top of page

Hasil pencarian

9747 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Garuda Sebelum Jadi Lambang Negara

    Sewaktu para Dewa dan Asura sibuk mengaduk Lautan Susu demi mendapatkan air kehidupan ( amrta ), Winata bermain tebak-tebakan dengan madunya, Kadru. Siapa yang salah tebak, harus menjadi budak yang menang taruhan. “Coba terka, apa warna ekor kuda Ucchaihsrawa?” kata Sang Kadru. “Putih,” jawab Winata. Maka keluarlah kuda Ucchaihsrawa dari dalam lautan yang diaduk. Sesungguhnya jawaban Winata benar adanya. Namun Kadru yang licik meminta anak-anaknya, para ular, untuk menyemburkan bisa ke arah kuda itu. Ekor Ucchaihsrawa yang semula putih, berubah menjadi hitam.   Winata dianggap kalah. Ia pun harus menjadi budak Kadru. Begitu pula putranya, Garudeya yang berwujud burung Garuda itu. Ia ikut diperbudak ular-ular, anak Sang Kadru. Ketika tahu Winata bisa bebas apabila ditebus dengan air amrta , Garuḍa pun berusaha mengambilnya di dunia para dewa. Kepada Wisnu ia berjanji, jika diberi air keabadian itu, ia bersedia menjadi kendaraannya. Air amrta pun ia bawa kepada ibu tirinya. Ia tebus Winata dari perbudakan. Kisah tentang Garudeya itu berasal dari cerita Samuderamantana yang merupakan salah satu episode dalam wiracarita Mahabarata , yaitu Adiparwa . Garis besar kisahnya bertalian dengan dua istri Bhagawan Kasyapa, Winata dan Kadru yang tak kunjung hamil. Sang Bhagawan pun memberikan tiga butir telur kepada Winata dan 100 telur kepada Kadru. Di antara 100 telur yang dierami Kadru, semuanya menetas menjadi 100 ekor ular. Sementara dari tiga telur yang dierami Winata, hanya satu yang menetas. Ia menjadi makhluk setengah burung, setengah manusia. Ia dinamai Garudeya. Dwi Cahyono, pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, menjelaskan kisah Adiparwa telah disadur pada masa pemerintahan Dharmmawangsa Tguh pada awal abad ke-9. Kala itu kisahnya diterjemahkan dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno. Kisah itu kemudian banyak diwujudkan dalam bentuk relief pada masa Majapahit, sekira abad ke-14. Contohnya seperti yang terlihat di dinding Candi Kidal, yang pernah direnovasi pada masa keemasan Majapahit oleh Hayam Wuruk. Pun pada Candi Kedaton dan Candi Sukuh. Ada juga arca Wisnu naik Garuḍa yang diperkirakan berasal dari Petirtaan Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Menurut arkeolog Hariani Santiko dalam "Ragam Hias Ular-Naga di Tempat Sakral Periode Jawa Timur", terbit di Jurnal Amerta , arca itu sering dianggap sebagai perwujudan Raja Airlangga. Arcanya menggambarkan Garuḍa tengah mencengkeram Naga. Garuda yang menjadi kendaraan Wisnu dalam reliefCandi Kidal, Tumpang, Malang, Jawa Timur. (Wikipedia). Simbol Kemerdekaan Dwi Cahyono menjelaskan, perjuangan yang dilakukan oleh Sang Garuda merupakan ekspresi bakti anak kepada ibu. Dalam konteks yang lebih luas, kisah itu bisa disebut sebagai bakti kepada ibu pertiwi atau tanah air. Artinya, perjuangan untuk membebaskan tanah air dari penjajahan asing demi meraih kemerdekaan. “Dalam konteks demikian, Sang Garuda tercitrakan sebagai ikon pejuang kemerdekaan,” katanya. Makna itulah yang kemudian menjadi pertimbangan tim perumus lambang negara Indonesia, di antaranya Moh. Yamin, R.M. Ng. Poerbatjaraka, dan Soepomo. “Teks susastra dan relief cerita tentang Garudeya itu dijadikan referensi bagi penentuan figur lambang negara,” lanjut Dwi. Ketika mendesain lambang, relief Garuda di Candi Sukuh menjadi inspirasinya. Bentuknya berupa seekor burung Garuda berukuran besar dalam posisi mengepakkan sayap. Kedua kakinya setengah jongkok, mencengkeram dua ekor Naga yang saling membelit dengan arah hadap berlawanan. Garuda di Candi Sukuh. (Wikipedia) “Relief ini dalam baberapa hal mengingatkan kita kepada wahana Wisnu pada arca perwujudan Airlangga,” kata Dwi. Lalu lambang ini juga mirip dengan dua buah arca manusia setengah burung di halaman Candi Sukuh. Arca ini digambarkan dalam posisi berdiri sambil mengepakkan sayap. “Kedua data ikonografis itu dimodifikasi seperlunya dan dipadukan, antara lain dengan mengganti sepasang Naga yang saling membelit dengan pita Bhineka Tunggal Ika ,” jelas Dwi. Semboyan ini pun beratus tahun lalu sudah bisa ditemukan dalam Kakawin Sutasoma , karya Mpu Tantular.

  • Entong Tolo, Bandit Sosial dari Pinggir Kota

    AWAL abad ke-20, Batavia dan Ommelanden (daerah sekitarnya) menjadi perhatian pejabat tinggi kolonial. Mereka bertanya kepada setiap asisten residen di sana mengapa banyak kasus perampokan tiap malam. Asisten residen Meester Cornelis (sekarang Jatinegara), Tangerang, dan Buitenzorg (sekarang Bogor) menjawab kompak.

  • Nyai Ontosoroh dan Kisah Pergundikan di Hindia Belanda

    DARI balik pintu muncul seorang perempuan pribumi mengenakan kebaya putih berenda, berkain jarik dengan selop beludru hitam berhias sulaman perak. Dialah Nyai Ontosoroh, gundik Tuan Mellema yang banyak dikagumi orang. Kehadirannya begitu mengesankan sebab selain penampilannya yang anggun dan rapi, bahasa Belandanya pun apik. Hal yang sulit ditemui pada diri seorang nyai. Kisah Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer menjadi gambaran umum kondisi pergundikan di era kolonial. Praktik ini sebenarnya sudah dilakukan sejak VOC bercokol di Hindia Timur. Ketika Terusan Suez dibuka pada November 1869 peluang kehadiran orang Eropa makin tinggi karena perjalanan lebih singkat. Antara 1870-1880 ada sekira sepuluh ribu orang Eropa yang datang ke koloni, kebanyakan lelaki. Perempuan Eropa masih amat langka, dengan perbandingan tiap 10 ribu lelaki terdapat 123 perempuan kulit putih. Angka ini belum termasuk golongan mestizo. Karena kesulitan mencari pasangan satu ras inilah, para bujangan Eropa kebanyakan hidup bersama nyai. Praktik pergundikan ini jamak ditemui di tangsi militer, perkebunan, dan masyarakat sipil di kota. “Mereka anggap tinggal bersama gundik sebagai tindakan illegal dan tidak diterima secara moral tapi di saat yang sama mereka membutuhkan bahkan diuntungkan dengan praktik ini,” kata Reggie Baay penulis buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda kepada Historia. VOC dan pemerintah kolonial mendiamkan perilaku ini karena selain memudahkan pengenalan adat dan bahasa setempat, mereka juga tak dibebani tunjangan lebih karna status pegawai yang masih lajang. Para elite tak perlu repot mendatangkan perempuan Eropa, juga tak perlu pusing oleh penyakit kelamin yang tersebar di rumah bordil. Namun, di balik semua keuntungan ini ada cibiran dan penolakan masyarakat kolonial pada praktik pergundikan. Di era VOC, penolakan paling dominan datang dari kalangan gereja yang melarang pernikahan dengan orang non-kristen. Sementara, di era berikutnya, penolakan lebih didasarkan pada perbedaan rasial. Peraturan yang dikeluarkan Gubernur Jenderal Dymaer van Twist pada 1850-an menyebut tentara yang hidup bersama nyai akan ditangguhkan kenaikan pangkatnya. Djoemiha tinggal bersama Alfred Wilhelm, anggota KNIL. (Repro Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda) Ketidaksukaan masyarakat kolonial pada praktik pergundikan juga memunculkan asumsi bahwa alasan perempuan pribumi mau menjadi nyai karena pertimbangan materialistis. Anggapan tersebut, menurut Tineke Hellwig dalam Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, melupakan posisi para perempuan terjajah dalam sistem kolonial. Para perempuan muda ini tidak punya suara apalagi pilihan. Ia hidup pada lingkungan tertindas di mana kemauan lelaki (ayah atau tuannya) harus dipenuhi tanpa penolakan. Ketidakberdayaan pada keputusan ayah ini pula yang dialami Sanikem. Ia hanya bisa patuh pada keinginan ayahnya. Protes dari sang ibu pun tak berbuah hasil, akhirnya mereka hanya bisa berbalas tangis dalam perjalanan menuju rumah Herman Mellema. Nasib perempuan yang lebih buruk dikisahkan Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli. Seorang kuli perempuan di perkebunan Deli menolak pinangan tuannya untuk menjadi seorang nyai lantaran ingin bersetia pada pasangan pribuminya. Keputusannya alih-alih diterima malah berbuah hukuman dengan siksaan yang kejam. Setelah jadi nyai pun, nasib para perempuan Asia ini belum tentu mujur. Seorang nyai bisa dibilang tidak punya hak apa pun. Mereka hanya diangap sebagai properti tuannya. Itulah mengapa beberapa orang Eropa menyebut nyai dengan julukan penuh hinaan. Meubel atau inventarisstuk karena mereka dengan mudah dipindahtangankan ke lelaki Belanda lain, atau bahkan dilelang sebagai bagian dari inventaris. Hubungan tuan-gundik nyatanya tak melulu buruk. Ada yang hidup bahagia seperti Nyai Ontosoroh, mendapat kesempatan megembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berbahasa Belanda. “Tentu ada pengecualian. Meski secara umum ditolak oleh masyarakat kolonial, ada juga lelaki Eropa yang bersikap baik seperti perlakuan Herman pada Ontosoroh. Penulis Willem Welraven misalnya. Relasi baik jadi kesempatan nyai untuk mendapat pengetahuan baru, meningkatkan intelektualitas, dan statusnya,” kata Reggie Baay. Willem Welraven adalah penulis dan wartawan yang hidup pada pergantian abad ke-19. Ia menikahi gundiknya, Itih dan memperlakukannya laiknya ibu dan istri. Ia mengajari Itih membaca, menulis, berhitung, dan berbahasa Belanda. Ia juga mengajari Itih cara mengelola keuangan setelah sebelumnya jengkel pada ketidakpahaman istrinya itu. Walraven tak ambil pusing dengan stigma kolonial. Ia bahkan tak malu mengenalkan Itih sebagai istrinya. Kawin campur Welraven-Itih bisa terjadi setelah pelarangan pernikahan dengan non-kristen dihapus pada 1848. Disusul kemudian pemberian status Eropa bagi para gundik yang dinikahi tuannya pada 1898. Setelah pernikahan campuran diakui, ada 80-100 pasangan yang menikah tiap tahun pada dekade 1886-1897. Hanneke Ming dalam “Barracks-Concubinage in the Indies, 1887-1920” mencatat anggota tentara baru diizinkan menikahi pasangan pribuminya pada 1908. Namun perilaku hipokrit masyarakat kolonial tak hilang begitu saja. Mereka mengejek pergundikan, namun ketika pasangan beda ras ini hendak melegalkan hubungannya, ancaman karier menghadang si lelaki. Hal inilah yang dialami pasangan Gow Pe Nio dan suaminya Jurjen seperti diceritakan Reggie Baay dalam bukunya Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Jurjen merupakan apoteker militer kelahiran Belanda. Sementara Pe Nio bekerja sebagai pembantu di rumah residen Bandung. Mereka bertemu ketika Jurjen bertamu ke rumah residen itu. Jurjen meminta Pe Nio menjadi nyainya yang disambut kata setuju. Pada 1908 mereka dikaruniai anak pertama lalu menikah setahun setelahnya. Keputusan ini berdampak pada karier Jurjen. Ia lantas keluar dari dinas militer dan membuka apotek di Bandung. Gambar 2 99396689638690565807 Gow Pe Nio dan suaminya Jurjen. (Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda) Kekhawatiran adanya hambatan karier juga dirasakan tentara KNIL Alfred Wilhelm. Alfred menjalin hubungan dengan perempuan bumi putera asal Gombong, Djoemiha Noerawidjojo. Mereka bertemu di warung makan tempat kerja Djoemiha. Alfred rupanya datang tak hanya mencari makan tetapi juga mencari pasangan. Ia  pun meminta Djoemiha menjadi nyainya. Djoemiha-Alfred tak pernah menikah formal namun mereka saling menemani hingga dipisah maut dengan selisih lima hari pada 1954 di Jakarta. Hubungan Tragis Kisah Nyai Ontosoroh selain memberikan gambaran perempuan mandiri, juga mencerminkan kerapuhan posisi nyai. Dalam hubungan pergundikan, tak ada pengakuan secuil pun baik sebagai pasangan lelaki Eropa atau ibu. Ketika Annelis dan Robert sudah diaku sebagai anak Herman Mellema, mereka berhak menyandang nama belakang ayahnya dan punya status sebagai orang Eropa. Pengakuan ini di lain sisi, membuat posisi sosial mereka lebih tinggi dibanding ibunya sendiri. Aturan tentang pengakuan keturunan mulai dikeluarkan pada 1828 lantaran anak-anak hasil pergundikan tak terhitung jumlahnya. Bila si ayah tak ingin mengadopsi anaknya, pendaftaran kelahiran tetap bisa dilakukan. Anak-anak yang tak diadopsi tapi tetap didaftarkan kelahirannya itu menyandang nama ayahnya dengan penulisan terbalik. Misal, Kijdsmeir dari van Riemsdijk, Rhemrev dari Vermehr, Snitsevorg dari Grovestins, atau Esreteip dari Pieterse. Aturan lain menyusul kemudian yang memuat tentang hak asuh anak dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 40 dan 354 tahun 1848. Anak-anak hasil pergundikan yang sudah diadopsi ayahnya, secara hukum hubungan dengan ibu kandungnya gugur. Anak-anak itu murni milik ayahnya. Bila suatu hari ayahnya meninggal, si ibu tidak dapat mengambil alih hak asuh anak itu. Itulah sebabnya setelah kematian Herman Mellema, perwalian Annelis diserahkan ke tangan Maurits Mellema, yang secara hukum diakui punya hubungan kekerabatan. Sementara Nyai Ontosoroh tak punya kuasa apa pun di mata hukum koloni. Keputusan pengadilan yang mengalihkan hampir seluruh hak waris dan perwalian Annelis ke tangan Maurits meruntuhkan segala usaha Nyai Ontosoroh yang ia bangun bertahun-tahun. Pada akhirnya Nyai Ontosoroh dilempar dari permainan hukum kolonial yang tidak berpihak pada kaum bumi putera. Annelis, satu-satunya harapan Nyai Ontosoroh, pun akhirnya dikirim Maurits ke Belanda. Menjadi pelengkap kisah tragis dalam hubungan nyai dan anaknya. Perpisahan para nyai dengan anaknya ini jadi kasus yang jamak terjadi. Hal serupa juga dialami ayah Reggie Baay. Ayah Reggie tak tahu betul siapa ibunya. Jejaknya hanya tertinggal dalam akta pengakuan keturunan yang dibuat kakeknya, Daniel Baay. Nenek Reggie, bernama Moeinah yang berasal dari kelaurga muslim miskin di Jengkilung, Surakarta (kemugkinan kini Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen). Ia bekerja sebagai pelayan di rumah Daniel Baay dan Parijem, anak dari bangsawan rendah Kraton Surakarta. Rupanya Louis Baay, anak Daniel, menaruh perhatian pada Moeinah. Mereka pun hidup bersama di villa kecil milik keluarga Baay di Surakarta. Hubungan ini membuat Moeinah melahirkan seorang putra, ayah Reggie pada 1919. Belum genap setahun mengurus bayinya, Moeinah diminta meninggalkan rumah dan kembali ke desanya. Pada 1926, ketika Moeinah berusia sekira 25 tahun, ia kembali dipanggil oleh keluarga Baay untuk pembuatan “akta” anaknya. Setelah hak atas anak jatuh pada keluarga Baay, Moeinah kembali dilupakan. Ia tidak diperkenankan menemui anaknya. “Saya seorang indo. Nenek saya dulu seorang nyai, tapi ayah saya tak pernah tahu siapa ibu kandungnya,” kata Reggie. Moeinah dipisahkan dan dipaksa melupakan anaknya. Namun kenangan atas anak yang ia lahirkan dan rawat selama beberapa bulan, barangkali tak bisa ia lupakan begitu saja. Ayah Reggie lebih-lebih tak punya bayangan seperti apa rupa ibunya. Ia pun selalu menolak membicarakan tentang ibu kandungnya itu. Namun, sedikit ingatan buram pada masa kecilnya, ia catat di belakang akta pengakuan. Ketika masih kecil beberapa kali ia menyaksikan seorang perempuan Jawa berdiri di dekat pagar rumah. “Berkali-kali ia berusaha untuk mendekatiku tetapi kerap dihalau oleh pelayan kami. Akankah ia…”

  • Nyong Ambon Pendeta Bung Karno

    Pasca Peristiwa Lengkong 1946, Sukarno begitu terpukul dengan banyaknya perwira muda dan taruna yang gugur. Di rumah sakit Tangerang, seorang dokter memberinya obat dan memijit Sukarno hingga tertidur. Sejak itu, mereka menjadi dekat seperti sahabat lama. Dokter itu adalah Johannes Leimena, nyong Ambon yang akrab disapa Jo. Johannes Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905. Sejak usia lima tahun, ayahnya meninggal dunia. Dia bersekolah di Ambonsche Burgerschool , tempat pamannya menjadi kepala sekolah. Ketika pamannya pindah tugas ke Cimahi pada 1914, dia turut serta. Ibunya tak mengijinkan, dia nekat menyelinap ke dalam kapal. Jo muda bergabung dalam Jong Ambon dan aktif dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928. Setelah lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1922, dia melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter untuk Bumiputra). Setelah bekerja sebagai dokter selama sebelas tahun, dia memperdalam penyakit dalam di Geneeskunde Hogeschool (Sekolah Lanjutan Kedokteran). Pada 1946, Perdana Menteri Sjahrir mengangkat Leimena menjadi menteri muda kesehatan, belum sebagai menteri penuh. Baru pada kabinet Amir Sjarifuddin, dia diangkat menjadi menteri penuh. Leimena yang Sederhana Leimena sangat terkenal akan kesederhanaan, kejujuran, dan kelembutannya. “Jo ternyata sama dengan Natsir, yakni sama-sama hanya punya 2 kemeja yang dua-duanya sudah lusuh,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar dalam Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan dan Kesederhanaan Tokoh Bangsa . Buku ini diluncurkan pada 13 Agustus 2019 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Karena tidak punya tabungan, Leimena juga harus meninggalkan istri dan anak-anaknya di Jakarta. Ketika di Yogyakarta, dia enggan menggunakan fasilitas negara dengan tinggal di Hotel Merdeka yang semua akomodasinya ditanggung negara. “Dia tahu benar, para personel departemen keuangan harus jungkir balik mengumpulkan dana. Dia memutuskan untuk menyewa sendiri dan membagi satu kamar dengan seorang rekan. Jaman sekarang mana ada menteri yang kos sekamar berdua demi mengirit pengeluaran?” tulis Basri dan Munandar. Ketika ditugaskan menjadi delegasi Indonesia untuk berunding dengan Belanda dalam rangka persiapan menuju perundingan Renville, Leimena meminjam jas teman sekamarnya. Meskipun agak kekecilan, dia bisa bertahan beberapa Jam. “Jangan khawatir. Saya tidak akan bikin malu negara kita,” ucap Jo. Leimena tidak pernah mencari hiburan ke luar rumah. Pulang kantor, ia berganti pakaian, hanya mengenakan sarung dan kaus atau kemeja using, lalu bercengkerama dengan keluarganya. Hari-hari libur juga dihabiskannya bersama keluarga. Suatu hari, beberapa pemuda dari organisasi Kristen hendak bertemu Leimena di rumahnya. Karena berpikir akan diajak "makan besar" di rumah seorang menteri, mereka sengaja tidak sarapan. Tebakan itu tidak meleset, mereka diajak ke ruang makan. Namun, yang mereka temui di meja makan adalah singkong rebus, sarapan sehari-hari sang menteri dan keluarga. “Tutur katanya yang lembut membujuk dan wataknya yang sabar menjadikannya 'negosiator alamiah'. Orang sulit menolak kalau yang meminta adalah Jo. Kejujurannya juga dikenal luas sehingga orang-orang percaya dia tidak pernah bohong atau menggertak,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar. Sampai-sampai Presiden Sukarno menyebut Leimena sebagai “orang paling jujur yang pernah kutemui”. Bahkan, Sukarno dalam kesempatan lain menyebutnya mijn dominee yang artinya "pendetaku". Kiri-kanan: Adam Malik, Johannes Leimena, Mohammad Hatta, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Soeharto, dalam pemakaman Presiden Sukarno Leimena yang Toleran Pada 1945, Leimena bergabung dengan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Dia lalu menjadi ketua umum pada 1950 sampai 1957. Dia juga turut membentuk Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI) yang kini bernama Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Selain sederhana, Leimena juga dikenal sebagai sosok yang toleran. Dia bersahabat baik dengan Mohammad Natsir, tokoh Masyumi yang memperjuangkan Syariat Islam. Natsir menyebut Leimena sebagai Meneer de Dominee atau Tuan Pendeta. “Toleransi Jo terbukti ketika dia merestui salah satu putrinya menikah dengan seorang muslim, lalu mengikuti iman suaminya,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar. Ketika menjadi menteri kesehatan, Leimena berhasil meracik salep untuk mengobati penyakit kulit ringan yang sering diidap rakyat kecil. Label “Salep Leimena” sangat mujarab dan terkenal pada zamannya. Dia kembali lagi membuktikan diri sebagai menteri sekaligus dokter inovatif yang peduli rakyat kecil. Leimena juga merumuskan rencana pembangunan kesehatan gratis untuk pencegahan dan penyembuhan serta perimbangan fasilitas pelayanan kesehatan di kota dan desa. Rencana ini terlaksana dan sekarang dikenal sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selain itu, Leimena juga membentuk Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA), yang kemudian menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sejarah mencatat Leimena sebagai menteri dengan masa jabatan terlama, yakni 21 tahun dengan 18 kabinet berbeda pada era Sukarno. Dia juga merupakan satu dari sedikit orang dekat Sukarno yang ‘selamat’ dari peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dia sempat ingin dipertahankan Soeharto sebagai menteri, namun menolak secara halus dengan perantara Sultan Hamengkubuwono IX. Namun, dia masih diminta menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga tahun 1973. Selepas itu, Leimena kembali aktif di Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Dia sempat pula menjadi Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Di akhir perjalanan hidupnya, dia masih sempat kembali menjadi dokter dan menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini. Leimena wafat pada 29 Maret 1977 di Jakarta. Nyong Ambon itu mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2016. Penyanyi berdarah Maluku, Glenn Fredly, dalam peluncuran buku Faisal Basri dan Haris Munadar menyampaikan, “Bukan karena saya dari Maluku, tapi saya suka dengan Leimena. Hari ini masyarakat di Maluku lose of hope terhadap pemimpinnya.” Menurut Glenn, cerita-cerita teladan kepemimpinan seperti Leimena, perlu dimunculkan kembali dengan cara baru. “Itu yang saya bilang, bagaimana menerjemahkan ini menjadi sesuatu yang bisa membangun harapan baru,” ujar Glenn.

  • Apakah Naga Benar-benar Ada?

    PUNGGUNGNYA terdiri dari barisan perisai yang rapat. Saking rapatnya, udara bahkan tak bisa melewatinya. Dengusannya mengeluarkan kilatan cahaya. Ia bagai sinar fajar. Lubang hidungnya mengeluarkan asap, seperti panci mendidih di atas alang-alang yang terbakar. Mulutnya menyemburkan api. Batu bara pun bisa menyala akibat dengusan napasnya. Makhluk yang dijelaskan dalam Book of Job ( Kitab Ayub ) itu mirip sekali dengan seekor Naga. Namun di sana disebut dengan Leviathan, semacam monster raksasa yang mengerikan. Naga, telah ada selama ribuan tahun. Dongeng tentangnya dikenal di banyak budaya. Ia muncul dalam mitologi di Amerika, Eropa, India, dan Tiongkok. Karenanya, ide dan deskripsi Naga sangat bervariasi. Beberapa Naga digambarkan memiliki sayap, tapi yang lain tidak. Ada Naga yang dikisahkan bisa berbicara dan menyemburkan api, yang lain tidak bisa. Di antaranya hanya beberapa kaki panjangnya, tapi yang lainnya bisa berkururan menjangkau mil. Beberapa Naga hidup di istana atau di bawah lautan, sementara yang lain hanya dapat ditemukan di gua dan di dalam pegunungan. Makhluk itu juga bisa diidentikkan sebagai makhluk pembawa kebaikan, maupun kejahatan. Tak jelas kapan kisah Naga pertama kali muncul. Laman Livescience menulis, paling tidak Naga yang paling tua bisa dirunut sampai awal masa Yunani dan Sumeria Kuno. Kata Dragon dalam bahasa Inggris asalnya dari bahasa Yunani Kuno, draconta  artinya “untuk mengawasi”. Maksudnya, binatang buas itu biasanya menjaga harta karun, gunungan koin, atau emas. Ini seperti yang digambarkan dalam trilogi film fantasi The Hobbit. Smaug, Naga terakhir di Middle-earth dikisahkan mengambil alih Lonely Mountain (Gunung Sunyi) yang berisikan harta karun Erebor. Naga diwujudkan sebagai makhluk yang menyeramkan, terutama waktu Kristen menyebar ke seluruh dunia. Pada abad pertengahan, kebanyakan orang mendengar kisah Naga dari Alkitab. St. George and the Dragon, lukisan karya Paolo Uccello, 1470. Gereja Kristen menciptakan legenda tentang orang kudus yang saleh berperang dan menaklukkan setan berbentuk Naga. Yang paling terkenal adalah kisah St. George the Dragon Slayer . Alkisah, St. George datang ke kota yang terancam oleh Naga. Dia lalu menyelamatkan seorang gadis, melindungi dirinya dengan tanda salib, dan membunuh binatang itu. Penduduk kota, yang terkesan dengan iman dan keberanian St. George segera menjadi Kristen. “Kemungkinan besar orang Kristen pada saat itu percaya pada keberadaan Naga secara literal,” tulis laman Livescience. Tradisi Hindu maupun Buddha juga mengenal Naga sebagai hewan mistis. Menurut John Miksic dalam  Borobudur: Golden Tales of the Buddhas,  tradisi Hindu acap mengisahkan Naga lewat literatur dan kesenian. Seringkali kehadirannya dihubungkan dengan keberkahan. "Di Borobudur, mereka digambarkan dalam bentuk manusia, namun di tempat lain mereka akan muncul dalam bentuk asli sebagai hewan," tulis Miksic. Kata Naga yang dipakai di Indonesia asalnya dari bahasa Sanskerta. Arti harfiahnya ular. Khususnya di Jawa, Naga lebih merujuk pada dewa ular. Dalam budaya Jawa Kuno, Naga sering dihubungkan dengan air dan kesuburan. Di Jawa ada banyak kisah tentang Naga. Yang muncul dalam pahatan di candi biasanya dihubungkan dengan air amrta atau air kehidupan dalam kisah Samudramanthana . Di Tiongkok Naga disebut dengan Lóng. Sebagaimana disebut laman Livescience, ia adalah makhluk yang hidup di lautan, danau, sungai, dan bahkan hujan. Mereka dipuja sebagai simbol yang memberi kehidupan dari keberuntungan dan kesuburan, yang mampu melepaskan hujan di musim kemarau. “Mereka digambarkan sebagai hewan yang punya tubuh ular, sisik ikan, cakar elang, tanduk rusa, dan wajah Qilin (makhluk suci dalam legenda Tiongkok, red. ),” tulisnya. Patung Naga Tiongkok di sebuah kuil. (Leungchopan/Shutterstock). Fakta di Balik Legenda Naga Namun, kepercayaan pada Naga tak hanya berdasarkan legenda. Banyak juga orang dulu yang meyakini berdasarkan bukti kuat. Contohnya, selama ribuan tahun tak ada yang bisa menjelaskan tentang tulang-tulang raksasa yang ditemukan di seluruh dunia. Dilansir dari laman Livescience , beberapa abad lalu desas-desus tentang Naga terkonfirmasi keberadaannya oleh saksi mata. Para pelaut yang kembali dari Indonesia melaporkan telah bertemu dengan mereka. Makhluk yang katanya sejenis kadal itu dapat menjadi agresif dan mematikan. Panjangnya sampai 10 kaki. Namun ternyata itu adalah komodo. “Mirip dengan Naga, sebelumnya diyakini, gigitan Komodo sangat mematikan karena bakteri beracun di mulutnya,” jelas laman itu. “Meskipun mitos itu dibantah pada tahun 2013 oleh tim peneliti dari Universitas Queensland.” Komodo Pada masa lalu, Naga kerap dipakai untuk menyebut hewan tak dikenal. Pada abad ke-16 misalnya, Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho sempat mengunjungi bagian utara Sumatra. Dalam buku Catatan Umum Perjalanan di Lautan ( Xingcha Shenglan ), dia menceritakan adanya sebuah pulau yang sering didatangi Naga. Pulau itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Naga-Naga yang ke sana meninggalkan liur yang tinggi nilainya di pasaran. “Pada setiap musim semi beberapa ekor Naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang menyebutnya sebagai Pulau Liur Naga,” catatnya. Rupanya, berdasarkan terjemahan W.P. Groeneveldt dalam  Nusantara dalam Catatan Tionghoa,  liur Naga itu adalah ambergris. Naga yang dimaksud tak lain merupakan paus. Ma Huan juga menyebutkan keberadaan Naga dalam catatannya, Yingya Shenglan darisekira 1416 . Penerjemah resmi yang ikut berlayar bersama Cheng Ho itu menulis, di pesisir Man-la-ga (Melaka) ditemukan kura-kura dan Naga. Naga itu suka menyerang manusia. Ia memiliki empat kaki. Rupanya, berdasarkan terjemahan Groeneveldt, Naga yang dimaksud adalah buaya. Buaya “Seluruh tubuhnya ditutupi dengan sisik. Sederetan tanduk di punggungnya dengan kepala seperti Naga dan gigi yang keluar dari mulutnya. Jika bertemu manusia, Naga ini akan memakannya,” tulis Ma Huan. Naga pada akhirnya mewujud dari gagasan yang mencontoh makhluk nyata. Itu dimulai dari ular atau reptile menakutkan lainnya. “Seiring waktu mereka pun memperoleh bentuknya sendiri dengan menyerap harapan dan imajinasi masyarakat setempat dengan meminjam sifat-sifat hewan yang nyata,” tulis Livescience .

  • Apakah Cheng Ho Pernah Naik Haji?

    BARANGKALI menarik jika Cheng Ho juga dibahas saat musim haji seperti saat ini. Sebab, oleh tak sedikit warga Indonesia, di samping diyakini menganut Islam, Cheng Ho juga dipercaya merupakan laksamana bergelar haji. Makanya, ada sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo yang menaungi Masjid Cheng Ho di Surabaya.

  • Jangan Tembak, Oom!

    TAK lama setelah tiba di ibukota Yogyakarta, pasukan Tentara Pelajar Seberang (TPS) mendapat tugas ke Sidobunder yang terletak persis di tengah pertigaan Gombong-Puring-Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Markas Besar Tentara (MBT) khawatir Desa Sidobunder jatuh ke tangan Belanda setelah mereka melanggar Perjanjian Linggarjati lewat Agresi Militer I. Desa Sidobunder penting dipertahankan karena letaktnya strategis, tak jauh dari demarkasi Kali Kemit. Dipimpin Lettu Maulwi Saelan –di kemudian hari menjadi wakil komandan Resimen Tjakrabirawa; pernah menjadi kiper sekaligus kapten timnas sepakbola Indonesia saat tampil di Olimpiade Melbourne 1956– pasukan TPS berangkat menumpang kereta api pada akhir Agustus 1947. Saat tiba, di Sidobunder sudah ada pasukan Seksi 321 Kompi 320 Yon 300 pimpinan Letnan Anggoro. Kedua pasukan diperintahkan berkoordinasi mempertahankan desa tersebut. Suasana tegang menghinggapi Sidobunder waktu itu. Maklum, habis perayaan hari kelahiran Ratu Wilhelmina. Biasanya, pasukan Belanda merayakan hari kelahiran itu dengan menyerang basis-basis republik. Benar saja, saat pasukan tertidur lelap tak lama setelah pergantian hari dari 31 Agustus ke 1 September, pasukan Belanda menyerang. Pasukan penyerang Belanda berkekuatan sekira satu batalyon yang berpencar ke berbagai arah. Kedatangan pasukan Belanda sontak membuat Anggoro dan pasukannya melarikan diri ke arah timur. Pasukan TPS tinggal sendiri menghadapi lawan. “Sudah di belakang kita si Belanda pagi-pagi,” ujar Maulwi (almarhum) kepada Historia beberapa tahun silam. “Kami nggak bisa apa-apa. Ya, terpaksa kami ambil senjata.” Dalam kekuatan tak imbang, pasukan TPS melakukan perlawanan. Pertempuran sengit terjadi. Tajudin, anak buah Maulwi, tumbang dimangsa peluru Belanda tak lama kemudian. Konsentrasi pasukan buyar. Koordinasi dengan pasukan 321 tiada lagi. Maulwi, pengawalnya La Indi, Losung, La Sinrang, dan Herman Fernandez akhirnya terpisah dari pasukan. Dalam keadaan dihujani tembakan, mereka menerjang persawahan yang saat itu banjir. Sebuah kebun kelapa akhirnya jadi tempat mereka bertahan dan terus memberi perlawanan. Pertempuran jarak dekat terjadi antara mereka melawan pasukan Belanda yang datang dari arah Puring. Hujan tembakan dari pasukan Belanda membuat pasukan TPS terdesak. Keadaan makin sulit karena amunisi pasukan TPS menipis. Dalam keadaan hidup-mati itu, La Sinrang dan Fernandez mendengar Losung berteriak. “Jang tembak, Oom! Peluru habis.”

  • Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris

    KETIKA Inggris (kembali) menjadi penguasa tunggal Maluku, rakyat diatur dalam suasana kebebasan. Inggris belajar atas kesalahan mereka di masa lalu, juga melihat kebijakan pemerintahan Belanda sebelumnya yang berhasil menyulut reaksi rakyat untuk melawan. Dampak pemerintahan baru Inggris di Maluku dinilai baik oleh semua kalangan. Rakyat tidak merasa adanya tekanan dari penguasa lama yang kembali tersebut. Hal itu dirasakan juga oleh Thomas Mattulesi dan teman-teman seperjuangannya di Lease, Kepulauan Maluku bagian tengah. Sesekali ia memanfaatkan kelonggaran peraturan pemerintah Inggris itu untuk bekayuh ke Ambon, mencari informasi sebanyak-banyaknya dari pusat pemerintahan Inggris di Maluku. “Kebebasan ini, terutama kebebasan kaum muda di seluruh negeri, nantinya mempunyai akibat buruk bagi Belanda yang kembali lagi sesudah pemerintah Inggris berakhir,” kata I. O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura . Ketika Inggris mengumumkan penarikan pemuda-pemuda Maluku untuk menjadi bagian dari kesatuan militer mereka, Mattulesi dan teman-temannya segera mendaftar. Sedikitpun mereka tidak ragu menjadi bagian dari barisan bangsa asing tersebut. Alasan kuat yang membuat Mattulesi memilih bergabung adalah tugas tentara rakyat itu yang dibentuk untuk menjaga wilayah kekuasaan Inggris dari pihak luar, atau secara tidak langsung juga turut menjaga rakyat Maluku. Selain itu tidak seperti Belanda yang mengirim tentara rakyat ke Batavia, Inggris akan menempatkan mereka di Ambon. Ada syarat-syarat tertentu agar dapat lolos seleksi tentara rakyat. Dua di antaranya adalah tes kesehatan dan uji kemampuan fisik. Setelah seluruh proses selesai dilakukan terpilihlah 500 orang, termasuk Mattulesi, untuk bergabung dalam kesatuan Ambon. Mereka dibayar cukup tinggi dan bertempat tinggal di asrama militer di Ambon. Tidak lupa para perwiranya diberi seragam yang baik. “Latihan berperang, pendaratan di berbagai pantai berombak,  berpasir putih, hingga berkarang adalah latihan-latihan yang sungguh dipersiapkan untuk menangkis dan menyerang musuh,” tulis Nanulaitta. Tentara Inggris cukup baik melatih para perwira baru ini. Berbagai macam pelatihan menggunakan senjata api dipelajari selama berada di sana. Oleh karena perang yang masih terus berkecamuk antara Inggris dan Prancis dibantu Belanda, pemerintahan di Maluku selalu dalam kondisi siaga. Setelah dirasa siap, Mattulesi dan perwira lain disebar ke pulau-pulau di seluruh negeri. Selama pelatihan, Mattulesi menunjukkan keterampilan, kecakapan, dan kemampuan memimpin melebihi teman-temannya yang lain. Ia pun cepat mendapat promosi dan dipercaya menjadi pemimpin bagi angkatannya. Kurang lebih Mattulesi berkarir di militer Inggris selama tujuh tahun. Pangkat terakhir yang diterimanya adalah sersan mayor. Namun pada 19 Agustus 1816, karir militer Mattulesi berakhir. Hasil peperangan di Eropa memaksa Inggris menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda. Kali ini ada perjanjian internasional yang ditandatangani, Traktat London , sehingga Inggris tidak mungkin kembali menguasai Indonesia. Pada 18 Maret 1817, kesatuan Ambon dikumpulkan oleh pimpinan militer Inggris. Mereka menjelaskan situasi yang sedang dihadapi kepada Mattulesi dan kawan-kawannya. Sampai tiba waktunya, mereka akan tetap berada pada kesatuan. Dan tugas terakhir yang harus dijalankan adalah menyambut rombongan orang-orang Belanda di Benteng Victoria. “Disiplin militer terlalu meresap pada diri Mattulesi dan pasukannya untuk bertindak di luar kehendak atasannya. Ia harus menurut perintah dulu,” tulis Nanulaitta. Dampak penyerahan kekuasaan itu juga dirasa oleh Mattulesi dan kesatuan Ambon. Pada 25 Maret 1817, bersamaan dengan diturunkannya Union Jack (bendera Inggris)  di Batavia, Mattulesi terpaksa memberikan tugas penjagaan kepada tentara Belanda, yang mayoritas diisi oleh orang Jawa. “Alangkah lucunya, pasukan Jawa ini tidak dilengkapi dengan semestinya. Mereka belum diberi pakaian seragam. Mereka masuk pos-pos dengan hanya bercelana pendek dan berbadan telanjang,” kata Nanulaitta. Sebenarnya kesatuan Ambon pernah ditawarkan oleh Inggris kepada Belanda. Namun ditolak karena Belanda ingin membangun pasukan baru, yang dilatih oleh militer mereka. Akhirnya dibuatlah keputusan bahwa kesatuan Ambon akan dibebaskan, yang berarti nantinya mereka dapat menentukan sendiri kelanjutan karir militernya masing-masing. Dalam buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura , M. Sapija menerangkan penyerahan kembali pemerintah Maluku ke tangan Belanda terjadi pada 21 April 1817. Dengan disaksikan langsung rakyat, proses penyerahan terjadi dalam upacara yang cukup sederhana. Di sana turut hadir J. Churcham sebagai wakil kerajaan Inggris, sementara Belanda diwakili oleh residen Martheze. Sebelum Inggris angkat kaki dari tanah Maluku, kesatuan Ambon dikumpulkan di pusat kota Ambon. Para pembesar militer Inggris mengadakan upacara pembebasan. Dengan disaksikan ratusan rakyat, pejabat Belanda, dan sisa pejabat Inggris yang masih bertahan, Mattulesi dan anggota kesatuannya diberi surat bebas. Status sosial mereka pun berubah menjadi ‘Borgor’, yang berarti mereka kebal terhadap kebijakan kerja paksa Belanda, serta diberi banyak kemudahan dalam menjalani hidup. Upacara pembebasan itu diakhiri dengan pesta meriah yang mengundang seluruh masyarakat yang tinggal di Ambon. Mereka menari, bernyanyi, dan saling bercerita dalam suasana yang riang gembira. Tentara Inggris juga turut hadir di tengah-tengah masyarakat, menikmati sajian di dalam pesta tersebut. Dengan berakhirnya hari, berarti tuntas sudah tugas Mattulesi dan kesatuan Ambon sebagai bagian dari penjaga keamanan di Maluku. Namun penglaman Mattulesi dalam kesatuan militer Inggris itu berdampak besar dikemudian hari. Ia dan teman-temannya mampu menerapkan pelajaran yang meraka dapatkan saat memimpin rakyat Maluku berperang melawan Belanda. “Kebencian mereka terhadap Belanda menjadikan mereka prajurit-prajurit yang bertekad bulat untuk menghancurkan Belanda, kalau tentaranya berani mendarat,” ucap Nanulaitta.

  • Cerita Lucu Batalion Cibatu

    Suatu hari, Letnan Satu Soegih Arto dipanggil Letnan Kolonel Omon Abdurahman, Komandan Resimen 8 Divisi Siliwangi. Dia tak lagi jadi ajudan karena sang komandan menugaskannya untuk memimpin batalion di daerah Garut. Pada hari yang telah ditentukan, Soegih Arto dibawa oleh Kepala Staf Resimen 8 menghadap Letnan Kolonel Ponto, Komandan Resimen 10 di Garut. Dia menyambut dengan gembira kehadiran Soegih Arto untuk menggantikan komandan batalion yang lama, Djaja Iskandar. Setiba di markas batalion di Cibatu, sebuah bangunan bekas Kawedanaan, Soegih Arto diperkenalkan dengan seluruh anggota staf. “Wah, ini sih bukan batalion, tetapi paguyuban warga Cibatu dan Garut sekitarnya,” kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . Mereka memang memakai seragam tentara, namun sikapnya masih seperti warga sipil. Kalau sudah menghormat, saluir, terus munjungan (menyalami sambil membungkuk seperti sungkem). Kalau menunjuk arah masih menggunakan ibu jari tangan kanan dengan ditopang tangan kiri. “Saya berpikir, apakah saya ini jadi wedana atau komandan batalion,” kata Soegih Arto. Soegih Arto pun bertekad mengubah paguyuban itu menjadi unit tentara yang siap maju ke medan perang. Dia dibantu seorang komandan kompi bekas tentara Peta (Pembela Tanah Air) zaman Jepang, menyusun pelatihan. Sehingga lambat laun paguyuban berubah menjadi unit tentara. Setelah menjalani latihan yang keras selama beberapa bulan, Batalion Cibatu dikirim ke garis depan di Bandung Selatan, di sektor Ciparay/Sapan. Pada hari-hari pertama, Soegih Arto telah kehilangan seorang komandan kompi yang tertembak kakinya oleh sniper Belanda. Pertolongan terlambat, kakinya infeksi tetanus sehingga harus diamputasi. Pemuda bernama Yusuf itu punya semangat hidup yang kuat. Setelah meninggalkan tentara, dia kemudian menjadi lurah di daerah Cirebon. Desa yang dipimpinnya maju dan berkali-kali menjadi juara desa se-Jawa Barat. Pertempuran di sektor Sapan jarang terjadi. Sekalinya menyerang, Belanda membabi buta: tembakan meriam dan mortir tak henti-hentinya, rentetan senapan tak ada habisnya. Soegih Arto pun menarik mundur pasukannya. Di lain waktu, Soegih Arto sedang patroli, beberapa mortir jatuh tak jauh dari mereka. Mereka lari tunggang langgang ke depan dan masuk ke kolong jembatan. Mereka terhindar dari ledakan, namun sial ketika menjatuhkan diri menimpa sarang semut. Semut-semut yang mendapatkan serangan itu keluar mengerubungi badan mereka. “Tidak ada yang terlewatkan sampai alat pengebor saya pun dikerubutinya,” kata Soegih Arto. Mereka tak dapat bertahan lebih lama dari serangan semut. Sehingga mereka keluar semua: memilih mati oleh mortir daripada oleh semut. “Akan sangat memalukan kalau dimuat di koran, seorang komandan batalion mati karena dikerubut semut,” kata Soegih Arto. Mereka buka baju lalu menceburkan diri ke sungai. Badannya babak belur, bentol-bentol. Soegih Arto dan pasukannya melanjutkan pertempuran melawan Belanda yang berlangsung nonstop selama 13 jam. Karena batalionnya dapat bertahan dari serangan Belanda yang bertubi-tubi, Panglima Siliwangi memberikan penghargaan. Ini adalah surat penghargaan pertama yang diberikan oleh Divisi Siliwangi. Batalion Cibatu yang dipimpin Soegih Arto mondar-mandir antara Cibatu dan Ciparay. Istirahat di Cibatu, kalau bertugas ke front, ke Ciparay lagi. Menurut Soegih Arto, keadaan di medan perang tidak selalu menegangkan dan mengerikan. Banyak juga yang menyenangkan, seperti menangkap ikan di Citarum, lalu dibakar, dimakan dengan nasi merah yang pulen dan sambal yang hitam pekat karena banyak terasinya. Hmmm... nikmatnya. Malam harinya diadakan hiburan pertunjukan pencak silat. Para perwira bermain kartu atau domino. Tak pakai judi karena memang tak punya uang. “Penghidupan yang seperti apa lagi yang diinginkan?” kata Soegih Arto. “Usia muda, beban keluarga tak ada, makan cukup, kurang makan tinggal minta, kalau bosan istirahat langsung berangkat menyerang Belanda. Suatu kehidupan yang penuh variasi." Karier Kapten Soegih Arto, Komandan Batalion Cibatu yang dikerubuti semut, terus naik. Dari komandan batalion sampai menjadi Jaksa Agung dan pensiun dengan pangkat letnan jenderal. Dia sempat menjabat duta besar di Burma (Myanmar) dan India.

  • Aksi Andjing NICA di Medan Laga

    KASIM masih berusia 16 tahun ketika 10 pemuda Maluku berseragam loreng mengepungnya di bilangan Matraman, Jakarta pada awal 1946. Tak ada jalan lagi untuk berlari, kecuali dia harus pasrah saja saat hantaman bogem mentah melayang ke tubuhnya. Sekujur tubuh Kasim lebam, pakaian menjadi compang-camping karena salah seorang dari prajurit KNIL itu merobek lencana merah putih di dadanya. “Dia lalu menyuruh saya menelan lencana yang terbuat dari kain itu,” kenang mantan pejuang kemerdekaan asal Jakarta tersebut. Sejarah mencatat, para prajurit KNIL yang mengeroyok Kasim adalah bagian dari Batalyon X. Itu terkonfirmasi dari keterangan Robert B. Cribb dalam Gangster and Revolutionaries, The Jakarta Peoples Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949. “Mereka dengan gembira memukul atau membunuh setiap rakyat Indonesia yang menunjukan atribut Republik di tempat-tempat umum,”ungkap Cribb. Kebengisan Batalyon X menuai kebencian yang tak terhingga dari orang-orang Indonesia. Mereka kemudian menyebut para bekas kaum internir Jepang tersebut sebagai “andjing” NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) kreasi H.J. van Mook. Alih-alih merasa terasa terhina, ejekan itu justru dijadikan kebanggaan. “Dalam setiap pertempuran, para ekstrimis (kaum Republiken) meneriaki kami sebagai “andjing NICA”, yang kemudian secara resmi kami jadikan nama batalyon,” tulis S.A. Lapre dalam Het Andjing NICA Batalijon (KNIL) in Nederlands-Indie, 1945-1950. Batalyon X Andjing NICA kemudian dimasukan ke Brigade V Divisi B. Kendati masih menggunakan nama “Andjing NICA”, namun nomor batalyon berubah, dari X menjadi V. Selain orang-orang Maluku, Andjing NICA pun kemudian diperkuat oleh orang Manado, Sangir, Jawa, Sunda, Timor, Indo dan Belanda. Sebagai komandan batalyon ditunjuk seorang perwira KNIL eks penghuni kamp internir. Namanya Letnan Kolonel Adrianus van Zanten. Pertengahan 1946, Andjing NICA ditugaskan ke front Bandung. Begitu tiba di ibu kota Jawa Barat itu, pada Juli 1946 mereka langsung terlibat pertempuran hebat dengan pasukan lasykar Hizbullah.  Dalam bentrok yang terjadi di wilayah Buahbatu tersebut, Andjing NICA sukses membantai puluhan pejuang. “Persenjataan musuh jauh lebih lengkap dan modern. Sedangkan pihak Hizbullah hanya bermodalkan beberapa senapan, pistol, golok serta bambu runcing,” ujar Kolonel (Purn) R.J. Rusady W dalam otobiografinya, Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Selanjutnya aksi mereka semakin menggila. Dalam pertempuran di Cipamokolan, mereka berhasil membunuh 21 prajurit dari Batalyon Kohar (TRI). Jumlah korban yang sama juga dialami oleh Pasukan Istimewa dan pasukan KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi) saat berhadapan dengan Andjing NICA di Pangaritan dan Gedebage.   Karena strategi utama militer Belanda adalah merintis jalan ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, maka Andjing NICA yang dianggap lebih mengenal wilayah itu kemudian dikirimkan ke front Bandung Timur. Di sana mereka harus berhadapan dengan lawan yang sepadan: Batalyon Pelopor. Dikisahkan oleh S.A. Lapre, saat berbasis di wilayah Ujungberung (front Bandung Timur), Andjing NICA pada suatu malam diteror dengan tembakan mortier kaliber 8 dan granat. Pabrik beras yang menjadi pos mereka seolah diguncang gempa sekaligus diserang peluru musuh yang bagaikan ribuan tawon mengamuk. “Di dalam bangunan yang besar itu tidak pernah saya merasa begitu ketakutan seperti pada malam itu ketika granat-granat mortir berjatuhan di sekeliling kami,” kenang Letnan Satu H.R. Toorop, Komandan Kompi Staf Batalyon Infanteri V Andjing NICA. Horor pertempuran juga dikisahkan oleh anggota Andjing NICA yang lain bernama Kopral Butselaar. Ketika mereka sedang bergerak ke arah pegunungan di utara Ujungberung, mereka bertemu dengan pasukan musuh kurang lebih berjarak 100 meter. Alih-alih bersiaga, seorang sersan bernama Keereweer malah berlaku sombong dengan berteriak-teriak  menantang gerilyawan-gerilyawan TRI untuk menghadapinya. “Teriakan Sersan Keereweer malah disambut dengan semburan peluru-peluru senapan mesin Hotskis, yang membuat kami ketakutan hingga merasa ingin berak di celana,” kenang Butselaar. Karena tembakan senapan mesin musuh tak mau berhenti, lewat radio mereka lantas meminta bantuan tembakan mortir dari pasukan Belanda yang sedang berada di Gunung Bogkor. Entah karena salah menyebut titik koordinat atau pelayan mortir kurang ahli, alih-alih membungkam senapan mesin musuh, peluru-peluru mortir justru jatuh di wilayah pertahanan para prajurit Andjing NICA. “Bayangkan dari depan kami dihantam senapan mesin Hotskis sedang dari belakang kami dijatuhi peluru mortir dari kawan kami sendiri,” ujar Butselaar. Panik melanda peleton Andjing NICA itu. Komandan peleton berteriak-teriak histeris seperti orang gila, memerintahkan agar pelayan radio menyuruh sang penembak mortir di Gunung Bongkor menghentikan tembakannya. Suatu permintaan yang sia-sia, karena sang pelayan radio sudah tewas tertembus peluru, menyusul kemudian Sersan Keereweer. Pertempuran pun berakhir dengan nyaris habisnya seluruh anggota peleton tersebut. Bandung Timur memang mimpi buruk untuk Andjing NICA. Hampir setiap malam, mereka harus bertahan dalam ketakutan di pos-pos. Begitu gentarnya, hingga peluru cahaya hampir tiap 5 menit ditembakan ke udara. Kepanikan dan putus asa melanda. Moril pasukan kerap turun ke titk nadir. Puncaknya terjadi, saat markas pusat mendatangkan penyanyi Tom van Der Stap dan kelompok musik De Witte Raven ke markas mereka di Arjasari, seorang anggota Andjing NICA malah lebih memilih menghabisi nyawanya sendiri dengan satu tembakan ke kepala daripada menikmati hiburan Tom dan kawan-kawan.

  • Perburuan dalam Sepekan

    ­­ Bunyi gamelan yang penghabisan telah lenyap di udara senja hari. Sepagi anak lurah Kaliwangan telah disunati. Tamu-tamu telah habis pulang. Senja rembang datang. Begitulah Pram memulai ceritanya, Perburuan . Sejak senja rembang 16 Agustus 1945 itulah Hardo untuk pertama kalinya menampakkan diri. Setelah setengah tahun bersembunyi dari buruan Nippon, ia muncul di depan rumah Ningsih, tunangannya. Hari itu adalahhari sunatan Ramli, adik Ningsih. Namun Den Hardo, bukan lagi pemuda yang orang-orang Kaliwangan kenal. Saat itu telah menjadi seorang kere. Kere dengan rambut gondrong dan lengket. Wajah kotor dan dipenuhi brewok. Tidak berbaju dan telanjang kaki. Hardo telah menjadi buruan sejak pertama kali memutuskan untuk memberontak. Menjadi pelarian di bukit batu padas dan bersembunyi di dalam gua yang pekat. Meninggalkan sanak keluarga bahkan tunangannya. Lalu sampai kapan Hardo akan bertahan? “Sampai Nippon kalah,” kata Hardo. Semangat Anti Jepang Hardo adalah mantan sodhanco . Ia memberontak bersama dua sodhanco lainnya, Dipo dan Karmin, serta para shodan . Namun sayang, pemberontakan kepada balatentara Dai Nippon itu gagal karena Karmin berkhianat. Para pemberontakanpunharus mundur ke perbukitan dan hutan-hutan. Kengerian masa penjajahan Jepang yang kemudian melahirkan semangat anti-Jepang nampaknya mengilhami lahirnya novel Perburuan. Bagaimana tidak, hal itu dirasakan bahkan sejak baru beberapa hari Jepang memasuki kota kelahirannya, Blora. “Jepang mulai memperkosai wanita. Dua serdadu Jepang yang dihukum mati di alun-alun karena perkosaan tidak meredakan keresahan. Para wanita dari remaja sampai nenek pada berbedak jelaga,” ungkap Pram dalam buku Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Dua bulan Jepang berkuasa, ibu dan adik bungsu Pram meninggal dunia. Pram, yang kala itu masih berusia 17 tahun pergi ke Batavia. Di Batavia, kengerian penjajahan semakin jelas di mata Pram. Mulai dari penyiksaan terhadap penduduk hingga pembunuhan karena kejahatan kecil. Selain itu, ada satu kejadian sepele namun meninggalkan sakit hati bagi Pram. Suatu hari ketika Pram sedang mengayuh sepedanya di jalanan berlubang, tiba-tiba sebuah truk militer membunyikan klakson dari belakang. “Truk itu mengerem. Dari kabin truk meledak petir: Nan da kurah ! Dan mata melotot,” ingat Pram. Ban sepeda Pram lepas dan tergencet porok (garpu sepeda). Ketika seorang serdadu melompat turun, Pram memikul sepedanya dan melemparkannya ke pinggir jalan lalu lari. “Dari belakangku, meraung-raung dia: Bagero mae ! Genjumin ! Hanya rangkaian caci-maki. Sakit hati itu ternyata tak pernah lenyap,” kenang Pram. Sementara itu, Pram memang bekerja di kantor berita Domei milik Jepang. Ia harus memberitakan kemenangan, kebenaran dan kebajikan Jepang. “Keadaan di luar dan di dalam diri sudah tidak tertahankan, Domei kutinggalkan,” ungkapnya. Pram kabur ke Kediri, Jawa Timur. Di desa terpencil dan miskin bernama Tunjung, ia menumpang di rumah bekas kepala desa, seorang paman. Pada 23 Agustus 1945, Pram baru mendapat kabar seputar proklamasi. Lewat Surabaya, Pram pulang ke Blora. Di kota kelahirannya, saat itu sedang diadakan pertunjukan sandiwara “Indonesia Merdeka”. Namun Pram hanya menonton selama seperempat jam. “Pada waktu itu timbul tantangan dalam hati aku akan tulis berita yang jauh lebih baik dari ‘Indonesia Merdeka’ Blora ini, sebuah cerita yang bersemangat anti-Jepang, patriotik, ditutup dengan proklamasi kemerdekaan,” tegas Pram. Pram dan novel Perburuan Kebebasan dan Revolusi Keinginan untuk menulis cerita yang lebih baik dari sandiwara ‘Indonesia Merdeka’ itu terlaksana pada 1949. Namun, kala itu Pram sedang dipenjara di Bukit Duri oleh Belanda. Kerja paksa di luar penjara dengan upah 7,5 sen perhari dan kenyataan bahwa perang melawan Belanda belum kelihatan ujungnya membuat Pram putus asa. “Kubuka pesangon dari ibuku sebelum pergi ke alam baka: patiraga, yang hanya boleh dipergunakan di waktu krisis jiwa melanda tanpa dapat diatasi,” ungkap Pram. A Teeuw dalam tulisannya Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer­ mengatakan bahwa pengalaman mistik Pram dalam hubungan dengan penciptaan perburuan, datang sebagai semacam pencerahan dan pembebasan ketika Pram mengalami krisis kejiwaan yang sangat parah. Pengalaman yang disebut Pram sebagai mistikum itu, lahirlah proses kreatif. Perburuan kemudian mulai ia tulis di dalam penjara, di bawah tekanan serdadu Belanda. “Ya, dilakukan pada waktu tidak terkena kerja paksa, duduk berjongkok di atas kaleng margarin dengan alas sepotong kecil papan, bermeja tulis ambin beton tempat tidur,” kata Pram. Jika dari dalam kamar terdengar langkah sepatu bot serdadu KNIL yang sedang meronda, Pram segera mengemas peralatan menulisnya. Lalu di malam hari, Pram hanya bisa menulis di bawah ambin beton sambil tengkurap dengan menggunakan lampu minyak. Karena jika tidak sembunyi, Pram bisa ketahuan karena pintu sel memiliki jendela sorong tempat para serdadu mengintip. “Minyak tanah dibeli dari teman-teman yang bekerja di dapur. Kertas di dapat dari sang pacar,” ungkap Pram. Meskipun dalam kondisi menulis yang sulit, Pram tetap berhasil menyelesaikan naskah itu. Pram merampungkan Perburuan hanya dalam waktu satu minggu. “Saya mengerjakan roman itu persis selama satu minggu. Waktu itu saya masih memiliki kekuatan alamiah saya,” kata Pram dalam wawancaranya dengan Kees Snoek yang terbit dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir. Naskah itu kemudian diselundupkan oleh Dr. Mr. G.J. Resink yang sering berkunjung ke penjara untuk menemui para mahasiswanya yang ditahan. “Resink menyerahkan naskah Perburuan kepada H.B. Jassin yang waktu itu sebagai redaktur Balai Pustaka,” tulis sastrawan Ajip Rosidi dalam Mengenang Orang Lain: Sebuah Obituari. Oleh Jassin, naskah Perburuan diikutkan sayembara tanpa sepengetahuan Pram. Novel itu menang dan kemudian diterbitkan Balai Pustaka pada 1950. A Teeuw mengatakan bahwa Pram adalah sastrawan yang mencuat tinggi dalam mencitrakan revolusi Indonesia baik dari jumlah karya maupun mutunya. “Segala aspek perjuangan rakyat Indonesia, di garis depan, di medan perang, di gerilya kota Jakarta, dalam penjara penjajah, di masa pasca revolusi, segala bentuk penderitaan dan pengorbanan rakyat, segala grandeur et misere (keagungan dan kemelaratan) rakyat dicitrakannya, dan berkat penguasaan bahasanya, kekuatan gayanya, keaslian imajinasinya, ia berkali-kali berhasil mentransformasikan kenyataan hulu revolusi dan perjuangan bangsa Indonesia yang sebagian besar dihayatinya dalam hidupnya sendiri menjadi epos, wiracerita,” tulis A Teeuw. Mengutip A Teeuw, novel Perburuan ditutup Pram dengan sebuah goro-goro . Ketika kabar Nippon kalah telah terdengar, tiba saatnya Hardo kembali. Namun, terjadi kekacauan di Kawilangan. Dada Ningsih, tunanganya, telah ditembus oleh peluru parabellum Jepang. Terbaring di hadapan Hardo yang gugup, Ningsih mengembuskan napas terakhirnya. Begitulah Pram mengakhiri ceritanya. Siang hari lewat jam dua, 17 Agustus 1945. Ketika hawa kota Blora sampailah pada puncak panasnya… panas yang mengganggang seluruh kota.

bottom of page