Hasil pencarian
9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Surat Wasiat Kartosoewirjo
SURAT wasiat Zakiah Aini yang ditembak mati di Mabes Polri beredar di media sosial. Berisi alasan memilih jalan dan pesan kepada keluarga agar menjaga ibadah. Pesannya menunjukkan keyakinannya bahwa sistem di Indonesia tidak sesuai ajaran Islam.
- Zakia... Zakia...
Seorang teroris menyusup dan menyerang Markas Besar Polisi Republik Indonesia di Jakarta, 31 Maret 2021. Teroris itu menembaki polisi yang sedang berjaga. Aksinya berakhir setelah polisi berhasil menembaknya. Teroris itu pun putus napas. Jenazahnya terbaring di halaman Mabes Polri. Dari keterangan polisi, teroris itu bernama Zakiah Aini. Zakiah Aini sebenarnya nama yang bagus. Berasal dari bahasa Arab, Zakiah berarti terang atau bersinar. Sedangkan Aini artinya mata saya. Empat puluhan tahun lalu, nama depan teroris ini pernah tenar. Banyak orang merapal namanya. “Zakia, Zakia penari gurun pasir ternama. Zakia, Zakia terpesona aku melihatnya.” Begitulah kaum tua, muda, pecinta musik rock, dan pecinta musik dangdut merapalnya hari demi hari. Tapi Zakia bukanlah sosok nyata. Dia sosok dalam lagu ciptaan Ian Antono dan Achmad Albar, dua personel Godbless, grup musik rock sohor 1980-an. Lagu “Zakia” menceritakan perempuan penari dari gurun pasir. Dia mempesona. Lirikan mata, goyang pinggul, dan senyumnya kekal di pandangan orang yang melihatnya. Tapi Zakia hanya muncul sepintas. Dia menghilang. Sampai orang-orang merindukannya. Seperti Zakiah teroris itu, kemunculan lagu “Zakia” juga bikin geger. Bagaimana tidak? Seorang Raja Rock tanpa mahkota bernama Achmad Albar menyanyikan lagu bernuansa dangdut. Albar merilis “Zakia” bersama delapan lagu lainnya dalam album bertajuk Zakia pada 1979. “Album dangdut pertama Achmad Albar yang aji mumpung ketika dangdut melejit dan populer di akhir 1970-an,” kata Sulaiman Harahap, sejarawan peneliti dangdut dari Studio Sejarah. Peralihan Achmad Albar ke musik dangdut mendapat protes keras dari penggemarnya. Fans Albar tak percaya idolanya sampai hati menyanyikan lagu dangdut. Bagi mereka, dangdut adalah musik kampungan, musik kelas bawah. Menurut Sulaiman, kebencian fans rock terhadap dangdut telah mengemuka sejak 1970-an. “Bahkan terlempar hinaan yang lebih kasar lagi dari grup rock asal Bandung, Giant Step, bahwa musik dangdut ‘Taik Anjing’,” terang Sulaiman dalam penelitiannya, The Voice of Moslem: Dangdut Dakwah Rhoma Irama bersama Soneta 1973–2000. Album Zakia garapan Achmad Albar yang memanfaatkan popularitas dangdut. (Koleksi Sulaiman Harahap). Karena dangdut sering mendapat hinaan, seorang musisi dangdut bernama Rhoma Irama berupaya mengangkat marwah dangdut melalui grup Soneta. Usahanya berhasil. Dia pun mendapat julukan Raja Dangdut. Dia punya fans fanatik dan setia. Fans ini akan menyerang siapapun yang menghina dangdut. Pertikaian fans dangdut dan rock tak terelakkan lagi. Ketika ketegangan fans dangdut dan rock makin tinggi, Rhoma mengajak Raja Rock Achmad Albar untuk manggung bareng. Albar menerima ajakan itu. Dua raja ini pun tampil bareng di Istora Senayan pada 31 Desember 1977. “Pagelaran musik tersebut dibuka dengan pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian, kemudian berlangsung dengan kemeriahan, dan berakhir pukul 23.00 dengan berangkulan dan penyematan kembang kepada Achmad Albar dan Rhoma Irama yang penuh nuansa persahabatan,” terang Sulaiman. Dua raja itu telah berdamai. Tapi fansnya tidak. Fans rock masih sering mengejek dangdut. Tapi ejekan mereka tak mencegah dangdut bertumbuh dan membesar. Popularitas dangdut tumbuh lebih cepat daripada musik rock pada akhir 1970-an. Dangdut menjadi seperti candu. “Penyanyi pop yang dulu setengah mati jijiknya sama dangdut kini rame-rame nyanyi dangdut sambil mencuap: Dangdut memang enak dan memasyarakat,” tulis Mira Sato dalam Kompas, 10 September 1979. Mira Sato adalah nama samaran Seno Gumira Ajidarma pada 1970-an. Dangdut juga mulai masuk siaran TVRI. Di mana-mana orang terbius dangdut. Popularitas dangdut mendatangkan uang berkoper-koper bagi para musisi dan produser rekaman. Dari sini muncullah sebuah ide gila Masheri Mansyur, wartawan majalah musik Junior . Bagaimana jika musik dangdut dinyanyikan oleh Raja Rock? Ide itu tak hanya gila, tapi juga provokatif. Ini akan memancing kemarahan para fans rock. Belum tentu juga Raja Rock bersedia menyanyikan musik dangdut. Tapi Achmad Albar secara mengejutkan menerima ide itu. “Dangdut memang bukan main. Semua orang diseret dan digoyangkannya. Kali ini giliran Achmad Albar, si kribo yang dulu pernah perkasa dengan God Bless. Didahuluinya dengan segala macam persiapan, termasuk gosip ia tampil kini dengan ‘Zakia’,” ungkap Efix, pengulas musik 1970–1980-an, dalam “Tantangan untuk Achmad Albar” termuat di Kompas , 22 Juli 1979. Albar mengungkapkan alasan mengapa dia menyanyi dangdut. “Di negeri ini, musik kita musiman... Sebagai artis, sudah sepatutnya kita mengikuti aliran yang ini dan yang itu. Ini kalau kita ingin hidup dari profesi pemusik,” kata Albar dalam Aktuil, 3 Agustus 1981. Albar memang butuh duit. Dia bilang sedang membangun rumah pribadinya di kawasan Pondok Labu, Kebayoran. Almarhum Denny Sakrie, penulis sekaligus pengarsip musik, juga yakin alasan Albar menerima tawaran itu karena uang. “Menerima kontrak senilai Rp25 juta pada tahun 1979 untuk membuat album dangdut bertajuk Zakia yang dirilis oleh Sky Record. Saat itu, Rp25 juta adalah angka yang fantastik,” tulis Denny dalam dennysakrie63.wordpress.com Untuk menggarap musik Zakia, Albar mengajak Ian Antono dan Abadi Soesman. Penggarapannya tak lama. Musiknya cepat selesai. Begitu pula dengan liriknya. Penampilan perdana Achmad Albar berdangdut dengan membawakan “Zakia” terjadi di TVRI, Juni 1979, menjelang bulan puasa. Di acara itu, Achmad Albar membawa pula Ratu Dangdut Elvy Sukaesih, yang kasetnya laku bertruk-truk. Elvy tampil sebagai Zakia, penari dari Timur Tengah. Mengenakan setelan berwarna keemasan, Elvy mahir mempertontonkan tari perut. Nuansa Timur Tengah sangat kental dalam acara itu. Setelah acara itu, Albar merilis kaset album Zakia . Hasilnya laris-manis tanjung kimpul. Orang-orang membelinya dan menyetelnya kencang-kencang di radio. Fans musik rock pun ciut. Tak sedikit diantara mereka akhirnya menyerah dan diam-diam mendengarkan “Zakia” sembari membayangkan Elvy Sukaesih bergoyang di hadapannya. “Zakia, Zakia, tak seorang pun dapat mengerti bila ku katakan aku selalu merindukannya”.
- Membidik Sejarah Olahraga Menembak
RABU, 31 Maret 2021, Indonesia dihebohkan oleh serangan teroris ke Mabes Polri. Serangan itu terjadi sangat dekat dengan ruang kerja Kapolri. Perempuan pelaku teror akhirnya tewas diterjang timah panas aparat. Dari identitas yang ditemukan, perempuan peneror itu bernama Zakiah Aini. Dari pemeriksaan terhadap jasad, ditemukan Kartu Tanda Anggota (KTA) dengan logo Perbakin (Persatuan Menembak Indonesia). Hal ini menjadi sorotan di masyarakat. Menanggapi hal itu, Sekjen Perbakin Firtian Jusdiwandarta mengungkapkan bahwa pelaku bukan serta-merta anggota resmi Perbakin, melainkan sekadar anggota klub menembak Basis Shooting Club yang logonya tertera di bawah logo Perbakin dalam KTA tersebut. Klub menembak di KTA pelaku, kata Firtian, sudah lama dibubarkan Pengprov Perbakin DKI lantaran sudah melanggar banyak ketentuan. Anggota klub menembak tak otomatis jadi anggota Perbakin. Untuk jadi anggota resmi Perbakin, seorang individu mesti terlebih dulu direkomendasikan klubnya untuk ikut sertifikasi menembak. “PB Perbakin Pusat anggotanya adalah Pengprov Perbakin seluruh Indonesia. Kemudian Pengprov masing-masing punya pengurus Perbakin Kabupaten/Kota. Pengurus Kabupaten/Kota punya klub menembak. Jadi setiap individu harus terdaftar di klub menembak terlebih dulu,” kata Firtian. Hobi Berburu dari Zaman Belanda Menembak sebagai olahraga, baik dalam berburu maupun bidik sasaran, mengawali kepopulerannya di Inggris pada abad ke-18 seiring dengan perkembangan senjata api. Di Indonesia, aktivitas ini dibawa masuk orang-orang Belanda dan dalam batas tertentu makin berkembang sejak Perang Kemerdekaan. Sebagaimana di Inggris, aktivitas menembak sebagai rekreasi dibawa masuk orang Eropa ke Indonesia pada permulaan abad ke-20 dalam bentuk kegiatan berburu. Namun rekreasi itu berada di garis batas dengan aktivitas perburuan ilegal yang mengancam eksistensi fauna-fauna langka. Oleh karenanya untuk membatasi perburual ilegal, pada 21 Juni 1931 sekelompok elite Belanda dan Tionghoa mendirikan perkumpulan pemburu Nederlandsch-Indische Jagersgenootschap (NIJG). Mengutip Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 23 Juni 1931, NIJG didirikan dalam rapat besar di kediaman pengusaha Tionghoa, Tio Tek Hong, yang sekaligus menentukan para pengurusnya. “Berdirinya Nederlandsche-Indische Jagersgenootschap ditetapkan di kediaman Tio Tek Hong di belakang tokonya (kini Toko Tio Tek Hong, Sawah Besar). AD/ART-nya langsung diratifikasi dalam rapat setelah adanya beberapa perubahan dan penambahan. Saat rapat turut dihadiri 49 anggota, di mana 29 di antaranya berasal dari luar Batavia seperti Solo, Serang, Pegadenbaru (Subang), Bogor dan beberapa kota lain,” tulis koran tersebut. Rapat pendirian asosiasi itu menetapkan pemimpin pertamanya, J. Olivier, T.L. Tio Tek Hong, dan Ir. A.F. Wehlburg. Mereka lantas sepakat memilih J. Olivier sebagai presidennya dan Tio Tek Hong bersama Wehlburg sebagai sekretaris merangkap bendahara. Selain memiliki senjata api, syarat yang ditetapkan untuk menjadi anggota NIJG ialah membayar uang pendaftaran sebesar tiga gulden –yang mulai dipungut pada 1 Juli 1931– dan uang iuran dengan besaran nilai yang sama untuk dibayarkan per empat bulan. Namun sudah menjadi anggota NIJG bukan berarti bisa berburu satwa semaunya. NIJG menetapkan program-program “Big Game” atau event musim berburu sebagaimana di Inggris. “Ketua (J. Olivier) juga menjelaskan visi perkumpulannya, yakni mempromosikan pengetahuan tentang perburuan yang legal agar tidak bertolak-belakang dengan kepentingan pemerintah terkait perburuan ilegal. Setiap anggota wajib menaati tiga poin: Pertama , menentang praktik perburuan ilegal yang mengancam kehidupan satwa liar. Kedua , praktik umpan dengan organ hewan lain hanya diperbolehkan selama tak melanggar perundang-undangan. Ketiga , praktik berburu dengan asap di medan perburuan, di mana praktik-praktik ganjil itu sudah masuk ke dalam aturan terlarang,” lanjut suratkabar tersebut. Dalam perjalanannya, NIJG tak hanya diikuti kaum elit namun juga diikuti para pelajar dan pakar kesehatan serta biologi. Bagi mereka, ikut aktivitas perburuan legal bisa sekaligus dijadikan penelitian. “Sambil menyelam minum air,” kata pepatah. “Perkumpulan Pemburu Hindia Belanda berkembang pesat sampai awal 1942 ketika Perang Pasifik dimulai. Saat itu terdapat sekitar 2.250 anggota, banyak dari mereka anggota aktif di bawah kepresidenan pakar medis Dr. W.F. de Priester (1937-1942). Anggota lain di komitenya saat pecah perang adalah Dr. J.D.F. Hardenberg (dari Stasiun Biologi Kelautan di Tanjung Priok), B.R. Peelen, T. Tacoma, Tan Tjoan Hong, dan L. Wesselius,” ungkap J. H. Becking dalam Henri Jacob Victor Sody, 1892-1959: His Life and Work. Dari PORPI hingga Perbakin Pasca-pendudukan Jepang dan kembalinya Belanda ke Indonesia, pada November 1946, L. Wesselius dibantu J. Olivier mencoba menghidupkan lagi perkumpulan menembak dengan nama De Indische Jager. Tetapi perkumpulan itu bubar pada 1950 saat diketuai Letnan Kolonel A.A.F. Maurenbrecher. Mengutip Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah: Perioed 1945-1965 terbitan Depdiknas 2004, sebagai pengganti untuk menampung para penghobi kegiatan menembak dan berburu, Didi Kartasasmita dibantu P.G.O. Noordraven, Said Suryanatanegara, Tan Wie Soen, dan dr. Moh Azil Widjajakusuma mendirikan Perhimpunan Olahraga Perburuan Indonesia (PORPI) di tahun itu juga. Walau PORPI saat itu belum punya bidang menembak sasaran, anggotanya yang bernama Lukman Saketi sudah mewakili Indonesia dalam Asian Games II di Filipina pada 1954. Lukman bahkan menyumbang sekeping medali perunggu di nomor Rapid Fire Pistol 25 meter putra. “Sampai pada 1958 selain ada bidang perburuan, dibentuk akhirnya pula bidang menembak sasaran. Pembentukan ini ada kaitannya dengan keinginan Indonesia aktif dalam olahraga menembak di tingkat internasional. Menjelang pemberangkatan serta persiapan tim observer ke Olimpiade Roma (1960), maka di Jakarta pada 25 Mei 1960 diadakan rapat pembentukan organisasi menembak sasaran. Ini dimaksudkan juga untuk mempersiapkan keikutsertaan Indonesia dalam Asian Games IV di Jakarta tahun 1962,” kata buku tersebut. Kontingen Indonesia di Olimpiade Roma 1960 ( Nasional , 5 September 1960/olympic.org) Anggota tim observer atau pemantau yang dimaksud adalah Soedjanoedji dan Kapten (Pnb) Sanusi Tjokroadiredjo. Kapten Tjokro bahkan ikut langsung jadi atlet menembak Indonesia pertama di olimpiade itu dengan mendaftarkan diri di nomor Free Pistol 50 Meter putra menggunakan nama Perbakin. Namun ia gagal lolos kualifikasi ke babak final. “Sebenarnya saat itu secara resmi Perbakin belum terbentuk. Atas inisiatif (Mayjen) Soengkono, Bapak Soedirgo, dr. Alibasah Saleh, R.H. Poernomo, Soedjanoedji dalam pertemuannya di Cimahi bersamaan dengan diselenggarakannya PON V (30 September-8 Oktober) tahun 1961 didirikanlah Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin). Kongres Perbakin yang pertama di Porong, Jawa Timur pada 17 Juli 1963, menetapkan Bapak Soengkono sebagai ketua umum pertama masa bakti 1961-1967, juga menetapkan keikutsertaan di cabang menembak Asian Games IV,” sambung buku tersebut. Setelah para pengurusnya sudah paripurna, seiring Asian Games IV, Perbakin mendaftarkan diri ke South East Asia Shooting Association, Asian Shooting Confederation, dan International Shooting Union (ISU, kini International Shooting Sport Federation/ISSF). Setelah itu, animo masyarakat pada olahraga menembak pun meningkat. Kendati siapapun boleh mengikuti olahraga, ia diatur ketat. Setiap orang yang bergelut di bidang itu juga mesti jadi anggota Perbakin (Persatuan Menembak Indonesia) dengan sokongan izin Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pertahanan, Kepolisian RI, dan TNI. Mereka baru dapat diterima menjadi anggota setelah memenuhi sejumlah persyaratan yang ditentukan. Mengutip Kumparan , Kamis (1/4/2021), Sekjen Perbakin Firtian Jusdiwandarta menyatakan, syarat untuk jadi anggota dan memperoleh KTA (Kartu Tanda Anggota) resmi tidaklah sembarangan demi mencegah senjatanya disalahgunakan. Setiap anggota juga dilarang menenteng senjata di muka umum.
- Akar Kebudayaan Nusantara dan Pasifik
Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan hubungan dengan kawasan Pasifik. Namun, Indonesia belum mendapat pengakuan sebagai bagian dari wilayah itu meskipun memiliki akar budaya yang sama. “Akar budaya di Pasifik kalau bisa dikatakan asalnya dari Nusantara,” kata Daud Aris Tanudirjo, dosen arkeologi Universitas Gadjah Mada, d alam diskusi daring bertema “Relasi Peradaban: Nusantara dan Pasifik” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Selasa (30/03) . Pemerintah telah melakukan pendekatan dengan negara-negara Pasifik melalui budaya dan ekonomi. Melalui program Pasific Elevation , diharapkan pengaruh Indonesia di kawasan Pasifik meningkat. Dengan program itu, Indonesia ingin membantu pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Pasifik. “Kita sharing ilmu pariwisata, penanggulangan bencana alam sebagai sesama negara di cincin api yang rentan terhadap bencana, kita basis ekonominya perikanan kita share info juga, kita juga menyediakan pasar, siap menyerap produk negara Pasifik,” kata Tantowi Yahya, duta besar Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa, Kerajaan Tonga, Kepulauan Cook dan Niue, sekaligus dubes keliling untuk Pasifik. Secara ekonomi, Pasifik merupakan pasar potensial untuk produk Indonesia. Hubungan Indonesia dan Pasifik dinilai akan membuka kesempatan bagi wilayah Indonesia Timur untuk mengembangkan produk lokalnya. “Tak mesti lewat Jakarta atau Surabaya. Ekspor komoditas dari Indonesia Timur itu langsung. Artinya bisa menekan ongkos, biaya ekonomi rendah,” kata Tantowi. Sektor pariwisata di wilayah Indonesia Timur pun diproyeksikan bakal lebih terbuka dengan terjalinnya hubungan ini. “Ekonomi akan tumbuh, beban pemerintah Indonesia terhadap kawasan timur akan tereduksi karena mereka sudah menemukan pasarnya sendiri,” kata Tantowi. Namun, kata Tantowi, selama ini dunia cenderung memotret Indonesia dari sisi Samudera Hindia. Karenanya lebih dianggap sebagai bagian dari Asia alih-alih bagian dari negara-negara Pasifik. Padahal, dari sisi kebudayaan Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat di Pasifik. “Kita punya modal kuat untuk meyakinkan bahwa kita adalah bagian mereka,” ujar Tantowi. “Kita bukan orang asing di kawasan Pasifik.” Kebudayaan Pasifik Daud menjelaskan, kepulauan Indonesia telah menjadi jembatan antara dua daratan di utara dan selatan, serta lautan di barat dan timur. Sejak lebih dari 60.000 tahun lalu Nusantara menjadi jalur persebaran manusia dari Asia ke Pasifik. “Sebagai jembatan, kalau kita yakini manusia paling awal dari Afrika maka sebetulnya penghunian Pasifik termasuk Australia tak bisa dilepaskan selalu melalui Indonesia dulu,” kata Daud. Itu terbukti oleh jejak budaya yang menghubungkan Indonesia dengan Australia. Misalnya, di Indonesia ditemukan gambar cadas yang mempengaruhi bentuk gambar cadas di Australia.“Jelas kita mengisi kebudayaan yang ada di Pasifik,” kata Daud. “Juga penghunian Kepulauan Pasifik, Papua, Papua Nugini, Australia, itu dari Nusantara.” Arus Globalisasi Namun, bukan hanya Nusantara yang membawa pengaruh ke wilayah Pasifik. Nusantara pun mendapatkan pengaruh dari masyarakat yang berasal dari wilayah kepulauan di Samudra Pasifik itu. “Seolah kita mengkolonisasi daerah sana, tapi yang terjadi adalah pertukaran budaya,” kata Daud. Berdasarkan penelitian arkeologi, arus balik dari Pasifik ke Nusantara terjadi pada 12.000 tahun lalu. Terbukti dengan adanya hewan dan tanaman dari Papua yang dibawa manusia ke kawasan Wallacea. Di antaranya walabi, kuskus, bandikut, pisang, tebu, dan beberapa jenis tanaman lain. “Sehingga Alfred Russel Wallace bisa mengidentifikasikan adanya percampuran itu,” kata Daud . “Jadi , tak hanya satu arah." Meningkatnya relasi budaya Nusantara dan Pasifik terjadi pada sekira 5.000 tahun yang lalu pada awal migrasi bangsa Austronesia. Migrasi ini mengakibatkan proses globalisasi di wilayah Indo-Pasifik.Dalam prosesnya terjadi pertukaran, baik barang, budaya, maupun manusia. Misalnya, teknologi gerabah Asia Tenggara atau Taiwan mulai diperkenalkan para migran sekira 3.500 tahun lalu di Melanesia dan Polinesia. Teknologi ini kemudian dikenal sebagai gerabah Lapita.“Gerabah Lapita awalnya dianggap perkembangan dari Indonesia Timur tapi kini ada dugaan lain, yaitu dibawa langsung dari Mikronesia,” kata Daud. Sebaliknya , pada masa yang sama batu obsidian dari Melanesia dibawa hingga ke Nusantara. Batu obsidian dipertukarkan dari Melanesia hingga ke Sabah (barat) maupun ke Fiji di timur. Para migran berbahasa Austronesia itu mengadopsi pula tanaman setempat untuk dikonsumsi. Di antaranya taro, uwi ( yams ), sukun, pisang, dan tebu. Tanaman-tanaman itu tadinya di daerah Indonesia timur sebagai bagian dari masyarakat Melanesia, lalu diambil oleh orang Austronesia. Tanaman-tanaman itu tersebar luas bersama persebaran bangsa penutur Austronesia. “Suku Maori juga bawa ini, karena mereka sebetulnya juga Austronesia, berangkatnya dari Nusantara kemudian berkembang sampai ke Selandia Baru,” kata Daud. Sementara pengaruh budaya Austronesia tak menghapus jejak genetika yang menunjukkan hubungan antara Nusantara dengan Pasifik sejak puluhan ribu tahun lalu. Itu terbukti dari keberadaan genetika Denisovan, khususnya di Melanesia dan Australia. “Di Indonesia Timur termasuk suku bangsa yang sudah hadir cukup lama di sana biasanya memiliki genetika Denisovan yang khusus dimiliki Melanesia dan Australia. Tapi ada percampuran dengan genetika baru,” kata Daud. Bahkan bukan hanya dari sisi genetika, cara bercocok tanam tertua di Papua pun masih ada. Justru para penutur Austronesia mempelajarinya dari masyarakat penghuni Papua. “Identitas mereka sendiri masih ada,” kata Daud. Teknologi Pelayaran Proses pertukaran itu memanfaatkan teknologi pelayaran yang maju. Ini yang membuat para penutur Austronesia menjadi pelaut ulung. Mereka berhasil bergerak cepat ke timur, mendatangi daerah-daerah baru, mengkoloni pulau yang tak berpenghuni di Pasifik. Menurut Daud, teknologi kapal double-canoe itu bermuatan banyak, namun tetap cukup cepat sehingga proses migrasi dan interaksi menjadi jauh dan intensif. “Masyarakat Austronesia tak hanya mengambil tapi juga memberi. Jadi take and give , ini jadi ada percampuran,” ujar Daud. Namun, ada masa ketika proses globalisasi itu mengalami penurunan. Jika sebelumnya arus pertukaran budaya, benda, dan orang terjadi dengan wilayah Pasifik, pada masa berikutnya bergeser ke barat. Pasalnya, pusat perekonomianlebih ramai di jalur dari dan menuju Tiongkok, India, Yunani, dan Romawi. “Ini yang menarik banyak minat waktu itu, jadi Pasifik agak tertinggal. Ini yang membuat seolah Pasifik terpisah,” kata Daud. Itu pun menjelaskan mengapa seolah Nusantara kemudian berpaling ke wilayah barat. Maka, tak heran jika Indonesia lebih dilihat sebagai bagian dari Asia daripada Pasifik. “Ini karena pasang surut globalisasi. Pada masa Hindu Buddha, interaksi lebih banyak ke Tiongkok, India, dan Mediterania,” kata Daud. “Pengaruhnya berhenti sampai ke perbatasan garis Wallace.” Kini, kata Daud, ketika minat banyak negara kembali menuju ke Pasifik, negara-negara serumpun Austronesia mulai memanfaatkan hubungan budaya masa lalu sebagai sarana diplomatik. Wilayah Papua bisa dibilang merupakan serambi, tempat pertemuan antara Nusantara dan Pasifik. “Orang Indonesia harusnya banyak berperan, kita juga harus tampil, bijak menempatkan posisi kita,” kata Daud.
- Agen CIA dalam Operasi Habrink
DAVID Henry Barnett bertugas sebagai agen CIA selama tiga tahun di Indonesia (1967–1970). Dia kemudian mencoba peruntungan menjadi pengusaha. Namun, gagal dan terlilit utang. Sebagai mantan agen, dia tahu cara cepat mendapat uang banyak.
- Mengenang Film Nasional Pertama
The Long March atau Darah dan Doa merupakan film hitam putih yang dibuat pada 1950. Hari pertama produksinya diperingati sebagai Hari Film Nasional.
- Dari Swasembada Beras ke Swasembada Pangan
RENCANA pemerintah mengimpor beras sebesar 1-1,5 juta ton menuai pro-kontra. Petani menilai impor beras akan membuat harga jatuh saat panen raya. Sementara pemerintah menyatakan stok beras telah mencapai titik terendah dalam sejarah. Rencana ini kemudian memunculkan kenangan tentang swasembada beras masa Orde Baru. Swasembada beras pernah tercapai pada 1984–1988. Tak ada lagi impor beras. Produksi beras Indonesia berlebih berkat intensifikasi dan perluasan lahan. Tapi itu bukan berarti memecahkan segala masalah pangan di Indonesia. Bahkan, pemerintah Orde Baru pun menyadari kesulitan mempertahankan swasembada sehingga mengalihkan fokusnya. “Pada akhir tahun 1988 fokus kebijakan pemerintah tidak lagi pada intensifikasi dan perluasan lahan lagi, melainkan diversifikasi [pangan] yang menggabungkan pertanian dan teknologi,” kata Hikmah Rafika Mufti, analis muda bidang pelestarian kebudayaan di Kemenko PMK, yang pernah meneliti Kebijakan pangan Pemerintah Orde Baru dan Nasib Kaum Petani Produsen Beras tahun 1969–1988. Tapi hingga saat ini swasembada beras sering didengung-dengungkan sebagai capaian membanggakan Orde Baru. Sebab swasembada “Telah membalikkan situasi Indonesia, yang semula dikenal sebagai negeri pengimpor beras terbesar di dunia menjadi negeri yang mampu berswasembada bahkan mampu mengeskspor beras ke negeri lain,” catat Soekartawi dalam “Beberapa Perubahan Mendasar Pasca Swasembada Beras”, termuat dalam Prisma No. 5, 1993. Capaian swasembada beras juga membuat Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menganugerahi Indonesia medali penghargaan di Roma pada 1985. Presiden Soeharto menerima langsung medali itu dan mendapat kesempatan berpidato. “Jika pembangunan pangan kami dapat dikatakan mencapai keberhasilan, maka hal itu merupakan kerja raksasa dari suatu bangsa secara keseluruhan,” kata Soeharto, seperti dikutip soeharto.co . Tapi swasembada tak bertahan lama. Produksi beras Indonesia berkurang tiap tahunnya sejak 1985. “Kenaikan produksi beras 1983–1984 sebesar 7,8%, 1984–85 turun menjadi 2,3%, 1985–86 turun lagi menjadi 1,7% dan 1986–87 diperkirakan hanya 0,7%,” tulis Sjofjan Asnawi dalam “Peranan dan Masalah Irigasi dalam Mencapai dan Melestarikan Swasembada Beras”, termuat dalam Prisma No. 2, 1988. Swasembada beras juga bukannya tanpa soal. Swasembada membutuhkan upaya panjang dan pembiayaan besar. “Misi swasembada beras bagi Indonesia serupa dengan misi Apolo ke bulan bagi Amerika Serikat. Swasembada beras relatif mudah untuk direncanakan namun jauh lebih rumit dan sukar untuk dicapai,” kata Radius Prawiro dalam Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi. Swasembada telah diupayakan dan digaungkan sebelum Orde Baru memulainya. “Di bidang produksi, beberapa program swasembada dilaksanakan dalam tahun 50–60-an,” catat L.A. Mears dan S. Moeljono dalam “Kebijaksanaan Pangan”, termuat dalam Ekonomi Orde Baru suntingan Anne Booth dan Peter McCawley. Beberapa program swasembada beras antara lain Rencana Kemakmuran Kasimo 1952–1956, Padi Sentra 1959–1962, Demonstrasi Massal 1963–1964, dan Bimbingan Massal (Bimas) 1964–1965. Namun, tak satu pun program tersebut berhasil mencapai target swasembada. Masa Orde Baru menandai penguatan perhatian terhadap swasembada beras. Target ini terangkum dalam setiap Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Untuk mencapainya, pemerintah berupaya meneruskan program Bimas, menggelar program Intensifikasi Massal (Inmas) sejak 1969, mengenalkan program Intensifikasi Khusus (Insus) pada 1980, dan menggalakan program Keluarga Berencana (KB). Orde Baru menekankan swasembada beras karena beberapa hal. “Hal yang terutama, beras adalah makanan pokok bagi orang Indonesia,” kata Radius. Selama dekade 1960–1970-an, 60% sumber karbohidrat orang Indonesia berasal dari beras. Kebutuhan protein pun diambil dari beras. Sarapan, makan siang, dan makan malam orang Indonesia harus ada olahan berasnya. “Pemerintah sering menganjurkan masyarakat untuk memakan bahan makanan lain seperti roti, jagung, sagu, singkong, dan bahkan beras imitasi yang terbuat dari tepung terigu. Namun, rakyat tidak menyukainya,” kata Radius. Secara sosial, beras juga dianggap sebagai pusat hubungan pertalian sosial. Orang syukuran atau slametan akan menyediakan beras untuk para tetamunya. Orang berterima kasih kepada sesama dengan memberikan beras. Orang selesai mengerjakan gotong royong akan dirayakan dengan beras. Selain itu, beras pun digunakan sebagai alat tukar. “Peranan beras sebagai pengganti uang dikukuhkan lagi oleh pemerintahan Sukarno dan tahun-tahun awal pemerintahan Soeharto, ketika beras merupakan bagian dari kompensasi pegawai negeri,” kata Radius. Karena itulah, kelangkaan beras menjadi pengalaman menakutkan bagi orang Indonesia. Kenyataan itu mendorong Orde Baru mengejar target swasembada habis-habisan. Produksi beras berhasil merangkak naik tahun demi tahun. Hingga tercapailah swasembada pada 1984. Setelah target swasembada tercapai, masalah baru justru muncul. Misalnya, kualitas berasnya ternyata sangat rendah. Kuantitas tinggi, tapi kualitas rendah. “Terjadi peningkatan produksi ditambah dengan kualitas yang tidak bagus, otomatis menjatuhkan harga beras,” kata Hikmah. Para petani tak mendapatkan keuntungan apapun dari surplus beras. Jauh hari sebelumnya, Frans Seda, mantan Menteri Perkebunan (1964) dan Menteri Pertanian (1966), menyatakan keraguannya pada program swasembada. “Saya kira masalah pangan ini bukanlah terletak pada soal kemampuan swasembada. Dalam sistem ekonomi uang, yang penting adalah kemampuan kita meningkatkan pendapatan,” kata Seda dalam Prisma , 9 September 1980. Menurut Seda, pangan memang harus cukup tersedia. Tapi tak harus melalui swasembada. “Kalau rakyat mempunyai tingkat pendapatan yang baik, dia akan mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri,” kata Seda. Anne Booth, pakar sejarah ekonomi Orde Baru, juga telah memprediksi swasembada tak bertahan lama. Acuannya pada tingkat produksi beras yang terus menurun sejak swasembada. Selain itu, lahan pertanian juga menyusut sebagai buntut perubahan paradigma pemerintah dari pertanian ke industri pada 1988. Ini membuat program swasembada beras justru akan berbiaya lebih mahal ketimbang impor. “Mungkin lebih ekonomis untuk tergantung pada impor daripada menginvestasikannya dalam program pembangunan infrastruktur yang mahal di luar Jawa untuk meningkatkan produksi domestik,” tulis Anne Booth dalam “Pembangunan Pertanian”, termuat dalam Prisma No. 2, 1990. Menyadari kesulitan ini, Presiden Soeharto pun mengalihkan fokusnya pada program diversifikasi pangan. Dia berpaling lagi pada gerakan keanekaragaman pangan yang telah lama dicanangkan. Pada 1993, dia bersama istrinya mencanangkan gerakan “Aku Cinta Makanan Khas Indonesia”. Menteri-menterinya ikut mendukung gerakan itu. Mereka berupaya makan pecel dan minum cendol ketika rapat di Istana. Pencanangan gerakan ini juga ditandai dengan beralihnya sebutan swasembada beras menjadi swasembada pangan.
- Wawan Wanisar dalam Kenangan
DI sebuah rumah panggung berbilik bambu kala langit sudah temaram, Lukman (diperankan Wawan Wanisar) tampil percaya diri. Wajahnya meyakinkan. Lulusan HBS (Hogere Burger School/pendidikan menengah) itu bersilat lidah dengan lihai di hadapan Naga Bonar (Deddy Mizwar) dan kawan-kawan seperjuangannya. Jika hendak berunding dengan militer Belanda, kata Lukman, setiap dari mereka harus punya pangkat tinggi agar pihak musuh segan. Lukman lalu mengusulkan agar Naga sebagai pemimpin pasukan diberi pangkat Marsekal Medan macam Marsekal Erwin Rommel atau Marsekal Bernard Law Montgomery di Perang Dunia II. Tetapi Lukman harus putar otak lagi lantaran Naga tak berkenan. Naga ingin pangkatnya Marsekal Medan Lubuk Pakam. Meski tiada pangkat macam begitu, Naga bersikeras agar dibuat saja pangkat begitu. “Dibikin? Apa kata dunia?” kata Lukman jengkel. Lukman yang ‘ngambek’ pun mulai memakai sidecap -nya dan hendak pergi dari rapat. Taktiknya berhasil sampai Naga memerlukan merayunya. Kompromi pun dicapai karena Naga pasrah. Maklum, Lukman sang juru bicara markas punya pendidikan lebih tinggi darinya. “Yang lebih rendah ada, jenderal. Bang Murad pangkatnya kolonel. Parjo pangkatnya letnan kolonel. Kalau aku mayor sajalah cukup. Tapi beras masuk dalam urusanku. Soal si Bujang ini agak sulit. Sebab selama ini tugasnya hanya tugas pribadi. Membawa bangku, mencabut pedang, sudahlah kopral saja,” terang Lukman yang membuat Bujang di depannya tertegun sampai berhenti menyuap nasi gegara tak terima diberi pangkat paling rendah. Adegan di bagian midpoint film Naga Bonar (1987) itu jadi salah satu penampilan paling dikenang sosok Wawan Wanisar. Aktor senior itu menghembuskan nafas terakhirnya di usia 71 tahun pada Senin (29/3/2021) akibat penyakit kronis paru-paru. Almarhum dikebumikan di TPU Desa Kalisuren, Bogor pada Rabu (30/3/2021) pagi. Hari Film Nasional yang juga jatuh hari ini pun dipayungi awan duka. “Innalilahi wainna ilaihi rojiun…satu lagi aktor film dan sinetron kembali kepangkuan Illahi hari ini 29 Maret 2021. Beliau mengabdikan diri di perfilman Indonesia dan meraih berbagai penghargaan. Kawan yang sangat disiplin bekerja, tak ada kata letih, selalu siap dilapangan untuk shooting…selamat jalan kawan…semoga Allah menerima amal ibadah kawan, dan mengampuni segala kesalahannya…Aamiin,” cuit aktor kawakan Deddy Mizwar yang jadi lawan main Wawan di film Naga Bonar , di akun Twitter -nya, @Deddy_Mizwar_ . Berawal dari “Pierre Tendean” Tak banyak yang diketahui dari kehidupan Wawan Wanisar sebelum berkarier sebagai aktor. Jalan hidupnya di depan kamera pun tak pernah diniatkan aktor kelahiran Jakarta, 13 Desember 1949 itu. Debutnya dilakoni Wawan dengan memerankan tokoh pahlawan revolusi Kapten (Anm.) Pierre Andries Tendean di film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) garapan sutradara Arifin C. Noer. Peran sebagai Tendean itu amat membekas salah satunya bagi Ahmad Nowmenta Putra, penulis Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean. Kala bertemu Wawan pada peluncuran bukunya, medio September 2018, Nowmenta dihadiahi testimoni oleh Wawan. “Beliau orangnya sangat down to earth , sudah seperti bapak sendiri. Bahkan pernah diajak naik jipnya disetiri beliau untuk ke rumah Ibu Mitzie Farre Tendean (kakak Pierre Tendean) yang jadi narasumber primer buku saya, di mana beliau juga sama-sama tinggal di Bogor,” kata Nowmenta mengenang. Kepada Nowmenta, Wawan berkisah bahwa sebelum terjun ke dunia akting, ia sudah berkecukupan dengan pekerjaannya di sektor pelabuhan. Mengutip Jawa Pos , 30 September 2017, Wawan berbisnis di bidang logistik di Pelabuhan Tanjung Priok. Saat berbisnis itulah pada medio 1982 Wawan ditawari kawannya, Rudy Sukma, untuk main film yang sedang digarap Arifin C. Noer. Saat itu Arifin dan timnya sedang dalam proses mencari pemeran-pemerannya. “Sekitar tahun 1982, Om Wawan kerja di pelabuhan dan kemudian diajak ikutan casting dan main sama temannya, Om Rudy. Beliau yang memerankan Jenderal AH Nasution,” lanjutnya. Ahmad Nowmenta Putra saat berbincang dengan Wawan Wanisar medio 2018 (Dok. Ahmad Nowmenta Putra) Tema film itu sedikit-banyak membawa Wawan pada kenangan masa SMA. Wawan sebagai anggota Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) ikut bergerak menuntut pembubaran PKI pasca-Peristiwa 30 September 1965. Alih-alih menerima tawaran Rudy, Wawan malah menolak halus. “Awalnya menolak karena awam dengan dunia showbiz ,” kata Nowmenta. Namun pendirian Wawan berubah setelah belakangan dia diajak bertamu ke kediaman Jenderal Nasution oleh tim produksi dari PPFN (Perusahaan Produksi Film Negara). “Begitu tahu diajak jalan ke rumah Pak Nas yang notabene idolanya karena sering ikut Salat Jumat di Masjid Cut Meutia, di mana Pak Nas sering mengisi khotbah, akhirnya Om Wawan mau,” sambung Nowmenta. Wawan kemudian juga bersua Arifin C. Noer dan Mitze Tendean. Jadilah Wawan ikut casting film itu. Proses casting, kata Nowmenta, dilakukan tim produksi di areal publik dengan tujuan sekaligus untuk mencari pemeran-pemeran lain. Untuk peran Pierre Tendean, Wawan bersaing dengan para aktor berpengalaman, di antaranya Rano Karno dan Ray Sahetapy. Namun lewat proses casting yang juga didampingi keluarga pahlawan revolusi seperti keluarga Jenderal Nasution maupun keluarga Pierre Tendean, pilihan jatuh kepada Wawan. “Peran Pierre sebenarnya sudah diplot untuk Ray Sahetapy. Rano Karno juga mengincar peran itu. Paling mirip saat melihat foto muda memang Ray Sahetapy yang paling mirip sama Pierre. Tapi karena waktu itu Dewi Yull habis melahirkan, akhirnya jodoh peran Pierre itu ke Om Wawan,” tuturnya lagi. Kolase Wawan Sarwani alias Wawan Wanisar di film Pengkhianatan G 30 S PKI (Dok. Ahmad Nowmenta Putra) Proses pendalaman karakter Pierre yang dilakukan Wawan tak terlalu rumit. Dia hanya bermodal memantapkan karakter khas militer lantaran tokoh Pierre bukan merupakan tokoh sentral. “Pendalaman peran seperti figur Pierre yang dirasa Om Wawan dalam ceritanya waktu itu ya laiknya sosok yang tegas dan disiplin. Sudah, itu saja karena di film juga Pierre tidak mendominasi scene meskipun tetap jadi spotlight. Waktu syuting Om Wawan juga menolak pake stuntman . Untuk adegan di Lubang Buaya, misalnya, seluruh tubuh disiram bahan seperti oli sampai setelahnya harus mandi berkali-kali,” tambah Nowmenta. Meski sekadar figuran, nama Wawan Wanisar lantas meroket di dunia akting berkat penjiwaan kuat saat memerankan Tendean. “Setelah peran Pierre, Om Wawan mendapat ratusan surat dari fans ceweknya setiap hari. Menjadi idola baru cewek-cewek di Indonesia,” ungkapnya. Alhasil selepas film Pengkhianatan G 30 S/PKI , Wawan laris tawaran baik di layar lebar maupun di layar kaca. Hingga akhir hayatnya, Wawan sudah membintangi 24 sinetron, tiga FTV (film televisi), dan 12 film. Film terakhirnya, # BerhentiDiKamu (2021), jadi saksi perjalanan Wawan Wanisar di dunia akting. Selamat Jalan, Wawan Wanisar…
- Jadi Perintis Jalan, Bung Tomo Jatuh ke Jurang
AKIBAT gerak maju pasukan Belanda usai melancarkan Agresi Militer Kedua (1948), TNI dan pasukan gerilya terus mundur ke kantong-kantong yang aman. Di Jawa Timur, Panglima Divisi Kolonel Sungkono memindahkan markasnya ke kaki Gunung Wilis. Bung Tomo dan Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI)-nya juga menyingkir ke kaki gunung itu pada awal Februari 1949. Di sana mereka justru mendapati perang saudara antarkekuatan perjuangan Indonesia. “Ini kami telah mendengar dari Staf Gubernur Militer bahwa di bawah telah terbit pertempuran sengit antara pasukan dari Batalyon S (Sabarudin) dengan pasukan Corps Polisi Militer yang dibantu oleh Kompi Macan Kera. Kabarnya ada segolongan kaum politik telah dapat mempergunakan Batalyon S. Saya tak tahu Bung, mengapa dan bagaimana,” kata Rifai dalam laporannya pada Bung Tomo usai mengunjungi markas Gubernur MIliter, dikutip Sulistina Soetomo, istri Bung Tomo, dalam Bung Tomo Suamiku .
- The Whistleblower yang Membuka Borok PBB
SUATU pagi medio 1999 di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina. Opsir Kathryn Bolkovac (diperankan Rachel Weisz) tertegun melihat nisan-nisan menghampar sepanjang perjalanan dari landasan udara ke kantornya di Markas Gugus Tugas Kepolisian Internasional (IPTF). Kathryn asal Nebraska, Amerika Serikat, jadi satu dari sekian opsir polisi yang direkrut oleh kontraktor swasta Democra Security. Kontraktor yang berbasis di London, Inggris itu membawahi IPTF untuk bekerjasama dengan PBB menjaga ketertiban di Bosnia empat tahun pasca-Perjanjian Daytona yang mengakhiri Perang Bosnia (1992-1995). Kathryn melakoni tugasnya dengan penuh dedikasi. Dia bahkan membawa sebuah kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) untuk dijadikan kasus pidana pertama yang masuk pengadilan pascaperang. Kathryn pun mendapat promosi sebagai kepala Gender Affairs Office atas rekomendasi ketua Komisi HAM PBB Madeleine Rees (Vanessa Redgrave). Tugas itu lantas menyeretnya ke satu kasus yang kemudian menggurita dan jadi skandal besar. Adegan-adegan itu secara perlahan disajikan sineas Larysa Kondracki di film thriller kriminalnya, The Whistleblower. Semua diatur sedemikian demi memberi gambaran keadaan Bosnia pascaperang sehingga mempermudah penonton memahami isu dan skandal yang diangkat Kathryn . Masyarakat Bosnia kala itu masih terkotak-kotak antara etnis Serbia yang Ortodoks, Bosnia yang Islam, dan Kroasia yang Katolik. Isu sosial itu masih sangat kuat ketika cerita beringsut ke adegan Kathryn mendapati polisi-polisi beretnis Serbia dan Kroasia enggan peduli pada korban-korban kejahatan dari etnis muslim Bosnia. Kesulitannya kian bertambah karena mayoritas opsir IPTF tutup mata dan telinga, kecuali opsir polisi lokal bernama Viko (Alexandru Potocean) dan anggota IPTF asal Belanda Jan van der Velde (Nikolaj Lie Kaas). Adegan Kathryn Bolkovic kala menginvestigasi perdagangan manusia dan perbudakan seks. (Samuel Goldwyn Films). Hanya kepada Viko dan Rees Kathryn mendapat simpati kala menginvestigasi kasus human trafficking (perdagangan manusia) dan perbudakan seks dengan korban Raya Kochen (Roxana Condurache). Raya merupakan remaja asal Kiev, Ukraina yang dijual pamannya sendiri dan dijadikan budak seks di Bosnia. Kathryn tercengang kala mendalami investigasinya di sebuah bar yang di dalamnya terdapat banyak ruang penyiksaan seksual. Saat memeriksa foto-foto di bar itu, Kathryn dibuat syok karena mendapati konsumennya adalah para anggota IPTF, perwira militer pasukan perdamaian, dan para diplomat PBB. Temuan Kathryn diperkuat oleh pernyataan Milena (Coca Bloos), perawat di Zenica Shelter (tempat penampungan para pekerja seks komersial dan korban trafficking dari negara-negara Eropa Timur) . Kesaksian Milena menunjukkan bahwa pasukan perdamaian PBB tak hanya jadi konsumen namun juga pelaku yang bekerjasama dengan organisasi trafficking belumlah cukup tanpa ada bukti-bukti lain. “ Trafficking menjalar seperti kanker setelah perang. Setengah dari kaum laki-laki kami (di Bosnia) tewas dalam perang. Lalu untuk siapa lagi mereka (korban trafficking ) dibawa ke sini?” kata Milena. Bukti-bukti yang ditemukan di sebuah bar akan praktik sex slavery. (Samuel Goldwyn Films). Lewat bantuan opsir senior Internal Affairs Peter Ward (David Strathairn), yang diperkenalkan Rees, Kathryn makin dalam menginvestigasi. Sementara, ia dibantu Viko juga mencoba membawa Raya ke Global Displacement Agency (GDA) agar Raya bisa dipulangkan ke Kiev. Namun upayanya terbentur lantaran kepala GDA Laura Leviani (Monica Bellucci) keukeuh pada prosedur bahwa dibutuhkan bukti resmi bahwa Raya jadi korban trafficking. Kathryn menghadapi tembok tebal. Laporannya kepada atasannya, Nick Kaufman (Benedict Cumberbatch), diabaikan. Laporan kasus-kasus yang dikumpulkannya ke bagian Propam juga “dipetieskan”. Kathryn pun mengirim laporannya langsung kepada kepala staf PBB, Komisi Tinggi PBB untuk Bosnia, dan sekretaris jenderal PBB. Lagi-lagi, laporan dari e-mail Kathryn itu justru membuatnya dipecat Democra. Di ambang kefrustrasiannya, Kathryn disarankan Ward dan Rees yang menganggap hanya ada satu jalan keluar, yakni membawa borok PBB itu ke media. Berhasilkah Kathryn melakoni jalan terakhir itu di tengah ramainya intimidasi? Baiknya Anda saksikan sendiri The Whistleblower di aplikasi daring Mola TV. Dramatisasi Skandal Kemanusiaan PBB The Whistleblower diangkat dari kombinasi pengalaman Kathryn yang didramatisasi dan buku-buku dengan isu serupa yang dibaca Kondracki seperti The Natashas: Inside the New Global Sex Trade karya jurnalis Kanada Victor Malarek. Maka kecuali Kathryn, beberapa karakternya disamarkan dengan nama lain. Dramatisasi garapan Kondracki bisa cukup terang menggambarkan situasi Bosnia dengan lingkaran organisasi perdagangan seks yang melibatkan PBB. Suasana menegangkan bisa lebih terasa lantaran Kondracki mengemasnya dengan iringan music scoring yang menegangkan serta tone film yang temaram dalam adegan-adegan dilematis dan kefrustrasian Kathryn atau adegan-adegan penyiksaan yang dialami Raya. Secara keseluruhan, The Whistleblower menuai banyak pujian para kritikus. Satu-dua ulasan negatif yang ada sekadar mempersoalkan karakter-karakter antagonis yang selalu satu dimensi, atau plot cerita yang terlampau klasik bak “Daud vs Goliath”: seorang polisi perempuan mesti menghadapi dunia yang maskulin dan tak simpatik padanya. Sosok asli Kathryn Bolkovac (kiri) dan karakternya yang diperankan Rachel Hannah Weisz. ( bolkovac.com /Samuel Goldwyn Films). Kondracki mengakui dua kekurangan itu lantaran ia ingin memprioritaskan substansi isu pada perdagangan manusia dan perbudakan seks. Seiring dengannya, dia ingin mempertontonkan jahatnya oknum-oknum PBB di Bosnia yang mestinya melindungi malah turut jadi “predator”. Lewat karakter Raya, Kondracki mencoba menginformasikan apa yang dialami para korban perbudakan seks. Mulai dari penculikan oleh kerabat sendiri, jual-beli korban di perbatasan, hingga penyiksaan fisik maupun batin di bar-bar atau sejumlah rumah bordil yang dilindungi para polisi lokal dan polisi PBB nan korup. “Karakter dia (Raya) berdasarkan beberapa korban. Setiap hal yang dialaminya adalah kenyataan yang dialami para korban di dunia nyata. Malah apa yang terjadi kepada korban aslinya setelah ditemukan Kathryn dan konsekuensinya, kami mesti men- downplay di filmnya karena apa yang dialami pada kenyataannya sangat bikin syok. Tetapi ya, setiap hal yang terjadi pada Raya juga terjadi pada sejumlah korban,” tutur Kondracki saat diwawancara WGTC , 11 Mei 2011. Penggambaran para korban perdagangan dan perbudakan seks di film The Whistleblower. (Samuel Goldwyn Films). The Whistleblower kemudian menarik perhatian DynCorp, kontraktor yang dalam film disamarkan namanya menjadi Democra Security, dan PBB. DynCorp membantah penggambaran kontraktor ikut dalam bisnis hitam perdagangan manusia. Sementara, Sekjen PBB Ban Ki-moon sekadar bereaksi dengan menggelar diskusi panel yang menghadirkan tim produksi serta Kathryn sendiri, medio Oktober 2011. Ban berjanji untuk mendalami skandal itu agar tak terjadi di masa mendatang sekaligus mereformasi protokol perlindungan kepada whistleblower atau pelapor. Janji itu faktanya retorika belaka. Tak satu pun dari para pelaku yang terlibat perbudakan seks diajukan ke meja hijau terlepas dari mereka punya kekebalan diplomatik. Selain itu, internal PBB kerap tunduk pada Amerika yang terus menikmati simbiosis mutualisme dengan sejumlah kontraktor swasta. “Sayangnya, horor yang meluas itu sudah terjadi. Penanganannya takkan sederhana atau bisa dilakukan dengan cepat. Kasus-kasusnya juga terjadi di area-area misi PBB lain, di mana polisi dan para pekerja kemanusiaan juga terlibat tak hanya memfasilitasi, namun juga jadi pelanggan perbudakan seks terhadap perempuan dan anak-anak. Mereka terlibat pemerasan, suap, hingga pemalsuan dokumen sebagai bagian dari sindikat kriminal yang lebih besar,” ujar Kathryn dikutip The Guardian , 15 Januari 2012. Sosok asli Madeleine Selina Rees (kanan) yang diperankan aktris Vanessa Redgrave. (Samuel Goldwyn Films/ politicalsettlements.org ). Senada dengan Kathryn, Rees juga melihat lingkaran setan perbudakan seks itu sudah terlalu mengakar. Dia mengibaratkan janji Ban sekadar retorika yang akan kembali “dipetieskan”. “Tidak cukup untuk PBB mengatakan: ‘Kami akan menyingkirkan beberapa apel yang busuk.’ Mereka harus paham bahwa praktik-praktik ini sudah mewabah dalam hegemoni dan lingkungan militer. Kejahatan-kejahatan ini dilakukan oknum yang memerkosa dan menyiksa perempuan dalam tugas mereka, lalu pulang ke istri masing-masing seperti tak terjadi apa-apa. Hal ini akan terus terjadi kecuali jika mereka ditangkap di depan keluarga mereka sendiri,” tukas Rees. Data Film: Judul: The Whistleblower| Sutradara: Larysa Kondracki | Produser: Christina Piovesan, Amy Kaufman, Celine Rattray, Benito Mueller, Wolfgang Mueller | Pemain: Rachel Weisz, Roxana Condurache, Benedict Cumberbatch, Monica Bellucci, Vanessa Redgrave, Nikolaj Lie Kaas, Alexandru Potocean, David Strathairn | Produksi: Voltage Pictures | Distributor: Samuel Goldwyn Films | Genre: Thriller Kriminal | Durasi: 112 menit | Rilis: 13 September 2010, Mola TV
- Cerita dari Gedung Bioskop Elite Metropole
Banyak bioskop tua di kota besar. Tak terkecuali di Jakarta. Salah satunya bioskop Metropole yang berada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Gedung berkapasitas 1.000 penonton ini dirancang oleh Liauw Goan Sing dan mulai dibangun pada 1932. Peresmiannya berlangsung pada 1949 dan dihadiri oleh Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta. Nama awalnya Metropool. Metropole tempo dulu. (Wikimedia Commons). Layaknya bangunan bersejarah lainnya di kota besar, Metropole juga dihinggapi oleh berbagai dinamika sepanjang berdirinya. Dari gonta-ganti nama karena kebijakan anti-Barat oleh Presiden Sukarno, sulitnya film-film nasional diputar di sana karena dirasa beda kelas dari film-film Barat yang memang menjadi langganan Metropole, terancam dijual pada 2007, hingga berujung pada merebaknya pandemi virus corona yang melanda hampir seluruh Indonesia sampai saat ini. Bioskop Metropole yang sudah berusia puluhan tahun. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak bermain bola di sekitar bioskop Metropole. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di dalam restoran yang terletak di komplek bioskop. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pengunjung di kawasan Metropole. (Fernando Randy/ Historia.id ). Karena sisi arsitekturalnya yang menarik dan khas, Metropole acapkali dijadikan lokasi syuting berbagai film nasional. Saat ini, Metropole terasa berbeda. Sebelum pandemi, Metropole ramai dikunjungi muda-mudi. Sekarang mereka seolah menghilang. Orang menghindari berbagai tempat keramaian seperti gedung bioskop. Lorong yang menjadi ciri khas bioskop Metropole. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di dalam gedung bioskop Metropole. (Fernando Randy/ Historia.id ). Walau begitu pengelola Metropole tidak tinggal diam. Untuk melawan pandemi, mereka terus berinovasi. Dari membatasi jumlah pengunjung sampai membuat jarak satu kursi antarpenonton. Semua usaha tersebut tentu saja bermuara pada satu tujuan: membuat Metropole terus ada dan menjadi tempat untuk mengusir penat dengan menyaksikan berbagai jenis film. Selain itu tentu saja kita terus berharap pandemi ini cepat berlalu sehingga semua bagian dari industri perfilman bisa bangkit kembali. Kursi penonton yang diberi jeda agar menjaga jarak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pengunjung melintas di kawasan bioskop Metropole. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pengunjung usai menyaksikan film di Metropole. (Fernando Randy/ Historia.id ). Metropole salah satu bioskop tertua di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Ketika Ahmad Subardjo Berkunjung ke Uni Soviet
Berlin, Oktober 1927. Sepucuk surat yang cukup lama dinanti tiba di kediaman Ahmad Subardjo. Isinya undangan dari pemerintah Uni Soviet untuk Perhimpunan Indonesia (PI) di Negeri Belanda. Negara komunis tersebut akan mengadakan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 pada bulan selanjutnya, dan PI diminta mengirimkan perwakilan ke sana. Selain PI, wakil dari organisasi-organisasi yang berpartisipasi dalam Kongres Anti-Imperialisme di Brussel tahun 1927 juga turut diundang. Pemimpin-pemimpin gerakan kemerdekaan, serta tokoh-tokoh terkemuka dari seluruh belahan dunia pun akan menghadiri perayaan tersebut. PI sendiri diwakili oleh Ahmad Subardjo. Hal itu terjadi karena Mohammad Hatta sebagai ketua perhimpunan sedang dalam proses pengadilan atas berbagai tuduhan di Belanda. “Saya akan menjadi tamu pemerintah tersebut sebagai wakil Perhimpunan Indonesia, bahkan saya dapat memilih anggota lain dari Perhimpunan Indonesia sebagai teman,” kata Subardjo, sebagaimana diceritakan dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi . Dari sekian banyak anggota PI d Negeri Belanda, Subardjo memilih didampingi oleh Sulaiman, mahasiswa jurusan Bahasa-bahasa Timur di Universitas Leiden. Baginya Sulaiman adalah “seorang Muslim yang patuh dan anggota Perhimpunan Indonesia yang setia. Seorang mahasiswa yang giat, pintar, dan mempunyai bakat belajar bahasa dengan cepat dan mudah.” Sulaiman pada mulanya ragu-ragu menerima undangan itu. Dia memiliki pandangan kritis terhadap ideologi komunis. Sulaiman khawatir terjebak dan mendapat kesulitan jika terlalu jauh terlibat dengan orang-orang komunis, terlebih Uni Soviet sedang dalam kondisi tidak aman. Namun Subardjo meyakinkan Sulaiman agar kesempatan itu digunakannya untuk menilai sendiri keadaan Soviet dan ideologi komunisnya dengan mata sendiri, ketimbang terus membacanya dari berita pers-pers Belanda. Setelah berpikir sebentar, Sulaiman akhirnya setuju menghadiri perayaan tersebut. Setelah mempersiapkan segala kebutuhan, Subardjo dan Sulaiman pergi dari Berlin menuju Stettin,Polandia. Di kota pelabuhan itu keduanya menumpang sebuah kapal dengan tujuan Leningrad. Tiba di Leningrad rombongan Subardjo diberi waktu beberapa hari untuk beristirahat dan berwisata. Setelah puas menikmati keindahan salah satu kota bersejarah di Soviet tersebut, mereka berangkat ke Moskow dengan kereta api. “Waktu kami tiba di stasiun Moskow, kami disambut oleh band yang memainkan lagu internasional. Sesudah upacara penyambutan selesai kami dibawa ke sebuah hotel dekat kantor pos. Kami dapat kamar-kamar yang baik dan begitu mewah. Pembagian kelompok diadakan menurut negara asal dan organisasi yang diwakili,” tulis Subardjo. Setiap hari, sejak tiba di Moskow, Subardjo dan Sulaiman begitu sibuk. Keduanya hampir tidak pernah menghabiskan waktu berjam-jam di hotel, kecuali istirahat. Mereka selalu diajak berkeliling mengunjungi tempat-tempat yang dianggap penting bagi pengunjung guna mengetahui tentang Soviet baru. Gedung-gedung bersejarah, monumen-monumen, museum revolusi, imbuh Subardjo, telah dianggap oleh warga setempat sebagai hasil yang dibanggakan selama 10 tahun perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik. Selama berada di Moskow itu, Subardjo menyakiskan sendiri kekuasaan Tentara Merah begitu kuat, persis seperti berita-berita yang pernah dia baca di Negeri Belanda. Subardjo juga mendengar desas-desus mengenai kerenggangan hubungan pribadi dan politik antara tokoh kharismatik Partai Komunis, Stalin dengan pimpinan Tentara Merah, Leon Trotsky. “Trotsky nampaknya masih disegani, meskipun ia dalam keadaan persona non grata oleh Stalin, karen pengikut-pengikutnya masih dapat mempertunjukkan suatu film dokumenter mengenai 10 tahun berdirinya Uni Soviet di mana kami diundang,” katanya. Pertunjukan film memang menjadi salah satu agenda perayaan waktu itu. Pada kesempatan tersebut diperlihatkan begitu banyak film tentang pahlawan-pahlawan Revolusi Oktober, yang diawali dengan film mengenai Vladimir Lenin. Sejak awal penayangan tokoh Lenin, tepuk tangan yang riuh tidak habis-habis dari para penonton hingga film berganti dengan dokumenter tokoh lain. Kemudian ketika tiba pada penayangn film tokoh Stalin dan kondisi pemerintahan di Soviet, para penonton tiba-tiba terdiam. Tidak ada tepuk tangan seperti penayangan-penayangan sebelumnya. Keadaan menjadi sunyi. Sesudah Stalin diperlihatkan film tentang Trotsky. Seketika suasana kembali riuh. Tepuk tangan dari para penonton memecah kesunyian sebelumnya. Hal itu dilakukan terus-menerus hingga gambar berganti ke tokoh lain. “Rasa simpati dan antipati dari umum ini terhadap pemimpin-pemimpinnya sendiri memberikan kesan yang dalam pada saya. Lama kemudian baru saya mengetahui persaingan merebut kekuasaan, saling mencurigai, dan membenci merupakan sebab-sebab gejala tragis ini,” ungkap Subardjo. Selama kurang lebih 10 hari mengikuti perayaan di Soviet, menurut Subardjo pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika menyaksikan parade militer di Lapangan Merah dan resepsi besar di Kremlin. Subardjo dan Sulaiman juga menyaksikan secara langsung Mausoleum Lenin di tempat tersebut. Beribu-ribu orang hadir di Lapangan Merah untuk melihat parade unjuk kekuatan bersenjata itu. Satu yang membuatnya tercengang adalah barisan kesatuan kavaleri merah. Di barisan terdepan berjalan seorang prajurit gagah berkumis tebal dan panjang, menunggang seekor kuda. Parade militer manjadi penutup kunjungan Subardjo di Moskow. Keesokan harinya Subardjo kembali ke Berlin dengan kereta api melalui Warsawa. Setelah beberapa hari tinggal di Berlin, mereka pulang ke Negeri Belanda, menemui kawan-kawan PI yang baru saja dibebaskan oleh pemerintah.





















