top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bukti Toleransi dari Candi

    Dua bangunan suci kembar yang megah dari masa lalu menyembul di tengah persawahan dan permukiman warga di Dusun Plaosan Lor, Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Puncak-puncak stupa menghiasi atapnya. Di sekelilingnya 174 candi yang lebih mungil disusun dalam tiga baris. Sebagian besar sudah runtuh, sebagian lainnya telah dipugar kembali.  Kompleks Percandian Plaosan Lor itu, menurut Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), adalah wujud toleransi yang telah berakar di tengah masyarakat Nusantara sejak masa silam. Percandian dari era Mataram Kuno abad ke-9 itu didirikan secara bergotong royong.  “Dibangun oleh maharaja yang beragama Buddha Mahayana, tapi candi-candi kecilnya dibangun oleh raja beragama Hindu,” kata Bambang yang akrab disapa Tomi dalam diskusi daring yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berjudul “Toleransi, Akar Lama Penguat Bangsa”, Kamis, 29 April 2021. Sikap toleransi bukan hal baru bagi masyarakat Nusantara. Mengingat kawasan Nusantara telah menjadi tempat bertemunya bangsa-bangsa dari segala penjuru dunia. “Ada India, Tiongkok, lalu sekira abad ke-14 ada Eropa. Kita dari sini melihat yang tadinya dihuni penutur bahasa Austronesia lalu bercampur dengan lainnya, maka masyarakat kita jadi multikultural, bukan hanya multietnis,” kata Tomi. Akar Toleransi Beragama Dalam Candi Indonesia Seri Jawa, arkeolog Edi Sedyawati menjelaskan candi-candi di Plaosan Lor dibangun sebagai dharma yang dipersembahkan oleh raja, keluarganya, dan para pejabat tinggi kerajaan sebagai wakaf bangunan suci kebuddhaan. Pada candi-candi kecil atau perwara terdapat prasasti pendek yang menyebutkan nama para penyumbang atau pemberi wakaf. Di antaranya adalah dharmma sri maharaja, asthupa sri maharaja Rakai Pikatan (Stupa persembahan Rakai Pikatan), anumoda sang kalung warak Pu Daksa (persembahan Sang Kalungwarak Pu Daksa), anumoda sri kahulunnan (persembahan Sri Kahulunnan), dan anumoda sang da pankur pu agam (persembahan Sang Da Pangkur Pu Agam). Dalam “Laporan Penelitian Candi Sari, Prambanan, Yogyakarta” yang disusun arkeolog Soeroso SP, Titi Surti Nastiti, Bambang Budi Utomo, Richadiana Kartakusuma, dan P.E.J. Ferdinandus pada 1985 , dijelaskan sesuai prasasti pendek itu, nama Rakai Pikatan bersama Sri Kahulunan mendirikan candi Buddhis. Sementara di dalam Prasasti Siwagrha (856 M) Rakai Pikatan dihubungkan dengan pembangunan candi untuk pemeluk agama Siwa.  Adapun Sri Kahulunan dalam beberapa prasasti dihubungkan dengan pendirian bangunan suci bagi penganut Buddha. Misalnya, Prasasti Tri Tpusan (842 M) menyebut dia meresmikan kamulan bernama Bhumisambhara yang banyak diartikan sebagai Candi Borobudur. “Sri Kahulunan adalah gelar Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga yang beragama Buddha. Dia menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Siwa. Tak heran jika bersama-sama mendirikan suatu bangunan suci,” tulis laporan penelitian itu. Karenanya menurut Tomi, pada abad ke-9 para pemeluk Buddha dan Hindu hidup damai berdampingan. “Saling membantu dalam pendirian bangunan suci meski keyakinan berbeda,” kata Tomi. Sekira pada masa yang sama hubungan harmonis antara kedua agama itu nampak pula dalam Arca Awalokiteswara yang ditemukan di Desa Bingin Janggut, Musi Rawas, Sumatra Selatan. Arca ini berasal dari masa Sriwijaya sekira abad ke-8 hingga ke-9. Di bagian punggungnya terpahat sebuah tulisan dalam bahasa Melayu Kuno: “ dang acaryya syuta ”. “Ini adalah arca Buddha Mahayana, arca bodhisatva yang dibuat untuk dipersembahkan kepada masyarakat penganut Buddha dari seorang pendeta Hindu,” jelas Tomi . “Dihadiahkan oleh pendeta Hindu bernama Syuta. Dang acaryya adalah gelar pendeta Hindu.” Toleransi antara pemeluk Hindu dan Buddha, menurut Tomi, muncul pula pada pembangunan Candi Jawi di Desa Candi Wates, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. KakawinNagarakrtagama menyebut Candi Jawi didirikan Kertanagara, raja terakhir Singhasari. Pengelolaan candi juga dilakukan oleh sang raja.  Ketika Kertanagara wafat, candi ini dijadikan pendharmaan baginya. Kemudian dia diziarahi oleh Hayam Wuruk, yang tak lain adalah cicitnya, penerus Dinasti Rajasa. “Di sinilah para penganut agama Siwa-Buddha melakukan ritual,” catatnya sebagaimana diterjemahkan Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama. Pada Candi Jawi, Tomi menjelaskan, bagian atas tubuh candi melambangkan aliran Buddha, sedangkan bagian bawahnya bernapaskan ajaran Siwa.  “Di candi inilah terbentuk toleransi di bidang agama, ajaran yang berkembang pada masa Singhasari (ajaran Siwa-Buddha),” jelas Tomi . Pada masa yang lebih modern toleransi terlihat dari sikap penguasa Kesultanan Tidore terhadap para misionaris Jerman. Pada 5 Februari 1855, Carl Willem Ottow dan Johann Gotteb Geissler, pekabar Injil dari Jerman tiba di Pulau Mansinam, Papua. Mereka singgah terlebih dahulu di Ternate sebelum bertolak ke Papua. “Di awal tugasnya mengkristenkan Papua, mereka mendapat izin dan bantuan Sultan Tidore. Dari Ternate mereka diantar Sultan Tidore menuju Papua dengan kapal,” jelas Tomi. Hingga kini orang Papua memperingati Hari Pekabaran Injil setiap 5 Februari. Kedatangan Ottow dan Geissler dirayakan setiap lima tahun sekali dengan arak-arakan replika perahu yang digunakan Sultan Tidore saat mengantar kedua misionaris itu. Jejak toleransi di Nusantara, kata Tomi, rupanya tak hanya dari sisi agama. Tapi juga dalam lingkup adat dan kebiasaan dari suku bangsa yang berbeda.  Soal itu banyak yang bisa dipelajari dari temuan masa prasejarah. Misalnya, temuan di Gua Harimau di daerah hulu Sungai Ogan, Baturaja, Sumatra Selatan. Gua itu dihuni sejak sekira 22.000 tahun lalu hingga awal masehi.  Para arkeolog menemukan sebanyak 81 individu kerangka manusia dari ras Australomelanesid dan Mongoloid di dalam gua itu. Ras Australomelanesid adalah penghuni awal. Sementara ras Mongoloid penghuni selanjutnya. “Mungkin kedua ras itu sempat hidup berdampingan,” kata Tomi. “Mereka sudah bergaul antarras.” Bahaya Intoleransi Hidup tanpa sikap toleransi amat berbahaya, khususnya di Indonesia. Begitu menurut Franz Magnis-Suseno, guru besar filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. “Indonesia adalah negara paling majemuk di dunia, dengan ratusan etnik dan bahasa, perbedaan agama dan kepercayaan. Betapa berhasil Indonesia sampai sekarang dalam hal toleransi,” kata Magnis . Perjalanan masyarakat Nusantara selama 2.000 tahun terakhir membuktikan keberhasilan itu. Bahwa perbedaan dalam agama dan ras tak membuat orang-orang saling membunuh. Namun itu justru memperkuat dan mengembangkan identitas masyarakat Nusantara. “Saya pernah membaca tulisan orang Amerika, bahwa Indonesia adalah bangsa yang tak masuk akal selama 76 tahun, mantap berdiri tak memberi kesan akan pecah. Bagaimana prestasi ini mungkin?” kata Magnis. Secara tradisional masyarakat Indonesia begitu terbuka dan toleran. “Orang Indonesia bahkan di pedalaman saja ta h u di dekatnya ada orang berbahasa lain, kepercayaan lain, mereka menerima,” kata Magnis. Menurut Magnis, sikap intoleran muncul pada masyarakat karena adanya tekanan yang mereka rasakan. Termasuk perasaan tidak adil dan terdeskriminasi. “Suatu kelompok jika merasa diperlakukan tidak adil, intoleransi akan tumbuh. Maka penting bagi negara untuk memperhatikan keadilan sosial bagi semua,” tegas Magnis. Maka, sebagaimana kata I Made Geria, Kepala Pus lit Arkenas , “Kita berikhtiar merawat kekayaan alam pikir. Saat ini perlu penguatan warisan leluhur kita, akulturasi, saling menghargai, toleransi. Toleransi itu bukan pilihan tapi keharusan.”

  • Sungai yang Membangun Peradaban di Sumatra

    Berbagai peradaban muncul di sepanjang aliran sungai. Termasuk Kadatuan Sriwijaya yang awalnya dimulai dari permukiman di Daerah Aliran Sungai Musi, mulai dari muara hingga hulunya. “Jauh sebelum Sriwijaya lahir sudah ada permukiman di DAS Musi,” kata arkeolog Bambang Budi Utomo atau akrab disapa Tomi, dalam diskusi daring berjudul “Budaya Hindu Buddha di Pulau Sumatra” yang diadakan Balai Arkeologi Sumatra Utara, Rabu, 28 April 2021. Sungai menjadi pintu masuk budaya luar ke Sumatra dan berbagai tempat lain di Nusantara. Mulanya dibawa para pedagang yang masuk ke pedalaman untuk mencari komoditas perdagangan. Jalurnya lewat sungai-sungai besar, seperti Sungai Musi, Batanghari, dan Kampar. “Kebudaan India yang masuk ke Sumatra diwujudkan dalam bentuk arca, bangunan-bangunan suci, juga prasasti,” jelas Tomi. Sumatra telah tercatat lama dalam berita Tiongkok. Disebutkan ada sebuah tempat bernama Mo-lo-yeu . “ Mo-lo-yeu ini identik dengan Pulau Sumatra, bukan nama kerajaan,” kata Tomi.  Di pulau Mo-lo-yeu terdapat beberapa pusat kekuasaan. Berita Tiongkok menyebutnya dengan Shi-Li-Fo-Shih (abad ke-7–11), Chan-pi (abad ke-8–13), To-lang-po-hwang (abad ke-7), ada pula di Kota Cina (abad ke-11–14), Panai (abad ke-11–14), Dharmasraya (abad ke-13–15). Semuanya berada di dekat sungai, seperti Shi-Li-Fo-Shih berada di DAS Musi, Chan-pi di DAS Batanghari, To-lang-po-hwang di DAS Tulangbawang, Kota Cina di lembah Sungai Deli Pantai Timur Sumatra, Panai di lembah Sungai Panai dan Barumun, serta Dharmasraya di hulu Batanghari. “Pusat-pusat pemerintahan ini pada suatu masa muncul sebagai kekuatan politik yang besar,” kata Tomi. Salah satunya pada 682 muncul Kadatuan Sriwijaya di Shih-li-fo-shih . “Populer dengan sebutan kerajaan, tapi nama yang spesifik sebetulnya kadatuan,” jelas Tomi. Komunitas Hindu dan Buddha Awal Namun, kemunculan Sriwijaya bukanlah pertanda pertama masuknya budaya India ke Sumatra. Pasalnya, kata Tomi, sebelum Kadatuan Sriwijaya lahir, sudah ada komunitas pemeluk Hindu dan Buddha di Palembang.  Buktinya keberadaan Arca Sakyamuni yang ditemukan di Bukit Siguntang, Palembang. Kemungkinan, kata Tomi, Sang Sakyamuni dulunya berdiri di puncak bukit yang suci itu. Arca Sakyamuni berlanggam sekira abad ke-6 M. Dari penggambaran pakaian arca, nampak pengaruh seni antara Gupta dan post-Gupta.  “Sriwijaya baru lahir abad ke-7. Artinya sebelum abad ke-7 sudah ada komunitas yang menganut ajaran Buddha,” jelas Tomi.  Berdasarkan arca itu, Tomi memperkirakan, aliran Buddha yang dianut adalah Hinayana. “Mungkin ini satu-satunya arca pemujaan para penganut ajaran Hinayana yang pernah ditemukan,” kata Tomi. Pada abad ke-7, Sriwijaya sudah berupa permukiman yang tertata dengan baik. Bangunan-bangunan religi di tempat yang tinggi dengan pusatnya di Bukit Siguntang, permukiman di tepian Sungai Musi, dan Taman Sriksetra ditempatkan di kawasan berbukit dan berlembah di barat laut kota Sriwijaya. “Jadi orang tidak asal bertempat tinggal,” kata Tomi. Menurut Tomi, kota Sriwijaya dapat berkembang berkat daerah pedalaman. Kawasan pedalaman di daerah kaki Pegunungan Bukit Barisan merupakan penghasil komodit as perdagangan, seperti hasil bumi, hutan, dan tambang. Komoditas itu dibawa melewati aliran sungai ke Palembang untuk dipasarkan. Palembang menjadi muara banyak sungai yang mengalir dari pedalaman, yakni Sungai Musi, Keramasan, Ogan, dan Komering.  “Di Palembanglah bertemu sungai-sungai ini, sehingga di Palembanglah para pedagang berkumpul menjadi pasar, lama-lama daerah itu menjadi maju,” jelas Tomi. Permukiman di Lahan Basah Permukiman masa Sriwijaya dibangun di sepanjang aliran sungai. Dari berita Tiongkok diketahui kalau orang-orang di Sriwijaya berdiam di perahu dan di rumah panggung di rawa-rawa. Mereka hidup dengan mencari ikan dan berdagang. Bukti permukiman di lahan basah ini ditemukan di Situs Air Sugihan di pantai timur Palembang. Penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 2008 menemukan sisa-sisa permukiman di lahan berawa dari awal abad masehi. Terdapat 74 situs yang ditemukan di kawasan Air Sugihan. Situs itu diperkirakan berasal dari periode awal masehi, sekira abad ke-1-2 dan terus berlanjut sampai abad 12-13, yakni periode akhir Sriwijaya. Permukiman itu diperkirakan cikal bakal atau pendahulu Sriwijaya. Secara keruangan situs-situs yang ada di dekat muara berusia lebih tua. Semakin ke hulu semakin muda.  Di sana ditemukan sisa permukiman berupa tiang pancang dari kayu nibung. Dari jenis-jenis temuannya, kata Tomi, masyarakat yang dulu tinggal di kawasan ini memiliki hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, serta daerah lain di Nusantara. “Sebelum Sriwijaya lahir sudah terbentuk jaringan perdagangan Guangdong-Palembang, Persia/India-Palembang, dan Palembang-Kalimantan Barat,” jelas Tomi.  Mengembangkan Sayap Melalui sungai pula, balatentara Sriwijaya menyerang Kota Kapur di Bangka. Mereka datang melalui Sungai Musi kemudian menyeberang ke Selat Bangka dan masuk ke Sungai Menduk. Penaklukkan Sriwijaya atas Bangka itu dibuktikan oleh temuan Prasasti Kota Kapur (686 M).  Menurut Tomi, ke letak an strategis Kota Kapur dengan hasil tambang timah dan sumber air bersihnya menjadikan tempat ini disinggahi kapal-kapal yang berlayar dari dan ke Jawa. “Bangka terletak di jalur pelayaran, yang seolah menghalangi jalur masuk atau keluar Palembang,” jelas Tomi . Secara geografis Kota Kapur berhadapan langsung dengan Selat Bangka. Pada selat ini bermuara juga Sungai Upang, Sungsang, dan Saleh dari daratan Sumatra. “Karena sumberdaya alam, timah, dan keletakannya yang strategis maka Sriwijaya menguasainya,” jelas Tomi.  Penelitian yang dilakukan Tomi telah menemukan sebuah dermaga di kaki bukit Kota Kapur. Dermaga itu ditemukan di tepian Sungai Menduk. “Rupanya dulu sungai ini adalah teluk yang besar di Kota Kapur, tempat berlabuh kapal-kapal dagang,” kata Tomi.  Timah kemungkinan menjadi daya tarik Kota Kapur. Komoditas ini diekspor ke berbagai kawasan Nusantara dan Asia Tenggara. Timah ini merupakan salah satu bahan campuran untuk membuat arca perunggu yang marak dilakukan pada abad ke-8–9.  “Sejak zaman Sriwijaya sudah menambang timah untuk keperluan membuat arca,” kata Tomi .  Didukung pula oleh berita Tiongkok abad ke-7 bahwa komoditas perdagangan Sriwijaya di antaranya timah. Sementara di Asia, timah hanya ditemukan di Myanmar, Semenanjung Melayu, dan Kepulauan Bangka Belitung. Melupakan Sungai Peran sungai begitu penting dalam perkembangan peradaban Nusantara, khususnya di Sumatra. Namun, dalam penulisan sejarah kedatangan luluhur baik menurut tradisi maupun modern (sampai 1970-an), peran sungai nyaris dilupakan.  “Di sejumlah suku bangsa di pedalaman Sumatra, sungai tak disebut sebagai salah satu faktor penting dalam proses datangnya para leluhur,” catat Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas dalam Sungai dan Sejarah Sumatra.  Misalnya , dalam sejarah tradisional Minangkabau. Menurut Asnan, mitos kedatangan leluhur versi mereka lebih mementingkan arti laut. Dikisahkan leluhur masyarakat Minangkabau terdampar ketika banjir besar Nabi Nuh terjadi. Mereka mendarat di sebuah daratan kecil yang kemudian diketahui sebagai puncak Gunung Marapi. Setelah permukaan laut surut, para leluhur mendirikan permukiman pertama di kaki gunung itu. Demikian pula dalam penulisan sejarah modern mereka, baik yang ditulis orang Belanda, Indonesia, maupun orang Minangkabau. “Peranan sungai dalam proses kedatangan moyang suku bangsa itu tak disinggung sama sekali,” jelas Asnan. Orang Kerinci juga mengaitkan kedatangan moyang mereka dengan banjir besar Nabi Nuh. Mereka memulai sejarah kedatangan leluhurnya dengan lautan yang luas. Sementara di dalam tradisi Batak, mitosnya menyebut kalau leluhur mereka berasal dari langit. Leluhur batak turun ke bumi pertama kali di Gunung Pusuk Buhit di Pulau Samosir. Arti penting sungai bagi perkembangan kebudayaan masyarakat Sumatra terkuak lewat penelitian arkeologis dan kajian linguistik. Berbagai temuan arkeologis ditemukan di kawasan hulu dari sungai-sungai, seperi Panai, Roman, Kampar, Batanghari, dan Musi.  “Sungai-sungai besar ini menghubungkan pantai timur Sumatra dengan wilayah pedalaman,” jelas Asnan. Pun dari penelitian dialek yang ada di dalam bahasa Minangkabau, seperti dialek Payakumbuh atau Limapuluh Kota, diketahui kalau dialek yang dipraktikkan penduduk di kawasan hulu Sungai Kampar merupakan dialek tertua di Minangkabau. Artinya Limapuluh Kota, yang ada di kawasan sebelah timur Minangkabau, merupakan daerah yang lebih dulu ditempati. “Sungai ternyata juga punya peran yang besar dalam kemunculan permukiman dan penyebaran penduduk Pulau Sumatra,” jelas Asnan.

  • Hikayat Dua Pujangga Melayu

    Selama penghujung abad ke-18 hingga permulaan abad ke-19, ketegangan di antara dua bangsa penjajah memuncak di wilayah Selat Malaka. Inggris dan Belanda saling klaim kekuasaan di kawasan perdagangan penting di Asia Tenggara tersebut. Puncaknya, melalui Traktat London tahun 1824, para kolonialis Eropa sepakat membagi wilayah Selat Malaka menjadi dua bagian: utara (Singapura dan Malaysia) dimiliki Inggris; sementara selatan (Nusantara) dimiliki Belanda. Konflik pun akhirnya terselsaikan dengan baik. Kesepakatan itu rupanya berdampak juga kepada kerajaan-kerajaan di sepanjang Selat Malaka. Kesultanan Riau-Johor, misalnya, terpaksa harus membagi kekuasaannya menjadi dua. Itu karena Kesultanan Johor-Riau memiliki kekuasaan di dua wilayah yang terpecah, yakni Tumasik (Singapura), dan Riau (Nusantara). Terpisahnya kekuasaan tersebut membawa perpecahan di dalam internal kerajaan. Pemerintahan di Riau, maupun Singapura saling klaim kekuasaan. Akhirnya, melalui sokongan dari Inggris dan Belanda, masing-masing pemerintahan mengangkat seorang penguasa. Maka terputuslah hubungan kerajaan yang pernah menjadi vassal Sriwijaya dan Majapahit tersebut. Terpecahnya Riau-Johor membawa perubahan juga kepada kehidupan masyarakat di dalamnya. Hal itu terjadi terutama karena Inggris dan Belanda menjalankan kebijakan yang berbeda. Perubahan meliputi bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya. Menurut Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto, khusus di bidang budaya, perpecahan itu telah memisahkan secara paksa dua pujangga besar Melayu, yakni Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, dan Raja Ali Haji. Keduanya sama-sama terlahir di bawah kuasa Kesultanan Riau-Johor. Tetapi akhirnya Abdullah tinggal dan berkarya di Singapura dan Malaysia, sementara Raja Ali Haji menetap di Riau. “Jarak di antara keduanya terasa begitu sayup antara tampak dan tiada... Jarak yang jauh terutama terlihat dari bagaimana keduanya menyikapi keadaan kemasyarakatan dan kebudayaan Melayu pada waktu bersamaan. Suatu zaman ketika sistem kehidupan yang sudah berakar tunggang memperoleh gempuran luar biasa dari rengkuhan baratisasi yang juga selalu disebut orang sebagai kemodernan,” tulis Taufik. Hidup dan Berkarya Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi hidup pada kurun masa yang sama. Keduanya mengembangkan karya dalam alam kebudayaan serupa: budaya Melayu. Namun dalam suasana yang berbeda. Baik Inggris maupun Belanda memiliki pandangan lain terkait sastra Melayu. Dikisahkan Amin Sweeny dalam  Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Abdullah lahir di Malaka pada 1796 dari keluarga campuran Arab dan India. Dia tumbuh di lingkungan Melayu Muslim kuat di bawah pemerintahan Riau-Johor. Memasuki abad ke-19, ketika usia remaja, Abdullah memutuskan pindah ke Singapura. Menurut Irfan, sebagaimana disebutkan U.U. Hamidy dalam  Pengarang Melayu dalam Kerajaan Riau dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dalam Sastra Melayu , kepindahannya ke Singapura dilakukan untuk menghilangkan kesedihan atas meninggalnya sang istri di Malaka. Tetapi jika dilihat dari jalan hidup Abdullah, kepindahannya ke Singapura terjadi karena Belanda menggantikan kekuasaan Inggris di Malaka. Hal itu, imbuh Irfan, tidak memberikan iklim yang baik bagi Abdullah. “Tampaknya Belanda tidak memerlukan orang-orang yang ahli dalam bidang bahasa seperti Abdullah,” jelas Irfan. Sementara itu Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad lahir di Selangor pada 1808. Dia berasal dari keluarga Kerajaan Riau. Raja Ali Haji tumbuh dan dibesarkan di Pulau Penyengat, Inderasakti, Riau. Dia hidup dalam suasana intelektual yang kental, yang menjadi dasar pengembangan nalar dan intuisi dalam menggambarkan alam Melayu melalui karya-karya sastranya. Menurut Irfan terdapat perbedaan yang cukup besar di antara dua pujangga ternama Melayu tersebut. Sebuah jurang pembeda yang membuat nama Abdullah lebih mencuat dibandingkan Raja Ali Haji. Itu ditentukan oleh adanya pemberian kesempatan berkarya dari bangsa yang menjajah mereka. Sikap pemerintah Inggris, di bawah Raffles, sangat terbuka kepada kehidupan kebudayaan orang-orang Melayu. Kondisi itu yang membuat Abdullah lebih leluasa mengembangkan karya-karyanya. Di lain pihak, Belanda amat membatasi kegiatan kebudayaan masyarakat pribumi. Terlebih, antara Riau dan Belanda kerap terlibat ketegangan yang memperburuk hubungan keduanya. “Secara sederhana dapatlah dikatakan, Abdullah berada dalam suatu kawasan, yakni Singapura yang waktu itu sedang bangkit secaa mengejutkan dan kini terus meninggi, jauh meninggalkan Riau yang cukup lama memayunginya,” kata Irfan. Sepanjang hidupnya, Abdullah berhasil menghasilkan banyak karya, di antaranya  Syair Singapura Dimakan Api,Kisah Pelayran Abdullah dari Singapura ke Klantan, Syair Kampung Gelam Terbakar, Hikayat Abdullah, dan  Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Sedangkan karya-karya Raja Ali Haji, di antaranya  Bustanul Katibin, Kampus Pengetahuan Bahasa, Tsamaratul Muhimmah, Muqaddimah fi Intizam, Syair Suluh Pegawai, dan  Gurindam Duabelas. Hubungan dengan Barat Raja Ali Haji dan Abdullah diketahui sama-sama memiliki kedekatan dengan orang-orang Eropa. Utamanya mereka yang tertarik dengan budaya Melayu. Abdullah sendiri, dengan kemampuan bahasa Melayu, Inggris, Tiongkok, dan India, mendapat kesempatan menjadi juru tulis Raffles. Dia pun berhubungan erat dengan para penyebar Kristen di Singapura, seperti Wiilliam Milner da C.H. Thomsen. Tidak hanya bersahabat dan mengajarkan para misionaris bahasa Melayu, Abdullah juga membantu menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Melayu. Alam kebebasan di bawah kuasa Inggris, serta pergaulannya dengan orang-orang Eropa, membuat karya-karya yang dilahirkan Abdullah dinilai oleh para ahli berbeda dengan karya pengarang Melayu lain yang hidup sezaman dengannya. Subjek tulisan Abdullah, misalnya, tidak terbatas pada persoalan kekuasaan dan raja-raja saja, tetapi ada tentang kehidupan sehari-hari. Bahkan dia terkadang membuat tulisan berupa kritik terhadap raja-raja dan masyarakat Melayu. “Boleh dikatakan, Abdullah-lah, pelahir otobiografi dalam alam Melayu,” tulis Irfan. “Tak dapat dipungkiri bahwa gaya Abdullah itu merupakan berkat pergaulannya dengan Barat dan coba menyerapnya dalam kehidupan sehari-hari, sampai-sampai ada orang mengatakan bahwa Abdullah cendekiawan pertama di kawasan Nusantara yang mampu menyerap Barat.” Sementara Raja Ali Haji memiliki hubungan kedekatan dengan sejumlah penguasa dan pakar bahasa. Seperti dikisahkan Jan van der Putten dan Al Azhar dalam  Di dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall,  Raja Ali Haji bersahabat baik dengan Von de Wall yang kala itu menjabat Asisten Residen Riau. Berkat Von de Wall, Raja Ali Haji bisa mendapatkan buku-buku dari Negeri Belanda, ataupun dari Timur Tengah, yang dia butuhkan untuk referensi tulisan-tulisannya. Sebagai balasan, Raja Ali Haji memberikan pengetahuan tentang bahasa Melayu kepada Von de Wall. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Irfan. Tidak hanya dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga berhubungan baik dengan sejumlah pejabat Belanda. Hal itu semata dia lakukan untuk menarik perhatian Belanda akan karya-karyanya, yang memungkinkan karangannya tersebut disebar dan dicetak. Sampai-sampai dia pernah berharap diperkenankan memperoleh mesin cetak di Riau. Kendati Raja Ali Haji dan Abdullah memiliki ketenaran dibanding pengarang-pengarang lain, serta mendapat tempat spesial di dunia sastra Melayu, bukan berarti tidak ada pujangga lain yang menghasilkan karya fenomenal. Masih banyak nama lain. Salah satunya Raja Chulan bin Raja Abdul Hamid yang menulis  Silsilah Perak dan Misa Melayu . Apalagi di Riau, sepeninggalan Raja Ali Haji, lahir 20-an pengarang baru yang tidak kalah hebat.

  • Debus dan Tarekat di Banten

    TTajamnya golok tak mampu mengiris lidah pemain debus. Racun kalajengking tak mempan   padanya. Linggis dari besi bengkok di tangannya. Kesaktian dan kekebalan pemain debus membuat beragam senjata tajam tak ada apa-apanya di tubuh mereka. Debus terkenal berasal dari Banten. Namun, atraksi ini juga dikenal di Cirebon, Maluku, Aceh, tersebar ke Perak, Semenanjung Melayu. Permainan ini berakar dari tarekat yang menyebar ketika Islam masuk ke Nusantara. “Itu semua tempat yang sering didatangi pedagang rempah. Debus ini menjadi indikasi pemakaian tarekat. Orang debus biasa membaca ratib dan sebagainya,” kata Martin van Bruinessen, ahli studi tentang Islam dari Utrecht University, Belanda, dalam diskusi daring bertema “Tradisi dan Jaringan Sufisme di Jalur Rempah: Mencari Akar Kosmopolitan Islam Nusantara”, Sabtu, 24 April 2021. Masyarakat Nusantara tertarik pada tarekat karena banyak yang mengincar ilmu kekebalan ( ngelmu ). Menurut Rohman, peneliti Bantenologi dan pengajar di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, keinginan menguasai ilmu kebal telah turun temurun dari generasi ke generasi di Nusantara.  Sebelum Islam masuk, orang-orang menggunakan mantra dari tradisi Hindu dan Buddha untuk melindungi diri dari bahaya. Ketika Islam datang, hal itu diwakili oleh tarekat. “Meskipun tujuan tarekat adalah untuk mendekatkan para pelakon kepada Tuhan, banyak muslim lokal selama fase pertama penyebaran Islam bergabung dengan tarekat karena ritualnya   mirip dengan praktik pra-Islam,” tulis   Rohman  dalam “The Result of a Holy Alliance: Debus and Tariqah in Banten Province”, Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Afkaruna  Vol. 9 No. 1 Januari–Juni 2013. Z ikir dan wirid dianggap seperti mantra. Ajaran meditasi dan asketisme yang dipraktikkan oleh guru tarekat dibandingkan dengan ritual tapa (meditasi) pada masa pra-Islam. Keahlian debus berdasarkan ajaran tarekat pun mempercepat penyebaran Islam, terutama yang terjadi di Kesultanan Banten. Rohman menyebut bahwa praktik ilmu kekebalan tak hanya dilakukan oleh tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, tetapi juga oleh tarekat Sammaniyah, Rifa’iyah, dan Shadziliyah. Debus dan Tarekat Martin van Bruinessendalam Kitab Kuning , Pesantren , dan Tarekat ,mencatat bahwa tarekat Rifa’iyah yang paling berpengaruh dalam debus. Jejaknya jelas ada di Banten. Moh. Hudaeri, dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, menambahkan bahwa unsur utama dalam debus, yaitu permainan dengan senjata tajam yang ditikam ke tubuh, jelas berasal dari tarekat Rifa’iyah. “Tradisi serupa ditemukan pula pada penganut tarekat Rifa’iyah di Turki dan Mesir,” tulis Hudaeri dalam “Debus di Banten; Pertautan Tarekat dengan Budaya Lokal”, Al Qalam Vol. 27 No. 1 (Januari–April 2010) . Tarekat Rifai’yah menyebar dari lingkungan istana dan elitekepada penduduk pada masa Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyuddin (1773–1799). Menurut Van Bruinessen, sang raja mengajarkan tentaranya berbagai doa dan teknik yang dengan berkah Syekh Ahmad Rifa’i dan wali lainnya akan membuat mereka kebal terhadap besi, api, dan racun. Selain tarekat Rifai’yah, orang Banten juga menghubungkan debus dengan tarekat Qadariyah. “Saya mengetahui satu tempat saja di mana tarekat Qadariyah juga menjalankan praktik itu dan tempat tersebut adalah Kurdistan,” kata Van Bruinessen. Tarekat Qadariyah di Banten berawal dari paruh kedua abad ke-19. Namun, ada bukti yang menunjukkan bahwa ilmu Syekh Abd Al-Qadir Al-Jilani sudah diajarkan di suatu perguruan di atas Gunung Karang pada abad ke-17. Ilmunya juga dikenal di Cirebon. “Bukan kebetulan kalau di Gunung Karang juga dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan debus,” kata Van Bruinessen. Kemungkinan tarekat Qadariyah menyebar dari istana kepada masyarakathampir bersamaan dengan tarekat Rifa’iyah. “Rujukan tertulis paling awal adalah dari masa pemerintahan Sultan Zainal Asyiqin (1753–1773),” jelas Van Bruinessen.  Mencapai Tingkat Fana Untuk menguasai debus, penganut tarekat harus puasa, membaca doa-doa tertentu, zikir, wirid, serta salawat kepada Nabi Muhammad Saw. dan para aulia, yakni guru tarekat dan guru debus. Dalam tradisi tarekat, permainan debus berfungsi untuk menguji tingkat kefanaan seseorang ketika melakukan wirid dan zikir. Jika telah sampai pada tingkatan fana, d ia akan mampu melakukan sesuatu yang keluar dari hukum alam. “Ini berkorelasi dengan makna fana yang artinya suatu pengalaman rohani yang merasakan peleburan dalam Zat Yang Maha Tinggi,” tulis Hudaeri. Cerita keajaiban dan kejadian luar biasa yang dimiliki seorang guru sufi mendorong orang-orangmasuk tarekat. Kesaktian para wali ini seringkali dikisahkan dalam perlawanan melawan kolonialisme. Debus Melawan Penjajah Syekh Yusuf Al-Makassari merupakanguru tarekat yang memimpin jihaddi Banten melawan Belanda selama dua tahun (1682–1684). “Dia merupakan contoh seorang sufi yang saleh sekaligus pejuang fisik yang hebat,”kata Van Bruinessen. Peran Syekh Yusuf menonjol ketika Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683) melawan Belanda. Setelah sang sultan ditangkap Belanda, dia memimpin pasukan bergerilya di wilayah Banten dan Jawa Barat. Pasukannya sulit ditundukan Belanda. K isah Syekh Yusuf pun berkembang di masyarakat. Dia dipercaya kebal senjata dan tak bisa dilihat musuh. Kendati pada akhirnya d ia ditangkap Belanda lewat tipu muslihat. Menurut Rohman, Sultan Ageng Tirtayasa dan Syekh Yusuf mengajarkan kekebalan kepada prajuritnya untuk mendongkrak semangat melawan Belanda. Ketika ketegangan antara Kesultanan Banten dan Belanda meningkat, para pejabat kesultanan berdakwah dan mengajarkan kekebalan di pedalaman Banten. Pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1945–1949, Kiai Abdurrahim dari Maja, seorang guru debus,bersama muridnya datang ke Serpong untuk melawan tentara KNIL. Mereka hendakmenguji kekebalan. Sebelumnya mereka selalu kebal terhadap api dan golok. Karenanya mereka yakin akan kebal terhadap peluru Belanda. “Tanpa mencari perlindungan mereka menyerang KNIL, hampir semua, 120 orang tertembak mati,” kata Van Bruinessen berdasarkan wawancara dengan Kiai Istikhari di Bogor pada 1988. Ketika peristiwa itu terjadi, Kiai Istikhari aktif dalam Laskar Hisbullah, berada tak jauh dari tempat kejadian. Pada praktiknya, debus tak hanya mengandalkan sumber tarekat. Tapi juga mengambil unsur-unsur dari tradisi lokal pra-Islam.Karenanya banyak yang memandang debus bertentangan dengan ajaran Islam. Debus pun dinilai lebih banyak menonjolkan hal-hal yang tak bersumber dari tradisi awal debus. Pada masa kini, teknik permainan debus tak terbatas pada penggunaan senjata tajam. Namun juga tak bisa dipisahkan dari keahlian silat yang umum dimiliki para jawara . “Bahkan mengacu kepada teknik magis yang lain, seperti kemampuan memukul dari jarak jauh, menjinakan hewan, mengajak ruh harimau dan kekuatan dahsyat lainnya untuk masuk ke dalam tubuh,” kata Van Bruinessen. Debus tak lagi menarikbagi penganut tarekat Qadiriyah. Ilmu Syekh Abdul Qadir yang diterapkan bukan lagi ilmu kekebalan, melainkan ilmu mensucikan hati. “Ini tak lepas dari situasi politik yang banyak berubah,” kata Van Bruinessen. “Jihad untuk orang tarekat sekarang bukan perjuangan fisik lagi tetapi perjuangan batin.” Dan debus pun kini menjadi pertunjukan hiburan yang populer.

  • Just Mercy, Tiada Kata Terlambat untuk Keadilan

    LANGIT mulai temaram saat Walter ‘Johnny D’ McMillian (diperankan Jamie Foxx) berkendara di sebuah jalan sepi di Monroeville, Alabama pada suatu petang di bulan Juni 1987. Perjalanan pulang itu dinikmatinya sambil menghayati lagu “Ode to Billie Joe” yang ditembangkan Martha Reeves & the Vandellas dari radio. Namun, tiba-tiba mobilnya dicegat aparat Kepolisian Monroe County. John n y diciduk begitu saja tanpa dijelaskan kesalahannya, lalu dijebloskan ke penjara. Kenyataan pahit kemudian menghampiri pengusaha pengolahan kayu berkulit hitam itu. Ia didakwa membunuh gadis kulit putih berusia 18 tahun, Ronda Morrison, pada 1 November 1986. Pengadilan distrik memvonis Johnny bersalah walau tanpa bukti. Hakim menghukum mati Johnny sekadar berdasarkan kesaksian amat meragukan dari residivis Ralph Myers (Tim Blake Nelson). Johnny pun dijebloskan ke Lapas Holman dan masuk daftar “ death row ” alias menunggu waktu eksekusi yang belum ditentukan. Baca juga: Richard Jewell dalam Kemelut Bom Olimpiade Begitulah sutradara Destin Daniel Cretton membuka film Just Mercy. Drama biopik berdasarkan kisah nyata ini diadaptasi dari memoar pengacara HAM Bryan Stevenson bertajuk Just Mercy: A Story of Justice and Redemption . Cretton tak bertele-tele dalam menghadirkan sosok Stevenson (Michael B. Jordan) yang tetiba datang untuk jadi juru selamat Johnny pada alur cerita berikutnya. Pengacara muda lulusan Universitas Harvard itu punya motivasi tersendiri dalam membela tahanan yang kasusnya meragukan seperti Johnny. Tokoh Herbert Richardson, veteran Perang Vietnam yang gagal diselamatkan Bryan Stevenson. (Warner Bros.). Dibantu advokat setempat, Eva Ansley (Brie Larson), Stevenson mendirikan lembaga bantuan hukum Equal Justice Initiative yang didanai The Southern Prisoners Defense Committee. Selain Johnny, ada lima klien lain di daftar “ death row ” yang ditangani Stevenson. Salah satunya veteran Perang Vietnam Herbert Richardson (Rob Morgan). Perjuangan Stevenson dan Ansley jelas sarat gangguan. Beragam intimidasi, termasuk ancaman bom, mereka terima walau itu tak menyurutkan niat mereka membantu keenam klien. Konflik keduanya juga terjadi dengan Sheriff Tom Tate (Michael Harding) dan jaksa distrik Tommy Chapman (Rafe Spall) yang cenderung rasis dan bersikeras Johnny bersalah kendati tanpa bukti kuat. Baca juga: Medali Pahlawan Perang Vietnam yang Dipertanyakan Nurani Stevenson makin terpukul ketika upayanya membela Richardson gagal. Veteran Perang Vietnam itu menerima tanggal eksekusi setelah peninjauan kembali (PK) yang diajukan Stevenson ditolak Mahkamah Agung Negara Bagian Alabama. Bagaimana proses dan hasil perjuangan Stevenson agar tak kecolongan lagi dalam menyelamatkan Johnny dari eksekusi mati? Saksikan sendiri kelanjutan drama Just Mercy di aplikasi daring Mola TV. Diskriminasi Hukum Selain menyisipkan lagu-lagu bergenre soul khas Afro-Amerika di era 1980-an, Cretton mengiringi adegan-adegan diskriminatif dengan music scoring orisinil nan mengharukan karya komposer Michael West. Suasana adegan demi adegan tambah terasa nyata karena pengambilan gambarnya dilakukan di Alabama, negara bagian dengan tingkat diskriminasi tinggi. Cretton mencoba menggarapnya seotentik mungkin dengan menulis skenario berdasarkan memoar Stevenson yang juga terjun langsung jadi konsultan. Beberapa cerita tak didramatisir berlebihan dan Cretton mengupayakan adegan-adegan di ruang pengadilan senyata mungkin lewat arahan Stevenson. “Adegan-adegan di ruang pengadilan paling membuat saya dan Michael B. gugup hanya karena kami ingin membuatnya senyata mungkin. Tetapi Michael B. didampingi Stevenson terkait pertanyaan-pertanyaan tertentu dalam menghadapi saksi dan tentunya bahasa tubuh, agar bagaimana dia sebagai pengacara muda Afro-Amerika bisa tetap tegar menghadapi sistem peradilan yang dikuasai orang kulit putih,” ungkap Cretton, dilansir Collider , 29 Desember 2019. Baca juga: Percy Pantang Kibarkan Bendera Putih Michael B. Jordan (kiri) & Jamie Foxx yang memerankan tokoh utama Bryan Stevenson & Walter 'Johnny D' McMillian. (Warner Bros.). Walau kemasannya semi-dokumenter dengan gaya klasik dan minim plot twist tentang perjuangan mendobrak sistem rasis dan diskriminatif, toh Just Mercy tetap menuai banyak pujian. Selain karena kisah nyatanya inspiratif, Just Mercy cukup laris di pasaran dengan meraup keuntungan dua kali lipat dari budget -nya, 25 juta dolar. Kesuksesan itu antara lain berkat penampilan Foxx dan Michael B. sebagai dua tokoh utama yang berhasil memancing empati penonton. “Tak seperti kebanyakan film berlabel ‘berdasarkan kisah nyata’, Just Mercy tetap setia pada fakta-fakta kasusnya. Terlebih fakta-faktanya sendiri sudah merupakan drama tersendiri,” kata kritikus Ty Burr di Boston Globe , 8 Januari 2020. Walau kisah nyata itu sudah berlalu tiga dekade, isunya sampai kini masih sangat relevan. Mayoritas masyarakat Afro-Amerika di sejumlah negara bagian selatan Amerika mengalami diskriminasi dalam sistem hukum yang dikuasai orang kulit putih. Baca juga: Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7 Just Mercy berhasil membuka kembali problem klasik tentang bagaimana terdakwa dan tahanan Afro-Amerika lazimnya tak mendapatkan hak hukum semestinya. Penderitaan mereka bertambah berat karena sedikit pihak yang mau peduli. Stevenson yang datang dari belahan utara Amerika salah satu yang peduli. Baginya, “tidak ada kata terlambat bagi keadilan.” Perkara serupa yang dialami tokoh Johnny dan Richardson –yang kemudian dieksekusi mati sebelum kasusnya berhasil ditinjau ulang– jadi bukti ketidakberesan sistem hukum bagi orang-orang kulit hitam. Cretton menegaskannya dalam keterangan tersurat di akhir film: “Dari sembilan orang yang masuk daftar ‘ death row ’ dan diseksekusi di Amerika, satu di antaranya terbukti tak bersalah dan dibebaskan, sebuah angka kesalahan (sistem hukum) yang mengejutkan.” To Kill a Mockingbird “Home of ‘To Kill a Mockingbird,’” demikian bunyi tulisan di papan jalan menuju Monroeville. Beberapa orang kulit putih yang ditemui Stevenson selalu menganjurkannya untuk mengunjungi museum yang dinamakan dari novel laris era 1960-an karya Harper Lee itu. Bagi Stevenson, novel itu memuat ironi karena menyelipkan kisah ketidakadilan rasial orang kulit putih terhadap Afro-Amerika. Di kota kecil itulah Johnny D lahir pada 27 Oktober 1941. Sebagaimana umumnya anak-anak Afro-Amerika, Johnny tumbuh jadi pemetik kapas. “Walau dia tinggal di Monroe County sepanjang hidupnya, Walter (Johnny D) McMillian tak pernah mendengar tentang Harper Lee atau To Kill a Mockingbird . Monroeville begitu bangga merayakan buku Harper Lee setelah jadi novel terlaris. Para petinggi kota bahkan mengubah gedung pengadilan tua menjadi museum ‘Mockingbird’,” ungkap Stevenson dalam memoarnya, Just Mercy: A Story of Justice and Redemption . Baca juga: Allied, Kisah Mata-Mata Perempuan di Tengah Perang Johnny tak pernah tahu Harper Lee atau novel larisnya lantaran buku itu sekadar beredar di kalangan kulit putih. Toh Johnny juga tak pernah punya waktu lantaran sejak kecil sudah harus menguras keringat di perkebunan kapas. Saat dewasa dan sudah menikahi Minnie, kondisi ekonomi Johnny membaik karena punya pengolahan kayu. Namun hal itu menyeretnya ke gaya hidup yang menyimpang. Selain terlibat perdagangan ganja, Johnny sering kelayapan ke bar-bar, bahkan selingkuh dengan perempuan kulit putih bernama Karen Kelly. Sosok asli Walter "Johnny D" McMillian (kiri) & Bryan Stevenson. ( eji.org ). Pada 1 November 1986 pagi, pegawai dry-cleaning Jackson Cleaners bernama Ronda Morrison ditemukan tak bernyawa dengan tiga luka tembak di belakang kepalanya oleh beberapa pengunjung. Menurut Pete Earley dalam Circumstantial Evidence: Death, Life, and Justice in a Southern Town , laporan kepolisian dan Alabama Bureau of Investigation (ABI) menyimpulkan Ronda tewas sebagai korban perampokan dan transaksi narkoba. “Teori (kesimpulan) itu sangat pas dengan kasus rekayasa terhadap Johnny D yang mereka klaim adalah seorang bandar ganja yang biasanya melakukan pencucian uang di tempat dry-cleaning ,” ungkap Earley. Baca juga: Race , Kisah Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Nazi Selain atas dasar itu, Johnny ditetapkan sebagai tersangka sebagai kulminasi kebencian orang-orang kulit putih terhadapnya. Nama Johnny cukup dikenal karena hobinya masuk bar-bar orang kulit putih dan selingkuh dengan perempuan kulit putih. Betapapun Johnny berulangkali mengungkapkan dirinya sedang di gereja untuk makan malam dengan para jemaat di hari ketika Ronda dibunuh, Sherif Tom Tate dan pihak kejaksaan bersikeras mendakwanya. Kesaksian para anggota jemaat tak dipedulikan otoritas peradilan yang ironisnya justru mempercayai kesaksian seorang kriminal bernama Ralph Myers. Para juri kemudian memutuskan Johnny bersalah dan memvonisnya penjara seumur hidup. Namun hakim Robert E. Lee Key Jr. menolaknya dan meningkatkan hukuman menjadi hukuman mati. Ilustrasi tokoh Atticus Finch yang membela Tom Robinson dalam persidangan. ( imageofjustice.org ). Ketidakberesan kasus itu mendorong Stevenson membantu Johnny agar tak senasib dengan Tom Robinson, tokoh di novel Harper Lee. Stevenson melihat Johnny ibarat Tom yang pada 1930-an didakwa bersalah atas kasus pemerkosaan. Dalam persidangannya, Tom dibela pengacara kulit putih Atticus Finch yang sebelumnya melindungi Tom dari aksi main hakim sendiri para warga kulit putih. “Cerita tentang orang kulit hitam tak bersalah yang dengan berani dibela pengacara kulit putih begitu dikagumi jutaan pembaca. Karakter Atticus Finch dan putrinya yang masih remaja, Scout, memikat pembaca seiring mengkonfrontir mereka dengan realitas dan keadaan tentang ras dan keadilan di selatan,” sambung Stevenson. Baca juga: Seberg Melawan Arus Finch percaya bahwa Tom tidak bersalah memerkosa gadis bernama Mayella Ewell karena Tom cacat pada tangan kirinya. Namun dia nahas, tetap diputus bersalah. Ia tewas ditembak saat berusaha kabur dari penahanannya. Pengalaman pahit Tom itulah yang hendak dihindarkan Stevenson terkait nasib Johnny yang diyakininya tidak bersalah. Ketiadaan motif maupun alat bukti fisik menjadi alasan utama Stevenson. Lantas, siapa pembunuh sebenarnya? Earley yang kala itu berkarier sebagai jurnalis merangkap penulis buku kriminal mengungkapkan, setelah kasus Johnny D diliput program televisi “60 Minutes” yang ditayangkan CBS News , agen-agen ABI membuka kembali arsip-arsip tentang pembunuhan Ronda dan mengubah laporan mereka dari korban perampokan menjadi korban kekerasan seksual. “Kemudian agen-agen ABI Thomas Taylor dan Thomas Greg Cole tiba pada kesimpulan dalam mengidentifikasi tersangka sesungguhnya. Tersangka bernama samaran Howard Denmar. Saya samarkan karena dia belum pernah ditangkap dan didakwa,” imbuh Earley. Baca juga: Minggu Berdarah di Kota Selma Howard tak pernah melarikan diri dan justru menikmati kesenangan kala Johnny D dihukum atas kejahatan yang dilakukan Howard. Earley sempat bertemu Howard karena dia dianggap salah satu warga Monroeville yang paling antusias membicarakan kasus Ronda Morrison. “Ia (Howard) punya obsesi yang aneh soal pembunuhan Ronda. Dia sering memberi teori-teori tertentu tentang pembunuhan itu. Tampaknya setiap ada orang baru yang tertarik pada kasus itu, Howard sudah akan tiba di depan pintu,” lanjutnya. Sebelum Howard diperiksa ABI, Earley sempat mewawancarainya. Kepada Earley, Howard memberi teori yang menyiratkan bahwa dialah pelakunya. Si pelaku, katanya, menelepon Ronda untuk mengancam setelah sehari sebelumnya terlibat pertikaian di Jackson Cleaners. “Oke, ini teori saya. Pada pagi di hari pembunuhan si penelepon mendatangi Ronda. Mungkin dia sebelumnya menelepon untuk menggoda dengan kata-kata cabul. Katakanlah mungkin si penelepon datang ke tempat itu dan Ronda tiba-tiba meneriaki dia di depan wajahnya. Ronda menjadi sangat marah dan mengancam akan telepon polisi. Mungkin si pelaku tak merencanakan untuk mengambil pistolnya dan jadi marah serta kehilangan kendali. Itu terjadi begitu saja karena mungkin orang itu panik,” tutur Howard, dikutip Earley. Setelah wawancara itu, agen ABI mendatangi Earley untuk meminta informasi tentang Howard. Howard akhirnya ditemukan dan diinterogasi walau tak ditahan. “Para agen ABI merekomendasikan Howard untuk didakwa atas pembunuhan Ronda setelah investigasi mereka rampung. Akan tetapi sejumlah pejabat kota menolak dan kemudian Howard keburu kabur ke luar kota. Ia berasal dari keluarga terpandang. Pembunuh Ronda pun tetap bebas dan tuduhan terhadap Johnny D jelas tidak adil dan semua yang mencintai Ronda masih menunggu keadilan ditegakkan,” tandas Earley. Data Film: Judul: Just Mercy| Sutradara: Destin Daniel Cretton | Produser: Gil Netter | Pemain: Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Brie Larson, Rob Morgan, Tim Blake Nelson, Rafe Spall, Michael Harding, Karan Kendrick | Produksi: Endeavor Content, One Community, Macro Media, Gil Netter Productions, Outlier Society | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Drama Biopik | Durasi: 129 menit | Rilis: 25 Desember 2019, Mola TV Baca juga: Spike Lee Joints , dari Malcolm X hingga Viagra

  • Tentara Rusia di Kapal Selam Indonesia

    ANGGOTA Korps Hiu Kencana memanggilnya: Pak Zukov. Orangnya tidak begitu tinggi namun memiliki wajah keras khas Rusia. Berbeda dengan penampakan luarnya yang garang, Zukov yang konon merupakan seorang perwira Angkatan Laut Uni Soviet (soal itu memang sengaja dirahasiakan) keseharian-nya sangat ramah. “Dia mengajarkan saya banyak hal tentang dunia kapal selam, terutama mengenai detil yang terkait dengan kapal selam kelas Whiskey yang memang dibuat Uni Soviet,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana TNI-AL angkatan awal. Zukov adalah salah satu dari sekira 300 anggota AL Uni Soviet yang sempat “ditugaskan” untuk mengawaki 6 kapal selam jenis Whiskey yang dibeli Indonesia. Ceritanya, sekira Juni 1962, pihak intelijen Indonesia menginformasikan HNMLS Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Kapal induk yang memiliki nomor lambung R81 itu khusus datang dari pangkalan mereka di Den Helder demi memperkuat pertahanan laut militer Belanda di wilayah Irian Barat (sekarang Papua). Informasi itu langsung direspon secara cepat oleh Presiden Sukarno. Dia lantas memerintahkan jajaran angkatan bersenjata-nya (terutama ALRI) untuk menambah pembelian kapal selam kelas Whiskey dari Uni Soviet: dari 6 menjadi 12. Permintaan itu langsung diamini Perdana Menteri Nikita Krushchev. Maka dikirimlah kapal selam yang memiliki torpedo otomatis 533 mm yang merupakan senjata bawah air tercanggih di zamannya. Persoalan muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam tambahan itu. Maka untuk mengantisipasi situasi itu, pemerintah RI “mengundang” ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet untuk menjadi sukarelawan. Lagi-lagi Uni Soviet mengabulkan permintaan RI tersebut. “Yang saya ingat, ada sekitar 300-an anggota Angkatan Laut Uni Soviet hadir di Surabaya guna memperkuat 6 kapal selam yang belum memiliki kru Indonesia itu,” ungkap Suharta. Menurut Suharta, semua anggota Angkatan Laut Uni Soviet itu praktis melakukan aktifitas di Indonesia atas dasar sukarela. Maka dalam kegiatan sehari-hari, mereka menjalankan tugas tanpa menyandang jabatan resmi dan pangkat sama sekali. Soal kehadiran dan peran penting orang-orang Rusia itu diakui juga oleh F.X. Soeyatno. Bahkan tidak sekadar sebagai instruktur, mereka pun terlibat aktif dalam patroli. Alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 itu bersaksi jika mereka merupakan prajurit bawah laut yang tangguh. “Saya pernah bertugas bersama mereka mengawasi perairan sepanjang Pantai Utara Irian Barat…” ungkap eks awak kapal selam RI Tjudamani tersebut. Kesan Soeyatno terhadap mereka sangat baik. Walaupun berasal dari negara adidaya, prajurit-prajurit AL Uni Soviet itu jauh dari sikap arogan. Mereka memang tegas saat menjadi instruktur namun dalam keseharian sangat bersahabat. Kendati berbeda bangsa dan bahasa, hubungan antara awak Rusia dengan awak Indonesia berjalan lancar. “Jauh hari kami memang sudah diajarkan bahasa dan budaya Rusia sehinga faktor perbedaan bangsa itu tidak menjadi masalah saat kami bekerja sama,” ungkap anggota ALRI yang mengakhiri karirnya sebagai kolonel itu. Selama di Indonesia, orang-orang Rusia itu ditempatkan di Asrama KPALU masuk kawasan Dermaga Ujung, Surabaya. Hidup mereka sehari-hari ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah RI. Menurut Suharta, cukup sulit bagi orang luar untuk menemui mereka. Selain sibuk mengajar calon awak kapal Indonesia, orang-orang Rusia itu pun tidak sembarangan bergaul kecuali dengan para anak didik mereka. Tetapi menurut Kolonel (Purn) Arifin Rosadi, kehadiran tenaga tempur Rusia di pihak Indonesia sempat sampai ke telinga pihak Belanda dan Amerika Serikat (AS). Kedua-nya tentu sangat mengkhawatirkan kehadiran orang-orang Rusia itu di Indonesia akan memantik perang dunia ketiga. Bisa jadi karena pertimbangan itu, Belanda pada akhirnya mau maju ke meja perundingan. “Andaikan Belanda ngeyel dan perang pecah di Irian, tentara Rusia itu akan dicatat dalam sejarah sebagai tentara Blok Timur pertama yang langsung berhadapan dengan Belanda yang mewakili Blok Barat ,” ungkap eks Kepala Kamar Mesin RI Nagabanda itu. Ketika konflik Indonesia-Belanda mulai mereda, sejak Agustus 1962, secara bertahap orang-orang Rusia pun mulai pulang kampung. Ada cerita menarik ketika orang-orang Rusia itu tahu bahwa perang akan berakhir. Alih-alih bergembira, mereka malah agak kecewa. Mengapa? Ternyata mereka telah dijanjikan oleh Perdana Menteri Kruschev: jika mereka kembali ke Uni Soviet dalam keadaan hidup dan lolos dari peperangan yang terjadi di Indonesia, maka mereka akan dimutasikan ke kapal selam nuklir. “Karena peperangan tak jadi meletus, mereka mengira mutasi pun akan dibatalkan,” ungkap Suharta. Tetapi di depan para komandannya, soal itu segera ditutupi. Mereka tetap menunjukan disiplin yang kuat. Namun bisa jadi itu mereka lakukan untuk menghindar dari pengaduan komisaris politik yang ada di setiap kapal selam. Memperlihatkan sikap membangkang pada perintah atasan, bagi tentara Uni Soviet adalah kiamat. Karena bisa jadi dosanya tak terampuni.

  • Ketika Ali Sastroamidjojo Menutup Konferensi Asia-Afrika

    Para Sri Paduka. Para Paduka Yang Mulia, Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan! Saudara-saudara sekalian! Setelah kita sekarang tiba pada penutupan Konperensi ini, sesudah mengalami suatu minggu yang amat penting, saya ingin untuk mengucapkan terima kasih kepada tuan-tuan sekaliannya atas semangat goodwill dan kesudian untuk memaklumi yang tuan-tuan telah perlihatkan dengan nyata dan terus menerus selama pembicaraan-pembicaraan kita yang berhasil itu: Adalah semangat dan kesudian ini yang memungkinkan untuk bekerja sama dan mendapatkan hasil-hasil yang baik, serta apabila tuan-tuan memperkenankan saya menyatakan suatu perasaan hati saya sendiri yang membuatnya suatu kegembiraan bagi saya, untuk menjadi ketuanya. Paragraf di atas merupakan penggalan pidato penutupan acara Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Kota Bandung, Jawa Barat, yang dibacakan oleh Ketua Umum Kofrensi Asia-Afrika (KAA) Ali Sastroamidjojo. Di hadapan tamu-tamu kehormatan, serta para perwakilan negara-negara di Asia dan Afrika, Ali Sastroamidjojo mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya konferensi negara-negara se-Asia dan Afrika yang pertama, dengan Indonesia sebagai tuan rumahnya. “Kita harus memberikan kredit kepada Ali Sastroamidjojo karena dia juga merupakan tokoh penting penggalang pedamaian dunia di tahun 1950-an, di mana keresahannya atas situasi politik Asia yang terancam oleh kontestasi adidaya Perang Dingin ...” kata sejarawan Wildan Sena Utama dalam acara “Tadaruan dan Pembahasan Pidato Penutup Ali Sastroamidjojo di Konperensi Asia Afrika 1955”, diselenggarakan Asian African Reading Club (AARC), Sabtu (24/04/2021). Ali membuka pidatonya dengan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan KAA, terutama para pimpinan negara yang sejak awal memberikan dorongan kepadanya untuk membuat gagasan konferensi tersebut menjadi nyata. Selanjutnya, Ali mengatakan kalau KAA telah menjadi jembatan persahabatan antara Asia dan Afrika. Acara itu juga menjadi ajang pertemuan langka bagi para perwakilan dari dua benua berbeda, yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi jika KAA tidak terselenggara. “Kita berharap dalam hati kita bahwa perkenalan itu akan membawa tumbuh sesuatu, yakni sesuatu yang berharga yang dapat menguntungkan bukan saja rakyat Asia dan Afrika, akan tetapi juga dunia raya,” kata Ali. Ali mengatakan jika KAA merupakan jawaban dari segala keraguan negara-negara, terutama yang baru saja mengecap rasa dari sebuah kemerdekaan, atas perannya memajukan perdamaian dunia. Selain juga keraguan atas persatuan dan kesatuan Asia dan Afrika yang terhalang oleh perbedaan politik, sosial, serta budaya. Melalui KAA, mereka telah membuktikan bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika dapat bersatu membela perdamaian dunia. Sekalipun mereka memiliki perbedaan yang amat besar di bidang politik, sosial, dan budaya. Melalui kesepakatan bersama, serta kebulatan tekad, para perwakilan menunjukkan bentuk persatuan yang penting. Ali sadar jika dalam proses mencari persatuan dalam konferensi tersebut kadang kala mereka terbentur oleh kepentingan masing-masing, yang membuat perdebatan seringkali terjadi. Namun itu semua baik untuk dicarikan solusinya. Hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan jawaban yang sesuai dengan kepentingan bersama. “Demikianlah pertemuan kita itu tumbuh menjadi lebih bernilai daripada hanya sesuatu konperensi semata-mata. Kita menjadi saling mengerti dalam suasana ramah-tamah dan tulus hati. Kita jadi percaya atas kecakapan kita untuk memberikan bantuan yang berharga buat perdamaian dunia meskipun kita meninjau tujuan kita bersama itu dari sudut pandang berlainan,” ujar Ali. Perdana Menteri ke-8 RI itu menegaskan bahwa keputusan-keputusan yang dibuat bersama di KAA tidak serta-merta menghalangi kepentingan negara perwakilan masing-masing. Justru keberadaan KAA harus dapat membantu permasalahan bersama untuk senantiasa terbebas dari segala beban, tidak hanya politik tetapi ekonomi, sosial, serta budaya. Juga membantu mengurangi ketegangan dunia. Dalam paragraf penutupan pidatonya, Ali berharap sekembalinya para perwakilan ke negara masing-masing dapat membawa rasa kepuasan dan semangat demokrasi yang mereka tunjukkan di dalam KAA. Mereka juga diharapkan bisa membuktikan kepada dunia bahwa negara-negara Asia dan Afrika dapat bersatu menjaga perdamaian. “Banyak tali persahabatan telah diikat selama hari-hari yang lampau, hubungan-hubungan yang berfaedah telah terbentuk. Kita mengetahui sekarang sesama kita, bahwa kita ingin mempraktekkan toleransi dan hidup bersama-sama secara damai satu dengan yang lainnya sebagai tetangga baik,” tegas Ali. “Semoga kita dapat meneruskan perjalanan kita di atas jalan yang telah kita pilih bersama-sama dan semoga Konperensi Bandung ini tetap tegak sebagai sebuah mercusuar yang membimbing kemajuan di masa depan dari Asia dan Afrika,” pungkasnya.

  • Setetes Air di Tanah Gersang

    DAHULU kala, sekelompok masyarakat tinggal di kawasan gersang yang kini menjadi Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Kalau musim kemarau angin menjadi lebih kering dari biasanya.  Di area sekitarnya pun tak ada mata air. Padahal mereka hidup dari bercocok tanam. Orang-orang Cepit di masa lalu mengandalkan rumah peribadatan yang kini dikenal sebagai Candi Banyunibo. Nama itu dalam bahasa Jawa bisa diartikan air ( banyu ) yang jatuh atau menetes ( nibo ). Keberadaan candi ini diharapkan bisa mendatangkan hujan yang membuat sawah dan kebun mereka terus bersemi.  Agar tanah subur dan keluarga mereka hidup sejahtera, mereka juga mengandalkan Hāritī ( Dewi Kesuburan) dan Kuvera atau Atavaka (Dewa Kemakmuran). Kedua sosok ini terpahat di dinding candi. Candi Banyunibo merupakan sebuah gugusan candi. Terdiri dari satu candi induk beratap stupika pada puncaknya. Lalu enam candi perwara (pendamping) berupa stupa berderet di sisi selatan dan timur. Untuk masuk ke ruang candi, orang harus menaiki 14 anak tangga dengan ragam hias kala-makara. Ruang candi sudah kosong. Terdapat tiga relung di dinding utara, timur, dan selatan. Relung sebelah timur ukurannya paling besar dan dihias dengan ukiran kala-makara dengan bingkai berbentuk tapal kuda. “Apa fungsi ketiga relung tersebut, kemungkinan untuk menempatkan arca-arca. Arca di relung timur mungkin arca utama, diapit oleh dua arca dalam relung utara dan selatan. Dugaan ini diperkuat karena tidak ada pentas persajian seperti lazimnya candi-candi Buddha untuk menempatkan singgasana arcanya,” jelas arkeolog Edy Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa. Hāritī dan Kuvera tak diletakkan pada relung-relung utama itu. Tapi di ambang pintu masuk candi; seakan memberkati siapapun yang masuk. Pemujaan Kuno Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan sudah dipuja manusia sejak Zaman Batu Akhir ( Paleolitikum ). Ia dipercaya punya andil dalam segala hal di alam semesta. Ketika manusia mulai bercocok  tanam, keberadaannya menjadi semakin penting. Pemujaan terhadapnya bisa ditemui di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Dewi Ibu atau Dewi Kesuburan seringkali diidentikkan dengan Dewi Sri. Padahal, ada sosok perempuan lain yang memiliki peran yang sama, yakni Dewi Hāritī. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara dalam tugas akhirnya berjudul “Penggambaran Hariti di Jawa dan Bali (Abad ke-7-15 M)”, dalam kajian arkeologis, Hāritī tergolong dewa-dewi pendukung ( minor ), bukan dewa-dewi yang punya kedudukan tinggi ( mayor ). Gambaran tentangnya tersua dalam agama Buddha dan Hindu. Menurut versi agama Buddha aliran Sarvvāstivāda, Hāritī adalah seorang yaksi (manusia setengah dewa) bernama Huanshi dari Rajagrha. Ia memiliki 500 anak. Karena mengalami keguguran, Huanshi menjadi bengis dan suka memangsa anak-anak. Tindakannya membuat penduduk Rajagrha gelisah dan memohon pertolongan Buddha. Agar Huanshi bertobat, Buddha membawa pergi dan menyembunyikan putra bungsu sekaligus anak kesayangannya, Priyankara. Sampai akhirnya datanglah Huanshi yang memohon agar anaknya dikembalikan. Buddha memberi pelajaran kepada Huanshi bahwa kehilangan anak adalah petaka bagi ibu manapun. Huanshi akhirnya bertobat. Ia kemudian ditasbihkan Buddha menjadi Hāritī dan ditugaskan menjadi Dewi Kesuburan dan pelindung anak. Versi agama Hindu menyebut Hāritī dengan nama Vrddhi, yang dalam bahasa Sansekerta artinya berkembang. Ia merupakan istri dari Dewa Kuvera, penjaga arah mata angin utara. Hāritī menjalankan peran sebagai Dewi Kesuburan karena menjadi pendamping dari Dewa Kesuburan pula. Di Indonesia, penggambaran Hāritī dituangkan dalam bentuk arca maupun relief candi dan dapat dijumpai di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Di Candi Banyunibo, relief Hāritī dipahatkan di dinding lorong pintu masuk sebelah utara. Relief ini terdiri dari tiga bagian yang terpisah diagonal. Perkiraan ukuran panil utuh memiliki panjang 174 cm dan lebar 103 cm. Kondisi sudah tidak utuh dan banyak bagian yang terpotong. Hāritī digambarkan dengan posisi duduk virasana (bersila) dan sikap tangan varamudra (memberi anugerah). Di dekat kakinya, lima anak duduk berjejer; seorang di kanan dan empat di sebelah kiri. Anak-anak itu berjongkok dan merapat satu sama lain, kecuali seorang anak di sebelah kanan yang duduk miring bersandar pada Hāritī. Ada dua anak lain sedang memanjat pohon. Menurut Dewi Fadhilah Soemanagara, penggambaran tersebut mewakili peran serta kedudukan Hāritī sebagai dewi kesuburan dan pelindung anak. Masyarakat Jawa Kuno mungkin juga menyamakannya dengan Dewi Sri. Sebagian besar masyarakat waktu itu bercocok tanam. Agar lahan pertanian subur dan panen melimpah, peran Hāritī pun dibutuhkan. “Tidak hanya untuk kesuburan perempuan dan kesejahteraan keluarga tetapi juga kesuburan tanah pertanian dan hasil panen,” tulis dia. Jika Hāritī dipahatkan di dinding sisi utara lorong pintu masuk candi, relief Kuvera atau Atavaka yang merupakan Dewa Kemakmuran dipahatkan di dinding sisi selatan lorong pintu masuknya. Maka, lengkap sudah harapan masyarakat Cepit di masa lalu dengan keberadaan dua sosok itu di Candi Banyunibo. Lahan pertanian mereka subur. Anak-anak mereka terlindungi. Hidup mereka makmur dan sejahtera. Pemugaran yang Sulit Candi Banyunibo ditemukan pada 1932 dalam keadaan runtuh. Sebagian besar batu lepas, berserakan, dan tertimbun tanah. Banyak batu asli yang tak bisa ditemukan kembali. Ketika ditemukan, ruang candinya kosong. Tak ada arca pada relung-relungnya. Stupa-stupa pendampingnya pun tak lagi berdiri tegak. Pemugaran sulit dilakukan dan memakan waktu lama. Pemugaran dilakukan dua kali dan selesai pada 1978. Siapa yang membangun Candi Banyunibo belum jelas. Sebab, tak ada prasasti yang menyebut keberadaan candi ini. Namun, menurut Edy Sedyawati, bentuk atap candinya mirip dengan Candi Semar di Kompleks Candi Dieng, candi perwara Candi Gedongsongo III, dan Candi Plaosan Lor. Karenanya, “Diperkirakan Candi Banyunibo berasal dari abad ke-9, yaitu masa pemerintahan Dinasti Sailendra.” Candi Banyunibo telah kembali tegak. Keberadaannya melengkapi khazanah budaya Nusantara yang bisa dinikmati beragam generasi untuk bersantai sekaligus mempelajari sejarah dan kearifan masa lalu. Saat ini di sekeliling Candi Banyunibo terhampar perkebunan tebu dan persawahan yang luas. Jika ingin melihat dan merasakan langsung bagaimana suasana di Candi Banyunibo, Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diiniasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation tengah menggelar Candi Darling From Home. Anda bisa menyaksikan penananaman pohon di arena candi dan virtual tour Candi Darling melalui video di channel youtube Siapdarling  dan informasi mengenai kegiatan ini di website  siapdarling.id dan instagram  @siapdarling. Kalau sudah lebih rimbun, candi ini pasti akan semakin nyaman dikunjungi. Maka, Candi Banyunibo pun akan sesuai namanya. Ia seakan menjadi setetes air di tanah yang gersang.

  • Enam Aktor Asia Pemilik Piala Oscar

    ACADEMY Awards atau kondang disebut Piala Oscar ke-93 pada Minggu (25/4/2021) menghadirkan sejarah tersendiri bagi para pelaku film asal Asia. Dua sutradara dan tiga aktor Asia masuk beragam nominasi. Dua di antara mereka pulang dengan menggenggam trofi penghargaan tertinggi di ajang perfilman global itu. Sineas asal China Chloé Zhao naik ke atas panggung untuk menerima trofi setelah filmnya, Nomadland (2020), jadi film terbaik. Ia mencatatkan diri sebagai sutradara perempuan Asia pertama yang memenangi Piala Oscar. Selain Zhao, Youn Yuh-jung menerima Piala Oscar setelah aktris berusia 73 tahun itu menang di kategori aktris pendukung terbaik di film Minari  (2020). Sementara, Christina Oh (sutradara terbaik/ Minari ), Riz Ahmed (aktor terbaik/ The Sound of Metal ), dan Steven Yeun (aktor terbaik/ Minari ) harus puas sekadar masuk nominasi. Zhào Tíng alias Chloé Zhao yang memenangi film terbaik dan sutradara terbaik untuk film Nomadland  ( oscars.org ) Dari 92 gelaran Piala Oscar, sangat jarang aktor Asia mendapat apresiasi layak. Hingga kini tak lebih dari 20 aktor berdarah Asia yang pernah masuk nominasi. Hanya enam di antaranya membawa pulang trofi, termasuk Youn yang terbaru. Hal itu dianggap takkan mengubah pandangan Hollywood terhadap aktor-aktor Asia. “Hollywood bisa mengklaim bahwa mereka mempromosikan keragaman dengan award itu. Itu bagian dari resume mereka namun itu bukan berarti menjadi indikasi sesungguhnya dari sebuah perubahan besar. Kita bisa bicara tentang sejarah semau kita tetapi bagi saya ‘sejarah’ hanya sekadar jadi trivia, kecuali sejarah itu sendiri bisa mengubah banyak hal secara kultural,” ungkap Brian Hu, kritikus film dan televisi dari San Diego State University, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Isu diskriminasi dan seksis acap jadi penghambat para aktor dan aktris Asia bisa diapresiasi secara layak dalam Piala Oscar sejak pertamakali dihelat pada 1929. Berikut lima di antara pemenangnya selain Youn: Yul Brynner Yuliy Borisovich Bryner alias Yul Brynner yang menang Piala Oscar untuk film The King and I (Vandamm Studios/oscars.org) Lahir di Vladivostok, Uni Soviet (kini Rusia) pada 11 Juli 1920, aktor bernama asli Yuliy Borisovich Bryner punya perpaduan darah Rusia, Jerman, Swiss, dan Mongolia. Aktor beretnis Buryat ini sempat hidup berpindah-pindah dari China hingga Prancis sebelum akhirnya hijrah ke Amerika Serikat setahun pasca-pecahnya Perang Dunia II. Di Amerika itulah Brynner mulai belajar akting. Debutnya dilakoni di Broadway pada 1941. Butuh delapan tahun baginya untuk bisa tampil perdana di film, Port of New York (1949). Namanya kian melejit setelah mendapatkan peran utama sebagai Raja Mongkut asal Siam (kini Thailand) di film musikal The King and I (1956). Film tersebut mengantarkan Brynner sebagai aktor keturunan Asia pertama yang menang Piala Oscar di kategori aktor terbaik pada 1957. Tetapi hampir sepanjang kariernya Brynner selalu diusik pertanyaan soal asal-usulnya, antara lain tentang benarkah ia keturunan dari salah satu panglima Genghis Khan atau keturunan Gipsi Rumania? Spekulasi berseliweran di sekitarnya. Salah satunya menyebutkan, ayahnya orang Mongolia bernama Taidjie Khan yang lahir di Swiss dan meminjam nama “Bryner” agar dapat pekerjaan. Simpang siur asal-usul itu betebaran lantaran Brynner tak pernah tahu detail garis keluarga dari ayahnya. Kebenaran asal-usul Brynner justru baru disingkap Yul “Rock” Brynner, putra sulungnya dari istri pertama, Virginia Gilmore. Michaelangelo Capua dalam Yul Brynner: A Biography mengungkapkan, Rock mendapati kebenaran bahwa ayahnya merupakan keturunan seorang dokter asal Swiss, Johannes Bruner, dan istrinya, Marie Huber von Windisch. Putra bungsu mereka, Julius Bruner, jadi petualang ke Afrika Utara hingga Jepang. Saat bekerja jadi juru tulis di perusahaan impor di Yokohama, ia mengganti namanya jadi Yulius Bryner. “Yulius kemudian pindah ke Vladivostok dan menikahi Natalya Kurtukova, seorang perempuan berwatak keras dan berkarakter dingin putri dari seorang pangeran Mongolia yang garisnya bisa ditarik sampai ke Genghis Khan. Salah satu dari putra mereka adalah Boris, yang kemudian menikah dengan Marousia Blagovidova. Anak pertama mereka yang lahir 11 Juli 1920 dinamai Youl Borisovitch Bryner alias Yul Brynner,” tandas Capua. Umeki Miyoshi Umeki Miyoshi, aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar ( oscars.org/Metro-Goldwyn-Mayer Inc) Nancy Umeki. Begitu nama panggungnya saat merintis karier sebagai biduan klub malam di Hokkaido pasca-Perang Dunia II. Aktris kelahiran Otaru pada 8 Mei 1929 ini kemudian menseriusi musik pop dan seni peran di teater kabuki. Akhirnya Umeki mendapatkan peran pendukung perempuan di film drama Sayonara (1957) dengan memerankan karakter bernama Katsumi. Sayonara diangkat dari novel bertajuk sama karya James Michener (1954) yang mengisahkan cinta terlarang antara personil militer Amerika dan perempuan Jepang di masa Perang Korea. Film tersebut memetik tiga Piala Oscar, termasuk kategori aktor terbaik atas nama Red Buttons dan aktris terbaik yang dimenangi Umeki. Umeki jadi aktris Asia pertama yang memenangi Piala Oscar 1958. “Filmnya menyandingkan suasana kemiliteran dengan eksotisme Jepang: antara pangkalan yang kaku dengan teater kabuki dan rumah-rumah beralaskan tatami ; antara seragam militer dengan kimono; prajurit Amerika bersuara berat dengan perempuan Jepang. Hubungan yang digambarkan antara prajurit dan perempuan Jepang menempatkan hubungan interasial ke era baru yang tidak menyenangkan,” tulis Sarah Kovner dalam Occupying Power: Sex Workers and Servicemen in Japan. Sayonara juga mengumbar “eksotisme” Jepang dalam bentuk kevulgaran perempuan Jepang. Hal ini menjadi sorotan sosiolog Nancy Wang Yuen, bahwa stereotip dan imej eksotis dari peran seperti yang dimainkan Umeki itu terus terbawa di industri film Hollywood hingga kini. “Melihat (karakter) Katsumi memandikan orang kulit putih, kurang lebih seperti itulah cara perempuan Asia yang diumbar seksualitasnya dan dianggap eksotis dalam imajinasi Hollywood. Seksualitas itulah satu-satunya cara aktris Asia bisa memenangkan Piala Oscar dan dia (Umeki) benar-benar mencontohkan masalah-masalah representasi perempuan Asia,” tandas Yuen, dikutip Time , Minggu (25/4/2021). Ben Kingsley Piala Oscar yang diraih Ben Kingsley atas perannya di biopik Gandhi (Columbia Pictures/oscars.org) Bernama lahir Krishna Pandit Bhanji, dia dilahirkan pada 31 Desember 1943. Namun demi memperlancar kariernya di dunia akting, pada medio 1960-an Krishna memilih ganti nama berbau Inggris menjadi Ben Kingsley. Seni peran sudah mendarah daging dalam dirinya, terutama diturunkan dari ibunya, Anna Lyna Mary Goodman. Anna merupakan aktris dan model sebelum dipersunting peneliti asal Gujarat, Dr. Rahimtulla Harji Bhanji. Terjun ke dunia film sejak 1972, Kingsley membintangi 97 film, termasuk yang terakhir Locked Down (2021). Namanya melejit setelah memenangi Piala Oscar 1983 sebagai aktor terbaik dengan memerankan tokoh legendaris Mahatma Gandhi dalam biopik Gandhi (1982). Saat ikut casting , Kingsley sudah punya banyak keunggulan. Selain penampilan fisik dan warna kulitnya mirip dengan Gandhi, Kingsley sudah malang-melintang 15 tahun di seni teater di Royal Shakespeare Company. Saat diumumkan, Kingsley mendapat dukungan dari Indira Gandhi. “Tetapi pekerjaan saya terusik banyak orang. Bahkan satu adegan sederhana saja bisa jadi perhatian. Dua puluh kali dalam sehari orang-orang akan mendesak saya dengan gagasan-gagasan mereka. Dan ketika adegan pemakaman Gandhi dengan 300 ribu (pemeran) ekstra, sayalah sosok yang dilihat semua orang. Saya belajar mendengarkan suara hati saya dengan sabar yang mengatakan untuk jadi diri sendiri,” ujar Kingsley kepada New York Magazine , 20 September 1982. Haing Somnang Ngor Satu-satunya aktor Asia Tenggara yang memenangkan Piala Oscar ( unl.edu/oscars.org ) Sebelum munculnya biopik The Killing Fields (1984), tak satu pun di kalangan perfilman mengenal Haing S. Ngor. Namanya dalam sekejap melejit setelah memerankan tokoh wartawan Kamboja, Dith Pran, dengan latar belakang perang saudara Kamboja dan teror Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Lahir di Samrong Yong pada 22 Maret 1940, Haing berprofesi sebagai dokter kandungan di Pnom Penh hingga Khmer Merah merebut kekuasaan di ibukota Kamboja itu. Pendudukan itu membuat Haing terpaksa menyamar sebagai orang biasa di kamp tawanan lantaran rezim Khmer Merah menargetkan membantai para intelektual dalam rangka eksperimen sosial “Year Zero”. Saking harus mempertahankan “aktingnya” sebagai orang awam, Haing sampai harus mengikhlaskan istri dan anak dalam kandungannya meninggal di kamp. Ia tak bisa membongkar penyamarannya demi melakoni operasi Caesar . Pasca-kejatuhan Khmer Merah, Haing pindah ke Amerika untuk meneruskan kariernya sebagai dokter. Yang tak disangkanya kemudian adalah sutradara Roland Joffé mendekatinya ketika akan menggarap The Killing Fields. “Setelah sebulan casting , dia (Joffé) punya sekumpulan aktor yang menarik. Ada John Malkovich, Sam Waterston, dan Haing S. Ngor awalnya tidak diperhitungkan tapi pertemuan mereka sangat intens. Faktanya memang Haing belum pernah berakting sebelumnya tapi John melihat hal berbeda: dia bilang Haing justru sudah berakting sepanjang hidupnya –Anda harus jadi aktor yang hebat untuk bisa selamat dari Khmer Merah,” kenang aktor Julian Sands kepada The Guardian , 10 November 2014. Meski sempat menolak untuk masuk ke proyek film dan memerankan Dith Pran, Haing kemudian berubah pikiran setelah dibujuk tim produksi. Keputusannya ternyata tak keliru. Pada ajang Academy Awards 1985, Haing memenangkan Piala Oscar untuk kategori aktor pendukung terbaik dan jadi aktor Asia pertama yang memenangkannya di debut film. “Lagipula saya menghabiskan empat tahun di sekolah akting Khmer Merah. Saya ingin memperlihatkan pada dunia betapa dalamnya bencana kelaparan di Kamboja dan berapa banyak orang yang mati di bawah rezim komunis,” ujar Haing, dikutip The Vietnam Experience: A Concise Encyclopedia of American Literature, Songs, and Films. F. Murray Abraham Film Amadeus  meroketkan nama Murray Abraham (Los Angeles Public Library/Orion Pictures Corporation) Sosok kelahiran Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat pada 24 Oktober 1939 ini tak punya darah seni dari ibunya, Josephine Stello, maupun ayahnya, Fahrid Abraham. Namun begitu aktor blasteran Suriah-Italia ini ikut teater sekolah, minatnya pada seni peran tumbuh dengan sendirinya. Hingga kini ia sudah membintangi 73 film. Lewat film Amadeus (1984), ia memenangkan Piala Oscar kategori aktor terbaik di ajang Academy Awards 1985. Di film itu Abraham memerankan komposer Italia Antonio Salieri, yang dari kawan menjadi lawan komposer Wolfgang Amadeus Mozart. Amadeus yand diproduksi dengan biaya hanya 19 juta dolar laris di pasaran dengan meraup laba 90 juta dolar. Capaian tersebut kian sempurna karena Abraham memenangkan Oscar dengan mengalahkan Jeff Bridges ( Starman ), Albert Finney ( Under the Volcano ), Sam Waterston ( The Killing Fields ), dan rekan Abraham sendiri di film Amadeus , Tom Hulce. “ Amadeus jadi film ketujuh dalam sejarah yang menang delapan Oscar (dari 11 nominasi). Penampilan Abraham mengungguli rekannya sendiri, Albert Finney. Sampai lima tahun kemudian Abraham tetap tak menyangka: ‘Piala Oscar adalah event paling penting dalam karier saya. Saya diundang makan malam oleh para raja, pendapatan yang setara dengan para idola saya, memberi kuliah umum di Harvard dan Columbia, serta merasa bangga bisa ambil bagian di perkumpulan seniman internasional terhebat dunia,” kata Abraham, dikutip Anthony Holden dalam The Oscars.

  • Peran Indonesia dalam Kemerdekaan Aljazair

    PADA akhir Mei 1956, Mohammed Benyahia dan Lakhdar Brahimi pergi dari Paris ke Bandung. Kedua pemuda Aljazair itu adalah anggota dari Union Générale des Etudiants Musulmans Algériens (UGEMA), organisasi aktivis mahasiswa yang memiliki koneksi dengan organisasi revolusioner Aljazair, Front de Libération Nationale (FLN). Benyahia baru saja memulai kariernya sebagai pengacara, sementara Brahimi adalah mahasiswa ilmu politik di Paris. Keduanya memutuskan untuk berhenti dari karier dan sekolah demi mencurahkan waktu dan tenaga untuk perjuangan kemerdekaan Aljazair dengan pergi ke Bandung.

  • Ketika Bung Hatta Mempelajari Nippon Sheishin

    Suatu pagi di bulan September 1943. Mohammad Hatta bergegas menyambut kedatangan seorang Jepang di rumahnya. Dia adalah seorang juru bicara Kempetai (polisi rahasia militer Jepang) bernama Myoshi. Hari itu rencananya Hatta akan diantar memenuhi undangan minum kopi dari wakil ketua Kempetai bernama Murase di kediamannya. Pada waktu itu Hatta sebenarnya sedang menjalankan ibadah puasa. Tetapi karena undangan minum kopi tersebut cukup penting, Hatta memilih tetap datang. Terlebih di antara pemimpin-pemimpin Indonesia hanya tinggal Hatta yang belum bertemu dan berkenalan secara langsung dengan Murase.  Sekira pukul 10, Hatta tiba di kediaman Murase. Setelah dipersilahkan masuk, Hatta dibawa ke sebuah ruangan di belakang rumah, tempat sang tuan rumah berada. Di sana sudah tersedia kopi dan berbagai makanan pendampingnya. Murase ada di balik meja penuh makanan tersebut. Begitu melihat Hatta masuk, dia lantas berdiri dan memberi salam. “Ia menyesal sekali bahwa waktu itu bulan puasa dan aku tidak dapat diajak minum kopi bersama-sama. Tetapi dia sendiri katanya harus menghormati tamunya dalam bulan Ramadhan. Sebab itu dia juga tidak minum apa apa dan tidak memakan kue-kue yang sudah disediakan,” kata Hatta dalam otobiografinya  Memoir . Setelah bertukar salam dan saling menanyakan kabar, Murase masuk ke pembicaraan utama. Dia memulainya dengan menceritakan tentang perkembangan kapitalisme dan imperialisme dunia, termasuk negaranya Jepang. Murase kemudian meminta Hatta mengemukakan pendapatnya tentang masalah tersebut. Dikatakan oleh Hatta bahwa dirinya cukup menyayangkan sikap Jepang yang ikut terpengaruh imperialisme Barat. Sebagai contoh Hatta menyebut tindakan Jepang terhadap Tiongkok yang sangat menyengsarakan. Bagi Hatta, invasi Jepang telah memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat di Negeri Tirai Bambu. Murase segera menyela pembicaraan Hatta. Dia mengatakan bahwa pendirian negaranya sudah tidak seperti itu. Jepang hendak melakukan perubahan di seluruh Asia. Bahkan alasan di balik Jepang memulai Perang Asia Timur Raya adalah untuk membebaskan bangsa-bangsa Asia dari pengaruh imperialisme dan kapitalisme Barat. Wakil ketua Kempetai itu lalu bertanya apakah Hatta pernah menulis karangan anti Jepang. Dijawab oleh Hatta kalau dirinya pernah sekali menulis soal Jepang saat Perang Asia Timur Raya pecah. Karangan itu berisi tentangan atas imperialisme yang dilakukan Negeri Samurai di Asia. “Apakah tuan dipaksa atau dihasut oleh pemerintah kolonial Belanda?” tanya Murase. “Tidak. Aku menulis karangan itu atas keyakinan sendiri. Belanda tidak dapat menghasut aku, sebab Belanda sendiri adalah negara imperialisme kolonial dan aku tentang juga. Aku anggap di waktu itu Jepang mengikuti saja tindakan imperialisme Barat, jadinya serupa saja,” ucap Hatta. “Itu oleh karena tuan belum mempelajari Nippon Sheishin,” jawab Murase tegas. “Apabila tuan kenal Nippon Sheishin, tuan akan mengerti tindakan Jepang, yang pada dasarnya menentang imperialisme Barat dan akan memerdekakan bangsa-bangsa Asia dari imperialisme Barat,” lanjutnya. Dari percakapan tersebut Hatta menyadari tujuan utama Murase membuat undangan minum kopi untuknya, yakni meminta dia mempelajari Nippon Sheishin. Pemerintah Jepang sendiri tahu kalau Hatta adalah intelektual penting dan tokoh pergerakan utama negerinya. Bagi pemerintah militer Jepang, dia salah satu pilihan paling tepat untuk menyampaikan maksud Jepang selama berada di Indonesia. Beberapa hari setelah pertemuan di rumah Murase, muncul berita di surat kabar kalau pemerintah pusat Jepang di Tokyo memerintahkan pemerintahan Jepang di Jawa mengutus dua orang Indonesia datang ke negerinya. Mereka harus berasal dari Cuo Sangi In dan pemimpin Islam di Jawa. Pemerintahan militer Jepang di Jawa menyanggupinya. Mereka lalu membuat permintaan kepada pusat agar diperkenankan menambah satu perwakilan lagi untuk datang ke Jepang. Orang ketiga ini berasal dari kalangan intelektual yang akan mempelajari Nippon Sheishin. Pusat pun menyanggupi. Hatta sudah menduga bahwa orang ketiga yang dimaksud adalah dirinya. Awalnya dia hendak menolak perintah tersebut. Tetapi setelah dipikir ulang, Hatta pun menerimanya. “Dari pada jatuh ke tangan Pemerintah Militer di sini, yang hasilnya pasti aku akan dibunuhnya, lebih baik dibuangnya ke Tokyo. Dibuang dengan tugas mempelajari Nippon Sheishin rasanya tidak berat. Tidak ada bahaya yang mengancam hidupku,” ujar Hatta. “Sekurang-kurangnya aku dapat bersahabat dengan orang-orang besar di sana, bermula dengan minta petunjuk mereka tentang Nippon Sheishin.” Tidak lama setelah itu, pemerintahan Jepang di Jawa mengumumkan ketiga orang yang berangkat: Sukarno (Cuo Sangi In), Ki Bagus Hadikoesoemo (pemimpin Islam Jawa), dan Hatta (intelektual). Sebelum berangkat ketiganya secara bergiliran diberikan arahan oleh Gunseikan. Kepada Hatta dikatakan kalau tugasnya ke Tokyo berbeda dengan dua orang lainnya yang diminta pemerintah pusat. Dia berangkat dengan misi khusus dari pemerintahan Jepang di Jawa. Hatta juga diminta untuk tidak membicarakan persoalan lain selain Nippon Sheishin. Dia diberi waktu tiga bulan untuk menyelesaikan misinya, atau jika kurang diberi tambahan waktu hingga 10 bulan. “Yang penting ialah apabila aku sudah kembali ke Jawa aku menulis suatu buku tentang Nippon Sheishin yang dapat dibaca oleh bangsa Indonesia,” kata Hatta. Ketiga perutusan dari Indonesia tersebut berangkat pada permulaan November 1943.

  • Jaringan Intelektual dan Spiritual dalam Jalur Rempah

    Jalur rempah menghubungkan Maluku yang menjadi sumber rempah dengan laut Jawa, Champa (Kamboja dan Vietnam) di utara, sampai ke Tiongkok. Menghubungkan Selat Malaka, Aceh, dan Srilanka di barat. Dari Aceh terhubung ke Semenanjung Malaysia, Burma, Bangladesh, dan turun di pantai timur India. Dari selatan India, para pelaut yang mengarungi jalur ini pada musim yang tepat bisa berlayar langsung ke Yaman. Ada pula yang melewati pantai barat India hingga ke Persia sampai ke ujung Teluk Persia atau Teluk Arab. Bukan hanya perdagangan dan komoditas, jalur rempah juga menjadi jalur bagi pertukaran budaya. Sebagaimana dikatakan Dekan Fakultas Islam Nusantara, Universita Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Ahmad Suaedy, jalur ini juga bisa dilihat sebagai jaringan intelektual dan spiritual. Bahkan akar kosmopolitanisme Islam di Nusantara berawal dari jalur rempah. “Jalur rempah selalu dilihat dari komoditas, perdagangan. Padahal [intelektual dan spiritual] tak bisa dipisahkan,” kata Suaedy dalam diskusi daring bertema “Tradisi dan Jarngan Sufisme di Jalur Rempah: Mencari Akar Kosmopolitan Islam Nusantara”, Sabtu, 24 April 2021. Hindu, Buddha, dan Islam tiba ke Nusantara melalui jalur rempah. “Sebelum Eropa datang mencari rempah, pelayaran dilakukan oleh orang Persia, Timur Tengah, dan India. Mereka membawa pengaruh spiritual Hindu, Buddha, dan Islam,” lanjut Suaedy.   Tak cuma menerima pengaruh, Nusantara juga dikunjungi orang luar untuk belajar agama. Sriwijaya pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan agama Buddha. “Kita tahu dari Tibet ada yang ziarah ke Sriwijaya untuk belajar Buddha. Nusantara didatangi orang lain untuk belajar. Jadi tak hanya menerima tapi pusat pengajaran,” kata Martin van Bruinessen, ahli studi tentang Islam dari Utrecht University, Belanda. Pedagang muslim diperkirakan juga sudah mengunjungi kota pesisir di Sumatra Utara atau Aceh pada abad pertama atau kedua Hijriah (abad ke-7 atau ke-8 M). Barangkali ada juga yang menetap. “Selama ada pergerakan manusia, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan menetap cukup lama, maka saat itu ide-ide pemikiran termasuk agama pun ikut dibawa,” kata Van Bruinessen. Catatan Pertama tentang Islam di Aceh Pada abad ke-8 M, sebuah kota yang majemuk ditemukan di Tiongkok. Kota itu adalah Quanzhou yang oleh banyak sumber disebut Zaitun. “Kita tahu soal kota ini dari catatan pengalaman dua penjelajah besar dunia,” lanjut Van Bruinessen. Marco Polo (1271–1295) adalah pedagang Venesia yang pernah tinggal di Tiongkok selama hampir 20 tahun. Dia mencatat terdapat komunitas muslim yang besar di kota Zaitun. Marco Polo melakukan perjalanan dari kampung halamannya ke Irak, Iran, Afghanistan, menyusuri Jalur Sutra ke Tiongkok. Dia tinggal agak lama di Mongolia sebelum tiba di Tiongkok. “Dia lalu kembali ke Venesia melalui Selat Malaka. Dari catatannya kita dapat kesan waktu itu, 1292 mungkin, belum ada orang Aceh yang jadi muslim. Waktu itu masih pra-Islam,” jelas Van Bruinessen. Lima puluh tahun setelah perjalanannya, Ibnu Battuta (–1354), penjelajah asal Maroko, menyusuri jalur darat mengunjungi banyak wilayah di Asia. Dia bukan pedagang melainkan ulama dan ahli fikih. “Dia meninggalkan catatan menarik tentang Zaitun. Ia bicara tentang orang Islam dari Persia dan Arab. Zaitun itu ada di seberang Taiwan,” jelasnya. Dari Zaitun, Ibnu Battuta pulang lewat jalur laut. Dia melewati Filipina, Kalimantan, dan Selat Malaka. Sempat mampir di Aceh, dia menjadi orang pertama yang mencatat bahwa sudah ada orang Islam di Aceh. “Ibnu Battuta ini sumber pertama kalau di Aceh sudah ada Islam. Jadi antara kunjungan Marco Polo dan Ibnu Battuta itu sekira 1320 (Islam sudah ada di Aceh , red . ),” lanjutnya. Tasawuf dan Tarekat Tasawuf dan tarekat memainkan peran menentukan dalam proses persebaran Islam di Nusantara. Tasawuf dan tarekat selalu memiliki warna lokal tapi membawa ajaran yang universal. Karenanya tarekat lebih mudah menjadi perantara penyebaran Islam yang universal tetapi tetap menyimpan lokalisme. “Orang sufi menerima cara pujian terhadap nabi yang bersifat sangat lokal diiringi musik, bentuk ziarah yang bersifat tradisi sangat lokal. Haul juga mudah diterima orang penganut tasawuf daripada yang men g khususkan diri terhadap fikih dan hadis,” jelas Van Bruinessen. Adapun tarekat yang dikenal di Indonesia ada yang berkembang di Afrika, India, dan Asia Tengah. Semuanya terhubung dengan jaringan yang sangat luas tersebar di seluruh dunia. “Hubungannya melalui jalur rempah atau jalur sutra, jalur maritim maupun darat,” lanjut Van Bruinessen. Pengamatan menarik lainnya, kata Van Bruinessen, orang-orang yang ada di wilayah penyebaran Islam jalur rempah rata-rata menganut mazhab Syafi’i. Sementara masyarakat yang di wilayah penyebaran jalur sutra atau darat menganut mazhab Hanafi. Hal itu sangat mencolok di India. Islam yang datang dari utara, yakni yang menciptakan budaya Mughal, bermazhab Hanafi. Namun yang nampak di wilayah pesisir Samudra Hindia adalah mazhab Syafi’i. “Mazhab Hanafi mungkin lebih sering dipakai sebagai mazhab negara. Mughal dan Utsmani mengambil Hanafi sebagai mazhab. Sedangkan Syafi’i disebarkan secara perseorangan. Tapi faktor kebetulan mungkin lebih penting,” jelas Van Bruinessen. “Jadi maz h ab juga berkaitan dengan jalur perdagangan.” Bahasa Melayu, Bahasa Jalur Rempah Van Bruinessen menyoroti bagaimana para pedagang dan pelayar saling berkomunikasi ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Khususnya ketika menyusuri jalur rempah, para pedagang dan pengembara selalu memilih mengambil perjalanan yang lebih pendek. Mereka harus berpindah kapal untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan. “Bukannya dari Yaman langsung ke Maluku. Harus menunggu musim angin juga,” jelas Van Bruinessen. Di kawasan Nusantara rupanya bahasa Melayu yang dipakai dalam perdagangan antarpulau. “Di daerah pinggiran laut sering mengambil bahasa Melayu sebagai bahasa pertama. Di pedalaman ada bahasa lain,” kata Van Bruinessen. Komunitas berbahasa Melayu bahkan juga ditemukan di Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Srilanka. “Jadi bahasa Melayu punya kaitan erat dengan jalur rempah,” tegasnya. “Jalur rempah di sini ada aspek budaya juga.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page