Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Penculikan “Menteri Pertahanan RI”
HARI-hari menjelang habisnya bulan Oktober 1945 adalah waktu yang memusingkan bagi Jenderal Mayor drg. Moestopo, Komandan BKR Jawa Timur sekaligus "Menteri Pertahanan RI add interim ". Bagaimana tidak, baru saja dirinya membuat kesepakatan dengan Komandan Brigade ke-49 British India Army Brigadir A.W.S. Mallaby, pihak Inggris sudah memperlihatkan itikad buruk dengan menduduki 20 titik strategis di dalam kota Surabaya. Perbuatan itu, selain mecederai kesepakatan yang sudah dibuat pada 26 Oktober 1945, juga menjadikan arek-arek Suroboyo semakin “gemas”untuk secepat mungkin menghajar tentara Inggris. Bukan rahasia lagi jika sebagian besar pejuang Surabaya tak menginginkan damai dengan tentara Inggris yang dianggap sebagai pembonceng kembali Belanda ke Indonesia. “Moestopo sendiri (sebenarnya) ingin langsung menghabisi pasukan-pasukan (Inggris) yang mendarat ini…” ungkap Lambert Giebels dalam Soekarno: Biografi 1901—1905). Niat itu terkendala karena pemerintah Republik Indonesia (RI) lebih memilih pendekatan damai dalam menghadapi militer Inggris tersebut. Lewat perintah Presiden Sukarno yang langsung meneleponnya dari Jakarta, Bung Besar meyakinkan Moestopo bahwa musuh Indonesia adalah Belanda bukan orang-orang Inggris. Situasi penuh tekanan itu semakin parah dialami Moestopo ketika pada suatu malam, dia disergap oleh satu grup pasukan khusus Inggris dan dipaksa untuk memberitahu tempat penawanan Kolonel Huijer (seorang perwira Angkatan Laut Kerajaan Belanda) dan kawan-kawannya. “Tekanan lebih berat lagi menyusul ketika Inggris pada 28 Oktober mengultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan kembali senjata yang telah diperoleh mereka dari Jepang,” ungkap sejarawan Moehkardi dalam Sebuah Biografi: R. Mohamad dalam Revolusi 1945 Surabaya. Merespons ultimatum itu, Moestopo memerintahkan kepada BKR/TKR untuk bergerak ke luar kota. Dengan memakai alasan akan memimpin perang yang sebentar lagi terjadi, Moestopo pun kemudian meninggalkan Surabaya menuju luar kota. “Banyak pihak yang tak setuju dengan taktik Moestopo tersebut dan memilih tetap bertahan di kota dan mengobarkan perang masal melawan Inggris,” tulis Moehkardi. Akibat kelelahan fisik yang berkepanjangan dan tekanan mental yang berat, pada malam 28 Oktober yang kritis itu, Moestopo jadi berprilaku aneh. Wartawan Antara Wiwiek Hidajat yang malam itu bersama Moestopo, menyebut Moestopo telah mengalami “mental break down”. Wiwiek masih ingat bagaimana malam itu tetiba Moestopo menanggalkan seragam militernya dan menggantinya dengan pakaian khas orang Madura: berpakaian hitam-hitam, berselempang sarung dan memakai ikat kepala. Kepada orang-orang di dekatnya, dia menyatakan tengah bersiap-siap untuk menjalankan taktik Jepang “himizhu zensosen dan singei-se ” alias perang rahasia dan gerilya kota. “Saya bisa membayangkan dalam keadaan kejiwaan apa, dokter gigi itu berada. Dia sudah cukup lama dibuat gila oleh kemunafikan Inggris yang tidak pernah menepati kesepakatan yang terjadi dalam perundingan di mana Moestopo mewakili pemerintah…” ungkap kawan seperjuangannya Suhario Padmodiwiryo dalam bukunya Memoar Hario Kecik, Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit. Dalam kondisi seperti itulah, sebelum pergi ke luar kota, Moestopo berkeliling Surabaya guna menyampaikan perintahnya. Ikut dalam mobil sedan DeSoto itu, tiga orang lainnya: Sudibyo (mahasiswa kedokteran gigi berfungsi sebagai sopir) serta dua wartawan Surabaya: Wiwiek Hidajat dan Suleimanhadi. Sepanjang perjalanan itulah, Wiwiek banyak menyaksikan prilaku ganjil Moestopo. Sebagai contoh, jika di setiap pos penjagaan, kendaraan mereka distop para pemuda maka Moestopo akan menjelaskan identitas dirinya. Kadang dia mengaku sebagai komandan TKR atau “menteri pertahanan RI”, namun di lain kesempatan tak jarang dia juga mengaku sebagai…Ratu Adil! Sekira jam 2 dini hari, mereka tiba di Markas BKR Mojokerto pimpinan Marhadi. Karena kelelahan, mereka langsung tertidur. Di saat itulah, mendadak mereka disergap oleh satu kesatuan tentara yang tak dikenal. Moestopo dan kawan-kawannya kemudian diborgol, dinaikan ke truk lantas dibawa ke bekas pabrik gula Brangkal (dekat Trowulan). Paginya baru ketahuan jika para penculik itu adalah pasukan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) Sidoarjo pimpinan Mayor Zainal Sabarudin Nasution. Kepada Moestopo, secara terus terang Sabarudin mengungkapkan bahwa dirinya dibebani tugas oleh “seseorang” untuk menghabisi sang menteri pertahanan. Tetapi Sabarudin ingat bahwa saat masa bertugas di Pembela Tanah Air (Peta) sebagai anak buah Moestopo, jiwanya pernah diselamatkan oleh sang komandan dari kekejaman tentara Jepang. Karena pertimbangan itulah, Sabarudin memutuskan untuk tidak menuruti perintah atasannya tersebut. Siapakah atasan Sabarudin yang menginginkan hilangnya nyawa Moestopo? Hingga kini jawabannya masih merupakan misteri. Sabarudin melepaskan Moestopo begitu saja. Seiring pelepasan itu, Moestopo mendengar kabar bahwa Presiden Sukarno akan datang ke Surabaya guna menengahi pertikaian antara pejuang Surabaya dengan tentara Inggris. Dia kemudian meninggalkan Sidoarjo dengan dikawal oleh Kapten Hamidun, bawahan Sabarudin. Sebelum menemui Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta di Kegubernuran, Moestopo ingat sejumlah dokumen penting yang berhasil dia rampas dari orang-orang Belanda kala terjadi kericuhan di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Dalam dokumen yang kemudian dia selamatkan di bawah kolong kandang kuda milik Kyai Yusremo itu, ada terkabar informasi bahwa kedatangan Inggris ke Surabaya adalah dalam rangka mengembalikan kekuasaan orang-orang Belanda di Indonesia. Soal ini harus sampai ke telinga Sukarno-Hatta, demikian pikir Moestopo seperti disebutkan dalam buku kecil Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof. Dr. Moestopo. Maksud hati Moestopo ingin “menelanjangi” Inggris di hadapan Sukarno-Hatta dan sejumlah pejabat republik nyatanya tak pernah terwujud. Alih-alih memberikan informasi penting itu, sang menteri pertahanan malah terlibat keributan dengan Mohamad Hatta di depan para perwira Inggris.*
- Mengenal 5 Pahlawan Nasional Asal Papua
Pada tahun ini, Papua menyumbangkan satu nama lagi dalam album pahlawan nasional. Gelar itu dinobatkan atas nama Machmud Singgirei Rumagesan asal Papua Barat. Dia dikenal sebagai raja lokal di Distrik Kokas, Fakfak yang menentang Belanda sejak zaman kolonial. Sebelum Machmud Singgirei Rumagesan, telah tercatat empat pahlawan nasional asal Papua. Mereka antara lain Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Silas Papare. Ketiganya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1993. Kemudian, Johannes Abraham Dimara menjadi pahlawan pada 2010. Satu dekade berselang, Rumagesan masuk dalam daftar anyar yang tercatat sebagai pahlawan nasional kelima asal Papua. Siapa dan bagaimana kiprah mereka? Berikut ulasannya. Frans Kaisiepo Lahir di Pulau Biak, 10 Oktober 1921. Merupakan murid dari Soegoro Atmoprasodjo, seorang tahanan politik eks Digulis. Frans Kaisiepo mendapat binaan dari Soegoro ketika menjadi siswa sekolah pamong praja di Kota Nica, Hollandia (kini Jayapura) pada 1945. Soegoro yang menjabat direktur asrama kerap menyisipkan gagasan ke-Indonesian terhadap para siswa. Dia kemudian merintis benih nasionalisme Indonesia di Papua. Frans Kaisiepo merupakan orang pertama yang mengganti nama Papua menjadi Irian. Nama itu diperkenalkannya pada Konferensi Malino yang diselenggarakan Belanda, 18 Juli 1946. Gagasan tersebut lahir tidak lama setelah Frans Kaisiepo nekat menjumpai Soegoro di Penjara Hollandia. “Frans Kaisiepo mengusulkan gagasan tersebut dan ini sangat mengejutkan pihak Belanda. Karena ia mengusulkan agar nama Papua dan Nederlands Nieuw Guine yang dipakai selama ini ditiadakan dan diganti dengan kata atau nama IRIAN,” tulis Pius Suryo Haryono dkk, dalam Pahlawan Nasional: Frans Kaisiepo. Menurut Frans Kaisiepo, kata “Irian” berasal dari bahasa tempat kelahirannya, Pulau Biak. Secara harfiah artinya panas. Diadaptasi dari tradisi pelaut Biak yang melaut ke Pulau Papua. namun kemudian, kata Irian dipolitisasi menjadi Ikut Republik Anti Nederland. Dalam aktifitas politiknya, Kaisiepo giat menentang Belanda dan pro integrasi dengan Indonesia. Dia kemudian menjadi gubernur Irian Barat yang menyukseskan penyatuan Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui referendum Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Atas jasanya itu, pemerintah Indonesia menyematkan gelar pahlawan nasional. Marthen Indey Lahir di kampung Doromena, dekat kaki pegunungan Cyclops pada 16 Maret 1912. Seperti Frans Kaisiepo, Marthen Indey (disebut juga Marthin) juga salah satu murid ideologis Soegoro Atmoprasodjo. Marthen Indey punya latar belakang sebagai polisi sejak zaman kolonial dan tentara Sekutu berpangkat letnan pada Perang Dunia II. Dia kemudian menjadi instruktur polisi lokal “Batalion Papua” yang membawa perkenalannya kepada Soegoro. Pada pergantian tahun 1945, Marthen Indey pernah terlibat pemberontakan untuk membebaskan Soegoro dari penjara Hollandia. Sayangnya, aksi itu berujung dengan kegagalan. Kematian salah satu anak buahnya dalam pemberontakan itu menggugah kemarahan Marthen Indey terhadap Belanda. Marthen Indey selanjutnya terlibat dalam aktifitas menyiarkan proganda anti-Belanda. “Dia mendesak para pejabat NIT (Negara Indonesia Timur) agar tetap mempertahankan Irian Barat, dan menolak kemauan Belanda untuk memisahkan separuh pulau ini dari dari wilayah Republik Indonesia Serikat,” tulis George Junus Aditjondro dalam “Marthin Indey Pejuang Irian Barat” termuat di Prisma No.2, Februari 1987. Karena ketahuan mencari dukungan dari tokoh-tokoh Maluku pro-Indonesia, Marthen ditangkap polisi Belanda pada 1947. Dia diganjar hukuman penjara selama tiga tahun. Ketika Indonesia melancarkan kampanye pembebasan Irian Barat, Marthen Indey ikut pasang badan. Dia berperan melindungi pendaratan pasukan infilitrasi Indonesia selama Operasi Trikora. Pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai anggota MPRS mewakili Irian Barat, setelahnya Marthen pensiun sebagai orang sipil. Silas Papare Silas Papare lahir di Serui, 18 Desember 1918. Berlatar belakang sebagai juru rawat, Silas kemudian diperbantukan sebagai tentara Sekutu berpangkat sersan pada Perang Dunia II. Pasca-perang, Silas kembali menjadi perawat. Pemerintah Belanda menggunakan Silas Papare sebagai penasihat mantri di sekolah pamong praja di Kota Nica. Dari situlah Silas kemudian berkenalan dengan Soegoro Atmoprasodjo dan Marthen Indey. Pada akhir 1946, Silas bersama Marthen Indey dan Corinus Krey mempengaruhi Batalion Papua untuk mengadakan pemberontakan terhadap Belanda. Mereka bertujuan mewujudkan kemerdekaan di Papua. Rencana itu bocor karena seorang anggota batalion yang berkhianat “Belanda mendatangkan bantuan dari Rabaul (Papua Timur). Akibatnya Silas Papare dan Marthin Indey ditangkap dan dipenjarakan di Hollandia (Jayapura),” tulis Onnie Lumintang, dkk dalam Biografi Pahlawan Nasional Marthin Indey dan Silas Papare . Dari penjara di Pulau Biak, Silas Papare kemudian dipindahkan ke Pulau Serui. Di Serui, Silas Papare bertemu dengan Samuel Ratulangi, tokoh nasionalis Indonesia asal Minahasa yang juga diasingkan pemerintah Belanda. Bersama Ratulangi, Silas Papare kemudian membentuk Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Pada 1950-an, Silas melebarkan sayap perjuangannya dengan hijrah ke Pulau Jawa. Di Yogyakarta, Silas terlibat dalam pembentukan Badan Perjuangan Irian. Kemudian, pemerintah Indonesia menunjuknya membentuk Biro Irian di Jakarta. Hingga pada 1962, Silas menjadi anggota delegasi Indonesia dari Papua dalam Perjanjian New York yang menandai kemenangan Indonesia dalam sengketa Irian Barat. Johannes Abraham Dimara Lahir di Korem, Biak Utara, 16 April 1916, namun Dimara besar di Ambon, Maluku. Orang-orang memanggilnya dengan nama “Johanes Papua”. Pada zaman pendudukan Jepang, Dimara bertugas sebagai anggota Heiho (sejenis Hansip) di Pulau Buru. Di Perairan Namlea pada April 1946, Dimara berkenalan dengan Yosaphat Soedarso, seorang perwira Angkatan Laut Indonesia yang sedang mengadakan ekspedisi ke Maluku. Dari perkenalan itulah Dimara mengetahui tentang kemedekaan Indonesia. Dimara kemudian terlibat dalam peristiwa pengibaran bendera Merah Putih di Namlea. Dimara meneruskan perjuangannya dengan bergabung menjadi tentara dalam Batalion Pattimura, Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Pada Juli 1950, pasukan Dimara diberangkatkan ke Ambon untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan pimpinan Soumokil. Sebagai putra asli Papua, Dimara diangkat menjadi ketua Organisasi Pembebasan Irian (OPI). Atas mandat dari Presiden Sukarno, Dimara bersama 40 anggotanya berangkat ke Irian Barat untuk melawan Belanda. Nahas, pada akhir Oktober 1954, Dimara beserta anak buahnya tertangkap dan dipenjarakan ke Boven Digul. “Di sana ia dipisahkan dari anak buahnya. Mereka umumnya disiksa dengan tangan dirantai. Meski sudah di dalam tahanan, tangan mereka tetap diborgol,” tulis Carmelia Sukmawati Roring dalam Fa Ido Ma, Ma Ido Fa: J.A. Dimara Lintas Perjuangan Putra Papua . Setelah tujuh tahun mendekam dipenjara, Dimara akhirnya bebas. Presiden Sukarno kemudian mengutusnya sebagai salah satu delegasi Indonesia ke PBB untuk merundingkan sengketa Irian Barat. Sosok Dimara disebut-sebut sebagai citra yang menginspirasi monumen pembebasan Irian Barat yang terletak di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Machmud Singgirei Rumagesan Lahir di Kokas, Fakfak, Papua Barat pada 27 Desember 1885. Pada 1915, pemerintah kolonial Belanda menunjuk Rumagesan sebagai kepala distrik Kokas. Kendati ditunjuk Belanda, Rumagesan bertentangan dengan pemerintah yang memberinya mandat itu. Rumagesan menuntut maskapai minyak Belanda yang membuka pertambangan di Kokas agar mempekerjakan penduduk pribumi dan tidak berlaku semena-mena. Sikap vokalnya menuai banyak dukungan rakyat. Tapi itu juga yang membuat Rumagesan dipenjara berkali-kali oleh pemerintah Belanda. Muhammad Husni Thamrin, waktu itu anggota Dewan Rakyat Hindia Belanda pernah menolong Rumagesan agar masa tahanannya dikurangi dari lima belas menjadi tujuh tahun. Sepanjang Belanda berkuasa, Rumagesan telah mencicipi berbagai penjara di pelosok Papua seperti Saparua, Sorong Doom, Manokwari, Hollandia, dan Makassar. ” Setelah Rumagesan ditempatkan di penjara Manokwari, beliau berhasil memengaruhi dan menghasut para pemuda Irian (Papua) yang menjadi tentara Belanda. ” tulis Rosmaida dan Abdul Syukur dalam Singgirei Rumagesan: Pejuang Integrasi Papua . Rumagesan juga menyadarkan para pemuda itu tentang pentingnya kemerdekaan bangsa dan negara. Pada 1953 Machmud Rumagesan mendirikan organisasi pembebasan Irian Barat di Makassar bernama Gerakan Tjenderawasi Revolusioner Irian Barat (GTRIB). Tujuannya membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memperjuangkan pembebasan Irian Barat dari Belanda. Pada 1954, Rumagesan diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sekaligus yang pertama dari Papua. Begitu getolnya Rumagesan menyerukan Irian Barat harus kembali ke Indonesia sehingga Presiden Sukarno memberikan julukan “Si Jago Tua” dari Irian Barat. Rumagesan wafat pada 5 Juli 1964. Kendati demikian, Si jJgo Tua itu sempat menyaksikan Irian Barat menjadi bagian dari Republik Indonesia seperti yang dicita-citakannya.
- Seberg Melawan Arus
KEKANGAN rantai yang membelenggu dirinya ke sebuah kayu membuat pikiran Jean Seberg (diperankan Kristen Stewart) melayang. Seiring mata kamera membidiknya makin dekat, nafasnya kian berat. Histeria lantas melandanya kala api mulai membakar dirinya. Itu merupakan ending dari film Saint Joan (1957) yang jadi debut Jean di layar perak. Sineas Benedict Andrews merekonstruksinya sebagai “pintu masuk” political thriller garapannya mengenai sosok sang aktris, Seberg . Andrews seolah ingin mengidentikkan sosok Jean laiknya Joan of Arc yang mulanya dipuja namun akhirnya terbakar oleh keyakinannya sendiri melawan arus di sekitarnya. Alur cerita lalu melompat ke medio Mei 1968 ketika Jean sudah bertransformasi menjadi ikon new wave sinema Prancis. Kini ia siap kembali ke tanah airnya untuk menembus Hollywood. Namun dalam perjalanan di atas pesawat maskapai Pan Am, Jean berkenalan dengan aktivis HAM dan anti-rasisme Hakim Jamal (Anthony Mackie), sepupu mendiang Malcolm X. Entah dengan motif apa, tetiba Jean ikutan mengepalkan tangan ke udara sebagai black power salute bersama Jamal dan rombongan aktivis kulit hitam lainnya, termasuk mendiang istri Malcolm X Betty Shabazz. Lakunya tak hanya jadi perhatian media massa yang berkerumun di bandara Los Angeles, namun juga menarik perhatian FBI meski tak disadarinya. Dua agen khusus FBI, Jack Solomon (Jack O’Connell) dan Carl Kowalski (Vince Vaughn), lantas ditugaskan menguntit Jean lantaran dianggap potensial menjadi ancaman baru di tengah gerakan politik kulit hitam. Benar saja. Kendati Jean dan Hakim sudah punya pasangan sah, keduanya menjalin asmara terlarang. Jean juga makin sering memberi sokongan dana meski donasi-donasinya kepada Yayasan Malcolm X lebih kepada dukungan terhadap pendidikan anak-anak kulit hitam, bukan seperti Partai Black Panther yang acap bikin onar. Kolase adegan FBI yang mengintai kehidupan Jean Seberg. ( benedictandrews.com ). Namun tetap saja Jean dianggap ancaman lantaran FBI pukul rata bahwa Afro-Amerika merupakan kelompok radikal pengganggu ketertiban. Semakin jauh Solomon dan Kowalski menguntit, hingga menyadap segala komunikasi Jean, hasilnya makin menggelitik para pimpinan FBI untuk menjadikan Jean sasaran utama mereka selain Hakim Jamal. Atas perintah Direktur FBI J. Edgar Hoover, Frank Ellroy (Colm Meaney), bos Solomon dan Kowalski, memerintahkan investigasi lebih ekstrem untuk memasukkan Jean sebagai salah satu target program kontra-intelijen COINTELPRO. Program pengintaian, infiltrasi, dan pendiskreditan aktivis-aktivis HAM yang sudah dijalankan FBI sejak 1956 itu ilegal serta kontroversial. Korban dari program ini antara lain Rap Brown, Malcolm X, Martin Luther King Jr., dan Bobby Seale. Khusus kasus Jean, hasil pengintaian dan penyadapan yang dilakoni Kowalski dan Solomon dipergunakan FBI untuk menghancurkan karier dan kehidupan pribadi Jean. Salah satunya dengan menyebarkan hoaks bahwa Jean mengandung anak dari hasil perselingkuhannya dengan Hakim Jamal lewat kolom-kolom gosip dunia hiburan. Jean juga acap diteror penelepon gelap sehingga karier maupun mentalnya terganggu. Di sisi lain, Solomon mulai mempertanyakan apakah Jean pantas diperlakukan FBI seperti itu. Sempat ia berusaha mengontak Jean sebagai penelepon anonim guna menghentikan semua aktivitas Jean sebagai simpatisan kaum kulit hitam. Namun, Jean malah makin lantang melawan meski tertekan. Bagaimana detail penyadapan dan pengintaian ilegal hingga pelecehan yang dilakukan FBI terhadap Jean dan seperti apa akhirnya, bukan di sini tempatnya. Lebih baik Anda saksikan sendiri. Meski sudah rilis sejak 10 Januari 2020, Seberg masih bisa Anda saksikan via platform daring Mola TV. Dramatisasi Kisah Tragis Sang Aktris Dengan detail properti, set film, hingga music scoring lawas bercampur retro garapan komposer Jeed Kurzel, Seberg menghadirkan nuansa 1960-an yang ramai oleh gerakan HAM, anti-Perang Vietnam, dan anti-diskriminasi. Seberg bukanlah biopik, Andrews melabelinya political thriller lantaran memang digarap sebagai dramatisasi satu bab tragis dari kehidupan sang aktris yang berangsur terseret gerakan aktivis. Dramatisasi itu membuat beberapa detail dan adegan dalam Seberg berbeda dari fakta. Contohnya adalah pesawat Boeing 747 maskapai Pan Am tempat Jean bertemu Hakim Jamal pada 1968. Padahal faktanya, jet komersil Boeing 747 baru jadi armada Pan Am pada 1970. Adegan Jean Seberg mengacungkan "Black Power Salute" faktanya tak pernah terjadi. (Tangkapan Layar Mola TV). Dramatisasi lainnya adalah kala Jean ikut-ikutan mengepalkan tangan ke udara selepas tiba di Amerika dari Paris dan jadi sasaran para fotografer. Faktanya Jean tak pernah melakoni “black power salute” itu. Pun adegan perkenalan Jean dengan Hakim Jamal, aslinya baru terjadi pada 15 Oktober 1968 selepas Jean merampungkan film Paint Your Wagon . Hakimlah yang memperkenalkan diri lebih dahulu, bukan Jean sebagaimana di film. Perkenalan mereka baru berubah menjadi hubungan asmara setelah berjalan lama, bukan one night stand . Namun, ini film. Tanpa dramatisasi jelas akan garing. Terlebih, pesan yang ingin disampaikan Andrews adalah adanya kesamaan antara nasib Joan of Arc dan Jean Seberg yang ia perankan di film Saint Joan . Andrews fokus pada bagaimana FBI menghancurkan semua tentang Jean di samping berupaya mengajak penonton menggali sendiri apa dan siapa Jean sebenarnya. “Karakter yang dimainkan Jack O’Connell (agen FBI Jack Solomon, red. ) punya pertanyaan yang sama seperti penonton: ‘Siapakah Jean Seberg?’ Kami tak mencoba menceritakan segenap hidupnya karena itu akan jadi cerita yang lain,” ujar Andrews kepada Screen Rant , 21 Februari 2020. “Kami juga sengaja mempersempit kiprahnya di akhir 1960-an. Tapi di akhir film, kami meninggalkan jejak untuk diikuti penonton, seperti karakter Santa Joan, ketika dia dibakar di set film jadi salah satu petunjuk kecilnya. Namun setiap aspek kehidupannya luar biasa. Kami hampir tak menyentuh pernikahannya dengan Romain Gary (suami kedua Seberg) yang punya cerita menarik sendiri. Saya merasa film ini jadi ajakan buat semua orang untuk mengenalnya lebih dekat,” imbuhnya. Sosok Jean Dorothy Seberg (kiri) yang diperankan aktris Kristen Jaymes Stewart. ( benedictandrews.com / neh.gov ). Tanpa mengetahui Jean lebih dekat, mustahil dapat memahami mengapa FBI sampai memasukkan namanya menjadi salah satu target COINTELPRO hingga membuat jiwanya terguncang dan akhirnya bunuh diri pada usia 40 tahun. Lahir di Marshalltown, Iowa, Amerika Serikat pada 13 November 1938, Jean Dorothy Seberg justru memilih merintis kariernya di Eropa setelah debut di film Saint Joan . Namanya melejit lewat film À Bout de Souffle ( Breathless dalam versi bahasa Inggris) garapan sineas Jean-Luc Godard. Film rilisan tahun 1960 itu meledak di pasaran dan jadi titik pijak new wave sinema Prancis. Hingga akhir hayatnya, Seberg membintangi 37 film baik semasa berkiprah di Prancis maupun setelah pulang ke Amerika menembus Hollywood. Di Prancis, Seberg dua kali menikah. Yang pertama dengan pengacara, François Moreuil, namun hanya berjalan dua tahun (1958-1960). Kedua, dengan novelis cum sutradara Romain Gary, di mana bahtera pernikahannya juga hanya bertahan delapan tahun (1962-1970). Dalam otobiografinya Chien Blanc ( White Dog ), Gary mengungkapkan, simpati Seberg terkait isu-isu HAM bukan barang baru bagi sang istri. Isu itu sudah jadi perhatian Jean sejak belia dan sebelum masuk industri film. “Seberg sudah ikut organisasi HAM sejak dia baru 14 tahun dan masih tinggal di Marshalltown, Iowa. Idealisme dia, seperti tipikal orang Amerika, tak bisa menyisakan masalah tanpa menyelesaikannya. Namun, di Eropa karakter seperti ini sering disalahartikan sebagai kemunafikan. Sampai akhirnya hal ini menimbulkan masalah dalam pernikahan kami,” ungkap Gary yang punya seorang putra, Alexandre Diego Gary, dari hasil pernikahannya dengan Jean. Figur Allen Donaldson alias Hakim Abdullah Jamal yang diperankan aktor Anthony Mackie. ( benedictandrews.com / Dead Level: Malcolm X and Me ). Pada 1960-an di Prancis mulai timbul gerakan-gerakan HAM yang puncaknya berupa protes massal yang berujung kerusuhan Mei 1968. Kepeduliannya pada soal sosial-politik turut dibawanya kala kembali ke Amerika di tahun yang sama. Ia masuk ke gerakan politik anti-diskriminasi berkat perkenalannya dengan Hakim Jamal. Jean ingin menjadi agen perubahan di mana tak semua kaum selebritas apatis terhadap diskriminasi yang terjadi di sekitar mereka. Namun, simpati Jean kepada kelompok perjuangan kulit hitam membabi-buta. Padahal, dia sudah diperingatkan Hakim untuk tidak bersimpati ke kelompok yang lebih radikal seperti Partai Black Panther. Akibatnya, langkah Jean menarik perhatian FBI. Los Angeles Times , 6 Januari 1980 memberitakan, FBI sudah mengintai Jean sejak 1969 dan memasukkan namanya jadi sasaran COINTELPRO pada Desember 1970. Dari pengintaian sejak Juni 1969, diketahui Jean pernah memberi cek senilai USD5 ribu kepada Hakim Jamal yang aktif di Yayasan Malcolm X. Ditambah, Jean juga salah satu donatur aktif Partai Black Panther. Sepanjang 1970, Jean menyumbang total 10.500 dolar. FBI cabang Los Angeles, di bawah perintah direktur pusat J. Edgar Hoover, akhirnya melancarkan rencana COINTELPRO untuk “menetralisasi” Jean Seberg. Via memo dari markas besar FBI di Washington DC ke Los Angeles tertanggal 27 April 1970, restu mempublikasi gosip dan berita bohong diberikan kepada agen yang selama ini mengintai Seberg, Jack Solomon. “Meminta izin biro (pusat) untuk mempublikasi kehamilan JEAN SEBERG, aktris film ternama, oleh…Partai Black Panther (BPP)…dengan menyarankan kolumnis gosip Hollywood di area Los Angeles. Dirasa bahwa kemungkinan publikasi tersebut akan menyebabkan aib dan merendahkan imejnya di mata publik,” demikian potongan memo tersebut. Memo FBI terkait upaya "netralisir" Jean Seberg. (US Federal Government). Akibat publikasi itu, jiwa Jean terguncang. Ia bahkan sampai melahirkan secara prematur pada 23 Agustus 1970. Bayinya yang dinamai Nina Hart Gary dua hari kemudian meninggal. Dalam upacara pemakaman Nina, peti matinya sampai dibuka untuk menunjukkan bahwa Nina berkulit putih, bukan hitam sebagaimana hoaks yang disebarkan FBI melalui kolom-kolom gosip. Efek pembunuhan karakter oleh FBI itu terus menyiksa batin Jean. Bahkan ketika dia sudah tinggal berpindah-pindah di Swiss dan Italia, FBI masih menguntitnya lewat kontak silang “FBI Legat” yang bekerjasama dengan sejumlah atase hukum kedutaan Amerika di Paris dan Roma. Sepuluh hari menghilang, Jean akhirnya ditemukan dengan jasad sudah membusuk di dalam mobilnya di Paris, 8 September 1979. Ayahnya, Edward Waldemar Seberg, amat terpukul mendengar kabar putrinya meninggal karena diduga bunuh diri. “Jika benar (jadi target FBI), kenapa mereka tak menembaknya saja, ketimbang terus-menerus membuatnya menderita. Saya punya bendera (Amerika) ini di sudut ruangan yang selalu saya kibarkan di halaman setiap pagi dan sejak saat itu saya tak pernah mau lagi mengibarkannya,” kata sang ayah saat diwawancara Mike Wallace dalam program “The Wallace Profiles” yang ditayangkan CBS , 17 November 1981. Kabar meninggalnya Jean jadi berita heboh di media massa Amerika. Time sampai membuat judul “The FBI vs Jean Seberg” untuk artikel investigasinya soal masalah Seberg. FBI setelah terpojok mengakui telah menyebar hoaks bahwa Seberg dihamili aktivis Black Panther. Atas desakan Senat berdasarkan Freedom of Information Act (FOIA), FBI bersedia membuka berkas-berkas tentang pengintaian dan penyadapan Seberg. COINTELPRO sebagai metode FBI lantas dihapus pada April 1971. Data Film: Judul: Seberg | Sutradara: Benedict Andrews | Produser: Marina Acton, Fred Berger, Kate Garwood, Stephen Hopkins, Brian Kavanaugh-Jones-Bradley Pilz, Alan Ritchson | Pemain: Kristen Stewart, Antony Mackie, Zazie Beetz, Jack O’Connell, Margaret Qualley, Vince Vaughn, Colm Meaney | Produksi: Automatik, Bradley Pilz Produtions, Phreaker Films, Ingenious Media| Distributor: Amazon Studios, Universal Pictures | Durasi: 102 Menit | Rilis: 20 Januari 2020.
- Singgah di Rumah Dewa Siwa
BANGUNAN untuk Dewa Siwa akhirnya memperlihatkan bentuknya. Berkat dukungan masyarakat yang ikut memberikan sumbangan, ratusan pekerja bisa merampungkan pembangunan. Bangunan itu begitu indah berkilau. Sungai yang tadinya mengaliri halaman dialihkan sehingga menelusuri sisi-sisi halamannya. Dua bangunan kecil terdapat pada pintu gerbangnya. Sejumlah bangunan kecil lainnya yang juga indah menjadi tempat bertapa. Bangunan-bangunan kecil berderet bersap-sap mengitari bangunan induk. Sama semua bentuknya. Di sebelah timur candi induk tumbuhlah pohon tanjung Ki Muhur yang baru setahun umurnya. Keindahannya menyamai pohon parijataka milik Dewata. Di sinilah tempat turunnya sang dewata. Demikianlah Prasasti Siwagrha (778 Saka/856 M) bercerita tentang pembangunan rumah bagi Dewa Siwa (Siwagrha). Para arkeolog mengaitkan kuil dalam prasasti itu dengan Kompleks Candi Prambanan. Tri Hatmadi dalam Pelapukan Batu Candi Siwa Prambanan dan Upaya Penanganannya menyebut gugusan candi, yang menurut prasasti ada di dekat sungai, mengingatkan pada Kompleks Candi Prambanan dengan Sungai Opak di sebelah baratnya. Deretan candi yang bersap sejauh ini juga cuma ada di Kompleks Candi Prambanan. Dan hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa pembangunan Candi Prambanan adalah pekerjaan mahabesar dalam peradaban masyarakat Jawa Kuno. Dekat Sungai Candi Prambanan sebagaimana pula kebanyakan candi lainnya, dibangun di dekat sungai. Candi dan air punya hubungan yang akrab. Air merupakan elemen penting dalam pemujaan Hindu. Tak hanya digunakan dalam persembahan, tetapi para pendeta pun membutuhkannya untuk menyucikan diri sebelum melakukan ritual. Mundardjito, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, menyebutkan dalam kitab Manasara-Silpasastra yang berisi aturan-aturan pembangunan kuil di India, menjelaskan bahwa sebelum suatu bangunan kuil didirikan, harus lebih dahulu dinilai kondisi dan kemampuan lahannya. Kitab itu mengharuskan pula keletakan kuil berdekatan dengan air. Kitab Silpa Prakasa bahkan menekankan, lahan yang tanpa sungai harus dihindari ketika mendirikan kuil. “Karena air mempunyai potensi untuk membersihkan, menyucikan, dan menyuburkan,” jelas Mundarjito. Dijelaskan pula oleh arkeolog R. Soekmono dalam disertasinya “Candi, Fungsi dan Pengertiannya”. Jika air dari sumber alam tak tersedia maka kolam atau waduk buatan harus dibangun. “Tempat suci itu suci karena kualitas situsnya, bangunan candinya nomor dua,” tegasnya. Ibukota Baru Sementara Veronique Myriam Yvonne Degroot, arkeolog dari lembaga penelitian Prancis Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO), dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains”, berpendapat pemilihan lokasi pembangunan Kompleks Candi Prambanan juga beriringan dengan pergeseran pemerintahan kala itu ke arah timur dataran Kedu. “Kompleks Candi Prambanan mungkin mulai dibangun paruh kedua abad ke-9,” katanya. Katanya, sekira tahun 820 (Prasasti Sragen) dan setelah 855, peninggalan candi dan prasasti mulai bermunculan di sebelah timur Prambanan. “Candi-candi besar yang lebih muda, seperti Plaosan Lor dan Prambanan dibangun, menunjukkan perluasan ke timur lingkungan pengaruh Hindu-Buddha,” jelasnya. Dalam Prasasti Siwagrha disebutkan tentang raja yang mendirikan istana baru Medang di Mamrati. “Bisa jadi teks tersebut merujuk pada pemindahan ibukota dari kawasan Muntilan ke kawasan Prambanan,” jelas Degroot. Perpindahan ke wilayah yang lebih ke timur ini, menurut Degroot, bisa dilihat sebagai langkah pertama dari perpindahan kekuasaan di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sampai kemudian pada era Mpu Sindok atau Sri Isyana Vikramadhammatunggadeva sekira 929 M, kerajaan dipindahkan ke wilayah Jawa Timur sekarang. Banyak pendapat soal alasan kepindahannya. Tapi kalau menurut arkeolog Roy Jordan dalam Memuji Prambanan , tidak mungkin candi ini dibangun dalam jangka pendek antara 855-856. Pembangunan mungkin dimulai sejak masa Rakai Pikatan, ayah Rakai Kayuwangi, atau malah pendahulunya. “Boleh jadi beberapa dasawarsa sebelumnya,” kata Jordan. Sejauh ini Prasasti Siwagrha memang hanya menginformasikan bahwa Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala merupakan raja Mataram Kuno (Medang) yang meresmikan Candi Prambanan pada 856 M. Soal siapa peletak batu pertama kuil suci bagi Siwa ini tak diketahui dengan jelas Nasib Candi Prambanan semakin tak jelas seiring perpindahan pusat pemerintahan ke Jawa Timur. Prambanan yang menjadi simbol masa keemasan Mataram Kuno ditinggalkan tanpa diketahui musababnya. “Adakah disebabkan kerusakan bangunan akibat bencana gempa, peperangan, ataukah kondisi politik-ekonomi-sosial yang pada akhirnya menyebabkan Prambanan tenggelam dalam sejarah selama belasan abad,” tulis Ni Luh Nyoman Rarianingsih dan Kayato Hardani dalam Membangun Kembali Prambanan. Enam abad berlalu sejak peresmian Kuil Siwa oleh Rakai Kayuwangi. Kisah tentang bangunan candi yang terbengkalai di pedalaman Jawa Tengah diperdengarkan oleh Mpu Tanakung, penyair istana dari Jawa Timur pada abad ke-15. Mpu Tanakung bercerita tentang sebuah kompleks percandian dari masa purbakala yang berdiri tegak di dekat sebuah sungai yang mengalir dari sebuah gunung. Gapura-gapuranya yang berbentuk makara telah tumbang dan hancur. Tembok-temboknya hampir runtuh. “Kepala-kepala raksasa itu seolah menangis. Raut mukanya tertutup tetumbuhan yang menjalar. Patung-patung penjaga di dekat gapura-gapuranya tumbang. Rata dengan tanah, seolah tak kuat lagi dan sedih,” catatnya. Bagi arkeolog Roy Jordan, penggambaran yang ditulis Mpu Tanakung dalam karyanya, Siwaratrikalpa , memiliki banyak kesamaan dengan Candi Prambanan. “Kalau melihat relief- relief, aduh, sungguh menyayat hati…,“ kata Mpu Tanakung. “…Candi utama menjulang tinggi, tetapi rumput liar merimbun di puncaknya.” Selain harus berserah diri pada kehendak alam, Prambanan mengalami nasib buruk setelah berabad-abad tak terpelihara. Arca-arcanya dicuri. Perigi-perigi dibongkar, dijarah isinya. Tak terbilang berapa blok batu yang dimanfaatkan untuk fondasi atau pagar bangunan baru. Kegiatan penanaman kembali beberapa bibit tanaman di areal Candi Bubrah yang terletak berdekatan dengan Candi Prambanan. Turut pula menghadirkan youtuber Andovi da Lopez . (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Mengembalikkan Keindahan Baru pada 1918 ada upaya mengembalikan keindahan candi yang melegenda sebagai buah karya Bandung Bondowoso. Restorasi awal dipimpin oleh orang Belanda bernama F.D.K Bosch. Lalu pada 1938, usaha yang lebih sistematis dilakukan di bawah pimpinan van Ramondt. Selama proses pembangunan kembali, sejumlah biro perjalanan wisata menawarkan Candi Prambanan sebagai tujuan kunjungan. Khususnya untuk wisatawan Eropa. Di antaranya biro wisata dari Batavia (Jakarta) dan Surabaya. Mereka menerbitkan brosur panduan wisata yang terbit sekira 1900 dan 1918. Candi Prambanan atau yang mereka sebut dengan Brambanan, Brambanam, atau kadang Brambanang masuk sebagai objek yang layak dikunjungi. “Brosur-brosur berilustrasi foto tersebut sudah memuat informasi singkat sejarah dan latar belakang agamanya yakni agama Hindu,” catat Ni Luh Nyoman Rarianingsih dan Kayato Hardani. Kunjungan wisata ke Prambanan didukung semakin berkembangnya kereta api. Jalur rel yang menghubungkan Yogyakarta-Surakarta dengan Semarang telah ada sejak 1870-an dikelola oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappi (NISM). Kini, akses menuju Prambanan semakin mudah. Setiap orang yang akan melintas dari Yogyakarta menuju Solo pasti akan melewati Candi Prambanan. Letaknya ada di perbatasan timur Yogyakarta. Akan tampak di sana Candi Siwa, yang terbesar berada di tengah sebagai pusat, diapit Candi Wisnu di sebelah utara dan Candi Brahma di sebelah selatan. Di depan ketiga candi itu ada tiga candi yang lebih kecil. Pada pintu gerbang utara dan selatan terdapat dua candi lagi. Candi Apit sebutannya. Kemudian ada candi-candi kecil yang letaknya di delapan penjuru mata angin. Beratus tahun setelah pembangunannya kembali, Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk menambah keindahan dan kenyamanan bagi pariwisata, usaha penghijauan kawasan candi pun dilakukan. Berbagai macam pohon dan bibit semak ditanam di Kompleks Candi Prambanan setahun lalu melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Paling tidak 25 varietas dari 250 pohon dan 5,000 semak berbunga ditanam serentak. Trembesi, flamboyan merah, kecrutan, tanjung, sawo manila, sawo kecik, melinjo, manga, flamboyan kuning, bodhi, nagasari, kepel, waru merah, kamboja putih, keben, maja, dan cassia javanica merupakan tanaman yang dipilih untuk menghijaukan kawasan Prambanan. Penanaman dilakukan dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. Harapannya kegiatan ini bisa mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan menghargai warisan para leluhur. Menariknya beberapa pohon itu rupanya pernah pula ditanam pada masa Candi Prambanan difungsikan. Tanjung tersua dalam Prasasti Siwagrha tentang pohon tanjung yang tumbuh di timur candi induk Siwagrha. Lalu pohon mangga teridentifikasi pada relief cerita Kresnayana yang terpahat pada dinding Candi Wisnu. Itu sebagaimana yang oleh arkeolog Hari Setyawan dalam “Prasasti dan Naskah Jawa Kuno sebagai Alat Interpretasi Penggambaran Jenis Tanaman pada Relief Cerita Candi Prambanan”, Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna ketahui dari bentuk daun, arah tumbuh cabangnya, dan bentuk buahnya. Pohon mangga dan pohon waru juga terpahat di relief cerita Ramayana pada dinding Candi Siwa dan Brahma. Kini, bangunan bagi Siwa itu telah kembali sempurna, indah berkilau. Semoga ia tak lagi dilupakan, terus diingat dan dirawat sebagai bukti pekerjaan mahabesar dalam peradaban masyarakat Jawa Kuno.*
- Mantan Agen CIA Gagal Jadi Duta Besar di Indonesia
EDWARD E. Masters telah menyelesaikan tugasnya sebagai duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia pada November 1981. Namun, penggantinya belum juga ditunjuk. Jabatan itu pun kosong selama setahun. Penyebabnya, tiga nama yang diusulkan memicu kontroversi, yaitu Michael Armacost, Morton Abramowitz, dan Kent Bruce Crane. Nama terakhir pernah bertugas di Indonesia.
- Mengenang Aksi Maradona di Jakarta
Dunia sepakbola berduka. Diego Armando Maradona, maestro sepakbola berjuluk "si tangan Tuhan" itu wafat. Dia meninggal setelah penyakit menggerogoti otak dan jantungnya. Operasi telah dilakukan, tapi tak mampu menyelamatkan mantan pemain sepakbola asal Argentina itu. Warga Argentina mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka. Pengawalan ketat ketika Diego Maradona sampai di Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Anak-anak menyambut kedatangan Maradona dengan memakai jersey Argentina pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Selama karier profesionalnya, Maradona menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya untuk berkeliling dunia. Dia menyinggahi banyak negara. Setelah pensiun pun demikian.Salah satunegara yang pernah dikunjunginya adalah Indonesia. Dia datang ke sini pada 2013 lalu untuk memberikan klinik kepelatihan singkat. Maradona saat menyambut tangan seorang fans di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona saat memberikan sambutan di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona saat membagikan bola di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pemain yang membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia 1986 tersebut memperoleh sambutan luar biasa di Jakarta. Dimulai dari bandara Sukarno-Hatta sampai ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tapi kunjungan Maradona sedikit tercoreng. Jadwalnya berantakan. Maradona urung berbagi tips dan trik bermain sepakbola kepada anak-anak Indonesia. Padahal banyak anak telah menunggu. Dia hanya membagikan bola yang sudah ditandatanganinnya. Aksi Maradona di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona saat memberikan tanda tangan di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Aksi anak-anak saat menyambut Maradona di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengawalan ketat kepada Maradona di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona melabaikan tangan saat gala dinner di Jakarta pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona di Jakarta pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Walau begitu, publik seolah memaklumi perilaku demikian. Mereka tahu Maradona legenda dunia. Dia bisa saja berperilaku seenaknya. Sekalipun begitu, orang-orang tetap memujanya. Ini tampak ketika Maradona wafat. Penghormatan terakhir dari masyarakat dunia terus mengalir kepada mantan pemain Napoli itu. Maradona telah kembali kepada Tuhannya dan mengembalikan tangan Tuhan yang pernah dipinjamnya untuk menjebol gawang Inggris pada 1986. Ciao Diego ! Legenda sepakbola asal Argentina Diego Maradona wafat pada usia 60 tahun. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Sukarno dan Buku CIA
DAVID Wise dan Thomas B. Ross menerbitkan The U-2 Affair pada 1962. Buku ini tentang Francis Gary Powers, pilot Amerika Serikat, yang ditembak jatuh dan ditangkap oleh Uni Soviet tahun 1960, ketika menerbangkan pesawat rahasia Lockheed U-2, pesawat mata-mata CIA. Insiden tersebut menyebabkan semakin memanaskan Perang Dingin dan meningkatkan ketidakpercayaan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
- Ketika Brigadir Mallaby Bertemu dengan "Menteri Pertahanan RI"
Dua hari setelah pembacaan Proklamasi, Presiden Sukarno mengumumkan kabinetnya yang pertama. Semua tokoh pejuang yang diangkat oleh presiden Republik Indonesia (RI) sebagai anggota kabinet, mengonfirmasi kesediaan mereka kecuali Supriyadi, menteri keamanan rakyat. Hingga batas waktu yang ditetapkan, tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar itu sama sekali tak memberikan kabar. Dirinya hilang bak ditelan bumi. “Banyak yang bilang saat itu Supriyadi sudah dibunuh tentara Jepang. Ya itu bisa saja,” ungkap sejarawan Rushdy Hoesein. Kekosongan itu sejatinya sempat diisi oleh seorang pejabat sementara bernama Soeljadikoesoemo. Namun karena situasi komunikasi saat itu yang serba sulit, berita pengangkatan tersebut tak banyak orang yang tahu. Termasuk oleh para pejuang Indonesia yang tengah siap-siap menghadapi pendaratan tentara Inggris di Surabaya. Kamis pagi, 25 Oktober 1945, Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Soerjo menerima laporan dari para pembantu bidang ekonomi di Kegubernuran bahwa tentara Inggris mulai mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak. Dengan perlindungan beberapa kapal perang, mereka menurunkan sekitar 6.000 prajurit Brigade 49 Infanteri India di bawah pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby. Melalui dua perwira utusannya, Mallaby menyampaikan undangan lisan kepada Gubernur Soerjo untuk melakukan pertemuan di atas kapal Inggris. Namun, Gubernur Soerjo tidak dapat memenuhi undangan itu karena sedang sibuk dengan tugas yang lain. Mendapat jawaban demikian, utusan Inggris langsung meninggalkan ruang kerja gubernur tanpa permisi dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sikap tidak sopan kedua perwira Inggris itu direspons secara dingin oleh Gubernur Soerjo. Kepada pembantunya yang ikut menyaksikan kepongahan dua utusan itu, Soerjo menyatakan bahwa pemerintah Jawa Timur tidak harus selalu menuruti kemauan pihak Inggris. “Jangan khawatir, kita sudah menang karena mereka sudah berperilaku buruk dan kasar,” kata Gubernur Soerjo seperti dikutip Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya. Usai melakukan penolakan, Gubernur Soerjo lantas mengadakan rapat kilat. Diputuskan, dia akan memberi mandat kepada Mayor Jenderal drg. Moestopo selaku pimpinan BKR Jawa Timur untuk berunding dengan pihak Inggris sekaligus memberikan hak kepadanya mengatasnamakan pemerintah Jawa Timur. “Rapat tersebut juga menyatakan tak keberatan bila Moestopo menggunakan nama 'Menteri Pertahanan add interim' sesuai dengan surat tertulis yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Mr. Gatot (Tarunamihardja) tertanggal 13 Oktober 1945,” ungkap Moehkardi dalam Sebuah Biografi: R. Mohammad dalam Revolusi 1945 Surabaya. Berbekal surat mandat itu, Moestopo yang didampingi oleh Mohammad Jasin, komandan Polisi Istimewa, dan Soetomo alias Bung Tomo, pemimpin BPRI, kemudian mendatangi Mallaby di markasnya. Dengan sikap penuh percaya diri, ketiga utusan kaum republik itu menyarankan Mallaby untuk tidak seenaknya mendaratkan pasukannya mengingat Surabaya merupakan wilayah hukum RI. “Lantas kepada siapa kami harus mendapatkan izin untuk mendaratkan pasukan kami?” tanya Mallaby. “Kepada Menteri Pertahanan Republik Indonesia!” jawab Moestopo. “Di mana kami bisa menemuinya?” “Menteri yang anda tanyakan itu sekarang duduk di depan anda,” ujar Moestopo. Mallaby terlihat kaget sejenak. Namun dia cepat menguasai diri dan langsung mengubah sebutan “Mr” kepada Moestopo menjadi “Your Excellency”. Kendati demikian, perundingan tetap berjalan alot. Alih-alih menuruti saran dan keinginan para pejuang Surabaya, Mallaby bersikeras untuk mendaratkan pasukannya tanpa syarat sama sekali.
- Diego Maradona dalam Kenangan
SEJAK menyapa dunia enam dekade silam, hidup Diego Maradona senantiasa berkalang perjuangan. Di hari-hari terakhirnya, bintang legendaris Argentina yang dipuja jutaan penggila sepakbola sejagat itu mesti berjuang melawan penyakitnya, termasuk menjalani operasi otak pada 12 November 2020. Maka ketika maestro sepak bola eksentrik nan sarat kontroversi itu mengembuskan nafas terakhir di kediamannya di Buenos Aires, Argentina, pada Rabu (25/11/2020) waktu setempat akibat serangan jantung, banyak pihak berduka. Presiden Argentina Alberto Fernández mengumumkan tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan. Megabintang Lionel Messi yang acap disebut-sebut sebagai reinkarnasi Maradona, jadi satu di antara jutaan pelaku sepakbola yang terpukul. “Hari yang menyedihkan bagi semua orang Argentina dan bagi sepakbola. Dia meninggalkan kita namun takkan pernah dilupakan karena Diego adalah keabadian. Saya selalu teringat momen-momen indah bersamanya,” ungkap Messi di akun Instagram -nya @leomessi, Kamis (26/11/2020). Sebagaimana Pelé di Brasil, Maradona dikultuskan orang Argentina dan bahkan dunia sebagai dewa sepakbola. Di hampir semua klub yang pernah dibelanya, Maradona tak pernah absen berjasa memberi beraneka gelar. Boca Juniors diberinya titel Primera Division pada 1981, Barcelona dihadiahinya Copa del Rey dan Supercopa de España 1983, dan Napoli dibawanya dua kali juara Serie A (1986-1987 dan 1989-1990). Persembahan tertingginya diberikan pada negerinya, Argentina, yakni trofi Piala Dunia 1986. Koleksi gelar individunya berlimpah. Sebagai pemain, Maradona adalah sosok yang punya skill lengkap dan di atas rata-rata kendati posturnya hanya 165 cm. Visi bermainnya, kepemimpinan, kontrol bola, dribbling yang selalu jadi keunggulannya, gocekan, hingga tendangan bola matinya semua nyaris setara. Lionel Andrés Messi Cuccittini (kiri) salah satu megabintang Argentina yang berduka. ( fifa.com ). Bola Pelipur Lara Kebintangan Maradona bukan diraih dalam sekedipan mata. Ia dirintis melalui jalan terjal nan panjang. Seperti kebanyakan bintang sepakbola asal Amerika Selatan, Diego Armando Maradona datang dari keluarga melarat. Lahir pada 30 Oktober 1960 di perkampungan kumuh Villa Fiorito di selatan ibukota Buenos Aires, kehadiran Maradona jadi harapan baru buat keluarganya, terutama sang ayah, Diego ‘Chitoro’ Maradona. Maradona kecil adalah anak kelima tetapi jadi anak lelaki pertama kebanggaan ayahnya. Perkenalan Maradona pada sepakbola terjadi saat dia dihadiahi bola di ulangtahun ketiganya. Kado itu senantiasa jadi obat penghibur di tengah himpitan ekonomi keluarganya. Bola tersebut jadi wahana bermain dia dengan sepupunya Beto dan temannya, El Negro, di sebuah lahan terbengkalai dekat rumahnya setiap siang selepas pulang sekolah –di Remedios de Escalada de San Martín– hingga malam menjelang. “Jam tujuh malam kami baru beristirahat dan minta minum ke rumah warga terdekat lalu lanjut main lagi. Jika orangtua kami mencari, mereka pasti tahu harus ke mana. Setiap hari, termasuk Sabtu dan Minggu. Kalau ibu sudah marah dan mengambil bolanya, saya akan mengambil apapun untuk dijadikan bola. Kadang buah jeruk, kadang juga kertas bekas atau pakaian yang dibentuk jadi bola,” kenang Maradona dalam otobiografinya, Yo Soy el Diego ( I Am the Diego ). Itu jadi hal paling menyenangkan di masa kecilnya karena jika menggambarkan perkampungan kumuh Fiorito dengan satu kata, lanjut Maradona, tak lain adalah “perjuangan hidup.” Keluarga Maradona hanya bisa makan ketika punya uang. Jika tidak, mereka harus tidur dengan perut kosong. “Kami sangat kedinginan di musim dingin dan kebalikannya di musim panas. Rumah kami punya tiga kamar: dua ruang tidur dan satu ruang makan yang menjadi pusat semua kegiatan, mulai dari mengerjakan PR, memasak dan makan. Saat hujan kami harus selalu menghindari kebocoran: Anda akan merasa lebih basah ketimbang di luar rumah,” tambahnya. Maradona tatkala menseriusi karier di sepakbola sejak usia delapan tahun. (Twitter @Cornejas). Kekurangan membuat keluarga mereka, termasuk Maradona, mesti bekerja keras. Antara lain dalam hal menyediakan air. “Kami bahkan tak punya keran air. Tapi karena itulah saya mulai latihan fisik angkat beban. Kami biasa memikul dua kaleng oli bekas untuk jadi tampungan air yang kami ambil di satu-satunya pancuran air di jalanan agar kami bisa minum, mandi, dan memasak,” sambung Maradona. Di usia delapan tahun, Maradona kian menekuni sepakbola dengan bergabung pada tim amatir junior Estrella Roja. Kebetulan tim itu dilatih ayahnya. Penampilan Maradona di tim tersebut acap mengundang decak kagum, termasuk dari tim-tim lawan. Ia bahkan sampai bisa bersahabat dengan Gregorio ‘Goyo’ Carrizo, kapten tim musuh bebuyutan Estrella Roja, Tres Banderas. “Diegito (panggilan kecil Maradona) luar biasa. Tapi Chitoro, saya tak percaya dia belum bermain untuk tim yang lebih baik dari Estrella Roja,” ujar ayah Goyo mengungkapkan kekagumannya kepada ayah Maradona, Chitoro, dikutip Matt dan Tom Oldfield dalam Classic Football Heroes: Maradona. Dari Argentinos Juniors (kiri), Maradona melebarkan sayapnya ke Boca Juniors. (Twitter @rivermuseo). Goyo dan Chitoro itulah yang kemudian membujuk dan meyakinkan Francisco Cornejo, pencari bakat klub Argentinos Juniors, untuk melihat sendiri talenta Maradona. Cornejo yang mulanya memandang remeh Maradona, akhirnya kagum bukan kepalang ketika Maradona menjalani trial dan latih tanding dengan anak-anak yang lebih tua. “Saat Diego datang ke Argentinos Juniors untuk uji coba, saya terkesima dengan talentanya dan tak percaya dia baru berusia delapan tahun. Sejak saat itu kami memutuskan mendedikasikan diri membangun masa depannya,” kata Cornejo. Itu jadi titik balik Maradona. Ia mulai merintis kariernya di tim muda Argentinos Juniors untuk kategori U-9. Pada 1976, Maradona sudah tampil di tim senior klub berjuluk El Bicho itu. Setahun kemudian, namanya sudah dipanggil ke timnas U-20 dan timnas senior Argentina. Dua Pembalasan Dendam Namun, keinginan Maradona untuk melakoni debutnya di Piala Dunia 1978 di negeri sendiri terhalang keputusan pelatih Timnas Argentina César Luis Menotti. Bertolak dari tiga faktor: masalah hamstring Maradona dalam sesi latihan, indisipliner, dan kesiapan mental yang belum matang di usia 17 tahun, Menotti akhirnya mencoret nama Maradona dari skuad Piala Dunia. Meski tak pernah banyak bicara soal pencoretan itu, Maradona mengaku terpukul oleh pencoretan itu. Dia tak bisa memaafkan “ El Flaco ” Menotti. “Saya pikir, saya siap bermain di Piala Dunia 1978. Saat saya tahu tidak terpilih, saya menangis hebat. Saya tak pernah dan tak akan mau memaafkan Menotti gara-gara itu. Tetapi saya tak pernah membencinya. Tidak memaafkan bukan berarti membenci. Namun terlepas hal itu saya juga takkan pernah melupakan bimbingan-bimbingannya yang bijak kepada saya selama ini,” sambung Maradona. Maradona (kanan) menyarangkan dua gol ke gawang Indonesia di penyisihan grup Piala Dunia Junior 1979. ( fifa.com ). Kekecewaan itu melecut Maradona untuk membuktikan bahwa dirinya tak pantas dibuang hanya karena usia. “Dendamnya” itu bisa dia balaskan di Piala Dunia Junior 1979 di Jepang. Di turnamen itu pula Maradona dan Menotti memulai rekonsiliasinya. “Menotti telah meninggalkan saya di Piala Dunia 1978 dan setahun kemudian saya mulai memperlihatkan kepadanya betapa ia melakukan sebuah kesalahan yang besar,” cetus Maradona lagi. Rekonsiliasi itu ikut mendongkrak kepercayaan diri Maradona. Sedari babak penyisihan, Maradona memimpin tim junior Argentina hingga partai puncak. Total enam gol ia lesakkan. Dua gol pertamanya disarangkan ke gawang Timnas Indonesia di babak Grup B dan gol terakhirnya dibuatnya guna menyegel kemenangan 3-1 atas Uni Soviet di final. Kesumat kedua yang dengan puas dibalaskan Maradona adalah kala berhasil mencetak dua gol fenomenal ke gawang Inggris di perempatfinal Piala Dunia 1986. Gol pertama adalah gol “Tangan Tuhan”. Gol kedua tercatat sebagai gol terbaik abad ke-20, di mana Maradona men- dribble bola sendirian dari tengah lapangan mengecoh enam pemain lawan, termasuk kiper Peter Shilton, sebelum menyontek bola masuk. Gol kontroversial "tangan Tuhan" di Piala Dunia 1986. ( fifa.com ). Namun, gol “Tangan Tuhan” senantiasa jadi kontroversi dan polemik hingga bertahun-tahun kemudian. Meski diakuinya gol dari umpan lambung itu dibelokkan ke gawang Shilton dengan tangannya, Maradona takkan pernah menyesalinya. Baginya, gol culas itu jadi pembalasan Maradona terhadap Perang Malvinas (Perang Falkland dalam versi Inggris) empat tahun sebelumnya. Perang rebutan wilayah antara Argentina dan Inggris itu berakhir getir buat Argentina karena kalah dan kehilangan nyaris seribu serdadunya. “Saya tak pernah bicara tentang permintaan maaf. Seandainya sejarah bisa diubah, akan saya lakukan tapi saya takkan minta maaf karena itulah pertandingan bola yang disaksikan 100 ribu orang di Stadion Azteca di mana ada 22 pemain, dua hakim garis, dan satu wasit. Shilton pun baru tahu (gol ‘Tangan Tuhan’, red) setelah diberitahu para beknya,” tutur Maradona kepada suratkabar Clarín , 2 Februari 2008. “Jadi sejarah sudah tertulis dan tak bisa diubah. Saya tak perlu minta maaf pada Inggris. Buat apa dan untuk menyenangkan siapa? Saya memang tahu golnya tercipta dari tangan saya. Saya tak merencanakannya tetapi terjadi begitu saja. Saat wasit menyatakan gol, itu jadi perasaan yang membahagiakan, seperti sebuah dendam simbolis terhadap Inggris,” tambahnya. Kolase kiprah Maradona di Barcelona, Napoli, Sevilla & Newell's Old Boys (Twitter @sscnapoli , fifa.com , fcbarcelona.com ). Tetapi kemudian Maradona mulai menapaki jurang seiring kariernya di Barcelona dan kemudian Napoli. Di Barcelona ia mulai jadi pecandu kokain. Kecanduannya kian parah ketika di Napoli karena dekatnya hubungan Maradona dengan mafia Camorra. Puncaknya, Maradona dinyatakan positif doping saat baru membawa Argentina memulai Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Setelah gantung sepatu pada 1997, karier Maradona dilanjutkan sebagai pelatih namun tak semoncer kiprahnya sebagai pemain. Ketika menukangi Timnas Argentina pada 2008-2010, Maradona malah sempat jadi sasaran cemoohan media Argentina dan fans tim Tango. Kendati begitu, nama harum Maradona tak meluntur. Banyak bintang sepakbola kini, termasuk Cristiano Ronaldo, yang menjadikannya sebagai bintang pujaan terbaik. Bukti masih harumnya nama Maradona ditunjukkan oleh banyaknya pelayat yang memberikan penghormatan terakhir kepadanya baik saat upacara pemakaman kenegaraan di Casa Rosada (kediaman resmi Presiden Argentina) maupun saat penguburan di Pemakaman Bella Vista. Maradona adalah olahragawan kedua yang diberi upacara pemakaman kenegaraan setelah legenda balap Juan Manuel Fangio pada 17 Juli 1995. “Maradona adalah orang paling bertanggung jawab atas inspirasinya bagi banyak bintang sepakbola, termasuk diriku,” kata Ronaldo, bintang Brasil yang juga pernah membintangi Barcelona, dalam ucapan selamatnya kepada Maradona kala memasuki usia 60 tahun.
- Henri van Kol, Meneer Belanda Penentang Kolonialisme Belanda di Nusantara
Tak lama setelah lulus dari Politeknik di Delft dan diterima sebagai pegawai di Dinas Pekerjaan Umum, Henri Hubert van Kol mendapat tugas ke Hindia Belanda untuk menangani proyek irigasi. Dia berangkat pada 1876 menumpang sebuah kapal. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah sekaligus untuk melihat sendiri kondisi kehidupan rakyat di tanah jajahan. Penglihatan itu penting buat wawasannya dan “amunisi” bagi gerakan politiknya. Henri merupakan sosialis pertama yang menginjakkan kaki ke Hindia Belanda. Lahir di Eindhoven pada 23 Mei 1852 dari pasangan Christianus Adrianus Hubertus van Kol dan Maria Anna Schutjes, Henri merupakan sulung dari lima bersaudara. Kekayaan ayahnya sebagai pengusaha penyamakan kulit, hotel, dan perdagangan memungkinkannya punya kesempatan mendapat pendidikan layak. Selepas sekolah dasar, dia melanjutkan ke sekolah menengah pertama di Turnhout, Belgia. Dia kembali ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya di Hogere Burger School di Roermond. Namun, masa berpindah-pindah untuk sekolah membuatnya melihat sendiri realitas kehidupan yang berbeda dari kehidupannya di keluarganya yang kaya. Kaya-miskin, kuat-lemah, dan beragam realitas kehidupan lain yang ditemukannya semasa sekolah itu amat mempengaruhi perkembangan jiwanya. Dan dalam banyak kesempatan, Henri cenderung membela yang lemah dan kecil. Tanpa takut, dia mewujudkan sikap itu ke dalam tindakan sehingga kerap menanggung konsekuensi. “Sejak kecil saya tertarik pada yang kecil dan lemah. Sebagai pemuda, saya melindungi banyak orang dari pemukulan oleh si kuat, dan sebagai pelajar, perjuangan melawan polisi yang menyiksa orang lain menempatkan saya di penjara,” ujarnya dalam sebuah pidato tahun 1893, dikutip Johanna M. Welcker dalam profil Henri-nya yang dimuat socialhistory.org . Di masa sekolah pula Henri berkenalan dengan sosialisme dari seorang kawannya. Dia membaca Der Volksstaat yang dieditori Wilhelm Liebknecht, buku Das Kapital Marx, dan bacaan-bacaan sosialis lain serta bermacam media cetak, terutama De Werkman yang kerap jadi media buatnya menumpahkan pendapat. Bersama dengan hasratnya yang selalu ingin menolong si lemah, bacaan-bacaan itu membentuk dirinya dalam merespon kehidupan. Maka itu kendati masih kuliah di Delft, pada 1871 dia bertolak ke Paris untuk membantu Komunard (komunis Paris) menguasai ibukota Prancis tersebut. Meski Komunard sempat dua bulan menguasai Paris, Henri pulang ke negerinya ketika melihat Komunard sudah mulai kalah. Di Belanda, Henri kian aktif berpolitik setelah menjadi anggota International Workingmen’s Association (IWA, sering disebut First Internasional) seksi Den Haag. Ketika Den Haag terpilih menjadi tuan rumah Kongres IWA kelima, September 1872, Henri ditugaskan menjadi penerjemah sekaligus guide Karl Marx dan keluarganya. Posisi itu membuatnya sehotel dengan Marx. Henri diperkenalkan Marx kepada Karl Liebknecht, Friedrich Engels, dan sejumlah sosialis terkemuka lain. Di kampus, Henri lalu bergabung dengan kelompok pemikir bebas De Dageraad. Dia juga bergabung dengan Association Free Study (AFS). Pada 1875, AFS mengundang Multatuli yang novelnya, Max Havelaar , meledak di pasaran. Di tahun itu pula Henri mendapatkan insinyur hidrologinya. Setahun setelah kunjungan Multatuli itu, giliran Henri berangkat ke Hindia Belanda, tempat Multatuli menjadi asisten residen Lebak. Dia ditempatkan di Situbondo, Jawa Timur untuk menangani irigasi Pekalen Sampean. Di luar waktunya untuk urusan pekerjaan, Henri meluangkan waktu untuk memperdalam sosialisme lewat tulisan-tulisan yang dikirim oleh Profesor Pekelharing. Tak lama kemudian, dia melibatkan diri dalam permasalahan soal pembagian wewenang di pemerintah Hindia dengan menulis di De Locomotief menggunakan nama samaran Rienzi. Sejak itu, dia aktif menulis dan mengkritik kebijakan pemerintah, terutama tentang kebijakan kolonialnya, serta berdebat publik. Perdebatannya antara lain dengan Mina Kruseman di Soerabaiasch Handelsblad dari April 1879 hingga Januari 1880. “Van Kol secara konsisten memperjuangkan kesejahteraan masyarakat pribumi dalam upaya mengendalikan ekses modal terburuk di koloni,” tulis Suzanne Moon dalam T echnology and Ethical Idealism: A History of Development in the Netherlands Indies . Pada 1881, buku pertama Henri, Christianity and Socialism , diterbitkan sebagai solusinya atas perdebatan Isaac Esser, misionaris anti-sosialis di Besuki, dengan masyarakat di Jember. Menurut Henri, kombinasi sosialisme dan Katolik menjadi kunci dalam penyelesaian problematika dunia. Tak lama setelah menikahi Jacoba Maria Petronella Nellia Porreij pada Juli 1883, Henri kembali ke Eropa karena masalah kesehatan dan menetap di Liege, Belgia. Dia tetap bergerak, termasuk berupaya menyatukan kubu sosialis berbahasa Prancis dengan kubu sosialis berbahasa Belanda. Henri kerap berkeliling untuk menyambangi sosialis di berbagai negara. Setelah kembali ke Hindia Belanda, Henri bergonta-ganti penempatan tugas, dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Di masa inilah dia aktif menulis artikel dan buku di samping berinvestasi dengan membuka perkebunan kopi Kayumas yang disokong sahabatnya Domela Nieuwenhuis. Selain menyumbangkan sebagian hasil keuntungan perkebunan itu untuk gerakan buruh di Belanda, mereka juga mendirikan sekolah dan bereksperimen dengan memperkenalkan Minggu sebagai hari istirahat bagi para buruh perkebunan. “Ini dianggap sebagai kemajuan sosial di mata orang Belanda,” tulis Margreet Schrevel dan Emile Schwidder dalam “A Socialist in the Dutch East Indies”, dimuat di laman iisg.nl . Alasan kesehatan membuat Henri kembali pulang ke Eropa, yang dijadikannya kesempatan untuk berkeliling ke berbagai tempat dan negara untuk melihat lebih dalam gerakan sosialis beserta beragam perbedaan di dalamnya. Sejak 1896 hingga 1912, dia jadi pengunjung setia Kongres Sosialis Internasional yang diadakan saban empat tahun sekali. Dia ikut mendirikan Partai Buruh Sosial-Demokratik Belanda (Sociaal-Democratische Arbeiders Partij/SDAP) pada Agustus 1894. Setelah jadi anggota parlemen, kritiknya terhadap politik kolonial pemerintah semakin nyaring. Di Tweede Kamer, dia antara lain mengkritik Perang Aceh yang menurutnya memalukan. Pada 1903, dia mengusulkan pemberian otonomi pada daerah-daerah di luar Jawa dan Sumatra namun tak bersambut. “Henri Hubert van Kol, seorang anggota sosialis terkemuka di parlemen Belanda, berpendapat di Tweede Kamer (Majelis Rendah) bahwa pemerintah kolonial pertama-tama harus memperhatikan masyarakat adat, dan yang kedua barulah keuntungan kolonial,” tulis Suzanne. Kritik tajamnya berjalan seiring dengan kerajinannya menulis. Banyak bukunya dihasilkannya saat itu, antara lain Land and People of Java dan Land Ownership in Java . Pada 1902, dia kembali ke Hindia Belanda, yang dianggapnya sebagai rumah kedua, khusus untuk meneliti langsung kondisi rakyat di tanah jajahan. Dalam perjalanan ini dia bertemu RA Kartini, yang mendukung usulan kebijakan Henri agar diadakan pembiayaan untuk pelatihan guru di Belanda. Henri berkeliling ke berbagai tempat, sampai Maluku yang terjauh, dan menemui serta memfoto bermacam orang dan berbagai tempat seperti pasar, desa, dan pemandangan. Foto tersebut dia maksudkan untuk dipertunjukkan kepada rekan anggota parlemen agar mengetahui kondisi faktual rakyat di tanah jajahan. Hasil dari penelitiannya terbit setahun kemudian menjadi buku dengan judul Uit Onze Kolonien ( From Our Colonies ). Meski dalam buku ini dia “terpeleset” karena pendeskripsian yang cenderung stereotip tentang masyarakat-masyarakat yang ditemuinya, secara garis besar Henri memaparkan fakta-fakta tanah jajahan untuk menyerang politik kolonalisme negerinya. Selain ke Hindia Belanda, Henri juga berkeliling ke berbagai negeri. Hasil dari pengelanaannya adalah buku berjudul To the Antilles and Venezuela dan In the Coastal Countries of North Africa. The Maghreb . Begitu pula ketika dia ditugaskan ke Jepang pada 1915 untuk mempelajari industrialisasi di sana, dia menghasilkan dua jilid The Development of Large Industry in Japan , Japan: Impressions of Land and People , dan Old and New Japan: Handles from Life . Henri kemudian mendalami teosofi dan aktif dalam gerakan perdamaian, antara lain dia tuangkan lewat buku The Jews and the Peace dan The Colonial Mandates and the League of Nations . Dia menolak usulan revolusi yang –gagal pada 1918– diutarakan rekannya, Pieter Jelles Troelstra. Tak lama setelah mengundurkan diri dari Senat, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan pada 1925.
- Paul Breitner si Pemain Kiri
PASCA-wafatnya Ricky Yacobi pada Sabtu, 21 November 2020, hampir semua media serempak menyematkan julukan “Paul Breitner dari Indonesia” kepadanya dalam obituari-obituari mereka. Namun, julukan yang populer di publik sepakbola Indonesia itu tak berlaku bagi eks-pemain dan pelatih Persiba Balikpapan berdarah Jerman, Timo Scheunemann. “Dia (Breitner) gelandang, beda dengan Bang Ricky. Tidak mirip sama sekali. Mungkin karena (gaya) rambut panjang,” ujar Timo singkat kepada Historia . Menurut Irfan Sudrajat, pemerhati sepakbola dari TopSkor , publik mendekatkan Ricky Yacobi dengan Paul Breitner tak lain karena sama-sama punya spesialisasi tendangan jarak jauh. Utamanya lewat gol ikonik Ricky lewat tendangan voli ke gawang Uni Emirat Arab di perempatfinal Asian Games 1986. Breitner juga acap menorehkan gol dari jarak jauh semasa membela Bayern Munich, Real Madrid, serta Timnas Jerman Barat sepanjang kariernya pada 1970-1983. “Hal lainnya, jika melihat rekam pengakuan para mantan bintang Indonesia, dari sosoknya, baik itu postur, gayanya dengan rambut sedikit panjang, serta karakternya yang tegas dan keras seperti yang diungkapkan sejumlah legenda hidup, ada kesamaan. Tampaknya ketika itu mereka langsung teringat dengan Brietner ketika melihat Ricky Yacobi,” ungkap Irfan via pesan singkat. Irfan melihat fenomena penjulukan pemain dengan pemain lain tak lebih dari puncak kekaguman yang bersumber dari peran si pemain dalam sepakbola Indonesia. Ricky Yacobi hanya satu di antaranya. “Kita seringkali memberikan kesan terhadap seorang yang membuat kita kagum dari sudut pandang berbeda. Bagi generasi muda, untuk mengungkap julukan ‘Breitner-nya Indonesia’ saja, kita harus kembali ke era kariernya, suasananya, kesaksian para legenda hidup. Mungkin kita tidak akan benar-benar bisa mendapatkan poin yang tegas antara Ricky dan Brietner. Tapi kita semua senang dengan julukan itu dan bangga bahwa kita pernah memiliki Ricky Yacobi,” tandasnya. Mendiang Ricky Yacobi (kanan) yang acap disama-samakan dengan Paul Breitner. ( fifa.com /Instagram @rijacobi). Breitner di Persimpangan Kiri Jalan Sebagaimana karakter banyak pesepakbola Jerman, sikap tegas dan keras jadi ciri Breitner yang lahir di Kolbemoor, Bavaria, Jerman Barat (Jerbar) pada 5 September 1951. Karakter itu sudah ditunjukkannya sejak meniti karier di klub junior SV-DJK Kolbermoor dan ESV Freilassing pada 1957. Ditambah kecakapannya mengolah si kulit bundar, sikap itu membuatnya direkrut Bayern Munich pada 1970. Prestasi Breitner sepanjang berseragam Bayern (1970-1974 dan 1978-1983) bukan “kaleng-kaleng”. Ia turut mempersembahkan lima gelar Bundesliga, dan satu European Cup (kini Liga Champions). Prestasi itu dia pertahankan ketika di Real Madrid (1974-1977). Dua titel La Liga dan satu trofi European Championship (Euro) 1972 turut dia persembahkan. Di timnas (1968-1982), Breitner ikut serta membawa Jerbar menjuarai Piala Dunia 1974. Buat Breitner pribadi, FIFA mengakuinya sebagai satu dari tiga pemain yang mampu mencetak gol di dua final berbeda selain Vavá dan Pelé ( di kemudian hari ditambah Zinedine Zidane). Sejak remaja Che Guevara dan Mao Zedong jadi tokoh kiri yang diidolakan Paul Breitner. ( libertaddigital.com ). Namun di balik beragam gelar itu, kisah bek dan sayap kiri legendaris itu sarat kontroversi. Semua bersumber dari pemikirannya di luar sepakbola. Tumbuh di era 1960-an, Breitner mengaku tidak bisa bersikap apatis terhadap situasi politik di negerinya. Era di mana Breitner tumbuh diwarnai dengan tingginya tensi Perang Dingin, masifnya aksi 68er-Bewegung atau gerakan pelajar beraliran kiri pada 1968, munculnya teror Rote Armee Fraktion (RAF) sebagai dampak dari penentangannya terhadap otoritarianisme pemerintah federal Jerman Barat, dan reinkarnasi golongan sayap kanan seiring berdirinya Nationaldemokratische Partei Deutschlands (NDP). Realitas itu membuat Breitner bersimpati pada gerakan perlawanan. Dia bahkan mengidolakan dua tokoh revolusioner kiri, Mao Zedong dan Ernesto ‘Che’ Guevara. “Saat berusia 16 tahun, kematian Che Guevara memberikan dampak besar terhadap saya. Kejadian itu menjadi fase yang sangat penting bagi perkembangan (pemikiran) saya,” ujar Breitner saat diwawancara The New York Times awal 1970-an, dikutip ESPN , 2 Oktober 2012. Akibatnya, Breitner acap membawa simbol sikap politik kirinya ke lapangan. Menurut Michael Herron dalam Holding the Line: 25 Great Defenders and How They Changed Football , selainselalu memajang gambar Che Guevara di kamarnya, Breitner acap membawa buku saku merah Ketua Mao saat latihan. Dia tak peduli teguran dari ofisial klub maupun timnas. “Walau Breitner tak secara langsung terlibat aktivitas politik atau dengan partai politik apapun, dia selalu lantang melontarkan opini terkait isu-isu sosial. Hal ini menimbulkan kemarahan sejumlah fans Jerman, utamanya mereka yang menjadi klub rival Bayern,” tulis Herron. Di Timnas Jerman Barat, Paul Breitner turut berjasa meraih gelar Euro 1972 dan Piala Dunia 1974. ( uefa.com ). Hal itu antara lain ditunjukkannya ketika diwawancara Die Zeit, 7 Juli 1972 . Kepada reporter dia tak segan memberi jawaban provokatif. “Siapa yang paling Anda kagumi?” tanya reporter. “Mao (Zedong),” jawab Breitner. “Buku apa yang Anda baca?” “(Karl) Marx.” “Apa keinginan terbesar Anda?” “Kekalahan Amerika di (perang) Vietnam.” Breitner tak pernah menyesali sikap itu hingga masa senjanya. “Saya tertarik dengan gagasan-gagasan Mao dan Che Guevara tetapi saya bukan seorang Maois atau komunis. Sebagai anak muda saya harus punya minat untuk belajar, untuk berbuat kesalahan dan untuk melakukan hal yang lebih baik,” aku Breitner kepada The Sun , 7 Mei 2018. Jiwa Bebas Rambut gondrong dan brewok lebat bak tokoh revolusioner kiri idolanya, Che Guevara, menjadi cermin dari jiwa bebas Breitner. Jiwa bebas itu juga terbawa ke dalam sepakbola. Breitner kerap bentrok dengan para petinggi Bayern karena tak setuju dengan kebijakan mereka yang ingin para pemain bersikap penuh wibawa. Ulrich Hesse dalam Tor! The Story of German Football mengisahkan, ketika klub tengah menggelar pesta perayaan gelar juara Bundesliga musim 1972-1973, Breitner bereuforia seenak perutnya. Ia menari sambil bugil dekat kolam renang seiring dentuman musik di pesta itu. Kelakuannya itu terekam kamera fotografer dan tersebar luas. Presiden klub Wilhelm Neudecker yang dibuat malu langsung mendampratnya, mendenda besar, hingga melontarkan niatnya ingin menjualnya ke klub lain. Breitner jelas tak suka atas respon pimpinan. Dia memprotes, sebagaimana dikutip Hesse, “Di klub sialan ini, mereka bahkan tak bisa merayakan dengan bersenang-senang.” Sejak 1970 Paul Breitner membela Bayern Munich yang mendatangkan lima gelar Bundesliga. ( fcbayern.com ). Hasrat menjadi manusia bebas pula yang membuat Breitner pernah berusaha mangkir dari wajib militer Bundeswehr. Tindakan itu diambilnya sebagai protes karena sebelumnya Breitner mendapat jaminan dari manajer Bayern, Robert Schwan, bahwa dia takkan dipanggil wajib militer. “Schwan memastikan bahwa saya tak harus wajib militer ke Bundeswehr. Namun kemudian tiba-tiba saya diwajibkan dan saya menentangnya,” kenang Breitner kepada Bild , 3 September 2011. Penolakan wamil itu membuat Breitner berurusan dengan aparat. Urusan itu lebih dari sekadar pemanggilan ke kantor berwajib. “Saya tinggal satu apartemen dengan (rekan setim) Uli Hoeneß, dan ketika polisi militer datang jam dua pagi, Uli yang menahan mereka di pintu dan saya kabur ke gudang batubara bawah tanah untuk bersembunyi. Selama beberapa malam mereka selalu datang. Akhirnya mereka memasang poster ‘buronan’ bergambar saya dan saya bisa ditangkap di ketika di jalan. Jadi akhirnya saya memilih masuk barak,” tambahnya. Pada 1964 Breitner hengkang ke Real Madrid untuk kemudian turut menyabet dua gelar La Liga. ( realmadrid.com ). Breitner terpaksa ikut latihan dasar kemiliteran selama beberapa pekan. Itu mengakibatkannya harus absen di beberapa pertandingan Bundesliga. Tetapi kemudian manajemen Bayern bisa bernegosiasi untuk menariknya dari barak lantaran jelang satu pertandingan, Bayern tengah krisis pertahanan. “Setelah pertandingan, mood saya membaik dan saya menghampiri Robert Schwan untuk bicara bahwa dia harus mengatur beberapa hal dengan Bundeswehr –kalau tidak, saya akan bicara kepada pers tentang hal itu. Lantas esoknya semua urusannya sudah beres,” lanjut Breitner. Meski dikenal sebagai simpatisan kiri dan berjiwa bebas, keputusan Breitner tetap sering kontradiktif. Bukti paling nyata yakni ketika dia menerima pinangan Real Madrid pada 1974. Madrid dikenal sebagai klub kesayangan diktator Spanyol Francisco Franco, lawan politik utama kaum kiri. Di Madrid pula laku Breitner berubah menjauh dari laku ideal kaum kiri yang sama rata sama rasa. Dengan gaji 800 ribu dolar Amerika per tahun, jauh di atas 300 ribu deutsche mark yang diterimanya dari Bayern, taraf kehidupan Breitner melesat. Makin lama gaya hidupnya kian berdekatan dengan hedonisme dan kemauan pasar. Breitner membeli rumah dan mobil mewah, main film Montana Trap ( Potato Fritz ) pada 1976, hingga menjadi bintang iklan berbagai produk, mulai dari rokok hingga waralaba restoran cepat saji Amerika McDonald’s . Gagal jadi pelatih, Paul Breitner beralih jadi komentator pertandingan sepakbola di televisi di masa senja. ( fcbayern.com ). Kontradiksi dari sikap Breitner itu antara lain ditunjukkannya ketika, menjelang Euro 1982, menerima tawaran membintangi iklan produk kosmetik. Dia dibayar 150 ribu deutsche mark untuk mencukur brewoknya menggunakan produk dan alat kosmetik itu. Padahal, sebelumnya brewok itu bersama rambut gondrongnya jadi penanda bahwa ia sosok pemberontak. “Brewok saya bukan menjadi hal yang sangat penting buat saya. Saya memeliharanya hanya karena istri saya menyukainya,” kata Breitner berkilah. Semenjak gantung sepatu pada 1983, Breitner lama menghilang dari panggung sepakbola. Baru pada 1998 namanya mencuat lagi ketika ditunjuk jadi pelatih Timnas Jerman. Namun, karier kepelatihannya itu hanya berumur 17 jam karena dia bertikai hebat dengan sejumlah ofisial timnas. Sejak itu hingga kini, Breitner lebih sering muncul sebagai komentator di beberapa stasiun TV dan kolumnis suratkabar.
- Rak Buku dalam Kepala Bung Karno
SEJAK bersekolah di Hogere Burger School Surabaya dan mondok di rumah HOS Tjokroaminoto, Bung Karno mulai gemar membaca. Ia banyak mengoleksi buku terutama yang terkait pemikiran-pemikiran besar dunia. Buku adalah salah satu harta karun yang ditinggalkan Bung Karno ketika lengser dan harus meninggalkan istana. Bung Karno menata sendiri buku-bukunya di Istana Negara. Ia juga hafal di mana sebuah buku ia letakkan. Padahal, sekira 20 ribu buku dikoleksi Bung Karno di Istana Negara. Menurut Megawati Sukarnoputri dalam Pembukaan Pameran Daring & Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-Bukunya” di kanal Youtube dan Facebook Historia , Selasa, 24 November 2020, Bung Karno memiliki photographic memory (ingatan visual) yang kuat terutama pada buku-buku koleksinya. “Beliau sangat ingat di mana buku ini adanya. Kami putra-putrinya tidak boleh menyentuh kecuali kalau mau melihat mesti ngomong pada beliau. Beliau akan bilang oke di rak nomor segini, di jajaran nomor 10 umpamanya,” jelas Megawati. Bung Karno sangat mencintai buku-bukunya merupakan fakta umum. Mantan menteri agama Saifuddin Zuhri salah satu saksinnya. Buku-buku, kata Saifuddin, memenuhi kamar Bung Karno dan hanya menyisakan sedikit tempat untuk tidur. Meski bertumpuk-tumpuk, Bung Karno sudah memberi nomor pada bukunya sehingga ia akan mengetahui jika ada yang berkurang atau berubah tempat. Megawati menambahkan, Bung Karno bahkan menaruh rak buku di toilet. Dalam rak dua tingkat, Bung Karno menaruh buku yang telah dibaca dan diberi komentar pada rak bagian atas. Sementara rak bagian bawah berisi buku yang hendak dibaca. Ketika Bung Karno dan keluarga harus meninggalkan istana, ia meninggalkan ribuan bukunya. Buku-buku itu tersebar di Istana Merdeka dan Istana Bogor. “Beliau mengatakan biarkan saja di situ,” ungkap Megawati. Kini, buku-buku itu diinventarisir dan ditata kembali oleh Museum Kepresidenan Balai Kirti, Bogor. Ada sekitar 700 buku yang kini terdata. Melalui pameran daring “Bung Karno dan Buku-bukunya”, Balai Kirti dan Historia mencoba untuk menelusuri perjalanan intelektual Bung Karno dari bacaan-bacaannya. Pameran ini menyajikan 20 buku koleksi Bung Karno yang di dalamnya dibubuhi tanda tangan, catatan, maupun komentarnya terhadap isi buku. Mayoritas merupakan buku dari para pemikir besar dunia, baik dari spektrum kiri hingga kanan. Kurator pameran yang merupakan sejarawan sekaligus pemred Historia . ID , Bonnie Triyana, menyebut bahwa buku-buku itu berasal dari beragam bahasa: Jerman, Belanda, Prancis, dan Inggris. Hal ini karena Bung Karno memang membaca buku dari bahasa asli buku tersebut. Buku Der Weg Zur Macht karya ahli Marxisme Karl Kautsky misalnya. Buku ini tidak hanya berbahasa Jerman namun juga ditulis menggunakan huruf Jerman Gothic. “Dan Bung Karno membaca buku itu lalu memberi komentar dalam bahasa Belanda,” terang Bonnie Triyana. Buku lain, Geschiedenis van het Moderne Imperialisme karya JS Bartstra, punya cerita sendiri. Bung Karno memberi catatan bahwa buku ini merupakan pemberian teman-teman Bandung ketika ia dipenjara. Buku-buku koleksi Bung Karno menunjukkan bagaimana intelektualitas Bung Karno berkembang. Dari bacaan, Bung Karno menghasilkan banyak tulisan di berbagai surat kabar sejak 1930-an. “Jadi ini semacam perjalanan intelektual Bung Karno dari mulai dia membaca, mengelaborasi pikiran, ide-ide, gagasan besar di dunia ini dari spektrum kiri, kanan, mulai sosialis, marxisme sampai Islam,” sambung Bonnie. Namun, Bonnie melanjutkan, Bung Karno bukan orang yang hanya suka mengutip. Ketika membaca buku The Spirit of Islam karya Ameer Ali, misalnya, Bung Karno menyebut bahwa kita harus mengambil apinya, bukan abunya. “Dia baca, dia renungkan, dia endapkan, dia elaborasikan kemudian dia keluarkan itu sebagai sebuah ide yang genuine ,” kata Bonnie. Pameran daring "Bung Karno dan Buku-Bukunya" bisa diakses di laman balaikirti.kemdikbud.go.id . Pengunjung bisa melihat buku-buku karya penulis terkemuka sepeti Henriette Roland Host, penyair Belanda yang menginspirasi tokoh-tokoh perjuangan Indonesia hingga komunis Soviet Leon Trotsky.*





















