top of page

Hasil pencarian

9912 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Misteri Gunung Kawi

    MESKI tanahnya dapat menghasilkan ketela berkualitas bagus, Gunung Kawi justru terkenal sebagai tempat mencari peruntungan. Entah sejak kapan tradisi itu bermula. Yang terang, pada 1990-an orang pergi ke Gunung Kawi identik dengan tujuan ngalap berkah hingga ritual mistik pesugihan. “Sudah sejak lama Gunung Kawi (2.651 meter) yang terletak 49 km sebelah barat kota Malang, dikenal sebagai tempat ziarah untuk ngalap berkah. Makam yang dikeramatkan itu dipercaya sebagai makam Kanjeng Panembahan Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono,” lansir Harian Ekonomi Neraca, 2 Oktober 1992. Gunung Kawi memang menyimpan banyak misteri. Menurut berita Pewarta Soerabaia, 30 November 1957, di Gua Kemanten Gunung Kawi bersemayam seorang putri yang awet muda bernama Raden Tjekluk. Disebut tjekluk karena penampakan makhluk ini seperti tak bertulang, sehingga berdirinya macam orang peot. Juru kunci mengatakan, bila ada orang yang masuk ke Gua Kemanten dan tampak sepasang pengantin duduk di kursi, maka keinginannya akan terkabul. Namun, bila tidak melihat pengantin, permintaannya tak terkabul. Tak mudah untuk mengetahui keberadaan Raden Tjekluk. Dia disebut sebagai makhluk halus pemimpin para lelembut di Gunung Kawi. Kepada Raden Tjekluk inilah orang-orang melakukan ritual pesugihan. “Lebih lanjut diuraikan bahwa di Gunung Kawi kalau malam Jumat Legi ada persidangan dari para lelembut (jin, setan, dll) yang baik-baik budi saja. Semua ini merumuskan siapa di antara manusia yang patut diberkahi (permintaannya terkabul). Yang memimpin ini semua ialah Raden Tjekluk,” tulis Pewarta Soerabaia. Makam Keramat Tokoh Kharismatik Terlepas dari kisah mistis yang melingkupinya, kawasan Gunung Kawi telah menjadi destinasi wisata reliji pada 1970-an. Dari sekian banyak petilasan, makam keramat Mbah Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono adalah tujuan utama para peziarah. Kedua tokoh kharismatik ini semasa hidupnya sebagai pendakwah agama Islam dan pelarian dari Keraton Mataram. Mbah Djoego memiliki nama bangsawan Raden Mas Soeryodiatmodjo, cucu Pangeran Diponegoro sekaligus buyut dari Pakubuwono I yang memerintah Keraton Kertasura tahun 1705–1719. Karena memiliki kemampuan dakwah agama Islam, dia mengganti namanya menjadi Kiai Zakaria II. Ketika Perang Diponegoro pada 1825–1830, Kiai Zakaria II melarikan diri ke daerah Blitar. Untuk menghindari kejaran Belanda, dia menjalani hidup sebagai orang biasa dengan nama Sadjoego, yang artinya “saya seorang diri”, dan lebih dikenal sebagai Mbah Djoego. Sementara itu, Raden Mas Iman Soedjono adalah buyut dari Sultan Hamengkubuwono I yang memerintah Keraton Yogyakarta tahun 1755–1792. Ketika menyingkir ke Desa Kesamben, Blitar, Iman Soedjono bergabung dengan Mbah Djoego menjadi pendakwah Islam dan tokoh spiritual yang dihormati di Jawa Timur. Mbah Djoego wafat pada 1871, dan sesuai wasiatnya minta dimakamkan di lereng Gunung Kawi. Sejak itu, makamnya diziarahi orang. Iman Soedjono sebagai juru kunci makam Mbak Djoego. Selain itu, dia juga membuka lahan dan padepokan di Gunung Kawi sebagai tempat berguru orang-orang dari berbagai penjuru. Iman Soedjono wafat pada 1876 dan dimakamkan seliang dengan Mbah Djoego. Keturunan RM Iman Soedjono menjadi juru kunci turun-temurun makam keramat. Semakin ramailah minat peziarah mendatangi makam kedua tokoh yang dihormati ini. “Keberadaan makam kedua tokoh spiritual yang dikeramatkan itu mengundang persepsi dan motivasi para pengunjung untuk berziarah ngalap berkah dan mohon selamat ke Gunung Kawi. Namun, dari sekian jumlah pengunjung yang datang kebanyakan mempunyai maksud tujuan untuk ngalap berkah, berburu rezeki dan mencari lancar usaha, banyak untung,” tulis Tashadi, Gatut Murniatmo, dan Sumantarsih dalam Budaya Spiritual dalam Situs Keramat di Gunung Kawi Jawa Timur. Pengunjung Tionghoa Pada 1970–1980-an, wisata Gunung Kawi mencapai masa kejayaannya berkat pembangunan jalan menuju lokasi. Infrastruktur ini memudahkan para pengunjung dan menstimulasi pembangunan penginapan, parkir, pusat belanja suvenir dan kuliner, penjualan kembang ziarah, hingga jasa pramuwisata. Namun, yang menarik, kebanyakan pengunjung wisata Gunung Kawi berasal dari warga Tionghoa. Bila hari raya Imlek, orang Tionghoa datang membludak untuk ziarah ke Gunung Kawi. “Biasanya, setelah berziarah, mereka banyak datang ke Siamsi, suatu permainan bambu yang dikocok-kocokkan, dan akan keluar satu bambu dari bambu-bambu, yang kemudian ditukar dengan kertas yang mempunyai arti kepercayaan masing-masing. Ada yang tulisannya menggambarkan nasib baik, dll,” lansir Neraca, 11 November 1988. Ada beberapa versi yang menjadi alasan warga Tionghoa berkunjung ke Gunung Kawi. Sahibul hikayat mengisahkan seorang Tionghoa bernama Pek Yam yang sakit-sakitan menjadi sembuh setelah ziarah ke Gunung Kawi. Sejak itu, dia mendirikan klenteng di Gunung Kawi dekat makam keramat Mbah Djoego. Menurut penelitian Tashadi dkk., para peziarah keturunan Tionghoa datang ke Gunung Kawi percaya bahwa Jay Sin (dewa pesugihan), bermukim di makam Mbah Djoego. Kunjungan keturunan Tionghoa juga diperkuat alasan keyakinan Mbah Djoego adalah Than Lo Su (guru pertama) dan Raden Mas Imam Soedjono adalah Ji Lo Su (guru kedua). Sementara itu, Fitria Sis Nariswari dalam tesisnya, “Situs Gunung Kawi dan Ritual Ngalap Berkah Sebagai Persilangan Kekuasaan”, studi kultural FIB Universitas Indonesia, menyebutkan kebijakan penanaman modal asing di era Orde Baru mendesak para pedagang dan pengusaha Tionghoa untuk mencari perlindungan tak kasat mata dari ketatnya persaingan bisnis. “Orang-orang Tionghoa pada saat itu semacam tidak lagi memiliki pelindung, kecuali hal-hal yang diyakini dapat memberikan perlindungan, misalnya arwah seseorang yang dianggap leluhur. Dengan demikian, banyak orang Tionghoa yang datang ke makam Eyang Djoego dan Eyang Soedjono untuk meminta perlindungan usahanya,” tulis Fitri. Dalam perkembangannya, Gunung Kawi menjadi tempat berbagai jenis orang mencari peruntungan. Mulai dari peziarah lokal hingga wisatawan mancanegara. Mereka ada yang datang meminta keselamatan, rezeki, ingin punya keturunan, hingga yang berandai-andai mendapat kode SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah), semacam lotre yang terkenal di masa Orde Baru. Selain peziarah, ada juga pengunjung yang sekadar piknik, baik pribadi maupun lewat paket biro wisata. Menurut harian Neraca, 27 Januari 1993, beberapa konglomerat juga datang diam-diam ke Gunung Kawi dengan kawalan ketat para pengawalnya. “Konglomerat yang biasa datang ke Gunung Kawi di antaranya Liem Sioe Liong juga anaknya, Anthony Salim juga Prajogo Pangestu.” Belakangan, isu Gunung Kawi menjadi tempat yang didatangi beberapa selebritas terkenal hingga meminta tumbal, mencuat di berbagai pemberitaan. Komodifikasi Gunung Kawi pun kian komersial dengan munculnya tarif ritual ziarah. Benar atau tidaknya tuah Gunung Kawi bagi para peziarah, tentu saja masih misteri. Tergantung kepercayaan masing-masing orang. Namun, yang terang, daya tarik Gunung Kawi yang rata-rata dikunjungi 10.000 tamu tiap bulan, memberikan berkah bagi warga setempat yang menggantungkan mata pencahariannya dari kunjungan peziarah maupun wisatawan.*

  • Menteri Cantengan

    SOEBANDRIO barangkali satu-satunya menteri luar negeri yang memakai sandal dalam suatu perundingan formal bilateral. Ceritanya bermula ketika Soebandrio berangkat ke Amerika Serikat pada 18 Juli 1962. Presiden Sukarno mengutus Soebandrio berunding dengan pihak Belanda agar menyerahkan wilayah Irian Barat. “Sudah jelas Presiden Sukarno berulang-ulang berkata bahwa: ‘Penyerahan kekuasaan Irian Barat harus berlangsung pada tahun 1962, sebelum ayam jantan berkokok tahun 1963’,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat. Soebandrio memimpin delegasi Indonesia. Turut mendampinginya Letnan Jenderal TNI Hidayat Martaatmadja dan Juru Bicara Depertemen Luar Negeri, Ganis Harsono. Sementara pihak Belanda diwakili oleh Herman van Rooijen, duta besar Belanda untuk PBB.

  • Dion (Seolah) Diselamatkan Angka

    BRONX adalah bagian kemiskinan dari gemerlapnya kota New York. Acapkali kemiskinan di sana mendorong tindak kejahatan. Beberapa pesohor dunia hiburan dan olahraga pernah tinggal di Bronx. Petinju Jake LaMotta (1922-2017) pernah tinggal di sini dan setelah sangar di atas ring dia dijuluki The Bronx Bull. Pesohor keturunan Italia lain asal Bronx adalah pemusik Dion Francis DiMucci. “Lahir di Bronx pada 18 Juli 1939, DiMucci pertama kali rekaman pada 1957 sebagai Dion & the Timberlanes di Mohawk Label,” catat Steve Sullivan dalam Encyclopedia of Great Popular Song Recordings Volume 1. Dion adalah nama panggungnya. Selain dalam Dion & the Timberlanes, pada 1958 dia pernah bergabung dalam band berisi tiga musisi baru asal Bronx, Dion & Belmonts. Boy band yang pernah rekaman di bawah label Laurie ini sohor dengan lagu “I Wonder Why”.

  • Bukan Sekadar Perjalanan Rohani

    PAGI, 18 Juli 1955. Lapangan Terbang Kemayoran ramai. Ribuan orang menanti untuk melepas keberangkatan Presiden Sukarno bersama rombongan (31 orang) ke Tanah Suci. Setiba di Kemayoran, Sukarno menyampaikan amanatnya. “Hari ini saya minta pamit dari seluruh lapisan rakyat di manapun saudara-saudara berada di tanah air kita. Saya minta doa selamat dari saudara-saudara sekalian.” ujar Sukarno, dikutip harian Merdeka, 19 Juli 1955. “Saya ingin minta dari saudara-saudara semua, supaya selama saya tidak ada di Tanah Air, saudara-saudara semuanya bersama-sama menjaga dan memelihara ketentraman dan keselamatan negara kita.”

  • Selamat Jalan Anak Muda Gaul

    KABAR duka datang dari Shanty Sys di Kemang Timur, Jakarta Selatan. Suami Shanty, Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio atau lebih dikenal dengan Sys NS, meninggal dunia pada 23 Januari 2018 di usia 61 tahun. Sys populer tahun 1970-an sebagai anak muda gaul Jakarta. Lahir di Semarang, 18 Juli 1956, Sys hanya numpang lahir di sana karena tumbuh-besar sebagai anak Jakarta. Ketika ayahnya, RM Soerio Soebagio, dipindahtugaskan ke Semarang pada 1973, Sys berontak. Mulanya dia ikut pindah ke Semarang, tapi dua hari berselang kabur ke Jakarta. Ayahnya yang teguh pada pendirian akhirnya luluh dan menuruti keinginan Sys tetap di Jakarta. Sys lalu masuk SMA 3 Teladan, Setiabudi, Jakarta. Tapi prestasinya buruk, Sys sampai harus pindah sekolah sembilan kali. Dia yang di Jakarta tinggal menumpang pada kerabatnya kemudian juga tak betah. Setelah kabur, Sys memilih kembali ke tempat tinggal masa kecilnya di sebuah perkampungan di Kelurahan Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan. “Gue tidur di Pos Hansip. Urusan mandi dan ganti baju, numpang di rumah teman,” kata Sys seperti ditulis N. Syamsuddin Ch. Haesy dan Gauri Nasution dalam Pop Biografi dan Kreatografi Sys NS.

  • The Singing Commodore

    PENSIUN dari Angkatan Udara, Soejoso Karsono atau biasa dipanggil Oom Yos menyulap garasi rumahnya di Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi studio musik. Mula-mula dia bermusik bersama keluarga dan kawan-kawannya. Seiring waktu, dia melengkapi studionya dan pada 1954 mendirikan perusahaan rekaman Irama Records. Irama menjadi label rekaman pertama di Indonesia. Di awal kiprahnya, Irama Records memproduksi album piringan hitam Sarinande (1956) buah karya The Progressief, band jazz yang digawangi Nick Mamahit (piano), Dick Abel (gitar), Dick van der Capellen (drum), dan Max van Dalm (bass). Album instrumentalia ini cukup mendapat tempat di hati pendengar. Dalam perjalanannya, Irama merekam hampir semua jenis musik. “Mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong,” tulis Theodore KS dalam Rock ‘n Roll Industri Musik Indonesia.

  • Ahmad Subardjo dan Keponakannya

    SEKITAR tahun 1840, sebuah kapal layar terdampar di pantai utara Cirebon. Pemilik kapal itu adalah Teuku Muhammad Usman dari Aceh. Usman tidak memilih pulang kampung dan menetap di Penganjang. Ia kemudian menikahi seorang gadis Jawa dan dikaruniai lima anak. Salah satunya Teuku Abdul Karim. Dari perkawinan Abdul Karim dengan anak gadis Haji Husein melahirkan beberapa anak termasuk Teuku Jusuf. Teuku Jusuf yang pandai mengaji lalu menikahi putri seoranng camat Telukagung, yang masih keturunan priayi dari Rembang. Teuku Jusuf bekerja di departemen dalam negeri kolonial dan pernah menjadi mantri polisi. Ia dan istrinya punya empat orang anak. Semuanya tak memakai gelar teuku tapi raden. Teuku Jusuf termasuk orang tua yang peduli pada pendidikan anak di zaman itu. Ia berani mengirimkan anak-anaknya yang masih kecil untuk belajar di Batavia (Jakarta).

  • Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey

    KOTA Gotham di suatu malam. Harleen Quinzel alias Harley Quinn (diperankan Margot Robbie) keluar dari sebuah diskotek dengan setengah mabuk. Semalaman ia berpesta dengan tingkah polah konyol sehingga mengusik banyak tamu. Tapi toh semua orang tahu dia takkan tersentuh karena Harley adalah pacar supervillain yang disegani, Joker. Siapapun tak berani menegur, apalagi membalasnya. Namun, banyak orang, termasuk bos mafia pemilik diskotek Roman Sionis alias Black Mask (Ewan McGregor), tak tahu Harley dan Joker sudah putus. Lama-kelamaan, Harley tak tahan menyimpan rahasianya lantaran dianggap bukan cewek mandiri dan terus-menerus bergantung pada perlindungan Joker. Ia pun meng-update status hubungannya dengan Joker.

  • Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran

    PUTRI Diana kecil (diperankan Lilly Aspell) menggebu-gebu berpacu dengan sejumlah pendekar Amazon yang lebih dewasa dalam sebuah kompetisi. Di fase akhir, Diana tinggal melontarkan sebilah tombak untuk menang. Namun langkahnya dihentikan Antiope (Robin Wright), pendekar Amazon yang menjadi pengawas kompetisi, hingga akhirnya Diana urung juara.Diana kecil menangis sesenggukan sehingga harus ditenangkan ibunya, Ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Persoalannya, Diana hampir menang dengan cara yang culas dan mengambil jalan pintas di sebuah fase kompetisinya. Itu yang digarisbawahi sang ibu bahwa dalam keadaan apapun, perempuan Amazon tak boleh hanya mengandalkan kekuatan, melainkan harus memprioritaskan nilai-nilai kejujuran. Pesan inti dari prolog itu jadi kunci cerita film pahlawan super Wonder Woman 1984 yang diracik sineas Patty Jenkins. Film itu merupakan film kesembilan dari waralaba DC Extended Universe cum sekuel dari film pahlawan super serupa, Wonder Woman (2017).

  • Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah

    SECANTIK Aphrodite, sebijak Athena, segesit Hermes, dan sekuat Hercules. Begitulah William Moulton Marston menciptakan karakter perempuan dahsyat Wonder Woman. Lama tak beraksi di versi live action, superhero ber-alter ego Diana Princes yang muncul sejak 1941 itu comeback di bawah naungan waralaba DC Extended Universe (DCEU) dalam Wonder Woman 1984. Jagat maya sontak heboh selepas pihak distributor Warner Bros merilis trailer terbarunya, Senin (7/12/2020). Wonder Woman 1984 yang tertunda penayangannya akibat pandemi COVID-19, baru akan tayang di bioskop-bioskop terbatas di Inggris mulai 16 Desember 2020 dan 25 Desember 2020 di Amerika Serikat. Pemutaran secara global akan dilakukan via streaming di HBO Max, juga pada 25 Desember 2020. Aktris cantik Gal Gadot untuk ketiga kalinya memerankan Diana Princes alias Wonder Woman. Gal nongol pertama kali dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dilanjutkan di Wonder Woman (2017) dan Justice League (2017).

  • Dari Captain Thunder, Captain Marvel, hingga Shazam

    KEGADUHAN mengusik istirahat pasangan suami-istri (pasutri) Rosa (diperankan Marta Milans) dan Victor Vasquéz (Cooper Andrews). Keduanya terhenyak tanpa bisa berkata apapun saat enam sekawan pahlawan super dewasa berpakaian ketat warna-warni bak Power Rangers masuk kamar tidur mereka tanpa permisi. Setelah sekian lama, hari itu pasutri itu baru insyaf enam sekawan itu merupakan anak-anak asuh mereka yang rata-rata masih ABG. Enam sekawan itu adalah “Shazamfamily”, terdiri dari Freddy Freeman (Jack Dylan Glazer dan Adam Brody), Eugene Choi (Ross Butler dan Ian Chen), Pedro Pena (DJ Cotrona dan Jovan Armand), Darla Dudley (Meagan Good dan Faithe Herman), Mary Bromfield (Grace Caroline Currey), dan Shazam alias Billy Batson (Zachary Levi dan Asher Angel) sang pemimpin Shazamfamily. Mereka berubah menjadi superhero dewasa hanya dengan mengucap kata keramat: Shazam! Adegan menegangkan bercampur absurd nan jenaka itu jadi permulaan klimaks film pahlawan super, Shazam! Fury of the Gods racikan sutradara David F. Sandberg. Film ini merupakan sekuel dari kisah sebelumnya, Shazam! (2019), sekaligus film ke-12 dalam franchise DC Extended Universe (DCEU).

  • Captain Marvel, Antara Nostalgia dan Isu Feminisme

    KEKALUTAN mengacaukan sebuah misi rahasia. Alih-alih menyelamatkan mata-mata, Vers (Brie Larson) dan rekan-rekan militer bangsa Kree justru disergap. Vers sempat ditangkap dan diinterogasi Talos (Ben Mendelsohn), pemimpin bangsa Skrull, tapi lantas bisa melarikan diri meski harus terdampar ke planet C-53 alias bumi. Adegan itu jadi pilihan duet sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck untuk membuka film bertajuk Captain Marvel. Keduanya ingin lebih dulu menghadirkan asal-usul sang jagoan yang superhero perempuan terkuat di Marvel Cinematic Universe (MCU) yang berpusar pada rentang masa 1995. Kedatangan Vers di bumi tak pelak menarik perhatian bos agen SHIELD, Nick Fury (Samuel L. Jackson). Walau harus melewati “perkenalan” rumit, Vers dan Fury akhirnya bisa akur dan bertandem untuk meladeni Talos dan anak-anak buahnya yang juga mengejar Vers ke bumi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page