top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cola dan Tiongkok Bawahan Sriwijaya

    PEDAGANG dari Sriwijaya, Cola, dan Arab beramai-ramai mendatangi pelabuhan milik Dinasti Song di Tiongkok. Banyaknya pedagang asing yang datang dan tinggal tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka berlomba-lomba memberikan hadiah pada kaisar agar diakui dan lebih mudah mendapat untung.  Khususnya Sriwijaya, hubungan dengan Tiongkok sudah dibangun sejak tahun 702, ketika Dinasti Tang berkuasa. Pada era Dinasti Song, utusan Sriwijaya ke Tiongok makin banyak. Ada 16 utusan dari tahun 960 hingga 1017. “Jangan diartikan ini sebagai upeti, hadiah, sama saja seperti sekarang dalam hubungan diplomasi antarpemimpin negara,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas. Menjelang akhir abad 8, Sriwijaya mendapat banyak keuntungan dari kapal asing yang singgah dalam pelayaran menuju Tiongkok dari Asia Selatan. Wilayah pelabuhannya yang strategis di Selat Malaka, membuatnya menjadi salah satu pelabuhan transit teramai. Salah satu yang sering singgah adalah pedagang Tamil dari India Selatan. Persebaran mereka terdorong oleh pesatnya pertumbuhan Kerajaan Cola sejak tahun 985. Sebenarnya, tanpa singgah di pelabuhan Sriwijaya pun Cola dan Tiongkok sangat mungkin melakukan hubungan dagang langsung. Pedagang Tamil bisa saja memonopoli penjualan lada hitam dari Timur Tengah langsung ke Dinasti Song. Begitu juga, suplai dari Tiongkok ke pedagang Arab dan Yahudi bisa langsung disalurkan oleh orang Tamil. Banyak pedagang Arab dan Yahudi yang bermukim di teritori dinasti Tamil. Jika itu terjadi, Sriwijaya sebagai pusat perdagangan martim di Asia Tenggara tentu terancam. Informasi palsu pun disebarkan oleh para pedagang Sriwijaya untuk mencegah hal itu. Kenyataan ini membuat hubungan Sriwijaya dan Cola tak sebaik sebagaimana dipikir banyak ahli. Sumber-sumber India sejauh ini banyak mendukung anggapan terjalinnya hubungan baik antara Sriwijaya dan Cola. Seperti Prasasti Nalanda (860) yang menceritakan pembangunan asrama bagi pelajar-pelajar Sriwijaya di Nalanda ketika berlangsungnya Dinasti Pala. Ada pula keterangan dalam Piagam Leiden yang bercerita kalau penguasa Sriwijaya pernah menyumbang bagi pembangunan kuil di wilayah Kerajaan Cola pada 1005. Tansen Sen dalam “The Military Campaigns of Rajendra Chola and the Chola-Srivijaya-China triangle”, yang diterbitkan dalam Nagapattinam to Suvarnadwipa masih menambah daftar itu. Menurutnya hampir sepuluh tahun kemudian, perwakilan dari Sriwijaya mempersembahkan batuan mulia bagi kuil di Nagapattinam itu. “Ini berlanjut pada pemberian lampu oleh pedagang Sriwijaya. Sekira tahun1018, penguasa Sriwijaya menyebutkan pemberian hadiah, termasuk  cinakkanakam  (emas Cina) untuk kuil di Nagapattinam,” tulis sejarawan dari NYU Shanghai itu. Menurut Tansen bukti-bukti ini membuat banyak tafsiran. Ada yang melihatnya sebagai cara Sriwijaya membangun hubungan komersial dengan dinasti Tamil. Sementara Nilakanta Sastri (1949) melihatnya sebagai bukti hubungan mesra kedua negara sebelum serangan pertama Cola ke Kadaram, salah satu wilayah Sriwijaya di Kedah, pada 1025. Tansen tak sependapat karena “melalui analisis catatan Tiongkok yang mendalam bisa diindikasikan hubungan Cola dan Sriwijaya sebelum 1025 tak seakrab yang dipikirkan Nilakanta Sastri.” Tansen menjelaskan, berdasarkan sumber Tiongkok, Song Shi, sebuah catatan bagi Kaisar Huizong (1101-1125) pada 1106, kemungkinan utusan Sriwijaya telah memberikan infomasi yang salah tentang Cola kepada Dinasti Song. Sehingga, Tiongok mengira Cola merupakan negara bawahan Sriwijaya. Bahkan, sampai akhir abad 12, Dinasti Song masih yakin kalau Cola taklukan Sriwijaya. Dampaknya, status Cola di mata Dinasti Song sama dengan Kucha, negara bawahan Song yang kini di wilayah Xinjiang. Status suatu negara asing ditetapkan lewat kekuatan militernya. Jika status negara tinggi, para pedagangnya mendapat hak berdagang yang lebih menguntungkan di pelabuhan Dinasti Song. “Menjadikan Cola sebagai negara bawahan Sriwijaya bukan hanya Song memandangnya sebagai kerajaan dengan kekuatan militer lemah karena ditaklukkan Sriwijaya, tapi juga membuat pedagang-pedagangnya hanya mendapat akses terbatas dalam pasar di Dinasti Song,” jelas Tansen. Ternyata, Sri Lanka pun, wilayah yang ditaklukkan Cola, juga mengira Tiongkok bergantung pada Sriwijaya. Melihat hal ini, menurut Tansen, kemungkinan besar Sriwijaya adalah informan utama Dinasti Song mengenai Asia Selatan. Kesalahan informasi ini mungkin diketahui juga oleh para pedagang Tamil. Mereka mendapat buktinya ketika Cola mengirim utusan pertama kali ke Song pada 1015. “Kerajaan Sriwijaya harus melakukan langkah preventif untuk mencegah hubungan langsung Cola dan Tiongkok, setidaknya dengan merusak kondisi yang menguntungkan bagi pedangan Asia Selatan,” lanjut Tansen. Oleh karena itu, Tansen menilai, serangan Cola ke Sriwijaya pada 1017 sangat mungkin terjadi medahului serangan besar pada 1025. Sudah sejak saat itu hubungan Cola dan Sriwijaya meruncing meski sumber Tiongkok tak mencatat peristiwa serangan ini. Namun, kedatangan utusan Sriwijaya ke Dinasti Song tercatat dan mungkin membuktikan hubungan kedua negara. Berdasarkan catatan itu, Sriwijaya mengirim utusan sejak tahun 1018 hingga 1028. Sementara utusan Cola datang lagi ke Dinasti Song pada 1020. Kepala utusannya, Pa-lan-de-ma-lie-di, tiba-tiba sakit dan meninggal segera setelah tiba di Guangzhou. Namun, tak ada bukti orang Sriwijaya yang membunuh kepala utusan Cola itu. Lima tahun kemudian, Rajendracola menyerang pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya tapi tak membuahkan hasil. Serangan berikutnya pada 1025 juga tak berpengaruh banyak kepada Sriwijaya. Ia masih sanggup memperlihatkan eksistensinya dengan mendapatkan kembali posisinya di Semenanjung Melayu dan tetap menjalin hubungan dengan Tiongkok. Sejarawan asal Jerman, Hermann Kulke dalam “Naval Expeditions of the Cholas in the Context of Asian History” yang terbit dalam Nagapattinam to Suvarnadwipa mencatat pada 1079 Sriwijaya mendonasikan 600.000 keping emas untuk perbaikan kuil di Kanton. Berdasarkan laporan Tiongkok abad 12 diketahui kerajaan ini kembali dijuluki pelabuhan penting bagi rute perdagangan internasional dari Jawa, Arab, Quilon (Kollam di India), ke Tiongkok. “Sementara Cola, setelah ekspedisi angkatan lautnya sukses di Sriwijaya mereka justru enggan mengubah keberhasilan militer mereka ke dalam kekuasaan politik yang lebih permanen,” tulis Hermann.

  • Selayang Pandang Lily Suhairy

    Saat ini Erwin Gutawa, Addie MS, dan Ananda Sukarlan merupakan nama besar komponis Indonesia. Dahulu, ada nama beken macam WR Supratman dan Ismail Marzuki. Nama komponis Lily Suhairy mungkin terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Lily lahir di Bogor pada 23 Desember 1915. Saat usianya masih kanak-kanak, dia menetap di Sumatra Utara. Lily ahli bermain biola. Menurut Hadely Hasibuan di dalam otobiografinya Memoar Mantan Menteri Penurunan Harga, Lily adalah murid Francois de Haan, seorang violis Belanda yang mengajarkan bermain biola di Medan pada akhir 1930-an. Namun hal itu dibantah Koko Hendri Lubis, penulis dan peneliti sejarah Kota Medan. Menurut Koko, sewaktu usia Lily masih tujuh tahun dan tinggal di Brastagi, guru musiknya orang Jerman. “Sewaktu tinggal di Medan sejak 1930, dia belajar main biola dengan Boris Mariev, guru biola kenamaan di Medan asal Rusia. Dia pimpinan musik tonil Bolero,” kata Koko kepada Historia . Pada usia 19 tahun, Lily bekerja di perusahaan rekaman His Master’s Voice di Singapura. Dia menciptakan lagu pertamanya, “Hatiku Patah”, ketika ditolak seorang gadis. Tiga tahun merantau, Lily kembali ke Medan. Mulailah dia berkarya. Karier Lily sebagai musisi profesional menanjak saat pendudukan Jepang. Hadely menyebut, dia menjadi salah seorang pemimpin sandiwara Asia Raya. Menurut buku Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Sumatera Utara, di masa pendudukan Jepang, dia menciptakan lagu-lagu yang menyindir kehidupan di zaman Jepang seperti “Makan Sirih” dan “Aras Kabu” . Keberaniannya ini bukan tanpa risiko. Menurut Koko, dia pernah ditangkap Jepang gara-gara lagu “Bayangan” , karena liriknya dinilai menyindir pemerintah pendudukan Jepang. Saat masa revolusi, Lily membuat lagu perjuangan berjudul “Pemuda Indonesia” . Lagu itu menggelorakan semangat publik. Akibat lagu tersebut, dia pernah ditahan dan disiksa Belanda. Menariknya, justru di masa-masa sulit itulah Lily produktif berkarya, antara lain menelorkan lagu “Bunga Tanjung”, “Bunga Teratai”, “Selendang Pelangi”, dan “Rayuan Kencana”. Lagu Berlanggam Melayu Sebagai musisi dan komponis, Lily bukan hanya dikenal di Medan. Tapi juga sohor di Malaysia dan Singapura. Bahkan banyak lagu ciptaannya dijiplak musisi Malaysia. Dalam Vista, 28 Februari 1970, penulis Sori Siregar menulis dia sempat menanyakan hal itu kepada Lily. Apa jawabannya: “Tidak apa. Mereka toh kawan-kawan saya.” Mayoritas lagu ciptaan Lily berlanggam Melayu. Salah satu yang populer pada 1950-an adalah lagu “Selayang Pandang”. Pada 1970, lagu ini pernah masuk dalam album piringan hitam The Rollies dengan nama pencipta disebut anonim. Lily protes. Pihak perusahaan rekaman mengaku tak tahu Namun, Lily bukan hanya menciptakan lagu berlanggam Melayu. Dia juga membuat lagu “Memori” , berdasarkan puisi Z. Pangaduan Lubis. Lagu dan syair ini diciptakan untuk mengenang penyair Chairil Anwar. Selain itu, ada lagu “Marilah Sayang” , berdasarkan puisi Aldian Aripin yang termuat dalam kumpulan puisinya Oh, Nostalgia. “Unsur kemelayuan tak terdengar di lagu-lagu itu,” ujar Sori. Lebih Baik dari Ismail Marzuki? Kepiawaiannya bermusik tak membuat hidup Lily makmur. Semasa hidupnya, selama 25 tahun, Lily bertugas sebagai pemimpin Orkes Studio Medan di RRI Nusantara III. Meski honornya terbilang kecil, dia tak pernah mengeluh. Sori Siregar mengisahkan keadaan ekonomi Lily jauh dari cukup. “Rumah saya sudah jelek, tapi rumah Lily lebih jelek lagi dan dia sudah beberapa bulan tidak sanggup membayar rekening listrik rumahnya,” kata Sori. “Saya dan penyair Z. Pangaduan Lubis, selalu dimintainya uang untuk ongkos becak pulang,” lanjut Sori. Sebenarnya, nasib Lily mungkin bisa berubah jika saja dia mau ikut hijrah ke Malaysia saat diajak sahabatnya, Ahmad Djafar. Atau memenuhi panggilan sebuah penerbit di Jakarta. Namun, dia tak beranjak dari Medan. “Saya ingin menjadi saksi dari penderitaan kawan-kawan di sini. Saya tidak akan bahagia di sana (Malaysia atau Jakarta),” kata Lily, dikisahkan Sori. Lily wafat pada 2 Oktober 1979 dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Menurut Harian Bukit Barisan, 4 Oktober 1979, Lily dimakamkan pada 3 Oktober 1979 di Taman Bahagia Makam Pahlawan Medan. Berkat dedikasinya, Lily pernah mendapatkan penghargaan dari PWI Cabang Medan pada 1975 dan Departemen P & K pada Maret 1979. Namanya diabadikan menjadi nama taman di Jalan Palang Merah, Medan. Namanya kini nyaris dilupakan. Padahal, menurut Hadely yang didengarnya dari para pakar musik, kualitas Lily sebagai komponis mungkin melebihi Ismail Marzuki. Bahkan, kata Koko, Lily bisa membuat notasi musik (not balok) kalau mendengar pesawat lewat. Koko menyebut, Lily sudah menciptakan lebih dari 200 lagu semasa hidupnya.

  • Kartini Martir, Bukan Pelakor!

    SETIAP hari Kartini tiba, selalu saja ada perdebatan. Itu bagus tentu saja, namun beberapa di antara perdebatan itu berbumbu olok-olok, mengejek Kartini: dia pejuang perempuan penentang poligami namun pasrah diperistri seorang bupati berbini tiga.  Lantas meme beredar, pesan WA berantai disebar kemana-mana. Intinya mau mengatakan bahwa perjuangan Kartini sia-sia karena perempuan tetaplah perempuan yang pada akhirnya harus jadi istri, beranak, dan mendekam di dapur seumur hidupnya. Ada juga narasi lain yang terkesan menyudutkan Kartini sebagai seorang yang memandang sebelah mata agama Islam –namun akhirnya insyaf setelah bertemu Kyai Soleh Darat. Dia digambarkan seakan-akan seorang mualaf tobat yang akhirnya menemukan jalan menuju Tuhannya, setelah tiada henti-hentinya mempertanyakan agamanya sendiri. Itu terjadi karena Kartini hanya diwajibkan membaca Alquran tanpa pernah diajari apa arti di baliknya. Sementara itu sebuah pesan WA yang mengedarkan artikel tentang “Sisi Lain Sosok RA. Kartini,” mengutip pendapat sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah . Menurut artikel itu ada sisi lain Kartini yang selama ini ditutup-tutupi oleh “pihak Barat” dan “kaum sekuler”, yakni perlawanan Kartini terhadap praktik “kristenisasi” dan “westernisasi”. Kesimpulan tersebut ditarik dari surat Kartini kepada Ny. Van Kol bertitimangsa 21 Juli 1902. Dalam suratnya, seperti juga dikutip dalam tulisan tersebut, Kartini bersiteguh untuk tetap memeluk agama Islam setelah (konon) Ny. Van Kol menawarkan agar Kartini memeluk agama Kristen. Dalam surat kepada Abendanon, 31 Januari 1903, Kartini memang mengkritik misi zending yang terlalu vulgar dalam usahanya menyebarkan agama Kristen di Jawa. Artikel yang sama menafsirkan kritik Kartini kepada zending Kristen itu sebagai bentuk perlawanan terhadap kristenisasi yang berkelindan dengan kolonialisme Belanda. Membaca surat-surat Kartini tanpa memahami konteks situasi zaman memang berpeluang menghasilkan penafsiran yang terpenggal. Soal agama, sikap Kartini jelas. Dia mengkritik otoritas agama yang sering di(salah)gunakan dalam praktik permaduan (poligami).  Dalam suratnya kepada Stela Zeehandelar, 23 Agustus 1900, Kartini menggugat praktik tersebut. Menurutnya banyak perempuan saat itu yang mengutuk, namun tak bisa berbuat apa-apa karena aturan agama Islam memperbolehkannya. Mengenai zending Kristen, Kartini menghargai upaya misionaris menyebarkan kasih dan kepeduliannya kepada rakyat Jawa. Namun dia mengharapkan agar kebaikan itu dilakukan atas nama kemanusiaan, bukan karena tujuan mengganti agama yang sudah dianut orang. Kartini menganjurkan agar agama menjadi jalan untuk mengenal Tuhan yang maha penyayang, pengasih dan hendaknya Tuhan diperkenalkan sebagai “Bapak semua makhluk, orang Kristen maupun dia orang Islam, Budha, Yahudi dan sebagainya,” ujarnya kepada Abendanon. Dari surat tersebut kita bisa memahami betapa luasnya pengertian Kartini terhadap agama. Menurut Kartini agama hendaknya membawa berkah, “supaya memperkaribkan semua makhluk Allah, yang berkulit putih maupun yang berkulit hitam, tidak pandang pangkat perempuan ataupun laki-laki agama mana yang dipeluknya.” Upaya menggerus peran Kartini sudah dimulai sejak 1979 saat Harsja Bachtiar, seorang sosiolog, yang mendelegitimasi ketokohan Kartini dalam artikelnya, “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Dia menggugat kultus Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia,  karena curiga ada muatan kepentingan Belanda di dalamnya. Kartini terkesan “dipromosikan” oleh orang Belanda sebagai sosok perempuan berpikiran maju yang beritikad mendobrak tradisi kolot yang mengungkung masyarakatnya. Cara pandang Harsja memunculkan pengertian kalau Kartini adalah produk kolonial, narasi liyan yang kurang cocok diaku sebagai narasi sejarah produk Indonesia. Sehingga ada kesan membela Kartini artinya berada di posisi yang sama dengan kaum kolonial Belanda. Harsja menawarkan tokoh perempuan lain yang menurutnya jauh lebih jelas peran dan perjuangannya ketimbang Kartini yang hanya menulis surat. Mereka adalah Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin dari kesultanan Aceh dan Siti Aisyah Wa Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Harsja mungkin mengabaikan jasa terbesar Kartini, yang bukan terletak pada kepalan tangan menggenggam senjata atau duduk di tampuk kekuasaan. Api semangat pada setiap lembar suratnya jadi sumber inspirasi perjuangan banyak perempuan generasi berikutnya. Surat-surat Kartini, sebagai buah pikiran dan cerminan situasi batin kaum perempuan sezamannya, sumber otentik yang tak bisa tergantikan oleh legenda atau dongeng keperkasaan perempuan di masa lalu. “Di tahun 1922 aku mulai berkenalan dan sangat kagum kepada gagasan R.A. Kartini melalui bukunya,” ujar Sujatin Kartowijono, tokoh pionir gerakan perempuan Indonesia, dalam biografinya Mencari Makna Hidupku: Bunga Rampai Perjalanan Sujatin Kartowijono . Enam tahun setelah membaca surat-surat Kartini, Sujatin turut menggagas penyelenggaraan kongres perempuan Indonesia pertama, 22 Desember 1928. Kelak kongres tersebut dirayakan sebagai hari ibu setiap tahunnya, wujud konkret usaha perempuan Indonesia untuk membawa keluar kaumnya dari jeratan tradisi kuno dan kungkungan peran domestiknya. Maka alih-alih merendahkan atau bahkan mengabaikan peran dan pengaruh Kartini, ada baiknya memperkaya deretan kisah perjuangan perempuan Indonesia dengan beragam kisah inspiratif dari beragam tokoh perempuan di masa lalu. Bukan dengan saling menyisihkan peran perempuan satu sama lain. Yang paling mengerikan dari era media sosial ini adalah meme ejekan terhadap Kartini yang lahir sebagai anak dari istri ketiga dan dipersunting oleh seorang bupati yang telah pula beristri lantas disebut sebagai contoh “ibu teladan dalam poligami.” Mungkin para pencela itu lupa. Kartini menerima pinangan bupati Rembang karena dia seorang duda ditinggal mati istri pertamanya. Penderitaan baru datang ketika Kartini yang sedang hamil muda mengetahui suaminya memelihara dua gundik. Sejak itu Kartini tak lagi menulis surat, memilih menyendiri, menolak untuk tidur bersama suami sebagai bentuk perlawanannya. Kartini wafat empat hari setelah melahirkan Soesalit. Ada dugaan kematiannya disebabkan oleh preeklamsia, tekanan darah yang melonjak tinggi disertai kejang-kejang. Kisah Kartini adalah inspirasi sekaligus ironi dari sebuah negeri: dia melawan tradisi kolot yang menindas perempuan namun gugur sebagai kurban dalam jeratan praktik permaduan.

  • Ketika Pedagang Ikut Berjuang

    KETIKA matahari masih pulas dalam tidurnya, para perempuan-pedagang asal Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul setiap hari sudah berangkat ke Pasar Beringharjo di Kota Yogyakarta sambil menggendong bakul berisi dagangan di punggung. Aktivitas itu merupakan rutinitas mereka. Namun, di masa perang itu, mereka tak hanya berdagang. Mereka menjadi pembawa pesan rahasia dari para gerilyawan di luar kota, pemasok logistik, sekaligus kurir. Peran mereka amat krusial. “Itu poin penting. Perempuan menjadi bagian dari usaha kemerdekaan,” kata sejarawan Ita Fatia Nadia kepada Historia . Para perempuan-pedagang itu menjadi komunikator antara gerakan bawah tanah di kota dengan para gerilyawan di daerah Godean, Imogiri, dan berpusat di Wiyoro. Ketika berangkat, mereka membawa pesan untuk para pemikir strategi di Kota Baru, Yogyakarta. Sewaktu pulang, mereka menyampaikan pesan balasan untuk para gerilyawan di pinggiran kota. Pertukaran informasi perjuangan yang dibawa para pedagang berlangsung di Pasar Beringharjo untuk menghindari kecurigaan Jepang. Menurut dosen sejarah UGM Dr. Mutiah Amini, Pasar Beringharjo menjadi ajang revolusi untuk para perempuan. “Para pedagang mentransfer kebutuhan para pejuang lewat pasar. Orang tidak mengira, dikiranya dia mau ke pasar, berjualan. Padahal untuk kebutuhan revolusi,” kata Mutiah. Sambil membawa dagangan, mereka membawa barang-barang kebutuhan untuk revolusi seperti pakaian, gula, teh, uang, atau pakaian. Barang dagangan dan kebutuhan revolusi ditumpuk jadi satu untuk mengelabui tentara Jepang. Umi Sardjono, Ketua Umum Gerwani, ikut menyamar jadi pedagang sayur ketika gerilya melawan Jepang mulai marak. Sebagai mata-mata, tugas utamanya mengumpulkan informasi. “Perempuan lebih luwes karena bisa menyamar sebagai ibu rumahtangga sehingga tidak dicurigai tentara Jepang,” tulis Ruth Indiah Rahayu dalam “Menulis Sejarah Sebagaimana Perempuan”, dimuat di Sejarah dan Budaya , Th X, No. 1, Juni 2016. Peran itu terus berlanjut sampai masa Perang Kemerdekaan ketika Jepang sudah hengkang. Menurut Galuh Ambar Sasi dalam artikel “Menjadi (Manusia) Indonesia: Pergulatan, Jejaring, dan Relasi Perempuan di Yogyakarta Masa Revolusi”, dimuat di Pluralisme dan Identitas , banyak perempuan jadi mata-mata dengan menyamar sebagai pedagang buah atau sayur, salahsatunya Alfiah Muhadi. Menurut Suhatno dalam “Sumbangan Wanita Yogyakarta pada Masa Revolusi” yang dimuat Jantra Vol. 1 No. 2, Desember 2006, keahlian menyamar dan menyiapkan logistik para perempuan itu diperoleh ketika mengikuti pelatihan Fujinkai. “Di masa Jepang, semua wanita diharuskan mengikuti latihan-latihan untuk menghadapi segala kemungkinan dalam membantu Jepang di Perang Asia Timur Raya.” Banyak di antara mereka kemudian bahkan membuka warung. Banyaknya warung sempat mebuat Belanda khawatir. Belanda menganggap warung hanyalah kamuflase mata-mata orang republik. Ketakutan Belanda itu ditunjukan antara lain lewat selebaran peringatan untuk tidak makan di warung pribumi. Peran berisiko tinggi itu jelas tak semua berhasil. Ada beberapa perempuan-mata-mata yang ketahuan dan dihukum. Salah satunya menimpa seorang kurir yang menyamar jadi pedagang telur saat membawa pesan rahasia di Wirogunan, dekat Taman siswa. “Pedagang telur itu tertangkap dan ditembak mati oleh Jepang. Perannya penting. Gerakan bawah tanah tidak bisa bekerja melawan Jepang tanpa perempuan,” kata Ita.

  • Main Bola Bukan untuk Pamer Paha

    SIANG itu tribun Stadion Tamansari, Jakarta Barat, sesak penonton. Mayoritas kaum Adam. Mereka bersemangat memelototi jalannya pertandingan. Maklum, pertandingan yang dimainkan bukan melibatkan klub UMS 80, Warna Agung, atau Arseto, tapi pertandingan Parkit vs Buana Putri alias pertandingan sepakbola putri. Alhasil, saban para “Kartini” berkostum dengan paha terbuka itu menggiring atau menendang bola, sorakan penonton membahana. Rasa gemas meluap di benak mereka tatkala mendapati pemain terjatuh karena tekel lawan. Meski itu hanyalah scene dalam film Warkop DKI Maju Kena Mundur Kena (1983), bisa jadi susasana itu merupakan gambaran umum publik terhadap sepakbola putri di negeri ini. Pertandingan dianggap tak lebih dari tontonan menghibur belaka karena sarat aksi “pamer paha” dan goyang payudara. Padahal, bukan itu yang menjadi tujuan perempuan ketika main sepakbola. Melawan Budaya Ketimuran Sejak akhir 1960-an, ketika perempuan Indonesia mulai antusias bermain bola, para pesepakbola putri hanya punya dua tujuan: penyaluran hobi dan meraih prestasi. Namun, hal itu tak mampu menghindarkan mereka dari kritik. Akibatnya, perkembangan sepakbola putri dalam negeri terhalang tembok tinggi. Ketika sepakbola putri mulai makin marak digemari pada 1980-an, cibiran dan kritikan bahwa perempuan di Indonesia tak pantas bermain bola terus mengiringi. Bukan semata soal pakaian yang dianggap terlalu seksi jadi sorotan, tapi juga soal kesehatan bahkan budaya. Dalam budaya Timur, perempuan main sepakbola dianggap bertentangan dengan kodrat. Tak hanya dari masyarakat, komentar miring bahkan datang dari Menteri Muda Urusan Peranan Wanita Lasiyah Soetanto. “Masih banyak olahraga yang lebih pantas dilakukan wanita timur dan pantas dilihat mata,” katanya sebagaimana dimuat Majalah Femina, 11 Agustus 1981. Majalah yang sama juga memuat komentar miring pengurus DPP Wanita Katolik Martha Hadi Mulyanto. “Kasihan kalau wanita-wanita itu hanya jadi bahan tertawaan. Apalagi sepakbola itu permainan yang keras. Biarlah kaum pria saja yang melakukannya,” kata Martha. Akibatnya, beberapa pesepakbola putri mesti membela diri. Muthia Datau, kiper Buana Putri dan timnas putri era 1980-an mengatakan, dia main bola karena hobi dan untuk menyehatkan tubuh. Muthia Datau, eks kiper Buana Putri dan Timnas Putri PSSI (Foto: Majalah Femina, 11 Agustus 1981, Randy Wirayudha/Historia “Pasti ada pro dan kontranya. Kita kan di Timur. Padahal, seragam enggak ketat juga sebenarnya. Hanya celana pendek kok. Namanya juga main bola. Memang sepakbola itu konotasinya olahraga laki-laki. Tapi seiring perkembangan zaman, laki-laki dan perempuan disetarakan. Tinggal bagaimana orang mau mengartikannya. Saya sih tidak peduli orang mau bilang apa. Memang kenapa? Apa salahnya?” ujarnya kepada Historia. Hal senada diutarakan Papat Yunisal, eks pemain Putri Priangan dan timnas putri era 1980-an. “Jadi salah kaprahnya dulu, kesannya wanita tidak boleh aktivitas berat. Banyak yang bicara ini-itu. Tapi ya kita harus tunjukkan (kemampuan),” ujarnya kepada Historia . Ketua Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) itu justru mempertanyakan kenapa hanya sepakbola putri yang dipermasalahkan pakaiannya, sementara cabang olahraga lain tidak. “ Ginideh, ambil contoh cabang renang. Bagaimana itu? Pakaiannya apa enggak (umbar) aurat? Lalu untuk yang lain-lain, tinju, gulat, angkat besi, itu jelas merusak tubuh,” sambung Papat. Papat Yunisal, eks Putri Priangan & Timnas Putri PSSI yang kini menjabat Exco PSSI merangkap Ketua ASBWI (Foto: Sejati Nugraha/Historia) Toh , penjelasan-penjelasan itu tetap tak mampu menghapus pandangan miring masyarakat terhadap sepakbola putri. Akibatnya, sepakbola putri dalam negeri mundur jauh dari era ketika Muthia dan Papat masih merumput. “Jangankan tahun 1980-an, sekarang saja masih begitu kok . Wajar ada yang menentang. Jangankan main bola, keluar rumah saja lewat jam 6 sore, itu enggak boleh. Dulu juga banyak yang berpendapat keperawanan bisa hilang kalau main bola. Padahal tidak begitu. Keperawanan ya harus dijaga masing-masing sampai punya suami,” kata Papat menutup pembicaraan.

  • Perempuan Yogyakarta dalam Perjuangan

    TANPA menghiraukan para serdadu Jepang yang berjaga di luar pagar, Ngaisyah dan Oemiyah langsung naik ke atap Gedung Agung Yogyakarta setelah mendapat pinjaman tangga dari kawan pelukis Rusli dan Soemardi (pamong Taman Siswa). Kedua perempuan itu lalu menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan bendera merah putih sebagai penegasan bahwa Indonesia telah merdeka. Aksi pada September 1945 itu merupakan puncak dari demonstrasi massa-rakyat yang menuntut penurunan bendera Jepang. Aksi berjalan mulus lantaran Oemiyah dan Ngaisyah merupakan pegawai Jawatan Pos Telepon Telegram (PTT), institusi telekomunikasi resmi semasa pendudukan Jepang, sehingga gerak-gerik mereka tak mengundang kecurigaan Jepang. Sejak lama, Oemiyah –yang juga ketua serikat buruh PTT dan kelak menjadi sekretaris Kabinet Amir Syarifudin bagian stenografi– dan Ngaisyah serta Rusli dan Soemardi menjadi anggota perlawanan bawah tanah yang dijalankan kelompok Pemuda Pathuk (PP). Kelompok perjuangan beranggotakan kelas menengah terdidik dari beragam kalangan ini muak terhadap fasis, yang berkuasa dengan kejam. Para anggota PP memanfaatkan keadaan untuk perjuangan. Oemiyah dan Ngaisyah memanfaatkan betul status pegawai dan posisi sebagai ahli stenografi untuk menyadap pesan-pesan rahasia Jepang. “Kalau malam, mereka tidak pulang. Para perempuan tersebut menyadap berita-berita yang dikirim dari Jepang lewat kode-kode yang bisa mereka terjemahkan,” kata sejarawan Ita Fatia Nadia, yang merupakan anak Oemiyah. Hasil sadapan itu menjadi bahan PP merancang strategi. Dalam perjuangan, PP bertugas menyusun strategi melawan Jepang. Mereka bekerjasama dengan kelompok-kelompok perjuangan lain, termasuk para gerilyawan di luar kota. Komunikasi mereka lakukan lewat perantaraan para pedagang di Pasar Beringharjo. “Para pedagang perempuan menjadi penyampai pesan antara para gerilyawan di gunung ke Sukarno atau ke tokoh-tokoh pemikir yang berada di Kota Yogyakarta,” kata Ita. Hal serupa juga dilakukan oleh Umi Sardjono, Ketua Umum Gerwani, seperti ditulis Ruth Indiah Rahayu dalam “Menulis Sejarah Sebagaimana Perempuan” diterbitkan Sejarah dan Budaya , Th X, No. 1, Juni 2016. Selama gerilya melawan Jepang, Umi bertugas sebagai kurir dengan menyamar sebagai ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar. Peran ini menurutnya lebih luwes dikerjakan perempuan karena perempuan pandai menyamar dan tidak dicurigai tentara Jepang. Kucing-kucingan dengan serdadu Jepang itu jelas memiliki risiko besar. Seperti yang menimpa Wasimah, seorang suster yang ikut berjuang, kala ketahuan membawa kebutuhan gerilya berupa obat juga pesan rahasia dari para pejuang. “Wasimah tertangkap di Taman Siswa, lalu ditembak. Salah seorang perempuan di PTT juga ada yang tertangkap menyadap berita Jepang. Ia kemudian dihukum mati di Kantor Pos Besar,” kata Ita. Toh, risiko kehilangan nyawa tak menyurutkan tekad para perempuan ikut memperjuangkan kemerdekaan. Komunikasi-komunikasi rahasia yang mereka lakukan amat menentukan kelanjutan perjuangan hingga akhirnya Indonesia bisa lahir. “Para pedagang mentransfer kebutuhan para pejuang lewat pasar. Orang tidak mengira, dikiranya dia mau ke pasar, berjualan. Padahal untuk kebutuhan revolusi,” ujar Ita.*

  • Hartini, First Lady yang Tak Diakui

    CINTA. Itulah yang membuat Sukarno rela menduakan Fatmawati –istri yang telah memberinya lima putra dan putri– dan berpaling ke Hartini. Apa yang ada di benak Bung Besar?   “Aku bertemu dengan Hartini. Aku jatuh cinta kepadanya,” kata Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat . “Dan percintaan kami begitu romantis, sehingga orang dapat menulis sebuah buku tersendiri mengenai hal itu.”    Menggantikan Fatmawati dari hati Sukarno tak serta merta menjadikan Hartini sebagai Ibu Negara. Predikat itu tetap melekat pada Fatmawati sekalipun dirinya memilih minggat dari Istana. Ketetapan demikian memang telah menjadi janji Sukarno terhadap anak-anaknya. Bahwa tak akan ada permaisuri di Istana Negara selain ibu kandung mereka. Agar terlihat adil, Fatmawati tetap bermukim di Jakarta sementara Hartini menempati salah satu paviliun di Istana Bogor. Saban Jumat siang hingga Senin pagi menjadi kunjungan rutin Sukarno menemui Hartini. Dan bila bermuhibah ke luar negeri, Sukarno akan pergi sendirian tanpa istri yang mendampingi. Tapi solusi itu serasa belum cukup di mata sebagian kalangan. Kisah kasih Sukarno dan Hartini kerap menuai gunjingan. Bersua Sang Srihana Hartini lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 20 September 1924. Dia besar di Bandung lantaran ayahnya pegawai kehutanan yang kerja berpindah tempat. Sebelum bertemu Sukarno, Hartini bersuamikan Soewondo, seorang pegawai perusahaan minyak dan menetap di Salatiga, Jawa Tengah. Pernikahan pertama Hartini menghasilkan lima orang buah hati. Kisah asmara dengan Sukarno terjadi pada 1952 di Prambanan, Yogyakarta saat peresmian teater terbuka Ramayana. Hartini berumur 28 sedangkan Bung Karno 51 tahun. Lewat perantara, Sukarno mengirimkan sepucuk surat cinta dengan nama samaran: Srihana. “Ketika aku melihatmu untuk pertama kali, hatiku bergetar,” demikian kata Srihana alias Sukarno yang terpesona kecantikan Hartini. Hartini sebagaimana disebut wartawan kawakan Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil: Petite Histoire Indonesia Jilid 5 adalah kenalan Panglima Divisi Diponegoro Kolonel Gatot Subroto. Gatotlah yang memperkenalkan Hartini kepada Sukarno. Sementara menurut sejarawan Monash University John David Legge, hubungan Hartini dan Sukarno terjalin lewat jasa baik Kepala Staf Istana Mayor Jenderal TNI Soehardjo Hardjowardjojo. Soehardjo berperan dalam mengatur pertemuan mereka. “Hartini tinggal di Salatiga dan sering terbang ke Semarang, ke Jakarta untuk bertemu dengan Sukarno,” tulis Legge dalam Sukarno: Biografi Politik . Setelah berbina kasih, Sukarno memutuskan menikahi Hartini. Hari perkawinan berbahagia itu berlangsung sederhana dan tertutup di Istana Cipanas, 7 Juli 1953. Kendati demikian, hubungan ini menjadi desas-desus yang menjalar ke luar. Gunjing dan Sanjung Kecaman datang dari aktivis perempuan. Organisasi Persatuan Istri Tentara (Persit), Kongres Wanita Indonesia (Kowani), dan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), berujuk rasa menolak poligami Sukarno. Mereka menganggap poligami merendahkan martabat perempuan. Perwari bahkan mendukung penuh keputusan Fatmawati keluar dari Istana Negara. Cap miring dan perlakuan kurang nyaman diterima Hartini. Nani Suwondo, aktivis Perwari kepada Saskia Eleonora Wieringa dalam  Penghancuran Gerakan Perempuan  mengatakan Hartini tak lebih dari seorang perempuan panggilan kelas atas ketika itu. Beberapa oknum anggota Gerakan Wanita (Gerwani) ikut protes; demonstrasi di depan rumah Hartini di Salatiga dan melempari jendela rumahnya. Beberapa surat kabar terbitan ibukota ikut mengkritik pernikahan Sukarno-Hartini. Harian Indonesia Raya  dengan pemimpin redaksi Mochtar Lubis dan harian Pedoman pimpinan Rosihan Anwar melancarkan kampanye anti-pernikahan Sukarno dengan Hartini.    “Bung Karno marah kepada Fatmawati, jengkel kepada Kowani, sakit hati kepada kedua pemimpin redaksi yang dianggapnya telah mencampuri urusan pribadinya dan telah mengecilkan posisi presiden/kepala negara,” tulis Rosihan Anwar. Sukarno pun tak luput dari gunjingan. Kecenderungan seksualnya banyak diperbincangkan. Hubungannya dengan Hartini dikaitkan dengan gairah yang menggebu. “Perkiraan seperti ini sangat diragukan,” tulis Legge. “Sesungguhnya, dalam hal ini Sukarno telah jatuh cinta –menuntut rasa kasih yang biasa saja, dalam gaya model lama.” Menurut Legge Hartini adalah wanita yang cerdas, berpengalaman, dan tahu lebih luas tentang dunia ketimbang Fatmawati. Perhatian Sukarno kepadanya bukanlah perhatian yang sekilas. Dari Hartini, Sukarno memperoleh dua putra: Taufan dan Bayu. Akan tetapi, Hartini juga bukanlah yang terakhir dalam kidung asmara Sukarno. Masih ada wanita-wanita lain yang diperistri Sukarno di kemudian hari. Mereka antara lain: Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi, Kartini Manoppo, Haryatie, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar. “Hanya satu kelemahannya yakni soal perempuan,” kata Hartini sebagaimana dikutip Saskia Wieringa. “Beberapa orang hanya mengurus uang, tetapi Bapak hanya peduli dengan perempuan.” Dari sekian banyak istri, hanya Hartini yang mendampingi Sukarno di masa-masa keruntuhan. Dalam memoarnya, Rachmawati, putri ketiga Bung Karno dari Fatmawati, mengenang Hartini dengan tekun dan setia melayani Sukarno sampai detik terakhir kehidupan sang Putra Fajar. Kebencian yang sempat terpupuk sirna di hati Rachmawati, berganti hormat dan sayang.     “Ia setia kepada Bapakku baik dalam masa jaya sehingga pada masa kejatuhannya,” kenang Rachmawati dalam Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi . “Betapapun yang pernah kurasakan terhadapnya di masa-masa lalu, faktanya adalah Bu Har menemani Bapak sehingga akhir hayat.”*

  • Darah Daging Fasisme Italia Menggebrak Eropa

    DALAM keadaan terdesak oleh pasukan Kartago di Perang Punic II, Jenderal Romawi Publius Scipio berhasil memanfaatkan faktor alam untuk membalik keadaan. Romawi akhirnya menang. Hingga berabad-abad kemudian, sejarah kebesaran Romawi tetap lestari. Semangat itulah yang agaknya diadopsi anak-anak klub AS Roma di lapangan hijau kala menjalani babak lanjutan perempatfinal Liga Champions. Meski sudah berada di ujung tanduk akibat kekalahan dari Barcelona, Roma berhasil membalik keadaan dan memaksa raksasa Katalan itu pulang lebih awal. Kemenangan itu membuka kesempatan kedua bagi Roma untuk jadi raja Benua Biru setelah kegagalan mereka 34 tahun silam. Dilahirkan Dedengkot Fasisme Italia Roma bak bangkit dari kubur. Laju kencangnya di Liga Champions menggegerkan Eropa. Padahal, Roma termasuk tim yang melorot prestasinya akibat krisis keuangan dan skandal calciopoli yang melanda sepakbola Italia. Tapi, allenatore Eusebio Di Fransesco tak pernah mau takluk kepada keadaan buruk itu. Perlahan tapi pasti, Roma merontokkan tim-tim langganan juara Eropa seperti kaum pekerja menjungkirkan kaum borjuis. Usut punya usut, Roma ternyata dilahirkan untuk bikin gebrakan baru di sepakbola Italia era 1920-an. Ketika itu, persepakbolaan Italia masih didominasi klub-klub mapan dari utara macam Juventus dan duo Milan – AC Milan dan Inter Milan. Klub-klub kecil seakan hanya bisa menjadi sparring partner mereka tanpa hak untuk menang. Ketimpangan itu membuat Benito Mussolini tak tinggal diam. Diktator fasis penggemar sepakbola itu lantas berupaya menggabungkan klub-klub kelas pekerja Roma jadi satu. Di Roma, kala itu sudah ada klub SS Lazio yang 27 tahun lebih tua dari AS Roma. Namun tim yang juga “bernafaskan” fasisme dari kalangan kelas menengah itu ogah diajak merger. Alhasil, Mussolini akhirnya hanya berhasil menggabungkan tiga klub, SS Alba-Audace, Fortitudo-Pro Roma SGS, dan Football Club di Roma. Melalui politisi Italo Foschi yang menjadi Presiden pertama AS Roma, klub kelas pekerja ini resmi berdiri 7 Juni 1927. Lewat AS Roma, menurut Louis Massarella dkk dalam The Rough Guides to Cult Football , Mussolini ingin mewujudkan impiannya memiliki klub yang merepresentasikan kejayaan Romawi. “Saya bersumpah memimpin negara kita ke jalan yang pernah dilalui kejayaan leluhur kita. Seperti Romawi Kuno yang berada di hadapan kita. Sepakbola adalah metafora yang sempurna untuk idealisme masyarakat fasisme,” cetus Mussolini yang dikutip Simon Martin dalam Sport Italia: The Italian Love Affair with Sport . Maka, Roma diracik Italo Foschi dengan identitas yang lebih “Romawi” ketimbang Lazio dan klub-klub Italia lainnya. Warna merah marun dengan garis kuning emas jersey Roma merupakan warna kebanggaan Kekaisaran Romawi Kuno. Yang lebih penting, logo klub merupakan gambar Lupa Capitoline alias Serigala Ibukota lengkap dengan penggambaran kisah mitos dua pendiri Roma – Romulus dan Remus–  yang tengah menyusu pada sang serigala betina. Hingga kini, hal itu terus menimbulkan gesekan antara fans fanatik Roma dan Lazio. Romanisti dan Laziali saling mengklaim bahwa merekalah pembawa gen yang sah kejayaan Romawi. “Kami mengusung nama kota, warna kebesaran dan simbol (Romawi). Bagaimana bisa mereka (Lazio) menolaknya sejak 1900. Kampungan!,” ketus seorang Romanisti yang dikutip Blair Newman dalam ulasannya di situs gentlemanultra.com , 30 November 2016. Sementara, mantan kapten Lazio Tomasso Rocchi membalas: “Mereka punya warna (kebesaran) Roma, namun Roma tetaplah Lazio,” tandasnya dalam sebuah rekaman dokumenter ITV4. Pasang Surut di Lapangan Hijau Campo Testaccio menjadi markas pertama AS Roma. Sejak prestasi runner-up musim 1930-1931, Roma benar-benar jadi tim kesayangan Mussolini sampai diberi keistimewaan pindah kandang dari Testaccio ke Stadio del Partito Nazionale Fascista yang lebih besar. Gelar Scudetto pertama Roma diraih pada 1942. Sayang, menurut Alberto Testa dan Gary Armstrong dalam Football, Fascism and Fandom , pencapaian itu diiringi nada-nada miring perihal “uluran tangan” Mussolini. Pasca-Perang Dunia II, Roma terpuruk dan nyaris tak pernah lagi bertengger di puncak klasemen sampai akhir musim. Itu berlangsung hingga awal 1980-an. Bahkan, pada musim 1950-1951 Roma merasakan terdegradasi dari Serie A. Roma baru bisa merasakan scudetto kedua di musim 1982-1983. Di era itu mereka juga langganan juara Coppa Italia. Gelar scudetto ketiga baru mampir pada musim 2000-2001. Pada 2011, Roma tak lagi dimiliki bos asal Italia, Franco dan Rosella Sensi. Pengusaha Amerika Thomas Richard DiBenedetto, juga pemilik Fenway Sports Group yang membawahi tim bisbol Boston Red Sox dan klub Liverpool, membeli saham mayoritasnya. DiBenedetto juga kemudian menjadi presidennya dan kemudian dilanjutkan rekannya, James Pallotta. Peralihan kepemilikan itu menandakan era baru AS Roma. Dengan modal kesabaran dan kepercayaan, suntikan investasi Amerika ini memungkinkan dilakukannya perekrutan sejumlah pelatih dan pemain yang tak murah. Perlahan tapi pasti, hal itu mendongkrak hasil di lapangan hijau.

  • Pram dan Arsipnya

    “Bung Pram ytt. Dengan ini aku menyampaikan bahwa aku dan keluarga sehat-sehat saja. Aku harap kau begitu juga. Anak-anak sekarang sudah besar-besar dan Yudi pun sudah agak tinggi dan cukup nakal. Sekarang tambah hitam karena sehari-hari main layang-layang. Sekian dahulu Pram. Peluk cium untuk kau dari keluarga”. Tulisan di atas adalah surat Maemunah Thamrin, istri sastrawan Pramoedya Ananta Toer, tanggal 16 Februari 1971. Pada bagian amplop, tertera stempel Instalasi Rehabilitasi Pulau Buru. Pram ditangkap tahun 1966 kemudian dipenjara –tanpa proses pengadilan– di Pulau Buru, wilayah kepulauan Maluku. Dia menjadi tahanan politik bersama sekira 10.000 orang. Pram baru bebas pada 28 September 1979. Surat tersebut bagian dari pameran arsip dan catatan bertajuk “ Namaku Pram” di kafe galeri Dia.Lo.Gue. Pameran yang dihelat hingga 20 Mei 2018 mendatang menampilkan puluhan surat, arsip, dan memorabilia milik Pram yang jarang diketahui khalayak. Menampilkan secara gamblang surat-surat pribadi seorang mantan tahanan politik Orde Baru bukan perkara mudah. Perlu kepercayaan dari keluarga Pram. “Bukan sesuatu yang mudah. Sebuah tanggung jawab yang besar. Saya mengenal keluarga Pak Pram sejak 2005 dan menjalin silaturahmi yang baik. Saat terlibat di pertunjukan Nyai Ontosoroh dan tak henti saya merasa memiliki sudut pandang dan pilihan hidup seperti beliau. Nah, kemudian di pertunjukan yang lalu, Bunga Penutup Abad , adaptasi Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Saat itu saya main ke perpustakaannya. Wah, haru saya. Dia pencatat terbaik. Dari situ, saya berkeinginan menampilkan karya-karya tersebut jika pementasan itu sukses. Ternyata sold out . Dan saya berkewajiban menunaikan nazar itu,” ujar aktris Happy Salma, inisiator pameran, kepada Historia . Happy pun melakukan pendekatan yang lebih intens dengan Astuti Ananta Toer, putri sulung Pram. Sembari itu, Happy menggandeng rekannya yang lain, Engel Tanzil dari kafe galeri Dia.Lo.Gue. “Kami bertemu dengan mbak Astuti. Memang mulanya percaya. Ada kecurigaan. Tapi dengan ketekunan, kita persiapan dua tahun, ya ,” ujar pendiri Titimangsa Foundation, sebuah yayasan nirlaba yang bergerak di bidang seni pertunjukan. Setelah melewati tahap yang panjang, mulailah pengkurasian. Happy sadar, pameran untuk Pram ini harus digarap oleh orang-orang yang mumpuni. Dia pun menunjuk Danny Wicaksono sebagai kurator pameran. “Saya diajak bergabung Januari kemarin. Tidak ada kesulitan tentang bahan pameran. Cuma memang perlu berhati-hati, mana yang perlu dikeluarkan, mana yang tidak. Dilihat dari apa yang akan disampaikan,” ujar arsitek pendiri Studio Dasar. Danny membagi pameran arsip Pram ini menjadi beberapa kelompok yaitu bagian perjalanan hidup, ruang arsip, kantor/ruang kerja, dinding memorabilia, wajah buku, taman kata, dan video. Pada bagian dinding memorabilia, terdapat 21 lukisan tentang Pram yang berasal dari beberapa kawannya. Kemudian pada bagian wajah buku, termuat 34 buku karya Pram dalam berbagai bahasa. Yang menarik adalah bagian surat-surat pribadi Pram dan kerja besarnya yang bernama Ensiklopedi Citra Indonesia (ECI). Dalam naskah ECI misalnya, Pram menulis sosok Jos Cleber, aransemen lagu pada 1950-an. Dalam tulisan tangan itu, Pram menyebut Jos Cleber sebagai “seorang pemusik kelahiran Yugoslavia yang kemudian meninggalkan negerinya, menanggalkan kewarganegaraannya. Sejak itu menjadi seorang kosmopolit tanpa kewarganegaraan. Tahun 50 mendapat kepercayaan untuk memimpin orkes radio Jakarta”. Inti dari pameran ini, menurut Danny, adalah menampilkan sisi lain dari Pram, khususnya tentang kerja-kerja intelektual yang belum banyak diketahui publik. “Inginnya, generasi sekarang atau siapa pun bisa melihat ini. Bahwa pencapaian kekaryaan dan dedikasi seseorang itu berawal dari proses,” ujar Happy. Tarian jemari Pram di atas tiga mesin tik, semalam (19/04), seperti hadir kembali. Suasana ini diciptakan oleh duo John David dan Adra Karim yang khusus mendedikasikan karya musik mereka bertajuk Tiga dari Lima kepada sosok Pramoedya Ananta Toer.

  • Sepakbola Kaum Hawa Merentang Masa

    GENAP 88 tahun usia PSSI hari ini, Kamis (19/4/2018). Tak hanya lebih tua dari republik ini dan termasuk senior di Asia, usia segitu mestinya sudah membuat PSSI matang dan jadi panutan. Sayang, usia tak berbanding lurus dengan kedewasaan, tindakan, dan prestasi. Masih dan makin banyak PR yang mesti diselesaikan PSSI. Sepakbola putri salahsatunya. Dibandingkan sepakbola putra, sepakbola putri di negeri ini ibarat bumi dan langit. Terlebih, setelah 1990-an. Hal itu diakui Papat Yunisal, legenda sepakbola putri nasional dan anggota Komite Eksekutif PSSI. Menurutnya, tak usah jauh-jauh membandingkan sepakbola putra dan putri sampai ke soal prestasi atau animo masyarakat. Dari perhatian pun sepakbola putri kalah jauh. “Sepakbola wanita ini lebih banyak kendalanya, baik di dalam maupun luar lapangan. Bukan soal sulit cari pemain ya, karena Indonesia banyak penduduknya. Kesulitan sebelumnya, karena tidak ada kejelasan agenda baik dari AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) melalui PSSI, melalui Asprov. Tentang apa yang digerakkan. Kini saya punya visi-misi juga yang berat,” ujar Papat kepada Historia beberapa waktu lalu. Faktor lain yang menghambat perkembangan sepakbola putri, sambung Papat, adalah gonjang-ganjing di tubuh PSSI. Setiap kali ganti kepengurusan, kebijakan dan perhatian pada sepakbola putri pun ikut berganti. Alhasil, baru pada Desember 2017 PSSI bisa memberi perhatian dengan membentuk Asosiasi Sepakbola Wanita Indonesia (ASBWI) dan menghelat Pertiwi Cup untuk menjaring pemain. Padahal, kata Papat yang lantas duduk di kursi ketua ASBWI itu, mestinya sebelumnya setiap klub Liga 1 punya tim putri laiknya di Eropa. Kalau bisa begitu, tugas membentuk timnas putri untuk Asian Games 2018 dan Piala AFF Putri 2018 tak mungkin sesulit sekarang. Jejak Masa Lampau di Lapangan Hijau Keadaan itu berbeda dari masa lalu. Pada 1970-an hingga 1980-an, sepakbola juga sangat diminati kaum putri. Sudah sejak akhir 1960-an para “Kartini” punya animo tinggi terhadap bola kaki. Itu dibuktikan antara lain dari berdirinya sejumlah klub macam Putri Priangan atau Buana Putri. Kedua klub itu bahkan jadi maskot di kota masing-masing lantaran mewakili identitas sepakbola Jakarta dan Bandung. Rivalitasnya tak ubahnya rivalitas Persib dan Persija. Pada 1970-an, klub-klub putri yang ada saling adu kuat lewat berbagai kompetisi yang ada. Baru pada 1981 mereka bersaing di bawah payung PSSI lewat Piala Kartini dan Invitasi Galanita 1982. Putri Priangan dan Buana Putri tetap paling menonjol di antara Putri Jaya, Putri Pagilaran, Putri Mataram, Mojolaban, Putri Setia, Anging Mamiri dan Putri Cendrawasih. Buana Putri, sebagaimana disitat Kompas, 25 Mei 1981, sudah diikutkan ke Piala Asia Putri 1981 kendati tak membuahkan hasil manis. “Di Putri Priangan pada kompetisi-kompetisi Kartini Cup, Piala Pangdam biasa di Galanita, saingan beratnya Buana Putri. Kadang bergantian juara. Musuh bebuyutan, gitu lah . Kalau sudah bertemu di (stadion) Lebak Bulus itu, sampai tidak ada tempat duduk (penonton) tersisa. Selalu ramai penonton, kayak ada Viking dan Jakmania-nya (pendukung fanatik Persib dan Persija),” imbuh Papat yang memperkuat Putri Priangan sejak 1979. Sementara, di tingkat internasional timnas putri sudah mengukir prestasi jauh sebelum Galanita ada. Dalam debutnya, Piala AFC Putri 1977 di Taiwan, timnas putri berhasil sampai ke semifinal. “Wakti itu Jepang kalah sama kita. Kemudian beberapa tahun kemudian dia jadi juara dunia (Piala Dunia Wanita 2011). Terus kita sendiri selama ini ngapain ? Mereka tidak tidur, mereka jalan pelan-pelan sampai bisa juara dengan perhatian pemerintahnya,” timpal mantan kiper Buana Putri dan timnas putri Muthia Datau kepada Historia. Di Piala AFC Putri 1986, Indonesia juga kembali jadi semifinalis. Posisi runner-up dua kali digapai timnas putri dalam kejuaraan ASEAN Women’s Championship (1982 dan 1985). Di turnamen segitiga Indonesia-Malaysia-Singapura tahun 1979, timnas putri berhasil menjadi juara. Sayang, sejak 1989 Indonesia tak pernah lagi ikut serta Piala AFC Putri. Di SEA Games, sejak 2005 Indonesia juga tak pernah lagi kirim tim. Selain karena kurang perhatian dari PSSI dan pemerintah, sepakbola putri dalam negeri kebanyakan diminati hanya sebagai tempat penyaluran hobi. “Di Buana Putri, sebagian besar anggota yang aktif dilandas motif yang sama, hanya hobi saja,” ujar Muhardi, Pembina Buana Putri, dimuat Femina edisi Agustus 1981. Hingga kini, penyebab sepakbola putri minim peminat tak jauh beda dari masa lalu: sepakbola belum bisa dijadikan profesi dan sumber mata pencaharian oleh kaum putri. “Soal pendapatan, di Putri Priangan hanya sebatas uang saku. Uang sakunya ya nggak seberapa, sekitar 30 ribu sekali main. Kalau di timnas, uang saku agak lumayan, 900 ribu kita,” kata Papat.  Pendapatan kecil itu pun tak bisa rutin diterima lantaran kompetisi yang ada timbul-tenggelam. “Dulu kompetisi ada kalau semacam ada promotor yang ngundang, ” sambung Papat. Kompetisi di bawah PSSI terus menghilang seiring perjalanan waktu. Alhasil, animo generasi muda beralih ke futsal. “Sepakbolanya sudah hilang, jadi lari ke futsal rata-rata. Kalaupun ada, mereka mau latihan, tapi wadahnya mana? Kalau enggak ada kompetisi ngapain ?,” kata Muthia, yang kini menjadi pengurus ASWI dan berharap bisa menggerakkan lagi sepakbola putri. Papat Yunisal sependapat. “Karena ketidakjelasan itu mereka lari ke futsal. Futsal sekarang lapangannya banyak, tapi lapangan bola untuk putri kan lebih mahal sewanya,” timpal Papat.   Toh , setitik cahaya tetap ada dalam kegelapan sepakbola putri kita. Menurut Papat, tidak sedikit pemain futsal putri yang berharap bisa turut berkiprah di sepakbola lapangan. “Futsal kan seninya kurang, asal tendang keras bisa masuk. Tapi sepakbola kan tidak. Pernah juga ada satu-dua pemain (futsal) yang bilang ke saya bahwa kalau ada (kompetisi) sepakbola, mereka ingin ikut. Kalau kompetisinya jelas, mereka ingin di sepakbola saja,” tandas Papat.

  • Mengenang Pemboman Sabang

    HARI ini (19 April) 74 tahun lalu, sejumlah tempat di Sabang luluh lantak. Keadaan itu disebabkan oleh bombardir udara yang dilancarkan pasukan Sekutu lewat operasi bersandi Cockpit. Operasi Cockpit dilatarbelakangi oleh permintaan AL Amerika Serikat (AS) yang membutuhkan sebuah operasi pengalihan agar operasi utamanya ke Hollandia (kini Jayapura) tak terusik. Operasi pengalihan itu berfungsi untuk menahan pasukan Jepang di sekitar Selat Malaka agar tak bergerak ke timur. Untuk keperluan itu, pada awal April 1944 Laksamana Ernest King (kepala operasi AL AS) menemui Laksamana James Somerville (komandan Armada Timur AL Inggris). King menanyakan apakah Armada Timur bisa membuat operasi yang diinginkan. Somerville menyanggupi. Dia, yang merancang dan memimpin operasi pengalihan itu, lalu memilih Sabang sebagai target operasi. Selain pintu masuk ke Selat Malaka, Sabang merupakan titik strategis karena dijadikan Jepang sebagai penyuplai utama minyak dan logistik pasukannya di Burma. Dengan melumpuhkan pelabuhan, stasiun radar, bandara, stasiun radio, dan fasilitas minyak di Sabang, Sekutu bisa memutus pasokan minyak dan logistik Jepang di Burma. Untuk mencapai maksud itu, Somerville menitikberatkan operasi pada serangan udara. Pelaksanaan operasi, 19 April, akan dijalankan oleh dua satuan tempur: Force 69 dan Force 70. Force 69 merupakan tempat di mana kapal perang HMS Queen Elizabeth –yang ditumpangi Somerville– berada. Sedangkan Force 70, merupakan kekuatan inti. Di Force 70 ini dua kapal induk – dan – berada. Mereka mulai bergerak dari Trincomalee di utara Sri Lanka pada 16 April. “Posisi terbang 180 mil laut barat daya Sabang dicapai pada pukul 05.30 waktu setempat pada 19 April 1944,” tulis David Hobbs . Buruknya cuaca di mana awan rendah memaksa kedua kapal induk Sekutu bergerak sendiri-sendiri dengan kecepatan penuh. Namun, dalam keadaan itu mereka tetap meluncurkan 46 pesawat pembom dan 37 pesawat tempur yang langsung membom pelabuhan berikut kapal-kapal yang bersandar di dalamnya. Barak-barak tentara, stasiun radar, fasilitas komunikasi, tangki-tangki depo minyak, pembangkit listrik, dan pangkalan udara berikut 24 pesawat tempurnya mengikuti jadi korban tak lama kemudian.   Para personil militer Jepang, kebanyakan masih tidur, yang tak jadi korban langsung kaget. “Saat mereka berhasil menggunakan senjata anti-pesawat, semuanya telah hancur. Mereka hanya berhasil menembak jatuh satu pesawat Sekutu,” tulis Horst H. Geerken dalam . Pasukan Somerville menyudahi serangan pukul 09.00 dan langsung kembali Trincomalee. Selain melumpuhkan fasilitas-fasilitas vital Sabang, Operasi Cockpit memakan korban satu kapal niaga tenggelam dan satu kapal lain rusak berat, dua kapal destroyer dan dua kapal pengawal AL Jepang terbakar. Tiga pesawat tempur dan tiga pesawat torpedo AL Jepang ikut jadi korban ketika mencoba memberi perlawanan.

  • Rumah Minimum ala Gubernur Pertama Jakarta

    “YANG paling menekan saya ialah soal perumahan.” Begitu curahan hati Soemarno Sosroatmodjo, gubernur Jakarta 1960-1964, kepada wartawan Star Weekly,  Mei 1961. Dia baru setahun menjabat gubernur, sebutan baru untuk kepala daerah Jakarta. Dulu sebutan kepala daerah Jakarta ialah walikota. Sebutan boleh beda, tapi masalah utama Soemarno serupa kepala daerah sebelumnya:  bagaimana menyediakan rumah murah. Beban Soemarno terus bertambah. Jakarta tengah bersiap menyongsong Asian Games 1962. Pemerintah pusat meminta Soemarno ikut membantu keberhasilan pembangunan gedung, fasilitas, dan jalan penunjang pesta olahraga terbesar Asia tersebut. Sebab, pembangunan itu mengharuskan pengorbanan penduduk Jakarta. Mereka harus angkat kaki dari atas tanah merah yang jadi tumpuan tempat tinggalnya. “Dalam hubungan itu jumlah rumah yang dibongkar dan dibangun kembali sebanyak 8.652 buah, milik 46.829 jiwa penduduk Tebet, Pejompongan, Slipi, Cikoko, dan Cileduk,” kata Soemarno dalam otobiografinya, Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya . Saat bersamaan Jakarta justru kekurangan 100.000 rumah. Kekurangannya terus bertambah tiap tahun sebanyak 10.000 rumah. “Tiap warga negara selayaknya mempunyai suatu rumah. Kalau kita bisa menyelenggarakan Asian Games, maka sayang sekali kalau kita tidak bisa menyelesaikan soal perumahan,” ungkap Soemarno dalam Star Weekly , 13 Mei 1961. Puluhan ribu orang hidup tanpa rumah di Jakarta. Gelandangan berkeliaran di jalan-jalan, kolong jembatan, dan stasiun. Lainnya mendirikan gubuk-gubuk liar di sepanjang jalur kereta. Mereka mengorek bak-bak sampah dan menjual kardus bekas untuk makan sekadarnya. Urusan punya rumah cuma sebatas angan. Warga kota yang punya sedikit penghasilan lebih beruntung. Mereka masih bisa menyewa rumah petak. Sisanya justru mampu membeli tanah dan membangun rumah seadanya berbahan kayu. Tapi rumah tak lantas bisa mereka huni lantaran terhambat aturan Surat Izin Penghuni (SIP) peninggalan zaman kolonial Belanda. Soemarno mengupayakan jalan keluar masalah perumahan. Dia lebih dulu berpaling ke outline plan bikinan Sudiro, kepala daerah Jakarta sebelumnya. Outline plan memuat rencana perluasan wilayah Jakarta. Soemarno berpikir bahwa banyak daerah di luar pusat kota belum terjamah pembangunan. Tanah lapang nan luas seperti di Cempaka Putih atau Pulo Mas menunggu digarap. Harga tanahnya pun masih murah sehingga Soemarno berangan-angan warga golongan ekonomi lemah mampu membeli tanah di sana secara legal. “Untuk memungkinkan terlaksananya cita-cita ini pemerintah harus menguasai sebanyak mungkin tanah untuk dapat mencegah adanya spekulasi harga,” kata Soemarno dalam Karya Jaya: Kenang-Kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta, 1945-1966. Soemarno mengaku pemerintah daerah tak bisa sepenuhnya membangun rumah murah di Cempaka Putih dan Pulo Mas. Kantong pemerintah daerah lebih sering kempis ketimbang kembangnya. Sebagai gantinya, pemerintah daerah bakal menjamin harga tanah murah, menghapus aturan Surat Izin Penghuni, menyediakan akses jalan, dan membangun fasilitas penunjang lainnya seperti air dan listrik. Soemarno kasih warga saran untuk membangun rumah secara sederhana di Cempaka Putih dan Pulo Mas. Rumah tak perlu luas dan mewah. Yang penting mencukupi tiga syarat minimal: cukup sirkulasi udara dan cahaya, cukup sanitasi, dan cukup murah. Nanti kalau kantong pemilik sudah lebih berisi, rumah boleh diluaskan atau diperbaiki. Inilah rumah minimum ala Soemarno. Harga pembangunan per rumah pun tak boleh lebih dari 50 ribu rupiah. Tapi “Sekalipun murah, namun bagi buruh kecil harga itu belum wajar juga,” tulis Star Weekly,  13 Mei 1961. Karuan Soemarno mengajak perusahaan swasta dan warga turut andil mendukung pembangunan rumah minimum bisa menyentuh masyarakat lapisan bawah. Sekalipun urusan perumahan Jakarta berada penuh di tangannya, sesuai Perpu No 6/1962 dan PP No 17/1963, lantaran kantong pemerintah daerah tak cukup berisi, urusan itu perlu disebar juga ke perusahaan swasta dan warga. “Saya tahu dan yakin, bahwa masyarakat ibukota mempunyai potensi yang besar dalam hal modal (keuangan),” kata Soemarno dalam Star Weekly, 15 April 1961. Tiga tahun kemudian, keyakinan Soemarno benar-benar merupa. “Proyek Cempaka Putih baru dibangun. Dari tanah seluas 235 ha, baru 22 ha yang diratakan dan di atas tanah yang sudah rata itu, baru 6 ha yang sudah dibangun, terdiri dari 204 pintu tipe rumah minimum, 33 pintu tipe rumah sedang dan 11 pintu tipe villa,” lansir Djaja , 11 Juli 1964. Soemarno sengaja melebur lingkungan rumah minimum dengan rumah sedang dan rumah villa. Dia ingin penghuninya bekerja sama membentuk lingkungan baru di luar pusat kota. “Perpaduan antara penduduk yang berada dan penduduk yang kurang mampu,” kata Soemarno dalam Karya Jaya . Soemarno membayangkan para pemilik rumah villa bisa membuka usaha dengan merekrut pekerja dari pemilik rumah minimum dan warga perkampungan sekitarnya. Sebaliknya, pemilik rumah minimum dan penduduk kampung sekitar bisa bekerja tak jauh dari tempat tinggalnya. Menghemat ongkos transportasi dan mengurangi beban pusat kota. Selesai dengan Cempaka Putih, Soemarno beralih ke Pulo Mas. Dia bekerja sama dengan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk membangun lingkungan rumah minimum seperti di Cempak Putih. Tapi gagasan Soemarno gagal merupa di Pulo Mas. “Karena adanya perubahan-perubahan akan tanah air kita,” kenang Soemarno. Ali Sadikin, pengganti Soemarno, lebih memilih memperbaiki keadaan kampung kumuh ketimbang membangun rumah murah baru. Gagasan rumah minimum Soemarno pun mati. Kelak, ia bangkit lagi dengan nama rumah tumbuh bikinan Perusahaan Rumah Nasional (Perumnas) pada pertengahan dekade 1970-an.

bottom of page