di masyarakat. Dari olahraga itu pula beragam penghargaan diterima Ary. “Penghargaan-penghargaan dari luar (negeri) itu rata-rata kata-katanya hampir sama. Apresiasi dalam pengembangan basket. Tapi di Indonesia penghargaan gue cuma dua, Lifetime Achievement Award dari SIWO sama Panasonic Award sebagai presenter olahraga terbaik (pria, 2000),” tutur Ary.
- Mendengar Peristiwa 1965 di Udara
HARI itu, 2 Oktober 1965. Letda Udara (kini kolonel purnawirawan) Pramono Adam mendapati hal tak biasa ketika sedang di udara. Kala itu, Pram, sapaan akrab Pramono, sedang menerbangkan helikopter Mi-6 dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung menuju Lanud Atang Senjaya, Bogor. Informasi radio begitu ramai di cockpitnya. Informasi itu ternyata menyangkut politik dan menentukan jalannya sejarah bangsa. Kendati perwira, Pram selaku perwira AURI mengaku "buta" politik. Saat itu mayoritas personil AURI “buta” politik. “Memang jaman itu tentara sebetulnya nggak boleh berpolitik, apalagi Angkatan Udara. Kita hanya jadi technology savior . Jadi boleh ngomong hanya soal pesawat, politik nggak ada,” ujarnya kepada Historia.ID. Ketidaktahuan politik itu membuat Pram menjalani hari-hari sejak 30 September hingga 2 Oktober 1965 seperti hari-hari sebelumnya di Wings Operasi 004 Lanud Atang, tempatnya bertugas, kendati situasi politik di pusat tengah bergejolak. Pada 1 Oktober, Pram bersama rekannya seorang penerbang AURI harus menerbangkan heli Mi-6 ke Bandung. “Kita lagi me- repair ramp door -nya, itu rusak,” ujar Pram. Sebelum berangkat, dia dan beberapa personil AURI di Lanud Atang sempat mendengarkan pidato Letkol Untung Sjamsuri tentang gerakan kontra-revolusioner Gerakan 30 September dari siaran radio RRI . “Kita cuma mendengarkan saja, nggak ngerti apa-apa. Kita diam saja.” Tak ada perubahan situasi di Lanud Atang. Maka penerbangan Pram ke Bandung tak ubahnya penerbangan-penerbangan sebelumnya. Situasi di Lanud Husein pun tak ada yang berbeda. Rutinitas berjalan seperti biasa. Pram dan rekannya sibuk memperbaiki pintu Mi-6 bersama teknisi setempat. Setelah selesai, Pram dan rekannya kembali ke Bogor keesokannya. Baru setelah heli mengudara, Pram mendapati suasana berbeda. “Di atas, ramai (informasi radio, red .). Nggak boleh ke sana, nggak boleh ke sini. Nggak boleh ke Halim, Halim udah diduduki oleh Angkatan Darat,” kata Pram menirukan suara radio. “Ternyata terjadi itu, G30S.” Larangan pesawat-pesawat AURI mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma dikeluarkan lantaran pada 1 Oktober sore pasukan RPKAD (kini Kopassus) mulai mendatangi lanud tersebut. Keesokannya, pasukan RPKAD berhasil menguasai Halim karena mengira AURI akan mengebom markas Kostrad. Larangan pertama keluar pada 2 Oktober dini hari, ditujukan pada lima pesawat AURI dari Wing Ops 002 Abdulrachman Saleh. “Untuk menghindari segala kemungkinan yang mencurigakan, Komandan PAU Husein Sastranegara, Bandung melalui menara PLLU, memerintahkan kelima pesawat dari Wing Ops 002 itu mendarat di PAU Husein. Namun sebuah B-25 Mitchell terlanjur mendarat di PAU Halim Perdanakusuma, yang kemudian digembosi bannya oleh pasukan RPKAD yang sudah masuk di pangkalan,” tulis Aristides Katoppo dan kawan-kawan dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 . Akibat larangan mendarat di Halim itu, Lanud Atang kebanjiran pesawat AURI. “Pesawat Hercules yang nggak boleh mendarat di sana, mendaratnya di sini. Pesawat Albatros yang nggak boleh ke Halim, ditolak, mendaratnya di sini. Mustang juga ada yang ke sini, itu Pak Ashadi (Tjahjadi, red .).” kata Pram. Kolonel Udara Ashadi Tjahjadi, komandan Lanud Husein Sastranegara, datang ke Atang untuk menghadiri rapat dengan presiden di Istana Bogor pada 2 Oktober. “Dengan pertimbangan ada rapat menteri/panglima di Bogor, maka Kolonel Ashadi Tjahjadi mengambil keputusan untuk menunggu Men/Pangau di Semplak, Bogor. Dalam penantian, Ashadi Tjahjadi melihat Laksda Udara Sri Moeljono Herlambang turun dari helikopter bersama dengan Komodor Udara Dewanto, Kolonel Sarwo Edhie dan seorang mayor RPKAD yang kemudian dikenalnya sebagai Mayor Goenawan Wibisono. Kemudian petang hari sekitar pukul 15.00 bertolak ke Bogor untuk menghadiri rapat dengan presiden,” tulis Aristides dkk. Kedatangan Kol. Sarwo Edhie itulah yang membuat Pram dan para personil AURI di Atang sedikit “melek” tentang apa yang terjadi di ibukota. “Pak Sarwo (Edhie) Wibowo juga kita anter ke sini (istana). (Kami) ketemu dengan Sarwo Edhie Wibowo, (dia) ngomong macem-macem,” ujar Pram. Situasi yang berubah sejak 1 Oktober, ditambah pernyataan Men/Pangau Laksdya Omar Dani yang mendukung gerakan tersebut, membuat AURI jadi tersudut secara politik. “Di Jakarta saja, kadang-kadang ada orang TNI AU yang rumahnya nggak di asrama diganggu-ganggu di jalanan. Dikira keterlibatannya (terhadap G30S, red .).” "Makanya Omar Dani dicela sama Bung Karno, 'Habis kerja kamu cuma ngitungi jam terbang doang, nggak ngerti politik'.” Situasi tak mengenakkan itu membuat Danlanud Atang Kolonel Udara Soewoto Soekendar mengambil keputusan yang ditujukan kepada para bawahannya. “Kita ya cuma stand by di rumah. Kalau malem disuruh konsinyir,” sambungnya. Beruntung apa yang dialami para personil AURI di Jakarta dan kota-kota lain tak dialami Pram dan para personil AURI lain di Lanud Atang. Hal itu dikarenakan adanya kerjasama baik antara pihak Lanud dan Kodam Siliwangi yang dipimpin Mayjen TNI Ibrahim Adjie. “Pak Ibrahim Adjie juga ngomong AU tidak terlibat secara institusional. Kalau ada paling oknum. Dengan kita (Adjie) sudah sering ketemu, jadi tau situasi yang sebenarnya. Maka terus hubungan kita dengan Pak Ibrahim Adjie baik sekali,” ujar Pram.*
- Melumpuhkan Gerombolan G30S tanpa Peluru
SERMA purnawirawan Edi B. Somad, veteran Pertempuran Bekasi semasa Perang Kemerdekaan yang dikaryakan di Yonavet Koramil 07 Tambun, Bekasi,selalu ingat kejadian yang dialaminya pada 3 Oktober 1965 saat sedang piket. Kejadian itu merupakan kelindan dari peristiwa 1 Oktober yang terjadi di ibukota. “(Tengah) malam 1 Oktober itu saya sedang piket di Koramil Tambun. Danramilnya Pak Sadikin. Sama kawan-kawan saya dikonsinyir sampai pagi. Tapi sebelum saya pulang siangnya, saya dikasih info sama kawan-kawan lain bahwa di Jalan Kalijambe (Tambun Selatan, red. ) ada gerombolan tentara seragam loreng-loreng pada ngaso ,” ujar Edi kepada Historia. Ternyata yang diinfokan itu adalah pasukan Yon 454/Raiders yang melarikan diri setelah terlibat baku tembak dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus) di Pondok Gede dekat PAU Halim Perdanakusuma pada 3 Oktober pagi. Mengutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang , pasukan Raiders itu sebagian sudah dikonsolidasikan setelah terjadi gencatan senjata yang “dimediasi” perwira Angkatan Udara. “Sedangkan sisanya yang masih ikut petualangan mengundurkan diri ke Tambun. Pengejaran segera dilakukan, hasilnya 237 orang menyerah tanpa membawa korban,” tulis Pour. Info tentang pasukan yang diterima Edi dan kawan-kawannya itu lalu diteruskan ke danramil. Tak lama setelah itu, Edi ditugaskan mendatangi dan membujuk gerombolan tentara tadi agar merapat ke markas Koramil Tambun yang saat itu bertempat di Gedung Tinggi Tambun (kini Gedung Juang Tambun). Jantung Edi sempat berdegup kencang saat tiba di depan gerombolan itu dan disambut dengan kokangan senjata. Setengah mati ia berupaya menenangkan diri agar dapat menjalankan misi dan menjaga supaya jangan sampai memicu letusan senjata. “Siapa itu?” tanya seorang dari gerombolan, sebagaimana ditirukan Edi. “Saya Edi, dari Koramil.” “Ada apa?” “Saya ada perintah dari danramil, Pak Sadikin, bahwa kalian tidak bersalah. Hanya terbawa-bawa (perintah provokatif). Jadi bagaimana, kalian mau melarikan diri tapi tak ada tujuan atau bisa kami koordinir? Nanti bisa dikembalikan ke kesatuan,” kata Edi. Edi B. Somad mengisahkan bagaimana ia dan rekannya di Koramil Tambun melucuti gerombolan pasukan liar terafiliasi PKI tanpa pertumpahan darah (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Tidak langsung memberi jawaban, gerombolan itu “meraba-raba” apakah tawaran Edi itu jebakan atau bukan. Untuk membuktikan bahwa tawaran itu bukan jebakan, dua perwakilan dari mereka lalu ikut Edi ke markas Koramil. Di sana mereka diberi tahu bahwa mereka akan dijamin, tidak hanya keamanannya, namun juga makanan dan rokok. “Mereka akhirnya setuju. Syarat dari kita, semua senjata supaya dikumpulkan di gudang markas. Pas masuk ke markas, kita jelaskan lagi bahwa kita tentara semua kawan. Itu senjatanya ada (senapan mesin) Bren, senapan otomatis (Chung), Thompson, senjata anti-tank. Andaikata waktu itu kita frontal, wah Tambun bisa jadi lautan api sama dia. Orang kita di koramil juga cuma enam orang. Mereka senjatanya komplit,” sambung Edi. Pimpinan mereka pun dipertemukan dengan Sadikin di kantornya. Setelah itu, Edi diperintahkan mengontak Kodim 0507 Bekasi untuk kemudian meneruskan info itu ke Kodam Jaya. Edi dan kelima kawannya lalu mengupayakan pengadaan logistik yang mereka janjikan. “Ya rokok, makanan, semua kita minta bantuan warga sekitar saja. Nasi, lauk, kita minta masakin warga. Saya telefon Kodim Bekasi untuk minta bantuan dikontak ke Kodam. Minta truk 40, untuk mengangkut anggota pasukan PKI yang sudah dilumpuhkan,” ujarnya. Namun, Edi dan komandan Sadikin kaget. Sekira pukul 5 sore bantuan yang datang bukannya truk untuk mengangkut personel, malah konvoi pasukan RPKAD dengan pansernya. “Pak Sadikin marah. Komandan pansernya dilabrak. ‘Saudara jangan unjuk gigi di sini! Kalau mau unjuk gigi, tadi tuh waktu senjata mereka masih di tangan. Sekarang tinggal orangnya doang, senjata sudah dilucuti, malah ditakuti’,” kata Edi menirukan kemurkaan komandannya. Gedung Juang Tambun yang pada 1965 dipakai sebagai Markas Koramil Tambun (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Sementara, melihat kedatangan pasukan RPKAD yang mereka hadapi di Halim di pagi harinya, gerombolan Yon 454/Raiders yang sedang mengaso itupun kocar-kacir melarikan diri. Hanya sekira 200-an sisanya yang bisa ditahan di markas Koramil. Baru ketika malam, tiba truk-truk yang diminta untuk membawa sisa gerombolan itu ke Jakarta. Para personil yang kabur lalu –diketahui kemudian bahwa tidak hanya berasal dari Yon 454/Raiders saja tetapi juga dari Tjakrabirawa dan Brigif I Kodam Jaya– meneruskan perjalanan dan dikabarkan menyerahkan diri di Markas Corps Polisi Militer (CPM) di Cirebon karena kelaparan. “Setelah melapor di Cirebon, laporan CPM Cirebon diteruskan ke markas Resimen Tjakrabirawa. Mereka lalu dijemput Resimen Tjakrabirawa dan kemudian dimasukkan kembali ke asramanya (Kala Hitam) di Jalan Tanah Abang D, sebelum dijebloskan ke Penjara Salemba,” ujar Maulwi Saelan dalam memoarnya, Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa.





















