top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Penggalan Akhir Kiprah PPPI

    Hari ini, 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dilahirkan oleh Kongres Pemuda II yang dihelat di Jalan Kramat, Jakarta 92 tahun lalu. Selain meneguhkan sikap para pemuda akan cita-cita kemerdekaan, dalam kongres itu juga diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang kelak menjadi lagu kebangsaan. Kongres tersebut diprakarsai Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi yang didirikan mahasiswa-mahasiswa Recht Hooge School (RHS/Sekolah Tinggi Hukum), School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), dan Technische Hooge School (TH/Sekolah Tinggi Teknik) Bandung pada tahun 1926 itu menjadi wadah untuk menyatukan gerakan perjuangan kemerdekaan di kalangan pemuda-pelajar.  “Di dalam perkumpulan mahasiswa ini masalah nasionalisme, kolonialisme dan perjuangan kebangsaan dengan perkembangannya yang terakhir dibicarakan secara serius dan tidak ada waktu dan kesempatan bagi para anggota perhimpunan ini untuk berfoya-foya atau mengadakan pesta-pesta,” kata Ide Anak Agung Gde Agung, salah satu anggota PPPI yang kelak menjadi menjadi menteri luar negeri (1955-1956), dalam Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali . Para anggota PPPI kemudian juga aktif di berbagai organisasi perjuangan. Salah satunya di Indonesia Muda, yang dibentuk sebagai perwujudan dari Sumpah Pemuda. “Bahkan boleh dikatakan seluruh pimpinan Indonesia Muda itu mahasiswa yang juga anggota PPPI,” kata Subadio Sastrosatomo dalam testimoninya di buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial , “Chairul Saleh, Nasionalis Sejati”. Dalam kiprahnya, PPPI aktif menentang kolonialisme Belanda. Selain menentang penangkapan para pemimpin PNI, PPPI mendukung Ki Hadjar Dewantara dalam menentang Wilde Scholen Ordonantie atau Undang-Undang Sekolah Liar. PPPI juga menentang upacara peresmian Monumen Van Heutz di Batavia. “Upacara pembukaan Monumen Van Heutsz, yang bagi pemerintah jajahan adalah suatu upacara khidmat untuk menghormati pahlawan kolonial yang besar berkat perjuangannya di Aceh, pada tahun 1932 dipandang sebagai tantangan pihak pemerintah kepada gerakan nasional Indonesia oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Peristiwa tersebut membangkitkan semangat untuk memperkuat barisan kulit berwarna guna mencapai kemerdekaan,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional, Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan . Sebelum dipaksa bubar oleh pemerintah militer pendudukan Jepang, PPPI dipimpin Chairul Saleh. Di bawah Chairul, PPPI lebih radikal. Ketegasan sikap PPPI itu dibuktikan ketika menentang Petisi Soetardjo. “Pada saat dalam Volksraad sedang rame-ramenya diperbincangkan masalah Petisi Soetardjo, maka PPPI menolak dengan keras, karena bertentangan dengan asas dan tujuannya. Petisi Soetardjo mengusulkan paling tinggi sampai DominionStatus , sedangkan PPPI dengan terang-terangan memperjuangkan Indonesia Merdeka,” kata Maruto Nitimihardjo, senior Chairul di Recht Hoge School, yang hadir dalam rapat tersebut, lewat testmioninya di buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial , “Chairul Saleh Penggerak Pemuda”. Ketika pada 1940 Gabungan Politik Indonesia (GAPI) menggelar rapat untuk membahas tuntutan Indonesia berparlemen yang diajukan kepada pemerintah kolonial, Chairul hadir mewakili PPPI. Chairul pun bersuara keras. “Bung Chairul hadir sebagai salah seorang wakil PPPI yang mengusulkan bahwa jika resolusi GAPI untuk Indonesia berparlemen ditolak pemerintah, semua partai yang bernaung di bawah GAPI supaya melarang anggotanya untuk ber-coperasi dengan pemerintah Hindia Belanda. Sudah barang tentu usul PPPI itu tidak mendapat suara di GAPI,” sambung Maruto yang hadir dalam pertemuan tersebut. Keteguhan pada cita-cita perjuangan itu terus ditunjukkan Chairul bahkan hingga ketika Perang Pasifik telah pecah. Tak hanya keras bersikap ke luar, Chairul juga tegas ke dalam. Dia amat marah begitu mengetahui Adnan Kapau Gani, seniornya di RHS dan PPPI, main film. Meski alasan Gani melakoninya untuk biaya hidup dan biaya ujian kuliahnya, Chairul tak peduli. “Apa-apaan Bung Kapau Gani ini, seorang student , sudah hampir dokter, anggota PPPI, GERINDO, kok main film? Gila dia! Nama PPPI, GERINDO, seluruh perjuangan kita terseret ke lumpur! Dia harus keluar dari PPPI!” kata Chairul sebagaimana didengar dan dikutip M. Arifin Andanasasmita dalam testimoninya di buku yang sama. Sikap Chairul sontak menimbulkan faksi di dalam PPPI, antara yang pro dan kontra. PPPI sampai mengadakan rapat khusus untuk membahasnya. Chairul ditentang keras oleh Sucipto Gondoamidjoyo dalam rapat tersebut. Meski suasananya panas, rapat akhirnya diselesaikan dengan baik.  “Seingat saya, Bung Adnan Kapau Gani memang dikeluarkan dari PPPI,” sambung Arifin. Namun, AK Gani tak pernah diketahui meladeni kemarahan Chairul. Konfliknya dengan Chairul bahkan dia yang menyelesaikan. Tak lama setelah mendapatkan kelulusan dari STOVIA dan ditempatkan di Palembang, dia mengirim sebuah telegram. “Demi persatuan koma stop pertengkaran mengenai saya titik” demikian bunyi telegram AK Gani.

  • Khabib Nurmagomedov Sang Elang Dagestan

    KALA pertarungan di ronde kedua masih berjalan sengit di menit pertama lewat 34 detik, Khabib Nurmagomedov memanfaatkan secuil peluang. Dia langsung mengeluarkan kuncian triangle choke  terhadap lawannya, Justin Gaethje. Justin mati kutu. Upayanya meloloskan diri gagal hingga tubuhnya yang melemah memaksanya tapping  dan wasit menghentikan pertarungan. Seketika, Khabib pecah tangisnya. Seraya bersujud, air matanya mengalir deras membasahi kanvas ring oktagon UFC (Ultimate Fighting Championship) 254 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sabtu (24/10/2020). Saking emosionalnya, Khabib harus dibantu untuk bangkit oleh lawannya yang bertindak sportif. “Alhamdulillah, Tuhan memberikan segalanya pada saya. Hari ini saya ingin mengatakan bahwa inilah pertarungan terakhir saya. Mustahil saya bisa bertarung lagi tanpa ayah saya. Saya telah berjanji pada ibu saya bahwa ini yang terakhir dan saya akan menepatinya,” ungkap Khabib dalam wawancaranya usai pertarungan, dikutip Sky Sports , Minggu (25/10/2020). Khabib mengalahkan Gaethje lewat kuncian  triangle choke  di ronde kedua. (Instagram @ufc). Pertarungan itu jadi pertarungan ke-13 petarung berjuluk “Sang Elang” itu dalam rangka mempertahankan gelar dunia UFC kelas ringan. Sepanjang kariernya di ajang beladiri campuran terkondang itu, tak pernah sekali pun Khabib kalah dari 29 laga. Petarung Rusia pertama yang berlaga di UFC era baru sejak 2012 itu telah mencatat beragam sejarah sepanjang sepakterjangnya. Yang terpenting adalah status incumbent juara kelas ringan terlama (931 hari). Walau usianya terbilang muda, janji pada ibunya itu membuatnya mesti pensiun di usia 32 tahun. Ketiadaan Abdulmanap Magomedovich Nurmagomedov, ayahnya yang wafat pada 3 Juli 2020 di usia 57 tahun setelah tertular COVID-19,  jadi faktor utama pensiunnya Khabib. Banyak yang menyayangkan keputusan itu. Salah satunya, Connor McGregor, rival kontroversial Khabib. McGregor kerap menghina keyakinan dan ayah Khabib sebelum duel keduanya pada 6 Oktober 2018. Kearoganan McGregor dibungkam Khabib dengan kemenangan lewat kuncian neck crank pada ronde keempat. “Pertarungan yang bagus @TeamKhabib. Saya akan meneruskan pertarungan (di UFC). Salam hormat dan salam duka untuk ayah Anda, juga kepada Anda dan keluarga. Dengan tulus. The McGregors,” kicau McGregor di akun Twitter -nya, @TheNotoriousMMA , Minggu (25/10/2020). Keluarga Petarung di Wilayah Konflik Lahir di Sildi, Republik Dagestan, Uni Soviet (kini Rusia) pada 20 September 1988, Khabib mewarisi sifat petarung keluarga besarnya. Mayoritas keluarga besarnya merupakan praktisi beladiri gulat bebas, judo, dan SAMBO. Termasuk pamannya dan sang ayah, Abdulmanap. “Ayah saya pernah memenangkan kejuaraan gulat bebas dan SAMBO di Ukraina. Dia punya banyak pengalaman dalam olahraga. Adiknya, Nurmagomed Nurmagomedov, adalah juara dunia SAMBO 1992. Paman dari pihak ibu saya juga praktisi yang ahli dalam gulat bebas. Jadi saya tak punya banyak pilihan,” tutur Khabib kala diwawancara Boris Krivin yang dimuat dalam Sport-Express , 2 Desember 2015. Khabib, anak kedua Abdulmanap, mulai bersentuhan dengan beladiri sejak usia dini karena sering melihat ayahnya melatih beladiri anak-anak sekitar. Semenjak bisa berlari-lari dan mulai paham dengan kegiatan olahraga yang digeluti ayahnya, Khabib seketika itu juga mulai menaruh minatnya. “Khabib memulai langkah pertamanya di matras gulat sejak usia dua tahun. Dia mulai bisa mengikuti sedikit-sedikit latihan gulat. Awalnya tidak ada yang mengajarkannya. Dia memahaminya dengan melihat anak-anak yang saya latih. Mulanya juga semua orang menertawakannya, namun akhirnya beginilah yang terjadi (Khabib juara dunia),” ungkap Abdulmanap dalam wawancaranya dengan All Boxing , 14 April 2015. Abdulmanap Magomedovich Nurmagomedov wafat pada 3 Juli 2020 setelah tertular Covid-19. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Sang Elang Melawan Beruang Hidup di lingkungan pegunungan yang keras secara alamiah membentuk karakter bermental baja Khabib. Pembentukan karakter itu makin nyata dengan tambahan didikan sang ayah dalam kesehariannya. “Kenapa kami punya para petarung terbaik di dunia? Karena tempat kami hidup dahulu kala juga ditinggali para petarung. Bangsa kami bertarung sepanjang hidup mereka dan itu sudah ada dalam darah kami. Ayah saya membuat saya berlatih di pagi dan petang hari. Hidup kami seperti tentara. Kondisinya Spartan. Ayah saya selalu menciptakan kompetisi agar saya bisa lebih tangguh,” aku Khabib sebagaimana disitat matchtv.ru , 21 Juli 2016. “Saat saya bilang tak ingin belajar, ayah pasti menghukum saya. Dia menjelaskan dengan lidahnya. Saat penjelasannya tak bisa dimengerti – dengan tinjunya. Jika saya tak dihukum, saya akan jadi seorang perundung. Jika saya dihukum, memang berarti saya pantas mendapatkannya,” imbuhnya. Khabib (kiri) saat berusia delapan tahun pada 1996 sudah mulai menekuni gulat bebas. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Di usia sembilan, Khabib mulai dilatih lebih serius oleh ayahnya. Tak hanya dasar-dasar gulat bebas, Khabib juga dilatih berenang di sungai es, hingga bertarung melawan anak beruang. Dalam sebuah video bertanggal 23 September 1997 yang beredar di media sosial, tampak sang ayah memegang rantai yang mengikat leher seekor anak beruang sembari memerintahkan Khabib untuk bergulat melawannya. “Pertama-tama, seorang ayah harus selalu memastikan sejauh mana kemampuan putranya. Memang disayangkan tidak ada pertarungan yang lebih menarik dari masa dia masih muda (melawan beruang, red. ). Pada akhirnya, pertarungan itu lebih kepada ujian karakter ketimbang latihan,” terang Abdulmanap. Namun, tak mudah bagi keluarga Khabib hidup di wilayah konflik. Dagestan sejak 1980-an mulai tersemai bibit konflik setelah masuknya aliran Wahabi, aliran radikal Islam Sunni, yang dipimpin militan Chechen Shamil Basaev. Kelompok tersebut menggalang gerakan di antara masyarakat Sunni Dagestan dengan mendeklarasikan Jamaah Islamiyah Dagestan. Konflik pun berujung pada pecahnya Perang Dagestan, 7 Agustus-14 September 1999. Meski perang besarnya hanya terjadi sebulan, perang gerilya terus berlangsung hingga 2016. Abdulmanap enggan angkat senjata lagi meski seorang veteran, sebab di rumahnya tinggal istri dan ketiga anaknya serta selusin keponakannya. Khabib bak menggelar "rematch" dengan seekor beruang pada 2015 mengenang masa-masa kecilnya. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Hampir setiap hari selama sebulan peperangan, keluarga Khabib hidup dalam ketakutan. Di lingkungan tempat tinggalnya di Kirovaul, semua warga mendukung pihak Rusia dan Republik Dagestan untuk mengusir para pemberontak Chechen. “Era 1990-an jadi dekade yang berat untuk negeri kami. Peperangan terjadi kurang dari 20 kilometer dari tempat tinggal kami,” kenang Abdulmanap, dikutip Karim Zidan dalam "Dagestani Dynasty: How Fighting Became the Nurmagomedov Family Business" yang dimuat dalam buku Best Canadian Sports Writing . Tak lama setelah perang usai kala Khabib berusia 12 tahun, Abdulmanap memutuskan untuk pindah dari Kirovaul ke Makhachkala, ibukota Republik Dagestan. Empat tahun berselang, Khabib diajari judo. Kala berusia 17 tahun, Khabib menekuni SAMBO di Sekolah Beladiri Manapov yang didirikan ayahnya. Sejak saat itu, bak elang, Khabib mulai melebarkan sayapnya ke berbagai kompetisi gulat, judo, maupun SAMBO di bawah asuhan sang ayah. Debut profesionalnya dilakoni di ajang turnamen MMA (mixed martial arts/beladiri campuran) CFSU: Champions League di kelas ringan. Ia langsung menang lewat kuncian triangle choke di ronde pertama kontra Vusal Bayramov di Poltava, Ukraina, 13 September 2008. Khabib di masa muda sudah selalu dalam bimbingan sang ayah. (Instagram @khabib_nurmagomedov). Setahun berselang, kiprahnya makin berkibar. Medali emas Kejuaraan Nasional SAMBO Rusia 2009 pun disabetnya. Juga dua kali berturut-turut Khabib meraih medali emas di Kejuaraan Dunia SAMBO (2009 dan 2010) mewakili Rusia. Selain di ajang CFSU, pada 2009 Khabib mendaki tangga kariernya di Tsumada Fighting Championship, M-1 Challenge: 2009, M-1 Selection Ukraine 2010, hingga ProFC/GM Fight 2011. Selepas meneken kontrak pertamanya dengan UFC pada 2011, Khabib melakoni debutnya pada 20 Januari 2012 dengan mengalahkan Kamal Shalorus lewat kuncian rear-naked choke di Nashville, Amerika Serikat. Meski begitu, butuh enam tahun bagi Khabib untuk dapat melingkari pinggangnya dengan sabuk juara dunia UFC kelas ringan. Tepatnya pada 7 April 2018 lewat kemenangan angka setelah melalui pertarungan sengit lima ronde kontra Al Iaquinta. Khabib pernah bikin heboh ketika ia melompat pagar ring oktagon dan menyerang tim lawan usai mengalahkan Conor McGregor lewat kucian neck crank di Las Vegas, Amerika, 6 Oktober 2018. Laga kontroversial Khabib vs McGregor pada 2018 yang berujung kericuhan. (Twitter @TeamKhabib). Aksi Khabib tak lepas dari luapan emosinya yang dipicu hinaan McGregor. Bahkan, jelang pertarungan itu McGregor berulangkali melayangkan hinaan kepada Khabib maupun agamanya, serta menghina sang ayah dan istri Khabib. Orang-orang di tim McGregor menambah panas dengan menghancurkan bus tim Khabib. Walau kemenangannya tak dianulir dan gelar kelas ringan UFC tetap jadi miliknya, Khabib dijatuhi hukuman denda USD500 ribu dan sanksi larangan bertarung selama sembilan bulan dari Nevada State Athletic Commission. Sementara, McGregor hanya didenda USD50 ribu dan sanksi larangan bertarung enam bulan. “Saya hanya seorang manusia dan saya tak tahu mengapa orang-orang hanya membicarakan aksi saya melompat pagar. Bagaimana dengan dia (McGregor) yang bicara tentang keluarga saya, agama saya, dan menyerang bus saya?” cetus Khabib, dikutip Independent , 7 Oktober 2018. “UFC adalah olahraga yang terhormat, bukan olahraga untuk omongan yang menghina. Anda tak bisa menghina agama. Saya tahu ayah akan memukul saja saat pulang nanti. Tapi (Presiden Rusia, Vladimir) Putin sudah menelepon saya dan dia bilang bangga pada saya,” tandasnya.

  • Leo Wattimena, Si Gila Kebanggaan AURI

    GELANG akar bahar selalu melekat di lengan kanan Leo Wattimena kala menerbangkan pesawat. Untuk keberuntungan, katanya. Di kalangan teman-temannya sesama penerbang, dia mendapat julukan kehormatan "penerbang gila" karena ulahnya yang sering kelewat berani. “Ulahnya memang macam-macam, tapi penuh perhitungan,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia  suntingan Soemakno Iswadi. Serenceng gelar melekat pada diri Leo Wattimena. Mulai dari good pilot , G-maniac , sampai dianggap orang yang paling mengenal pesawat tempur P-51 Mustang.  Salah satu kebiasaan “gila” Leo adalah kesukaannya melakukan manuver putar balik 360 derajat. Yang lebih gila, aksinya dilakukan ketika pesawat baru saja lepas landas. Atraksi itu terbilang berbahaya mengingat Mustang masih menggunakan piston engine , bukan pesawat yang bermesin jet. Tenaga dorong ketika lepas landas tidak sebesar jet sehingga sangat riskan dalam manuver. Keberanian Leo di angkasa nyatanya sebanding dengan kejeniusannya. Leo suka menerbangkan pesawatnya melintasi kolong Jembatan Ampera di Palembang. Kadang, dia malah memiringkan pesawat untuk melewati rintangan dua gedung atau dua tiang tanpa mengalami masalah. Bagi Leo, Mustang lebih dari sekedar mainan kesayangan. Bagaikan ikatan jiwa, Mustang sudah seperti istri pertama pilot tempur berdarah Ambon itu.    Anak Singkawang Jadi Penerbang Leonardus Willem Johannes Wattimena lahir di Singkawang, Kalimantan Barat 3 Juli 1927. Ayahnya bernama Hein Leonardus Wattimena bekerja sebagai Komisaris Residen Kantor di kota Pontianak. Ibunya, Maria Lingkan berasal dari Manado Sulawesi Utara. Leo anak ke 4 dari 6 bersaudara. Sebelum bersentuhan dengan pesawat tempur, Leo menghabiskan masa pendidikan di HIS (setara Sekolah Dasar) dan AMS (Sekolah Menengah) Jakarta. Dia juga nyambi bekerja sebagai pelaut di kapal untuk membantu ibunya yang telah menjanda.Di masa revolusi, Leo bekerja di jawatan kereta api. Setelah menjajal kapal dan kereta api, Leo mencoba pesawat terbang.  Pada akhir 1950, Leo berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan sekolah penerbang. Dia menjadi satu dari 60 calon penerbang dan navigator Indonesia yang berkesempatan belajar di Academy of Aeronautics Taloa (Trans Ocean Airline Oakland Airport) di California. Turut bersama Leo sejawatnya yang kelak menjadi petinggi AURI seperti Omar Dani, Ignatius Dewanto, Saleh Basarah, dan Sri Muljono Herlambang. Bersama 19 orang lulusan terbaik, Leo mendapat pendidikan tambahan sebagai instruktur. Sepulang dari Amerika, Leo mulai mengabdikan diri bagi Angkatan Udara Republik Indonsia (AURI). Pada 1952, Leo bertugas di Skadron 3 yang berbasis di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Disanalah Leo berkenalan dengan P-51 Mustang. Pada 1955, Leo dikirim ke Inggris untuk mengikuti pendidikan instruktur di Royal Air Force (RAF). Lagi-lagi, Leo menjadi lulusan terbaik. Oleh beberapa teman penerbang dari India, Leo dijuluki G-maniac karena kegemarannya melakukan berbagai manuver di udara. G-maniac diambil dari kata G-lock , yaitu kondisi kehilangan kesadaran ketika sedang melakukan akrobatik di udara.  “Namun, postur fisik Leo memang mendukung. Dia selalu bisa cepat mengatasai kondisi-kondisi blank itu. Bahkan, ia melakukan sambil tersenyum atau melambaikan tangan kepada teman terbangnya,” tulis Iswadi. Pesawat tempur P-51 Mustang yang sering diterbangkan Leo Wattimena. (Repro Pahlawan Dirgantara ).​ Balik lagi ke Indonesia, Leo pindah tugas ke Bandung sebagai komandan Kesatuan Pancargas (pesawat jet tempur) di Pangkalan Udara Husein Sastranegara. Pada saat yang sama, AURI sudah memperoleh pesawat Vampire Jet Trainer dari Inggris. S. Trihadi dalam Sedjarah Perkembangan Angkatan Udara mencatat, kesatuan pancargas ini ditingkatkan menjadi Skadron 11 (Skadron Jet Pelatih Tempur). Peresemiannya dilakukan pada 1 Juni 1957 dengan Komandan Skadron Letnan Udara I Leo Wattimena. “Sebagai instruktur, murid-muridnya sering ketakukan,” ujar Willy Kundimang salah satu murid Leo dalam Pahlawan Dirgantara . Dalam melatih para penerbang AURI, Leo tergolong disiplin dank keras. Kalau murid instruktur lain ada yang melakukan kesalahan, paling banter instrukturnya mencabut bulu kaki si murid atau dihukum push up . Tapi, bagi Leo pelajaran itu masih belum cukup. Dia akan mengajak murid-murid terhukum untuk terbang bersama. Setelah berada di ketinggian, Leo melancarkan akrobatik dan menjungkirbalikan pesawatnya. Praktis ketika sampai di darat sang murid langsung muntah-muntah. Begitulah Leo memberi jera para penerbang muda yang lalai. Pilot Tempur Pantang Mundur Leo Wattimena bukanlah jagoan dalam hanggar pesawat belaka. Kemampuannya menerbangkan pesawat lebih banyak berbicara kala bertempur di angkasa. Terbukti, Leo cukup kenyang jam terbang dalam beberapa kali memimpin operasi militer. Pada 15 Mei 1958, Mayor Leo Wattimena memimpin penyerangan ke sarang pemberontak Permesta di Lapangan Udara Mapanget Manado. Dalam operasi bersandi “Nunusaku” lima pesawat tempur P-51 Mustang dan empat pesawat bomber B-25 Mitchell dikerahkan untuk menggempur. Inilah pertama kalinya operasi melibatkan P-51 Mustang dalam jumlah yang cukup banyak. Dalam Operasi Nunusaku, Leo memegang komando dan memimpin grup pemburu P-51 sedangkan grup B-25 dipimpin oleh Kapten Sri Muljono Herlambang.  Dengan melancarkan taktik gerilya udara, Leo berhasil menghancurkan pesawat-pesawat Permesta. Salah satunya adalah pesawat bomber B-26 Invader yang berasal dari bantuan gelap dinas intelijen Amerika Serikat (CIA).Seluruh sarana Pangkalan Udara Mapanget rusak berat. Kemenangan gemilang itu mencatatkan Operasi Nunusaku sebagai peristiwa besar dalam sejarah penyerangan udara AURI. Sejak itu pula nama Leo Wattimena –bersama rekannya Ignatius Dewanto– menjadi pilot tempur yang diperhitungkan. Namun, puncak karier Leo sebagai penerbang terjadi pada saat operasi pembebasan Irian Barat. Pada 1962, Leo dipercaya sebagai wakil panglima II Komando Mandala. Dia bersama wakil I Komodor Laut Soedomo mendampingi Panglima Komando Mandala Mayor Jenderal Soeharto. Dalam komando Mandala, Leo menjabat panglima Angkatan Udara yang berperan penting dalam serangkaian penerjunan menginfiltasi ke pedalaman Irian.   Setelah operasi pembebasan Irian Barat selesai, seperti diklaim oleh Dinas Sejarah AU dalam Sejarah TNI Angkatan Udara: 1960-1969 , Komodor Udara Leo Wattimena “adalah jenderal yang pertama kali menginjakkan kaki di bumi Irian Barat.” Dalam sebuah operasi penyebaran pamflet propaganda ke wilayah Merauke –yang masih dikuasai Belanda–, Leo ikut dalam pesawat Hercules yang diterbangkan Letkol Udara Slamet. Pesawat itu mendarat dengan jalan merusak kabel-kabel pesawat sehingga diizinkan turun dalan keadaan darurat. Ketika tiba di ujung landasan, pesawat yang ditumpangi Leo terbang lagi. Tentara Belanda yang merasa tertipu itu menjadi jengkel lantaran dipermainkan. Di balik aksi nekatnya, Leo Wattimena ingin menunjukkan bahwa AURI adalah yang nomor satu. Panglima Komando Mandala Mayor Jenderal Soeharto begitu mempercayai Leo. Hubungan keduanya terjalin cukup baik. Apalagi dalam mempersiapkan operasi besar-besaran bersandi “Jayawijaya”, Soeharto tentu butuh bertukar pikiran dengan Leo yang berpengalaman dalam operasi udara. Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian menuturkan, kalau Leo terbang, biasanya Soeharto menanti di pangkalan udara sampai Leo mendarat kembali. “Tapi, hubungan Leo dengan Soeharto menjadi rusak waktu Gestapu (Gerakan 30 September),” ujar Salim Said.*

  • Rasuna Said, Perempuan Minang yang Ditakuti Belanda

    Sepertinya tidaklah berlebihan jika menyebut Sumatera sebagai ranah pergerakan Indonesia. Pulau terbesar ke-6 di dunia itu tercatat telah melahirkan begitu banyak tokoh pejuang. Sebut saja Mohammad Hatta, Sisingamangaraja, Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lagi. Tanah yang dihuni oleh beragam suku itu memang tidak pernah kehabisan orang-orang besar. Dari sana jugalah peristiwa-peristiwa penting tercipta. Nama Cut Nyak Dien tercatat di dalam sejarah bangsa ini sebagai salah satu pejuang besar dari kalangan perempuan. Namun Cut Nyak Dien bukan satu-satunya pejuang perempuan dari Sumatera. Tersebutlah Rasuna Said, perempuan Minang yang kini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di Jakarta. Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga terpandang di Maninjau. Ayahnya, Haji Muhammad Said, merupakan salah seorang tokoh pergerakan di Sumatera Barat. Haji Said juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses. Rasuna menempuh pendidikan dasarnya di Sekolah Desa yang letaknya tidak jauh dari Danau Maninjau. Sebenarnya, sebagai seorang anak dari keluarga terpandang Rasuna bisa saja mengecap pendidikan di sekolah Belanda, seperti kerabatnya yang lain. Namun, menurut Jajang Jahroni dalam Haji Rangkyo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan , Rasuna memilih sekolah agama yang tidak jauh dari rumahnya. Ia bersekolah di sana dari tahun 1916 sampai 1921. Rasuna lalu melanjutkan sekolah ke Pesantren Ar-Rasyidiyah, di bawah naungan Syekh Abdul Rasyid. Ia tercatat sebagai satu-satunya santri perempuan di sana, mengingat lingkungan pesantren kala itu didominasi anak laki-laki. Pada 1923, Rasuna masuk Sekolah Diniyah putri di Padang Panjang, yang didirkan oleh Rahmah El Yunusiah. Sekolah itu merupakan bagian dari Sekolah Diniyah pimpinan Zainuddin Labai El Yunus. “Popularitas Rasuna waktu itu jauh di atas Rahmah. Sebagian besar pelajar Diniyah Putri sangat menggandrungi Rasuna, bahkan mereka terpengaruh pola pikirnya,” tulis Jahroni. Hal itu tentu tidak disenangi para guru Diniyah Putri. Mereka tidak ingin Rasuna memberi contoh tidak baik kepada murid lainnya. Beberapa kali juga Rahmah, selaku pimpinan mencoba menyelesaikan masalah itu dengan Rasuna. Tetapi tidak pernah ada penyelesaian yang tepat. Hingga akhirnya dibentuk sebuah panitia, diketuai tokoh yang cukup disegani Inyik Bandaro. Itu sebenarnya, imbuh Jahroni, merupakan usaha menyingirkan Rasuna secara halus. Dan benar saja, cara itu membuat Rasuna memilih menarik diri dari Diniyah Putri. Murid Haji Rasul Setelah keluar dari Diniyah Putri, Rasuna memutuskan belajar secara pribadi kepada tokoh-tokoh intelektual Minangkabau. Satu di antara guru-gurunya itu adalah Haji Abdul Karim Amarullah, yang dikenal juga dengan nama Haji Rasul. Diceritakan Sally White dalam Rasuna Said: Lioness of the Indonesian Independece Movement , Haji Rasul merupakan pendiri Sekolah Thawalib di Padang Panjang. Sekolah ini tercatat sebagai sekolah Islam modern pertama di Indonesia. “Terinspirasi dari Sekolah Diniyah, Haji Rasul memperkenalkan jenjang kelas, teks buku, dan metode pengajaran modern berasis kurikulum. Sekolah Thawalib khusus mengajarkan teori dan aspek filosofi dalam Islam,” tulis Sally. Di bawah bimbingan Haji Rasul, pemikiran Rasuna semakin terbuka. Ia belajar banyak hal tentang perjuangan dan perlawanan. Untuk pertama kalinya juga Rasuna mendengar tentang pentingnya pembaharuan pemikiran keagamaan dan kebebasan berpikir. Haji Rasul adalah salah seorang pelopor gerakan kaum muda di Minangkabau. Gerakan kaum muda itu cenderung berpikir progresif, dan mengecam segala bentuk penyelewengan ajaran Islam yang berkedok adat. Bagi kaum ini ajaran Islam harus sesuai dengan contoh Rasullullah SAW. Rasuna selalu berusaha menyempatkan diri mengikuti setiap pengajian yang diadakan Haji Rasul. Ia ingin menerima banyak pemikiran dari gurunya itu. Pengajian Haji Rasul kerap dibanjir para kaum muda dari berbagai daerah di Minangkabau. Surau Haji Rasul di Jembatan Besi Padang Panjang menjadi tempat berkembangnya perguruan Sumatra Thawalib, dan tempat lahirnya PERMI (Persatuan Muslim Indonesia). “Di samping mengikuti pengajian yang diberikan Haji Rasul, menyadari bahwa dirinya adalah seorang perempuan, Rasuna lalu memasuki Sekolah Putri untuk memperoleh keahlian memasak, menjahit, dan keahlian putri lainnya,” ungkap Jahroni. Kiprah Perjuangan Rasuna memulai karirnya di dunia politik dengan aktif berkecimpung di Sarekat Rakyat tahun 1926. Ia menjabat sekretaris cabang Maninjau. Ia lalu masuk Permi tahun 1930. Rasuna dianggap memiliki kecakapan dalam berpidato dan berdebat, sehingga ia ditunjuk untuk memberikan kursus bagi anggota Permi. Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia, kepiawainnya dalam berpidato membuat Rasuna dijuluki sebagai “Singa Minangkabau”, atau Sally White menamakannya “Singa Betina Pergerakan Indonesia Merdeka”. Dia bersanding dengan Moechtar Loetfi yang juga dijuluki Singa Minangkabau. “Isi pidato mereka yang galak membuat Belanda khawatir ketenteraman umum di Sumatera Barat menjadi guncang,” tulis Rosihn. Selain aktif berpolitik, Rasuna juga turut andil dalam pembangunan pendidikan di Sumatera. Semasa sekolah Diniyah di Padang Panjang, Rasuna sudah diamanahi tugas mengajar. Ia meyakini bahwa setiap orang yang ingin terjun ke dunia pergerakan harus dibekali ilmu dan keterampilan yang baik. Diungkapkan Jahroni, Rasuna banyak terlibat dalam pendirian sekolah-sekolah, seperti Sekolah Thawalib kelas rendah, Sekolah Thawalib Putri, Kursus pemberantasan buta huruf, dan Kusus Putri di Bukittinggi. Ketika di Medan, Sumtera Utara juga Rasuna mendirikan lembaga pendidikan khusus perempuan bernama Perguruan Putri. Pasca Kemerdekaan Indonesia, Rasuna ikut terlibat dalam Panitia Pembentukan Dewan Perwakilan Nagari, yang melahirkan Dewan Perwakilan Sumatera tahun 1946. Ia juga ditunjuk bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Daerah Sumatera Barat (KNID-SB). Berdasar hasil sidang pada Januari 1947, Rasuna diangkat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dalam Front Pertahanan Nasional di Seksi Wanita bagian logistik. Rasuna juga tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Republik Indonesia Serikat sejak 1949. Pasca pembubaran RIS, Rasuna terpilih sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Karir politiknya semakin bersinar tatkala Presiden Sukarno menunjukknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Ia dipercaya Sukano di kursi penasehat pemerintah. Selain di pemerintahan, Rasuna aktif bergabung dalam organisasi Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI) sebagai salah satu pimpinan. Rasuna Said wafat pada 2 November 1965 di Jakarta dalam usia 55 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974, Rasuna Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Ia juga mendapat tanda kehormatan Satyalencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan, dan Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan.

  • Kemarahan Istri-istri Bung Karno

    SUATU pagi di tahun 1964. Tetiba Presiden Sukarno diam-diam mengumpulkan ajudan dan petugas kawal pribadi. Kepada para bawahannya itu, Si Bung Besar meminta agar Haryatie, salah satu istrinya yang tinggal di bilangan Slipi, Jakarta Barat, dicegah untuk tidak meninggalkan rumahnya. Bagaimana pun caranya. “Pagi itu Bung Karno ada janji dengan istri yang lain,” ungkap Bambang Widjanarko, eks ajudan Presiden Sukarno, dalam bukunya, Sewindu Dekat Bung Karno. Namun rupanya, informasi rencana pertemuan itu entah bagaimana ternyata bocor ke telinga Haryatie. Dia memerintahkan agar para pengawal dan sopir untuk siap-siap mengantarkannya ke tempat Bung Karno berada pagi itu. “Terpaksalah kami bekerja keras, pelbagai aksi dipersiapkan,” kenang Bambang. Tepat pada waktu yang dikehendakinya, Haryatie memerintahkan sopir untuk menyiapkan mobil. Berlagak sigap, sopir segera lari ke dalam mobil, bergegas menghidupkan mesin. Namun sudah beberapa kali dicoba, mobil tetap diam saja: tak jua mesinnya nyala. Sopir terlihat sangat bingung. Sementara Haryatie tak bisa berbuat apa-apa kecuali berteriak marah-marah. Sopir kemudian turun dari mobil, membuka kap lantas memeriksa mesin. Kendati dicoba terus, mobil itu tak jua mau berbunyi mesinnya, alih-alih bergerak. Situasi itu berlangsung hingga satu jam lamanya, hingga membuat Haryatie semakin marah dan menelepon Istana Negara: minta segera dikirimkan mobil lain. Lagi-lagi mobil yang ditunggu-tunggu tak jua datang. Haryatie menelepon Istana Negara lagi dan hanya mendapat kata-kata hiburan agar dirinya bersabar karena situasi jalan di Jakarta tengah macet. Untunglah sekira setengah jam kemudian, terdengar mobil yang tengah diotak-atik sang sopir mulai menyala. Tanpa banyak cakap, Haryatie langsung naik mobil pribadinya yang baru saja “ngadat” itu. Mobil berjalan melalui halaman yang cukup luas dan panjang. Tetapi begitu sampai pintu gerbang, laju mobil terhenti oleh satu truk mogok yang sopirnya pergi entah kemana. Rencana Haryatie pun kembali terhalang. Singkat cerita, Haryatie tidak jadi “melabrak” Bung Karno dan istrinya yang lain. Dengan marah dia terpaksa harus kembali ke rumahnya. Sore hari-nya Bung Karno datang ke Slipi. Seketika menangislahlah Haryatie sembari mengadukan insiden yang terjadi beberapa jam lalu. Mendengar pengaduan istri tercinta, Bung Karno marah. Dikumpulkannya para ajudan, pengawal dan sopir. Di depan Haryatie, para pengabdi presiden itu dibentak-bentak. Semua terdiam. Terlihat kepuasan di wajah Haryatie saat kejadian itu berlangsung. Benarkah kemarahan Bung Karno itu? “Ah itu hanya sandiwara. Bung Karno harus berpura-pura marah untuk mendinginkan hati istrinya,” kenang Bambang. Di lain waktu Bambang pun secara pribadi pernah menjadi sasaran kemarahan Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi, istri Bung Karno berkebangsaan Jepang. Ceritanya saat kunjungan ke Tokyo, Bung Karno dan rombongan diundang makan malam oleh seorang tokoh penting Jepang. Namun dalam catatan yang ditandatangani oleh Bambang sebagai ajudan utama, nama Dewi sama sekali tidak nampak. Tentu saja itu meyebabkan Dewi marah besar. Di hadapan Bung Karno, Bambang pun dibentak-bentak. Namun setelah dijelaskan oleh Bambang bahwa hal itu merupakan kesalahpahaman semata dan tak ada maksud sama sekali dirinya menghina Dewi, maka agak redalah kemarahan perempuan cantik itu. Padahal soal tak dicantumkannya nama Dewi di catatan peserta jamuan makan malam itu memang itu merupakan instruksi Sukarno sendiri. Kehadiran Dewi saat itu memang masih harus dirahasiakan, terutama dari istri-istri Bung Karno yang lainnya. Namun sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya dia harus terjatuh juga. Tidak selamanya Bung Karno bisa ngeles  dan jika itu terjadi maka biasanya otomatis akan memunculkan pertengkaran-pertengkaran laiknya dalam suatu rumah tangga. Situasi tersebut tentu saja membuat ajudan atau pengawal merasa serba salah. Kejadian seperti itu pernah dialami oleh Brigadir Jenderal Sabur, Komandan Resimen Tjakrabirawa. Saat mengantar Bung Karno dan Hartini ke Bogor dengan mobil, dia terpaksa harus menjadi “saksi” pertengkaran mereka berdua selama perjalanan ke Istana Bogor. Karena pertengkaran itu semakin panas, maka Bung Karno menyuruh sopir untuk merapat dulu di satu warung buah di kawasan Cibinong. Saat itulah, Priyatna Abdurrasyid, salah seorang sahabat Bung Karno yang baru saja pulang dari Kejaksaan Agung Jakarta menuju Bandung, dari mobilnya melihat Brigjen Sabur tengah berdiri sendiri di pinggir jalan. Priyatna langsung menghentikan laju kendaraannya tepat di depan Sabur. “Aya naon euy, nangtung sorangan di jalan?”  tanya Priyatna dalam bahasa Sunda. Artinya kurang lebih: Kenapa kamu berdiri mematung sendirian di pinggir jalan? “ Tuh Bapak di mobil keur pasea  (lagi betengkar) jeung Ibu,” jawab Sabur seperti dikisahkan Priyatna Abdurrasyid dalam biografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani  yang disusun oleh Ramadhan KH.*

  • Bentuk-bentuk Gerakan Protes Masa Kolonial

    PROTES menentang pengesahan Undang Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law  terus bergulir di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian besar berbentuk demonstrasi. Kadangkala berujung kerusuhan. Beberapa menyerukan pembangkangan sipil. Beberapa orang berniat protes dengan membawa UU itu ke Mahkamah Konstitusi.

  • Rasuna Said versus Pemerintah Hindia Belanda.

    Sejak pertengahan abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20, perlawanan rakyat Sumatera terhadap kolonialisme semakin masif dilakukan. Mereka semakin gencar menyuarakan ketidaksenangannya terhadap cara-cara para pejabat Hindia Belanda menjalankan pemerintahan. Ketidakadilan yang diperlihatkan pemerintah Hindia Belanda telah menyulut kemarahan rakyat di sepanjang Sumatera. Seperti Perang Padri di Sumatera Barat, Perang Aceh, Perlawanan di Sumatera Utara, hingga Pemberontakan Pajak. Api perjuangan pun sejak saat itu tidak pernah mampu lagi dipadamkan. Mengikuti jejak para pendahulunya, Haji Rangkyo Rasuna Said berusaha tetap menjaga gelora perlawanan di Ranah Minang. Ia sedikitpun tidak berkompromi dengan segala bentuk kolonialisme pemerintah Hindia Belanda di tanah kelahirannya itu. Meski cara-cara yang ia lakukan kerap kali membawa malapetaka kepadanya. Si Jago Pidato Sejak usia remaja, ketika menempuh pendidikan di Sekolah Diniyah Putri di Padang Panjang, Rasuna telah menunjukkan pemikiran-pemikiran yang progresif. Bahkan cara berpikinya itu oleh sebagian kalangan dianggap berbahaya, termasuk para guru di sekolahnya. Sehingga ia terpaksa harus meninggalkan Sekolah Diniyah Putri karena banyak murid di sana yang terlanjur menjadikan Rasuna panutan dalam berpikir dan bertindak. “Mereka, misalnya, tidak lagi mengindahkan disiplin sekolah seperti salat berjamaah setiap waktu. Mereka lebih sering pergi untuk mendengarkan pidato-pidato politik para pemimpin PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia),” tulis Jajang Jahroni dalam Haji Rangkyo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan . Selepas dari Sekolah Diniyah, Rasuna semakin aktif mengikuti pertemuan dengan tokoh-tokoh pembaharu Minangkabau dari golongan muda, termasuk Haji Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul), dan Haji Udin Rahmani. Dari merekalah Rasuna belajar tentang pentingnya kebebasan berpikir, serta pembaharuan pemikiran keagamaan. Rasuna yang mendambakan kebebasan, kemajuan, dan kemerdekaan merasa ajaran kedua gurunya itu selaras dengan cita-citanya. Ia pun tumbuh menjadi seorang yang anti penjajahan, radikal, dan kuat. Dari hari ke hari, keterampilan berdebat dan pidatonya juga semakin hebat. Memaskui tahun 1930-an, aktivitas Rasuna mulai mendapat perhatian pemerintah Hindia Belanda. Itu merupakan buntut dari kegiatan politiknya pada 1920-an. Diceritakan Sally White dalam Woman in Southeast Asian Nationalist Movements , Rasuna aktif di politik sejak 1926, dengan ikut terlibat dalam Sarekat Rakyat. Kemudian ia bergabung PERMI setelah aktivitasnya banyak dilakukan di Sumatra Thawalib. Di sana, Rasuna ditempatkan di bagian propaganda. Ia disibukkan dengan pidato dan rapat politik. “Dua tokoh yang menonjol dalam Permi yaitu Haji Moechtar Loetfi dan Rangkyo Rasuna Said. Keduanya jago berpidato. Mereka diberi julukan: Singa Minangkabau. Isi pidato mereka yang galak membuat Belanda khawatir ketenteraman umum di Sumatra Barat menjadi goncang,” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia . Musuh Pemerintah Kolonial Kemampuan berpidato Rasuna amat ditakuti pemerintah kolonial. Kata-kata yang dilontarkannya bisa menyulut semangat rakyat untuk melawan penjajahan. Bila ia datang ke satu tempat untuk berpidato, rakyat akan berbondong-bondong mendengarkan. Ceramah politik Rasuna itu diminati banyak orang. Aktivitas itulah yang membuat pemerintah Hindia Belanda menempatkan banyak agen polisi rahasia di setiap tempat yang dikunjungi Rasuna. Mereka bertugas menilai gerak-gerik Rasuna, dan melaporkan isi pidatonya. Jika dianggap berbahaya, para polisi itu akan menghentikan secara paksa ceramah Rasuna. “Tak jarang di tengah pidatonya, Rasuna dipaksa berhenti dan diturunkan dari podium. Karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda, ia dijuluki singa betina,” tulis Jahroni. Dalam laporan Jaksa Agung Hindia Belanda R.J.M. Verheijen kepada Gubernur Jenderal De Jonge tanggal 19 Mei 1933, seperti dikutip Rosihan, jaksa berpendapat cara yang mesti ditempuh untuk membendung situasi politik di Sumatra Barat hanyalah dengan melumpuhkan para pemimpinnya, dengan menginternirnya. Rasuna berada di urutan tertinggi, bersama pimpinan lainnya, tokoh yang harus disingkirkan. Tatkala Rasuna berpidato di Payakumbuh pada 1933, pemerintah Hindia Belanda telah mengincarnya. Ia direncanakan akan ditahan kemudian diinternir. Pidato Rasuna kala itu memang dianggap sangat berbahaya. Ia secara terang-terangan menyebut pemerintah Hindia Belanda melakukan upaya pembodohan dan memiskinkan rakyat, serta menanamkan jiwa perbudakan yang membuat rakyat malas dan terbelakang. Namun meski pidatonya amat keras, Rasuna tetap dibiarkan menyelesaikannya. Rupanya sehari setelah peristiwa itu, saat sedang di Bukittinggi, barulah Rasuna dijemput dan ditahan di Payakumbuh. Penangkapan itu membuat gempar Sumatra Barat. Di dalam penjara Rasuna didatangi Controleur Tanah Batak dan Ranah Minang Daniel Van der Meulen. Ia mencoba membujuk perempuan muda itu untuk keluar dari PERMI dan meninggalkan segala aktivitas pergerakannya. Van der Meulen menulis percakapan dengan Rasuna itu di dalam memoranya, Hoort gij die donder niet? “Rasuna, karena perbuatan anda sendiri, anda akan dihukum. Saya akan mengajukan hal-hal yang meringankan. Usia anda masih muda, anda berbakat pidato, wajah anda elok, tetapi semua ini tidak akan mencegah penghukuman. Pakailah waktu untuk berpikir mengenai kegagalan-kegagalan anda. Usahakan berbuat sesuatu yang baik dan janganlah kembali ke jalan politik,” ucap Van der Meulen. Namun upaya Meulen itu tidak membuahkan hasil. Rasuna secara tegas menolak untuk menyerah dan akan melanjutkan perjuangannya. Ia lalu dihukum dan masuk penjara Bulu di Semarang, Jawa Tengah. Rasuna ditahan selama satu tahun dua bulan. Pasca dibebaskan ia kembali ke Sumatera Barat, berharap bisa memulai kembali perjuangannya bersama PERMI. Namun penangkapan serta penjagaan pemerintah Belanda terhadap anggota partai itu semakin ketat dilakukan. Semangat juang di sana hampir padam. Rasuna yang melihat hal itu amat menyesalkan sikap para anggota PERMI yang tidak bernyali tersebut. Akhirnya ia memilih meninggalkan Sumatra Barat menuju Medan, Sumatra Utara. Di Medan, Rasuna mendirikan sekolah khusus putri, diberi nama Perguruan Putri. Di sekolah itu Rasuna mengajarkan tentang pentingnya peran kaum perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Ia juga mengajarkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan sama dengan kaum pria. Selain mendirikan sekolah, Rasuna juga menerbitkan majalah Menara Putri, yang secara khusus membahas soal keislaman dan keputrian. Ide tentang kaum perempuan banyak diungkapkan di majalah yang terbit sebulan sekali tersebut. “Dengan ketajaman penanya, Rasuna meniupkan kembali nafas-nafas perjuangan yang hampir mati kepada para pembacanya. Gaya tulisannya tanpa tendeng aling-aling, langsung, terang-terangan, namun jujur. Persis semboyan Menara Putri sendiri, Ini dadaku, mana dadamu,” tulis Jahroni.

  • Dihantam Pandemi Bali bak Kota Mati

    Sudah hampir delapan bulan virus corona melanda dunia. Selama itu pula semua berjibaku mengatasi virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019. Hampir semua sektor kehidupan terhantam corona. Salah satunya pariwisata. Ini bikin repot negara yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber devisa seperti Indonesia.  Hingga saat ini, Bali menjadi primadona industri pariwisata di Indonesia. Tiap tahun, jutaan wisatawan datang ke Bali. Saking terkenalnya, para wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sebuah gang yang tampak sepi di sekitar Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Daya tarik Bali adalah fenomena lampau. Provinsi yang juga terkenal dengan kopinya ini sudah menjadi primadona sejak dulu kala. Pintu masuk bagi orang asing terbuka lebar saat Bali dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke-20. Kapal Dagang Belanda (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang berlayar dengan rute Surabaya singgah ke pelabuhan Buleleng, Bali, dengan membawa rombongan turis dari Eropa. Karena permintaan untuk berlayar ke Bali meningkat, maka jalur pelayaran diubah menjadi Bali Express. Mereka juga membangun perwakilan resmi untuk pariwisata pertama di Bali bernama Official Tourist Buerau pada 1924. Pemandangan etalase toko yang tutup di kawasan sekitar Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang warga yang duduk di depan deretan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan sekitar Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pelancong dari negeri Barat lekas terkesan dengan panorama alam Bali dan kehidupan masyarakatnya. Buat mereka, Bali jadi surga yang jatuh di bumi Timur. Begitu tenteram dan eksotik. Ritme kehidupan berjalan lambat. Setiap saat adalah ritual. Sesuatu yang tak mereka dapatkan di Eropa. Kesan itu kemudian cepat menyebar ke seluruh dunia. Para pelancong lain pun berdatangan. Seniman, pelukis, penulis dan sutradara film menyinggahi Bali untuk merasakan berkarya dan berlibur di Bali. Mereka menikmati keindahan dan keunikan alam Bali, kemudian turut serta mempromosikan Bali. Begitulah pesona Bali terus mengalir. Deretan toko yang tutup di kawasan Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang warga melintas di antara kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan sekitar Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, Bali saat ini ibarat putri cantik yang tertidur. Bali ikut terhantam Covid-19. Pariwisata rontok. Kafe dan restoran tutup. Bandara I Gusti Ngurah Rai yang menjadi gerbang utama dan selalu ramai, kini tampak sepi. Jalan Legian yang biasanya begitu padat, saat ini berubah lengang. Keadaan serupa pun tampak di Seminyak. Sepanjang jalan Kuta yang biasanya dipenuhi oleh ribuan wisatawan asing dan lokal, kini kosong. Pedagang merugi. Toko-toko buka, tapi tak ada pembeli. Pengusaha ambruk. Hotel mengobral tarif menginap, tapi kamar-kamar jauh dari penuh. Bahkan tak jarang hanya menyisakan petugas keamanan untuk menjaganya. Suasana sepi di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para petugas porter barang yang biasanya sibuk kini tak tampak lagi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana sepi di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pemandangan sepi di sebuah hotel kawasan Sunset Road, Bali (Fernando Randy/ Historia.id ). “Wah ini sudah hampir 75 persen ruginya. Penjualan toko saya, tak pernah sampai separah ini,” ujar Wayan (48), seorang warga yang membuka toko baju khas Bali di pinggir jalan raya Kuta. Walau pernah diguncang terorisme, Bali tak pernah tidur lama seperti ini. Para wisatawan asing yang terpaksa tetap tinggal di Bali pun merasakan kesulitan keuangan. “Yang sekarang mulai banyak itu ‘bule’ makan di warung-warung, tidak di tempat mahal-mahal lagi,” ujar Kadek (35), sopir transportasi daring yang biasa mengantar turis asing. “Untuk saat ini, bisa makan saja sudah bagus di Bali,” lanjutnya. Orang-orang di sana berharap pandemi segera berakhir agar semua kembali seperti sediakala. Ekonomi pulih dan putri cantik itu bisa terjaga lagi. Seorang warga melintas di deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sejumlah pedangang bermain ponsel di kawasan Kuta, Bali yang sepi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pedagang baju khas Bali saat menunggu pembeli di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Dari 'Cacat' sampai 'Disabilitas'

    Setelah mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat, Omnibus Law kini mendapat kritikan dari para aktivis disabilitas. Musababnya, terdapat beberapa pasal dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang menggunakan kata "cacat". Ketua Aliansi Australia Indonesia Disability Reseach and Advocacy (AIDRAN) Slamet Thohari menyebut bahwa penggunakan kata "cacat" akan berimplikasi pada paradigma mengenai disabilitas. “Bahwa sebenarnya penyandang disabilitas itu tidak mampu, maka segala yang dilakukan oleh perusahaan atau korporat di dalam melaksanakan investasi di Indonesia itu adalah kebaikan. Ujungnya adalah charity  nanti,” kata Thohari kepada Historia . Menggunakan kata "cacat" tentu berbeda dengan "disabilitas". "Cacat" berkonotasi pada ketidakmampuan karena kekurangan seseorang baik secara fisik maupun mental. Sementara ‘disabilitas’ ialah orang yang tidak mampu karena diskriminasi serta tidak diberikan akses dan akomodasi. Sementara dalam UU Cipta Kerja, menurut Thohari, tidak memberikan berbagai prasyarat aksesibilitas dan akomodasi yang layak bagi penyandang disabilitas pada perusahaan-perusahaan yang hendak berinvestasi di Indonesia. “Itu mencangkup perspektif dan perspektif itu bisa berimplikasi pada kebijakan dan kebijakan itu pasti nanti ujungnya adalah charity . Bukan lagi menjadi kewajiban seseorang (perusahaan,  red. ) memberikan aksesibilitas dan akomodasi yang layak bagi mereka,” jelas Thohari. Menghapus "Cacat" Kata ‘cacat’ kemungkinan telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Namun pada 1954, pemerintahan Sukarno mulai mencoba menghilangkan istilah cacat dan memperkenalkan istilah baru yakni "orang yang dalam kekurangan jasmani atau rokhani". Menurut Suharto, Pim Kuipers, dan Pat Dorsett dalam “Disability Terminology and The Emergence of ‘Diffability’ in Indonesia” yang termuat dalam jurnal Disability & Society , perubahan ini merupakan konsekuensi dari rezim Sukarno yang sangat dipengaruhi oleh budaya Jawa yang menghargai kehalusan. Rezim Sukarno memang banyak menggunakan eufemisme untuk melunakkan nilai sesuatu yang dianggap kasar atau tidak sopan. Cara serupa juga digunakan untuk mengganti kata "gelandangan" dengan "tunawisma" dan "pelacur" diganti dengan "tunasusila". “Eufemisme ini juga diterapkan pada terminologi terkait disabilitas yang mengalami trial and error ,” tulis Suharto, Kuipers, dan Dorsett. Meski demikian, istilah "orang yang dalam kekurangan jasmani atau rokhani" ternyata masih terstigma sebagai aneh dan tidak berguna. Stigma ini terus berlanjut hingga masa Orde Baru berkuasa. Bahkan, mereka diasosiasikan dengan gangguan atau ketidakmampuan bertahan hidup. Pada masa ini, istilah "cacat" juga kadang-kadang muncul kembali dengan imbuhan "penderita" sehingga menjadi "penderita cacat". Pada 1992, kata "penyandang" muncul menggantikan kata "penderita". Namun masih digunakannya istilah "cacat" menggagalkan upaya menghilangkan stigma negatif dan melanggengkan gagasan kerusakan. “Pendukung disabilitas menganggap terminologi ini ofensif dan menstigmatisasi, karena ia menyamakan manusia dengan objek, seperti kursi yang rusak. Hal ini kemudian memicu ketidakpuasan banyak advokat disabilitas, terutama di Yogyakarta, yang kemudian mendorong pencarian terminologi baru yang lebih inklusif,” tulis Suharto, Kuipers dan Dorsett. Ratifikasi CRPD JIka sebelumnya perubahan kata lebih menggunakan eufemisme, kali ini transformasi sosial menjadi alasan perlunya terminologi baru. Para aktivis disabilitas kemudian mulai mencari istilah baru untuk menghapus istilah "cacat" yang diskriminatif. “Kalau orang-orang memberikan kita label buruk, itu akhirnya kita menjadi buruk. Padahal sebenarnya itu tidak ada. Itu hanya konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat. Maka kemudian teman-teman tahun 90-an hingga tahun 2000an perlahan-lahan mulai mengganti penyebutan dengan 'difabel', differently abled people ,” terang Slamet Thohari. Reformasi dan kemudian terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai presiden keempat membuka peluang baru. Hak asasi manusia menjadi pendekatan baru dalam pembangunan nasional. Hal ini memberi angin sejuk bagi advokasi hak-hak disabilitas terutama terkait akses terhadap layanan dasar dan partisipasi dalam pembangunan nasional. Melalui Undang-Undang No. 19 Tahun 2011, pemerintah Indonesia melakukan ratifikasi Convention on The Rights of Persons with Disabilities (CRPD) atau Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Sejak itu, istilah "cacat" dihapus dan diganti dengan "penyandang disabilitas". “Akhirnya istilah itu disepakati menghapus semua kata 'cacat'. Semua undang-undang, turunan maupun undang-undang setelahnya akan menggunakan istilah 'penyandang disabilitas',” jelas Thohari. Istilah "disabilitas" diharapkan dapat mengubah stigma bahwa mereka bukan orang yang tidak normal, tidak mampu, kekurangan, lemah dan sebagainya. “Jadi disabilitas itu bukan kecacatan tapi hanya sesuatu yang menjadi bagian dari identitas. Seperti people with glasses, people with long hair dan seterusnya,” terang Thohari. Terkait UU Cipta Kerja, Thohari telah mengirimkan surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga ke Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Namun, hingga artikel ini terbit, ia belum mendapat respon apapun.

  • Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7

    KONSPIRASI. Mulai dari Martin Luther King Jr. hingga Robert Francis ‘Bobby’ Kennedy, pembunuhan yang mengakhiri hidup keduanya itu tak luput kontroversi. Dua tokoh kemanusiaan itu sama-sama jadi “martir” di tahun yang sama, 1968. King dibunuh pada 4 April, sementara Bobby pada 6 Juni. Cuplikan-cuplikan foto dan video tentang nahasnya kedua tokoh tersebut dijadikan gerbang masuk oleh sutradara Aaron Sorkin untuk menggambarkan iklim politik Amerika Serikat yang pada 1968 jadi salah satu titik krisis politik paling panas. Klimaksnya adalah kerusuhan di sela Konvensi Partai Demokrat di Chicago, 28 Agustus, yang berbuntut pada sebuah persidangan kontroversial yang juga jadi tajuk drama historis garapan Sorkin, The Trial of the Chicago 7 . Alur cerita lantas melompatkan ke lima bulan pasca-kerusuhan. Pada suatu pagi, Richard Schultz (diperankan Joseph Gordon-Levitt) bersama seniornya sesama jaksa penuntut Distrik Selatan Negara Bagian Illinois, Thomas Foran, menanti dengan sabar di sebuah ruang tunggu di Kementerian Kehakiman Amerika. Diiringi bertubi-tubi bunyi mesin ketik milik seorang sekretaris di hadapannya, jaksa Schultz yang terbengong segera tersadar kala seseorang mengganti sebuah foto besar di dinding ruangan. Foto Presiden Lyndon B. Johnson ditukar foto Richard Nixon, presiden terpilih pada Pilpres Amerika 1968. Setelah itu, jaksa Foran dan Schultz dipanggil ke ruangan jaksa agung federal yang baru, John N. Mitchell. Isu penting yang diobrolkan ketiganya adalah soal kerusuhan yang menurut Mitchell bukan hanya soal kericuhan yang dimulai oleh pihak Kepolisian Chicago, melainkan ada unsur konspirasi. Kasus tersebut ingin diajukan pemerintah federal via Kementerian Kehakiman untuk menjerat delapan aktivis yang – All-Star  dari kelompok-kelompok radikal kiri yang menggalang massa untuk melawan kebijakan Perang Vietnam yang terus digulirkan pemerintahan Presiden Johnson– diduga sebagai provokator dan dalang kerusuhan. Mitchell menganggap janggal sejumlah perusuh yang ditangkap tak diajukan ke muka hukum untuk diganjar lebih tegas, tapi hanya dinyatakan bersalah terkait masuk tanpa izin ke tempat tertentu hingga merusak sarana publik. Mitchell ingin perilaku seperti itu tak lagi terulang dan ia ingin para dalang kerusuhan diadili untuk dijadikan contoh. Begitulah argumentasi Mitchell pada Schultz dan Foran yang akan ditugasi sebagai ujung tombak pihak penuntut. Dakwaan pelanggaran hukum yang bakal jadi “senjatanya” adalah pasal 2101 ayat 18 dari “Undang-Undang Rap Brown” alias Civil Obedience Act of 1968 (UU Ketertiban Umum tahun 1968). Inti dari pasalnya adalah konspirasi lintas batas negara bagian untuk menciptakan kekerasan dengan ancaman pidana 10 tahun penjara. Adegan para aktivis HAM dan anti-Perang Vietnam yang diajukan ke pengadilan ( netflix.com ) Schultz sontak mengernyitkan dahi kala diserahkan tumpukan berkas berisi data delapan aktivis yang akan diajukan ke muka hukum, semisal Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen) dan Jerry Rubin (Jeremy Strong) yang mendirikan Yippies/Partai Pemuda Internasional, David Dellinger (John Carroll Lynch) sang pemimpin MOBE/Komite Mobilisasi Nasional untuk Mengakhiri Perang Vietnam, dan Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II) si ketua Partai Black Panther. Schultz keberatan lantaran jika tuntutan ini dibawa ke pengadilan, pemerintah justru akan dianggap mengekang hak kebebasan berpendapat. Namun Mitchell bersikeras agar Schultz dan Moran membawa kedelapan aktivis yang acap merongrong kepentingan pemerintah itu diseret ke pengadilan. Kedua jaksa yang ditugaskan itu juga diwajibkan untuk bisa mencari siapa dalang utamanya. Mitchell tak peduli dengan pernyataan awal bahwa provokator kerusuhan adalah pihak polisi. Ia ingin “membuktikan” sebaliknya bahwa dalang utamanya pasti dari kedelapan aktivis itu. Kasus itu akhirnya diajukan ke Pengadilan Negeri Chicago, Illinois, dipimpin Hakim Julius Hoffman (Frank Langella) dalam kasus “69 CR 180: United States of America vs David T. Dellinger, et al ”. Tujuh dari delapan terdakwa diwakili pengacara William Kunstler (Mark Rylance). Sidang pertama digelar pada 20 Maret 1969 dan bergulir secara maraton hingga 151 hari persidangan. Di pertengahan, terdakwa Bobby Seale diputuskan akan disidang secara terpisah hingga membuat julukan “Chicago Eight” berganti jadi “Chicago Seven”. Persidangan dagelan itulah yang ingin disampaikan sang sineas kepada penonton. Untuk mengetahui bagaimana intrik-intrik dan dinamika persidangannya berjalan, lebih baik Anda tonton sendiri The Trial of the Chicago 7. Walau sempat ditayangkan di beberapa bioskop di Amerika secara terbatas pada 25 September 2020 lantaran masih situasi pandemi COVID-19, film ini bisa disaksikan via platform daring Netflix mulai 16 Oktober 2020. Cerminan Alam Demokrasi Kekinian The Trial of the Chicago 7 bisa jadi pilihan menarik karena selain disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik 2020, film ini bisa mewakili keadaan sosial-politik yang terasa saat ini. Emosi penonton akan dibawa naik-turun oleh beragam adeganyang diiringi music scoring garapan komposer Daniel Pemberton yang kuat menghadirkan suasana era itu. Garansi itu bukan tanpa sebab. Sorkin sebelumnya gemar menggarap film drama biopik berbau isu sosial, baik sebagai penulis naskah maupun sutradara. A Few Good Men (1992), The American President (1995), Charlie Wilson’s War (2007), hingga The Social Network (2010) merupakan di antara karya-karyanya. Drama serial seperti The West Wing (1999-2006), dan The Newsroom (2012-2014) juga hasil garapannya. Tak heran bila lewat film ini Sorkin bisa menyelaraskan nuansa iklim politik pada 1968 dengan apa yang terjadi dalam demokrasi saat ini, terutama sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika ke-45 pada 2017. Pembangkang kaum sipil sebagai reaksi dari ancaman kriminalisasi bagi hak kebebasan berpendapat dan maraknya rekayasa dalam proses hukum menjadi nuansa yang kental mewarnai dua era berbeda tersebut. Satu adegan kontroversi Hakim Julius Hoffman (kanan) melarang belasan juri mendengarkan kesaksian mantan Jaksa Agung Amerika, Ramsay Clark (kiri) yang menjadi saksi kunci ( netflix.com ) Entah disengaja atau tidak, The Trial of the Chicago 7 rilis beberapa bulan pasca-banjir aksi protes “Black Lives Matter”, yang juga memicu kekerasan aparat, dan satu bulan jelang Pilpres Amerika (3 November 2020). Menariknya, perkara serupa tak hanya terjadi di Amerika. Di Hong Kong , Thailand, dan Indonesia demonstrasi massal juga pecah baru-baru ini. Dalam The Trial of the Chicago 7 , Sorkin mempersepsikan Trump seperti Walikota Chicago Richard M. Daley yang menghalalkan segala cara, termasuk kekerasan, agar aksi massa yang digalang delapan aktivis tak mengganggu Konvensi Partai Demokrat di International Amphitheatre, 26-29 Agustus 1968. “ The Trial of the Chicago 7 memang tidak sepenuhnya dimaksudnya hanya tentang 1968. Filmnya juga dimaksudkan terkait yang terjadi hari ini. Aktivitas Jerry Rubin dan Abbie Hoffman juga paralel dengan isu-isu yang diedarkan di media sosial yang lebih deskriptif untuk membangkitkan pembangkangan di antara para pemuda yang awam. Kita ingin tahu bagaimana orang-orang yang menjadi oposan itu akhirnya terinspirasi untuk melawan pihak yang lebih kuat,” terang Sorkin dalam wawancaranya dengan Vogue , 25 September 2020. Greget The Trial of the Chicago 7 makin terasa dengan penampilan all-out semua aktornya. Selain penampilan apik perlawanan pengacara William Kunstler yang dimainkan Mark Rylance, Sorkin juga salut terhadap akting Jeremy Strong yang memerankan Jerry Rubin. “Saya tak tahu aktor lain yang sehebat dia (memerankan Kunstler, red. ). Namun saya juga tak tahu aktor lain sehebat Jeremy Strong. Dia mengajukan diri untuk bisa terkena gas air mata sungguhan dalam adegan kerusuhannya. Kebanyakan pemeran ekstra sebagai polisi dalam film juga dimainkan aparat Kepolisian Chicago yang sedang tak bertugas. Jeremy juga minta mereka bertindak kasar padanya secara betul-betul, bukan akting belaka,” imbuhnya. Meski begitu, The Trial of the Chicago 7 tak 100 persen akurat dalam fakta. Ada beberapa dramatisasi di dalamnya. Eksistensi Daphne O’Connor (Caitlin FitzGerald), agen FBI yang menyamar untuk menyusup ke kelompok para aktivis itu dengan berpura-pura jatuh cinta pada Jerry Rubin, misalnya. Adegan kerusuhan Chicago 1968 yang para ekstrasnya dimainkan polisi betulan ( netflix.com ) Faktanya, tokoh Daphne murni fiksi. Fakta historis juga menunjukkan tak ada sosok perempuan di antara para pemimpin kelompok aktivis itu. Daphne direkonstruksi dari sosok Robert Pierson, aparat Kepolisian Chicago. Sorking “menukar” sosok Pierson dengan Daphne untuk mengisi kekosongan tokoh perempuan agar filmnya tak terlalu maskulin. Dramatisasi juga dilakukan dalam adegan jalannya persidangan. Sebagian ada yang ditambahkan sebagai bumbu penguat agar dramanya bisa lebih terasa gregetnya. Contohnya adegan ketika Tom Hayden menyebutkan satu per satu dari 4.500 tentara Amerika yang tewas di Vietnam dalam persidangan terakhir sebelum vonis. Adegan itu tak ada dalam persidangan asli. “Di akhir film saya ingin Anda (penonton) merasakan harapan dengan sangat jelas. Bahwa pergerakan hak sipil pada 1960-an memang berjalan pedih dan tak semestinya harus dialami lagi, walau yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Seperti membangun sebuah rumah. Ketika hampir selesai, sekelebatan angin berhembus dan merobohkannya lagi,” tandas Sorkin. Sosok Pengacara Kontroversial Hal terpenting dari kekurangan The Trial of the Chicago 7 adalah latar belakang Kunstler (Mark Rylance), pengacara HAM paling kontroversial di era 1960-an. Bila latar belakang delapan terdakwa mendapat ruang, Sorkin tak menyediakan sedikit pun untuk Kunstler yang  sampai merelakan waktu, tenaga, dan emosinya dalam pengadilan itu tanpa dibayar. Sorkin hanya memberi secuil clue soal latar belakang Kunstler. Padahal, figur kelahiran New York, 7 Juli 1919 itu sejak tahun 1957 sudah menjadi pengacara bagi orang-orang yang dikriminalisasi. Saat itu ia membela William Worthy, aktivis cum koresponden suratkabar Baltimore Afro-American . Sejak saat itu Kunstler memantapkan diri untuk jadi pengacara HAM bagi para aktivis yang dikriminalisasi. Salah satu yang diadvokasinya adalah H. Rap Brown alias Hubert Gerold Brown alias Jamil Abdullah al-Amin, mantan anggota Partai Black Panther yang jadi ketua Komite Koordinasi Pelajar Anti-Kekerasan. Sosok pengacara HAM William Moses Kunstler (kiri) yang diperankan aktor kawakan Mark Rylance (Stanford University Library/netflix.com) Kunstler merasa makin “hidup” setelah terjun mengadvokasi perkara-perkara HAM, terutama setelah bertemu Dr. Martin Luther King Jr. pada 1961 di Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan. Di forum itu, King menyuarakan “Freedom Riders”, gerakan untuk menghapuskan pemisahan berdasarkan ras di bus-bus. “Fred Marks, salah satu teman dekat Kunstler, mengenang: ‘Ia benar-benar hidup dalam pergerakan HAM. Inilah yang sepanjang hidupnya ia selalu kejar. Pergerakan HAM menghadirkan energi tersendiri dalam hidupnya,’” tulis David J. Langum dalam William M. Kunstler: The Most Hated Lawyer in America . “Periode 1962-1965 Kunstler praktis hidup di atas pesawat, terbang dari selatan, kemudian kembali lagi ke New York, di manapun terjadi kriminalisasi terhadap aktivis. Kunstler menganggap dirinya sebagai pengacara keliling dalam tradisi kolonial Amerika. Kunstler juga sering berpartisipasi dalam kampanye-kampanye King di Albany, Georgia (1962-1963; Danville, Florida (1964), Birmingham, Alabama (1963); dan St. Augustine, Florida (1964).” William Kunstler (kanan) jadi salah satu kuasa hukum Dr. Martin Luther King Jr. sejak 1961 (Library of Congress) Di kota-kota itulah Kunstler mendampingi para aktivis yang ditangkap dan dimejahijaukan, hingga mengatur pembebasan bersyarat. Bersama istrinya, Lotte, Kunstler acap terlibat dalam aksi penggalangan dana untuk kampanye-kampanye HAM warga Afro-Amerika. “Berdasarkan reputasinya sebagai advokat HAM itulah, Dr. King memintanya menjadi anggota tim khusus kuasa hukum SCLC pimpinan King yang artinya, harus selalu siap kapanpun jasanya dibutuhkan. Permintaan itu jadi awal hubungan keduanya selama beberapa tahun sepanjang aktivitas King,” ungkap Leonard S. Rubinowitz dalam A Notorious Litigant and Frequenter Jails: Martin Luther King, Jr., His Lawyers and the Legal System. Pada 16 Desember 1961, King ditangkap bersama 700 aktivis pasca-berdemonstrasi di Albany yang berujung kerusuhan yang dipicu kekerasan aparat sehari sebelumnya. Kunstler mengadvokasinya namun gagal membebaskan King yang divonis kurungan 45 hari atau denda USD178 pada Juli 1962. King memilih dibui dan bahkan menolak uang jaminan pembebasan bersyarat. Latar belakang itu jadi penting buat memahami betapa geramnya Kunstler dalam persidangan “The Chicago Seven”. Protes-protes kerasnya membuatnya beberapa kali masuk catatan tindakan penghinaan di muka sidang. Ilustrasi terdakwa Bobby Seale yang dirantai di kursinya dalam ruang sidang, karya Howard Brodie (Library of Congress) Ledakan kemarahan Kunstler terakhir yakni kala melihat terdakwa Bobby Seale disiksa petugas keamanan yang diperintah hakim untuk “penertiban persidangan” pada 30 Oktober 1968. Setelah disiksa, Seale kembali didudukkan di kursi terdakwa dengan disekap mulutnya serta tangan dan kakinya dirantai ke kursinya. Hakim merasa terganggu atas protes-protes Seale. Seale protes karena persidangan berjalan tanpa pengacaranya, Charles R. Garry, yang absen karena sedang naik meja bedah. Permintaan Seale untuk membela diri pun ditolak hakim. “Yang Mulia, apakah kita bisa menghentikan penyiksaan era abad pertengahan yang terjadi di ruang sidang ini? Saya pikir ini memalukan. Ini bukan lagi pengadilan yang beradab. Melainkan ini adalah ruang penyiksaan abad pertengahan!” kata Kunstler dalam The Trial of the Chicago 7: The Official Transcript yang dirangkum Mark L. Levine dkk. Data Film: Judul: The Trial of the Chicago 7 | Sutradara: Aaron Sorkin | Produser: Stuart M. Besser, Matt Jackson, Marc Platt, Tyler Thompson | Pemain: Sacha Baron Cohen, Eddie Redmayne, Joseph Gordon-Levitt, Frank Langella, Mark Rylance, John Carrol Lynch, Jeremy Strong, Michael Keaton, Yahya Abdul-Mateen II | Produksi: Paramount Pictures, DreamWorks Pictures, Cross Creek Pictures, Marc Platt Productions | Distributor: Netflix | Durasi: 130 Menit | Rilis: 16 Oktober 2020 (Netflix)

  • Ketika Sukarni Berkerudung

    Pada 1952, Sukarni selaku ketua Partai Murba mengajak Husein Yusuf, jurnalis Suara FONI yang pernah menjabat sebgai Ketua Umum Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Kalimantan Timur, ke Balikpapan untuk napak tilas. Sukarni akan menemui teman-teman lamanya ketika bekerja di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Lebih-kurang tiga tahun Sukarni tinggal di Kalimantan, tempat dia berkenalan dengan Yusuf. Selama di Kalimantan, ia pindah-pindah tempat untuk menghindari endusan dan penangkapan aparat PID. Aktivitas politiknya di Indonesia Muda (IM) dan Parindra yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dianggap pemerintah kolonial amat meresahkan. Akibat aktivitas politiknya itu, kata Sukarni kepada Yusuf, dia dijadikan target penangkapan. “Dari informasi yang didapatnya Belanda telah siap untuk menangkapnya, dan akan mengasingkannya ke Boven Digul di Nieuw Guinea (sekarang Irian Jaya),” kata Yusuf dalam testimoninya, “Maidi di Kalimantan”, yang terhimpun di buku Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya . Pengejaran itu membuat Sukarni harus sering berpindah tempat dan juga mengganti identitas. Dengan penyamaran itu dia akhirnya mencapai Banjarmasin. Di Banjarmasin, Sukarni menggunakan nama samaran Maidi. Maidi berdagang soto untuk menghidupi dirinya dan menghindari endusan aparat kolonial. Setelah berdagang soto, Maidi berdagang es. Setelah itu, Maidi pindah ke Murungpudak dan bekerja sebagai kuli di BPM. Pekerjaan itu membawanya ke Sangasanga dan Maidi memutuskan menetap di sana. Dia kemudian berganti profesi menjadi jongos di rumah manajer area BPM. Dari sinilah mungkin Maidi mendapat info atau “katabelece” sehingga bisa ke Balikpapan dan bekerja sebagai kuli ukur di Dinas Topografi milik BPM. Maidi yang berpenampilan lusuh kerap dihina kawan-kawannya. Mereka menganggap Maidi takkan bisa membaca buku-buku berbahasa Belanda. Namun, ejekan itu tak pernah diambil hati oleh Maidi. Dia malah bergaul karib dengan mereka sehingga tugas-tugasnya pun lebih ringan dikerjakan. Karena kepandaiannya baca-tulis bahasa Belanda, jabatan Maidi pun diangkat menjadi calon juru ukur ( leerling opnemer ). Namun, karier itu bukan yang utama bagi Maidi. Baginya yang terpenting adalah menghindari penangkapan sambil terus menambah kader perjuangan. Maka kawan-kawannya yang terdekat kemudian dijadikan kader olehnya meski Maidi tak mau membuka identitasnya. Jumlah kadernya terus bertambah seiring bertambahnya tempat di Kalimantan yang dikunjunginya untuk memetakan tempat-tempat yang potensial kandungan minyaknya sehubungan dengan pekerjaannya. Maka ketika Maidi ditangkap aparat PID pada 1940, kawan-kawannya banyak yang kaget. Mereka tak pernah menyangka Maidi yang selama ini diejek itu merupakan orang hebat yang “licin”. Mereka baru kembali bertemu Maidi yang sudah berterus terang sebagai Sukarni pada 1952. “Semua kawan-kawan seperjuangannya pada pertemuan tersebut meminta maaf kepada Sukarni atas perlakuan mereka kepadanya. Mereka selalu menghina dan mengejek Sukarni,” kata Yusuf. Alih-alih sakit hati atau pongah menerima maaf mereka, Sukarni justru berterimakasih. Sukarni menganggap mereka telah membantunya sehingga penyamarannya lama diketahui oleh aparat kolonial. “Andaikata Saudara-saudara tidak menghina dan mengejek saya, mungkin penyamaran saya dapat diketahui oleh Belanda dan kemudian saya segera akan ditangkap. Jadi Saudara-saudara telah membantu saya dan menyelamatkan saya. Dan karena itu saya mengucapkan terima kasih,” kata Sukarni dikutip Yusuf. Kawan-kawan Sukarni itu tak pernah tahu bahwa sebelum penyamaran Maidi ada penyamaran-penyamaran Sukarni sebelumnya. Sebelum ke Kalimantan, Sukarni menjadi pedagang tembakau di pantura Jawa Barat yang biasa menjajakan dagangannya di pelabuhan. Karena berhasil mengambil hati seorang juragan kapal, dia kemudian diizinkan menumpang kapal si juragan ke Banjarmasin. Sebelumnya lagi, Sukarni menyamar sebagai orang Madura untuk mencapai Surabaya dari Jakarta. Penyamaran Sukarni dimulai setelah penggerebekan kantor pusat IM oleh PID pada 1936. Sukarni selaku ketua IM berhasil lolos dan kemudian keluar dari Jakarta.   “Dia meninggalkan Jakarta pakai kerudung menyamar seperti wanita, wajahnya yang ‘ayu’ itu membantu penyamarannya. Dia berlagak sebagai sepasang suami-istri dengan Sudjono,” kata Nyonya Soetarman, rekan Sukarni di IM, dalam testimoni di buku yang sama, “Gara-Gara Sukarni Saya Dikejar-Kejar PID”.

  • Persahabatan Omar Dani-Sri Mulyono Herlambang

    Ketika diajak semobil oleh Presiden Sukarno keliling Bogor, sekitar 8 Oktober 1965, Menpangau Laksdya Omar Dani duduk bersebelahan dengan Menteri Negara Laksda Sri Mulyono Herlambang. Di Istana Batu Tulis, tempat perjalanan itu berakhir, Dani dan Herlambang teringat rencana lama yang gagal.  "He, lahan di sebelah itu kan tanah yang tidak jadi kita beli karena harganya terlalu tinggi itu kan?" kata Dani membuka obrolan. "Ya...ya...! Untung tidak jadi. Kalau jadi, kan kita menjadi tetangga Presiden," jawab Herlambang sebagaimana dikutip Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani . Kisah santai seperti itu yang menjadi bagian dari persahabatan Dani-Herlambang hilang setelah G30S pecah. Dani maupun Herlambang sejak itu lebih sering berurusan dalam soal serius. Keduanya lalu sama-sama menjadi pesakitan. Dani dan Herlambang bersahabat sejak keduanya sama-sama menjadi bagian dari 60 calon penerbang dan navigator AURI yang dikirim untuk mengikuti pendidikan di Taloa Academy of Aeronautics (TAA) di Bakersfield, California, pada 1950. Karier keduanya terus menanjak selulusnya dari TAA. Dani bahkan belum 40 tahun ketika dipilih Presiden Sukarno menjadi panglima Angkatan Udara menggantikan Laksamana Udara Suryadi Suryadarma. Posisi tersebut membuat Dani makin leluasa mendorong Herlambang mengembangkan kariernya. “Sejak Omar Dani ditunjuk oleh Presiden untuk menggantikan Laksamana Udara Suryadarma sebagai Men/KSAU pada Januari 1962, Omar Dani berhasrat untuk meng-‘ groom’ , mempersiapkan S.M. Herlambang untuk menggantikannya empat tahun kemudian,” tulis Benedicta-Soeparno. Ketika Dani meminta Herlambang menjadi Deputi Operasi-nya, Herlambang menolak karena merasa belum siap. Dani lalu mempercayakan tugas-tugas politik kepada Herlambang. Selain ikut dalam perundingan tingkat atas dengan Belanda soal Irian Barat, Herlambang diikutsertakan dalam berbagai urusan diplamasi, termasuk ketika Waperdam I Soebandrio safari ke Afrika. “Sewaktu Bung Karno menghadiri peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika pada tahun 1965 di Aljazair, Pak Herlambang dan Pak Boediardjo juga ikut ke sana,” kata Dani, dikutip Aristides Katoppo dkk. dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 . Herlambang akhirnya menerima jabatan Deputi Operasi Menpangau setelah malang-melintang di urusan politk. Jabatan itu baru dilepaskannya ketika dia diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri Negara, Mei 1965. Di posisi inilah Herlambang menjadi “jembatan” antara Dani dan presiden karena menurut Dani, sejak Juni 1965, untuk menemui presiden sangat sulit. “Saya dengar, misalnya dari Bambang Soepeno sewaktu menjabat di Kotrar (Komando Retooling Aparatur), dia juga merasa begitu. Tetapi untung masih ada Pak Herlambang di sana,” kata Dani, dikutip Katoppo dkk. Maka segala urusan AURI yang berkaitan dengan presiden Dani percayakan kepada Herlambang. Termasuk ketika Dani mengajukan pengunduran diri karena situasi politik memburuk akibat G30S dan AURI dipojokkan, surat pengunduran dirinya disampaikan melalui Herlambang. Herlambang pula yang membawa jawaban presiden bahwa permohonan mundur Dani ditolak. Pada 13 Oktober 1965, keduanya bersama beberapa petinggi AURI berdiskusi dalam “Musyawarah AURI” untuk mencari pemecahan atas permasalahan yang ada. Keduanya sama-sama menginap di Tanah Abang Bukit, Mabes AURI, malam setelah musyawarah itu. Dalam obrolan sebelum tidur di ruang tamu Menpangau, Dani sempat mengutarakan perasaannya. “Kok saya merasa akan disuruh ke luar negeri oleh Bung Karno. Kalau benar, saya kira kau yang akan dipilih Bung Karno untuk mengganti saya,” kata Dani, dikutip Benedicta-Soparno. “Masak, saya kan sudah menteri?” kata Herlambang. “Soalnya bukan itu. Bung Karno sudah mengenalmu sejak kau dan Santo jadi VIP pilot pribadi Bung Karno pada pesawat ‘Dolok Martimbang’, dan Bung Karno percaya padamu, maka dijadikan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden. Aku yakin kaulah yang akan dipilih untuk menggantikanku.” Apa yang dikatakan Dani terbukti. Herlambang esoknya memberitahu Dani bahwa surat perintah pergi ke luar negeri untuk Dani telah ditandatangani presiden. Keesokannya, 15 Oktober 1965, Herlambang ditunjuk menjadi Menpangau ad interim . Atas upaya Herlambang, Dani diperkenankan presiden untuk berpamitan. Upacara pelepasan Dani, 19 Oktober 1965, juga diadakan oleh Herlambang. Namun setelah itu, keadaannya berbeda. Tak ada lagi tawa Herlambang dalam hari-hari Dani.  Sepulang dari Kamboja, negeri terakhir yang dikunjungi Dani dalam “safari” luar negerinya, Dani langsung dikenai tahanan rumah di Cibogo. Sementara, Herlambang juga ditahan selepas jabatan Menpangaunya diserahkan kepada Rusmin Nuryadin pada Maret 1966. Keduanya baru bertemu tanpa bisa bicara di Instalasi Rehabilitasi Nirbaya. Dani lebih dulu menjadi penghuni Nirbaya (24 Mei 1966). Saat di Nirbaya itulah pada suatu sore di awal Juni 1966, Dani dikagetkan dengan kedatangan sebuah sedan AURI. Sedan itu menuju Blok Nusa, blok paling selatan di kamp penahanan itu. Jaraknya sekitar 100 meter dari Blok Amal yang ditempati Dani. Antara Blok Nusa dan Amal terdapat Blok Bakti. Dani tak tahu siapa gerangan orang AU yang mengikutinya menjadi tahanan politik di Nirbaya itu. Namun setelah berupaya keras mengenali penghuni baru berbaju penerbang yang jaraknya amat jauh itu mendekat ke arahnya, Dani akhirnya yakin penghuni baru itu adalah Herlambang. Dani yang gembira sekaligus trenyuh langsung melambaikan tangan dan mendapat balasan lambaian tangan Herlambang. Sebagai tahanan yang diisolasi, Dani langsung diperintahkan oleh CPM penjaga kamp agar kembali ke kamarnya begitu kepergok melambaikan tangan kepada Herlambang. Komunikasi jarak jauh tanpa lambaian tangan yang Dani lakukan dengan Herlambang setiap jam 9 pagi mulai esoknya pun akhirnya diketahui penjaga. Tak lama kemudian, petugas memasangi kawat pembatas blok dengan anyaman bambu. Pandangan matapun tak bisa menembusnya.  “Maka setelah itu, Omar Dani tidak bisa melihat kawannya, Sri Muljono Herlambang lagi. Jadi terbentuklah Omar Dani yang sepi. Isolasi tersebut telah membuat kidung sunyi itu menjadi semakin menyayat,” Benedicta dan Soeparno.

bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bg-gray.jpg
Sukses menjadi penyanyi di Belanda, Sandra Reemer amat didukung ayahnya yang mantan serdadu KNIL di Bandung.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje pergi ke Jeddah dan Makkah untuk mengamati dan menggali informasi mengenai umat Islam dari Hindia Belanda.
bg-gray.jpg
Hidayat Martaatmadja memutuskan pensiun dari KNIL setelah menyaksikan penindasan Belanda terhadap bangsanya. Dia beperan dalam pendirian PDRI.
bg-gray.jpg
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
bottom of page