top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pram Menemukan Minke

    Bumi Manusia , roman pertama dari tetralogi Pulau Buru karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, akan difilmkan Falcon Pictures dengan sutradara Hanung Bramantyo. Yang bikin heboh, tokoh utama dalam novel itu, Minke, diperankan aktor muda Iqbaal Ramadhan. Banyak yang mengatakan, Iqbaal kurang pas memerankan tokoh Minke. Minke merupakan anak pribumi cerdas yang hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dia adalah anak priyayi yang mendapat pendidikan Eropa di Hogere Burger School (HBS) Surabaya. Dia pandai menulis, dan karyanya kerap dipublikasikan di koran-koran zaman itu. Dalam Bumi Manusia, Minke dilukiskan sebagai pemuda revolusioner yang lantang melawan ketidakadilan terhadap bangsanya. Terinspirasi Tirto Minke merupakan representasi tokoh pergerakan nasional dan perintis pers nasional, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Sebelum Pram menulis Bumi Manusia (terbit pertama kali 1980) dan Sang Pemula (terbit pertama kali 1985), nama Tirto seakan tenggelam dan luput dari perhatian sejarawan. Bahkan sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (terbit pertama kali 1981) tidak memberikan perhatian khusus kepada sosok Tirto. Namun, Tirto lah yang mengilhami Pram menulis tetralogi: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Menurut Koh Young Hun, guru besar pada Hankuk University, Korea Selatan, Pram terinspirasi Tirto lantaran ingin menafsirkan kembali kebangkitan nasional Indonesia. Sebagai seorang wartawan, Tirto pernah menerbitkan suratkabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Putri Hindia (1908). Selain jurnalis, Tirto merupakan salah satu tokoh pendiri Syarikat Priyayi (1906), yang dianggap Pram sebagai organisasi modern pribumi pertama. “Banyak orang berpendapat, Budi Utomo yang memprakarsai gerakan nasional. Namun, menurut Pram, justru Syarikat Priyayi lah yang dapat dikatakan pelopor,” kata Young Hun kepada Historia. Dalam bukunya Pramoedya Menggugat, Young Hun menulis bahwa Syarikat Priyayi dan Syarikat Dagang Islam, yang sama-sama dirintis tokoh Minke, merupakan organisasi modern pribumi bercorak nasional. Young Hun menulis, dalam segi wawasan dan semangat, Syarikat Priyayi lebih maju daripada Budi Utomo. “Syarikat Priyayi memakai bahasa Melayu dan keanggotaannya tidak terbatas pada suku Jawa dan Madura saja,” tulis Young Hun. Menemukan Tirto Menurut A Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, semangat Pram melakukan penelitian sejarah tentang zaman permulaan nasionalisme Indonesia sudah dimulai sejak 1956. Nama Tirto ditemukan ketika Pram menjadi pengajar di Jurusan Sejarah, Universitas Res Publica, pada 1962. Dalam sebuah wawancara dengan Andre Vltchek dan Rossie Indira yang dipublikasikan menjadi buku Saya Terbakar Amarah Sendirian! , Pram mengemukakan, dia sudah punya konsep roman tetralogi dan berniat menulisnya sebelum diasingkan ke Pulau Buru. Pram menulis empat karya legendarisnya itu berdasarkan kertas kerja (kliping koran) yang sebagian dikerjakan mahasiswa-mahasiswanya di Universitas Res Publica. Sewaktu mengajar, Pram meminta para mahasiswanya untuk mempelajari suratkabar dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dan membuat kertas kerja setiap era di dalam sejarah. “Naskah kerja inilah yang memberikan ide untuk konsep serial novel saya Tetralogi Buru. Dengan menggunakan kertas kerja mahasiswa saya tersebut, saya juga bisa menulis buku Sang Pemula ,” kata Pram. Dari kliping-kliping koran itu pula Pram menemukan koran Medan Prijaji. Di koran tersebut, menurut buku 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa, dia menemukan sebuah nama yang nyaris dilupakan: Tirto Adhi Soerjo. Dari sini kemudian Tirto direpresentasikan Pram menjadi Minke, anak priyayi yang berani. Young Hun mengingatkan bahwa memahami tokoh Minke secara menyeluruh tak cukup hanya membandingkannya dengan tokoh Tirto Adhi Soerjo. Perbandingan itu harus dilengkapi dengan tokoh sejarah lainnya, yakni Pramoedya Ananta Toer sendiri. “Ketiganya memiliki sejumlah kemiripan: orang Jawa lahir di Blora, hidup berkarier di Betawi, bersikap tegar, pemberani, nasionalis, pembela rakyat kecil, berkali-kali dihukum oleh penguasa, penulis produktif, dan lain-lain,” tulis Young Hun .

  • Kala Tentara Menguasai Negara

    UNDANG-Undang Terorisme akhirnya rampung. Dalam sidang paripurna yang digelar pada 25 Mei 2018, DPR mengesahkan revisi UU Antiterorisme. Perdebatan panjang membuat UU ini sempat mengendap sekian lama. Beberapa pasal menjadi sorotan. Salah satunya pasal 43 ayat 1 dan 2 yang mengatur keterlibatan peran TNI. Sebagian kalangan, terutama dari Komnas HAM mengkhawatirkan bila keterlibatan militer akan memasuki domain sipil.   Dalam sejarahnya, militer memang pernah berkuasa dalam kehidupan bernegara. Berdirinya sejumlah dewan daerah yang menentang pemerintah pusat itu jadi momentum supremasi militer. Pada akhir 1956, di Sumatera berdiri Dewan Banteng pimpinan Letkol Ahmad Husein; Dewan Gajah pimpinan Kolonel Maludin Simbolon; Dewan Garuda  pimpinan Letkol Barlian. Di Sulawesi Utara Letkol Ventje Sumual mengumumkan piagam Perjuangan Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957 yang memberlakukan pemerintahan militer di daerah itu. Kelak, gerakan oposisi ini membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tak sanggup mengatasi kemelut di daerah bergolak, Kabinet Ali mengembalikan mandatnya. Presiden Sukarno kembali memegang kekuasaan negara dibantu Kepala Staf Angkatan Darat, Letjen TNI Abdul Haris Nasution. “Tapi saya perlukan berlakunya UU Bahaya (SOB) agar dibolehkan bertindak menjaga keamanan negara secara menyeluruh,” ungkap Nasution dalam memornya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . SOB  ( Staat van Oorlog en Beleg ) yang dimaksud Nasution adalah peraturan yang menentukan keadaan darurat dan perang. Ditetapkan sejak zaman kolonial Belanda pada 1939 dan tetap berlaku setelah pengakuan kedaulatan. Sukarno menyetujui usulan Nasution. Dia tetap memangku kekuasan tertinggi selaku Penguasa Perang Tertinggi (Peperti), sementara Nasution merangkap Penguasa Perang Pusat (Peperpu) dan panglima militer di daerah menjadi Penguasa Perang Daerah (Peperda). Dengan SOB, tentara punya legitimasi melakukan tindakan yang dianggap penting atas nama keamanan dan ketertiban negara.   Menurut sejarawan Baskara Tulus Wardaya, SOB adalah suatu keputusan yang sebenarnya muncul atas desakan Nasution. Ia memperhitungkan, Sukarno yang bergaya penguasa tunggal itu nantinya bisa dikontrol oleh tentara. Dengan demikian, kesempatan bagi Angkatan Darat untuk tampil di tampuk pemerintahan terbuka lebar. “Gaya kepemimpinan penguasa tunggal membuat Bung Karno kurang memperhatikan motivasi Nasution ini,” tulis Baskara dalam Bung Karno Menggugat. Keadaan berbahaya memberi ruang bagi militer menumpas gerakan PRRI dan Permesta lewat serangkaian operasi militer. Pun demikian halnya dengan perjuangan Irian Barat. Modernisasi angkatan perang hingga mobilisasi umum tak lepas dari pemberlakuan SOB. Namun lamban laun, otoritas tentara kian meluas. Mereka dapat menangkap para oposisi atau orang yang dianggap koruptor, mengampu jabatan sipil, hingga menertibkan pers. Tak lagi berkutat soal pertahanan negara, melainkan merambah ke bidang politik dan ekonomi. Pada September 1958, Nasution mengumumkan pembekuan Partai Masjumi di daerah-daerah yang mendukung PRRI dan Permesta. Pembekuan tersebut diikuti dengan penangkapan terhadap tokoh-tokoh partai bersangkutan. Perkara finansial, militer juga memperoleh tempat yang empuk setelah banyak perwira AD yang melibatkan diri dalam kebijakan nasionalisasi perusahaan Belanda. ”Kurangnya pengalaman dan keahlian pada sebagian besar perwira yang mengelola berbagai perkebunan dan perusahaan menjadi salah satu sebab timbulnya miss management dan turunnya produktivitas,” tulis Hariyono dalam disertasinya berjudul “Keadaan Bahaya di Indonesia (1957--1963) di Universitas Indonesia. “Penguasa perang yang ditahun 1957 sangat tegas terhadap tindak korupsi sejak tahun 1958 cenderung permisif dan kurang berdaya dalam menertibkan perwira militer yang terlibat dalam tindak korupsi. Keterlibatan peran tentara di sektor ekonomi tak lepas dari gagasan Nasution tentang “Jalan Tengah” yang didengungkan tahun 1958. Nasution dengan konsepnya tersebut mempersiapkan tentara untuk berperan ganda: sebagai kekuatan militer dan sebagai kekuatan sosial-politik. Doktrin inilah yang kelak dikembangkan menjadi Dwi Fungsi ABRI. Keadaan bahaya di Indonesia baru berakhir pada 1 Mei 1963, tepat ketika Irian Barat resmi menjadi bagian kekuaan Republik. Situasi baru ini secara perlahan mulai mengurangi peran militer dalam pemerintahan. Para panglima menyerahkan kepada gubernur kekuasaan dan wewenang penyelenggara keamanan di masing-masing daerah. Berlakulah lagi keadaan tertib sipil. Kendati demikian, sebagaimana dicatat Rosihan Anwar dalam Sukarno Tentara PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961—1965 ,  hapusnya SOB tidaklah berarti kembali menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kendati benar-benar dicabut, menurut Haryono keterlibatan militer di luar bidang pertahanan sudah melembaga. “Sehingga tak terlalu berpengaruh terhadap tatanan kehidupan politik dan ekonomi yang ada.”*

  • Lima Pemeran Utama yang Dipersoalkan

    BUMI Manusia , bagian pertama dari novel Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit pada 1980, bakal naik ke layar lebar. Kontroversi dan polemik terkait pemeran utama Minke alias Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, tokoh utama novel itu, langsung mengiringinya karena Minke akan diperankan aktor muda Iqbaal Ramadhan. Mantan pentolan boyband Coboy Junior itu jadi idola banyak remaja zaman now berkat aktingnya di film Dilan 1990. Sontak, banyak pemuja karya Pram misuh-misuh soal casting- nya. Iqbaal dianggap sama sekali tak pantas memerankan Minke, yang dalam novel digambarkan sebagai pemuda bumiputera dengan tampang berstandar di bawah rata-rata. Beberapa pemrotes mengkhawatirkan karakter Dilan akan terbawa Iqbaal saat memerankan Minke. Beberapa lainnya bahkan nyinyir bahwa temanya akan cenderung berfokus pada hubungan percintaan Minke dengan Anneliese lantaran yang garap film itu Hanung Bramantyo. Ada pula yang bilang, Iqbaal digebet demi strategi marketing. Namun, protes seperti itu lumrah dalam dunia perfilman. Hollywood pernah beberapa kali mengalami. Berikut lima aktor/aktris pemeran karakter novel maupun tokoh sejarah yang terusik kontroversi sebelum naik tayang: Johnny Depp sebagai Tonto Johnny Depp memerankan Tonto dalam The Lone Ranger/Foto: npr.org “The Lone Ranger”, serial radio yang melegenda sejak 1930-an di Amerika Serikat, digarap sutradara Gore Verbinski jadi layar lebar pada 2013 dengan dua tokoh sentral John Reid sang “Texas Ranger” bertopeng diperankan Armie Hammer dan pasangannya Tonto, si Indian suku Comanche, diperankan Johnny Depp. Karakter terakhir ini sempat dipersoalkan banyak pihak. Isu utamanya adalah soal pemilihan Depp sebagai Tonto yang dianggap cenderung rasis karena tak memilih aktor orang Indian. Namun dalam wawancaranya dengan National Post , 27 Juni 2013, Depp mengaku masih punya darah Indian dari garis nenek buyutnya. “Saya juga ingin memerankan Tonto bukan sebagai pemeran pembantu. Karena dulu suku asli Indian selalu diperlakukan buruk oleh Hollywood. Saya perankan Tonto sebagai petarung dengan integritas dan martabat,” terang Depp. Daniel Craig sebagai James Bond Daniel Craig jadi aktor ketujuh pemeran James Bond dan memulai debutnya dalam Casino Royale/Foto: tivolivredenburg.nl Sejak naik ke layar lebar pada 1962, serial novel James Bond karya Ian Fleming sudah punya tujuh aktor yang memerankannya. Namun, baru pada 2005 protes keras soal pemilihan aktor utamanya ada, kala Casino Royale (tayang 2006) dicanangkan. Pasalnya, PH Eon Productions memilih Daniel Craig sebagai aktor utama. Publik menganggap Craig tak pantas memerankan Bond. Sejumlah kampanye anti-Bond sampai mengorbit setelah itu. Para fans yang tak terima mengancam memboikot Casino Royale , hingga membuat situs craignotbond.com . “Eon Productions membuat marah fans seluruh dunia saat mereka memecat Pierce Brosnan saat sedang tenar memerankan Bond. Kami lebih terhina Eon memilih aktor pendek berambut pirang dengan tampang aneh, Daniel Craig,” ungkap situs tersebut. Pun begitu, nyatanya film tersebut meledak di pasaran. Pendapatan kotornya nyaris 600 juta dolar Amerika dan sempat jadi film Bond dengan keuntungan terbesar sebelum (2012) yang lagi-lagi diperankan Craig. Para fans yang khilaf pun “tobat” dan menutup situs anti-Craig itu. Zoe Saldana sebagai Nina Simone Zoe Saldana (kiri) yang berdarah Dominika dan Puerto Rico dianggap tak pantas perankan Nina Simone (kanan) di film "Nina"/Foto: Caption Youtube Nina Simone, legenda jazz berkulit hitam Amerika yang merentang kiprahnya sejak 1950-an, saat publik Negeri Paman Sam belum ramah bagi kaum Afro. Lewat musik, perempuan bernama lahir Eunice Kathleen Waymon itu lantang menyuarakan anti-diskriminasi. Pada 2016, kisah Nina diangkat ke layar lebar dengan judul Nina dan digarap sutradara Cynthia Mort. Sayang, sejak pemilihan pemeran Nina yang jatuh kepada Zoe Saldana, kecaman berdatangan. Salah satunya dari Simone Kelly, putri Nina yang tak terima ibunya diperankan Zoe Saldana lantaran bukan perempuan Afro berkulit legam. “Ibu saya hidungnya lebar dan kulitnya sangat gelap. Jelas melihat penampilannya (Saldana), dia bukan pilihan terbaik,” kata Simone, dikutip The New York Times , 4 Maret 2016. Meski kemudian produksinya terus jalan, pada akhirnya filmnya gagal sukses. Marlon Brando sebagai Don Corleone Marlon Brando sukses besar perankan Don Corleone di film legendaris "The Godfather"/Foto: marlonbrando.com The Godfather karangan Mario Puzo jadi satu dari sedikit novel kriminal tersukses di Amerika sejak terbit 1969. Sineas Francis Ford Coppola mengangkatnya ke layar lebar dengan judul serupa pada 1972 dan memilih Marlon Brando untuk memerankan dedengkot mafia Don (Vito) Corleone. Pemilihan Brando sempat jadi polemik antara Coppola dan para petinggi Paramount Pictures. Paramount kurang sreg dengan Brando. Paramount menawarkan beberapa alternatif, mulai dari Laurence Olivier, Ernest Borgnine, hingga Anthony Quinn. Tapi Coppola ngotot ingin tokoh Don Corleone tetap dimainkan Brando sebagaimana dia kekeuh tokoh Michael Corleone diperankan Al Pacino. “Perang soal casting untuk keluarga mafia Corleone lebih gencar dari pertempuran keluarga Corleone saat syuting,” ungkap Robert Evans, salah satu bos Paramount, dalam memoar berjudul The Kid Stays in the Picture . Brando dan Pacino akhirnya tetap bermain di film itu dan hingga kini The Godfather jadi salah satu film Hollywood terbaik sepanjang masa. Ben Affleck sebagai Batman/Bruce Wayne Dalam "Batman vs Superman", tokoh jagoan Batman diperankan Ben Affleck, sebagaimana sequelnya, "Justice League"/Foto: Caption Youtube Dipilihnya Ben Affleck sebagai pemeran superhero Batman ber-alter ego Bruce Wayne menuai protes dari para fans si “Manusia Kelelawar” yang pertama kali eksis di komik Maret 1939 itu. Sekira 30 petisi sampai muncul di situs change.org pada 2013 dengan satu tujuan: mengenyahkan Affleck dari proyek Batman v Superman: Dawn of Justice yang lantas rilis pada 2016. Sempat pula ada petisi yang sampai ditujukan ke Gedung Putih. Petisi “We The People” itu lewat sistem White House Petition meminta pemerintahan Barack Obama melarang Ben Affleck memerankan Batman atau karakter superhero lain dalam 200 tahun ke depan. Namun, film itu pada akhirnya lumayan sukses hingga Affleck kembali memerankan Batman dalam Justice League (2017).

  • Operasi Bersama Gempur Sumatera

    Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) akan diaktifkan kembali untuk menanggulangi aksi teror. Pengerahan pasukan super elite dari tiga matra ini telah mendapat persetujuan dari Komisi I DPR. Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Thajanto, pihaknya masih menanti Peraturan Pemerintah (PP) sebagai payung hukum keberadaan Koopsusgab. Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui wakil duta besarnya, Erin Mckee menawarkan bantuan untuk mengungkap dalang aksi terorisme.            Kondisi yang persis serupa juga pernah terjadi di masa lalu. Kala itu pemerintah Indonesia tengah dipusingkan dengan gerakan oposisi PRRI. PRRI melibatkan beberapa panglima daerah di Sumatera yang menentang kebijakan pemerintah pusat. Mereka antara lain Kolonel Maludin Simbolon, panglima di Sumatera Utara, Letkol Ahmad Husein, panglima di Sumatera Barat, dan Letkol Barlian di Sumatera Selatan. Untuk menindaknya, TNI menggelar operasi militer dengan sandi “Tegas” meliputi wilayah operasi di Riau pada Maret 1958. “Operasi Tegas untuk merebut daerah perminyakan Riau, yang merupakan sasaran yang diperhitungkan bagi ‘intevensi’ Amerika Serikat,” ujar Abdul Haris Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Dalam Operasi Tegas, Nasution yang berpangkat mayor jenderal berkedudukan sebagai ketua Gabungan Kepala Staf (GKS).   Meski PRRI memiliki basis terkuat di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, penunjukan Riau sebagai sasaran dinilai tepat. Pasalnya, posisi Riau cukup strategis karena berbatasan dengan jalur lalu lintas laut internasional. Menguasai Riau akan menutup kemungkinan pemberontak melarikan diri melalui selat Malaka. Selain itu Caltex (perusahaan minyak raksasa multi nasional asal Amerika Serikat), telah lama beroperasi di Riau. Duta Besar AS Howard Jones didampingi pejabat tinggi Caltex menemui Perdana Menteri Juanda di Jakarta. Kedua tamu ini khawatir keselamatan warga dan investasi Amerika di Riau. Mereka mengisyaratkan ancaman. Armada Laut AS yang berpangkalan di Pasifik dan kesatuan militer Inggris di Singapura bersiaga di perairan Riau. Pasukan marinir AS akan diturunkan bila pemerintah Indonesia tak mampu mengamankan wilayahnya. Dini hari, 12 Maret 1958, Operasi Tegas dilancarkan. Operasi ini tergolong skala besar karena melibatkan kekuatan inti dari semua angkatan: AD, AL, AU, termasuk Kepolisian. Sebagian besar armada laut dan pesawat terbang dikerahkan. Komandan operasi ialah Letkol (AD) Kaharudin Nasution,Wakil I Letkol (AU) Wiriadinata, dan Wakil II Mayor (AL) Indra Subagyo. Nasution menggambarkan betapa besarnya kekuatan operasi militer gabungan itu. “Belum pernah saya melihat pesawat berkumpul sekian banyaknya. Dakota-Dakota GIA berjajar rapat sepanjang lapangan beserta pesawat tempur AURI Mustang, B-25 dan lain-lain,” kenang Nas. Selain pasukan reguler, pasukan elite masing-masing matra dikerahkan. Satu kompi RPKAD (kini Kopassus), dua kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT, kini Paskhas AU), dan Korps Komando (KKO) AL. Dalam operasi di Riau, satuan-satuan Brimob diturutsertakan di bawah pimpinan Komisaris Polisi Sutjipto Danukusumo. Penerjunan dan pendaratan pasukan diberangkatkan dari Tanjung Pinang, ibukota Riau Kepulauan. Uniknya, selama operasi bahasa penerbangan yang lazim dipakai, yakni bahasa Inggris ditiadakan. Semua pembicaraan dilakukan dalam bahasa Jawa. Alasannya untuk mencegah pasukan Inggris di Singapura dan armada AS menyadap kode-kode gerakan pasukan Indonesia. Komando Kangguru yang terdiri dari pasukan PGT dan RPKAD melakukan penerjunan untuk menduduki lapangan terbang dan kota Pekanbaru. Dalam Operasi-operasi Gabungan terhadap PRRI-Permesta , Makmun Salim mencatat pukul 07.00 lapangan udara Simpangtiga sepenuhnya dapat dikuasai oleh TNI. Menyusul kemudian kota Pekanbaru yang sudah dalam kendali TNI dalam waktu singkat. “Para pemberontak malahan banyak yang menyerah lengkap dengan semua persenjataannya. Sebelum, selama atau sesudah sebentar saja melawan serbuan pasukan ABRI,” tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan . Pasukan RPKAD dari komando Kangguru pimpinan Letnan II Benny Moerdani, menyita sekira 80 truk yang ditinggalkan di landasan lapangan terbang. Setelah digeledah, truk-truk tadi membuat kebutuhan logistik berupa persenjataan dan uang. Perbekalan asing itu terdiri dari senapan laras panjang Garand , Springfield , Recoilless , dan Bazooka buatan Amerika. Diketahui kemudian senjata-senjata mutakhir tadi berasal dari AS lewat para agen CIA. Seorang perwira menengah musuh berpangkat kapten tertawan oleh pasukan Benny. Menurut pengakuan kapten tersebut, pasukan pemberontak lengah karena mengira pasukan penerjunan TNI merupakan rangkaian kiriman logistik untuk menyokong pemberontakan. Semula diperkirakan, andaikan Pekanbaru memang tak bisa lagi dipertahankan, para pemberontak harus meledakkan sejumlah ladang minyak setempat milik Caltex. “Aksi bumi hangus ini diperkirakan bakal segera memancing datangnya campur tangan asing. Harapan muluk tadi ternyata tidak terwujud,” tulis Julius Pour.

  • Bumi Manusia dalam Film

    Bumi Manusia , novel pertama dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, diangkat ke layar lebar. Film ini disutradarai Hanung Bramantyo, naskah skenario oleh Salman Aristo, dan diproduksi Falcon Picture. Film ini tayang di bioskop mulai 15 Agustus 2019. Rencana pembuatan film itu sempat menimbulkan kegaduhan nasional. Banyak orang seakan tak rela mahakarya Pramoedya itu disutradarai oleh Hanung. Apalagi tokoh utama dalam Bumi Manusia , yaitu Minke, diperankan oleh Iqbaal Ramadhan yang namanya melambung setelah memerankan film Dilan 1990 . Hanung memang beberapa kali membuat film sejarah, seperti Sang Pencerah (KH Ahmad Dahlan, 2010), Soekarno (2013), dan RA Kartini (2016). Namun, karya-karyanya itu menuai kritikan, bahkan film terakhirnya, Benyamin Biang Kerok, diprotes masyarakat Betawi. Film-filmnya yang lain juga memicu kontroversi. Namun, Hanung tak jera. Menurut laporan tempo.co , niat Hanung memfilmkan Bumi Manusia  disampaikan langsung kepada Pramoedya, namun ditolak. Pramoedya juga menolak permintaan sutradara Oliver Stone. Kesempatan datang pada 2008 setelah Hanung merampungkan film  Ayat-ayat Cinta. Seorang teman, yang tak disebutkan namanya, menawarinya memfilmkan Bumi Manusia . Namun, Salman Aristo belum berani menulis skenarionya. Akhirnya, pada 2018, Hanung resmi mengumumkan akan memfilmkan Bumi Manusia . Salman Aristo sanggup menulis skenarionya karena mengaku hampir membaca semua karya Pramoedya. Selain Hanung, ada dua sutradara yang berniat memfilmkan Bumi Manusia,  namun gagal. Sebelumnya, Hanung telah memasukan Bumi Manusia dalam filmnya, Perempuan Berkalung Sorban (2009) ,  yang diangkat dari novel karya Abidah El Khalieqy. Dalam Identitas dan Kenikmatan,  Ariel Heriyanto menyebut Perempuan Berkalung Sorban menyodorkan kritik keras terhadap sisi-sisi gelap patriarki yang masih berlangsung dalam komunitas Muslim di Indonesia. Dalam film ini, nyaris semua laki-laki Muslim termasuk yang poligami, bersifat egois, irasional, picik, intoleran, korup, dan menindas dengan kekerasan. Para kritikus pun menafsirkan minimnya lelaki yang bisa menjadi panutan dalam film itu sebagai serangan yang disengaja terhadap petinggi Muslim dan karenanya terhadap Islam itu sendiri, ketimbang serangan secara umum terhadap patriarki. “Yang paling menyakitkan dari semuanya, para tokoh perempuan yang menjadi korban mendapat pencerahan dan jalan keluar dari novel Bumi Manusia ,” tulis Ariel. Dengan demikian, menurut Ariel, Perempuan Berkalung Sorban merupakan film panjang bioskop pertama yang menampilkan Bumi Manusia di layar lebar kepada penonton Indonesia. Novel itu muncul dalam sekurangnya lima adegan, termasuk ketika tokoh utama membaca dan menentengnya. Juga ada satu adegan, yang tak ada di novelnya, yang menggambarkan sejumlah guru lelaki di pesantren menyita buku-buku Pramoedya dan membakarnya beserta beberapa buku lain yang dianggap berbahaya. Faktanya memang Pramoedya dan novel-novelnya dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru sehingga dilarang dan dibakar. Yang memiliki dan mendiskusikannya ditangkap dan ditahan. Pada 31 Oktober 1981, Kejaksaan Agung membantah telah membakar 10.000 eksemplar Bumi Manusia dan lanjutannya, Anak Semua Bangsa, namunmengaku hanya membakar 972 eksemplar. Menurut Ariel, orang-orang yang mengkritik film itu membantah dengan mengatakan adegan membakar buku tidak realistis dan menampilkan stereotif yang tak adil terhadap Muslim. Menurut mereka, sekonyol-konyolnya orang di pesantren tak akan ada yang sampai membakar buku. Kini, Hanung berhasil memfilmkan Bumi Manusia yang telah diimpikannya sejak lama. Apakah akan menuai kritikan? Hanung sudah akrab dengan hal itu.

  • Kompi Gajah Bikin Inggris Tak Jadi Kalah

    DIPANDU para pawang, gajah-gajah membantu evakuasi pengungsi asal Desa Awng Lawt di Danai, Negara Bagian Kachin, Myanmar, awal April lalu. “Para penduduk desa dengan hiasan kepala tradisional mengangkat anak-anak ke punggung beberapa mahluk raksasa itu untuk menyeberangi sungai,” tulis straittimes.com , 15 Mei 2018. Pengungsian itu terjadi setelah Desa Awng Lawt tak aman akibat meningkatnya eskalasi konflik antara pasukan Kachin Independence Army (KIA) dan militer Myanmar. Penduduk mengungsi ke kamp-kamp Internally Displaced Person (IDP) yang berjarak lebih dari 100 kilometer. Mereka mencapai tepi sebuah sungai di Danai dalam keadaan kehabisan makanan. Penduduk desa setempat langsung membantu dengan mengerahkan gajah-gajah untuk mengangkut orangtua, anak-anak, dan orang yang sakit.  Evakuasi menggunakan gajah pernah dilakukan semasa Perang Dunia II. Bersama Bandoola dan gajah-gajah lain di Kompi Gajah, Letkol James H. Williams alias “Elephant Bill” berhasil mengungsikan warga sipil dari Burma (kini Myanmar) ke India sekaligus berkontribusi bagi kemenangan Sekutu di Burma. Kompi Gajah Bill merupakan veteran Inggris di Perang Dunia I yang pada 1920 bekerja di Bombay-Burma Trading Corp. (BBTC). Di perusahaan kayu jati yang mempekerjakan 2000 gajah itu, Bill menjabat asisten kehutanan. Dia ditempatkan di Kamp Sungai Chindwin, Lembah Myittha dan bertanggungjawab atas 10 kamp berikut 70 gajah dan uzi (pemilik sekaligus pawang) gajah-gajah itu. Bill bersahabat dengan uzi bernama Po Toke. “Inilah orang yang telah mengajarinya segala hal dan berbagi dengannya makhluk menakjubkan ini,” tulis Vicki Croke dalam Elephant Company: The Inspiring Story of an Unlikely Hero and the Animals . Dari Po Toke, Bill mendapatkan banyak pengetahuan tentang gajah, yang makin membuatnya cinta pada hewan itu. Dari Po Toke pula Bill bertemu gajah yang kelak menjadi belahan jiwanya, Bandoola. “Tanpa Po Toke, tidak akan ada Bandoola.” Saat Jepang menginvasi Burma, Februari 1942, Bill ada di Kamp Maymyo. “Semuanya berjalan amat buruk, Bombay Burma Corporation memberi peringatan cepat bahwa ia mungkin, sebagai perusahaan swasta, harus mengatur evakuasi para pegawai Eropanya beserta keluarga mereka dari Dataran Tinggi Chindwin ke Manipur dan selanjutnya ke Assam,” ujar Bill dalam memoarnya, Elephant Bill .  Dia ikut mengevakuasi perempuan dan anak-anak Eropa –termasuk anak-istrinya– menggunakan gajah ke Assam, April 1942. Pengetahuan luas soal wilayah Burma –sehingga dijuluki peta hidup– dan kemampuan bahasa Burma Bill membuatnya diterima bergabung dengan Kantor Staff British Eastern Army (kemudian jadi Fourteenth Army/Tentara ke-14) sebagai Penasihat Gajah untuk Royal Indian Engineers (RIE), Oktober tahun itu juga. Gajah-gajah itu ditugaskan sebagai pendeteksi ranjau. Kekecewaan Bill terhadap minim pemanfaatan potensi luar biasa gajah dan kejemuannya sebagai informan dari balik meja membuat Bill akhirnya menemui pimpinan agar diberi keleluasaan bekerja. Dia lalu dimasukkan ke dalam satuan elit Force 136. “Untuk bisa beroperasi di mana pun yang dia inginkan, Williams ditugaskan ke Special Operations Executive, cabang yang amat beda dari Secret Intelligence Service yang lebih kaku,” tulis Vicki. Setelah diterjunkan ke belakang garis musuh, di Tamu, Bill membentuk pasukannya sendiri: Kompi Gajah. Harold Browne, teman lama Bill di Divisi Infantri ke-23 British Indian Army, menjadi orang pertama yang direkrut Bill. Untuk gajahnya, Bill baru punya Bandoola. Mereka mendirikan markas di Desa Moreh, pinggiran Tamu. Dari situ, keduanya mengkampanyekan agar para uzi lain bergabung dengan Kompi Gajah. Tapi tekad Bill untuk terus menambah jumlah gajah amat besar. Dia beruntung, tak lama kemudian mendapat tambahan 40 gajah beserta uzi yang melarikan diri dari Jepang. “Mereka membentuk inti Kompi Gajah No.1,” tulis Vicki. Belum cukup dengan jumlah yang ada, Bill lalu berkeliling lebih dari tiga bulan untuk membujuk para uzi yang dikenalnya agar bergabung dengan Kompi Gajah. Upaya itu berhasil baik, satu per satu uzi menyerahkan gajah mereka ke Kompi Gajah. Meski dipandang sebelah mata oleh Tentara ke-14, kompi ini terus berkontribusi dengan membuat banyak jembatan yang mendukung kelancaran gerak pasukan. Kompi Gajah juga menjadi penyuplai persenjataan, logistik, maupun obat-obatan ke garis depan. Upaya penyuplaian berjalan lancar karena penggunaan gajah. Hewan raksasa itu punya keleluasaan bergerak jauh melebihi truk atau jip. Gajah-gajah itu tak perlu lampu dan minim menghasilkan suara ketika melakukan pengangkutan malam sehingga tak dideteksi patroli Jepang. Dalam waktu singkat, Kamp Gajah, nama markas Kompi Gajah, berubah jadi titik penting pasukan Inggris. Saban hari minimal seorang jenderal mampir ke sana untuk sekadar istirahat, mengadakan rapat, atau meminta bantuan. Pamor Kamp Gajah melambung. Media-media seperti The Newyorker , Times , atau Life langsung memberitakan kontribusi Kompi Gajah. Pada Januari 1943, Bill dipanggil Kolonel Orde Wingate dan dimintai bantuan gajah untuk rencana Kampanye Burma sang kolonel. Popularitas Bill dengan Kompi Gajahnya dengan cepat sampai ke telinga pasukan Jepang. Jepang langsung membanderol kepala Bill dengan harga tinggi. Suatu hari di bulan Maret 1944, Bill mendapat perintah membawa sebanyak mungkin gajahnya keluar dari Tamu ke India. Jepang hampir mencapai Tamu. Meski tak mudah, Bill mematuhinya karena tak ingin membiarkan gajah-gajahnya terbunuh. Setelah 15 hari persiapan, Bill memimpin 200 orang, 64 di antaranya perempuan dan anak-anak, dan 53 gajah mengungsi ke India. Perjalanan sejauh 120 mil itu mereka tempuh berjalan kaki melewati Pegunungan Razorback yang berhutan lebat dan bertrek sulit. “Mereka harus melewati lima pegunungan untuk mencapai keselamatan. Pertempuran pecah di mana-mana di sepanjang jalur perjalanan mereka,” tulis Simon Worrall di news.nationalgeographic.com , “How Burmese Elephants Helped Defeat the Japanese in World War II”. Pada hari ke-9, mereka beristirahat di daerah subur dengan sebuah anak sungai di Lembah “kematian” Kabaw. Setelah keesokannya mereka tak menemukan jalan keluar lantaran hanya  tebing-tebing terjal yang ada, mereka kembali berkemah. Mundur tak mungkin karena pasti tertangkap Jepang. Satu-satunya jalan keluar mereka: memanjat tebing setinggi 300 kaki yang ada di hadapan.  Beruntung, “keajaiban” datang. Beberapa bagian tebing berbentuk undakan, dengan menyingkirkan tetumbuhan di sampingnya undakan itu akan menjadi rangkaian anak tangga. Sebagian batu yang keropos tinggal dipahat untuk jadi anak tangga. Bill, yang yakin gajah-gajahnya tak akan mau memanjat, akhirnya menerima keputusan memanjat tebing. “Kami membagi tenaga ke dalam empat kelompok, masing-masing mengerjakan bagian berbeda,” tulis Bill. Begitu selesai beberapa hari kemudian, mereka langsung melakukan pemanjatan maut dengan Bill yang terdepan. Bill baru tahu Bandoola sedang berjuang menaklukkan tebing saat dia istirahat di pertengahan tebing. Mengetahui hal itu, semangat Bill langsung meluap-luap. Pendakian buru-buru dia lanjutkan dan ketika sampai, dia menunggu kedatangan Bandoola. Butuh tiga jam bagi Bandoola dan masing-masing gajah untuk mencapai puncak tebing. Ketika semua telah mencapai puncak, mereka melanjutkan perjalanan ke India dengan lebih aman. Bill melanjutkan perjuangan dari India sebagai informan dan penasehat. Atas jasanya, pemerintah Inggris menganugerahinya Order British Empire pada Februari 1945. “Letkol Williams telah memberi sumbangsih amat berharga sejak April 1942. Semua kontribusinya luar biasa, dan pantas mendapat pengakuan khusus,” kata komandan Korps ke-15 British Indian Army Letjen William Slim dalam pengantarnya untuk penghargaan itu.

  • Pengasuh Anak di Masa Kolonial

    FOTO dari masa kolonial itu menampilkan sesosok perempuan bumiputera sedang berdiri sambil menggendong bayi kulit putih. Dia mengenakan kain jarik dan kebaya tapi tanpa alas kaki. Bayi kulit putih dalam gendongannya tersenyum ke arah kamera. Bayi itu digendong menggunakan kain jarik sambil dipayungi. “Dari arsip foto, banyak bukti bahwa anak Belanda diasuh oleh babunya,” ujar peneliti sejarah Galuh Ambar Sasi kepada Historia . Di era kolonial memang banyak orang Belanda memasrahkan anak mereka untuk diasuh orang lain, semisal diasuh oleh babu mereka. Orang-orang yang lahir di Hindia-Belanda, tulis Jean Gelman Taylor dalam Kehidupan Sosial di Batavia , biasanya tak mampu atau terlalu malas untuk mengasuh dan membesarkan anak sendiri. Segera setelah anaknya lahir, orangtua Belanda memberikan anak itu kepada pengasuh kulit hitam atau pada salahsatu budak-budak perempuannya untuk diasuh. Banyaknya waktu yang dihabiskan anak-anak kulit putih dengan para pengasuh membangun ikatan batin yang kuat. Akibatnya, banyak anak Belanda lebih memilih berada di dekat para pengasuh kulit hitam atau budak laki-laki dan perempuan ketimbang berada di dekat orangtua mereka. “Di mata anak-anak Eropa, pengabdian  baboe  untuk mereka adalah tak terbatas,” tulis Frances Gouda dalam  Dutch Culture Overseas. Hal itu menjadi alasan bagi banyak keluarga Belanda membawa babu mereka ketika pulang ke negerinya. Galuh menjelaskan bahwa anak yang diasuh babu seringkali merasakan romantisme ketika mengenang para pengasuhnya. Seperti yang dilakukan Rob Nieuwenhuys ketika mengenang pengasuhnya, Nenek Tidjah. Rob bahkan ingat bau tubuh, kebaya, juga kain jarik yang sering dipakai Nenek Tidjah. Namun, romantisme yang dirasakan Rob ternyata tidak dirasakan pengasuhnya. Para pengasuh mengingat tugas itu sebagai tugas berat yang penuh aturan dari majikan. “Majikan menetapkan aturan hal yang boleh dan tak boleh untuk anaknya. Belum lagi mengurus anak itu sehari penuh, anak para babu sendiri akhirnya kurang terurus,” kata Galuh. Karena dibesarkan para babu, anak-anak Belanda mengadopsi tingkah laku para pengasuh berikut kebiasaan-kebiasaan mereka. Beberapa anak Belanda kemudian mampu berbicara bahasa Malabar, Sinhala, Benggali, dan Portugis pasar seperti para budak yang menjadi penagsuhnya. “Dan ketika mereka beranjak dewasa, mereka kesulitan berbahasa Belanda dengan baik dan benar tanpa mencampurkan dengan bahasa Portugis ke dalamnya,” tulis Jean. Anak-anak yang mengikuti kebiasaan pengasuhnya dan kesulitan berbahasa Belanda menjadi perhatian para pelancong Belanda. Mereka mencemooh fenomena ini dan menyebutnya sebagai sebuah kemunduran. Akibatnya, para orangtua Belanda tidak lagi memercayakan sepenuhnya pengasuhan anak kepada pelayan bumiputera. Mereka mencari pengasuh anak dan guru yang menguasai bahasa Eropa. Iklan-iklan pada abad ke-19 menjadi bukti upaya para orangtua mencarikan pengasuh yang lebih berpendidikan. Para orangtua Belanda sebisa mungkin tidak memasrahkan anak mereka untuk diasuh babu. Iklan yang dikutip Jean ini menjadi bukti: "Dicari: pengasuh anak, lebih diinginkan orang Eropa untuk mengasuh dua anak.” Pada banyak iklan memang tidak diwajibkan para pelamar memiliki ijazah mengajar, tapi para pelamar diharuskan memiliki kemampuan berbahasa Eropa seperti Belanda dan Prancis. Beberapa keluarga bahkan menginginkan pengasuh anak yang pernah mengecap pendidikan di Eropa atau lahir di Eropa dan beragama Kristen. Syarat pelamar untuk memiliki kemampuan bermusik juga sering ditemui lantaran di masa itu kemampuan bermain musik jadi salah satu penanda status sosial.*

  • Puasa Zaman Gajah Mada

    GAJAH MADA menyerukan sumpahnya dengan lantang di balairung kedaton, pada sebuah pertemuan yang dihadiri para pejabat tinggi Majapahit. Dia berkata jika Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik telah mengakui kejayaan Majapahit, pada waktu itulah dia amukti palapa. Tak ada yang tahu pasti apa maksud amukti palapa. Namun, ada yang menafsirkan Gajah Mada tengah bernazar. Dia akan melakukan puasa mutih demi tercapai angan-angannya. “Ada yang menafsirkan hamukti palapa sebagai tindakan makan nasi saja, tanpa lauk, tanpa perasa, santan. Ada yang menafsirkan begitu,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, kepada Historia.

  • Mula Turnamen Para Juara

    Meski hanya diikuti klub-klub top Eropa, Liga Champions mampu menghipnotis pecinta sepakbola dari berbagai penjuru dunia. Prestis Liga Champions tak kalah hebat dari Piala Dunia. Real Madrid menjadi klub pertama yang menjuarai Liga Champions tahun 1956 kala turnamen itu bernama European Champion Club's Cup. Hingga kini, klub ibu kota Spanyol itu juga pengoleksi terbanyak trofi Liga Champions. Bagaimana sebetulnya awal mula Liga Champions? Pentas Akbar yang Dibidani Suratkabar Kejuaraan sepakbola antarklub Eropa berakar dari Challenge Cup. Kejuaraan antarklub amatir ini dicetuskan John Gramlick, pendiri klub Vienna FC, pada 1897. Namun, partisipan ajang ini masih terbatas untuk tim-tim di Kekaisaran Austria-Hungaria. Seiring perjalanan waktu, muncul pula Mitropa Cup yang dibidani tokoh sepakbola Austria Hugo Meisl. Turnamen ini mengadu klub-klub Eropa Tengah. Lalu, ada pula Coupe des Nations pada 1930, dan Latin Cup pada 1949. Namun, turnamen-turnamen itu lingkup dan gregetnya dirasa kurang oleh Gabriel Hanot, editor suratkabar Prancis L’Equipe, dan rekannya Jacques Ferran. Terlebih setelah dibandingkan dengan kehebohan Campeonato Sudmamericano de Campeones musim 1948 yang diliput Ferran. Turnamen Campeonato, tulis Jose Carluccio dalam Historia y Futbol , merupakan turnamen akbar berlingkup benua pertama di dunia. Turnamen ini cikal-bakal Copa Libertadores –Liga Champions-nya Amerika Selatan. Logo European Cup (kiri) dan logo Liga Champions (kanan) yang diperkenalkan pada 1992. (fifamuseum.com dan Wikipedia) Di luar kurang gregetnya turnamen-turnamen Eropa tadi, klaim sebagai juara dunia oleh juara Liga Inggris Wolverhampton Wanderers setelah mengalahkan Budapest Hanved FC 3-2 di Stadion Molineux, 13 Desember 1954 amat menjengkelkan Hanot. Hal itu mendorong Hanot dan Ferran meracik cetak biru sebuah turnamen antarklub Eropa baru. Formatnya mengadopsi Campeonato. Pada 2-3 April 1955, L’Equipe menghelat pertemuan antarklub Eropa yang dihadiri 16 perwakilan. Di pertempuan inilah Hanot mengajukan cetak biru turnamennya. Mayoritas perwakilan yang hadir menyetujuinya. L’Equipe membawa hasil kesepakatan itu ke Kongres UEFA di Wina, Austria, hingga ke pertemuan FIFA di London, 9 Mei 1955. Ide turnamen antarklub Eropa akhirnya mendapat lampu hijau. “Proposal ini akan sangat menarik dan akan jadi kesuksesan besar,” cetus Presiden FIFA Rodolphe Seeldrayers, dikutip Alan Tomlinson dalam A Dictionary of Sports Studies. Label Turnamen dan Trofi Prestisius Untuk mewujudkan turnamen itu, dibuat sebuah komite swasta dengan pemimpin Ernest Bedrignans. Komite ini membahas nama turnamen, format, dan trofinya. Bedrignans sempat mengusulkan nama turnamen dengan La Coupe du President Seeldrayers. Namun, presiden FIFA enggan namanya diabadikan untuk turnamen itu lantaran turnamen tak berskala global. Komite yang mempersiapkan helatan pertama musim 1955/1956 itu akhirnya menyepakati European Champion Club’s Cup sebagai nama turnamen. Sistem turnamennya menggunakan format dua leg (tandang-kandang) dan babak knockout . Untuk hadiah utamanya, L’Equipe menyediakan trofi perak mirip trofi Henry Delaunay (Piala Eropa). Sementara Hanot kembali membawa hasil itu ke pertemuan UEFA, komite mengundang 16 klub top Eropa. Menurut situs resmi UEFA, ke-16 tim yang berlaga adalah AC Milan (Italia), AGF Aarhus (Denmark), Anderlecht (Belgia), Djurgarden (Swedia), Gwardia Warszawa (Polandia), Hibernian (Skotlandia), Partizan Belgrade (Yugoslavia), PSV Eindhoven (Belanda), Rapid Wien (Austria), Rot-Weiss Essen (Jerman Barat), Saarbrucken (Saar), Servette (Swiss), Sporting Lisbon (Portugal), Stade de Reims (Prancis), Voros Lobogo (Hungaria), dan Real Madrid (Spanyol). Trofi pertamaLiga Champions atau European Cup jadi milik Real Madrid. (fifamuseum.com) Madrid menjadi pemegang pertama turnamen tersebut. Trofi pertama ini akhirnya jadi milik Madrid selamanya setelah berhasil memenangi European Cup untuk keenam kalinya pada musim 1966/1967. Trofi pengganti, untuk “digilir”, diperkenalkan musim berikutnya. Menurut UEFA Direct , trofi baru didesain pakar pembuat perhiasan asal Swiss Jorg Stadelmann. Berbahan perak setinggi 74 cm dan berbobot 11 kilogram, trofi dibuat dengan biaya 10 ribu Franc Swiss. Desain pegangannya yang mirip telinga menjadi ikon sampai sekarang hingga trofi itu dijuluki The Big Ear . Setiap pemenang hanya bisa menyimpan secara permanen replikanya buatan GDE Bertoni. Trofi asli baru bisa dimiliki secara permanen bila sebuah klub bisa enam kali memenangkannya. Sepanjang sejarah, baru lima klub yang bisa memiliki trofi asli: Real Madrid, Ajax Amsterdam, Bayern Munich, AC Milan, dan Liverpool. Pada 1992, European Cup bertransformasi menjadi UEFA Champions League. Tim partisipan tak lagi pemuncak liga masing-masing, tapi cukup tiga besar. Alhasil jumlah partisipan tiap musim mencapai 32 tim. Pada tahun itu juga UEFA memperkenalkan theme song bertajuk “Champions League” karya komposer Inggris Tony Britten, yang diperdengarkan setiap jelang kickoff . Menurut Johan Fornas dalam Signifying Europe , “Champions League ” merupakan adaptasi dari “Zadok the Priest” karya George Frideric Handel. Sementara, format turnamen berubah jadi bersistem delapan grup. Per musim 2016/2017, mereka (finalis) tak lagi hanya berebut trofi, tapi juga bonus uang mencapai 15,5 juta euro (juara) dan 11 juta euro.

  • Kolaborasi Lagu Religi

    Penceramah asal Semarang dan mantan pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Ahmad Buchori Masruri, wafat pada 17 Mei lalu dalam usia 70 tahun. Masruri juga merupakan pencipta lagu “Perdamaian” yang dipopulerkan grup kasidah Nasida Ria. Lagu “Perdamaian” memang khusus dibuat Masruri untuk Nasida Ria demi memenuhi permintaan H.M. Zain, sahabat karibnya yang juga pendiri Nasida Ria. Di lagu itu, Masruri menggunakan nama samaran Abu Ali Haedar. Lagu ini masuk dalam album Perdamaian yang dirilis 1982 dan laku keras. Liriknya yang kuat, mengkritik peperangan di pentas global, membuat lagu “Perdamaian” terus relevan hingga kini. Lagu ini pernah diaransemen ulang grup musik rock Gigi untuk album Raihlah Perdamaian (2005). Selain itu, kolaborasi antara Nasida Ria dan Masruri, menghasilkan lagu, di antaranya “Damailah Palestina”, “Dunia Dalam Berita”, “Merdeka Membangun”, dan “Mesjid Tua”. Kasidah Modern Kolaborasi juga pernah terjadi antara grup musik Bimbo dan sastrawan Taufiq Ismail. Kelompok musik yang terdiri dari Sam, Acil, Jaka, dan Iin ini dibentuk pada 1967. Mereka mulai mengeluarkan lagu-lagu bernapaskan Islam pada 1970-an. Menurut buku Musisiku, Taufiq dipilih Bimbo menjadi kolaborator untuk menghasilkan lagu-lagu Islami. Dari kolaborasi tersebut, muncul lagu-lagu kasidah yang hingga sekarang masih dikenang, seperti “Rindu Rasul”, “Qasidah Matahari dan Rembulan”, dan “Sajadah Panjang.” Lagu “Anak Bertanya pada Bapaknya”, yang juga hasil kolaborasi Bimbo dan Taufiq, mungkin yang paling banyak diputar saat Ramadan. Sejumlah lagu hasil kolaborasi itu sanggup membuat orang yang mendengarkannya tergerak. “Seperti (lagu) ‘Tuhan’ yang diceritakan Ebiet G Ade sempat membuat rekannya terharu dan lantas minta diajari sembahyang,” tulis majalah Hai, edisi 26 April-2 Mei 1998. Lagu hasil kolaborasi Bimbo dan Taufiq lainnya, “Rindu Rasul”, juga mampu membuat salah seorang personel Bimbo, Iin Parlina, menangis. “Iin Parlina selalu saja menangis jika menyanyikan lagu Rindu Rasul itu,” kata Sam Bimbo kepada Hai, 26 April-2 Mei 1988. Menurut Moeflich Hasbullah dalam Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara, kasidah Bimbo telah mempelopori kelahiran sebuah genre musik baru sebagai identitas religius kultural masyarakat, yang sedang mengalami transformasi sosial-kultural dengan menyediakan citra estetis kelompok Islam perkotaan. Pengamat musik Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia menulis Bimbo mampu keluar dari persaingan antargrup musik, yang tiba-tiba menggarap musik kasidah modern pada 1970-an. Denny Sakrie memberi contoh Koes Plus yang antara lain merilis “Nabi Terakhir”, “Ya Allah”, dan “Sejahtera dan Bahagia.” Begitu pula kelompok musik rock AKA dari Surabaya, yang membuat album kasidah modern. Namun, berkat kolaborasi dengan Taufiq, Bimbo mencuat namanya dan mendapat predikat dari publik sebagai grup musik religius. Kala Ramadan Taufiq bukan hanya bekerja sama dengan Bimbo. Penyair kondang ini pun pernah berkolaborasi dengan penyanyi pop Chrisye. Lagu yang diciptakan Taufiq berjudul “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”, termuat dalam album Kala Cinta Menggoda (1997). “Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu,” kata Chrisye dalam otobiografinya yang ditulis Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah Memoar Musikal. Selain Taufiq, budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Nun, juga berkolaborasi dengan 20 musisi dari berbagai aliran. Kolaborasi yang terjadi pada 1996 ini menghasilkan sebuah kelompok musik bernama Kiai Kanjeng. Menurut Moeflich Hasbullah , Kiai Kanjeng meluncurkan album perdana Kado Muhammad yang berisi salawatan dan musikalisasi puisi yang dipersembahkan untuk Nabi Muhammad. Cak Nun dan Kiai Kanjeng memadukan musik tradisional gamelan Jawa dengan instrumen musik modern, lalu mentransformasikannya jadi sebuah orkestra. Lagu-lagu hasil kolaborasi pendakwah atau sastrawan tak punah dimakan zaman, “Perdamaian” atau “Anak Bertanya pada Bapaknya” bakal terus diputar, terutama kala Ramadan tiba.

bottom of page