Hasil pencarian
9804 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nyanyi Senyap Radio Gelap
SEBUAH rumah di Jalan Mawar No. 10 Surabaya berdiri di atas tanah seluas 2.000 meter persegi. Pepohonan yang rindang membuatnya tidak terlihat utuh. Suasananya sepi. Tak terdengar lagi suara berapi-api yang dulu membangunkan semangat para pejuang di media pertempuran Surabaya. Sebuah plakat di dinding menjadi penandanya, bertuliskan: “Rumah Tinggal Pak Amin (1935). Tempat Studio Pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RPPRI) Bung Tomo. Di sini Ktut Tantri (warga negara Amerika) menyampaikan pidatonya sehingga perjuangan Indonesia bisa dikenal di luar negeri Jl. Mawar 10-12 Surabaya.” Sebelum jadi markas radio, rumah ini sempat menjadi asrama Nederland Indische Landbouws Maaschapij (NILM), perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan. Seorang penduduk Surabaya bernama Aminhadi kemudian membelinya dan kemudian mewariskan kepada anak-cucunya.
- Saat Bung Tomo Dilarang Bicara
JIKA dilihat rentang waktunya (8 Desember 1947-17 Januari 1948), Perundingan Renville bisa jadi merupakan perundingan terlama yang pernah dilakukan Indonesia dengan negara lain. Ajang perang diplomasi antara Indonesia dengan Belanda tersebut dilakukan di atas kapal USS Renville berbendera Amerika Serikat yang tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 2 Desember 1947. Delegasi Indonesia beranggotakan Amir Sjarifuddin, Ali Sastroamidjoyo, Tjoa Sik Ien, Mohamad Roem, Agus Salim, Nasrun dan Juanda. Sementara di kubu seberang, tim Belanda diperkuat oleh Abdulkadir Widjojoatmodjo, Jhr van Vredenburg, Soumokil, Pangeran Kartanegara dan Zulkarnain. Perundingan berjalan alot. Panas di dalam, begitu juga diluar. Rupanya, langkah pemerintah untuk turut dalam perundingan Renville banyak dicecar banyak pihak. Salahsatu yang vokal mengecam adalah Sutomo (lebih dikenal dengan sebutan Bung Tomo), mantan Ketua Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang kemudian diangkat menjadi salahsatu pucuk pimpinan tentara.
- Roebiono Kertopati, Bapak Persandian Indonesia
JIKA Amerika Serikat punya John Edgar Hoover, direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) pertama, yang menjabat selama 37 tahun dari tahun 1935 hingga kematiannya pada 1972. Maka, Indonesia punya Roebiono Kertopati, kepala Lembaga Sandi Negara pertama yang menjabat hampir 38 tahun, sejak bernama Dinas Code (1946), Djawatan Sandi (1949), Lembaga Sandi Negara (1972) hingga kematiannya pada 1984. Sejak awal bergabung dengan Republik Indonesia, Roebiono sudah berkecimpung mengurusi persandian. Arsip Kementerian Pertahanan Republik Indonesia No. 738 tentang organisasi Kementerian Pertahanan Bagian B menyebut Roebiono menjadi penasihat dan kepala bagian kode dan radio. Roebiono dibantu dua pegawai perempuan, Raden Roro Roekmini dan Sriwati. Dia membentuk Dinas Code pada 4 April 1946. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Persandian Nasional.
- Pengalaman Mistis Bung Tomo di Kaki Gunung Wilis
SETELAH terjatuh ke jurang menuju Sleuf Z, jalur setapak berkelok di belantara kaki Gunung Wilis, Bung Tomo termenung memikirkan apakah mesti bermalam di tepi sungai atau melanjutkan perjalanan. Meski keletihan sekaligus kelaparan dan kesakitan, Bung Tomo tak punya pakaian ganti dan logistik. Sementara, langit sudah gelap. Dia tak ingin tersiksa seorang diri dalam sunyi. Perjalanan Bung Tomo itu terjadi saat Bung Tomo memimpin serombongan Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) menghindari pasukan Belanda yang terus mendesak usai melancarkan agresinya yang kedua. Akibat agresi itu, kekuatan perjuangan republik menyingkir ke kantong-kantong yang dianggap aman. Panglima Besar Jenderal Soedirman beserta rombongannya termasuk yang menyingkir sambil bergerilya. Rombongan Soedirman yang memulai perjalanan dari Gunung Kidul, akhirnya mencapai kaki Gunung Wilis pula.
- Bung Tomo Serukan Boikot Produk Belanda
“PEMBOIKOTAN yang diusulkan oleh Partai Rakjat Indonesia, jika Irian tidak jatuh ke tangan Indonesia pada tanggal 1 Januari 1951, akan terus berjalan mulai tanggal 1 Januari 1951, kecuali jika perundingan-perundingan di negeri Belanda membuahkan hasil,” kata Bung Tomo dalam pidatonya pada acara Partai Rakjat Indonesia di Jakarta, Minggu (3/12) malam, sebagaimana dikutip surat kabar Nieuwe Courant , 4 Desember 1950. Bung Tomo menyampaikan pernyataan itu berkaitan dengan sengketa Irian Barat antara Indonesia dan Belanda. Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, Belanda tak hanya mengakui kedaulatan Indonesia tetapi juga berkomitmen membahas status Irian Barat. Perundingan diharapkan selesai dalam waktu satu tahun setelah KMB. Pertemuan demi pertemuan dilakukan oleh wakil dari kedua pihak. Namun, kebuntuan tak dapat dipecahkan karena perbedaan sudut pandang. Penulis dan akademisi, Lawrence S. Finkelstein dalam “Irian In Indonesian Politics”, yang termuat di South East Asia: Colonial History , menyebut pihak Indonesia berargumen bahwa Irian yang kini dikenal dengan nama Papua, secara etnis dan ekonomi memiliki hubungan dengan masyarakat di sekitar Maluku. Selain itu, Irian selalu termasuk dalam wilayah Hindia Belanda sejak masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 hingga abad ke-16.
- Jadi Anggota DPR, Segini Gaji Bung Tomo
PEMBUBARAN DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) pernah dilakukan Presiden Sukarno pada 65 tahun lampau. Presiden Sukarno membubarkan DPR hasil Pemilu 1955 bukan karena para anggota dewan hobi joget di ruang sidang atau karena menikmati gaji dan aneka tunjangan bernilai fantastis dari pajak negara yang mencekik rakyat. Bung Karno membubarkan DPR karena alasan politik. Pasca-Dekrit Demokrasi Terpimpin, Bung Karno lebih dulu membubarkan Dewan Konstituante dan MPR (Majelis Permusyarawatan Rakyat). Konstituante dianggap gagal melaksanakan tugasnya. “Pengumuman Dekrit pada 5 Juli 1959 merupakan titik yang penting berkaitan dengan gaya kepemimpinan Sukarno sebagai penguasa tunggal. Dengan dekrit itu ia membubarkan Konstituante, serta memberlakukan kembali UUD’45 (Undang-Undang Dasar 1945, red. ). Ia pun membubarkan MPR dan menggantinya dengan MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, red .),” tulis F.X. Baskara Tulus Wardaya dalam Bung Karno Menggugat! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ‘65 hingga G 30S.
- Bung Tomo Dipenjara Orde Baru
PADA 11 April 1978, Soetomo atau Bung Tomo ditahan di Rumah Tahanan Inrehab Nirbaya, Jakarta. Rezim Orde Baru menahan tokoh Pertempuran Surabaya ini dengan tuduhan telah melakukan subversi (berusaha menjatuhkan kekuasaan) dan menghasut mahasiswa. “Pada awal 1970-an, Mas Tom banyak berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Dia mengkritik keras program-program Presiden Soeharto,” kata Sulistina dalam Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu . Padahal, lanjut Sulistina, pada Pemilihan Umum 1977 namanya selama beberapa bulan sempat disebut-sebut akan dicalonkan sebagai anggota DPR kedua oleh Ketua DPP Golongan Karya (Golkar) Amir Moertono. “Namun, entah mengapa gaungnya kemudian lenyap begitu saja, hingga dia ditahan,” kata Sulistina.
- Saat Petani Mencipta Sejarah
DUMAS, juru tulis kantor asisten residen Cilegon sekaligus juru tulis pengadilan distrik kota, terbangun dari tidurnya. Pukul 2 dini hari 9 Juli 1888 terdengar suara gaduh di luar rumahnya dan membuatnya buru-buru membuka pintu rumah. Tapi begitu pintu terbuka, empat orang berkelewang sekonyong-konyong berteriak “Allahuakbar” dan menyerangnya. Meski terluka oleh sabetan kelewang, Dumas mati-matian menyelamatkan diri. Dia akhirnya berhasil melarikan diri ke rumah tetangganya, seorang jaksa. Sementara itu, di rumah Dumas para penyerang langsung mendatangi istri dan anak tertua Dumas yang sedang berusaha melarikan diri ke rumah Raden Purwadiningrat, seorang ajun kolektor yang merupakan tetangga Dumas. Bacokan mereka melukai bahu kanan istri Dumas. Beruntung para penyerang mengira sang istri babu, jadi membiarkannya. Malang justru menimpa Minah, babu Dumas, yang oleh para penyerang dikira nyonya rumah. Upayanya mendekap anak bungsu Dumas membuat tubuhnya menjadi sasaran bacokan senjata tajam. Dia terluka parah. Sementara, anggota gerombolan yang lain mengacak-acak isi rumah dan menghancurkan perabotan-perabotan yang ada.
- Terbit Lagi Setelah Tiga Dekade
MEMASUKI tahun 2015, J.J. Rizal, pria Betawi yang kondang sebagai sejarawan itu mulai sibuk. Dia pontang-panting menyiapkan penerbitan kembali naskah buku Pemberontakan Petani Banten 1888 karya begawan ilmu sejarah Sartono Kartodirdjo. Pemimpin penerbitan Komunitas Bambu (Kobam) itu menelpon sejumlah orang, untuk memastikan ihwal hak penerbitan buku yang pernah diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya pada 1984 itu. Setelah mendapat sinyal lampu hijau dari keluarga Sartono, naskah naik cetak. Hasilnya, akhir Februari lalu buku yang tiga dekade lalu pernah jadi bahan pembicaraan di seantero jagad kajian ilmu-ilmu sosial dan sejarah bertengger di rak toko-toko buku di seantero negeri. Ada yang berbeda dari tampilan lamanya: ukuran buku lebih tinggi dengan ukuran huruf yang lebih nyaman dibaca ketimbang terbitan pendahulunya. Pada 4 Mei lalu sebuah diskusi dihelat di Yogyakarta oleh Penerbit Kobam, sekaligus menandai peluncuran buku ini. Stefanus Nindito, cucu Sartono mewakili keluarga turut memberikan sambutan sekaligus membahas aspek biografis kakeknya. Sementara itu, sejarawan Sri Margana dari UGM didaulat untuk membahas karya guru besar dari kampusnya itu.
- Segregasi Lewat Bukti Registrasi
BEGITU mendarat di Jawa, bala tentara Dai Nippon bergerak cepat untuk mengatur wilayah pendudukannya. Pada 11 April 1942, Jepang mengeluarkan aturan registrasi bagi bangsa asing, Osamu Seirei No. 7. Aturan ini mewajibkan semua penduduk dewasa berumur 17 tahun atau lebih, kecuali orang Jepang dan orang Indonesia, mendaftarkan diri kepada penguasa. Undang-undang ini memang berlaku bagi Eropa (termasuk Indo) dan Timur Asing (Tionghoa dan Arab). Namun, karena kepentingan politis untuk merangkul umat Islam, kelak pada Juli 1944 Jepang mengeluarkan peraturan yang menganggap orang Arab sebagai “orang Indonesia”, yang berarti membebaskan mereka dari pendaftaran. Setelah mendaftar, mereka akan mendapatkan selembar kartu tanda penduduk (KTP) yang dalam bahasa Jepang disebut Gaikokujin Kyojuu Touroku Sensei Shoumeisho (surat bukti registrasi kediaman dan sumpah warga negara asing).
- Kisah Si Burung Merak Masuk Islam
W.S. RENDRA dianggap sebagai penyair terbesar setelah Chairil Anwar. Sajak-sajaknya dikenal tajam mengkritik keadaan sosial yang disebutnya “pamflet.” Padahal, di awal kepenyairannya, Si Burung Merak banyak menulis sajak tentang agama dan Tuhan sesuai dengan keyakinannya sebagai Katolik, seperti terangkum dalam Balada Orang-orang Tercinta (1957). Rendra lahir dari keluarga Katolik taat pada 7 November 1935 di Solo. Namun belakangan dia resah dan menceritakan kegelisahannya itu kepada sastrawan Ajip Rosidi. “Selama di Amerika untuk menenteramkan kegelisahan itu dia mempelajari agama Budha dan agama-agama Asia yang banyak dipelajari anak-anak muda Amerika… seperti agama Krisyna dan semacamnya. Tapi belakangan minatnya tertarik kepada Islam,” kata Ajip dalam otobiografinya, Hidup Tanpa Ijazah .
- Menelusuri Jejak Chairil Anwar di Ibukota
LAHIR dan besar di Medan, Sumatra Utara, penyair legendaris Chairil Anwar punya ikatan kuat dengan Ibukota Jakarta. Di kota inilah, ia memulai perjalanan abadi menjadi penyair yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Pada 2022 ini, karya-karyanya kembali digaungkan di mana-mana sebagai peringatan seratus tahun kelahirannya. Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922. Pada usia 19 tahun, ia datang ke Jakarta, yang kala itu masih bernama Batavia. Di Jakarta, Chairil menumpang di rumah pamannya, Sutan Sjahrir, di Jalan Dambrink (kini Jalan Latuharhary) Nomor 19. Chairil tak perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri dan menemukan tempatnya di antara teman-teman baru, terutama ketika bicara soal kesenian. Chairil sering berkunjung ke Pasar Senen yang mana kala itu adalah tempat berkumpul dan berdiskusi para seniman, antara lain Ajip Rosidi dan Misbach Yusa Biran. Nama Chairil Anwar masih hidup di daerah ini.





















