Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Iklan Michael Jackson Menembus Tirai Besi Uni Soviet
MICHAEL Jackson seolah tak pernah kapok bekerjasama dengan Pepsi, brand minuman ringan berkarbonasi yang jadi rival Coca-Cola. Padahal, pada 1984 sempat terjadi insiden saat syuting iklan Pepsi yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit. Kendati begitu, empat tahun berselang iklan Pepsi pula yang membawanya menembus pasar Uni Soviet. Menukil kolom “The King of Soda Pop: How Pepsi And Michael Jackson Made Branding History” oleh Monica Herrera dalam majalah Billboard edisi 11 Juli 2009, sedianya Coca-cola sudah lebih dulu ingin membajak Michael Jackson dengan menawarkan kerjasama iklan senilai 1 juta dolar, medio 1983. Namun, tawaran itu ditolak manajemen Michael Jackson. “Pada November 1983, setahun setelah ‘ Thriller’ dirilis, Jackson (bersama para saudaranya) dan PepsiCo mengikat kemitraan senilai 5 juta dolar yang mengguncang rekor kesepakatan endorsement selebriti,” ungkap Herrera.
- Gara-gara Iklan Pertunangan Palsu
SEIRING terbitnya berbagai surat kabar di Indonesia, biro iklan pun bermunculan. Gambaranpekerjaan dan suka duka bekerja sebagai tukang cari advertensi ini pernah dikisahkan dalam majalah Minggu Pagi edisi 11 April 1954. Hamid mengisahkan, pada suatu hari dia dimintai tolong oleh pamannya untuk memasangkan iklan perkawinan anaknya di surat kabar. “Aku tidak tahu berapa biayanya. Tapi bawa saja ini uang seratus rupiah. Kalau masih kurang, tolong ditambah dulu,” kata pamannya. Hamid menghubungi surat kabar untuk memasang iklan pengumuman perkawinan tersebut. Rupanya biayanya sekitar 65 rupiah. Hamid mengembalikan sisanya, 35 rupiah kepada pamannya. Namun, sang paman memberikan sisa uang tersebut kepada Hamid.
- Awal Mula Biro Iklan
IKLAN menjadi salah satu strategi andalan dalam memasarkan produk atau jasa. Iklan dapat ditemukan di mana saja mulai dari televisi, radio, koran, hingga media sosial. Tak heran bila agen periklanan atau biro iklan bermunculan sebagai perantara bagi para pengiklan dan media massa. Persaingan sengit membuat biro-biro iklan berlomba-lomba menawarkan strategi dan kampanye pemasaran yang kreatif dan inovatif untuk menarik minat para pengiklan. Bagaimana kisah di balik kemunculan para agen periklanan ini? Menurut Fred K. Beard, profesor periklanan di University of Oklahoma dalam “A History of Advertising and Sales Promotion” yang termuat di The Routledge Companion to Marketing History , ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg membuka peluang bagi para penyedia barang maupun jasa untuk beriklan di media cetak. Di London misalnya, William Caxton disebut sebagai orang pertama yang mencetak apa yang kini diyakini sebagai iklan berbahasa Inggris pertama di Eropa. Iklan itu berisi promosi buku pertamanya. Sementara itu, iklan pertama yang diketahui dalam surat kabar, mengenai khasiat penyembuhan suatu tanaman, muncul di sebuah buku berita di Jerman pada 1591.
- Saling Serang Lewat Iklan
KEMENANGAN telak Dwight D. Eisenhower-Richard Nixon atas Adlai Ewing Stevenson II-John Sparkman dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1952 tak hanya memutus rantai kemenangan beruntun Partai Demokrat, tetapi juga mengubah pandangan para politisi terhadap televisi sebagai media kampanye. Kesuksesan Ike, panggilan akrab Eisenhower, mengambil hati para pemilik suara hinggamereka ramai-ramai memilihnya di antaranya karena keberaniannya memanfaatkan iklan televisi. Tak ada warga AS yang tak mengenal “Eisenhower Answers America”, iklan kampanye yang menampilkan mantan panglima tertinggi pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II itu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat. Setelah tahun 1952, iklan menjadi andalan dalam kampanye politik modern. Menurut Marjolein Moorman dan Peter Neijens dalam “Political Advertising”, termuat dalam Advertising Theory ,iklan kampanye politik kian populer karena memungkinkan para kandidat dan partai untuk menampilkan diri mereka secara langsung kepada para pemilih, tanpa intervensi dari jurnalis yang kritis maupun politisi lain yang menjadi saingan.
- Iklan Kampanye dan Kemenangan Eisenhower dalam Pilpres AS
TELEVISI masih menjadi salah satu media kampanye dalam pemilihan umum. Pada1950-an, televisi tidak dipandang sebagai media kampanye yang menjanjikan hingga Dwight D. Eisenhower, mantan panglima tertinggi Sekutu dalam Perang Dunia II, maju sebagai calon presiden Amerika Serikat tahun 1952. Calon presiden yang diusung Partai Republik itu disebut sebagai kandidat presiden pertama yang memanfaatkan televisi untuk menghimpun suara melalui iklan kampanye. Langkah yang diambil Eisenhower tergolong berani dan revolusioner. Pasalnya, sebelum tahun 1952 para kandidat presiden umumnya menyebarkan pamflet dan brosur kampanye, serta tur whistle-stop atau bertemu dan berpidato di hadapan massa di berbagai wilayah AS. Menurut Craig Allen dalam Eisenhower and the Mass Media: Peace, Prosperity, and Prime-time TV , meski memanfaatkan iklan kampanye di televisi, pria yang akrab disapa Ike itu tetap melangsungkan tur whistle-stop secara intensif. “Iklan yang disiarkan secara nasional di televisi hanya menjadi daya tarik sampingan pada musim gugur 1952, karena pada saat itu kendali kampanye Eisenhower telah berpindah dari kelompok pendukungnya ke mesin partai, yang bersikeras bahwa strategi kampanye keliling harus menjadi prioritas utama,” tulis Allen.
- Mula Iklan di Televisi Indonesia
IKLAN bertema Ramadan marak ditayangkan di televisi selama bulan puasa. Bahkan, ada iklan seperti mini seri terdiri dari beberapa episode yang tayang selama beberapa pekan dari awal Ramadan hingga momen Lebaran. Kemunculan iklan di televisi tak lepas dari sejarah hadirnya televisi di Indonesia. Peneliti asal Australia, Philip Kitley dalam Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca menyebut Maladi yang dikenal sebagai penyiar radio berpengalaman dan pernah menjabat sebagai kepala siaran radio pemerintah, Radio Republik Indonesia (RRI), memiliki peranan cukup penting dalam masa-masa awal kehadiran televisi di Indonesia. “Pada 23 Oktober 1961 Menteri Penerangan Maladi menerima instruksi yang sudah ia ajukan sejak 1952. Telegram Presiden Sukarno dari Wina memberi izin Maladi untuk mendirikan televisi di Indonesia,” tulis Kitley.
- Cara Mengiklankan Film pada Zaman Belanda
SEJUMLAH poster film terpasang berjejer di bagian depan bioskop-bioskop ibu kota dan berbagai daerah lainnya. Sebagai informasi kepada para pengunjung bioskop, di bagian atas poster disematkan tulisan “sedang tayang” atau “akan tayang”. Sebelum ditayangkan di bioskop, potongan-potongan adegan film ( trailer ) diiklankan di berbagai media, seperti televisi, YouTube, dan berbagai media sosial untuk menarik perhatian publik. Berbeda dengan masa kini yang serba digital, di masa lalu film yang akan ditayangkan di bioskop diiklankan dengan cara unik menggunakan delman atau sado. Tanu Trh dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe menyebut penggantian film yang ditayangkan di bioskop Batavia pada zaman kolonial Belanda biasanya terjadi 3–4 malam sekali dan diumumkan kepada khalayak ramai dengan cara diarak, sehingga disebut “bioskop ngarak”. “Sebuah delman atau sado disewa, dipajangi poster-poster film yang akan diputar malam itu serta nama bioskop bersangkutan,” tulis Tanu.
- Ho Im, Iklan Dukacita Tionghoa
CALON presiden Joko Widodo tak ambil pusing dengan kampanye hitam yang menyebut dirinya keturunan Tionghoa dan bernama Oey Hong Liong. Namun Jokowi angkat bicara ketika kempanye hitam itu sudah keterlaluan berupa berita dukacita “RIP Ir. Herbertus Joko Widodo (Oey Hong Liong)” yang beredar di jejaring sosial. Jokowi menyebut kampanye hitam itu “brutal”. Menurut Iwan Awaluddin Yusuf, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dalam Media, Kematian, dan Identitas Budaya Minoritas , iklan dukacita erat kaitannya dengan upaya penyebarluasan kabar meninggalnya seorang etnis Tionghoa kepada keluarga dan sanak famili sesama Tionghoa. Mereka menyebut iklan dukacita sebagai Ho Im. “Iklan berita keluarga tentang kematian dan perkawinan bagi pembaca Tionghoa peranakan lebih penting daripada editorial yang hebat,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik .
- Nostalgia Si Unyil, Hiburan Anak-anak di Zaman Orde Baru
SIAPA yang tak mengenal Si Unyil?Program televisi di TVRI ini pernah menjadi tayangan yang paling dinanti anak-anak pada zaman Orde Baru. Episode pertama serial Si Unyil tayang pada 5 April 1981 dan ditayangkan terus-menerus hingga menjadi program fiksi yang paling lama disiarkan di Indonesia. Sejak 1981 hingga 1993 Si Unyil telah tayang sebanyak 603 episode. Si Unyil, yang mengenakan kopiah hitam dengan sarung dililitkan ke bahu, digambarkan sebagai anak berusia sekitar tujuh tahun yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bersama kawan-kawannya, Usro, Cuplis, Si Ucrit, Endut, dan Meilani, Unyil mencoba memecahkan berbagai masalah di Desa Suka Maju. Selain itu, di setiap episode Unyil berinteraksi dengan karakter lain seperti Pak Raden, Mbok Bariah, Pak Ogah, dan Pak Ableh.
- Butuh Uang untuk Lebaran, Sukarno Lelang Peci
MOTOR listrik Gesits milik Presiden Joko Widodo dilelang dalam acara konser virtual "Berbagi Kasih Bersama Bimbo" pada Minggu, 17 Mei 2020. Motor bertanda tangan Jokowi itu laku Rp2,5 miliar. Pemenangnya M. Nuh yang disebut sebagai pengusaha dari Jambi. Ternyata, setelah ditelusuri, dia adalah buruh harian lepas. Dia mengira telah menang hadiah dalam acara lelang itu. Warganet pun menyebutnya telah nge- prank Jokowi. Kejadian serupa tapi tak sama pernah dialami Presiden Sukarno. Sama-sama lelang di bulan puasa, bedanya Jokowi melelang motornya untuk warga terdampak pandemi virus corona ( Covid-19), sedangkan Sukarno melelang peci untuk zakat fitrah. Sukarno tak punya uang menjelang Lebaran. Dia meminta bantuan orang kepercayaannya, Roeslan Abdulgani. Roeslan mulai dekat dengan Sukarno saat menjabat sekretaris jenderal Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Setelah itu, dia menjabat menteri luar negeri, wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung, menteri penerangan, dan wakil perdana menteri.
- Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon
SITUASI geopolitik di Eropa pada pengujung abad ke-18 turut berpengaruh ke Afrika Utara, bahkan Nusantara. Revolusi di Prancis yang berujung pada lahirnya Republik Prancis Pertama (1792), dimanfaatkan perwira militer jenius dan berdarah dingin Napoleon Bonaparte untuk memperluas ekspansi secara tidak langsung ke Jawa dan “menyenggol” wilayah Kekhalifahan Turki Utsmani di Mesir. Bergolaknya Eropa sejurus Napoleon melancarkan Perang Revolusi Prancis (1792-1802), berimbas ke Hindia Timur (kini Indonesia). Masa itu bertepatan dengan kondisi Kongsi Dagang Hindia Timur VOC berada di pengujung kebangkrutan akibat kekalahan Republik Belanda dari Inggris dalam Perang Inggris-Belanda Keempat (1780-1784). “Kerapuhan VOC sudah tampak nyata ketika terjadi Perang Inggris-Belanda Keempat. Upaya membendung Inggris dengan inisiatif-inisiatif baru dalam hal pertahanan VOC tak bisa diwujudkan akibat guncangan geopolitik seiring Revolusi Prancis 1798,” tulis Gerrit Knapp dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596-1811.
- Orang Somalia Lebih Mengenal Sukarno
PADA 5 April 1964, pukul 23.00, KRI Dewa Ruci merapat di pelabuhan Djibouti, Somalia. Muncullah para pekerja pelabuhan. Mereka berdiri berkelompok memandangi tiang-tiang Dewa Ruci dan tali-temali yang memenuhi geladak. Mereka kemudian pergi ke haluan dan ramai memperdebatkan patung Dewa Ruci yang tepaku kokoh di bawah cocor. Kemudian terjadi komunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat kaku. Kemampuan bahasa Inggris awak Dewa Ruci memang belum begitu bagus, begitu pula dengan bahasa Inggris mereka tidak lebih baik. Kendati begitu, dengan isyarat tangan dan bahasa tubuh yang universal, komunikasi dapat berjalan secukupnya.






















