- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SITUASI geopolitik di Eropa pada pengujung abad ke-18 turut berpengaruh ke Afrika Utara, bahkan Nusantara. Revolusi di Prancis yang berujung pada lahirnya Republik Prancis Pertama (1792), dimanfaatkan perwira militer jenius dan berdarah dingin Napoleon Bonaparte untuk memperluas ekspansi secara tidak langsung ke Jawa dan “menyenggol” wilayah Kekhalifahan Turki Utsmani di Mesir.
Bergolaknya Eropa sejurus Napoleon melancarkan Perang Revolusi Prancis (1792-1802), berimbas ke Hindia Timur (kini Indonesia). Masa itu bertepatan dengan kondisi Kongsi Dagang Hindia Timur VOC berada di pengujung kebangkrutan akibat kekalahan Republik Belanda dari Inggris dalam Perang Inggris-Belanda Keempat (1780-1784).
“Kerapuhan VOC sudah tampak nyata ketika terjadi Perang Inggris-Belanda Keempat. Upaya membendung Inggris dengan inisiatif-inisiatif baru dalam hal pertahanan VOC tak bisa diwujudkan akibat guncangan geopolitik seiring Revolusi Prancis 1798,” tulis Gerrit Knapp dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596-1811.
Kondisinya diperparah oleh Revolusi Batavia (1781-1795) di negeri Belanda yang menumbangkan Republik Belanda dan digantikan Republik Batavia yang pro-Prancis. Republik Batavia jadi salah satu negeri “satelit” Prancis yang praktis seluruh wilayahnya secara tidak langsung berada di bawah Napoleon. VOC sendiri dibubarkan pada 1799 dan wilayah Hindia Timur langsung dipegang “pusat” di negeri Belanda.
“Lalu Traktat Campo Formio yang ditandatangani pada 1797 oleh Napoleon Bonaparte dan penguasa Austria (Dinasti Hapsburg, red.) Pangeran Philip von Cobenzl, membuat Italia Utara dipecah-pecah jadi republik-republik (di bawah Prancis), sementara Belanda juga diserahkan ke tangan Prancis. Ini membuat Koalisi Pertama tumbang, menyisakan Inggris yang hanya sendirian melawan Republik Prancis,” ungkap Ali Humayun Akhtar dalam Italy and the Islamic World.

Alexandria Pantang Mengibarkan Bendera Putih
Sekitar 300 kapal angkut dan 13 kapal perang dikumpulkan Napoleon di Toulon menjelang ekspedisinya ke Mesir. Total ia menghimpun pasukan lebih dari 38 ribu prajurit, baik irfateri, kavaleri, para awak meriam, hingga seniman dan peneliti. Ia juga membawa 100 meriam artileri medan hingga artileri benteng.
Untuk menghindari Inggris, armada Napoleon yang berangkat dari Toulon pada 19 Mei 1798, menyusuri rute Provence, Corsica, dan Genoa. Sempat transit dan menguasai Malta, pasukan Napoleon lalu berangkat lagi menuju Alexandria di akhir Juni setelah tahu armada Inggris pimpinan Laksamana Horatio Nelson sudah bertolak dari kota pelabuhan yang dijuluki “Mutiara Mediterania” itu.
“Matahari bersinar cerah pada pagi 1 Juli namun awan gelap juga terlihat. Frigat Junon yang jadi pengintai memberi kabar bahwa 14 kapal Inggris sudah meninggalkan Alexandria. Meski diketahui pula Alexandria bersiap untuk memberi perlawanan,” tulis Jonathan North dalam Napoleon’s Invasion of Egypt: An Eyewitness Story.
Namun, perlawanan baru ditemui Napoleon di darat, utamanya dari dalam tembok kota. Armada Napoleon mendarat pada 1-2 Juli 1798 dengan sebagian kecil pasukannya.
Untuk merebut Alexandria, Napoleon mempercayakannya pada Jenderal Jean-Baptiste Kléber yang membawahi sekitar 5.000 serdadu. Sedangkan di Alexandria sendiri, hanya terdapat sekira 500 prajurit gabungan Mamluk dan Turki Utsmani yang dipimpin langsung gubernurnya, Muhammad Kurayyim (beberapa sumber menyebut Muhammad Karim atau Muhammad Elsayid Kuraim).
“Pasukan Prancis memposisikan meriam-meriamnya di pesisir mengepung Alexandria. Pada pukul 3 dini hari (2 Juli), General Kléber, (Jenderal Louis André) Bon dan Jean Menou masing-masing membawahi 430 prajurit dalam tiap unit pendahulu menuju Alexandria. Bonaparte menyusul di belakang dengan pasukan penembak jitu. Sekitar satu setengah mil dari kota, sekira 300 kavaleri Arab Badui dari dataran tinggi menembak lebih dulu. Akan tetapi setelah melihat besarnya pasukan Prancis, pasukan Arab segera mundur,” ungkap Juan Cole dalam Napoleon’s Egypt: Invading the Middle East.
Napoleon beserta pasukan utamanya tiba di gerbang kota Alexandria sekira pukul 8 pagi. Ia berharap kota berpenduduk 8.000 jiwa itu mau menyerah tanpa pertumpahan darah. Akan tetapi ia justru mendengar sorakan dan teriakan untuk melawan dari dalam tembok.
Kurayyim sudah menyiagakan pasukannya mengawaki empat meriam. Namun sebelum menyerang, Napoleon mengirim pesan untuk Kurayyim.
“Saya terkejut melihat Anda siap untuk menghadapi saya. Entah Anda benar-benar bodoh atau memang sangat nekat, untuk percaya bahwa Anda mampu melawan saya hanya dengan dua atau tiga meriam. Pasukan saya sudah menaklukkan kekuatan-kekuatan di Eropa. Jika dalam 10 menit saya tidak melihat bendera putih dikibarkan, Anda akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan atas darah yang tertumpah dan Anda akan menangisi kepergian para korban yang telah Anda korbankan karena kebutaan Anda,” Napoleon berseru dalam pesannya, dikutip Cole.
Karena tak mendapatkan jawaban, Napoleon memerintahkan meriam-meriamnya menembaki tembok kota tua Alexandria. Para serdadunya lantas menyerbu dan mendaki tembok untuk menghadapi pasukan Kurayyim yang notabene tak seimbang.
“Pasukan kami menyerbu dan memanjat segala rintangan musuh. Banyak jenderal yang terluka, termasuk Kléber, dan kami kehilangan 150 prajurit, meski keberanian akhirnya mengatasi perlawanan orang-orang Turki dan kami memukul balik mereka. Mereka hanya bisa pasrah di tangan Tuhan dan nabi mereka saat mengungsi ke masjid-masjid. Pria, wanita, lansia, bayi yang sedang menyusui, semua dibantai,” kenang ajudan Napoleon, Jenderal Pierre Boyer, dalam suratnya kepada orangtuanya, dikutip North.
Seiring matahari terbenam, Alexandria direbut pasukan Napoleon. Kurayyim ditangkap namun, menurut North, Napoleon mengampuninya.
“Napoleon menjanjikan Koraim (Kurayyim) tetap menjabat gubernur dan setelah kota diserahkan, para penduduk diizinkan menguburkan para korban tewas,” lanjutnya.
Namun beberapa sumber lain mengungkap, Kurayyim tetap ditahan dan baru dieksekusi pada September 1798 karena enggan bekerjasama. Napoleon sendiri lantas terus maju ke Kairo, sementara garnisun militer di Alexandria diserahkan kepada Kléber.
Sumber lain lagi menyebut, ketika jabatannya dipertahankan, Kurayyim tetap memberontak. Karena dianggap ikut berkonspirasi dalam pemberontakan di Damanhur. Kléber menangkap Kurayyim lagi pada 20 Juli 1798.
Kurayyim lantas dijebloskan ke penjara di Menara Pelabuhan Abu Qir. Setelah Napoleon menduduki Kairo pasca-Pertempuran Piramida (21 Juli 1789), Kurayyim dipindahkan ke Kairo sebelum dihadapkan ke regu tembak dan jadi martir pada 6 September 1798.
“Di Kairo, Sayyid Karim sempat diadili oleh Napoleon yang lantas menuntut uang tebusan dengan jangka waktu 12 jam. Karena tidak dipenuhi, ia disiksa, dipermalukan, dan dieksekusi oleh regu tembak. Kepala Karim yang dipenggal, dipamerkan di sebuah tiang dengan kertas bertuliskan: ‘inilah nasib bagi siapapun yang menentang Prancis’. Hingga kini, orang-orang Mesir menganggapnya sebagai martir revolusioner dan pahlawan nasional pertama,” tandas Arthur Goldschmidt dalam Biographical Dictionary of Egypt.













Komentar