top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bung Hatta dan Refleksi Sebelas Bulan Usia Indonesia

    SEMENTARA kini pemerintah dan rakyat Indonesia merayakan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI sekali dalam setahun setiap tanggal 17 Agustus, maka tidak demikian di tahun pertama eksistensi Indonesia. Peringatan HUT kemerdekaan RI dilakukan beberapa kali di masa antara 17 Agustus 1945–17 Agustus 1946 itu, baik di level nasional maupun lokal. Salah satu yang menarik adalah peringatan HUT ke-11 bulan RI pada 17 Juli 1946. Sebelas bulan bukan waktu yang singkat untuk sebuah negara baru yang kelahirannya ditentang bahkan hendak dihentikan oleh bekas penjajahnya dengan berbagai macam cara. Ini adalah momentum krusial sebelum memasuki periode yang penting secara psikologis sebulan berikutnya, yakni peringatan HUT ke-1 RI.

  • ORI, Uang Perjuangan dan Persatuan

    Bank Indonesia mengeluarkan uang baru edisi khusus pecahan Rp75.000 tepat pada perayaan 75 tahun usia Republik Indonesia, 17 Agustus 2020. Desain uang ini elegan dan sarat makna. Bagian muka bergambar wajah Sukarno dan Hatta. Bagian belakang berisi gambar wajah orang Indonesia dari beragam suku dan daerah. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, uang tak sebatas alat pembayaran. “Tetapi lambang kedaulatan, sistem kemandirian bangsa Indonesia,” kata Perry secara virtual. Ucapan Perry mengingatkan peran Oeang Republik Indonesia (ORI), uang kertas pertama keluaran pemerintah Indonesia. Uang itu mulai beredar pada 30 Oktober 1946. “Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, ORI tercatat sebagai alat yang mempersatukan tekad seluruh bangsa Indonesia untuk bersama-sama pemerintah Republik Indonesia berjuang menegakkan kemerdekaan,” ungkap Oey Beng To, mantan Gubernur Bank Indonesia, dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945–1958). Usul dari Pemuda Bandung Cerita ORI bermula dari banyaknya mata uang di Indonesia saat awal kemerdekaan. Ada empat jenis mata uang ketika itu. Tiga jenis berasal dari Jepang. Keluaran tiga otoritas berbeda dengan sebutan berbeda pula. Uang keluaran pemerintah pusat Jepang disebut Gulden Jepang. Uang dari pemerintah pendudukan Jepang bernama Gunpyo. Uang cetakan Nanpo Kaihatsu Ginko atau bank sirkulasi dikenal sebagai uang invasi. Satuan untuk dua mata uang terakhir adalah rupiah. Satu jenis mata uang lainnya peninggalan pemerintah Hindia Belanda keluaran De Javaasche Bank atau Bank Sentral Hindia Belanda. Satuannya gulden. Peredaran empat jenis mata uang itu merugikan Indonesia. “Menyebabkan situasi moneter menjadi sangat ruwet dan membingungkan,” catat Oey Beng To. Menyikapi situasi ini, muncul usulan dari Sjafruddin Prawiranegara, anggota Badan Pengurus Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP, badan legislatif sementara RI, red .). Dalam sebuah pertemuan dengan Hatta pada Oktober 1945, Sjafruddin membawa usulan dari pemuda Bandung yang dia lupa namanya. “Supaya mengeluarkan uang Republik Indonesia sendiri sebagai pengganti uang Jepang yang masih berlaku pada waktu itu,” kata Sjafruddin dalam Bung Hatta Mengabdi Pada Tjita-Tjita Perjuangan Bangsa . Hatta semula ragu memenuhi usulan Sjafruddin. Tapi Sjafruddin terus meyakinkan bahwa Indonesia perlu mengeluarkan uang baru sebagai salah satu atribut negara merdeka dan berdaulat. Keraguan Hatta sirna. “Pada akhirnya beliau dapat diyakinkan,” lanjut Sjafruddin. Pemerintah berkeputusan bulat mencetak uang sendiri. Percetakan Oeang Republik Indonesia di Solo. (IPPHOS/Perpusnas RI). Menyelundupkan Bahan dan Alat Cetak A.A. Maramis, Menteri Keuangan, menindaklanjuti keputusan itu. Dia bergerak cepat. Sebab tentara Sekutu telah datang ke Indonesia pada akhir September 1945. Segala kemungkinan bisa terjadi. Tentara Sekutu bisa saja mengambil alih keadaan. Maka dia menginstruksikan tim Sarikat Buruh Percetakan G. Kolff Jakarta bergerak ke Jakarta, Malang, Solo, dan Yogyakarta untuk mencari percetakan. Di Jakarta ada percetakan G. Kolff dan De Unie. Di Malang berdiri perusahaan Nederlands Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF). Tapi keduanya kesulitan memperoleh alat-alat untuk mencetak seperti kertas, tinta, pelat seng, mesin aduk, dan bahan kimia lainnya. Kekhawatiran terhadap kedatangan Sekutu menjadi kenyataan. Sekutu membawa pula orang-orang NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Keributan antara pejuang Republik dengan Sekutu tak terhindarkan di beberapa daerah. Jalur distribusi barang pun terganggu. Termasuk suplai bahan-bahan untuk mencetak uang. Untungnya Indonesia memiliki buruh berkesadaran. Mereka berhasil menyelundupkan alat-alat pencetak uang. “Berkat bantuan sukarela dari para karyawan beberapa perusahaan asing di Jakarta yang belum dikuasai oleh tentara Sekutu, bahan dan alat itu diperoleh,” catat Oey Beng To. Maramis kemudian membentuk Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indonesia pada 7 November 1945. Ketuanya T.R.B. Sabarudin, saat itu menjabat pula Direktur Bank Rakyat Indonesia. Anggotanya terdiri atas pegawai Departemen Keuangan, Bank Rakyat Indonesia, dan Serikat Buruh Percetakan G. Kolff. Kerja Panitia cukup baik. Mereka telah mencetak ratusan rim lembaran 100 rupiah. Tapi uang itu belum sempat diberi nomor seri. Situasi Jakarta keburu kacau. Pemerintahan pun harus pindah ke Yogyakarta pada 14 Januari 1946. Pekerjaan mencetak uang berhenti sementara. Kerja pencetakan uang diambil alih oleh percetakan NIMEF di Malang, Solo, dan Yogyakarta. Selama masa ini, tentara Sekutu dan NICA mengawasi distribusi alat dan bahan untuk mencetak uang. Mereka bahkan menyerang Republik dengan mengeluarkan uang NICA pada 6 Maret 1946. Kursnya 3 persen dari uang Jepang. Orang menyebutnya uang merah karena warna dominannya. Tindakan itu bikin marah pemerintah Indonesia. Selain membuat inflasi, peredaran uang NICA juga melanggar kedaulatan. “Perdana Menteri Sutan Sjahrir menyebutnya sebagai pelanggaran hak kedaulatan RI dan mengingkari perjanjian untuk tidak mengeluarkan mata uang baru selama situasi belum stabil,” tulis tim Departemen Keuangan Republik Indonesia (Depkeu RI) dalam Rupiah di Tengah Rentang Sejarah . Daerah pemberlakuan uang NICA antara lain Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Tapi uang NICA tak laku. Petani dan pedagang enggan memakainya. Mereka hanya mau menerima uang Jepang. Sesuai dengan seruan pemerintah Indonesia. Akibatnya peredaran uang NICA terdesak. “Keterbatasan dan ketidakwibawaan uang NICA itu berakibat merosotnya kurs. Dari 3% menjadi empat bahkan lima persen,” ungkap tim Depkeu RI. Penukaran uang di Glodok, Jakarta, Desember 1947. (IPPHOS/Antara). Membiayai Kebutuhan Ketika uang NICA merosot, pemerintah Indonesia mulai mengedarkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) secara resmi pada 30 Oktober 1946. Malam sebelum ORI beredar, Hatta berpidato. “Sejak mulai besok kita akan berbelanja dengan uang kita sendiri, uang yang dikeluarkan oleh Republik kita. Uang Republik keluar dengan membawa perubahan nasib rakyat, istimewa pegawai negeri yang sekian lama menderita karena inflasi uang Jepang.” Rakyat menyambut baik peredaran ORI. Mereka menyebutnya “uang putih”. Rosihan Anwar mencatat pengalamannya pada awal peredaran ORI di Jakarta. “Seorang tukang becak memilih pembayaran 20 sen uang kita daripada pembayaran dengan uang NICA,” tulis Rosihan dalam Kisah-Kisah Menjelang Clash ke-I . Kurs ORI terhadap uang NICA fluktuatif. Saat awal beredar, 1 ORI berbanding 2 uang NICA. Sangat kuat. Tapi lama-lama merosot hingga 1:5. Bahkan saat Agresi Militer II pada 19–20 Desember 1948, nilai ORI tenggelam. Butuh 500 ORI untuk menebus 1 Florin uang NICA. Kemerosotan ORI berkaitan dengan kian sempitnya wilayah Republik, tekanan tentara NICA terhadap pemakai ORI, dan inflasi. Khusus penyebab terakhir, tak lepas dari keputusan pemerintah untuk membiayai kebutuhan Republik dengan mencetak ORI lebih banyak. Keputusan itu terpaksa dilakukan. Sebab pemerintah tak mungkin menarik pajak dan mengandalkan bantuan atau pinjaman luar negeri. Dana pendukung kemerdekaan juga makin menipis. “Maka pengeluaran ORI sebagai cara untuk memecahkan masalah pembiayaan tersebut adalah paling baik,” terang Oey Beng To. Oey Beng To menyebut kebijakan ini mirip dengan kebijakan koloni-koloni Inggris di Amerika Serikat ketika awal kemerdekaannya pada 1776. Mereka mencetak uang sendiri ( continental money/greenbacks) untuk melawan Inggris. Tapi Oey Beng To melihat kemerosotan ORI tak separah continental money .  Seturut perubahan penandatangan Konferensi Meja Bundar dan perubahan bentuk negara Indonesia, ORI berhenti beredar pada Maret 1950. Ia diganti uang baru. Tapi peredarannya selama 3 tahun 5 bulan menjadi titik mula kesadaran tentang fungsi uang sebagai alat perjuangan kedaulatan dan pembiayaan negara.

  • D.N. Aidit di Sekitar Proklamasi Kemerdekaan

    Cerita bermula pada 15 Agustus 1945 sore. Aidit menemui kawan-kawannya di asrama Badan Perwakilan Pelajar Indonesia (Baperpi) di Cikini 71. Ia juga menghubungi Wikana. Tujuannya, mengajak mereka datang ke belakang Laboratorium Bakteriologi Eijkmann Institute. Di belakang gedung yang dipenuhi pohon jarak itu, sebuah pertemuan rahasia para tokoh pemuda dan pelajar dari berbagai golongan diadakan. Dimulai pukul 19.00. “Hadir di pertemuan itu: Chaerul Saleh, Wikana, Aidit, Djohar Nur, Pardjono, Abubakar, Sudewo, Armansjah, Subadio (Soebadio Sastrosatomo – Red. ), Suroto Kunto dan beberapa orang lagi. Atas usul beberapa yang hadir, Chaerul Saleh memimpin pertemuan,” tulis Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Selain Sidik, tokoh pemuda lain yang menyebut keberadaan Aidit adalah A.M. Hanafi. Dalam bukunya Menteng 31: Membangun Jembatan Dua Angkatan, ia   membenarkan adanya pertemuan itu dan menyebut Aidit sudah ada di sana sebelum ia tiba. “Di sana beberapa kawan sudah berkumpul. Pertemuan dipimpin oleh Chaerul Saleh. Wikana pun sudah datang dibonceng oleh Aidit dengan bersepeda. Kemudian Pardjono dan saya, A.M. Hanafi, tiba,” tulis Hanafi. Pertemuan itu diadakan setelah tersiar berita bahwa Jepang telah kalah dan Belanda dikabarkan segera datang membonceng sekutu. Sementara golongan tua masih menanti janji kemerdekaan dari Jepang, golongan muda bersikap lain. Proklamasi harus segera diumumkan. “Setelah menilai arti sejarah dari kapitulasi Jepang, pertemuan mengambil kesimpulan dengan suara bulat, bahwa kemerdekaan Indonesia yang menjadi hak rakyat Indonesia harus segera dinyatakan dengan jalan proklamasi,” tulis Sidik Kertapati. Hasil pertemuan itu kemudian akan disampaikan kepada Sukarno-Hatta. Kedua tokoh itu diharapkan segera memproklamasikan kemerdekaan daripada menunggu iming-iming dari Jepang. Dalam pertemuan itu juga, Aidit mengusukan agar Sukarno ditetapkan sebagai Presiden Indonesia yang pertama. Malam itu juga, jelas Sidik, empat orang diutus ke Pegangsaan Timur. Mereka adalah Aidit, Wikana, Soebadio dan Suroto Kunto. Pukul 21.00, di Pegangsaan Timur 56 mereka tiba dan bertemu dengan Sukarno. Wikana, sebagai juru bicara mendesak agar esok pagi, 16 Agustus, kemerdekaan diproklamasikan. Terjadi perdebatan antara Sukarno dan para utusan pemuda. Tak lama, Hatta, Subardjo, Iwa Kusumasumantri, Djojopranoto, Mbah Diro (Sudiro), Samsi, Buntaran dan beberapa tokoh lain tiba dan bergabung. “Setelah didesak oleh utusan pemuda, Bung Karno yang baru sehari tiba dari Saigon itu menjawab, bahwa dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri dan harus berunding dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Wikana dan Aidit serentak mempersilakan para pemimpin berunding,” tulis Sidik. Setelah berunding di dalam ruangan, Hatta keluar sebagai juru bicara. Para utusan yang telah menunggu di beranda menerima kenyataan pahit. Dengan tegas, permintaan memproklamasikan kemerdekaan esok hari ditolak. “Saya pernah muda dulu. Kepala panas, hati panas. Setelah tua, hati panas tetapi kepala dingin. Tentang maksud supaya rakyat kita yang memproklamirkan kemerdekaan, saya tidak setuju…” kata Hatta kepada para pemuda. Hatta menegaskan bahwa mereka tengah menunggu peresmian penyerahan dari Jepang serta hendak mendengar bagaimana pikiran dan pertimbangan Gunseikan (kepala pemerintah militer) Jenderal Yamamoto dan Somubuco (kepala departemen urusan umum) Mayor Jenderal Nishimura mengenai janji kemerdekaan. “Dan kamipun tak bisa ditarik-tarik atau didesak supaya mesti juga mengumumkan proklamasi itu. Kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggup memproklamirkan, cobalah! Sayapun ingin lihat kesanggupan saudara-saudara…” ujar Hatta. Menanggapi jawaban Hatta, para pemuda itupun menyatakan bahwa jika esok proklamasi tidak diumumkan, para pemuda akan bertindak. Mereka kemudian meninggalkan Pegangsaan Timur 56 dan berunding di Cikini 71. Hasilnya, esok hari Sukarno-Hatta harus diamankan ke Rengasdengklok. Tentang siapa saja pemuda yang mendatangi Pegangsaan Timur 56, Adam Malik punya versi lain. Dalam Riwayat dan Perdjuangan Sekitar Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 ia hanya menyebut Wikana dan Darwis. Terkait hal itu, Indonesianis Ben Anderson menyebut bahwa keterangan Sidik lebih dapat dipercaya dari pada Adam Malik. Menurutnya, pencantuman nama Soebadio dalam keterangan Sidik, saat Soebadio berada di ujung spektrum politik yang berlawanan dengannya dan Aidit, menunjukan objektivitasnya. “Versi Sidik telah dikonfirmasi oleh Subadio dalam wawancara dengan penulis pada 4 Juni 1967,” tulis Ben Anderson dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946. Konfirmasi Soebadio mengenai adanya Aidit dalam pertemuan juga dalam biografinya Soebadio Sastrowardoyo Pengemban Misi Politik yang ditulis Rosihan Anwar. “Para pemuda berkumpul lagi di gedung Cikini 71 untuk mendengarkan laporan delegasi ke Bung Karno. Delegasi itu terdiri dari Wikana, Suroto Kunto dan saya. Beberapa pemuda ikut dengan delegasi seperti Darwis dan D.N. Aidit. Juru bicara delegasi ialah Wikana, yang bersama saya duduk di kursi berhadapan dengan Bung Karno di ruang depan rumah, sedangkan Suroto Kunto tegak berdiri sambal tangannya dilipatkan di dada,” kata Soebadio. Berbeda dari kesaksian Sidik dan Soebadio yang menegaskan kehadiran Aidit, kepada Z. Yasni dalam Bung Hatta Menjawab ,  Mohammad Hatta menuturkan kalau Aidit tidak terlihat pada malam jelang penculikan itu. Dia hanya menyebutkan kehadiran dua tokoh pemuda, Wikana dan Sukarni.   “Didapati Sukarno sedang dikelilingi pemuda-pemuda, antaranya saya masih ingat adalah Sukarni dan Wikana. Aidit tidak ada di sana. Wikana banyak bicara. Wikana mendesak agar malam itu juga diproklamasikan (yaitu malam tanggal 15 Agustus),” kata Hatta. Peran Aidit, seperti ditulis Sidik juga tak hanya sampai di situ. Sementara Sukarni memimpin pengamanan Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, sepanjang hari pada 16 Agustus para pemuda menghubungi pos-pos bawah tanah untuk bersiap menyambut proklamasi. Mereka di antaranya adalah Aidit, M.H. Lukman, Sjamsudin, Suko, Pardjono, Darwis, Armunanto, Cornel Simanjuntak, Armansjah, A.M. Hanafi, Djohar Nur, Kusnandar Legiman Harjono, Ma’riful, dan Sidik Kertapati. Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, bersama kelompok pemuda Menteng 31 Aidit membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) pada 1 September. Ia kemudian juga turut mengorganisir massa dalam rapat besar di Lapangan Ikada pada 19 September.

  • Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Dunia II

    SORE 14 Agustus 1945 itu, Kepala kantor berita Jepang Nippon Hōsō Kyōkai ( NHK ) Hachiro Ohashi sibuk mengatur anak buahnya dari tim perekam. Selepas menerima pesan dari Menteri Biro Informasi Hiroshi Shimomura, ia segera memerintahkan Direktur Teknis Daitaro Arakawa memasang alat-alat yang dibutuhkan ke Kementerian Dalam Negeri. Para teknisi NHK itu lantas mengecek ruangan demi ruangan untuk mendapatkan spot yang takkan bergaung ketika dipasangi aneka peralatan rekaman. Dipilihlah ruangan Goseimu (kantor administrasi kekaisaran) di lantai kedua yang lantainya diselimuti karpet dengan tirai tebal yang menutup jendelanya. Ruangan itu paling pas. “Lalu para teknisi NHK itu menyiapkan piringan hitam yang akan direkam, juga mikrofonnya. Yang tak kalah penting, aliran listriknya juga mereka sambungkan dengan gulungan kabel dari generator kecil, seandainya listrik padam mengingat Tokyo tengah sering dibombardir (Sekutu) dari udara,” tulis Jim Smith dan Malcolm McConnell dalam The Last Mission: The Secret History of World War II’s Final Battle. Sekira pukul 11.30 malam, Tennō Heika (Yang Mulia Kaisar Shōwa) pun tiba di ruangan. Disambut sembah sujud para teknisi di ruangan itu, sang kaisar pun sampai di hadapan mikrofon. Hening mengisi ruangan itu sejenak sebelum sang kaisar bersuara. Suaranya bakal disiarkan dan didengarkan rakyatnya untuk kali pertama, mengingat sebelumnya hanya para pejabat pemerintahan saja yang mendengar suara sang kaisar. Instruksi Kekaisaran yang dibacakan Tenno Heika sebagai jawaban atas tuntutan menyerah dari Sekutu (Foto: US Army Center of Military History/Repro "Pan-Asianism and the Legitimacy of Imperial World Order") Sosok yang dipercaya sebagai titisan Dewa Amaterasu itu akan membacakan Daitōa-sensō-shūketsu-no-shōsho atau Instruksi Kekaisaran tentang Penghentian Perang Asia Timur Raya. Instruksi kepada semua rakyat dan militer Jepang untuk berhenti berperang itu sebagai respon atas penerimaan syarat menyerah kepada Sekutu. “Perekamannya dilakukan dua kali. Rekaman yang pertama, ia berbicara terlalu pelan dan melalui saran para teknisi, ia ditawarkan untuk merekam ulang. Pada rekaman kedua, nada suaranya terlalu tinggi. Meski begitu, rekaman yang kedualah yang dianggap sebagai rekaman resminya, sementara rekaman pertama hanya disimpan sebagai cadangan,” ungkap sejarawan John Toland dalam The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire, 1939-1945. Siaran Pidato Kaisar Rekaman pidato kaisar berdurasi 3 menit 30 detik itu ternyata tak bisa langsung disiarkan. Sekelompok perwira muda AD Jepang di bawah Mayor Kenji Hatanaka, yang tak setuju Jepang menyerah pada Sekutu, berhasil mensabotase dengan kudeta. Mereka menduduki istana kaisar, kantor kementerian, dan NHK . Beruntung, kudeta itu hanya seumur jagung. Kala mentari kembali terbit dari ufuk timur, 15 Agustus 1945, Hatanaka yang berada di kantor NHK mendapat kabar bahwa Pasukan AD Distrik Timur dan Pasukan Kempeitai (polisi rahasia Jepang) akan melucuti gerombolannya. Pesawat telepon di salah satu ruangan kantor NHK tetiba berdering. Dari pembicaraan di telepon, Hatanaka diperintahkan komandan AD Distrik Timur Jenderal Shizuichi Tanaka untuk menyerah dan mengakhiri kup. Mayor Kenji Hatanaka, pimpinan kudeta yang berniat menghancurkan rekaman pidato kaisar (Foto: Repro "Japan's Longest Day"/NHK Museum) Pukul 8 pagi, Istana Kekaisaran direbut kembali dari tangan komplotan Hatanaka yang berhasil dilucuti. Hatanaka dan beberapa pentolan kudeta lalu kabur dan kemudian bunuh diri di halaman istana. Jangankan meneruskan perang, merebut rekaman pidato kaisar pun komplotan kup satu malam itu gagal. “Para staf istana sudah khawatir sejak selesaikan rekaman kaisar, bahwa mungkin akan ada upaya menghancurkannya. Satu rekaman dengan cap ‘ COPY ’ disembunyikan dalam sebuah kotak kayu dengan cap istana, dibawa keluar dari Kementerian Dalam Negeri melalui koridor labirin oleh staf kementerian, Motohiko Kakei,” sambung Toland. “Satu rekaman lainnya bercap ‘ ORIGINAL ’, disembunyikan di kotak makan siang seorang pengurus rumahtangga istana untuk kemudian diselundupkan keluar istana. Rekaman yang dipegang Kakei dibawa ke studio NHK . Sementara satunya lagi dibawa juga dengan jalur berbeda ke kantor NHK , di mana kepala NHK memasukkannya ke brankas yang ia sembunyikan dengan rapi,” tambahnya. Tepat jam 12 siang 15 Agustus, rekaman itu disiarkan NHK setelah didahului pengumandangan lagu kebangsaan “Kimigayo”. Tangis pun pecah di setiap pelosok negeri setelah pidato berdurasi tiga menit itu berakhir. “Perang telah berlangsung hampir empat tahun. Kendati semua pihak sudah melakukan yang terbaik, perjuangan yang berani dari militer dan kesetiaan seratus juta rakyat – situasi perang berkembang menjadi kerugian Jepang, sementara situasi perang telah berbalik merugikan kita. Lebih daripada itu, musuh telah memulai penggunaan bom yang baru dan kejam, di mana kekuatannya yang merusak telah membinasakan banyak jiwa. Jika kita terus berperang, tidak hanya akan menghasilkan kehancuran dan kemusnahan negeri Jepang, tetapi juga akan mengarah kepada kepunahan peradaban manusia,” kata kaisar dalam pidatonya. Jenderal Douglas MacArthur mewakili Sekutu menandatangani kapitulasi Jepang di atas geladak USS Missouri (Foto: Naval History and Heritage Command) Meski dalam pidatonya kaisar tak secara terang menyebut Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, setelah pidato itu berakhir, penyiar radionya mengklarifikasi bahwa pesan dari kaisar punya arti Jepang telah menyerah. Siaran itu kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris untuk bisa ditangkap siaran radio Amerika dan Inggris. Baku tembak di semua medan peperangan akhirnya berhenti pada 15 Agustus 1945 malam, dikenal sebagai V-J Day atau Hari Kemenangan atas Jepang. Panglima Sekutu di Pasifik, Jenderal Douglas MacArthur, menjejakkan kaki untuk pertamakali di Tokyo pada 30 Agustus. Selain memastikan bahwa takhta Kaisar Hirohito takkan diganggu gugat, MacArthur mesti memastikan pasukannya tak bertindak di luar batas atas nama balas dendam terhadap sipil maupun bekas pasukan Jepang. Penandatanganan kapitulasi Jepang lantas digelar di atas geladak battleship USS Missouri yang berlabuh di Teluk Tokyo, 2 September 1945, pukul 9 pagi. Delegasi Jepang dipimpin Menteri Luar Negeri Mamoru Shigemitsu dan Kepala Staf AD Jepang Jenderal Yoshijirō Umezu. Sementara di pihak Sekutu yang dipimpin Jenderal MacArthur, hadir sejumlah perwakilan Inggris, Uni Soviet, China, Australia, Selandia Baru, Prancis, dan Belanda. Epilog dramatis itu menutup “bab” Perang Dunia II yang disulut Jerman-Nazi.

  • Kisah Sintong dengan Mortirnya

    Pada 16 Agustus 1964, Letda Sintong Panjaitan (di kemudian hari menjadi penasihat militer Presiden BJ Habibie) melaporkan kedatangannya kepada Dan Yonif 321/Galuh Taruna Mayor Mochtar. Sintong, yang belum setahun lulus dari AMN, ditugaskan ke Sulawesi Selatan untuk membantu Operasi Kilat menumpas gerakan Kahar Muzakar. “Pada pertengahan Agustus 1965, 15 orang di antara 120 orang perwira alumni AMN angkatan 1963, ditugaskan di Sulawesi Selatan dan Tenggara untuk memperoleh pengalaman tempur,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Di sana, Sintong di-BP (Bawah Perintah)-kan ke dalam Yonif 321/Galuh Taruna Brigif 13/Galuh Kodam IV/Siliwangi. Yonif 321 dikirim Kodam IV/Siliwangi untuk membantu Kodam XIV/Hasanuddin dalam menumpas gerakan Kahar. Pelibatan Siliwangi itu atas permintaan Pangdam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf, yang ke Jakarta menghadap Menpangad Letjen A. Yani sehari setelah selamat dari penyergapan Andi Selle.   “Jusuf kemudian meminta Kolonel Solihin GP dari Divisi Siliwangi diangkat sebagai Kepala Staf Operasi Militer yang akan dilancarkan terhadap Andi Selle dan terutama sekali terhadap Kahar Muzakkar, tulis Syafaruddin Usman Mhd dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar . Siliwangi menjadi kodam yang paling banyak mengirim anggotanya dalam operasi lintas matra itu. “Pasukan Siliwangi, yang diterjunkan untuk memerangi Kahar, mula-mula dihadapkan kepada Andi Selle,” tulis Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII . Maka usai diterima laporannya, Sintong ke baraknya yang bersebelahan dengan markas batalyon di kota kecil Barakka. Malam harinya, gerombolan Kahar menyerang markas batalyon itu hingga menewaskan seorang anggota. Serangan itu menyadarkan Sintong bahwa tugas pertamanya ini bukan sembarang tugas. Dia yang ditugaskan menjadi komandan Pleton 1 mesti banyak belajar kepada bawahannya karena umumnya mereka kenyang pengalaman tempur. Benar saja. Beberapa waktu kemudian, malam usai Pleton 1 mendirikan bivak di Talangrilau, mereka diserang gerombolan DI/TII Kahar pimpinan Syamsuddin. Ketika pertempuran usai, mereka masih terus diganggu dengan tembakan tunggal lawan yang datang saban setengah jam hingga pukul 04 pagi. Meski tembakan gangguan berkurang di siang, pleton Sintong kembali diserang pada malamnya. Pertempuran sengit pun terjadi hingga tiga hari lamanya. Di hari ketiga, pleton Sintong mulai kehabisan peluru. Janji kiriman peluru yang mereka terima batal jadi kenyataan lantaran helikopter yang akan digunakan untuk mengangkut mengalami kerusakan. Pada hari keempat, Sintong memerintahkan Koptu Jaya membersihkan mortir 5 (50mm) karena kurang bersih sehingga dikhawatirkan macet ketika digunakan. Beruntung pembersihan telah rampung ketika pada pukul 04 gerombolan lawan kembali menyerang dari bukit-bukit di dekat bivak. Sintong segera memerintahkan Jaya menembakkan mortir yang baru dibersihkan itu. Namun, peluru mortir gagal meluncur meski picu telah ditarik. Hal itu membuat Sintong kesal sehingga memarahi Jaya agar kembali membersihkan mortir tersebut. Setelah mortir dibersihkan, Sintong mengambil alih posisi Jaya sebagai penembak mortir. Peluru mortir pun dimasukkannya ke dalam laras. Namun, peluru itu kembali gagal meluncur. Sintong pun menumpahkan kekesalannya dengan kembali memarahi Jaya. “Letnan belum menarik picunya,” kata Koptu Jaya menjawab perkataan Sintong, dikutip Hendro. Meski tak dikatakannya, perkataan Jaya menyadarkan Sintong bahwa dia memang salah karena Mortir 5 yang digunakannya merupakan mortir lama peninggalan Jepang yang mesti ditarik picunya untuk bisa menembakkan peluru. Alhasil demi menjaga wibawanya di hadapan anak buah, Sintong pun berkilah. “Picu sudah saya tarik, tetapi mortir tetap macet,” kata Sintong.

  • Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang

    SEBAGAI titisan Dewa Amaterasu, suara Kaisar Jepang Hirohito terlalu suci untuk didengar kuping siapapun, termasuk pejabat pemerintahan sekalipun. Namun, untuk kedua kalinya Tennō Heika (Yang Mulia Kaisar Shōwa) harus kembali bicara demi menyetop debat kusir tiada henti anggota kabinet di Dewan Tertinggi untuk Haluan Perang, 14 Agustus 1945. Upaya kaisar utamanya bertujuan untuk mencegah kemusnahan bangsanya. Pada rapat besar itu, kaisar menegaskan bahwa keinginannya tak berubah. Seperti pada rapat serupa empat hari sebelumnya, Tennō Heika berinisiatif mengintervensi keputusan untuk menerima Deklarasi Postdam (26 Juli 1945) dari Sekutu sebagai syarat menyerahnya Jepang. Dijatuhkannya bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) kian membuka mata sang kaisar akan bahaya kehancuran negerinya di depan mata. Diperparah lagi, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang dengan menginvasi negeri boneka Jepang, Manchukuo (Manchuria), pada 8 Agustus 1945. Invasi yang mengakhiri Pakta Netralitas Soviet-Jepang yang disepakati pada 13 April 1941 itu membuat Jepang kian terpojok. Kaisar Hirohito mengintervensi debat kusir rapat kabinet untuk menentukan menyerahnya Jepang (Foto: US National Archives) Kaisar Hirohito insyaf bahwa jika perang terus dilanjutkan, akibatnya adalah kebinasaan negeri sakura. Ia pun meminta perdebatan dihentikan dan para menteri di Kabinet Perdana Menteri Kantarō Suzuki diminta menyusun rancangan Daitōa-sensō-shūketsu-no-shōsho atau Instruksi Kekaisaran tentang Penghentian Perang Asia Timur Raya, sebagai respon dari tuntutan Sekutu. “Saya telah mendengarkan secara seksama tiap-tiap argumentasi yang disampaikan pihak oposisi tentang pandangan bahwa Jepang harus menerima syarat Sekutu tanpa klarifikasi atau modifikasi lebih jauh, namun pikiran saya takkan berubah. Dalam waktu dekat, saya mempertimbangkan jawaban untuk menerimanya (Deklarasi Postdam),” kata kaisar, dikutip Robert Butow dalam Japan’s Decision to Surrender. “Menjadi permintaan saya kepada Anda semua, para menteri negara, untuk menyetujui keinginan saya dan sesegera mungkin memberi jawaban atas diterimanya syarat Sekutu. Agar rakyat mengetahui keputusan saya, permintaan saya adalah Anda semua menyiapkan Instruksi Kekaisaran untuk saya siarkan sampai ke pelosok negeri,” lanjutnya. Kendati dipatuhi oleh mayoritas, titah kaisar tak diterima segolongan faksi militer pro-perang. Beberapa di antara mereka berniat mencegah sabda kaisar bisa tersiar ke seluruh penjuru negeri yang rencananya disiarkan stasiun kantor berita Nippon Hōsō Kyōkai ( NHK ) pada tengah hari 15 Agustus 1945. Kudeta Kyūjō Kelompok penentang itu dipimpin Mayor Kenji Hatanaka, perwira staf di Kementerian Perang. Bersama para perwira muda yang satu tujuan, yakni Letkol Masataka Ida, Letkol Masahiko Takeshita, Letkol Hinaki Shiizaki, Letkol Inaba Masao, dan Kolonel Okikatsu Arao, Hatanaka menghadap Menteri Perang Jenderal Korechika Anami dan menguraikan maksud mereka mencegah Jepang menyerah kepada Sekutu. Anami tak memberi jawaban akan mendukung atau menentang. Ia tutup mata mengingat masih setia kepada kaisar, kendati turut menjadi faksi pro-perang di Kabinet Suzuki. Tak adanya dukungan dari Anami membuat komplotan Mayor Hatanaka melanjutkan niat mereka dan merancang kudeta, serta mencari tambahan simpatisan di kalangan Kementerian Perang dan Kementerian AD Jepang. Kompolotan Hatanaka berhasil menarik simpatisan pasukan dari Resimen Ke-2, Garda Kekaisaran Ke-1. Mayor Kenji Hatanaka (kiri) & Letkol Hinaki Shiizaki, dua pemimpin komplotan kudeta (Foto: Repro "Japan's Longest Days") Pada 15 Agustus pukul satu dini hari, mereka menyerbu istana dan melumpuhkan satu batalyon Garda Kekaisaran, membuka Kudeta Kyūjō (Kup Istana Kekaisaran). Jenderal Takeshi Mori, komandan Divisi Garda Kekaisaran ke-1 yang bertanggungjawab atas pengamanan istana, ditembak mati. Kolonel Shiraishi, adik ipar sang jenderal, juga tewas tersabet pedang Kapten Shigetaro Uehara, kaki tangan Hatanaka. Hatanaka lalu mengambilalih cap divisi milik mendiang Jenderal Mori dan membuat perintah palsu untuk menggerakkan divisi itu dengan arahan “melindungi” kaisar. Tiap-tiap resimen tambahan dari divisi itupun disebar ke beberapa titik sasaran lain. “Resimen Ke-1 dipecah untuk memperkuat penjagaan di istana dan merebut stasiun berita NHK untuk mencegah siarannya. Resimen Ke-2 dinstruksikan membentuk perimeter penjagaan di sekitar istana. Resimen Ke-6 bersiaga di baraknya dan Resimen Ke-7 memblokade Jembatan Nijubashi yang jadi jalur masuk ke istana,” tulis Jim Smith dan Malcolm McConnell dalam The Last Mission: The Secret History of World War II’s Final Battle. Setelah menguasai istana, komplotan Hatanaka mulai menyasar target-targetnya: Menteri Dalam Negeri Sōtarō Ishiwata, Pelindung Cap Kekaisaran cum penasihat kaisar Kōichi Kido, serta rekaman suara sang kaisar yang dibuat pada 14 Agustus malam . Beruntung bagi Ishiwata dan Kido, pemadaman listrik di Tokyo menyulitkan komplotan mencari mereka yang bersembunyi di ruang bawah tanah brankas kekaisaran. Komplotan lalu melanjutkan gerakannya. “Dua kompi pasukan pemberontak menjaga ketat Gobunko (Perpustakaan Kekaisaran, red. ) membuat kaisar menjadi tahanan di istananya sendiri. Ia tak bisa ke mana-mana; pun dengan orang dari luar tak bisa masuk ke dalam istana tanpa memicu baku tembak yang justru bisa membahayakan nyawa kaisar,” lanjut Smith dan McConnell. Istana Kekaisaran Jepang di Tokyo (Foto: Diet National Library) Seiring sang kaisar beristirahat dalam di ruang tidur perpustakaan hingga menjelang pagi buta, Hatanaka tak menemukan satupun targetnya di istana. Pencariannya di gedung Kementerian Dalam Negeri pun tanpa hasil dan ia malah bingung mencari jalan di struktur gedung yang mirip labirin. Di Kantor Berita NHK , yang telah memberitakan lewat siaran pagi bahwa siang harinya kaisar akan menyampaikan pidato, Hatanaka mengancam beberapa staf untuk menyerahkan rekaman pidato kaisar. Namun tiada yang mengetahui di mana rekaman berada. Salah seorang staf NHK hanya menguraikan, dua salinan rekaman itu dibawa dua pengurus rumahtangga Istana Kekaisaran yang tak ia ketahui namanya. Sampai pukul 8 pagi, Hatanaka sadar bahwa waktu tak lagi berpihak padanya. Belum lagi, pasukan AD Distrik Timur dan Kenpeitai (polisi rahasia Jepang) sudah berhasil melucuti para simpatisan Hatanaka di Istana Kekaisaran. Hatanaka akhirnya pilih bunuh diri bersama beberapa komplotannya yang tersisa. Upaya yang bakal membawa Jepang ke kehancuran total dengan menolak menyerah pada Sekutu itupun gagal. Sabda kaisar akhirnya disiarkan NHK tepat pukul 12 siang, 15 Agustus 1945, sebagai penanda berakhirnya Perang Dunia II.

  • Ketika Bung Hatta Murka

    Jakarta, 16 Agustus 1945. Mohammad Hatta baru saja berpisah dengan Sukarno, Sukarni dan Achmad Soebardjo selepas perjalanan panjang dari Rengasdengklok, Karawang. Rasa penat menjangkiti seluruh tubuhnya. Usai membersihkan diri dan akan memasuki kamar tidur, suara telepon berdering membatalkan niatnya untuk beristirahat sejenak. “Malam itu juga jam 10, kami dipanggil menghadap Soomubucho (Kepala Departemen Urusan Umum Pemerintah Militer Jepang di Indonesia) Mayor Jenderal (Otoshi) Nishimura…” kenang Hatta seperti dia tuliskan dalam Memoirs. Setelah berkoordinasi dengan Sukarno, mereka berdua kemudian pergi ke rumah Laksamana MudaTadashi Maeda, kepala penghubung Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) dengan Rikugun (Angkatan Darat Kekaisaran Jepang). Bersama Maeda, mereka berdua kemudian pergi ke tempat Nishimura. Malam menjelang puncaknya, saat dengan disertai Miyoshi (penerjemah dari Kaigun) mereka bertiga bertemu dengan Nishimura. Setelah berbasa-basi sebentar, Sukarno memulai pembicaraan. Isinya berkisar kepada rencana melanjutkan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sempat tertunda karena Sukarno-Hatta “diculik” kaum pemuda ke Rengasdengklok. “Kalau dia tidak dapat menyatakan persetujuannya (secara) terbuka, setidak-tidaknya dia hendaknya bersikap netral,” ungkap Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams). Di luar harapan mereka, Nishimura menyatakan bahwa sikap seperti itu tidak bisa lagi dijalankan oleh pemerintah militer Jepang di Indonesia. Menurutnya, Dai Nippon sudah tidak memiliki wewenang lagi, terlebih baru saja dia mendapatkan telepon dari Tokyo untuk mempertahankan status quo hingga tentara Sekutu datang ke Indonesia. “Kami sangat menyesal dengan janji-janji kemerdekaan yang telah kami berikan…Tentara Dai Nippon tidak lagi berdaya membantu Tuan,” ujar Nishimura dalam wajah muram. Sukarno terus coba meyakinkan Nishimura untuk “tutup mata” dengan situasi yang terjadi di Jakarta. Sesekali Hatta pun ikut bicara. Dia mengingatkan Nishimura akan janji Tenno Heika (Kaisar Hirohito) lewat Marsekal Hisaichi Terauchi di Saigon beberapa hari sebelumnya bahwa Indonesia akan merdeka dan rapat PPKI harus segera dilaksanakan. “Apabila rapat itu berlangsung tadi pagi, akan kami bantu. Tetapi setelah tengah hari, kami harus tunduk kepada perintah Sekutu dan setiap perubahan status quo tidak dibolehkan. Jadi sekarang rapat PPKI itu terpaksa kami larang,” jawab Nishimura. Perdebatan pun terus berlangsung alot. Sukarno coba menyodorkan solusi kompromis: pemerintah militer Jepang setidaknya jangan menghalang-halangi upaya bangsa Indonesia yang ingin merdeka. Karena jika Jepang tidak mampu lagi menepati janjinya, maka bangsa Indonesia akan berupaya memerdekakan dirinya sendiri.   “Kami bersedia mati untuk Indonesia merdeka…” ujar Sukarno. Nishimura mengerti dan tidak ragu terhadap tekad itu. Namun sekali lagi dia mengatakan bahwa tentara Jepang di Indonesia hanyalah alat. Dengan situasi seperti itu, tidak ada jalan lain bagi mereka selain menuruti semua perintah yang datangnya dari Tokyo. “Apakah tentara Jepang akan menembaki pemuda Indonesia jika mereka bergerak melaksanakan janji Jepang atas kemerdekaan Indonesia yang Jepang sendiri tidak sanggup menepatinya?” tanya Sukarno. “Apa boleh buat…” jawab Nishimura. Hatta yang sebenarnya sejak awal hemat berbicara dan berupaya tenang, tetiba menghentak: “Apakah itu janji dan perbuatan seorang Samurai?! Dapatkah seorang Samurai menjilat musuhnya yang menang untuk memperoleh nasib yang kurang jelek? Apakah Samurai hanya hebat terhadap orang yang lemah di masa jayanya, tetapi hilang semangatnya waktu kalah? Baiklah, kami akan jalan terus, apapun yang akan terjadi! Mungkin kami akan menunjukan kepada Tuan, bagaimana jiwa Samurai seharusnya menghadapi situasi yang berubah!” Tak jelas benar, apakah murka Hatta itu dipahami oleh Nishimura. Namun yang jelas, kata Hatta, dia melihat Miyoshi gugup saat menerjemahkan kata-katanya itu. “Aku duga ucapanku itu banyak “diperhalusnya”…” ujar Hatta. Setelah hampir dua jam mereka berdebat, tak jua ditemukan kesepakatan. Akhirnya, Sukarno dan Hatta memutuskan untuk pergi meninggalkan Nishimura. Mereka bergerak ke rumah Maeda, yang diam-diam sudah lebih dahulu pulang. Sesampai di rumah Maeda, mereka disambut dengan wajah muram sang laksamana muda. “Kelihatan Maeda geleng-geleng kepala,” ungkap Hatta. Dia kemudia menyilahkan Sukarno dan Hatta untuk masuk. Di sana sudah hadir secara lengkap semua anggota PPKI, para pemimpin pemuda dan beberapa pemimpin pergerakan…Semuanya ada kira-kira 40-50 orang terkemuka. Di jalan banyak pemuda yang menonton atau menunggu hasil pembicaraan.

  • Frits Kirihio, Disekolahkan Belanda lalu Memihak Indonesia

    Veronica Koman, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) jadi sorotan pemberitaan belakangan ini. Pemerintah menuntut Veronica mengembalikan dana beasiswa sebesar 773 juta rupiah. Angka tersebut diperoleh berdasarkan biaya yang dikeluarkan Kementerian Keuangan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) semasa Veronika menempuh pendidikan pascasarjana jurusan hukum di Australia National University. Banyak kalangan menyebut tuntutan untuk mengembalikan dana beasiswa itu bernuasa politis. Sebagaimana diketahui, Veronika merupakan pengacara yang lantang menyuarakan isu pelanggararan HAM di Papua. Dalam advokasinya, Veronika kerap kali menyudutkan pemerintah Indonesia di forum internasional atas pelanggaran HAM dan kekerasan yang terjadi di Papua ataupun yang menimpa orang Papua. Meski demikian, pemerintah berdalil sanksi finansial dikenakan kepada Veronika karena gagal memenuhi syarat wajib kembali ke Indonesia setelah lulus studi. Hingga kini, Veronika masih menetap di Australia dan enggan pulang ke tanah air. Sejarah memang selalu berulang dengan pelakon yang berganti atau bertukar. Jauh sebelum Veronica, ada seorang putra Papua yang juga persis sama situasinya dengan Veronika. Dia bernama Frits Kirihio. Anak Cerdas dari Serui Frits Maurits Kirihio lahir di Serui, Kepulauan Yapen pada 1934. Pertengahan 1950, anak cerdas ini disekolahkan di Universitas Leiden mengambil jurusan Ilmu Sosiologi. Menurut sejarawan Belanda Pieter Drooglever, Frits merupakan siswa Sekolah Pendidikan Amtenar Pribumi (OSIBA) yang berkesempatan meneruskan pendidikan tinggi ke Belanda. Ikatan dinas berlaku dalam beasiswa itu. Pada saat yang sama, Belanda sedang berkonflik dengan Indonesia mengenai status kekuasaan wilayah Papua yang dulu masih disebut Irian Barat. “Kirihio di Belanda dapat mengikuti langkah demi langkah diskusi mengenai masa depan Papua, dan dapat dimengerti ia tidak tenang dengan itu,” tulis Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri . Pada 1960, Frits mengambil cuti ke kampung halamannya. Lewat diskusi bersama rekannya sesama putra Papua terdidik, kesadaran politik Frits mulai terbentuk. Frits ikut dalam membidani pembentukan Partai Nasional (Parna) pada 10 Agustus bersama Herman Wajoi (ketua) dan Amos Indey (sekretaris). Parna bertujuan mempercepat kemerdekaan rakyat Papua dengan mengusung nasionalisme Papua. Selambat-lambatnya cita-cita Parna ini hendak dicapai pada 1970. Menurut sejarawan Papua, Bernarda Meteray, Frits Kirihio-lah yang menyampaikan idenya kepada Herman Wajoi dan Indey untuk membentuk partai politik. Frits Kirihio telah mengetahui keraguan di kalangan orang Belanda perihal Papua, apakah bisa menjadi suatu negara merdeka. Dalam aktivitasnya di Parna, Frits membuka kesempatan berdialog dengan pemerintah Indonesia. Sebagaimana termuat dalam suratnya pada November 1960 yang dikutip Bernarda dari arsip nasional Belanda, Frits mengatakan, “Kami menginginkan perdamaian di NNG (Papua) dan termasuk Indonesia.”    Bertemu Sukarno Jurnalis Belanda Dirk Vlasbom dalam buku Papoea Een Geschiedenis mengungkapkan bahwa Frits menjadi utusan Parna yang pergi ke Jakarta setelah Presiden Sukarno mendeklarasikan Trikora Pembebasan Irian Barat pada 19 Desember 1961. Frits berhasil masuk ke Indonesia atas bantuan Kolonel Donald I. Pandjaitan, atase militer Indonesia di Bonn, Jerman. Pandjaitan membekali Frits dengan paspor Indonesia. Di Jakarta, Frits diterima oleh Jenderal Abdul Haris Nasution di kediamannya, Jalan Teuku Umar. Dari sana, Frits dibawa ke Istana Bogor menemui Presiden Sukarno. “Frits, saya tidak punya apa-apa terhadap orang-orang Papua, kalian adalah saudara-saudara kami, tapi orang Belanda harus pergi. Kalau kalian mau merdeka, kalian akan mendapatkannya dari saya, dan bukan orang-orang Belanda,” kata Sukarno kepada Frits. Perbincangan tersebut dikutip Rosihan Anwar dari buku Vlasbom sebagaimana dilansir dalam Tabloid Suara Perempuan Papua , 16 Oktober 2008.     Pernyataan Sukarno ttu sepertinya menumbuhkan simpati Frits akan itikad baik Indonesia. Pada 2 Januari 1962, Bung Karno memperkenalkan Frits ketika berpidato di Parepare, Makassar. Dalam kesempatannya memberikan sambutan, Frits menyatakan dukungannya terhadap pemerintah Indonesia atas Irian Barat yang disambut dengan sorak-sorai rakyat. Penampilan Frits Kirihio bersama Sukarno itu jadi berita besar dalam media massa Indonesia. Kolaborasi ini sekaligus membantu kampanye Indonesia untuk menekan Belanda lewat pembentukan opini publik internasional. Harian Warta Bakti , 7 Januari 1962 mewartakan, “Hal ini membuat pemerintah Belanda marah mengingat Frits adalah mahasiswa Universitas Leiden yang dibiayai oleh ambtenaar Belanda di Irian Barat.” Menurut Frits, berafiliasi dengan pemerintah Indonesia merupakan satu-satunya solusi untuk menyelesaikan persoalan Papua. Keyakinan ini dipengaruhi anggapan Frits bahwa setiap provinsi di Indonesia memiliki kesempatan untuk memerintah sendiri. Frits bahkan menegaskan bawah realisasi hak menentukan nasib sendiri tidak mungkin tanpa pemerintah Indonesia. “Dia (Frits) beranggapan Papua akan memperoleh status sendiri apabila diserahkan kepada Indonesia,” kata Bernarda Meteray dalam disertasinya yang dibukukan dalam Nasionalisme Ganda Orang Papua . Kecewa dengan Indonesia Pada 15 Agustus 1962, Indonesia memenangkan sengketa Irian Barat melalui perjanjian New York. Tidak lama setelah itu, Frits kembali ke Belanda dan tinggal beberapa hari untuk menyelesaikan urusan pribadi. Setelah menyelesaikan urusannya, Frits kembali lagi ke Indonesia. Frits sempat menjadi penasihat Menteri Luar Negeri Soebandrio dalam Sekretariat Urusan Irian Barat. “Frits Kirihio kemudian berjuang untuk meyakinkan dunia bahwa West Nieuw Guinea merupakan bagian dari Indonesia, dan ia diangkat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara,” tulis Johannes Rudolf Gerzon Djopari dalam tesisnya yang dibukukan Pemberontakan Organisasi Indonesia Papua Merdeka . Arsip Nasional Belanda yang menyimpan potret Frits pada 19 Agustus 1962 menuliskan deskripsi bernada antipati. Frits Kirihio disebut sebagai mahasiswa Papua kontroversial, yang menyebabkan kehebohan setelah perjalanannya ke Jakarta. Oleh koleganya sesama putra Papua yang pro Belanda, Frits mendapat cap pengkhianat. Frits mengemban amanat sebagai anggota MPRS hingga tahun 1967. Dalam Keputusan Presiden Nomor 222 tahun 1967 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto itu, Frits diberhentikan dengan hormat. Menurut Drooglever, Frits kecewa dengan cara pemerintah Indonesia menangani Papua, khususnya dalam kebebasan berpendapat sehingga dia mulai melontarkan kritik. Setelah purnabakti dari pemerintahan Indonesia, Frits berkhdimat sebagai aktivis Gereja Kristen Injil (GKI) Papua. Frits mengisi waktunya dengan berkhotbah dan mengabdikan diri untuk kemajuan masyarakat Papua. Di senjakalanya, Frits sempat menetap di Jakarta selama sepuluh tahun. Dia pernah menjadi asisten Freddy Numberi, putra Papua yang menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan lalu Menteri Perhubungan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Frits Maurits Kirihio wafat di Jayapura pada 12 Agustus 2018. Dia meningalkan nama harum sebagai orang Papua pertama bergelar sarjana, salah satu putra terbaik yang dimiliki Papua. Sosok ini pula yang punya jasa bagi Republik Indonesia dalam penyatuan Papua namun sayangnya terlupakan.

  • Karl Doenitz, Panglima "Singa" Suksesor Hitler

    SEJAK awal  persidangannya di Pengadilan Nuremberg, 20 November 1945,   Großadmiral Karl Doenitz (Dönitz dalam ejaan Jerman) tak goyah  pada pendiriannya. Dia yakin tak bersalah meski tiga dakwaan dialamatkan majelis hakim padanya selaku Der Führer  (pemimpin tertinggi) Jerman Nazi terakhir. Saat penjatuhan vonis setahun kemudian (1 Oktober 1946) pun, Doenitz duduk dengan sikap bersahaja di barisan para terdakwa bekas antek Jerman Nazi di ruangan yang penuh sesak. Air mukanya tenang. Dengan seksama, ia mendengarkan pembacaan vonisnya oleh hakim asal Prancis Henri Donnedieu de Vabres via alat penerjemah bahasa di telinganya. “Pengadilan Kejahatan Perang Internasional Nuremberg memvonis Laksamana Besar Doenitz 10 tahun penjara. Doenitz terbukti bersalah atas dua dakwaan, yakni Kejahatan terhadap Perdamaian (merencanakan perang yang ilegal di mata Hukum Internasional) dan Kejahatan Perang (pelanggaran hukum perang). Tetapi Doenitz tidak terbukti bersalah atas dakwaan Konspirasi Perang,” kata Henri sebagaimana tersurat dalam arsip Office of Navy Intelligence (Dinas Intelijen Angkatan Laut  Amerika Serikat) yang dirilis Oktober 1946. Laksamana Besar Karl Doenitz sebagai terdakwa Pengadilan Nuremberg (Foto: Office of Naval Intelligence) Dua dari tiga dakwaan terhadapnya merupakan konsekuensi dari perintah yang ia terima pada 2 Agustus 1939, jelang invasi Jerman atas Polandia yang membuka Perang Dunia II. Sebagaimana dimuat berkas dakwaan Pengadilan Nuremberg, Doenitz saat itu menjabat sebagai panglima Armada Kapal Selam (U-Boat/kapal selam) yang baru dipromosikan dari pangkat komodor menjadi laksamana muda. Sebagai bawahan Panglima Kriegsmarine (AL Jerman) Großadmiral Erich Raeder, pada 2 Agustus 81 tahun lampau Doenitz menerima salinan perintah rahasia persiapan Operasi Koper Putih untuk menginvasi Polandia. Doenitz diperintahkan meracik rencana pengiriman sejumlah kasel ke Samudera Atlantik dan perairan di Polandia jelang invasi. Menyempurnakan Taktik Wolfpack Lahir di Grünau pada 16 September 1891, karier militer Doenitz bermula kala masuk Kaiserliche Marine (AL Kekaisaran Jerman) pada 1910 sebagai kadet. Saat pecah Perang Dunia I (1914-1918), Doenitz bertugas di kapal penjelajah ringan SMS Breslau hingga kapal itu dihibahkan kepada AL Kesultanan Utsmaniyah (kini Turki). Tak lagi punya kapal, Doenitz minta dimutasi ke kesatuan kapal selam (kasel). Setelah setahun mengenyam pendidikan lanjutan tentang kasel, pada 1917 Doenitz menjadi perwira pengawas di kasel U-39 dan setahun berselang berturut-turut menakhodai kasel U-25 dan U-68 . Pada 4 Oktober 1918, kaselnya mengalami masalah teknis hingga dia ditawan Inggris hingga setahun kemudian. Di masa penahanannya itulah Doenitz menyempurnakan strategi termasyhur, Rudeltaktik , yang kelak di Perang Dunia II dikenal Sekutu sebagai wolfpack alias kawanan serigala. Taktik itu mulanya digagas salah satu komandannya, Panglima Kasel Jerman Laksamana Hermann Bauer. Doenitz kala berpangkat Oberleutnant zur See sebagai perwira pengawas di kapal selam U-39 (Foto: nationalww2museum.org ) Kasel Doenitz tertangkap Inggris setelah Rudeltaktik Bauer gagal kala diimplementasikan menghadapi satu konvoi Sekutu di Laut Mediterania. Doenitz menganggap taktik itu akan sangat efektif jika arus komunikasi antar-kasel lebih lancar dan koordinasinya lebih baik. “Taktik kawanan (serigala) ini dikembangkan dalam pengetahuan yang jelas bahwa titik lokasi jadi masalah utama dalam perang kapal selam. Karena dalam konvoi yang terkonsentrasi, ruang yang kosong di lautan akan menjadi sangat luas. Di sisi lain hal terpentingnya adalah mengarahkan kasel sebanyak mungkin ke sebuah konvoi yang ditemukan, untuk kemudian mengatur konsentrasi kasel-kasel menghadapi sebuah konsentrasi konvoi,” ujar Doenitz dalam The Conduct of the War of Sea , yang dituliskannya di Penjara Spandau pasca-vonis Pengadilan Nuremberg. “Taktik ini menyerupai prinsip yang dipegang selama ribuan tahun oleh tiap militer: agar bisa menyerang sekuat mungkin di tempat dan waktu yang tepat. Organisasi dan kontrol kasel-kasel diantarkan gelombang radio panjang dan pendek dari pos komando di Paris, dan kemudian setelah November 1940 dari Lorient,” sambungnya. Taktik inilah yang diajukan Doenitz sepulangnya dari masa tahanan kepada rezim Hitler yang berkuasa penuh sejak 1934. Untuk bisa melancarkan taktiknya, Kriegsmarine harus menggenjot produksi kasel. Ia acap beradu argumen dengan Panglima Kriegsmarine Erich Raeder yang lebih memprioritaskan kapal perang permukaan. Kendati Doenitz bisa “memenangkan“ argumen terhadap Raeder, Kriegsmarine dalam kurun 1933-1936 hanya kebagian 13 persen dari total anggaran militer dari kabinet Hitler. Hingga 1936 ketika Doenitz sudah diangkat jadi panglima Kasel Jerman, ia hanya bisa mendapatkan 35 kasel anyar. Saat pecahnya Perang Dunia II, Doenitz ketambahan 28 kasel baru. Kolase Laksamana Doenitz saat sudah menjabat Panglima Kasel Kriegsmarine (Foto: Bundesarchiv) Meningkatnya produksi kasel Jerman menarik perhatian Royal Navy (AL Inggris). Dengan invasi Jerman atas Polandia, Perjanjian AL Anglo-Jerman empat tahun sebelumnya otomatis batal. Doenitz insyaf Inggris kembali jadi musuh yang bakal dihadapi lagi. “Pada 1 September 1939 Jerman menginvasi Polandia. Inggris dan Prancis pun mendeklarasikan perang terhadap Jerman dan Perang Dunia II dimulai. Pada 3 September pukul 11.15, Doenitz mendapat laporan bahwa AL Inggris mengirimkan sinyal ‘Total Jerman’ dari B-Dienst (Dinas Intelijen AL Jerman): ‘Ya Tuhan! Jadi Jerman kembali berperang dengan Inggris!’” tulis John Terraine dalam Business in Great Waters: The U-Boat Wars, 1916-1945 . Panglima Singa Betapapun kagumnya Doenitz pada reputasi legendaris Inggris sebagai penguasa lautan, toh ia mencoba tetap optimis. AL Inggris bakal dihadapinya lewat Pertempuran Atlantik, pertempuran laut terpanjang dan melelahkan (3 September 1939-8 Mei 1945). Di permulaan perang, Doenitz memiliki total 57 kasel. Dua puluh tujuh di antaranya ia kirim ke Samudera Atlantik. “Kita sudah kenal siapa musuh kita. Saat ini kita punya senjata dan kepemimpinan yang mampu menghadapi musuh seperti mereka. Perang ini akan berjalan sangat panjang: tetapi jika kita melakukan tugas kita dengan benar, kita akan menang,” seru Doenitz kepada para komandan kaselnya, dikutip Terraine. Meski jadi perwira Kriegsmarine favorit Hitler, Doenitz sering bentrok dengan Goering (Foto: nac.gov.pl ) Kasel-kasel Jerman sukses melancarkan taktik kawanan serigalanya. Kepemimpinan Doenitz yang lugas dan tegas mengundang kekaguman banyak koleganya, termasuk Panglima Raeder. Doenitz pun dijuluki “singa” di kalangan militer Jerman Nazi. Namun walau dalam semester pertama 1940 (Januari-Juni) kasel-kasel Jerman mampu menenggelamkan nyaris 200 kapal dagang Sekutu di Atlantik, Kriegsmarine kehilangan sedikitnya 15 kasel. Raeder yang mulai akur dengan Doenitz pun lantas menghadap Hitler untuk meminta anggaran lebih guna produksi lebih banyak kasel. Usahanya gagal lantaran Panglima Luftwaffe (AU Jerman) Reichsmarschall Hermann Goering, pejabat tertinggi kedua Jerman Nazi setelah Hitler, tak menyetujuinya. Goering punya rencana lain dengan anggaran negara, yakni hendak membesarkan postur Luftwaffe. Sebagai solusinya, Hitler memberinya 26 kasel bantuan Italia yang merupakan sekutu Jerman. Permintaan Doenitz-Raeder kepada Hitler pada 1941 berupa satu skadron patroli maritim dan pesawat pembom juga “di-veto“ Goering. Sebagai gantinya, Goering mengizinkan dibentuknya sebuah komando bantuan Luftwaffe untuk Kriegsmarine, Fliegerführer Atlantik , namun tetap berada di bawah kontrolArmada Udara ke-3.  Satuan udara maritim itu baru terbentuk pada April 1941. Itupun terdiri dari sekitar 80 pesawat sisa kekuatan utama Luftwaffe, seperti pesawat intai maritim Focke-Wulf Fw-200, pembom medium Heinkel He-111, pembom torpedo Heinkel He-115, pembom Messerschmitt Bf-110, dan pesawat tempur multiperan Junkers Ju-88. “Per 30 Januari 1943, Doenitz dipromosikan menggantikan Raeder sebagai Panglima AL Jerman Nazi dengan pangkat g roßadmiral. Promosi yang tentu disambut gembira Hitler yang mengagumi patriotisme dan profesionalismenya, serta yang utama, loyalitasnya. Tapi seiring jabatannya, ia sengaja mengabaikan fakta-fakta holocaust yang dihasilkan dari peperangan itu,“ sambung Terraine. Sejak jadi panglima, Doenitz melancarkan evakuasi kolosal di awal 1945 untuk menyelamatkan ratusan ribu pasukan Jerman dari front timur (Foto: nac.gov.pl/dhm.de ) Setelah kegagalan Goering di Pertempuran (udara) Britania (Juli-Oktober 1940) dan mulai mundurnya posisi Jerman di berbagai front darat, Doenitz dianggap sebagai satu-satunya perwira tinggi yang loyal. Cap itu berangkat dari prestasi Doenitz yang tidak terlibat dalam konspirasi Plot 20 Juli yang mencoba membunuh Hitler (1944) dan memberi Hitler kegembiraan pasca-invasi Sekutu ke Normandia. Pada November-Desember 1944, kasel-kasel Doenitz yang tersisa sekitar 40-an masih sanggup menenggelamkan banyak kapal logistik Sekutu berbobot 85.639 ton di perairan Inggris. “Kami mengalami masa-masa berat dengan U-boats. Kami bisa menguasai 90 persen ruang udara tapi di perairan dangkal kami kerepotan,“ tutur Panglima Armada Inggris Laksamana Andrew Cunningham, dikutip Terraine. Setelah menyadari Jerman kian terdesak oleh Uni Soviet dari timur, pada Januari 1945 Doenitz menggelar Operasi Hannibal untuk mengevakuasi sisa-sisa pasukan Jerman di front timur melalui pesisir Polandia. Mirip dengan operasi evakuasi Inggris di Dunkirk (Mei-Juni 1940), Doenitz mengerahkan setiap benda yang bisa berlayar, mulai dari perahu nelayan, kapal kargo, kapal pesiar, hingga kapal Kriegsmarine yang tersedia. Kolase Doenitz sebagai Führer terakhir Jerman dalam penahanan hingga Pengadilan Nuremberg (Foto: National Archives/iwm.org.uk) Dalam 15 pekan pertama operasi, sekira 350 ribu pasukan dan 900 ribu warga sipil Jerman dievakuasi ke Jerman Utara dan Denmark, yang masih diduduki Jerman, via Laut Baltik. Sepekan jelang kapitulasi (1-8 Mei) Jerman, total 168 ribu pasukan dan sipil berhasil diselamatkan sehingga terhindar dari penawanan Uni Soviet. Penawanan amat dihindari karena setelah kapitulasi, pasukan Jerman yang ditawan Soviet mesti menghadapi nasib getir dikirim ke gulag-gulag di Siberia. Menjelang akhir perang pula Doenitz ketiban tanggung jawab terbesar setelah dipilih jadi pewaris Hitler sebagai Presiden Jerman pasca-Hitler bunuh diri (April 1945). Karena itulah Doenitz jadi tawanan dengan jabatan tertinggi yang disidang di Pengadilan Nuremberg. Dalam vonisnya, Doenitz dihukum 10 tahun bui di Penjara Spandau. Selepasnya dari masa tahanan, 1 Oktober 1956, Doenitz menghabiskan hari tuanya di Aumühle, desa terpencil di timur kota Hamburg, hingga mengembuskan nafas terakhir pada 24 Desember 1980 karena serangan jantung. Sebagai pensiunan perwira Jerman terakhir dengan pangkat großadmiral, pemakamannya di Waldfriedhof dihadiri banyak mantan anak buahnya dan perwira AL asing yang menghormatinya.

  • Bangunan Misterius di Bawah Stasiun Bekasi

    EKSKAVATOR raksasa itu tak henti mengeruk tanah. Di dekatnya, para pekerja dengan hati-hati mengoperasikan alat berat lain untuk mengangkat satu per satu batang baja ke rangka bangunan baru di sisi selatan peron dan rel kereta Stasiun Bekasi. Tak jauh darinya, menganga cerukan pondasi yang ternyata bangunan lawas berbentuk setengah lingkaran terbuat dari bata. Penampakan bangunan yang tertimbun tanah di situs proyek DDT ( double-double track ) itu mulanya diviralkan warganet, Silvia Galikano, di akun Facebook -nya pada 1 Agustus 2020. “Saat pelebaran Stasiun KA Bekasi, terlihat setidaknya dua plengkung ini. Dahulu terowongankah? Dahulu permukaan tanah di bawah situ? Jadi dulu rel di mana? Jalan di mana? Kali di mana? Warga Bekasi bertanya,” tulisnya. Ahmadi, salah satu penanggungjawab proyek, membeberkan, pihak kontraktor tak diberi laporan tentang adanya temuan bangunan itu. “Memang dari awal kita melanjutkan proyek ini tidak ada pemberitahuan apa-apa. Hanya dari pihak BPCB yang di Serang (Balai Pelestarian Cagar Budaya, Ditjen Kebudayaan) disepakati kita hanya menyelamatkan satu jendela lama zaman Belanda, untuk kita tempatkan sebagai warisan sejarahnya di spot  historis nanti di bangunan baru stasiun,” ujarnya kepada Historia  saat ditemui di lokasi proyek pada Rabu, 5 Agustus 2020. Penelusuran lokasi bangunan misterius yang diduga dari era kolonialisme Belanda di timbunan proyek DDT (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Sepenelusuran Historia, temuan bangunan misterius itu ternyata tak hanya satu. Setidaknya ada empat sampai lima bangunan serupa walau hanya beberapa yang masih kentara struktur batu batanya. Sejumlah dugaan tentang bangunan itupun bermunculan. Sejarawan cum anggota tim Cagar Budaya Kota Bekasi Ali Anwar, dikutip portal berita lintasbekasi.com , Senin (10/8/2020), menduga bangunan itu adalah saluran air bawah tanah. Okie Rishananto dari Front Bekassi menduga bahwa bangunan itu merupakan gorong-gorong untuk keretaapi, seperti dokumentasi pembangunan struktur serupa di Rancaekek tahun 1916 yang ia perlihatkan dari salinan foto CM Luijks. Meski bentuknya sama, struktur bangunan di Rancaekek terbuat dari batu kali, bukan batu bata seperti di Stasiun Bekasi. Ahmadi (kiri) penanggung jawab proyek DDT di Stasiun Bekasi (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Sementara, penggiat sejarah keretaapi Adhitya Hatmawan menerka, itu adalah bangunan semacam jembatan keretaapi. “Bisa jadi itu struktur pondasi lama Bangunan Hikmat (jembatan keretaapi, red .) di eranya BOS (Bataviasche Ooster Spoorweg). Tapi harus dilihat lagi peta lama halte Bekasi pada masa itu,” tutur Adhit. BOS merupakan perusahaan keretaapi era Hindia Belanda yang berdiri pada 1870 dan mengoperasikan jalur keretaapi dari Batavia (kini Jakarta) ke timur, yakni ke Jatinegara. Hingga 1950-an, Bekasi masih bagian dari Kabupaten Jatinegara. Kemiripan bentuk gorong-gorong di Rancaekek dengan bangunan msterius di Stasiun Bekasi (Foto: CM Luijks/Randy Wirayudha) Terlepas dari banyaknya dugaan itu, masih dibutuhkan penelusuran lebih dalam untuk menemukan jawaban atas bangunan itu dan kapan dibangunnya. Tim ahli Cagar Budaya Kota Bekasi kabarnya sudah merekomendasikan pada Pemkot Bekasi untuk bekerjasama dengan BPCB guna mengadakan kajian lebih lanjut sebelum temuan itu jadi tumbal pembangunan. “Baiknya pihak-pihak terkait untuk stop dulu untuk ekskavasi dan dokumentasi. Ini bisa jadi sejarah Bekasi yang hilang. Akan sayang sekali kalau memang tidak ditelusuri lebih jauh,” kata Okie.

  • Murka Amangkurat I

    Petualangan Pangeran Anom dalam mencari cinta akhirnya selesai. Seorang gadis asal Kali Mas, Surabaya, berhasil mencuri hati si putra mahkota kerajaan Mataram tersebut. Oyi, putri mantri Ngabei Mangunjaya, telah benar-benar mengikat Pangeran Anom. Namun bukan kebahagiaan yang menanti mereka. Kemurkaan sang ayah, Amangkurat I, menghancurkan segalanya. Sejak dibawa keluar dari rumah orang tuanya, garis takdir telah mengantar Oyi menjadi calon ratu di istana Mataram. Tetapi bukan sebagai pendamping Pangeran Anom, melainkan istri bagi Amangkurat I, yang baru saja kehilangan cintanya. Oyi yang kala itu masih berusia 11 tahun dianggap terlalu kecil untuk dipinang. Karenanya Amangkurat I meminta salah seorang mantrinya, Ngabei Wirareja, untuk mengurus hingga si gadis tumbuh dewasa. Di sinilah kekacauan bermula. Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijkroniek , Oyi yang sudah remaja secara tidak sengaja ditemukan Pangeran Anom. Seketika itu juga si pangeran jatuh cinta kepadanya. Meski telah diberitahu bahwa gadis itu kelak akan menjadi istri ayahnya, cinta telah membutakan Pangeran Anom. Berbagai resiko rela ia hadapi demi bisa bersama sang pujaan hati. “Ia jatuh sakit karena cintanya itu. Berbaring beselimut kain dodot dan mengunci diri di dalam kamar, tidak makan dan tidak tidur,” tulis Meinsma. Sementara itu H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram menyebut Pangeran Anom dibantu oleh kakeknya, Pangeran Purbaya, untuk memboyong Oyi ke luar dari rumah Wirareja. Dengan iming-iming harta berlimpah, Wirareja “menjual” Oyi ke Pangeran Anom. Mengenai kakek yang membantu Pangeran Anom, di dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa sosok tersebut adalah Pangeran Pekik, mertua Amangkurat I. Namun hasil penelitian De Graaf berkata lain. Menurutnya Pangeran Pekik yang telah dihukum mati tahun 1659 tidak mungkin muncul kembali pada 1669. Sehingga ia meyakini bahwa Pangeran Anom dibantu oleh saudara Pangeran Pekik, yaitu Pangeran Purbaya. “Menurut sumber Belanda, berbeda dengan sumber Jawa, Panembahan Purbaya selalu membangkan terhadap kemenakannya, Sunan Mangkurat I. Oleh karena itu, keluarga Purbaya juga terdapat di kalangan pihak pemberontak,” ucap De Graaf. Hukuman Raja Peristiwa diboyongnya Oyi dari kediaman Wirareja akhirnya terdengar juga ke telinga Amangkurat I. Raja yang sedang menata kembali pemerintahannya setelah sempat ia tinggalkan, dibuat tidak percaya dengan tindakan putranya itu. Sudah dua kali Pangeran Anom mengecewakan ayahnya. Kejadian itu pun sudah tidak dapat membendung kemarahan raja. Dalam laporan seorang utusan Belanda, Abr Verspreet, pada 6 November 1668, disebutkan kalau kemurkaan Amangkurat I langsung ditujukan kepada putranya, Wirareja, dan Purbaya. Mereka dianggap sebagai pembangkan. Raja segera mengeluarkan titah untuk menghukum ketiganya. Sebagai permulaan, Amangkurat I menyuruh pasukannya menghancurkan kediaman ketiganya. Istana Pangeran Anom dibakar habis. Rumah-rumah di sekitarnya juga tidak luput dari keganasan pasukan raja. Beberapa sumber bahkan menyebut tindakan para utusan raja di kediaman Pangeran Anom telah diluar kendali. Mereka menjarah, merusak, serta menangkap orang-orang yang dianggap dekat dengan Putra Mahkota. Pada 10 Juli 1669, pemerintah Belanda di pusat menerima laporan resmi dari Residen Amelis Valee tentang keadaan istana Pangeran Anom. Pejabat Belanda yang bertugas mengawasi Mataram itu menyebut istana pangeran telah dibakar habis. Pangeran Anom diceritakan berhasil bertahan. Ia dan Oyi saat terjadi penyerangan sedang berada di dalam istana. Namun keduanya luput dari maut. Sejak diboyong Pangeran Anom, raja memang sudah tidak mengharapkan kehadiran Oyi di Istana Mataram. Sehingga keselamatannya sama sekali bukan prioritas. “Siksaan apa yang dilakukan sunan terhadap putranya tidak disebutkan. Tetapi menurut Verspreet, soal itu lebih serius daripada yang diduga di Batavia,” tulis De Graaf. Sementara Si Pangeran didisiplinkan sang ayah, dua orang lainnya harus menghadapi nasib yang jauh lebih menyedihkan. Pangeran Purbaya beserta keluarganya diasingkan ke Lipura. Tempat tinggalnya dihancurkan. Banyak pengikutnya yang dihabisi. Dan belakangan keluar titah untuk mencabut nyawa Purbaya. Babad Tanah Jawi mencatat ada sekitar 40 orang korban kemurkaan Amangkurat I tersebut. Wirareja sendiri mendapat hukuman terberat. Kemarahan dan kekecewaan Amangkurat I kepadanya begitu besar. Ia bersama istri dan anak-anaknya diusir ke Ponorogo. Menurut tutur Serat Kandha , Wirareja ditinggalkan di hutan belantara. Awalnya raja ingin membiarkan mereka hidup terasing di sana. Tetapi kemudian turun perintah baru untuk membunuh keluarga tersebut. Nasib Rara Oyi Meski pernah tergila-gila dengan Oyi, Amangkurat kepalang murka. Ia sudah tidak bisa menerima keberadaannya. Naskah Babad Tanah Jawi menceritakan, Amangkurat I lalu memberi kesempatan kepada Adipati Anom untuk menebus kesalahannya. Sang ayah tidak akan mengusirnya. Kedudukannya sebagai pangeran pun dipertahankan. Namun titah raja begitu berat. Pangeran Anom harus menghabisi nyawa Rara Oyi dengan tangannya sendiri. Kali ini ia tidak bisa menentang perintah sang ayah. Pangeran Anom sudah kehilangan kekuasannya sehingga tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan. Maka ia pun pergi menemui Oyi. Pangeran Anom memeluk perempuan yang dikasihinya itu, lalu menusuknya dengan sebilah keris. Nyi Oyi tewas dipangkuan lelaki pujaannya. Naskah Babad Tanah Jawi menggambarkan betapa pedihnya hati Pangeran Anom ketika mendapat titah tersebut. “Pangeran Adipati akhinya dimaafkan oleh ayahandanya dan kembali ke tempat asalnya. Hingga akhirnya memberontak melawan ayahandanya dengan bantuan Trunajaya,” kata Filolog Adi Deswijaya kepada Historia . Sejak kembali kehilangan orang yang dicintainya, Amangkurat I sikapnya berubah. Menurut W.L. Olthof dalam Babad Tanah Jawi: Mulai dari Nabi Adam sampai Tahun 1647 , ia jadi suka menyiksa orang, dan selalu menebar maksiat. Orang-orang di sekitarnya pun suka bertindak sembarangan dalam kedudukannya. Ketentraman negara terusik. Masyarakat mulai tidak nyaman tinggal di Mataram. Banyak fenomena alam tidak lazim terjadi. Memandakan negara sedang rusak.

  • Di Balik Perilaku Seks Para Raja

    Hubungan seksual para raja bukan sekadar persoalan nafsu. Ada yang menjadikannya cara mendapatkan legitimasi. Ada pula yang berhubungan dengan laku spiritual.  Filolog dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Universitas Veteran Bantara Sukoharjo, Adi Deswijaya menjelaskan bahwa dalam teks Jawa terdapat Asmaradana . Kata  asmara  (baca: asmoro )   berarti asmara dan  dahana  berarti api.  "Api asmara yang dilakukan bangsawan dan raja-raja masa lalu terdapat dalam teks-teks," kata Adi dalam dialog sejarah "Seks Zaman Dahulu Kala dari Fetish sampai Bestialitas" yang disiarkan langsung melalui saluran Youtube  dan Facebook Historia.id , Selasa, 11 Agustus 2020.   Dalam teks Jawa Baru ditemukan beberapa variasi kata  asmara.  Di antaranya  asmaratantra  ketika bersinggungan dengan seorang perempuan. Asmaranada ketika berbicara.  Asmaratura  ketika saling pandang. Asmaranala  ketika dalam taraf berkirim surat. Asmaragama  ketika sudah sampai tidur bersama melakukan persetubuhan. "Meskipun hanya bersinggungan atau baru saling pandang atau baru berbicara tetapi keluar air mani karena begitu menggebu hasrat cintanya bisa dikatakan asmaragama ,"   kata Adi. "Ini kata Ranggawarsita dalam suratnya kepada Winter pada 15 Desember 1842." Adi menjelaskan dalam filosofi Jawa, lelaki utama harus memiliki empat hal yaitu curiga  (keris),  wisma  (rumah),  wanita  (perempuan),  turangga  (kendaraan),  kukila  (burung). Maka, seperti dalam  Babad Tanah Jawi , kisah api asmara juga berhubungan erat dengan pertunjukkan kekuasaan seorang raja.  "Di dalam   Babad Tanah Jawi  banyak cerita tentang  asmaradana,  api asmara seorang bangsawan zaman dulu, perebutan harta, takhta, dan wanita," kata   Adi. Seks sebagai Legitimasi Adi menerangkan bahwa  Babad Tanah Jawi  ditulis oleh Yasadipura I, pujangga masa pemerintahan Pakubuwana III (1749–1788) dan IV (1788–1820). Itu dilihat dari isi dan urutan ceritanya.  "Karena bait-bait terakhir Babad Tanah Jawi  berkelanjutan di Babad Giyanti yang memang jelas karya Yasadipura I.  Babad Tanah Jawi  menurut saya zaman Pakubuwana III," kata Adi. Contoh kisah api asmara bangsawan dalam  Babad Tanah Jawi adalah   tentang Sultan Mangkurat Mataram yang merebut Ratu Malang. Padahal, ia sudah bersuami Ki Dalem dan sedang hamil. Namun, karena kecantikan Ratu Malang, Sultan Mangkurat tak peduli dan tetap ingin memilikinya. Ki Dalem pun dibunuh. Ratu Malang yang sedih ikut meninggal.   Jenazahnya   dibiarkan di dalam keraton,   tidak langsung dikebumikan oleh sultan. "Akhirnya sultan bermimpi kalau Ratu Malang sudah bertemu Ki Dalem. Baru sultan mau memakamkan," kata Adi.  Di  Babad Tanah Jawi  juga ada kisah raja yang berhubungan dengan makhluk halus, seperti cerita Panembahan Senopati dengan Ratu Pantai Selatan. Ada juga kisah Jaka Tarub dan bidadari Nawang Wulan.  Menurut Adi, seorang raja bisa memperoleh legitimasi kekuasaan dari keahlian bercinta. Termasuk dengan makhluk astral, sebagaimana cerita Panembahan Senopati.  "Tampak adanya legitimasi untuk menaikkan kharisma dan wibawa raja yang absolut, bahwa apa-apa yang diminta harus dituruti. Meski seorang raja juga harus berbudi luhur," ujar Adi. Dalam konsep kekuasaan Jawa, menurut Adi, selain didorong nafsu, perempuan yang diinginkan raja biasanya memiliki pengaruh secara politik. Namun, tak selamanya raja yang lebih dulu menginginkan perempuan. Ada kasus ayah atau rakyat justru yang memberikan anaknya kepada rajanya. "Karena rakyat merasa itu anugerah jika anaknya bisa menjadi selir raja," kata Adi.  Ada persepsi pula memiliki banyak selir menyimbolkan kekuatan seorang raja. "Kembali ke filosofi Jawa, lelaki utamanya harus memiliki  curiga ,  wisma ,  wanita,   turangga , dan  kukila ," lanjut Adi. Seks sebagai Laku Spiritual Dalam tradisi Jawa, seks bukan cuma mengejar kenikmatan semata. Seks menjadi laku spiritual yang harus sesuai dengan ketentuan Tuhan.  Itu tercermin dalam  Serat Centhini , karya bersama para pujangga Keraton Surakarta di bawah arahan Pakubuwono V ketika masih menjadi putra mahkota. Serat ini selesai pada 1814. Ceritanya, setelah menikah, Syekh Amongraga dan Ken Tembangraras tak langsung melakukan persetubuhan. Mereka menunggu selama 40 hari baru melakukan persetubuhan. Seks dalam tuntunan Jawa intinya adalah kesabaran. "Dalam Centhini  kenapa harus menunggu 40 hari, karena ujung-ujungnya spiritual," kata Adi.   Uniknya,  Serat Centhini  juga memuat interaksi seksual dari berbagai orientasi. Bahkan, dikisahkan pula perilaku bestialitas yakni berhubungan seksual dengan kuda.  "Dalam bentuk ilham melalui mimpi Ki Kulawiryo untuk penyembuhan Nuripin yang mengalami sakit raja singa atau sipilis," kata Adi. Model penceritaan dalam  Serat Centhini  itu berhubungan dengan proses penciptaan naskah. "Dalam  Serat Centhini,  Pakubuwana V yang waktu itu putra mahkota berusaha menampilkan karya sastra berisi fenomena negatif dan positif di Jawa, tapi terkait agama juga ajarannya," ujar Adi. Sebelum memprakarsai  Serat Centhini, Pakubuwana V membaca  Serat Wulangreh  warisan ayahnya. Di dalamnya hanya berisi ajaran agama. "Kalau begini tak akan menarik. Jadi ia membuat suatu metode pengajaran agar yang baca tidak bosan. Lewat jalan cerita kemudian dalam bentuk tembang," kata Adi. Pakubuwana V memerintahkan tiga orang, yaitu Raden Ngabehi Ronggosutrasno, Yasadipura II, dan Raden Ngabehi Sastradipura. Ronggosutrasno diperintahkan memeriksa daerah Jawa bagian tengah ke timur. Ia menyusuri wilayah utara ke timur, lalu ke selatan hingga kembali ke tengah.  "Apa yang dilihat dan diketahui selama perjalanan itu disuruh dicatat," kata Adi.  Yasadipura diperintahkan mengamati Jawa bagian tengah ke barat. Ia menyusuri wilayah utara ke barat, lalu ke selatan kembali ke Jawa Tengah. Ia juga disuruh mencatat apa saja yang ditemuinya. Terakhir, Sastradipura diperintahkan naik haji ke Makkah untuk mempelajari ilmu agama. Setelah kembali, ia mencatat bagian keagamaan dari  Serat Centhini . Ia akhirnya berganti nama menjadi Muhammad Ilhar.   Karena isinya begitu luhur, banyak pujangga dan sastrawan Jawa kemudian  mutrani  (duplikasi) kembali  Serat Centhini.  Contohnya  Masalah Saresmi  dan  Kawruh Sanggama.  Masalah Saresmi  berisi ajaran Rasul kepada anaknya Fatimah az-Zahra dan  Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di antaranya adalah larangan dan tuntunan bersenggama.  " Nggak  boleh tanggal pertama dan terakhir bulan.  Nggak  boleh hari Minggu dan Rabu. Jangan matikan lampu, akan berakibat anaknya  bodo , celaka, menjadi durjana, dan sebagainya," kata Adi.  Sedangkan Kawruh Sanggama  merupakan ajian  asmaragama  yang didapat Batara Guru dari Sang Hyang Tunggal dengan bertapa. Karena sebelumnya ia memiliki empat putra yang wataknya tidak baik.  "Kemudian menggunakan ajian  asmaragama  akhirnya punya anak Sang Hyang Wisnu," kata Adi.  Kawruh Asmaragama  mengatur sikap dan tata cara dalam melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut   istilah s anggama, karonsih, saresmi  dan istilah lain dalam Jawa yang didasari watak  lila ,  narima ,  temen , dan sabar akan dapat menghasilkan hakikat kebenaran sejati pasangan.  "Semua perbuatan haruslah didasari ilmu. Ilmu dapat menuntun kita ke arah hal positif," ujar Adi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page