- 29 Mar 2021
- 3 menit membaca
AKIBAT gerak maju pasukan Belanda usai melancarkan Agresi Militer Kedua (1948), TNI dan pasukan gerilya terus mundur ke kantong-kantong yang aman. Di Jawa Timur, Panglima Divisi Kolonel Sungkono memindahkan markasnya ke kaki Gunung Wilis.
Bung Tomo dan Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI)-nya juga menyingkir ke kaki gunung itu pada awal Februari 1949. Di sana mereka justru mendapati perang saudara antarkekuatan perjuangan Indonesia.
“Ini kami telah mendengar dari Staf Gubernur Militer bahwa di bawah telah terbit pertempuran sengit antara pasukan dari Batalyon S (Sabarudin) dengan pasukan Corps Polisi Militer yang dibantu oleh Kompi Macan Kera. Kabarnya ada segolongan kaum politik telah dapat mempergunakan Batalyon S. Saya tak tahu Bung, mengapa dan bagaimana,” kata Rifai dalam laporannya pada Bung Tomo usai mengunjungi markas Gubernur MIliter, dikutip Sulistina Soetomo, istri Bung Tomo, dalam Bung Tomo Suamiku.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















