Hasil pencarian
9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- 9 Martir Gerakan Mahasiswa Indonesia
GERAKAN mahasiswa kembali berkibar. Kerisauan rakyat dalam mencari kebenaran dan keadilan seolah terwakilkan oleh aksi mahasiswa dan pelajar pada Selasa (24/9) lalu di depan Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta. Tidak hanya di Jakarta, semangat tak terbendung para pemuda itu juga bergejolak di berbagai daerah, seperti Bandung, Yogyakarta, Medan, Makassar, Garut, dan lain-lain. Meski terpisah, tujuan mereka tetap sama: menolak RUU KUHP dan RUU KPK. Akibat aksi-aksi penentangan itu, telah jatuh puluhan korban. Diberitakan jawapos.com , hingga Selasa malam jumlah korban yang masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan, mencapai 87 orang. Kepala Humas RSPP Agus Susetyo menjelaskan umumnya para korban yang dirawat mengalami kondisi sesak napas akibat gas air mata. “Para korban tersebut di antaranya terdiri dari 66 pasien statusnya pasien hijau, kemudian 14 pasien status kuning, dan satu pasien status merah,” ucap Agus. Serangkaian peristiwa ini seolah membuka kembali kenangan tentang sejumlah aksi mahasiswa yang berakhir dengan jatuhnya korban jiwa. Mereka pun dikenang sebagai martir demokrasi Indonesia. Satu yang tidak mungkin dapat dilupakan adalah Arif Rachman Hakim. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini tewas dalam suatu demonstrasi besar menentang pemerintahan Sukarno di depan Istana Negara pada Februari 1966. Selain Arief, tercatat beberapa mahasiswa telah gugur dalam berbagai upaya perjuangan melawan ketidakadilan. Inilah 9 di antaranya. Aksi mahasiswa saat berdemo di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Julius Usman Tahun 1966 Bandung dilanda kepanikan. Bentrok antara mahasiswa (UNPAD, ITB, dan UNPAR) dengan sekelompok massa berseragam serba hitam di Jalan Merdeka tidak dapat dihindarkan. Pangkal permasalahan berasal dari pidato Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1966 saat peringatan 21 tahun Republik Indonesia. Si Bung menyebut adanya gerakan dari suatu kaum, yang ia sebut revolusiner palsu, yang berusaha menjatuhkan dirinya. Ia pun menyerukan ajakan untuk terus maju dan bergerak sesuai dengan amanat Proklamasi 17 Agustus 1945. Rupanya ucapan Sukarno itu diartikan oleh para loyalis setianya sebagai perintah untuk menghancurkan kelompok-kelompok anti-Sukarno. Dan sasaran utamanya adalah para mahasiswa yang memang sejak beberapa tahun belakangan melakukan kritik keras kepada pemerintahan Sukarno. Pada 19 Agustus 1966, massa pro-Sukarno bergerak ke sejumlah markas organisasi mahasiswa di Bandung. Mereka melengkapi diri dengan senjata api dan senjata tajam. Siang hari, markas KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) di Jalan Lembong berhasil diduduki. Begitu juga markas KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Sejumlah mahasiswa yang sedang berada di lokasi pun menderita luka-luka akibat penyerangan tersebut. Selain markas organisasi mahasiswa, massa juga menyasar bangunan-bangunan kampus. Di Jalan Ganeca, mahasiswa ITB dan Resimen Mahasiswa Batalion I Mahawarman membentuk barisan keamanan. Di sekitar Jalan Dipati Ukur UNPAD, Resimen Mahasiswa Batalion II Mahawarman juga sudah bersiap menghadang massa. Sementara itu di Jalan Merdeka, massa pro-Sukarno berusaha menerobos masuk ke bangunan kampus UNPAR. Menurut Zainuddin Nurdin, dosen UNPAR yang saat itu menjadi mahasiswa fakultas ekonomi angkatan 1963, dalam “50th Anniversary of Julius Usman Death 1966” dimuat Majalah Parahiyangan Vol III No.3 , situasi di depan kampus UNPAR begitu kacau. Massa yang berkumpul melepaskan sejumlah tembakan ke arah bangunan. “Waktu itu ada dua orang mahasiswa yang terkena tembakan dan seorang pegawai kampus yang juga mahasiswa tingkat akhir dari fakultas ekonomi, yakni Julius Usman,” kenang Zainuddin. Julius Usman merupakan mahasiswa tahun terakhir yang sedang dalam proses pengerjaan skripsi. Saat kejadian ia bersama-sama dengan staf dan mahasiswa, serta anak-anak Batalion III Mahawarman, bahu membahu menghalau massa yang ingin menduduki dan merusak bangunan kampus. Sebelum sebuah peluru menembus tubuhnya, Julius sedang berada di lantai 2, di ruang administrasi. Saat mendengar rentetan suara tembakan, ia bergegas turun menghampiri kawan-kawannya yang masih bertahan di depan gerbang kampus sambil membawa kotak P3K. Ketika membuka pintu gerbang, seseorang melepaskan tembakan ke arahnya. Julius pun roboh. Orang-orang disekitarnya berusaha membantu. Namun sayang nyawanya tidak dapat tertolong. Julius Usman kemudian ditetapkan sebagai “Pahlawan Ampera” oleh Panglima Kodam VI/Siliwangi Mayjen H.R. Dharsono. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Pihak Universitas Parahiyangan pun memberinya gelar doktorandus anumerta . “Untuk mengenang almarhum, sebuah gedung yang dipakai sebagai markas gerakan pelajar dan mahasiswa di Kota Bandung dinamai Gedung Julius Usman,” tulis Taufik Abdullah, dkk dalam Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian II Konflik Lokal. Para mahasiswi yang ikut berdemo di Senayan Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Rene Conrad Tradisi memanjangkan rambut di kalangan mahasiswa memancing polemik pada 1970-an. Aturan tanpa undang-undang melarang keras mereka mereka yang berambut gondrong. Jika masih membangkang, polisi bersenjata gunting yang berkeliaran di kota tak segan memotong rambut mereka langsung di tempat. Aturan tak berdasar itu tentu tidak dapat diterima. Pada Agustus-September 1970, para mahasiswa ITB Bandung bereaksi. Rum Aly dalam Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter: Gerakan Kritis Mahasiswa Bandung di Panggung Politik Indonesia 1970-1974 , menyebut bahwa pertentangan itu dimotori oleh suatu pernyataan dari Dewan Mahasiswa ITB, ditandatangani Ketua Umum Sjarif Tando dan Sekertaris Umum Bambang Warih Kusuma, yang mengecam pengguntingan rambut itu sebagai: pemerkosaan hak-hak asasi perseorangan. Di tengah memanasnya polemik rambut gondrong ini, pejabat polisi dan pihak ITB berinisiatif mendinginkan suasana dengan menggelar pertandingan persahabatan antara mahasiswa ITB dengan para taruna Akademi Kepolisian. Pertandingan sepak bola itu diselenggarakan pada 6 Oktober 1970 di dalam kampus ITB. Sial bagi para taruna. Dua gol yang dilesakkan para pemain Kesebalasan ITB tidak dapat dibalas. Alhasil mereka dipecundangi di hadapan suporter lawan yang sedari tadi mengolok-olok mereka dengan berteriak-teriak, "Ayo gunting rambut gua," seraya membawa-bawa gunting cukur. Saat pertandingan berakhir, bentrokan antar kedua kelompok anak muda itu pun tak bisa lagi dibendung. “Dalam tawuran itu sudah terdengar bekali-kali suara tembakan. Para taruna rupanya membawa senjata yang digunakan untuk melepas tembakan ke atas,” tulis Rum. Sorenya, para taruna yang telah puas dibuat malu itu pun pulang. Di tengah jalan truk-truk yang mengangkut mereka berpapasan dengan motor Harley Davidson yang dikendarai seorang mahasiswa ITB. Belakangan diketahui namanya Rene Louis Conrad. Ia tidak tahu apa-apa soal pertandingan persahabatan tersebut. Rene yang sedang berboncengan dengan kawannya tiba-tiba dihujani ludah dari truk para taruna itu. Tidak terima, Rene pun bereaksi. Ia bertanya berulang kali, tetapi tidak ada yang mengaku. Kesal, Rene pun menantang. “kalau berani turun!” Dendam dari pertandingan sebelumnya masih terbawa. Para taruna turun menerima tantangan Rene. Ia dan kawannya dikeroyok hingga Rene meregang nyawa. Beruntung, kawannya berhasil lolos karena para taruna fokus melumat Rene yang dianggap paling reaktif. Pengeroyokan Rene sebenarnya disaksikan oleh mahasiswa lain yang sedang ada di sekitar lokasi. Tetapi saat akan membantu mereka dihadang oleh anggota-anggota Brigade Mobil (Brimob) yang berjaga di sekitar kampus. Bahkan mereka yang memaksa dihadiahi pukulan hingga harus dibawa ke rumah sakit. Mahasiswa dan Pelajar Bandung mengecam keras tindak pengeroyokan yang merenggut nyawa Rene itu. Mereka menentang keberadaan para polisi dan meminta keadilan atas peristiwa tersebut. Pada 9 Oktober 1970, diadakan apel di kampus ITB untuk melepas jenazah Rene kepada keluarganya. Rene dikebumikan di Jakarta. Pada 1972 proses hukum atas tewasnya Rene dijalankan. Seorang brigadir polisi bernama Djani Maman Surjaman ditetapkan sebagai tersangka, padahal pelaku sebenarnya adalah para taruna. Meski mendapat pembelaan dari Adnan Buyung Nasution, Djani tetap divonis 1 tahun 6 bulan penjara. Sementara itu, para taruna yang terlibat baru diproses hukum pada 1973-1974. Mereka sendiri saat itu telah berdinas di kepolisian. Dan dari sekian banyak taruna yang terlibat, hanya 8 orang yang dijadikan tersangka. Tiga Mahasiswa Makassar Gelombang protes terhadap kekuasaan pemerintah Soeharto klimaksnya memang terjadi pada Mei 1998 di Jakata. Namun di beberapa daerah pergolakan telah dimulai sejak permulaan tahun 1990-an. Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu daerah yang paling bergejolak. Banyak kasus pertentangan terhadap pemerintah yang segera direaksi dalam suasana panas. Tahun 1996 tiga mahasiswa Makassar menjadi korban dalam protes menentang kebijakan kenaikan tarif angkutan umum. Mereka adalah Syaiful Bya (21) dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar; Andi Sultan Iskandar (21) dan Tasrif (21). Dua nama terakhir adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi UMI. Ketiganya tewas dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Syaiful ditemukan di Sungai Pampang dengan penuh luka bekas pukulan benda tumpul, terutama di bagian dada dan belakang tubuhnya. Kemudian Andi ditemukan dalam kondisi luka tusukan benda tajam di bagian kiri dadanya. Sementara Tasrif ditemukan di Sungai Pampang. Ia diduga dipukul benda keras sebelum akhirnya ditenggelamkan. Menurut penuturan Arqam Azikin, Wakil Ketua Senat FISIP UNHAS (1994-1995) sekaligus aktivis 1998 dari Makassar, dilansir idntimes.com , peristiwa AMARAH (April Makassar Berdarah) dipicu oleh dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Perhubungan tentang kenaikan tarif angkutan umum, yang ditindaklanjuti oleh Surat Keputusan Walikota Makassar tentang penyesuaian tarif angkutan umum di Makassar. Kebijakan itu dianggap oleh para mahasiswa memberatkan masyarakat. Keadaan ekonomi negara yang sedang terpuruk akan membebani rakyat jika tarif tersebut diubah. Mahasiswa pun akhirnya merespon kebijakan tersebut dengan aksi-aksi yang keras. Ujungnya, gabungan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di Makassar. Pada 8 April 1996 mahasiswa yang tergabung dalam Forum Pemuda Indonesia Merdeka (FPIM) menggelar mimbar bebas di UMI. Kemudian setelah mendapat massa, mereka bergerak ke kantor DPRD Sulawesi Selatan agar SK itu dicabut. Aksi mahasiswa dilanjut pada 22 April 1996. Kali ini mereka membawa massa lebih banyak. Suasana yang sebelumnya damai berakhir menjadi tegang. Aksi demo pun diakhir bentrokan antara mahasiswa dengan aparat (polisi dan tentara). Setelah kejadian inilah, 3 orang mahasiswa tersebut dilaporkan menjadi korban. Moses Gatutkaca Kematian Moses Gatutkaca di awal1998 hingga kini masih diliputi kabut misteri yang telampau pekat. Tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab atas tewasnya mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Sanata Dharma Yogyakarta itu. Moses ditemukan bersimbah darah di depan pertokoan di Jalan Mrican, Sleman, Yogyakarta. Luka di belakang kepalanya menunjukkan ia tewas akibat pukulan benda tumpul. Orang-orang yang menemukannya mengira ia tewas di tempat sehingga tidak segera membawanya ke rumah sakit. Belakangan diketahui Moses dan seorang temannya terjebak di kerumunan massa yang dikejar oleh aparat. Ia saat itu sedang mencari makan malam di sekitar Jalan Gejayan yang tengah membara akibat gelombang demonstrasi massa gabungan dari mahasiswa Yogyakarta menentang pemerintahan Soeharto. Puncak demonstrasi terjadi pada 8 Mei 1998. Ribuan mahasiswa UGM mengadakan aksi di gerbang kampus. Di lokasi lain, mahasiswa IKIP (kini UNY) dan Universitas Sanata Dharma juga ikut berdemonstrasi. Meski mendapat larangan keras dari aparat keamanan, IKIP dan Universitas Sanata Dharma berusaha menggabungkan diri dengan mahasiswa UGM. “Mahasiswa mengetahui bahwa itu tidak boleh, dan aparat keamanan tidak membolehkan mahasiswa meninggalkan kawasan kampus. Ketika mahasiswa terus melangkah, perkelahian polisi dan mahasiswa pun terjadi mulai jam 5 sore,” tulis Samusu Rizal Panggabean dalam Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia . Polisi menggunakan meriam air, gas air mata, dan pentungan. Sedangkan mahasiswa bersenjatakan batu dan bom molotov. Berbagai fasilitas publik pun hancur akibatnya. Mahasiswa yang berhamburan terus dikejar aparat. Moses yang sedang disekitar lokasi dikira sebagai salah satu demonstran. Ia pun segera menjadi bulan-bulanan aparat. Moses terpisah dari temannya yang diketahui berhasil selamat. Ia tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Panti Rapih. “Pada malam itu, Moses Gatotkaca ditemukan tewas di Jalan Gejayan. Dokter yang memeriksanya mengatakan kematiannya disebabkan luka di kepala. Puluhan mahasiswa masuk rumah sakit,” tulis Samusu. Yap Yun Hap Gejolak reformasi tampaknya belum benar-benar hilang dari benak sebagian rakyat Indonesia. Meski telah beberapa bulan berlalu dan tampuk pimpinan juga sudah berganti, nuansa Orde Baru masih kental terasa. Hal ini khususnya terjadi sepanjang September 1999. Mahasiswa di beberapa wilayah Indonesia, yang masih ada dalam euforia 1998, kembali melakukan aksi demonstrasi menolak kebijakan penguasa yang dianggap memberatkan. Peristiwa tewasnya mahasiswa Universitas Indonesia, Yap Yun Hap, yang terkenang dalam narasi sejarah sebagai Tragedi Semanggi II memicu kecaman keras dari seluruh mahasiswa. Petang 24 September 1999 massa aksi demonstrasi menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) berkumpul di sekitar Kampus Atma Jaya, Semanggi. Yap dari kampusnya di Depok segera bergabung dengan massa dari universitas lain yang telah berada di sana. Harian Kompas 28 September 1999, menyebut sedari petang hingga pukul 8 malam sekitar 300-an massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat sedang bersantai di sekitar lokasi. Tidak ada keributan apapun. Polisi pun banyak berjaga di sana. Sekira pukul 20.30, suara tembakan tetiba memecah ketenangan. Dari kejauhan tampak iring-iringan mobil tentara bergerak ke arah Semanggi. Ketika mendekat, rentetan senjata semakin aktif dilontarkan. Sontak massa aksi lari berhamburan. Para mahasiswa berusaha mencari perlindungan ke dalam kampus Universitas Atma Jaya dan Rumah Sakit Jakarta (RSJ). Sempat beberapa orang demonstran mencoba melawan dengan senjata seadanya. Yap yang sebelumnya bersama dua kawannya, Arif dan Kokom, terpisah. Dua kawan Yap itu berhasil bertemu kembali di RSJ pukul 22.30, tetapi Yap tidak diketahui keberadannya. Hingga tengah malam mahasiswa UI itu masih hilang. Arif dan Kokom baru mendapatkan kabar Yap pukul 00.30. Namun betapa terkejutnya mereka saat mengetahui kawannya itu telah terbujur kaku di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Menurut berita Kompas pihak UGD RSCM mengkonfirmasi Yap masuk pukul 21.30. “Dari hasil pemerikasaan forensik oleh dr Agus P dan dr Jaya dari RSCM disebutkan bahwa korban meninggal akibat penembakan dengan menggunakan peluru tajam. Peluru tersebut juga diperlihatkan kepada saksi-saksi mahasiswa.” Semua pihak mengutuk aksi aparat yang selalu menggunakan cara represif dalam menghadapi para demonstran. Kematian Yap kembali menjadi duka mendalam bagi iklim demokrasi Indonesia, setelah sebelumnya empat mahasiswa dalam Tragedi Trisakti (1998) dan 17 korban di Tragedi Semanggi (1998). Dua Mahasiswa Lampung Sebagai reaksi tewasnya Yap Yun Hap di Jakarta, mahasiswa di beberapa tempat di Indonesia (termasuk di Lampung) menggelar aksi demonstrasi yang lebih besar. Aksi solidaritas itu dilakukan untuk menuntut keadilan atas tewasnya kawan mereka dari UI itu. Mereka juga semakin keras menentang penetapan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB), yang dianggap jauh dari semangat demokrasi. Mereka khawatir pengesahan RUU itu akan memberi peluang menguatnya kembali Dwi Fungsi ABRI. Pada 28 September 1999 gabungan mahasiswa Lampung, termasuk di dalamnya Universitas Lampung (UNILA) dan Universitas Bandar Lampung (UBL), bergerak menuju Makoramil Kedaton. Posisinya persis di depan kampus UBL. Mereka meminta Koramil mengibarkan bendera setengah tiang dan mendesak komandan Koramil menandatangani dukungan penolakan RUU PKB. Namun ditolak. Setelah berunding, disepakati massa akan bergerak ke kantor kegubernuran. Mereka akan mendesak gubernur mendukung tuntutan mereka. Namun mendadak situasi di sekitar markas Koramil menjadi kacau. Bentrokan mahasiswa dengan aparat tidak terhindarkan. Massa yang tidak mempersenjatai diri mereka lari berhamburan. Meski telah masuk ke dalam kampus UBL, aparat tetap memburu para mahasiswa ini. Mereka dipukul, ditembak, dan ditangkap. Bahkan kendaraan dan bangunan di dalam kampus juga dirusak oleh aparat yang membuas. Dalam suasana yang tidak terkendali itu, dua mahasiswa UNILA ditemukan meregang nyawa. Mereka adalah Muhamad Yusuf Rizal, mahasiswa FISIP UNILA; dan Saidatul Fitriah, yang saat kejadian sedang meliput untuk surat kabar kampusnya. Yusuf tewas akibat tembakan senjata tajam di leher dan dadanya. Sementara Saidatul tewas setelah kepalanya dipopor oleh senjata aparat.
- Para Penjaga Hutan Zaman Kuno
Sebuah pengumuman ditujukan kepada pancatanda yang berkuasa di Turen, dan pejabat lainnya seperti wedana, juru, dan buyut. Seruan juga ditujukan kepada penduduk di sebelah timur Gunung Kawi, baik yang berada di timur maupun di barat sungai. Pengumuman itu sehubungan dengan kedudukan warga Katiden yang meliputi sebelas desa. “Oleh karena mereka menjaga alang-alang ( hangraksa halalang ) di Gunung Lejar, mereka dibebaskan dari segala macam pajak, dibebebaskan dari jalang palawang , taker turun , demikian pula tahil dan segala macam titisara dibebaskan…,” sebut sisi bagian depan Prasasti Katiden II. Dari prasasti itu, kata sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, penduduk di wilayah satuan desa ( wisayapumpunan ) Katiden mendapat anugerah berupapembebasan pajak, melakukan perburuan, mengkonsumsi tanaman, pemanfaatan kayu gaten dan telur penyu. Mereka diberikan hadiah itu lantaran berjasa menjaga ilalang. “Maksud ‘menjaga alang-alang’ sangat mungkin untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, yang kerap disebabkan terbakarnya ilalang kering pada puncak kemarau,” kata Dwi. Menurut pembacaan L.C. Damais, peneliti École Française d'Extrême-Orient (EFEO), prasasti itu ditulis pada 17 Juli atau 15 Agustus 1395 dari masa Majapahit. “Tergambar bahwa kala itu adalah musim kemarau, ketika ilalang di Gunung Lejar dalam kondisi kering dan karenanya rentan terbakar,” kata Dwi. Menurut Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Wilwatikta Prana , wilayah Katiden mungkin adalah desa wilayah hutan di lereng gunung. Kawasan itu juga masih banyak dihuni hewan buruan. Pada masa lalu, nampaknya orang-orang yang tinggal dekat hutan biasanya mengemban tugas dari pemerintah sebagai penjaga. Desa yang ada wilayah hutannya akan mempunyai petugas khusus bernama tuha alas. Ahli epigrafi, Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti menjelaskan jabatan tuha alas tak akan ditemukan di desa-desa lain yang tak punya wilayah hutan. “Jabatan di desa yang satu tak sama dengan di desa yang lain. Itu tergantung dari keadaan geografi dan ekologi desa yang bersangkutan,” tulisnya. Tuha alas atau Tuhālas sebutannya dalam prasasti, kiranya dapat disamakan dengan mantri kehutanan. Alas sama artinya dengan hutan. Keberadaannya sudah ada sejak masa Mataram Kuno (Medang). Di antaranya disebutkan dalam prasasti dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi (856-883) dan Rakai Watukura Dyah Balitung (901-910) yang menyebut macam-macam jabatan pejabat desa. Contohnya, berdasarkan Prasasti Mulak I (878) terdapat jabatan tuha alas atau pengawas hutan yang dijabat oleh perempuan. Pejabat tersebut bernama si Amwarī ibu dari Harī. “Tiga kain untuk lelaki jenis Raṅga . Pejabat pengairan ( hulu air) dua orang, yaitu Si Tahun bapak dari Yukti, Si Tajam bapak dari Danī, Pangawas hutan ( tuha alas ) bernama si Amwarī ibu ( re ) dari Harī, Pejabat pertanian ( hulu wras ) dua orang yaitu Si Wanua...” sebut prasasti itu. Lalu sejumlah prasasti lain yang Rakai Kayuwangi keluarkan seperti Prasasti Tunahan (873), Jurungan (876), Haliwangbang (877), Mamali (878), Kwak I (879), dan Taragal (880). Selain disebut Tuha Alas ( Tuhālas ), pengawas hutan pada masa itu disebut pula dengan istilah Katuhālasan . Pejabat kehutanan juga masih ada pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung. Namun, istilahnya pasuk alas yang secara harfiah berarti pagar atau batas hutan. Ini disebut dalam Prasasti Barsahan (908) dan Prasasti Kaladi (909). Prasasti Kaladi menyebut pejabat pasuk alas sebagai salah satu Mangilala Drawya Haji . Mereka adalah abdi dalem kerajaan yang hidupnya digaji oleh pemerintah. Bersamaan dengan penyebutan petugas tuha alas sering pula didapati petugas yang disebut tuha buru. Petugas ini mengatur perburuan hewan di hutan. Dia mencegah perburuan yang tak terkendali. Dengan adanya petugas khusus, nampaklah kalau pada masa lalu, perburuan dan pemanfaatan hasil hutan telah diatur ketat oleh penguasa. Mereka harus memiliki izin khusus. Hal itu juga yang terlihat dari isi Prasasti Katiden I yang kemudian ditegaskan ulang oleh Prasasti Katiden II. Sebagaimana disebutkan dalam prasasti itu, penduduk Katiden diberi izin untuk berburu segala jenis hewan dan mengumpulkan makanan dari tumbuhan di hutan. Agus mengatakan sangat mungkin ada alasannya sehingga raja memberikan izin itu. “Supaya jangan menindak penduduk Katiden ketika mereka melakukan perburuan,” jelasnya. Sementara menurut Dwi, kemungkinan besar karena jasa mereka menjaga hutan dari kebakaran. Mereka yang menjaga, mereka juga yang bisa mendapat manfaatnya.
- Cara Kuno Mengawetkan Makanan
Memasak makanan merupakan salah satu cara manusia mengawetkan makanan. Penemuan api pada masa prasejarah ikut berperan dalam usaha manusia mencegah makanannya busuk. Cara mengawetkan makanan sudah dikenal sejak masa neolitik. Caranya dengan dijemur, disalai, diasinkan, dan dibumbui. Cara-cara itu berlanjut pada masa Hindu-Buddha. Beberapa makanan yang diawetkan disebutkan dalam beberapa prasasti, khususnya dari masa Jawa Kuno. Demikian dijelaskan oleh peneliti dari Balai Arkeologi Medan, Churmatin Nasoichah dalam “Pengawetan Makanan: Upaya Manusia dalam Mempertahankan Kualitas Makanan (Berdasarkan Data Prasasti Masa Jawa Kuno)” yang terbit di Jejak Pangan dalam Arkeologi . Misalnya, dalam Prasasti Taji (901) disebutkan makanan yang diproses dengan cara diasinkan. Disebut pula daging asin yang dikeringkan. Prasasti Panggumulan I (902) menyebut tumpukan ikan yang diasinkan, seperti dendeng kakap, dendeng bawal, ikan asin kembung, ikan layar atau pari, udang, hala-hala, dan telur. Kemudian Prasasti Watukura I (907) menyebut ikan kakap yang dikeringkan. Pun Prasasti Rukam (907) yang menyebut berbagai ikan yang dibuat dendeng. Sementara dalam Prasasti Sangguran (928) disebutkan telur yang dikeringkan. Telur yang dikeringkan dan daging asin juga disebut dalam Prasasti Jeru-Jeru (930), Prasasti Alasantan (939), dan Prasasti Paradah II (943). Churmatin menjelaskan, pada masa Jawa Kuno, proses pengawetan makanan masih sangat bergantung pada alam. Kalau melihat yang disebutkan dalam prasasti, jenis makanan yang biasa diawetkan adalah ikan, yaitu ikan kakap, ikan bawal, ikan duri, ikan kembung, ikan layar atau ikan pari, udang, ikan gabus, daging hanan, dan telur. Semua itu seringkali diproses dengan cara dikeringkan. Sementara yang diasinkan di antaranya ikan-ikanan dan daging. Ikan yang diasinkan disebut dengan istilah grih . “Ikan asin atau gěreh dalam bahasa Jawa. Sampai sekarang istilah ini masih dipakai oleh orang Jawa,” tulis Churmatin. Adanya teknik pengawetan dengan cara diasinkan menunjukkan pembuatan garam sudah dikenal pada masa Jawa Kuno. Khususnya pada masyarakat pesisir. Itu dibuktikan lewat Prasasti Bililuk I (1366 M) yang ditemukan di Biluluk, Lamongan. Prasasti itu menyebut ada sumber air asin di Desa Biluluk tempat orang membuat garam. Setiap pendatang diperbolehkan membuat garam dengan membayar sejumlah pajak tertentu yang ditarik penguasa Biluluk. Tak cuma diasinkan, masyarakat kuno juga memadukan teknik pengasinan dengan pengeringan. Produknya biasanya dikenal dengan nama ikan kering. Masyarakat Jawa Kuno menyebut ikan kering adalah ḍeŋ atau ḍaiŋ , artinya dendeng atau ikan yang dikeringkan. Pengasapan Ada juga proses pengolahan makanan dengan cara diasap. Makanan yang biasanya diasap adalah daging. Namun, data prasasti hanya sedikit menyebut makanan yang diasap. “Mungkin karena tekniknya kurang begitu dikenal masyarakat waktu itu,” tulis Churmatin. Kendati sudah dikenal sejak zaman dulu, teknik pengolahan makanan yang diasap tak banyak berubah. Tekniknya konon tanpa disengaja. Umumnya waktu itu manusia mengawetkan daging dan ikan dengan cara dikeringkan di bawah sinar matahari. Namun pada musim hujan dan musim dingin mereka mengeringkannya dengan bantuan api. “Pengaruh asap pun tidak dapat dihindarkan, maka dikenalah satu cara pengawetan dengan teknik pengasapan,” tulis Churmatin. Pada masa Perang Dunia II, produk ikan dan daging asap kian populer. Kalau semula hanya untuk pengawetan, saat itu ikan dan daging asap menjadi usaha pengolahan yang disengaja. Rasa dan aroma yang dihasilkan dari proses itu, pun warna dan teksturnya menjadi tujuan pengolahan. “Dengan teknik pengasapan, makanan mempunyai cita rasa asap dan warnanya kecoklatan atau kehitaman. Selain aromanya sedap tekstur ikan atau daging pun menjadi masak dan siap disantap,” tulis Churmatin. Secara ekonomi, cara pengolahan ikan atau daging asap lebih mudah dikerjakan. Biayanya pun relatif murah. Dibandingkan dengan ikan atau daging asin, makanan yang diasapi harga jualnya relatif lebih mahal. “Kalau dilihat dari pertimbangan percukupan gizi masyarakat, ikan atau daging asap jauh lebih tawar sehingga dapat disantap dalam jumlah lebih banyak dari pada ikan dan daging asin,” tulis Churmatin. Makanan-makanan olahan itu bukan cuma menjadi produk rumahan. Ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Titi Surti Nastiti dalam Pasar Masa Jawa Kuno , menjelaskan produk-produk olahan itu juga menjadi komoditas yang dijual di pasar-pasar desa, termasuk pasar di daerah pegunungan. Di antaranya ada ikan asin, dendeng ikan, terasi, dan garam. “Ikan asin, dendeng ikan, dan terasi merupakan hasil produksi daerah pesisir, sedangkan garam hasil produksi daerah pedalaman dan pesisir,” tulis Titi. Dalam sistem perdagangan Jawa Kuno, dikenal satuan ukuran khusus untuk komoditas ikan asin. Istilahnya kujur, sebagaimana disebut dalam Prasasti Waharu I atau Jenggolo (929). Dalam prasasti lain disebutkan bahwa jumlah ikan asin yang didagangkan secara eceran tidak boleh lebih dari tiga kabayan.
- Makanan Buat Para Demonstran
AKSI demonstrasi mahasiswa kerap kali menuai simpati. Setelah lelah berorasi dan unjuk rasa, ada saja masyarakat yang beriniasiatif menyediakan mereka makanan. Dalam aksi demo kemarin, selebgram Awkarin tersorot publik membagi-bagikan nasi kotak kepada mahasiswa yang turun ke jalan. Entah pencitraan atau bukan, tidak diketahui persis apa motif Awkarin. Ribuan mahasiswa saat berdemo di gedung DPR/MPR Jakarta. (Foto:Fernando Randy/Historia) Bagi-bagi makanan untuk para demonstran sudah lazim terjadi pada pertengahan 1960-an. Ketika itu gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) bersatu menumbangkan rezim Sukarno. Aksi mahasiswa skala besar terjadi pada 10 Januari 1966. Demo yang mirip pameran kekuatan inilah yang kemudian melahirkan Tritura: bubarkan PKI, rombak kabinet, dan turunkan harga. Masyarakat turut serta membantu mahasiswa dengan cara membagikan makanan. Bentuk solidaritas tersebut bisa dilakukan secara spontan ataupun suplai yang terencana. “Ada orang-orang bersimpati ke kita, mereka kirim makanan. Karena itu, kita tidak pernah kekurangan makanan,” tutur Cosmas Batubara dalam Pengumpulan Sumber Sejarah Lisan: Gerakan Mahasiswa 1966 dan 1998 . Cosmas tahu persis karena saat itu dirinya berkedudukan sebagai ketua Presidium KAMI. Menurut Cosmas bentuk sumbangan yang berasal dari masyarakat bermacam-macam. Ada nasi dengan lauk pauknya. Ada pula yang hanya memberikan buah-buahan. “Terasa sekali dukungan dari masyarakat luas,” katanya. Kolega Cosmas, Fahmi Idris juga menuturkan pengalaman senada. Fahmi saat itu menjabat Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI sekaligus aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Soal kebutuhan logistik, Fahmi mengakui kelompoknya mendapat makanan dari mahasiswi yang bersimpati. “Beberapa mahasiswi yang mengirim kita makanan untuk kelompok kita itu. Makanannya enak-enak,” kata Fahmi masih Pengumpulan Sumber Sejarah Lisan: Gerakan Mahasiswa 1966 dan 1998. Fahmi mengenang, kelompoknya mendapat perlakuan istimewa dari mahasiswi. Bersama 14 orang kawannya, Fahmi beruntung disuguhi makanan lezat seperti roti, telur, dan susu. “Waduh makanan orang sekolahan kita bilang. Kalau yang lain kan cuma nasi bungkus gitu kan. Tapi bagus makanannya, tersuplai tuh kita. Pagi dan malam. Kemudian ada lagi satu grup donatur yang nyumbang siang, besar sampai berlimpah-limpah tuh makanan,” tutur Fahmi. Selama berbulan-bulan mendemo, pasokan makanan terhadap mahasiswa tetap berlangsung lancar. Arief Budiman, terkenang pada momen berkesan dalam kiprahnya sebagai aktivis mahasiwa Fakultas Psikologi UI bertitimangsa 12 Maret 1966. Waktu itu, Arief Budiman bersama ribuan demonstran sesama mahasiswa berkeliling Jakarta naik truk bersama RPKAD, tentara Divisi Siliwangi, dan pasukan Kostrad. Tiba-tiba mereka dilempari berpuluh-puluh ikat buah rambutan. Panen rambutan itu ibarat pawai kemenangan setelah Presiden Sukarno menyerahkan kekuatan lewat Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). “Inilah yang membuat penyair Taufik Ismail membuat sajak 'rambutan' pada istrinya. Semua itu terbayang kembali ketika saya (di masa tua -red) terduduk lelah pada sebuah kursi rotan yang sudah rusak menghadapi dua ikat rambutan yang dimakan bersama-sama,” kenang Arief Budiman dalam Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965—2005 . Hingga di masa awal Orde Baru, demonstrasi mahasiswa masih menggeliat walau tidak masif. Menteri Penerangan Boediardjo (periode 1968—1973) pernah menyaksikan sekumpulan mahasiswa mendemo Departemen Penerangan. Mereka datang berbondong-bondong menimbulkan hingar-bingar. Untuk meredam ketegangan, Boediardjo terpaksa putar akal dengan membiarkan mahasiswa masuk untuk berdialog. “Sesekali saya ajak mereka makan bersama, sekedar meredakan amarah mereka,” kenang Boediardjo dalam dalam memoarnya Siapa Sudi Saya Dongengi . Sekali waktu Boediardjo mengajak para pentolan mahasiswa demonstran untuk makan di kediamannya di Jalan Teuku Umar 32. Beberapa diantara mereka adalah tokoh mahasiswa yang disegani dalam angkatan 1970-an: Julius Usman dan Asmara Nababan. Nama terakhir melontarkan protes kepada sang menteri. “Pak Boediardjo jahat. Kami mau berontak malah dikasih makan. Bagaimana kami bisa marah?” ujar Asmara Nababan dengan hati luluh. Pendemo dan yang didemo itu pun lantas menyantap hidangan dalam meja makan yang sama. Dalam aksi "menduduki" gedung DPR MPR pada 19-22 Mei 1998, soal makanan ini pun bukan masalah bagi para mahasiswa. Yusup, salah satu aktivis mahasiswa 1998 mengenang bagaimana makanan dan minuman selalu tersedia setiap waktu saat mereka berdemonstrasi di Gedung DPR/MPR Senayan. "Salah satu yang gua masih ingat adalah kumpulan emak-emak yang berhimpun dalam SIP (Suara Ibu Peduli) pimpinan Bu Karlina (Supeli) yang hampir tiap hari selalu kasih kami makan," kenang karyawan swasta di sebuah perusahaan besar tersebut. Bahkan selain makanan, pasokan sabun, pasta gigi dan handuk pun mengalir lancar ke posko-posko mahasiswa di seluruh Indonesia. Yusup masih ingat, hampir tiap hari posko yang dia tempati di kawasan Pejaten dan Depok selalu didatangi bapak-bapak dan ibu-ibu berpenampilan "borju" lengkap dengan mobil-mobil bagusnya. "Mereka rata-rata kasih kami kebutuhan sehari-hari, semisal beras, telur dan mie instan," pungkas Yusup.
- Ada Apa di Area 51?
SUDAH beberapa dekade belakangan umat manusia penasaran dengan makhluk dari angkasa luar yang tenar disebut alien. Disinyalir, bukti pesawat alien tersimpan dalam sebuah fasilitas rahasia Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS) yang populer disebut Area 51. Fasilitas “super” rahasia ini diserbu ribuan penggila alien dari seluruh dunia pada 20-22 September 2019. Los Angeles Times Minggu (22/9/2019) melaporkan, sekira tiga ribu orang berkemping, trekking , berpesta dengan harapan bisa melihat dan bertemu alien di sekitar fasilitas yang berdekatan dengan Kota Hiko di Negara Bagian Nevada itu. Ribuan enthusiast itu tak hanya dari segenap penjuru Amerika, melainkan juga dari Prancis, Jerman, Rusia, Peru, Swedia, hingga Australia. Mereka datang gegara menanggapi posting- an lelucon seorang netizen, Matty Roberts, di Facebook pada 27 Juni 2019. Ia mengunggah ajakan bertajuk, “Storm Area 51, They Can’t Stop All of Us”. Posting -annya mengglobal hingga memicu respon “ going ” dari dua juta orang. Para pemburu alien mendatangi basis militer rahasia Area 51 (Foto: Facebook "Storm Area 51: They Can't Stop All of Us") Kementerian Pertahanan AS sampai memberi ancaman tembak di tempat bagi siapapun yang mencoba mendekati pagar pembatas fasilitas. Pasalnya fasilitas itu berada di dalam Kompleks Nevada Test and Training Range AU Amerika yang tak sembarang orang boleh mendekat. Namun hingga berakhirnya “serbuan” itu pada Minggu, 22 September, tak terjadi apapun. “Kami tak menemukan alien. Tapi kami menemukan kedamaian dan persahabatan,” ujar Connie West, pemilik sebuah penginapan Little A’Le’Inn yang juga menggelar festival kecil buat para “penyerbu” Area 51, dikutip Los Angeles Times . Kawah Candradimuka Teknologi Spionase Sudah jadi rahasia umum bahwa Area 51 tempat disembunyikannya UFO (Unidentified Flying Object) alias pesawat alien. Banyak peneliti alien menganggap, AU Amerika memanfaatkan teknologi alien untuk membangun alutsista canggih. “Area 51 adalah teka-teki. Sangat sedikit yang paham apa yang terjadi di sana dan jutaan orang ingin tahu. Terlalu banyak Area 51 dianggap sebagai Shangri-La-nya sistem spionase dan pesawat tempur canggih. Bagi publik, tempat itu jadi dunia bawah tanah alien dan UFO-UFO yang disembunyikan,” sebut jurnalis investigasi Annie Jacobson dalam laporan yang dibukukan, AREA 51: An Uncensored History of America’s Top Secret Military Base. Sebagai “pabrik” alutsista spionase canggih sejak masa Perang Dingin, Area 51 sangat kental dengan aktivitas CIA (Central Intelligence Agency) alias Badan Intelijen Amerika. Butuh waktu nyaris enam dekade buat CIA berkenan membuka dokumen rahasia tentang Area 51 meski harus melewati cek keredaksian amat ketat. Pada 25 Juni 2013, CIA melalui The National Security Archive membuka informasi eksistensi situs itu berdasarkan FOIA (Freedom of Information Act). Dokumen rahasia itu menunjukkan, fasilitas rahasia itu dibangun sejak April 1955. Disebutkan pula dalam dokumen itu, program-program alutsista spionase yang dibuat antara lain adalah pesawat intai supersonic D-21 Tagboard, pesawat tempur siluman F-117 “Nighthawk”, dan pesawat intai Lockheed U-2 Dragon Lady. Fasilitas militer bernama asli Homey Airport berkode KXTA –namun CIA lebih sering menyebutnya Groom Lake– itu mulanya areal tak bertuan yang mulai dikenal segelintir pencari tambang timbal perak pada 1864. Enam tahun berselang, situs itu dikuasai perusahaan tambang Inggris Groome Lead Mines Limited. Situs tambang itu lalu dialihfungsikan menjadi landasan udara mulai 1942 dengan nama Indian Springs Air Force Auxiliary Field. Di masa Perang Dunia II, Area 51 lebih banyak dipakai untuk mengetes beragam persenjataan, termasuk ujicoba nuklir. Setelah adanya kerjasama antara pabrikan pesawat Lockheed dan CIA dalam mengembangkan pesawat intai lewat Project AQUATONE pada 1955, situs itu dipilih oleh desainer pesawat U-2 Kelly Johnson dan Direktur CIA Richard Bissell, Jr. untuk tempat proyek.Sejak itu peruntukan Area 51 semata untuk Project AQUATONE, yang dengan kerjasama dengan AU AS lalu melahirkan pesawat intai ultra-altitude U-2 dengan kode “Dragon Lady”. Alasannya pemilihan Area 51 yakni situs itu sudah jadi situs rahasia ujicoba senjata sebelumnya. Meski program itu dijalankan CIA dan Lockheed, fasilitasnya masih dalam penguasaan AU lantaran lokasinya masih di dalam Kompleks Nevada Test and Training Range milik AU Amerika. Pengembangan U-2 kala itu menghabiskan ongkos USD950 ribu per unit. Pesawat yang bisa terbang hingga ketinggian 21 ribu meter itu jadi salah satu tulang punggung spionase AS dalam Perang Dingin. Ia menjadi mata AS terhadap Uni Soviet, Kuba, hingga Vietnam. Pesawat intai ultra-altitude U-2 buatan Lockheed yang dikembangkan CIA dan AU Amerika (Foto: The National Security Archive) Pesawat berawak satu itu digerakkan dengan mesin berkipas turbo General Electric F118-101. Dengan mesin itu, U-2 bisa melesat dengan kecepatan maksimal 456 knot (659 km/h). Ia lolos tes terbang pada debutnya pada 1 Agustus 1955. Namun, diungkap peneliti American Institute of Aeronautics and Astronautics Paul A. Suhler dalam From Rainbow to Gusto: Stealth and the Design of the Lockheed Blackbird , dalam misi pertama melayang di udara Uni Soviet pada 5 Juli 1956 U-2 gagal menghindar dari radar musuh. Saat itu U-2 dipiloti Carmin Vito dan terbang dari Smolenks menuju Moskva. Rutenya tertangkap radar A-100 “Kama” milik Soviet. Beruntung, di wilayah Moskva Soviet tak punya misil anti-pesawat udara yang mumpuni untuk meng- intercept misi itu. Misil S-25 Berkut Soviet saat itu tak ditempatkan di Moskva. “CIA kemudian menginisasi ‘Project RAINBOW’ untuk mengurangi RCS (Radar Cross-Section) di pesawat U-2. Namun proyek itu gagal rampung, hingga CIA memilih beralih mengembangkan pesawat lain, Lockheed A-12 Oxcart,” ungkap Suhler. Kendati begitu, pesawat-pesawat U-2 tetap digunakan AU Amerika hingga saat ini. Bahkan, sejumlah U-2 dibeli Inggris dan Taiwan. Lantas, apakah benar-benar ada alien atau UFO yang disimpan di Area 51? Sayang, ia tetap jadi misteri. Dokumen CIA yang diungkap ke publik itu sama sekali tak menyebut soal alien atau UFO.
- Cerita Lucu dari Demonstrasi Mahasiswa
AKSI gerakan mahasiswa 2019 di berbagai kota kini tengah menjadi pemberitaan luas di media massa dan media sosial. Bukan hanya sekitar tuntutan mereka saja, berbagai cerita lucu nan konyol di sekitar demonstrasi juga bertebaran di Instagram, Facebook dan Twitter. Seorang mahasiswa yang membawa spanduk jenaka saat demo di gedung DPR/MPR. (Fernando Randy/Historia) Aksi mahasiswa yang membawa simbol kematian untuk KPK saat berdemo di gedung DPR/MPR. (Foto:Fernando Randy/Historia) Sejatinya pengalaman konyol nan jenaka itu juga dimiliki oleh gerakan-gerakan mahasiswa sebelumnya. Soe Hok Gie sempat merekam cerita-cerita lucu itu di buku hariannya (kemudian dibukukan menjadi Catatan Seorang Demonstran ). Bagi Soe sendiri, kisah-kisah itu tidak hanya sekadar membuat hiburan namun juga menjadi ikatan penguat dari perjuangan mereka. “…Dalam petualangan inilah lahir kisah humor-humor mahasiswa,” tulis Soe Hok Gie. Spanduk jenaka yang dibawa oleh para mahasiswa dalam demo di gedung DPR/MPR. (Foto:Fernando Randy/Historia) Awal 1966, mahasiswa se-Jakarta turun ke jalan untuk memprotes “menteri-menteri goblok”. Tersebutlah rombongan Fakultas Sastra dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) mendapat bagian untuk melakukan aksi pemasangan selebaran yang berisi tuntutan mahasiswa di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI). Aksi penempelan pun mereka lakukan di tembok dan mobil-mobil yang lewat sekitar Bundaran HI. Begitu banyaknya hingga tak terasa lem yang mereka gunakan ludes. Karena selebaran yang harus ditempelkan masih begitu banyak, mereka lantas berinisiatif untuk memintanya ke Hotel Indonesia. Permintaan mereka diiyakan, namun sudah sejam tak jua datang itu perekat. Mahasiswa marah dan mulai berteriak-teriak. Bukannya cepat dikirim lem, pihak manajemen HI malah mengirim nasi. Tentu saja inisiatif itu menjadikan mahasiswa UI tambah marah dan melemparkan kiriman nasi itu. Lantai mengkilap lobi hotel ternama itu pun jadi lengket dipenuhi nasi. “Kalian menghina kami? Yang kami perlukan adalah lem! Bukan nasi!” teriak mahasiswa. Pimpinan manajemen HI lantas buru-buru mengirim beberapa wadah berisi lem buatan pabrik. Mahasiswa kembali menolaknya, dengan alasan: lem-nya lem borjuis dan tidak bisa dikobok. Terpaksa pimpinan manajemen HI menyuruh para bawahannya memasak kanji dan mengirimnya dengan ember-ember plastik. Di antara para mahasiswa, terdapat Neneng Sabur. Dia tak lain adalah salah satu putri Brigadir Jenderal Mohammad Sabur, Komandan Resimen Tjakrabirawa (Pasukan Kawal Istana), “musuh” para demonstran anti Sukarno. Begitu rajinnya Neneng menempelkan selebaran-selebaran di tembok dan mobil-mobil, hingga akhirnya mata Neneng terbelalak saat membaca satu selebaran yang telah ditempelnya di sebuah mobil. “Gantung Sabur!” demikian bunyi isi selebaran itu. Tiga puluh dua tahun kemudian, mahasiswa UI kembali turun ke jalan. Akhir Februari 1998, mereka memutuskan untuk kali pertama keluar kampus Depok. Baru saja beberapa meter dari gerbang kampus, terjadi sedikit kericuhan akibat salah paham soal koordinasi. Maka terdengarlah kemudian sebuah teriakan dari alat pengeras suara. “Kawan-kawan! Tenang! Tenang! Komando ada di Padang! Komando ada di Padang!” “ Busyet deh , jauh amat !” celetuk para mahasiswa. Selidik punya selidik, yang dimaksud “padang” itu ternyata bukanlah nama ibu kota Sumatera Barat, melainkan panggilan akrab dari Padang Wicaksono, salah seorang tokoh mahasiswa UI yang menjadi koordinator lapangan aksi tersebut. April 1998, sekira 500 mahasiswa dari Keluarga Mahasiswa Universitas Nasional (KM UNAS) Jakarta mengikuti aksi bersama di depan kampus Universitas Pancasila. Begitu acara selesai sekitar jam 15.00, mereka memutuskan untuk pulang ke Pasar Minggu dengan melakukan aksi jalan kaki. Guna meraih simpati masyarakat, sepanjang jalan yang dilalui, para mahasiswa kerap menyuarakan yel-yel “turunkan harga”. Namun dalam perkembangannya yel-yel itu mengalami improvisasi sesuai tempat yang dilewati. Begitu melewati Pasar Lenteng Agung, maka para mahasiswa serentak berteriak “turunkan harga sayur!” Lain waktu saat melewati bengkel, mereka teriak pula: “turunkan harga onderdil”. Begitu seterusnya, hingga sampailah rombongan mahasiswa KM UNAS di depan salon kecantikan. Maka keluarlah teriakan-teriakan dari mahasiswa: “Turunkan tarif rebonding!” “Turunkan tarif meni-pedi!” “Turunkan tariff fesyel (facial)!” Saat itulah tetiba seorang waria muncul dari dalam salon. Sambil melambaikan tangannya, dia balas berteriak: “Ehhh, jangan begitu donggg mahasiswaaaa, akika bisa bangkrutttt, kalau mau murah meni-pedi, turunin dulu donggg harga alat-alat salon!” Mahasiswa pun riuh tertawa dan langsung mengganti yel-yel, menjadi: “Turunkan harga alat-alat salon!” Senyum lantas menghiasi wajah sang waria. Sambil mengacungkan jempol dia pun berteriak: “Gudddddd”.
- Jeritan Petani di Tanah Sendiri
PACEKLIK panjang mendera Jawa Tengah pada pergantian tahun 1963. Hama tikus serta penyakit tanaman pun merajalela. Akibatnya, para petani gagal panen. Penderitaan mereka akibat kelaparan dan busung lapar masih ditambah lagi dengan kasus tepung geplek beracun yang merenggut nyawa banyak warga Gunung Kidul. Buruknya kondisi hidup serta kekecewaan pada pemerintah daerah yang tak bisa mengatasi kasus tepung geplek beracun, menyulut kemarahan masyarakat desa. “Gunung Kidul memang gersang. Tahun-tahun itu kekeringan juga melanda Jawa Tengah. Di Klaten sampai Boyolali kondisinya cukup parah. Belum lagi serangan hama tikus. Kebetulan secara politik Gunung Kidul juga tidak lepas dari pengaruh PKI terutama lewat BTI,” kata Kuncoro Hadi, dosen sejarah UNY dan penulis buku Kronik 65 , pada Historia . Di tengah kondisi kelaparan tersebut, Partai Komunis Indonesia (PKI) membersamai Barisan Tani Indonesia (BTI) membuat sebuah komite yang menuntut pemberlakuan reforma agraria. Sejak disahkannya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960, PKI menjadi partai yang paling gencar mendorong pelaksanaan reforma agraria. Maka dibentuklah komite yang dinamai Gerakan Rakjat Kelaparan (Gerajak). Anggota Gerajak terdiri dari pamong desa, guru, petani, dan buruh tani. Gerajak muncul pertama kali pada Januari 1964 saat melakukan demonstrasi di depan kantor Bupati Gunung Kidul. Demonstrasi ini diikuti oleh 150 orang dan dipimpin oleh kepala desa Ponjong. Aksi yang didorong rasa lapar ini tidak hanya mengajukan protes pada bupati Gunung Kidul melainkan juga bertujuan mengganyang setan desa. Lebih jauh, Gerajak juga melakukan intimidasi terselubung untuk meminta barang milik orang kaya. Mereka menduduki lahan milik tuan tanah di berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Kaliwungu, Rembang, Sukaraja, dan Gringsing untuk dibagikan kepada petani. “Gerajak memang bagian rentetan gerakan aktif melawan tuan-tuan tanah yang ada di wilayah Jawa Tengah,” kata Kuncoro. Di Wonosari, Gunung Kidul, salah satu tuan tanah yang jadi sasaran ialah Darmawijata. Sebanyak 70 petani menduduki lahan milik Darmawijata. Niatnya, untuk dibagikan kepada para buruh tani. Namun, makin lama aksi Gerajak makin intens pun makin radikal. Menurut Fadjar Pratikno dalam Gerakan Rakyat Kelaparan: Gagalnya Politik Radikalisasi Petani , aksi-aksi Gerajak ditunggangi Gerajak yang sifatnya kriminil. Imbasnya, sulit membedakan dengan aksi-aksi Gerajak yang sifatnya politis. PKI pun jadi setengah hati mendukung. Hal inilah yang menurut Fajar jadi faktor kegagalan Gerajak sebagai gerakan kelas yang tumbuh di pedesaan. Setelah beberapa kali melakukan penggedoran ke rumah warga yang dianggap kaya, para penggerak Gerayak ditangkap di Gunung Kidul, Yogyakarta. “Dukungan (moral) PKI juga dihentikan dan kemudian seperti dianggap gerakan kriminal. Entah kenapa gerakan ini seperti mengulang kembali kasus Grayak awal tahun 50-an,” kata Kuncoro. Umur gerakan ini tak panjang. Gerayak kemudian dibubarkan oleh PKI pada awal Februari 1964 meski tidak lenyap sepenuhnya. Buktinya pada 26 Februari 1964 sepuluh orang anggota Gerajak menggedor rumah Sokromo, tuan tanah desa Tritisan, Gunung Kidul. Anggota Gerajak meminta bahan makanan untuk dibagikan kepada mereka yang kelaparan meski tidak menggunakan ancaman kekerasan. Meski telah beraksi di berbagai tempat, para petani miskin dan buruh tani anggota Gerajak mengalami kebimbangan sikap. Di satu sisi, mereka terikat pada politik PKI dan BTI untuk mengganyang tujuh setan desa dan mendorong pelaksanaan reforma agrarian. Di sisi lain, mereka masih bergantung secara ekonomi kepada tuan tanah dan petani kaya lain. Akibatnya, serangan Gerajak pada tuan tanah jahat tidak bisa menyeluruh atau menjadi gerakan petani yang terpadu melainkan hanya terjadi di beberapa desa saja dan hanya didukung oleh sedikit orang. Belum lagi, 6 partai politik protes pada 10 Desember 1964. Dalam deklarasi 6 partai yang terdiri atas PNI, NU, Parkindo, Partai Katholik, PSII, dan IPKI menyatakan bahwa aksi pendudukan tanah sepihak yang dilakukan oleh PKI dan golongannya dianggap menimbulkan perpecahan dan mengganggu keamanan sehingga membuat Presiden Sukarno memarahi Ketua PKI Aidit. Bersamaan dengan itu, mobilisasi massa untuk kampanye Trikora dan dilanjutkan Ganyang Malaysia sedang digencarkan oleh Sukarno. Isu tersebut dianggap lebih menarik dibanding persoalan politik agraria. Gerakan ini pun tidak mendapat banyak dukungan meski di akhir tahun 1964, Sukarno buka suara. Pada 12 Desember 1964 Sukarno menggelar pertemuan bersama pimpinan partai politik di Istana Bogor bertujuan membahas mengenai persoalan agraria di samping melakukan kondolidasi partai . Dalam rapat tersebut hadir perwakilan dari PNI, NU, PKI, Perti, Partai Indonesia (Partindo), PSII, Murba, IPKI, Parkindo, dan Partai Katolik. Suar Suarso dalam Akar dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno menyebut rapat tersebut menghasilkan Ikrar 4 Pasal yang dikenal dengan Deklarasi Bogor yang salah satunya membahas sengketa tanah yang harus diselesaikan dengan musyawarah dan pelaksanaan UUPA.
- Mabuk Saat Berpesta dan Berdoa
Pada suatu jamuan pesta di Majapahit, santapan sedap dihidangkan bagi orang banyak. Makanan serba berlimpah. Minuman mengalir dengan deras. Segala minuman keras tersedia, tuak kelapa dan tuak siwalan, arak, kilang, brêm, dan tampo. Itulah minuman utama, tak ada yang mampu menghadapinya. Wadahnya emas beraneka ragam bentuknya. Porong dan guci berdiri berpencar-pencar berisi minuman keras dari aneka bahan. Beredar putar seperti air mengalir. Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk. “Merdu merayu nyanyian para biduan melagukan puji-pujian Sri Baginda. Makin deras peminum melepaskan nafsu. Habis lalu waktu, berhenti gelak gurau,” tulis Mpu Prapanca dalam Desawarnana atau yang dikenal dengan Nagarakrtagama. Ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Titi Surti Nastiti lewat “Minuman Pada Masyarakat Jawa Kuno” dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, menyebutkan bahwa minuman merupakan salah satu jenis sajian yang disuguhkan dalam pesta-pesta masyarakat Jawa Kuno. Ada yang tanpa dan ada yang dengan alkohol. Nama-nama minuman beralkohol muncul dalam berbagai prasasti. Khususnya prasasti yang berisi tentang upacara penetapan sima (tanah perdikan atau tanah bebas pajak), pada bagian penutup yaitu acara makan bersama sebagai rangkaian upacara. Contohnya, Prasasti Watukura (902) menyebut mastawa , pāṇa, siddhu, cinca, dan tuak. Prasasti Rukam (907), Prasasti Lintakan (919), dan Prasasti Paradah (943) menyebut tuak, cinca, dan siddhu . Dalam Prasasti Sanguran (928) disebutkan siddhu dan cinca. Prasasti Alasantan (939) menyebut tuak dan siddhu. Selain dalam prasasti, keterangan tentang minuman beralkohol juga dimuat dalam karya kesusastraan. Misalnya, Kakawin Ramayana yang dibuat sekira abad ke-9. Dalam kisah tentang Rama dan Sita itu, minuman beralkohol muncul dalam beberapa kesempatan. Saat kisah di Kerajaan Alengka, para raksasa punya kebiasaan minum darah dan berbagai minuman keras seperti tuak, siddhu, brěm, mastawa, dan pāṇa. Pāṇa yang sedap dan mastawa yang harum juga disajikan bagi Sita ketika di Alengka . Saat itu, Sita dalam keadaan riang karena tahu suaminya masih hidup. Ia bergabung dan bersukaria dengan para dayang yang bermain musik, menyanyi, dan menari. Minuman beralkohol juga dikonsumsi bangsa kera yang menjadi sekutu Rama menyerang Alengka. Minuman itu menjadi salah satu angan Subali menjelang kematiannya. Sementara tuak biasa dihidangkan untuk menyambut tamu agung sebagaimana digambarkan dalam kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa puncak kejayaan Majapahit. Di antaranya disebutkan seluruh pengiring Raja Kasi telah mendapat bagian nasinya yang berlimpah-limpah. " Tuak , badèg, waragang, kilang, brêm, tampo mengalir tanpa henti pada akhirnya tak tergambarkan," tulis sang Mpu. Ery Soedewo, arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, dalam “Produk Local Genius Nusantara Bernama Tuak” yang terbit di Jejak Pangan dalam Arkeologi menjelaskan, gambaran tentang aktivitas di mana minuman beralkohol dihidangkan umumnya adalah kegiatan yang sifatnya duniawi. Namun, kehadiran minuman itu dalam aktivitas sakral juga ditemukan dalam sumber tertulis Jawa Kuno. Misalnya dalam Serat Pararaton . Pararaton digubah pada 1478 dan 1486, lalu disalin pada 1613. Nama penggubahnya tak disebutkan. Di dalamnya digambarkan akhir riwayat Kertanegara, Raja Singhasari, dalam serangan Jayakatwang, raja Gelang-Gelang, bawahan Kerajaan Kediri. Dalam salah satu bagian Kertanegara digambarkan sebagai sosok yang pijêr anadah sajêng. " Selalu atau gemar minum tuak," jelas Ery. Bahkan Pararaton mengisahkan, sang raja tengah mabuk-mabukan ketika pasukan Jayakatwang menggempur keratonnya. "Radja Civa-Buddha (Krtanagara) selalu minum tuak, diberitahu bahwa diserang oleh Daha, tidak percaya," tulis Pararaton . "Maka ketika Kertanagara sedang minum tuak bersama patihnya mereka dibunuh. Mati, Kebo Tengah membela, mati Manguntur." Sementara Prasasti Gajah Mada (1351) mengungkap hal yang berbeda. Di sana disebutkan kalau Kertanegara tewas dalam serangan itu bersama para brahmana. Ery mengungkapkan, peristiwa kematian Kertanegara dalam kondisi mabuk bersama para brahmana sebenarnya adalah gambaran praktik ritus Buddha Tantrayana yang dianutnya. "Jadi bukan bentuk kegemaran Kertanegara terhadap minuman keras khususnya tuak ( sajêng ), atau dalam terminologi sekarang sebagai orang yang alkoholik," lanjutnya. Sebelum akhirnya meregang nyawa, Kertanegara tengah melakukan upacara terakhir untuk membangkitkan kekuatan lain di luar dirinya. Dia mendapatkannya melalui ritual Tantrayana, sekte yang sering dianggap sebagai jalan mempercepat diri mendapatkan kekuatan. Aliran keagamaan yang dianut Kertanegara itu dapat disimpulkan lewat Kakawin Nagarakrtagama. Pun dari kenyataan dia ditahbiskan sebagai Jina di Kuburan Wurara pada 1289. Menurut Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan, dengan menjadi Jina, artinya Kertanegara tak hanya menguasai kekuatan gaib di semesta alam. Dia pun menguasai kerajaan secara nyata. "Dengan tingkatannya itu, bagi Kertanagara tak ada lagi hal yang terlarang. Dia bisa dengan sadar melakukan pancamakara, atau ma lima," jelasnya.
- Maestro Gamelan di Kiri Jalan
Pada tahun 1893, Slamet Soekari lahir di Surakarta. Karena berasal dari keluarga miskin, Soekari tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sejak umur 12 tahun ia telah menjadi abdi dalem karawitan dan hidupnya bergantung pada keraton Surakarta. Setelah menempa ilmu karawitan bertahun-tahun, sekitar tahun 1912, Slamet dianugerahi gelar pangkat jabatan menengah, Raden dan nama baru Pontjopangrawit. Pangrawit adalah jabatan bagi ‘ nayaga terkemuka yang bersangkutan dengan karawitan’. Sedangkan nama Pontjo dipilihnya sendiri. Pontjopangrawit kemudian bergabung dengan lembaga Pananta Dibya yang berdiri tahun 1914. Lembaga ini bertujuan untuk memperbaiki dan menyusun kembali praktik-praktik serta upacara seni pagelaran keraton. Selain itu, lembaga ini juga aktif dalam diskusi-diskusi politik. Hubungan Pontjopangrawit dengan politik kelak membawanya ke kamp Digul hingga pusaran tragedi 1965. Diasingkan ke Digul Ketika pada 1915-1925 Belanda berangsur-angsur mengambil alih tanah kerajaan, sentimen anti-Belanda pun semakin timbul. Pananta Dibya kemudian menjadi wadah pemikiran dan kegiatan radikal. Tidak sedikit anggotanya juga bergabung dengan organisasi kaum komunis dan nasionalis. Gerakan antikolonial semakin masif dan pada 1926-1927 terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ribuan orang ditahan dan sebagian dikirim ke kamp Tanah Merah, Digul Atas. Meski tidak terlibat langsung dengan pemberontakan PKI, Pontjopangrawit turut ditangkap. “Bagaimanapun juga ia tidak terlibat langsung dalam aksi perlawanan ini. Tapi ia ikut ambil bagian dalam rapat-rapat, di mana ia selalu dengan terang-terangan menyatakan pandangannya yang sangat antikolonial, dan ini tentu saja menjadi catatan penguasa,” sebut Margaret J. Kartomi dalam Gamelan Digul Dibalik Sosok Seorang Pejuang. Pontjopangrawit ditangkap pada 1926 dan dikirim ke kamp Tanah Merah pada Maret 1927. Di pengasingan inilah, ia membuat gamelan dari perkakas seadanya seperti kaleng-kaleng susu dan rantang yang kemudian dikenal sebagai Gamelan Digul. Gamelan Digul menjadi hiburan bagi para tahanan di tengah kondisi kamp yang buruk. Gamelan ini sekaligus menjadi simbol hubungan Australia dan Indonesia ketika revolusi. Gamelan Digul kini berada di Universitas Monash, Australia. Pontjopangrawit dibebaskan dan pulang ke Surakarta pada 1932. Tak lama, ia kembali menjadi abdi dalem keraton. Dia mendapat gaji yang cukup dari keraton. Kedudukan yang terhormat juga membantunya memperbaiki reputasi. Namun, Soedarto, anak tunggal Pontjopangrawit pergi dari rumah karena tidak tahan dengan ejekan sebagai "anak komunis". Soedarto hidup miskin di luar rumah dan tak pernah berdamai dengan Pontjopangrawit. Seorang Maestro Sementara itu, Pontjopangrawit semakin terkemuka. Ia menguasai ratusan gendhing gamelan serta mendapat kesempatan bergaul dengan ahli-ahli karawitan terkemuka dan pembaharu. Pada 1933, Pontjopangrawit mempelopori pengangkatan genre siteran yang berasal dari desa. Di luar keraton, Pontjopangrawit membuka sanggar karawitan bersama rekan-rekannya. Namun, karena masih dicap sebagai eks-Digulis, kelompoknya tak pernah diundang ke radio-radio Belanda seperti kelompok karawitan lainnya. Pada 1930-an, Pontjopangrawit pernah membantu mengembangkan repetoar dan teknik pergelaran orkes gamelan Thai baru. Gamelan dilaras menurut sistem nada tradisional Thai. Orkes gamelan itu, oleh Raja Thailand dihadiahkan kepada S.P. Paku Buwana X pada kunjungan ke Surakarta. Meski mengabdi pada kraton, Pontjopangrawit tetap kritis terhadap konsevatisme keraton dan kurangnya dukungan keraton terhadap perjuangan antikolonial. Bersama beberapa abdi dalem lainnya, pada 1948, Pontjopangrawit meninggalkan pengadiannya pada keraton. Pada awal 1950-an, Pontjopangrawit mendapat kehormatan dari Presiden Soekarno bersama kaum perintis kemerdekaan lainnya atas perjuangan sepanjang 1910-an sampai 1920-an, saat diasingkan ke Digul Atas, serta dukungan aktif selama revolusi 1945-1949. Pada 27 Agustus 1950 Koservatori Karawitan (Kokar) Indonesia didirikan di Surakarta. Pontjopangrawit menjadi pengajar penuh sampai mengundurkan diri pada 1963. Ia lalu melanjutan mengajar di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). “Konon dikatakan bahwa ia bisa memainkan gambang di belakang punggungnya (seperti pianis ahli Nicholas Slonimsky yang bisa memainkan piano dengan cara seperti itu),” papar Kartomi. Selain itu, menurut beberapa bekas muridnya, saat mengajar, Pontjopangrawit duduk di depan murid-murid, mengajar rebab dan gender secara terbalik, sehingga memudahkan para murid menirunya. Hardja Susilo, etnomusikolog dan pengajar gamelan di Universitas Hawaii dalam Enculturation and Cross-Cultural Experiences in Teaching Indonesian Gamelan menyebut permainan gamelan Pontjopangrawit termasuk yang paling kompleks dan sulit pola melodinya. “Beberapa pertunjukan, seperti permainan rebab Ki Pontjopangrawit, terlalu rumit untuk ditranskripsikan. Ada terlalu banyak detail, yang tidak bisa diwakili oleh sistem notasi. Ketika kami memasukkan data ke dalam melograf Charles Seeger, sebuah mesin yang dapat menyalin peristiwa melodi tunggal dengan sangat terperinci, kami menghadapi masalah yang berbeda. Karena mesin itu sangat sensitif, ia memberikan terlalu banyak detail dalam transkripsi. Ini menunjukkan segala macam mikroton yang menghambat upaya kami untuk menemukan pola melodi,” jelas Susilo. Hilang Pasca 1965 Pontjopangrawit tiba-tiba hilang pada akhir 1965, pasca peristiwa G30S.“Tampaknya ia terperangkap dalam kejadian-kejadian menggemparkan yang menyusul usaha kudeta atas Presiden Soekarno pada 30 September tahun itu,” sebut Kartomi. Belum jelas bagaimana posisi Pontjopangrawit dalam PKI maupun Lekra. Menurut Hersri Setiawan, mengutip Kartomi, “oleh pimpinan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) Jawa Tengah, bahwa selama tahun 1960-an sampai 1965 Pontjopangrawit adalah ‘orang Lekra yang tidak aktif dan tidak diaktifkan.” Sementara itu Tri Ramidjo, eks tapol yang pernah tinggal berdekatan dengan rumah Pontjopangrawit di Surakarta, berdekatan pula dengan rumah Kiai Haji Muchlas, ayah M.H. Lukman (Wakil Ketua CC PKI) menggambarkan hubungan Pontjopangrawit dengan lagu-lagu kiri. “Di rumah Oom Pontjo Pangrawit ini penuh dengan alat musik gamelan, ada gambang, bonang, saron dan entah apalagi namanya aku tak tahu. Semuanya adalah buatan Oom Pontjo. Beliau pintar sekali menabuh gamelan dan bahkan dengan kaleng-kaleng susu yang dibuatnya gamelan itu bisa melagukan lagu Darah Rakyat , Internasionale , lagu 1 Mei , Mariana Proletar , de Rode Vandel , dll. Aku sudah lupa lagu de Rode Vandel , tapi yang lain aku masih ingat notnya,” kata Ramidjo dalam Kisah-Kisah dari Tanah Merah. Kapan dan bagaimana Pontjopangrawit meninggal tidak diketahui. Menurut Kartomi, kemungkinan Pontjopangrawit meninggal pada 10 November 1965. Hal ini berdasarkan fakta bahwa Pontjopangrawit tidak nampak mengajar lagi sejak Hari Pahlawan 1965. Sedangkan menurut Hersri, nama Pontjopangrawit juga tak pernah ada di tahanan. Namun menurut versi pemerintah, melalui batu nisan di makam Desa Gurawan, pinggiran Surakarta, ditulis bahwa Pontjopangrawit meninggal pada 11 Oktober 1971. Pihak keluarga menyangsikan itu. “Semua eks tapol Digul lainnya yang terkenal di daerah Surakarta dikumpulkan, ditahan dan dibunuh di penjara segera sesudah kejadian yang dinamakan kudeta 30 September 1965. Bagaimana mungkin Bapak Pontjopangrawit tidak ditangkap dan dibunuh bersama mereka itu?” kata keluarga Pontjopangrawit seperti dikutip Kartomi.






















