Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Gara-gara Laskar Berulah, Bung Hatta Marah
LASKAR pejuang di Sumatra Utara terkenal banyak tingkah dan kelakuan eksentrik dalam Perang Kemerdekaan. Mereka bertempur menghadapi Belanda di garis depan namun di belakang saling cakar dengan sesama kelompok laskar. Wakil Presiden Mohammad Hatta sampai dibuat repot berurusan dengan beberapa komandan laskar yang kerap bikin ulah. Waktu itu pertengahan Juli 1947, Bung Hatta baru saja pulang dari India usai bertemu dengan Perdana Menteri Nehru. Sekembalinya ke Indonesia, Bung Hatta meneruskan perjalanan keliling Sumatra. Di beberapa kota, kedatangan Bung Hatta disambut rakyat dengan penuh semangat untuk mempertahankan kemerdekaan. Mulai dari Pekanbaru, Bukittinggi, kemudian masuk ke Sumatra Utara. Setelah melewati Sibolga pada 21 Juli 1947, terdengarlah kabar bahwa Belanda telah melancarkan agresi militer yang pertama. Kendati tentara Belanda mulai menduduki Sumatra Timur, rombongan Bung Hatta terus melanjutkan perjalanan ke Tarutung hingga Pematang Siantar.
- Akhir Tragis Overste Romantis
NAMA SP 88 tak bisa dipisahkan dari sosok Overste Oesman Soemantri. Dia adalah salah satu pendiri dan otak di balik strategi yang dijalankan SP 88. “Pak Oesman terkenal sebagai perwira cerdas. Kemampuan berbahasa asingnya bagus,” ujar Gar Soepangat, mantan anak buah Oesman di SP 88. Oesman lahir di Jakarta sekitar awal 1920. Tak banyak orang tahu jika pemuda berkulit putih itu merupakan cucu penyair besar Betawi: Muhammad Bakir. Tak heran Oesman pandai melukis dan bisa menulis puisi. “Karena ketampanan dan kemampuannya dalam bidang seni, Pak Oesman dikenal sebagai perwira yang berjiwa romantis,” kata Soepangat.
- Dari Pemberontakan ke Pemberontakan (Bagian II–Habis)
USAI membentangkan sebuah peta, kedua tangan Kolonel Pnb. (Purn.) Abd Aziz Muhammad melipatnya kembali. Lalu sambil merebahkan punggung ke kursi, ia mengenang penugasannya di Sulawesi saat menjemput jenazah Kahar Muzakkar, pemimpin kelompok pemberontakan Komando Gerilyawan Sulawesi Selatan (KGSS) yang berafiliasi dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII Sulawesi Selatan). “Di sanalah (Sulawesi) saya mulai dapat banyak jam terbang operasional. Karena saat itu kan (pemberontakan) Kahar Muzakkar lagi ramai. Jadi saya kebagian (tugas) ke Sulawesi sampai Kahar Muzakkar ditembak,” ujar Aziz kepada Historia.
- Mendekat kepada Habib
HARI masih pagi ketika Habib Ali bin Abdurahman al-Habsyi (1870–1968), lebih dikenal sebagai Habib Ali Kwitang, membuka tokonya di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menjelang zuhur, dia menutup toko. Lalu dia keliling kampung untuk menjual barang dagangannya sambil berdakwah. Habib Ali Kwitang merajut hubungan dengan kiai dan pemuka masyarakat. Di rumahnya di Kwitang, dia mengadakan pengajian mingguan. Dia juga rutin menghelat acara maulid, perayaan ulang tahun Nabi Muhammad Saw. Dalam mengelola pengajiannya, dia kemudian dibantu Habib Salim bin Jindan dan Habib Ali Alatas.
- KNIL Turunan Genghis Khan
MESKI kulitnya putih, wajahnya tak seperti kebanyakan orang Belanda. Namanya Gerard Karel Meijers. Setelah usianya 62 tahun pada awal dekade 1990-an, dia jadi berita di Negeri Belanda. Dia mengaku sebagai Pangeran Dschero Khan, keturunan terakhir Genghis Khan dari Mongolia. Semua tahu Genghis Khan (1162-1227) alias Temujin adalah panglima militer Mongolia tersohor. Dengan pasukan berkudanya, dia telah menaklukkan banyak daerah di Asia Tengah. Genghis Khan kemudian menurunkan raja besar di Tiongkok, Kubilai Khan. Raja Kubilai pasukannya menyerang Kartanegara di Singosari.
- Komandan Pesindo Bernama Sarwono Sastro Sutardjo
NASIB Sarwono Sastro Sutardjo di ujung tanduk. Laskar Naga Terbang pimpinan Timur Pane berhasil menangkapnya. Timur Pane bahkan hendak membunuh Sarwono. Tapi, Timur Pane akhirnya gagal menjagal Sarwono. Saat itu bertepatan dengan kedatangan Wakil Presiden Mohammad Hatta ke Pematang Siantar. Nyawa Sarwono pun tertolong. “Kupanggil Timur Pane ke tempat aku menginap dan kuperintahkan supaya Sarwono jangan dibunuhnya. Dia sendiri kusuruh pergi ke Tapanuli untuk minta bantuan senjata ke laskar Tapanuli. Aku menyuruhnya pergi ke Tapanuli, sebab ia bermaksud akan menggempur daerah Medan,” tutur Bung Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi .
- Semangat Laskar Kere
KETIKA menjadi juru kampanye Partai Demokrat di Magelang Jawa Tengah (16/3), ibu Ani Yudhoyono bertanya kepada massa, “ Dadi sopo sing kere (jadi siapa yang sengsara)?” Anak-anak muda teriak serentak, “Saya...!” “Jangan begitu, nanti Allah marah,” kata ibu Ani. Para masa awal revolusi tahun 1945, sejumlah pelajar dan pemuda pejuang Solo dengan bangga menggunakan kata “kere” untuk kesatuannya: Laskar Kere. Mereka berasal dari Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Tinggi, Sekolah Guru Atas, dan Sekolah Teknik. Mereka terjun ke berbagai front melawan tentara Inggris (Gurkha) antara Solo dan Semarang seperti Salatiga, Bawen, Banyubiru, dan Ambarawa.
- Spionase Paman Sam
WAJAH Gayus tampak menegang. Sesekali jemarinya bergerak, seperti meremas sesuatu. Dia tampak cemas. Siang itu, mantan pegawai pajak itu menyampaikan “curhatnya” ke hadapan majelis hakim. “Berdasar cerita John Grice pada saya, John Grice bilang dia adalah agen CIA yang semua kegiatannya diketahui dan direstui oleh salah seorang anggota Satgas (Pemberantasan Mafia Hukum)," kata Gayus dalam di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Rabu (19/1/11) seperti dikutip dari detik.com . Teori konspirasi seakan dibuat nyata oleh Gayus. Entah untuk alasan apa. Satu yang pasti, kisah tindak-tanduk agen CIA (Central Intelligence Agency) di negeri ini berkali terjadi dan selalu berakhir pada pertanyaan yang sama: benarkah? Pengujung November 2008 lampau masyarakat geger. Adam Malik, pemuda angkatan 45, wartawan senior dan wakil presiden era Orde Baru disebut-sebut jadi spion CIA di Indonesia. Gara-garanya sebuah buku karya Tim Weiner yang menyebutkan kalau dia menjalin kontak dan menerima sejumlah bantuan CIA untuk memberangus kelompok komunis pascaperistiwa G30S 1965.
- Mohammad Husni Thamrin Dijegal di Sukabumi
SISA-sisa karangan bunga itu masih bertebaran di halaman depan Balaikota Sukabumi. Siang itu, Minggu 7 April 2019, gedung bergaya art deco bikinan arsitek Belanda E. Knaud itu tampak sepi. Aktivitas perayaan 105 tahun Kota Sukabumi (1 April) telah usai. Sejak diresmikan 22 Februari 1934, bangunan yang mulai dibangun pada 12 September 1933 itu jadi tempat berkantornya burgemeester (walikota) Sukabumi. Sejak lepas dari naungan Regentschappen Cianjur, Sukabumi berstatus gemeente yang otonom atas wilayahnya. Hingga zaman Jepang, tak sekali pun kedudukan tertinggi di Gemeente (kotapraja) Sukabumi itu bisa dipegang kalangan bumiputera. Pernah ada “perlawanan” politik untuk memegang kendali kota yang kaya akan teh ini, tetapi hasilnya tetap nihil walau yang bertarung tokoh nasionalis Mohammad Hoesni Thamrin.
- Riwayat Rumah Tahanan Hatta dan Sjahrir di Sukabumi
RUMAH tua di Jalan Bhayangkara, Kota Sukabumi itu berdiri dalam sepi siang 12 Februari 2019 itu. Lampu di terasnya menyala pertanda tiada yang menjaga. Beragam kendaraan berseliweran begitu saja di depannya tiada peduli. Butuh waktu hampir satu jam bersabar diiringi rasa penasaran sebelum bisa masuk ke rumah itu. Baru setelah Yepsa Dinanthy, pegiat sejarah Komunitas Kipahare Sukabumi, mengontak rekannya di Pemkot Sukabumi Historia bisa masuk rumah yang di halamannya dipatok plang bertuliskan “Benda Cagar Budaya: Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir” itu.
- Jejak Hatta dan Sjahrir di Sukabumi
RUMAH tua namun elegan itu nyaris tanpa isi. Selain satu ruangan yang berisi sedikit foto replika Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Sukarno, hanya ruang depan kanan yang memiliki satu meja dan beberapa kursi. Di sinilah tempat Mulyani, juru pelihara rumah, “berkantor”. Pertanyaannya, apa hubungannya Bung Karno dengan rumah yang beralamat Jalan Bhayangkara Nomor 156 A, Kota Sukabumi itu? Jelas-jelas di halaman depan terpampang plang “Benda Cagar Budaya: Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir”. Jangankan menjelaskan soal foto Bung Karno, menyoal kapan dan apa yang terjadi terhadap Hatta dan Sjahrir pun sang juru pelihara honorer BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) itu memberi penjelasan menyangsikan.
- Pendidikan Agama Diwajibkan hingga Pertempuran Laut Jawa
Bahder Djohan. (Wikimedia Commons). 1 Februari 1950: Pendidikan Agama Diwajibkan Semua sekolah pemerintah tertanggal 1 Februari 1950 diwajibkan memberikan pendidikan agama untuk peserta didik tingkat dasar dan lanjutan. Hal ini ditetapkan berdasarkan peraturan bersama antara Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Bahder Johan dengan Menteri Agama Wahid Hasyim pada 20 Januari 1951. Peraturan bersama tersebut menyatakan bahwa pendidikan agama diajarkan selama dua jam dalam satu minggu. Untuk tingkat sekolah dasar, pendidikan agama dimulai pada kelas 4. Segala biaya untuk penyelenggaraan pendidikan agama ditanggung oleh Kementerian Agama. Bahan pengajaran dan kurikulum ditetapkan oleh Kementerian Agama sesudah disetujui oleh Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan.* Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook (Nationaal Archief/Wikimedia Commons). 8 Februari 1930: Gerakan De Stuw Sejumlah intelektual Belanda yang progresif di Hindia Belanda mendirikan gerakan politik dan budaya yang dikenal dengan De Stuw (Gerakan Maju). De Stuw diambil dari nama majalah yang mereka terbitkan. Nama resminya adalah “Perkumpulan untuk mendukung pembangunan sosial dan politik Hindia Belanda”. Anggotanya tidak banyak dan semuanya berbangsa Belanda. Menurut Bernard Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indoenesia , perkumpulan ini dibentuk sebagai oposisi terhadap Vanderlandsche Club (Perserikatan Patriot). Vanderlandsche Club adalah organisasi politik konservatif di Hindia Belanda yang menginginkan penguatan kekuasaan Belanda atas seluruh Hindia. De Stuw mendapat dukungan dari kalangan bumiputra bangsa Indonesia sementara orang-orang Belanda kebanyakan menolaknya. Namun, beberapa anggota dari kelompok De Stuw di kemudian hari malah menjadi lawan kaum Republiken Indonesia. Mereka adalah tokoh-tokoh penting Belanda pada masa revolusi: Hubertus van Mook (menjabat Letnan Gubernur Jenderal), Jan Anne Jonkmann, dan Johann Logemann (keduanya menjadi Menteri Urusan Negeri Jajahan).* Gempa bumi di Ambon, Maluku tahun 1898. (KITLV). 17 Februari 1674: Gempa Bumi di Maluku Terjadi gempa bumi dahsyat di pantai utara Maluku. Gempa jenis tektonik tersebut memicu gelombang tsunami di Laut Banda. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 80 meter. Dalam The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku yang disunting Kathryn A. Monk, Yance de Fretes, dan Gayatri Reksodiharjo-Lilley disebutkan, gelombang pasang mengakibatkan tanah longsor di desa Hila, Maluku Tengah dan menenggelamkan sebuah situs pasar 180 meter ke bawah permukaan laut. Sementara di Hitu, Pulau Ambon, terjangan tsunami menyapu seluruh desa. Sekira 2300 orang menjadi korban, termasuk istri dan dua anak dari Rumphius (Georg Eberhard Rumpf). Rumphius (1628–1702) adalah seorang naturalis kebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC. Bencana alam ini menjadi gempa tektonik pertama dan tsunami tertua yang berhasil tercatat dalam sejarah Nusantara.* Georg Eberhard Rumpf atau Rumphius. (Wikimedia Commons). 20 Februari 1927: Jong Indonesia Berdiri Di Bandung, sekumpulan elite terdidik pribumi Indonesia membentuk organisasi pemuda nasionalis bernama Jong Indonesia. Para pendirinya antara lain: KRT Josodiningrat, Jusupadi, Suwadji, Mohammad Tamsil, Soebagio Reksodipuro, Assaat, Rusmali, Sunario, Sartono, Iskak, Budiarto, dan Wirjono. Mereka adalah pelajar Indonesia yang baru pulang dari luar negeri, kebanyakan dari Belanda. Para pemuda ini mendapat gagasan kebangsaan yang kuat setelah bergabung dalam Algemenee Studi Club , kelompok diskusi yang dipimpin Sukarno. “Dalam aktivitasnya, Jong Indonesia mendirikan organisasi kepanduan, menerbitkan majalah, memajukan olahraga, menyelenggarakan rapat bersama dengan organisasi pemuda lainnya. Meski nama organisasi memakai kata berbahasa Belanda ( jong ), namun mereka memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar,” tulis Ahmaddani G. Martha, Christanto Wibisono, dan Yozar Anwar dalam Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa . Jong Indonesia menjadi salah satu organisasi pemuda pemrakarsa Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928.* Pesawat RI-001 Seulawah. (Istimewa). 25 Februari 1947: Pembentukan Gasida Di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), para saudagar dan kaum kaya Aceh berkumpul. Mereka adalah Republiken yang bersepakat untuk mendukung pemerintah Indonesia. Untuk mewadahinya dibentuklah Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida). Gasida diketuai oleh H.M. Djoened Joesoef dan Tengku Daud Beureuh sebagai penasihatnya. Di dalam Gasida dibentuk pula sebuah Badan Penyokong Perjuangan. Gasida berperan penting dalam membiayai perjuangan revolusi, terutama pada saat Belanda melancarkan blokade ekonomi dan agresi militer kedua. Kelak dari kocek kelompok Gasida ini pula Indonesia memperoleh pesawat terbang pertama jenis Dakota C-47 yang dikenal sebagai RI-001 “Seulawah”.* Letnan Komandan Kareel Doorman. (Ministerie van Defensie/Wikimedia Commons). 27 Februari 1942: Pertempuran Laut Jawa Angkatan Laut Sekutu yang tergabung dalam American-British-Dutch-Australian Command (ABDACOM) terlibat pertempuran dengan Armada Jepang di Laut Jawa. Pasukan gabungan Sekutu mengemban misi mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda di Pulau Jawa dari invasi Jepang. Panglima Angkatan Laut Belanda Laksamana Muda Kareel Doorman memimpin kesatuan pemukul Sekutu. Penghadangan terhadap konvoi kapal Jepang terjadi di sebelah selatan Pulau Bawean, perairan Jawa Timur. Dalam pertempuran yang berlangsung dari sore hari hingga tengah malam itu, Angkatan Laut Sekutu mengalami kekalahan telak. Tentara Jepang unggul karena daya jangkau torpedo yang lebih jauh dan dibantu pesawat-pesawat pengintai. Kerugian Sekutu meliputi lima kapal penjelajah, tujuh kapal perusak, dan satu kapal tanker. Laksamana Muda Kareel Doorman turut tenggelam bersama kapal yang dipimpinnya, Hr. Ms. De Ruyter . Sementara Jepang hanya kehilangan beberapa kapal pengangkut. Pasukan Jepang setelah pertempuran itu mulai memasuki Jawa.* Majalah Historia Nomor 28, Tahun III, 2016






















