Hasil pencarian
9912 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Wakanda Forever dan Warisan Penerus Black Panther
VIBRANIUM. Logam paling diincar banyak orang itu jadi isu yang diangkat Sidang PBB di Jenewa, Swiss kala turut mengundang Ratu Ramonda (diperankan Angela Bassett) penguasa Wakanda. Namun, dengan tegas ibunda mendiang Raja T’Challa alias Black Panther (mendiang Chadwick Boseman) itu menolak kerjasama apapun untuk berbagi sumber daya yang rentan penyalahgunaan itu. Toh bukan hanya Wakanda yang terancam konflik dengan dunia internasional akibat vibranium. Talokan, sebuah bangsa mutan bawah laut, dengan penguasanya K’uk’ulkan alias Namor (Tenoch Huerta) juga punya sumber daya vibranium. Ia pun juga terancam konflik. Bahkan, Talokan sudah berkonflik dalam skala kecil. Pada suatu malam di Samudera Atlantik, Namor dan pasukan Talokan menghabisi serdadu SEALs (pasukan khusus AL Amerika) dan agen-agen CIA (Agensi Intelijen Amerika) yang mencari vibranium dengan alat pendeteksi vibranium. Sesudahnya, Namor menyusup ke perbatasan Wakanda. Ia muncul saat Ratu Ramonda dan Putri Shuri (Letitia Wright) meratapi kematian Raja T’Challa di tepi sungai. Namor mendesak Wakanda mencari dan membunuh ilmuwan pencipta alat pendeteksi vibranium di Amerika Serikat. Itu sebagai konsekuensi gegara mendiang Raja T’Challa sebelumnya mengungkap vibranium kepada dunia internasional. Jika tidak, Namor mengancam akan menginvasi Wakanda.
- Romansa dalam Relief Candi
SEORANG gadis berambut panjang tergerai berbaring di dipan. Para inang menemaninya. Perempuan muda itu terlihat sedang sakit. Sakit rindu akibat terlalu lama berpisah dengan kekasihnya. Adegan berlanjut memperlihatkan seorang lelaki bertopi tekes, yang sering dikenali sebagai Panji, tengah duduk di bawah pohon memegang gulungan surat. Di depannya menanti seekor burung berjambul dan berparuh bengkok. Bentuknya mirip burung kakak tua berjambul. Burung itu kemudian terbang jauh melewati perairan yang luas. Paruhnya menggigit surat milik Panji hingga akhirnya berhasil tiba di hadapan perempuan yang tengah sakit rindu itu.
- Motif di Balik Pembangunan Candi Borobudur
NEGERI Jawa dulu pasti punya sumber daya manusia yang melimpah untuk mengangkut, menyusun, dan memahat batu dengan terampil. Sumber daya pertanian berkecukupan untuk menyediakan pangan bagi para pekerja. Mereka juga pasti memiliki institusi yang terorganisir untuk mengawal pembangunan ambisius seperti Candi Borobudur. Melihat candi megah di Magelang, Jawa Tengah itu, terbayang kondisi ekonomi Jawa pada masanya telah surplus. Sehingga bisa membiayai pembangunan yang begitu besar bahkan tak memberi keuntungan ekonomi langsung. Lalu apa motivasi di balik pembangunan Candi Borobudur? Ide Borobudur John Miksic, peneliti dari Southeast Asian Studies Department, National University of Singapore dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, menjelaskan Candi Borobudur lahir ketika agama Buddha tidak dalam keadaan tenang dan stabil. Sebaliknya, masa itu adalah periode kebangkitan intelektual yang intens.
- Sukarno-Hatta Gagalkan Kudeta Pengikut Tan Malaka
PADA 1 Juni 1946, Sutan Sjahrir dibebaskan dan dikembalikan ke Yogyakarta. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk terjadi kepadanya, Sjahrir segera diterbangkan ke Jakarta. Tak lama kemudian, terjadi pembersihan di seluruh Yogyakarta. Tokoh-tokoh politik pengikut Tan Malaka yang diduga terlibat dalam penculikan Sjahrir ditangkap. Mereka antara lain Abikusno Tjokrosujoso, Iwa Kusumasumantri, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin, Maroeto Nitimihardjo, Budiarto, Buntaran Martoatmodjo, Pandu Kartawiguna, Sayuti Melik, Mohamad Saleh, Sumantoro, Djojopranoto, dan lainnya. Sejak awal, orang-orang tersebut merupakan penentang Kabinet Sjahrir yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan. “Suasana menjadi tegang. Untuk mencairkan suasana, para politisi senior yang ditahan, dikeluarkan. Ketika dikeluarkan Maroeto langsung pulang ke rumah, sementara tokoh-tokoh yang lain dengan dipimpin oleh Mohammad Yamin melanjutkan pembicaraan di salah satu Markas Tentara Divisi III bersama Jenderal Mayor Soedarsono,” tutur Hadidjojo Nitimihardjo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo: Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan.
- Kisah Mistis Candi Borobudur
PADA masa Sunan Pakubuwono I bertakhta di Kartasura, muncul pemberontakan yang dipimpin Ki Mas Dana di daerah Enta-Enta. Sunan memerintahkan Bupati Mataram, Ki Jayawinata, untuk memadamkan pemberontakan itu. Namun, balatentaranya kewalahan dan mundur ke Kartasura. Jayawinata melaporkan peristiwa itu kepada sunan. Sunan kembali mengutus orang kepercayaannya. Kali ini Bupati Kartasura, Pangeran Pringgalaya, yang diperintahkan untuk mengurus pemberontakan itu. “Tangkap Ki Mas Dana hidup-hidup!” perintah Sunan. Pertempuran terjadi. Banyak korban bergelimpangan. Pemberontakan berhasil dipadamkan. Namun, Ki Mas Dana melarikan diri ke Bukit Borobudur. Pringgalaya mengejarnya hingga tertangkap dan dibawa ke hadapan sunan untuk menerima hukuman yang kejam.
- Asal-Usul Nama Candi Borobudur
THOMAS Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, langsung tertarik ketika Tan Jin Sing, bercerita soal candi besar di Desa Bumisegoro, dekat Muntilan. Ia pun meminta Tan Jing Sing melihat candi itu. Sesampainya di sana, Tan Jing Sing mengajak warga desa bernama Paimin sebagai penunjuk jalan. “Menurut Paimin namanya candi Borobudur,” tulis TS Werdoyo, salah seorang keturunan Tan Jin Sing, dalam biografi Tan Jin Sing: Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta. Niken Wirasanti, arkeolog Universitas Gadjah Mada, dalam “Borobudur: Misteri Batu Tak Berujung” termuat di 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur, menyebut entah bagaimana asalasulnya candi itu sudah bernama Borobudur. Begitu banyak misteri soal Borobudur hingga persoalan namapun telah banyak menarik perhatian para ahli dan pemerhati seni untuk menelusurinya.
- Menjemput Berkah dari Situs Percandian Muarajambi
KONON, sebelum Islam masuk, di Jambi pernah ada seorang raja yang memerintah bernama Tun Telanai. Dipercaya sang raja bertakhta di kawasan Muaro Jambi sekarang. Masyarakat pun menduga bahwa Percandian Muarajambi yang ada di sana adalah bekas kerajaannya. "Sebelum dipugar dipikir ini kerajaan Tun Telanai. Tapi setelah dipugar katanya bukan. Ini Kerajaan Sriwijaya gitu," kata Sulaeman (55), juru pelihara di kawasan Candi Gumpung menerjemahkan cerita yang disampaikan Datuk Ibrahim Akbar (73). Mantan Kepala Desa Muaro Jambi pada era 80-an itu lebih lancar bercakap-cakap dalam bahasa Melayu. Kisah Tun Telanai juga dijelaskan oleh Asyhadi Mufsi Sadzali, ketua prodi Arkeologi Universitas Jambi. Kisah ini sangat populer di masyarakat Jambi secara umum. Ceritanya tentang Raja Tun Telanai yang mencoba melamar Putri Pinang Masak, tetapi gagal.
- Membangun Candi Borobudur
TIGA belas abad yang lalu, arsitek Candi Borobudur mempunyai ambisi besar untuk menyulap bukit setinggi 30 meter menjadi sebuah candi yang berbeda dari candi-candi pada umumnya. Konstruksi ini rupanya cukup berisiko sehingga harus mengorbankan relief-relief di kaki candinya. Candi Borobudur telah menarik perhatian para peneliti Belanda. Salah satunya Jan Willem Ijzerman, ketua Archaelogische Vereeniging di Yogyakarta. Ketika melakukan penelitian, secara tak sengaja Ijzerman menemukan sejumlah relief di kaki candi pada 1885. Ia tertutup struktur batu selasar dan tangga. Dengan hati-hati pada 1890-1891, kaki Candi Borobudur pun dibongkar. Struktur batuan penyusun selasar yang menutup relief dibongkar secara bergantian, sebelum disusun kembali seperti semula. Ini untuk keperluan dokumentasi oleh Kassian Cephas, seorang fotografer pribumi Jawa.
- Bukti Toleransi dari Candi
DUA bangunan suci kembar yang megah dari masa lalu menyembul di tengah persawahan dan permukiman warga di Dusun Plaosan Lor, Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Puncak-puncak stupa menghiasi atapnya. Di sekelilingnya 174 candi yang lebih mungil disusun dalam tiga baris. Sebagian besar sudah runtuh, sebagian lainnya telah dipugar kembali. Kompleks Percandian Plaosan Lor itu, menurut Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), adalah wujud toleransi yang telah berakar di tengah masyarakat Nusantara sejak masa silam. Percandian dari era Mataram Kuno abad ke-9 itu didirikan secara bergotong royong. “Dibangun oleh maharaja yang beragama Buddha Mahayana, tapi candi-candi kecilnya dibangun oleh raja beragama Hindu,” kata Bambang yang akrab disapa Tomi dalam diskusi daring yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berjudul “Toleransi, Akar Lama Penguat Bangsa”, Kamis, 29 April 2021.
- Perjalanan Arca Candi Singhasari Kembali ke Indonesia
PEMERINTAH Belanda mengembalikan arca-arca koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen kepada Indonesia. Arca peninggalan Kerajaan Singhasari tersebut yaitu Durga, Mahakala, Nandishvara, dan Ganesha. Keempat artefak itu dipulangkan ke tanah air bersama ratusan benda bersejarah lainnya yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara. Arca-arcaitu memiliki tinggi sekitar 154 hingga 175 sentimeter. Mulanyaberada di area Candi Singhasari, kompleks candi Hindu-Buddha dari akhir abad ke-13, arca-arca itu kemudian dibawa dan beberapa kali berpindah tangan hingga berakhir di Belanda. Menurut Nandana Chutiwongs dalam “Candi Singasari–A Recent Study”, termuat dalam Interpreting Southeast Asia’s Past: Monument, Image and Text, Candi Singhasari yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur merupakan salah satu situs bersejarah terpenting dalam sejarah pra-Islam. Sisa-sisa monumen di situs ini ditemukan oleh pejabat Belanda di Jawa pada 1803.
- Puncak Seni Arca dari Candi Singhasari
SOSOK Durga, Mahakala, Nandiswara, dan Ganesha dalam bentuk arca yang tingginya berkisar antara 154-175 cm itu begitu gagah dan indah saat terpajang dalam pameran“Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional, Jakarta, sedari 28 November hingga 10 Desember 2023. Mahakarya yang jadi warisan era Kerajaan Singhasari itu kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah dua abad bersemayam di negeri Belanda. Empat arca yang sebelumnya merupakan bagian dari Candi Singhasari di Malang, Jawa Timur dari abad ke-13 itu menjadi salah satu himpunan koleksi dari 472 benda bersejarah Indonesia yang direpatriasi dari Belanda. Serah terimanya sudah diresmikan sejak 10 Juli 2023 dan keempat arca itu tiba di tanah air pada 23 Agustus 2023. “Arca pada masa Singhasari ini dibuat sangat halus dan jelas arca ini besar-besar, kemudian dipahat dengan sangat halus, dan sesuai dengan kaidah ikonografi, seni arca, dan saya pikir punya ciri sendiri. Ini adalah satu puncak seni arca yang ada di Indonesia,” ujar arkeolog dan pakar epigraf Universitas Indonesia Ninie Susanti Tedjowasono kepada Historia.
- Candrasengkala Prasasti Batutulis
ADOLF Winkler, seorang kapten VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), dibantu seorang ahli ukur, 16 pasukan Eropa, dan 26 orang Makassar, melakukan ekspedisi untuk membuat peta lokasi “bekas kerajaan Pajajaran”. Pedomannya: hasil laporan ekspedisi pertama pasukan VOC yang dipimpin Sersan Scipio tiga tahun sebelumnya. Pada 25 Juni 1690, rombongan Winkler tiba di daerah yang kini dikenal dengan daerah Batutulis, Bogor. Mereka mendapati batu prasasti setinggi dua hasta yang memuat informasi penting terkait sejarah Sunda Kuna. Winkler mencatat temuannya dalam Daghregister 1690. Laporan Winkler memantik perhatian orang-orang Eropa untuk menyelidiki lebih lanjut prasasti Batutulis. Hasil penyelidikan mereka hanya membahas letak dan betuk prasasti Batutulis. Penelitian epigrafis baru dilakukan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles pada 1817, yang dituangkan dalam karya monumental, The History of Java. Raffles melampirkan transkripsi prasasti Batutulis sebagai objek penyelidikannya, namun dia menyebut kondisi prasasti itu kurang baik.





















